250
PENGEMBANGAN KELAPA SEBAGAI KOMODITI UNGGULAN DAERAH SULAWESI UTARA DENGAN PENDEKATAN KLASTER INDUSTRI COCONUT DEVELOPMENT AS AN ADVANTAGE COMMODITY AT
NORTH SULAWESI PROVINCIAL WITH INDUSTRY CLUSTER APPROACH
Caroline Betsy Diana Pakasi
Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado Provinsi Sulawesi Utara
Email: [email protected] ; Telepon : 0431-864460
ABSTRAK
Sektor pertanian sebagai sektor unggulan di Provinsi Sulawesi Utara memberikan kontribusi cukup besar dalam perekonomian daerah. Kelapa (cocos nucifera) adalah tanaman perkebunan yang memberikan kontribusi terbesar dalam produksi dan ekspor. Sebagian besar petani kelapa di Provinsi Sulawesi Utara, mengolah hasil kebun kelapa menjadi kopra dengan cara diasap. Akibatnya kualitas kopra rendah sehingga mempengaruhi harga jual kopra yang sangat fluktuatif dan sangat tergantung pada industri minyak. Dampaknya sangat dirasakan petani pemilik kebun kelapa dan petani pengolah. Berdasarkan kondisi tersebut, sebagai komoditi unggulan daerah maka tanaman kelapa harus dikembangkan baik dari sisi on farm di perkebunan atau diversifikasi horizontal maupun sisi off farm pada pengolahan atau diversifikasi vertikal. Pendekatan klaster industri adalah salah satu kebijakan dari pemerintah pusat yakni Kementerian Perindustrian untuk mengembangkan kelapa sebagai komoditi unggulan dalam rangka meningkatkan daya saing komoditi dan produk turunannya. Konsep pengembangan diversifikasi vertical dengan pendekatan klaster industri tersebut akan dikaji dalam paper ini,khususnya tahapan pengembangan dengan pendekatan klaster industri untuk tanaman kelapa di Provinsi Sulawesi Utara. Kajian ini bertujuan: (1) Melakukan identifikasi potensi tanaman kelapa dan turunannya dan (2) Mengkaji pendekatan klaster sebagai upaya pengembangan kelapa sebagai komoditi unggulan daerah Sulawesi Utara.
251
Saran/Rekomendasi yakni : (1) Upaya peremajaan perkebunan kelapa terus ditingkatkan agar meningkatkan produksi dan produktivitas perkebunan kelapa dan terus melakukan diversifikasi dengan konsep zero waste untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk turunan kelapa sebagai komoditi ekspor dan domestik; (2) Harus meningkatkan Sinergitas dan Intensitas stakeholder klaster, agar supaya dapat mengakselerasi semua anggota klaster untuk tumbuh bersama dalam industri berbahan baku kelapa sehingga akan meningkatkan daya saing industri kelapa
Kata Kunci : Kelapa, Komoditi Unggulan, Klaster Industri PENDAHULUAN Latar Belakang
Sektor pertanian sebagai sektor unggulan di Provinsi Sulawesi Utara memberikan kontribusi cukup besar dalam perekonomian daerah. Dari lima sub sektor pertanian, sub sektor perkebunan dan perikanan merupakan sub sektor yang terbesar kontribusinya. Perkebunan berkaitan erat dengan perekonomian dan memegang peranan penting di daerah. Berdasarkan luasan areal, perkebunan masih mempunyai areal yang cukup luas. Data luasan perkebunan rakyat menunjukkan bahwa luasan perkebunan tanaman kelapa selang tahun 2009 hingga 2011 menunjukkan peningkatan dimana pada Tahun 2009 Provinsi Sulawesi Utara memiliki luasan pertanaman kelapa 263.744,69 ha dan meningkat pada tahun 2010 menjadi 266.147,36 ha dan tahun 2011 luasan pertanaman kelapa meningkat menjadi 267.350,79. Peningkatan luasan disebabkan adanya areal perkebunan yang diremajakan walaupun terdapat juga lahan pertanaman kelapa yang dialihfungsikan. Sebagai komoditi perkebunan unggulan, tanaman kelapa dominan terdapat di perkebunan rakyat.
Terdapat tiga komoditi yang berada pada urutan tertinggi berdasarkan luasan perkebunan rakyat yakni tanaman kelapa, cengkeh dan pala. Tanaman kelapa yang disebut sebagai pohon kehidupan, memiliki manfaat yang berasal dari semua bagian tanaman, dari akar, batang, daun, lidi dan buah, semuanya dapat dimanfaatkan. Bahkan buah kelapa yang terdiri dari sabut, tempurung, daging dan air kelapa, semuanya dapat dimanfaatkan, dan merupakan bahan baku bagi industri pengolahan kelapa di Provinsi Sulawesi Utara. Pengembangan tanaman kelapa, saat ini harus terus diupayakan, karena terdapat banyak tanaman yang sudah tidak produktif akibat umur tanaman yang tua dan serangan hama penyakit. Disatu sisi, kebutuhan terhadap tanaman kelapa terus meningkat baik untuk konsumsi rumahtangga maupun untuk bahan baku industri.
252
merupakan bahan baku untuk produk olahan yang bernlai tambah seperti produk cocochemical.
Sebagian besar petani kelapa di Provinsi Sulawesi Utara, mengolah hasil kebun kelapa menjadi kopra dengan cara diasap. Akibatnya kualitas kopra rendah sehingga mempengaruhi harga jual kopra yang sangat fluktuatif dan sangat tergantung pada industri minyak. Dampaknya sangat dirasakan petani pemilik kebun kelapa dan petani pengolah. Berdasarkan kondisi tersebut, sebagai komoditi unggulan daerah maka tanaman kelapa harus dikembangkan baik dari sisi on farm di perkebunan atau diversifikasi horizontal maupun sisi off farm pada pengolahan atau diversifikasi vertikal.
Pendekatan klaster industri adalah salah satu kebijakan dari pemerintah pusat yakni Kementerian Perindustrian untuk mengembangkan kelapa sebagai komoditi unggulan dalam rangka meningkatkan daya saing komoditi dan produk turunannya. Konsep pengembangan diversifikasi vertical dengan pendekatan klaster industri tersebut akan dikaji dalam paper ini,khususnya tahapan pengembangan dengan pendekatan klaster industri untuk tanaman kelapa di Provinsi Sulawesi Utara.
Tujuan
Kajian ini bertujuan :
1. Melakukan identifikasi potensi tanaman kelapa dan turunannya
2. Mengkaji pendekatan klaster sebagai upaya pengembangan kelapa sebagai komoditi unggulan daerah Sulawesi Utara
POTENSI TANAMAN KELAPA DAN TURUNANNYA Komoditi Kelapa dan Produk Turunan Kelapa
Tanaman kelapa menghasilkan buah kelapa yang dimanfaatkan semua bagiannya menjadi produk yang bernilai tambah. Daging Buah kelapa biasanya diolah menjadi kopra, yang merupakan produk semi ra w material yang digunakan sebagai bahan baku industri pengolahan minyak. Gambar 1 menunjukkan gambar kelapa dan kopra.
Gambar 1. Kelapa dan Kopra
253
kuliner/makanan, produk industri dan produk obat-obatan. Bagi banyak negara di dunia,tanaman ini disebut sebagai "Pohon Kehidupan". Daun kelapa dapat dimanfaatkan untuk membuat sapu lidi, sedangkan dari bunga kelapa dapat disadap niranya yang kemudian dapat diproses menjadi gula kelapa. Kayu kelapa yang berasal dari batang pohon kelapa kini banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan disamping sebagai bahan baku untuk pembuatan furniture. Daging buah kelapanya sendiri sudah sejak lama dimanfaatkan masyarakat untuk memproduksi santan kelapa yang banyak dibutuhkan untuk kebutuhan memasak sebagai bumbu dapur. Santan kelapa juga dapat diproses lebih lanjut menjadi minyak goreng kelapa (klentik) yang memiliki aroma yang sangat khas. Selain dapat diparut untuk diambil santannya, daging buah kelapa juga dapat diproses terlebih dahulu menjadi kopra.
Kopra adalah daging buah kelapa yang dikeringkan. Kopra merupakan salah satu produk turunan kelapa yang sangat penting,karena merupakan bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya. Membuat kopra yang baik diperlukan kelapa yang telah berumur sekitar 300 hari dan memiliki berat sekitar 3-4 kg.Teknik pengolahan kopra ada empat macam, yaitu Pengeringan dengan sinar matahari (sun drying); Pengeringan dengan pengarangan atau pengasapan di atas api (smoke curing or drying); Pengeringan dengan pemanasan tidak langsung (indirect drying); Pengeringan menggunakan solar system (tenaga panas matahari). Kopra yang baik, memiliki kandungan air 6% – 7% agar tidak mudah terserang organisme pengganggu. Kerusakan yang terjadi pada kopra, umumnya disebabkan oleh serangan bakteri dan serangan cendawan. Serangan tersebut mudah terjadi jika kadar air dalam kopra tinggi, kelembaban udara mencapai 80% atau lebih dan suhu atmosfer mencapai 30°C. Cendawa yang sering menyerang kopra adalah cendawan Rhizopus sp, Aspergillus niger, dan Penicillium glaucum.
Terdapat 4 kualitas kopra, yang diantaranya adalah highgrade copra dan mixed copra Kopra sendiri merupakan bahan baku utama untuk pembuatan minyak kopra. Baik kopra maupun minyak kopra selama ini menjadi komoditi dagang yang banyak dicari importir dari mancanegara.Di luar negeri kopra umumnya dipergunakan sebagai bahan dasar bagi industri minyak kopra atau minyak kelapa (coconut oil) dan lemak. Namun demikian, dalam industri minyak kelapa dan lemak, kualitas kopra sangatlah menentukan kualitas produk akhir minyak kelapa dan lemak yang dihasilkan.
254
melakukan diversifikasi produk olahannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Tarigans (2005), bahwa pemanfaatan kelapa untuk menghasilkan aneka ragam produk olahan dapat dilakukan dari bagian-bagian kelapa seperti daging buah, air kelapa, tempurung, sabut, dan tandan bunga. Bahkan dari batang kelapa telah banyak digunakan sebagai bahan bangunan dan pembuatan produk rumah tangga (furniture).
1) Daging Kelapa
Daging kelapa dapat diolah menjadi kopra dengan cara mengeringkan daging kelapa segar dengan dijemur maupun panas buatan ataupun kombinasinya. Selain itu daging kelapa juga dapat diproses menjadi kelapa parut kering (desiccated coconut) dan santan pekat yang bernilai ekonomis tinggi. Pengolahan produk ini pada tingkat petani sukar diadopsi mengingat, modal, peralatan serta teknologi yang diterapkan dalam proses produksinya sukar dijangkau oleh petani yang masih memiliki keterbatasan. Selain itu kopra atau daging kelapa segar dapat diproses menjadi minyak kelapa (crude coconut oil) dan minyak kelapa murni (virgin coconut oil).
Pengolahan kelapa segar menjadi minyak kelapa murni sangat prospektif karena produk ini memiliki banyak kegunaan serta harga yang tinggi. Kegiatan pengolahan produk ini dapat dilakukan pada tingkat petani, tanpa memerlukan modal serta peralatan yang mahal. Hasil kegiatan pengurangan kemiskinan petani kelapa yang disponsori oleh COGENT di Indonesia telah membuktikan bahwa pengolahan daging kelapa segar menjadi minyak kelapa murni mampu meningkatkan pendapatan dan mengurangi kemiskinan petani kelapa setempat (Tarigans 2005).
2) Air Kelapa
Air kelapa selain dapat diolah menjadi kecap dan asam cuka, juga dapat diolah menjadi sari kelapa (nata de coco). Secara kimiawi nata de coco merupakan selulosa yang mengandung air sekitar 98 persen yang tergolong sebagai makanan berkalori rendah, sehingga cocok untuk keperluan diet, dengan demikian dapat dijadikan konsumsi bagi setiap orang. Pengembangan produk ini di tingkat petani sangat prospektif karena teknologi pengolahannya mudah diadopsi serta pemasarannya cukup mudah dan harga produknya menguntungkan (Tarigans 2005).
3) Tempurung Kelapa
255 4) Sabut Kelapa
Sabut kelapa dapat dijadikan kerajinan rumah tangga seperti sapu, karpet, tambang atau tali. Disamping itu, juga dapat dibuat menjadi sabut kelapa berkaret (rubberized coir fibre) untuk keperluan jok mobil, kursi, kasur, penyaring udara, peredam panas dan suara untuk konstruksi bangunan. Produk olahan sabut yang memiliki ekonomi tinggi di Vietnam terkenal dengan nama geotextile sedang di Filipina dikenal dengan nama produk ecomat, ecolog dan twine, dipakai untuk mencegah erosi tanah pada konstruksi jalan bertopografi miring (biodegradable erosion control products).
5) Tandan Bunga
Salah satu produk yang dapat dihasilkan dalam usahatani kelapa adalah gula merah melalui penyadapan tandan bunga (inflorescense) dan dilanjutkan pengolahan nira yang dihasilkan. Pengolahan nira menjadi gula kelapa dapat dilakukan petani karena cara pengolahannya sangat sederhana serta tidak memerlukan modal kerja yang besar.
6) Jantung kelapa dan getah
Seperti jenis palma lainnya, jantung dari palma kelapa rasanya lezat. Jantung kelapa yang bertekstur lembut yang berada dipuncak batang, dikenal juga dengan palma kubis (Palm cabbage). Palma kelapa menghasilkan salah satu jantung palma terberat, yang bisa mencapai sampai 12 kg. Getah yang manis, yang disebut 'toddy' disadap dari batang-batang bunga yang belum terbuka. Untuk mengumpulkan getahnya, dasar batang dipukul dengan palu dan dibuat lobang atau celah kecil pada kulit yang menutupi batang-batang bunga. Wadah diletakkan di bawah celah atau lubang untuk menampung cairan yang keluar. Getah ini dapat direbus untuk menambah kelezatan gula aren. Gula aren difermentasikan ke dalam anggur yang mengandung alcohol yang kemudian dapat didestilasi menjadi
256
Gambar. 2.4. Produk Turunan Kelapa
Sumber : Kemenperin, 2012
Kondisi Eksisting Perkebunan Kelapa di Sulawesi Utara
1) Luas Lahan
257
Sumber : Dinas Perkebunan Sulut, 2011, diolah
Luasan lahan perkebunan kelapa tersebar di 15 Kabupaten kota di Provinsi Sulawesi Utara. Luasan terbesar adalah di Kabupaten Minahasa Selatan yang merupakan sentra perkebunan kelapa di Sulawesi Utara. Berdasarkan data luas lahan, produktivitas tanaman kelapa di Sulawesi Utara mengalami trend menurun sebagai akibat dari umur tanaman yang semakin tua. Gambar 2 menyajikan data produksi kelapa di Sulawesi Utara.
Gambar 2. Produksi Kelapa Provinsi Sulawesi Utara
258
Sebagai komoditi unggulan daerah dan menguasai luasan lahan dan produksi komoditi perkebunan, komoditi kelapa tetap dicari karena digunakan sebagai bahan baku bagi industri pengolahan minyak dan industri berbahan baku kelapa lainnya. Pengolahan komoditi kelapa tercermin dari beberapa produk unggulan asal Sulawesi Utara yang menjadi contributor terbesar ekspor daerah. Data ekspor Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan bahwa 67.75% dari Total Volume Ekspor merupakan produk kelapa dan turunannya sedangkan 62.67% dari Nilai Ekspor Sulawesi Utara berasal dari produk kelapa dan turunannya dan terdapat 15 produk ekspor turunan kelapa dari total 79 Komoditi Ekspor dari Sulawesi Utara. (DisPerindag, 2010). Data turunan kelapa disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Produk Ekspor Industri Pengolahan Kelapa di SULUT, 2011
Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan SULUT, 2011
Data ekspor yang disajikan pada Tabel 1 menunjukkan bahwa komoditi ekspor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap ekspor Sulawesi Utara adalah
No Produk Volume Ekspor
(kg) Kontribusi
Nilai Ekspor (US$)
Nilai ekspor/unit
(US$/kg)
Kontribusi
1 coconut charcoal 1,624,230 0.28 875,606 0.54 0.15
2 Coconut choir 30,000 0.01 6,000 0.20 0.00
3 Coconut Fatty Acid
Distillate 7,569,857 1.30 5,234,957 0.69 0.89
4 copra 511,820 0.09 5,214,261.30 10.19 0.89
5 coconut fibre 253,000 0.04 63,250 0.25 0.01
6 coconut flooring 3,061 0.00 3,732 1.22 0.00
7 coconut shell 30,000.00 0.01 6,000.00 0.20 0.00
8 coconut wood 31,357.20 0.01 25,633.85 0.82 0.00
9 copra expeller 33,158,380.00 5.71 3,411,371.20 0.10 0.58
10 copra extraction 11,450,000.00 1.97 1,029,600.00 0.09 0.18
11 copra exraction
pellets 42,697,500.00 7.35 4,283,679.00 0.10 0.73
12 copra pellet 5,000,000.00 0.86 550,000.00 0.11 0.09
13 Crude Coconut Oil 164,722,315.00 28.34 222,776,734.06 1.35 37.97
14 Desiccated coconut 10,445,321.02 1.80 11,192,348.79 1.07 1.91
259
komoditi/produk turunan dari perkebunan, yakni minyak kelapa kasar yang merupakan produk olahan dari komoditi kelapa dalam yang merupakan komoditi unggulan Provinsi Sulawesi Utara. Beberapa turunan komoditi kelapa sebagai komoditi ekspor yakni minyak goreng kelapa, tepung kelapa dan bungkil kopra.
PENDEKATAN KLASTER INDUSTRI
Pengembangan Klaster industri adalah pendekatan topdown dari Kementerian Perindustrian RI dalam rangka merealisasikan target dalam visi pembangunan industri nasional seperti yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Targetnya adalah Mencapai Indonesia sebagai Negara Industri Tangguh pada tahun 2025 dan memiliki visi antara yakni pada tahun 2020 sebagai industri Maju Baru, sesuai dengan Deklarasi Bogor tahun 1995 (Kemenperind, 2012). Selain pengembangan klaster industri, harus ada sinergi dan integrasi antara pemerintah pusat dan daerah. Terdapat 35 klaster industri prioritas yang didesign dari pusat berdasarkan industri unggulan daerah. Pendekatan bottom up juga dilakukan oleh kementerian perindustrian dengan kompetensi inti industri daerah yang merupakan keunggulan daerah yang diharapkan akan berdaya saing. Pendekatan kompetensi inti saling terkait dengan penetapan klaster industri di daerah.
Klaster Industri didefinisikan sebagai Aglomerasi perusahaan yang membentuk kerjasama strategis dan komplementer serta memiliki hubungan yang intensif. Perspektif klaster adalah : (1) Penelusuran rantai nilai (value chain); (2) Setiap perusahaan merupakan bagian inherent dari klaster; (3) Industri inti sebagai gerbong penghela klaster; (4) Kompetensi inti dan aliansi strategis; dan (5) Membentuk platform daya saing ke arah keungggulan kompetitif yang berkelanjutan (sustainable competitive advantage).
Terdapat empat elemen dari klaster yakni : (1) Aglomerasi perusahaan (cluster); (2) Nilai Tambah (value added) dan Mata Rantai Nilai (value chain); (3) Jaringan Pemasok; dan (4) Infrastruktur Ekonomi. Elemen Aglomerasi perusahaan adalah terjadinya pengelompokan dan kerjasama dimana kelompok memiliki visi yang sama, kesamaan kepentingan dan saling percaya serta terdapat pertimbangan tekno-ekonomi seperti memiliki skala ekonomi, produktivitas, dan biaya. Elemen Nilai Tambah dalam klaster dapat diformulasikan sebagai berikut :
NT = Nilai Output – Nilai Input
NT = Labour Contribution (LC) + Capital Contribution (CC)
260
rancangan proses, pengadaan komponen dan material, sub-rakitan, rakitan akhir, jaminan mutu, distribusi dan pemasaran. Elemen Jaring Pemasok dalam klaster sebagai elemen kritis dalam pembentukan klaster yang memiliki konsentrasi dalam kompetensi diri, memiliki mutu dengan standar internasional, sebagai Mitra kerja dan sebagai pemasok (Porter, 1998). Elemen Infrastruktur ekonomi dalam klaster terdiri dari Infrastruktur perangkat keras dan perangkat lunak yang berfungsi sebagai katalis pertumbuhan suatu klaster, serta bersifat dinamis, solid dan sensitive.
Untuk konsep pengembangan klaster industri, terdapat tiga pendekatan yakni : (1) Keterkaitan internasional (MNC driven); (2) Sumber daya (Resources driven); dan (3) Kebijakan khusus (policy driven). Martani, 1997 menyatakan bahwa pengembangan
klaster industri dapat dilakukan dengan melakukan aliansi strategis. Program aliansi yang dapat dilakukan adalah mensinergikan masing-masing kekuatan (kompetensi inti), mempercepat sistem operasi, melakukan transfer teknologi; memperluas pasar dan memanfaatkan akses informasi melalui teknologi untuk mendapatkan pasar (konsep market intelegence).
Pengembangan klaster industri dapat dilakukan dengan konsep Kompetensi Inti, yang menurut Prahalad dan Kotler, 2008 adalah Kumpulan ketrampilan dan teknologi, Aset yang memiliki keunikan tinggi, Hasil collective learning, Sumber keunggulan bersama, dan sulit ditiru, dengan aplikasi yang luas (flexible specialization). Klaster yang tumbuh dengan baik, bila klaster memiliki tujuan yang jelas dan visioner. Karena itu, pembentukan klaster industri harus dengan pendekatan manajemen strategi. Yang terutama, klaster harus memiliki visi. Klaster dengan visinya, harus dirumuskan bersama oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholder).
Siklus kluster industri adalah terbentuknya Klaster yang dinamis atau kuat yang diimbangi dengan tersedianya infrastruktur ekonomi yang kuat dan sensitive. Terdapat Investasi baru dan menyerap tenaga kerja serta sebagai Mitra usaha baru dan teknologi baru. Kemitraan pemerintah dan swasta merupakan kolaborasi dalam rangka memperkuat klaster industri. Terdapat beberapa strategi melakukan kolaborasi dengan pemerintah dan swasta yakni: (1) Pemerintah sebagai unsur pendukung; (2) terdapat harmonisasi pembangunan sektoral dan spatial; (3) Swasta sebagai pelaku utama; dan (4) terbentuk Kemitraan (partnership) antara pemerintah dan swasta yang harmonis. Berdasarkan 4 pendekatan tersebut, diharapkan kolaborasi akan terbentuk untuk mengkselerasi klaster industri di daerah.
261
menggerakkan seluruh anggota klaster dan memberi dampak ekonomi terhadap anggota klaster. Semua stakeholder akan tumbuh bersama, dengan rasa saling memiliki, saling terkait dan saling membutuhkan. Perkembangan dalam klaster akan menjadi perkembangan pada jaring pemasok dan dalam proses spill off terhadap terciptanya industri baru dalam klaster.
Upaya Pengembangan Kelapa dengan Pendekatan Klaster Industri Di Sulawesi Utara
Pengembangan Klaster Industri di Provinsi Sulawesi Utara berdasarkan komoditi unggulan daerah adalah Klaster Industri Kelapa yang masuk dalam pengembangan klaster industri prioritas khususnya dalam kategori Industri Agro. Terdapat 12 klaster unggulan pada industri agro yakni (1) industri pengolahan kelapa sawit; (2) industri karet dan barang karet; (3) Industri Kakao; (4) industri pengolahan kelapa; (5) industri pengolahan kopi; (6) industri gula; (7) industri hasil tembakau; (8) industri pengolahan buah; (9) industri furniture; (10) industri pengolahan ikan; (11) industri kertas; (12) industri pengolahan susu.
Maksud dan tujuan pembentukan dan pengembangan klaster kelapa adalah: (1) aglomerasi perusahaan yang membentuk kerjasama yang strategis, komplementer serta memiliki hubungan yang intensif; (2) fasilitasi kerjasama strategis antar stakeholder kelapa di Sulawesi Utara dengan daerah lain di Indonesia dan luar negeri; (3) meningkatkan kesejahteraan daerah khususnya kesejahteraan masyarakat dengan terjadinya perubahan teknologi yang mengglobal, penyerapan tenaga kerja serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia (peningkatan produktivitas) yang selanjutnya berdampak terhadap perekonomian nasional dan internasional.
Sasaran dan target pembentukan dan pengembangan klaster kelapa di Provinsi Sulawesi Utara adalah : (1) meningkatnya produksi Crude Coconut Oil, Virgin Coconut Oil, Desicated coconut, Karbon Aktif, coir fibre dan beragam turunan kelapa lainnya; (2) merubah kopra asap tradisional menjadi kopra putih sebagai bahan baku cocochemicals dan specialty product; (3) meningkatnya ekspor produk turunan kelapa; (4) memfasilitasi meningkatnya suply bahan baku kelapa; (5) menggerakkan semua sektor terkait pengembangan produk kelapa (industri terkait/related industries dan indusri penunjang/supporting industries.)
262
klaster kelapa. Berdasarkan hasil kajian dalam tahapan diagnosis, dilanjutkan dengan tahapan sosialisasi.
Tahapan sosialisasi dilakukan dengan melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) yang terdiri dari pemerintah daerah instansi terkait yakni Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi dan UKM, Instansi Perbankan dan Lembaga Keuangan Non Bank lainnya, Dewan Perwakilan Rakyat Komisi terkait, Akademisi Perkelapaan, Pabrikan dan Asosiasi Petani serta Asosiasi Pengolahan Hasil Kelapa.
Sosialisasi dilakukan dengan FGD ini bertujuan memperkenalkan program Klaster Kelapa serta mendapatkan masukkan dari semua pemangku-kepentingan perkelapaan di Sulawesi Utara. Selain dilakukan sosialisasi, dilakukan juga peninjauan lapang di daerah sentra kelapa. Hasil kegiatan sosialisasi tersebut direkomendasikan dalam Kesepakatan Bersama semua pemangku-kepentingan yang dalam tahapan klaster selanjutnya disebut Tahapan Kolaborasi.
Penyatuan persepsi untuk meningkatkan hubungan yang intensif antara petani dan pabrikan serta ditunjang oleh pemerintah, DPR dan instansi lainnya merupakan Tahapan kolaborasi. Tahapan ini bertujuan untuk memperkuat program klaster industri kelapa. Tahapan Kolaborasi sebagai apresiasi komitmen pemangku-kepentingan tersebut merupakan hubungan kerjasama strategis dalam rangka aglomerasi industri berbahan baku kelapa di Sulawesi Utara. Di tingkat petani, program perubahan teknologi dan diversifikasi produk telah siap diimplementasikan dan didukung oleh niat baik pemerintah dan akademisi mentransfer teknologi dan menyiapkan sarana pemasaran hasil.
263
Gambar 4.3. Kolaborasi Stakeholder Klaster Industri Kelapa
Sumber : Klaster Industri Kelapa Sulut, 2011
Jaring pemasok dalam klaster industri, bukan hanya dengan petani tapi juga dengan lembaga keuangan bank dan non perbankan yang dapat membantu petani dan perusahan untuk meningkatkan produksi. Industri inti juga akan bekerjasama dengan institusi pendukung seperti dengan lembaga riset dan akademisi. Tujuannya adalah agar tercipta hubungan akademis terhadap kajian-kajian dari permasalahan yang terjadi dilapang. Ataupun dapat berfungsi bila akan dilakukan pebingkatan produksi atau pemanfaatan teknologi baru yang harus diperkenalkan kepada jarring pemasok. Dengan demikian semuanya akan teratur dan dapat dihitung secara kuantitatif dan dinilai baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Demikian juga kaitan dengan infrastruktur ekonomi, akan sangat membantu dalam efisiensi dan efektivitas jalannya klaster industri kelapa baik dalam mengakselerasi target peningkatan produksi di jaring pemasok, maupun industri inti, dan industri terkait. Dengan tersedianya infrastruktur ekonomi, akan memudahkan setiap stakeholder untuk melakukan pemantapan usaha berdasarkan tugas dalam fungsi klaster industri kelapa. Tahapan kolaborasi ini membutuhkan komitmen yang kuat antar stakeholder. Dengan komitmen yang menunjukkan ada rasa saling percaya untuk bisa bekerjasama dalam kontinuitas usaha produksi, maka upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota klaster industri kelapa akan dapat terlaksana.
264
keberhasilan klaster industri. Komitmen yang telah dibangun dalam tahapan kolaborasi akan diimplementasikan oleh masing-masing stakeholder. Dengan melakukan implemnetasi sesuai komitmen maka harapan untuk maju secara bersama-sama semua elemen klaster, akan dapat terealisasi. Semua stakeholder harus merasakan bersama, keuntungan yang diperoleh pabrikan dengan tidak menekan harga bahan baku yang disiapkan oleh jaring pemasok. Demikian juga dengan industri pendukung dan institusi terkait, secara bersama akan turut berkembang seiring dengan terus berkembangnya industri inti yang dipilih sebagai gerbong penghela dalam sistem klaster industri. Bila implementasi dilakukan dengan baik dan berkomitmen, spin off dari klaster akan terbentuk dengan cepat, yakni tumbuhnya industri-industri baru yang berkembang seiring dengan berkembangnya klaster. Kondisi ini akan terus berlangsung, sehingga tujuan untuk industrialisasi dengan nilai tambah dan hilirisasi dengan berdaya saing akan terealisasi. Disatu pihak, permintaan terhadap komoditi kelapa akan terus meningkat, seiring dengan meningkatnya permintaan produk turunan kelapa dan majunya industry pengolahan berbahan baku kelapa.
Strategi Pengembangan Kelapa dengan pendekatan Klaster Industri di Sulawesi Utara dilakukan dalam jangka pendek dan menengah adalah : (1) Pada tingkat hulu (up stream), pengembangan usaha pembibitan kelapa bersertifikat untuk kualitas bibit; (2) Pada tingkat On farm dilakukan diversifikasi horizontal dengan tanaman sela, dan mulai melakukan peremajaan kelapa sehingga menghasilkan produktivitas tinggi; (3) Pada tingkat hilir (Off farm), diharapkan dapat menghasilkan diversifikasi tanaman kelapa di tingkat petani dan pakopraan (zero wa ste) dan tercipta spin off industri baru penunjang klaster; dan (4) Secara Institusi dapat Membentuk platform jaringan kemitraan pelaku on farm, off farm, konsumen dan Membangun kerjasama dalam APCC (Asian and Pacific Coconut Community) serta Regional Asean dan Sub-Regional seperti BIMP-EAGA sebagai partner dalam pemasaran. Dalam jangka panjang, Strategi Pengembangan kelapa dengan pendekatan Klaster Industri adalah : (1) Menghadirkan Investasi industri Coco Chemicals yang memanfaatkan bahan baku (volume dan kualitas) yang berskala ekonomi (Sabun herbal, shampo, kosmetik, gliserin, dll); (2) Membangun global supply chain specialties product (a.l makanan bayi dan makanan khusus lainnya); (3) Klaster Industri yang terus berkembangdan perkebunan kelapa yang terus meningat produktivitasnya karena telah diremajakan dan dilakukan diversifikasi horizontal dengan tanaman pangan dan peternakan.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
265
2) Pengembangan Kelapa dengan klaster industri dapat meningkatkan perekonomian daerah dan daya saing komoditi serta produk turunan, juga mengakselerasi peningkatan produktivitas usahatani kelapa baik dengan diversifikasi vertical maupun diversifikasi horizontal. Selain itu tercipta industri baru di daerah.
Saran/Rekomendasi
1) Upaya peremajaan perkebunan kelapa terus ditingkatkan agar meningkatkan produksi dan produktivitas perkebunan kelapa dan terus melakukan diversifikasi dengan konsep zero waste untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk turunan kelapa sebagai komoditi ekspor dan domestik.
2) Harus meningkatkan Sinergitas dan Intensitas stakeholder klaster, agar supaya dapat mengakselerasi semua anggota klaster untuk tumbuh bersama dalam industri berbahan baku kelapa sehingga akan meningkatkan daya saing industri kelapa
DAFTAR PUSTAKA
Adisasmita, R. 2008. Pengembangan Wilayah : Konsep dan Teori. Penerbit Graha Ilmu. Yogyakarta
Anonimous. 2012. Kebijakan Industri Nasional. www. Kemenperin.go.id/artikel 19/Kebijakan Industri Nasional
Handoko. 2000. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi I. BPFE. Yogyakarta.
Kuncoro M., 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah: Reformasi, Perencanaan, Strategi dan Peluang. Penerbit Erlangga. Jakarta