# Ko r esp o n d e n si: Balai Rise t Per ikan an Bu d id aya Air Payau d an Pe nyu lu h an Pe rikan an. Jl. Makm u r Dg . Sitakka No .1 2 9 , Mar o s 9 0 5 1 2 , Su lawe si Se lat an , In d o n e sia.
Te l. + 6 2 4 1 1 3 7 1 5 4 4
Tersedia online di: ht t p://ej ournal-balit bang.kkp.go.id/index.php/j ra
SUBSTITUSI PENGGUNAAN NAUPLIUS ARTEM IA DENGAN PAKAN M IKRO
DALAM PEM ELIHARAAN LARVA KEPITING BAKAU, Scylla olivacea
Usman#, Kamaruddin, dan Asda Laining
Balai Riset Perikanan Bu didaya Air Payau dan Penyu luhan Pe rikanan
(Naskah dit erima: 1 Desember 2017; Revisi final: 2 Februar i 2018; Diset ujui publikasi: 5 Februar i 2018)
ABSTRAK
Adanya molt ing deat h sindrom yang umumnya terjadi pada stadia zoea-5 ke megalopa dan ke krablet-1 pada kepiting bakau, Scylla olivacea, diduga berkaitan dengan ketidakcukupan nutrien yang dikonsumsi larva, sehingga perlu dicobakan penggunaan pakan buatan (mikro) pada stadia tersebut. Penelitian ini bertujuan u nt u k m en d ap atkan d o sis o p tim um pe n ggu naan p akan m ikro (micr o diet, MD) u n tu k m e n su b st it usi penggunaan nauplius Art emia (Art) dalam pemeliharaan larva kepiting bakau. Hewan uji yang digunakan adalah larva kepiting bakau stadia zoea-4— 5. Hewan uji tersebut dipelihara dalam wadah bak fibre berisi air laut 150 L dengan kepadatan 12 ind./L. Perlakuan yang dicobakan adalah pemberian pakan uji berupa: nauplius Art emia sebanyak 100% (100% Art), nauplius Art emia 75% + pakan mikro 25% (75% Art + 25% MD), nauplius Art emia 50% + pakan mikro 50% (50% Art + 50% MD), nauplius Art emia 25% + pakan mikro 75% (25% Art + 75% MD), dan pakan mikro 100% (100% MD). Pemberian pakan uji dilakukan pada pagi dan sore hari selama 15 hari pemeliharaan (hingga larva mencapai stadia krablet-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada penggunaan nauplius Art emia 50% + pakan mikro 50% didapatkan sintasan krabet-1 tertinggi (5,6%) dan berbeda nyata (< 0,05) dengan sintasan krablet pada penggunaan 100% nauplius Art emia (sintasan 2,4%) dan 100% pakan mikro (sint asan 2,1%). Bo bot badan, lebar karap aks krablet, d an aktivitas e nzim pencernaan relatif sama di antara perlakuan. Penggunaan pakan mikro dapat menggantikan 50% penggunaan
Art emia dalam pemeliharaan larva (zoea-5 hingga krablet-1) kepiting bakau.
KATA KUNCI: kepiting bakau; zoea-5; krablet-1; sintasan; pakan mikro; nauplius Artemia
ABSTRACT: Substitution of Art emia nauplii with micro diet for mud crab, Scylla olivacea, larvae. By: Usman, Kamaruddin, and Asda Laining
Cases of molt ing deat h syndrome generally occur on the transit ional st age of zoea5 to megalopa stage and t o crablet
-1 of mud crab, Scylla olivacea. It is suspect ed that the event could be relat ed t o nut rient insufficiency consumed by t he
larvae which can be supplement ed using art ificial diet (micro diet ). This st udy aims t o obt ain an opt imum dosage use
of t he micro diet (M D) t o subst it ut e t he use of Artemia nauplii (Art ) in t he crab-lar va rearing. Test animals used were
mud crab larvae of zoea-4—5 st adia. The t est animals were reared in t he fiberglass cont ainers, filled wit h seawat er as
much as 150 L, and st ocked wit h a densit y of 12 ind./L. The t reat ment s t est ed were feeding t est s in t he form of: Artemia nauplii as much as 100% (100% Art ), Artemia nauplii 75% + micro diet 25% (75% Art + 25% M D), Artemia
nauplii 50% + micro diet 50% (50% Art + 50% M D), Artemia nauplii 25% + 75% micro diet (25% Art + 75% M D),
and micro diet 100% (100% M D). The larvae were fed daily in t he morning and aft ernoon for 15 days unt il t he larvae
reach crablet st age. The result s showed t hat t he use of Artemia nauplii 50% + 50% micro diet s obt ained t he highest
survival rat e (5.6%) of crablet -1 and significant ly different (< 0.05) wit h t he survival rat es of crablet fed wit h 100% of Artemia nauplii (survival rat e of 2.4%) and crablet fed wit h 100% micro diet (survival rat e of 2.1%). Body weight , carapace widt h of crablet , and digest ive enzyme act ivit ies were relat ively similar bet ween t he t reatment s. The use of
micro diet could replace 50% of t he ut ilizat ion of Artemia nauplii in larvae (zoea-5 t o crablet -1) rearing of mud crab.
PENDAHULUAN
Saat ini, kegiat an pembenihan kepiting bakau, Scylla oli vacea, d i In d o n e s ia b e lu m m a m p u m e n yu p la i ke bu t u han b en ih un t u k p em be saran d an pro d uksi kepit ing cangkang lunak. Hal ini disebabkan masih ren dahn ya sin t asan yang dipe ro le h hingga u ku ran krablet siap t ebar di t ambak. Salah satu pro blem dalam p e me lih araan lar va ke p it in g bakau ad alah ad an ya feno mena molting death sindrom yait u ketidakmampuan larva melakukan pergant ian kulit secara sempurna yang umum t erjadi pada st adia zo ea-5 ke megelo pa dan dari megalo pa ke st adia krablet-1 (Fielder & Heasman, 1999; Holme et al., 2006). Salah sat u dugaan penyebab t erjadinya feno mena ini adalah ketidakcukupan nut risi yang diko nsumsi o leh lar va hanya dari makanan alami yang diberikan berupa Art emia dan ro t ifera (Keenan, 1999). Selain it u, Art emia memiliki harga yang cukup mahal (Rp750.000,00/454 g), sehingga penggunaannya sangat t idak efisien dalam pro duksi benih kepit ing bakau.
Geno depa et al. (2004a; 2004b) melapo rkan bahwa lar va kepiting bakau dapat memanfaatkan pakan buatan be ru pa microbound diet. Dalam p e me liharaan lar va udang windu, banyak t eknisi hat chery yang berhasil menggunakan pakan mikro buat an (pakan ko mersial) d alam p e m e lih araan lar va h in gga fase p ascalar va (Shelley & Lo vat elli, 2011). Mengingat udang windu dan kepit ing bakau keduanya t ergolong jenis krust asea d e ngan hab it at yan g relat if sama, seh in gga b esar ke m u n gkin an ju ga ke d u an ya m e m iliki ke b u t u h an nut risi yang relat if sama (t idak berbeda jauh). Salah sat u n u t rie n pe n t in g d alam p akan lar va ikan d an krust asea laut adalah asam lemak esensial, n-3 highly unsat urat ed fat t y acid (n-3 HUFA) yait u eicosapent aenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA) (Sargent et al., 2002; Suprayudi et al., 2004; NRC, 2011). Meskipun makan an alami me ngand ung asam le mak esen sial, namun jumlah dan kualit asnya sangat ber variasi dari wakt u ke wakt u.
Oleh karena itu, perlu dico bakan penggunaan pakan mikro buat an (pakan ko mersial lar va udang windu) dalam pemeliharaan lar va kepit ing bakau. Penelit ian ini bertujuan mendapatkan dosis opt imum penggunaan pakan mikro buat an unt uk menggant ikan penggunaan nauplius Art emia dalam pemeliharaan lar va kepit ing bakau.
BAHAN DAN M ETODE
Hewan Uji
Kegiatan penelit ian ini dilakukan di Instalasi Tambak Pe r co b a a n Ma r a n a , Ka b u p a t e n Ma r o s Pr o vin s i Sulawesi Selat an. Hewan uji yang digunakan adalah
la r va ke p it in g b akau st a d ia zo e a-4 — 5 d ari h as il perbenihan mengikut i pro sedur st andar pembenihan kepit ing bakau yang ada saat ini (Shelley & Lo vat elli, 2011; Gunart o et al., 2014). Lar va kepit ing yang baru m e ne t as d ip elih ara d alam b ak be rb en t u k ke rucu t kapasit as 500 L dengan kepadat an 150 lar va/L. Pada st adia zo ea-1— 2 , lar va diberi pakan berupa ro t ifer de ngan kepadat an 20-40 ind ./m L (Sup rayudi et al., 2004), dan pada st adia zo ea-3 hingga zo ea-4 diberi pakan berupa Art emia sebanyak 1,5 hingga 3 ind./mL per h ari. Ket ika lar va mulai memasuki st adia zo ea-4—5, larva tersebut dipindahkan ke dalam bak kerucut yang berisi air 150 L dengan kepadat an 12 lar va/L.
Pakan Uji
Hewan uji berupa lar va zo ea-4— 5 ini diberi pakan perlakuan beru pa: nauplius Art emia seb anyak 100% tersebut didasarkan atas bobot kering nauplius Artemia dan pakan mikro yang digunakan. Jumlah 100% naup-lius Art emia dianggap set ara dengan empat individu nauplius Artemia/mL, dan 100% pakan mikro disetarakan dengan bo bo t t o t al empat individu nauplius Art emia × b o b o t ke rin g se t iap in d ivid u n au p liu s Ar t emia (0,00326 mg/ind.) (Ho lme et al., 2006). Pakan mikro yang digunakan adalah pakan ko mersial unt uk lar va
udang windu dengan ukuran diameter 250-350 µm
u n t u k m e n ye su aikan u ku ra n b u kaan m u lu t la r va (Geno depa et al., 2004b). Pakan mikro ini memiliki ko mpo sisi p ro ksimat be rup a p ro t ein 5 7,5 %; lem ak 14,5%; serat kasar 2,3%; abu 11,2%; dan bahan ekst rak t anp a nit ro gen 14 ,5 %; sem en t ara naup lius Ar t emia memiliki ko mpo sisi pro ksimat berupa pro t ein 54,6%; lemak 13,9%; serat kasar 6,6%; abu 8,6%; dan bahan ekst rak t anpa nit ro gen 16,3%. Pro fil asam amino dan asam lemak pakan uji t ersebut disajikan pada Tabel 1 dan 2.
Pemeliharaan Hewan Uji dan Pengum pulan Data
bermata jaring 37 µm. Pemeliharaan larva dilakukan
hingga m em asuki st adia krab le t -1 (se lama 1 5 hari p em eliharaan). Selam a p em e lih araan , nilai kisaran peubah kualit as air yang dipero leh yait u salinit as 25-26 ppt ; suhu 28,2°C-29,5°C; o ksigen t erlarut 5,40-6,61 mg/L; pH 8,0-8,3; t o t al amo nia nit ro gen (TAN) 0,017-1,450 mg/L; dan nit rit 0,017-1,873 mg/L; dan dianggap cukup aman bagi sint asan larva kepit ing bakau (Shelley & Lo vat elli, 2011).
Pen e lit ian in i d ide sain d en gan rancan gan acak kelompo k, masing-masing empat ulangan. Peubah yang diamat i meliput i sint asan, bo bo t , sert a lebar karapas krablet , akt ivit as enzim pencernaan, dan kandungan asam amino lar va. Unt uk mendapat kan sampel pada p e n g a m a t a n a k t ivit a s e n z im p e n c e r n a a n d a n kandungan asam amino t ubuh lar va (megalo pa), maka pemeliharaan larva (mulai zo ea-4— 5 hingga megalopa) juga dilakukan pad a bak kerucut be r vo lu me 50 0 L Tabel 1. Pro fil asam amino pakan mikro dan nauplius Art emia (% bo bo t kering)
Table 1. Amino acid profile of t he micro diet and t he Artemia nauplii (% dry mat t er)
Tabel 2. Kandungan beberapa asam lemak esensial (% bahan kering) pakan uji dalam pemeliharaan lar va kepit ing bakau
Table 2. Essent ial fat t y acids cont ent s (% dry mat t er) of t he t est diet s for mud crab larva
Naupl ius Artem ia
Artem ia nauplii
Pakan m i kro M icr o diet
Asp ar tic acid 4 .9 0 5.1 7
Glu tamic acid 7 .1 2 8.8 0
Serin e 2 .6 4 2.2 9
Histid in e 1 .1 5 1.1 2
Glycine 2 .9 7 3.3 6
Th r eo n in e 2 .4 7 2.3 1
Ar g in in e 3 .5 9 3.3 8
Alan ine 3 .2 1 3.3 7
Tyr osin e 2 .2 0 1.8 2
Meth io n in e 1 .1 2 1.3 5
Valin e 2 .9 4 2.9 0
Ph en ylalan ine 2 .3 3 2.3 3
I-leu cin e 2 .6 9 2.6 5
Leu cin e 3 .8 9 4.2 0
Lysin e 4 .4 1 3.9 0
Pakan uji (Test diets)
Jeni s asam am i no Amino acid kinds
Naupli us Ar temia
Ar temia nauplii
Pakan m i kro M icro diet
Lino leic acid , C1 8:2 n6 0 .4 6 0 1 .0 6 5
Lino len ic acid , C18 :3n 3 2 .1 8 9 0 .2 8 0
Ar ach id o n ic acid ARA), C2 0:4 n6 0 .0 2 1 0 .0 5 7
Eico sap en taen oic acid (EPA), C2 0 :5 n 3 0 .0 6 1 0 .9 4 7
Do co sah exaen oic acid (DHA), C2 2:6 n3 Tid ak ter d eteksi (Not detected) 1 .2 8 8
To tal n -3 2 .2 4 9 2 .5 1 5
To tal n -6 0 .52 4 1 1 .1 5 0
Rasio (Ratio) n -3 /n -6 4 .29 2 .1 9
Pakan uj i (Test diets)
sebanyak t iga unit unt uk perlakuan: nauplius Art emia sebanyak 100% (100% Art ), nauplius Art emia 50% + pakan mikro 50% (50% Art + 50% MD), dan pakan mikro 100% (100% MD).
Analisis Akt ivit as Enzim Pencernaan
Pa d a s a a t la r va m e m a s u k i s t a d ia m e g a lo p a , dilakukan pengumpulan sampel unt uk analisis aktivit as enzim pencernaan. Sebanyak 1 g sampel larva disaring
menggunakan saringan bermata jaring 500 µm, dibilas
air tawar, kemudian dimasukkan ke dalam bot ol sampel dan disimpan dalam freezer (-20°C) unt uk selanjut nya diekstrak dan dianalisis aktivit as enzim pencernaannya. Akt ivit as enzim pencernaan meliput i: enzim pro t ease dan amilase dianalisis berdasarkan met o de Bergmeyer & Grassi (1983), dan enzim lipase berdasarkan met ode Bo rlo ngan (1990).
Untuk menget ahui waktu perpindahan st adia lar va dari zo ea 4/5 ke megalopa dan krablet , maka dilakukan p e m e lih araan lar va d alam se m b ilan b u ah st o p le s ber vo lume 1 L dengan kepadat an 12 eko r/L (bo t o l). Pakan uji yang diberikan meliput i pakan perlakuan: 1 0 0 % Ar t , 5 0 % Ar t + 5 0 % MD, d a n 1 0 0 % MD. Pengamat an perkembangan st adia dan penghit ungan hewan uji yang hidup dilakukan set iap hari pada saat pergant ian air sebanyak 100%.
Analisis Kimia
Pada analisis p ro ksim at p akan u ji, sampel yang re p re se n t at if d ian alisis b e rd asarkan AOAC (19 9 9 ) berupa: bahan kering (DM) dikeringkan dengan oven pada suhu 105°C hingga bobo t ko nst an, pro t ein kasar d ia n a lis is d e n g a n m ic r o -Kje ld a h l, d a n le m a k dide t e rminasi secara gravim et rik d en gan e kst raksi chlo ro fo rm: met ano l pada sampel, serat kasar dengan peman asan yang disert ai pencucian asam dan basa secara bergant ian, dan abu dengan pembakaran dalam t anur pada suhu 550°C selama 24 jam.
Kandungan asam amino dan asam lemak sampel dianalisis di Labo rat o rium Terpadu IPB, Bo go r. Asam amino dianalisis menggunakan high performance liquid chromat ogr aphy (HPLC, Shim adzu t ype 20), d engan pereaksi pra-kolo m menggunakan o rt oft laldehida yang me ngan dung me rkap t o e t ano l d alam suasan a basa, kolo m ult ra t echspere, fase mobil menggunakan buffer A (Na-aset at pH 6,5; Na-EDTA, met ano l dan THF yang dilarut kan dalam air HP) dan buffer B (met ano l 95% dan air HP), laju aliran fase mo bil 1 mL/menit , dengan d et e kt o r flo u re sen si. Se me n t ara kan du n gan asam lemak sampel dianalisis menggunakan gas chro mat og-raphy (GC).
Analisis St at istik
Peubah sint asan, bo bo t, lebar karapas, dan aktivit as enzim pencernaan larva dianalisis ragam menggunakan pro gram St at ist ik Versi 3,0 (Analyt ical Soft ware) pada selang kepercayaan 95%. Jika terdapat perbedaan yang nyat a di ant ara perlakuan, maka dilanjut kan dengan uji BNT (Beda Nyat a Terkecil). Sement ara kandungan asam amino lar va dan nilai kualit as (TAN, nit rit , nit rat , p H, o k s ig e n t e r la r u t , s alin it a s , d a n a lk a lin it a s ) dianalisis secara deskript if.
HASIL DAN BAHASAN
nauplius Artemia mengandung cukup tinggi asam lemak lin o le n ik (C1 8 :3 n 3 ), n a m u n k u r a n g m a m p u m e n g o n ve r s in ya m e n ja d i EPA d a n DHA d a la m t ubuhnya. Suprayudi et al. (2004) t elah melapo rkan bahwa lar va kepit ing bakau t idak memiliki at au sangat t erbat as kemampuannya menyint esis asam lemak n-3 HUFA dalam t ubuhnya. Secara umum ikan laut karnivo r t id a k m e m ilik i k e m a m p u a n ya n g cu k u p u n t u k melakukan desat urat ion dan elongat ion dari C18 PUFA menjadi n-3 HUFA dalam t ubuhnya (NRC, 2011; Li et al. , 2 0 1 6 ). Me s k ip u n Ko b a ya s h i et a l. (2 0 0 0 ) m e la p o r ka n b a h w a la r va k e p it in g b a ka u Scyl l a paramamosain dapat mencapai st adia krablet-1 dengan pemberian nauplius Art emia yang mengandung kadar asam lemak lino lenik cukup t inggi, EPA yang rendah, dan DHA yang defisie n. Kebe radaan dalam ko ndisi yang seimbang dari kedua senyawa ini dalam pakan akan meningkat kan sint asan dan pert umbuhan ikan laut , khususnya pada fase lar va. Tingkat kebut uhan senyawa ini unt uk larva berbeda-beda t ergantung jenis ikannya.
Pada akhir pemeliharaan, ternyat a masih ditemukan adanya lar va dalam fase megalo pa (Gambar 1). Lar va kepit ing bakau t idak mengalami pro ses molt ing secara serent ak (seragam). Hal ini juga merupakan salah sat u masalah dalam pemeliharaan lar va kepit ing khususnya pada saat st adia zo ea-5 dan megalo pa. Adanya lar va yang masih pada stadia zoea dan megalopa dalam suatu wadah pemeliharaan, maka larva megalopa berpot ensi memangsa lar va zo ea, karena sifat kanibalisme mulai t imbul akibat telah t erbent uknya capit pada megalo pa.
Unt uk menghindari dan menekan sifat kanibalisme ini, m a k a d ip a s a n g k a n p o t o n g a n -p o t o n g a n ja r in g po liet ilen yang digant ung dalam wadah pemeliharaan. Meskipu n p ad a akh ir p e ne lit ian m asih d it e m u kan adanya lar va dalam stadia megalo pa, namun jumlahnya sedikit (0,29%-0,50%) dan t idak berbeda nyata (P> 0,05) di ant ara perlakuan.
Bo bot badan megalopa dan krablet yang didapatkan pada akhir penelit ian disajikan pada Gambar 2. Pada Gambar 2 t erlihat bahwa bo bo t rat a-rat a megalo pa dan krablet -1 yang didapat kan t idak berbeda nyat a (P> 0,05) di ant ara perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa pakan uji yang diberikan belum memengaruhi pert umbuhan lar va yang dapat bert ahan hidup sampai s t a d ia k r a b le t -1 . Pa d a d a s a r n ya, m a k a n a n ya n g diko nsumsi o leh makhluk hidup pert ama-t ama akan d igun akan un t u k keb ut uh an dasar keh id u pan dan pemeliharaan jaringan (sint asan), jika ada berlebih baru akan digunakan untuk pertumbuhan jaringan dan o to t (t u b u h) se cara ke se lu ru h an (Bure au et al., 2 0 0 2 ). Namun pada pemeliharaan larva ini didapatkan sintasan yan g rend ah pad a pem berian 100% pakan nauplius Art emia dan 100% pakan mikro dibandingkan sint asan larva pada pemberian pakan kombinasi keduanya. Oleh kare na it u, ad an ya pe rt u mb uh an bo bo t lar va yang relat if sama di ant ara perlakuan, kemungkinan ant ara lain disebabkan larva yang hidup sampai st adia krablet -1 t e rsebut m ampu me ngo nsum si pakan yang lebih banyak (lebih agresif) khususnya pada perlakuan 100% nauplius Art emia dan 100% pakan mikro dibandingkan lar va yan g m at i, seh ingga nu t risi d ari p akan yan g
dikonsumsinya mampu mempertahankan sint asannya, juga dapat menyuplai unt uk pert umbuhannya secara no rmal. Perbedaan kualit as dan kuant it as pakan yang d it e rim a o le h lar va akan m e m b e rika n p e rb e d aan pengaruh pert umbuhan so mat ik meskipun memiliki lat ar b e lakan g ge n et ik yan g sam a (Kjo rsvik et al., 2011). Ko ndisi nut risi pakan yang dimakan lar va t idak h a n ya a k a n m e m e n g a r u h i p e r k e m b a n g a n a la t pencernaan, pert umbuhan, dan sint asannya, tetapi juga pro ses perkembangan tulangnya (rangka/karapaks) (Lall & Lewis-McCrea, 2007).
Lebar karapaks krablet-1 yang didapatkan pada akhir penelit ian disajikan pada Gambar 3. Pada Gambar 3 t ersebut juga t erlihat bahwa lebar karapaks krablet -1 yang didapatkan berbeda tidak nyata (P> 0,05) di ant ara perlakuan. Hal ini menunjukkan juga bahwa pakan uji yan g dibe rikan b elu m me me n garu hi p e rt um bu han lebar karapaks lar va yang dapat bertahan hidup sampai st adia krablet -1. Penyebab feno mena ini juga diduga relat if sama pada pert umbuhan bo bo t krablet .
Hasil pengamatan akt ivitas enzim pencernaan larva (st ad ia me galo pa) d isajikan p ad a Gam b ar 4 . Pad a Gambar 4, t erlihat bahwa akt ivit as enzim pencernaan baik pro t ease, lipase, maupun amilase berbeda t idak n ya t a (P> 0 ,0 5 ) d i a n t a r a p e r la k u a n . Ha l in i menunjukkan bahwa pemberian pakan buat an selama p em e lih araan lar va t e rse b u t t idak m e n gakib at kan ad an ya p e ru b ah an (p e n in gkat an at au p e n u ru n an ) akt ivit as enzim pencenaan lar va kepit ing bakau. Pada lar va (megalo pa) kepit ing bakau ini akt ivit as enzim
pencernaan t ert inggi bert urut -t urut dit emukan pada lipase , p ro t ease , d an amilase . Po la akt ivit as enzim yang relat if sama juga dit emukan pada lar va kepit ing rajungan (Must ika et al., 2012).
Salah sat u juga pro blem dalam perbenihan kepit ing bakau adalah t idak t erjadinya pergant ian st adia lar va yang serent ak, khususnya pada st adia megalo pa dan krablet . Pada st adia megalo pa, lar va sudah memiliki capit , seh ingga lar va yang t elah m enjadi megalo pa dapat memangsa lar va yang masih st adia zo ea (4 at au 5). Oleh karena it u, upaya menyerent akkan pergant ian st adia lar va pada fase t ersebut juga perlu dilakukan. Pada penelit ian ini, pengamatan pergantian st adia lar va yang dilakukan dengan pemeliharaan lar va zo ea 4/5 (umur 15 hari sejak menet as) pada wadah ber vo lume 1 L, didapat kan dat a sepert i disajikan pada Tabel 3. Pada Tabel 3, t erlihat bahwa lar va mu lai memasuki st adia megalo pa pada hari ke-6 (umur 20 hari sejak menet as) unt uk semua perlakuan dengan nilai rat a-rat a t ert inggi pada perlakuan pemberian pakan 50% Art emia + 50% MD meskipun secara st at ist ik berbeda t idak nyat a (P> 0,05). Selanjut nya, st adia megalo pa ini mulai memasuki stadia krablet pada hari ke-13 (umur 27 hari sejak menet as) unt uk perlakuan pemberian pakan 100% nauplius Art emia, dan hari ke-12 (umur 26 hari sejak menet as) unt uk perlakuan pemberian pakan 50% nauplius Artemia + 50% MD serta yang diberi pakan 100% MD.
Bila m e lih at p o la sin t asa n n ya , t a m p ak b ah wa ke mat ian lar va mulai t erjadi sejak hari ke-2 unt uk Gambar 2. Bo bo t badan krablet dan megalo pa set elah aplikasi pakan uji selama 15 hari.
perlakuan pemberian pakan 100% MD, dan hari ke-3 menet as) masih cukup t inggi dengan sint asan tert inggi bert urut -t urut pada perlakuan pemberian pakan 50% nauplius Art emia + 50% pakan mikro (72,2%), disusul pemberian pakan 100% nauplius Art emia (63,9%), dan
Gambar 3. Le b a r karap a ks krab le t d an m e galo p a se t e la h ap lika si p akan u ji selama 15 hari.
Figure 3. Carapace widt h of crablet and megalopa aft er applicat ion of t est diet s for 15 days.
Gambar 4. Akt ivit as enzim pencernaan lar va (megalo pa) kepit ing bakau. Figure 4. Digest ive enzyme act ivit ies of mud crab larva (megalopa).
t erendah pada pemberian pakan 100% pakan mikro (41,6%). Pemberian pakan campuran nauplius Art emia dan pakan mikro pada lar va zo ea-5 ini tampaknya lebih meningkat kan vit alit asnya karena adanya t ambahan asupan nut rien esensial khususnya asam lemak EPA d a n DHA d a ri p ak an m ik ro t e r se b u t . Se m e n t a ra sint asan zo ea-5 yang rendah pada pemberian 100% pakan mikro disebabkan pakan mikro t ersebut relat if ce p at m e n g e n d a p d i d as ar w ad ah p e m e lih araa n , sehingga peluang pemanfaat annya relat if lebih kecil 0
Jenis enzim pencernaan (Type of digest ive enzymes) 100% Art
50% Art + 50% MD
d ib a n d in gk a n d e n g an n a u p liu s Ar t em ia. Se t e la h memasuki st adia megalo pa, sintasan larva (megalo pa) semakin menurun hingga menjelang memasuki st a-dia krablet dengan nilai sint asan t ert inggi didapat kan pada perlakuan pemberian 50% nauplius Artemia + 50% pakan mikro yait u 22,2% (hari ke-11 at au umur 25 hari sejak menet as). Sementara pada perlakuan pemberian 10 0% n aup lius Ar t emia d an p emb erian 1 00% pakan mikro masing-masing didapat kan sint asan megalo pa
11,1% (bert urut -t urut pada hari ke-12 at au umur 26 hari sejak menet as unt uk perlakuan pemberian 100% nauplius Art emia, dan pada hari ke-11 at au umur 25 hari sejak menet as unt uk perlakuan pemberian 100% pakan mikro ). Secara deskript if, sint asan yang dicapai h in gga m e njadi krab let t e rt in ggi d id apat kan p ad a pe rlaku an pe mb erian 50 % n au plius Ar t emia + 5 0% pakan mikro yait u 11,0%; disusul perlakuan pemberian 100% nauplius Art emia yait u 8,2%; dan t erendah pada
Tabel 3. Sint asan dan wakt u pergant ian st adia hewan uji selama aplikasi pakan uji Table 3. Survival rat e and st age t urnover t ime of t est animal during t he t est diet applicat ions
Tabel 4. Pro fil asam amino (% bo bo t kering) t ubuh krablet kepit ing set elah diberi pakan uji Table 4. Amino acid profile (% dry weight ) of whole body of crablet aft er fed t est diet s
Zoea 4/5 M egalopa Krablet
Crablet Zoea 4/5 M egalop a
Krablet
Crablet Zoea 4/5 M egalop a
Krablet
Crablet
1 100 ± 0.0 0.0 0.0 100 ± 0.0 0.0 0.0 100 ± 0.0 0.0 0.0
2 100 ± 0.0 0.0 0.0 100 ± 0.0 0.0 0.0 86.1 ± 12.7 0.0 0.0
3 86.1 ± 4.8 0.0 0.0 94.4 ± 9.6 0.0 0.0 75.0 ± 8.3 0.0 0.0
4 75.0 ± 8.3 0.0 0.0 83.4 ± 14.4 0.0 0.0 58.3 ± 8.4 0.0 0.0
5 63.9 ± 12.7 0.0 0.0 72.2 ± 12.7 0.0 0.0 41.6 ± 14.4 0.0 0.0
6 47.2 ± 12.7 11.1 ± 4.8a 0.0
52.8 ± 12.7 13.9 ± 4.8a 0.0 30.5 ± 4.8
5.5 ± 4.8a 0.0
7 30.5 ± 4.8 16.7 ± 0.0 0.0 44.4 ± 19.3 13.9 ± 4.8 0.0 13.9 ± 4.8 13.9 ± 4.8 0.0
8 0.0 19.5 ± 4.8 0.0 13.9 ± 9.6 22.2 ± 4.8 0.0 0.0 13.9 ± 4.8 0.0
9 0.0 16.7 ± 8.3 0.0 0.0 25.0 ± 8.3 0.0 0.0 13.9 ± 4.8 0.0
10 0.0 16.7 ± 8.3 0.0 0.0 25.0 ± 8.3 0.0 0.0 13.9 ± 4.8 0.0
11 0.0 16.7 ± 8.3 0.0 0.0 22.2 ± 4.8 0.0 0.0 11.1 ± 9.6 0.0
12 0.0 11.1 ± 12.7 0.0 0.0 19.5 ± 4.8 2.8 ± 4.8 0.0 8.3 ± 8.4 2.8 ± 4.8
13 0.0 5.6 ± 9.6 5.5 ± 4.8 0.0 2.8 ± 4.8 11.0 ± 4.6 0.0 0.0 5.5 ± 4.8
14 0.0 0.0 8.2 ± 8.2 0.0 0.0 11.0 ± 4.6 0.0 0.0 5.5 ± 4.8
15 0.0 0.0 8.2 ± 8.2a 0.0 0.0 11.0 ± 4.6a 0.0 0.0 5.5 ± 4.8a
100% Artemia 50% Artemia + 50% M D 100% M D
W aktu pemeliharaan
(hari ke-)
Rearing period
(days)
100% Art 75% Art + 25% MD 50% Art + 50% MD 25% Art + 75% MD 100% MD
Pr o tein kasar (Crude prot ein) 36 .4 0 4 0 .30 39 .10 39 .10 39 .70
Asp ar tic acid 3 .4 3 3 .7 1 3 .4 2 3 .2 8 3 .4 7
Glu tamic acid 5 .3 7 5 .5 2 5 .1 2 4 .8 4 5 .1 4
Ser in a 1 .3 5 1 .5 2 1 .5 4 1 .4 6 1 .3 7
Histid in e 0 .8 3 0 .9 0 0 .8 9 0 .8 5 0 .8 7
Glycine 2 .2 8 2 .8 6 2 .6 6 2 .5 1 2 .3 6
Th r eo n ine 1 .9 3 1 .9 0 1 .6 2 1 .5 8 1 .8 0
Ar g in in e 2 .3 6 2 .2 9 2 .1 7 2 .1 0 2 .3 8
Alan ine 2 .2 1 2 .3 6 2 .2 0 2 .1 1 2 .1 7
Tyr osin e 1 .3 9 1 .2 4 1 .5 1 1 .4 7 1 .5 4
Meth io n in e 0 .6 5 0 .7 0 0 .7 8 0 .7 5 0 .5 9
Valin e 2 .1 3 2 .1 8 1 .9 7 1 .8 9 2 .0 4
Ph en ylalan ine 1 .5 9 1 .6 7 1 .5 4 1 .5 0 1 .6 1
I-leucin e 1 .7 5 1 .8 1 1 .6 4 1 .5 5 1 .6 5
Leu cin e 2 .5 9 2 .7 2 2 .5 1 2 .3 7 2 .4 9
Lysin e 1 .8 0 2 .2 6 2 .3 0 2 .1 9 2 .0 0
Jenis asam am i no Am ino acid kinds
perlakuan pemberian 100% pakan mikro yait u 5,5%; no nesensial) krablet kepit ing bakau set elah aplikasi pakan uji relat if sama di ant ara perlaku an. Nam un menggant ikan 50% penggunaan nauplius Artemia dalam pemeliharaan lar va (zo ea-5 hingga krablet -1) kepit ing bakau.
UCAPAN TERIM A KASIH
Pene lit ian ini dib iayai o leh DIPA T.A. 2016 Balai Pe ne lit ian dan Pengem ban gan Bud id aya Air Payau. Penulis mengucapkan t erima kasih kepada Saudara Tamsil, Ro sni, Dian Wahyuni Basri, Muh. Saleh, Muh. Danial, dan Muh. Rizal at as segala bant uannya dalam p e la k s a n a a n k e g ia t a n p e n e lit ia n in i b a ik d i labo rat o rium maupun di lapangan.
DAFTAR ACUAN
Akbar y, P., Ho sseini, S.A., & Imanpo o r, M.R. (2011). Enrichment o f Art emia nauplii wit h essent ial fat t y acid s an d vit am in C: Effe ct o n rain b o w t ro u t (Oncorhynchus mykiss) lar vae perfo rmance. Iranian Journal of Fisheries Science, 10(4), 557-569.
AOAC Int ernat ional. (1999). Official met ho ds o f analy-sis. 16th ed. Associat io n o f Official Analyt ical
Chem-ist s Int ernat io nal, Gait hersberg, Mar yland. USA, 1141 pp.
Bo rlo ngan, I.G. (199 0). St ud ies o n t h e digest ive li-pases o f milkfish, Chanos chanos. Aquacult ure, 89, 315-325.
Bergme ye r, H.U., & Grassi, M. (19 8 3). Me t h o d s o f enzymat ic analysis. Weinheim, Ge rmany: Verlag Chemie, 2, 555.
Bureau, D.P., Kaushik, S.J., & Cho , C.Y. (2002). Bio en-erget ics. In: Halver, J.E., & Hardy, R.W, (Eds.). Fish Nut rit ion. New Yo rk: Academic Press, p. 1-59. Fielder, D., & Heasman, M. (1999). Lar val rearing and
nurser y pro duct io n. In: Keenan, C., & Blackshaw, A. (Eds.). Wo rksho p 2: Mud crab aquacult ure and bio lo gy. ACIAR Proceedings, 78, 209-214.
Ge no de pa, J., Zen g, C., & So ut h gat e , P.C. (2 00 4a). Preliminar y assessment o f a micro bo und diet as an Art emia replacement fo r mud crab, Scylla serrata, megalo pa. Aquacult ure, 236, 497-509.
Ge no dep a, J., So u t hgat e, P.C., & Ze ng, C. (200 4b ). Diet part icle size preferences and o pt imal rat io n fo r mud crab, Scylla serrat a, lar vae fed micro bo und diet s. Aquacult ure, 230, 493-505.
Gunart o , Jo mpa, H., & Parenrengi, A. (2014). Tekno lo gi perbenihan kepit ing bakau. Balai Penelit ian dan Pengembangan Budidaya Air Payau. Maro s, 25 hlm. Ho lme, M-H., Zeng, C., & So ut hgat e, P.C. (2006). Use o f micro bo und diet s fo r lar val cult ure o f t he mud crab, Scylla serrat a. Aquacult ure, 257, 482-490. Ho sseinpo ur, H., Hafezieh, M., Kamarudin, M. S., Saad,
C.R., Abd Sat t ar, M.K., Agh, N., Valinassab, T., & Sharifian, M. (2010). Effect s o f enriched Art emia urmiana wit h HUFA o n gro wt h, sur vival, and fat t y acids co mpo sit io n o f t he Persian st urgeo n lar vae (Acipe nser pe rsicus). Iranian Journal of Fisher ies Sciences, 9, 61-72.
Keenan, C.P. (1999). Aquacult ure o f mud crab, genus Scylla— past , present and fut ure. In: Keenan, C.P., & Blackshaw, A. (Eds.). Mud crab aquacult ure and bio lo gy. ACIAR Proceedings, 78, 9-13.
Kjo rsvik, E., Gallo way, T.F., Est evez, A., Sae le, O., & Mo ren, M. (2011). Effect s o f lar val nut rit io n o n develo pment . In Ho lt , G.J. (Ed.). Lar val fish nut ri-t io n. UK: Jo hn Wiley & So ns Lri-t d, 435 pp.
Ko bayashi, T., Takeuchi, T., Arai, D., & Sekiya, S. (2000). Suit able diet ar y levels o f EPA and DHA fo r lar val mud crab during Art emia feeding. Nippon Suisan Gakkaishi, 66, 1006-1013.
Lall, S.P., & Lewis-McCrea, L.M. (2007). Ro le o f nut ri-ent s in skelet al met abo lism and pat ho lo gy in û sh, an o ver view. Aquacult ure, 267, 3-19.
Lavens, P., & So rgelo o s, P. (2000). The hist o r y, present st at us and pro spect s o f t he availabilit y o f Art emia cyst s fo r aquacult ure. Aquacult ure, 181, 397-403. Li, F.J., Lin, S.M., Chen, W.Y., & Guan, Y. (2016 ). Ef-enzyme act ivit y based o n art ificial diet o f feeding t ime o n swimming crab lar va (Port unus pelagicus). Proceedings Int ernat ional Seminar “ Food Sovereignt y and Nat ural Resources in Archipelago Region”. ICC-IPB, Bo t ani Square-Bo go r, 23th-24th Oct o ber 2012,
Nat io nal Research Co uncil [NRC]. (2011). Nut rit io nal requirement s o f fish and shrimp. Washint o ng, DC.: Nat io nal Academy Press.
Sargen t , J.R., To che r, D.R., & Bell, J.G. (2 00 2). Th e lipid s. In: Halve r, J.E., & Hard y, R.W. (Eds). Fish nut rit io n. New Yo rk: Academic Press, p. 181-257.
Shelley, C., & Lo vat elli, A. (2011). Mud crab aquacul-t ure: A pracaquacul-t ical manual. FAO Fisheries and Aquacul-t ure Technical Paper. Ro me, FAO, 567, 78.
So rgelo o s, P., Dhert , P., & Candreva, P. (2001). Use o f t h e b rin e sh rim p , Ar t emia soo, in m arin e fish lar vicult ure. Aquacut ure, 200, 147-159.