• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sintesis dan Karakterisasi Serbuk BaFe12

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sintesis dan Karakterisasi Serbuk BaFe12"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Sintesis dan Karakterisasi Serbuk BaFe12O19 dengan Aditif FeMo Melalui Metode Mechanical

Alloying

Cut Hani Safira1), Awan Maghfirah1), Perdamean Sebayang2)

1)

Departemen Fisika - FMIPA, Universitas Sumatera Utara

2)

Pusat Penelitian Fisika LIPI, Tangerang Selatan – Serpong

Email : [email protected]

ABSTRAK

Telah dilakukan sintesis serbuk BaFe12O19 dengan penambahan aditif FeMo (1, 5, dan 9%berat) melalui metode mechanical alloying dan variasi temperatur kalsinasi 1000, 1100, dan 1200 oC (2 jam). Karakterisasi yang dilakukan meliputi: Vibrating Sample Magnetometer (VSM), dan X-Ray Diffraction (XRD). Hasil analisis VSM dengan penambahan 5%wt FeMo adalah σs = 50,49 emu/g; σr = 23,83 emu/g; jHc = 1106 Oe; dan BHmax = 137

kGOe merupakan nilai yang optimum. Setelah kalsinasi pada temperatur 1000oC (2 jam) diperoleh σs = 31,56

emu/g; σr = 17,17; jHc = 445,36 Oe; dan BHmax = 8,66 kGOe merupakan nilai yang optimum. Dari hasil analisis

XRD serbuk tersebut diperoleh 59,2% fasa barium heksaferit (BaFe12O19), 24,11% fasa hematit (Fe2O3), dan 16,67%

fasa barium oxide (BaO) dengan struktur kristal heksagonal,trigonal, dan tertagonal. Bahan serbuk ini termasuk

semihard magnetic dan memungkinkan untuk digunakan sebagai bahan sensor magnetik.

Kata Kunci: BaFe12O19, FeMo, Mechanical Alloying, Kalsinasi, Vibrating Sample Magnetometer.

Pendahuluan

Barium heksaferit (BaFe12O19) merupakan magnet

permanen yang sudah menarik perhatian luas karena memiliki teknik yang baik dalam pembuatannya. Barium heksaferit memiliki nilai magnetik anisotropi dan suhu Curie yang tinggi dengan kestabilan kimia yang cukup baik [Doni, 2013]. Material tersebut memliki koersivitas instrinsik 6700 Oe, saturasi magnetik 72 emu/g, dan temperatur Curie 450oC. Barium heksaferit telah digunakan secara meluas pada pembuatan magnet permanen komersial, data penyimpanan komputer, perekam optic magnet, dan penyerap gelombang mikro [Radwan, M, 2007]. Teknik sintesis pada Barium Heksaferit dapat dibagi ke dalam teknik fisika dan kimia. Teknik fisika yang biasa dilakukan adalah metode reaksi padatan

(mechanical alloying), metode ini mudah dilakukan dan memerlukan suhu yang cukup tinggi, minimal 1000oC melalui proses kalsinasi [Winataputra, 2013]. Pada proses mechanical alloying distribusi serbuk yang homogen merupakan faktor penting yang mempengaruhi proses ferrization dan sifat magnetik ferit. Proses wet milling pada serbuklebih dianjurkan karena dapat menghasilkan distribusi partikel yang lebih merata dari pada proses dry milling [Stefan,2012]. Pada serbuk BaFe12O19

diberikan penambahan aditif ferromolybdenum (FeMo) yang secara luas digunakan dalam produksi baja stainless tahan panas dan paduan baja lainnya. Molybdenum meningkatkan kekerasan ferit, dan bahkan lebih besar daripada austenit. Penambahan molibdenum memberikan struktur butir halus yang homogen pada baja dan membantu mengurangi kerapuhan. Penambahan aditif FeMo pada serbuk BaFe12O19 diharapkan dapat menghasilkan sifat fisis

yang baik [Marinov, et.al, 2014].Barium M-Heksaferit terbentuk paling tidak pada temperatur 1000oC agar menjadi produk utama [Rosyidah,K, 2013]. Sehingga temperatur yang dipilih untuk proses kalsinasi serbuk yaitu 1000,1100, dan 1200oC.

Metodologi Penelitian

Pembentukan serbuk dilakukan dengan milling bahan baku Barium Heksaferit menggunakan Planetary Ball Mill (PBM) selama 24 jam dan aditif FeMo dengan proses wet milling menggunakan High Energy Milling (HEM) dengan tambahan toluen selama 1 jam. Setelah proses wet milling, FeMo dikeringkan menggunakan oven pada suhu 100oC selama 24 jam untuk menghilangkan kandungan toluen. Kemudian serbuk BaFe12O19 dan aditif FeMo dimixing

(2)

aditif FeMo 1, 5, dan 9 (wt%) selama 15 menit. Sifat magnet dari tiga bahan tersebut dianalisis menggunakan Vibrating Sample Magnetometer

(VSM). Hasil VSM menunjukkan bahwa penambahan 5%wt FeMo menghasilkan nilai magnet yang baik. Kemudian serbuk dengan penambahan 5%wt FeMo dikalsinasi pada variasi temperatur 1000, 1100, dan 1200oC dengan kenaikan temperatur 10oC/menit. Proses kalsinasi dilakukan menggunakan alat Thermolyne Furnace High Temperature selama 2 jam. Setelah proses kalsinasi, karakterisasi serbuk meliputi VSM untuk mengetahui sifat magnet dan XRD untuk mengetahui fasa dan struktur kristal yang dihasilkan oleh serbuk magnet.

Hasil dan Pembahasan

Analisa sifat magnet menggunakan VSM dilakukan pada serbuk dengan komposisi penambahan 1, 5 dan 9 % wt FeMo. Sebagai pembanding, pengujian sifat magnet untuk sampel serbuk Barium heksaferit komersil juga dilakukan, sebagai variabel bebas.

-20000 -10000 0 10000 20000

-60 -40 -20 0 20 40 60

9%wt FeMo 5%wt FeMo

Hext (Oe)



(emu/g)

1%wt FeMo

BaFe

12O19

Gambar 1. Kurva histeresis dari hasil analisis sifat magnet pada penambahan 1, 5, dan 9 %wt FeMo terhadap BaFe12O19.

Dari Gambar 1 terlihat bahwa serbuk dengan penambahan aditif 5%wt memiliki sifat magnet yang paling baik bila dibandingkan dengan penambahan persentase FeMo yang lain pada serbuk. Namun jika dibandingkan dengan sifat magnet untuk serbuk barium heksaferit (komersil) tanpa penambahan aditif, nilai tersebut lebih rendah. Hal ini dikarenakan pengaruh substitusi ion logam (mis: Zn, Fe) terhadap BaFe12O19. Hasil penelitian tersebut menunjukkan

bahwa penambahan ion logam dapat mereduksi sifat magnet sampel sebagai akibat dari terganggunya arah

momen magnet dengan munculnya ion substisional sehingga domain magnet menjadi random [Doyan, A. 2015].

Tabel 1. Hasil analisis Vibrating Sample Magnetometer (VSM) pada penambahan 1, 5, dan 9%wt FeMo terhadap BaFe12O19.

Sampel yang telah dikalsinasi pada variasi temperatur 1000, 1100, dan 1200oC selama 2 jam dikarakterisasi menggunakan VSM dan hasil yang diperoleh dari karakterisasi tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 dan Tabel 2.

-20000 -10000 0 10000 20000

-40 -30 -20 -10 0 10 20 30

Hext (Oe)

(e

mu/g

)

Tcal = 1000oC Tcal = 1100oC Tcal = 1200oC

Gambar 2. Kurva histeresis hasil analisis sifat magnet pada penambahan 5%wt FeMo terhadap serbuk BaFe12O19 yang

dikalsinasi pada temperatur 1000, 1100, dan 1200oC selama 2 jam.

Tabel 2. Hasil analisis Vibrating Sample Magnetometer (VSM) pada penambahan 5%wt FeMo terhadap serbuk BaFe12O19

yang telah dikalsinasi selama 2 jam.

Sampel σs

(emu/g)

σr

(emu/g) jHc (Oe)

BaFe12O19 59,18 45,15 1340

99%BaFe12O19 :

1%wt. FeMo 39,41 16,29 1149 95%BaFe12O19 :

5%.wt. FeMo 50,94 23,83 1106 91%BaFe12O19 :

(3)

Sampel σs (emu/g) σr

Hasil karakterisasi tersebut menunjukkan bahwa serbuk dengan temperatur kalsinasi 1000oC memiliki sifat magnet yang paling baik. Sedangkan pada suhu 1200oC menghasilkan kandungan hematite (Fe2O3)

yang semakin banyak dan menyebabkan penurunan pada nilai remanensi dan saturasi serbuk [Pauzan, 2013].

Penurunan nilai remanensi dan koersivitas pada serbuk sesuai dengan hasil analisis XRD yang ditunjukkan pada Gambar 3.

30 40 50 60

dengan penambahan 5%wt FeMo yang dikalsinasi pada temperatur 1000, (b) serbuk BaFe12O19 dengan penambahan

5%wt FeMo yang dikalsinasi pada temperatur 1200oC selama 2 jam.

Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa serbuk (a) menghasilkan 81,9% fasa mayor barium heksaferit (BaFe12O19) dengan struktur kristal

Heksagonal pada 2θ (32,5; 34,4; 57) sebagai tiga

puncak tertinggi dengan parameter kisi a = b = 5,865 ; c = 23,099 dan 18,1 % fasa minor hematit (Fe2O3) dengan struktur kristal trigonal pada 2θ

(35,6) dengan parameter kisia = b = c = 5,43 . Serbuk (b) menghasilkan 59,2% fasa barium heksaferit (BaFe12O19) dengan struktur kristal

heksagonal pada 2θ (32,04; 33,95; 37,11) dan

Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa bahan termasuk material semihard magnet karena memiliki nilai koersivitas diantara 1 – 100 kA/m (12.5 – 1250 Oe) [Sulsarek, 2012] yang dapat diaplikasikan sebagai sensor magnetik pada sistem keamanan [Arden, et.al, 1985].

Kesimpulan

Sintesis serbuk BaFe12O19 dengan penambahan aditif

FeMo telah berhasil dilakukan melalui metode

Mechanical Alloying. Penambahan 5%wt FeMo merupakan penambahan aditif optimum dengan nilai

true density 3,71 g/cm3 dan memiliki sifat magnet paling baik dengan nilai σr= 23,83 emu/g, σs = 50,94,

Hc = 1106 Oe, dan BHmax = 137 kGOe. Serbuk

BaFe12O19 dengan penambahan 5%wt FeMo yang

dikalsinasi pada temperatur 1000oC menghasilkan sifat magnet yang paling baik dengan nilai σr = 17,17

emu/g, σs = 31,56 emu/g, Hc = 455,36 Oe, dan BHmax

8,66 kGOe. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa Serbuk BaFe12O19 dengan penambahan aditif 5%wt

(4)

heksaferit (BaFe12O19), fasa minor 24,11% hematite

(Fe2O3) dan 16,67% barium oxide (BaO2). Hasil

sintesis dan karakterisasi serbuk magnet menunjukkan bahwa serbuk termasuk material

semihard magnet yang dapat diaplikasikan sebagai sensor magnetik dan sistem on/off pada alat telekomunikasi.

Daftar Pustaka

Doni, R. Manaf, A. Sardjono, P, Physical Characteristics and Magnetic Properties of Barium Hexaferrites (BaFe12O19) Derived

from Mechanical Alloying, International Journal of Basic & Applied Sciences IJBAS-IJENS Vol:13 No : 04, 2013.

Radwan, M. Rashad, M. Hessein, M, Synthesis and characterization of barium hexaferrite nanoparticles, Journal of Materials Processing Technology 181 (2007) 106– 109.

Winataputra, D. Karakterisasi BaFe12O19 Koersivitas

Tinggi Hasil Sintesis dengan Metode Kopresipitas Kimia, Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol.14 No.2 (2013), ISSN : 1411 – 3481.

Stefan, I. Olei, A. Nicolicescu, C. Research on Mechanical Alloying Effects on Magnetic Propertiesof Barium Ferrite Type M, The 4th International Conference, Advanced Composite Materials Engineering, COMAT 2012.

Marinov, M, Production Efficiency of a Ferro-Molibdenum Alloy, Journal of Chemical Technology and Metallurgy, 49, 1 (2014) 45-48.

Rosyidah, K. Zainuri,M, Sintesis Dan Karakterisasi Struktur Dan Sifat Magnet Komposit Barium M-Heksaferit/ Polianilin Berstruktur

Core-Shell Berbasis Pasir Besi Alam, JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013).

Slusarek, B. Zakrzewski, K. Magnetic properties of permanent magnets for magnetic sensors working in wide range of temperature, PRZEGLĄD ELEKTROTECHNICZNY (Electrical Review), ISSN 0033-2097, R. 88 NR 7b/2012.

Pauzan, M. Kato, T. Iwata, S. Suharyadi, E. Pengaruh Ukuran Butir dan Struktur Kristal terhadap Sifat Kemagnetan pada Nanopartikel Magnetit (Fe3O4), Prosiding Pertemuan

Ilmiah XXVII HFI Jateng & DIY (2011) ISSN : 0853-0823.

Doyan, A. Halik, I. Susilawati, PENGARUH VARIASI TEMPERATUR KALSINASI TERHADAP BARIUM M-HEKSAFERIT DIDOPING Zn MENGGUNAKAN FOURIER TRANSFORM INFRA RED, J. Pijar MIPA, Vol. X No.1, Maret 2015: 7-15, ISSN 1907-1744.

Arden, et.al. 1985. Material Magnetic. NATIONAL MATERIALS ADVISORY BOARD; Washington D.C.

Gambar

Gambar 1. Kurva histeresis dari hasil analisis sifat magnet pada penambahan 1, 5, dan 9 %wt FeMo terhadap BaFe12O19
Gambar 3. Hasil analisis XRD (a). serbuk

Referensi

Dokumen terkait

Sintesis dan Karakterisasi Serbuk Hidroksiapatit Skala Sub-Mikron Menggunakan Metode Presipitasi (Bambang Sunendar Purwasasmita dan Ramos Samuel Gultom).. SINTESIS

Dengan serbuk barium ferit berukuran lolos saringan 400 mesh sifat mekanik yang paling baik dimiliki oleh magnet komposit dengan komposisi barium ferit 70%, yaitu: kekutan tarik

Bagaimana pengaruh persentase komposisi penambahan leaching agent NaCl yang tepat pada paduan Mg-Fe-Zn dalam proses metalurgi serbuk untuk mendapatkan sifat mekanik

lunak merupakan suatu sifat bahan yang tidak permanen, dimana bahan akan.. berubah menjadi magnet apabila ada arus yang diberikan dan

Pengaruh temperatur sintering terhadap sifat fisis dari mill scale dengan.

Pembuatan dan karakterisasi material magnetik berbasis mill scale limbah industri baja dengan penambahan 1, 3, 5, 7 dan 9% wt FeMo telah dilakukan.

Tahapan proses dalam pembuatan magnet permanen ferrite yang dapat memberikan pengaruh terhadap sifat-sifat dari magnet permanen adalah: proses preparasi serbuk

Larutan dari serbuk pewarna dengan penambahan maltodekstrin 5% memiliki intensitas warna merah yang lebih tinggi dibandingkan dengan penambahan maltodekstrin 10%