Pancasila,
Keindonesiaan,dan Kelas
Menengah Muda
Wasisto Raharjo Jati
Pusat Penelitian Politik
–
Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia
(P2P
–
LIPI)
Intoleransi dan Ancaman Kebhinekaan
270 kasus tindakan kekerasan beragama dengan 140 kasus (aparatur negara) dan 130 (masyarakat) (Setara Institute Report 2016 dan KOMPAS, 30 Januari 2017).
97 kasus kekerasan terhadap minoritas di tahun 2016 (1. ancaman terhadap kelompok keagamaan, 2. Ahmadiyah 3. Gereja Kristen) (Executive Repot Komnas HAM 2016)
Perbedaan keyakinan yang dilandasi motif kepentingan ekonomi menjadi dasar tumbuhnya intoleransi (INFID, 2016)
Menguatnya Sentimen Identitas dan
Primordialisme
Kebutuhan eskpresi diri maupun kolektif dalam ruang publik secara massif
Pengaruh sosial media sebagai ruang sosialisasi justru menjadi ruang esklusi (social exclusion) dengan kesamaan minat dan isu sama (Jati, 2017)
Kebutuhan maskulinitas dan adrenalin yang belum tersalurkan maksimal
Kelas Menengah Muda Indonesia
Hari Ini
Kelas Menengah Indonesia adalah kelompok
masyarakat
baru
baik
secara
pendidikan,
perekonomian
Didominasi Generasi
Millenials
yang cenderung
impulsif,
egaliter,
dan
independen
dalam
berpiikir dan bertindak
PANCASILA dan KEINDONESIAAN
dalam Konteks Kekinian
Dukungan terhadap NKRI dan Pancasila masih
tinggi 79,3 persen, namun 9,2 persen responden
ingin NKRI berganti menjadi NKRI Ber-Khilafah
(
Survey SMRC, 2017
).
Pancasila dan Keindonesiaan di
Kalangan Kelas Menengah Muda (1)
Pancasila masih dimaknai normatif, literal, dan
sifatnya seremonial
Pemahaman
Pancasila
dan
Keindonesiaan
masih dimaknai
by incident, by accident,
dan
by needs.
Pancasila dan Keindonesiaan di
Kalangan Kelas Menengah Muda (1)
Pemahaman Pancasila tidak membuka ruang diskusi untuk redefining dalam konteks kekinian
Pancasila, bagus secara konsep, namun bingung secara praktik.
Definisi “Manusia Pancasilais” seakan mereduksi penghayatan Pancasila secara murni.