PRODI DIV KEBIDANAN KELAS ALUMNI PRODI DIV KEBIDANAN KELAS ALUMNI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP) SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP)
PRE CONFERENCE PRE CONFERENCE Mata Kuliah/Skill
Mata Kuliah/Skill : : Praktik Praktik Klinik Klinik Kebidanan Kebidanan Mata Mata Kuliah Kuliah Metodik Metodik KhususKhusus Tempat
Tempat : : BPM BPM Subiyatun, Subiyatun, SST.KebSST.Keb Nama Mentee
Nama Mentee : : Aisyah Aisyah Nur Nur AfifahAfifah Semester (Mentee)
Semester (Mentee) : : Mahasiswa Mahasiswa DIV DIV Kebidanan Kebidanan Semester Semester IVIV Nama
Nama Mentor Mentor : Rona : Rona Syintia Syintia Rihhadatul Rihhadatul AisyAisy Waktu
Waktu Pertemuan Pertemuan : : Kamis, Kamis, 15 15 Juni Juni 20172017 Kompetensi
Kompetensi : : Demonstrasi Demonstrasi Konseling Konseling KBKB
A.
A. Tujuan InstruksionalTujuan Instruksional 1.
1. Tujuan Instruksional UmumTujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti kegiatan bimbingan pre conference, percepti diharapkan mampu Setelah mengikuti kegiatan bimbingan pre conference, percepti diharapkan mampu mengidentifikasi tujuan konseling KB serta hal-hal apa saja yang harus diperhatikan agar mengidentifikasi tujuan konseling KB serta hal-hal apa saja yang harus diperhatikan agar dapat memberikan konseling KB dengan baik.
dapat memberikan konseling KB dengan baik. 2.
2. Tujuan Instruksional KhususTujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti pre conference percepti diharapkan mampu: Setelah mengikuti pre conference percepti diharapkan mampu:
a.
a. Merumuskan tujuan konseling Merumuskan tujuan konseling KB serta KB serta hal-hal yang hal-hal yang harus diperhatikan harus diperhatikan agaragar dapat memberikan konseling KB dengan baik
dapat memberikan konseling KB dengan baik b.
b. Meneyesuaikan diri adanya perubahan jadwal atau kondisi klinikMeneyesuaikan diri adanya perubahan jadwal atau kondisi klinik c.
c. Memahami peranan mahasiswa dan tanggung jawab pada hari itu termasuk tugasMemahami peranan mahasiswa dan tanggung jawab pada hari itu termasuk tugas dan jadwal
dan jadwal d.
d. Memahami kebutuhan belajar praktik pada hari ituMemahami kebutuhan belajar praktik pada hari itu e.
e. Mengetahui keterampilan apa saja yang diinginkan perceptiMengetahui keterampilan apa saja yang diinginkan percepti B.
B. Pokok BahasanPokok Bahasan
Demonstrasi Konseling KB Demonstrasi Konseling KB C.
C. Sub Pokok BahasanSub Pokok Bahasan 1.
1. Tujuan Konseling KB serta hal-hal yang harus diperhatikan agar dapat memberikanTujuan Konseling KB serta hal-hal yang harus diperhatikan agar dapat memberikan konseling KB dengan baik dan benar.
konseling KB dengan baik dan benar. 2.
2. Perubahan jadwal/kondisi klinikPerubahan jadwal/kondisi klinik 3.
3. Peranan dan tanggung jawab perceptiPeranan dan tanggung jawab percepti 4.
4. Kebutuhan belajar praktikKebutuhan belajar praktik 5.
5. Keterampilan yang ingin dikuasai, yaitu ketrampilan dalam mendemonstrasikan konselingKeterampilan yang ingin dikuasai, yaitu ketrampilan dalam mendemonstrasikan konseling KB.
D. Kegiatan Pembelajaran
No Tahap/
Waktu Kegiatan Mentor Kegiatan Mentee Metode Media
1 Tahap Persiapan/ Pembukaan + 5 menit
1. Memberi salam.
Menjelaskan hasil yang diharapkan dari kegiatan pre conference, waktu dan topic pembahasan
Menjawab salam Ceramah SAP
2. Melakukan presensi mahasiswa
Memperhatikan Ceramah 3. Apresiasi pada mahasiswa
tentang dilakukannya pre conference
Mengisi Presensi Tanya Jawab
Lembar Presensi 4. Mendiskusikan persiapan
yang dilakukan percepti mengenai pembelajaran yang ingin diketahui
Menyampaikan pendapat Diskusi Leaflet dan alat peraga 5. Memberikan reinforcement
positif tentang rencana kegiatan Diskusi Diskusi 2 Tahap Pelaksanaan + 20 menit 1. Mendiskusikan dengan percepti tentang kebutuhan belajar tentang konseling KB
Menyimak dan berdiskusi dengan Pembimbing
Diskusi
2. Memastikan kegiatan belajar yang akan diambil
Diskusi Tanya
jawab 3. Memberi kesempatan
bertanya pada percepti mengenai kesulitan atau masalah tentang konseling KB
Bertanya hal-hal yang belum jelas
Diskusi 3 Tahap Evaluasi/Pen utup + 5 menit 1. Bersama percepti
menyimpulkan kegiatan pre conference Menyimpulkan hasil pre conference bersama pembimbing Diskusi 2. Memberikan reinforcement kepada percepti Memperhatikan Ceramah 3. Menyampaikan rencana
selanjutnya, yaitu bed side teaching demonstrasi konseling KB
Mencatat dan menyimak
4. Mengakhiri pre conference Menjawab salam E. Evaluasi
Menyepakati untuk praktik hari ini sesuai dengan keinginan percepti: 1. Evaluasi persiapan
a. Meyiapkan tempat conference b. Menyiapkan SAP
c. Menyiapkan presensi 2. Proses
b. Kegiatan pre conference berjalan lancar 3. Hasil
a. Percepti mengerti tentang konseling KB dan mampu mendemonstrasikan menggunakan probandus.
b. Percepti mampu menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan demonstrasi konseling KB.
F. Referensi
Ulfiana, Elisa. 2012. Pengajaran Klinik Perceptorship dan Mentorship. Saifuddin, AB. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Edisi 4. G. Materi Terlampir Disahkan Oleh Pembimbing lahan Subiyatun, SST.Keb NIP. 19720609 199203 2 004
Kab. Semarang, 15 Juni 2017 Disiapkan Oleh
Mahasiswa
Rona Syintia Rihhadatul Aisy NIM. P1337424416154 Mengetahui,
Pembimbing Institusi
Rizky Amelia, SST, M.Kes NIP. 19810520 200212 2 002
PRODI DIV KEBIDANAN KELAS ALUMNI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP) POST CONFERENCE
Mata Kuliah/Skill : Praktik Klinik Kebidanan Mata Kuliah Metodik Khusus
Tempat : BPM Subiyatun, SST.Keb
Nama Mentee : Aisyah Nur Afifah
Semester (Mentee) : Mahasiswa DIV Kebidanan Semester IV Nama Mentor : Rona Syintia Rihhadatul Aisy
Waktu Pertemuan : Kamis, 15 Juni 2017
Kompetensi : Mampu memahami, mengevaluasi, dan mengaplikasikan kembali praktek demonstrasi konseling KB.
A. Tujuan Instruksional
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti post conference ini mahasiswa diharapkan mampu memahami, mengevaluasi dan mengaplikasikan dalam praktek demonstrasi konseling KB.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti post conference ini mahasiswa diharapkan mampu: a. Mengevaluasi kegiatan hari ini
b. Mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan praktik yang sudah dilaksanakan hari ini.
c. Membuat rencana tindak lanjut kegiatan praktik selanjutnya bersama pembimbing B. Pokok Bahasan
Hasil belajar praktik percepti (demonstrasi konseling KB) C. Sub Pokok Bahasan
Demontrasi konseling KB. D. Kegiatan Pembelajaran No Tahap/Jenis Kegiatan Waktu
Kegiatan Mentor Kegiatan Mentee Metode
Media 1 Tahap
Persiapan/ Pembukaan 5 menit
1. Memberi salam Menjawab salam SAP
2. Menjelaskan pada percepti tentang hasil yang
diharapkandari kegiatan post conference, waktu dan topic pembahasan
3. Melakukan presensi mahasiswa
Mengisi presensi Tanya jawab Lembar presen si
2. Tahap Pelaksanaan 20 menit
1. Menanyakan dan mendiskusikan hasil
kegiatan pada hari tersebut
Menjawab dan mendiskusikan Tanya jawab dan diskusi SAP 2. Mendiskusikan dengan mahasiswa mengenai apa yang dirasakan mahasiswa setelah melewati praktik hari tersebut
Diskusi Tanya jawab
3. Memberikan reinforcement positif mengenai hasil kegiatan yang telah dilakukan
Memperhatikan Ceramah
4. Memberi kesempatan bertanya pada percepti untuk berdiskusi dan memberikan umpan balik
Bertanya hal-hal yang belum jelas
Diskusi
5. Memberikan penugasan di rumah atau yang berkaitan dengan kegiatan untuk tugas jaga selanjutnya
Memperhatikan Ceramah
6. Memberikan kesempatan untuk bertanya pada percepti mengenai topic yang didiskusikan
Bertanya tentang hal yang belum jelas Tanya jawab 3 Tahap Evaluasi/Penu tup 5 menit 1. Bersama percepti
menyimpulkan kegiatan post conference Menyimpulkan hasil post conference bersama pembimbing Ceramah SAP 2. Memberikan reinforcement pada percepti Memperhatikan Ceramah 3. Memberi rencana tindak
lanjut mengenai rencana yang diperlukan untuk membantu percepti meningkatkan kemampuannya Memperhatikan Ceramah 4. Menyampaikan rencana bimbingan selanjutnya (topic, waktu dan tempat)
Menyimak
5. Memberikan penugasan pada percepti tentang rencana selanjutnya (mempersiapkan pelaksanaan tindakan) Melaksanakan tugas yang diberikan Ceramah
E. Evaluasi
Menyepakati untuk praktik hari ini dengan keinginan percepti 1. Persiapan
a. Meyiapkan tempat post conference b. Menyiapkan SAP
c. Menyiapkan presensi 2. Proses
a. Percepti berperan aktif dan kooperatif dalam kegiatan post conference b. Kegiatan post conference berjalan lancar
3. Hasil
a. Percepti mengerti tentang pembelajaran yang telah dilakukan
b. Percepti mampu mengevaluasi segala sesuatu yang berkaitan dengan pembelajaran yang telah dilakukan
F. Referensi
Ulfianan, Elisa. 2012. Pengajaran Klinik Perceptorship dan Mentorship. Saifuddin, AB. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Edisi 4. G. Materi Terlampir Disahkan Oleh Pembimbing lahan Subiyatun, SST.Keb NIP. 19720609 199203 2 004
Kab. Semarang, 7 Juni 2017 Disiapkan Oleh
Mahasiswa
Rona Syintia Rihhadatul Aisy NIM. P1337424416154 Mengetahui,
Pembimbing Institusi
Rizky Amelia, SST, M.Kes NIP. 19810520 200212 2 002
PRODI DIV KEBIDANAN KELAS ALUMNI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP) BED SIDE TEACHING
Mata Kuliah/Skill : Praktik Klinik Kebidanan Mata Kuliah Metodik Khusus
Tempat : BPM Subiyatun, SST.Keb
Nama Mentee : Aisyah Nur Afifah
Semester (Mentee) : Mahasiswa DIV Kebidanan Semester IV Nama Mentor : Rona Syintia Rihhadatul Aisy
Waktu Pertemuan : Kamis, 15 Juni 2017 Kompetensi : Demonstrasi konseling KB
A. Tujuan Instruksional
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti kegiatan bed side teaching mahasiswa mampu melakukan demontrasi konseling KB.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti kegiatan bed side teaching ini persepti diharapkan mampu: a. Menjelaskan komponen dalam konseling KB.
b. Melakukan prosedur demonstrasi konseling KB. c. Menerapkan konseling KB.
B. Pokok Bahasan
Aplikasi pengetahuan teoritis tentang pelayanan kontrasepsi (konseling KB) C. Sub Pokok Bahasan
Konseling KB.
D. Kegiatan Bed Side Teaching
No
Jenis Kegiatan/
Waktu
Kegiatan Pengajaran Kegiatan
Mahasiswa Metode Media
1. Tahap persiapan/ Pembukaan + 10 menit
1. Memberi salam Menjawab salam SAP
2. Menjelaskan pada percepti tentang kegiatan waktu dn tujuan dari bed side teaching kebidanan yaitu demonstrasi konseling KB yang baik
3. Menjelaskan pada peserta didik tentang hasil yang diharapkan dari demonstrasi
Memperhatikan Ceramah
4. Menjelaskan kepada peserta didik tentang alat yang
digunakan untuk demonstrasi
Memperhatikan Ceramah
5. Mengajak peserta didik menuju ruang pasien
Menuju ruang pasien
2 Tahap Pelaksanaan + 40 menit
1. Memulai kegitan bed side teaching kebidanan yaitu berupa demonstrasi konseling KB.
Memperhatikan Praktik
2. Memberikan komentar yang jelas mengenai prosedur yang
dilakukan
Memperhatikan Ceramah
3. Memberikan kesempatan bertanya dan berdiskusi pada percepti
Bertanya Tanya
jawab 4. Memberikan kesempatan
redemonstrasi pada peserta didik dan membantu
mahasiswa bila diperlukan
Mendemonstrasik an
Praktik
5. Memberikan reinforcement pada pasien atas kerja sama dalam melaksanakan kegiatan
Memperhatikan Ceramah
3 Tahap Evaluasi/ Penutup + 10 menit
1. Memberi kesempatan pada percepti untuk self evaluasi mengenai kegiatan yang telah dilakukan
Mengevaluasi Dsikusi
2. Memberikan reinforcement pada percepti
Memperhatikan Diskusi 3. Mengevaluasi kegiatan yang
dilakukan percepti
Memperhatikan Diskusi 4. Membuat rencana tindak
lanjut mengenai pengalaman yang diperlukan untuk
membantu percepti untuk meningkatkan kemampuan
Memperhatikan Ceramah
5. Menutup kegiatan bed side teaching
Menjawab salam
E. Evaluasi
Menyepakati untuk praktik hari ini sesuai dengan keinginan percepti 1. Persiapan
a. Menyiapkan tempat b. Menyiapkan SAP
2. Proses
a. Percepti berperan aktif dan kooperatif dalam kegiatan bed side teaching demonstrasi konseling KB.
b. Pasien bersedia bekerja sama dengan pelaksanaan bed side teaching c. Kegiatan bed side teaching berjalan lancar
3. Hasil
a. Percepti mampu menjelaskan keadaan pasien
b. Percepti mampu menjelaskan tentang kebutuhan pasien
c. Percepti mampu mengetahui rencana tindakan dari pasien tersebut dan perkembangannya
F. Referensi
Ulfianan, Elisa. 2012. Pengajaran Klinik Perceptorship dan Mentorship. Saifuddin, AB. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Edisi 4. G. Materi Terlampir Disahkan Oleh Pembimbing lahan Subiyatun, SST.Keb NIP. 19720609 199203 2 004
Kab. Semarang, 7 Juni 2017 Disiapkan Oleh
Mahasiswa
Rona Syintia Rihhadatul Aisy NIM. P1337424416154 Mengetahui,
Pembimbing Institusi
Rizky Amelia, SST, M.Kes NIP. 19810520 200212 2 002
Konseling KB
A. Pengertian Konseling
Konseling adalah proses pertukaran informasi dan interaksi positif antara klien-petugas untuk membantu klien mengenali kebutuhannya, memilih solusi terbaik dan membuat keputusan yang paling sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi.
B. Tujuan konseling KB
Konseling KB bertujuan membantu klien dalam hal: 1. Menyampaikan informasi dari pilihan pola reproduksi. 2. Memilih metode KB yang diyakini.
3. Menggunakan metode KB yang dipilih secara aman dan efektif. 4. Memulai dan melanjutkan KB.
5. Mempelajari tujuan, ketidakjelasan informasi tentang metode KB yang tersedia. C. Prinsip Konseling KB
Prinsip konseling KB meliputi: percaya diri / confidentiality ; Tidak memaksa / voluntary choice; Informed consent; Hak klien / clien’t rights dan Kewenangan / empowerment .
D. Keuntungan Konseling KB
Konseling KB yang diberikan pada klien memberikan keuntungan kepada pelaksana kesehatan maupun penerima layanan KB. Adapun keuntungannya adalah:
1. Klien dapat memilih metode kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhannya. 2. Puas terhadap pilihannya dan mengurangi keluhan atau penyesalan.
3. Cara dan lama penggunaan yang sesuai serta efektif. 4. Membangun rasa saling percaya.
5. Mengormati hak klien dan petugas.
6. Menambah dukungan terhadap pelayanan KB. 7. Menghilangkan rumor dan konsep yang salah. E. Hak Pasien
Pasien sebagai calon maupun akseptor KB mempunyai hak sebagai berikut:
1. Terjaga harga diri dan martabatnya.
2. Dilayani secara pribadi (privasi) dan terpeliharanya kerahasiaan.
3. Memperoleh informasi tentang kondisi dan tindakan yang akan dilaksanakan.
4. Mendapat kenyamanan dan pelayanan terbaik.
5. Menerima atau menolak pelayanan atau tindakan yang akan dilakukan.
6. Kebebasan dalam memilih metode yang akan digunakan. F. Konseling KB dan Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal dalam pelayanan kesehatan menggunakan : 1. Motivasi
2. Edukasi / pendidikan 3. Konseling
G. Pendidikan KB
Pelayanan KB yang diberikan pada pasien mengandung unsur pendidikan sebagai berikut:
1. Menyediakan seluruh informasi metode yang tersedia.
2. Menyediakan informasi terkini dan isu.
3. Menggunakan komunikasi satu arah atau dua arah.
4. Dapat melalui komunikasi individu, kelompok atau massa.
5. Menghilangkan rumor dan konsep yang salah. H. Konseling KB
Konseling KB antara lain:
1. Mendorong klien untuk mengajukan pertanyaan.
3. Membantu klien membuat pilihan sendiri. I. Peran Konselor KB
Proses konseling dalam praktik pelayanan kebidanan terutama pada pelayanan keluarga berencana, tidak terlepas dari peran konselor. Tugas seorang konselor adalah sebagai berikut:
1. Sahabat, pembimbing dan memberdayakan klien untuk membuat pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
2. Memberi informasi yang obyektif, lengkap, jujur dan akurat tentang berbagai metode kontrasepsi yang tersedia.
3. Membangun rasa saling percaya, termasuk dalam proses pembuatan Persetujuan Tindakan Medik.
J. Informasi tentang Macam KB 1. IUD
Menurut (Pinem, 2009; h. 287) bahwa jenis Cu-T atau Cu-7 dan sebagainya merupakan pilihan yang baik untuk ibu yang menyusui, karena tidak mempengaruhi kuantitas maupun kualitas ASI.
Menurut Saifuddin (2010) bahwa yang dapat menggunakan alat kontrasepsi IUD yaitu usia reproduktif, keadaan nulipara, menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang, ibu menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi, risiko rendah dari IMS, tidak menghendaki kontrasepsi hormonal.
Waktu penggunaan alat kontrasepsi ini yaitu setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil, hari pertama sampai ketujuh siklus haid, segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pasca persalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenore laktasi, selama 1 sampai 5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.
2. Pil KB
Pil KB yang aman digunakan untuk ibu yang menyusui yaitu minipil, karena hanya mengandung hormon progesteron sehingga tidak mempengaruhi proses laktasi (Pinem, 2009; h. 255). Minipil boleh digunakan oleh ibu yang ingin menggunakan metode kontrasepsi efektif selama periode menyusui, setelah melahirkan dan tidak menyusui, tidak ingin menggunakan metode kontrasepsi yang mengandung estrogen. Waktu untuk memulai metode kontrasepsi pil ini yaitu mulai hari pertama sampai hari kelima siklus haid, setelah 6 minggu pasca persalinan dan ibu telah mendapat haid, penggunaannya dimulai pada hari 1-5 siklus haid, bila menyusui antara 6 minggu dan 6 bulan pasca persalinan dan tidak haid, minipil dapat dimulai setiap saat bila menyusui penuh, tidak memerlukan alat kontrasepsi tambahan, bila ibu tidak haid minipil dapat digunakan setiap saat, tetapi ibu tidak sedang dalam kondisi hamil. Jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 2 hari saja, bila digunakan lebih dari hari ke 5 siklus haid, jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 2 hari saja (Saifuddin, 2010).
3. Suntik KB
Suntik KB yang aman digunakan untuk ibu yang sedang menyusui yaitu KB suntik 3 bulan dan 2 bulan, karena hanya mengandung hormon progesteron sehingga tidak mengganggu proses laktasi. Suntik KB dapat dimulai saat hari ke 7 setelah masa nifas. Apabila penyuntikan akan dilakukan setelahnya, sebaiknya gunakan perlindungan ganda, yaitu kondom selama 2 x 24 jam (Akhmad, 2006).
Suntik KB ini dapat digunakan oleh ibu yang menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan memiliki efektivitas tinggi, menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai, ibu yang setelah melahirkan dan tidak menyusui, tekanan darah <180/110 mmHg,
ibu yang ingin menggunakan kontrasepsi yang tidak mengandung estrogen. Penggunaan kontrasepsi ini dapat dimulai pada waktu setiap saat selama siklus haid, hari pertama sampai hari ketujuh siklus haid, dapat diberikan setiap saat dalam kondisi tidak hamil, selama 7 hari tidak boleh melakukan hubungan seksual terlebih dahulu (Saifuddin, 2010).
4. Implant
Jenis implant yang dapat digunakan pada ibu menyusui adalah implant yang hanya mengandung hormon progesteron agar tidak mengganggu produksi ASI (Pinem, 2009; h. 282). Jenis-jenis implant yang hanya mengandung hormon progesteron antara lain: Norplant (terdiri dari 6 batang silatik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm, diameter 2,4 mm, yang mengandung 36 mg Levonorgestrel dengan masa kerja 5 tahun), Implanon (terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm, dan diameter 2 mm, yang di isi dengan 68 mg 3 keto-desogestrel dan lama kerja 3 tahun), Jadena dan Indoplant (terdiri dari 2 batang yang di isi dengan 75 mg Levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun) (Saifuddin, 2010). Alat kontrasepsi ini dapat digunakan oleh ibu menyusui dan memerlukan kontrasepsi yang efektif, ibu yang tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen, memiliki tekanan darah <180/110 mmHg. Waktu untuk memulai penggunaan metode kontrasepsi ini yaitu setiap saat selama siklus haid hari kedua sampai hari ketujuh, apabila dilakukan setelah hari ketujuh siklus haid kemudian melakukan hubungan seksual, maka perlu menggunakan alat kontrasepsi tambahan, apabila ibu menyusui antara 6 minggu sampai 6 bulan pasca persalinan, insersi dapat dilakukan setiap saat bila menyusui penuh, ibu tidak memerlukan kontrasepsi tambahan, setelah 6 minggu melahirkan dan telah terjadi haid kembali, insersi dapat dilakukan setiap saat, apabila akan melakukan hubungan seksual selama 7 hari setelah pemasangan diperlukan adanya kontrasepsi tambahan (Saifuddin, 2010).
Keuntungan dari KB implant adalah daya guna tinggi, perlindungan jangka panjang, pengembalian kesuburan yang cepat setelah pencabutan, tidak memerlukan pemeriksaan dalam, tidak mempengaruhi ASI (Saifuddin, 2010). Hormon progestin dilepaskan secara terus menerus untuk menekan ovulasi sebagai aksi kontraseptif primer. Kembalinya ovulasi setelah pengangkatan implan terjadi dengan cepat, sehingga ini merupakan metode yang sangat efektif (Cunningham, 2012).