BAB I. Pendahuluan. Bank Syariah menurut Undang-undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan

13 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 BAB I

Pendahuluan

1.1.Latar belakang

Bank Syariah menurut Undang-undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah merupakan bank yang menjalankan kegiatannya berdasarkan prinsip Syariah. Prinsip-prinsip Syariah tersebut di antaranya adalah tidak menggunakan sistem riba (bunga) dan tidak beroperasi pada kegiatan yang haram (menjual produk-produk haram, pornografi, dan sebagainya). Karakteristik-karakteristik khusus yang melekat pada bank Syariah ini menjadikannya berbeda dengan bank konvensional pada umumnya. Bank Syariah kemudian memiliki tujuan yang lebih luas dibandingkan dengan bank konvensional, selain berfokus pada peningkatan laba yang berkelanjutan, bank Syariah juga harus memastikan bahwa kegiatan operasinya tidak melanggar prinsip-prinsip Syariah.

Industri perbankan Syariah di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat sepanjang tahun 2016. Seperti yang dilansir oleh infobanknews.com pada 18 Januari 2017, pertumbuhan bank Syariah yang mencapai angka 19,67% jauh melampaui bank konvensional yang stagnan berada di bawah angka 10%. Pangsa pasar perbankan Syariah pun mengalami kenaikan yang cukup pesat, berkat konversi Bank Pembangunan Daerah (BPD) Aceh dari bank konvensional menjadi BPD Syariah pada September 2016 (Yoga 2017). Konversi ini mengakibatkan pangsa pasar perbankan Syariah mencapai 5,3%. Angka ini diproyeksikan akan semakin membesar mengingat BPD Nusa Tenggara Barat yang masih dalam proses

(2)

konversi dan ada beberapa BPD lain yang memiliki potensi untuk berkonversi menjadi BPD Syariah (Yoga 2017).

Pertumbuhan pesat ini, menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Bank Syariah Indonesia, selain didukung oleh adanya konversi, juga karena bertumbuhnya penempatan dana haji dan kampanye Syariah (Yoga 2016). Kampanye Syariah yang belakangan sering digencarkan oleh Pemerintah ternyata membawa dampak positif bagi perkembangan perbankan Syariah di Indonesia. Pembentukan Komite Nasional Keuangan Syariah juga menyiratkan bahwa Pemerintah pun memiliki itikad baik terkait sektor ekonomi Syariah di Indonesia.

Perbedaan lainnya antara bank Syariah dengan bank konvensional terletak pada sistem tata kelola korporat yang dipakai oleh keduanya—dalam hal bank Syariah, sistem ini disebut dengan nama Sharia governance (tata kelola Syariah). Tata kelola korporat merupakan sebuah sistem yang mengarahkan dan mengendalikan suatu perusahaan (UK Cadbury Committee 1992, 14) serta menyediakan struktur yang dilewati untuk menetapkan tujuan perusahaan dan menentukan cara untuk meraih tujuan tersebut serta mengawasi kinerja perusahaan (Organisation For Economic Co-Operation And Development (OECD) 2004, 11). Prinsip-prinsip yang diajukan oleh OECD pada tahun 2004 mengenai tata kelola korporat meliputi (1) memastikan dasar untuk rerangka tata kelola korporat yang efektif, (2) hak-hak pemegang saham dan fungsi pemilikan utama, (3) perlakuan yang adil bagi pemangku kepentingan, (4) peran pemangku kepentingan di dalam tata kelola korporat, (5) pengungkapan dan transparansi, dan (6) tanggung jawab dewan.

(3)

Tata kelola Syariah merujuk pada struktur dan proses yang diadopsi oleh pemangku kepentingan di dalam lembaga keuangan Syariah untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan-aturan dan prinsip-prinsip Syariah (IFSB 2010). Fungsi governance di dalam tata kelola Syariah tidak jauh berbeda dengan tata kelola korporat konvensional, bank Syariah dan lembaga keuangan Syariah pada umumnya juga memiliki dewan direksi sama halnya dengan bank konvensional. Hanya saja, tata kelola Syariah menambahkan adanya fungsi pengawasan Syariah untuk menjamin kepatuhan suatu lembaga keuangan Syariah pada prinsip-prinsip Syariah. Berbagai standar internasional menyebut fungsi ini dengan istilah yang berbeda; Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution (AAOIFI) mengenalnya dengan istilah sharia supervisory board; Islamic Financial Service Board (IFSB) memakai istilah sharia board; sedangkan sharia committee merupakan istilah yang dipakai di dalam rerangka sharia governance yang dibangun oleh Bank Negara Malaysia. Di Indonesia, fungsi ini lebih dikenal dengan nama Dewan Pengawas Syariah, yang memiliki kemiripan dengan istilah yang dipakai oleh AAOIFI dalam rerangka tata kelola Syariahnya.

Dewan Pengawas Syariah merupakan badan yang dibentuk oleh Bank Syariah dan Bank Umum Konvensional yang memiliki unit usaha Syariah (UUS) dan diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia (Bank Indonesia 2010, 14). Rerangka AAOIFI mensyaratkan bahwa Dewan Pengawas Syariah setidaknya terdiri dari tiga anggota sedangkan peraturan Bank Indonesia mensyaratkan Dewan Pengawas Syariah setidaknya terdiri dari dua orang atau tidak melebihi separuh dari anggota Dewan Direksi bank Syariah. Tugas

(4)

dan tanggung jawab Dewan Pengawas Syariah sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No. 11/33/PBI/2009 adalah memberikan nasihat dan saran kepada Direksi serta mengawasi kegiatan bank agar sesuai dengan prinsip Syariah (Bank Indonesia 2009, 23). Tugas dan tanggung jawab Dewan Pengawas Syariah yang diatur oleh lembaga independen seperti AAOIFI dan IFSB, maupun regulator lain seperti Bank Negara Malaysia, juga tidak jauh berbeda dengan yang diatur oleh Bank Indonesia.

AAOIFI (2005) menjelaskan bahwa tugas dan tanggung jawab dari Dewan Pengawas Syariah adalah untuk memastikan kepatuhan terhadap prinsip Syariah dari bank Syariah, memberikan saran dan petunjuk mengenai prinsip-prinsip Syariah, memberikan persetujuan terkait Syariah dan mengulas perihal prinsip Syariah dalam bank Syariah. IFSB (2010, 23-24) pun menjelaskan hal yang tidak jauh berbeda dengan milik AAOIFI. Dewan Pengawas Syariah memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memberikan nasihat pada Dewan Direksi terkait masalah Syariah, mengulas dan mengesahkan kebijakan dan petunjuk terkait Syariah, mengesahkan dan mendokumentasikan produk dan jasa baru, membimbing dan memberi saran kepada pihak-pihak yang relevan terhadap bank, dan sebagainya. Bank Negara Malaysia (BNM) (2010, 11, 34-35) juga menjelaskan hal yang tidak jauh berbeda dengan dua lembaga sebelumnya. BNM menjelaskan bahwa tugas dan tanggung jawab Dewan Pengawas Syariah adalah bertanggung jawab dan bertanggung jelas untuk segala masalah Syariah, memberi saran untuk Dewan Komisaris dan manajemen, mengesahkan kebijakan dan prosedur Syariah,

(5)

mengesahkan dan memvalidasi dokumentasi, menilai pekerjaan Sharia review dan audit Syariah, dan sebagainya.

Lain halnya dengan Malkawi (2013, 548-550) yang membagi peran Dewan Pengawas Syariah ke dalam tiga tingkatan. Tingkat pertama adalah tingkat internasional, seperti Dewan Pengawas Syariah di AAOIFI dan Islamic Development Bank (IDB). Dewan Pengawas Syariah di AAOIFI memiliki peran untuk mengembangkan, menguji, dan mengulas standar-standar yang berhubungan dengan Syariah sedangkan Dewan Pengawas Syariah IDB memegang peran penasihat dengan mengeluarkan opini Syariah dan mengembangkan governance standard dengan IDB. Tingkatan kedua adalah tingkat bank sentral dan komisioner, seperti Sharia Advisory Council di Malaysia dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Berbeda dengan tingkatan pertama, badan-badan di tingkat kedua ini dapat memaksakan fatwa atau keputusan mengenai Syariah terhadap bank-bank Syariah. Selain itu, Dewan Pengawas Syariah di tingkat kedua ini memiliki peran untuk harmonisasi dan standarisasi fatwa dan sebagai otoritas tertinggi dalam bidang Syariah. Tingkatan terakhir berada pada Dewan Pengawas Syariah di masing-masing bank Syariah dengan peran, tugas dan tanggung jawab sama seperti yang dijelaskan oleh Peraturan Bank Indonesia, AAOIFI, IFSB, maupun BNM.

Kompetensi dan keahlian khusus dibutuhkan oleh anggota Dewan Pengawas Syariah dalam rangka menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Latar belakang pendidikan dan keahlian di bidang Syariah dan/atau di bidang keuangan Islam merupakan salah satu kriteria yang diincar. Menurut rerangka sharia governance BNM, kriteria yang dibutuhkan adalah kepemilikan pengetahuan yang

(6)

cukup/memadai di bidang keuangan Islami dan bidang fiqh (hukum Islam). Kedua hal ini penting dimiliki oleh Dewan Pengawas Syariah agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan dapat menentukan apakah kegiatan operasional bank Syariah sudah mematuhi aturan dan prinsip Syariah atau belum. Namun, para ahli di bidang lain juga diperlukan dalam komposisi anggota Dewan Pengawas Syariah, hanya saja jangan sampai menjadi anggota mayoritas di dalam dewan tersebut (BNM 2010, 30).

Kompetensi dan keahlian yang dibutuhkan dari Dewan Pengawas Syariah membatasi jumlah individu yang dapat menjadi anggotanya. Terlebih, menurut rerangka sharia govenance milik IFSB, anggota Dewan Pengawas Syariah juga diharapkan memiliki karakter pribadi yang baik, yang meliputi kejujuran, integritas, keadilan, dan reputasi yang baik (IFSB 2010, 11-12). Belum lagi persyaratan undang-undang yang mengharuskan anggota Dewan Pengawas Syariah harus mendapatkan rekomendasi dari Majelis Ulama Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dua persyaratan ini tentunya akan memperkecil jumlah individu yang dianggap memenuhi kualifikasi sebagai anggota Dewan Pengawas Syariah. Akibatnya, banyak anggota Dewan Pengawas Syariah yang merangkap jabatan di 3-4 lembaga keuangan Syariah yang berbeda. Hal ini tentunya akan berdampak pada kinerja Dewan Pengawas Syariah dan tentunya akan memiliki efek pada bank Syariah tersebut.

Perbankan Syariah, tidak jauh berbeda dengan industri perbankan konvensional, tentunya terekspos pada beberapa risiko. Santomero (1997, 88-89) menjelaskan sedikitnya ada enam risiko yang dihadapi oleh sektor perbankan secara keseluruhan.

(7)

Risiko-risiko tersebut adalah risiko sistemik (risiko pasar), risiko kredit, risiko mitra pengembang (counterparty risk), risiko likuiditas, risiko operasional, dan risiko legal. Risiko sistemik merupakan risiko berubahnya nilai aset yang disebabkan oleh faktor sistemik dan tidak bisa dihilangkan seluruhnya oleh bank. Risiko kredit muncul karena nasabah tidak memiliki kemampuan atau keinginan untuk membayar utang yang dimilikinya. Risiko ini dapat didiversifikasi, namun, sama seperti risiko sistemik, sulit untuk benar-benar menghilangkannya. Hal ini dikarenakan sebagian porsinya bisa saja terdiri dari risiko sistemik. Tidak jauh berbeda dengan risiko kredit, risiko mitra pengembang (counterparty risk) berasal dari penolakan mitra dagang (trading partner) untuk menjalankan kontrak karena alasan-alasan tertentu. Risiko ini bisa disebabkan oleh faktor-faktor sistemik, seperti pergerakan harga, maupun faktor-faktor politik dan legal. Risiko likuiditas dapat diartikan sebagai risiko kesulitan pendanaan, risiko operasional berhubungan dengan kegiatan operasional bank, dan risiko legal terdapat pada kontrak pembiayaan namun terpisah dari risiko kredit, risiko mitra pengembang (counterparty risk), dan risiko operasional.

Risiko kredit di industri perbankan ditunjukkan oleh rasio non-performing loan (NPL) yang dalam perbankan Syariah dikenal dengan nama non-performing financing (NPF). Rasio ini menunjukkan tingkat pembiayaan yang macet dalam sebuah bank Syariah. Rasio NPF (dan NPL) juga dapat menunjukkan bagaimana kinerja suatu bank dalam mengelola pembiayaan (atau kredit) yang diberikan kepada masyarakat. Semakin tinggi nilai NPF mengindikasikan bahwa pembiayaan suatu bank banyak yang bermasalah sehingga bank tidak dapat memperoleh

(8)

kembali dana yang telah diberikan. Nilai rasio NPF pada industri perbankan Syariah per Februari 2017 adalah 4,78%, naik sekitar 0,38% dari akhir tahun 2016 yang berada pada kisaran angka 4,4% (Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2017, 2).

Peran, tugas, dan tanggung jawab yang diemban oleh Dewan Pengawas Syariah semata-mata dilakukan untuk menjamin kepatuhan bank Syariah terhadap prinsip-prinsip Syariah, yang menjadi tujuan utama dari tata kelola Syariah. Menurut Bank Negara Malaysia (2010, 2), tujuan dari tata kelola Syariah adalah untuk memastikan segala kegiatan operasi dan bisnis bank Syariah sejalan dengan prinsip-prinsip Syariah, menyediakan pedoman komprehensif bagi Dewan Direksi dan Dewan Pengawas Syariah, serta menggarisbawahi fungsi-fungsi yang berhubungan dengan Shari’ah review, Shari’ah audit, Shari’ah risk management dan Shari’ah research. Selain itu, Dewan Pengawas Syariah juga memiliki peran penting dalam proses manajemen risiko, terutama dalam proses identifikasi risiko. Hassan (2009, 35) menjelaskan bahwa inspeksi yang dilakukan oleh Sharia supervisor merupakan salah satu metode paling penting dalam identifikasi risiko di bank Syariah di Brunei Darussalam. Hasil serupa juga dinyatakan oleh Al-Tamimi dan Al-Mazrooei (2007, 408) bahwa bank-bank di Uni Emirat Arab, baik bank nasional maupun bank asing, memilih inspeksi sebagai salah satu meode paling penting dalam identifikasi risiko.

(9)

1.2.Rumusan masalah

Tata kelola Syariah pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan tata kelola korporat pada umumnya. Hanya saja tata kelola Syariah menambahkan Dewan Pengawas Syariah pada fungsi pengawasannya. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa kegiatan operasional bank Syariah tidak melenceng dari prinsip-prinsip Syariah. Berbagai kompetensi dan keahlian tertentu menjadi persyaratan bagi anggota Dewan Pengawas Syariah agar dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Selain untuk memastikan kepatuhan pada prinsip Syariah, Dewan Pengawas Syariah juga memiliki peran penting dalam proses manajemen risiko bank Syariah, terutama dalam proses identifikasi risiko melalui supervisinya dalam kegiatan operasional sehari-hari bank Syariah. Peran ini kemudian diharapkan dapat memiliki pengaruh terhadap risiko kredit bank Syariah yang dicerminkan melalui rasio non-performing financing (NPF).

Berdasarkan latar belakang tersebut, pertanyaan yang akan diteliti adalah: 1. Apakah jumlah rapat Dewan Pengawas Syariah suatu bank Syariah

memengaruhi rasio NPF bank?

2. Apakah latar belakang pendidikan anggota Dewan Pengawas Syariah suatu bank Syariah memengaruhi rasio NPF bank?

3. Apakah persentase jumlah anggota Dewan Pengawas Syariah terhadap jumlah anggota Dewan Direksi memengaruhi rasio NPF bank?

(10)

1.3.Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menganalisis pengaruh antara jumlah rapat Dewan Pengawas Syariah terhadap rasio NPF bank Syariah.

2. Menganalisis pengaruh antara latar belakang pendidikan anggota Dewan Pengawas Syariah terhadap rasio NPF bank Syariah.

3. Menganalisis pengaruh antara persentase jumlah anggota Dewan Pengawas Syariah terhadap rasio NPF bank Syariah.

1.4.Motivasi penelitian

Penelitian terdahulu mengenai tata kelola Syariah kebanyakan membahas mengenai hubungan antara Dewan Pengawas Syariah dan kinerja bank Syariah (Mollah dan Zaman 2015; Nomran, Haron dan Hassan 2016), hubungan antara kepatuhan pada prinsip Syariah, model pengawasan Syariah dan keefektifan tata kelola Syariah (Hamza 2013) atau membahas fungsi Dewan Pengawas Syariah dalam rerangka tata kelola Syariah (Malkawi 2013). Penelitian mengenai risiko di bank Syariah pun hanya membahas mengenai jenis-jenis risiko yang dihadapi oleh bank Syariah (Abedifar, Molyneux dan Tarazi 2013) atau mengenai praktik manajemen risiko di bank Syariah (Hassan 2009). Penelitian ini kemudian menjadi penting karena belum ada yang menghubungkan antara fungsi Dewan Pengawas Syariah dengan manajemen risiko di bank Syariah.

(11)

1.5.Manfaat penelitian

Manfaat yang diharapkan akan muncul dari penelitian ini adalah:

1. Bagi mahasiswa lain yang memiliki minat dalam bidang keuangan Islam, dapat menggunakan penelitian ini sebagai bahan studi tambahan.

2. Bagi peneliti lain, dapat menjadikan penelitian ini sebagai salah satu referensi penelitian di bidang tata kelola Syariah.

3. Bagi para regulator, dapat menjadikan penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun peraturan mengenai tata kelola Syariah 1.6.Kontribusi Penelitian

1. Kontribusi Teoretis

Penelitian tentang Dewan Pengawas Syariah sudah banyak dilakukan (Hamza 2013, Malkawi 2013, Mollah dan Zaman 2015, Nomran, Haron dan Hassan 2016), namun penelitian tersebut kebanyakan menjelaskan mengenai hubungan antara Dewan Pengawas Syariah dan kinerja bank Syariah, hubungan antara kepatuhan pada prinsip Syariah, model pengawasan Syariah dan keefektifan tata kelola Syariah, atau fungsi Dewan Pengawas Syariah dalam rerangka tata kelola Syariah. Penelitian ini berkontribusi terhadap literatur yang sudah ada dengan meneliti mengenai pengaruh antara karakteristik pengawasan Dewan Pengawas Syariah, yaitu jumlah rapat, latar belakang pendidikan, dan persentase jumlah anggota Dewan Pengawas Syariah terhadap jumlah anggota Dewan Direksi, terhadap risiko kredit bank Syariah.

(12)

2. Kontribusi Praktis

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan oleh bank Syariah dalam membentuk Dewan Pengawas Syariahnya sehingga dapat meminimalisasi risiko kredit.

3. Kontribusi Kebijakan

Regulator terkait (Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia) dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai acuan dalam perumusan aturan mengenai tata kelola Syariah, terutama mengenai Dewan Pengawas Syariah. 1.7.Ruang lingkup dan batasan penelitian

Batasan yang ada dalam penelitian ini adalah:

1. Objek penelitian ini adalah bank umum Syariah di Indonesia, yang terdiri dari tiga belas bank umum Syariah.

2. Karakteristik fungsi pengawasan Dewan Pengawas Syariah diukur melalui: a. Jumlah rapat dalam setahun;

b. Latar belakang pendidikan anggota Dewan Pengawas Syariah;

c. Persentase jumlah anggota Dewan Pengawas Syariah terhadap jumlah anggota Dewan Direksi.

1.8.Sistematika penelitian

(13)

1. Pendahuluan

Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, motivasi penelitian, manfaat penelitian, kontribusi penelitian serta ruang lingkup dan batasan penelitian.

2. Landasan teori dan tinjauan pustaka

Bab ini berisi tentang teori-teori dan penelitian mengenai tata kelola korporat, tata kelola Syariah, dan manajemen risiko yang menjadi landasan penelitian ini serta menyajikan pengembangan hipotesis.

3. Metode penelitian

Bab ini beisi penjelasan mengenai metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini, meliputi jenis dan sumber data yang dipakai, penjabaran variabel, serta teknik pengumpulan dan teknik analisis data.

4. Hasil penelitian dan pembahasan

Bab ini membahas hasil penelitian yang telah dilakukan, dengan menjelaskan deskripsi/karakteristik data dan menjelaskan hasil pengujian hipotesis.

5. Simpulan

Bab ini menjelaskan hasil penelitian dengan singkat dan tepat serta mengaitkannya langsung dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Dalam bab ini juga dipaparkan mengenai keterbatasan yang dihadapi peneliti saat melakukan penelitian dan implikasi penelitian terhadap teori maupun praktik.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :