ANALISIS ORIENTASI NILAI KERJA PETERNAK DALAM
MENCAPAI KEBERLANJUTAN USAHA PETERNAKAN
AYAM RAS PEDAGING
ANALYSIS OF ORIENTATION OF THE VALUE WORKING FARMERS
IN ACHIEVEMENT SUSTAINABILITY OF THE
CHICKEN BROILER FAR BUSINESS
Lily Zatnika FH*, Lilis Nurlina**, M. Ali Mauludin**Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Jalan Raya Bandung Sumedang KM 21 Sumedang 45363
*Alumni Fakultas Peternakan Unpad Tahun 2015 **Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) akan tampak nyata dari manusia yang memiliki orientasi yang jelas sehingga dapat menumbuhkan perilaku produktif. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ciruluk Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang pada bulan Januari hingga Februari 2015. Tujuannya untuk menganalisis orientasi nilai kerja peternak, serta faktor yang berpengaruh dalam memilih pekerjaan sebagai peternak ayam ras pedaging dan menganalisis keberlanjutan usaha peternakan ayam ras pedaging di Desa Ciruluk. Metode yang digunakan adalah Studi Kasus terhadap 13 informan dengan wawancara mendalam, obsevasi dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukan bahwa orientasi positif terhadap usaha ayam ras pedaging cenderung menjadi dasar pemikiran peternak terhadap nilai pekerjaannya yang dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin, umur, pendidikan, pengalaman beternak, keluarga dan lingkungan. Keberlanjutan usaha peternakan ayam ras pedaging di Desa Ciruluk pada umumnya cukup baik dilihat dari kemampuan peternak sebagai manajer, keadilan berusaha dan kemandirian peternak.
Kata Kunci: Orientasi Nilai Kerja, Keberlanjutan Usaha, Peternak Ayam Ras Pedaging
ABSTRACT
The development of the quality of human resources will seem real of human which have an orientation that clearly that may growth productive behavior. This research was conducted in Ciruluk village Kalijati Subdistrict Subang regency at January until February 2015. The aim of this research was to analyze the orientation of the value of working farmers, and what factors that influence in choosing a job as a chicken broiler farmer and analyze the sustainability of the chicken broiler farm business in Ciruluk village. The method used case study toward 13 informants by in-depth interviews, obsevation and study literature. The result of research showed that positive orientation toward chicken broiler business tend to become the premise on the farmers to his job value is that influenced by a
factor of gender, age, education, experience of husbandry, family and environment. The Sustainability of chicken broiler farm business in Ciruluk village in general was good enough in terms of the ability of farmers as managers, justice in running a business and independence of farmers.
Keyword: The Orientation of The Value Working, sustainable business, Chicken Broiler Farmer
PENDAHULUAN
Pembangunan sub sektor peternakan diarahkan untuk mewujudkan peternakan yang maju, efisien, dan tangguh dimana sumber daya yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal, sehingga produk yang dihasilkan dapat mencukupi pemenuhan kebutuhan protein hewani asal ternak dan memperoleh keuntungan yang multi fungsi dari unit usaha, antara lain dapat menyediakan lapangan pekerjan, peningkatan pendapatan masyarakat, perbaikan taraf hidup serta berperan dalam pertumbuhan ekonomi. Namun, banyak hal yang mempengaruhi sub sektor ini untuk menjadi sub sektor yang penting dalam pembangunan. Meningkatnya jumlah penduduk di desa yang berurbanisasi ke kota menyebabkan semakin berkurangnya sumber daya manusia desa tersebut, salah satu dampak yang dirasakan dari adanya urbanisasi adalah pergeseran tenaga kerja yang bekerja di bidang peternakan. Minimnya pengetahuan masyarakat desa akan pentingnya sub sektor peternakan dan upah yang rendah bagi tenaga buruh di peternakan menyebabkan penduduk desa memilih bekerja di kota atau di luar sub sektor peternakan.
Pekerjaan merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan dari setiap individu, oleh sebab itu pekerjaan selalu dekat dengan nilai status sosial yang mendasari pandangan seseorang terhadap pekerjaan tersebut. Bentuk perhatian masyarakat Desa Ciruluk memungkinkan tujuan pilihan dalam menentukan pekerjaan demi melanjutkan penghidupan. Pilihan pekerjaan yang banyak menjadi sasaran adalah buruh industri dan sektor jasa. Keputusan tersebut umumnya selain dilandasi alasan ekonomi, alasan gengsi mengenai pekerjaan terkadang menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih pekerjaan. Masyarakat yang menjadi peternak baik secara mandiri ataupun kemitraan
menjadi salah satu faktor penentu dalam keberhasilan pembangunan secara keseluruhan. Pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) akan tampak nyata dari manusia yang memiliki orientasi yang jelas terhadap pekerjaan yang digelutinya dapat menumbuhkan perilaku produktif, sehingga kesempatan untuk meningkatkan penghasilan dan taraf hidupnya ke arah yang lebih maju semakin luas. Peternak di pedesaan memiliki peran sebagai manajer sekaligus sebagai pekerja. Melihat peran tersebut maka dalam rangka meningkatkan populasi ternak, produksi ternak serta keberlanjutan usahanya diperlukan peningkatan keterampilan dan kinerja dalam beternak.
Tanpa mengabaikan peran keluarga, masyarakat dan nilai budaya yang ada, penelitian ini mengambil kajian pada peternak ayam ras pedaging dalam meraih tujuan dan harapannya sesuai persepsi tentang pekerjaan. Oleh sebab itu, peneliti terdorong untuk mengkaji lebih jauh tentang (1) Bagaimana orientasi nilai kerja peternak ayam ras pedaging, serta faktor apa saja yang berpengaruh dalam memilih pekerjaan sebagai peternak ayam ras pedaging di Desa Ciruluk Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang. (2) Bagaimana keberlanjutan usaha peternakan ayam ras pedaging di Desa Ciruluk Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang.
SUBJEK DAN METODE PENELITIAN Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah peternak ayam ras pedaging yang ada di Desa Ciruluk Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang. Informan diambil secara purposive dengan kriteria informan yaitu peternak ayam ras pedaging yang masih aktif menjalankan usaha ternak ayam ras pedaging dengan pola usaha mandiri dan pola usaha kemitraan, peternak yang sudah tidak aktif dalam menjalankan usaha ternak ayam ras pedaging serta tokoh masyarakat atau informan lain sebagai pendukung untuk medapatkan informasi tambahan dalam penelitian.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Studi kasus merupakan suatu metode penelitian yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang berhubungan dengan suatu kejadian tertentu (Paturochman, 2005).
Variabel yang Diamati
Variabel yang diamati adalah orientasi nilai kerja peternak dan keberlanjutan usaha yang terdiri dari keputusan memilih pekerjaan, dorongan keluarga, lingkungan, tujuan, kemandirian peternak, keadilan berusaha dan kemampuan peternak sebagai manajer.
Analisis Data
Tahapan pengumpulan data dan analisisnya dibuat secara bertahap mengacu pada operasionalisasi variabel yang telah ditetapkan tanpa menutup kemungkinan munculnya hal-hal baru yang masih relevan dengan konteks dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan. Data yang telah didapat kemudian disajikan dalam bentuk uraian (deskriptif). Hasil yang diperoleh berupa fakta di lapangan yang kemudian dibandingkan dan dianalisis dengan teori-teori yang relavan. Data yang diperoleh dikategorikan untuk dilakukan organisir data menurut satuan pola, kemudian dilakukan interpretative. Metode
interpretative yaitu memahami secara mendalam terhadap makna-makna dan variabel yang
ada dalam penelitian ini (Sulaeman, 2004).
HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum
Desa Ciruluk terletak di wilayah Kecamatan Kalijati yang termasuk kawasan Wilayah Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Desa Ciruluk terletak sekitar 105 m diatas permukaan air laut degan luas wilayah 502 Ha. Jarak Desa Ciruluk sekitar 5 km dari kantor Kecamatan Kalijati, dan 25 km dari Ibukota Kabupaten Subang (Kecamatan Kalijati
dalam Angka, 2014). Berdasarkan data monografi Desa Ciruluk tahun 2014, luas secara keseluruhan 502 Ha yang terdiri atas tanah pemukiman 68 Ha, tanah perkebunan masyarakat seluas 400 Ha, tanah pesawahan 29 Ha dan tanah umum 5 Ha
Potensi bidang peternakan di Desa Ciruluk Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang, digambarkan pada Tabel 1 di halaman selanjutnya.
Tabel 1. Jenis Populasi ternak Desa Ciruluk Kec. Kalijati
Jenis Ternak Jumlah Populasi
Sapi Potong 60
Domba 823
Kambing 101
Ayam Buras 3.299
Ayam Ras pedaging 41.000
Sumber : Dinas Peternakan Kabupaten Subang UPTD Kalijati 2014
Berdasarkan Tabel 1, jumlah ternak terbanyak adalah ayam ras pedaging sebanyak 41.000 ekor. Desa Ciruluk memiliki potensi ternak ayam ras pedaging yang tinggi di Kecamatan Kalijati, sehingga dapat membantu kecukupan protein asal hewani di Kabupaten Subang dan sekitarnya.
PEMBAHASAN
Orientasi Nilai Kerja Peternak Ayam Ras Pedaging
Indikator yang diamati Hasil pengamatan 1) Keputusan pemilihan
pekerjaan
2) Dorongan keluarga
3) Lingkungan 4) Tujuan
Berusaha ayam ras pedaging menguntungkan
Dapat memenuhi kebutuhan hidup Penghasilan sebagai peternak ayam ras
pedaging lebih besar dan tetap daripada pekerjaan sebelumnya (petani, buruh tani, buruh bangunan, tukang ojeg)
Sebagai tambahan penghasilan PNS Mendapat dukungan dari sanak saudara
yang terlebih dahulu menjalankan usaha ayam ras pedaging
Kelompok peternak ayam ras pedaging Beternak ayam ras pedaging sebagai
pekerjaan yang potensial dan menguntungkan
Beternak ayam ras pedaging sebagai pekerjaan yang dapat menunjang hari tua.
Kondisi lingkungan yang berbeda akan membentuk orientasi nilai kerja yang berbeda pula, dimana jenis perekonomian serta kebudayaan masyarakat Desa Ciruluk setidaknya menjadi indikator pembanding bagi seorang individu sehingga menjadi dasar pertimbangan untuk memilih suatu pekerjaan yang dipersepsikan yang mengarah kepada harapan yang ingin dicapai oleh setiap individu. Hal ini juga disampaikan oleh Luthan (2006) bahwa kualitas etos kerja ditentukan oleh sistem orientasi nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya maju akan memiliki etos kerja yang tinggi. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya yang konservatif akan memiliki etos kerja yang rendah, bahkan bisa sama sekali tidak memiliki etos kerja. Nilai merupakan suatu petunjuk perilaku yang menuntun pekerja dalam kehidupan terhadap apa yang diinginkan atau yang dituju sesuai dengan persepsi dan harapannya (Kouzes dan Posner, 1993 dalam Sumardjo, 2009).
Faktor Yang Mempengaruhi Orientasi Nilai Kerja Peternak Ayam Ras Pedaging 1. Jenis Kelamin
Faktor alamiah seperti jenis kelamin menentukan orientasi nilai kerja peternak. Hal ini mengarah pada persepsi setiap individu mengenai nilai pekerjaan peternakan.
Tabel 2. Karakteristik Informan Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin Jumlah
Orang Persen (%)
Laki-laki 11 84,6
Perempuan 2 15,4
Jumlah 13 100
Berdasarkan Tabel 2, pekerjaan sebagai peternak lebih dominan diisi oleh kaum laki-laki. Wanita hanya terlibat pada memanajemen keuangan saja. Pada akhirnya, usaha ternak ayam ras pedaging lebih banyak ditekuni oleh laki-laki akibat tuntutan sebagai penanggung jawab ekonomi keluarga. Herlina (2002) menyatakan bahwa dimana ada penilaian-penilaian lokal yang membatasi suatu jenis pekerjaan sesuai atau tidak sesuainya untuk dikerjakan oleh pria atau wanita.
2. Umur
Umur merupakan salah satu aspek yang berhubungan dengan orientasi individu terhadap nilai suatu pekerjaan serta faktor yang menunjang produktivitas dan keberhasian suatuh usaha.
Tabel 3. Karakteristik Informan Berdasarkan Usia
Usia Jumlah Orang Persen (%) 15-30 0 0 31-45 6 46 46-60 7 54 Jumlah 13 100
Pekerjaan sebagai peternak dipersepsikan sebagai pekerjaan yang rumit, akibatnya masyarakat Desa yang memilih pekerjaan sebagai peternak dikuasai oleh usia tua, namun
kisaran umur informan masih dalam masa produktif untuk bekerja. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Herlina (2002) bahwa umur erat kaitannya dengan perilaku, dimana seseorang yang lebih muda cenderung tidak memilih pekerjaan pertanian, sedangkan seseorang yang lebih tua berprilaku sebaliknya. Pemuda Desa Ciruluk lebih condong bekerja di luar sub sektor peternakan, seperti karyawan pabrik serta melakukan migrasi ke Kota. Alasan gengsi, berhubungan dengan bau kotoran serta status sosial rendah di masyarakat memungkinkan pemuda Desa untuk bekerja di luar sub sektor peternakan.
3. Tingkat Pendidikan
Menurut Holle (2000) pendidikan merupakan suatu proses pembentukan karakter seseorang sehingga memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku. Proses pembentukan watak terjadi karena adanya interaksi antara potensi yang dimiliki seseorang (bakat). Karakteristik informan berdasarkan tingkat pendidikan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini.
Tabel 4. Karakteristik Informan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Jumlah
Orang Persen (%) SD 1 8 SMP 5 38,5 SMA 4 30,3 Perguruan Tinggi 3 23,2 Jumlah 13 100
Peternak berpendidikan rendah (SD) menyadari betul kecilnya peluang untuk bekerja di luar sektor pertanian atau sub sektor peternakan yang secara umum lebih baik dan bergengsi. Menurut beberapa informan pekerjaan non sub sektor peternakan yang paling mungkin untuk dimasuki adalah buruh tani, buruh bangunan, ataupun menjadi ojeg. Jika mempunyai modal, pekerjaan berdagang menjadi pilihan yang paling umum untuk dijadikan sebagai alternatif seperti menjadi pedagang rambutan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh bapa DJ (peternak usia 53 tahun) sebagai berikut :
”Ngingu hayam teu kedah sakola nu luhur. Ti alit bapak tos kabiasaan ngingu hayam. Nu penting aya lahan jeung tanaga pasti bis dilakonana. Benten sareng damel di kantor-kantor, kudu sakola nu luhur heula nembe tiasa damel dikantoran”(Dalam pemeliharaan ayam tidak memerlukan sekolah yang tinggi.
Yang penting ada lahan serta tenaga pasti bisa dilakukan. Beda halnya dengan bekerja di kantor- kantor, yang memerlukan sekolah tinggi agar bisa bekerja dikantoran).
Di luar pekerjaan tersebut mereka menganggap harus membutuhkan pendidikan, pengetahuan dan keterampilan. Setidaknya, keterbatasan pendidikan membuat individu memiliki orientasi positif terhadap pekerjaan sebagai peternak ayam ras pedaging jika dibandingkan dengan individu yang memiliki pendidikan relatif tinggi. Hal tersebut sama halnya dengan lulusan SMP dan SMA, mereka beranggapan jika mereka bekerja diluar sub sektor peternakan maka penghasilan lulusan pendidikan rendah diakui sangat minim dan lapangan pekerjaan yang kurang tersedia. Pekerjaan sebagai peternak ayam ras pedaging merupakan salah satu alternatif bagi informan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya tanpa harus memiliki pendidikan tinggi. Informan pada kelompok ini menganggap bahwa beternak ayam ras pedaging dapat dilakukan jika ada keinginan.
4. Pengalaman Beternak
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberlanjutan usaha adalah pengalaman dalam bekerja. Tingkat pengalaman kerja informan dalam usaha ayam ras pedaging dapat dilihat selengkapnya pada Tabel 5 di bawah ini.
Tabel 5. Karakteristik Informan Berdasarkan Pengalaman Beternak
Pengalaman Beternak Jumlah
Orang Persen (%)
1- 4 1 8
5-10 7 53,5
>10 5 38,5
Jumlah 13 100
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa rata rata pengalaman peternak dalam usaha ayam ras pedaging lebih dari lima tahun. Bapak KS merupakan peternak pertama di
Desa Ciruluk, beliau mulai merintis usaha ayam ras pedaging pada tahun 1992. Dengan kesuksesan beliau dalam usaha ayam ras pedaging, menjadikan salah satu motivasi bagi masyarakat Desa Ciruluk lainnya yang ingin mengikuti jejak beliau sebagai peternak ayam ras pedaging.
Timbulnya motivasi oleh sebagian masyarakat untuk mengikuti jejak Pak KS sebagai peternak ayam ras pedaging sejalan dengan pendapat Super dan Crites (1962) yang menyatakan bahwa pengalaman yang dianggap bernilai merupakan faktor yang turut membuat minat pada diri individu dimana pengalaman tersebut memberikan motivasi serta kekuatan pada diri individu untuk melakukan sesuatu.
Keluarga
Nilai pekerjaan sebagai peternak yang kurang terpandang di kalangan masyarakat Desa Cirluk pada mulanya mempengaruhi pandangan keluarga terhadap keputusan yang akan diambil oleh peternak. Berikut penuturan bapak KS (peternak umur 49 tahun) :
“kapungkur bapa bade nyobian usaha hayam ras ulaheun ku istri sareng mertua bapa, da di desa ciruluk mah nukapandang sae ditingali dina padamelanna nyaeta jadi PNS, POLISI, TNI, karyawan di pabrik”. (dulu ketika bapa mau
mencoba usaha ternak ayam ras pedaging tidak diperbolehkan oleh istri beserta mertuanya, karena di Desa Ciruluk pekerjaan yang dipandang baik yaitu menjadi PNS, POLISI, TNI, dan karyawan pabrik).
Sebagian anggota keluarga peternak pada awal keputusan memilih menjadi peternak ayam ras kurang menyetujui atau kurang memberikan dukungan penuh. Hal tersebut disebabkan oleh pandangaan terhadap nilai pekerjaan sebagai peternak yang kurang terpandang serta belum adanya masyarakat Desa Ciruluk pada saat itu yang mulai meniti karir sebagai pengusaha ayam ras pedaging. Pekerjaan peternakan dipandang oleh keluarganya sebagai pekerjaan yang kurang mendapatkan pengakuan secara status sosial di masyarakat. Orientasi nilai kerja bukanlah suatu keturunan, melainkan hasil interaksi sosial
dimana diperoleh cara berfikir, berperasaan dan berperilaku atau sering disebut dengan sosialisasi individu dengan keluarga (Herlina, 2002).
Lingkungan
Lingkungan sekitar mendukung adanya keinginan seseorang untuk menjalankan usaha ayam ras pedaging. Siagian (1995) mengemukakan bahwa lingkungan alam yang mendukung mempengaruhi manusia yang berada di dalamnya melakukan usaha untuk dapat mengelola dan mengambil manfaat, dan bahkan dapat mengundang pendatang untuk turut mencari penghidupan di lingkungan tersebut. Kondisi tersebut sedianya sama dengan apa yang didapatkan di tempat penelitian dimana keberadaan kelompok peternak ayam ras pedaging yang ada di Wilayah Desa Ciruluk dan sekitarnya menjadikan seseorang untuk ingin mencoba usaha tersebut. Berikut penuturan bapak YF (peternak usia 49 tahun) :
“Ningali kondisi ekonomi pak Kasim salaku peternak hayam nu ngamimitian aya di Desa Ciruluk nepi ka ayeuna tetep jalan eta usahana terus deui kabutuhan warga Desa nu teu ereun ereun ngabutuhkeun daging hayam ai lebaran atanapi aya hajatan, alesan eta nu ngarahkeun abdi turun kana usaha hayam ayeuna”(melihat
kondisi ekonomi pak Kasim sebagai peternak pertama di Desa Ciruluk sampai sekarang masih berlanjut usahanya, serta melihat kebutuhan masyarakat akan daging ayam yang tiada hentinya ataupun kebutuhan daging ketika waktu lebaran dan hajatan warga. Itu yang menjadi alas an saya terjun ke usaha ayam sekarang).
Keberadaan peternakan ayam ras pedaging yang digagas oleh salah seorang peternak di Desa Ciruluk dengan kesuksesan dan perubahan kesejahteraan hidupnya, setidaknya memberikan pengaruh orientasi positif bagi masyarakat sekitar yang sedang mencari atau ingin menjalankan usaha yam ras pedaging.
Keberlanjutan Usaha Peternakan Ayam Ras Pedaging
Indikator yang diamati Hasil pengamatan
1) Kemampuan peternak sebagai manajer
2) Keadilan berusaha
3) Kemandirian peternak
Memiliki kemampuan mengambil keputusan yang baik dalam usahanya
Inovatif dalam menerima hal baru seperti tata cara pemeliharaan ayam ras pedaging
Melakukan pencatatan produksi ternak, pendapatan dan
pengeluaran.
Peternak merasa sudah banyak keuntungan yang didapat
Merasa puas akan hasil usahanya
Merupakan usaha pokok
Percaya diri dapat memelihara ayam ras dengan baik
Pengalaman informan dalam beternak serta etos kerja yang tinggi dibuktukan oleh 10 orang peternak yang usaha peternakannya masih berlanjut hingga saat ini walaupun telah menghadapi beberapa krisis dunia peternakan ayam ras pedaging, seperti krisis moneter pada tahun 1998, kasus flu burung pada tahun 2004, serta risiko yang didapat dari faktor yang menghambat faktor produksi pada tahun 2008 seperti pencurian pakan dan ketidak jujuran pekerja. Ketiga orang informan yang usahanya tidak berlanjut disebabkan oleh kurang memperhatikan usia atau masa pakai kandang, sehingga selama kandang digunakan terutama pada bagian tiang-tiang yang menjadi kontruksi penyangga atap kandang mengalami pelapukan.
Seluruh peternak sudah merasakan banyak keuntungan yang didapat dari usaha ternak ayam ras pedaging. Selain itu, para peternak juga bisa merasakan kepuasan dalam penerimaan keuntungan dari usahanya. Hingga saat ini, usaha ayam ras pedaging sebagian besar (10 informan) merupakan usaha pokok yang dijalankan peternak dan sisanya (3
informan) dijadikan sebagai usaha sampingan, dimana dari hasil usaha ternaknya mereka dapat membangun rumah, membeli lahan perkebunan, membiayai sekolah anak-anaknya bahkan ada informan yang sedang menyekolahkan anaknya di Perguruan Tinggi dan dapat mencukupi kebutuhan hidup lainnya. Para informan menyatakan bahwa usaha ayam ras pedaging sudah adil dengan penghasilan yang mereka terima hingga saat ini.
Berikut penuturan bapak KS (peternak usia 47 tahun) :
“Alhamdulillah, salami bapak usaha kana hayam dugi ka ayeuna tiasa nyakolakeun budak di UNPAD”( Alhamdulillah, selama saya berusaha ayam ras pedaging sampai
saat ini dapat menyekolahkan anak di UNPAD).
Selanjutnya berikut penuturan bapak YF (petern ak usia 49 tahun) :
“Abdi ayeuna gaduh bumi nyalira, tah bumi ieu the hasil dina ngingu hayam”(sekarang saya punya rumah sendiri, rumah ini didapat dari hasil usaha ayam
ras pedaging).
Bentuk pendistribusian asset oleh informan selain untuk mencukupi kebutuhan dirinya beserta keluarga juga dilakukan dengan cara menyisihkan keuntungan hasil usahanya untuk tabungan di masa depan dengan cara dibelikan lahan kebun, lahan sawah, modal usaha lain dan pembesaran kapasitas kandang untuk meningkatkan kapasitas dari populasi ternaknya. Apa yang dilakukan oleh informan dalam hal keadilan berusaha sesuai dengan konsep “equity” atau keadilan yang diungkapkan oleh Chambers dan Conway (1992) secara konvensional dapat diukur dari distribusi dan pendapatan relatif, tetapi lebih luas menunjuk pada bagaimana pendistribusian asset (kekayaan), kemampuan, dan kesempatan, terutama pada mereka yang sangat miskin.
Kemandirian peternak yaitu upaya yang dilakukan peternak untuk memenuhi kebutuhan sendiri, pengendalian diri dan percaya diri, serta memelihara dan mempertahankan mata pencahariannya. Tingkat kemandirian peternak di Desa Ciruluk cukup tinggi, hal tersebut dibuktikan dengan sebagian peternak menjalankan usaha ayam
ras pedaging tanpa dibantu oleh pekerja. Pemamfaatan sumber daya manusia oleh informan kebanyakan memilih keluarganya untuk membantu proses pemeliharaan ternak. Kendala yang dihadapi jika menggunakan anak kandang adalah kemampuan SDM, pengalaman beternak yang minim serta kejujuran menjadi tolak ukur mengapa para informan bekerja sendiri mengurus ternaknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Chambers dan Conway (1992) bahwa keberlanjutan ditunjukan dilakukan dengan penambahan modal usaha serta memperhatikan faktor-faktor pendukung jalannya usaha seperti perizinan, tata kelola limbah ternak serta etos kerja yang tinggi dapat menumbuhkan motivasi peternak dalam menjalankan usahanya.
KESIMPULAN
1. Orientasi nilai kerja seluruh informan dinilai positif, pekerjaan sebagai peternak memiliki prospek usaha yang baik dalam segi penghasilan dibanding upah rendah dan tidak menentu pada pekerjaan sebelumnya (buruh tani, buruh bangunan, tukang ojeg), bagi peternak yang berlatar belakang PNS usaha ayam ras pedaging dijadikan sebagai usaha sampingan yang aman dan nyaman untuk menambah penghasilan. Orientasi positif peternak banyak dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin, umur, pendidikan, pengalaman beternak, keluarga dan faktor lingkungan.
2. Keberlanjutan usaha peternakan ayam ras pedaging di Desa Ciruluk pada umumnya cukup baik, dimana 10 orang peternak usahanya masih berlanjut hingga saat ini, sedangkan 3 orang lainnya tidak berlanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Kab. Subang.. Kalijati Dalam Angka 2014.
Chamber, R. And Conway, G. R. 1992. Sustainable Livelihood : Practical Concept For
The 21st Century. Institute Of Development Studies. (Discussion Paper, 296 At The
Herlina. 2002. Orientasi Nilai Kerja Pemuda Pada Keluarga Petani Perkebunan. Thesis IPB. Bogor.
Holle, Y. Partisipasi Petani Dalam Kegiatan PIR Kelapa Sawit. Tesis. Program Pasca Sarjana. IPB. Bogor.
Mauludin, Mochamad A. 2014. Pengembangan Peternakan Sapi Perah Dan Perubahan
Struktur Sosial. Thesis IPB. Bogor.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Rosda cet. 24. Bandung.
Paturochman. M. 2012. Penentuan Jumlah dan Teknik Pengambilan Sampel. Unpad press. Bandung.
Siagian, Sondang P.1995. Teori Motivasi Dan Aplikasinya. Rineka Cipta, Jakarta.
Sulaeman M dan Asep Saepudin, 2004. Peran Budaya Organisasi Dalam Peningkatan
Unjuk Kerja Perusahaan, Bagian Psikologi Industri dan Organisasi Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta.
Super, Donald dan John O. Crites. 1962. Appraising Vocational Fitness. New York: A Happer International Student Reprint.