• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN POLA KONSU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN POLA KONSU"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

TERHADAP STATUS GIZI LANSIA BINAAN YAYASAN

MUTIARA TIMUR KELURAHAN DALAM BUGIS

K E C A M A T A N P O N T I A N A K T I M U R

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Ahli Madya Gizi (A.Md.Gizi)

Oleh :

YULINDA KURNIASARI

NIM 6.07.02.0299

JURUSAN GIZI

(2)

Dipersiapkan dan disusun oleh:

YULINDA KURNIASARI NIM. 6.07.02.0299

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada tanggal, 31 Juli 2010

Susunan dewan penguji Ketua,

Agus Hermansyah, SKM, M.PH

Anggota, Anggota,

Agustiansyah, SKM, M.Kes Jurianto Gambir, S.SiT, M.Kes

Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dibimbing oleh:

Pembimbing Utama, Pembimbing Pendamping,

Agus Hermansyah, SKM, M.PH Sopiyandi, S.Gz

Karya Tulis ilmiah ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar AHLI MADYA GIZI di Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Pontianak

Pontianak, 31 Juli 2010 Plt. Ketua Jurusan Gizi

(3)

iii Tempat, tanggal lahir : Yogyakarta, 21 Juli 1989

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jl. Arteri Supadio, Komplek Angkasa Permai A. 28

Nama Orang Tua : Ayah : Suwandi, S.SiT

Ibu : Tri Puji Astuti, S.Pd

Alamat : Jl. Arteri Supadio, Komplek Angkasa Permai A. 28

JENJANG PENDIDIKAN

1. SD Negeri 09 Sui Raya, tahun 1995-2001

2. SMP Negeri 01 Sui Raya, tahun 2001-2004

(4)

iv

DALAM BUGIS KECAMATAN PONTIANAK TIMUR

xii + 47 halaman, 18 tabel, 1 gambar, 8 lampiran

Menua merupakan proses normal yang dimulai sejak konsepsi dan berakhir saat kematian. Penambahan umur tanpa peningkatan kualitas hidup hanya akan menambah panjang penderitaan bagi yang bersangkutan, keluarga, dan masyarakat. Masalah besar yang terjadi pada lansia yaitu kemunduran fungsional tubuh yang mempengaruhi masuknya zat gizi dan semakin melemahnya sistem kekebalan tubuh. Upaya yang dilakukan agar kualitas hidup lansia tetap baik dengan mempertahankan status gizi untuk tetap optimal.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola konsumsi dan penyakit infeksi terhadap status gizi lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Penelitian bersifat analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel adalah lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur yang berjumlah 57 orang. Instrument untuk pengambilan data primer adalah kuesioner, formulir food recall 24 jam, rigid anthropometer, dan timbangan bath room scale. Analisa data menggunakan program SPSS for windows dengan menggunakan uji chi-square.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pola konsumsi dengan status gizi (p=0,177) dan tidak ada hubungan antara penyakit infeksi dengan status gizi (p=1,000). Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah agar lansia meningkatkan jenis bahan makanan, mengkonsumsi makanan sesuai dengan kebutuhan gizi, memperbaiki frekuensi makan dengan jadwal yang teratur, melakukan perubahan pola aktivitas, dan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Daftar Bacaan : 35 (1986-2009)

(5)

v

hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul

“Hubungan Pola Konsumsi dan Penyakit Infeksi Terhadap Status Gizi Lansia

Binaan Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak

Timur”.

Secara khusus penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga

kepada kedua orang tua yang telah banyak membantu penulis, baik dukungan secara

moril maupun materil. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada bapak

Agus Hermansyah, SKM, M.PH dan bapak Sopiyandi, S.Gz yang telah meluangkan

waktu untuk membimbing, mengarahkan, dan memberi masukan dalam penulisan

Karya Tulis Ilmiah ini sejak awal hingga akhir. Ucapan terima kasih juga tidak lupa

penulis sampaikan kepada:

1. Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak.

2. Dosen dan seluruh staf yang telah membimbing dan memberikan motivasi dalam

segala hal.

3. Ibu Syarifah Rayati, A.Ma.Pd selaku ketua Yayasan Mutiara Timur yang telah

memberikan izin penelitian.

4. Ibu Melly selaku kader Posyandu Lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur yang

(6)

vi

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penyusunan

Karya Tulis Ilmiah ini. Oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang

sifatnya membangun demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini dan dengan segala

keterbatasan yang ada, semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua,

Amien.

Pontianak, Juli 2010

(7)

vii

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Usia Lanjut ... 6

B. Status Gizi ... 8

C. Pola Konsumsi ...12

D. Penyakit Infeksi ...16

BAB III KERANGKA KONSEPSIONAL A. Kerangka Konsep ...20

B. Hipotesis ...20

C. Definisi Operasional ...21

BAB IV METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ...24

B. Tempat dan Waktu Penelitian ...24

C. Populasi dan Sampel ...24

D. Jenis Data ...26

E. Teknik pengumpulan Data ...26

F. Instrumen Penelitian ...27

(8)

viii

BAB VI PEMBAHASAN

A. Status Gizi ...41 B. Hubungan antara Pola Konsumsi dengan Status Gizi Lansia ...42 C. Hubungan antara Penyakit Infeksi dengan Status Gizi Lansia ...44

BAB VII PENUTUP

A. Kesimpulan ...47 B. Saran ...47

(9)

ix

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Golongan Umur di Kelurahan

Dalam Bugis

Tabel 4 Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Suku di Kelurahan Dalam Bugis

Tabel 5 Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Agama di Kelurahan Dalam

Bugis

Tabel 6 Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Jenis Pendidikan di

Kelurahan Dalam Bugis

Tabel 7 Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan di

Kelurahan Dalam Bugis

Tabel 8 Karakteristik Responden Menurut Umur, Jenis Kelamin dan Pekerjaan

Tabel 9 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Pola Konsumsi di Binaan

Yayasan Mutiara Timur

Tabel 10 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Jenis Konsumsi di Binaan

Yayasan Mutiara Timur

Tabel 11 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Kategori Jumlah Konsumsi

Energi dan Protein di Binaan Yayasan Mutiara Timur

Tabel 12 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Asupan Energi dan Protein di

Binaan Yayasan Mutiara Timur

Tabel 13 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Frekuensi Konsumsi di Binaan

Yayasan Mutiara Timur

Tabel 14 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Penyakit Infeksi di Binaan

Yayasan Mutiara Timur

Tabel 15 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Status Gizi di Binaan Yayasan

(10)

x

Tabel 18 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Penyakit Infeksi dengan

(11)
(12)

xii Lampiran 3 Penentuan Status Gizi Lansia

Lampiran 4 Daftar Nilai Satuan Ukuran Rumah Tangga (URT)

Lampiran 5 Surat Permohonan Ijin Penelitian

Lampiran 6 Surat Keterangan Penelitian

Lampiran 7 Hasil Analisis Statistik Penelitian

(13)

1

Keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional telah mewujudkan

hasil yang positif di berbagai bidang yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan

lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran serta

upaya-upaya peningkatan kesehatan yang mampu meningkatkan umur harapan hidup. Hal

tersebut mengakibatkan jumlah lanjut usia bertambah serta ada kecenderungan

meningkat lebih cepat (Depkes, 2008). Penambahan umur tanpa peningkatan kualitas

hidup tentu tak cukup karena hanya akan menambah panjang penderitaan bagi yang

bersangkutan, keluarga, dan masyarakat. Tentu sangat tidak diharapkan bila

penambahan usia itu disertai dengan mundurnya kemampuan psikis dan fisik, serta

berbagai penyakit (Suwarsa, 2006).

Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia dari tahun ke tahun

cenderung meningkat. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

(RPJMN) Depkes diharapkan Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 66,2

tahun pada tahun 2004 menjadi 70,6 tahun pada tahun 2009. Dengan meningkatnya

UHH, maka populasi penduduk lanjut usia juga akan mengalami peningkatan

bermakna. Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk lansia di Indonesia,

sebesar 24 juta jiwa atau 9,77% dari total jumlah penduduk (Depkes, 2008).

(14)

sebanyak 147.614 jiwa dan tahun 2005 meningkat menjadi 210.963 jiwa (5,21 %)

dari jumlah penduduk daerah ini (Pontianak Post, 2008).

Menua (aging) merupakan proses normal yang dimulai sejak konsepsi dan

berakhir saat kematian. Apabila seseorang berhasil mencapai usia lanjut, maka salah

satu upaya utama adalah mempertahankan atau membawa status gizi yang

bersangkutan pada kondisi optimum agar kualitas hidup yang bersangkutan tetap

baik. Lansia seperti juga tahapan-tahapan usia yang lain dapat mengalami keadaan

gizi lebih maupun kekurangan gizi. Lansia di Indonesia yang dalam keadaan gizi

kurang sebesar 28,3%, berat badan ideal berjumlah 42,4%, berat badan lebih ada

6,7% dan obesitas sebanyak 3,4% (Darmojo, 1999).

Malnutrisi merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap

kesakitan. Keadaan gizi yang buruk akan mempermudah seseorang untuk terkena

penyakit terutama penyakit-penyakit infeksi. Sebaliknya, penyakit infeksi akan

memperburuk keadaan status gizi seseorang (Sudiarti, 2007). Masalah besar

kesehatan orang berusia lanjut, antara lain semakin melemahnya sistem kekebalan

tubuh (Nadesul, 2006). Penyakit infeksi mempunyai kontribusi cukup besar terhadap

angka kematian penderita sampai akhir abad 20 pada populasi umum, kemudian

menurun setelah ditemukan antibiotika dan teknik pencegahan penyakit. Walaupun

demikian prevalensi infeksi sebagai penyebab kematian morbiditas dan mortalitas

(15)

Yayasan Mutiara Timur adalah sebuah Pusat Kegiatan Belajar Mengajar

(PKBM) yang didirikan pada tanggal 2 Maret 1999 oleh Syarifah Rayati, A.Ma.Pd

dan terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Yayasan ini

berada dibawah pengawasan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial dan

dibantu juga dari pihak Puskesmas Kampung Dalam. Yayasan Mutiara Timur

menaungi berbagai macam kegiatan untuk anak balita, anak jalanan, masyarakat buta

huruf, dan lanjut usia. Salah satu kegiatan bagi lansia adalah Posyandu Lansia “Kasih

Sayang" yang dilaksakan setiap bulannya meliputi pemeriksaan kesehatan,

penimbangan berat badan, penyuluhan kesehatan, dan kegiatan senam lansia yang

dilakukan seminggu sekali serta adanya Bantuan Kesejahteraan Sosial Produktif

(BKSP) oleh Dinas Sosial dan Asuransi Kesejahteraan Sosial (Askesos).

Data penyakit infeksi pada lansia yang berkunjung ke Puskesmas Kampung

Dalam selama bulan November 2009 yaitu infeksi usus sebesar 25,00%, infeksi

saluran pernafasan atas sebesar 44,05%, infeksi saluran pernafasan bawah sebesar

28,57%, dan TB sebesar 2,38%. Penelitian Karina (2009), faktor-faktor yang

berhubungan dengan pola konsumsi pada lansia binaan Yayasan Mutiara Timur di

Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Sifat penelitian deskriptif

analitik dengan pendekatan crosssectional. Variabel independen meliputi

pengetahuan gizi lansia, pola asuh, dan pendidikan gizi lansia yang mempengaruhi

variabel dependen, yaitu pola konsumsi pada lansia. Hasilnya menunjukkan bahwa

persentase pola konsumsi lansia yang tidak baik sebesar 63,3% yang dilihat dari jenis,

(16)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian

tentang: Bagaimana hubungan pola konsumsi dan penyakit infeksi terhadap status

gizi lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan

Pontianak Timur?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan pola konsumsi dan penyakit infeksi terhadap status gizi

lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak

Timur.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui hubungan pola konsumsi terhadap status gizi lansia Binaan

Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak

Timur.

b. Mengetahui hubungan penyakit infeksi terhadap status gizi lansia Binaan

Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak

(17)

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Yayasan

Memberikan informasi tentang hubungan antara pola konsumsi dan

penyakit infeksi terhadap status gizi lansia, sehingga dapat meningkatkan mutu

pelayanan kesehatan bagi usia lanjut.

2. Bagi Usia Lanjut

Memberikan informasi mengenai pentingnya memperhatikan kebutuhan

gizi pada usia lanjut dan menambah wawasan pengetahuan usia lanjut khususnya

di bidang kesehatan.

3. Bagi Peneliti

Untuk meningkatkan pemahaman tentang status gizi usia lanjut serta

(18)

6 1. Pengertian

Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan

jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur

dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan

memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994 dalam Darmojo, 1999).

Proses menua merupakan proses yang terus menerus berlangsung, hal tersebut

dimulai dari seseorang mencapai usia dewasa dan umumnya dialami oleh setiap

manusia (Nugroho, 2000). Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang

berusia 60 tahun keatas (Hardywinoto,1999). Dalam undang-undang nomor 13 tahun

1998, lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun

keatas.

2. Golongan Lanjut Usia

Lanjut usia dibagi menjadi beberapa tahapan usia (WHO, 2000 dalam

Nugroho, 2000):

a. Usia pertengahan (middle age) kelompok usia 45 tahun sampai 59 tahun.

b. Usia lanjut muda (elderly) kelompok usia 60 tahun sampai 74 tahun.

c. Usia lanjut tua (old) kelompok usia 75 tahun sampai 90 tahun.

(19)

3. Perubahan Fisik pada Lanjut Usia

Pada lansia, terjadi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuhnya, ada

beberapa perubahan fisiologis yang berhubungan dan mempengaruhi status gizi

lansia, yaitu:

a. Indera. Indera pengecap, pencium, dan penglihatan menurun yang akan secara

langsung dan tidak langsung mempengaruhi nafsu makan dan asupan makanan.

Terjadi penurunan sensitifitas pada rasa manis dan asin. Selain itu muncul nyeri pada

lidah (Darmojo, 1999).

b. Saluran cerna dan digesti. Terjadi perubahan-perubahan pada kemampuan

digesti dan absorbsi, akibatnya muncul anoreksia. Sekresi ludah menurun hingga

terjadi gangguan pengunyahan dan penelanan serta terjadi malabsorbsi lemak, fungsi

asam empedu yang menurun dan diare (Darmojo, 1999). Pada usus besar terjadi

penurunan kontraktilitas, akibatnya mudah timbul sembelit, atau gangguan buang air

besar (S. Tamher, 2009).

c. Metabolisme. Terjadi penurunan toleransi glukosa yang mengakibatkan

kenaikan glukosa di dalam plasma untuk setiap dekade umur. Hal ini dikarenakan

penurunan produksi insulin dan respon jaringan terhadap insulin yang menurun.

d. Ginjal. Fungsi ginjal menurun sekitar 50% antara usia 30-80 tahun. Reaksi

(20)

B. Status Gizi

1. Definisi

Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel

tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu. Status gizi

merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara makanan yang masuk ke dalam

tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi (Supariasa, 2002). Konsumsi makanan

berpengaruh terhadap status gizi sesorang. Status gizi baik atau status gizi optimal

terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien,

sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, pertumbuhan otak, kemampuan kerja

dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang terjadi

bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial (Almatsier,

2001).

Perubahan status gizi pada lansia disebabkan perubahan lingkungan maupun

faali dan status kesehatan mereka. Faktor kesehatan yang berperan dalam perubahan

status gizi antara lain adalah naiknya insiden penyakit degenerasi maupun non

degenerasi yang berakibat dengan perubahan dalam asupan makanan, perubahan

(21)

2. Penilaian Status Gizi

Status gizi lansia dapat dinilai dengan cara-cara yang baku bagi berbagai

tahapan umur yakni penilaian secara langsung dan tidak langsung.

a. Penilaian secara langsung. Pengukuran antropometri dapat digunakan untuk

menentukan status gizi. Cara yang paling sederhana digunakan:

1). Indeks Massa Tubuh (IMT). Status gizi diketahui dari berat badan dan tinggi

badan melalui penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), yaitu:

Berat badan (kg)

Tinggi badan (m) x tinggi badan (m)

Tabel 1. Kategori Ambang Batas IMT untuk Populasi Asia

Klasifikasi IMT untuk Populasi Asia

Kurus < 18,5

Normal > 18,5-22,9

Gemuk > 23,0-27,4

Obesitas > 27,5

Sumber: healthkicker.com, 2009

2). Menggunakan rumus Brocca. Cara ini untuk mengukur BB ideal dengan

menggunakan rumus: BBI = (TB-100) - 10% (TB-100). Batas ambang yang

diperbolehkan adalah +10%, bila lebih dari 10% disebut kegemukan dan bila

(22)

3). Rentang lengan. Rentang lengan (armspan) adalah substitusi lain untuk tinggi

badan dan biasanya sama dengan tinggi badan maksimal. Pemeriksaan tinggi

badan pada lansia dapat memberikan nilai kesalahan yang cukup bermakna

karena terjadinya osteoporosis pada lansia yang akan berakibat pada kompresi

tulang-tulang columna vebrata (Rabe, 1996). Proyeksi tinggi badan berdasarkan

rentang lengan dapat ditentukan dengan rumus:

Pria : 118,24 + (0,28 x rentang lengan) – (0,07 x umur) cm

Wanita : 63,18 + (0,63 x rentang lengan) – (0,17 x umur) cm

(Tanchoco C. Celeste, 2001)

b. Penilaian secara tidak langsung

1). Metode recall 24 jam. Dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan

makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. 2 kali recall 24 jam

tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran asupan gizi lebih optimal dan

memberikan variasi yang lebih besar tentang intake harian individu (Sanjur,1997

dalam Supariasa, 2002). Langkah – langkah pelaksanaan recall 24 jam :

a. Pewawancara menanyakan kembali dan mencatat semua makanan dan

minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga (URT)

selama kurun waktu 24 jam yang lalu. Pewawancara melakukan konversi dari

URT ke dalam ukuran berat (gram).

b. Menganalisi bahan makanan ke dalam zat gizi dengan menggunakan Daftar

(23)

c. Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang Dianjurkan (DKGA)

atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia.

Pengelompokan bahan makanan dapat berupa makanan pokok, sumber protein

nabati, sumber protein hewani, sayuran, buah – buahan dan lain – lain

(Supariasa, 2002)

2). Metode riwayat makanan (dietary history). Digunakan untuk mendapatkan

informasi konsumsi pangan secara kualitatif dengan menanyakan jenis dan

jumlah pangan yang biasa dikonsumsi. Burke (1947) dalam Supriasa (2002)

menyatakan bahwa metode ini terdiri dari tiga komponen, yaitu:

a. Komponen pertama adalah wawancara (termasuk recall 24 jam), yang

mengumpulkan data tentang apa saja yang dimakan responden selama 24 jam

terakhir.

b. Komponen kedua adalah tentang frekuensi penggunaan dari sejumlah bahan

makanan dengan memberikan daftar (check list) yang sudah disiapkan, untuk

mengecek kebenaran dari recall 24 jam tadi.

c. Komponen ketiga adalah pencatatan konsumsi selama 2 – 3 hari sebagai cek

ulang.

3). Metode penimbangan makanan (food weighing). Mempunyai ketelitian yang lebih

tinggi dibandingkan metode-metode lain karena jumlah makanan yang

(24)

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

Status gizi bukan merupakan ukuran atau indeks yang berdiri sendiri namun

merupakan gabungan dari berbagai faktor yang berbeda. Faktor yang mempengaruhi

status gizi adalah konsumsi makanan dan status kesehatan terutama penyakit infeksi

(Daily, 1979 dalam Supariasa, 2002). Status gizi usia lanjut juga dipengaruhi oleh

faktor fisiologi, psikologis, sosioekonomi, dan pengetahuan tentang gizi (Depkes,

2003).

C. Pola Konsumsi

Pola konsumsi pangan merupakan gambaran mengenai jumlah, jenis, dan

frekuensi bahan makanan yang dikonsumsi seseorang sehari-hari dan merupakan ciri

khas pada suatu kelompok masyarakat tertentu. Konsumsi pangan merupakan faktor

utama untuk memenuhi kebutuhan gizi seseorang (Harper, 1986).

Pola makan yang dimaksud adalah pola makan lanjut usia yang masih bersifat

umum. Pola makan lanjut usia dengan penyakit tertentu yang memerlukan terapi diit

khusus akan berbeda. Misalnya, lanjut usia yang mengalami gangguan abnormal

asam urat, maka beberapa jenis makanan seperti melinjo dan hasil olahannya, jeroan,

kol perlu dibatasi. Demikian pula lanjut usia yang menderita diabetes. Pembatasan

karbohidrat murni dalam pola konsumsinya harus diatur sehingga tidak memperburuk

(25)

1. Jenis Konsumsi

Hidangan yang beraneka ragam adalah susunan makanan sehari-hari yang

minimal terdiri dari 4 jenis bahan makanan yaitu bahan makanan pokok, lauk pauk,

sayuran, dan buah. Agar diperoleh tingkat kesehatan yang optimal, usia lanjut

dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan beranekaragam. Makin beragam makanan

yang dikonsumsi, makin baik mutu gizinya (Depkes, 2003).

Jumlah macam makanan dan jenis serta banyaknya bahan pangan dalam pola

makan di suatu tempat, biasanya berkembang dari pangan setempat atau dari pangan

yang telah ditanam di tempat tersebut. Meskipun demikian, setiap keluarga perlu

belajar menyediakan gizi yang baik di rumah melalui pangan yang disiapkan dan

dihidangkan, sehingga setiap orang dapat makan cukup pangan yang beraneka ragam

jenisnya guna memenuhi kebutuhan perorangan (Harper, 1986).

Hidangan yang beraneka ragam dapat menjamin terpenuhnya kecukupan

sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. Bahan makanan sumber zat

tenaga adalah beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mie.

Bahan makanan sumber pembangun berasal dari kacang-kacangan, tempe, tahu, telur,

ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahannya seperti keju. Sedangkan bahan

makanan sumber pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Bahan

makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral yang berperan untuk

(26)

Pada usia lanjut kebutuhan zat gizi kurang diperlukan untuk pertumbuhan

fisik, tetapi lebih banyak untuk mengganti jaringan tubuh yang rusak dan

mempertahankan derajad kesehatan. Oleh karena itu, untuk usia lanjut diperlukan

vitamin, mineral, dan serat dalam jumlah yang cukup guna pemeliharaan dan

mendukung kelancaran proses dalam tubuh agar tetap berjalan secara normal.

Sayuran, buah-buahan, dan padi-padian harus ada dalam makanan sehari-hari.

Usia lanjut sangat dianjurkan mengkonsumsi bahan makanan yang tinggi zat kapur

dan zat besi seperti yang terdapat dalam ikan, daging, susu rendah lemak,

kacang-kacangan, dan sayuran berwarna. Konsumsi bahan makanan yang mengandung zat

kapur dan zat besi dalam jumlah yang cukup dapat mencegah pengeroposan tulang

dan anemia gizi besi. Untuk menghindari kesulitan buang air besar, usia lanjut

dianjurkan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran yang berserat (Depkes,

2000).

2. Jumlah Konsumsi

Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal, diperlukan pedoman jenis

dan jumlah zat gizi yang dibutuhkan oleh individu secara rata-rata dalam sehari.

Kebutuhan zat gizi setiap individu berbeda-beda tergantung faktor-faktor yang

mempengaruhinya.

Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recommended Dietary

Allowance (RDA) adalah taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang berdasarkan

pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir semua orang

(27)

Angka kecukupan gizi untuk Indonesia yang digunakan sebagai pedoman

adalah hasil Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VIII tahun 2004 seperti yang

terdapat pada tabel berikut.

Tabel 2. Asupan yang Dianjurkan untuk Usia 60 Tahun Ke Atas

Zat Gizi Laki-laki Perempuan

Energi (Kkal) 2050 1600

Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII, 2004

3. Frekuensi Makanan

Frekuensi makanan merupakan gambaran tentang frekuensi makan, frekuensi

konsumsi menurut jenis bahan makanan yang dikonsumsi seseorang serta kebiasaan

(28)

porsi makan pun tak bisa sama seperti pada waktu sebelum lansia. Ini bisa disiasati

dengan makan 4-5 kali dengan porsi yang sedikit-sedikit (Pangastuti, 2004).

Supaya tidak memberikan rasa jenuh atau mual, dianjurkan antara makan pagi

dan makan siang, antara makan siang dan makan malam, serta sebelum tidur, diberi

makanan porsi kecil (panganan atau buah) agar porsi pada makan pagi, siang, dan

malam tidak terlalu besar untuk mencukupi kebutuhan zat gizinya (Roedjito D, 1989

dalam Fitriani, 2006). Tingkat konsumsi kelompok rumah tangga atau perorangan

berdasarkan buku pedoman petugas gizi puskesmas mengklasifikasikan tingkat

konsumsi menjadi 4, yaitu baik 100% AKG, sedang 80-99% AKG, kurang 70-80%

AKG, dan defisit < 70% AKG (Supariasa, 2002)

D. Penyakit Infeksi

Status kesehatan usia lanjut berpengaruh terhadap status gizi. Pada usia lanjut

kemampuan sistem tubuh sudah mulai menurun sehingga rentan terhadap penyakit.

(Suhardjo, 2003). Penyakit infeksi adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh

sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan disebabkan faktor

fisik (seperti luka bakar) atau kimia (seperti keracunan). Penyakit Infeksi disebabkan

oleh kurangnya sanitasi dan bersih, pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai,

dan pola asuh yang tidak memadai (Anwar, 2009). Pada lansia terdapat beberapa

(29)

1. Faktor Nutrisi

Lansia sering kali mengalami kekurangan gizi sehingga memudahkannya

mengalami infeksi, baik memudahkan kuman masuk ke dalam tubuh, mempengaruhi

perjalanan dan akibat akhir dari infeksi tadi. Selain itu, zat-zat penting di dalam

makanan seperti protein, mineral dan vitamin memegang peranan penting untuk

pertahanan tubuh terhadap infeksi.

2. Faktor Imunitas Tubuh

Beberapa faktor kekebalan tubuh seperti kekebalan alamiah (kulit, rambut

getar dan lendir dari saluran nafas) dan kekebalan seluler serta humoral telah

berkurang baik kualitas (mutu) maupun kuantitasnya (jumlahnya).

3. Faktor Perubahan Fisiologik

Beberapa organ pada usia lanjut baik jantung, paru, ginjal, hati dan lain-lain

telah menurun fungsinya, sehingga bukan saja memudahkan terjadinya infeksi tetapi

juga menyulitkan pengobatannya.

4. Faktor Terdapatnya Berbagai Proses Patogenik

Salah satu karakteristik penyakit pada lansia adalah terdapatnya lebih dari satu

penyakit yang menyebabkan daya tahan tubuh yang sangat berkurang. Berbagai

penyakit antara lain diabetes melitus, keganasan, atau abnormalitas pembuluh darah

(30)

Pada umumnya penyakit infeksi pada lansia sering memberikan gejala-gejala

yang tidak khas, sehingga memerlukan kecermatan untuk segera dapat mengenalnya.

Secara umum, memang penyakit infeksi telah dapat dikendalikan, akan tetapi pada

lansia hal ini masih merupakan suatu masalah, karena berkaitan dengan menurunnya

fungsi organ tubuh dan daya tahan tubuh akibat proses menua (Siburian, 2007).

Penyakit infeksi yang sering diderita lansia antara lain:

1. Diare

Diare adalah penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang

usus, mengakibatkan usus tidak dapat menyerap zat-zat gizi sebagai hasil dari

pencernaan sehingga dengan bantuan cairan tubuh harus dikeluarkan melalui tinja

atau Buang Air Besar dengan perubahan bentuk dan konsitensi tinja (tinja encer atau

½ cair) dengan frekuensi lebih sering biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari (24 jam)

dan jumlahnya bisa mencapai lebih dari 500 gram/hari (Depkes, 2008 dalam Arali,

2009)

2. Demam

Demam adalah suatu bagian penting dari mekanisme pertahanan tubuh

melawan infeksi. Kebanyakan bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi pada

manusia hidup subur pada suhu 37ºC. Meningkatnya suhu tubuh beberapa derajat

dapat membantu tubuh melawan infeksi. Demam akan mengaktifkan sistem

kekebalan tubuh untuk membuat lebih banyak sel darah putih, membuat lebih banyak

(31)

normal bervariasi tergantung masing-masing orang, usia dan aktivitas. Rata-rata suhu

tubuh normal adalah 37ºC.

Yang mengatur suhu tubuh kita adalah hipotalamus yang terletak di otak.

Hipotalamus ini berperan sebagai thermostat. Pada saat kuman masuk ke tubuh dan

membuat kita sakit, mereka seringkali menyebabkan beberapa zat kimiawi tertentu

beredar dalam darah kita dan mencapai hipotalamus. Pada saat hipotalamus tahu

bahwa ada kuman, maka secara otomatis akan mengeset thermostat tubuh kita lebih

tinggi (Miftachul, 2009).

3. Batuk

Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh di saluran pernapasan dan

merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi di tenggorokan.

Ada beberapa macam penyebab batuk :

a. Umumnya disebabkan oleh infeksi di saluran pernapasan bagian atas yang

merupakan gejala flu.

b. Infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA).

c. Alergi

d. Asma atau tuberculosis

e. Benda asing yang masuk kedalam saluran napas

f. Tersedak akibat minum susu

g. Menghirup asap rokok dari orang sekitar

h. Batuk Psikogenik. Batuk ini banyak diakibatkan karena masalah emosi dan

(32)

20

A. Kerangka Konsep

Untuk mencapai tujuan penelitian maka dibuat kerangka konsep seperti

gambar dibawah ini :

Variabel Independent Variabel Dependent

Gambar 1. Kerangka konsep hubungan pola konsumsi dan penyakit infeksi terhadap status gizi lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.

B. Hipotesis

1. Ada hubungan antara pola konsumsi dengan status gizi lansia Binaan Yayasan

Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.

2. Ada hubungan antara penyakit infeksi dengan status gizi lansia Binaan Yayasan

Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Status Gizi Pola Konsumsi

(33)

C. Definisi Operasional

1. Pola konsumsi

Pola konsumsi adalah jenis bahan makanan yang dimakan dalam satu hari,

jumlah makanan dalam gram, dan frekuensi makan lansia sehari-hari.

Skala ukur : Ordinal

Alat ukur : Food recall 24 jam

Hasil ukur :

a. Baik, jika memenuhi 3 kriteria yaitu jenis, jumlah dan frekuensi.

b. Tidak baik, jika tidak memenuhi 3 kriteria yaitu jenis, jumlah dan

frekuensi.

a. Jenis adalah macam makanan yang dikonsumsi oleh lansia selama 2 x 24

jam yang dilihat pada macam makanan seperti makanan pokok (beras,

roti, jagung, ubi, dll), lauk pauk (daging, ikan, telur, tempe, tahu), sayuran

dan buah-buahan dalam satu kali makan.

Skala ukur : Ordinal

Alat ukur : Food recall 24 jam

Hasil ukur :

a. Baik, jika ≥ 3 kategori bahan makanan yang terpenuhi

b. Tidak baik, jika <3 kategori bahan makanan yang

(34)

b. Jumlah adalah banyaknya pangan yang dikonsumsi oleh lansia dalam

sehari (24 jam) yang dihitung dari rata-rata konsumsi bahan makanan

selama 2 x 24 jam dan diterjemahkan menjadi zat gizi energi dan protein

dalam satuan kalori dan gram.

Skala ukur : Ordinal

Alat ukur : Food recall 24 jam

Hasil ukur :

a. Baik, jika ≥ 80% AKG dari energi dan protein

b. Tidak baik, jika < 80% AKG dari energi dan protein

c. Frekuensi adalah seringnya konsumsi bahan makanan dalam satu hari

selama 2 x 24 jam.

Skala ukur : Ordinal

Alat ukur : Food recall 24 jam

Hasil ukur :

a. Baik, jika ≥ 3x makan dalam satu hari

(35)

2. Penyakit Infeksi

Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi

(diare, demam, dan batuk) diketahui dengan mengkaji apakah dalam kurun waktu

satu bulan sebelum penelitian lansia menderita penyakit infeksi atau tidak.

Skala ukur : Ordinal

Alat ukur : Kuesioner

Hasil ukur :

a. Ya, jika dalam kurun waktu satu bulan terakhir lansia menderita

satu atau lebih penyakit infeksi (diare, demam, dan batuk)

b. Tidak, jika dalam kurun waktu satu bulan terakhir lansia tidak

menderita salah satu penyakit infeksi (diare, demam, dan batuk)

3. Status gizi

Status gizi adalah keadaan tubuh lansia yang diakibatkan oleh konsumsi

makanan, yang ditentukan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan

pengukuran berat badan (kg)/tinggi badan (m2). Proyeksi tinggi badan diperoleh

berdasarkan pengukuran rentang lengan.

Skala ukur : Ordinal

Alat ukur : Timbangan bath room scale & rigid anthropometer

Hasil ukur : Normal >18,5 – 22,9

(36)

24

Penelitian ini bersifat analitik yaitu menggambarkan hubungan antara

variable bebas (independent) dengan variable terikat (dependent) dengan rancangan

cross sectional yaitu pengumpulan data dilakukan pada satu saat atau satu periode

tertentu.

B. Tempat dan Waktu penelitian

Penelitian dilakukan pada lansia yang berada di bawah binaan

Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur pada

tanggal 5-30 Juni 2010.

C. Populasi dan Sampel penelitian

1. Populasi

Populasi adalah semua lansia yang berada di Yayasan Mutiara Timur Kelurahan

Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur yang berjumlah 334 orang.

2. Sampel

Bagian dari populasi adalah lansia yang berada di bawah binaan Yayasan

Mutiara Timur, dengan kriteria sebagai berikut:

a. Masih bisa berkomunikasi dengan baik

(37)

Besar sampel pada penelitian ini diperoleh melalui perhitungan dengan

n : besar sampel (responden)

z : confidence interfal sebesar 90% dengan tingkat kepercayaan 1,64

P : populasi individu yang tidak diketahui (0,5)

Q : 1-P (0,5)

d : sampling error (presisi 0,1)

N : total populasi (jumlah pengambilan sampel)

Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah dengan metode

acak sederhana atau simple random sampling yaitu metode pengambilan sampel yang

(38)

D. Jenis Data

1. Data Primer

a. Data identitas sampel

b. Data pola konsumsi

c. Data status gizi

2. Data Sekunder berupa gambaran umum Yayasan Mutiara Timur Kelurahan

Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.

E. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data identitas sampel, diperoleh melalui wawancara

menggunakan kuesioner. Data pola konsumsi diperoleh dengan menggunakan

kuesioner dan formulir food recall 24 jam, dilakukan selama 2 hari. Setelah

didapatkan hasil konsumsi dalam satuan gram kemudian dihitung zat gizi

menggunakan program nutrisurvey kemudian hasil akhirnya diperoleh rata-rata untuk

2 hari dan dibandingkan dengan angka kecukupan gizi lansia.

Data status gizi diperoleh dengan pengukuran rentang lengan menggunakan

rigid anthropometer dengan panjang maksimal 200 cm dan ketelitian 0,1 cm. Berat

badan responden diperoleh dari penimbangan menggunakan timbangan bath room

scale dengan ketelitian 0,1 kg, sedangkan data sekunder diperoleh dari profil Yayasan

(39)

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian mencakup kuesioner identitas sampel, formulir food

recall 24 jam, rigid anthropometer, dan timbangan bath room scale.

G. Pengolahan dan Analisa Data

1. Pengolahan data

Langkah-langkah yang dilakukan dengan pengolahan data adalah:

a. Editing, untuk memeriksa kelengkapan pengisian kuesioner

b. Coding, untuk memberikan kode pada setiap pilihan jawaban dalam

kuesioner.

c. Processing atau entry, memasukkan data menggunakan perangkat

komputer SPSS (Statistical Package for Social Sciences) for windows,

sedangkan data food recall menggunakan program nutrisurvey.

2. Penyajian data

Data yang telah diolah disusun dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi

frekuensi, dilengkapi dengan narasi sebagai penjelasan tabel dan tabel silang yang

menjelaskan hubungan antar variabel.

3. Analisa data

Analisa data yang digunakan mencakup univariat dan bivariat. Analisa data

univariat untuk melihat frekuensi dari variabel-variabel yang diteliti yaitu status gizi

lansia, pola konsumsi yang meliputi jumlah, jenis, dan frekuensi, dan penyakit

infeksi. Analisa data bivariat bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel

(40)

penyakit infeksi terhadap status gizi lansia. Analisa ini menggunakan program SPSS

(41)

29

1. Keadaan Wilayah

Kelurahan Dalam Bugis merupakan salah satu kelurahan yang terdapat di

Kecamatan Pontianak Timur yang memiliki luas wilayah sebesar 1,98 km2 dengan

batas-batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Tanjung Hilir

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Tambelan Sampit

c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Saigon

d. Sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Kapuas

2. Keadaan Penduduk

Penduduk di Kelurahan Dalam Bugis berjumlah 17.861 jiwa. Untuk lebih

jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Golongan Umur di Kelurahan Dalam Bugis

Golongan Umur (tahun) Jumlah (n) Persentase (%)

< 1 tahun 169 0.95

1 – 10 3.735 20.91

11 – 20 3.453 19.33

21 – 30 2.457 13.76

31 – 40 1.843 10.32

41 – 50 1.823 10.21

> 51 tahun 4.381 24.53

Total 17.861 100

(42)

Mayoritas penduduk Kelurahan Dalam Bugis adalah suku Melayu dengan

jumlah 6.602 jiwa (36,96%), sedangkan minoritas adalah suku batak dengan jumlah

134 jiwa (0,75%). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Suku di Kelurahan Dalam Bugis

Nama Suku Jumlah (n) Persentase (%)

Sumber: Profil Kelurahan Dalam Bugis, 2009

3. Agama

Berdasarkan data dari Profil Kelurahan Dalam Bugis, agama yang paling

banyak dianut oleh penduduk yaitu agama Islam, dengan jumlah penganut sebanyak

17.025 orang (95,26%). Agama yang paling sedikit dianut yaitu agama Hindu dengan

jumlah penganut sebanyak 25 orang (0,14%). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada

tabel 5.

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Agama di Kelurahan Dalam Bugis

Agama Jumlah (n) Persentase (%)

(43)

4. Pendidikan

Jenjang pendidikan yang ditempuh oleh sebagian besar penduduk adalah

SLTA dan SLTP dengan jumlah sarana pendidikan yang ada di wilayah tersebut

sebanyak 3 buah perguruan tinggi, 2 buah SLTA, 2 buah SLTP, 9 buah SD dan

1 buah TK. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Jenis Pendidikan di Kelurahan Dalam Bugis

Jenis Pendidikan Jumlah (n) Persentase (%)

SD/Sederajat 2.913 19,43

SLTP/Sederajat 5.947 39,67

SLTA/Sederajat 5.936 39,59

D1 – D3 185 1,23

S – 1 10 0,07

S – 2 2 0,01

Total 14.993 100

Sumber: Profil Kelurahan Dalam Bugis, 2009

5. Pekerjaan

Sebagian besar penduduk bekerja sebagai buruh/swasta, yaitu sebanyak

1.361 orang (40,34%), sedangkan mata pencaharian yang paling sedikit yaitu

pengusaha yang hanya berjumlah 3 orang (0,09%). Untuk lebih jelas dapat dilihat

(44)

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan di Kelurahan Dalam Bugis

Pekerjaan Jumlah (n) Persentase (%)

Buruh/Swasta 1.361 40,34

Pegawai Negeri 253 7,50

Pengrajin 15 0,44

Pedagang 683 20,24

Penjahit 7 0,21

Tukang kayu 785 23,27

Peternak 11 0,33

Tukang sampan 123 3,65

Nelayan 9 0,27

Montir 13 0,39

Sopir 45 1,33

Tukang becak 20 0,59

TNI/Polri 46 1,36

Pengusaha 3 0,09

Total 3.374 100

(45)

B. Gambaran Umum Responden

Berikut ini akan dijabarkan karakteristik responden menurut umur, jenis

kelamin dan pekerjaan.

Tabel 8. Karakteristik Responden Menurut Umur, Jenis Kelamin dan Pekerjaan

Karakteristik Jumlah (n) Persentase (%)

Umur:

Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden dalam

penelitian ini tergolong lansia muda (elderly) dengan umur 60-74 yaitu 45 orang (78,9%)

dan sebagian besar memiliki jenis kelamin perempuan yaitu 46 orang (80,7%).

Mayoritas bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 46 orang (80,7%), namun ada

(46)

C. Analisis Univariat

1. Pola Konsumsi

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase terbesar pada pola

konsumsi lanjut usia yang dilihat dari jenis, jumlah dan frekuensi konsumsi adalah

tidak baik, yaitu 36 orang (63,2%). Untuk lebih jelasnya mengenai distribusi

frekuensi lanjut usia menurut pola konsumsi dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Pola Konsumsi di Binaan Yayasan Mutiara Timur

Pola Konsumsi n Persentase (%)

Baik 21 36,8

Tidak baik 36 63,2

Total 57 100,0

a. Jenis konsumsi. Persentase terbesar menurut jenis konsumsi lanjut usia adalah

baik, yaitu sebanyak 35 orang (61,4%). Untuk lebih jelasnya mengenai distribusi

frekuensi lanjut usia menurut jenis konsumsi dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Jenis Konsumsi di Binaan Yayasan Mutiara Timur

Jenis Konsumsi n Persentase (%)

Baik 35 61,4

Tidak baik 22 38,6

(47)

Dari hasil wawancara diketahui bahwa sebagian besar lansia makan sebanyak

5 jenis makanan dalam satu porsi yang terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur, buah dan

susu yaitu sebanyak 26 orang (45,6%). Lansia yang mengkonsumsi makanan

selingan setiap hari sebanyak 52 orang (91,2%), makanan selingan yang sering

dikonsumsi berupa kue. Bentuk olahan nasi yang dikonsumsi yaitu nasi biasa. Lansia

yang tidak mengkonsumsi suplemen sebanyak 40 orang (70,2%).

b. Jumlah konsumsi. Sebagian besar jumlah konsumsi energi lansia termasuk

dalam kategori baik, yaitu sebanyak 45 orang (78,9%). Begitu pula dengan jumlah

konsumsi protein, sebagian besar lansia termasuk dalam kategori baik yaitu sebanyak

43 orang (75,4%). Hasil penelitian mengenai distribusi frekuensi lanjut usia menurut

jumlah konsumsi dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 11. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Kategori Jumlah Konsumsi Energi dan Protein di Binaan Yayasan Mutiara Timur

Jumlah Konsumsi n Persentase (%)

Energi:

Asupan energi maksimum yaitu 2380,60 kalori (136,36%) dan asupan energi

minimum 866,30 kalori (54,14%). Asupan energi rata-rata mencapai 1618,98 kalori

(94,28%). Angka kecukupan energi yang dianjurkan untuk usia 60 ke atas bagi

(48)

Asupan protein maksimum yaitu 93,30 gram (186,6%) dan asupan protein

minimum 25,80 gram (51,6%). Asupan protein rata-rata mencapai 52,96 gram

(102,51%). Angka kecukupan protein bagi laki-laki yaitu 60 gram dan perempuan 50

gram.

Tabel 12. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Asupan Energi dan Protein di Binaan Yayasan Mutiara Timur

Asupan Maksimum (% AKG) Minimum (% AKG) Rata – Rata (% AKG)

Energi 136,36 54,14 92,28

Protein 186,6 51,6 102,51

Dari hasil wawancara didapatkan sebanyak 31 orang (56,1%) tidak

mengkonsumsi susu, tetapi sebanyak 49 orang (86%) mengkonsumsi minuman lain

berupa kopi, teh maupun sari buah setiap harinya. Lansia mengkonsumsi minuman

tersebut sebanyak 1-3 kali sehari dengan penambahan gula sebanyak kurang lebih

1 sdm.

c. Frekuensi konsumsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi

lansia yang termasuk dalam kategori baik, yaitu sebanyak 34 orang (59,6%). Untuk

lebih jelasnya mengenai distribusi frekuensi lanjut usia menurut frekuensi konsumsi

(49)

Tabel 13. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Frekuensi Konsumsi di Binaan Yayasan Mutiara Timur

Frekuensi Konsumsi n Persentase (%)

Baik 34 59,6

Tidak baik 23 40,4

Total 57 100,0

Sebagian besar lansia makan makanan utama sebanyak 3 kali dalam satu hari

yaitu sebanyak 28 orang (49,1%), namun hasil ini tidak berbeda jauh dengan lansia

yang makan sebanyak 2 kali dalam satu hari yaitu sebanyak 23 orang (40,4%). Lansia

yang selalu makan pagi setiap hari sebanyak 49 orang (86,0%). Tidak ada lansia yang

mengkonsumsi alkohol.

2. Penyakit Infeksi

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lansia binaan

Yayasan Mutiara Timur tidak menderita penyakit infeksi baik berupa demam, diare,

maupun batuk dalam satu bulan terakhir, yaitu sebanyak 43 orang (75,4%). Untuk

lebih jelasnya mengenai distribusi frekuensi lanjut usia yang menderita penyakit

infeksi dalam satu bulan terakhir dapat dilihat pada tabel 14.

Tabel 14. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Penyakit Infeksi di Binaan Yayasan Mutiara Timur

Penyakit Infeksi n Persentase (%)

Ya 14 24,6

Tidak 43 75,4

(50)

Batuk merupakan penyakit infeksi yang paling banyak diderita oleh lansia,

yaitu sebanyak 11 orang (78,6%) sedangkan 3 orang lainnya (21,4%) menderita

demam. Lansia menderita penyakit tersebut sebanyak 1 kali dalam sebulan dan hanya

berlangsung selama kurang dari satu minggu. Sebagian besar lansia menyatakan

bahwa mereka mengalami penurunan nafsu makan saat menderita penyakit tersebut,

yaitu sebanyak 10 orang (71,4%). Kesulitan dalam mengunyah lebih disebabkan oleh

penurunan keadaan fisiologis tubuh, yaitu keterbatasan gigi.

3. Status Gizi

Pengumpulan data status gizi lansia di wilayah Binaan Yayasan Mutiara Timur

dilakukan dengan penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu pengukuran berat

badan menurut tinggi badan. Proyeksi tinggi badan diperoleh berdasarkan pengukuran

rentang lengan. Hasil penelitian menunjukkan persentase terbesar status gizi lansia

adalah tidak normal, yaitu sebanyak 35 orang (61,4%). Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada tabel 15.

Tabel 15. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Status Gizi di Binaan Yayasan Mutiara Timur

Status Gizi n Persentase (%)

Normal 22 38,6

Tidak normal 35 61,4

(51)

Pada lansia dengan status gizi tidak normal, ditemukan lebih banyak lansia

dengan status gizi gemuk yaitu 20 orang (57,1%). Lebih jelasnya dapat dilihat pada

tabel 16.

Tabel 16. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Status Gizi Tidak Normal di Binaan Yayasan Mutiara Timur

Status Gizi n Persentase (%)

Kurus 8 22,9

Gemuk 20 57,1

Obesitas 7 20,0

Total 35 100,0

D. Analisis Bivariat

1. Hubungan antara Pola Konsumsi dengan Status Gizi Lansia

Dari hasil penelitian, lansia dengan status gizi normal lebih banyak terdapat

pada lansia dengan pola konsumsi baik, dengan proporsi sebesar 52,4%. Sedangkan

lansia dengan status gizi tidak normal lebih banyak terdapat pada lansia dengan pola

konsumsi yang tidak baik, dengan proporsi sebesar 69,4%. Lebih jelasnya mengenai

hubungan pola konsumsi terhadap status gizi lansia dapat dilihat pada tabelberikut ini :

Tabel 17. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Pola Konsumsi dengan

Status Gizi di Binaan Yayasan Mutiara Timur

Pola Konsumsi

Status Gizi

Total Normal Tidak Normal

n % n % n %

Baik 11 52,4 10 47,6 21 100,0

(52)

Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh

nilai Continuity Correction = 0,177 (p>0,05). Uji ini menunjukkan bahwa tidak ada

hubungan antara pola konsumsi dengan status gizi lansia.

2. Hubungan antara Penyakit Infeksi dengan Status Gizi Lansia

Dari hasil penelitian, lansia dengan status gizi normal lebih banyak terdapat

pada lansia yang tidak menderita penyakit infeksi dalam satu bulan terakhir, dengan

proporsi sebesar 39,5%. Sedangkan lansia dengan status gizi tidak normal lebih

banyak terdapat pada lansia yang menderita penyakit infeksi dalam satu bulan

terakhir, dengan proporsi sebesar 64,3%. Lebih jelasnya mengenai hubungan penyakit

infeksi terhadap status gizi lansia dapat dilihat pada tabelberikut ini :

Tabel 18. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Penyakit Infeksi dengan

Status Gizi di Binaan Yayasan Mutiara Timur

Penyakit Infeksi

Status Gizi

Total Normal Tidak Normal

n % n % n %

Ya 5 35,7 9 64,3 14 100,0

Tidak 17 39,5 26 60,5 43 100,0

Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh

nilai Continuity Correction = 1,000 (p>0,05). Uji ini menunjukkan bahwa tidak ada

(53)

41

Berdasarkan tabel 15 dapat dilihat bahwa lansia dengan status gizi normal

sebanyak 22 orang (38,6%) dan yang tidak normal ada 35 orang (61,4%). Pada lansia

dengan status gizi tidak normal, ditemukan lebih banyak lansia yang dikategorikan

gemuk yaitu 19 orang (33,3%) sedangkan lansia dengan status gizi kurus hanya

berjumlah 9 orang (15,8%).

Status gizi adalah kondisi tubuh akibat dari konsumsi makanan dan

penggunaan zat-zat oleh tubuh (Almatsier, 2001). Lansia yang status gizinya normal

dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya pola konsumsi dan kesehatan

yang baik, serta adanya peran keluarga dalam mengurus makanan lansia.

Dalam penelitian ini, lansia dengan status gizi lebih selain diakibatkan oleh

asupan yang baik juga diakibatkan oleh faktor aktivitas fisik yang kurang. Dapat

dilihat pada tabel 6, sebagian besar lansia bekerja sebagai ibu rumah tangga yang

aktivitas sehari-harinya hanya mengasuh cucu, membuat kue, dan memasak.

Sebagian besar lansia juga tinggal bersama keluarga sehingga tidak semua pekerjaan

rumah dikerjakan sendiri. Lansia yang status gizinya kurang dipengaruhi oleh

keadaan fisiologis tubuh seperti penurunan sensitivitas indera perasa dan penciuman,

sehingga asupan kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan dan menyebabkan berat

badan kurang dari normal. Selain itu faktor keterbatasan gigi juga mempengaruhi

(54)

Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Tamher (2009) yang menyatakan

bahwa dari kebanyakan masalah gizi lansia berupa masalah gizi lebih atau

kegemukan (obesitas) yang pada gilirannya memacu timbulnya penyakit–penyakit

degeneratif seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, batu empedu, gout

(rematik), penyakit ginjal, sirosis hati, dan penyakit-penyakit keganasan (kanker).

Namun demikian, kurang energi protein yang kronis, anemia dan kekurangan zat gizi

mikro lain juga tak luput dari masalah yang dihadapi oleh usia lanjut ini.

B. Hubungan antara Pola Konsumsi dengan Status Gizi Lansia

Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh

nilai Continuity Correction = 0,177 (p>0,05). Uji ini menunjukkan bahwa tidak ada

hubungan antara pola konsumsi dengan status gizi lansia. Meskipun secara statistik

tidak ada hubungan, namun berdasarkan tabel 17 dapat dilihat lansia dengan status

gizi normal lebih banyak terdapat pada lansia dengan pola konsumsi baik, dengan

proporsi sebesar 52,4%. Sedangkan lansia dengan status gizi tidak normal lebih

banyak terdapat pada lansia dengan pola konsumsi yang tidak baik, dengan proporsi

sebesar 69,4%.

Hasil penelitian menunjukkan semua lansia makan lebih dari 3 jenis makanan

dalam satu kali makan yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran,

buah-buahan dan susu. Pada umumnya makanan lansia terdiri dari nasi biasa, sayuran

bervariasi setiap hari, ikan goreng, ikan asin dan sambal. Jenis sayuran yang sering

(55)

maupun berkuah. Lansia tidak mengkonsumsi buah secara teratur setiap hari, hanya

3-4 kali dalam seminggu. Buah yang sering dikonsumsi yaitu pepaya dan pisang.

Lansia mengkonsumsi minuman (kopi, teh atau susu) sebanyak 1–3 kali sehari

dengan tambahan gula pasir rata-rata 1 sendok makan setiap kali minum, sehingga

kebutuhan energi sebagian besar terpenuhi dari karbohidrat yaitu nasi dan gula.

Jenis protein yang sering dikonsumsi berasal dari protein hewani yaitu ikan

dan telur yang tergolong protein dengan nilai biologi tinggi, namun akan lebih baik

jika lansia meningkatkan konsumsi protein nabati yang selama ini jarang dikonsumsi.

Menurut Almatsier (2001), dalam keadaan tercampur asam amino yang berasal dari

berbagai jenis protein dapat saling mengisi untuk menghasilkan protein yang

dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan pemeliharaan.

Kebiasaan makan lansia pada umumnya mereka makan 3 kali sehari yaitu

sarapan, makan siang dan makan malam, sebanyak 28 orang (49,1%). Ada pula yang

makan lebih dari 3 kali sehari dengan porsi kecil tapi sering sebanyak 6 orang

(10,5%). Namun banyak pula lansia yang hanya makan 2 kali, yaitu siang dan malam

hari sebanyak 23 orang (40,4%). Frekuensi konsumsi snack tidak teratur dan sebagian

lansia mengkosumsi snack di pagi hari sebagai sarapan. Snack yang sering

dikonsumsi berupa kue bolu dan gorengan.

Kebutuhan energi pada usia lanjut menurun sehubungan dengan penurunan

metabolisme basal (sel-sel banyak yang inaktif dan kegiatan fisik cenderung

menurun). Kebutuhan kalori akan menurun sekitar 5% pada usia 40-49 dan 10% pada

(56)

dalam penelitian ini cenderung memiliki aktivitas yang ringan. Dapat dilihat dari

jenis pekerjaan sebagian besar bekerja sebagai ibu rumah tangga dengan aktivitas

sehari-hari yang tergolong ringan. Lansia juga jarang melakukan olah raga secara

teratur. Keadaan ini tidak diimbangi dengan penurunan asupan makan.

Proses metabolisme yang menurun pada lanjut usia, bila tidak diimbangi

dengan peningkatan aktifitas fisik atau penurunan jumlah makanan, sehingga kalori

yang berlebih akan diubah menjadi lemak yang mengakibatkan kegemukan. Selain

kegemukan secara keseluruhan, kegemukan pada bagian perut lebih berbahaya karena

kelebihan lemak di perut dihubungkan dengan meningkatnya risiko menderita

penyakit jantung koroner daripada lemak bagian lain (Depkes, 2006). Bagi mereka

yang mempunyai aktivitas fisik relatif rendah akan mengalami pertambahan berat

badan lebih cepat dari pada orang yang lebih aktif. Hasil beberapa penelitian

menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang cukup dapat mengurangi total lemak tubuh

dan berat badan (Wilmore, 1983 dalam Tanaya, 1999).

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Gunawati, 2000 tentang analisis

konsumsi makanan dan status gizi ibu hamil. Hasil penelitian menunjukkan ada

hubungan bermakna antara konsumsi makanan dengan status gizi. Perbedaan dengan

penelitian ini adalah sampel yang dilakukan pada usia lanjut. Penelitian yang

dilakukan Himawati, 2000 mengatakan semakin baik pola konsumsi balita maka

semakin baik pula status gizi balita. Perbedaan dari penelitian ini adalah dalam

(57)

instrument menggunakan kuesioner tertutup, terbuka, dan FGD serta indepth

interview, sampel 115 balita.

C. Hubungan antara Penyakit Infeksi dengan Status Gizi Lansia

Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh

nilai Continuity Correction = 1,000 (p>0,05). Uji ini menunjukkan bahwa tidak ada

hubungan antara penyakit infeksi dengan status gizi lansia. Meskipun secara statistik

tidak ada hubungan, namun secara proporsi lansia dengan status gizi normal lebih

banyak terdapat pada lansia yang tidak menderita penyakit infeksi dalam satu bulan

terakhir, dengan proporsi sebesar 39,5%. Sedangkan lansia dengan status gizi tidak

normal lebih banyak terdapat pada lansia yang menderita penyakit infeksi dalam satu

bulan terakhir, dengan proporsi sebesar 64,3%.

Berdasarkan tabel 12 dapat dilihat bahwa lansia yang menderita penyakit

infeksi dalam satu bulan terakhir sebanyak 14 orang (24,6%) atau lebih sedikit

daripada lansia yang tidak menderita penyakit infeksi. Hal ini diakibatkan tingkat

kesadaran masyarakat lansia menjaga kesehatan semakin tinggi dan kehidupan sosial

juga relatif mendukung. Penyakit infeksi yang diderita berupa demam dan batuk.

Lansia menderita penyakit infeksi hanya satu kali dalam satu bulan dan hanya

berlangsung selama kurang dari satu minggu.

Hubungan antara kurang gizi dengan penyakit infeksi tergantung dari

besarnya dampak yang ditimbulkan oleh sejumlah infeksi terhadap status gizi itu

(58)

seperti infeksi pencernaan dapat menyebabkan diare, HIV/AIDS, tuberculosis, dan

beberapa penyakit infeksi kronis lainnya bisa menyebabkan anemia dan parasit pada

usus dapat menyebabkan anemia (Schaible & Kauffman, 2007 dalam Anwar, 2009).

Pada dasarnya jenis penyakit baik infeksi maupun non infeksi mempunyai faktor

resiko untuk menjadi gizi baik, gizi kurang bahkan gizi buruk, hal ini tergantung sifat

perjalanan penyakit tersebut yaitu akut atau kronis (Tomkins, 1992 dalam Huda,

2004).

Dalam penelitian ini, lansia yang menderita penyakit infeksi mengalami

penurunan nafsu makan selama sakit, namun karena sakit yang diderita bukan

merupakan penyakit kronis, hal tersebut tidak menyebabkan penurunan berat badan

secara drastis dan tidak mempengaruhi status gizi lansia. Selain itu beberapa lansia

mengalami penurunan keadaan fisiologis tubuh seperti keterbatasan gigi, hal ini

(59)

47

1. Tidak ada hubungan antara pola konsumsi terhadap status gizi lansia Binaan

Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.

2. Tidak ada hubungan antara penyakit infeksi terhadap status gizi lansia Binaan

Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.

B. Saran

1. Lansia perlu memperbaiki pola konsumsi dengan cara:

a. Meningkatkan jenis makanan dengan lebih memperbanyak konsumsi protein

nabati seperti tahu dan tempe, serta mengkonsumsi buah-buahan secara teratur.

b. Mengkonsumsi makanan harus sesuai dengan kebutuhan gizi lansia sehingga

tidak kekurangan atau kelebihan.

c. Memperbaiki frekuensi makan dengan jadwal yang teratur yaitu makanan

utama 3 kali sehari dan 2 kali snack sebagai selingan diantara waktu makan.

2. Perlu perubahan dalam pola aktivitas pada waktu luang, yang biasa digunakan

untuk melakukan kegiatan yang mengeluarkan energi sedikit diganti dengan

kegiatan yang mengeluarkan energi lebih banyak, serta melakukan olahraga

secara teratur.

3. Melakukan pemeriksaan kesehatan dengan rutin dan memperbaiki pola konsumsi

(60)

Anwar, L. 2009. Status Gizi dan Faktor Yang Mempengaruhi, (Online), http://anwarsasake.wordpress.com/2009/08/07/status-gizi-dan-faktor-yang-mempengaruhi, diakses 6 Desember 2009 pukul 19:20 WIB.

Arali. 2009. Hasil Penyelidikan KLB Diare di Kecamatan Luyo, (Online), http://arali2008.wordpress.com/2009/07/21/hasil-penyelidikan-klb-diare-di-kec-luyo/, diakses 17 Desember 2009 pukul 17:20 WIB.

Arifin, Y. 2009. Penuaan Pada Sistem Pulmonal. (Online),

http://yasirblogspotcom.blogspot.com/2009/01/penuaan-pada-sistem-pulmonal.html, diakses 15 Desember 2009 pukul 08:20 WIB.

Artno. 2006. Asuhan Gizi Pada Odha. (Online), http://spiritia.or.id/cst/bacacst. php?artno=1019, diakses 15 Desember 2009 pukul 08:20 WIB.

Darmojo, B.R. 1999. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Depkes RI. 1996. 13 Pesan Da sar Gizi Seimbang. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Depkes RI. 2000. Gizi Seimbang Menuju Hidup Sehat Bagi Usia Lanjut, Pedoman Petugas Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI.

Depkes RI. 2006. Pedoman Tatalaksana Gizi Usia Lanjut Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Fitriati. 2006. Hubungan Antara Pola Konsumsi dan Penyakit Infeksi dengan Status Gizi Usia Lanjut di Desa Sidas Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak. Karya Tulis Ilmiah tidak diterbitkan. Politeknik Kesehatan Depkes Pontianak.

(61)

Himawati. 2000. Hubungan Faktor Sosial Ekonomi dengan Pola Konsumsi Makanan dan Status Gizi Anak Balita Purworejo. Tugas Akhir tidak diterbitkan. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Batuk

Huda, N. 2004. Hubungan Antara Status Gizi Awal Dengan Status Pulang dan Lama Ra wat Inap Pasien Dewasa di Rumah Sakit, Jurnal Gizi Klinik Indonesia Volume 1 No. 1 tahun 2004, Yogyakarta.

I_Nutrition. 2009. Asian BMI, (Online), http://healthkicker.com/, diakses 6 Desember 2009 pukul 19:20 WIB.

Jaladri, I. 2009. Tesis Bab 1, (Online), http://iman-jaladri.blogspot.com/, diakses 6 Desember 2009 pukul 19:20 WIB.

Karina. 2009. Faktor-Faktor Yang Berhubunga n Dengan Pola Konsumsi Pada Lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Karya Tulis Ilmiah tidak diterbitkan. Politeknik Kesehatan Depkes Pontianak.

Lemeshow, S. 1997. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan (terjemahan). Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Miftachul. 2009. Demam, (Online), http://boemimerdeka.multiply.com/reviews/ item/9, diakses pada 30 Juni 2010 pukul 19:35 WIB.

Nugroho, W. 2000. Kepera watan Gerontik & Geriatrik. Jakarta: EGC.

Nadesul, H. 2006. Sehat Itu Murah. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

(62)

Pontianak Post. 2008. Lansia Produktif, (Online), http://arsip.pontianakpost.com/ berita=metropolis&id=156278, diakses 6 Desember 2009 pukul 19:20 WIB.

Rabe, et.al. 1996. Body Mass Index of The Elderly Derived From Height and From Armspan. Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition Volume 5 Number 2: 79-8

Siburian, P. 2007. Kenalilah Penyakit Infeksi Pada Lansia , (Online), http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id= 1816:kenalilah-penyakit-infeksi-pada-lansia&catid=28:kesehatan&Itemid=48, diakses 15 Desember 2009 pukul 08:31 WIB.

Supariasa. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.

Suwarsa. 2006. Kiat Sehat Bagi Lansia; Menjadi Tua, Tidak Harus Pikun. Jadilah Dokter Bagi Diri Anda Sendiri!. Bandung: MQS Publishing.

Sudiarti, T. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyaraka t, Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masya raka t Universita s Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Tamher, S. 2009. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan Kepera watan. Jakarta : Medika Salemba.

Tanaya, Z.A. 2009. Hubungan Antara Aktifitas Fisik Dengan Status Gizi Lansia Binaan Puskesmas di Jakarta Barat Tahun 2007. Tugas Akhir tidak diterbitkan, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Jakarta.

Tanchoco, et.al. 2001. Arm Span and Knee Height as Proxy Indicators for Height. Journal of the Nutritional Dietitians of the Philippines, April-June, Vol. 15 No.2, Philippines

(63)

MUTIARA TIMUR KELURAHAN DALAM BUGIS

1. Apa saja jenis makanan yang bapak/ibu konsumsi setiap hari? a. Nasi, lauk pauk

b. Nasi, lauk pauk, dan sayur c. Nasi, lauk pauk, sayur, dan buah d. Nasi, lauk pauk, sayur, buah, dan susu

2. Diantara waktu makan, apakah bapak/ibu mengkonsumsi makanan selingan? a. Ya

b. Kadang-kadang c. Tidak pernah

Jika tidak langsung ke pertanyaan no. 4

3. Apakah jenis makanan selingan yang bapak/ibu konsumsi? a. Kue

b. Buah

c. Bubur kacang hijau d. Lain-lain

4. Bagaimana bentuk olahan nasi yang bapak/ibu konsumsi? a. Nasi biasa

Gambar

Tabel 1. Kategori Ambang Batas IMT untuk Populasi Asia  IMT untuk Populasi Asia
Tabel 2. Asupan yang Dianjurkan untuk Usia 60 Tahun Ke Atas Zat Gizi Laki-laki Perempuan
gambar dibawah ini :
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Golongan Umur di Kelurahan Dalam Bugis Golongan Umur (tahun) Jumlah (n) Persentase (%)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pola asuh, pola makan yang kurang baik dan penyakit infeksi pada balita dimungkinkan dapat menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gizi

C. Ada hubungan antara pola konsumsi dengan pertumbuhan anak tunagrahita di SDLBN 1 Maccini Baji Maros yang dilihat dari status gizi anak. Ada hubungan antara penyakit

subjek dalam penelitian saya yang berjudul “ Hubungan Pola Konsumsi Makanan.. dengan Status Gizi Siswa SMA Santo Thomas 1

Tujuan Penelitian: Penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan gizi, pola makan dan status gizi, serta mengetahui hubungan pengetahuan gizi, pola makan dengan

Status gizi lansia yang ada di PSTW Unit Abiyoso Yogyakarta, menunjukkan bahwa responden dengan status gizi tidak baik ada sebanyak 33 responden (62,3%),

Variabel yang akan diukur dalam penelitian ini adalah status gizi responden (overweight dan non-overweight), pola konsumsi (konsumsi fast food, konsumsi soft

Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara pola asuh makan, konsumsi energi dan konsumsi protein dengan status gizi remaja di SLB Negeri Banjarbaru nilai p pada

Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Apakah terdapat Hubungan Pemanfaatan Media Sosial, Pola Konsumsi Dan Status Gizi Dengan