Strategi tes dan non tes untuk peserta d

31 

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Kebutuahan akan layanan bimbingan muncul dari karakteristik dan masalah perkembangan murid. Pendekatan perkembangan dalam bimbingan merupakan pendekatan yang tepat digunakan di RA karena pendekatan ini lebih berorientasi pada perkembangan ekologi murid.

Upaya memahami pribadi murid merupakan salah satu langkah layanan bimbingan yang harus dilakukan oleh pembimbing, pemahaman tersebut akan menjadi dasar memilih alternatif strategi dan teknik bimbingan yang diberikan kepada murid tersebut. Dalam fungsi BK, pemahaman individu, pencegahan dan pengembangan dilakukan untuk mencegah murid terhadap perilaku atau kegiatan kearah negatif atau menyimpang.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa saja aspek-aspek pemahaman peserta didik? 2. Bagaimana strategi dan teknik tes untuk peserta didik? 3. Bagaimana strategi dan teknik non tes untuk peserta didik? 1.3. Tujuan

(2)

BAB II PEMBAHASAN

2.1. ASPEK-ASPEK PEMAHAMAN PESERTA DIDIK

Peserta didik adalah dari kata bahasa arab yaitu Tilmidz yang mengandung arti jamak adalah Talamid, yang mengandung arti adalah murid, yang artinya adalah orang-orang yang membutuhkan pendidikan. Dan menurut bahasa lainnya siswa adalah Thalib, jamaknya artinya artinya adalah Thullab, yang berarti mencari, maksudnya merupakan orang-orang yang sedang menuntut ilmu.

2.1.1. Pentingnya Akan Peserta Didik Dalam Bimbingan dan Konseling. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam memberikan bimbingan adalah memahami murid secara keseluruhan, baik masalah yang dihadapinya maupun latar belakang pribadinya. Upaya memahami pribadi murid merupakan salah satu langkah layanan bimbingan yang harus dilakukan oleh pembimbing, pemahaman tersebut akan menjadi dasar memilih alternatif strategi dan teknik bimbingan yang diberikan kepada murid tersebut.

(3)

2.1.2 Prinsip-prinsip Pengumpulan dan Penyimpanan Data a. Kelengkapan Data

Data yang lengkap akan mendukung kelancaran dan keberhasilan pemberian layanan bimbingan dan konseling. Data yang dikumpulkan hendaknya mencakup data :

b. Relevansi Data

Data yang dihimpun hendaknya data yang sesuai atau relevan dengan kebutuhan dan layanan bimbingan dan konseling supaya dapat dianalisis, dipadukan, dan dikelompokkan sesuai dengan karakteristik dan tuntutan masing-masing jenis layanan.

c. Keakuratan Data

Data yang akurat berhubungan dengan prosuder dan teknik pengumpulan data, Empat hal yang berkenaan dengan pengumpulan data ini, yaitu:

 Validitas data  Validitas instrument

 Proses pengumpulan data yang benar atau yang bersifat objektif  Analisis data yang tepat

d. Efisensi penyimpanan data

(4)

e. Efektivitas penggunaan data 2.1.3 Macam-macam Data

a. Kecakapan

1. Kecakapan Potensial (potential ability)

a. Abilitas dasar umum (general intelligence) atau kecerdasan jamak, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual.

b. Abilitas dasar khusus dalam bidang tertentu (bakat, aptitudes) : bilangan, (numerical abilities), bahasa(verbal abilities), tilikan ruang (spatial abilities), tilikan hubungan social (social abilities) serta gerakan motoris (motorical/kinesthetic abilities).

2. Kecakapan actual (actual ability) a. Kepribadian

1. Fisik dan kesehatan 2. Psikhis:

a. Aku (self) dan kesadaran diri, kesehatan mental, kemandirian.

b. Afektif : Emosi (perasaan, simpati, empati, senang, rasa bersalah, takut/cemas/khawatir, marah dan permusuhan), sikap, minat, motivasi.

(5)

d. Kebiasaan : hidup, belajar, bekerja, kebiasaan buruk.

e. Hubungan sosial.

f. Aspirasi sekolah dan pekerjaan, cita-cita, harapan masa depan, rencana lanjutan studi.

3. Kegiatan.

4. Keunggulan-keunggulan dalam bidang.

5. Pengalaman istimewa dan prestasi yang telah diraih. 6. Latar belakang (keluarga : kondisi sosial ekonomi

keluarga, status sosial keluarga, hubungan sosial psikologis).

7. Agama dan moral. 8. Lingkungan masyarakat.

2.2. STRATEGI DAN TEKNIK DAN TEKNIK TES UNTUK PEMAHAMAN PESERTA DIDIK

(6)

Pengumpulan data testing, sifatnya mengukur atau pengukuran (measurement), menggunakan instrumen yang standar dan akan menghasilkan skor atau angka-angkahasil ukur yang menunjukkan tingkat kemampuan, atau kekuatan dari aspek yang diukur dengan berpegang pada standar tertentu. Secara keseluruhan macam tes untuk keperluan bimbingan dan konseling, dikelompokkan ke dalam empat kelompok tes, yaitu : tes kecerdasan, tes bakat, dan tes hasil belajar.

2.2.1. Tes Kecerdasan.

Kecerdasan dapat diartikan sebagai kemampuan berpikir yang bersifat abstrak. Dapat juga diartikan sebagai kemampuan umum individu (murid) untuk berprilaku yang jelas tujuannya; berpikir rasional; dan berhubungan dengan lingkungannya secara efektif (Shertzer & Stone, 1971 : 239). Singgih D. Gunarsa (1991) mengemukakan beberapa rumusan kecerdasan, yaitu sebagai berikut :

a. Kecerdasan merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang (murid) yang memungkinkan memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu tersebut dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.

b. Kecerdasan adalah suatu bentuk tingkah laku tertentu yang tampil dalam kelancaran tingkah laku.

(7)

Dengan demikian, tes kecerdasan itu tidak lain adalah prosedur yang sistematis dengan menggunakan instrumen untuk mengetahui kemampuan umum individu terutama menyangkut kemampuan berpikirnya. Nana Syaodih S. (2007 : 198), menegaskan bahwa yang diukur dalam tes kecerdasan adalah kecakapan yang berkenaan dengan kemampuan untuk memahami, menganalisis, memecahkan masalah, dan mengembangkan sesuatu dengan menggunakan rasio atau pemikirannya.

KLASIFIKASI KECERDASAN INDIVIDU (MURID)

Untuk mengetahui kecenderungan tingkat kecerdasan murid, diantaranya dapat digunakan Test Binet-Simon (verbal test), yang dipersiapkan untuk anak yang berusia mulai 3 (tiga) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun. Tes Binet-Simon, memperhatikan dua hal berikut :

Pertama, umur kronologis (cronological age disingkat CA); yaitu umur seseorang (murid) sebagaimana yang ditunjukkan dengan hari kelahirannya atau lamanya iahidup sejak tanggal lahirnya.

Kedua, umur mental (mental age disingkat MA); yaitu umur kecerdasan sebagaimana yang ditunjukkan oleh hasil tes kemampuan akademik. Dengan demikian tingkat intelegensi ditunjukkan dengan perbandingan kecerdasan atau disebut dengan istilah ”Intelligence Quotient” yang biasa disingkat IQ. Perbandingan kecerdasan itu adalah umur mental dibandingkan dengan umur kronologis, sehingga diperoleh rumus sebagai berikut :

(8)

CA

Apabila tes tersebut diberikan kepada umur tertentu dan murid dapat menjawab dengan betul seluruhnya, berarti umur kecerdasannya (MA) sama dengan umur kalender (CA), maka nikai IQ yang didapat murid tersebut sama dengan 100. Nilai ini menggambarkan kemampuan murid yang normal. Murid yang berumur, misalnya 6 tahun hanya dapat menjawab tes untuk anak umur 5 tahun, akan didapati nilai IQ di bawah 100 dan ia dinyatakan sebagai murid berkemampuan di bawah normal; sebaliknya bagi murid umur 5 tahun tetapi telah dapat menjawab dengan benar.

Tes yang diperuntukkan bagi anak umur 6 tahun, maka nilai IQ murid tersebut itu di atas 100, dan ia dikatakan sebagai murid yang cerdas. Selain teknik tes di atas, masih terdapat tes kecerdasan lainnya seperti Test PM (Progressive Matrices), yaitu alat yang mengukur inteligensi secara non-verbal yang diberikan kepada anak yang berusia diantara 9-15 tahun. (Rich & Anderson, dalam Anne Anastasi, 1988). Tes ini menggunakan gambar sebagai butir-butir soalnya, karena menggunakan gambar maka dapat digunakan bagi anak yang belum dapat membaca dan menulis. Ada dua macam tes PM, yaitu tipe pertama PM berwarna bagi anak sampai usia 10 tahun dan PM tidak berwarna untuk usia 11 tahun ke atas.

2.2.2 Tes Bakat

(9)

kemampuan murid untuk belajar tetapi juga perlu mempertimbangkan kecakapan khusus atau bakat murid. Bakat merupakan kemampuan khusus individu yang dapat berkembang melalui belajar atau latihan.

Seorang murid yang kurang berprestasi dalam mata-mata pelajaran tertentu, mungkin bukan disebabkan karena kecerdasannya rendah, tetapi karena kurang berbakat dalam mata pelajaran tersebut.

Tes bakat atau aptitude tes, mengukur kecerdasan potensial yang bersifat khusus murid. Ada dua jenis bakat, yaitu bakat sekolah (scholastic aptitude) dan bakat pekerjaan-jabatan (vocatinal aptitude). Bakat sekolah berkenaan dengan kecakapan potensial khusus yang mendukung penguasaan bidang-bidang ilmu atau mata pelajaran. Sedangkan bakat pekerjaan-jabatan berkenaan dengan kecakapan potensial khusus yang mendukung keberhasilan dalam pekerjaan. Hasil pengukuran bakat sangat penting, baik bagi penguasaan bidang-bidang ilmu, perencanaan pembelajaran, dan lanjutan studi, maupun bagi perencanaan, pemilihan dan persiapan jabatan-karir.

Untuk mengetahui bakat murid, telah dikembangkan beberapa macam tes, seperti :

1. Rekonik. Tes ini mengukur kemampuan fungsi motorik, persepsi dan berpikir mekanis.

2. Tes Bakat Musik. Tes ini mengukur kemampuan murid dalam aspek-aspek suara, nada, ritme, warna bunyi dan memori.

(10)

4. Tes Bakat Klerikal (perkantoran). Tes ini mengukur kemampuan ”kecepatan dan ketelitian”.

5. Tes Bakat yang Multifaktor. Tes bakat mengukur berbagai kemampuan khusus, yang telah lama digunakan adalah DAT (Differential Attitude Test). Tes ini mengukur delapan kemampuan khusus, yaitu :

a. Berpikir verbal, yang mengungkapkan kemampuan nalar yang dinyatakan secara verbal.

b. Kemampuan bilangan, yang mengungkap kemampuan berpikir dengan menggunakan angka-angka:

c.Berpikir abstrak, yang mengungkap kemampuan nalar yang dinyatakandengan menggunakan berbagai bentuk diagram, yang bersifat non-verbal atau tanpa angka-angka.

d. Hubungan ruang, visualisasi dan persepsi, yang mengungkap kemampuan untuk membayangkan dan membentuk gambar-gambar dari objek-objek dengan hanya melihat gambar di atas kertas yang rata. e.Kecepatan dan ketelitian, yang mengungkapkan kemampuan ketelitian dan kecepatan seseorang dalam membandingkan dan memperhatikan daftar tertulis, seperti nama-nama, atau angka-angka. f.Berpikir mekanik, yang mengungkapkan kemampuan serta pemahaman mengenai hukum-hukum yang mendasari alat-alat, mesin-mesin dan gerakangerakannya.

(11)

h.Penggunaan bahasa-menyusun kalimat, yang mengungkap kemampuan pemakaian kata-kata dalam kalimat, seperti tanda baca dan tata bahasa.

2.2.3. Tes Prestasi Belajar (Achievement Tests).

Tes prestasi belajar adalah suatu perangkat kegiatan atau alat yang dimaksudkan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya dalam domain kognitif, afektif dan psikomotor. Nana Syaodih S. (2007 : 201), menegaskan bahwa tes pretasi belajar mengukur tingkat penguasaan pengetahuan atau kemampuan murid berkenaan dengan bahan atau komptetensi yang telah dipelajarinya.

Shertzer & Stone (1971 : 235), mengemukakan bahwa penggunaan teknik tes khususnya tes prestasi belajar bagi guru di MI/ SD bertujuan untuk :

a. Menilai kemampuan belajar murid.

b. Memberikan bimbingan belajar kepada murid. c. Mengecek kemajuan belajar murid.

d. Memahami kesulitan-kesulitan belajar murid. e. Memperbaiki teknik mengajar guru.

f. Menilai efektifitas (keberhasilan) mengajar guru.

(12)

adakalanya pula menggunakan tes lisan. Pengukuran penguasaan kompetensi atau materi yang bersifat praktik menggunakan tes perbuatan dan atau penilaian hasil karya, baik karya tulis, rupa ataupun benda.

Tes prestasi belajar ini disusun untuk mengukur hasil pembelajaran atau kemajuan belajar murid. Tes ini meliputi :

a. Tes diagnostik, yang dirancang agar guru dapat menentukan letak kesulitan murid, dalam mata pelajaran yang diajarkannya, misalnya berhitung dalam Matematika, dan membaca dalam Bahasa Indonesia. b. Tes prestasi belajar kelompok yang baku, dan

c. Tes prestasi belajar yang disusun oleh para guru, misalnya dalam bentuk ulangan sehari-hari.

2.3. STRATEGI DAN TEKNIK NON TES UNTUK PEMAHAMAN PESERTA DIDIK

(13)

2.3.1 Observasi (pengamatan)

Teknik atau cara penghimpunan data untuk mengamati suatu kegiatan , perilaku, atau perbuatan murid yang diperoleh langsung dari kegiatan yang sedang dilakukan murid. Data yang dikumpulkan berupa fakta- fakta tentang perilaku dan aktivitas yang dapat diamati atau nampak dari luar, sedangkan aktivitas yang tidak nampak dapat dilakukan dengan melakukan observasi. Observasi sifatnya mengamati dan alat yang paling pokok adalah panca indera terutama indera penglihatan.

Ciri- Ciri :

 Dilakukan sesuai tujuan yang dirumuskan terlebih dahulu  Direncanakan secara sistematis

 Hasilnya dicatat dan diolah sesuai tujuan  Perlu diperiksa ketelitiannya.

Jenis Observasi :

 Observasi Sehari- hari (daily observation)

Observasi yang tidak direncanakan dapat dikerjakan sambil mengerjakan tugas rutin guru (mengajar), juga tidak memiliki pedoman dan dilaksanakannya secara insidental, juga tidak dipersiapkan kapan akan dilakukan dan bagaimana prosesnya. Hasil pencatatan ini disebut catatan anekdot (anecdotal record).Contoh: Guru mengamati perilaku murid pada saat mengikuti pelajaran sehari- hari baik dikelas maupun diluar kelas.

(14)

Observasi yang direncanakan dengan seksama memiliki pedoman yang berisi tujuan, tempat, waktu dan butir pertanyaan yang menggambarkan tingkah laku murid yang sedang di observasi. Jmlah murid yang di observasi idealnya seorang murid saja dan maksimal 3 murid.

 Observasi Partisipatif (Participative observation)

Observasi dimana seorang guru turut serta dalam melakukan apa yang dikerjakan oleh para murid. Contoh : Guru mengamati perilaku murid tertentu pada saat proses belajar mengajar berlangsung, kegiatan ekstra kurikuler, karyawisata,latihan olahraga, dll. Keuntungan melakukan obervasi ini adalah murid tidak mengetahui kalau dirinya sedang diobservasi sehingga menampilkan perilaku yang natural/ alamiah/ wajar.Kelemahannya diantaranya guru harus melakukan dua kegiatan sekaligus, maka ketelitian observasi sedikit terganggu. Pencatatan hasil observasi tidak dilakukan saat observasi dilaksanakan dapat mengakibakan catatan menjadi tidak lengkap dan banyak terlupakan.

 Observasi Non-Partisipatif (non paticipative observation)

(15)

yang tidak sesungguhnya. Maka observasi ini sebaiknya dilakukan dari jauh.

Kelebihan Observasi;

a. Dapat dipergunakan untuk memperhatikan berbagai gejala tingkah laku murid

b. Observasi memungkinkan pencatatan serempak dengan kejadian yang penting

c. Baik digunakan sebagai teknik untuk melengkapi data yang diperoleh dari teknik lain.

d. Pengumpul data tidak perlu mempergunakan bahasa utuk berkomunikasi dengan objek yang ditelaah.

Kelemahan Observasi;

a. Banyak hal yang tidak bisa diamati secara langsung

b. Apabila murid mengetahui bila sedang di observasi cenderung melakukan kegiatan yang dibuat- buat,

c. Timbulnya kejadian yang akan diobservasi tidak selalu dapat diramalkan sebelumnya sehingga pengamat sukar menentukan waktu yang tpat untuk melakukan obsrvasi. d. Tergantung pada faktor- faktor yang tidak dapat dikontrol.

Data dari Observasi bagi kepentingan Bimbingan dan Konseling :

(16)

b. Kegiatan di luar kelas: belajar dan berlatih di perpustakaan, kunjungan karyawisata.

c. Kegiatan ekstrakurikuler : keorganisasian, keolahragan, kesenian, keagamaan, sosial.

d. interaksi sosial di sekolah: interaksi dengan guru, sesama murid,teman dalam kegiatan khusus(upacara, piknik).

Penggunaan a. Sasaran

Sasaran obeservasi adalah tingkah laku konseli. Yang meliputi :

· Ekspresi verbal/ non verbal

· Aspek perilaku individu, kelompok dan situasinya

· Waktu, lokasi, penampakan eksterior (cara berjalan, gaya pakaian), gaya bahasa

b. Cara Penggunaan observasi.

Agar observasi bisa dilakukan dengan baik, maka perlu dilakukan perencanaan secara cermat dalam bentuk pedoman observasi

a. Menetapkan tujuan observasi

b. Memastikan dan memahami materi observasi

c. Menggali variabel-variabel observasi yaitu bagian penting dari apa yang akan diobservasi. Misal yang akan diobservasi adalah siswa maka variabelnya misalnya gaya berpakaian, cara berjalan.

d. Menggali sub variabel

(17)

f. Alat bantu obeservasi antaa lain dafta riwayat kelakuan, catatan anekdot, daftar cek , skala penilaian, alat bantu mekanik (recorder)

2.3.2. Wawancara (Interview)

Teknik untuk mengumpulkan informasi melalui komunikasi langsung dengan responden( orang yang dimintai informasi). Kelebihan :

 Teknik yang paling tepat untuk mengugkapkan keadaan pribadi murid secara mendalam

 Dapat dilakukan terhadap setiap tingkatan umur  Dapat diselenggarakan serempak dengan observasi

 Digunakan untuk pelengkap data yang dikumpulkan dengan teknik lain

Kekurangan :

 Tidak efisien, yaitu tidak dapat menghemat waktu secara singkat

 Sangat tergantung pada kesediaan kedua belah pihak  Menuntut penguasaan bahasa dari pihak pewanwancara.

Macam- macam wawancara :

a. Wawancara pengumpulan data( informational interview) Merupakan tanyajawab yang dilakukan antara guru dengan murid dengan maksud untuk mendapatkan data atau fakta murid

(18)

Dialog antara guru dengan murid dengan maksud membantu murid memecahkan masalah yang sedang dihadapinya.

c. Wawancara disiplin (diciplinary interview)

Proses wawancara yang dilakukan seorang guru untuk menegakkan disiplin

d. Wawancara penempatan (placement interview)

Wawancara yang diadakan dengan maksud membantu dalam penempatan di kelas, dalam kelompok, ekstrakurikuler, latihan, dll.

Data yang menggunakan teknik wawancara hendaknya dibatasi karena bersifat individual, maka tidak mungkin melakukan wawancara dalam waktu terlalu lama.

Penggunaan Wawancara a. Sasaran

Sasaran terkait subjek yang akan diwawancarai adalah Konseli dan klien, selain itu juga guru mata pelajaran, wali kelas siswa, orang tua atau narasumber yang terkait permasalahan siswa.

Sasaran terkait objek yang didapat antara lain :

· Latar belakang keluarga (data org tua, suasana keluarga) · Riwayat sekolah (jenjang pendidikan yang pernah diikuti) · Minat terhadap suatu bidang

· Pengalaman diluar sekolah (organisasi)

· Kesehatan jasmani (penyakit, gangguan alat indra dsb) b. Cara menggunakan teknik wawancara

· Persiapan pertanyaan

(19)

· Berpegang pada urutan fase dalam wawancara (fase pembukaan mencptakan suasana yang menyenakgan, fase inti diajukan pertanyaan sesuai informasi, fase pentutup ucapan terima kasih

· Menunjukan sikap yang serasi

· Bertidak asertif selama proses wawancara berlangsung · Merumuskan pertayaan dalam corak bahasa yg jelas dan

mudah ditangkap

· Tidak memaksa siswa untuk yang sulit berbicara atau lambat bicara untuk memberikan penjelasan yang terlalu panjang lebar.

· Membatasi lamanya wawncara

· Menghindari perumusan pertanyaan yang sugestif (pertanyaan tetutup )yang jawabannya ya / tidak

· Waspada tentang informasi yang diberikan tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya

· Mencatat seperlunya

2.3.3. Angket (kuesioner)

Alat pengumpul data (informasi) melalui komunikasi tidak langsung yaitu melalui tulisan. Angket ini berisi daftar pertanyaan yang bertujuan mengumpulkan keterangan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan responden (murid).

Beberapa petunjuk untuk menyusun angket :

(20)

 Hindarkan pemakaian kata –kata yang sulit dipahami  Hindarkan pertanyaan- pertanyaan yang tidak perlu  Pertanyaan jangan bersifat memaksa untuk dijawab

 Hindarkan kata- kata yang bersifat negatif dan menyinggung perasaan responden(murid)

jenis-jenis Angket

Ada pelbagai macam angket. Berikut ini akan dijelaskan satu persatu:

1.Dilihat dari sumber datanya, angket dapat dibedakan sebagai berikut.

a.Angket langsung, yaitu apabila angket tersebut langsung diberikan kepada orang yang dimintai pendapat atau jawabannya atau responden yang ingin diselidiki. Jadi, kita mendapatkan data dari sumber pertama (first resource), tanpa menggunakan perantara untuk memperoleh jawaban.

Misalnya: angket siswa.

b. Angket tidak langsung, yaitu apabila angket disampaikan kepada orang lain yang dimintai pendapat tentang keadaan seseorang. Jenis angket ini membutuhkan perantara untuk mendapatkan data sehingga jawaban yang diperoleh tidak dari sumber pertama Misalnya: angket orangtua tentang anaknya, angket guru tentang siswanya, dan lain-lain

(21)

a. Angket berstruktur, ialah angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan beserta jawabannya yang jelas, singkat, dan konkret

b. Angket tidak berstruktur, ialah angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang menghendaki jawaban yang bebas dan uraian yang panjang lebar dari responden.

3. Berdasarkan jenis pertanyaannya, angket dibedakan sebagai berikut.

a.Pertanyaan terbuka (open questions), yaitu angket yang memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada responden untuk memberikan jawaban atau tanggapannya. Biasanya jenis angket ini digunakan apabila ingin

mendapatkan opini. Contoh::

”Menurut pendapat Anda, ciri-ciri kepribadian manakah yang cocok sebagai profil ketua kelas?”

b.Pertanyaan tertutup (closed questions), yaitu pertanyaan-pertanyaan yang membuat responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan di dalam angket itu. Jadi, jawabannya terikat. Responden tidak dapat memberikan jawaban secara bebas seperti yang mungkin dikehendaki oleh responden. Biasanya jika masalah yang hendak dicari jawabannya sudah jela,s maka orang akan menggunakan jenis angket ini.

Contohnya:

(22)

c. Kombinasi terbuka dan tertutup (open and closed questionaire), yaitu jika jawabannya sudah ditentukan, kemudian disusul pertanyaan terbuka.

Contoh:

Pernahkah Anda mendapat penjelasan tentang jenis-jenis gaya belajar?

a. Pernah b. Tidak pernah

Jika pernah, gaya belajar Anda sekarang termasuk gaya belajar yang mana?

4. Menurut bentuk jawabannya, angket dibedakan sebagai berikut.

a. Jawaban tabuler, yaitu responden diminta menjawab dengan mengisi kolom-kolom pada tabel yang sudah tersedia.

b. Jawaban berskala, yaitu jawaban terhadap pertanyaan disusun berjenjang di mana responden diminta menyatakan pembenaran atau penolakan terhadap setiap pertanyaan sikap, sehingga diperoleh gambaran tentang derajat kecakapan, keadaan sikap dan keadaan diri responden.

Contoh:

”Penguasaan berhitung dalam pelajaran matematika saya adalah:”

Baik Cukup Kurang

(23)

Contoh:

”Apakah alasan Anda masuk Kuliah?”

a.untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi b.disuruh oleh orangtua

c. disuruh oleh kakak/ saudara d. karena ajakan teman

e.untuk memperoleh pekerjaan f.atas nasihat guru

g. tidak tahu h. ………..

d. Jawaban kategorikal, yaitu responden diminta memilih satu diantara dua pilihan yang tersedia. Dapat juga dikatakan bahwa jawaban kategorikal ini bentuk jawaban benar-salah. Contoh:

“Apakah Anda mengikuti les?” Ya Tidak

“Orangtua saya sangat memperhatikan kebutuhan belajar saya”

Benar Salah

2.3.4. Catatan Anekdot

Merupakan catatan otentik hasil observasi yang menggambarkan tingkah laku murid dalam situasi khusus.

Dengan anekdot guru dapat;

(24)

 Memperoleh pemahaman tentang penyebab dari gejala tingkah laku murid

 Memudakan dalam menyesuaikan diri dengan kebuthan murid.

Catatan anekdot yang baik memiliki syarat, diantaranya:

 Objektif, catatan dibuat secara rinci tentang perilaku murid. Untuk mempertahankan objektivitas catatan sebaiknya dibuat sendiri oleh guru, pencatatan dilakukan segera setelah peristiwa terjadi, deskripsi dari suatu peristiwa dipisahkan dari tafsiran pencatatan sendiri.

 Deskriptif, catatan yang menggambarkan diri murid secara lengkap tentang suatu peristiwa mengenai murid.

 Selektif, situasi yang dicatat dalah situasi yang relevan dengan tujuan dan masalah yang sedang menjadi perhatian guru dengan situasi kondisi murid.

2.3.5. Otobiografi (Riwayat atau Karangan Pribadi) dan Catatan Harian

Karangan pribadi ini merupakan ungkapan pribadi murid yang sifat nya rahassia tentang pengalaman hidupnya, cita-citanya, keadaan keluarganya, dsb. Karangan pribadi ini merupakan cara untuk memahami keadaan pribadi murid yang pada umumnya bersifat rahasia.

Penggunaan Otobiografi mempunyai beberapa kelemahan :

(25)

• Peristiwa-peristiwa lama seringkali banyak yang terlupakan • Ada kecenderungan murid membuang hal-hal yang kurang sesuai dengan harapan murid dan menggantinya dengan hal yang sesuai.

• Seringkali murid tidak mau memberikan otobiografinya dibaca oleh orang lain

Karangan pribadi dalam pembuatannya dibagi menjadi dua, yaitu :

• Terstruktur

Karangan pribadi yang disusun berdasarkan tema (judul) yang telah ditentukan sebelumnya.

Contoh : Cita-citaku, Keluargaku, Liburanku. • Tidak Terstruktur

Karangan pribadi yang dibuat secara bebas, tidak ditentukan kerangka karangan sebelumnya.

2.3.6. Sosiometri

Teknik ini bertujuan memperoleh informasi tentang hubungan atau interaksi social (saling penerimaan atau penolakan) diantara murid dalam suatu kelas, kelompok, kegiatan ekstra kurikuler, organisasi kesiswaan,dll. Melalui teknik ini guru dapat mengetahui tentang :

• Murid yang popular (banyak disenangi teman) • Yang terisolir ( tidak dipilih/ tidak disenangi teman) • Klik ( kelompok kecil dengan anggota 2-3 orang murid)

(26)

• Memperbaiki hubungan insani (humam relation) diantara anggota-anggota kelompok tertentu (murid-murid di kelas). • Menentukan kelompok belajar atau kerja

• Meneliti kemampuan memimpin seorang individu (murid) dalam kelompok tertentu untuk suatu kegiatan tertentu. 2.3.7. Studi Kasus

Studi kasus merupakan teknik mempelajari perkembangan seorang murid secara menyeluruh dan

mendalam serta mengungkap seluruh aspek pribadi murid yang datanya diperoleh dari berbagai pihak , seperti dari setiap guru, ornga tua, dokter, atau pihak yang berwenang.

Penggunaan teknik ini bertujuan untuk memahami pribadi murid dengan lebih menyeluruh, dan membantunya agar murid dapat menegembangkan dirinya secara optimal.

Dalam pelaksanaan studi kasus ini dapat ditempuh langkah-langkah:

• Menemukan murid yang bermasalah • Memperoleh data

• Menganalisis data

• Memberikan layanan bantuan.

2.3.8. Konferensi Kasus

(27)

kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan siswa (konseli).

Memang, tidak semua masalah yang dihadapi siswa (konseli) harus dilakukan konferensi kasus. Tetapi untuk masalah-masalah yang tergolong pelik dan perlu keterlibatan pihak lain tampaknya konferensi kasus sangat penting untuk dilaksanakan. Melalui konferensi kasus, proses penyelesaian masalah siswa (konseli) dilakukan tidak hanya mengandalkan pada konselor di sekolah semata, tetapi bisa dilakukan secara kolaboratif, dengan melibatkan berbagai pihak yang dianggap kompeten dan memiliki kepentingan dengan permasalahan yang dihadapi siswa (konseli).

Kendati demikian, pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Artinya, tidak semua pihak bisa

disertakan dalam konferensi kasus, hanya mereka yang

dianggap memiliki pengaruh dan kepentingan langsung dengan permasalahan siswa (konseli) yang boleh dilibatkan dalam konferensi kasus. Begitu juga, setiap pembicaraan yang muncul dalam konferensi kasus bersifat rahasia dan hanya untuk diketahui oleh para peserta konferensi.

Konferensi kasus bukanlah sejenis “sidang pengadilan” yang akan menentukan hukuman bagi siswa. Misalkan,

(28)

bagaimana cara terbaik agar siswa tersebut bisa sembuh dari ketergantungan narkoba.

Tujuan Secara umum, tujuan diadakan konferensi kasus yaitu untuk mengusahakan cara yang terbaik bagi pemecahan masalah yang dialami siswa (konseli) dan secara khusus konferensi kasus bertujuan untuk:

1.Mendapatkan konsistensi, kalau guru atau konselor ternyata menemukan berbagai data/informasi yang dipandang saling bertentangan atau kurang serasi satu sama lain (cross check data)

2.Mendapatkan konsensus dari para peserta konferensi dalam menafsirkan data yang cukup komprehensif dan pelik yang menyangkut diri siswa (konseli) guna memudahkan

pengambilan keputusan

3.Mendapatkan pengertian, penerimaan, persetujuan dari komitmen peran dari para peserta konferensi tentang permasalahan yang dihadapi siswa (konseli) beserta upaya pengentasannya.

2.3.9. Kunjungan Rumah (Home Visit)

Home Visit adalah salah satu tehnik pengumpul data dengan jalan mengunjungi rumah siswa untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa dan untuk melengkapi data siswa yang sudah ada yang diperoleh dengan tehnik lain (WS.Winkel, 1995).

(29)

1.Membangun hubungan antara lembaga keluarga, sekolah dan masyarakat.

2.Mengumpulkan data yang berharga tentang latar belakang kehidupan anak dan keluarganya, mengumpulkan data dapat berarti mendapat data baru atau mengecek betul tidaknya data yang diperoleh melalui metode lain.

3.Lebih mengenal lingkungan hidup siswa sehari-hari, bila informasi yan dibutuhkan tidak dapat diperoleh melalui angket dan wawancara informasi.

4.Untuk membicarakan kasus seorang siswa bila memerlukan kerjasama dengan orang tua.

BAB III PENUTUP 3.1. KESIMPULAN

(30)

Teknis tes merupakan upaya pembimbingan untuk memahami murid dengan menggunakan alat-alat yang sifatnya mengukur. Yang dikategorikan kedalam: tes kecerdasan, tes bakat dan tes prestasi belajar.

Teknis non tes merupakan prosedur pengumpulan data yang dirancang untuk memahami murid bersifat kualitatif, menggunakan alat yang bersifat mendeskripsikan saja. Yang dikategorikan kedalam: Observasi, Wawancara, Angket, Catatan Anekdot, Otobiografi, Sosiometri dan Studi Kasus.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Amin &Setiawati. (2009). Bimbingan Konseling, Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud

http://uyunkachmed.blogspot.com/2011/10/teknik-nontes-untuk-memahami-peserta.html

(31)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...