TERHADAP STATUS GIZI LANSIA BINAAN YAYASAN
MUTIARA TIMUR KELURAHAN DALAM BUGIS
K E C A M A T A N P O N T I A N A K T I M U R
Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Ahli Madya Gizi (A.Md.Gizi)
Oleh :
YULINDA KURNIASARI
NIM 6.07.02.0299
JURUSAN GIZI
Dipersiapkan dan disusun oleh:
YULINDA KURNIASARI NIM. 6.07.02.0299
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada tanggal, 31 Juli 2010
Susunan dewan penguji Ketua,
Agus Hermansyah, SKM, M.PH
Anggota, Anggota,
Agustiansyah, SKM, M.Kes Jurianto Gambir, S.SiT, M.Kes
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dibimbing oleh:
Pembimbing Utama, Pembimbing Pendamping,
Agus Hermansyah, SKM, M.PH Sopiyandi, S.Gz
Karya Tulis ilmiah ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar AHLI MADYA GIZI di Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Pontianak
Pontianak, 31 Juli 2010 Plt. Ketua Jurusan Gizi
iii Tempat, tanggal lahir : Yogyakarta, 21 Juli 1989
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Arteri Supadio, Komplek Angkasa Permai A. 28
Nama Orang Tua : Ayah : Suwandi, S.SiT
Ibu : Tri Puji Astuti, S.Pd
Alamat : Jl. Arteri Supadio, Komplek Angkasa Permai A. 28
JENJANG PENDIDIKAN
1. SD Negeri 09 Sui Raya, tahun 1995-2001
2. SMP Negeri 01 Sui Raya, tahun 2001-2004
iv
DALAM BUGIS KECAMATAN PONTIANAK TIMUR
xii + 47 halaman, 18 tabel, 1 gambar, 8 lampiran
Menua merupakan proses normal yang dimulai sejak konsepsi dan berakhir saat kematian. Penambahan umur tanpa peningkatan kualitas hidup hanya akan menambah panjang penderitaan bagi yang bersangkutan, keluarga, dan masyarakat. Masalah besar yang terjadi pada lansia yaitu kemunduran fungsional tubuh yang mempengaruhi masuknya zat gizi dan semakin melemahnya sistem kekebalan tubuh. Upaya yang dilakukan agar kualitas hidup lansia tetap baik dengan mempertahankan status gizi untuk tetap optimal.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola konsumsi dan penyakit infeksi terhadap status gizi lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Penelitian bersifat analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel adalah lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur yang berjumlah 57 orang. Instrument untuk pengambilan data primer adalah kuesioner, formulir food recall 24 jam, rigid anthropometer, dan timbangan bath room scale. Analisa data menggunakan program SPSS for windows dengan menggunakan uji chi-square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pola konsumsi dengan status gizi (p=0,177) dan tidak ada hubungan antara penyakit infeksi dengan status gizi (p=1,000). Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah agar lansia meningkatkan jenis bahan makanan, mengkonsumsi makanan sesuai dengan kebutuhan gizi, memperbaiki frekuensi makan dengan jadwal yang teratur, melakukan perubahan pola aktivitas, dan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Daftar Bacaan : 35 (1986-2009)
v
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul
“Hubungan Pola Konsumsi dan Penyakit Infeksi Terhadap Status Gizi Lansia
Binaan Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak
Timur”.
Secara khusus penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga
kepada kedua orang tua yang telah banyak membantu penulis, baik dukungan secara
moril maupun materil. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada bapak
Agus Hermansyah, SKM, M.PH dan bapak Sopiyandi, S.Gz yang telah meluangkan
waktu untuk membimbing, mengarahkan, dan memberi masukan dalam penulisan
Karya Tulis Ilmiah ini sejak awal hingga akhir. Ucapan terima kasih juga tidak lupa
penulis sampaikan kepada:
1. Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak.
2. Dosen dan seluruh staf yang telah membimbing dan memberikan motivasi dalam
segala hal.
3. Ibu Syarifah Rayati, A.Ma.Pd selaku ketua Yayasan Mutiara Timur yang telah
memberikan izin penelitian.
4. Ibu Melly selaku kader Posyandu Lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur yang
vi
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penyusunan
Karya Tulis Ilmiah ini. Oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang
sifatnya membangun demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini dan dengan segala
keterbatasan yang ada, semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua,
Amien.
Pontianak, Juli 2010
vii
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Usia Lanjut ... 6
B. Status Gizi ... 8
C. Pola Konsumsi ...12
D. Penyakit Infeksi ...16
BAB III KERANGKA KONSEPSIONAL A. Kerangka Konsep ...20
B. Hipotesis ...20
C. Definisi Operasional ...21
BAB IV METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ...24
B. Tempat dan Waktu Penelitian ...24
C. Populasi dan Sampel ...24
D. Jenis Data ...26
E. Teknik pengumpulan Data ...26
F. Instrumen Penelitian ...27
viii
BAB VI PEMBAHASAN
A. Status Gizi ...41 B. Hubungan antara Pola Konsumsi dengan Status Gizi Lansia ...42 C. Hubungan antara Penyakit Infeksi dengan Status Gizi Lansia ...44
BAB VII PENUTUP
A. Kesimpulan ...47 B. Saran ...47
ix
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Golongan Umur di Kelurahan
Dalam Bugis
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Suku di Kelurahan Dalam Bugis
Tabel 5 Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Agama di Kelurahan Dalam
Bugis
Tabel 6 Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Jenis Pendidikan di
Kelurahan Dalam Bugis
Tabel 7 Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan di
Kelurahan Dalam Bugis
Tabel 8 Karakteristik Responden Menurut Umur, Jenis Kelamin dan Pekerjaan
Tabel 9 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Pola Konsumsi di Binaan
Yayasan Mutiara Timur
Tabel 10 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Jenis Konsumsi di Binaan
Yayasan Mutiara Timur
Tabel 11 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Kategori Jumlah Konsumsi
Energi dan Protein di Binaan Yayasan Mutiara Timur
Tabel 12 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Asupan Energi dan Protein di
Binaan Yayasan Mutiara Timur
Tabel 13 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Frekuensi Konsumsi di Binaan
Yayasan Mutiara Timur
Tabel 14 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Penyakit Infeksi di Binaan
Yayasan Mutiara Timur
Tabel 15 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Status Gizi di Binaan Yayasan
x
Tabel 18 Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Penyakit Infeksi dengan
xii Lampiran 3 Penentuan Status Gizi Lansia
Lampiran 4 Daftar Nilai Satuan Ukuran Rumah Tangga (URT)
Lampiran 5 Surat Permohonan Ijin Penelitian
Lampiran 6 Surat Keterangan Penelitian
Lampiran 7 Hasil Analisis Statistik Penelitian
1
Keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional telah mewujudkan
hasil yang positif di berbagai bidang yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan
lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran serta
upaya-upaya peningkatan kesehatan yang mampu meningkatkan umur harapan hidup. Hal
tersebut mengakibatkan jumlah lanjut usia bertambah serta ada kecenderungan
meningkat lebih cepat (Depkes, 2008). Penambahan umur tanpa peningkatan kualitas
hidup tentu tak cukup karena hanya akan menambah panjang penderitaan bagi yang
bersangkutan, keluarga, dan masyarakat. Tentu sangat tidak diharapkan bila
penambahan usia itu disertai dengan mundurnya kemampuan psikis dan fisik, serta
berbagai penyakit (Suwarsa, 2006).
Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia dari tahun ke tahun
cenderung meningkat. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) Depkes diharapkan Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 66,2
tahun pada tahun 2004 menjadi 70,6 tahun pada tahun 2009. Dengan meningkatnya
UHH, maka populasi penduduk lanjut usia juga akan mengalami peningkatan
bermakna. Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk lansia di Indonesia,
sebesar 24 juta jiwa atau 9,77% dari total jumlah penduduk (Depkes, 2008).
sebanyak 147.614 jiwa dan tahun 2005 meningkat menjadi 210.963 jiwa (5,21 %)
dari jumlah penduduk daerah ini (Pontianak Post, 2008).
Menua (aging) merupakan proses normal yang dimulai sejak konsepsi dan
berakhir saat kematian. Apabila seseorang berhasil mencapai usia lanjut, maka salah
satu upaya utama adalah mempertahankan atau membawa status gizi yang
bersangkutan pada kondisi optimum agar kualitas hidup yang bersangkutan tetap
baik. Lansia seperti juga tahapan-tahapan usia yang lain dapat mengalami keadaan
gizi lebih maupun kekurangan gizi. Lansia di Indonesia yang dalam keadaan gizi
kurang sebesar 28,3%, berat badan ideal berjumlah 42,4%, berat badan lebih ada
6,7% dan obesitas sebanyak 3,4% (Darmojo, 1999).
Malnutrisi merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap
kesakitan. Keadaan gizi yang buruk akan mempermudah seseorang untuk terkena
penyakit terutama penyakit-penyakit infeksi. Sebaliknya, penyakit infeksi akan
memperburuk keadaan status gizi seseorang (Sudiarti, 2007). Masalah besar
kesehatan orang berusia lanjut, antara lain semakin melemahnya sistem kekebalan
tubuh (Nadesul, 2006). Penyakit infeksi mempunyai kontribusi cukup besar terhadap
angka kematian penderita sampai akhir abad 20 pada populasi umum, kemudian
menurun setelah ditemukan antibiotika dan teknik pencegahan penyakit. Walaupun
demikian prevalensi infeksi sebagai penyebab kematian morbiditas dan mortalitas
Yayasan Mutiara Timur adalah sebuah Pusat Kegiatan Belajar Mengajar
(PKBM) yang didirikan pada tanggal 2 Maret 1999 oleh Syarifah Rayati, A.Ma.Pd
dan terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Yayasan ini
berada dibawah pengawasan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial dan
dibantu juga dari pihak Puskesmas Kampung Dalam. Yayasan Mutiara Timur
menaungi berbagai macam kegiatan untuk anak balita, anak jalanan, masyarakat buta
huruf, dan lanjut usia. Salah satu kegiatan bagi lansia adalah Posyandu Lansia “Kasih
Sayang" yang dilaksakan setiap bulannya meliputi pemeriksaan kesehatan,
penimbangan berat badan, penyuluhan kesehatan, dan kegiatan senam lansia yang
dilakukan seminggu sekali serta adanya Bantuan Kesejahteraan Sosial Produktif
(BKSP) oleh Dinas Sosial dan Asuransi Kesejahteraan Sosial (Askesos).
Data penyakit infeksi pada lansia yang berkunjung ke Puskesmas Kampung
Dalam selama bulan November 2009 yaitu infeksi usus sebesar 25,00%, infeksi
saluran pernafasan atas sebesar 44,05%, infeksi saluran pernafasan bawah sebesar
28,57%, dan TB sebesar 2,38%. Penelitian Karina (2009), faktor-faktor yang
berhubungan dengan pola konsumsi pada lansia binaan Yayasan Mutiara Timur di
Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Sifat penelitian deskriptif
analitik dengan pendekatan crosssectional. Variabel independen meliputi
pengetahuan gizi lansia, pola asuh, dan pendidikan gizi lansia yang mempengaruhi
variabel dependen, yaitu pola konsumsi pada lansia. Hasilnya menunjukkan bahwa
persentase pola konsumsi lansia yang tidak baik sebesar 63,3% yang dilihat dari jenis,
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
tentang: Bagaimana hubungan pola konsumsi dan penyakit infeksi terhadap status
gizi lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan
Pontianak Timur?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan pola konsumsi dan penyakit infeksi terhadap status gizi
lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak
Timur.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui hubungan pola konsumsi terhadap status gizi lansia Binaan
Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak
Timur.
b. Mengetahui hubungan penyakit infeksi terhadap status gizi lansia Binaan
Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Yayasan
Memberikan informasi tentang hubungan antara pola konsumsi dan
penyakit infeksi terhadap status gizi lansia, sehingga dapat meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan bagi usia lanjut.
2. Bagi Usia Lanjut
Memberikan informasi mengenai pentingnya memperhatikan kebutuhan
gizi pada usia lanjut dan menambah wawasan pengetahuan usia lanjut khususnya
di bidang kesehatan.
3. Bagi Peneliti
Untuk meningkatkan pemahaman tentang status gizi usia lanjut serta
6 1. Pengertian
Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur
dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan
memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994 dalam Darmojo, 1999).
Proses menua merupakan proses yang terus menerus berlangsung, hal tersebut
dimulai dari seseorang mencapai usia dewasa dan umumnya dialami oleh setiap
manusia (Nugroho, 2000). Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang
berusia 60 tahun keatas (Hardywinoto,1999). Dalam undang-undang nomor 13 tahun
1998, lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun
keatas.
2. Golongan Lanjut Usia
Lanjut usia dibagi menjadi beberapa tahapan usia (WHO, 2000 dalam
Nugroho, 2000):
a. Usia pertengahan (middle age) kelompok usia 45 tahun sampai 59 tahun.
b. Usia lanjut muda (elderly) kelompok usia 60 tahun sampai 74 tahun.
c. Usia lanjut tua (old) kelompok usia 75 tahun sampai 90 tahun.
3. Perubahan Fisik pada Lanjut Usia
Pada lansia, terjadi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuhnya, ada
beberapa perubahan fisiologis yang berhubungan dan mempengaruhi status gizi
lansia, yaitu:
a. Indera. Indera pengecap, pencium, dan penglihatan menurun yang akan secara
langsung dan tidak langsung mempengaruhi nafsu makan dan asupan makanan.
Terjadi penurunan sensitifitas pada rasa manis dan asin. Selain itu muncul nyeri pada
lidah (Darmojo, 1999).
b. Saluran cerna dan digesti. Terjadi perubahan-perubahan pada kemampuan
digesti dan absorbsi, akibatnya muncul anoreksia. Sekresi ludah menurun hingga
terjadi gangguan pengunyahan dan penelanan serta terjadi malabsorbsi lemak, fungsi
asam empedu yang menurun dan diare (Darmojo, 1999). Pada usus besar terjadi
penurunan kontraktilitas, akibatnya mudah timbul sembelit, atau gangguan buang air
besar (S. Tamher, 2009).
c. Metabolisme. Terjadi penurunan toleransi glukosa yang mengakibatkan
kenaikan glukosa di dalam plasma untuk setiap dekade umur. Hal ini dikarenakan
penurunan produksi insulin dan respon jaringan terhadap insulin yang menurun.
d. Ginjal. Fungsi ginjal menurun sekitar 50% antara usia 30-80 tahun. Reaksi
B. Status Gizi
1. Definisi
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel
tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu. Status gizi
merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara makanan yang masuk ke dalam
tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi (Supariasa, 2002). Konsumsi makanan
berpengaruh terhadap status gizi sesorang. Status gizi baik atau status gizi optimal
terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien,
sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, pertumbuhan otak, kemampuan kerja
dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang terjadi
bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial (Almatsier,
2001).
Perubahan status gizi pada lansia disebabkan perubahan lingkungan maupun
faali dan status kesehatan mereka. Faktor kesehatan yang berperan dalam perubahan
status gizi antara lain adalah naiknya insiden penyakit degenerasi maupun non
degenerasi yang berakibat dengan perubahan dalam asupan makanan, perubahan
2. Penilaian Status Gizi
Status gizi lansia dapat dinilai dengan cara-cara yang baku bagi berbagai
tahapan umur yakni penilaian secara langsung dan tidak langsung.
a. Penilaian secara langsung. Pengukuran antropometri dapat digunakan untuk
menentukan status gizi. Cara yang paling sederhana digunakan:
1). Indeks Massa Tubuh (IMT). Status gizi diketahui dari berat badan dan tinggi
badan melalui penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), yaitu:
Berat badan (kg)
Tinggi badan (m) x tinggi badan (m)
Tabel 1. Kategori Ambang Batas IMT untuk Populasi Asia
Klasifikasi IMT untuk Populasi Asia
Kurus < 18,5
Normal > 18,5-22,9
Gemuk > 23,0-27,4
Obesitas > 27,5
Sumber: healthkicker.com, 2009
2). Menggunakan rumus Brocca. Cara ini untuk mengukur BB ideal dengan
menggunakan rumus: BBI = (TB-100) - 10% (TB-100). Batas ambang yang
diperbolehkan adalah +10%, bila lebih dari 10% disebut kegemukan dan bila
3). Rentang lengan. Rentang lengan (armspan) adalah substitusi lain untuk tinggi
badan dan biasanya sama dengan tinggi badan maksimal. Pemeriksaan tinggi
badan pada lansia dapat memberikan nilai kesalahan yang cukup bermakna
karena terjadinya osteoporosis pada lansia yang akan berakibat pada kompresi
tulang-tulang columna vebrata (Rabe, 1996). Proyeksi tinggi badan berdasarkan
rentang lengan dapat ditentukan dengan rumus:
Pria : 118,24 + (0,28 x rentang lengan) – (0,07 x umur) cm
Wanita : 63,18 + (0,63 x rentang lengan) – (0,17 x umur) cm
(Tanchoco C. Celeste, 2001)
b. Penilaian secara tidak langsung
1). Metode recall 24 jam. Dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan
makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. 2 kali recall 24 jam
tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran asupan gizi lebih optimal dan
memberikan variasi yang lebih besar tentang intake harian individu (Sanjur,1997
dalam Supariasa, 2002). Langkah – langkah pelaksanaan recall 24 jam :
a. Pewawancara menanyakan kembali dan mencatat semua makanan dan
minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga (URT)
selama kurun waktu 24 jam yang lalu. Pewawancara melakukan konversi dari
URT ke dalam ukuran berat (gram).
b. Menganalisi bahan makanan ke dalam zat gizi dengan menggunakan Daftar
c. Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang Dianjurkan (DKGA)
atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia.
Pengelompokan bahan makanan dapat berupa makanan pokok, sumber protein
nabati, sumber protein hewani, sayuran, buah – buahan dan lain – lain
(Supariasa, 2002)
2). Metode riwayat makanan (dietary history). Digunakan untuk mendapatkan
informasi konsumsi pangan secara kualitatif dengan menanyakan jenis dan
jumlah pangan yang biasa dikonsumsi. Burke (1947) dalam Supriasa (2002)
menyatakan bahwa metode ini terdiri dari tiga komponen, yaitu:
a. Komponen pertama adalah wawancara (termasuk recall 24 jam), yang
mengumpulkan data tentang apa saja yang dimakan responden selama 24 jam
terakhir.
b. Komponen kedua adalah tentang frekuensi penggunaan dari sejumlah bahan
makanan dengan memberikan daftar (check list) yang sudah disiapkan, untuk
mengecek kebenaran dari recall 24 jam tadi.
c. Komponen ketiga adalah pencatatan konsumsi selama 2 – 3 hari sebagai cek
ulang.
3). Metode penimbangan makanan (food weighing). Mempunyai ketelitian yang lebih
tinggi dibandingkan metode-metode lain karena jumlah makanan yang
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi
Status gizi bukan merupakan ukuran atau indeks yang berdiri sendiri namun
merupakan gabungan dari berbagai faktor yang berbeda. Faktor yang mempengaruhi
status gizi adalah konsumsi makanan dan status kesehatan terutama penyakit infeksi
(Daily, 1979 dalam Supariasa, 2002). Status gizi usia lanjut juga dipengaruhi oleh
faktor fisiologi, psikologis, sosioekonomi, dan pengetahuan tentang gizi (Depkes,
2003).
C. Pola Konsumsi
Pola konsumsi pangan merupakan gambaran mengenai jumlah, jenis, dan
frekuensi bahan makanan yang dikonsumsi seseorang sehari-hari dan merupakan ciri
khas pada suatu kelompok masyarakat tertentu. Konsumsi pangan merupakan faktor
utama untuk memenuhi kebutuhan gizi seseorang (Harper, 1986).
Pola makan yang dimaksud adalah pola makan lanjut usia yang masih bersifat
umum. Pola makan lanjut usia dengan penyakit tertentu yang memerlukan terapi diit
khusus akan berbeda. Misalnya, lanjut usia yang mengalami gangguan abnormal
asam urat, maka beberapa jenis makanan seperti melinjo dan hasil olahannya, jeroan,
kol perlu dibatasi. Demikian pula lanjut usia yang menderita diabetes. Pembatasan
karbohidrat murni dalam pola konsumsinya harus diatur sehingga tidak memperburuk
1. Jenis Konsumsi
Hidangan yang beraneka ragam adalah susunan makanan sehari-hari yang
minimal terdiri dari 4 jenis bahan makanan yaitu bahan makanan pokok, lauk pauk,
sayuran, dan buah. Agar diperoleh tingkat kesehatan yang optimal, usia lanjut
dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan beranekaragam. Makin beragam makanan
yang dikonsumsi, makin baik mutu gizinya (Depkes, 2003).
Jumlah macam makanan dan jenis serta banyaknya bahan pangan dalam pola
makan di suatu tempat, biasanya berkembang dari pangan setempat atau dari pangan
yang telah ditanam di tempat tersebut. Meskipun demikian, setiap keluarga perlu
belajar menyediakan gizi yang baik di rumah melalui pangan yang disiapkan dan
dihidangkan, sehingga setiap orang dapat makan cukup pangan yang beraneka ragam
jenisnya guna memenuhi kebutuhan perorangan (Harper, 1986).
Hidangan yang beraneka ragam dapat menjamin terpenuhnya kecukupan
sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. Bahan makanan sumber zat
tenaga adalah beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mie.
Bahan makanan sumber pembangun berasal dari kacang-kacangan, tempe, tahu, telur,
ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahannya seperti keju. Sedangkan bahan
makanan sumber pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Bahan
makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral yang berperan untuk
Pada usia lanjut kebutuhan zat gizi kurang diperlukan untuk pertumbuhan
fisik, tetapi lebih banyak untuk mengganti jaringan tubuh yang rusak dan
mempertahankan derajad kesehatan. Oleh karena itu, untuk usia lanjut diperlukan
vitamin, mineral, dan serat dalam jumlah yang cukup guna pemeliharaan dan
mendukung kelancaran proses dalam tubuh agar tetap berjalan secara normal.
Sayuran, buah-buahan, dan padi-padian harus ada dalam makanan sehari-hari.
Usia lanjut sangat dianjurkan mengkonsumsi bahan makanan yang tinggi zat kapur
dan zat besi seperti yang terdapat dalam ikan, daging, susu rendah lemak,
kacang-kacangan, dan sayuran berwarna. Konsumsi bahan makanan yang mengandung zat
kapur dan zat besi dalam jumlah yang cukup dapat mencegah pengeroposan tulang
dan anemia gizi besi. Untuk menghindari kesulitan buang air besar, usia lanjut
dianjurkan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran yang berserat (Depkes,
2000).
2. Jumlah Konsumsi
Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal, diperlukan pedoman jenis
dan jumlah zat gizi yang dibutuhkan oleh individu secara rata-rata dalam sehari.
Kebutuhan zat gizi setiap individu berbeda-beda tergantung faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recommended Dietary
Allowance (RDA) adalah taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang berdasarkan
pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir semua orang
Angka kecukupan gizi untuk Indonesia yang digunakan sebagai pedoman
adalah hasil Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VIII tahun 2004 seperti yang
terdapat pada tabel berikut.
Tabel 2. Asupan yang Dianjurkan untuk Usia 60 Tahun Ke Atas
Zat Gizi Laki-laki Perempuan
Energi (Kkal) 2050 1600
Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII, 2004
3. Frekuensi Makanan
Frekuensi makanan merupakan gambaran tentang frekuensi makan, frekuensi
konsumsi menurut jenis bahan makanan yang dikonsumsi seseorang serta kebiasaan
porsi makan pun tak bisa sama seperti pada waktu sebelum lansia. Ini bisa disiasati
dengan makan 4-5 kali dengan porsi yang sedikit-sedikit (Pangastuti, 2004).
Supaya tidak memberikan rasa jenuh atau mual, dianjurkan antara makan pagi
dan makan siang, antara makan siang dan makan malam, serta sebelum tidur, diberi
makanan porsi kecil (panganan atau buah) agar porsi pada makan pagi, siang, dan
malam tidak terlalu besar untuk mencukupi kebutuhan zat gizinya (Roedjito D, 1989
dalam Fitriani, 2006). Tingkat konsumsi kelompok rumah tangga atau perorangan
berdasarkan buku pedoman petugas gizi puskesmas mengklasifikasikan tingkat
konsumsi menjadi 4, yaitu baik ≥ 100% AKG, sedang 80-99% AKG, kurang 70-80%
AKG, dan defisit < 70% AKG (Supariasa, 2002)
D. Penyakit Infeksi
Status kesehatan usia lanjut berpengaruh terhadap status gizi. Pada usia lanjut
kemampuan sistem tubuh sudah mulai menurun sehingga rentan terhadap penyakit.
(Suhardjo, 2003). Penyakit infeksi adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh
sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan disebabkan faktor
fisik (seperti luka bakar) atau kimia (seperti keracunan). Penyakit Infeksi disebabkan
oleh kurangnya sanitasi dan bersih, pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai,
dan pola asuh yang tidak memadai (Anwar, 2009). Pada lansia terdapat beberapa
1. Faktor Nutrisi
Lansia sering kali mengalami kekurangan gizi sehingga memudahkannya
mengalami infeksi, baik memudahkan kuman masuk ke dalam tubuh, mempengaruhi
perjalanan dan akibat akhir dari infeksi tadi. Selain itu, zat-zat penting di dalam
makanan seperti protein, mineral dan vitamin memegang peranan penting untuk
pertahanan tubuh terhadap infeksi.
2. Faktor Imunitas Tubuh
Beberapa faktor kekebalan tubuh seperti kekebalan alamiah (kulit, rambut
getar dan lendir dari saluran nafas) dan kekebalan seluler serta humoral telah
berkurang baik kualitas (mutu) maupun kuantitasnya (jumlahnya).
3. Faktor Perubahan Fisiologik
Beberapa organ pada usia lanjut baik jantung, paru, ginjal, hati dan lain-lain
telah menurun fungsinya, sehingga bukan saja memudahkan terjadinya infeksi tetapi
juga menyulitkan pengobatannya.
4. Faktor Terdapatnya Berbagai Proses Patogenik
Salah satu karakteristik penyakit pada lansia adalah terdapatnya lebih dari satu
penyakit yang menyebabkan daya tahan tubuh yang sangat berkurang. Berbagai
penyakit antara lain diabetes melitus, keganasan, atau abnormalitas pembuluh darah
Pada umumnya penyakit infeksi pada lansia sering memberikan gejala-gejala
yang tidak khas, sehingga memerlukan kecermatan untuk segera dapat mengenalnya.
Secara umum, memang penyakit infeksi telah dapat dikendalikan, akan tetapi pada
lansia hal ini masih merupakan suatu masalah, karena berkaitan dengan menurunnya
fungsi organ tubuh dan daya tahan tubuh akibat proses menua (Siburian, 2007).
Penyakit infeksi yang sering diderita lansia antara lain:
1. Diare
Diare adalah penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang
usus, mengakibatkan usus tidak dapat menyerap zat-zat gizi sebagai hasil dari
pencernaan sehingga dengan bantuan cairan tubuh harus dikeluarkan melalui tinja
atau Buang Air Besar dengan perubahan bentuk dan konsitensi tinja (tinja encer atau
½ cair) dengan frekuensi lebih sering biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari (24 jam)
dan jumlahnya bisa mencapai lebih dari 500 gram/hari (Depkes, 2008 dalam Arali,
2009)
2. Demam
Demam adalah suatu bagian penting dari mekanisme pertahanan tubuh
melawan infeksi. Kebanyakan bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi pada
manusia hidup subur pada suhu 37ºC. Meningkatnya suhu tubuh beberapa derajat
dapat membantu tubuh melawan infeksi. Demam akan mengaktifkan sistem
kekebalan tubuh untuk membuat lebih banyak sel darah putih, membuat lebih banyak
normal bervariasi tergantung masing-masing orang, usia dan aktivitas. Rata-rata suhu
tubuh normal adalah 37ºC.
Yang mengatur suhu tubuh kita adalah hipotalamus yang terletak di otak.
Hipotalamus ini berperan sebagai thermostat. Pada saat kuman masuk ke tubuh dan
membuat kita sakit, mereka seringkali menyebabkan beberapa zat kimiawi tertentu
beredar dalam darah kita dan mencapai hipotalamus. Pada saat hipotalamus tahu
bahwa ada kuman, maka secara otomatis akan mengeset thermostat tubuh kita lebih
tinggi (Miftachul, 2009).
3. Batuk
Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh di saluran pernapasan dan
merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi di tenggorokan.
Ada beberapa macam penyebab batuk :
a. Umumnya disebabkan oleh infeksi di saluran pernapasan bagian atas yang
merupakan gejala flu.
b. Infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA).
c. Alergi
d. Asma atau tuberculosis
e. Benda asing yang masuk kedalam saluran napas
f. Tersedak akibat minum susu
g. Menghirup asap rokok dari orang sekitar
h. Batuk Psikogenik. Batuk ini banyak diakibatkan karena masalah emosi dan
20
A. Kerangka Konsep
Untuk mencapai tujuan penelitian maka dibuat kerangka konsep seperti
gambar dibawah ini :
Variabel Independent Variabel Dependent
Gambar 1. Kerangka konsep hubungan pola konsumsi dan penyakit infeksi terhadap status gizi lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.
B. Hipotesis
1. Ada hubungan antara pola konsumsi dengan status gizi lansia Binaan Yayasan
Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.
2. Ada hubungan antara penyakit infeksi dengan status gizi lansia Binaan Yayasan
Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Status Gizi Pola Konsumsi
C. Definisi Operasional
1. Pola konsumsi
Pola konsumsi adalah jenis bahan makanan yang dimakan dalam satu hari,
jumlah makanan dalam gram, dan frekuensi makan lansia sehari-hari.
Skala ukur : Ordinal
Alat ukur : Food recall 24 jam
Hasil ukur :
a. Baik, jika memenuhi 3 kriteria yaitu jenis, jumlah dan frekuensi.
b. Tidak baik, jika tidak memenuhi 3 kriteria yaitu jenis, jumlah dan
frekuensi.
a. Jenis adalah macam makanan yang dikonsumsi oleh lansia selama 2 x 24
jam yang dilihat pada macam makanan seperti makanan pokok (beras,
roti, jagung, ubi, dll), lauk pauk (daging, ikan, telur, tempe, tahu), sayuran
dan buah-buahan dalam satu kali makan.
Skala ukur : Ordinal
Alat ukur : Food recall 24 jam
Hasil ukur :
a. Baik, jika ≥ 3 kategori bahan makanan yang terpenuhi
b. Tidak baik, jika <3 kategori bahan makanan yang
b. Jumlah adalah banyaknya pangan yang dikonsumsi oleh lansia dalam
sehari (24 jam) yang dihitung dari rata-rata konsumsi bahan makanan
selama 2 x 24 jam dan diterjemahkan menjadi zat gizi energi dan protein
dalam satuan kalori dan gram.
Skala ukur : Ordinal
Alat ukur : Food recall 24 jam
Hasil ukur :
a. Baik, jika ≥ 80% AKG dari energi dan protein
b. Tidak baik, jika < 80% AKG dari energi dan protein
c. Frekuensi adalah seringnya konsumsi bahan makanan dalam satu hari
selama 2 x 24 jam.
Skala ukur : Ordinal
Alat ukur : Food recall 24 jam
Hasil ukur :
a. Baik, jika ≥ 3x makan dalam satu hari
2. Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi
(diare, demam, dan batuk) diketahui dengan mengkaji apakah dalam kurun waktu
satu bulan sebelum penelitian lansia menderita penyakit infeksi atau tidak.
Skala ukur : Ordinal
Alat ukur : Kuesioner
Hasil ukur :
a. Ya, jika dalam kurun waktu satu bulan terakhir lansia menderita
satu atau lebih penyakit infeksi (diare, demam, dan batuk)
b. Tidak, jika dalam kurun waktu satu bulan terakhir lansia tidak
menderita salah satu penyakit infeksi (diare, demam, dan batuk)
3. Status gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh lansia yang diakibatkan oleh konsumsi
makanan, yang ditentukan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan
pengukuran berat badan (kg)/tinggi badan (m2). Proyeksi tinggi badan diperoleh
berdasarkan pengukuran rentang lengan.
Skala ukur : Ordinal
Alat ukur : Timbangan bath room scale & rigid anthropometer
Hasil ukur : Normal >18,5 – 22,9
24
Penelitian ini bersifat analitik yaitu menggambarkan hubungan antara
variable bebas (independent) dengan variable terikat (dependent) dengan rancangan
cross sectional yaitu pengumpulan data dilakukan pada satu saat atau satu periode
tertentu.
B. Tempat dan Waktu penelitian
Penelitian dilakukan pada lansia yang berada di bawah binaan
Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur pada
tanggal 5-30 Juni 2010.
C. Populasi dan Sampel penelitian
1. Populasi
Populasi adalah semua lansia yang berada di Yayasan Mutiara Timur Kelurahan
Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur yang berjumlah 334 orang.
2. Sampel
Bagian dari populasi adalah lansia yang berada di bawah binaan Yayasan
Mutiara Timur, dengan kriteria sebagai berikut:
a. Masih bisa berkomunikasi dengan baik
Besar sampel pada penelitian ini diperoleh melalui perhitungan dengan
n : besar sampel (responden)
z : confidence interfal sebesar 90% dengan tingkat kepercayaan 1,64
P : populasi individu yang tidak diketahui (0,5)
Q : 1-P (0,5)
d : sampling error (presisi 0,1)
N : total populasi (jumlah pengambilan sampel)
Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah dengan metode
acak sederhana atau simple random sampling yaitu metode pengambilan sampel yang
D. Jenis Data
1. Data Primer
a. Data identitas sampel
b. Data pola konsumsi
c. Data status gizi
2. Data Sekunder berupa gambaran umum Yayasan Mutiara Timur Kelurahan
Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data identitas sampel, diperoleh melalui wawancara
menggunakan kuesioner. Data pola konsumsi diperoleh dengan menggunakan
kuesioner dan formulir food recall 24 jam, dilakukan selama 2 hari. Setelah
didapatkan hasil konsumsi dalam satuan gram kemudian dihitung zat gizi
menggunakan program nutrisurvey kemudian hasil akhirnya diperoleh rata-rata untuk
2 hari dan dibandingkan dengan angka kecukupan gizi lansia.
Data status gizi diperoleh dengan pengukuran rentang lengan menggunakan
rigid anthropometer dengan panjang maksimal 200 cm dan ketelitian 0,1 cm. Berat
badan responden diperoleh dari penimbangan menggunakan timbangan bath room
scale dengan ketelitian 0,1 kg, sedangkan data sekunder diperoleh dari profil Yayasan
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian mencakup kuesioner identitas sampel, formulir food
recall 24 jam, rigid anthropometer, dan timbangan bath room scale.
G. Pengolahan dan Analisa Data
1. Pengolahan data
Langkah-langkah yang dilakukan dengan pengolahan data adalah:
a. Editing, untuk memeriksa kelengkapan pengisian kuesioner
b. Coding, untuk memberikan kode pada setiap pilihan jawaban dalam
kuesioner.
c. Processing atau entry, memasukkan data menggunakan perangkat
komputer SPSS (Statistical Package for Social Sciences) for windows,
sedangkan data food recall menggunakan program nutrisurvey.
2. Penyajian data
Data yang telah diolah disusun dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi, dilengkapi dengan narasi sebagai penjelasan tabel dan tabel silang yang
menjelaskan hubungan antar variabel.
3. Analisa data
Analisa data yang digunakan mencakup univariat dan bivariat. Analisa data
univariat untuk melihat frekuensi dari variabel-variabel yang diteliti yaitu status gizi
lansia, pola konsumsi yang meliputi jumlah, jenis, dan frekuensi, dan penyakit
infeksi. Analisa data bivariat bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel
penyakit infeksi terhadap status gizi lansia. Analisa ini menggunakan program SPSS
29
1. Keadaan Wilayah
Kelurahan Dalam Bugis merupakan salah satu kelurahan yang terdapat di
Kecamatan Pontianak Timur yang memiliki luas wilayah sebesar 1,98 km2 dengan
batas-batas wilayah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Tanjung Hilir
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Tambelan Sampit
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Saigon
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Kapuas
2. Keadaan Penduduk
Penduduk di Kelurahan Dalam Bugis berjumlah 17.861 jiwa. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Golongan Umur di Kelurahan Dalam Bugis
Golongan Umur (tahun) Jumlah (n) Persentase (%)
< 1 tahun 169 0.95
1 – 10 3.735 20.91
11 – 20 3.453 19.33
21 – 30 2.457 13.76
31 – 40 1.843 10.32
41 – 50 1.823 10.21
> 51 tahun 4.381 24.53
Total 17.861 100
Mayoritas penduduk Kelurahan Dalam Bugis adalah suku Melayu dengan
jumlah 6.602 jiwa (36,96%), sedangkan minoritas adalah suku batak dengan jumlah
134 jiwa (0,75%). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Suku di Kelurahan Dalam Bugis
Nama Suku Jumlah (n) Persentase (%)
Sumber: Profil Kelurahan Dalam Bugis, 2009
3. Agama
Berdasarkan data dari Profil Kelurahan Dalam Bugis, agama yang paling
banyak dianut oleh penduduk yaitu agama Islam, dengan jumlah penganut sebanyak
17.025 orang (95,26%). Agama yang paling sedikit dianut yaitu agama Hindu dengan
jumlah penganut sebanyak 25 orang (0,14%). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada
tabel 5.
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Agama di Kelurahan Dalam Bugis
Agama Jumlah (n) Persentase (%)
4. Pendidikan
Jenjang pendidikan yang ditempuh oleh sebagian besar penduduk adalah
SLTA dan SLTP dengan jumlah sarana pendidikan yang ada di wilayah tersebut
sebanyak 3 buah perguruan tinggi, 2 buah SLTA, 2 buah SLTP, 9 buah SD dan
1 buah TK. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Jenis Pendidikan di Kelurahan Dalam Bugis
Jenis Pendidikan Jumlah (n) Persentase (%)
SD/Sederajat 2.913 19,43
SLTP/Sederajat 5.947 39,67
SLTA/Sederajat 5.936 39,59
D1 – D3 185 1,23
S – 1 10 0,07
S – 2 2 0,01
Total 14.993 100
Sumber: Profil Kelurahan Dalam Bugis, 2009
5. Pekerjaan
Sebagian besar penduduk bekerja sebagai buruh/swasta, yaitu sebanyak
1.361 orang (40,34%), sedangkan mata pencaharian yang paling sedikit yaitu
pengusaha yang hanya berjumlah 3 orang (0,09%). Untuk lebih jelas dapat dilihat
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan di Kelurahan Dalam Bugis
Pekerjaan Jumlah (n) Persentase (%)
Buruh/Swasta 1.361 40,34
Pegawai Negeri 253 7,50
Pengrajin 15 0,44
Pedagang 683 20,24
Penjahit 7 0,21
Tukang kayu 785 23,27
Peternak 11 0,33
Tukang sampan 123 3,65
Nelayan 9 0,27
Montir 13 0,39
Sopir 45 1,33
Tukang becak 20 0,59
TNI/Polri 46 1,36
Pengusaha 3 0,09
Total 3.374 100
B. Gambaran Umum Responden
Berikut ini akan dijabarkan karakteristik responden menurut umur, jenis
kelamin dan pekerjaan.
Tabel 8. Karakteristik Responden Menurut Umur, Jenis Kelamin dan Pekerjaan
Karakteristik Jumlah (n) Persentase (%)
Umur:
Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden dalam
penelitian ini tergolong lansia muda (elderly) dengan umur 60-74 yaitu 45 orang (78,9%)
dan sebagian besar memiliki jenis kelamin perempuan yaitu 46 orang (80,7%).
Mayoritas bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 46 orang (80,7%), namun ada
C. Analisis Univariat
1. Pola Konsumsi
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase terbesar pada pola
konsumsi lanjut usia yang dilihat dari jenis, jumlah dan frekuensi konsumsi adalah
tidak baik, yaitu 36 orang (63,2%). Untuk lebih jelasnya mengenai distribusi
frekuensi lanjut usia menurut pola konsumsi dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Pola Konsumsi di Binaan Yayasan Mutiara Timur
Pola Konsumsi n Persentase (%)
Baik 21 36,8
Tidak baik 36 63,2
Total 57 100,0
a. Jenis konsumsi. Persentase terbesar menurut jenis konsumsi lanjut usia adalah
baik, yaitu sebanyak 35 orang (61,4%). Untuk lebih jelasnya mengenai distribusi
frekuensi lanjut usia menurut jenis konsumsi dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Jenis Konsumsi di Binaan Yayasan Mutiara Timur
Jenis Konsumsi n Persentase (%)
Baik 35 61,4
Tidak baik 22 38,6
Dari hasil wawancara diketahui bahwa sebagian besar lansia makan sebanyak
5 jenis makanan dalam satu porsi yang terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur, buah dan
susu yaitu sebanyak 26 orang (45,6%). Lansia yang mengkonsumsi makanan
selingan setiap hari sebanyak 52 orang (91,2%), makanan selingan yang sering
dikonsumsi berupa kue. Bentuk olahan nasi yang dikonsumsi yaitu nasi biasa. Lansia
yang tidak mengkonsumsi suplemen sebanyak 40 orang (70,2%).
b. Jumlah konsumsi. Sebagian besar jumlah konsumsi energi lansia termasuk
dalam kategori baik, yaitu sebanyak 45 orang (78,9%). Begitu pula dengan jumlah
konsumsi protein, sebagian besar lansia termasuk dalam kategori baik yaitu sebanyak
43 orang (75,4%). Hasil penelitian mengenai distribusi frekuensi lanjut usia menurut
jumlah konsumsi dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Kategori Jumlah Konsumsi Energi dan Protein di Binaan Yayasan Mutiara Timur
Jumlah Konsumsi n Persentase (%)
Energi:
Asupan energi maksimum yaitu 2380,60 kalori (136,36%) dan asupan energi
minimum 866,30 kalori (54,14%). Asupan energi rata-rata mencapai 1618,98 kalori
(94,28%). Angka kecukupan energi yang dianjurkan untuk usia 60 ke atas bagi
Asupan protein maksimum yaitu 93,30 gram (186,6%) dan asupan protein
minimum 25,80 gram (51,6%). Asupan protein rata-rata mencapai 52,96 gram
(102,51%). Angka kecukupan protein bagi laki-laki yaitu 60 gram dan perempuan 50
gram.
Tabel 12. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Asupan Energi dan Protein di Binaan Yayasan Mutiara Timur
Asupan Maksimum (% AKG) Minimum (% AKG) Rata – Rata (% AKG)
Energi 136,36 54,14 92,28
Protein 186,6 51,6 102,51
Dari hasil wawancara didapatkan sebanyak 31 orang (56,1%) tidak
mengkonsumsi susu, tetapi sebanyak 49 orang (86%) mengkonsumsi minuman lain
berupa kopi, teh maupun sari buah setiap harinya. Lansia mengkonsumsi minuman
tersebut sebanyak 1-3 kali sehari dengan penambahan gula sebanyak kurang lebih
1 sdm.
c. Frekuensi konsumsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi
lansia yang termasuk dalam kategori baik, yaitu sebanyak 34 orang (59,6%). Untuk
lebih jelasnya mengenai distribusi frekuensi lanjut usia menurut frekuensi konsumsi
Tabel 13. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Frekuensi Konsumsi di Binaan Yayasan Mutiara Timur
Frekuensi Konsumsi n Persentase (%)
Baik 34 59,6
Tidak baik 23 40,4
Total 57 100,0
Sebagian besar lansia makan makanan utama sebanyak 3 kali dalam satu hari
yaitu sebanyak 28 orang (49,1%), namun hasil ini tidak berbeda jauh dengan lansia
yang makan sebanyak 2 kali dalam satu hari yaitu sebanyak 23 orang (40,4%). Lansia
yang selalu makan pagi setiap hari sebanyak 49 orang (86,0%). Tidak ada lansia yang
mengkonsumsi alkohol.
2. Penyakit Infeksi
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lansia binaan
Yayasan Mutiara Timur tidak menderita penyakit infeksi baik berupa demam, diare,
maupun batuk dalam satu bulan terakhir, yaitu sebanyak 43 orang (75,4%). Untuk
lebih jelasnya mengenai distribusi frekuensi lanjut usia yang menderita penyakit
infeksi dalam satu bulan terakhir dapat dilihat pada tabel 14.
Tabel 14. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Penyakit Infeksi di Binaan Yayasan Mutiara Timur
Penyakit Infeksi n Persentase (%)
Ya 14 24,6
Tidak 43 75,4
Batuk merupakan penyakit infeksi yang paling banyak diderita oleh lansia,
yaitu sebanyak 11 orang (78,6%) sedangkan 3 orang lainnya (21,4%) menderita
demam. Lansia menderita penyakit tersebut sebanyak 1 kali dalam sebulan dan hanya
berlangsung selama kurang dari satu minggu. Sebagian besar lansia menyatakan
bahwa mereka mengalami penurunan nafsu makan saat menderita penyakit tersebut,
yaitu sebanyak 10 orang (71,4%). Kesulitan dalam mengunyah lebih disebabkan oleh
penurunan keadaan fisiologis tubuh, yaitu keterbatasan gigi.
3. Status Gizi
Pengumpulan data status gizi lansia di wilayah Binaan Yayasan Mutiara Timur
dilakukan dengan penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu pengukuran berat
badan menurut tinggi badan. Proyeksi tinggi badan diperoleh berdasarkan pengukuran
rentang lengan. Hasil penelitian menunjukkan persentase terbesar status gizi lansia
adalah tidak normal, yaitu sebanyak 35 orang (61,4%). Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel 15.
Tabel 15. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Status Gizi di Binaan Yayasan Mutiara Timur
Status Gizi n Persentase (%)
Normal 22 38,6
Tidak normal 35 61,4
Pada lansia dengan status gizi tidak normal, ditemukan lebih banyak lansia
dengan status gizi gemuk yaitu 20 orang (57,1%). Lebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel 16.
Tabel 16. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Status Gizi Tidak Normal di Binaan Yayasan Mutiara Timur
Status Gizi n Persentase (%)
Kurus 8 22,9
Gemuk 20 57,1
Obesitas 7 20,0
Total 35 100,0
D. Analisis Bivariat
1. Hubungan antara Pola Konsumsi dengan Status Gizi Lansia
Dari hasil penelitian, lansia dengan status gizi normal lebih banyak terdapat
pada lansia dengan pola konsumsi baik, dengan proporsi sebesar 52,4%. Sedangkan
lansia dengan status gizi tidak normal lebih banyak terdapat pada lansia dengan pola
konsumsi yang tidak baik, dengan proporsi sebesar 69,4%. Lebih jelasnya mengenai
hubungan pola konsumsi terhadap status gizi lansia dapat dilihat pada tabelberikut ini :
Tabel 17. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Pola Konsumsi dengan
Status Gizi di Binaan Yayasan Mutiara Timur
Pola Konsumsi
Status Gizi
Total Normal Tidak Normal
n % n % n %
Baik 11 52,4 10 47,6 21 100,0
Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh
nilai Continuity Correction = 0,177 (p>0,05). Uji ini menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan antara pola konsumsi dengan status gizi lansia.
2. Hubungan antara Penyakit Infeksi dengan Status Gizi Lansia
Dari hasil penelitian, lansia dengan status gizi normal lebih banyak terdapat
pada lansia yang tidak menderita penyakit infeksi dalam satu bulan terakhir, dengan
proporsi sebesar 39,5%. Sedangkan lansia dengan status gizi tidak normal lebih
banyak terdapat pada lansia yang menderita penyakit infeksi dalam satu bulan
terakhir, dengan proporsi sebesar 64,3%. Lebih jelasnya mengenai hubungan penyakit
infeksi terhadap status gizi lansia dapat dilihat pada tabelberikut ini :
Tabel 18. Distribusi Frekuensi Lanjut Usia Menurut Penyakit Infeksi dengan
Status Gizi di Binaan Yayasan Mutiara Timur
Penyakit Infeksi
Status Gizi
Total Normal Tidak Normal
n % n % n %
Ya 5 35,7 9 64,3 14 100,0
Tidak 17 39,5 26 60,5 43 100,0
Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh
nilai Continuity Correction = 1,000 (p>0,05). Uji ini menunjukkan bahwa tidak ada
41
Berdasarkan tabel 15 dapat dilihat bahwa lansia dengan status gizi normal
sebanyak 22 orang (38,6%) dan yang tidak normal ada 35 orang (61,4%). Pada lansia
dengan status gizi tidak normal, ditemukan lebih banyak lansia yang dikategorikan
gemuk yaitu 19 orang (33,3%) sedangkan lansia dengan status gizi kurus hanya
berjumlah 9 orang (15,8%).
Status gizi adalah kondisi tubuh akibat dari konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat oleh tubuh (Almatsier, 2001). Lansia yang status gizinya normal
dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya pola konsumsi dan kesehatan
yang baik, serta adanya peran keluarga dalam mengurus makanan lansia.
Dalam penelitian ini, lansia dengan status gizi lebih selain diakibatkan oleh
asupan yang baik juga diakibatkan oleh faktor aktivitas fisik yang kurang. Dapat
dilihat pada tabel 6, sebagian besar lansia bekerja sebagai ibu rumah tangga yang
aktivitas sehari-harinya hanya mengasuh cucu, membuat kue, dan memasak.
Sebagian besar lansia juga tinggal bersama keluarga sehingga tidak semua pekerjaan
rumah dikerjakan sendiri. Lansia yang status gizinya kurang dipengaruhi oleh
keadaan fisiologis tubuh seperti penurunan sensitivitas indera perasa dan penciuman,
sehingga asupan kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan dan menyebabkan berat
badan kurang dari normal. Selain itu faktor keterbatasan gigi juga mempengaruhi
Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Tamher (2009) yang menyatakan
bahwa dari kebanyakan masalah gizi lansia berupa masalah gizi lebih atau
kegemukan (obesitas) yang pada gilirannya memacu timbulnya penyakit–penyakit
degeneratif seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, batu empedu, gout
(rematik), penyakit ginjal, sirosis hati, dan penyakit-penyakit keganasan (kanker).
Namun demikian, kurang energi protein yang kronis, anemia dan kekurangan zat gizi
mikro lain juga tak luput dari masalah yang dihadapi oleh usia lanjut ini.
B. Hubungan antara Pola Konsumsi dengan Status Gizi Lansia
Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh
nilai Continuity Correction = 0,177 (p>0,05). Uji ini menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan antara pola konsumsi dengan status gizi lansia. Meskipun secara statistik
tidak ada hubungan, namun berdasarkan tabel 17 dapat dilihat lansia dengan status
gizi normal lebih banyak terdapat pada lansia dengan pola konsumsi baik, dengan
proporsi sebesar 52,4%. Sedangkan lansia dengan status gizi tidak normal lebih
banyak terdapat pada lansia dengan pola konsumsi yang tidak baik, dengan proporsi
sebesar 69,4%.
Hasil penelitian menunjukkan semua lansia makan lebih dari 3 jenis makanan
dalam satu kali makan yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran,
buah-buahan dan susu. Pada umumnya makanan lansia terdiri dari nasi biasa, sayuran
bervariasi setiap hari, ikan goreng, ikan asin dan sambal. Jenis sayuran yang sering
maupun berkuah. Lansia tidak mengkonsumsi buah secara teratur setiap hari, hanya
3-4 kali dalam seminggu. Buah yang sering dikonsumsi yaitu pepaya dan pisang.
Lansia mengkonsumsi minuman (kopi, teh atau susu) sebanyak 1–3 kali sehari
dengan tambahan gula pasir rata-rata 1 sendok makan setiap kali minum, sehingga
kebutuhan energi sebagian besar terpenuhi dari karbohidrat yaitu nasi dan gula.
Jenis protein yang sering dikonsumsi berasal dari protein hewani yaitu ikan
dan telur yang tergolong protein dengan nilai biologi tinggi, namun akan lebih baik
jika lansia meningkatkan konsumsi protein nabati yang selama ini jarang dikonsumsi.
Menurut Almatsier (2001), dalam keadaan tercampur asam amino yang berasal dari
berbagai jenis protein dapat saling mengisi untuk menghasilkan protein yang
dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan pemeliharaan.
Kebiasaan makan lansia pada umumnya mereka makan 3 kali sehari yaitu
sarapan, makan siang dan makan malam, sebanyak 28 orang (49,1%). Ada pula yang
makan lebih dari 3 kali sehari dengan porsi kecil tapi sering sebanyak 6 orang
(10,5%). Namun banyak pula lansia yang hanya makan 2 kali, yaitu siang dan malam
hari sebanyak 23 orang (40,4%). Frekuensi konsumsi snack tidak teratur dan sebagian
lansia mengkosumsi snack di pagi hari sebagai sarapan. Snack yang sering
dikonsumsi berupa kue bolu dan gorengan.
Kebutuhan energi pada usia lanjut menurun sehubungan dengan penurunan
metabolisme basal (sel-sel banyak yang inaktif dan kegiatan fisik cenderung
menurun). Kebutuhan kalori akan menurun sekitar 5% pada usia 40-49 dan 10% pada
dalam penelitian ini cenderung memiliki aktivitas yang ringan. Dapat dilihat dari
jenis pekerjaan sebagian besar bekerja sebagai ibu rumah tangga dengan aktivitas
sehari-hari yang tergolong ringan. Lansia juga jarang melakukan olah raga secara
teratur. Keadaan ini tidak diimbangi dengan penurunan asupan makan.
Proses metabolisme yang menurun pada lanjut usia, bila tidak diimbangi
dengan peningkatan aktifitas fisik atau penurunan jumlah makanan, sehingga kalori
yang berlebih akan diubah menjadi lemak yang mengakibatkan kegemukan. Selain
kegemukan secara keseluruhan, kegemukan pada bagian perut lebih berbahaya karena
kelebihan lemak di perut dihubungkan dengan meningkatnya risiko menderita
penyakit jantung koroner daripada lemak bagian lain (Depkes, 2006). Bagi mereka
yang mempunyai aktivitas fisik relatif rendah akan mengalami pertambahan berat
badan lebih cepat dari pada orang yang lebih aktif. Hasil beberapa penelitian
menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang cukup dapat mengurangi total lemak tubuh
dan berat badan (Wilmore, 1983 dalam Tanaya, 1999).
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Gunawati, 2000 tentang analisis
konsumsi makanan dan status gizi ibu hamil. Hasil penelitian menunjukkan ada
hubungan bermakna antara konsumsi makanan dengan status gizi. Perbedaan dengan
penelitian ini adalah sampel yang dilakukan pada usia lanjut. Penelitian yang
dilakukan Himawati, 2000 mengatakan semakin baik pola konsumsi balita maka
semakin baik pula status gizi balita. Perbedaan dari penelitian ini adalah dalam
instrument menggunakan kuesioner tertutup, terbuka, dan FGD serta indepth
interview, sampel 115 balita.
C. Hubungan antara Penyakit Infeksi dengan Status Gizi Lansia
Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh
nilai Continuity Correction = 1,000 (p>0,05). Uji ini menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan antara penyakit infeksi dengan status gizi lansia. Meskipun secara statistik
tidak ada hubungan, namun secara proporsi lansia dengan status gizi normal lebih
banyak terdapat pada lansia yang tidak menderita penyakit infeksi dalam satu bulan
terakhir, dengan proporsi sebesar 39,5%. Sedangkan lansia dengan status gizi tidak
normal lebih banyak terdapat pada lansia yang menderita penyakit infeksi dalam satu
bulan terakhir, dengan proporsi sebesar 64,3%.
Berdasarkan tabel 12 dapat dilihat bahwa lansia yang menderita penyakit
infeksi dalam satu bulan terakhir sebanyak 14 orang (24,6%) atau lebih sedikit
daripada lansia yang tidak menderita penyakit infeksi. Hal ini diakibatkan tingkat
kesadaran masyarakat lansia menjaga kesehatan semakin tinggi dan kehidupan sosial
juga relatif mendukung. Penyakit infeksi yang diderita berupa demam dan batuk.
Lansia menderita penyakit infeksi hanya satu kali dalam satu bulan dan hanya
berlangsung selama kurang dari satu minggu.
Hubungan antara kurang gizi dengan penyakit infeksi tergantung dari
besarnya dampak yang ditimbulkan oleh sejumlah infeksi terhadap status gizi itu
seperti infeksi pencernaan dapat menyebabkan diare, HIV/AIDS, tuberculosis, dan
beberapa penyakit infeksi kronis lainnya bisa menyebabkan anemia dan parasit pada
usus dapat menyebabkan anemia (Schaible & Kauffman, 2007 dalam Anwar, 2009).
Pada dasarnya jenis penyakit baik infeksi maupun non infeksi mempunyai faktor
resiko untuk menjadi gizi baik, gizi kurang bahkan gizi buruk, hal ini tergantung sifat
perjalanan penyakit tersebut yaitu akut atau kronis (Tomkins, 1992 dalam Huda,
2004).
Dalam penelitian ini, lansia yang menderita penyakit infeksi mengalami
penurunan nafsu makan selama sakit, namun karena sakit yang diderita bukan
merupakan penyakit kronis, hal tersebut tidak menyebabkan penurunan berat badan
secara drastis dan tidak mempengaruhi status gizi lansia. Selain itu beberapa lansia
mengalami penurunan keadaan fisiologis tubuh seperti keterbatasan gigi, hal ini
47
1. Tidak ada hubungan antara pola konsumsi terhadap status gizi lansia Binaan
Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.
2. Tidak ada hubungan antara penyakit infeksi terhadap status gizi lansia Binaan
Yayasan Mutiara Timur Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.
B. Saran
1. Lansia perlu memperbaiki pola konsumsi dengan cara:
a. Meningkatkan jenis makanan dengan lebih memperbanyak konsumsi protein
nabati seperti tahu dan tempe, serta mengkonsumsi buah-buahan secara teratur.
b. Mengkonsumsi makanan harus sesuai dengan kebutuhan gizi lansia sehingga
tidak kekurangan atau kelebihan.
c. Memperbaiki frekuensi makan dengan jadwal yang teratur yaitu makanan
utama 3 kali sehari dan 2 kali snack sebagai selingan diantara waktu makan.
2. Perlu perubahan dalam pola aktivitas pada waktu luang, yang biasa digunakan
untuk melakukan kegiatan yang mengeluarkan energi sedikit diganti dengan
kegiatan yang mengeluarkan energi lebih banyak, serta melakukan olahraga
secara teratur.
3. Melakukan pemeriksaan kesehatan dengan rutin dan memperbaiki pola konsumsi
Anwar, L. 2009. Status Gizi dan Faktor Yang Mempengaruhi, (Online), http://anwarsasake.wordpress.com/2009/08/07/status-gizi-dan-faktor-yang-mempengaruhi, diakses 6 Desember 2009 pukul 19:20 WIB.
Arali. 2009. Hasil Penyelidikan KLB Diare di Kecamatan Luyo, (Online), http://arali2008.wordpress.com/2009/07/21/hasil-penyelidikan-klb-diare-di-kec-luyo/, diakses 17 Desember 2009 pukul 17:20 WIB.
Arifin, Y. 2009. Penuaan Pada Sistem Pulmonal. (Online),
http://yasirblogspotcom.blogspot.com/2009/01/penuaan-pada-sistem-pulmonal.html, diakses 15 Desember 2009 pukul 08:20 WIB.
Artno. 2006. Asuhan Gizi Pada Odha. (Online), http://spiritia.or.id/cst/bacacst. php?artno=1019, diakses 15 Desember 2009 pukul 08:20 WIB.
Darmojo, B.R. 1999. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Depkes RI. 1996. 13 Pesan Da sar Gizi Seimbang. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI. 2000. Gizi Seimbang Menuju Hidup Sehat Bagi Usia Lanjut, Pedoman Petugas Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI.
Depkes RI. 2006. Pedoman Tatalaksana Gizi Usia Lanjut Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Fitriati. 2006. Hubungan Antara Pola Konsumsi dan Penyakit Infeksi dengan Status Gizi Usia Lanjut di Desa Sidas Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak. Karya Tulis Ilmiah tidak diterbitkan. Politeknik Kesehatan Depkes Pontianak.
Himawati. 2000. Hubungan Faktor Sosial Ekonomi dengan Pola Konsumsi Makanan dan Status Gizi Anak Balita Purworejo. Tugas Akhir tidak diterbitkan. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/Batuk
Huda, N. 2004. Hubungan Antara Status Gizi Awal Dengan Status Pulang dan Lama Ra wat Inap Pasien Dewasa di Rumah Sakit, Jurnal Gizi Klinik Indonesia Volume 1 No. 1 tahun 2004, Yogyakarta.
I_Nutrition. 2009. Asian BMI, (Online), http://healthkicker.com/, diakses 6 Desember 2009 pukul 19:20 WIB.
Jaladri, I. 2009. Tesis Bab 1, (Online), http://iman-jaladri.blogspot.com/, diakses 6 Desember 2009 pukul 19:20 WIB.
Karina. 2009. Faktor-Faktor Yang Berhubunga n Dengan Pola Konsumsi Pada Lansia Binaan Yayasan Mutiara Timur di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Karya Tulis Ilmiah tidak diterbitkan. Politeknik Kesehatan Depkes Pontianak.
Lemeshow, S. 1997. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan (terjemahan). Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Miftachul. 2009. Demam, (Online), http://boemimerdeka.multiply.com/reviews/ item/9, diakses pada 30 Juni 2010 pukul 19:35 WIB.
Nugroho, W. 2000. Kepera watan Gerontik & Geriatrik. Jakarta: EGC.
Nadesul, H. 2006. Sehat Itu Murah. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Pontianak Post. 2008. Lansia Produktif, (Online), http://arsip.pontianakpost.com/ berita=metropolis&id=156278, diakses 6 Desember 2009 pukul 19:20 WIB.
Rabe, et.al. 1996. Body Mass Index of The Elderly Derived From Height and From Armspan. Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition Volume 5 Number 2: 79-8
Siburian, P. 2007. Kenalilah Penyakit Infeksi Pada Lansia , (Online), http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id= 1816:kenalilah-penyakit-infeksi-pada-lansia&catid=28:kesehatan&Itemid=48, diakses 15 Desember 2009 pukul 08:31 WIB.
Supariasa. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.
Suwarsa. 2006. Kiat Sehat Bagi Lansia; Menjadi Tua, Tidak Harus Pikun. Jadilah Dokter Bagi Diri Anda Sendiri!. Bandung: MQS Publishing.
Sudiarti, T. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyaraka t, Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masya raka t Universita s Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Tamher, S. 2009. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan Kepera watan. Jakarta : Medika Salemba.
Tanaya, Z.A. 2009. Hubungan Antara Aktifitas Fisik Dengan Status Gizi Lansia Binaan Puskesmas di Jakarta Barat Tahun 2007. Tugas Akhir tidak diterbitkan, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Jakarta.
Tanchoco, et.al. 2001. Arm Span and Knee Height as Proxy Indicators for Height. Journal of the Nutritional Dietitians of the Philippines, April-June, Vol. 15 No.2, Philippines
MUTIARA TIMUR KELURAHAN DALAM BUGIS
1. Apa saja jenis makanan yang bapak/ibu konsumsi setiap hari? a. Nasi, lauk pauk
b. Nasi, lauk pauk, dan sayur c. Nasi, lauk pauk, sayur, dan buah d. Nasi, lauk pauk, sayur, buah, dan susu
2. Diantara waktu makan, apakah bapak/ibu mengkonsumsi makanan selingan? a. Ya
b. Kadang-kadang c. Tidak pernah
Jika tidak langsung ke pertanyaan no. 4
3. Apakah jenis makanan selingan yang bapak/ibu konsumsi? a. Kue
b. Buah
c. Bubur kacang hijau d. Lain-lain
4. Bagaimana bentuk olahan nasi yang bapak/ibu konsumsi? a. Nasi biasa