• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Maulida Rahmasandi BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Maulida Rahmasandi BAB II"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hasil Penelitian Terdahulu

Menurut penelitian (Rohmiyati. 2016) menyatakan bahwa fraksi etil asetat ekstrak etanol kulit pisang raja mempunyai aktivitas antioksidan yang memiliki IC50 sebesar 77,068 ppm.

Selain itu, pada penelitian (Alfiani. 2014) menyatakan bahwa pada konsentrasi 0,002 µg/ml didapatkan persen penghambatan antioksidan pada kulit pisang raja sebesar 73,89% dibandingkan dengan daging buahnya sebesar 66,45%. Sedangkan pada penelitian (Pane. 2013) menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak kulit pisang raja dengan menggunakan fraksi etil asetat lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak metanol dan fraksi n-heksan.

B. Tanaman Pisang Raja

Pisang raja termasuk jenis pisang buah. Menurut ahli sejarah dan botani secara umum pisang raja berasal dari kawasan Asia Tenggara dan pulau-pulau Pasifik Barat. Selanjutnya menyebar ke berbagai negara baik negara tropis maupun negara subtropis. Akhirnya buah pisang dikenal di seluruh dunia. Jadi pisang raja termasuk tanaman asli Indonesia dan kultivar-kultivarnya banyak ditemukan di pulau Jawa (Zuhairini. 1997).

(2)

1. Klasifikasi tanaman pisang

Adapun klasifikasi tanaman pisang raja menurut (Tjitrosoepomo.2001) adalah sebagai berikut:

Kerajaan : Plantae

Divisi : Spermatophyta Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Zingiberales Famili : Musaceae Genus : Musa

Spesies : Musa paradisiaca,L. 2. Morfologi

Pisang Raja merupakan jenis tanaman berbiji, berbatang semu yang dapat tumbuh sekitar 2,1 - 2,9 meter, berakar serabut yang tumbuh menuju bawah sampai kedalaman 75 -150 cm, memiliki batang semu tegak yang berwarna hijau hingga merah dan memiliki noda coklat atau hitam pada batangnya. Helaian daunnya berbentuk lanset memanjang yang letaknya tersebar dengan bagian bawah daun tampak berlilin. Daun ini diperkuat oleh tangkai daun yang panjangnya antara 30 - 40 cm. Memiliki bunga yang bentuknya menyerupai jantung, berkelamin satu yaitu berumah satu dalam satu tandan dan berwarna merah tua. Buahnya melengkung ke atas, dalam satu kesatuan terdapat 13 -16 buah dengan panjang sekitar 16 - 20 cm (Daniells, et al., 2001)

3. Kandungan Kimia

(3)

Tabel 2.1.Komposisi Zat Gizi Kulit Pisang per 100 gram Bahan

Sumber : Balai Penelitian dan Pengembangan Industri, Jatim,Surabaya (1982). 4. Manfaat dan Efek Farmakologi Tanaman Pisang

Kegunaan tumbuhan pisang antara lain sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan radang selaput lendir mata, luka terbakar (daunnya yang masih muda), demam nifas (teras batangnya), mencret, disentri (getah batangnya), radang selaput lendir usus, ambein, sariawan (buah pisang, biji buahnya), kena racun makanan (umbinya), radang tonsil, kurang darah (pisang kepok, akar dan umbinya), maupun digigit ular berbisa (umbi pisang raja) (Sudarman dan Harsono. 1989). Selain itu, kulit buah pisang raja juga dapat digunakan sebagai obat penyakit kuning, antidiare, obat gangguan pencernaan (dispepsia) seperti penyakit maag, obat luka, menurunkan kolesterol darah, dapat digunakan sebagai tepung untuk olahan makanan (Cahyono. 2009), melembabkan kulit, menghilangkan bekas cacar, menghaluskan tangan dan kaki, antinyamuk dan menjaga kesehatan retina mata dari kerusakan akibat cahaya berlebih (Satuhu. 1996).

C. Ekstraksi

Simplisia adalah bahan alami yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibagi menjadi 3 yaitu simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia mineral atau pelikan (Depkes,RI. 1989).

(4)

golongan minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat (Ditjen POM. 2000).

Pembagian metode ekstraksi menurut (Ditjen POM. 2000) yaitu : 1. Metode dingin

a. Maserasi

Maserasi adalah proses perendaman simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada suhu kamar. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif yang akan larut. Karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dan di luar sel maka larutan terpekat didesak keluar.

b. Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya dilakukan pada temperature ruangan. Prinsip perkolasi yaitu serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan berpori dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan diatasnya, dikurangi dengan gaya kapiler yang cenderung untuk menahan (Depkes RI. 1986).

2. Metode panas a. Refluks

Refluks adalah metode ekstraksi menggunakan pelarut pada temperature titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

b. Soxletasi

(5)

c. Digesti

Digesti adalah metode maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinyu) pada suhu yang tinggi dari suhu ruangan yaitu secara umum dilakukan pada suhu 40o - 50oC.

d. Infundasi

Infundasi adalah proses penyarian yang umumnya dilakukan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan tumbuhan. Proses ini dilakukan pada suhu 90oC selama 15 menit.

D. Antioksidan

Antioksidan alami merupakan senyawa fitokimia berupa zat alami yang terdapat dalam tanaman yang dapat memberikan cita rasa, aroma dan warna yang khas pada tanaman tersebut. Secara kimia, senyawa antioksidan merupakan senyawa pendonor elektron. Secara biologis, antioksidan merupakan senyawa yang dapat menangkal atau meredam proses radikal bebas. Antioksidan bekerja denga cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga senyawa yang bersifat oksidan tersebut dapat dihambat (Yenrina dan Sayuti. 2015).

Senyawa fenolik mempunyai berbagai efek biologis seperti aktivitas antioksidan melalui mekanisme sebagai pereduksi, penangkal radikal bebas, pengkhelat logam, peredam terbentuknya singlet oksigen serta pendonor elektron. Flavonoid merupakan salah satu dari kelompok senyawa fenolik yang biasanya ditemukan dalam buah-buahan maupun sayur-sayuran. Beberapa tahun belakangan ini, telah dibuktikan bahwa flavonoid memiliki potensi yang besar dalam melawan penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas (Yenrina dan Sayuti. 2015).

(6)

mencegah proses terjadinya oksidasi yang dapat menyebabkan kerusakan, seperti ketengikan, perubahan warna dan aroma serta kekeruhan fisik pada produk pangan lainnya (Tamat etal. 2007).

Resiko terkena penyakit degeneratif seperti kardiovaskular, kanker, aterosklerosis, osteoporosis dan lain-lain, bisa dicegah dengan mengkonsumsi senyawa antioksidan secukup mungkin. Konsumsi makanan yang mengandung antioksidan yang dapat meningkatkan status imunologi dan mencegah timbulnya penyakit degeneratif akibat penuaan dini (Yenrina dan Sayuti. 2015).

E. Radikal Bebas

Radikal bebas merupakan atom atau molekul elektron yang tidak berpasangan sehingga mengakibatkan sifatnya sangat tidak stabil (Robert. 2008). Hal ini karena radikal bebas mempunyai satu elektron atau lebih yang tidak berpasangan pada kulit luar. Elektron pada radikal bebas sangat reaktif dan mampu bereaksi dengan protein, lipid, karbohidrat, atau asam deoksiribonukleat (DNA) sehingga terjadi perubahan struktur dan fungsi sel. Jika radikal bebas sudah terbentuk dalam tubuh, maka akan terjadi reaksi berantai dan menghasilkan radikal bebas baru. Reaksi ini dapat berakhir jika ada molekul yang memberikan elektron yang dibutuhkan oleh radikal bebas tersebut atau dua buah gugus radikal bebas membentuk ikatan non-radikal (Kartika. 2010). Senyawa radikal bebas di dalam tubuh dapat merusak asam lemak tak jenuh ganda pada membran sel. Akibatnya, dinding sel menjadi rapuh. Senyawa oksigen reaktif ini juga mampu merusak bagian dalam pembuluh darah sehingga meningkatkan pengendapan kolesterol dan menimbulkan arterosklerosis, merusak basa DNA sehingga mengacaukan sistem info genetika, dan berlanjut pada pembentukan sel kanker (Winarsi. 2007). Mekanisme reaksi pembentukan radikal bebas dibagi menjadi 3 tahapan reaksi, yaitu:

1. Inisiasi : RH + OH → R• + H2O 2. Propagasi : R• + O2→ ROO•

(7)

3. Terminasi : ROO• + ROO• → ROOR + O2 ROO•+ R• → ROOR

R•+ R•→ RR

(Sayuti et al., 2015) Radikal bebas dapat berasal dari dalam tubuh dan dari luar tubuh.

1. Sumber dari dalam tubuh yaitu : proses oksidasi yang berlebihan, proses olahraga yang berlebihan, proses peradangan akibat menderita sakit kronik atau kanker, dan stress berat.

2. Sumber dari luar tubuh yaitu : asap rokok, udara atau lingkungan yang tercemar, radiasi matahari atau kosmis, radiasi fototerapi (penyinaran), konsumsi obat-obatan termasuk kemoterapi, pestisida dan zat kimia.

Pembentukan radikal bebas (stress oksidasi) merupakan suatu kondisi fisiologis yang memegang peranan penting dalam proses terjadinya suatu penyakit, serta proses penuaan. Umumnya sel bereaksi terhadap stres oksidasi ini dengan meningkatkan sistem pertahanan antioksidan dan sistem pertahanan lain. Namun stres oksidasi berat dapat merusak secara permanen DNA, protein dan lemak.

F. Metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil)

Gambar 2.2 Struktur DPPH (Kurniawan. 2011)

(8)

partikular, tetapi dapat digunakan untuk pengukuran kapasitas antioksidan secara keseluruhan pada suatu sampel (Kurniawan. 2011). Prinsipnya dimana elektron ganjil pada molekul DPPH memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 517 nm yang berwarna ungu. Warna ini akan berubah dari ungu menjadi warna kuning lemah apabila elektron ganjil tersebut berpasangan dengan atom hidrogen yang disumbangkan senyawa antioksidan. Perubahan warna ini berdasarkan kesetimbangan kimia (Prakash et al. 2001).

Metode DPPH merupakan metode yang cepat, sederhana, dan tidak membutuhkan biaya tinggi daam menentukan kemampuan antioksidan dengan menggunakan radikal bebas 1,1-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Metode ini sering digunakan untuk menguji senyawa yang berperan sebagai free radical scavengers atau donor hidrogen dan mengevaluasi aktivitas antioksidannya, serta mengkuantifikasi jumlah kompleks radikal antioksidan yang terbentuk. Metode DPPH dapat digunakan untuk sampel yang berupa padatan atau cairan (Prakash,et al. 2001). Setiap molekul yang dapat menyumbangkan elektron atau hidrogen akan bereaksi dan memudarkan DPPH. Intensitas warna DPPH akan berubah dari ungu menjadi kuning oleh elektron yang berasal dari senyawa penangkap radikal bebas (Nihlati et al., 2011).

(9)

G. Spektrofotometri UV-VIS

Spektrofotometri UV-VIS adalah pengukuran panjang gelombang dan intensitas sinar ultraviolet dan sinar tampak yang diabsorpsi oleh sampel. Sinar ultraviolet dan sinar tampak memiliki energi yang cukup mempromosikan elektron pada kulit terluar ke tingkat energi yang lebih tinggi. Spektrofotometri UV-VIS biasanya digunakan untuk molekul dan ion anorganik atau kompleks di dalam larutan. Spektrum ini berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorbansi pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer (Pratama & Zulkarnain. 2015). Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa intensitas yang diteruskan oleh larutan zat penyerap berbanding lurus dengan tebal dan konsentrasi larutan.

A = a.b.c Ket :

A = absorben

a = absorptivitas molar b = tebal kuvet (cm) c = konsentrasi

Absorptivitas molar merupakan suatu konstanta yang tidak tergantung pada konsentrasi, tebal kuvet dan intensitas radiasi yang mengenai larutan sampel. Absorptivitas molar tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul, dan panjang gelombang radiasi. Pada hukum Lambert-Beer memiliki syarat sebagai berikut :

1. Sinar yang dianggap monokromatis

2. Penyerapan terjadi dalam satu volume yang mrmpunyai luas penampang yang sama.

3. Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut.

4. Tidak terjadi fluorosensi atau fosforisensi

5. Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan.

(10)

dari panjang gelombang disebut “spektrometer” atau spektrofotometer. Komponen-komponen utama yang berada pada spektrofotometri meliputi : 1. Sumber Lampu

Sumber lampu yang digunakan pada daerah UV yaitu lampu deuterium yang memiliki panjang gelombang sebesar 190-350 nm). Sedangkan pada daerah visible, sumber lampu yang digunakan yaitu lampu tungsten yang berada pada panjang gelombang antara 350-900 nm.

2. Monokromator

Monokromator digunakan untuk mendispersikan sinar ke dalam komponen-komponen panjang gelombang yang selanjutnya akan dipilih oleh celah (split). Monokromator berputar sedemikian rupa sehingga kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan imstrumen melewati spectrum.

3. Optik-optik

Optik-optik ini dapat didesain untuk memecah sumber sinar sehingga sumber sinar melewati 2 kompartemen, dan sebagaimana dalam spektrofotometer bekas ganda (double beam), suatu larutan blanko dapat digunakan dalam satu kompartemen untuk mengkoreksi pembacaan atau spektrum sampel. Yang paling sering digunakan sebagai blanko dalam spektrofotometri adalah semua pelarut.

4. Sel absorpsi (kuvet)

Pada pengukuran di daerah tampak, kuvet kaca atau kuvet kaca corex dapat digunakan, tetapi untuk pengukuran di daerah UV kita harus menggunakan sel kuarsa karena gelas tidak tembus cahaya pada daerah ini. Umumnya tebal kuvet adalah 10 mm, tetapi yang lebih kecil ataupun yang lebih besar dapat digunakan. Sel yang biasa digunakan berbentuk persegi, tetapi bentuk silinder dapat juga digunakan. Kuvet yang tertutup digunakan untuk pelarut organik. Sel yang baik adalah kuarsa atau gelas hasil leburan yang homogen.

(11)

5. Detektor

Detektor merupakan suatu bagian spektrofotometer yang penting karena kualitas detektor akan menentukan kualitas spektrofotometer. Detektor berfungsi untuk memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang (Underwood. 2002).

6. Suatu amplifer (penguat) dan rangkaian yang berkaitan yang membuat isyarat listrik dapat untuk diamati.

7. Recorder

Recorder merupakan suatu sistem baca yang menangkap besarnya isyarat listrik yang berasal dari detector

Panjang gelombang yang digunakan dalam analisis kuantitatif adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Untuk pemilihan panjang gelombang yang maksimal, dilakukan dengan membuat kurva baku hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu, kurva tersebut disebut sebagai kurva baku (Gandjar et al. 2007).

H. Body Lotion

Body lotion merupakan sediaan kosmetik yang mengandung air lebih banyak. Sediaan ini memiliki sifat sebagai sumber pelembab bagi kulit, memberi lapisan minyak yang sama seperti sebum, menjadikan tangan dan badan terasa lembut, tetapi tidak berminyak dan mudah dioleskan. Hand and body lotion merupakan sebutan umum yang ada di pasaran (Sularto, et al. 1995).

Body lotion termasuk dalam golongan pelembab kulit yang terdiri dari minyak nabati, hewani, maupun sintesis. Body lotion berfungsi untuk melembutkan dan melenturkan kulit yang kasar dan kering. Body lotion didefinisikan sebagai campuran antara dua fase yang tidak saling campur dan distabilkan oleh emulgator, berbentuk cairan yang dapat dituang bila ditempatkan pada suhu ruang (Lachman et al. 1994).

(12)

ini memungkinkan pemakaian yang merata dan cepat menyerap pada permukaan kulit yang luas. Sediaan ini segera kering pada kulit setelah pemakaian dan meninggalkan lapisan tipis dari komponen obat pada permukaan kulit. Fase terdispersi pada body lotion cenderung memisah dari pembawanya bila didiamkan. Pada saat body lotion akan digunakan harus dikocok kuat-kuat terlebih dahulu supaya bahan-bahan yang terpisah akan terdispersi kembali (Ansel. 1989).

Sediaan body lotion tersusun atas komponen zat berlemak, air, zat pengemulsi dan humektan. Komponen zat berlemak diperoleh dari lemak maupun minyak dari tanaman, hewan maupun minyak mineral seperti minyak zaitun, minyak jojoba, minyak parafin, lilin lebah dan sebagainya. Zat pengemulsi umumnya berupa surfaktan anionik, kationik maupun nonionik. Humektan bahan pengikat air dari udara, antara lain gliserin, sorbitol, propilen glikol dan polialkohol (Jellineck. 1970). Komponen-komponen yang menyusun body lotion adalah pelembab, pengemulsi, bahan pengisi, pembersih, bahan aktif, pelarut, pewangi, dan pengawet (Setyaningsih, et al. 2007).

Pada metode pembuatan body lotion, fase minyak dan fase air yang terpisah disatukan dengan pemanasan dan pengadukan. Fase minyak mengandung komponen bahan yang larut minyak. Fase air mengandung komponen bahan yang larut air yang dipanaskan pada suhu yang sama dengan fase minyak kemudian disatukan (Rieger. 2000). Pencampuran antara fase minyak dan air dilakukan pada suhu 70-75°C. Proses emulsifikasi pada pembuatan body lotion adalah pada suhu 70°C (Mitsui. 1996).

1. Monografi Bahan Body Lotion a. Asam Stearat

(13)

digunakan sebagai bahan pengemulsi ketika direaksikan dengan basa (Rowe,et al. 2009).

b. Setil Alkohol

Setil alkohol (C16H33OH) merupakan butiran berwarna putih, berbau khas lemak, rasa tawar dan melebur pada suhu 45-50oC. Setil alcohol larut dalam etanol (95%) dan eter namun tidak larut dalam air. Bahan ini berfungsi sebagai pengemulsi, penstabil, dan pengental (Depkes,RI. 1993). Bahan ini termasuk ke dalam fase minyak pada sediaan kosmetik. Alkohol dengan bobot molekul tinggi seperti stearil alkohol, setil alkohol, dan gliseril monostearat terutama digunakan sebagai zat pengental dan penstabil untuk emulsi minyak dalam air (Ansel. 1989). Sebagai emolien dan emulgator digunakan dalam konsentrasi 2-5%. Sedangkan sebagai pengental dalam krim dan body lotion biasanya digunakan dengan konsentrasi di bawah 1 % (Rowe,et al. 2009).

c. Parafin Cair

Parafin cair adalah campuran hidrokarbon padat yang dimurnikan, yang diperoleh dari minyak tanah. Pemerian dari parafin cair yaitu berupa cairan yang jernih, tidak berwarna atau putih; tidak berbau; tidak berasa; agak berminyak. Parafin mudah larut dalam kloroform, eter, minyak atsiri, hampir semua jenis minyak lemak hangat. Khasiat dari parafin cair ini berfungsi sebagai pelarut dan penambah viskositas dalam fase minyak. Selain itu, paraffin cair digunakan untuk melarutkan asam stearat dan setil alkohol. (Depkes, RI. 1995).

d. Gliserin

(14)

dengan etanol 95 % P, praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P, dan dalam minyak lemak (Depkes. 1979). Gliserin berfungsi sebagai humektan. Gliserin tidak hanya berfungsi sebagai humektan tetapi juga berfungsi sebagai pelarut, penambahan viskositas, dan perawatan kulit karena dapat melumasi kulit sehingga mencegah terjadinya iritasi kulit.

e. Trietanolamin

Trietanolamin merupakan campuran dari trietanolamina, dietanolamina, dan monoetanolamina. Trietanolamin mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 107,4% yang dihitung terhadap zat anhidrat sebagai trietanolamin, N (C2H4OH)3. Trietanolamin biasanya digunakan sebagai pengatur pH dan emulgator m/a dalam sediaan lotion (Depkes RI. 1979).

f. Metil Paraben

Pemerian berupa hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih, tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar. Kelarutannya yaitu sukar larut dalam air dan benzena, mudah larut dalam etanol dan eter, larut dalam minyak, propilen glikol dan dalam gliserol. Berfungsi sebagai pengawet (Rowe et al. 2006).

g. Propil paraben

Propil paraben atau Nipasol berupa kristal tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau, tidak berasa. Kelarutan bahan ini sangat sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol dan dalam eter. Propil paraben digunakan sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik dan sediaan farmasetika (Depkes RI, 1979).

h. Aquades

(15)

bromtimol p tidak terjadi warna biru. Penggunaan aquades yaitu sebagai pelarut (Depkes RI. 1979).

i. Oleum Rosae

Pemerian berupa cairan tidak berwarna atau berwarna kuning, bau menyerupai bunga mawar, rasanya khas, mudah melebur jika dipanaskan. Kelarutannya larut dalam 1 bagian kloroform. Bahan ini berfungsi sebagai pewangi. Minyak mawar merupakan minyak atsiri yang diperoleh dengan penyulingan uap bunga mawar segar (Depkes RI. 1979).

2. Evaluasi sediaan body lotion

Kestabilan suatu sediaan kosmetik merupakan hal yang harus diperhatikan. Hal ini penting mengingat suatu sediaan biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk sampai ke tangan konsumen. Oleh karena itu sediaan tersebut juga perlu diuji kestabilan sesuai prosedur yang telah ditentukan. Sediaan body lotion yang stabil yaitu sediaan yang masih berada dalam batas yang dapat diterima selama masa periode penyimpanan dan penggunaan (Dewi. 2014). Evaluasi sediaan body lotion meliputi :

a. Pengukuran pH

pH body lotion berdasarkan (SNI. 1996) yaitu 4,6-8 dan pH skin body lotion komersial yaitu berkisar 7,25-8,45.

b. Pengukuran Viskositas

Viskositas merupakan pernyataan tahanan untuk mengalir dari suatu sistem dibawah stress yang digunakan (Martin et al. 2012).

Pengukuran viskositas body lotion diukur dengan menggunakan alat viskometer Brookfield LV pada spindle no 4 dengan kecepatan 60 rpm.

(16)

untuk cairan tersebut dapat mengalir dengan laju tertentu (Martin et al. 2012). Peningkatan viskositas akan meningkatkan waktu retensi pada tempat aplikasi, tetapi menurunkan daya sebar (Garg et al. 2002).

c. Pengujian Daya Sebar

Daya sebar adalah kemampuan dari suatu sediaan untuk menyebar di tempat aplikasi. Hal ini berhubungan dengan sudut kontak dari sediaan dengan tempat aplikasinya. Daya sebar merupakan salah satu karakteristik yang bertanggung jawab dalam keefektifan dalam pelepasan zat aktif dan penerimaan konsumen dalam penggunaan sediaan semisolid. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya sebar yaitu viskositas sediaan, lama tekanan, temperatur tempat aksi (Garg et al, 2002).

Daya sebar sediaan topikal yang baik berkisar 5-7 cm. Semakin luas daya sebar suatu body lotion maka dengan cepat melepaskan efek terapi di kulit (Garg et al. 2002).

I. Kulit

Kulit merupakan organ yang paling luas sebagai pelindung terhadap bahaya bahan kimia, cahaya matahari, mikroorganisme, dan menjaga keseimbangan tubuh dengan lingkungan. Kulit merupakan indikator untuk memperoleh kesan umum, dengan melihat perubahan yang terjadi pada kulit misalnya pucat, kekuning-kuningan, kemerah-merahan (Syaifuddin. 2011).

Secara histologis, kulit tersusun atas 3 lapisan utama yaitu lapisan epidermis kutikel, lapisan dermis (korium, kutis vera, true skin) dan lapisan subkutis (Zulkarnain. 2013).

1. Epidermis

(17)

Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu. Fungsi epidermis yaitu perlindungan barrier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen.

2. Dermis

Dermis merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai True skin. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm. Fungsi dermis yaitu struktur penunjang, mechanical strength, suplai nutrisi, menahan shearing forces, dan respon inflamasi (Perdanakusuma. 2007).

3. Subkutis

(18)

J. Kerangka konsep

Gambar 2.3. Kerangka konsep

K. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Fraksi etil asetat kulit pisang raja dapat diformulasikan menjadi sediaan body lotion.

2. Formulasi sediaan body lotion fraksi etil asetat kulit pisang raja memiliki nilai IC50 yang memenuhi syarat sebagai antioksidan.

3. Sediaan body lotion fraksi etil asetat kulit pisang raja dapat stabil ketika dilakukan uji sifat fisik dan stabilitas sediaan body lotion.

Kulit pisang raja adalah salah satu bahan alam yang dapat digunakan sebagai antioksidan

Kulit pisang raja di ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan menggunakan etanol 96% dan

difraksinasi menggunakan etil aseteat

Uji antioksidan fraksi kulit pisang raja

Formulasi sediaan body lotion fraksi kulit pisang raja

Evaluasi sifat fisik dan stabilitas pada sediaan body lotion

Uji Nilai IC50 pada sediaan body lotion

Gambar

Gambar 2.1. Pisang Raja (dokumen pribadi)
Tabel 2.1.Komposisi Zat Gizi Kulit Pisang per 100 gram Bahan
Gambar 2.2 Struktur DPPH (Kurniawan. 2011)
Gambar 2.3. Kerangka konsep

Referensi

Dokumen terkait

DPPH merupakan radikal bebas yang stabil pada suhu kamar dan sering digunakan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan beberapa senyawa atau ekstrak bahan alam. Interaksi

DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil) merupakan radikal bebas yang stabil pada suhu kamar dan sering digunakan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan beberapa senyawa atau

Aktivitas antioksidan dapat diukur dengan menggunakan metode penangkapan radikal bebas stabil DPPH (2,2-diphenyl-I-picrylhidracyl). DPPH adalah suatu radial bebas

Hilangnya radikal bebas dari dalam tubuh dikarenakan bereaksi dengan radikal bebas lain sehingga menjadi suatu senyawa yang stabil, atau hilangnya bisa juga karena

Pada tahun 1922, Goldschmidt dan Renn menemukan senyawa radikal bebas stabil berwarna ungu dan bersifat tidak larut dalam air yaitu DPPH (1,1- difenil-2-picrylhydrazile), yang

Prinsip dari uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH yaitu reaksi penangkapan atom hidrogen dari senyawa antioksidan oleh radikal bebas DPPH untuk mendapatkan

DPPH merupakan senyawa radikal bebas yang bersifat stabil sehingga dapat bereaksi dengan atom hidrogen yang berasal dari suatu antioksidan membentuk DPPH

Antioksidan juga sesuai didefinisikan sebagai senyawa-senyawa yang melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas oksigen reaktif jika berkaitan dengan penyakit, radikal bebas ini