• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA TULIS ILMIAH AGRIXPLOSION UNS TAHU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KARYA TULIS ILMIAH AGRIXPLOSION UNS TAHU"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

i

AgriXplosion 2017

Agricultural Extension Planning of Some Innovation

PEMANFAATAN ZINC TERHADAP TITER ANTIBODI PENYAKIT ND DAN PRODUKTIVITAS AYAM PETELUR UMUR 37 SAMPAI 44 MINGGU

Optimalisasi Sumber Daya

Oleh

1. Faizal Bayu Kusworo (06 2 4 14 551) 2. Rayndra Syahdan Mahmudin (06 2 4 14 565) 3. Feri Kurniawan (06 2 4 14 524)

SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN MAGELANG JURUSAN PENYULUHAN PETERNAKAN

(2)

ii

(3)

iii

LEMBAR ORISINALITAS KARYA

Yang bertanda tangan di bawah ini :

1. Nama : Feri Kurniawan

Jurusan : Penyuluhan Peternakan

Jabatan : Ketua Kelompok

2 Nama : Rayndra Syahdan Mahmudin

Jurusan : Penyuluhan Peternakan

Jabatan : Anggota I

3 Nama : Faizal Bayu Kusworo

Jurusan : Penyuluhan Peternakan

Jabatan : Anggota II

Menyatakan bahwa karya tersebut asli buatan sendiri, bukan jiplakan dan belum pernah menjuarai lomba sejenis sebelumnya. Pernyatan ini kami buat dengan sebenar-benarnya. Apabila dikemudian hari terbukti tidak benar, saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh pihak panitia LOMBA KARYA TULIS ILMIAH NASIONAL AgriXplosion 2017 (Agricultural Extension Planning of Some Innovation)

Magelang, 25 September 2017

(__________________)

PEMANFAATAN ZINC

(4)

iv

TERHADAP TITER ANTIBODI PENYAKIT ND DAN PRODUKTIVITAS AYAM PETELUR UMUR 37 SAMPAI 44 MINGGU

Faizal Bayu Kusworo Rayndra Syahdan Mahmudin

Feri Kurniawan

Mahasiswa Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang

ABSTRAK

Peternak belum memperhatikan keseimbangan kebutuhan mineral dalam tubuh ayam, sehingga dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh penggunaan zinc terhadap peningkatan titer antibodi penyakit ND, berat telur, ketebalan kerabang telur dan produksi telur pada ayam petelur. Ayam sebanyak 40 ekor dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok kontrol 10 ekor tanpa pemberian zinc/menggunakan air minum biasa, Kelompok P1 10 ekor dengan pemberian zinc dosis 1 ml/liter air minum, Kelompok P2 10 ekor dengan pemberian zinc dosis 2 ml/liter air minum, Kelompok P3 10 ekor dengan pemberian zinc dosis 3 ml/liter air minum. Pemberian zinc dilakukan pada pagi hari pukul 08.00 setiap hari dengan pemberian satu kali sehari. Titer antibodi terhadap penyakit NewCastle Disease (ND) diukur menggunakan serum yang diambil pada 40 ekor ayam baik kontrol dan perlakuan 1, 2, dan 3 sebanyak 1 ml pada umur 44 minggu. Berat telur diukur dengan menimbang telur yang dihasilkan setiap hari oleh semua ayam sampel dengan menggunakan timbangan elektrik. Pengukuran berat telur mulai dilakukan pada umur 37 minggu sampai dengan 44 minggu. Tebal kerabang telur diukur dengan menggunakan cutimeter pada setiap telur yang dihasilkan setiap hari oleh semua ayam sampel. Pengukuran ketebalan telur mulai dilakukan pada umur 37 minggu sampai dengan 44 minggu. Produksi telur diukur dengan menghitung persentase produksi telur setiap hari oleh semua ayam sampel. Pengukuran berat telur mulai dilakukan pada umur 37 minggu sampai dengan 44 minggu. Data titer antibodi, berat telur, ketebalan kerabang telur, dan produksi telur dianalisis menggunakan ANOVA, dan bila terdapat perbedaan yang nyata diuji lanjut dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penggunaan zinc dapat meningkatkan titer antibodi ayam petelur terhadap penyakit ND dan memperlama masa vaksinasi ulang penyakit ND. Penggunaan zinc dapat meningkatkan berat telur dan meningkatkan ketebalan kerabang. Penggunaan zinc dapat mempertahankan produksi telur pada umur 37-44 minggu setelah melewati puncak produksi. Dosis zinc yang optimal untuk digunakan sebanyak 2 ml tiap 1 liter air minum

(5)

v PRAKATA

Puji dan Syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan rahmat karunia-Nya, karya tulis tentang Pemanfaatan Zinc Terhadap Titer Antibodi Penyakit ND dan Produktivitas Ayam Petelur Umur 37 sampai 44 Minggu ini dapat tersusun.

Karya tulis ini disusun sebagai syarat untuk mengikuti Lomba Karya Ilmiah dalam rangka Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (AgriXplosion 2017)

Dalam kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Ir. Ali Rachman., M.Si., selaku ketua STPP Magelang.

2. Teguh Susilo, S.Pt., M.,Si., selaku Wakil Ketua III STPP Magelang. 3. Drh. Budi Purwo Widiarso, M.P., selaku Dosen Pembimbing.

4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini.

Karya tulis ini jauh dari sempurna, maka mohon kritik, saran dan maaf yang sebesar – besarnya apabila ada kesalahan.

Magelang 25 September 2017

(6)

vi DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHANLEMBAR ORISINALITAS KARYA ... i

PRAKATA ... v

DAFTAR TABEL ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1. Latar Belakang ... 1

2. Rumusan Masalah ... 2

3. Tujuan Penelitian ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3

1. Fungsi Mineral Zinc ... 3

2. Metabolisme Zinc ... 4

3. Defisiensi Mineral Zn ... 5

4. Peran Zn Terhadap Imunitas ... 8

5. Ayam Petelur ... 9

6. Landasan teori ... 10

7. Hipotesis ... 11

BAB III METODE PENELITIAN ... 12

1. Alat dan Bahan ... 12

2. Hewan Percobaan ... 12

3. Variabel penelitian ... 12

4. Rancangan Percobaan ... 12

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 14

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 17

(7)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Titer antibodi ayam petelur 37-44 minggu akibat penggunaan zinc... 14 2. Berat telur ayam petelur umur 37-44 minggu akibat penggunaan zinc... 15 3. Ketebalan kerabang telur ayam petelur umur 37-44 minggu akibat

penggunaan zinc...

15 4. Produksi telur ayam petelur pada umur 37-44 minggu akibat penggunaan

zinc...

(8)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Peternak ayam petelur umumnya hanya memperhatikan kebutuhan protein dan asam aminonya saja ketika untuk menambah performans ayamnya. Peternak belum memperhatikan keseimbangan mineral dalam tubuh ayam. Selama ini mineral yang sering digunakan hanya kalsium saja untuk kepentingan membantu meningkatkan ketebalan kerabang sehingga tidak mudah pecah. Padahal mineral yang dibutuhkan tidak hanya mineral makro saja, namun mineral mikro seperti zinc sangat diperlukan dalam peningkatan performans ayam petelur (Rinastiti et al.,2014).

Zinc (Zn) merupakan salah satu mineral mikro yang memiliki fungsi dan kegunaan penting bagi tubuh. Zn dibutuhkan oleh berbagai organ tubuh, seperti kulit, mukosa saluran cerna dan hampir semua sel membutuhkan mineral ini. Dampak yang ditimbulkan akibat kurangnya mineral ini adalah terjadinya penurunan nafsu makan sampai pada gangguan sistem pertahanan tubuh. Pada unggas petelur rendahnya kadar Zn dalam darah dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pembentukan telur, kematian fetus secara dini dan dapat menyebabkan telur mengalami egg binding. Selama masa produksi telur, ayam petelur dituntut mampu menyediakan nutrien yang cukup agar dapat mempertahankan produksi telur dan memenuhi kebutuhan untuk menjaga ketahanan tubuh ayam.Kegagalan mempertahankan produksi sering terjadi akibat menurunnya nafsu makan, yang dipicu oleh rendahnya kualitas pakan dan suplemen yang tersedia (Underwood, 2001). Rendahnya ketersediaan zat gizi dalam pakan atau ketidak cukupannya berakibat pada terganggunya sistem pertahanan tubuh dan disertai menurunnya tingkat produktivitas ternak (Salgueiro et al., 2000; Tanaka et al., 2001).

(9)

2

penting dalam mengoptimalkan fungsi sistem tanggap kebal (Paik, 2001).

Penurunan sistem tanggap kebal serta meningkatnya kejadian infeksi dapat diakibatkan oleh rendahnya kadar Zn di dalam tubuh. Defisiensi Zn yang parah dicirikan dengan menurunnya fungsi sel imun dalam menghadapi agen infeksi. Zn mampu berperan di dalam meningkatkan respon tanggap kebal secara non- spesifik maupun spesifik. Sel makrofag yang berperan di dalam sistem tanggap kebal akan mengalami kendala dalam membunuh agen infeksi intraseluler, menurunnya produksi sitokin dan kendala dalam proses fagositosis. Respon imun yang terganggu menyebabkan terjadinya perubahan resistensi terhadap infeksi. Oleh karena itu, kecukupan mineral Zn perlu mendapat perhatian mengingat perannya di dalam meningkatkan sistem kebal tubuh dan pengaruhnya terhadap produktivitas ternak.Oleh karena itu perlu dikaji yang lebih mendalam tentang penggunaan zinc terhadap performans produksi ayam petelur.

2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah :

1. Belum diketahuinya pengaruh penggunaan zinc dalam peningkatan titer antibodi terhadap penyakit ND pada ayam petelur

2. Belum diketahuinya pengaruh penggunaan zinc terhadap berat telur, ketebalan kerabang telur, dan produksi telur.

3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengetahui pengaruh penggunaan zinc terhadap peningkatan titer antibodi penyakit ND pada ayam petelur.

(10)

3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Fungsi Mineral Zinc

Zinc (Zn) memegang peranan penting terutama dalam proses fisiologis dan metabolisme ternak. Zn juga berfungsi di dalam sintesis beberapa hormon seperti insulin dan glukagon, serta berperan dalam metabolisme karbohidrat, keseimbangan asam basa dan metabolisme vitamin A (Linder, 1992), sintesis asam nukleat (RNA, DNA) polimerase dan sintesis protein (Lieberman dan Bruning, 1990). Zn dibutuhkan oleh kerja enzim dan Zn dikenal sebagai katalisator beberapa enzim. Lebih dari 300 enzim memerlukan Zn seperti enzim dehidrogenase, superoksida dismutase, alkalin fosfatase, aminopeptidase, karboksipeptidase dan collagenase (Underwood, 2001). Zn juga berperan untuk pertumbuhan dan pembelahan sel, perkembangan seksual, produksi sperma yang sehat, pembentukan embrio, berperan selama kehamilan dan mengaktifkan hormon pertumbuhan. Selain itu, Zn juga penting dalam pengecapan, serta nafsu makan. Zn merupakan komponen penting pada struktur dan fungsi membran sel. Zn berfungsi sebagai antioksidan, dan melindungi tubuh dari serangan lipid peroksidase (Lieberman dan Bruning, 1990). Mineral ini mampu menghambat terjadinya apoptosis yaitu kematian sel yang terprogram yang diatur oleh gen (Truong Tran et al., 2000).

(11)

4 2. Metabolisme Zinc

Hampir setiap sel membutuhkan mineral Zn agar tetap hidup sehat dan dapat berfungsi dengan baik, akan tetapi tidak banyak yang mengetahui proses pengaturan Zn di dalam sel. Sumber Zn pada pakan ternak cukup tinggi dijumpai pada tepung tulang (75 – 100 mg/kg BK), sereal dan leguminosa. Zn yang terkandung dalam pakan baik dalam rumput maupun konsentrat akan mengalami proses pemecahan dalam saluran pencernaan. Absorpsi Zn lebih merupakan refleksi permintaan fisiologis tubuh akan Zn. Hewan yang kekurangan Zn akan mengabsorpsi lebih banyak (hampir 80%) Zn pakan akan diserap oleh tubuh. Penyerapan Zn terjadi di duodenum, ileum dan jejunum dan hanya sedikit terjadi di kolon ataupun lambung, absorbsi terbesar terjadi di ileum. Penyerapan Zn sekitar 30 sampai 60%, dipengaruhi oleh jumlah dan imbangan mineral lain serta susunan ransum dan bentuk kimia Zn. Faktor yang berpengaruh dalam membantu penyerapan Zn diantaranya adalah metionin, histidin, sistein, sitrat, pikolinat. Sedangkan yang menghambat penyerapan Zn diantaranya kadmium (Cd), cuprum(Cu), fosfor (P), besi (Fe) dan oksalat. Kandungan kalsium yang tinggi dan keberadaan asam fitat dapat menghambat penyerapan Zn dan diduga merupakan faktor penyebab kejadian defisiensi sekunder Zn pada babi dan unggas (Prasad, 1991).

(12)

5

dalam leukosit. Zn dalam eritrosit, hampir semuanya secara eksklusif sebagai komponen enzim karbonik anhidrase (Underwood, 2001). Rata-rata konsentrasi Zn dalam darah ternak adalah 0,25 – 0,60 mg/ml, dalam plasma 0,1 – 0,2 mg/ml dengan fluktuasi tergantung kepada spesies dan umur. Di dalam sel, Zn++ berikatan dengan Zur protein yang mengatur jumlah masuknya Zn ke dalam sel. Jika terjadi kelebihan Zn maka protein Zur dengan cepat memindahkan dan mengeluarkannya dari sel (Bradley, 2003). Zn dibutuhkan untuk perkembangan fetus. Selama laktasi, Zn diekskresikan sebanyak 2 – 3 µg/ml melalui susu, 1 – 5 mg melalui keringat, 0,3 - 0,6 mg melalui urin, dari pankreas 4 – 5 mg melalui feses (Linder, 1992)

3. Defisiensi Mineral Zn

(13)

6

setelah operasi. Defisiensi Zn diklasifikasikan sebagai defisiensi ringan, menengah dan berat. Defisiensi ringan sering dihubungkan dengan faktor cekaman atau stres. Kadar normal Zn serum darah pada ternak unggas berkisar antara 0,8 – 1,2 ppm. Defisiensi menengah dapat dilihat pada gejala sub-klinis yang ditimbulkannya seperti menurunnya Zn plasma dan respon kekebalan tubuh ternak. Defisiensi berat dapat dilihat dari gejala klinis yang ditimbulkannya seperti dermatitis, anorexia dan parakeratosis (Underwood,2001).

Gejala yang terlihat akibat defisiensi Zn berupa penurunan nafsu makan, diare, pertumbuhan terlambat, penurunan daya tahan, dan meningkatnya kepekaan terhadap infeksi (Salgueiro et al., 2000). Manifestasi klinis pada defisiensi Zn berbeda-beda antar spesies hewan. Gejala sangat bervariasi, tergantung pada beberapa hal, seperti derajat dan lamanya defisiensi. Beberapa kelompok yang rentan terhadap defisiensi Zn dapat dijumpai pada waktu masa produksi telur, usia tua dan pada masa pertumbuhan.

(14)

7

menurunnya produksi sitokin (Tanaka et al., 20 01; Klaus dan Rink, 2003). Defisiensi zinc dapat menyebabkan meningkatnya kepekaan terhadap infeksi (Salgueiro et al., 2000; Tanaka et al., 2001). Dampak lain defisiensi Zn terhadap imunitas spesifik menyebabkan penurunan jumlah absolut limfosit B. Hal ini disebabkan oleh induksi apoptosis pada sel tersebut. Defisiensi Zn bertanggung jawab terhadap terjadinya atropi timus, sehingga akan mempengaruhi diferensiasi sel T dan fungsinya dalam darah perifer. Pada defisiensi Zn ditemukan limfopenia yaitu menurunnya jumlah sel limfosit di dalam darah. Akibat defisiensi mineral ini fungsi imun baik pusat maupun perifer akan terganggu. Hal ini ditandai dengan rendahnya aktivitas timulin, turunnya fungsi sel T penolong (helper), terganggunya aktivitas sel pembunuh alami dan menurunnya fungsi makrofag serta neutrofil. Sistem imun yang lemah tersebut akan memudahkan serangan dari berbagai patogen (Klaus dan Rink, 2003).

(15)

8

dapat mengurangi imunokompeten dan resistensi terhadap infeksi. Defisiensi Zn menurunkan proliferasi dan sekresi sitokin oleh sel leukosit dan menyebabkan infeksi oportunistik yang frekuen (Fatmah, 2006).

4. Peran Zn Terhadap Imunitas

Sistem imunitas dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, asap, iritan, debu, bahan organik maupun anorganik yang dijumpai pada lingkungan sekitar.Secara umum respon tanggap kebal dapat dibedakan atas respon yang bersifat spesifik dan respon yang bersifat non-spesifik. Respon imun non-spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, oleh karena itu dapat memberikan respon langsung terhadap antigen. Respon imun non-spesifik diawali dari aktivitas sel-sel fagositik terutama neutrofil dan makrofag, merupakan sel pertama yang datang dan bereaksi dengan mikroorganisme. Sedangkan tanggap kebal spesifik membutuhkan waktu untuk mengenal antigen terlebih dahulu sebelum dapat memberikan responnya. Respon tanggap kebal spesifik bisa humoral yang diperantarai oleh sel limfosit B dan seluler yang diperantarai oleh sel limfosit T. Sel limfosit T berperan di dalam eliminasi antigen intraseluler (di dalam sel), sedang antibodi yang diproduksi sel limfosit B bekerja sama dengan sel fagosit dan komplemen berfungsi dalam eliminasi patogen dan antigen ekstraseluler (di luar sel). Mekanisme kerja kedua respon tanggap kebal ini saling menunjang antara satu dengan yang lainnya melaluimediator seperti limfokin dan sitokin (Bratawijaya, 2000).

Zn dibutuhkan oleh sel untuk dapat tumbuh dan berkembang, selain itu Zn juga berperan di dalam perkembangan sel-T, reaksi antigen antibodi dan mempngaruhi fungsi limfosit dan fagositosis (Underwood, 2001). Suplementasi Zn mampu meningkatkan produksi sitokin oleh sel limfosit T helper. Sitokin berperan dalam banyak respon imun seperti aktivasi sel T, sel B, monosit dan makrofag. Zn juga mampu berperan sebagai imunostimulator yaitu mampu meningkatkan sistem kekebalan baik seluler maupun humoral. Upaya untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada sapi dianjurkan penggunaan Zn lebih dari 40 ppm dibandingkan dengan kebutuhan untuk pertumbuhan dan reproduksi (Lieberman dan Bruning, 1990).

(16)

9

seluruh fungsi tanggap kebal dengan cara membentuk serangkaian mediator protein yang disebut limfokin. Peningkatan jumlah limfosit pada suplementasi Zn disebabkan karena Zn mampu meningkatkan produksi limfokin menyebabkan sel limfosit mampu berdiferensiasi dan berproliferasi, dan Zn dibutuhkan oleh sel untuk dapat tumbuh dan berkembang. Zn juga sebagai kofaktor untuk hormon timulin. Defisiensi hormon ini menyebabkan kegagalan dalam proliferasi dan menurunnya fungsi sel limfosit T (Underwood, 2001). Fuchamachi et al. (1998) melaporkan bahwa, suplementasi Zn in vitro mampu meningkatkan rasio antiapoptotic (Bcl-2)/proapoptotic (Bax), yang berakibat pada meningkatnya resistensi sel terhadap apoptosis yaitu kematiansel secara terprogram.

Penelitian yang dilakukan oleh Bires et al. (1992) melaporkan bahwa aktivitas fagositosis meningkat pada pemberian Zn, terjadi peningkatan jumlah monosit sebesar 14% dan granulosit sebesar 86%. Hal senada disampaikan oleh Linder (1992) bahwa ketidak cukupan atau kelebihan mineral Zn dapat menyebabkan rusaknya komponen sistem kekebalan.

Penambahan Zn di dalam pakan juga diamati terhadap kemampuan sel PMN (polimorfonuklear) dalam proses fagositosis. Widhyari (2010) melaporkan bahwa kapasitas fagositosis pada kambing Peranakan Etawah (PE) saat partus nyata lebih tinggi pada kelompok yang diberi tambahan Zn dibandingkan dengan kontrol. Kandungan Zn 60 mg/kg memperlihatkan kemampuan kapasitas fagositosis tertinggi dibandingkan dengan kelompok lainnya

5. Ayam Petelur

Ayam petelur adalah ayam yang khusus dibudidayakan untuk menghasilkan telur secara komersil memiliki 2 tipe yaitu medium dan ringan. Tipe medium umumnya bertelur dengan warna kerabang cokelat sedangkan tipe ringan bertelur dengan warna kerabang putih ( Rasyaf,2001). Ayam petelur tipe medium disebut juga ayam tipe dwiguna atau ayam petelur cokelat yang memiliki berat badan antara ayam tipe ringan dan ayam tipe berat. Strain CP 909 merupakan salah satu ayam petelur tipe medium. Bulu ayam strain CP 909 berwarna cokelat kemerahan. Berat tubuh saat awal produksi 5% hen day

(17)

10

mencapai 300--305 butir pertahun. Berat telur sekitar 60 g. Konsumsi ransum saat produksi 110--120 g/ekor/hari dengan konversi ransum 2,1--2,2 kg ransum (Suprijatna, dkk., 2005).

Gambar 1. Ayam Petelur yang di gunakan untuk percobaan.

Ayam ras petelur yang unggul menghasilkan telur 250 butir pertahun dengan bobot telur rata-rata 57,9 g dan rata-rata produksi telur hen day 70% (Mc Donald, dkk., 2002).

6. Landasan teori

Defisiensi Zn dapat menyebabkan rendahnya sistem imunitas pada ternak sehingga menjadi sangat mudah terserang berbagai penyakit. Kandungan Zn sekitar 40 – 60 mg/kgBK dalam pakan mampu mempertahankan sistem kebal tubuh tetap optimal. Oleh karena itu, untuk meningkatkan respon kekebalan tubuh disarankan memberikan suplementasi Zn di dalam pakan.( Scaletti et al. 2004)

(18)

11

apoptosis dan atrofi timus. Zn penting dalam pengikatan intraselular antara tyrosine kinase dengan reseptor sel T yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan aktivasi dari limfosit T. Zn juga merupakan kofaktor esensial bagi hormon timulin yang dihasilkan timus, yang menginduksi beberapa sel T-marker dan meningkatkan fungsi sel T, termasuk sitotoksisitas alogenik, fungsi supresor dan produksi interleukin-2. Zn memodulasi produksi sitokin pada sel nuklear perifer darah dan menginduksi proliferasi dari CD8+ sel T. Selain itu dampak defisiensi Zn juga dapat menurunkan persentase sel CD90+ di dalam darah dan limpa yang akan disertai dengan penurunan sel T (Hosea et al., 2003).

Yuwanta (2010) menyatakan bahwa apabila ayam bertelur pada umur 20 minggu maka berat telur akan terus meningkat secara cepat pada 6 minggu pertama setelah bertelur, kemudian kenaikan terjadi secara perlahan setelah 30 minggu dan akan mencapai berat maksimal setelah umur 50 minggu.

7. Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini adalah :

1. Penggunaan zinc mampu meningkatkan titer antibodi ayam petelur terhadap penyakit ND dan memperlama masa vaksinasi ulang penyakit ND

(19)

12 BAB III

METODE PENELITIAN

1. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah spuit, timbangan elektrik, kandang ayam baterei, tempat pakan dan minum dan cutimeter. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah ayam petelur, pakan ayam petelur, mineral zinc, kapas, alkohol 70%.

2. Hewan Percobaan

Hewan coba yang digunakan menggunakan ayam layer strain CP 909 umur 37-44 minggu sejumlah 40 ekor. Masing-masing perlakuan menggunakan 10 ekor ayam petelur.Masing-masing ayam petelur ditempatkan dalam kandang baterei dengan tempat pakan dan minum individual.Pakan yang digunakan adalah buatan pabrik untuk masa produksi. Vaksinasi terakhir ND pada umur 36 minggu. Vaksin ulangan dilakukan setiap 8 minggu.

3. Variabel penelitian

Variabel yang diteliti pada penelitian ini adalah titer antibodi terhadap ND dengan mengambil serum darah ayam sebanyak 1 ml. Darah diambil pada ayam umur 44 minggu. Berat telur, ketebalan kerabang dan produksi diambil rata-rata dari umur 37 sampai dengan 44 minggu.

4. Rancangan Percobaan

Ayam sebanyak 40 ekor dibagi menjadi 4 kelompok sebagai berikut : Kelompok kontrol : 10 ekor tanpa pemberian zinc ( air minum biasa )

Kelompok P1 : 10 ekor dengan pemberian zinc dosis 1 ml/liter air minum Kelompok P2 : 10 ekor dengan pemberian zinc dosis 2 ml/liter air minum Kelompok P3 : 10 ekor dengan pemberian zinc dosis 3 ml/liter air minum Pemberian zinc dilakukan pada pagi hari pukul 08.00 setiap hari dengan rentang pemberian satu kali sehari.

a. Titer antibodi

(20)

13

minggu.Darah yang sudah diambil dibiarkan sampai terjadi pemisahan antara plasma dan serum. Serum yang dihasilkan kemudian dianalisis titer antibodi menggunakan uji Hi-test di laboratorium BBVET Kulonprogo DIY.

b. Berat telur

Berat telur diukur dengan menimbang telur yang dihasilkan setiap hari oleh semua ayam sampel dengan menggunakan timbangan elektrik dengan nilai kepekaan 0,1 gram sampai dengan 1000 gram merk Ohaus.pengukuran berat telur mulai dilakukan pada umur 37 minggu sampai dengan 44 minggu.

c. Ketebalan kerabang

Tebal kerabang telur diukur dengan menggunakan cuitmeter pada setiap telur yang dihasilkan setiap hari oleh semua ayam sampel.Pengukuran ketebalan telur mulai dilakukan pada umur 37 minggu sampai dengan 44 minggu.

d. Produksi telur

Produksi telur diukur dengan menghitung persentase produksi telur setiap hari oleh semua ayam sampel.Pengukuran berat telur mulai dilakukan pada umur 37 minggu sampai dengan 44 minggu.

5. Analisis data

(21)

14 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil titer antibodi berdasarkan tabel di bawah ini diketahui bahwa penggunaan zinc dapat meningkatkan titer antibodi setelah 8 minggu. P1 memiliki perbedaan yang nyata terhadap kontrol (P<0,05). Pada P2 memiliki perbedaan yang nyata terhadap P1 dan kontrol (P<0,05), namun P3 tidak memiliki perbedaan yang nyata terhadap P2 (P> 0,05). Hasil sesuai tabel 1 penggunaan zinc yang memberikan hasil yang optimal adalah pada P2 yang menggunakan dosis 2 ml tiap 1 liter air minum

Tabel 1. Titer antibodi ayam petelur 37-44 minggu akibat penggunaan zinc

Perlakuan Titer antibodi (log 10n)

Kontrol 6,23 ± 0,89a

P1 7,35 ± 0,77b

P2 8,67 ± 0,57c

P3 8,70 ± 0,44c

a,b,c

Superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P< 0,05) Hasil titer antibodi yang stabil dititer angka 8, karena pengaruh penggunaan zinc. Menurut Paik (2001) Zn memegang peranan dalam sistem tanggap kebal dan Linder (1992) juga melaporkan ketidak seimbangan mineral Zn dapat menyebabkan rusaknya komponen sistem kekebalan. Zn merupakan mediator potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi dan berperan dalam sistem kekebalan tubuh (Tanaka et al., 2001; Klaus dan Rink, 2003). Zn memiliki beberapa peran penting berhubungan dengan aktivasi sel, ekspresi gen, dan sintesis protein. Zn juga menentukan perkembangan normal sel imun dan berperan penting dalam menjaga aktivitas sel imun, termasuk neutrofil, monosit, makrofag, sel natural killer (NK), serta sel T dan sel B (Prasad et al., 2007). Penurunan sistem tanggap kebal serta meningkatnya kejadian infeksi dapat diakibatkan oleh rendahnya kadar Zn di dalam tubuh. Defisiensi Zn yang parah dicirikan dengan menurunnya fungsi sel imun dalam menghadapi agen infeksi. Zn mampu berperan di dalam meningkatkan respon tanggap kebal secara non- spesifik maupun spesifik.

(22)

15

masih tinggi memungkinkan untuk menunda vaksinasi ulang ND sehingga bisa dihemat biaya vaksinasi berikutnya.

Tabel 2. Berat telur ayam petelur umur 37-44 minggu akibat penggunaan zinc

Perlakuan Berat telur

Superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P< 0,05) Pada tabel 3 dilaporkan bahwa penggunaan zinc pada P3, P2, dan P1 mempunyai perbedaan yang nyata terhadap kontrol (P<0,05), namun pada P3 tidak memilki perbedaan yang nyata terhadap P2 (P>0,05). Zinc diketahui mampu meningkatkan berat telur pada dosis 1 ml, 2 ml dan 3 ml tiap 1 liter air minum. Berdasarkan tabel 2 dosis yang paling optimum meningkatkan berat telur adalah 2 ml tiap 1 liter air minum.

Tabel 3. Ketebalan kerabang telur ayam petelur umur 37-44 minggu akibat penggunaan zinc

(23)

16

kerabang semakin memudar, dan berat telur semakin besar. Hal ini karena ayam tidak mampu memproduksi kalsium yang cukup guna memenuhi keseimbangan kebutuhan mineral seperti kalsium dan zinc dalam pembentukan kerabang telur Kerabang telur yang tipis relatif berpori lebih banyak dan besar, sehingga mempercepat turunnya kualitas telur akibat penguapan (Yuwanta, 2010).

Tabel 4. Produksi telur ayam petelur pada umur 37-44 minggu akibat penggunaan zinc

(24)

17 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Penggunaan zinc dapat meningkatkan titer antibodi ayam petelur terhadap penyakit ND dan memperlama masa vaksinasi ulang penyakit ND

2. Penggunaan zinc dapat meningkatkan berat telur dan meningkatkan ketebalan kerabang,

3. Penggunaan zinc tidak menurunkan produksi telur pada umur 37-44 minggu setelah melewati puncak produksi.

4. Dosis zinc yang optimum digunakan adalah 2 ml tiap 1 liter air minum

2. Saran

(25)

18

DAFTAR PUSTAKA

Adawiah, T., T. Sutardi, W. Toharmat, N. Manalu, Ramli Dan U.H. Tanuwiria. 2007. Respon terhadap suplementasi sabun mineral dan mineral organik serta kacang kedelai sangrai pada indikator fermentabilitas ransum dalam rumen domba. Media Peternakan

30(1): 63 – 70.

Bires, J., I. Linderova, P. Bartko, V. Bajova And E.Kovarova. 1992. Change in the phagocytic activity of blood leukocytes in pregnant dairy cows after the administration of Zindep (Zinc preparation).

Zivocisna-Vyroba 37: 861 – 866.

Bradley. 2003. Zinc Regulations. http://www.acdlabs.com/webzine/ 17/images/zincgr.gif (2 September 2004).

Bratawidjaja, K.G. 2000. Imunologi Dasar. Edisi 4.Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. hlm. 60 – 129.

Buckley, W.T. 2000.Trace Element Dynamics. In: Farm Animal Metabolism and Nutrition. D'Mello, J.P.F. (Ed.). CAB International Publishing, New York. pp.161 – 182.

Cunningham, J.G. 2002. Textbook of Veterinary Physiology. Ed ke-3. W.B. Saunders Company, Philadelphia. pp. 1 – 575.

Engle, T.E. 2001. The role of trace minerals in immunity and lipid metabolism in cattle. In: Proc. of Alltech’s Sixteenth Annual Symposium. Nottingham University Press, USA. pp. 267 – 283.

Fatmah. 2006. Respon Imunitas Yang Rendah Pada Tubuh Manusia Usia Lanjut.. Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat,Universitas Indonesia, Jakarta 10(1): 47 – 53

(26)

19

Ibs, K.H. And L. Rink. 2003. Zinc-altered immune function.J. Nutr. 133: 1452s

– 1456s. http://jn.nutrition.org/cgi/1452s.pdf (15 Juli 2008)

Kendal, N.R., D.W. Jackson, A.M. Mackenzie, D.V.Illingtoworth, I.M. Gill And S.B.Telfer. 2001. The effect of a zinc, cobalt and selenium soluble glass bolus on the trace element status of extensively grazed sheep over winter. Anim. Sci. 73: 163 – 169.

Terjemahan dari: Nutritional Biochemistry and Metabolism. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Mc.Donald,P.,Edwards,R.A.,Greenhalgh, J.F.D. 2010. Animal Nutrition.6th Edition .Longman .London and New York 543 p.Web

Mc Dowell, L.R., J.H. Conrad, G.L. Ellis And J.K. Loosli.1983. Minerals for grazing ruminants in tropical regions. Univ. of Florida. Dep. Anim. Sci. Ext. Bull.

Paik, I.K. 2001. Application of chelated minerals in animal production. Asian-Aust. J. Anim. Sci. 14:191 – 198.

Pinna, K., S.K. Darshan, C.T. Peter And C.K. Janet. 2002.Immune functions are maintained in healthy men with low zinc intake. J. Nutr. 132: 2033 – incidence of infections in the elderly: Effect of zinc on generation of cytokines and oxidative stress. Am. J. Clin. Nutr.85: 837 – 844.

Rasyaf, M. 2001. Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya. Jakarta

Rinastiti, A.L., Sunarti,D., Mahfudz, L.D. 2014. Pemanfaatan Ransum pada Ayam Kampung Umur 12 Minggu dengan Taraf Protein dan Lisin berbeda. Jurnal Pengembangan Penyuluhan Pertanian. Vol 10 (19) hal 68-75. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Magelang.

(27)

20 193 – 205.

Scaletti, R.W., D.M.A. Phillip And R. J. Harmon. 2004.Using Nutrition to Improve Immunity Against Deseases in Dairy Cattle: Copper, Zinc, Selenium and Vitamin E. Departemen of Animal Sci. http://www. Ca.Uky.Edu/Agc/Pubs/Asc/Asc154/Asc154.htm.(7 April 2004).

Shankar, A.H And A.S. Prasad. 1998. Zinc and immune nction: The biological basis of altered resistance to infection. Am. J. Clin. Nutr. 68: 447S – 463S

Suprijatna, E., Atmomarsono, U.,Kartasudjana, R. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tanaka, S., E. Takakahashi, T. Matsui And H. Yano.2001. Zinc promotes adipocyte differentiation in vitro. Asian-Aust. J. Anim. Sci. 14(7): 966 – 969.

Truong Tran, A.Q., L.H. Ho, F. Chai And P.D. Zalewki.2000. Cellular Zinc Fluxes and the Regulation of Apoptosis/ Gene Directed Cell Death. J. Nutr.. 130:1459 – 1466.

Underwood, E.J. And N.F. Suttle. 2001. The Mineral Nutrition of Livestock. CABI Publishing, USA.

Widhyari, S.D., S. Widodo, I.K. Sutama, I.W.T. Wibawan , M.R. Toelihere And A. Esfandiari. 2010. The effect of supplementation of Zincum on leucocyt cell profiles and its phagositosis capacity on Peranakan Etawah goat during peri-parturient period. Proc. of the International Seminar on Production Increases in Meat and Dairy Goats by Incremental Improvements in Technology and Infrastucture for Small-Scale Farmers in Asia. Agustus 2008, Bogor, Indonesia. pp. 88 – 94. Yuwanta, T. 2010.Telur dan Kualitas Telur. Gadjah Mada University Press.

(28)

21

(29)

22

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA PRIBADI:

1. Nama Lengkap : Faizal Bayu Kusworo

2. Tempat,Tanggal Lahir : Magelang, 25 November 1995 3. Domisil : Bandongan , Gondosuli, Muntilan,

Magelang

4. Jenis Kelamin : Laki-Laki

5. Agama : Islam

6. Status : Mahasiswa

7. Tinggi/Berat Badan : 165cm/60kg

8. Telepon : 085725737987

9. Email : [email protected]

RIWAYAT PENDIDIKAN: A. Pendidikan Formal:

1. (2008) Lulus SDN Gondosuli 2- Muntilan 2. (2000) Lulus SMPN 2 Muntilan - Magelang

3. (2003) Lulus SMK NEGERI 1 SALAM - Magelang B. Pendidikan Non-Formal:

1. (2012) Pelatihan Kemah Konservasi TNG Merapi Bersertifikat 2. (2013) Praktik Kerja Lapangan di BPSB Jateng Bersertifikat 3. (2014) Pelatihan PPA di STPP Magelang Bersertifikat

4. (2014) Pelatihan Kemah Mahir Dasar di STPP Magelang Bersertifikat KEMAMPUAN:

1. Mengoperasikan komputer (Ws.Word, Ms. Excel, Power Point) 2. Mampu Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa

(30)

23

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA PRIBADI:

Nama Lengkap : Rayndra Syahdan Mahmudin Tempat,Tanggal Lahir : Magelang, 29 November 1995

Domisil : Bandongan , Gondosuli, Muntilan, Magelang Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama : Islam

Status : Mahasiswa

Tinggi/Berat Badan : 160cm/50kg

Telepon : 085702853080

Email : [email protected]

RIWAYAT PENDIDIKAN: A. Pendidikan Formal:

1. (2008) Lulus MI Losari 2 – Magelang 2. (2000) Lulus SMPN 1 PAKIS – Magelang

3. (2003) Lulus SMK NEGERI 1 NGABLAK - Magelang B. Pendidikan Non-Formal:

1. (2013) Praktik Kerja Lapangan di Doni Farm dan STPP Magelang Bersertifikat

2. (2014) Pelatihan PPA di STPP Magelang Bersertifikat

3. (2014) Pelatihan Kemah Mahir Dasar di STPP Magelang Bersertifikat KEMAMPUAN:

3. Mengoperasikan komputer (Ws.Word, Ms. Excel, Power Point) 4. Mampu Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa

(31)

24

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA PRIBADI:

Nama Lengkap : Feri Kurniawan

Tempat,Tanggal Lahir : Magelang, 19 Juni 996

Domisil : Ngernak, Sukorejo, Tegalrejo , Magelang Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama : Islam

Status : Mahasiswa

Tinggi/Berat Badan : 170cm/ 74kg

Telepon : 085772574522

Email : [email protected]

RIWAYAT PENDIDIKAN: A. Pendidikan Formal:

1. (2008) Lulus SDN Banyusari 1 –Tegalrejo 2. (2011) Lulus SMPN 1 Tegalrejo – Magelang 3. (2014) Lulus SMK NEGERI 1 Ngablak - Magelang B. Pendidikan Non-Formal:

1. (2014) Pelatihan PPA di STPP Magelang Bersertifikat

2. (2014) Pelatihan Kursus Mahir Dasar di STPP Magelang Bersertifikat KEMAMPUAN:

5. Mengoperasikan komputer (Ws.Word, Ms. Excel, Power Point) 6. Mampu Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa

Gambar

Gambar 1. Ayam Petelur yang di gunakan untuk percobaan.
Tabel 2. Berat telur ayam petelur umur 37-44 minggu akibat penggunaan zinc
Tabel 4. Produksi telur ayam petelur pada umur 37-44 minggu akibat penggunaan zinc

Referensi

Dokumen terkait

Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau di Jambi, 22-23 Juni 2007.Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Batanghari, Dinas Peternakan Provinsi Jambi,

Sesuai ketentuan yang ber laku, maka Pokja III KLP Bar ang/ Jasa Pemer intah Kabupaten Tapin akan melakukan kegiatan Pembuktian Kualifikasi kepada peser ta lelang yang

routing pada setiap router secara otomatis walaupun terjadi perubahan kondisi jalur atau

Demikian undangan ini kami sampaikan atas perhatiannya diucapkan

Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Edisi Kedua, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.. Manajemen Strategi, Buku 1, Edisi 10, Salemba Empat,

Telah tersedianya informasi mengenai iklan yang terbit dan berakhir pada hari tersebut sehingga tidak sulit bagi manajer dalam menghubungi pelanggan untuk

Sucofindo masih kesulitan dalam menemukan lokasi pipa secara cepat ketika dibutuhkan yang hanya mengandalkan GPS dalam melakukan inspeksi karyawan tidak mempunyai

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya sikap rasa ingin tahu diperoleh nilai rata-rata 4,1 dengan kriteria rasa ingin tahu siswa baik pada siklus I dan