Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan dan Kinerja Perusahaan Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

Teks penuh

(1)

62

Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan dan Kinerja Perusahaan Pada

Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

Rizky Mangondua*, Yossi Diantimalab

a,b,

Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Corresponding author: mangondu@gmail.com

1. Pendahuluan

Struktur modal merupakan salah satu komponen paling kompleks dalam pengambilan kebijakan keuangan karena keterkaitannya dengan variabel keuangan lainnya. Kebijakan struktur modal yang buruk mengakibatkan tingginya biaya modal, kebalikannya penggunaan kebijakan struktur modal yang efektif akan mengakibatkan biaya modal menjadi rendah sehingga meningkatkan nilai perusahaan.

Pengaturan kebijakan keuangan oleh manajemen sangatlah penting dalam menentukan struktur modal yang optimal. Manajemen suatu perusahaan harus mengatur struktur modal sedemikan rupa agar sejalan dengan tujuan maksimalisasi nilai perusahaan dan keputusan ini sangatlah penting bagi suatu perusahaan (Salim & Yadav, 2012).

Merujuk pada perspektif agency-theory keputusan terkait dengan sumber pembiayaan yang dipilih oleh perusahaan menimbulkan konflik antara manager dan pemegang saham (Loncan & Caldeira, 2014).

Agency-theory didasarkan pada gagasan bahwa kepentingan manajer perusahaan dan pemegang sahamnya tidak selaras. Agency-theory juga bisa

muncul antara investor utang dan modal, konflik ini muncul ketika ada resiko default. Dalam hal ini di prediksikan bahwa utang dapat memiliki efek positif dan efek negatif pada kinerja perusahaan (Margaritis & Psillaki, 2010). Utang yang tinggi memiliki potensi untuk mengurangi biaya dan meningkatkan kinerja perusahaan (Fosu, 2013).

Kinerja perusahaan juga dapat mempengaruhi pilihan struktur modal. Kebanyakan perusahaan lebih menyukai mendapatkan pengembalian yang tinggi atas struktur modal yang dikeluarkan, dan keuntungan yang tinggi dapat bertindak sebagai penyangga risiko portfolio sehingga kebanyakan perusahaan lebih efisien menggantikan modal untuk utang dalam struktur modalnya (Margaritis & Psillaki, 2010).

Untuk menguji dengan tepat pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan dan kinerja perusahaan, dalam penelitian ini menggunakan variable ukuran perusahaan (Firm Size) sebagai variabel kontrol. Dengan asumsi bahwa ukuran perusahaan yang kecil memiliki struktur modal yang berbeda dengan ukuran perusahaan yang besar. Perusahaan besar biasanya lebih mengandalkan utang, ukuran perusahaan itu sendiri sebagai jaminan yang I N F O R M AS IA R T IK EL A B S T R AC T

Keywords: capital structure, firm value, firm performance, banks

This study is aimed at examining the effect of capital structure on firm value and firm performance. The population in this research is banking companies listed in Indonesia Stock Exchange for three years (2021-2014). Using purposive sampling method, a sample of 54 companies is obtained. The analytical method used in this research is the analysis of linear regression. The results of this research shows that capital structure have a negative effect on firm value and firm performance.

(2)

dapat dipercaya untuk menjamin utang atau pembayaran tunai dalam kasus likuidasi.

Dalam penelitian ini menguji hubungan antara struktur modal terhadap nilai perusahaan dan kinerja perusahaan pada sektor industry perbankan Indonesia. Bank harus memiliki struktur modal yang cukup untuk menyalurkan pinjaman (Inderst & Mueller: 2008). Bank mendapatkan keuntungan dari selisih antara beban bunga yang mereka keluarkan dari deposito/tabungan dan bunga yang mereka dapatkan dari penyaluran pinjaman. Kebanyakan bank dalam neracanya memiliki tingkat utang yang tinggi. Tingkat utang yang tinggi menyebabkan tersedianya dana dan memungkinkan peminjam menerima lebih banyak utang karena bank menginginkan dana mereka di investasikan. Sehingga, apabila suatu bank memiliki tingkat utang yang tinggi, memungkinkan peminjam menerima lebih banyak utang (Dzhamalova, 2007). Bank dapat mempertahankan antara utang dan modal dalam perusahaan. Kombinasi ini memungkinkan bank memiliki pengaruh tambahan dalam mendisiplinkan manajemen perusahaan (Baert & Vennet: 2009).

Satu sisi, tingkat utang yang tinggi berkemungkinan mengurangi biaya agensi dan meningkatkan nilai perusahaan dengan mendorong manajer untuk bertindak lebih terhadap kepentingan pemegang saham. Sisi lainnya, hal tersebut dapat menyebabkan kebalikannya dari kinerja perusahaan terhadap struktur modal. Beberapa perusahaan juga mungkin memilih rasio modal ekuitas yang tinggi, untuk menutupi biaya sewa atau nilai lisensi yang memiliki hubungan dengan kemungkinan likuidasi (Berger dan Patti: 2006)

2. Kerangka Teoritis dan Pengembangan Hipotesis

2.1. Teori Agensi

Dibawah perspektif teori agensi, keputusan dalam memilih sumber pendanaan yang akan dipilih oleh perusahaan menimbulkan konflik antara manajer, pemilik modal, dan pemilik utang. Hubungan agensi diartikan sebagai sebuah kontrak antara satu atau beberapa orang (pemilik (dalam hal ini disebut principal) mengikat orang lain (dalam hal ini disebut agen) untuk melaksanakan suatu tugas atas nama pemilik dengan memberikan kewenangan penuh dalam membuat keputusan kepada agen). Jika kedua belah pihak yang berhubungan memiliki kepentingan masing-masing yang ingin dimaksimalkan, merupakan alasan yang tepat untuk meyakini bahwa seorang agen (manajer) tidak selalu akan bertindak atas kepentingan pemiliki perusahaan (Jensen & Meckling, 1976). Jensen & Meckling kemudian menyimpulkan bahwa

meningkatkan utang akan berdampak terhadap disiplin keuangan dari manajemen pada beberapa situasi.

2.2. Struktur Modal

Struktur modal merupakan bagian dari struktur keuangan yang mencerminkan perimbangan (absolut maupun relatif) antara keseluruhan modal eksternal baik jangka pendek maupun jangka panjang) dengan jumlah modal sendiri (Riyanto, 1999).

Kebijaksanaan struktur modal pada dasarnya dibangun dari hubungan antara keputusan dalam pemilihan sumber dana (financing decision) dengan jenis investasi yang harus dipilih oleh perusahaan (invesment decisioni) agar sejalan dengan tujuan perusahaan. Struktur modal yang optimal suatu perusahaan harus berada pada keseimbangan antara resiko dan pengembalian yang memaksimumkan harga saham. (Brigham dan Houston, 2001).

Mengacu pada penelitian Fosu (2013), struktur modal menggunakan rasio leverage yang diukur dengan total hutang dibagi dengan total asset.

2.3. Nilai Perusahaan

Leland dan Toft (1991) menyatakan bahwa, nilai dari suatu perusahaan adalah nilai aset ditambah nilai manfaat pajak dinikmati sebagai akibat dari penggunaan utang dikurangi dengan nilai biaya kebangkrutan sebagai akibat dari utang. Modigliani (1980) menunjukkan bahwa, nilai dari suatu perusahaan adalah jumlah utang dan ekuitas dan ini hanya bergantung pada arus pendapatan yang dihasilkan oleh aset. Pandey (2004) berpendapat bahwa nilai suatu perusahaan adalah jumlah nilai dari semua surat berharga.

Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap perusahaan, yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi (Soliha dan Taswan, 2002). Mengacu pada penelitian Putu et.al, 2014, menyebutkan bahwa nilai perusahaan diukur melalui

Price Book Value (PBV).

2.4. Kinerja Perusahaan

Kinerja perusahaan di pengaruhi oleh beberapa faktor (Salim & Yadav: 2012) salah satunya adalah dengan struktur modal. Keputusan keuangan yang optimal dapat memaksimalkan kinerja perusahaan secara langsung (Chih-Ping Yu: 2015). Mengacu pada penelitian Fosu (2013) dan N. Muhammad et.al (2015) menggunakan indikator Return On Asset (ROA) sebagai pengukur kinerja perusahaan. Return on Asset rasio adalah perbandingan dari laba bersih dengan total asset.

(3)

2.5. Hubungan Struktur Modal dengan Nilai Perusahaan

Perusahaan meningkatkan utang relatif terhadap keuntungan yang diperoleh. Akibatnya, utang perusahaan pada umumnya meningkat secara substansial. Perusahaan yang memiliki tingkat utang yang rendah cenderung memiliki nilai perusahaan yang tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki tingkat utang yang tinggi. Dengan demikian perusahaan dapat memaksimalkan nilainya dengan memilih tingkat utang yang rendah.

Nilai perusahaan merupakan fungsi linear dari struktur modal yang berarti bahwa rasio utang yang berbeda mempengaruhi konsistensi nilai perusahaan. Untuk tujuan meningkatkan struktur modal, penggunaan utang dapat menimbulkan dua kemungkinan yaitu utang memberikan efek positif dan meningkatkan nilai perusahaan atau utang akan memberikan efek negatif dan menurunkan nilai perusahaan (Cuong, 2014).

Dalam model agensi, terdapat konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham. Kepentingan manager tidak sejalan dengan investor. Manager lebih memilih menggunakan arus kas untuk menambah penghasilan. Dengan asumsi, semakin besar jumlah dengan tersedia untuk manajer, semakin besar kemungkinan manajer akan menggunakannya untuk menambah penghasilan. Hal ini berarti bahwa manajer mempunyai sebuah kecenderungan untuk memperluas skala perusahaan mereka. Untuk mengurangi kemungkingan masalah over-investment, kemampuan manajer untuk mengedepankan kepentingan mereka terkendala dengan ketersediaan arus kas bebas. Dalam model agensi, kendala ini bisa diselesaikan dengan keputusan struktur modal dengan meningkatkan utang. Model ini berasumsi bahwa terdapat hubungan antara tingkat utang dengan nilai perusahaan (Park & Jang: 2013).

Rasio utang yang tinggi digunakan sebagai alat untuk mengurangi pengeluaran arus kas oleh managerial atau sebagai penekanan penggunaan arus kas untuk pembayaran utang. Dalam situasi ini, utang akan memiliki efek positif terhadap nilai perusahaan (Margaritis & Psillaki, 2010). Ahli keuangan tradisional percaya bahwa peningkatan utang perusahaan, yaitu meningkatkan proporsi hutang dalam struktur modal perusahaan, akan meningkatkan nilai sampai titik tertentu. Tapi di luar titik itu, kenaikan lebih lanjut leverage akan meningkatkan biaya perusahaan secara keseluruhan modal dan mengurangi total nilai pasarnya (Chowdhury, 2010).

Dengan asumsi bahwa semakin tinggi tingkat utang mengakibatkan semakin tinggi resiko yang dihadapi oleh perusahaan, begitu pula kebalikannya dan investor cenderung memilih perusahaan dengan

resiko yang rendah dalam keputusan investasinya. Pada kenyataannya tingkat utang yang tinggi akan menyebabkan risiko kebangkrutan yang tinggi pula.

H1: Struktur modal berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

2.6. Hubungan Struktur Modal dengan Kinerja Perusahaan

Kinerja perusahaan secara signifikan dipengaruhi oleh berbagai faktor dan struktur modal merupakan salah satu faktor yang signifikan diantaranya. Banyak studi empiris yang telah dilakukan untuk menguji hubungan antara kinerja perusahaan dan struktur modal dan penelitian itu memberikan hasil yang beragam (Salim & Yadav, 2012).

Berdasarkan teori agency cost (Jensen dan Meckling, 1976) menunjukkan bahwa utang digunakan sebagai faktor motivasi untuk staf manajerial. Teori keagenan menyatakan bahwa perbedaan kepentingan antara jajaran manajemen dan pemilik memiliki efek negatif pada kinerja perusahaan. Utang terdaftar sebagai instrumen untuk meningkatkan etos kerja dan kinerja manajemen; Namun peningkatan proporsi utang menyebabkan perusahaan mengalami kesulitan keuangan yang lebih tinggi (Harris dan Raviv, 1991).

Keputusan keuangan yang ditetapkan oleh manajemen sangat penting dalam menentukan struktur modal yang optimal. Menurut Harris dan Raviv (1991), utang dapat bertindak sebagai perangkat monitoring dan insentif, karena ada korelasi positif antara tingkat utang yang lebih tinggi dan kesulitan keuangan yang lebih tinggi. Sebuah perusahaan lebih mungkin untuk menghadapi kebangkrutan jika mengalami kesulitan finansial yang tinggi, kenyataan ini mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja perusahaan karena tidak ingin kehilangan pekerjaan dan / atau reputasi buruk sebagai konsekuensi dari kebangkrutan.

Kebanyakan perusahaan lebih menyukai mendapatkan pengembalian yang tinggi atas struktur modal yang dikeluarkan, dan keuntungan yang tinggi dapat bertindak sebagai penyangga risiko portfolio sehingga kebanyakan perusahaan lebih efisien menggantikan modal untuk utang dalam struktur modalnya (Margaritis & Psillaki, 2010).

Pengembangan literatur mengaitkan biaya agensi dari utang dengan konflik kepentingan antara perusahaan dan pemilik saham. Dengan asumsi bahwa utang mengakibatkan kemungkinan perusahaan likuidasi, yang mana dapat mengakibatkan timbulnya biaya dari kreditur sehubungan dengan kebijakan likuidasi perusahaan. Dalam kondisi tertentu, kualitas dari perusahaan yang memiliki tingkat utang yang

(4)

tinggi menjadi pertimbangan, membuat investor enggan bertransaksi dengan perusahaan tersebut. Dengan demikian, menunjukkan bahwa perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi akan dapat merusak kinerja perusahaan (Fosu, 2013).

H2: Struktur modal berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan.

3. Metode Penelitian 3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap dependen melalui

pengujian hipotesis. Unit analisis dalam penelitian ini adalah 54 perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2012-2014. Data yang digunakan adalah

unbalanced data. Horizon waktu yang digunakan

adalah pooled data/panel data yaitu gabungan dari cross-sectional dan longitudinal. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2012-2014. Dari seluruh populasi diambil sampel secara purposive sampling sehingga perusahaan yang diambil sebagai sampel adalah 54 perusahaan. Berikut kriteria pengambilan sampel:

Tabel 1

Kriteria Populasi Sasaran

Kriteria Populasi Sasaran Jumlah Perusahaan

Perusahaan Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-2014 yang menerbitkan laporan tahunan lengkap dan laporan keuangan yang telah diaudit dan berakhir per 31 Desember

32

Perusahaan Perbankan dengan total asset yang terus mengalami penurunan selama periode 2012-2014

(2) Perbankan yang tidak memiliki utang jangka panjang (11)

Perbankan dengan laba bersih negatif (1)

Jumlah populasi sasaran 18

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2012-2014. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi.

3.2. Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah regresi linear berganda. Pengolahan data akan dilakukan dengan mengunakan SPSS. Spesifikasi persamaan regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Y1 = α + β1X1 +β2X2 + ε Y2 = α + β1X1 +β2X2 + ε Keterangan:

Y1 = Nilai Perusahaan (PBV) Y2 = Kinerja Perusahaan (ROA) α = Konstanta

β1;β2 = Koefisien Regresi X1 = Struktur Modal (DER) X2 = Firm Size

ε = Error Term

3.3. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dalam model regresi dilakukan untuk menghindari adanya bias dalam pengambilan keputusan. Dalam penelitian ini akan digunakan empat uji asumsi klasik yaitu:

3.4. Uji Normalitas

Pengujian normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabe1 bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Menurut Ghozali (2006), untuk melihat model regresi normal atau tidak , dilakukan analisis grafik dengan melihat “normal probability report plot”.

3.4. Uji Autokore lasi

Autokorelasi adalah korelasi (hubungan) antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu atau ruang. Teknik pengujian autokorelasi yang dipakai adalah metode Durbin-Watson (DW). Hipotesis yang diuji adalah:

du < d < 4 – du: Menerima Ho, tidak terjadi autokorelasi

(5)

3.5. Uji Multikolinieritas

Menurut Santoso (2000:206), multikolinearitas dapat dideteksi dengan besaran Variance Inflation

Factor (VIF) dan Tolerence. Menurut Ghozali (2007:

91), untuk melihat adanya atau terjadinya multikolonieritas atau tidak dapat dilihat dari nilai

tolerance dan nilai variance inflation factor (VIF),

dengan ketentuan sebagai berikut:

Jika nilai tolerance < 0,10 maka terjadi multikolonieritas, sebaliknya nilai tolerance > 0,10 data bebas dari multikolonieritas. Jika nilai VIF > 10 maka terjadi multikolonieritas, sebaliknya nilai VIF < 10 maka data bebas dari multikolonieritas.

3.6. Uji Heteroskedastisitas

Menurut Suliyanto (2011:98), uji heteroskedastisitas dengan metode glejser dilakukan

dengan meregresikan semua variabel bebas terhadap nilai mutlak residualnya. Jika nilai profitabilitas lebih besar dari nilai (Sig. > α =0.05), maka dapat dipastikan model tidak mengandung gejala heteroskedastisitas.

4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Hasil Uji Asumsi Klasik

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa tidak ada variabel bebas yang memiliki nilai tolerance lebih kecil dari 0,1 dan nilai VIF yang lebih besar dari 10. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolonieritas antar variabel bebas dalam model regresi.

Tabe l 2

Results of Multicollinearity Test

Variabel Tolerance VIF

Dependent Variabel PBV

DER .941 1.063

Firm Size .941 1.063

Dependen Variabel ROA

DER .941 1.063

Firm Size .941 1.063

Tabel 3

Hasil Uji Autokorelasi

R Durbin-Watson

PBV .583a 2.406

ROA .515a 2.179

Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai DW dari PBV dan ROA sebesar 2,406 & 2,179. Sedangkan nilai dU tabel dan dL tabel masing-masing 1,601 dan

1,528 Dengan demikian diperoleh bahwa nilai DW lebih besar dari dU hal ini menunjukkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi autokorelasi.

(6)

Gambar 1

Hasil Heteroscedasticity Test

Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat bahwa titik-titik tidak membentuk pola tertentu, kemudian terdapat titik-titik yang menyebar diatas titik nol dan

dibawah titik nol, hal ini menunjukkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas.

Tabe l 4

Result of Normality Test

Test One-Sample Kolmogorov-Smirnov

PBV DER

Kolmogorov-Smirnov Z 1.164 .918

Asymp. Sig. (2-tailed) .133 .368

Kolmogorov-Smirnov Z 1.048 .918

Asymp. Sig. (2-tailed) .222 .368

Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai signifikansi Kolmogorov-Smirnov yaitu 0,133 untuk variabel nilai perusahaan (PBV) dan 0,222 untuk variabel kinerja perusahaan (ROA); 0,368 untuk

variabel struktur modal (DER). Data dari ketiga variabel tersebut berdistribusi secara normal, yaitu berada diatas nilai signifikansi sebesar 0,05 atau 5 %.

4.2 Hasil Pengujian Hipotesis

Tabe l 5

Multiple Linear Regression Testing Result

Unstandardized Coefficients Sig. B Variabel Devenden PBV (Constant) -12.657 .000 DER -15.180 .004 FirmSize .450 .000

Dependen Variabel ROA

(Constant) -.109 .001

DER -.040 .423

(7)

Pengaruh Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan

Berdasarkan tabel 5 nilai koefisien regresi struktur modal adalah β= -15,180 dimana -15,180 ≠ 0 maka Ha1 diterima, ini berarti struktur modal memilikit pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Tingkat signifikansi struktur modal adalah 0,004. Nilai ini lebih rendah dari 0.05 (0.004 < 0.05) hal ini berarti struktur modal signifikan terhadap nilai perusahaan. Sehingga dapat disimpulkan, struktur modal memiliki pengaruh signifikan negatif terhadap nilai perusahaan.

Pengaruh Struktur Modal terhadap Kinerja Perusahaan

Berdasarkan tabel 5 nilai koefisien regresi struktur modal adalah β= --0,040 dimana -0,040 ≠ 0 maka Ha1 diterima, ini berarti struktur modal memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan. Tingkat signifikansi struktur modal adalah 0.42. Nilai ini lebih tinggi dari 0.05 (0.42 > 0.05) hal ini berarti struktur modal tidak signifikan terhadap kinerja perusahaan. Sehingga dapat disimpulkan, struktur modal memiliki pengaruh negatif tidak signifikan terhadap kinerja perusahaan

5. Kesimpulan, Keterbatasan dan Saran

Berdasarkan hasil pengujian dan analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa struktur modal berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan dan kinerja pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2014.

Dari hasil penelitian ini dapat disarankan pada penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas subjek penelitian, menambah periode penelitian dan mengembangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan dan kinerja perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan pengaruh negatif dari variabel struktur modal terhadap nilai perusahaan dan kinerja perusahaan maka disarankan bagi perusahaan perbankan tidak menggunakan utang terlalu banyak dalam komposisi struktur modal.

Daftar Pustaka

Antwi, Samuel., Mills, Ebenezer F.E.A., dan Zhou, Xicang. (2012). Capital Structure and Firm Value: Empirical Evidence from Ghana. International

Journal of Business and Social Science, 03: 01-09.

Baert, Lieven & Vennet, Rudi V. 2009. Bank Ownership, Firm Value and Firm Capital Structure in Europe. Journal of European Commission, JEL classification: G32, G20.

Bank Indonesia. 2012. Laporan Pengawasan

Perbankan 2012. Departemen Penelitian dan

Pengaturan Perbankan. Di akses melalui http://www.bi.go.id.

____________. 2013. Evaluasi Perekonomian Tahun

2012 Prospek 2013-2014, dan Kebijakan Bank Indonesia. Di akses melalui http://www.bi.go.id.

_____________. 2014. Laporan Evaluasi Perekonomian Indonesia Tahun 2013. Di akses

melalui http://www.bi.go.id.

Bank Mandiri. 2014. Annual Report Bank Mandiri

Tahun 2014. Di Akses melalui http://www.idx.go.id.

Berger, A. and E. di Patti. 2002. Capital structure and firm performance: A new approach to testing agency theory and an application to the banking industry. Journal of Banking and Finance, 30: 1065-1102.

Brigham, E.F. dan Houston Joel F. 2001. Manajemen

Keuangan. Edisi kedelapan. Jakarta: Erlangga.

____________________________ 2004. Dasar-Dasar

Manajemen Keuangan. Edisi Kesepuluh. Buku

Kedua. Jakarta: Salemba Empat.

Brigham, E.F. dan Gapenski, LouisC. 1996.

Intermediate Finance Management (5 Th ed.).

Harbor Drive: The Dryden Press.

Chih-Ping Yu. 2015. Financial policies on firm performance: The U.S. insurance industry before and after the global financial crisis. Economic

Modelling, 51: 391–402.

Chowdhury, Anup & Chowdhury, Suman Paul. 2010. Impact of Capital Structure on Firm's Value: Evidence From Bangladesh. Business and Economic Horizons, 03: 111-122.

Chung, Y. Peter., Seung Na, Hyun., & Smith, Richard. 2013. How Important is Capital Structure Policy to Firm Survival?. Journal of Corporate Finance, 22: 83–103.

Cuong, Nguyen Thanh. 2014. Threshold Effect of Capital Structure on Firm Value Evidence from Seafood Processing Enterprises in the South Central Region of Vietnam. International Journal of

Finance & Banking Studies, 03: 14-29.

Dzhamalova, Valeriia. 2015. Capital Structure of Banks and Their Borrowers: an Empirical Analysis. JEL

Classification, Department of Economics, Lund University.

Fosu, Samuel. 2013. Capital structure, product market competition and firm performance: Evidence From South Africa. The Quarterly Review of Economics

and Finance, 53: 140– 151

Gamayuni, Rindu Rika. 2015. The Effect of Intangible Asset, Financial Performance and Financial Policies on The Firm Value. International Journal Of

Scientific & Technology Research, 04: 01-11.

Grossman, S. and O. Hart (1982). Corporate Financial Structure and Managerial Incentives. The Economics of Information and Uncertainty, Ed. by

(8)

Press: 123-155.

Gujarati, D.N. 2003. Basic Econometrics. New York: Mc Graw. Hill Company.

Harris, Milton., & Raviv, Artur. 1991. The Theory of Capital Structure. The Journal of Finance, 46: 01-10.

Inderst, Roman & Mueller, Holger M,. 2008. Bank Capital Structure and Credit Decisions. Journal

Finance Intermediation, 17: 295–314.

Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. 2002.

Metodelogi Penelitian Bisnis: Untuk Akuntansi dan Manajemen. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE

Yogyakarta.

Jensen, Michael C., & Meckling, William H. 1976. Theory of The Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure. Journal of

Financial Economics, 03: 305-360.

Jensen, Michael C. 1986. Agency Costs of Free Cash Flow, Corporate Finance, and Take Over. The

American Economic Review, 76: 323-329.

Kusuma, Dewi R. 2015. Kinerja Perbankan Indonesia

Mulai Melambat di Akhir 2014. Melalui

<http://finance.detik.com/read/2015/02/12/170655/ 2831511/5/kinerja-perbankan-indonesia-melambat-di-akhir-2014.html>

Leland, H. E. and K. Toft. 1991. Optimal Capital structure, Endogenous Bankruptcy, and the Term Strucure of credit spreads. Journal of finance, 51:987-1019

Loncan, Tiago R., & Caldeira, Joao F. 2014. Capital Structure, Cash Holdings and Firm Value: a Study of Brazilian Listed Firms. Research Cont. Finance –

USP, São Paulo, 25: 46-59.

Margaritis, Dimitris & Psillaki, Maria. 2010. Capital Structure, Equity Ownership and Firm Performance.

Journal of Banking & Finance, 34: 621-632.

Masulis, Ronald W. 1983. The Impact of Capital Structure Change on Firm Value: Some Estimates.

The Journal of Finance, 38: 01-10.

Muhammad, Noor., Scrimgeour, Frank., Reddy, Krishna., & Abidin, Sazali. 2015. The relationship between environmental performance and financial performance in periods of growth and contraction: evidence from Australian publicly listed companies.

Journal of Cleaner Production, 102: 324-332.

Murti Sumarni dan Salamah Wahyuni. 2005.

Metodologi Penelitian Bisnis. Yogyakarta: CV. Andi

Offset.

Modigliani, F. 1980. Introduction in a Abel (ed), The Collected Papers of Franco Modigliani, 03: 11-19. Cambridge, Massachusetts. MIT Press.

Modigliani, F., Miller, M., 1958. The cost of capital, corporation finance and the theory of investment.

The American Economic Review, 48: 261–297.

_____________________ 1963. Corporate income taxes and the cost of capital: a correction. The

American Economic Review, 53: 433–443.

Myers, S. C. 2001. Capital Structure. Journal of

Economic Perspectives, 15, 81-102.

Pandey I. M. .2004. Financial Management 9th

Edition, Indian Institute of Management,

Ahmedabad. Vikas Publishing. House P.VT. LTD.

Pp. 289 – 350.

Park, Kwangmin & Jang, Soocheong. 2013. Capital Structure, Free Cash Flow, Diversification and Firm Performance: A Holistic Analysis. International

Journal of Hospitality Management, 33: 51–63.

Putu, Ni Nyoman G.M., Moeljadi., Djumahir., & Djazuli, Atim. 2014. Factors Affecting Firms Value of Indonesia Public Manufacturing Firms.

International Journal of Business and Management Invention ISSN (Online): 2319 – 8028, ISSN (Print):

2319 – 801X.

Riyanto, Bambang. 1999. Dasar-Dasar Pembelanjaan

perusahaan. Edisi 4, Yogyakarta: BPFE

Yogyakarta.

Salim, Mahfuzah & Yadav, Dr.Raj. 2012. Capital Structure and Firm Performance: Evidence from Malaysian Listed Companies. Procedia - Social and

Behavioral Sciences, 65: 156 – 166.

Sekaran, Uma. 2006. Metodelogi Penelitian Untuk

Bisnis: Edisi Keempat. Alih Bahasa: Kwan Men

You. Jakarta: Salemba Empat.

Soliha, E. dan Taswan. 2002. Pengaruh Kebijakan Hutang terhadap Nilai Perusahan serta Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya. Jurnal Bisnis dan

Ekonomi (September), 06: 1-15.

Sudiyatno, Bambang., Puspitasari, Elen., & Kartika, Andi. 2012. The Company's Policy, Firm Performance, and Firm Value: An Empirical Research on Indonesia Stock Exchange. American

International Journal of Contemporary Research,

02: 01-10.

www.idx.co.id

Figur

Memperbarui...

Related subjects :