Metode Penetapan Kadar Vitamin A. Analisis vitamin A
1. Metode Spektrofotometri
Spektrum absorbsi ultraviolet vitamin A dan vitamin A asetat mempunyai absorbansi maksimal pada panjang
gelombang antara 325 sampai 328 nm dalam berbagai pelarut. Prosedur penetapan vitamin A secara spektrofotometri :
Penetapan dilakukan secepat mungkin,terindung dari cahaya,dan terlindung dari senyawa oksidator. Sebelum
dilakukan penetapan kadar, skala spektrofotometer diperiksa terlebih dahulu. Sebagai pedoman dapat digunakan dapat digunakan garis raksa pada 313,16 nm dan 334,5 nm serta garis hidrogen pada 379,7 nm dan 486,1 nm. Ketepatan absorbansi yang dikoreksi lebih rendah jika dibandingkan dengan
absorbansi yang diamati langsungdan digunakan dalam
perhitungan. Karena itu pengukuran absorbansi membutuhkan perhatian khusus dan sekurang-kurangnya harus dilakukan dua kali penetapan.
2. Metode kolorimetri a. Metode carr-price
Metode ini berdasarkan atas reaksi akseroftol dengan antimon triklorida anhidrat dalam kloroform yang menghasilkan warna biru. Reaksi ini terjadi antara antimon triklorida dengan rantai tidak jenuh dari akseroftol. Karoten, asam poliena dan beberapa
senyawa dalam minyak ikan menghasilkan warna biru juga. Warna yang terjadi intensitasnya cepat mencapai maksimum tetapi juga cepat pucat.
b. Pengubahan akseroftol menjadi anhidroakseroftol
Akseroftol mudah diubah menjadi anhidrokseroftol dengan bantuan sejumlah kecil asam mineral atau asam organik kuat. Pada metode budowski dan bondi,akseroftol diubah menjadi anhidroakseroftol dalam pelarut benzen dengan katalisator asam toluen-p-sulfonat pada temperatur kamar.
3. Metode kromatograf
B. Vitamin D
Dari beberapa vitamin D, dua diantaranya dianggap yang paling penting yaitu vitamin D2 ( ergo kalsiferol) dan vitamin D3
( kolekalsiferol). Struktur kedua vitamin ini sangat mirip. Vitamin D2
banyak terdapat dalam bahan nabati, sementara vitamin D3 banyak
terdapat dalam minyak ikan hati.
Prosedur penetapan kadar vitamin D: a. Kesesuaian larutan baku
Disiapkan larutan yang mengandung 2 mg vitamin D3 dan 0,2
mg trans-vitamin D3 / g minyak tumbuhan. Sebanyak 0,25 g
larutan ini dilarutkan dalam 10 ml campuran toluen dan fase gerak (1-1). Puncak trans-vitamin D3 dan previtamin D3 harus
mempunyai tinggi puncak yang sama. b. Uji kesesuaian sistem
Sebanyak 20 ui larutan buka yang telah sesuai (tahap a) diinjeksikan sebanyak 6 kali. Kanstanta tinggi puncak ditentukan dengan menghitung standar deviasi (SD) dan standar deviasi relatif (RSD).
c. Penentuan faktor kalibrasi (FK)
Sebanyak 4,0 ml larutan baku vitamin D dimasukkan dalam labu takar 2,5 ml lalu ditambah 1 ml taluen dan dencerkan dengan fase gerak sampai batas tanda. Larutan disimpan dalam penangas es. Sebanyak 20 ul larutan diinjeksi dan kondisi operasi detektor diatur sedimikian rupa hingga diperoleh tinggi puncak yang maksimal. Injeksi diulangi dan dihitung rata-rata tinggi puncak(=K).
d. Penyaipan sampel
i. Resin : sebanyak kurang lebih 800 mg sampel ditimbang secara saksama, dimasukkan dalam labu takar 100 ml. Lalu dilarutkan dengan toluen dan diencerkan sampai batas volume dengan taluen ii. Vitamin D dalam minyak : ditimbang secara saksama
sejumlah minyak yang mengandung kurang lebih 500.000 SI, dimasukkan dalam labu takar 50 ml lalu dilarutkan 10,0 ml toluen, dan diencerkan dengan fase gerak sampai batas tanda.
iii. Sediaan padat dan dispersi cair
Sejumlah sampel yang mengandung kurang lebih 100.000 SI kolekalsiferol ditimbang secara saksama lalu 25 ml alkohol, 5 ml larutan natrium askorbat, dan 3 ml larutan KOH 50 % dengan pengadukan ringan. e. Penetapan
Sebanyak 20 ul vitamin D baku dan larutan sampel diinjeksikan dalam kolom dengan detektor diatur
ulang larutan baku dilakukan setelah 4 kali injeksi sampel untukk memastikan respon yang terjadi tetap konstan. C. Vitamin E
Vitamin E merupakan salah satu vitamin yang larut dalam lemak. Keaktifan vitamin E dalam beberapan senyawa tokoferol berbeda senyawa tokoferol berbeda. @-tokoferol menunjukkan keaktifan vitamin E yang paling tinggi. Struktur kimia tokoferol adalah sebagai berikut:
Alfa-tokoferol alam memutar bidang polarisasi ke kanan, sedang alfa-tokoferol buatan adalah resemik (DL). Tokoferol lainya (beta,gama,dan delta) kurang penting karena potensi hayatinya rendah. Berbagai bentuk alfa-tokoferol telah diketahui potensinya yakni :
1 mg L-α-tokoferol asetat 1 SI 1 mg (D-L)- α-tokoferol 1,1 SI 1 mg D-α-tokoferol asetat 1,36 SI 1 mg D-α-tokoferol 1,49 SI