EFEK YANG TERJADI PADA MIKROBA DAN TANAH

14 

Teks penuh

(1)

EFEK YANG TERJADI PADA MIKROBA DAN TANAH TANPA PENGGUNAAN PUPUK HAYATI

MAKALAH

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi Tugas

Mata Kuliah Biofertilisasi

Disusun oleh : KELOMPOK 5

Leo Daniel Sipayung 150510120070 Agus Fahmi Siregar 150510120072 Ulfah Isnaini Jasnir 150510120082 Septyani Sofatin 150510120087

AGROTEKNOLOGI A

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERTANIAN

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat

rahmat dan karunia-Nya, serta dengan usaha kami, kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Adapun isi dari makalah ini yaitu mengenai Efek yang Terjadi pada Mikroba dan Tanah Tanpa Penggunaan Pupuk Hayati.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang turut membantu, baik

secara langsung maupun tidak langsung dalam bentuk dukungan moril maupun materil

kepada kami dalam menyelesaikan makalah ini.

Tak ada segala sesuatu di dunia ini yang sempurna, begitu pula dengan makalah ini.

Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pembaca demi

kesempurnaan dalam pembuatan makalah di kemudian hari.

Jatinangor, Maret 2015

(3)

DAFTAR ISI

Ha l

KATA PENGANTAR . . . . . . i

DAFTAR ISI. . . . . . . ii BAB I PENDAHULUAN. . . 1

1.2 Latar Belakang . . . 1

1.3 Rumusan Masalah . . . 1

BAB II TINJAUN PUSTAKA. . . 2

2.1 Pengertian Pupuk Hayati (Biofertilisasi) . . . 2

2.2 Kandungan Pupuk Hayati. . . 2

2.3 Dampak Positif dan Negatif Pemberian Pupuk Hayati . . . 3

2.4 Perkembangan Pupuk Hayati. . . 4

BAB III EFEK TANPA PENGGUNAAN PUPUK HAYATI . . . 6

3.1 Efek Terhadap Tanah. . . 6

3.2 Efek Terhadap Tanaman. . . 8

3.2 Efek Terhadap Penggunaan Pestisida. . . 9

BAB IV KESIMPULAN . . . 11

(4)

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang

Perkembangan pupuk hayati saat ini semakin banyak manfaatnya. Kandungan yang terdapat dalam pupuk hayati seperti mikroba penambat N2, pelarut pospat ataupun

pelarut kalium mampu meningkatkan kesuburan dan ketersediaan nutrisi bagi tanaman

di dalam tanah. Namun seringkali penggunaan pupuk hayati dikesampingkan karena

pembuatannya dan bahan yang dibutuhkan lebih sulit untuk didapatkan dibanding

pupuk sintetis. Akibat yang ditimbulkan tanpa menggunakan pupuk hayati sangat

beragam, peningkatan kehilangan aktivitas dalam tanah yang tinggi seperti aliran

pemupukan, pencucian, evaporasi, fiksasi, dan aktivitas mikroba akan semakin mundur

dan semakin lama akan merusak kondisi fisik, kimia, dan biologi tanah. Pengetahuan

petani akan teknologi dan manfaat pupuk hayati pun masih rendah, padahal

pemahaman strategi pemanfaatan pupuk hayati ialah untuk memperbaiki kualitas tanah,

menjaga kondisi aktivitas mikroorganisme tanah, dan lebih ramah lingkungan.

2.1 Rumusan Masalah

1. Bahan atau kandungan apa saja yang terdapat di dalam pupuk hayati?

2. Apa dampak yang terjadi pada tanah dan aktivitas mikroba tanah tanpa

(5)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Biofertilisasi

Bio-organic fertilizer atau pupuk organik hayati adalah pupuk kombinasi antara

pupuk organik dan pupuk hayati. Pupuk organik hayati adalah pupuk organik yang

terbuat dari bahan-bahan alami seperti pupuk kandang, kompos, kascing, gambut,

rumput laut dan guano diperkaya mikrob hidup yang memiliki peranan positif bagi

tanaman.

Pupuk hayati atau biofertilisasi adalah semua bentuk bahan organik yang dapat

meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman sebagai akibat dari aktifitas

mikroorganiksme di dalamnya (Zulkarnain, 2009). Menurut Hasibuan (2006), pupuk

hayati adalah mikroorganisme hidup yang ditambahkan ke dalam tanah dalam bentuk

inokulan atau bentuk lain untuk memfasilitasi atau menyediakan hara tertentu bagi

tanaman.

Pupuk hayati merupakan mikrob hidup yang diberikan ke dalam tanah sebagai

inokulan untuk membantu tanaman memfasilitasi atau menyediakan unsur hara tertentu

bagi tanaman. Oleh karena itu, pupuk hayati sering juga disebut sebagai pupuk mikrob

(Yuwono, 2006). Pupuk hayati telah dilaporkan mampu meningkatkan efisiensi serapan

hara, memperbaiki pertumbuhan dan hasil, serta meningkatkan ketahanan terhadap

serangan hama dan penyakit.

FNCA Biofertilizer Project Group (2006) mengusulkan definisi pupuk hayati

sebagai substans yang mengandung mikroorganisme hidup yang mengkolonisasi

rizosfir atau bagian dalam tanaman dan memacu pertumbuhan dengan jalan

meningkatkan pasokan ketersediaan hara primer dan/atau stimulus pertumbuhan

tanaman target, bila dipakai pada benih, permukaan tanaman, atau tanah.

2.2 Kandungan Pupuk Hayati

Pupuk hayati mengandung mikroorganisme hidup penambat N2, pelarut fosfat,

selulotik dan sebagainya yang diberi pada benih, tanam, dan atau pengomposan untuk

meningkatkan jumlah dan aktifitas mikroorganisme (Zulkarnain, 2009). Pupuk ini

mengandung bakteri Bacillus Megaterium. Bakteri ini diduga oleh beberapa peneliti

mampu menyediakan fosfat yang terlarut dari pool tanah ke tanaman. Tetapi pada

(6)

Pupuk hayati tidak mengandung Nitrogen, Phospat, maupun Kalium. Akan tetapi

mikroorganisme yang terkandung di dalamnya, apabila di dalam tanah dapat

menghasilkan Nitrogen yang ditambatkan dari udara, menguraikan P dan K yang terikat

dengan senyawa lain.

2.3 Dampak Negatif dan Positif Pupuk Hayati

Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza

adalah

a. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P)

Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi

(10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0.4-13%).

Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan

pupuk Nitrogen 50%, pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Pengaruh

penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan

tinggi tanaman dibanding control.

b. Menahan Serangan Patogen Akar

Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel

(jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Di samping itu beberapa

mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri, virus, jamur yang

bersifat patogen.

c. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari

Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti

butir-butir tanah. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida

yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza. Karena bukan merupakan bahan

kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan.

d. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman

Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar

tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman

dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan

tanaman. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert

2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang

dicampur dengan zeolith sebagai media. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan

pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum

(7)

mikoriza menginfeksi akar tanaman. Pemberian pupuk diberikan dengan cara

menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman, menempelkan pupuk/akar

terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk

pembibitan tanaman.

Kekurangan Pupuk hayati:

a. Makhluk Hidup yang bisa mati, sehingga Pupuk hayati tidak bisa disimpan dalam

jangka waktu lama (lebih dari 2 tahun)

b. Tidak bisa diaplikasikan bersamaan dengan pupuk kimia atau pestisida

c. Seiring dengan waktu, populasi mikroba yang ada dapat menurun (mati), sehingga

mengurangi kualitas

2.4 Perkembangan Pupuk Hayati

Belum berkembangnya pemanfaatan pupuk hayati di Indonesia berkaitan dengan

efektivitas pupuk hayati, kurangnya informasi dan peranan pupuk hayati dalam

meningkatkan produktivitas tanah maupun tanaman, kemudahan dalam memperoleh

produk dengan harga yang terjangkau. Bila pupuk hayati mampu mensubstitusi pupuk

anorganik dan meningkatkan produksi dan keuntungan usaha tani dengan signifikan,

dapat diharapkan bahwa penggunaannya secara massal akan terwujud.

Kementan pada tahun 2010 meluncurkan program pemulihan kesuburan lahan

sawah berkelanjutan (PKLSB) dengan memberi paket bantuan pupuk hayati berupa

konsorsium pupuk hayati penambat N dan pelarut P dan mikroba perombak jerami

(dekomposer) yang dikenal dengan program Biodekomposer di Provinsi (Jawa Barat,

Banten, Jawa Tengah, Jawah Timur, Di Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Sumatera

Selatan, dan Sumatera Barat). Program ini secara langsung dapat mendorong baik

pengembangan industri pupuk hayati maupun penelitian tentang teknologi pupuk hayati

di Indonesia. Bila pupuk hayati digunakan dengan dosis 400 – 2.000 g per hektar, maka

potensi pasar pupuk hayati di Indonesia sangat besar, baik untuk lahan kering maupun

lahan sawah. Inokulan dapat diproduksi dalam bentuk padat maupun cair (solid or liquid biofertlizers). Pupuk hayati yang sangat potensial untuk dikembangkan secara komersial di Indonesia antara lain adalah kelompok:

1. Penambat N simbiotik: (a) bakteri pembentuk nodula dengan tanaman legum:

Rizhobium, Sinorhizobium (Ensifer), Bradyrhizobium rhizobium, (b) bakteri yang

(8)

(stem nodulation bacteria), (d) blue green algae, (d) bakteri penambat N

nonsimbiotik (Azotobacter dan Azospirillum),

2. Mikroba pelarut fosfat dan pelarut kalium

3. Mikroba penghasil fitohormon (PGPR) dan mikroba penghasil siderofor

4. Cendawan Mikoriza (Endo mikoriza dan ektomikoriza)

5. Mikroba Perombak Bahan organik (Dekomposer)

6. Mikroba yang berperan ganda (multifungsi) yaitu sebagai penyedia hara, pemacu

(9)

BAB II

EFEK TANPA PENGGUNAAN PUPUK HAYATI

Unsur hara utama yang banyak dibutuhkan tanaman adalah unsur hara N, P, dan K.

Walaupun di tanah dan di udara unsur tersebut tersedia dalam jumlah yang banyak, namun

jumlah yang dapat diserap oleh tanaman hanyalah sedikit dan seringkali tidak mencukupi

kebutuhan unsur hara tanaman. Oleh karena itu, untuk memenuhi kekurangan ketersediaan

unsur-unsur tersebut di dalam tanah, ketiga unsur ini ditambahkan dalam bentuk pupuk.

Pupuk yang dimaksud disini adalah penggunaan pupuk yang berimbang antara pupuk

anorganik, pupuk organik, dan pupuk hayati. Namun, peningkatan pemakaian pupuk buatan

ditengarai makin kurang efektif dan efisien, serta mengakibatkan dampak yang kurang

menguntungkan terhadap kondisi tanah. Mengingat hal tersebut, makin disadari pentingnya

pemanfaatan bahan organik dan pupuk hayati dalam pengelolaan hara tanah. (Munandar, et

al. 2009).

3.1 Efek Terhadap Tanah

Tidak digunakan pupuk hayati tentu sangat mengganggu keadaan tanah baik

keadaan fisik, biologi, maupun kimia tanah. Selain itu berpengaruh terhadap biota

dalam tanah, yang sebagian besar biota dalam tanah tersebut adalah mikroba memiliki

peranan yang sangat penting bagi tanaman. Hampir seluruh proses penyerapan hara

tanaman dibantu oleh mikroba, misalnya terdapat mikroba yang berperan dalam

menambat N dari udara, seperti Azosprillium sp, Azotobacter sp, Rhizobium sp, atau ada pula mikroba dalam pupuk hayati yang berperan dalam pelarutan hara P, contohnya

Aspergillus sp dan Penicillium sp.

Mikroorganisme aktif yang terkandung dalam pupuk hayati mampu mensuplai

Nitrogen untuk tanaman, melarutkan senyawa Phosfat (P) dan melepaskan senyawa

Kalium (K) dari ikatan koloid tanah, mengurai residu kimia dan mengikat logam berat,

menghasilkan zat pemacu tumbuh alami (Giberellin, Sitokinin, Asam Indol Asestat),

menghasilkan asam amino, enzim alami dan vitamin serta menghasilkan zat patogen

sebagai pestisida hayati.

.Tidak tersedianya pupuk hayati dalam aplikasi budidaya dari segi ketersediaan

biota tanah akan berdampak tidak adanya agen hayati yang berperan untuk merombak

bahan organik di dalam tanah. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya penurunan

(10)

yang terdapat di dalam tanah untuk melakukan aktivitasnya, seperti proses penyerapan

unsur hara, dan pelepasan unsur-unsur hara yang terikat di dalam koloid tanah sehingga

unsur hara tersebut tersedia bagi tanaman. Namun, pupuk hayati pun tidak akan efektif

penggunaannya apabila kanungan bahan organik dalam tanah sedikit atau tidak ada,

karena mikroorganisme yang terdapat dalam pupuk hayati akan merombak bahan

organik, sehingga apabila tidak adanya bahan organik tidak ada bahan baku untuk

penyediaan unsur hara. Oleh karena itu, pemupukan harus dilakukan secara berimbang.

Selain berdampak terhadap biota tanah pengaplikasian pupuk hayati pun

berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah yang erat kaitannya dengan kesuburan tanah.

Pupuk hayati merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam upaya

memperbaiki kesuburan tanah. Penggunaan pupuk hayati tidak akan meninggalkan

residu pada hasil tanaman sehingga aman bagi kesehatan manusia. Selain itu

penggunaan pupuk hayati dapat meningkatkan kesehatan tanah, menumbuhkan jasad

renik (mikroba), menggemburkan tanah, dan menumbuhkan hewan (cacing), sehingga

dapat memacu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produksi tanaman.

Tidak tersedianya pupuk hayati juga akan berdampak buruk bagi kesehatan

tanah. Apabila tanah tidak diaplikasikan pupuk hayati, maka tanah akan kekurangan

mikroba yang dapat melepas unsur-unsur hara yang terikat di dalam tanah, sehingga

tanah akan kekurangan unsur hara. Hal ini mengakibatkan tanah membutuhkan unsur

hara tambahan untuk menyuplai unsur hara yang tidak tersedia, yaitu dengan

menggunakan pupuk anorganik dengan dosis yang lebih tinggi. Penggunaan pupuk

anorganik dengan dosis yang terlalu tinggi akan merusak tanah, baik strukturnya,

tingkat kesuburanya, bahkan kesehatan tanahnya. Penggunaan pupuk anorganik yang

dilakukan secara terus-menerus juga mengakibatkan terjadinya pemadatan tanah

sehingga akan sulit ditembus oleh perakaran. Selain itu mikroorganisme yang terdapat

di dalam pupuk hayati dapat mendegradasi bahan organik sehingga mampu

menyediakan unsur hara yang dapat diserap tanaman dan menghasilkan enzim alami

dan vitamin yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah. Sehingga bila

kekurangan pupuk hayati maka akan menyebabkan tidak adanya mikroorganime dalam

tanah yang dapat membantu proses penggemburan tanah dan mengubah zat menjadi

bentuk yang dapat diserap oleh tanaman. Hal ini tentu akan berdampak pula terhadap

(11)

3.2 Efek Terhadap Tanaman

Berikut adalah data yang kami ambil dari beberapa jurnal online tentang

pengaruh tanpa pemberian pupuk hayati bagi tanaman.

Tabel 1. Hasil ton/ha pada pemberian beberapakonsentrasi pupuk hayati Golden Harvest terhadap tanaman Kedelai

Tabel di atas dapat kita lihat bahwa pemberianbeberapa konsentrasi pupuk

hayati memberikanrespon yang nyata terhadap hasil kedelai dibandingkan dengan

perlakuan kontrol tanpa pemberian pupuk hayati Golden Harvest.

Berikut juga data hasil percobaan pengaruh pemberian pupuk hayati terhadap

pertumbuhan tanaman tomat.

memberikan pupuk hayati dengan dosis yang tepat dapat meningkatkan produktifitas

tanaman tomat.

Hal ini menunjukkan bahwa pupuk hayati seperti penambat-N sangat berperan

penting dalam penyediaan unsur hara karena dapat menyediakan nitrogen sebayak 70-

80%dan langsung dapat diserap oleh tanaman. Selain itu pupuk hayati juga dapat

memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandunganbahan organik tanah

yang dapatmenghelat unsur hara yang kurangtersedia menjadi tersedia bagi tanaman.

(12)

 Tanah menjadi lebih mudah keras dan jenuh karena unsur hara yang terus menerus berkuran diserap oleh tanaman tanpa adanya proses pengolahan unsur hara lagi di

dalam tanah

 Unsur hara yang diserap oleh tanaman kurang maksimal sehingga pertumbuhan juga menjadi kurang optimal

 Tanaman sedikit lebih mudah terserang oleh penyakit karena pertumbuhan yang kurang optimal.

3.2 Efek Terhadap Penggunaan Pestisida

Selain dapat membantu menyediakan unsur hara agar dapat mudah diserap oleh

tanaman, pupuk hayati seperti contoh PGPR (Plant Growth Promoting Rizhobacteria) juga bisa menghasilkan zat antibiotik dan menginduksikannya ke tanaman sehingga

tanaman dapat memproduksi senyawa ketahanan dalam jumlah yang cukup bagi

tanaman tersebut agar tidak mudah terserang oleh penyakit. Berikut mekanisme dari

pupuk hayati PGPR sebagai bioprotektan bagi tanaman:

 Induksi resistensi sistemik dari tanaman

 Produksi siderofor yang mengkhelat besi sehingga besi tidak tersedia untuk patogen

 Sintesis metabolit yang bersifat anti jamur seperti antibiotik, enzim yang mendegradasi dinding sel jamur, atau hidrogen sianida yang menekan pertumbuhan

jamur patogen

 Mampu berkompetisi dengan patogen untuk nutrisi atau tempat di akar.

Hal ini dapat mengurangi penggunaan pestisida berbahan kimia sintetik

sehingga pengeluaran untuk perlindungan tanaman otomatis berkurang. Selain itu

pemanfaatan bioprotektan dari pupuk hayati juga lebih sehat, alamiah dan ramah

lingkungan.

Dengan pemaparan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tanpada

diaplikasikannya pupuk hayati maka peranan pestisida sangat tinggi terhadap

(13)

BAB IV KESIMPULAN

Pupuk hayati berdampak positif bagi pertumbuhan tanaman. Pupuk hayati mampu

menyediakan unsur hara secara lebih baik dibanding dengan pupuk sintetis ataupun tanpa

pemberian pupuk hayati(kontrol). Adaptasi yang dilakukan bahan dari pupuk hayati seperti

bakteri penambat N memberi dampak yang baik bagi aktivitas mikroba tanah dan kualitas

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Antonius, Sarjiya., Dwi Agustiyani. 2011. Pengaruh Pupuk Organik Hayati yang Mengandung Mikroba Bermanfaat terhadap Pertumbuhan dan Hasil Panen Tanaman Semangka serta Sifat Biokimia Tanahnya pada Percobaan Lapangan di Malinau-Kalomantan Timur. Dalam

http://journal.unair.ac.id/

FNCA Biofertilizer Project Group. 2006. Biofertilizer Manual. Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA). Japan Atomic Industrial Forum, Tokyo.

Ginting, R.C.B., Simanungkalit, R.D.M., D.A. Suriadikarta, R. Saraswati, D.Setyorini, dan W. Hartatik. 2006. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. BBSDLP. Tersedia di

http://balittanah.litbang.deptan.go.id

Hartatik,Wiwik.2013. Pupuk Kandang dan Pupuk Hayati. Tersedia di

http://balittanah.litbang.pertanian.go.id

Hasibuan, 2006. Manajemen Dasar, Pengertian, dan Masalah. Edisi Revisi. Bumi Askara; Jakarta.

Masfufah, Ainun ,dkk..2012. Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati (Biofertilizer) Padaberbagai Dosis Pupuk dan Media Tanam yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Tomat (Lycopersicon Esculentum) Pada Polybag. Diakses melalui: http://biologi.fst.unair.ac.id/wp-content/uploads/2012/04/Jurnal-Ainun.pdf

Saraswati, Rasti. tt. Teknologi Pupuk Hayati untuk Efisiensi Pemupukan dan Keberlajutan Sistem Produksi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Yang diakses melalui

http://balittanah.litbang.pertanian.go.id

Simarmata, tualar, Benny Joy, Nana Danapriatna. 2012. Peranan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Pada Industri Pupuk Hayati (Biofertilizers). Tersedia di

http://blogs.unpad.ac.id/tualar/files/2011/03/Peranan-Litbang-dalam-Industri-Pupuk-hayati.pdf.

Soenandar, Meidiantie, dkk.. 2010. Petunjuk Praktis Membuat Pestisida Organik.

Agromedia. Jakarta Selatan. Diakses melalui :

https://books.google.com/books?isbn=9790062796

Soverda, Nerty dan Hermawati, Tiur. 2009. Respon Tanaman Kedelai (Glycine Max (L.) Merill)Terhadap Pemberian Berbagai Konsentrasi Pupuk Hayati. Universitas Jambi.

Jambi. Diakses melalui :

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=11965&val=876

Yuwono, N.W.2006. Pupuk Hayati. http://www.ws.org/1999

Figur

Tabel 1. Hasil ton/ha pada pemberian beberapakonsentrasi pupuk hayati Golden Harvest terhadap tanaman Kedelai Konsentrasi Pupuk
Tabel 1 Hasil ton ha pada pemberian beberapakonsentrasi pupuk hayati Golden Harvest terhadap tanaman Kedelai Konsentrasi Pupuk . View in document p.11
Tabel 2. Pengaruh dosis pupuk hayati (biofertilizer) terhadap pertumbuhan dan produktivitas Tomat Jumlah Tinggi
Tabel 2 Pengaruh dosis pupuk hayati biofertilizer terhadap pertumbuhan dan produktivitas Tomat Jumlah Tinggi . View in document p.11

Referensi

Memperbarui...