• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA DALAM FILM RUSH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA DALAM FILM RUSH"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA: DI DALAM FILM “RUSH HOUR 3”

Oleh :

Rizki Maulinawati (1113026000005) Febrina Wonosantoso (1113026000034)

Adila Oktania (1113026000014) Yussie Septiany (1113026000007)

ABSTRAK

Komunikasi merupakan ciri-ciri makhluk hidup. Dibelahan bumi manapun manusia berkomunikasi satu sama lain. Untuk menyampaikan pesan atau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dikarenakan banyaknya bahasa yang ada di dunia ini dan kebiasaan manusia yang berpindah-pindah maupun itu hanya sekedar berlibur atau menetap dengan urusan pekerjaan maka sering terjadinya komunikasi antarbudaya dengan latar belakang yang berbeda. Untuk mengerti suatu makna dari ucapan yang diucapkan oleh pembicara dalam latar belakang yang berbeda maka dari itu terlebih dahulu harus memahami budaya dan bahasa yang digunakan oleh lawan bicara antar budaya dan bahasa. Bahasa pemersatu yang biasa digunakan di dunia adalah bahasa inggris, namun dalam komunikasi antarbudaya banyak ditemukan pengguna bahasa inggris dengan budaya mereka masing-masing dan sering menimbulkan salah makna (pragmatic failure).

Di dalam film “Rush Hour 3” terdapat beberapa pemahaman yang salah dalam memahami komunikasi antarbudaya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan cara deskriptif kualitatif ini, di analisis bahwa sering kali komunikasi antarbudaya mengahasilkan dwi makna (pemaknaan ganda). Latar belakang budaya sangat mempengaruhi dalam pemaknaan bahasa walaupun di dalam satu bahasa yaitu bahasa inggris. Komunikasi antarbudaya juga diterapkan pada berbagai kegiatan sehari - hari dengan tidak menghilangkan budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui unsur-unsur komunikasi antarbudaya yang terdapat dalam film Rush Hour 3.

(2)

PENDAHULUAN

Bahasa adalah salah satu alat yang vital dalam melakukan percakapan sehari-hari untuk menyampaikan informasi dari satu individu ke individu lain. Dalam menjalin suatu hubungan interaksi dengan orang lain, manusia menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Menurut Chomsky, yang pernah dikutip oleh Kentjono, bahasa adalah suatu sistem arbitrer yang digunakan oleh manusia untuk komunikasi.1

Pengaruh multibahasa dan globalisasi telah mengangkat keberagaman bahasa, kemudian fenomena sosiolinguistik yang unik dan menarik mulai bermunculan; misalnya, kontak bahasa dalam komunikasi antar budaya. Budaya sering dianggap sebagai konsep inti dalam sebuah komunikasi antar budaya. Budaya telah didefinisikan dalam berbagai cara dari segi pola persepsi yang mempengaruhi komunikasi ke dalam suatu kontestasi dan konflik. Oleh karena itu, terdapat banyak definisi budaya diterima, dan karena itu pula terdapat konsep yang kompleks sehingga penting untuk menggambarkan suatu sentralitas budaya dalam interaksi kita sendiri.2

Budaya yang telah berakar dalam diri seorang individu merupakan hasil dari proses komunikasi. Budaya dan komunikasi adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan seperti yang artinya: Komunikasi adalah salah satu dimensi yang paling penting.

Komunikasi antarbudaya (Intercultural Communication) adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang berbeda budaya. Ketika komunikasi terjadi antara orang-orang berbeda bangsa, kelompok ras, atau komunitas bahasa, komunikasi tersebut disebut komunikasi antarbudaya.3

1 Muhammad Fahri, “The Reference Words in the Articles of the Jakarta Post,” (2007): 1.

2 Judith N. Martin and Thomas K. Nakayama, “Intercultural Communication in Contexts,” (2005):84.

(3)

Penelitian ini adalah tentang komunikasi antar bahasa yang diambil dari sebuah adegan film Rush Hour 3. Analisis dilakukan dengan menggunakan transkrip subtitle film kemudian dianalisis dengan anaisis wacana untuk mendapatkan hasil.

Secara umum, Analisis Wacana adalah metode penelitian kualitatif yang berfungsi untuk menganalisis bahasa, tulisan, pidato, percakapan, percakapan baik verbal dan non-verbal. Dengan pendekatan analisis wacana, peneliti melihat dan menganalisis apa yang ada di balik kata-kata dan kalimat (teks). Dengan analisis wacana, peneliti dapat mengetahui bagaimana dan mengapa pesan dalam teks yang disajikan.

Dalam banyak kasus, yang mendasari kata 'wacana' adalah ide umum bahasa yang terstruktur sesuai dengan pola yang berbeda yang ucapan-ucapan orang mengikuti ketika mereka mengambil bagian dalam domain yang berbeda dari kehidupan sosial, contoh akrab menjadi 'wacana medis' dan 'wacana politik'. 'Analisis wacana' adalah analisis pola-pola ini (Jorgensen dan Philips).

PEMBAHASAN

A. Komunikasi dalam Konteks Bisnis Multikultural

Multikultural yaitu Human beings with ethnic, cultural and religious differences decide to live together in mutual respect and understanding4 atau bisa dikatakan sebagai

kehadiran dua atau lebih budaya yang hidup berdampingan dalam satu tempat. Negara yang mempunyai multikultural yang tinggi yaitu Amerika Serikat dan Eropa. Dapat kita ketahui bahwa, Amerika merupakan salah satu negara yang terkenal dengan keanekaragaman etnis dan budaya yang mana akan terus tumbuh sebagai hasil dari suatu imigrasi, seperti yang digambarkan pada film Rush Hour 3 bagaimana orang China hidup berdampingan dengan orang Amerika.

The development of business communication skills in a multinational marketplace is a challenging endeavor. Such seemingly universal concepts as management, negotiation, decision making, and conflict management are frequently viewed differently in one culture than in another.5

4

Agostino Portera, “Intercultural and Multicultural Education Enhancing Global Interconnectedness”, Routledge: New York (2011): 16.

5

(4)

Dari pernyataan diatas dapat dilihat bahwa perkembangan keahlian bisnis komunikasi dalam pasar multinasional merupakan suatu yang menantang, khususnya dalam perbedaan budaya.

A multicultural approach moves from contemporary circumstances: the presence of two or more cultures. The main educational aims are acknowledgment and respect of cultural diversity.6

Pendekatan Multikultural sendiri berangkat dari suatu keadaan yang baru: yaitu keberadaan dua atau lebih kebudayaan yang berbeda yang hidup berdampingan Dalam film Rush Hour 3 digambarkan bahwa China dapat hidup berdampingan dengan Amerika dalam jangka waktu yang cukup lama. Digambarkan pula dalam film tersebut cara mengungkapkan salam antara Amerika dengan China berbeda.

Americans tend to be informal and friendly. In fact, “Persons from other cultures are surprised by the informality of U.S. Americans who often say ‘Hi’ to complete strangers. In most countries of the world, saying ‘Hi’ to strangers is uncommon.”85 In the United States, both men and women shake hands on meeting and leaving.7

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa Amerika cenderung informal dan ramah dalam melakukan sapaan, seperti mengucapkan kata “Hi” dengan orang asing. Di Amerika Serikat pria maupun wanita pada umumnya selalu berjabat tangan saat pertemuan atau perpisahan.

In China, the order of personal names is reversed from that in the West. The Chinese place their family name (surname) fi rst and their given name last. For example, in the name Wang Jintao, Wang is the family name and Jintao is the given name, so in English, the proper address would be “Mr. Wang.” Many culturally uninformed Westerners have made the mistake of addressing their counterpart by his or her fi rst name, thinking it was his or her last name. The Chinese have widely adopted the Western handshake for initial and subsequent greetings. However, this does not extend to the common Western practice of 6

Agostino Portera, “Intercultural and Multicultural Education Enhancing Global Interconnectedness”, Routledge: New York (2011): 19.

7

(5)

placing a hand on the back or an arm around the shoulder. As Harris and Moran indicate, a slight bow and a brief shake of the hand is most appropriate. There are other nonverbal gestures in China that can carry different meanings from those assigned in the West. For instance, the head nod is used by the Chinese to acknowledge the speaker, not to signal agreement with what is being said. The hierarchical nature of Chinese society also dictates that direct eye contact should be avoided. Although in the West you are expected to maintain a high degree of eye contact during discussions, the Chinese consider this to be rude and disrespectful.8

Sebaliknya China cenderung lebih formal daripada Amerika Serikat. Di China juga dalam hal pemanggilan nama menggunakan nama terakhirnya, contohnya seperti nama Wang Jintao, Wang merupakan nama keluarga sedangkan Jintao adalah nama yang diberikan, sehingga sering terjadi kesalahan jika orang barat sering memanggil dengan nama awalnya seperti Mr. Wang. Dalam film Rush Hour 3 juga diperlihatkan tentang bagaimana China menggunakan gerakan nonverbal seperti anggukan kepala yang berarti mengakui sang pembicara. Di China juga selalu menghindari kontak mata secara langsung hal ini disebabkan China menganggap bahwa hal itu merupakan hal kasar dan tidak sopan.

B. Analisis Pragmatik dalam Komunikasi Antarbudaya di Film Rush Hour 3

Banyak hal yang dapat dikorelasikan antara film Rush Hour 3 dalam Komunikasi antarbudaya. Melalui film ini banyak memvisualisasikan sebuah gambaran mengenai perjalanan bisnis antara China atau yang sekarang disebut dengan Tionghoa. Dalam film Rush Hour 3 digambarkan pula gaya komunikasi yang berbeda antara orang Amerika dengan orang China karena adanya perbedaan budaya. Orang Amerika cenderung lebih mengeluarkan ekspresinya atau mengungkapkan pikirannya secara langsung. Mereka lebih aktif dalam berkomunikasi. Sebaliknya orang China lebih pendiam dan cenderung pasif dalam hal berkomunikasi. dalam film ini juga menggambarkan bahwa antara China dengan Amerika menjalin hubungan yang sangat baik khususnya dalam hal komunikasi seperti yang dilakukan oleh Lee (Jackie Chan) dan Carter (Chris Tucker) yang berteman

dengan baik, hal ini dikuatkan dengan pernyataan Wenli Yuan “A few participants said their intercultural communication was effective because they got along with each other. For instance, a Chinese employee said she enjoyed working with Americans because there was no pressure and they became good friends.9Yang berarti bahwa orang China merasa

8

Larry A. Samovar, “Communication between Cultures”, Wadsworth: Boston (2007): 301-302.

(6)

sangat senang bekerja dengan orang Amerika karena tidak adanya tekanan dan mereka menjadi teman baik. Di film tersebut juga digambarkan bagaimana Lee dan Carter bekerjasama sekaligus menjadi teman baik.

1. Pragmatik

Pragmatik adalah salah satu cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna bahasa sama halnya dengan semantik. Perbedaannya, semantik mempelajari makna bahasa yang bebas konteks sedangkan pragmatik mempelajari makna bahasa yang terikat konteks.10

Parker mendefinisikan pragmatik sebagai berikut:

Pragmatic is the study of how language is used to communicate. Pragmatic is distinct from grammar, which is the study of the internal structure of language.11“Pragmatik adalah ilmu

tentang bagaimana bahasa digunakan untuk berkomunikasi. Pragmatik berbeda dengan tata bahasa, yang merupakan ilmu tentang struktur internal bahasa” Pendapat Parker tersebut diperkuat oleh Wijana yang menyatakan bahwa dalam linguistik, cabang ilmu-ilmu lainnya merupakan disiplin yang bersangkutan dengan struktur internal bahasa. Seperti fonologi yang mempelajari tentang bunyi bahasa, morfologi mempelajari tentang bentuk kata, sintaksis mempelajari tentang tata kata, klausa dan kalimat, serta semantik yang mempelajari tentang makna-makna satuan lingual.12 Hal tersebut berbeda dengan pragmatik yang mempelajari makna satuan kebahasaan secara eksternal.

Wenli Yuan, “Effectiveness of Communication between American and Chinese Employees in Multinational Organizations in China”, Kean University: Intercultural Communication Studies XVII volume.1. (2009): 194.

10

Dewa Putu Wijana, “Dasar-dasar Pragmatik”, Yogyakarta: ANDI (1996): 2.

11

Frank Parker, “Linguistics for Non-Linguists”, London: Little, Brown and Company Inc (1986): 11.

12

(7)

Sehingga disimpulkan bahwa pragmatik adalah suatu ilmu yang mempelajari mengenai maksud penutur dan yang ditafsirkan oleh lawan bicaranya. Dalam pragmatik dijabarkan mengenai aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh para penutur agar apa yang dituturkan dapat diterima secara efektif oleh lawan bicaranya. Aturan-aturan tersebut disebut dengan prinsip kerja sama atau maksim kerja sama, namun pelanggaran terhadap prinsip kerja sama justru dapat menimbulkan humor. Selain prinsip kerja sama, terdapat pula prinsip kesopanan yang harus dipatuhi oleh para penutur.

2. Prinsip Kerjasama Grice

Agar pesan dapat disampaikan dengan baik kepada peserta tutur, komunikasi yang terjadi itu perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip berikut ini: 1) prinsip kejelasan (clarity), 2) prinsip kepadatan (conciseness), dan 3) prinsip kelangsungan (directness). Prinsip-prinsip itu secara lengkap dituangkan di dalam prinsip kerjasama Grice yang keseluruhannya terdapat empat maksim yaitu13:

1) Maksim Kuantitas (The Maxim of Quantity)

yaitu memberikan informasi yang cukup, relatif memadai dan seinformatif mungkin. Tuturan yang tidak mengandung informasi yang sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur, dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas dalam prinsip kerjasama Grice.

2) Maksim Kualitas (The Maxim of Quality)

yaitu seorang peserta tutur diharapkan dapat menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai fakta sebenarnya, jika tidak maka dianggap melanggar maksim kualitas karena penutur mengatakan sesuatu yang tidak sebenarnya.

3) Maksim Relevensi (The Maxim of Relevence)

13

(8)

yaitu agar terjalin kerja sama yag baik atara penutur dan petutur masing-masing diharapkan dapat memberikan kontribusi yang relevan tentang suatu yang sedang dipertuturkan itu. Bertutur dengan tidak memberikan kontribusi yang demikian dianggap tidak mematuhi dan melanggar prinsip kerjasama.

4) Maksim Pelaksanaan (The Maxim of Manner)

yaitu mengharuskan peserta pertuturan bertutur secara langsung, jelas dan tidak kabur. Orang bertuturdengan tidak mempertimbangkan hal-hal itu dapat dikatakan melanggar prinsip kerjasama Grice karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan.

Dalam hal ini baik penutur maupun mitra tutur diminta untuk memegang teguh prinsip kerjasama dalam melakukan komunikasi sehingga tidak terjadi adanya kesalahpahaman.

3. Kegagalan Pragmatik

Menurut Jenny Thomas dalam artikel Cross-cultural Pragmatic Failure pada tahun 1983. Ia mendefinisikan dan mengklasifikasikan kegagalan pragmatik serta menganalisis kegagalan pragmatik dalam lintasbudaya. Selain itu ia menyatakan bahwa kegagalan pragmatik merujuk kepada ketidakmampuan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si pembicara14.

Klasifikasi kegagalan pragmatik:

Menurut Thomas (1983) dalam artikel Cross-cultural Pragmatic Failure, ia

mengkategorikan kegagalan pragmatik sebagai “Pragmalinguistic failuredan “Sociopragmatic failure”. Pragmalinguistic failure biasanya terjadi terjadi karena perbedaan antara bahasa dan pengaruh hubungan timbal balik antara satu dengan yang lainnya. Jenny Thomas menganggap bahwa kegagalan pragmatik terjadi ketika pragmatik dibuat sebagai tanda suatu bahasa atau secara sistematis strukturnya berbeda dari yang biasa digunakan oleh native speaker15.

14

Jenny Thomas “Cross-cultural Pragmatic Failure”, Jurnal Applied Linguistics, 4 (1983): 22

15

(9)

“pragmalinguistic failure occurs when the pragmatic force mapped on to a linguistic token or structure is systematically different from that normally assigned to it by native speakers.”

Sedangkan sociopragmatic failure mengacu pada pengambilan bentuk-bentuk bahasa yang tidak sesuai dikarenakan penutur tidak mengenal aturan sosial, aturan etika serta kebiasaan sosial budaya si petutur selama melakukan pembicaraan. Dengan kata lain, sociopragmatic failure terjadi saat penutur dan petutur gagal mengambil strategi komunikatif yang tepat atau memeilih bentuk bahasa yang sesuai karena tidak menyadari dua pembicara tersebut dari latar belakang budaya yang berbeda atau kebiasaan sosial yang berbeda. Dalam proses komunikatif, status sosial dari kedua belah pihak, konteks bahasa dan aturan komunikasi sosial merupakan faktor utama yang menyebabkan kegagalan pragmatik. Kegagalan pragmatik cenderung mengakibatkan kegangguan, bahkan kegagalan dalam berkomunikasi, selain itu para ahli percaya bahwa kegagalan sosiopragmatik lebih serius daripada kegagalan pragmatik16.

Secara garis besar, Leech berpendapat bahwa sosiopragmatik merupakan titik temu antara pragmatik dan sosiologi. Dengan kata lain, sosio-pragmatik lebih mengarah pada kajian pragmatik yang berkaitan dengan kondisi sosial tertentu, sedangkan kajian pragmatik yang lebih banyak mengkaji aspek linguistiknya disebut dengan pragmalinguistik oleh beliau. Pembagian aspek bahasan pragmatik ini kemudian digambarkan oleh Leech menjadi sebuah bagan sebagai berikut:

Pragmatik Umum

(Tata Bahasa) Pragmalinguistik Sosiopragmatik (Sosiologi)

berhubungan dengan berhubungan dengan

Bagan di atas menunjukkan bahwa pragmatik merupakan ilmu yang bisa bergerak kedalam (bahasa) dengan mengkaji tata bahasa melalui pragmalinguistik dan dapat pula bergerak

keluar (bahasa) dengan mengkaji aspek sosiologi melalui sosiopragmatik17. Berdasarkan bagan di atas, Rahardi menggarisbawahi perbedaan mendasar antara pragmatik dan sosio-pragmatik, yaitu kajian pragmatik umum semata-mata didasarkan

16

(10)

pada konteks situasi, sedangkan sosiopragmatik didasarkan pada konteks sosial yang berpadu dengan konteks situasional18. Jadi, sosiopragmatik dapat diartikan sebagai kajian mengenai maksud tuturan yang berhubungan dengan aspek-aspek sosial yang melingkupi terjadinya tuturan tersebut, seperti kebudayaan dan masyarakat bahasa, situasi-situasi sosial, kelas-kelas sosial, dan lain-lain.

Dalam kajian tersebut, tindak tutur, konteks, dan implikatur merupakan hal yang penting. Tindak tutur merupakan bagian terkecil dari komunikasi. Searle dalam buku Wijana mengemukakan setidaknya ada tiga macam tindak tutur, yaitu tindak lokusi (melakukan tindakan mengatakan sesuatu), tindak ilokusi (melakukan tindakan dalam melakukan sesuatu) dan tindak perlokusi (melakukan tindakan dengan mengatakan sesuatu)19, sedangkan konteks dipandang sebagai penentu maksud penutur. Oleh karena itu, suatu tuturan akan sulit untuk dipahami ketika lawan tutur tersebut tidak memiliki konteks. Lebih lanjut, Mey mengartikan implikatur sebagai pemahaman tuturan dengan melakukan interpretasi-interpretasi dari suatu tuturan untuk menemukan apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh penuturnya20, sedangkan Wijana menjelaskan bahwa implikatur bukan merupakan bagian langsung dari tuturan yang mengimplikasikannya karena tuturan yang tidak ada keterkaitan secara semantis seringkali terjadi karena latar belakang pengetahuan suatu topik tuturan yang dimiliki oleh penutur dan lawan tuturnya, sehingga masing-masing pihak dapat saling memahami21.

17

Leech, Geoffrey, “Principles of Pragmatics”, Cambridge: Cambridge University Press (1983):16.

18

Rahardi, Kunjana. 2009. Sosiopragmatik. Jakarta: Erlangga.

19

Dewa Putu Wijana, “Dasar-Dasar Pragmatik”, Yogyakarta: Andi (1996): 17.

20

Mey, Jacob L. 1993. Pragmatics: An Introduction. Cambridge, Massachusetts: Blackwell Publishers.

(11)

Analisis Prinsip Kerjasama Grice dalam Film Rush Hour 3

Dalam film Rush Hour 3 terdapat pelanggaran dalam prinsip kerjasama Grice saat melakukan komunikasi antara orang Amerika dengan orang China, yaitu sebagai berikut:

Data 1

(1) Carter : All right, listen up! I need everyone's attention. I'm Detective Carter, this is Inspector Lee. We need to see Soo Yung's locker right now.

(2) Kungfu Trainer : No one's allowed in the back without the master's permission

(3) Carter : Maybe you didn't hear me. We need to see that locker. (4) Kungfu Trainer : I'm sorry.

(5) Lee : Wait. Carter.

(6) Carter : Lee, I got this.

a. Maksim Kuantitas

Terdapat kejelasan maksim kuantitas pada dialog (2) yang mana pelatih kungfu tersebut memberitahukan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa ke belakang tanpa izin guru.

Kungfu Trainer : No one's allowed in the back without the master's permission.

Tuturan tersebut merupakan tuturan yang sudah jelas dan sangat informatif, sehingga dapat dipahami dengan baik dan jelas oleh si mitra tutur.

b. Maksim Kualitas

(12)

Adapun maksim kualitas yaitu terdapat pada dialog (1) yaitu saat Carter meminta izin untuk melihat loker milik Soo Yung.

Carter : All right, listen up! I need everyone's attention. I'm Detective Carter, this is Inspector Lee. We need to see Soo Yung's locker right now.

Dalam tuturan tersebut dapat dilihat bahwa terdapat beberapa kejelasan dan fakta yang dituturkan oleh Carter yaitu pada kalimat All right, listen up! I need everyone's attention, di ucapkan pada saat suasana di dalam ruangan sedang fokus berlatih kungfu, selanjutnya pada kalimat I'm Detective Carter, this is Inspector Lee, diucapkan karena pada faktanya Carter merupakan seorang detektif dan Lee merupakan seorang inspektur. Dan kalimat terakhir yaitu We need to see Soo Yung's locker right now diucapkan karena kondisi saat itu memang harus memeriksa loker milik Soo Yung.

c. Maksim Relevensi

Carter : Maybe you didn't hear me. We need to see that locker.

Kungfu Trainer : I'm sorry.

Dalam tuturan (3) dan (4) terdapat pelanggaran maksim relevensi yang mana Carter tidak mematuhi atau mendengarkan pelatih kungfu. Sehingga dalam komunikasi tersebut tidak adanya kontribusi atau kerjasama yang diberikan.

d. Maksim Pelaksanaan

Lee : Wait. Carter. Carter : Lee, I got this.

Dalam cuplikan dialog tersebut dapat diketahui bahwa terdapat pelanggaran maksim pelaksanaan yang mana Inspektur Lee telah mengatakan untuk berhenti atau menunggu saat Carter akan melangkah pergi untuk melihat loker milik Soo Yung, tetapi Carter tidak mendengarkan perkataan Lee dan mengatakan “Lee, I got this” (Lee, aku bisa tangani ini).

Analisis Kegagalan Pragmatik dalam Film Rush Hour 3

(13)

dapat lebih mudah menimbulkan kesalahpahaman daripada mereka yang memiliki latar budaya yang sama22. Kegagalan pragmatik ini terjadi karena penutur menerapkan sistem pola komunikasi yang biasa digunakan dalam budayanya sehingga ketika berkomunikasi dengan seseorang dari latar budaya yang berbeda dapat menimbulkan kesalahpahaman dan bisa menjadi sangat fatal. Sebagai salah satu contohnya yaitu terdapat dalam film Rush Hour 3

Data 2

Yu : May I help you?

Carter : We'll be asking the questions, old man. Who are you?

Yu : Yu.

Carter : No, not me. You. Yu : Yes, I am Yu.

Carter : Just answer the damn questions. Who are you? Yu : I have told you.

Carter : Are you deaf? Yu : No, Yu is blind.

Carter : I'm not blind, you blind. Yu : That is what I just said.

Carter : You just said what?

Yu : I did not say what, I said Yu. Carter : That's what I'm asking you. Yu : And Yu is answering. Carter : Shut up!

You! Yu : Yes?

Carter : Not you, him! What's your name? Mi : Mi.

Carter : Yes, you! Mi : I am Mi.

Yu : He is Mi, and I am Yu.

Carter : Man I'm about to whup your old ass, man, ‘cause I'm sick of playin' games!

You, me, everybody's ass around here! Him!

22

(14)

Potongan dialog tersebut terdapat dalam adegan ketika Lee dan Carter berkunjung ke tempat latihan kungfu yang berada di Chinatown untuk mengambil sesuatu di dalam loker atas perintah Soo Yung agar misteri tentang pembunuhan Ayahnya dapat terbongkar. Dari adegan dan dialog tersebut dapat kita ketahui bahwa terdapat kegagalan pragmatik atau pragmatic failure yang mana Carter tidak memahami maksud dari si Guru Kungfu (Yu), Carter mengira bahwa Yu yang berarti You (kamu) dalam bahasa Inggris, tetapi sebaliknya Yu dalam bahasa China merupakan sebuah nama, sama halnya dengan Mi adalah sebuah nama, namun Carter mengartikannya sebagai Mi = Me (saya).

Data 3:

Carter : OK. I'm about to slice you up like a giant California roll! Kungfu student : Ha ha ha. Funny black man.

Carter : Ooh... Oh! Shit!

I'm not playin' no more.

Potongan dialog tersebut terdapat dalam adegan ketika Carter ingin memasuki loker tanpa meminta izin orang-orang di sekitar tempat latihan kungfu, dan salah seorang peserta kungfu menghadangnya agar Carter tidak bisa memasuki loker. Dari adegan dan dialog tersebut dapat kita ketahui bahwa terdapat kegagalan pragmatik atau pragmatic failure yang mana ketika Carter menyampaikan kekesalannya kepada Kungfu trainer, ia tidak paham dengan apa yang dikatakan Carter dan mengira bahwa apa yang dikatakan Carter kepadanya adalah sebuah lelucon. Dalam hal ini terjadi komunikasi antarbudaya yang membuat kesalahpahaman karena orang-orang China biasanya bersikap kurang terbuka dan agak kaku, sedangkan orang-orang Amerika bersikap terbuka dan apa adanya.

Data 4:

Lee : Where is Shy Shen?

Genevieve : It's right here.

Carter : Holy mother of Jesus!

She's a man.

I went to second base with a damn Frenchman. It's The Crying Games.

I'm Brokeback Carter. Oh, God. Genevieve : I'm not a man. It's just a wig.

(15)

Lee, go over there and check the hardware.

If she got anything in her bag bigger than a three-iron. We gonna beat his ass!

Genevieve : I'm a woman, James.

A woman who needs a way out. You have to help me.

Lee : You have Shy Shen?

Genevieve : No.

I am Shy Shen.

Potongan dialog tersebut terdapat dalam adegan ketika Genevieve menunjukkan Shy Shen (daftar milik pemimpin Triad) yang ditato di belakang kepalanya. Dalam potongan dialog tersebut dapat diketahui bahwa terdapat kegagalan pragmatic atau pragmatic failure yang mana Carter tidak percaya bahwa Genevieve adalah seorang perempuan karena ia melepas rambut palsunya untuk menunjukkan Shy Shen yang terdapat di belakang kepalanya. Genevieve sudah berulang kali mengatakan bahwa ia adalah seorang perempuan yang mengenakan rambut palsu, tetapi Carter masih tetap tidak percaya karena orang yang tidak memiliki rambut identik dengan pria. Kegagalan pragmatik juga terjadi di antara Lee dan Genevieve karena ketika Lee menanyakan dimana Shy Shen dan Genevieve melepas rambut palsunya untuk menunjukkan tato yang ada di belakang kepalanya, Lee awalnya tidak mengerti apa yang dimaksud Genevieve. Lee akhirnya paham setelah Genevieve menjelaskan kepada Lee tentang Shy Shen itu.

Data 5:

Ambassador Han : Today, I will disclose information that affects everyone in this room.

After years of searching,

I believe I've finally located Shy Shen. Participant 1 : Mr. Ambassador, Shy Shen does not exist. Perticipant 2 : Excuse me, who is this Shy Shen?

(16)

wanita. Wanita yang bisa membawa daftar nama Shy Shen ke 35 propinsi di China, ketika perjalanannya berakhir dan pemimpin baru terbentuk. Wanita yang membawa nama itu akan dikubur selamanya. Tak ada rekaman, tak ada saksi mata. Hal itu dianggap hanya sebagai mitos oleh orang-orang. Padahal hal tersebut benar adanya. Dalam dialog tersebut dapat diketahui bahwa terdapat kegagalan pragmatic atau pragmatic failure yang mana peserta rapat tidak mengetahui apa konteks yang dikatakan Ambassador Han. Mereka tidak mempercayai adanya Shy Shen dan apa kegunaan dari Shy Shen itu sehingga mereka berpikir bahwa apa yang dikatakan Ambassador Han itu mengada-ngada saja. Padahal Ambassador Han butuh dukungan dari negara-negara lain untuk membasmi Triad yang mengancam kedamaian bangsanya bahkan dunia.

Data-data tersebut berguna untuk menelaah bagaimana kegagalan-kegagalan pragmatik yang terdapat di dalam film Rush Hour 3 yang dikemas dalam potongan-potongan dialog beserta penjelasannya dari segi komunikasi antarbudaya yang selama ini sering membuat terjadinya kesalahpahaman karena adanya perbedaan konteks pembicaran.

PENUTUP

Kesimpulan

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Aminudin. 2001. Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru. Algensindo. Ardianto, Elvinaro dkk.

Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Fahri, Muhammad. 2007. The Reference Words in the Articles of the Jakarta Post.

Gumperz, John J. 1982. Discourse Strategies. New York: Cambridge University Press Heryadi, Hedi dan Silvana, Hana. 2013. Jurnal Kajian Komunikasi. Komunikasi Antarbudaya Dalam Masyarakat Multikultur, Volume 1.

Jingwei, Tang. 2013. Jurnal CsCanada . Analysis of Pragmatic Failure from the Perspective of Adaptation, Volume 9, No 3.

Leech, Geoffrey. 1983. Principles Of Pragmatics. Harmondsworth: Penguin.

Martin, Judith N and Nakayama, Thomas K. Intercultural Communication in Contexts.

Mey, Jacob L. 1993. Pragmatics: An Introduction. Cambridge, Massachusetts: Blackwell Publishers.

Mulyana, Deddy dan Rakhmat, Jalaluddin. 2006. Komunikasi AntarBudaya (Panduan Berkomunikasi dengan Orang-orang Berbeda Budaya. Bandung: PT. Remaja Rosda.

Parker, Frank. 1986. Linguistics for Non-Linguists. London: Little, Brown and Company Inc. Wijana, Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: ANDI.

Portera, Agostino. 2011. Intercultural and Multicultural Education Enhancing Global Interconnectedness. Routledge: New York.

(18)

Rahardi, Kunjana. 2009. Sosiopragmatik. Jakarta: Erlangga.

Rumondor, Alex H. 1995. Materi Pokok Komunikasi AntarBudaya. Jakarta: Universitas Terbuka.

Samovar, Larry A. 2007. Communication between Cultures. Wadsworth: Boston.

Thomas, Jenny. 1983.Jurnal Applied Linguistics. Cross-cultural Pragmatic Failure, 4.

Wijana, Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: ANDI

Wijana, Dewa Putu. 2004. Kartun : Studi Tentang Permainan Bahasa. Yogyakarta: Ombak.

Referensi

Dokumen terkait

Tata bahasa Jepang sangat berbeda dengan tata bahasa Indonesia, contohnya pada bentuk struktur kalimat bahasa Jepang yang menggunakan pola Subjek (S) Objek (O)

pendapat yang ada tentang keterhubungan antara bahasa dan kebudayaan yang cukup lama bertahan adalah (i) struktur bahasa menentukan cara-cara penutur bahasa tersebut

Toleransi yang dimaksud penulis adalah sifat saling menghargai di antar masyarakat Bali dan masyarakat Jawa dalam berkomunikasi dengan latar belakang bahasa

dijelaskan oleh tiga ahli tata bahasa Jerman. Tiga ahli tata bahasa Jerman tersebut memiliki pendapat yang berbeda tentang klasifikasi verba. Regelmäßige Verben „verba beraturan‟

Penggunaan bahasa verbal pada anak penyandang disabilitas terbatas pada kemampuan bahasa yang mereka miliki, cara yang digunakan dalam berkomunikasi berbeda dengan

Komunikasi antar budaya yang paling utama ditandai dengan sumber dan penerima pesannya berasal dari budaya yang berbeda (Mulyana & Rakhmat, 2003:21). Menurut Batha

Dalam berkomunikasi, para pengguna jejaring sosial tersebut menggunakan variasi bahasa tertentu yang berbeda dengan bahasa sehari-hari karena bahasa yang digunakan

Prinsip qawlan sadîdan mengajarkan tentang berkomunikasi dengan mengucapkan perkataan yang adil dan benar, qawlan balîghan yakni berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang baik dan