Hubungan antara kesadaran kesetaraan gender pada laki-laki dewasa awal dan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan - USD Repository

178 

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA KESADARAN KESETARAAN GENDER PADA LAKI-LAKI DEWASA AWAL DAN TINDAK PELECEHAN SEKSUAL

TERHADAP PEREMPUAN

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh : Ndaru Tri Raha yu NIM : 049114051

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

Karya sederhana ini kupersembahkan unt uk:

? T uhan Yang M aha Esa

? Bapak dan M ami t ercint a

? K eluargaku t ercint a

(5)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat hasil karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

(6)

ABSTRAK

Ndaru Tri Rahayu (2008). Hubungan antara Kesadaran Kesetaraan Gender pada Laki-laki Dewasa Awal dan Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan: Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penelitian ini merupakan penelitian korelasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal dan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan negatif antara kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal dan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan.

Subyek dalam penelitian ini adalah laki- laki dewasa awal. Subyek berjumlah 100 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah skala kesadaran kesetaraan gender dan skala tindak pelecehan seksual. Data dari hasil uji coba diperoleh reliabilitas 0,908 untuk skala kesadaran kesetaraan gender dan reliabilitas 0,941 untuk skala tindak pelecehan seksual. Hasil analisis data menunjukkan bahwa sebaran data normal dan memiliki korelasi yang linear. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment dari Carl Pearson dan menghasilkan koefisien korelasi sebesar –0,487 (p<0,01). Artinya, ada hubungan negatif antara kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal dan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan.

(7)

ABSTRACT

Ndaru Tri Rahayu (2008). Correlation Between Awareness of Gender Equality at Young Man and Sexual Harassment to Woman. Yogyakarta: Faculty of Psychology, Sanata Dharma University.

This research is a correlational research. This research is to find out the correlation between awareness of gender equality at young man and sexual harassment to woman. The hypothesis proposed in this research is there is a negative correlation between awareness of gender equality at young man and sexual harassment to woman.

The subject of this research is young man. The subjects of this research are 100 young man that acquired by purposive sampling technique. The method of data collection in this research are awareness of gender equality scale and sexual harassment scale. The reliability coeffisient for awareness of gender equality scale is 0,908 and the reliability coefficient of sexual harassment to woman scale is 0,941. The result of data analysis show that the normal data spread and have linear correlation. The data of research result analyzed by correlation Product Moment technique from Carl Pearson and the result of correlation coefisien is –0,487 (p<0,01). It means, there is a negative correlation between awareness of gender equality at young man and sexual harassment to woman.

(8)
(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas setiap kebaikan, kasih, berkat dan mukjizat yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini penulis banyak mengalami kesulitan dan kendala yang harus dihadapi. Akan tetapi, berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, maka kesulitan dan kendala tersebut dapat diselesaikan. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini perkenankan saya untuk mengucapkan terima kasih kepada:

1. Allah SWT yang tidak pernah lelah memberikan berbagai macam anugerah padaku, membimbing langkahku, mengangkatku saat aku terjatuh, menyadarkan aku disaat aku tidak berada di jalan yang lurus, memberikan aku kekuatan dalam meraih segala hal dan menjadi tumpuan hati serta hidupku.

2. Bapak Eddy Suhartanto, S.Psi, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan dukungan, memberikan waktu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan penulis.

3. Ibu Maria Laksmi Anantasari, S.Psi, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang tela h memberikan waktu, kesempatan, kesabaran dan saran dalam membimbing penulis selama proses penulisan skripsi serta terima kasih atas saran yang Ibu berikan membuat saya bertambah kuat menjalani hidup.

(10)

5. Ibu Lusi Pratidarmanastiti, S.Psi, M.Si selaku dosen pembimbing akademis yang telah memberikan waktu, bantuan, saran, nasehat dan semangat kepada penulis.

6. Dosen-dosen Fakultas Psikologi yang telah mendidik dan mengajar penulis selama menempuh bangku perkuliahan.

7. Seluruh staf Fakultas Psikologi: Mas Gandung, Mbak Nanik, Pak Gie, Mas Doni dan Mas Muji yang telah memberikan kenyamanan selama penulis menempuh bangku perkuliahan.

8. Dinas Perizinan Kota Yogyakarta yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di Terminal Penumpang Yogyakarta.

9. PT Perwita Karya Yogyakarta (Bapak Kadaroesman dan Mbak Reni). Terima kasih untuk izin dan bantuan ketika penulis melakukan penelitian.

10.Bapak dan Mami. Terima kasih buat kasih sayang, kesabaran, dukungan, semangat dan fasilitas yang diberikan. Tanpa Bapak dan Mami, aku tidak akan bisa menjadi seperti ini. Aku sangat mencintai Bapak dan Mami dulu, sekarang dan seterusnya.

11.Kakak-kakaku tercinta (Manda, Mbak Dian dan Mas Budi) yang telah memberikan kasih sayang dan semangat kepada penulis.

(11)

13.Buat gendutku, Cebe....Terima kasih uda nemenin aku sampai sekarang, uda sabar ngadepin aku, uda perhatian ma aku, uda sayang ma aku, uda pengertian ma aku dan terima kasih untuk semuanya. I Luv U…

14.Sahabat-sahabatku “JenK Cratz Family”. Buat Sasa, terima kasih sudah membantu aku selama proses penulisan skripsi, terima kasih uda nemenin aku, mau bersusah-susah nyari teori dalam keadaan hujan dan panas serta buat saran-saran yang sangat pasti membangun dan berpengaruh pada hidupku. Aku akan merindukan masa- masa itu… Buat Jenk Myuns, terima kasih sudah mau jadi sahabatku yang nemeni aku disaat aku susah dan sedih, buat bantuan dan dukungan yang diberikan, saran-saran, dan kasih sayangnya selama ini ya… Ayo semangat jenk!!!. Buat Tya, terima kasih atas kegilaan yang kita buat bareng-bareng dulu. Aku kangen jenk, shopping-shopping kaya dulu. Terima kasih juga buat dukungan dan semangat yang diberikan buat aku ya… Terima kasih untuk semuanya jenk-jenkku…I will miss u… Muah- muah..

15.Teman-teman Edellwise (Dimejo, Dendeng, Gondesi, Aika, Mimi, Jeny, Ade)…Kapan ngeband lagi Bu… Hehehe dan spesial buat vokalisku “Lara” yang telah membantu aku membuat abstrak. Hehehe…

16.Buat Vebri 2004… Terimakasih sudah mendukung penulis, memberikan semangat kepada penulis…

(12)

18. Teman-teman “Jogja Supra Lover” (mas Rangga, Bayu, Benx, Maul, Irfan, Dimpsy, mas Heri, Gilang dan semuanya yang ga bisa disebutin satu persatu). Terima kasih atas semangat dan dukungannya kepada penulis…JSL Ayeeee!!!!

19.Teman-teman “10 pm” (Pakdhey Hamid, mas Troy, mas Jenong, Linda, ma Robi sang drummer). Sukses selalu ya…

20.Teman-teman psikologi angkatan 2004. Terima kasih banyak untuk teman-teman seperjuanganku… Semangat selalu ya…

21.Seluruh Karyawan Universitas Sanata Dharma Paingan (mas- mas penjaga parkiran, petugas kebersihan dan keamanan kampus) yang telah memberikan kenyamanan kepada penulis selama ini…

22.Pengamen-pengamen terminal Klaten dan komunitas-komunitas di terminal Giwangan. “Terima kasih buat bantuannya”. Smangaaaaaaat Bank !!!!!.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih banyak kekurangannya, oleh sebab itu penulis dengan hati terbuka menerima masukan dan kritik yang membangun.

Yogyakarta, 20 November 2008

Penulis

(13)

DAFTAR ISI

(14)

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesadaran

Kesetaraan Gender... 15

C. Pelecehan Seksual ………... 18

1. Pengertian Pelecehan Seksual……… 18

2. Bentuk-bentuk Pelecehan Seksual……….... 19

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelecehan Seksual……….. 22

(15)

2. Uji Linearitas……… 65

3. Uji Hipotesis………. 65

F. Pembahasan………... 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……….. 77

A. Kesimpulan……… 77

B. Saran……….. 77

1. Bagi Tokoh Masyarakat….………... 77

2. Bagi Laki- laki………... 78

3. Bagi Penelitian Selanjutnya……….. 79

DAFTAR PUSTAKA ………. 80

(16)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Tabel Blue Print Skala Kesadaran Kesetaraan Gender……… 43

Tabel 3.2 Tabel Blue Print Skala Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan……… 44

Tabel 3.3 Tabel Item yang Sahih dan Gugur pada Skala Kesadaran Kesetaraan Gender……… 47

Tabel 3.4 Tabel Distribusi Item Skala Kesadaran kesetaraan Gender untuk Penelitia n……… 49

Tabel 3.5 Tabel Item yang Sahih dan Gugur pada Skala Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan……… 50

Tabel 3.6 Tabel Distribusi Item Skala Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan untuk Penelitian……….. 51

Tabel 4.1 Tabel Identitas Usia Subyek………... 60

Tabel 4.2 Tabel Suku Bangsa Subyek………... 61

Tabel 4.3 Tabel Tingkat Pendidikan Subyek……… 62

Tabel 4.4 Tabel Deskripsi Data Penelitian……… 63

(17)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Gambar Hubungan antara Kesadaran Kesetaraan Gender pada

Laki- laki Dewasa Awal dan Tindak Pelecehan Seksual

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Kesadaran Kesetaraan Gender dan Tindak Pelecehan Seksual Terhadap Perempuan untuk

Uji Coba………... xx

Lampiran 2 Reliabilitas Kesadaran Kesetaraan Gender……… xxi

Lampiran 3 Reliabilitas Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan. xxii

Lampiran 4 Skala Kesadaran Kesetaraan Gender dan Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan untuk Penelitian……… xxiii

Lampiran 5 Hasil Uji Asumsi….……… xxiv

Lampiran 6 Hasil Uji Korelasi……… xxv

Lampiran 7 Hasil Statistik Deskriptif Data Penelitian……… xxvi

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu fenomena sosial yang akhir-akhir ini terjadi yaitu meningkatnya kekerasan terhadap perempuan, khususnya pelecehan seksual. Rifka Annisa (2006:36) mendefinisikan pelecehan seksual sebagai segala macam tindakan dan ucapan yang bermakna seksual yang berakibat merendahkan martabat orang yang menjadi sasaran. Rohan Collier (1998:3) mengemukakan bahwa suatu perilaku dapat dikatakan pelecehan seksual apabila seseorang tidak menginginkan atau merasa terganggu dengan perilaku tersebut. Pelecehan seksual oleh Rohan Collier (1998:4) dipilah menjadi beberapa bentuk yaitu pelecehan seksual secara fisik, pelecehan seksual secara verbal atau lisan dan pelecehan seksual secara nonverbal.

(20)

jalan, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, terminal ataupun di kendaraan umum.

Pelaku tindak pelecehan seksual menurut Wignjosoebroto sebagian besar adalah laki- laki dan korbannya adalah perempuan (dalam Supanto, 1999:7). Laki- laki sebagai pelaku pelecehan seksual tidak hanya terbatas pada tingkat pendidikan, agama, status sosial ekonomi, suku bangsa ataupun kondisi psikopatologi namun juga usia (Poerwandari dalam Luhulima, 2000:29). LSM Rifka Annisa pada tahun 2004–2005, mencatat dari 46 kasus pelecehan seksual, 12 kasus diantaranya dilakukan oleh laki- laki usia dewasa awal.

Ironisnya, tindak pelecehan seksual terhadap perempuan ini dianggap sebagai suatu hal yang biasa, wajar dan dianggap sebagai ekspresi keakraban pelaku terhadap korban (Yuarsi dkk, 2002:22). Masyarakat juga cenderung menyalahkan perempuan sebagai korban karena perempuan dianggap memancing laki- laki untuk melakukan pelecehan seksual, baik dalam berpenampilan atau berperilaku (Yuarsi, 2002:22; Rosmalinda dkk, 2002:77). Penampilan dan perilaku perempuan tersebut dianggap untuk merangsang atau menggoda laki- laki (Mertokusumo, 1995:5).

(21)

yang “terganggu”, memiliki banyak konflik dan masalah sehingga membuat pelaku merasa tertekan yang kemudian mengalihkan perasaan tertekan tersebut dengan melakukan pelecehan seksual. Faktor yang kedua adalah karakteristik korban yang berkaitan erat dengan usia, status perkawinan dan tingkah laku korban yang dianggap mengundang hasrat seksual pelaku untuk melakukan pelecehan seksual (Muttaqin & Adib, 2005:21; Yuarsi dkk, 2001:47; Rosmalinda dkk, 2002:78). Faktor yang ketiga adalah struktur sosial yang berdasar pada budaya patriarki dimana laki- laki dianggap lebih superior terhadap perempuan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi tindak pelecehan seksual terhadap perempuan antara lain usia dan pendidikan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi pelecehan seksual adalah kondisi struktur sosial yang berdasarkan pada budaya patriarki (Tukiran & Darwin, 2001:25). Budaya patriarki ini secara turun-temurun membedakan laki- laki dan perempuan secara gender (Rahman dkk, 2002:16). Perbedaan-perbedaan secara gender ini melalui proses yang sangat panjang dianggap sebagai ketentuan Tuhan sehingga melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan terhadap perempuan, salah satunya adalah tindak pelecehan seksual terhadap perempuan (Fakih, 1996:9). Ketidakadilan gender terhadap perempuan ini sangat mungkin sebagai salah satu bentuk dari kurangnya kesadaran individu akan kesetaraan gender.

(22)

tanggungjawab, memiliki akses dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan serta memiliki hak yang sama dalam menikmati hasil- hasil pembangunan. Kesadaran kesetaraan gender meliputi beberapa aspek yaitu kesadaran akan partisipasi atau peran, kesadaran akan akses menggunakan sumber daya, kesadaran akan kontrol atas penggunaan dan pemanfaatan berbagai macam hasil sumber daya serta kesadaran akan perolehan manfaat dari berbagai kegiatan.

Kesadaran kesetaraan gender dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu sosialisasi nilai- nilai kesetaraan melalui publikasi, aksi-aksi, strategi pembangunan dan pelatihan atau seminar-seminar. Berbagai informasi tentang kesetaraan gender tersebut dapat menambah pengetahuan, gagasan baru dan mengubah keyakinan serta pandangan yang telah melekat di dalam diri individu mengenai relasi antara laki- laki dan perempuan (Nurhayati, 2005:74; Connell dalam Staggenborg, 2003:44). Selain itu, faktor pendidikan juga mempengaruhi kesadaran akan kesetaraan gender pada diri individu karena dengan pendidikan akan merubah perilaku individu ke arah yang lebih baik (Husain dalam Kusumiati, 2001:8).

(23)

kekuasaan berada di tangan mereka yang berjenis kelamin laki- laki (Kurnianingsih, 2003:121).

Kekuasaan yang dimiliki oleh laki- laki tersebut membuat laki- laki memandang perempuan sebagai subordinat yang boleh diremehkan (Kurnianingsih, 2003:121). Maraknya media hiburan yang mengandalkan eksploitasi tubuh perempuan semakin menanamkan kesan bahwa perempuan memang ditempatkan sebagai objek seks laki- laki (Collier, 1998:34). Pandangan-pandangan inilah yang sangat mungkin membuat laki- laki tidak menghargai dan meremehkan perempuan yang kemudian berwujud pada tindak pelecehan seksual.

(24)

Istimewa Yogyakarta selaku kota budaya dimana sebagian besar masyarakat kota Yogyakarta bersuku bangsa Jawa yang struktur sosialnya berdasar pada budaya patriarki dan sebagian besar masyarakatnya cenderung masih menjunjung tinggi adat istiadat (Hidayat, 1998:10; Wattie, 2002:7; Perwita Karya, 2005:1).

Laki- laki termasuk individu yang jarang diteliti dan jarang menjadi perhatian terutama menyangkut permasalahan kekerasan terhadap perempuan (Subono, 2002:99). Beberapa penelitian mengenai pelecehan seksual lebih cenderung menggunakan perempuan sebagai subyek sehingga keterlibatan laki- laki ke dalam masalah ketidakadilan gender cenderung kurang. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penelitian yang menarik dan penting untuk diteliti. Diharapkan dengan adanya penelitian ini akan menambah pemahaman masyarakat, khususnya laki- laki, mengenai kesadaran kesetaraan gender dengan tindak pelecehan seksual.

(25)

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “Apakah ada hubungan antara kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal dan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan ?”.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal dan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat berguna bagi pengembangan ilmu bidang sosial dan ilmu perkembangan, terutama pada permasalahan kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal dan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Tokoh Masyarakat

(26)

b. Bagi Kaum Laki-laki

(27)

BAB II

TINJAUAN PUS TAKA

A. Masa Dewasa Awal

1. Pengertian dan Batasan Usia Masa Dewasa Awal

Istilah dewasa awal berasal dari istilah adult yang memiliki arti “telah menjadi dewasa” (Hurlock, 1980:246). Masa dewasa awal merupakan masa peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa, dimana individu akan memulai tugas perkembangan yang baru sebagai persiapan menjadi manusia dewasa seutuhnya. Menurut Hurlock (1980:246) masa dewasa awal didefinisikan sebagai suatu periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan- harapan sosial baru. Masa dewasa awal ini dimulai pada usia 20 tahun sampai kira-kira usia 34 tahun (Santrock, 2002:23).

(28)

mengemukakan bahwa pada masa dewasa awal, individu cenderung memiliki vitalitas atau hasrat seksual yang tinggi.

Periode masa dewasa awal juga merupakan periode kehidupan yang sulit dan banyak masalah karena individu diharapkan dan dituntut untuk melepaskan ketergantungannya terhadap orang tua dan berusaha menyesuaikan diri secara mandiri (Hurlock, 1980:246). Pada masa ini, orang dewasa muda diharapkan memainkan peran-peran baru yaitu peran sebagai suami atau istri, orang tua, pencari nafkah, mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan-keinginan baru dan nilai- nilai baru sesuai dengan tugas-tugas yang baru pula (Hurlock, 1980:246). Apabila individu merasa tidak mampu mengatasi masalah- masalah utama dalam kehidupan mereka, mereka merasa terganggu secara emosional sehingga memungkinkan individu mengalihkan perasaannya tersebut (Hurlock, 1980:250).

B. Kesadaran Kesetaraan Gender

1. Pengertian Kesetaraan Gender

(29)

sebagai sasaran pembangunan berarti mengakui bahwa kondisi sosial, ekonomi, budaya, sistem politik serta lembaga berdasarkan gender dan analisis status ketidaksetaraan perempuan yang dilakukan secara sistematik dengan memperhitungkan perbedaan ras, etnik, kelas dan ketidakmampuan (Sugihastuti & Sastriyani, 2007:116-117)

Inpres No. 9 tahun 2000 mendefinisikan kesetaraan gender sebagai kesamaan kondisi bagi laki- laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak- haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Dalam relasi sosial yang setara, perempuan dan laki- laki merupakan faktor yang sama pentingnya dalam menentukan berbagai hal yang menyangkut kehidupan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan (2002:2) kesetaraan gender adalah suatu kondisi dan situasi yang menggambarkan keseimbangan peran, tugas dan tanggungjawab serta kesempatan antara laki- laki dan perempuan dalam menjalankan dan menik mati berbagai hasil pembangunan sebagai warga negara dan warga masyarakat.

(30)

untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan termasuk penghapusan ketidakadilan gender serta memiliki hak yang sama dalam menikmati hasil- hasil pembangunan.

2. Pengertian Kesadaran Kesetaraan Gender

Kesadaran merupakan konsep yang membingungkan karena pengertiannya sangat bervariasi sehingga tidak ada pengertian umum yang dapat diterima oleh semua pihak. Kamus Lengkap Psikologi mengartikan kesadaran sebagai mengetahui sesuatu (Chaplin, 2002:106). Menurut Zeman (dalam Hastjarjo, 2005:81) kesadaran merupakan pikiran. Kesadaran digambarkan sebagai keadaan mental yang berisi hal-hal proporsional seperti keyakinan, harapan, kekhawatiran dan keinginan.

Atkinson dkk (1987:250) menyatakan bahwa kesadaran mencakup pengertian persepsi, pemikiran, perasaan dan ingatan seseorang yang aktif pada saat-saat tertentu. Pendapat ini didukung oleh pendapat Farthing (dalam Vernoy dkk, 1997:124) yang menyatakan bahwa kesadaran berhubungan dengan persepsi, pemikiran, perasaan dan tindakan. Menurut Rychlak (dalam Nurhayati, 2005:9) kesadaran berhubungan erat dengan intensi yaitu suatu perjuangan untuk mencapai tujuan (Chaplin dalam Nurhayati, 2005:9).

(31)

dan keamanan termasuk penghapusan ketidakadilan gender serta memiliki hak yang sama dalam menikmati hasil- hasil pembangunan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kesadaran kesetaraan gender yang dimaksud dalam penelitian ini adala h mengetahui, merasakan dan meyakini bahwa laki- laki dan perempuan memiliki kesamaan peran, tugas, tanggungjawab, memiliki akses dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan serta memiliki hak yang sama dalam menikmati hasil- hasil pembangunan.

3. Aspek-aspek Kesadaran Kesetaraan Gender

Aspek-aspek kesadaran kesetaraan gender yang ditunjukkan oleh Fadhil (2002:27) yaitu:

a. Partisipasi atau peran

Adalah mengetahui, merasakan dan meyakini bahwa laki- laki dan perempuan memiliki kesamaan untuk terlibat dan ikutserta dalam perencanaan dan pengambilan keputusan maupun pelaksanaan segala kegiatan baik dalam wilayah publik maupun domestik (Demartoto, 2005:20).

b. Akses

(32)

dimiliki individu untuk menyelenggarakan kegiatan produktif untuk menghasilkan pemenuhan kebutuhan. Sumber daya terdiri dari:

1) Sumber daya fisik

Sumber daya fisik dibagi menjadi 2 yaitu:

a) Sumber daya buatan seperti modal berupa uang, peralatan, alat-alat produksi, gedung, rumah, sarana dan prasarana dan lain sebagainya.

b) Sumber daya alami seperti modal berupa tanah, air, kekayaan hutan, tumbuhan dan hewan dan lain sebagainya.

2) Sumber daya sosial-budaya, misalnya informasi, pendidikan atau ilmu pengetahuan, pelatihan, pelayanan sosial (kesehatan, organisasi lingkungan) dan lain sebagainya.

3) Sumber daya manusia, misalnya relasi sosial. c. Kontrol

Adalah mengetahui, merasakan dan meyakini bahwa laki- laki dan perempuan memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan pemanfaatan berbagai macam hasil sumber daya.

d. Manfaat

(33)

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesadaran kesetaraan gender terdiri dari empat aspek, yaitu partisipasi atau peran, akses, kontrol dan manfaat.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesadaran Kesetaraan Gender

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesadaran kesetaraan gender pada individu yaitu:

a. Pendidikan

Menurut Fadhil (2002:38) pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesadaran kesetaraan gender pada individu. Pendidikan adalah suatu bidang yang strategis untuk menanamkan nilai- nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat (Fadhil, 2002:38). Adapun salah satu tujuan pendidikan yait u mengubah perilaku individu ke arah yang lebih baik agar individu lebih memiliki rasa tanggungjawab kemasyarakatan, mandiri, berkepribadian, mampu berpikir dan memiliki pertimbangan dalam bersikap (Husian dalam Kusumiati, 2001:8).

(34)

kesadaran kesetaraan gender melalui pendidikan diharapkan dapat membentuk individu yang mampu menjunjung tinggi demokrasi, menegakkan keadilan dan hak dasar kemanusiaan, serta menghapuskan diskriminasi dan berbagai bentuk ketidakadilan gender (Kompas, 25 September 2008).

Sesuai dengan tahap pendidikan yang di tempuh individu, pemahama n atau pandangan individu akan gender akan mengalami banyak perubahan dari individu yang kurang menyadari kesetaraan gender menjadi individu yang sadar gender, misalnya dahulu laki- laki kurang berperan dalam sektor domestik namun sekarang pembagian kerja di sektor domestik menjadi lebih seimbang antara laki- laki dan perempuan (Tukiran dan Darwin, 2001:29). Menurut Hesselbart (dalam Supriyantini, 2002:16), individu yang menempuh pendidikan yang cenderung tinggi lebih dapat berpikir kritis dalam menyikapi berbagai hal dan tidak bergantung pada pendapat orang lain.

b. Sosialisasi Nilai- nilai Kesetaraan

(35)

perempuan (Subono, 2002:103). Ketidakadilan gender ini sangat mungkin sebagai salah satu bentuk dari ketidaksadaran individu akan kesetaraan gender.

(36)

gender dalam kehidupan sehari- hari (Staggenborg, 2003:44; Nurhayati dan Sugiyanto, 2005:37).

C. Pelecehan Seksual

1. Pengertian Pelecehan Seksual

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (2001:1) mendefinisikan pelecehan seksual sebagai setiap bentuk perilaku yang memiliki muatan seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang dimana perilaku tersebut tidak disukai dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan akibat negatif seperti rasa malu, tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga diri, kehilangan kesucian dan sebagainya. Definisi di atas didukung oleh pendapat Rohan Collier (1998:3) yang menyatakan bahwa suatu perilaku dapat dikatakan sebagai pelecehan seksual apabila pihak yang dikenakan perilaku tersebut tidak menginginkan atau merasa terganggu.

(37)

Sanistuti (dalam Supanto, 1999:7) menambahkan bahwa pelecehan seksual merupakan semua tindakan seksual atau kecenderungan bertindak seksual yang bersifat intimidasi nonfisik (kata-kata, bahasa, gambar) atau fisik (gerakan kasat mata dengan memegang, menyentuh, meraba, mencium) yang dilakukan seorang laki- laki atau kelompoknya terhadap perempuan atau kelompoknya.

Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa tindak pelecehan seksual terhadap perempuan dalam penelitian ini adalah semua bentuk perilaku seksual baik fisik atau nonfisik yang biasanya dilakukan oleh laki- laki dan ditujukan kepada perempuan dimana perilaku tersebut tidak disukai serta tidak diharapkan oleh korban karena merupakan tindakan perendahan martabat yang menimbulkan akibat negatif pada individu yang bersangkutan.

2. Bentuk-bentuk Tindak Pelecehan Seksual

(38)

gambar-gambar porno, barang-barang porno, lukisan- lukisan grafis, gerakan-gerakan tubuh.

Bentuk-bentuk perilaku yang dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual menurut Yetman (2005:1) antara lain pelecehan seksual secara verbal seperti komentar-komentar seksual (misalnya komentar mengenai pakaian, tubuh dan wajah seseorang), lelucon seksual, siulan, pemberian nama sebutan “cewek”, “sayang”, “manis”, “cinta” dan sejenisnya, pertanyaan tentang fantasi seksual; pelecehan seksual secara nonverbal seperti komentar atau gambar (misal gambar atau komentar laki- laki dan perempuan dalam gelas, topi, baju, dinding, layar komputer dan sebagainya), memperlihatkan gambar- gambar porno, ekspresi-ekspresi wajah (mengedipkan mata, melemparkan ciuman, menjilat bibir), bahasa-bahasa tubuh (gerakan-gerakan tangan atau tubuh), surat, email, poster dan hadiah yang mengandung unsur seksual; pelecehan seksual secara fisik seperti semua sentuhan yang tidak dikehendaki, senggolan, sandaran, cubitan, menggosokkan bagian tubuh, menepuk bagian tubuh seseorang, meremas bagian tubuh seseorang, membelai bagian tubuh seseorang, pelaku mempertontonkan bagian tubuhnya, menyobek, menarik, merenggut pakaian seseorang.

(39)

a. Pelecehan seksual secara verbal seperti pernyataan-pernyataan yang dirasakan sebagai penghinaan, lelucon- lelucon seksual, komentar-komentar seksual (misalnya komentar-komentar mengenai pakaian, tubuh dan wajah seseorang), siulan, pemberian nama sebutan “cewek”, “sayang”, “manis”, “cinta” dan sejenisnya, pertanyaan tentang fantasi seksual, bahasa yang bersifat mengancam dan cabul serta rayuan seks verbal.

b. Pelecehan seksual secara nonverbal seperti pandangan yang terus-menerus, komentar atau gambar (misal gambar atau komentar mengenai laki- laki dan perempuan dalam gelas, topi, baju, dinding, layar komputer dan lain sebagainya), isyarat-isyarat seksual, ekspresi-ekspresi wajah (mengedipkan mata, melemparkan ciuman, menjilat bibir), memperlihatkan gambar-gambar porno, barang-barang porno, lukisan- lukisan grafis, surat, email, poster dan hadiah yang mengandung unsur seksual.

(40)

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelecehan Seksual

Tindak kekerasan terhadap perempuan dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Poerwandari (dalam Luhulima, 2000:14-19) mengemukakan 3 faktor yang mempengaruhi tindak kekerasan terhadap perempuan, khususnya pelecehan seksual terhadap perempuan yaitu : a. Faktor Internal

(41)

b. Karakteristik korban

Karakteristik korban tindak pelecehan seksual berkaitan dengan jenis kelamin, usia dan status perkawinan (Fiztgerald dalam Fauziyah, 2003:20). Menurut Wignjosoebroto (dalam Supanto, 1999:7) korban tindak pelecehan seksual sebagian besar berjenis kelamin perempuan dan pelakunya hampir pasti laki- laki. Kurnianingsih (2003:119) menambahkan bahwa perempuan yang belum atau tidak menikah akan lebih banyak menjadi korban pelecehan seksual dibandingkan perempuan yang sudah menikah, namun hal ini lebih berkaitan dengan usia. Zastrow dan Ashman (dalam Kurnianingsih, 2003:119) menyatakan bahwa perempuan di bawah 20 tahun memiliki dua kali lipat resiko menjadi korban pelecehan seksual dibandingkan perempuan yang berusia 20-40 tahun. Selain itu, Poerwandari (dalam Luhulima, 2000:15) mengemukakan bahwa tindak pelecehan seksual disebabkan oleh tingkah laku korban yang dianggap mengundang hasrat seksual pelaku untuk melakukan pelecehan seksual misalnya, cara berperilaku, cara berpakaian, cara berdandan, berada di tempat sepi pada malam hari, membiarkan diri terlibat pembicaraan porno dengan pelaku dan sebagainya (Muttaqin & Adib, 2005:21; Yuarsi dkk, 2001:47; Rosmalinda dkk, 2002:78).

c. Struktur Sosial

(42)

dapat diprediksi (Rahman dkk, 2002:15). Keteraturan perilaku ini dibentuk berdasarkan status dan peran individu dalam masyarakat (Rahman dkk, 2002:15). Struktur sosial yang berkembang di Indonesia merupakan struktur sosial yang berdasar pada budaya patriarki. Menurut Rahman dkk (2002:16), budaya patriarki adalah suatu budaya yang menganggap bahwa laki- laki lebih superior terhadap perempuan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Budaya patriarki ini menganggap laki- laki dominan dan memiliki kontrol atas perempuan, atas badannya, seksualitasnya, pekerjaan, peran dan statusnya dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat (Rosmalinda dkk, 2002:84).

(43)

di belakang (Fakih, 1996:8; Poerwandari, 2000:17; Subono, 2002:102).

Laki- laki dengan kekuasaan dan hak- hak istimewa yang dimiliki dalam berbagai bidang tersebut membuat mereka cenderung merasa lebih unggul dibanding perempuan sehingga kaum laki- laki merasa mempunyai hak dan kebebasan untuk berbuat semena- mena terhadap perempuan termasuk dengan berbagai wujud tindak kekerasan (Nadia dalam Kollman, 1998:3), salah satunya adalah pelecehan seksual. Hal ini didukung dengan adanya suatu pandangan bahwa perempuan memiliki beberapa sifat seksual antara lain “menggoda dan menggairahkan”, pandangan-pandangan bahwa perempuan adalah obyek seksual laki- laki, dan karenanya telah memberikan kesempatan laki- laki untuk mengintimidasi perempuan secara seksual (Rahman dkk, 2002:18).

(44)

pelecehan seksual terhadap perempuan. Sedangkan kelompok usia 40-54 tahun memiliki rata-rata potensi yang lebih rendah untuk me lakukan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan dibandingkan kelompok usia 39 tahun ke bawah dan kelompok usia 55 tahun ke atas memiliki potensi yang paling rendah untuk melakukan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan dibandingkan 2 kelompok yang lainnya. Hal ini didukung oleh pendapat Harvey dan Smith (dalam Kusumiati, 2001:8) yang mengemukakan bahwa usia turut mempengaruhi sikap seseorang. Subyek yang memiliki usia semakin dewasa tentunya memiliki lebih banyak pengalaman yang dapat dijadikan pertimbangan dalam bersikap.

(45)

proses ke arah yang lebih baik sesuai dengan tujuan setiap tingkat pendidikan, jadi seharusnya individu yang telah mencapai tahap tertinggi akan mampu bersikap lebih baik melalui pertimbangan yang dimilikinya (Kusumiati, 2001:5).

Subyek dalam penelitian yang dilakukan oleh Kusumiati terdiri dari subyek yang berjenis kelamin laki- laki yang berpendidikan tinggi (Akademi, Diploma, Perguruan Tinggi), subyek berpendidikan menengah (SLTA) dan subyek berpendidikan rendah (SLTP dan SD). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tindak pelecehan seksual terhadap perempuan yang dilakukan oleh laki- laki yang berpendidikan tinggi dan menengah cenderung rendah dan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan yang dilakukan oleh laki- laki berpendidikan dasar cenderung tinggi (Kusumiati, 2001:8-9). Individu yang berpendidikan tinggi dan menengah cenderung lebih memiliki pertimbangan yang lebih baik dalam bersikap dibandingkan dengan individu yang berpendidikan dasar (Kusumiati, 2001:8). Individu dengan pendidikan tinggi dan menengah akan merasa ikut bertanggungjawab bahwa pelecehan seksual adalah salah satu masalah yang ada di dalam masyarakat. Oleh karena itu, individu cenderung lebih menghargai perempuan sebagai sesama makhluk Tuhan dan bukan sebagai objek seksual laki- laki (Kusumiati, 2001:8).

(46)

faktor internal, karakteristik korban, struktur sosial dalam masyarakat, usia dan pendidikan.

D. Dinamika Hubungan antara Kesadaran Kesetaraan Gender pada

Laki-laki Dewasa Awal dan Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan

(47)

Berbagai bentuk ketidakadilan terhadap perempuan tersebut membuat banyak pihak yang peduli terhadap nasib kaum perempuan berupaya memperjuangkan kesetaraan gender dengan cara mensosialisasikan nilai- nilai kesetaraan melalui publikasi, aksi-aksi, strategi pembangunan dan pelatihan atau seminar-seminar yang melibatkan kaum laki- laki di dalamnya (Tukiran & Darwin, 2001:251; Subono, 2002:101). Berbagai informasi tentang kesetaraan gender diharapkan dapat menambah pengetahuan, mengubah keyakinan, membantu memperluas gagasan- gagasan baru mengenai relasi gender dan pandangan yang telah melekat di dalam diri individu dari keyakinan terhadap ketidaksetaraan menjadi keyakinan akan kesetaraan gender (Nurhayati, 2005:74). Dalam proses sosialisasi nilai-nilai kesetaraan baik melalui publikasi, aksi-aksi, strategi pembangunan dan pelatihan atau seminar, ada laki- laki yang mengambil gagasan dalam sosialisasi nilai- nilai kesetaraan gender tersebut secara serius namun ada juga yang tidak terlalu serius menanggapi berbagai bentuk sosialisasi kesetaraan gender (Staggenborg, 2003:43).

(48)

perempuan serta bagaimana perolehan manfaat antara laki- laki dan perempuan.

Laki- laki dewasa awal yang kurang memiliki kesadaran kesetaraan gender cenderung menganggap bahwa laki- laki lebih memiliki hak untuk terlibat dan ikutserta dalam perencanaan, pengambilan keputusan dan pelaksanaan segala kegiatan baik dalam wilayah publik maupun domestik dibandingkan perempuan. Selanjutnya, dalam segi akses, laki- laki lebih memiliki kesempatan untuk menggunakan sumber daya dibandingkan perempuan, misalnya saja perempuan tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah tinggi-tinggi. Selain itu, laki- laki juga cenderung lebih me miliki kontrol dalam pengambilan keputusan atas penggunaan dan pemanfaatan sumber daya di berbagai bidang kehidupan dibandingkan perempuan. Lebih lanjut lagi, perempuan cenderung kurang memiliki kesempatan untuk memperoleh manfaat dari berbagai kegiatan baik perempuan tersebut sebagai pelaku maupun sebagai pemanfaat dan pengikat hasil.

(49)

Tindak pelecehan seksual terhadap perempuan tidak terlepas dari kondisi psikis individu yaitu keinginan individu untuk menggoda dan kondisi psikis individu yang tertekan membuat individu mengalihkan perasaan tertekan tersebut dengan melakukan pelecehan seksual. Selain itu, karakteristik korban yang mana cara berperilaku dan penampilan perempuan dianggap dapat mengundang hasrat seksual laki- laki untuk melakukan pelecehan seksual. Selanjutnya, struktur sosial budaya yang menempatkan kedudukan laki- laki di atas perempuan membuat laki- laki cenderung memandang perempuan sebagaimana laki- laki ingin memandang dan merasa berhak serta bebas melakukan apa saja, termasuk menghina, merendahkan termasuk melecehkan perempuan secara seksual (Poerwandari dalam Luhulima, 2000: 14-19; Nelson dkk, 2000:149). Lebih lanjut lagi, secara usia, laki- laki pada masa dewasa awal cenderung memiliki hasrat seksual yang tinggi sehingga sangat memungkinkan untuk melakukan pelecehan seksual (Padavic & Orcutt dalam Wardoyo, 2002:25-26). Kesadaran kesetaraan gender yang rendah yang terkait dengan kondisi psikis individu, karakteristik korban, struktur sosial serta usia inilah yang mengakibatkan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan cenderung tinggi baik pelecehan seksual secara verbal, non verbal dan fisik.

(50)

juga memiliki kesamaan hak dalam akses atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya di berbagai bidang kehidupan. Laki- laki dewasa awal yang sadar akan kesetaraan gender, menganggap bahwa perempuan memiliki kesamaan wewenang dalam pengambilan keputusan atas penggunaan dan pemanfaatan berbagai macam sumber daya di berbagai bidang kehidupan. Selanjutnya, laki- laki dewasa awal yang cenderung memiliki kesadaran kesetaraan gender sangat mungkin juga mengakui bahwa laki- laki dan perempuan memiliki kesamaan dalam perolehan manfaat di berbagai bidang kehidupan.

(51)
(52)

E.

Hubungan antara Kesadaran Kesetaraan Gender pada Laki-laki

Dewasa Awal dan Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan

Kesadaran kesetaraan gender tinggi meliputi: 1. Kesamaan dalam partisipasi

atau peran

1. Kesamaan dalam akses 2. Kesamaan dalam kontrol 3. Kesamaan dalam perolehan

manfaat

Kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki

dewasa awal

(53)

E. Hipotesis

(54)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional. Penelitian korelasional bertujuan untuk menyelidiki kaitan antara variasi pada satu variabel dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain berdasarkan koefisien korelasi (Azwar, 1999:8). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kesadaran kesetaraan gender dan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan.

B. Identifikasi Variabel Penelitian

1. Variabel Bebas : Kesadaran Kesetaraan Gender

2. Variabel Tergantung : Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan

C. Definisi Operasional

1. Kesadaran Kesetaraan Gender

(55)

penelitian ini akan diukur dengan menggunakan skala kesadaran kesetaraan gender yang terdiri dari beberapa aspek. Aspek-aspek kesadaran kesetaraan gender yaitu:

a. Kesadaran akan partisipasi atau peran adalah mengetahui, merasakan dan meyakini bahwa laki- laki dan perempuan memiliki kesamaan untuk terlibat dan ikutserta dalam perencanaan dan pengambilan keputusan maupun pelaksanaan segala kegiatan baik dalam wilayah publik maupun domestik.

b. Kesadaran akan akses adalah mengetahui, merasakan dan meyakini bahwa laki- laki dan perempuan memiliki peluang atau kesempatan yang sama untuk menggunakan sumber daya.

c. Kesadaran akan kontrol adalah mengetahui, merasakan dan meyakini bahwa laki- laki dan perempuan memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan pemanfaatan hasil sumber daya.

d. Kesadaran akan manfaat adalah mengetahui, merasakan dan meyakini bahwa laki- laki dan perempuan memiliki kesamaan untuk memperoleh manfaat dari berbagai kegiatan baik sebagai pelaku maupun sebagai pemanfaat dan pengikat hasil tersebut.

(56)

kesadaran kesetaraan gender yang dimiliki oleh subyek. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh subyek, maka semakin rendah kesadaran subyek akan kesetaraan gender.

2. Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan

Tindak pelecehan seksual terhadap perempuan adalah segala bentuk perilaku seksual yang dilakukan oleh laki- laki yang dapat menimbulkan akibat negatif pada perempuan sebagai korban. Tindak peleceha n seksual terhadap perempuan tersebut diukur dengan menggunakan skala tindak pelecehan seksual terhadap perempuan yang terdiri dari beberapa aspek, yaitu:

a. Pelecehan seksual secara verbal atau lisan seperti pernyataan-pernyataan yang dirasakan sebagai penghinaan, lelucon- lelucon seksual, komentar-komentar seksual (misalnya komentar mengenai pakaian, tubuh dan wajah seseorang), siulan, pemberian nama sebutan

“cewek”, “sayang”, “manis”, “cinta” dan sejenisnya, pertanyaan tentang fantasi seksual, bahasa yang bersifat mengancam dan cabul serta rayuan seks verbal.

(57)

porno, lukisan- lukisan grafis, surat, email, poster dan hadiah yang mengandung unsur seksual.

c. Pelecehan seksual secara fisik seperti semua sentuhan atau rabaan yang tidak dikehendaki, senggolan, sandaran, cubitan, menggosokkan bagian tubuh ke tubuh orang lain, menepuk bagian tubuh seseorang, meremas bagian tubuh seseorang, membelai bagian tubuh seseorang, rayuan seks badani, pelaku mempertontonkan bagian tubuhnya dan serangan seks (ciuman, menyobek, menarik, merenggut pakaian seseorang hingga perkosaan).

Tingkat tindak pelecehan seksual terhadap perempuan yang dilakukan oleh individu ditunjukkan melalui skor total yang diperoleh subyek dari skala tindak pelecehan seksual terhadap perempuan. Semakin tinggi skor yang diperoleh subyek maka semakin tinggi tindak pelecehan seksual terhadap perempuan yang dilakukan oleh subyek. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh subyek, maka semakin rendah tindak pelecehan seksual terhadap perempuan yang dilakukan oleh subyek.

D. Subyek Penelitian

(58)

Subyek yang digunakan pada penelitian ini berjenis kelamin laki- laki dengan karakteristik:

1. Laki- laki dengan kategori usia dewasa awal yaitu usia 20-34 tahun. Dipilihnya laki- laki kategori dewasa awal disebabkan karena laki- laki pada kategori ini cenderung memiliki vitalitas atau dorongan seksual yang tinggi (Subardjono & Abar, 1998:11). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Padavic dan Orcutt (dalam Wardoyo, 2002:25-26), laki-laki yang berusia dibawah 39 tahun memiliki potensi besar melakukan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan.

(59)

E. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan kuesioner yang disusun oleh peneliti dengan menggunakan metode skala. Skala adalah rangkaian pengukuran aturan tertentu yang mengukur suatu sifat atau atribut (Supratiknya, 1998:6). Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala dengan metode rating yang dijumlahkan (Methods of Summated Ratings) atau penskalaan model Likert yaitu metode penskalaan pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya (Azwar, 2005:139).

Skala tersebut akan dibagikan secara langsung kepada subyek selaku responden. Responden diminta merespon pernyataan-pernyataan favorabel dan unfavorabel tentang suatu obyek. Pernyataan favorabel adalah pernyataan yang mendukung atau memihak terhadap obyek yang akan diukur, sedangkan pernyataan unfavorabel adalah pernyataan yang tidak mendukung atau berlawanan terhadap obyek yang diukur (Supratiknya, 1998:59).

(60)

1. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari dua buah skala pengukuran, yaitu:

a. Skala Kesadaran Kesetaraan Gender

Skala kesadaran kesetaraan gender ini digunakan untuk mengetahui kesadaran laki- laki dewasa awal akan kesetaraan gender yang terdiri dari beberapa aspek yaitu partisipasi atau peran, akses, kontrol dan manfaat. Skala ini mencakup 40 item pernyataan yang terdiri dari 20 item favorabel dan 20 item unfavorabel.

(61)

Tabel 3.1

Blue Print Skala Kesadaran Kesetaraan Gender

Item Jumlah

Aspek

Favourabel Unfavourabel %

Partisipasi

b. Skala Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan

Skala tindak pelecehan seksual terhadap perempuan ini terdiri dari beberapa aspek yaitu pelecehan seksual secara verbal, pelecehan seksual secara nonverbal dan pelecehan seksual secara fisik. Skala ini mencakup 72 item pernyataan yang terdiri dari 36 item favorabel dan 36 item unfavorabel.

(62)

dewasa awal cenderung tinggi. Sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh responden maka tindak pelecehan seksual terhadap perempuan yang dilakukan laki- laki dewasa awal sebagai cenderung rendah. Berikut ini disajikan blue print skala tindak pelecehan seksual terhadap perempuan:

Tabel 3.2

Blue Print Skala Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan

Item Jumlah

Aspek

Favourabel Unfavourabel %

Pelecehan

Uji coba alat ukur dilakukan sebelum melaksanakan penelitian. Uji coba dilakukan untuk melihat kelayakan item yang akan digunakan dalam penelitian dan reliabilitas alat ukur yang nantinya akan digunakan dalam penelitian yang sesungguhnya. Uji coba alat ukur dilaksanakan pada tanggal 7 dan 8 September 2008 di Terminal Kota Klaten.

(63)

sebanyak 80 orang. Seluruh subyek dalam uji coba penelitian ini diminta untuk mengisi skala ukur yang terdiri dari 2 jenis skala yaitu skala kesadaran kesetaraan gender dan skala tindak pelecehan seksual terhadap perempuan.

G. Validitas dan Reliabilitas

Sebelum skala penelitian yang sesungguhnya diujicobakan, terlebih dahulu dilakukan uji coba terhadap skala dengan responden yang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan responden penelitian untuk memperoleh validitas dan reliabilitas.

1. Validitas

Validitas merupakan karakteristik utama yang harus dimiliki oleh setiap skala (Azwar, 2005:7). Validitas adalah ketepatan dan kecermatan skala dalam menjalankan fungsi ukurnya, artinya sejauhmana suatu skala mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Azwar, 2005:7; Supratiknya, 1998:47). Validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

a. Validitas Isi

Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi melalui analisis rasional terhadap isi tes yang didasarkan pada penilaian yang bersifat subjektif atau yang disebut dengan professional judgement

(64)

yang telah dibuat pada setiap skala kepada pihak yang berkompeten. Pihak yang berkompeten menurut peneliti yaitu dosen pembimbing. b. Seleksi Item

Hal yang paling penting dalam seleksi item adalah daya beda atau daya diskriminasi item yang berarti sejauhmana suatu item mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan yang tidak memiliki atribut yang diukur (Azwar, 2005:58). Suatu item dapat dikatakan baik apabila item tersebut berdaya beda tinggi yaitu mempunyai kemampuan untuk membedakan individu yang bersikap positif dan individu yang bersikap negatif (Azwar, 2005:59).

Teknik yang digunakan untuk menyeleksi item dalam penelitian ini adalah dengan mengkorelasikan skor item dengan skor item total yang akan menghasilkan koefisien korelasi item total (rix).

Koefisien korelasi dapat dikatakan baik apabila batasan koefisien korelasi tersebut = 0,30. Item yang koefisien korelasinya kurang dari 0,30 dapat diinterpretasikan sebagai item yang memiliki daya beda rendah (Azwar, 2005:65).

1)Skala Kesadaran Kesetaraan Gender

(65)

butir yang terdiri dari 20 item favorabel dan 20 item unfavorabel. Sebaran item yang sahih dan gugur dapat dilihat di dalam tabel di bawah ini:

Tabel 3.3

Item yang Sahih dan Gugur pada Skala Kesadaran Kesetaraan gender

(66)

Selanjutnya, peneliti menyetarakan jumlah item dengan cara menyamakan jumlah item terkecil. Akan tetapi, jika menyetarakan jumlah item setiap aspek berdasarkan jumlah item terkecil yaitu 6 buah item pada setiap aspeknya maka jumlah total item dalam skala kesadaran kesetaraan gender hanya berjumlah 24 item. Menurut Azwar (2005:62) jumlah item yang kurang dari 30 buah dalam suatu skala penelitian akan menyebabkan terjadinya

(67)

Tabel 3.4

Distribusi Item Skala Kesadaran Kesetaraan Gender untuk Penelitian

Item

No. Aspek Favorabel Unfavorabel Jumlah

1. Partisipasi dan peran 2)Skala Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan

(68)

Tabel 3.5

Item yang Sahih dan Gugur pada Skala Pelecehan Seksual terhadap Perempuan

(69)

Agar komposisi jumlah item tiap aspek tetap proporsional dan seimbang, maka dilakukan pemangkasan item dengan cara membuang item yang memiliki korelasi terkecil dari item yang tidak gugur sehingga didapatkan jumlah item yang seimbang. Keseluruhan jumlah item yang gugur dan dibuang berjumlah 3 buah item yaitu item nomor 14, 28 dan 54 sehingga jumlah item pada setiap aspek sebanyak 15 item. Sebaran koefisien korelasi item total pada skala tindak pelecehan seksual terhadap perempuan setelah disetarakan berkisar antara 0,304 sampai dengan 0,723. Berikut ini disajikan distribusi item skala tindak pelecehan seksual untuk penelitian:

Tabel 3.6

Distribusi Item Skala Tindak Pelecehan Seksual terhadap Perempuan untuk Penelitian

Item

No. Aspek Favorabel Unfavorabel Jumlah

(70)

2. Reliabilitas

Reliabilitas menunjuk kepada taraf keterpercayaan atau taraf konsistensi hasil ukur (Azwar, 2005:95). Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan data jawaban respon yang dihasilkan dari uji coba item (Azwar, 2005:83). Reliabilitas dinyatakan dengan koefisien reliabilitas (rxx) yang memiliki rentang dari 0 hingga 1.00. Artinya,

semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1.00 maka semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya, semakin rendah koefisien reliabilitas mendekati angka 0 maka semakin rendah juga reliabilitasnya (Azwar, 2005:83). Pada penelitian ini, digunakan pendekatan konsistensi internal untuk memperkirakan tinggi rendahnya reliabilitas dengan menggunakan teknik estimasi Alpha (α) dari Cronbach. Data untuk menghitung

koefisien reliabilitas Alpha diperoleh lewat penyajian skala yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok responden (Azwar, 2005:87). Hasil perhitungan koefisien reliabilitas alpha skala kesadaran kesetaraan gender sebesar 0,908 dan koefisien reliabilitas alpha pada skala tindak pelecehan seksual terhadap perempuan sebesar 0,941.

H. Metode Analisis Data

(71)

terhadap perempuan. Penghitungan koefisien korelasi ini menggunakan SPSS

(72)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Orientasi Kancah Penelitian

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu kota budaya, kota pendidikan dan kota pariwisata yang selayaknya memiliki berbagai macam fasilitas yang memadai, salah satunya adalah terminal penumpang. Terminal penumpang menurut Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 1995 mengenai Terminal Transportasi Jalan didefinisikan sebagai sarana transportasi darat yang berdaya guna menaikkan dan menurunkan penumpang, perpindahan intra atau antar transportasi, mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum (Kompas, 17 September 2003).

(73)

Terminal penumpang, menurut fungsinya, dibagi dalam tiga tipe yaitu terminal tipe A, B, dan C dimana terminal tipe A berfungsi melayani kendaraan umum AKAP (angkutan lintas batas negara), AKDP (angkutan antarkota dalam provinsi), angkutan kota, dan angkutan pedesaan; terminal tipe B berfungsi melayani AKDP, angkutan kota dan angkutan pedesaan dan terminal tipe C yang berfungsi melayani angkutan pedesaan (Kompas, 17 Sptember 2003).

Terminal Penumpang Yogyakarta merupakan terminal terbesar yang memiliki fungsi terminal tipe A dengan berbagai macam fasilitas yang memadai dibandingkan terminal lain di Yogyakarta, fasilitas yang terdapat dalam Terminal Penumpang Yogyakarta diantaranya:

1. Fasilitas Utama meliputi jalur kedatangan, jalur pemberangkatan, tempat parkir kendaraan termasuk tempat tunggu dan istirahat awak kendaraan umum, bangunan kantor pengelola, tempat tunggu penumpang atau pengantar, menara penga was, loket atau kios penjualan karcis, rambu-rambu dan papan informasi, pelataran parkir kendaraan pengunjung atau taksi.

2. Fasilitas Penunjang meliputi kamar mandi, musholla, pos keamanan, kios atau kantin atau warung makan, ruang pengobatan atau poliklinik, ruang informasi dan pengaduan, telepon umum, tempat penitipan barang, kantor organisasi, bengkel dan taman.

(74)

Terminal Penumpang Yogyakarta ini dikelola dengan baik oleh PT Perwita Karya Yogyakarta bekerjasama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta. Terminal Penumpang Yogyakarta ini juga merupakan terminal yang cenderung terjaga keamanannya. Untuk mengatasi dan menekan intensitas tindak kriminalitas yang sangat mungkin terjadi di dalam Terminal Penumpang Yogyakarta, bagian keamanan terminal sangat intensif melakukan berbagai macam operasi baik terhadap preman, pengamen, pedagang asongan dan lain sebagainya. Bahkan dalam Terminal Penumpang Yogyakarta ini, terdapat suatu peraturan yang menyatakan bahwa pengamen dan pedagang asongan tidak diperbolehkan untuk memasuki kawasan terminal.

B. Persiapan Penelitian

1. Perizinan Penelitian

Sebelum peneliti melaksanakan penelitian, terlebih dahulu peneliti memohon izin kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Permohonan izin dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam melaksanakan penelitian.

(75)

Ibu Reni memberitahukan syarat-syarat atau prosedur pelaksanaan penelitian yang harus dipenuhi oleh peneliti diantaranya, surat izin penelitian dari Dinas Perizinan Kota Yogyakarta.

Langkah kedua, pada tanggal 6 Oktober 2008 peneliti memohon izin kepada Dinas Perizinan Kota Yogyakarta untuk melaksanakan penelitian di Terminal Penumpang Yogyakarta dengan melampirkan surat rekomendasi kepada Walikota Cq. Ka. Dinas Perizinan Kota Yogyakarta, Surat Keterangan Penelitian bernomor 81a/D/KP/Psi/USD/IX/2008 yang telah disyahkan oleh Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, proposal dan kuesioner penelitian yang telah disyahkan oleh Dosen Pembimbing dan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta serta fotokopi identitas di dalam sebuah stop map berwarna merah.

(76)

C. Pelaksanaan penelitian

Penelitian dengan tujuan mencari hubungan antara kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal dan tindak pelecehan terhadap perempuan dilaksanakan di Terminal Penumpang Yogyakarta. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama 3 tahap. Penelitian tahap pertama, dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2008 pukul 12.00-17.30 WIB. Penelitian tahap pertama ini dilakukan di lorong terminal, di bawah tangga, di depan musholla dan toilet serta di ruang tunggu penumpang atau pengantar. Jumlah subyek yang diperoleh pada penelitian tahap pertama ini yaitu 49 orang.

Penelitian tahap kedua dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 2008 pukul 12.00-17.00 WIB. Penelitian tahap kedua dilakukan di tempat parkir, di bawah tangga, di depan musholla dan toilet, di sekitar ruang tunggu bus jurusan Surabaya dan di ruang tunggu penumpang atau pengantar. Jumlah subyek yang diperoleh pada penelitian tahap kedua ini berjumlah 28 orang.

Penelitian tahap ketiga dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober 2008 pukul 12.30-16.30 WIB yang dilakukan di ruang tunggu penumpang dan di depan musholla serta toilet. Jumlah subyek yang diperoleh pada penelitian ini berjumlah 23 orang. Jumlah keseluruhan subyek dalam penelitian ini adalah 100 orang.

(77)

pengisian kuesioner tersebut. Kuesioner yang telah diisi oleh subyek dikembalikan secara langsung kepada peneliti. Hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan jawaban subyek agar tidak diketahui oleh orang lain selain peneliti. Apabila ada subyek yang tidak berkenan untuk membantu peneliti mengisi kuesioner, peneliti tetap mengucapkan terima kasih. Kuesioner yang dibagikan kepada subyek tersebut kembali semuanya dan semua kuesioner memenuhi syarat untuk dianalisis.

D. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini berjumlah 100 orang dan semua kuesioner memenuhi syarat untuk dianalisis. Peneliti mencantumkan beberapa identitas diri subyek yaitu usia, suku bangsa dan pendidikan terakhir di dalam kuesioner sebagai informasi tambahan mengenai subyek penelitian.

a. Identitas Usia Subyek

(78)

Tabel 4.1

Tabel Identitas Usia Subyek

Usia Jumlah Prosentase

20 tahun 10 orang 10%

(79)

b. Identitas Suku Bangsa Subyek

Subyek dalam penelitian ini berasal dari berbagai macam latar belakang suku bangsa, diantaranya suku bangsa Jawa, Sunda, Betawi, Mandailing (Medan), suku Lampung dan Flores. Berikut ini prosentase distribusi suku bangsa subyek.

Tabel 4.2

Tabel Suku Bangsa Subyek

Suku Bangsa Jumlah Prosentase

Jawa 92 orang 92%

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa ada 92 orang subyek penelitian berasal dari suku bangsa Jawa (92%), 4 orang subyek berasal dari suku Sunda (4%), 1 orang subyek berasal dari suku Betawi (1%), 1 orang subyek berasal dari suku Mandailing (1%), 1 orang subyek berasal dari suku Lampung (1%) dan 1 orang subyek berasal dari suku Flores (1%).

c. Identitas Tingkat Pendidikan Subyek

(80)

Tabe l 4.3

Tabel Tingkat Pendidikan Subyek

Pendidikan Jumlah Prosentase

Perguruan Tinggi/S1 17 orang 17%

Diploma IV 3 orang 3%

Pada tabel, kita dapat mengetahui bahwa subyek dalam penelitian ini yaitu 17 orang subyek berpendidikan terakhir perguruan tinggi (17%), 3 orang subyek berpendidikan terakhir Diploma IV (3%), 7 orang subyek berpendidikan terakhir Diploma III (7%), 2 orang subyek berpendidikan terakhir Diploma I (2%), 53 orang subyek berpendidikan terakhir SLTA (53%), 11 orang subyek berpendidikan terakhir SLTP (11%), 4 orang subyek berpendidikan terakhir SD (4%) dan 3 orang subyek tidak mengenyam bangku sekolah (3%).

2. Deskripsi Data Penelitian

(81)

Tabel 4.4

Statistik Empiris Teoritis Empiris Teoritis

Mean (µ) 89,23 75 92,25 112,5

X Max 118 120 157 180

X Min 57 30 47 45

SD (s) 12,380 15 18,749 22,5

Jumlah item pada skala kesadaran kesetaraan gender yaitu 30 item dengan skor terkecil 1 dan skor terbesar 4. Skor terkecil (Xmin) pada skala kesadaran kesetaraan gender yaitu 30 x 1 = 30, sedangkan skor terbesar (Xmax) yaitu 30 x 4 = 120. Rentang skor skala kesadaran kesetaraan gender yaitu dari 30 sampai 120. Oleh karena itu, besar jaraknya adalah 120 – 30 = 90, dan standar deviasi yang diperoleh yaitu 90 : 6 = 15. Di samping itu, besar mean teoritis (µ) pada skala kesadaran kesetaraan gender ialah (30+120) : 2 = 75.

Jumlah item pada skala berikutnya yaitu skala tindak pelecehan seksual adalah 45 dengan skor terkecil 1 dan skor terbesar 4. Skor minimum (Xmin) pada skala tindak pelecehan seksual adalah 45 x 1 = 45 dan skor maksimum (Xmax) sebesar 45 x 4 = 180. Oleh karena itu, didapat rentang skor skala tindak pelecehan seksual yaitu dari 45 sampai 180 atau besar jaraknya adalah 180 – 45 = 135 sehingga standar deviasinya yaitu 135 : 6 = 22,5. Mean teoritis (µ) pada skala tindak pelecehan seksual ialah (45 + 180) : 2 = 112,5.

(82)

(89,23>75). Data ini menunjukkan bahwa subyek pada penelitian ini yaitu laki- laki pada masa dewasa awal rata-rata memiliki kesadaran kesetaraan gender yang cenderung tinggi. Sedangkan pada skala tindak pelecehan seksual, mean empiris lebih kecil daripada mean teoritis (92,25<112,5). Hal ini berarti bahwa tindak pelecehan seksual yang dilakukan oleh laki-laki pada masa dewasa awal cenderung rendah.

E. Uji Asumsi Penelitian

Sebelum me lakukan analisis data, terlebih dahulu harus dipenuhi syarat untuk analisis yaitu dengan melakukan uji asumsi meliputi uji normalitas dan uji linearitas.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran variabel bebas dan variabel tergantung bersifat normal atau tidak. Asumsi uji normalitas adalah jika nilai probabilitas atau p>0,05 (Triton, 2006:79). Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov Test dari program SPSS for windows versi 12.0. Pada tabel di bawah ini dapat dilihat hasil uji normalitas 2 variabel.

(83)

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa pada variabel kesetaraan gender memiliki nilai probabilitas sebesar 0,218 (p>0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel kesetaraan gender memenuhi syarat uji normalitas. Pada variabel pelecehan seksual, nilai probabilitas sebesar 0,376 (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa variabel pelecehan seksual memenuhi syarat uji normalitas. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kedua variabel tersebut memenuhi syarat uji normalitas.

2. Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah variebel bebas dan variabel tergantung membentuk kurva linear atau bergaris lurus atau tidak. Uji linearitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

SPSS for windows versi 12.0. Asumsi uji linearitas adalah nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05 atau p<0,05. Hasil uji linearitas menunjukkan bahwa variabel kesadaran kesetaraan gender dan tindak pelecehan seksual bersifat linear. Hal ini dapat dilihat dari nilai p lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,000<0,05.

3. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment dari Carl Pearson melalui program SPSS for windows versi 12.0. Taraf signifikasi dalam penelitian ini menggunakan taraf signifikasi 0,01 atau disebut dengan taraf signifikasi

(84)

0,487 dengan nilai p=0,000 (p<0,01). Hal ini berarti ada hubungan negatif antara kesadaran kesetaraan gender dan tindak pelecehan seksual. Artinya, semakin tinggi kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal maka semakin rendah tindak pelecehan seksual terhadap perempuan dan begitu pula sebaliknya, semakin rendah kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal maka semakin tinggi tindak pelecehan seksual terhadap perempuan.

Koefisien determinasi dalam penelitian ini sebesar 0,237. Artinya, kesadaran kesetaraan gender memberi sumbangan yang efektif terhadap terjadinya tindak pelecehan seksual sebesar 23,7%. Adanya sumbangan 23,7% variabel kesadaran kesetaraan gender terhadap tindak pelecehan seksual menunjukkan bahwa ada faktor lain sebesar 76,3% yang mempengaruhi terjadinya tindak pelecehan seksual.

F. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis penelitian yang berbunyi “ada hubungan negatif antara kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal dan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan“. Hasil analisis data dengan menggunakan SPSS for windows versi 12.0

(85)

kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal dan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan dapat diterima. Artinya, semakin tinggi kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal maka semakin rendah tindak pelecehan seksual terhadap perempuan. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah kesadaran kesetaraan gender pada laki- laki dewasa awal maka semakin tinggi tindak pelecehan seksual terhadap perempuan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Fakih (1996:17) yang menyatakan bahwa salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yaitu tindak pelecehan seksual merupakan kekerasan berbasis gender yang disebut dengan gender related violence. Kekerasan ini disebabkan karena pola relasi kekuasaan antara laki- laki dan perempuan yang timpang yang dikonstruksi oleh budaya (Ridwan, 2006:29; Fakih, 1996:29). Hal ini didukung oleh pendapat Sabaroedin (dalam Ellyawati dkk, 200:104) yang mengemukakan bahwa pelecehan seksual disebabkan karena nilai- nilai dalam masyarakat yang menganggap perempuan tidak sejajar dengan laki- laki.

(86)

dengan konsep kesetaraan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Connell (dalam Staggenborg, 2003:44) yang menunjukkan bahwa berbagai macam informasi tentang kesetaraan gender memberikan perubahan sesuai dengan konsep kesetaraan gender yang diperlihatkan laki- laki terutama dalam sikap dan pembagian peran individual.

Selain itu, kesadaran kesetaraan gender pada individu juga dipengaruhi oleh pendidikan. Berdasarkan tahap pendidikan yang dilalui individu, individu akan mengalami proses ke arah yang lebih baik. Individu yang telah mencapai tahap pendidikan yang tinggi cenderung mampu bersikap melalui pertimbangan yang dimilikinya dan sebaliknya, individu yang berpendidikan cenderung rendah, kurang memiliki pertimbangan dalam bersikap. Menurut Hesselbart (dalam Supriyantini, 2002:16) semakin tinggi pendidikan yang ditempuh oleh individu, individu cenderung dapat berpikir lebih kritis dalam menyikapi berbagai hal dan tidak bergantung pada orang lain dibandingkan individu yang berpendidikan cenderung rendah.

(87)

kesetaraan gender cenderung menampilkan perilaku sesuai dengan apa yang diketahuinya tentang kesetaraan gender (Kusumastutie, 2003:17-18).

Laki- laki dewasa awal yang memiliki kesadaran kesetaraan gender tinggi cenderung tidak lagi memegang pandangan yang menilai peran laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, serta mempunyai kontrol dan dominasi terhadap perempuan (Nurhayati, 2005:11). Laki- laki dewasa awal ini cenderung menganggap perempuan sebagai mitra sejajar laki- laki sehingga laki- laki lebih menghargai perempuan, tidak meremehkan dan tidak merendahkan perempuan termasuk tidak melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan. Sebaliknya, laki- laki dewasa awal yang kurang memiliki kesadaran kesetaraan gender cenderung akan memandang rendah dan tetap menempatkan kedudukan perempuan di bawah laki- laki yang membuat laki- laki cenderung tidak menganggap perempuan sebagai mitra sejajar laki- laki sehingga laki- laki cenderung tidak menghargai, meremehkan termasuk melecehkan perempuan seksual.

Pada lingkungan masyarakat, struktur sosial yang berkembang di Indonesia merupakan struktur sosial yang berdasar pada budaya patriarki yang menomorsatukan laki- laki, menganggap laki- laki superior, dominan dan memiliki kontrol atas perempuan, atas badannya, seksualitasnya, pekerjaan, peran dan statusnya dalam kehidupan keluarga dan masyarakat (Rosmalinda dkk, 2002:84).

Figur

Gambar 2.1 Hubungan antara Kesadaran Kesetaraan Gender pada Laki-laki
Gambar 2 1 Hubungan antara Kesadaran Kesetaraan Gender pada Laki laki . View in document p.52
Tabel 3.2
Tabel 3 2 . View in document p.62
Tabel 3.3
Tabel 3 3 . View in document p.65
Tabel 3.4 Distribusi Item Skala Kesadaran Kesetaraan Gender untuk
Tabel 3 4 Distribusi Item Skala Kesadaran Kesetaraan Gender untuk . View in document p.67
Tabel 3.5
Tabel 3 5 . View in document p.68
Tabel 3.6
Tabel 3 6 . View in document p.69
Tabel 4.1 Tabel Identitas Usia Subyek
Tabel 4 1 Tabel Identitas Usia Subyek . View in document p.78
Tabel 4.2 Tabel Suku Bangsa Subyek
Tabel 4 2 Tabel Suku Bangsa Subyek . View in document p.79
Tabel 4.3 Tabel Tingkat Pendidikan Subyek
Tabel 4 3 Tabel Tingkat Pendidikan Subyek . View in document p.80
Tabel 4.4 Deskripsi Data Penelitian
Tabel 4 4 Deskripsi Data Penelitian . View in document p.81
Tabel 4.5 Uji Normalitas
Tabel 4 5 Uji Normalitas . View in document p.82
gambar wanita bugil kepada teman perempuan.
gambar wanita bugil kepada teman perempuan. . View in document p.161

Referensi

Memperbarui...