STUDI HARGA AIR BAKU PADA BENDUNGAN BENDO
KABUPATEN PONOROGO PROVINSI JAWA TIMUR
Intan Fardania Putri1, Rispiningtati2, Ussy Andawayanti2
1Mahasiswa Program Sarjana Teknik Jurusan Pengairan Universitas Brawijaya 2Dosen Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Teknik Pengairan Universitas Brawijaya-Malang, Jawa Timur, Indonesia
Jl. MT. Haryono Gg I No. 21 Malang 65145 Indonesia [email protected]
ABSTRAK
Studi ini mengkaji tentang penetapan harga air baku yang paling rendah. Diharapkan pengembalian modal proyek Bendungan Bendo ini dapat dibebankan pada hasil penjualan air baku. Penentuan kelayakan ekonomi dihitung dengan membandingkan nilai manfaat dan biaya ditinjau terhadap nilai rasio manfaat dan biaya (B/C), selisih manfaat dan biaya (B-C), tingkat pengembalian internal (IRR), periode pengembalian (PBP), dan analisa sensitivitas. Berdasarkan hasil perhitungan, besarnya biaya yang dikeluarkan untuk perencanaan Bendungan Bendo ini adalah biaya modal sebesar Rp. 43.109.414.681 dan biaya operasional dan pemeliharaan sebesar Rp. 277.231.748. Manfaat yang didapat yaitu sebesar Rp. 5.649.734.824. Dasar perhitungan yang digunakan dalam penetapan harga air adalah B/C> 1, IRR> suku bunga yang berlaku. Dari hasil pembahasan diperoleh harga air Rp. 1.500.-/m3. Pada kondisi ini besarnya B/C = 1,124, IRR = 8,24%, dan Analisa Sensitivitas biaya naik 10% dan manfaat turun 10% yang dianggap paling sensitif terhadap nilai biaya dan manfaat. Untuk periode pengembalian (PBP) modal pada tahun ke 8. Sehingga dapat disimpulkan bahwa harga air baku yang paling menguntungkan proyek Perencanaan Bendungan Bendo Kabupaten Ponorogo ini minimal Rp. 1.500,-/m3.
Kata kunci: Harga Air, B/C, B-C, IRR, Analisa Sensitivitas, Payback Period.
ABSTRACT
This study explains about the lowest raw water price fixing which is expected to payback the Bendo-dam project by the sale of raw water. The determination of economic feasibility is calculated by comparing the value of benefit and cost (B/C), deviation of benefit and cost (B-C), internal rate of return (IRR), payback period (PBP), and sensitivity analysis. Based on calculations, which consist the capital cost, Rp. 43.109.414.681 and operating and maintenance cost, Rp. 277.231.748. The tangible benefits Rp. 5.649.734.824. Basic calculations used in the pricing of water is B/C> 1, IRR> prevailing interest rates. Analysis
results the water price Rp. 1.500,-/m3. In this condition, the amount of B/C= 1,124, IRR=
8.24%, and cost of sensitivity analysis 10% increase and benefits 10% decrease which considered the most sensitive to the value of costs and benefits. For the payback period (PBP) capital in the eighth year. Therefore, it can be concluded that the raw water price most favorable the Ponorogo regency, Bendo-dam project planning this a minimum of Rp.
1.500,-/m3.
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Air adalah sumber kehidupan bagi makhluk hidup yang keberadaannya mutlak diperlukan, dengan bertambah tuanya planet bumi ini telah terjadi pemanasan global yang mengakibatkan berkurangnya jumlah volume air hujan (Macdonald, 2001). Air merupakan sumber daya alam yang bersifat permanen jika dikelola dengan baik dan efisien. Namun dengan pertambahan jumlah dan perkembangan penduduk yang cukup pesat, maka pemanfaatan sumber air tersebut menjadi terbatas. Oleh karena itu diperlukan perencanaan sumber daya air yang memadai dengan kemampuan dapat menampung semua manfaat yang dibutuhkan oleh penduduk.
Kabupaten Ponorogo mempunyai potensi sumber daya air permukaan yang bagus seperti Sungai Bendo dan Sungai Madiun, beserta anak - anak sungainya. Namun demikian bangunan sarana penunjang pemanfaatan sumber daya air yang masih perlu ditingkatkan lagi.
Bendungan Bendo merupakan salah satu bendungan yang diusulkan dalam Rencana Induk Proyek Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo, pada tahun 1974. Rencana Bendungan Bendo ini adalah merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan daerah Kabupaten Ponorogo yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya air, guna memenuhi berbagai keperluan masyarakat, seperti penyediaan air irigasi, air baku domestik dan industri serta pengendalian banjir.
1.2 Identifikasi Masalah
Pembangunan proyek Bendungan Bendo ini membutuhkan investasi yang cukup besar, maka sebelum dilaksanakan harus diperhatikan beberapa faktor yang dapat membatalkan pelaksanaannya. Salah satu faktor diantaranya adalah kelayakan
ekonomi proyek. Hal ini disebabkan karena pada setiap investasi akan ditemui permasalahan antara biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang dihasilkan. Perbandingan antara keduanya merupakan salah satu faktor penting yang sangat mempengaruhi kelayakan ekonomi tersebut.
Penentuan harga air baku juga merupakan sebuah tahap awal dari persiapan perencanaan ke depan dari sebuah perusahaan. Tujuannya untuk menghindari sebuah perusahaan mengalami kerugian yang sangat besar dan juga menghindari perubahan ekonomi di masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan suatu analisa penentuan harga air yang dilihat dari sisi produsen dan konsumen, yaitu tarif yang dapat menutup seluruh biaya produksi/operasional perusahaan dan harga air yang sesuai dengan kemampuan masyarakat.
Pada proyek Bendungan Bendo ini pengembalian modal dibebankan pada hasil penjualan air baku. Oleh karena itu yang menjadi masalah pokok dalam kajian ini adalah menetapkan harga jual air baku yang paling ekonomis.
1.3 Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui besarnya harga air yang didapat dari proyek perencanaan Bendungan Bendo, besarnya Nilai Rasio Biaya Manfaat (B/C), Selisih Biaya Manfaat (B-C), Internal Rate of Return (IRR), dan Analisa Sensitivitas dari proyek Bendungan Bendo Kabupaten Ponorogo Provinsi Jawa Timur.
Manfaat dari studi ini adalah memberikan sumbangan pemikiran untuk penetapan dan analisa harga air yang sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan masyarakat pengguna setelah berdirinya proyek Bendungan Bendo tersebut.
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Benefit Cost Ratio (BCR)
Benefit cost ratio adalah salah satu
metode yang sering digunakan dalam tahap-tahap evaluasi awal perencanaan investasi atau sebagai analisis tambahan dalam rangka mengvalidasi hasil evaluasi yang telah dilakukan dengan metode
lainnya. Metode BCR memberikan
penekanan terhadap nilai perbandingan antara aspek manfaat (benefit) yang akan diperoleh dengan aspek biaya dan kerugian yang akan ditanggung (cost) dengan adanya investasi tersebut (Giatman, 2007).
Perbandingan manfaat dan biaya merupakan parameter untuk analisis ekonomi, guna mengetahui apakah proyek itu menguntungkan atau tidak. Secara umum rumus perbandingan antara manfaat dengan biaya adalah (Giatman, 2007):
biaya dari PV manfaat dari PV BCR
Apabila harga B/C lebih dari 1, maka proyek layak dikerjakan. Sebaliknya proyek tidak layak dikerjakan apabila B/C kurang dari 1.
2.2 Net Present Value (NPV)
NPV adalah selisih antara manfaat dengan biaya yang telah di present value kan. Kriteria ini mengatakan bahwa proyek akan dipilih jika NPV > 0. Dengan demikian, jika suatu proyek mempunyai nilai NPV < 0, maka tidak akan dipilih atau tidak layak untuk dijalankan. Nilai NPV dapat dicari dengan menggunakan persamaan (Kadariah, 1988: 40):
Selisih Biaya dan Manfaat = Nilai Sekarang dari Manfaat – Nilai Sekarang dari Biaya
2.3 Internal Rate of Return (IRR)
Tingkat Pengembalian Bunga (internal rate of return) merupakan tingkat suku bunga yang membuat manfaat dan biaya mempunyai nilai yang sama B-C= 0
atau tingkat suku bunga yang membuat B/C= 1.
Apabila biaya dan manfaat tahunan konstan perhitungan IRR dapat dilakukan dengan dasar tahunan, tapi apabila tidak konstan dapat dilakukan dengan dasar nilai coba-coba (trial and error). Perhitungan IRR ini dilakukan dengan mencari nilai
discount rate sehingga nilai present value
manfaat sama dengan nilai present value biaya, atau nilai NPV = 0. Apabila discount
rate yang berlaku lebih besar dari nilai
IRR, maka proyek tersebut menguntungkan, namun apabila discount
rate sama dengan nilai IRR maka proyek
tersebut dikatakan impas.
2.4 Analisa Sensitivitas
Analisa sensitivitas biasanya dilakukan dengan mengubah salah satu elemen proyek (misalnya harga, biaya) dan menghitung nilai IRR nya dengan harga tersebut. Beberapa keadaan yang biasanya dilakukan dalam analisa sensitivitas proyek pengairan adalah sebagai berikut:
1. Terjadi 10% penurunan pada nilai
benefit yang diperkirakan.
2. Terjadi 10% kenaikan pada biaya proyek yang diperkirakan.
3. Tertundanya penyelesaian proyek selama dua tahun.
Analisa sensitivitas bertujuan untuk melihat dan memperkirakan kondisi proyek jika ada sesuatu kesalahan atau perubahan dalam dasar-dasar perhitungan biaya maupun manfaat sehingga dapat mengurangi resiko kerugian dengan menunjukkan beberapa tindakan pencegahan yang harus dilakukan, memperbaiki desain dari proyek yang akan dapat meningkatkan NPV, dan memperbaiki cara pelaksanaan proyek yang sedang berjalan.
Dari hasil analisa sensitivitas terhadap beberapa keadaan tersebut di atas dapat diketahui elemen proyek yang merupakan elemen sensitif terhadap
keberhasilan proyek. Misalnya dari analisa sensitivitas disimpulkan bahwa proyek sangat sensitif terhadap penundaan penyelesaian proyek, perlu ditelaah kembali komponen pelaksanaan proyek agar kemungkinan tertundanya penyelesaian dapat dikurangi. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan menyederhanakan komponen proyek agar tidak mempersulit pelaksanaannya (Adhi Suyanto, 2001:41).
2.5 Payback period (PBP)
Payback period merupakan jangka
waktu periode yang diperlukan untuk membayar kembali (mengembalikan) semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan dalam investasi suatu proyek. Payback
period ini akan dipilih yang paling cepat
dapat mengembalikan biaya investasi, makin cepat pengembaliannya makin baik dan kemungkinan besar akan terpilih.
Analisis payback period pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui seberapa lama (periode) investasi akan dapat dikembalikan saat terjadinya kondisi
pulang pokok (Break Event Point)
(Giatman, 2007). Jika komponen cashflow benefit dan cost-nya bersifat annual, maka formulanya menjadi:
k(PBP) = x periode waktu
Dimana:
k = periode pengambalian
Investasi = modal yang diperlukan
Annual benefit = (keuntungan pengeluaran) per tahun
Periode waktu = tahun
Untuk mengetahui apakah rencana suatu investasi tersebut layak ekonomis atau tidak, diperlukan suatu ukuran/kriteria tertentu. Dalam metode payback period ini rencana investasi dikatakan layak (feasible) jika k ≤ n dan sebaliknya.
3. METODOLOGI PENELITIAN
Tahapan pengerjaan studi ini dapat dilihat pada diagram berikut:
Tidak
Ya Mulai
Data Debit Outflow
Data Jumlah Penduduk (Daerah Layanan Kecamatan Ponorogo)
Data : - Biaya Konstruksi - Biaya Operasi dan Pemeliharaan Proyeksi Jumlah Penduduk Kebutuhan Air Baku
Kebutuhan Air Baku < Q Outflow
Analisa Manfaat Air Baku
Analisa Sensitivitas Kesimpulan & Saran Selesai Alokasi Biaya (Cost) untuk Air Baku Biaya Bendungan Analisa Periode Pengembalian (Payback Period) Penetapan Harga Air Analisa Kelayakan Proyek
(B/C, B-C, IRR) Layak Tidak Layak
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisa Biaya
4.1.1 Biaya Modal
1. Biaya langsung (direct cost)
Biaya langsung adalah biaya yang berkaitan langsung dengan volume pekerjaan yang menjadi komponen permanen hasil proyek. Biaya konstruksi meliputi seluruh biaya yang digunakan untuk pembangunan dalam proyek ini terdiri dari pekerjaan persiapan dan pekerjaan konstruksi.
2. Biaya tak langsung (indirect cost)
Biaya tak langsung merupakan biaya yang tidak terkait langsung dengan besaran volume komponen fisik hasil akhir proyek, tetapi mempunyai kontribusi terhadap penyelesaian kegiatan atau proyek. Biaya modal untuk seluruh perencanaan Bendungan Bendo adalah sebagai berikut: a) Biaya konstruksi (berdasarkan alokasi
air baku):
Rp. 34.835.890.651 b) Biaya administrasi:
2,5% x Rp. 34.835.890.651 = Rp. 870.897.266
c) Biaya konsultan pengawas:
5% x Rp. 34.835.890.651 = Rp. 1.741.794.532
d) Biaya tak terduga:
5% x Rp. 34.835.890.651 = Rp. 1.741.794.532
Tabel 1. Biaya Tidak Langsung
Perencanaan Bendungan Bendo
No Uraian Pekerjaan Jumlah 1 Biaya Konstruksi (setelah dialokasikan) Rp. 34.835.890.651 2 Biaya Administrasi (2,5%) Rp. 870.897.266 3 Biaya Konsultan Pengawas (5%) Rp. 1.741.794.532 4 Biaya Tak Terduga
(5%)
Rp. 1.741.794.532 Total Rp. 39.190.376.983 PPN 10% Rp. 3.919.037.698
Total Rp. 43.109.414.681
Perhitungan dan analisa biaya modal dapat dilakukan dengan langkah perhitungan sebagai berikut :
1. Menghitung biaya modal proyek perencanaan Bendungan Bendo yang telah dialokasikan untuk air baku sebesar Rp. 43.109.414.681.
2. Menentukan besarnya biaya modal total berdasarkan analisa 2014 yaitu mengalikan dengan faktor konversi yang sesuai. Dalam perhitungan analisa biaya ini dijadikan nilai yang akan datang (Future Value) kemudian dikonversikan menjadi nilai tahunan (Annual Value). Hal ini dilakukan untuk mempermudah perhitungan. Pada studi perencanaan ini pekerjaan konstruksi selesai sampai tahun 2019 dan bunga sebesar 7,5%.
Tabel 2. Analisa Biaya Modal Tahunan
Tahun Biaya Biaya per Tahun 2014 Rp 43,109,414,681
(F/P, 7.5,5) 1.431 (A/P, 7.5, 50) 0.077 Faktor Konversi
2019 Rp 43,109,414,681 Rp 4,750,097,075
4.1.2 Biaya Tahunan (annual cost)
Biaya tahunan merupakan biaya yang dikeluarkan pemilik/investor setelah proyek selesai dibangun dan mulai dimanfaatkan. Biaya tahunan dikeluarkan selama usia guna rencana proyek yang dibuat pada waktu perencanaan.
Tabel 3. Biaya Total Rencana
Tahun Biaya Modal Biaya O&P Biaya Total 2019 Rp 4,750,097,075 - 4,750,097,075 2020 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2021 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2022 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2023 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2024 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2025 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2026 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2027 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2028 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2029 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2030 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2031 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2032 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2033 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2034 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2035 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2036 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2037 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2038 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2039 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2040 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2041 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2042 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2043 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2044 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2045 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2046 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2047 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2048 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2049 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2050 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2051 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2052 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2053 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2054 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2055 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2056 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2057 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2058 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2059 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2060 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2061 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2062 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2063 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2064 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2065 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2066 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2067 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823 2068 Rp 4,750,097,075 277,231,748 5,027,328,823
4.2 Analisa Manfaat (benefit)
4.2.1 Manfaat Langsung (direct benefit)
Manfaat langsung dari proyek ini dapat diperoleh dari perhitungan total kebutuhan air baku dikali dengan harga air.
4.2.2 Manfaat Tidak Langsung (indirect
benefit)
Manfaat tak langsung adalah manfaat yang dapat dinikmati secara berangsur-angsur dan dalam jangka waktu yang panjang. Manfaat tak langsung dari proyek ini yaitu dapat mendorong pengembangan pada wilayah Kecamatan Ponorogo.
4.2.3 Manfaat Nyata (tangible benefit)
Manfaat nyata (tangible benefit) adalah manfaat atau nilai tambah yang dapat dinilai dengan uang. Manfaat nyata dari proyek ini didapat dari penjualan air baku dari pihak pengelola bendungan kepada PDAM Ponorogo.
4.2.4 Manfaat Tak Nyata (intangible
benefit)
Manfaat tak nyata (intagible
benefit) adalah keuntungan proyek yang
tidak dapat selalu dinilai dengan uang, seperti:
- Meningkatkan kualitas hidup warga Kecamatan Ponorogo.
- Muncul rasa puas jika kebutuhan air baku dapat terpenuhi dengan baik.
4.3 Analisa Ekonomi
4.3.1 Benefit Cost Ratio (BCR)
Metode Benefit Cost Ratio (BCR) pada studi ini menggunakan perbandingan
terhadap nilai tahunan (annual value) pada
aspek manfaat (benefit) yang akan
diperoleh dengan nilai tahunan (annual value) aspek biaya dan kerugian yang akan ditanggung (cost) dengan adanya investasi tersebut. Tingkat suku bunga yang dipakai pada studi ini sebesar 7,5% dengan usia guna proyek 50 tahun.
Total kebutuhan air: 4.814.556,63 m3/tahun
Total kehilangan air: 1.048.066,75 m3/tahun Harga air: Rp. 1.500,-/m3 Total manfaat: = (4.814.556,63 - 1.048.066,75) x Rp. 1.500 = Rp. 5.649.734.824/tahun
Contoh perhitungan BCR adalah sebagai berikut:
Komponen biaya (cost)
- Total biaya konstruksi (tahun 1 s/d 5):
Rp. 43.109.414.681
Faktor konversi (F/P, 7,5%, 5): 1,431 Faktor konversi (A/P, 7,5%, 50): 0,077 Nilai tahunan biaya konstruksi: Rp. 4.750.097.075
- Total biaya O&P (tahun 6 s/d 55): Rp.
277.231.748
Total biaya tahunan: Rp. 4.750.097.075 + Rp. 277.231.748 = Rp. 5.027.328.823
Komponen manfaat (benefit)
Total manfaat air baku: Rp. 5.649.734.824 Sehingga:
B/C =
= = 1,124
Karena nilai perbandingan BCR pada proyek Bendungan Bendo ini > 1 maka dapat dikatakan bahwa proyek ini layak secara ekonomi, atau lebih tepatnya proyek ini melebihi nilai impas.
4.3.2 Net Benefit (B-C)
Perhitungan B-C sesuai dengan proyek rencana untuk tingkat suku bunga sebesar 7,5% adalah sebagai berikut:
Annual Benefit = Rp. 5.649.734.825 Annual Cost = Rp. 5.027.328.823 -
Tabel 4. Nilai B-C Pada Berbagai Tingkat
Suku Bunga
Suku bunga AV Benefit AV Cost B-C
% Rp Rp Rp 6 5,649,734,825 3,911,096,749 1,738,638,075 7 5,649,734,825 4,631,972,381 1,017,762,443 7.5 5,649,734,825 5,027,328,823 622,406,001 8 5,649,734,825 5,434,755,902 214,978,923 9 5,649,734,825 6,314,662,165 -664,927,340 10 5,649,734,825 7,291,607,720 -1,641,872,896
4.3.3 Internal Rate of Return (IRR)
Perhitungan IRR untuk proyek Perencanaan Bendungan Bendo Kabupaten Ponorogo ini adalah sebagai berikut:
IRR= I’+ (I”- I’)
Dimana:
I’ = suku bunga yang memberikan nilai NPV positif = 8 %
I” = suku bunga yang memberikan nilai NPV negatif = 9% (B-C)’ = (B-C) positif (B-C)” = (B-C) negatif Sehingga, IRR= 8%+ (9% - 8%) = 8,24%
Dari perhitungan tingkat pengembalian bunga diatas dapat disimpulkan bahwa proyek Bendungan Bendo ini layak secara ekonomi. Dikarenakan hasil perhitungan IRR proyek Bendungan Bendo ini lebih besar dari suku bunga yang dipakai dalam studi ini yaitu sebesar 7,5% sehingga proyek ini dianggap menguntungkan.
4.3.4 Analisa Sensitivitas
Analisa sensitivitas dimaksudkan untuk mengetahui apa yang terjadi dengan hasil proyek apabila terjadi kemungkinan perubahan dalam penentuan nilai-nilai untuk biaya dan manfaat masih merupakan suatu estimasi (perkiraan), sehingga bila terjadi asumsi-asumsi yang tidak sama dengan keadaan sebenarnya.
Analisa sensitivitas biasanya dilakukan dengan mengubah salah satu elemen proyek (misalnya harga, biaya) dan menghitung nilai IRR nya dengan harga tersebut. Analisa sensitivitas yang dihitung pada studi ini adalah sebagai berikut: 1. Terjadi 10% kenaikan pada nilai cost
yang diperkirakan dan nilai benefit tetap.
2. Terjadi 10% penurunan pada nilai cost yang diperkirakan dan nilai benefit tetap.
3. Terjadi 10% kenaikan pada nilai benefit yang diperkirakan dan nilai cost tetap. 4. Terjadi 10% penurunan pada nilai
benefit yang diperkirakan dan nilai cost
tetap.
5. Terjadi 10% kenaikan pada nilai cost yang diperkirakan dan 10% penurunan pada nilai benefit.
6. Terjadi 10% penurunan pada nilai cost yang diperkirakan dan 10% kenaikan pada nilai benefit.
7. Tertundanya penyelesaian proyek selama dua tahun.
Tabel 5. Analisa Sensitivitas Pada Suku
Bunga 7,5%
No Kondisi B/C B-C IRR
1 cost naik 10% benefit tetap 1.022 119,673,119 7.634 2 cost turun 10% benefit tetap 1.249 1,125,138,883 8.958 3 benefit naik 10% cost tetap 1.236 1,187,379,484 8.886 4 benefit turun 10% cost tetap 1.011 57,432,519 7.570 5 cost naik 10% benefit turun 10% 0.807 -1,066,771,194 6.203
6 cost turun 10% benefit naik 10% 1.374 1,690,112,366 9.605
7 Proyek mundur 2 tahun 0.979 -123,429,982 7.382
4.3.5 Payback period
Analisa payback period pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui seberapa lama (periode) investasi akan dapat dikembalikan saat terjadinya kondisi pulang pokok (Giatman, 2007).
Diketahui:
Biaya Konstruksi = Rp. 43.109.414.681 Biaya OP = Rp. 277.231.748
Pada proyek Bendungan Bendo ini komponen cash flow manfaat dan biayanya bersifat annual, maka rumus yang digunakan adalah:
K(PBP) =
Untuk mengetahui apakah rencana suatu investasi tersebut layak ekonomis atau tidak, diperlukan suatu ukuran/kriteria tertentu. Dalam metode ini rencana investasi dikatakan layak jika K ≤ usia guna proyek.
K(PBP) =
K(PBP) = 8,024 8 Tahun
4.4 Penetapan Harga Air
Penetapan harga air pada studi ini ditinjau dari berbagai kondisi sensitivitas pada analisa ekonomi ketika B=C yaitu pada saat biaya naik 10%, biaya turun 10%, biaya tetap, dan proyek mundur 2 tahun. Diketahui: - Biaya = Rp. 5.027.328.823 - Kebutuhan air = 4.814.556,63 m3/tahun - Kehilangan air = 1.048.066,75 m3/tahun
Harga air pada saat:
Biaya naik 10% = Rp. 5.027.328.823 + (10% x Rp. 5.027.328.823) = Rp. 5.530.061.705,84 Harga Air = = = Rp. 1.468/m3 Manfaat =
(Kebutuhan air – Kehilangan air) x Harga air = (4.814.556,63 - 1.048.066,75) x Rp. 1.468 = Rp. 5.530.061.705/tahun Biaya turun 10% = Rp. 5.027.328.823 - (10% x Rp. 5.027.328.823) = Rp. 4.524.595.941 Harga Air = = = Rp. 1.201/m3 Manfaat =
(Kebutuhan air – Kehilangan air) x Harga air = (4.814.556,63 - 1.048.066,75) x Rp. 1.201 = Rp. 4.524.595.941/tahun Biaya tetap = Rp. 5.027.328.823 Harga Air = = = Rp. 1.334/m3 Manfaat =
(Kebutuhan air – Kehilangan air) x Harga air
= (4.814.556,63 - 1.048.066,75) x Rp. 1.334
= Rp. 5.027.328.823/tahun
Proyek mundur 2 tahun = Rp. 5.773.164.806
Harga Air =
=
= Rp. 1.532/m3 Manfaat =
(Kebutuhan air – Kehilangan air) x Harga air
= (4.814.556,63 - 1.048.066,75) x Rp. 1.532
= Rp. 5.773.164.806/tahun
Tabel 6. Harga Air dengan Tingkat Suku
Bunga 7,5%
No Kondisi Harga Air/m3 (Rp)
1 Harga air pada saat B=C kondisi normal 1335 2 Harga air pada saat cost naik 10% 1468 3 Harga air pada saat cost turun 10% 1201 4 Harga air pada saat proyek mundur 2 tahun 1533 5 Harga air saat B/C > 1 1500
5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa data dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Manfaat yang diperoleh dari proyek Perencanaan Bendungan Bendo ini terdiri dari manfaat nyata dan manfaat tidak nyata. Manfaat nyata yang diperoleh dari proyek perencanaan Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo pada bunga 7,5% adalah: - Manfaat dengan harga air B=C=
Rp. 5.027.328.823,49/tahun
- Manfaat dengan harga air B/C > 1= Rp. 5.649.734.824,59/tahun
Manfaat tersebut diperoleh dari hasil penjualan air. Sedangkan manfaat tidak nyata yang diperoleh diantaranya terpenuhinya kebutuhan air baku yang bersih dan layak, dan meningkatkan kualitas hidup warga Kecamatan Ponorogo.
2. Analisa ekonomi proyek Perencanaan Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo ditinjau terhadap Nilai Rasio Biaya Manfaat (B/C dan B/C*), Selisih Biaya Manfaat (B-C), IRR, Analisa Sensitivitas, dan Payback period.
Uraian B/C B-C IRR Payback Period Harga Air B=C
Rp. 1.334,75 1,000 0 7,5% 9 tahun Harga Air B/C>1
Rp. 1.500,00 1,124 Rp. 622.406.001 8,24% 8 tahun
Analisa sensivitas pada saat Cost naik 10%, Benefit tetap nilai B/C adalah 1,022 dan nilai B-C adalah Rp. 119.673.119. Pada saat Cost turun 10%, Benefit tetap nilai B/C adalah 1,249 dan nilai B-C adalah Rp. 1.125.138.883. Pada saat Cost tetap,
Benefit naik 10% nilai B/C adalah
1,236 dan nilai B-C adalah Rp. 1.187.379.484. Pada saat Cost tetap,
Benefit turun 10% nilai B/C adalah
1,011 dan nilai B-C adalah Rp. 57.432.519. Pada saat Cost naik 10%,
Benefit turun 10% nilai B/C adalah
0,807 dan nilai B-C adalah -Rp. 1.066.771.194. Pada saat Cost turun 10%, Benefit naik 10% nilai B/C adalah 1,374 dan nilai B-C adalah Rp. 1.690.112.366. Pada saat proyek mundur 2 tahun nilai B/C adalah 0,979 dan nilai B-C adalah -Rp. 123.429.982.
3. Harga air yang layak pada saat mulai beroperasi tahun 2020 dengan prosentase penduduk terlayani 43% dengan kondisi biaya naik 10% adalah Rp. 1.468,23/m3, biaya turun 10% adalah Rp. 1.201,28/m3, biaya tetap adalah Rp. 1.334,75/m3, dan proyek mundur selama 2 tahun adalah Rp. 1.532,77/m3.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut:
1. Untuk memenuhi kebutuhan air baku yang selalu meningkat sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk setiap tahunnya, sebaiknya meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan air baku untuk kebutuhan pokok.
2. Untuk memperoleh harga air yang minimum, sebaiknya meningkatkan jumlah penduduk yang terlayani. Karena dengan meningkatnya jumlah
penduduk yang terlayani maka akan diperoleh harga air yang minimum. 3. Karena proyek perencanaan
Bendungan Bendo ini ditujukan untuk kesejahteraan penduduk Kecamatan Ponorogo, maka untuk penetapan harga air hendaknya tidak melihat dari sisi keuntungan saja namun juga harus dilihat dari segi kemampuan ekonomi konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Giatman, M. 2007. Ekonomi Teknik. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada. Kadariah. 1988. Evaluasi Proyek Analisa
Ekonomis. Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Suyanto, Adhi, Sunaryo, Trie M. dan Sjarief, Roestam. 2001. Ekonomi
Teknik Proyek Sumberdaya Air.