• Tidak ada hasil yang ditemukan

EDITORIAL PENGANTAR REDAKSI SUSUNAN REDAKSI JURNAL KEPERAWATAN JIWA. Pembina: H. Edy Wuryanto S.Kp., M.Kep

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EDITORIAL PENGANTAR REDAKSI SUSUNAN REDAKSI JURNAL KEPERAWATAN JIWA. Pembina: H. Edy Wuryanto S.Kp., M.Kep"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

EDITORIAL

SUSUNAN REDAKSI

JURNAL KEPERAWATAN JIWA Pembina:

H. Edy Wuryanto S.Kp., M.Kep Penasehat:

H. Edy Soesanto, S.Kp., M.Kes. Arwani, S.KM, MN.

Pimpinan Umum:

M. Fatkhul Mubin, M.Kep., Sp. Kep. Jiwa Pimpinan Redaksi:

Abdul Wakhid, M.Kep., Ns, Sp. Kep. J Sekretaris:

Desy Aryana, M.Kep. Bendahara:

Budiasih, S.Kp Mitra Bestari:

Wahyu Eko Wati, M.Kep., Sp. Kep. Jiwa Heni Windarwati, M.Kep., Sp. Kep. Jiwa Tantri W. U., M.Kep., Sp. Kep. Jiwa Alamat Redaksi:

PPNI Jawa Tengah

Jl Yos Sudarso 47 - 49 Ungaran Telp. 024 76913574

Email:

[email protected]

PENGANTAR REDAKSI

Jurnal Keperawatan PPNI Provinsi Jawa Tengah (JKPPNI-Jateng) merupakan salah satu publikasi ilmiah yang memiliki reputasi secara nasional bagi kalangan perawat di Indonesia. JKPPNI-Jateng saat ini telah terbit yang ke 2 yang pada edisi ini memuat artikel-artikel terbaru dari peneliti-peneliti keperawatan di Indonesia.

Hasil penelitian pada edisi ini merupakan perkembangan ilmu yang up-to-date sehingga sangat mendukung terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang kita ketahui berkembang secara militan dan pesat. Hasil penelitian pada artikel ini memiliki beberapa terobosan yang perlu di cermati oleh berbagai pihak sehingga akan mendukung program pembangunan kesehatan di Indonesia dalam rangka pencapaian target Millenium Development Goals pada tahun 2015.

Semoga hasil-hasil penelitian yang disajikan pada edisi JKPPNI-Jateng kali ini akan dapat senantiasa menambah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan di Indonesia.

Kami mengharapkan masukan, saran dari berbagai pihak untuk kesempurnaan penerbitan pada JKPPNI-Jateng yang akan datang.

(2)
(3)

DAFTAR ISI HAL 1. MANAJEMEN KASUS SPESIALIS JIWA DEFISIT PERAWATAN DIRI

PADA KLIEN GANGGUAN JIWA DI RW 02 DAN RW 12

KELURAHAN BARANANGSIANG KECAMATAN BOGOR TIMUR

Dwi Heppy Rochmawati, Budi Anna Keliat, Ice Yulia ... 107-120

2. PENINGKATAN KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL

(KOGNITIF, AFEKTIF DAN PERILAKU) MELALUI PENERAPAN TERAPI PERILAKU KOGNITIF DI RSJ DR AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG

Sri Nyumirah ... 121-128

3. PENGARUH PEMBERIAN AROMATERAPI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN SEBELUM OPERASI DENGAN ANESTESI SPINAL DI RS TUGU SEMARANG

Arwani, Iis Sriningsih, Rodhi Hartono ... 129-134

4. GAMBARAN RESPON BERDUKA PADA ANAK REMAJA DENGAN ORANGTUA BERCERAI DI SMP NEGERI 1 JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG

Desi Purwanti, Helwiyah Ropi, Efri Widianti ... 135-147

5. HUBUNGAN ANTARA BEBAN KELUARGA DENGAN KEMAMPUAN KELUARGA MERAWAT PASIEN PERILAKU KEKERASAN

DI POLIKLINIK RUMAH SAKIT MARZOEKI MAHDI BOGOR

Sri Suryaningrum, Ice Yulia Wardani ... 148-155

6. KONSEP DIRI ANAK JALANAN USIA REMAJA DI WILAYAH SEMARANG TENGAH

Pangestika Putri Wahyu Kumalasari, Diyan Yuli Wijayanti ... 156-160

7. PENERAPAN TERAPI KOGNITIF DAN PSIKOEDUKASI KELUARGA PADA KLIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUANG YUDISTIRA

RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR TAHUN 2013

Titik Suerni, Budi Anna Keliat, dan Novy Helena C.D ... 161-169

8. PEMBERDAYAAN KELUARGA DAN KADER KESEHATAN JIWA DALAM PENANGANAN PASIEN HARGA DIRI RENDAH KRONIK DENGAN PENDEKATAN MODEL PRECEDE L. GREEN

DI RW 06, 07 DAN 10 TANAH BARU BOGOR UTARA

Desi Pramujiwati, Budi Anna Keliat, dan Ice Yulia Wardani ... 170-177

9. STUDI FENOMENOLOGI: PENGALAMAN KELUARGA MENCEGAH KEKAMBUHAN PERILAKU KEKERASAN PASIEN

PASCA HOSPITALISASI RSJ

Emi Wuri Wuryaningsih, Achir Yani S. Hamid, Novy Helena C. D ... 178-185

10. PENGARUH TEHNIK RELAKSASI BENSON TERHADAP PENURUNAN TINGKAT STRES LANSIA DI UNIT REHABILITAS SOSIAL

WENING WARDOYO UNGARAN

(4)
(5)

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri pada Klien Gangguan Jiwa di RW 02 dan RW 12 Kelurahan BaranangSiang Kecamatan Bogor Timur Dwi Heppy Rochmawati1, Budi Anna Keliat2, Ice Yulia Wardani3

107

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri Pada Klien Gangguan Jiwa Di Rw 02 Dan Rw 12 Kelurahan Baranangsiang Kecamatan Bogor Timur

Dwi Heppy Rochmawati, Budi Anna Keliat, Ice Yulia Wardani 107

MANAJEMEN KASUS SPESIALIS JIWA DEFISIT PERAWATAN DIRI PADA

KLIEN GANGGUAN JIWA DI RW 02 DAN RW 12 KELURAHAN

BARANANGSIANG KECAMATAN BOGOR TIMUR

Dwi Heppy Rochmawati1, Budi Anna Keliat2, Ice Yulia Wardani3

1. Program Spesialis Ilmu Keperawatan Kekhususan Keperawatan Jiwa

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, Jakarta 10430, Indonesia 2. Guru Besar, Dosen Kelompok Keilmuan Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas

Indonesia Jakarta

3. Dosen Kelompok Keilmuan Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jakarta

Email : [email protected]

ABSTRAK

Jumlah klien gangguan jiwa yang ditemukan adalah 18 orang (2,44%) dari total penduduk dewasa 737 orang. Angka ini menunjukkan peningkatan dari estimasi gangguan jiwa di Jawa Barat (0,22%). Defisit perawatan diri adalah salah satu bentuk gangguan jiwa dan dialami oleh seluruh klien gangguan jiwa yang ditemukan. Tujuan penulisan karya ilmiah akhir ini adalah menggambarkan management of care kasus spesialis terhadap klien defisit perawatan diri dengan pendekatan Self Care Orem. Metode yang digunakan adalah studi serial kasus defisit perawatan diri pada klien gangguan jiwa dengan pemberian terapi spesialis keperawatan jiwa. Paket terapi yang diberikan : 1 Behaviour theraphy, 2 Behaviour theraphy dan Supportif Theraphy, 3 Behaviour theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group. Terapi diberikan kepada 17 klien (9 skizofrenia, 4 retardasi mental dan 4 demensia). Hasil pelaksanaan terapi adalah paket terapi ketiga sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan dan menurunkan tanda gejala klien defisit perawatan diri dengan diagnosa medis skizofrenia dan retardasi mental. Terapi-terapi tersebut kurang efektif bagi klien demensia. Berdasarkan hasil di atas perlu direkomendasikan bahwa behaviour theraphy, supportif theraphy dan self help group dapat dijadikan standar terapi spesialis keperawatan jiwa bagi klien defisit perawatan diri khususnya dengan skizofrenia dan perlu dilakukan penelitian lanjut tentang terapi spesialis keperawatan jiwa yang tepat untuk klien defisit perawatan diri dengan demensia. Kata kunci :

Behaviour theraphy, Self Care Orem, defisit perawatan diri.

ABSTRACT

The amount of clients of mental disorders found were 18 people (2.44%) of the total adult population of 737 people. This amount shows an increase from an estimate of mental disorder in West Java (0.22%). Self-care deficit is one form of mental disorder and is experienced by all clients of mental disorders was found. The purpose of this paper is to describe management of care the scientific end case specialists to client care deficit with Orem’s Self Care approach. The method used is the serial case study of self-care deficits in psychotic clients with life-giving therapy nursing specialists. Therapy are : first package of Behavior Therapy, second package of Behavior Therapy and Supportive Therapy, third package of Behavior Therapy, Supportive Therapy and Self Help Group. Therapy was given to the 17 client (9 schizophrenia, 4 mental retardation, and 4 dementia). The results of the implementation of these therapies is that the package of three highly effective therapy to improve coping mechanism and reduce the symptoms signs on the client's self-care deficit with a medical diagnosis of schizophrenia and mental retardation in performing self-care. These therapies are less effective for clients with dementia. Based on the above results need to be recommended that the behavior therapy, supportive therapy and self help group can be made standard of therapy of nursing specialist self-care deficit of clients and schizophrenia in particular, and have done research about nursing specialist mental therapy is right for the client self-care deficits with dementia.

(6)

Jurnal Keperawatan Jiwa . Volume 1, No. 2, November 2013; 107-120

108

108 Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 1 No. 2 November 2013 107-120

PENDAHULUAN

Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain (UU No 36, 2009). Kesehatan jiwa menurut World Health Organization (WHO) tahun 2001 yaitu kondisi sejahtera dimana individu menyadari kemampuan yang dimilikinya, dapat mengatasi stress dalam kehidupannya, dapat bekerja secara produktif dan mempunyai kontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dari Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan Kemenkes Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2008), prevalensi gangguan mental emosional seperti gangguan kecemasan dan depresi sebesar 11,6% dari populasi orang dewasa dengan prevalensi tertinggi di Jawa Barat yaitu 20,0%. Prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia sebesar 0,46 %, dengan kata lain dari 1000 penduduk Indonesia empat sampai lima diantaranya menderita gangguan jiwa berat. Prevalensi gangguan jiwa berat di Jawa Barat sebesar 0,22 % dan angka tersebut meningkat menjadi 0,40% di kota Bogor.

Penelitian yang dilakukan oleh Parendrawati (2008) terhadap 110 klien gangguan jiwa yang mengalami defisit perawatan diri di RSMM Bogor menunjukkan hasil bahwa dengan pemberian terapi spesialis keperawatan jiwa token ekonomi menunjukkan peningkatan kemampuan. Kemampuan klien merawat diri diukur dan diobservasi secara statistik dan menunjukkan hasil bahwa pada klien defisit perawatan diri yang diberikan terapi token ekonomi mengalami peningkatan kemampuan dibandingkan dengan klien defisit perawatan diri yang tidak diberikan terapi token ekonomi.

Dari sejumlah 1.168 penduduk, ditemukan jumlah penduduk dewasa adalah 817 jiwa. Angka gangguan mental emosional sebanyak 148 jiwa dari 200 jiwa yang

diperkirakan, angka gangguan jiwa yang ditemukan 18 jiwa dari 4 jiwa berdasarkan estimasi jumlah penduduk dewasa. Angka tersebut meningkat hampir 450% dari angka gangguan jiwa tingkat nasional yaitu 0,46%. Masalah keperawatan pada klien gangguan jiwa yaitu halusinasi, harga diri rendah, isolasi sosial, waham, resiko bunuh diri, perilaku kekerasan/risiko perilaku kekerasan dan defisit perawatan diri. Dari tujuh masalah keperawatan tersebut yang paling sering ditemukan adalah masalah defisit perawatan diri, sebanyak 18 orang (100%) klien mengalami defisit perawatan diri. Penulis melakukan manajemen asuhan keperawatan pada klien dengan defisit perawatan diri dengan pendekatan CMHN. Tindakan keperawatan yang tepat, di tatanan masyarakat sangat diperlukan dalam mengatasi masalah defisit perawatan diri ini. Tindakan yang sudah dikembangkan dalam mengatasi defisit perawatan diri ini terdiri dari tindakan keperawatan generalis dan spesialis. Tindakan keperawatan generalis yang dilakukan yaitu klien diajarkan dan dilatih untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri yang meliputi mandi, berhias, makan dan minum dengan benar serta toileting (BAK dan BAB secara benar). Tindakan keperawatan spesialis yang tepat dan dapat dilakukan untuk klien dengan defisit perawatan diri antara lain adalah terapi perilaku, terapi suportif, terapi kelompok swa bantu dan terapi psiko edukasi keluarga. Hasil manajemen asuhan keperawatan spesialis jiwa ini menunjukan hasil yang signifikan dalam mengubah perilaku maladaptif menjadi adaptif dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri dan meningkatkan kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri serta menurunkan tanda dan gejala klien. Berdasarkan hal tersebut penulis akan mencoba menganalisis manajemen asuhan keperawatan spesialis jiwa dan melaporkannya dalam bentuk Karya Ilmiah Akhir.

METODE PENULISAN

Responden berjumlah 18 orang klien gangguan jiwa (9 skizofrenia, 5 retardasi

(7)

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri pada Klien Gangguan Jiwa di RW 02 dan RW 12 Kelurahan BaranangSiang Kecamatan Bogor Timur Dwi Heppy Rochmawati1, Budi Anna Keliat2, Ice Yulia Wardani3

109

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri Pada Klien Gangguan Jiwa Di Rw 02 Dan Rw 12 Kelurahan Baranangsiang Kecamatan Bogor Timur

Dwi Heppy Rochmawati, Budi Anna Keliat, Ice Yulia Wardani 109 mental dan 4 demensia) dengan defisit

perawatan diri yang ada di komunitas. Penulisan karya ilmiah akhir ini menggunakan metode studi serial kasus dengan pemberian tiga paket terapi spesialis keperawatan jiwa. Terapi diberikan kepada 17 orang klien (8 skizofrenia, 5 retardasi mental dan 4 demensia) dengan defisit perawatan diri. Paket terapi yang pertama adalah tindakan keperawatan generalis (klien dan keluarga) dan behaviour theraphy. Paket terapi yang kedua adalah tindakan keperawatan generalis (klien dan keluarga) dan behaviour theraphy dikombinasi dengan supportif theraphy. Paket terapi yang ketiga adalah tindakan keperawatan generalis (klien dan keluarga) dan behaviour theraphy dikombinasi dengan supportif theraphy dan self help group theraphy.

HASIL

Persentase terbesar jenis kelamin klien adalah laki-laki, yaitu 11 orang klien (61,1%) yang terdiri dari 8 orang klien (44,4%) skizofrenia dan 3 orang klien (16,7%) retardasi mental. Usia klien yang mengalami defisit perawatan diri terbanyak adalah 21-40 tahun, yaitu 10 orang klien (55,6%), yang terdiri dari 8 orang klien (44,4%) skizofrenia dan 2 orang klien (11,1%) retardasi mental. Sebagian besar klien tidak menikah, yaitu 11 orang klien (61,1%), yaitu 6 orang klien (33,3%) skizofrenia dan 5 orang klien (27,8%) retardasi mental. Sebagian besar klien berpendidikan dasar (SD), yaitu sebanyak 6 orang klien (33,3%), yang terdiri dari 2 orang klien (11,1%) skizofrenia, 1 orang klien (5,6%) retardasi mental dan 3 orang klien (16,7%) demensia. Klien tidak bekerja sebanyak 11 orang klien (61,1%), yaitu 3 orang klien (16,7%) skizofrenia, 4 orang klien (22,2%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia. Lama menderita sakit < 10 tahun, sebanyak 11 orang klien (61,1%), yang terdiri dari 7 orang klien (38,9%) skizofrenia, 1 orang klien retardasi mental dan 3 orang klien (16,7%) demensia, dan sebanyak 15 orang klien (83,3%) dirawat selama 3 bulan, yaitu 8 orang klien (44,4%) skizofrenia, 3 orang klien (16,7%)

retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia.

Stressor predisposisi, aspek biologi didapatkan hasil bahwa masalah defisit perawatan diri terbanyak disebabkan oleh faktor genetik yang dialami oleh 8 orang klien (44,4%), yang terdiri dari 3 orang klien (16,7%), 4 orang klien (22,2%) retardasi mental dan 1 orang klien (5,6%) demensia. Stressor predisposisi psikologis, seluruh klien yang mengalami masalah defisit perawatan diri memiliki masalah dengan komunikasi secara verbal, yaitu

ketidakmampuan mengungkapkan keinginan dengan baik 18 orang (100%),

terdiri dari 9 orang klien (50%) skizofrenia, 5 orang klien (27,8%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia. Stressor predisposisi sosio kultural, sebagian besar faktor sosio kultural klien mengalami defisit perawatan diri adalah terkait dengan masalah perekonomian atau ekonomi rendah sebanyak 15 orang (83,3%), terdiri dari 9 orang klien (50%) skizofrenia, 3 orang klien (16,7%) retardasi mental dan 3 orang klien (16,7%) demensia.

Stressor presipitasi biologis sebagian besar berupa riwayat putus obat sebanyak 10 orang klien (55,6%), terdiri dari 6 orang klien (33,3%) skizofrenia, 2 orang klien (11,1%) dan 2 orang klien (11,1%) demensia. Stressor presipitasi psikologis sebagian besar disebabkan karena pengalaman yang tidak menyenangkan yaitu sebanyak 14 orang klien (77,8%), 7 orang klien (38,9%) skizofrenia, 3 orang klien (16,7%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia. Stressor presipitasi sosio kultural sebagian besar karena adanya masalah ekonomi yaitu sebanyak 16 orang klien (88,9%), 9 orang klien (50%) skizofrenia, 3 orang klien (16,7%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia. Asal stresor sebagian besar berasal dari individu itu sendiri yaitu sebanyak 16 orang klien (88,9%), 9 orang klien (50%) skizofrenia, 4 orang klien (22,2%) dan 3 orang klien (16,7%) demensia. Waktu dan lamanya klien terpapar stresor sebagian besar < 10 tahun yaitu sebanyak 10 orang

(8)

Jurnal Keperawatan Jiwa . Volume 1, No. 2, November 2013; 107-120

110

110 Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 1 No. 2 November 2013 107-120

klien (55,6%), terdiri dari 7 orang klien (38,9%) skizofrenia, 1 orang klien (5,6%) retardasi mental dan 3 orang klien (16,7%) demensia. Jumlah stresor lebih dari 3 stressor yaitu sebanyak 18 orang klien (100%), yaitu 9 orang klien (50%) skizofrenia, 5 orang klien (27,8%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia. Respon kognitif klien adalah tidak mampu mengambil keputusan yaitu sebanyak 16 orang klien (88,9%), terdiri dari 8 orang klien (44,4%) skizofrenia, 4 orang klien (22,2%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia. Respon afektif klien yaitu merasa tidak mampu merawat diri sebanyak 12 orang (66,7%), terdiri dari 6 orang klien (33,3%) skizofrenia, 2 orang klien (11,1%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia. Respon fisiologis klien adanya kelelahan, kelemahan dan keletihan sebanyak 13 orang klien (72,2%), terdiri dari 5 orang klien (27,8%) skizofrenia, 4 orang klien (22,2%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia. Respon perilaku klien yaitu tidak toileting dengan benar sebanyak 13 orang klien (72,2%), yaitu 5 orang klien (27,8%) sizofrenia, 4 orang klien (22,2%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia. Respon sosial klien adalah dengan mengurung diri yaitu 15 orang (83,3%), terdiri dari 7 orang klien (38,9%) skizofrenia, 4 orang klien (22,2%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia. Kemampuan klien, berupa ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri mandi, berhias, makan minum dan toileting yang tersebar secara merata yaitu 12 orang klien (66,7%), yaitu 5 orang klien (27,8%) skizofrenia, 4 orang klien (22,2%) retardasi mental dan 3 orang klien (16,7%) demensia; 13 orang klien (72,2%), yaitu 6 orang klien (33,3%) skizofrenia, 4 orang klien (22,2%) retardasi mental dan 3 orang

klien (16,7%) demensia; 12 orang klien (66,7%), yaitu 5 orang klien (27,8%) skizofrenia, 4 orang klien (22,2%) retardasi mental dan 3 orang klien (16,7%) demensia ; dan 13 orang klien (72,2%), yaitu 5 orang klien (27,8%) skizofrenia, 4 orang klien (22,2%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia. Keyakinan positif, sebanyak 16 orang klien (88,9%) merasa tidak yakin terhadap tenaga kesehatan, terdiri dari 7 orang klien (38,9%) skizofrenia, 5 orang klien (27,8%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia. Dukungan berasal dari keluarga dan kelompok. Sebanyak 17 orang klien (94,4%) tidak mendapat dukungan keluarga, terdiri dari 8 orang klien (44,4%) skizofrenia, 5 orang klien (27,8%) retardasi mental dan 4 orang klien (22,2%) demensia; dan sebanyak 11 orang klien (61,1%), yaitu 4 orang klien (22,2%) skizofrenia, 3 orang klien (16,7%) retardasi mental dan 4 orang klien demensia, tidak mendapat dukungan dari kelompok.

Pemberian tiga paket terapi spesialis keperawatan jiwa dilakukan kepada klien defisit perawatan diri. Terapi diberikan kepada 17 orang klien (8 skizofrenia, 5 retardasi mental dan 4 demensia) dengan defisit perawatan diri. Paket terapi yang pertama adalah tindakan keperawatan generalis (klien dan keluarga) dan behaviour theraphy. Paket terapi yang kedua adalah tindakan keperawatan generalis (klien dan keluarga) dan behaviour theraphy dikombinasi dengan supportif theraphy. Paket terapi yang ketiga adalah tindakan keperawatan generalis (klien dan keluarga) dan behaviour theraphy dikombinasi dengan supportif theraphy dan self help group theraphy. Tabel 4.1 sampai 4.6 menunjukkan distribusi pemberian ketiga paket terapi pada klien defisit perawatan diri.

(9)

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri pada Klien Gangguan Jiwa di RW 02 dan RW 12 Kelurahan BaranangSiang Kecamatan Bogor Timur Dwi Heppy Rochmawati1, Budi Anna Keliat2, Ice Yulia Wardani3

111

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri Pada Klien Gangguan Jiwa Di Rw 02 Dan Rw 12 Kelurahan Baranangsiang Kecamatan Bogor Timur

Dwi Heppy Rochmawati, Budi Anna Keliat, Ice Yulia Wardani 111 Tabel 1 Distribusi Hasil Evaluasi

Respon terhadap Stressor Pre dan Post Terapi Keperawatan Klien Skizofrenia dengan Defisit Perawatan Diri

No Respon terhadap Stressor Behaviour Theraphy (n=9)

Behaviour Theraphy Behaviour Theraphy Supportif Theraphy (n=6) Supportif Theraphy Self Help Group (n=3) Pre Post Selisih % Pre Post Selisih % Pre Post Selisih % 1 Respon Kognitif

a. Tidak mampu mengambil

keputusan 8 3 5 62,5 6 1 5 83,3 3 0 3 100 b. Tidak tahu cara merawat diri 5 0 5 100 3 0 3 100 2 0 2 100 2 Respon Afektif

a. Perasaan negatif terhadap diri 5 3 2 40 3 1 2 66,7 1 0 1 100 b. Sedih 5 1 4 80 3 0 3 100 2 0 2 100 c. Merasa tidak mampu

merawat diri 6 2 4 66,7 4 1 3 75 2 0 2 100 d. Tidak ada motivasi merawat

diri 5 2 3 60 3 1 2 66,7 2 0 2 100 3 Respon Fisiologis a. Lelah/letih/lemah 5 2 3 60 3 0 3 100 2 0 2 100 b. Penurunan muskuloskeletal 6 1 5 83,3 3 0 3 100 2 0 2 100 4 Respon Perilaku a. Tidak mandi 5 2 3 60 3 1 2 66,7 2 0 2 100 b. Tidak berhias setelah mandi 6 2 4 66,7 4 0 4 100 2 0 2 100 c. Tidak makan dan minum

teratur 5 1 4 80 3 0 3 100 2 0 2 100 d. Toileting tidak tepat 5 0 5 100 3 0 3 100 1 0 1 100 5 Respon Sosial

a. Mengurung diri 7 1 6 85,7 4 0 4 100 2 0 2 100 b. Menghindari dari orang lain 5 0 5 100 2 0 2 100 0 0 0 0 c. Menolak interaksi 5 0 5 100 2 0 2 100 0 0 0 0 MEAN 5,5 1,3 4,2 76,3 3,3 0,3 2,9 90,6 1,7 0,0 1,7 86,7

Tabel 4.2 Distribusi Hasil Evaluasi

Kemampuan Klien Pre dan Post Terapi Keperawatan Klien Skizofrenia dengan Defisit Perawatan Diri No Kemampuan Klien Behaviour Theraphy (n=9)

Behaviour Theraphy Behaviour Theraphy Supportif Theraphy (n=6) Supportif Theraphy Self Help Group (n=3) Pre Post Selisih % Pre Post Selisih % Pre Post Selisih % 1 Kemampuan klien

a. Tidak mampu untuk mandi 5 1 4 80 3 0 3 100 2 0 2 100 b. Tidak mampu untuk berhias 6 1 5 83,3 4 0 4 100 2 0 2 100 c. Tidak mampu makan minum

teratur 5 1 4 80 3 0 3 100 2 0 2 100 d. Tidak mampu toileting

dengan benar 5 0 5 100 3 0 3 100 2 0 2 100 2 Keyakinan positif

a. Tidak yakin akan sembuh 4 4 0 0 1 0 1 100 0 0 0 0 b. Tidak yakin terhadap tenaga

kesehatan 5 2 3 60 3 1 2 66,7 1 0 1 100 c. Tidak yakin terhadap

pelayanan kesehatan 5 5 0 0 3 1 2 66,7 1 0 1 100 MEAN 5,0 2,0 3,0 57,6 2,9 0,3 2,6 90,5 1,4 0,0 1,4 85,7

(10)

Jurnal Keperawatan Jiwa . Volume 1, No. 2, November 2013; 107-120

112

112 Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 1 No. 2 November 2013 107-120

Berdasarkan tabel 1 dan 2 klien defisit perawatan diri dengan diagnosa medis skizofrenia, respon kognitif efektif meningkat dengan pemberian Behaviour Theraphy (100%) dan akan lebih efektif untuk semua kemampuan dengan perpaduan Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group Theraphy sebesar (100 %). Respon afektif, efektif meningkat setelah diberikan perpaduan antara terapi Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group Theraphy (100%). Respon fisiologis, juga efektif meningkat setelah diberikan perpaduan antara terapi Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group Theraphy (100%). Respon perilaku, efektif meningkat

setelah diberikan perpaduan antara Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group Theraphy (100%). Respon sosial, meningkat setelah pemberian Behaviour Theraphy (100%) dan lebih efektif lagi setelah diberikan perpaduan antara terapi Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self

Help Group Theraphy (100%).

Kemampuan klien skizofrenia juga mengalami peningkatan dengan pemberian Behaviour Theraphy (63%-88%) dan lebih meningkat lagi prosentasenya setelah diberikan perpaduan terapi Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group Theraphy yaitu sebesar 100%.

Tabel 3 Distribusi Hasil Evaluasi

Respon terhadap Stressor Pre dan Post Terapi Keperawatan Klien Retardasi Mental dengan Defisit Perawatan Diri

No Respon terhadap Stressor

Behaviour Theraphy

(n=4) Behaviour Theraphy Supportif Behaviour Theraphy Theraphy(n=2) Self Help Group(n=1) Supportif Theraphy Pre Post Selisih % Pre Post Selisih % Pre Post Selisih % 1 Respon Kognitif

a. Tidak mampu mengambil

keputusan 4 2 2 50 2 2 0 0 1 0 1 100 b. Tidak tahu cara merawat diri 4 1 3 75 2 0 2 100 1 0 1 100 2 Respon Afektif

a. Perasaan negatif terhadap diri 3 1 2 66,7 2 0 2 100 1 0 1 100 b. Sedih 1 0 1 100 0 0 0 0 0 0 0 0 c. Merasa tidak mampu merawat diri 2 0 2 100 2 0 2 100 1 0 1 100 d. Tidak ada motivasi merawat diri 2 0 2 100 2 0 2 100 1 0 1 100 3 Respon Fisiologis

a. Lelah/letih/lemah 4 1 3 75 2 0 2 100 1 0 1 100 b. Penurunan musculoskeletal 4 1 3 75 2 0 2 100 1 0 1 100 4 Respon Perilaku

a. Tidak mandi 4 1 3 75 2 0 2 100 1 0 1 100 b. Tidak berhias setelah mandi 4 1 3 75 2 0 2 100 1 0 1 100 c. Tidak makan dan minum teratur 4 2 2 50 2 0 2 100 1 0 1 100 d. Toileting tidak tepat 4 1 3 75 2 0 2 100 1 0 1 100 5 Respon Sosial

a. Mengurung diri 4 1 3 75 2 0 2 100 1 0 1 100 b. Menghindari dari orang lain 1 0 1 100 0 0 0 0 0 0 0 0 c. Menolak interaksi 1 0 1 100 0 0 0 0 0 0 0 0 MEAN 3,1 0,8 2,3 79,4 1,6 0,1 1,5 73,3 0,8 0,0 0,8 80,0

(11)

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri pada Klien Gangguan Jiwa di RW 02 dan RW 12 Kelurahan BaranangSiang Kecamatan Bogor Timur Dwi Heppy Rochmawati1, Budi Anna Keliat2, Ice Yulia Wardani3

113

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri Pada Klien Gangguan Jiwa Di Rw 02 Dan Rw 12 Kelurahan Baranangsiang Kecamatan Bogor Timur

Dwi Heppy Rochmawati, Budi Anna Keliat, Ice Yulia Wardani 113 Tabel 4 Distribusi Hasil Evaluasi

Kemampuan Klien Pre dan Post Terapi Keperawatan Klien Retardasi Mental dengan Defisit Perawatan Diri

No Kemampuan Klien

Behaviour Theraphy (n=4)

Behaviour Theraphy Behaviour Theraphy Supportif Theraphy (n=2) Supportif Theraphy Self Help Group (n=1) Pre Post Selisih % Pre Post Selisih % Pre Post Selisih % 1 Kemampuan klien

a. Tidak mampu untuk mandi 4 1 3 75 2 1 1 50 1 0 1 100 b. Tidak mampu untuk berhias 4 1 3 75 2 0 2 100 1 0 1 100 c. Tidak mampu makan minum teratur 4 1 3 75 2 1 1 50 1 0 1 100 d. Tidak mampu toileting dengan benar 4 1 3 75 2 0 2 100 1 0 1 100 2 Keyakinan positif

a. Tidak yakin akan sembuh 3 0 3 100 0 0 0 0 0 0 0 0 b. Tidak yakin terhadap tenaga kesehatan 3 0 3 100 0 0 0 0 0 0 0 0 c. Tidak yakin terhadap pelayanan kesehatan 3 1 2 66,7 0 0 0 0 0 0 0 0 MEAN 3,6 0,7 2,9 81,0 1,1 0,3 0,9 42,9 0,6 0,0 0,6 57,1

Berdasarkan tabel 3 dan 4 di atas klien defisit perawatan diri dengan diagnosa medis retardasi mental, respon kognitif efektif meningkat dengan pemberian Behaviour Theraphy (100%) dan akan lebih efektif untuk semua kemampuan dengan perpaduan Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group Theraphy sebesar (100 %). Respon afektif, efektif meningkat setelah diberikan perpaduan antara terapi Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group Theraphy (100%). Respon fisiologis, juga efektif meningkat setelah diberikan perpaduan antara terapi Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group Theraphy (100%). Respon perilaku, efektif meningkat

setelah diberikan perpaduan antara Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group Theraphy (100%). Respon sosial, meningkat setelah pemberian Behaviour Theraphy (100%) dan lebih efektif lagi setelah diberikan perpaduan antara terapi Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self

Help Group Theraphy (100%).

Kemampuan klien retardasi mental juga mengalami peningkatan dengan pemberian Behaviour Theraphy (63%-88%) dan lebih meningkat lagi prosentasenya setelah diberikan perpaduan terapi Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group Theraphy yaitu sebesar 100%.

(12)

Jurnal Keperawatan Jiwa . Volume 1, No. 2, November 2013; 107-120

114

114 Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 1 No. 2 November 2013 107-120

Tabel 5 Distribusi Hasil Evaluasi

Respon terhadap Stressor Pre dan Post Terapi Keperawatan Klien Demensia dengan Defisit Perawatan Diri

No Respon terhadap Stressor Behaviour Theraphy(n=4)

Behaviour Theraphy Behaviour Theraphy Supportif Theraphy(n=0) Supportif Theraphy Self Help Group(n=0) Pre Post Selisih % Pre Post Selisih % Pre Post Selisih % 1 Respon Kognitif

a. Tidak mampu mengambil

keputusan 4 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

b. Tidak tahu cara merawat diri 4 0 4 100 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Respon Afektif

a. Perasaan negatif terhadap diri 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 b. Sedih 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 c. Merasa tidak mampu merawat

diri 4 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

d. Tidak ada motivasi merawat diri 4 0 4 100 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Respon Fisiologis

a. Lelah/letih/lemah 4 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 b. Penurunan muskuloskeletal 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Respon Perilaku

a. Tidak mandi 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 b. Tidak berhias setelah mandi 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 c. Tidak makan dan minum teratur 3 0 3 75 0 0 0 0 0 0 0 0 d. Toileting tidak tepat 4 0 4 100 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Respon Sosial

a. Mengurung diri 4 0 4 100 0 0 0 0 0 0 0 0 b. Menghindari dari orang lain 3 0 3 75 0 0 0 0 0 0 0 0 c. Menolak interaksi 2 1 1 25 0 0 0 0 0 0 0 0 MEAN 3,3 1,8 1,5 38,3 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0

Tabel 6 Distribusi Hasil Evaluasi

Kemampuan Klien Pre dan Post Terapi Keperawatan Klien Demensia dengan Defisit Perawatan Diri

No Kemampuan Klien

Behaviour Theraphy (n=4)

Behaviour Theraphy Behaviour Theraphy Supportif Theraphy

(n=0)

Supportif Theraphy Self Help Group (n=0) Pre Post Selisih % Pre Post Selisih % Pre Post Selisih % 1 Kemampuan klien

a. Tidak mampu untuk mandi 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 b. Tidak mampu untuk berhias 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 c. Tidak mampu makan minum teratur 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 d. Tidak mampu toileting dengan benar 4 0 4 100 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Keyakinan positif

a. Tidak yakin akan sembuh 4 0 4 100 0 0 0 0 0 0 0 0 b. Tidak yakin terhadap tenaga

kesehatan 1 0 1 100 0 0 0 0 0 0 0 0 c. Tidak yakin terhadap pelayanan

kesehatan 1 0 1 100 0 0 0 0 0 0 0 0 MEAN 2,7 1,3 1,4 57,1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0

(13)

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri pada Klien Gangguan Jiwa di RW 02 dan RW 12 Kelurahan BaranangSiang Kecamatan Bogor Timur Dwi Heppy Rochmawati1, Budi Anna Keliat2, Ice Yulia Wardani3

115

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri Pada Klien Gangguan Jiwa Di Rw 02 Dan Rw 12 Kelurahan Baranangsiang Kecamatan Bogor Timur

Dwi Heppy Rochmawati, Budi Anna Keliat, Ice Yulia Wardani 115 Berdasarkan tabel 5 dan 6 di bawah klien

defisit perawatan diri dengan diagnosa medis demensia, respon kognitif, afektif, perilaku dan sosial efektif meningkat dengan pemberian terapi Behaviour Theraphy (100%). Sedangkan respon fisiologis, dengan pemberian Behaviour Theraphy tidak terbukti bisa menurunkan respon fisiologis kelelahan/kelelatihan dan penurunan muskuloskeletal. Peningkatan kemampuan klien demensia dengan pemberian Behaviour Theraphy efektif meningkat pada kemampuan toileting dan keyakinan positif, tidak bisa diukur efektifitas bila diberikan perpaduan beberapa terapi karena tidak mampu untuk diberikan terapi-terapi lain.

PEMBAHASAN

Klien yang dirawat dengan masalah defisit perawatan diri sebagian besar berada pada rentang usia 21 sampai dengan 40 tahun. Menurut Erikson (2000, dalam Stuart & Sundeen, 1995), pada usia ini individu mulai mempertahankan hubungan saling ketergantungan, memilih pekerjaan, memilih karir, melangsungkan perkawinan. Usia tersebut merupakan usia perkembangan dewasa pertengahan, yaitu usia dimana individu mendapatkan tuntutan dari lingkungan sekitar (keluarga dan masyarakat) untuk mengaktualisasikan dirinya. Kegagalan untuk memenuhi tuntutan dari lingkungan sekitar dan melaksanakan tugas perkembangannya sering diartikan sebagai ketidakmampuan yang akan mengakibatkan perhatian hanya tertuju pada diri sendiri, perhatian pada orang lain berkurang, menyalahkan diri dan orang lain yang akhirnya ditunjukkan dengan penurunan motivasi untuk merawat diri atau defisit perawatan diri

Pendidikan klien sebagian besar SD sebanyak 6 orang klien (33,33%). Menurut Stuart (2009) bahwa aspek intelektual merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan jiwa karena berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam menyampaikan ide atau pendapatnya, selanjutnya akan berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk

memenuhi harapan dan keinginan yang ingin dicapai dalam hidupnya sehingga akan lebih minimal untuk terjadinya defisit perawatan diri. Potter & Perry (2005) mengatakan bahwa defisit perawatan diri biasanya banyak terjadi pada klien yang mempunyai latar belakang pendidikan rendah.

Sebagian besar klien tidak mempunyai pekerjaan (menganggur) yaitu sebanyak 11 orang klien (61,1%). Menurut Townsend (2005) banyak hal yang telah dicoba untuk dikaitkan dengan masalah defisit perawatan diri, salah satunya akan terkait dengan masalah status sosial. Faktor status sosial ekonomi yang rendah lebih banyak mengalami gangguan jiwa yang menyebabkan kurangnya motivasi untuk melakukan perawatan diri dibandingkan pada tingkat sosial ekonomi tinggi.

Klien sebagian besar belum menikah yaitu 11 orang klien (61,1%). Salah satu faktor predisposisi defisit perawatan diri, menurut Stuart (2009) adalah ketidakmampuan mengungkapkan keinginan, termasuk keinginan hidup berumah tangga. Berdasarkan pendapat ini dapat dikatakan klien merasa frustasi dengan kondisinya yang sendiri dan merasa iri jika melihat orang pacaran dan menikah, Klien merasa malu dan marah pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Jika dikaitkan dengan usia, klien berada dalam rentang dewasa muda dimana klien mempunyai tugas perkembangan yang harus dilalui yaitu mengembangkan hubungan intim dengan lawan jenis dalam ikatan pernikahan. Tidak terpenuhinya atau kegagalan dalam memenuhi tugas perkembangan ini merupakan stresor bagi individu yang berujung pada defisit perawatan diri.

Stressor predisposisi biologis pada klien defisit perawatan diri sebagian besar karena faktor genetik (44,4%). Faktor biologis ini terkait dengan adanya neuropatologi dan

ketidakseimbangan dari neurotransmiternya. Dampak yang dapat

dinilai sebagai manifestasi adanya gangguan adalah pada perilaku maladaptif klien (Townsend, 2005). Secara biologi

(14)

Jurnal Keperawatan Jiwa . Volume 1, No. 2, November 2013; 107-120

116

116 Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 1 No. 2 November 2013 107-120

riset neurobiologikal memfokuskan pada tiga area otak yang dipercaya dapat melibatkan defisit perawatan diri yaitu sistem limbik, lobus frontalis dan hipotalamus. Kondisi lain yaitu adanya kondisi patologis dan ketidakseimbangan dari beberapa neurotransmitter. Neurotransmitter tersebut adalah dopamin, serotonin, norepineprin dan asetilkolin. Stressor presipitasi psikologis pada klien didapatkan memiliki riwayat psikologis berupa mengalami kejadian yang kurang menyenangkan yaitu (77,8%) berupa pengalaman-pengalaman kegagalan dan kehilangan, seperti kegagalan dalam membina hubungan dengan lawan jenis, kehilangan orang yang dicintai atau berarti, kegagalan dalam pekerjaan, pola asuh yang tidak tepat dan kehilangan orang yang berarti. Hal ini sesuai dengan pendapat Stuart (2009) bahwa faktor psikologis, yang meliputi konsep diri, intelektualitas, kepribadian, moralitas, pengalaman masa lalu, koping dan ketrampilan komunikasi secara verbal mempengaruhi perilaku seseorang dalam hubungannya dengan orang lain.

Terapi perilaku terbukti efektif untuk mengubah perilaku maladaptif menjadi perilaku adaptif yaitu dengan meningkatnya respon terhadap stressor dan kemampuan klien defisit perawatan diri dalam melakukan perawatan diri khususnya dengan diagnosa medis skizofrenia yang menderita sakit kurang dari 10 tahun. Pada klien defisit perawatan diri dengan diagnosa medis skizofrenia yang menderita sakit lebih dari 10 tahun terapi perilaku bisa diberikan tetapi dikombinasi dengan terapi suportif dan terapi kelompok swa bantu. Pada klien defisit perawatan diri khususnya dengan diagnosa medis retardasi mental, pemberian terapi perilaku juga efektif untuk mengubah perilaku maladaptif menjadi perilaku adaptif, yaitu dengan meningkatnya respon terhadap stressor dan kemampuan klien defisit perawatan diri dalam melakukan perawatan diri, tetapi hasil akan terlihat lebih efektif bila

pemberian terapi dipadukan dengan terapi suportif dan swa bantu. Ketidakikutsertaan seluruh klien retardasi mental dalam terapi kelompok suportif dan swa bantu membuat efektifitas pemberian terapi tidak bisa diukur dengan maksimal.

Sedangkan pada klien defisit perawatan diri khususnya dengan diagnosa medis demensia, pemberian terapi perilaku belum cukup efektif untuk mengubah perilaku maladaptif menjadi perilaku adaptif. Peningkatan kemampuan klien juga tidak bisa ditunjukkan dengan hasil yang memuaskan. Hal ini menurut penulis, karena adanya keterbatasan kemampuan kognitif pada klien demensia. Klien demensia mengalami kemunduran dalam hal kognitif sehingga untuk menyerap informasi dan mempraktikkannya merupakan suatu upaya yang berat dilakukan dalam jangka waktu yang singkat.

SIMPULAN DAN SARAN

Seluruh klien dan keluarga dengan anggota keluarga mengalami defisit perawatan diri telah mendapatkan paket terapi secara tuntas. Hasil evaluasi pelaksanaan terapi menunjukkan bahwa paket terapi yang memberikan efek khususnya untuk lebih mengurangi respon terhadap stressor pada klien dengan defisit perawatan diri dan meningkatkan kemampuan klien untuk merawat diri adalah Behaviour Theraphy (100%), Behaviour Theraphy dan Supportif Theraphy (100%) serta Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group (100%). Dari ketiga paket terapi tersebut, paket terapi ketiga terbukti paling efektif untuk mengatasi masalah klien defisit perawatan diri, yaitu Behaviour Theraphy, Supportif Theraphy dan Self Help Group. Sedangkan terapi untuk keluarga, terapi yang efektif untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat klien defisit perawatan diri adalah pemberian terapi Family Psycoeducation, Family Psycoeducation dan Supportif Theraphy serta Family Psycoeducation, Supportif Theraphy dan Self Help Group. Dari ketiga paket terapi yang diberikan

(15)

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri pada Klien Gangguan Jiwa di RW 02 dan RW 12 Kelurahan BaranangSiang Kecamatan Bogor Timur Dwi Heppy Rochmawati1, Budi Anna Keliat2, Ice Yulia Wardani3

117

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri Pada Klien Gangguan Jiwa Di Rw 02 Dan Rw 12 Kelurahan Baranangsiang Kecamatan Bogor Timur

Dwi Heppy Rochmawati, Budi Anna Keliat, Ice Yulia Wardani 117 pada keluarga tersebut, terapi yang terbukti

paling efektif untuk meningkatkan kemampuan keluarga adalah pemberian paket terapi yang ketiga, yaitu Family Psycoeducation, Supportif Theraphy dan Self Help Group.

Saran dari penelitian ini adalah bagi Departemen Kesehatan agar menyusun kebijakan terkait dengan program pelayanan keperawatan jiwa spesialistik bagi klien di tatanan komunitas. Bagi Dinas Kesehatan Kota Bogor untuk bekerja sama, memfasilitasi jalannya program Community

Mental Health Nursing dan

mengembangkan program CMHN di wilayah lain seperti Bogor Utara, Bogor Selatan dan Tanah Sereal. Bagi Puskesmas Bogor Timur, khususnya perawat CMHN hendaknya menindaklanjuti dan mengevaluasi perkembangan kemampuan klien, keluarga dan kader yang sudah dilatih dalam memenuhi kebutuahn perawatan diri. Bagi program spesialis keperawatan jiwa, hasil temuan pada Karya Ilmiah Akhir ini bisa digunakan sebagai evidence based dalam mengembangkan terapi spesialis keperawatan jiwa. Bagi perkembangan riset keperawatan, perlunya dikembangkan penelitian tentang efektifitas beberapa paket terapi spesialis pada klien dengan defisit perawatan diri.

DAFTAR ACUAN

American Nurses Association. (2000). Scope and Standard of Psychiatric Mental Health Nursing Practice. Whasington, D.C: American Nurses Association.

American Psychological Association. (2001). Publication Manual of the American Psychological Association. (5th ed.). Washington, DC: American Psychological Association.

Anonim. (2008). Self Help Group. http://www.minddisorder.com.diperole h tanggal 27 Mei 2012

Badudu, J.S. & Zain, S. (1995). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

Bastaman, T. K. (2010). Kasus Gangguan Jiwa Ringan Semakin Meningkat. http : //www.duniapustaka.org/. diperoleh

pada tanggal 27 Mei 2012. Boyd, M.A. & Nihart, M.A. (1998).

Psychiatric Nursing Contemporary Practice.

USA: Lippincott Raven Publisher

______________________. (2002). Psychiatric Nursing Contemporary Practice.

USA: Lippincott Raven Publisher

Carson, V.B. (2000). Mental Health Nursing: The Nurse Patient Journey. (2th ed.). Philadelphia: W.B. Sauders Company.

Chien, W.T. ; Chan, S.W.C. & Thompson, D.R. (2006). Effects of a Mutual Support Group for Families of Chinesse People with Schizopheria : 18-Months Follow Up. http : //bjp.repsych.org. Diperoleh tanggal 27 Mei 2012.

Citron, et.all. (1999). Self Help Groups for Families of Persons with Mental Illness: Perceived Benefits of Helpfulness. http://www.proquest.com. diperoleh tanggal 30 Januari 2008 Corey, G. (2003). Teori dan Praktek

Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Riset Kesehatan Dasar 2007. http://www.litbang.depkes.go.id/LaporanR

KD/IndonesiaNasional.pdf, diperoleh tanggal 27 Mei 2012.

Dinkes Kota Bogor. (2010). Profil Puskesmas Bogor Timur. Bogor

(16)

Jurnal Keperawatan Jiwa . Volume 1, No. 2, November 2013; 107-120

118

118 Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 1 No. 2 November 2013 107-120

Friedman, M. M., 2003. Family Nursing: Research, Theori & Practice. (5 nd ed). Connecticut: Appleton & Lange.

Frisch, N.C. & Frisch, L.E. (2006) Psychiatric Mental Health Nursing. (3th Ed.).

Canada: Thompson corporation

Gillies, D.A. (1994). Nursing Management : A System Approach. (3rd ed.). Philadelphia: W.B. Saunders Company Hawari, D. (2001). Pendekatan Holistik pada Gangguan Jiwa Skizofrenia, Jakarta : FKUI

Herdman, T. (2012). Nursing Diagnosis : Definition & Classification 2012– 2014. Indianapolis: Willey – Balckwell.

Hunt. (2004). A Resource Kit for Self Help/Support Group for People Affected by An Eating Disorder.

Isaacs, A. (2005). Lippincott’s Review Series : Mental Health and Psychiatric Nursing (3 rd ed). Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins.

Kaplan , H.I. ; Saddock, B.J. & . Grebb,J.A. (1997). Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid I. (7th ed.). Jakarta : Bina Rupa Aksara. Jakarta

________________. (2007). Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan Psikiatri Klinis. (Jilid 1). Jakarta: Bina Rupa Aksara.

Keliat, B.A. (2003). Pemberdayaan Klien dan Keluarga dalam Perawatan Klien Skizofrenia dengan Perilaku Kekerasan di RSMM Bogor. Disertasi. Jakarta. FKM UI. tidak dipublikasikan Keliat, B.A. & Akemat. (2007). Model

Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Keliat, B.A., Akemat, Susanti, H. (2011). Manajemen Kasus Gangguan Jiwa CMHN (Intermediate Course). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran : EGC _____________________________.

(2011). Manajemen Keperawatan Jiwa Komunitas Desa Siaga CMHN (Intermediate Course). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran : EGC

_____________________________.

(2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas CMHN (Basic Course). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran : EGC

_____________________________.

(2011). Manajemen Keperawatan Psikososial & Kader Kesehatan Jiwa CMHN (Intermediate Course). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran : EGC Maramis, W.F. (2006). Catatan Ilmu

Kedokteran Jiwa. Surabaya :

Airlangga Universitas Press.

Maslim, R. (2003). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas Dari PPDGJ-III. Direktorat Kesehatan Jiwa. Jakarta

Mohr, W. K. (2006). Psychiatric Mental Health Nursing. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Potter, P.A. & Perry, A. G. (2005). Fundamental of Nursing : Concepts, Process and Practice. Philadelphia : Mosby Year Book Inc.

Parendrawati, D.,P. (2008). Pengaruh Terapi Token Ekonomi pada Klien Defisit Perawatan Diri di RSMM Bogor, Tesis. Jakarta. FIK UI. Tidak dipublikasikan

Rawlin, William & Beck. (1998) Mental Health Psychiatric Nursing a Holistic Life Cycle Approach. 2nd edition. St Louis: Mosby Year Book.Inc

(17)

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri pada Klien Gangguan Jiwa di RW 02 dan RW 12 Kelurahan BaranangSiang Kecamatan Bogor Timur Dwi Heppy Rochmawati1, Budi Anna Keliat2, Ice Yulia Wardani3

119

Manajemen Kasus Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri Pada Klien Gangguan Jiwa Di Rw 02 Dan Rw 12 Kelurahan Baranangsiang Kecamatan Bogor Timur

Dwi Heppy Rochmawati, Budi Anna Keliat, Ice Yulia Wardani 119 Shives, L.R. (1998). Basic Concepts of

Psychiatric Mental Health Nursing. (4 th ed), Philadelphia : Lippincott. __________. (2005). Basic Concepts of

Psychiatric Mental Health Nursing. (6th ed).Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins

Smith & Segal. (2011). Coping with Grief and Loss. Support fot Grieving and Breavement.

http://www.helpguide.org/mental/grief _loss.htm. Diperoleh tanggal 27 Mei 2012.

Stuart, G.W & Sundeen. (1995). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. (5th edition). St. Louis : Mosby

Stuart, G.W & Laraia, M.T (2005). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. (7th edition). St Louis : Mosby

Stuart, G.W (2009). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. (9th edition). St Louis : Mosby

Suliswati, dkk. (2005). Konsep Dasar keperawatan Kesehatan Jiwa. Cetakan I. EGC. Jakarta.

Tomey, M.A (2001). Nursing Theories and Their Work. The C.V. Mosby Company St.Louis : Mosby Years Book Inc.

Tomey, A.M & Alligood, M.R. (2006). Nursing Theories and Their Work. (6th ed). St. Louis : Mosby Years Book Inc. Townsend, C.M. (2005). Essentials of

Psychiatric Mental Health Nursing. (3th Ed.). Philadelphia: F.A. Davis Company

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit

Universitas Indonesia. 2008. Pedoman Teknis Penulisan Tugas Akhir Mahasiswa

Universitas Indonesia. Jakarta: UI

Utami, T.W. (2008). Pengaruh Self Help Group terhadap Kemampuan Keluarga dalam Merawat Klien Gangguan Jiwa di Kelurahan Sindang Barang Bogor, Tesis. Jakarta. FIK UI. Tidak dipublikasikan.

Varcarolis, E.M. (2003), Psychiatric Nursing Clinical Guide; Assesment Tools and Diagnosis . Philadelphia: W.B Saunders Co

Varcarolis, E.M, Carson, V. B, Shoemaker, N. C. (2006). Foundations of Psychiatric Mental Health Nursing: a Clinical Approach. (5th ed). St. Louis: Saunders Elseviers.

Videbeck, S.,L. (2006). Psychiatric Mental Health Nursing. (3rd edition). Philadhelpia: Lippincott Williams & Wilkins.

______________. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC. Wilkinson, J.M. (2005). Prentice Hall

Nursing Diagnosis Handbook with Nic Intervention and Noc Outcomes. (8th ed). New Jersey: Pearson Prentice Hall.

_____________. (2007). Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Edisi 7. Alih bahasa: Widyawati, dkk. Jakarta: EGC

WHO. (2001). The World Health Report 2001. World Health Organization _____. (2006). The Lancet. London :

Elseiver Properties SA. Publication Data.

(18)

Jurnal Keperawatan Jiwa . Volume 1, No. 2, November 2013; 107-120

120

120 Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 1 No. 2 November 2013 107-120

_____. (2009). Improving Health System and Service for Mental Health : WHO Library Catalouging-in-

_____. (2011). Skizofrenia. http://www.who.int/mental_health/enti ty/. diperoleh tanggal 27 Mei 2012 ==================================================================== 1 Ns. Hj. Dwi Heppy Rochmawati, M.Kep. : Mahasiswa Spesialis Ilmu Keperawatan, Kekhususan Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

2 Prof. Dr. Budi Anna Keliat, M.App. Sc. : Guru Besar, Dosen Kelompok Keilmuan Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jakarta

3 Ns. Ice Yulia Wardani, M.Kep., Sp. Kep J. : Dosen Kelompok Keilmuan Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jakarta

(19)

Peningkatan Kemampuan Interaksi Sosial (Kognitif, Afektif Dan Perilaku) Melalui Penerapan Terapi Perilaku Kognitif Di RSJ DR Amino Gondohutomo Semarang

Sri Nyumirah

121

Peningkatan Kemampuan Interaksi Sosial (Kognitif, Afektif Dan Perilaku) Melalui Penerapan Terapi Perilaku Kognitif Di RSJ Dr Amino Gondohutomo Semarang

Sri Nyumirah 121

PENINGKATAN KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL (KOGNITIF, AFEKTIF

DAN PERILAKU) MELALUI PENERAPAN TERAPI PERILAKU KOGNITIF

DI RSJ DR AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG

Sri Nyumirah

Program Magister Ilmu Keperawatan Kekhususan Keperawatan Jiwa

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, 16424, Indonesia

Email :

[email protected]

ABSTRAK

Isolasi sosial merupakan suatu keadaan perubahan yang dialami klien skizofrenia. Suatu pengalaman menyendiri dari seseorang dan perasaan segan terhadap orang lain sebagai sesuatu yang negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi perilaku kognitif terhadap kemampuan klien isolasi sosial dalam melakukan interaksi di ruang rawat inap di RSJ Dr Amino Gondohutomo Semarang. Desain penelitian quasi experimental pre-post test with without control. Sampel berjumlah 33 orang dengan tehnik pengambilan sampel total sampling. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh terapi perilaku kognitif terhadap kemampuan interaksi (kognitif, afektif dan perilaku) pada klien isolasi sosial (p value < 0.05). Ada peningkatan kemampuan interaksi sosial (kognitif, afektif dan perilaku) setelah dilakukan terapi perilaku kognitif. Terapi perilaku kognitif direkomendasikan diterapkan sebagai terapi keperawatan dalam merawat klien dengan isolasi sosial dengan penurunan kemampuan interaksi sosial.

Kata kunci :Terapi perilaku kognitif, kemampuan interaksi sosial (kognitif, afektif dan psikomotor),

klien isolasi sosial Daftar pustaka : 88 (1999 -2012)

ABSTRACT

Social isolation is a state of change experienced by clients with schizophrenia. A person's solitude experience and shyness towards others as something negative. This study aims to determine the effect of cognitive behavioral therapy for social isolation in the client's ability to interaction the hospitalized in the RSJ Dr Amino Gondohutomo Semarang. Quasi-experimental research design pre-post test without control. Sample 33 peoples with total sampling technique. Results showed no effect of cognitive behavioral the rapyon the ability of interaction (cognitive, affective and behavioral) on the client's social isolation (p value <0.05). There is increasing social interaction skills (cognitive, affective and behavioral) after cognitive behavioral therapy. Cognitive behavioral therapy is recommended as a treatment applied to nursing in the care of clients with social isolation with a reduction in social interaction skills.

Keyword : Cognitive Behavioral Therapy, ability of social interaction (cognitive, affective and behavioral), social isolation client.

(20)

Jurnal Keperawatan Jiwa . Volume 1, No. 2, November 2013; 121-128

122

122 Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 1 No. 2 November 2013 121-128

PENDAHULUAN

Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan perilaku dan koping individu efektif, konsep diri yang positif dan kestabilan emosional (Johnsons, 1997 dalam Videback, 2008). Kesehatan jiwa juga mempunyai sifat yang harmonis dan memperhatikan semua segi dalam kehidupan manusia dalam berhubungan dengan manusia lainnya yang akan mempengaruhi perkembangan fisik, mental, dan sosial individu secara optimal yang selaras dengan perkembangan masing-masing individu.

Menurut WHO (2009), prevalensi masalah kesehatan jiwa mencapai 13% dari penyakit secara keseluruhan dan kemungkinan akan berkembang menjadi 25% di tahun 2030, gangguan jiwa juga berhubungan dengan bunuh diri, lebih dari 90% dari satu juta kasus bunuh diri setiap tahunnya akibat gangguan jiwa. Gangguan jiwa ditemukan di semua negara, terjadi pada semua tahap kehidupan, termasuk orang dewasa dan cenderung terjadi peningkatan gangguan jiwa.

Prevalensi terjadinya gangguan jiwa berat di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (2007) adalah sebesar 4,6 permil, dengan kata lain dari 1000 penduduk Indonesia empat sampai lima diantaranya menderita gangguan jiwa berat (Balitbang Depkes RI, 2008). Penduduk Indonesia pada tahun 2007 (Pusat Data dan Informasi Depkes RI, 2009) sebanyak 225.642.124 sehingga klien gangguan jiwa di Indonesia pada Tahun 2007 diperkirakan 1.037.454 orang. Kondisi diatas mengambarkan jumlah klien gangguan jiwa yang mengalami ketidakmampuan untuk terlibat dalam aktivitas oleh karena keterbatasan mental akibat gangguan jiwa berat yang akan mempengaruhi kualitas kehidupan penderitanya. Tahun 2009 angka kejadian penderita gangguan jiwa di Jawa Tengah berkisar antara 3300 orang sampai 9300

orang (Widyayati, 2009). Angka kejadian ini merupakan penderita yang sudah terdiagnosa. Persentase gangguan kesehatan jiwa itu akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya beban hidup masyarakat Indonesia.

Salah satu bentuk gangguan kejiwaan yang memiliki tingkat keparahan yang tinggi adalah skizofrenia. Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang akan membebani masyarakat sepanjang hidup penderita yang dikarakteristikan dengan disorganisasi pikiran, perasaan dan perilaku (Lenzenweger & Gottesman, 1994 dalam Sinaga 2008). Seseorang yang mengalami skizofrenia akan mempengaruhi semua aspek dari kehidupannya yang ditandai dengan gejala-gejala psikotik yang khas dan terjadi kemunduran fungsi sosial yaitu gangguan dalam berhubungan dengan orang lain, fungsi kerja menurun, kesulitan dalam berfikir abstrak, kurang spontanitas, serta gangguan pikiran/ inkoheren.

Gejala yang lebih banyak muncul pada klien dengan skizofrenia yaitu disfungsi sosial dan pekerjaan yang mempengaruhi perilaku pada klien skizofrenia menyebabkan depresi pada klien yang mengganggu konsep diri klien sehingga menjadikan kurangnya penerimaan klien di lingkungan keluarga dan masyarakat terhadap kondisi yang dialami klien yang mengakibatkan klien mengalami isolasi sosial (Sinaga, 2008). Isolasi sosial adalah merupakan suatu keadaan perubahan yang dialami klien skizofrenia. Isolasi sosial adalah suatu pengalaman menyendiri dari seseorang dan perasaan segan terhadap orang lain sebagai sesuatu yang negatif atau keadaan yang mengancam (NANDA, 2005). Klien yang mengalami isolasi sosial akan cenderung muncul perilaku menghindar saat berinteraksi dengan orang lain dan lebih suka menyendiri terhadap lingkungan agar pengalaman yang tidak menyenangkan dalam berhubungan dengan orang lain tidak terulang kembali (Keliat, 1999). Dengan demikian kegagalan individu dalam melakukan interaksi dengan

(21)

Peningkatan Kemampuan Interaksi Sosial (Kognitif, Afektif Dan Perilaku) Melalui Penerapan Terapi Perilaku Kognitif Di RSJ DR Amino Gondohutomo Semarang

Sri Nyumirah

123

Peningkatan Kemampuan Interaksi Sosial (Kognitif, Afektif Dan Perilaku) Melalui Penerapan Terapi Perilaku Kognitif Di RSJ Dr Amino Gondohutomo Semarang

Sri Nyumirah 123 orang lain sebagai akibat dari pikiran

negatif dan pengalaman yang tidak menyenangkan sebagai ancaman terhadap individu.

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di RSJ Dr Amino Gondohutomo oleh peneliti bahwa sudah dilakukan tindakan keperawatan namun dampak terhadap kemampuan klien dalam melakukan interaksi sosial masih belum maksimal dengan masih tampaknya gejala isolasi sosial yang muncul dan pikiran menganggap tidak penting dan tidak ada gunanya berinteraksi dengan orang lain sehingga menurunkan motivasi klien saat akan berinteraksi dengan orang lain. Tindakan keperawatan pada klien isolasi sosial akan lebih efektif dan meningkatkan kemampuan klien dalam melakukan interaksi sosial secara adekuat bila dipadukan dengan tindakan keperawatan lanjut/spesialis. Menurut Putdangmith (2011 dalam Suryani, 2006) apabila tidak ada komunikasi saat melakukan interaksi sosial akan terjadi berkurangnya individu yang kita kenali, adanya ketidakharmonisan terhadap individu yang satu sama lain, dapat berakibat konflik, bahkan terpecahnya suatu kelompok itu sendiri.

Berdasarkan data dari RSJ Dr Amino Gondohutomo Semarang untuk gangguan jiwa dengan isolasi sosial tahun 2011 sebanyak 553, sedangkan bulan Januari sampai Februari 2012 sebanyak 40 orang dari delapan ruang rawat inap. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa banyaknya gangguan jiwa yang terjadi dengan masalah isolasi sosial maka perlu menjadi perhatian dan penanganan khusus bagi individu, keluarga, petugas di rumah sakit maupun lingkungan tempat tinggal klien.

Salah satu bentuk psikoterapi yang dapat diterapkan pada klien isolasi sosial dengan penurunan kemampuan dalam melakukan interaksi sosial karena pengalaman yang tidak menyenangkan dan pikiran negatif yang muncul pada individu sebagai ancamanindividu yaitu dengan terapi

perilaku kognitif yang didasarkan pada teori bahwa tanda dan gejala fisiologis berhubungan dengan interaksi antara pikiran, perilaku dan emosi (Pedneault, 2008). Sedang menurut (Epigee, 2009) terapi ini merupakan terapi yang didasari dari gabungan beberapa terapi yang dirancang untuk merubah cara berfikir dan memahami situasi dan perilaku sehingga mengurangi frekuensi negatif, emosi yang menganggu dan mengurangi penurunan motivasi terutama dalam melakukan interaksi sosial. Sesuai penelitian Renidayati (2008) tentang pengaruh Social Skills Training (SST) pada klien isolasi sosial bahwa terdapat peningkatan kemampuan kognitif dan kemampuan perilaku pada kelompok yang mengikuti SST dan yang tidak mengikuti SST, dimana pada kelompok yang mengikuti SST mengalami peningkatan kemampuan kognitif dan perilaku yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak mengikuti SST.

Menurut (Martin, 2010) bahwa penerapan terapi psikososial dengan perilaku kognitif dapat merubah pola pikir yang negatif menjadi positif sehingga perilaku yang maladaptif yang timbul akibat pola pikir yang salah juga akan berubah menjadi perilaku yang adaptif, sehingga pada akhirnya diharapkan individu dengan masalah isolasi sosial memiliki peningkatan kemampuan untuk melakukan interaksi sosial dan bereaksi secara adaptif dalam menghadapi masalah atau situasi yang sulit dalam setiap fase hidupnya.

Menurut Singer dan Addington (2009 dalam Lelono, 2010) penerapan terapi perilaku kognitif dapat menurunkan gejala negatif skizofrenia yang akan menjadi positif serta fungsi sosial yang baik dan menunjukan efek yang menetap setelah pengobatan berakhir, dibandingkan dengan perawatan rutin saja, karena dengan terapi perilaku kognitif klien dapat membantu klien melakukan perilaku dan pikiran yang positif. Jika diterapkan pada klien dengan isolasi sosial terbentuk pikiran yang positif sehingga mendapatkan perilaku yang

(22)

Jurnal Keperawatan Jiwa . Volume 1, No. 2, November 2013; 121-128

124

124 Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 1 No. 2 November 2013 121-128

positif. Klien dengan isolasi sosial yang mengalami penurunan motivasi dalam melakukan interaksi sosial dengan diberikan terapi perilaku kognitif akan mempunyai persepsi yang positif dan klien mengetahui pentingnya interaksi sosial.

Tujuan Umum: Penelitian ini bertujuan

untuk mendapatkan gambaran tentang

pengaruh terapi perilaku kognitif

terhadap tingkat kemampuan klien

isolasi sosial dalam melakukan interaksi

sosial di ruang rawat inap RSJ Dr

Amino Gondohutomo Semarang.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian dengan

metode kuantitatif menggunakan desain

”Quasi experimental pre-post test

without control” dengan intervensi

terapi perilaku kognitif yang terdiri dari

5 sesi pada tanggal 25 April-5 Juni

2012. Teknik pengambilan sampel

secara total sampling. Penelitian

dilakukan untuk menganalisa

peningkatan kemampuan kognitif,

afektif dan perilaku klien isolasi social

dalam melakukan interaksi sosial.

Sampel berjumlah 33 orang. Instrumen

yang digunakan instrumen ini

modifikasi peneliti dari (Townsend,

2009; Videback, 2008; Suryani, 2006;

Nasir dkk 2009; Nurjannah, 2001) dan

penilaian dari buku catatan harian klien

dan raport hasil evaluasi pelaksanaan

terapi perilaku kognitif dengan

menggunakan modul, buku kerja, buku

raport yang dibuat oleh Sasmita (2007);

Fauziah (2009) dan Wahyuni, (2010);

Erwina (2010); Hidayat (2010); Lelono

(2010); Sudiatmika (2010). Pengolahan

data dengan editing, coding, processing

dan cleaning. Analisis statistik yang

dipergunakan yaitu univariat dan

bivariat dengan analisis dependen dan

independent sample t-test sertauji anova

dankorelasi regresi. Etika penelitian

yang digunakan peneliti Maleficience,

Justice, Anomymous, Beneficence

danInformed concent.

HASIL PENELITIAN

Menjelaskan bahwa dari 33 orang

responden dalam penelitian ini, usia

produktif pada responden adalah 31

tahun dengan umur termuda 20tahun

dan tertua 45 tahun yang paling banyak

berjenis kelamin laki-laki 25 (75,8%)

yang berpendidikan SMP 20 (60,6%),

bekerja 20 (60,6%), tidak kawin 24

(72,7%).

Berdasarkan hasil uji statistik tidak ada

hubungan umur dengan kognitif, afektif

dan perilaku dan ada hubungan antara

jenis kelamin dengan kognitif (p<0,05).

Ada hubungan antara pekerjaan dengan

semua kemampuan responden dalam

melakukan interaksi sosial (kognitif,

afektif, perilaku) responden (p<0,05).

Ada hubungan pendidikan SD-SMA

dengan kemampuan kognitif responden

dalam melakukan interaksi sosial. Ada

hubungan antara status perkawinan

dengan kognitif dan afektif responden.

Berdasarkan tabel 1 menjelaskan bahwa

dari 33 responden rata-rata kemampuan

dalam melakukan interaksi sosial

(kognitif, afektif dan perilaku) setelah

dilakukan terapi perilaku kognitif lebih

tinggi dibandingkan sebelum dilakukan

terapi perilaku kognitif.

Variabel Mean P Value Kognitif Sebelum 13,79 0,000 Sesudah 19,88 Afektif Sebelum 14,58 0,000 Sesudah 17,33 Perilaku Sebelum 9,64 0,000 Sesudah 11,06

Gambar

Tabel 4.2 Distribusi Hasil Evaluasi
Tabel 3 Distribusi Hasil Evaluasi
Tabel 5 Distribusi Hasil Evaluasi
Tabel  1. Karakteristik sampel penelitian  (n=40)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai lembaga pendidikan Islam sangat subtantif dan objektif dalam peningkatan kualitas sumberdaya umat (mahasiswa) yang unggul ke depan. Mari kita melirik sejenak komplik yang

Bersama ini kami infokan bahwa Politeknik Negeri Sriwijaya akan menyelenggarakan The 1st International Conference Forum In Research, Science, And Technology. Bagi ibu/bapak

In most reconstruction/texture mapping work relying on mobile imagery, the problem of visibility computation is raised but of- ten not explicitly tackled, so we guess that the

shell akan mengeksekusi instruksi1 , dan bila exit status instruksi1 adalah FALSE, maka hasil dari AND tersebut sudah pasti sama dengan FALSE, sehingga.. instruksi2 tidak

Puji syukur kepada Allah Bapa Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan kasihNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Struktur Komik “Cemut, 5 Roti dan 2 Ikan”

Oleh karena itu peneliti melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai bentuk antisipasi dan perbaikan masalah perubahan lingkungan peserta didik dengan cara memberikan

Universitas Sumatera

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah gaya hidup yang meliputi konsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol, konsumsi minuman beralkohol, penyalahgunaan obat, perilaku