dy/analisis_numerik/april2007 diferensiasi dan integrasi numerik
DIFERENSIASI
DAN
INTEGRASI
NUMERIK
Diferensiasi Numerik
(Forward, Central atau Centered, & Backward Difference; Turunan Pertama &Kedua)
Integrasi Numerik
(Trapezoidal Rule & Simpson’s Rule; Lebar Inkremen Tetap & Berubah)
by: siti diyar kholisoh
DIFERENSIASI NUMERIK
Misalnya: y = f(x), dan ingin dicari harga pada x = x0 dx
dy
Berdasarkan definisi matematika:
x ) x ( f ) x x ( f 0 x lim dx dy
Δ Δ
Δ → + −
=
Pada diferensiasi numerik yang sederhana, harga Δx →0 didekati dengan sebuah bilangan kecil ε, sehingga akan diperoleh:
Menurut teori:
♦pendekatan dengan centralmerupakan yang terbaik.
♦makin kecil ε, hasil makin baik
ε ε) f(x) x
( f dx
dy + −
≈
ε ε
ε 2
) x ( f ) x ( f dx
dy≈ + − −
ε ε ) x ( f ) x ( f dx
dy − −
≈
Cara forward:
Cara backward:
Cara central ataucentered:
Visualisasi Grafik
Keterangan:
3: Centered
difference approx. 2: Backward
difference approx. 1: Forward
difference approx.
4: True derivative
x
y
y = f (x)
1
3
2
4
i
i-1
i+1
h
h
2h
?
...
x
d
y
d
i x
=
Nilai turunan y = f (x) padax = x
idapat dievaluasi dengan memanfaatkan nilai-nilai x di sekitarx
iÆdalam hal ini:x
i-1danx
i+1Contoh Ilustratif:
Pada gerak lurus suatu benda, posisi (jarak dari titik tertentu) benda tersebut pada berbagai waktu dapat dinyatakan dengan
persamaan: 3
t
2
x
=
dengan x dalam meter dan t dalam detik Posisi benda pada berbagai waktu dapat dicari:
128 4
54 3
16 2
2 1
0 0
x (m)
t (detik) Kecepatan rata-rata:
Yang ditunjukkan oleh speedometer:
waktu
jarak
v
=
Misal, ingin dicari kecepatan sesaat pada saat t = 1 Hal ini dapat didekati dengan kecepatan rata-rata antara t = 1 dan t = 1,1:
Untuk kecepatan tetap:
62
006 , 6 001
, 001 , 1 ( 2 1 001 , 001 , 1 t 001 ,
kecepatan sesaat
Jika Δt yang dipakai lebih kecil:
Δt = 0,01:
Δt = 0,001:
Jika menggunakan
Jika menggunakan Δt yang makin kecil, maka nilai kecepatan rata-rata akan mendekati kecepatan sesaat.
'
lim
v
t t t=
=
Bandingkan dengan diferensiasi secara analitik:
3
Kecepatan sesaat:
Kesimpulan:
PENJABARAN
FIRST FORWARD FINITE-DIVIDED
DIFFERENCE
2 TITIK DARI DERET TAYLOR
Ekspansi deret Taylor di sekitar f (xi) untuk pendekatan forward:
...
Abaikan suku-suku yang mengandung turunan lebih tinggi, sehingga:
h
(formula first forward finite-divided difference
2 titik) dengan: h ≡step size
…(*)
PENJABARAN
FIRST BACKWARD FINITE-DIVIDED
DIFFERENCE
2 TITIK DARI DERET TAYLOR
Ekspansi deret Taylor di sekitar f (xi) untuk pendekatan backward:
...
Abaikan suku-suku yang mengandung turunan lebih tinggi, sehingga:
h
(formula first backward finite-divided difference
2 titik)
PENJABARAN
FIRST CENTERED FINITE-DIVIDED
DIFFERENCE
2 TITIK DARI DERET TAYLOR
Pendekatan centeredmenggabungkan kedua pendekatan sebelumnya:...
sehingga:
h
(formula first centered finite-divided difference 2 titik)
(**)
Kurangkan (**) dari (*), maka:
...
PENJABARAN
FIRST FORWARD FINITE-DIVIDED
DIFFERENCE
3 TITIK DARI DERET TAYLOR
Ekspansi deret Taylor di sekitar f (xi) untuk pendekatan forward:...
(formula first forward finite-divided difference 3 titik)
(*)
Kalikan (*) dengan 4, selanjutnya kurangkan ke (***), maka:
...
sehingga:
PENJABARAN
SECOND FORWARD FINITE-DIVIDED
DIFFERENCE
3 TITIK DARI DERET TAYLOR
Ekspansi deret Taylor di sekitar f (xi) untuk pendekatan forward:...
(formula second forward finite-divided difference 3 titik) (*)
Kalikan (*) dengan 2, selanjutnya kurangkan dari (***), sehingga:
...
sehingga:
SECARA UMUM
Secara umum, proses penjabaran diferensiasi numerik untuk kasus: Turunan yang melibatkan jumlah titik data lebih banyak, atau
Turunan yang lebih tinggi
dapat dilakukan dengan mengekspansi deret Taylor di sekitar f (xi) dan mengikuti langkah-langkah manipulasi aljabar yang sama atau analog dengan beberapa penjabaran di atas.
Secara umum, berlaku:
• h (step size)semakin kecil, atau
• menggunakan jumlah titik data semakin banyak 1. Hasil pendekatan turunan akan semakin baik jika:
Forward finite-divided-difference:
UNTUK TURUNAN PERTAMA DAN KEDUA
Ο(h2)
(4 titik)
Ο(h)
(3 titik)
Error
Turunan kedua:
Ο(h2)
(3 titik)
Ο(h)
(2 titik)
Error
Turunan pertama:
h
Backward finite-divided-difference:
UNTUK TURUNAN PERTAMA DAN KEDUA
Ο(h2)
(4 titik)
Ο(h)
(3 titik)
Error
Turunan kedua:
Ο(h2)
(3 titik)
Ο(h)
(2 titik)
Error
Turunan pertama:
h
Centered finite-divided-difference:
UNTUK TURUNAN PERTAMA DAN KEDUA
Ο(h4)
(5 titik)
Ο(h2)
(3 titik)
Error
Turunan kedua:
Ο(h4)
(4 titik)
Ο(h2)
(2 titik)
Error
Turunan pertama:
h
CONTOH SOAL:
Gunakan
finite divided difference approximation
(
forward
,
backward,
dan
centered
) untuk
menentukan nilai turunan pertama dari fungsi:
2
Ulangi perhitungan dengan menggunakan h = 0,25
dan h = 0,1.
CONTOH APLIKASI:
2,6350 3,3834 4,3443 5,5783 7,1626
C
45 40 35 30 25 t
0,7549 0,9694 1,2447 1,5982 2,0521
C
70 65 60 55 50 t
9,1970 11,8092 15,1633 19,4700 25,0000
C
20 15 10 5 0 t
0,2163 0,2777 0,3566 0,4579 0,5879
C
95 90 85 80 75 t
0,0620 120
0,0796 115
0,1022 110
0,1312 105
0,1684 100
C t Berikut ini adalah data kinetika sebuah reaksi homogen-searah dalam reaktor sistem batch isotermal (t [=] menit, C [=] mol.m-3):
Tentukan nilai-nilai kecepatan reaksi:
pada setiap titik data, dgn menggunakan finite-divided difference
cara: (a) forward, (b) backward, dan (c) centeredatau central. Bandingkan ketiganya dan bandingkan juga dengan penurunan
secara analitik (yakni dengan melalui proses curve-fitting) t
d C d r=−
DERIVATIVES OF UNEQUALLY SPACED DATA
Untuk sekumpulan data-data yang melibatkan interval x yang tidak sama (misal: data yang diperoleh dari eksperimen), nilai
turunannya dapat diperkirakan melalui pendekatan interpolasi polinomial Lagrange orde dua.
) x x )( x x (
x x x 2 ) x ( f ) x ( ' f
1 i 1 i i 1 i
1 i i 1
i
+ − −
+ − − − − −
=
Dengan menggunakan 3 titik data yang berdekatan:
Melalui penurunan secara analitik, diperoleh:
) x x )( x x (
x x x 2 ) x ( f
1 i i 1 i i
1 i 1 i i
+ −
+ −
− − − − +
) x x )( x x (
x x x 2 ) x ( f
i 1 i 1 i 1 i
i 1 i 1
i − − − −
+
+ − +
− +
(x merupakan nilai yang ingin dievaluasi turunannya)
(xi-1, f (xi-1)), (xi, f (xi)), dan (xi+1, f (xi+1))
CONTOH APLIKASI:
Reaksi isomerisasi searah fase cair: A ÆB
berlangsung dalam sebuah reaktor batch, dan menghasilkan data konsentrasi A tersisa (CA) vs waktu (t) sbb.:
n A A
A kC
t d
C d
r =− =
−
Jika persamaan laju reaksi dinyatakan dalam bentuk:
maka besarnya orde reaksi (n) dan laju reaksi spesifik (k) dapat ditentukan.
0,06 0,25 0,65 1,0 1,45 2,25 4,0 CA(mol/L)
17,5 15 12 10 8 5 0 t (menit)
Gunakan diferensiasi numerik untuk menentukan:
t
d
C
d
AINTEGRASI NUMERIK
Persoalan integrasi numerik:
∫
b
a
dx
)
x
(
f
1. Fungsi (persamaan) tunggal dengan variabel tunggal2. Bentuk persamaan diferensial (PD), baik tunggal maupun simultan
(Trapezoidal rule; Simpson’s Rule)
(Metode: Euler, Heun,ModifiedEuler; Runge-Kutta)
yang akan dipelajari pada bagian ini
Misal: Penyelesaian integral berbentuk:
Misal: Penyelesaian PD berbentuk: ) x ( Q y . ) x ( P x d
y d
=
+
f
(
x
,
y
,
z
)
x
d
y
d
=
) z , y , x ( f x d
z d
=
(tunggal)
FORMULA NEWTON-COTES
Formula integrasi Newton-Cotes merupakan basis penyelesaian integrasi numerikuntuk kasus persamaan dengan variabel tunggal.
dx
)
x
(
f
I
b
a
∫
=
Ide dasar:
Menggantikan bentuk fungsi atau persamaan yang kompleks dengan data-data dalam bentuk tabel. Selanjutnya, dilakukan proses curve-fittingterhadap data-data tersebut, sehingga diperoleh fungsi atau persamaan yang mudah diintegralkan. Integral fungsi f (x) dari x = a
hingga x = bdapat dituliskan sbb.:
dengan:
m m 1 m 1 m 2
2 1
0
a
x
a
x
...
a
x
a
x
a
)
x
(
f
=
+
+
+
+
− −+
f (x) ≡fungsi polinomial berorder m
Ingat kembali bahwa:Untuk membentuk polinomial berorder m, maka dibutuhkan sekurang-kurangnya (m+1) titik data.
TRAPEZOIDAL RULE
dx
)
x
(
f
I
b
a
∫
=
x y
y = f (x)
a b
f (a) f (b)
Integral (I) Merupakan bentuk integrasi Newton-Cotes yang paling sederhana
Æmenggunakan pendekatan polinomial orde satu (linier)
)
a
x
(
)
a
(
f
)
x
(
f
=
+
f(bb)−−af(a)−
Integral f (x) antara x = a dan x = b:dengan:
orde satu
TRAPEZOIDAL RULE
dx ) a x ( a b
) a ( f ) b ( f ) a ( f I
b
a∫ ⎟⎟⎠
⎞ ⎜⎜⎝
⎛ −
− − + =
2 ) a b ( 2 1 a b
) a ( f ) b ( f ) a b ).( a ( f
I −
− − + − =
2 ) a ( f ) b ( f ) a b ( ) a ( f ). a b (
I= − + − −
Maka:
2 ) b ( f ) a ( f ). a b (
I = − + (formula trapezoidal rule)
Secara geometri:
Luas trapesium = lebar x rerata panjang sisi sejajar
2 ) b ( f ) a ( f ). a b (
I = − +
Luas daerah yang diarsir:
I bermakna luas daerah di bawah kurvay = f (x)
MULTIPLE-APPLICATION TRAPEZOIDAL RULE
= Composite Trapezoidal Rule
n
x
x
n
a
b
h
=
−
=
n−
0x y = f (x)
a b
f (a) f (b)
I
…
= x0 = xn
Interval dari x = x0= a dan x = xn= b dibagi menjadi
bagian-bagian kecil (inkremen atau segmen) yang masing-masing selebar h, berjumlah n buah.
Batas-batas interval diberi indeks 0, 1, 2, …, n shg:
x
i=
x
0+
i
.
h
Dengan demikian, jika tersedia data-data berikut:
maka:
2
Jika jumlah n semakin besar, maka hasil integrasi akan semakin baik.
(formula composite trapezoidal rule)
CONTOH SOAL:
Perkirakan integral:
dari a = 0 hingga b = 0,8
dengan menggunakan metode
trapezoidal:
(a) 1 segmen,
(b) 2 segmen,
(c) 4 segmen, dan
(d) 20 segmen
5 4
3
2
675
x
900
x
400
x
x
200
x
(Sebagai perbandingan, penyelesaian secara analitik
untuk integral ini adalah 1,640533)
Bandingkan hasil-hasilnya…!
SIMPSON’S RULE
dx
Æmenggunakan pendekatan polinomial orde dua (kuadrat)
Integral f (x) antara x = x0dan x = x2: dengan:
orde dua Jika tersedia 3 titik data:
)
(Persamaan f (x) yang melalui ketiga titik data tsb. di atas dapat didekati dengan interpolasi polinomial Lagrange orde dua)
∫
(formula Simpson’s 1/3 rule)
Setelah melalui proses integrasi dan manipulasi aljabar, diperoleh: Dengan demikian:
dengan:
MULTIPLE-APPLICATION SIMPSON’S 1/3 RULE
= Composite Simpson’s 1/3 Rule
))
Identik dengan penurunan formula composite trapezoidal rule,
metode ini dapat dijabarkan sbb.:
∫ +∫ + + ∫
atau:
⎥
(formula composite Simpson’s 1/3 rule)
dengan:
n x x
h= n− 0 dan n berupabilangan genap
CONTOH SOAL:
Perkirakan integral:
dari a = 0 hingga b = 0,8
dengan menggunakan metode
Simpson 1/3:
(a) 2 segmen,
(b) 4 segmen, dan
(c) 20 segmen
5 4
3 2
x
400
x
900
x
675
x
200
x
(Penyelesaian secara analitik untuk integral ini: 1,640533)
Bandingkan hasil-hasilnya…!
Bandingkan juga dengan hasil yang diperoleh dengan
metode
trapezoidal
…!
INTEGRASI DGN LEBAR SEGMEN TAK SAMA
∫ = ∫
Pada kebanyakan situasi, kasus integrasi dengan lebar segmen (atau inkremen) sama seringkali justru tidak banyak dijumpai. Misalnya, data-data yang diperoleh melalui eksperimen di laboratorium.
Untuk kasus seperti ini, metode composite trapezoidal ruledapat diterapkan, dengan cara yang sangat identik dengan kasus lebar segmen yang sama.
dengan:
h
i≡
lebar
segmen
ke
−
i
(i = 1, 2, …, n)CONTOH APLIKASI:
Sebuah reaksi homogen fase gas: A Æ3 R mempunyai laju reaksi pada 215oC sebesar:) ik det . liter / mol ( C 10
rA= −2 A1/2
−
Campuran reaksi yang berupa 50%-mol A dan 50%-mol inert diumpankan ke dalam sebuah reaktor alir pipa yang beroperasi pada 215oC dan 5 atm. C
A0= 0,0625 mol/liter. Tentukan space-time yang dibutuhkan agar tercapai konversi A 80%.
Keterangan:
Persamaan kinerja reaktor alir pipa:
Penyelesaian:
Metode yang bisa ditempuh:
1. Integrasi secara grafik 2. Integrasi secara analitik 3. Integrasi numerik
Penyelesaian secara analitik:
328 , 1 X
1 X sin arc X d X 1
X 1 X
d X 1
X
1 0,8
0 2 A A
A 8
, 0
0 A2 A A
2 / 1 8
, 0
0 A
A = − − =
∫ − + = ∫ ⎟⎟
⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛
− +
Coba Anda ulangi kembali melalui
penyelesaian secara
numerik
! (Silakan pilih sendiri metode yang akan Anda
gunakan…)
Integral ≈luas daerah
di bawah kurva
CONTOH APLIKASI
KANDUNGAN AIR dalam PADATAN BASAH
R r
dr
Misal suatu padatan bentuk bola berjari-jari R, mengandung air dengan kadar tidak seragam:
dengan r = jarak ke pusat bola. Ingin dicari jumlah air yang ada dalam padatan (m) dan kadar air rata-ratanya (Cav)
Analisis:
2 o
3 2
R r 1 C cm
O H g C
⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛ − = ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛
Misal:
Ditinjau elemen volume dengan tebal dr (≈0) Jumlah air pada elemen volume = dm Karena dr sangat kecil, maka kadar air pada bagian tersebut praktis dapat dianggap seragam, sehingga:
dm = 4.π.r2.dr.C
(massa H2O = volume x kadar) Dengan integrasi diperoleh:
Jika diambil: C0= 0,3 g/cm3; R = 5 cm Dengan integrasi numerik, diperoleh:
m = …….. g Kadar air rata-rata:
∫
∫
===
= =
R r
0 r
2 m
m
0 m
dr . C . r . . 4
dm π
∫
=
=
⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − =
R r
0 r
2 2
o .dr
R r 1 . r . C . . 4
m π
3 3
av
cm g ... R 3 4
m volume
massa
C = = =
π
Latihan Soal #:
Tentukan nilai turunan pertama fungsi-fungsi berikut dengan pendekatan forward difference(2 titik (Ο(h))dan 3 titik (Ο(h2))), backward difference(2 titik (Ο(h))dan 3
titik (Ο(h2))), serta central/centered difference(2 titik
(Ο(h2))dan 4 titik (Ο(h4))):
(a)
pada x = 0, dengan lebar langkah h = 0,5, h = 0,2, dan h = 0,1
(b)
pada x = 1, dengan lebar langkah h = 0,25, h = 0,1, dan h = 0,05
Bandingkan dan berikan analisis terhadap hasil perhitungan yang Anda peroleh! Bandingkan juga dengan hasil yang diperoleh melalui perhitungan secara analitik!
15 x 4 x
y= 3+ −
x
e
Latihan Soal #:
Data berikut ini dikumpulkan pada saat pengisian
tangki bahan bakar minyak:
1,30
1,14
1,03
0,88
0,73
0,65
0,5
V, 10
6barrel
120
90
60
45
30
15
0
t, menit
Hitunglah
laju alir minyak
yang terkumpul
pada
setiap waktu pengamatan
(Q = dV/dt).
Latihan Soal #3:
Pada suhu tetap, sebuah proses termodinamika mengukur
perubahan tekanan terhadap perubahan volume sistem,
dan diperoleh data berikut:
∫
=
P
dV
W
11 10 8 6 4 3 2 0,5 Volume, V (m3)
207 242 312 316 326 333 368 420 Tekanan, P (kPa)
Hitunglah kerja (W) yang terlibat selama proses tersebut,
dengan integrasi secara numerik.
Diketahui:
Latihan Soal #4:
Kapasitas panas air (H
2O(l)) sebagai fungsi suhu dapat
dinyatakan dalam persamaan:
2 6 3