• Tidak ada hasil yang ditemukan

ESSAY BLOK CORE PIMNAS DAN TANNAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "ESSAY BLOK CORE PIMNAS DAN TANNAS"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

ESSAY BLOK I

TOPIK :

KETERKAITAN ANTAR BIDANG MATERI CORE LEMHANNAS

KEPEMIMPINAN NASIONAL DAN KETAHANAN NASIONAL

JUDUL :

PENERAPAN KEPEMIMPINAN YANG RAHMATAN LIL ALAMIN DI LINGKUNGAN POLRI GUNA MEMANTAPKAN

KETAHANAN NASIONAL

Oleh : ZULKARNAIN

Nomor Urut : 82 Kelompok : C

PROGRAM PENDIDIKAN REGULER ANGKATAN (PPRA) XLVI LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL R.I

(2)

ESSAY BLOK I

Topik : Keterkaitan antar Bidang Materi Core Kepemimpinan Nasional dan Ketahanan Nasional.

Nama : ZULKARNAIN, Kelompok : C, No. Urut : 82

Judul : Penerapan Kepemimpinan Yang Rahmatan Lil Alamin (RLA) di Lingkungan Polri Guna Memantap-kan Ketahanan Nasional.

A. Pendahuluan

1. Umum

Sesuatu yang penting direnungkan dalam pemaknaan Pancasila sebagai falsafah pandangan hidup bangsa yaitu Pancasila digali dari nilai-nilai luhur yang lebih mementingkan adanya keseimbangan hubungan antar manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan alam sekitarnya. Pancasila mengajarkan sebuah ketaqwaan kepada sang penciptanya dan religiusitas dimana hubungan manusia dengan Tuhan akan menjadi dasar hubungan manusia dengan sesama manusia dan alam ciptaannya. Hubungan yang harmonis ini akan memunculkan suasana damai antar sesama manusia dan dengan alam sekitarnya. 1 Dengan

bahasa lain dapat dikatakan bahwa kehadiran manusia yang ber-Pancasila akan memberikan kemamfaatan bagi sesamanya manusia serta alam dengan segala isinya atau dikatakan rahmatan lil alamin

(membawa rahmat atau kemamfaatan bagi sesamanya manusia serta alam dan seisinya). Membawa rahmat bagi siapapun juga ini dimaksudkan baik bagi sesamanya manusia yang memang baik seperti patuh kepada ajaran agama dan Pancasila maupun bagi sesamanya yang tidak baik, dalam bahasa hukum yang patuh hukum maupun yang tidak patuh hukum.

1 Lemhannas R.I., Tim B.S. Idiologi, TOR DAK B.S Idiologi PPRA XLVIII-2012, Jakarta,

(3)

Disisi lain kita dipahamkan tentang Kepemimpinan Nasional yang dikatakan Kepemimpinan adalah kata sifat yang berasal dari kata “pemimpin”, sehingga dapat dikatakan bahwa Kepemimpinan adalah sifat atau perilaku dari seorang pemimpin.2

Teori tentang Kepemimpinan ini seperti diketahui cukup banyak. Seperti George R. Terry misalnya mengatakan : Kepemimpinan merupakan hubungan seseorang dengan pimpinannya, dimana pemimpin tersebut dapat mempengaruhi untuk bekerja bersama-sama secara ikhlas. Sayidin Suryodiningrat dalam Kepemimpinan Abri, 1996, menguraikan : Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk membawa atau mengajak orang-orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan memperoleh kepercayaan dan respek dari orang-orang itu. Harold Koontz dan Cyrill O’ Donnel menyatakan bahwa : Kepemimpinan dapat didifinisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi seseorang dengan sarana komunikasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Berkaitan dengan bangsa dan negara maka Kepemimpinan ini dimaksudkan sebagai Kepemimpinan Nasional yang dapat didifinisikan sebagai kelompok pemimpin bangsa pada segenap strata kehidupan nasional di dalam setiap gatra (Astagatra) pada bidang/ sektor profesi baik di supra struktur, infra struktur dan sub struktur, formal dan informal yang memiliki kemampuan dan kewenangan untuk mengarahkan/ mengerahkan segenap potensi kehidupan nasional (bangsa dan negara) dalam rangka pencapaian tujuan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta memperhatikan dan memahami perkembangan lingkungan strategis guna mengantisipasi berbagai kendala dalam memanfaatkan peluang.3 Dari difinisi tentang

Kepemimpinan dan Kepemimpinan Nasional menegaskan kepada kita bahwa begitu penting dan strategis posisi dan kedudukan dari seorang pemimpinan dalam berkehidupan di organisasi apalagi dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Posisi atau

2 Lembaga Ketahanan Nasional R.I., Pokja Bidang Studi Kepemimpinan, Kepemimpinan

Nasional, Jakarta, 2012, hal. 3

(4)

kedudukan para pemimpin sangat menentukan apakah tujuan organisasi, bangsa dan negara mereka dapat dicapai atau tidak.

Pemaknaan pentingnya posisi dan kedudukan pemimpin ini tentu dapat kita padankan kesetiap Kementerian dan Lembaga atau organisasi apapun yang ada pada setiap gatra, termasuk didalamnya organisasi Polri sebagai bagian dari gatra hankam atau aparat keamanan dan penegak hukum. Oleh karena itu rumusan permasalahan dalam tulisan esay blok ini adalah : Apakah dengan penerapan kepemimpinan yang rahmatan lil alamin (RLA) di lingkungan Polri dapat memantapkan sebuah kondisi ketahanan nasional sebagai out put dari berbagai strategi dan upaya bangsa dalam mencapai tujuan nasional. Dari pokok permasalahan tersebut setidaknya ada empat pokok persoalan yaitu : (1) Apa konsepsi kepemimpinan RLA yang perlu diterapkan di lingkungan Polri, (2) Bagaimana penerapan kepemimpinan RLA di lingkungan Polri saat ini, (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam kepemimpinan RLA dan (4) Kontribusi penerapan kepemimpinan yang RLA terhadap pemantapan ketahanan nasional. Persoalan-persoalan tersebut akan dijawab dalam pembahasan lebih lanjut.

2. Maksud dan tujuan

Maksud penulisan naskah ini adalah untuk mengkaji dan memberikan gambaran mengenai penerapan kepemimpinan yang

rahmatan lil alamin di lingkungan Polri guna memantapkan ketahanan nasional. Adapun tujuannya adalah sebagai sumbang saran kepada pemerintah dalam menganalisis makna strategis kepemimpinan

rahmatan lil alamin di lingkungan Polri guna menjamin stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat sehingga ketahanan nasional dapat diujudkan dengan baik.

3. Ruang lingkup dan tata urut

(5)

dan ketertiban masyarakat yang dapat memberikan kontribusi maksimal terhadap kokohnya ketahanan nasional, dengan tata urut penulisan sebagai berikut :

a. Pendahuluan, berisikan tentang gambaran umum sebagai latar belakang judul, maksud dan tujuan, ruang lingkup dan tata urut, serta beberapa pengertian.

b. Pembahasan; menguraikan fakta yang didukung oleh data aktual dan teori, serta gagasan-gagasan penulis dalam pemahaman dan penerapan kepemimpinan nasional dengan berbagai style atau gaya khususnya kepemimpinan yang rahmatan lil alamin di lingkungan Polri guna memantapkan ketahanan nasional.

c. Penutup; berisikan inti pemikiran penulis dari pembahasan sebagai jawaban atas judul yang ditentukan.

4. Pengertian

a. Rahmatan Lil Alamin diambil dari bahasa Al Qur’an atau Arab dari surat Al-Anbiya ayat (107), yang artinya “Dan tiada kami mengutus kamu (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. Jadi sesungguhnya rahmatan lil alamin ini sesuatu yang melekat pada Nabi Muhammad SAW, sesuatu yang berhubungan dengan “diin” atau keyakinan Islam. Dengan tidak menghilangkan pemaknaan tersebut, penulis mengambil istilah rahmatan lil alamin sebagai sebuah ungkapan yang bermakna “rahmat bagi semesta alam”, menebar cinta kasih bagi seluruh umat manusia di dunia dan segala ciptaan Tuhan di alam semesta baik benda hidup maupun benda mati. Rahmatan lil alamin yang dimaksud oleh penulis adalah sebuah paradigma yang harus memberi mashlahat (kebaikan atau kemamfaatan), tidak boleh merusak dan menghancurkan yang juga bermakna anti kekerasan (baik phisik maupun psikis) dan toleran terhadap perbedaan yang melampaui dari makna kebhinekaan.

(6)

proses pembangunan nasional dalam rangka tercapainya tujuan nasional yang ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban, dan tegaknya hukum, serta terbinanya ketenteraman, yang mengandung kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal, mencegah, dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat.4

c. Ketahanan Nasional adalah kondisi dinamik bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara, serta perjuangan mencapai tujuan nasionalnya.5

B. Pembahasan

1. Konsepsi Kepemimpinan rahmatan lil alamin yang perlu diterapkan di lingkungan Polri.

Pada saat Polri masih di lingkungan Abri (sebelum tahun 2000), Kepemimpinan di lingkungan Polri tentu saja senantiasa berkorelasi dengan nilai-nilai Kepemimpinan yang ada di lingkungan Abri pada saat itu yang cukup dikenal yaitu dengan “11 (sebelas) asas Kepemimpinan Abri”. Walaupun tentu saja ada nilai-nilai secara khusus yang berlaku di lingkungan Polri sebagaimana adanya nilai-nilai falsafah hidup Polri yang bersumber dari Pancasila yaitu Tribrata dan pedoman kerja Polri yaitu Catur Prasetya, yang dengan sendirinya akan mempengaruhi gaya atau

style Kepemimpinan di lingkungan Polri. Akan tetapi setelah berpisah dengan Abri, gaya atau style kepemimpinan di lingkungan

4 Lembaran Negara R.I Tahun 2002 Nomor 2, Tentang UU No. 2 Tahun 2002 Tentang

Polri, Jakarta, 2002, Pasal 1 ayat (5).

5 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Pokja Bidang Studi Ketahanan

(7)

Polri belum ada secara khusus yang dapat dikatakan sebagai ciri khas Kepemimpinan yang berlaku di lingkungan Polri seperti ketika berlaku 11 (sebelas) asas Kepemimpinan Abri sebelumnya. Memang telah banyak diskusi dan kajian-kajian khususnya di Sespimmen dan Sespimti Polri yang membahas tentang Kepemimpinan di lingkungan Polri ini yang pada dasarnya identik dengan pembahasan di Lemhannas yang membahas tentang Kepemimpinan Nasional, Kepemimpinan Negarawan, Kepemimpinan Visioner, Kepemimpinan Kontemporer, bahkan karena salah satu tugas pokok Polri adalah pengayoman, perlindungan dan pelayanan masyarakat maka dikemukakan juga tentang “kepemimpinan melayani” yang pada dasarnya juga mendasari dari teori-teori Kepemimpinan Negarawan dan Visioner.

a. Membangun Polri yang Rahmatan Lil Alamin 2020.

Dibutuhkannya kepemimpinan rahmatan lil alamin diawali dengan sebuah kehendak atau keinginan yang menjadi Focal Concern (FC) yaitu “Membangun Polri yang Rahmatan Lil Alamin 2020”. Dari ananlisis teori Scenario Learning, membangun polisi yang rahmatan lil alamin 2020 adalah sebuah alternatif masa depan yang plausible atau sesuatu yang mungkin terjadi. Dengan melalui proses langkah-langkah scenario learning maka ditentukan dari sekian banyak variabel atau Driving Forces (DF) dari FC membangun Polri yang rahmatan lil alamin 2020 maka dipilih atau ditentukan dua variabel atau DF yaitu Moralitas dan Profesionalisme. Dipilihnya kedua DF tersebut karena yang paling kritis dan sangat penting untuk mewujudkan FC, serta kondisinya terkadang tidak menentu, sehingga mempengaruhi pencapaian FC yang telah ditentukan.

(8)

manajer dengan mengembangkan alternatif yang plausible atau mungkin, kridibel dan relevan, sebagai masukan yang sinambung pada pembuatan keputusan. Learning, menggunakan dialog dan diskusi mengenai gagasan, persepsi, temuan dan lain-lain. Scenario Learning melatih para manajer untuk mengorganisasikan apa yang mereka ketahui dengan apa yang dapat mereka bayangkan menjadi cerita-cerita bermakna dan logis tentang masa depan, serta melihat dan mempertimbangkan implikasi-implikasi cerita masa depan tersebut terhadap pilihan-pilihan strategi masa kini maupun masa depan.

b. Perlu Kepemimpinan yang Rahmatan Lil Alamin.

Dari focal concern “membangun Polri yang Rahmatan lil alamin 2020” di atas dan didasarkan pada sebuah analisis teori marketing “PDB Triangle” (Segitiga : Positioning-Differensiation-Brand), maka untuk mewujudkan scenario I yaitu “berlayar di laut yang tenang” atau Polri yang rahmatan lil alamin diambillah rumusan kebijakan bahwa untuk mewujudkannya membutuhkan

DITERJANG BADAI PROFESIONALISME (+) PROFESIONALISME (-)

SKENARIO I : SDM Polri yang menguasai tugas dengan baik dan menjalankannya dengan memberikan kemamfaatan. Didukung oleh Sarpras, Sitem dan pendanaan yang cukup, citra Polri sangat baik. Masyarakat percaya dan mencintai Polri dengan baik. Polri yang rahmatan lil alamin.

SKENARIO II : Terjadi berbagai kegoncangan, kritikan dan hujatan walau polisi telah dapat menjalankan tugas dengan baik, kepercayaan

SKENARIO III : Polri semakin terpuruk dan citranya jatuh di mata publik karena SDM tidak profesional , sarpras yang tidak mendukung serta anggaran minim. Banyak anggota yang

(9)

kepemimpinan yang juga rahmatan lil alamin. Berdasarkan kajian literatur tentang kepemimpinan dari Nabi Muhammad SAW yang menekankan pada empat sifat, yaitu shidiq, amanah, tabliq dan fatonah6 dengan kepemimpinan nasional di Indonesia,

kepemimpi-nan negarawan, kepemimpikepemimpi-nan visioner dan kepemimpikepemimpi-nan kontemporer maka variabel utama atau driving force yang kritical dalam kepemimpinan yang rahmatan lil alamin adalah sama dengan membangun Polri yang rahmatan lil alamin 2020, yaitu moralitas dan profesionalisme.

2. Penerapan Kepemimpinan Rahmatan Lil Alamin di Lingkungan Polri Saat Ini.

Sesungguhnya Polri sejak tahun 2000 telah mulai mereformasi diri yang mencakup pada tiga bidang pokok, yaitu : struktur, instrumental dan kultur. Reformasi dibidang struktur sebagai contohnya adalah pemisahan organisasi Polri dengan TNI dikarenakan bidang tugas yang berbeda sebagai sebuah tuntutan reformasi. Di dalam organisasi Polri sendiripun telah beberapa kali terjadi perubahan struktur organisasi dengan orientasi mendekatkan organisasi Polri sebagai bagian fungsi pelayanan pemerintah dengan masyarakat yang akan dilayani. Reformasi instrumental juga telah dilakukan seperti misalnya lahirnya Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Polri sebagai perubahan dari Undang-undang sebelumnya yaitu UU No. 28 Tahun 1997 tentang Polri dimana pada periode tersebut Polri masih bersama-sama dengan Abri. Kemudian juga telah dirubah berbagai macam Pedoman atau Petunjuk yang disebut sebagai pedoman induk, pedoman dasar, Petunjuk Pelaksana, petunjuk tehnis menjadi Peraturan-peraturan Kapolri sesuai dengan amant Undang-undang No. 4 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pembuatan Peraturan dan Perundang-undangan

6 Penjelasan : Nabi Muhammad SAW dikatakan di dalam memimpin memiliki sifat-sifat

(10)

yang terakhir telah dirubah dengan Undang-undang No. 12 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pembuatan Peraturan Perundang-undangan. sedangkan perubahan kultur, hal ini dirasakan relatif sulit untuk dilakukan oleh Polri. Berdasarkan beberapa literatur perubahan kultur di lingkungan Polri ini dimaksudkan adalah perubahan artefak, perubahan perilaku dan perubahan paradigma (mindset) atau yang sering disebut kultur set. Beberapa hal budaya yang ingin dirubah secara mendasar di lingkungan Polri misalnya adalah budaya organisasi yang tadinya antagonis menjadi protagonis, reaktif menjadi proaktif, legalitas menjadi legitimitas, elitis menjadi populis, arogan menjadi humanis, atoriter menjadi demokratis, tertutup menjadi transparan, akuntabilitas vertikal menjadi akuntabilitas publik dan dari monologis menjadi dialogis.

(11)

sedang berjalan (2010-2014), penekanan pembangunan Polri kepada kemitraan atau pathnership, akan tetapi tentu juga dilakukan pembangunan kepercayaan dan telah dirintis upaya untuk memberikan pelayanan yang prima. Jadi pembangunan di lingkungan Polri ada penekanan yang berkelanjutan atau suistanable program.

Kondisi Polri dimata masyarakat sebagai indikator hasil kinerja atau penerapan kepemimpinan rahmatan lil alamin saat ini dapat dilihat dari berbagai persepsi masyarakat terhadap Polri sebagai hasil penelitian ataupun survey, yang dapat digambarkan sebagai berikut :

a. Hari survey dari PERC (Political and Economic Risk Counsulting) menempatkan Indonesia sebagai negara nomor dua terburuk masalah kemanan individu setelah Philipina bagi para investor (2010).

b. Kompolnas merelease bahwa penyimpangan Polri terjadi paling besar pada penegakan hukum, yaitu sebesar 72% (2009). c. TII (Transparancy International Indonesia) menempatkan Polri sebagai Institusi dengan tingkat suap tertinggi (2009).

d. Global Coruption Barometer (GCB), menempatkan Polri sebagai institusi terkorup di Indonesia dengan indeks 4,2 (2010). e. Penelitian yang dilakukan oleh lembaga independent Markplus in Sight menyimpulkan tingkat kepuasan masyarakat atas pelayanan Polri baru 54,37% (2009).

f. Penelitian oleh Staf Ahli Kapolri, Biro Litbang Polri, Mahasiswa PTIK, merelease bahwa tingkat harapan masyarakat atas pelayanan Polri sebesar 86,32%, sedangkan rata-rata transparansi pelayanan yang diberikan kepada masyarakat baru sebear 64,21%, jadi masih ada gap atau disparitas antara harapan masyarakat dan yang dapat diberikan oleh Polri yang cukup tinggi, yaitu sebesar 22,11% (2010).

(12)

meningkatkan kinerja. Ditemukan ada dua faktor utama yang menerangkan kinerja Polri, yaitu pemahaman personil tentang paradigma itu sendiri dan peranan atasan atau pemimpin di lingkungan Polri. Ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya kehadiran seorang pemimpin yang rahmatan lil alamin.

h. Hasil survey Jaringan Survey Indonesia yang dimuat di harian Kompas hari Rabu, 2 Nopember 2011 tentang tingkat kepercayaan dan tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja aparat penegak hukum. Hasilnya adalah, untuk tingkat kepercayaan Polri menduduki peringkat yang terbaik yaitu 58,2%, kemudian KPK : 53,8%, MA : 47,8%, MK : 47,3%, Kejagung : 46,0%. Untuk tingkat kepuasan masyarakat Polri juga terbaik yaitu 53,6%, KPK : 45,0%, MK : 43,5%, MA : 42,1% dan Kejagung : 41,1%. Sedangkan terakhir hasil survey Sugeng Suryadi Syndicate pada tanggal 14-24 Mei 2012 yang lalu di 33 Provinsi menempatkan DPR sebagai lembaga terkorup di Indonesia dengan nilai 47%.

3. Nilai-nilai apa yang terkandung dalam kepemimpinan rahmatan lil alamin yang akan diterapkan.

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa ada dua driving forces yang paling kritikal untuk menerapkan kepemimpinan rahmatan lil alamin di lingkungan Polri, yaitu kualitas moralitas dan kualitas profesionalisme seorang pemimpin. Kondisi ini juga sebenarnya dipengaruhi oleh falsafah hidup dan pedoman kerja yang berlaku di lingkungan Polri yaitu Tribrata dan Catur Prasetya.

(13)

KAMI POLISI INDONESIA,

1. BERBAKTI KEPADA NUSA DAN BANGSA DENGAN PENUH KETAQWAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA

2. MENJUNJUNG TINGGI KEBENARAN, KEADILAN, DAN MEWUJUDKAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN

Makna Tribrata :

Tribrata dalam pengertian lama merupakan dua kata yang ditulis tidak terpisahkan. Tri artinya tiga dan brata/ wrata artinya jalan/ kaul. Maka artinya adalah tiga jalan/ kaul. Sedangkan Tribrata dalam pengertian baru telah menjadi satu sukukata TRIBRATA yang artinya TIGA AZAS KEWAJIBAN menegakkan hukum.7

Tribratra ini pada dasarnya bersumber dari tugas pokok Polri dan polisi secara universal, yaitu Tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah:

a. memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; b. menegakkan hukum; dan

c. memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.8

1. MENIADAKAN SEGALA BENTUK GANGGUAN KEAMANAN 2. MENJAGA KESELAMATAN JIWA RAGA, HARTA BENDA DAN

HAK ASASI MANUSIA

3. MENJAMIN KEPASTIAN BERDASARKAN HUKUM 4. MEMELIHARA PERASAAN TENTRAM DAN DAMAI

Pengertian istilah dalam Catur Prasetya, Insan Berarti manusia sebagai makhluk tertinggi yang secara moral memiliki kesempurnaan dan bersih dari cela. Bhayangkara berarti Kepolisian Negara Republik Indonesia yang bertugas mengawal dan mengamankan masyarakat, bangsa dan negara. Insan Bhayangkara, berarti setiap anggota

7 Kepolisian Negara R.I., Surat Edaran Kapolda Metro Jaya Nomor : SE/01/I/2012,

Tanggal 2 Januari 2012, Pengucapan dan Pemenggalan Ucapan, Jakarta, 2012.

8 Lembaran Negara R.I Nomor 2 Tahun 2002, UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Polri, Pasal

(14)

Kepolisian Negara Republik Indonesia (yang juga disebut sebagai Bhayangkari) yang secara ikhlas mengawal dan mengamankan negara serta rela berkorban demi mengabdi kepentingan masyarakat dan bangsa seumur hidupnya. Kehormatan, berarti wujud sikap moral tertinggi. Berkorban, berarti secara rela dan ikhlas mendahulukan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Masyarakat, berarti sekelompok orang yang hidup bersama dalam norma dan aturan yang telah disepakati. Bangsa, berarti kelompok masyarakat yang tinggal di suatu wilayah tertentu yang memiliki kedaulatan ke dalam dan ke luar. Negara, berarti organisasi di suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan yang sah secara konstitusional dan ditaati oleh rakyat. Meniadakan, berarti tindakan untuk membuat sesuatu menjadi tidak ada. Gangguan keamanan, berarti suatu keadaan yang menimbulkan perasaan takut, khawatir, resah, cemas, tidak nyaman, dan tidak damai, serta ketidak pastian berdasarkan hukum. Hak Asasi Manusia, berarti hak-hak dasar yang dimiliki setiap manusia sejak lahir. Kepastian berdasarkan hukum, berarti terwujudnya penegakan hukum demi kesetaraan hak dan kewajiban setiap warga negara. 9

Selanjutnya nilai-nilai yang tekandung dalam kepemimpinan rahmatan lil alamin yang pada dasarnya bersumber dari sifat-sifat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai bentuk kontektual dengan Indonesia yang memiliki pandangan hidup Pancasila dan memiliki pemaknaan tentang kepemimpinan nasional, kepemimpinan negarawan, kepemimpinan kontemporer maupun kepemimpinan visioner, juga disesuaikan dengan nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya, maka nilai-nilai yang terkandung pada moralitas dan profesionalisme dapat diuraikan sebagai berikut :

1) Unsur moralitas. Unsur moralitas ini terdiri dari : (a) Moralitas individu; seperti berbudi luhur, bijaksana, teguh hati, berjiwa besar, berani, sederhana, tekun, cerdik dan berwawasan luas, tajam, penuh perhatian dan lain-lain. (b) Moralitas sosial; seperti siap untuk berkorban, memiliki visi yang jelas, cinta damai, memiliki rasa keadilan yang tinggi, punya prediksi jauh kedepan, anti kekerasan, toleran, menjungjung tinggi nilai kemanusiaan, non partisan, setia pada standar moral, paham kapan berubah, dermawan, bersifat transformasional dan bukan transaksional, usahakan soft power dan lain-laian. (c) Moralitas institusional;

9Kepolisian Negara R.I., Surat Edaran Kapolda Metro Jaya Nomor : SE/01/I/2012, Tanggal

(15)

seperti memiliki ketahanan yang baik, baik ketahanan enginering maupun ketahanan ecological dan ketahanan anticipatory, punya prediksi jauh kedepan, demokratik serta menjungjung nilai-nilai HAM dan kemananan, selalu berpikir sistimatis, terbuka dalam mengambil keputusan, selalu berpikir strategis dan tidak ragu, patriotik, taat hukum dan didasarkan pada konstitusi dan lain-lain. (d) Moralitas universal atau global; seperti menghormati HAM, rasa keadilan yang tinggi, memiliki karya yang monumental yang relatif langgeng dan diakui, dihormati baik nasional, regional maupun global, setia pada nilai-nilai absolut seperti setiap orang harus memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya sendiri, semangat glocalisation yaitu berpikir global dan bertindak lokal. Nilai-nilai moralitas ini seharusnya mengkristal dalam pribadi seorang pemimpin yang rahmatan lil alamin dan memancar dalam kepemimpi-nan keseharian dan dengan demikian persoalan-persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum dan perlindungan, pengyoman dan pelayanan masyarakat dapat diselesaikan dengan baik dan ketahanan nasional akan terujud.

(16)

tugas-tugas dimengerti diawasi dan dijalankan, memahami dan mengetahui anggota-anggota bawahan serta memilihara kesejahteraan, memberikan ketauladanan atau contoh yang baik, tumbuhkan rasa tanggung jawab dihadapan anggota, senantiasa latih anggota sebagai tim yang kompak, membuat keputusan yang sehat dan tepat waktu, memberikan tugas dan pekerjaan kepada bawahan sesuai dengan kemampuan dan bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan. Profesionalisme yang dimiliki oleh pemimpin yang rahmatan lil alamin akan dapat memecahkan persoalan-persoalan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, masalah penegakan hukum yang memberikan kemamfaatan maupun masalah-masalah pengayoman, perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka menjamin terwujudnya ketahanan nasional.

4. Kontribusi penerapan kepemimpinan rahmatan lil alamin di lingkungan Polri terhadap memantapkan Ketahanan Nasional dilihat dari aspek-aspek gatra.

(17)

ini akan memberikan kontribusi pada pemantapan ketahanan nasional melalui terwujudnya kamtibmas dan tegaknya hukum yang rahmatan lil alamin tadi.

Adapun kontribusinya penerapan kepemimpinan RLA terhadap pemantapan ketahanan nasional dapat dilihat melalui aspek-aspek kehidupan nasional sebagai berikut :

a. Gatra Ideologi; Dengan diterapkannya kepemimpinan RLA ini yang pada dasarnya juga bersumber dari nilai-nilai Tribrata akan senantiasa justru memperkokoh posisi Pancasila sebagai idiologi, falsafah dan pandangan hidup bangsa untuk menjadi benteng pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bernegara.

b. Gatra Politik; Polri sebagai bagian dari anak bangsa atau supra struktur politik yang berdasarkan undang-undang Polri sejauh ini bersifat netral atau tidak berpolitik. Terlepas dari kondisi ini Polri adalah sebagai aparat penegak hukum dan pemelihara kamtibmas. Apabila kepemimpinan RLA dapat diterapkan dengan baik, baik dalam penegakan hukum maupun dalam rangka pemeliharaan kamtibmas, maka akan memperkokoh kehidupan atau budaya politik dalam bernegara dengan baik, karena para pelaku politik akan ada kepatuhan terhadap hukum dengan baik. Lebih-lebih jika pimpinan Polri dalam penegakan hukum pada kehidupan berpolitik memberikan nilai tambah dengan memperhatikan kemamfaatan dari pada penegakan hukum itu sendiri, sebagai bagian dari rahmat bagi sesamanya manusia serta alam dan seisinya, maka akan semakin kuatlah kehidupan berpolitik bangsa dalam memperkokoh ketahanan nasional.

(18)

peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagaimana tujuan pembangunan nasional. Jika kesejahteraan meningkat ditambah dengan kamtibamas yang kondusif, dengan sendirinya ketahanan nasional akan semakin kuat.

d. Gatra Sosial Budaya; Dengan penerapan kepemimpinan RLA, akan memberikan ruang berkembangnya berbagai aktifitas sosial budaya dengan tetap menumbuh kembangkan rasa saling menghormati, menghargai berbagai perbedaan dari sosial budaya itu sendiri. Kekhawatiran akan pergeseran terhadap nilai-nilai budaya yang Indonesia kebudaya-budaya Barat atau liberalisme, neo liberalisme akan dapat dicegah dengan adanya peran aparat penegak hukum atau pemelihara kamtibmas yang bersemangatkan RLA.

e. Gatra Pertahanan dan Keamanan; Mewujudkan kondisi kamtibmas yang stabil dan kondusif adalah tujuan dasar dari pelaksanaan tugas pokok Polri. Dengan sentuhan penerapan kepemimpinan RLA justru akan memberikan nilai tambah pada perasaan aman baik phisik maupun psikis dan masyarakat akan semakin merasakan aman, tentram dan damai. Jika ini terujud maka perasaan aman, damai dan tentram masyarakat akan memberikan kontribusi pemantapan ketahanan nasional.

C. Penutup

(19)

2. Penerapan kepemimpinan RLA di lingkungan Polri diawali oleh sebuah kehendak “Membangun Polri yang RLA 2020” dengan pendekatan teori Scenario Learning dan PDB Triangle. Jika membangun Polri yang RLA 2020 sebagai focal concern maka ada dua driving forces atau variabel kritikal atau dapat dikatakan sebagai pengungkit, yaitu moralitas dan profesionalisme. Untuk mewujudkan kehendak yang merupakan sebuah alternatif masa depan atau plausible sesuatu yang mungkin terjadi “membangun Polri yang RLA 2020” ini, maka dibutuhkan kepemimpinan yang juga RLA. Kepemimpinan yang RLA ini disamping bersumber pada nilai-nilai kepemimpinan nasional, kepemimpinan negarawan, kepemimpinan visioner, kepemimpinan kontemporer dan sifat-siafat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang shiddiq, amanah, tabligh dan fatonah, juga bersumber dari nilai-nilai yang ada dalam pedoman hidup Polri Tribrata dan pedoman kerja Catur Prasetya serta ditentukan oleh dua variabel yang menentukan yaitu moral dan profesionalisme.

(20)

4. Kontribusi penerapan kepemimpinan yang RLA di lingkungan Polri akan mewujudkan kondisi dan stabilitas kamtibmas, penegakan hukum maupun pemberian perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat dengan baik. Masyarakat akan merasakan keadilan, keamanan, ketertiban, ketentraman dan kedamaian sebagai sesuatu yang dihasilkan bersama dari berbagai komponen anak bangsa untuk mendukung terselenggaranya berbagai pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan kesejahteraan. Demikian juga kesejahteraan yang semakin meningkat dan dirasakan oleh masyarakat akan memberikan kontribusi penciptaan keamanan yang lebih baik. Kontribusi penerapan kepemimpinan RLA di lingkungan Polri kepada pemantapan kondisi ketahanan nasional dapat dicermati dari kontribusi pada setiap gatra baik gatra statis yaitu geografi, demografi dan sumber kekayaan alam maupun pada setiap gatra dinamis yaitu idiologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam.

Jakarta, 1 Juli 2012.

Zulkarnain.

Peserta PPRA XLVIII-2012 Nomor urut absen : 82

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Lembaga Ketahanan Nasional R.I., Pokja Bidang Studi Kepemimpinan, B.S Kepemimpinan Nasional, Jakarta, 2012.

Lembaga Ketahanan Nasional R.I., Pokja Bidang Studi Kepemimpinan,

Sub B.SKepemimpinan Visioner, Jakarta, 2012.

Lembaga Ketahanan Nasional R.I., Pokja Bidang Studi Geostrategi dan Ketahanan Nasional, Pokok Bahasan: Konsepsi Gatra, Jakarta, 2012. Lembaga Ketahanan Nasional R.I., Pokja Bidang Studi Wawasan

Nusantara, Pokok Bahasan : Konsepsi Wawasan Nusantara, Jakarta, 2012.

Lembaga Ketahanan Nasional R.I., Pokja Bidang Studi Geostrategi dan Ketahanan Nasional, Pokok Bahasan : Kondisi Ketahanan Nasional dan Konsepsi Ketahanan Nasional, Jakarta, 2012.

Dr. Ir. Hermanto, MS (Sekretaris Badan Ketahanan Pangan), Kebijakan Ketahanan Pangan Nasional, Bahan Ajaran Untuk Peserta Pendidikan Reguler Lemhannas Angkatan XLVIII, Jakarta, 2012.

Burt Nanus, Kepemimpinan Visioner (Edisi Bahasa Indonesia), PT. Prenhallindo, Jakarta, 2001.

Bob Wall, Robert S. Solum, Mark R. Sobol, Pemimpin yang Bervisi Kuat (Edisi Bahasa Indonesia), Interaksara, Batam, 1999.

Lembaga Ketahanan Nasional R.I., Term of Reference (TOR) Perumusan Judul Essay Blok PPRA XLVIII Tahun 2012 Keterkaitan Antar Bidang Materi Core Lemhannas, Jakarta, 2012.

Hermawan Kartajaya (Asian Marketing Guru (CIM-UK), Founder and President of MarkPlus. Inc.), Strategi Memasyarakatkan Tugas Pokok, Fungsi, dan Peran Polri dalam Rangka Meningkatkan Citra Polri, Bahan Ajaran Sespati Polri 2008, Jakarta, 2008.

Nusyirwan Zen, Scenario Learning Suatu Pengantar Untuk Merangkai Plausibilitas Masa Depan, Bahan Ajaran Sespati Polri 2008, Jakarta, 2008. Prof. Dr. Ermaya S., Drs, SH, MS, MH., Integritas Kepemimpinan Nasional, Bahan Ajaran Sespati Polri tahun 2008, Jakarta, 2008.

______, Sespati Polri, Kepemimpinan Visioner, Bahan Kuliah Sespati Pendidikan Reguler XV Tahun 2008, Bandung, 2008.

______, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Amandemen), Jakarta, 2002.

______, Undang-undang No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, CV Eko Jaya, Jakarta, 2008.

Gambar

Gambar Matriks Scenario dan ciri-ciri kunci setiap scenario

Referensi

Dokumen terkait

Seorang muslim yang memiliki sifat optimis akan selalu berpikiran positif dan berprasangka baik kepada Allah Swt.. Nabi Muhammad

Alhamdulillah hirobbil alamin, penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karunianya dan Nabi Muhammad SAW yang selalu menjadi suri

Alhamdulillahi rabbil alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, hidayah dan inayah-Nya serta sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga penulis

6) Mengabarkan akan datang nabi selanjutnya setelah Nabi Isa a.s., yaitu Nabi Muhammad saw. Kitab Injil membenarkan keberadaan kitab Taurat sebagaimana difirmankan Allah Swt.

Alhamdulillahirabbil‟alamin atas segala nikmat, iman, Islam, kesempatan, serta kekuatan yang telah diberikan Allah SWT serta sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, karena

Dengan keutamaan yang dimiliki para istri-istri Nabi Muhammad, menjadikan sangat penting untuk mempelajari nilai pendidikan karakter dari para istri- istri Nabi Muhammad

Seorang pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan Islami,yang mencerminkan sifat Nabi Muhammad SAW, akan menunjukkan perilaku benar (shidiq), dapat dipercaya dan bertanggung

Sifat mulia harus diteladani dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti sifat percaya diri dan mandiri agar kita menjadi manusia yang terpuji.. Nabi Muhammad