KONSERVASI KAWASAN DAN
SUMBERDAYA IKAN
DIREKTORAT KONSERVASI DAN TAMAN NASIONAL LAUT
DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL
DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Dalam rangka
Sosialisasi, Apresiasi dan Pembinaan Teknis Lingkup Ditjen KP3K Tahun 2008
LEGAL BASIS
1. UU. No. 31/2004, Tentang Perikanan
2. UU. No. 27/2007, Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan
Pulau-pulau Kecil
3. PP. No.60/2007 , Tentang Konservasi Sumberdaya Ikan
4. Konvensi Internasional yang diratifikasi
5. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Tentang
Kawasan
Konservasi di Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil (Draft)
6. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Tentang Tata
Laksana Peredaran Jenis (Draft)
7. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang
Prosedur Penetapan KKP (Draft)
3
UU Nomor 31 Tahun 2004
Tentang Perikanan
Pasal 1 Angka 8
Konservasi SD Ikan Adalah upaya perlindungan, pelestarian
dan pemanfaatan SD Ikan, termasuk ekosistem, jenis dan
genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan dan
kesinambungannya dengan tetap memelihara dan tetap
meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman SD Ikan
UU No. 31 Tahun 2004
Tentang Perikanan
4
Pasal 7 Ayat 5
Menteri menetapkan jenis ikan dan
kawasan perairan yang
masing-masing dilindungi, termasuk taman
nasional laut, untuk kepentingan
ilmu
pengetahuan,
kebudayaan,
pariwisata, dan/atau kelestarian SD
Ikan dan/atau lingkungannya.
UU No. 31 Tahun 2004
Tentang Perikanan
5
Pasal 13 Ayat (1) dan (2)
(1) Dalam rangka pengelolaan SD
Ikan, dilakukan upaya konservasi
ekosistem, konservasi jenis ikan,
dan konservasi genetika ikan
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai
konservasi ekosistem, konservasi
jenis
ikan,
dan
konservasi
genetika
ikan,
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) di atur
dengan Peraturan Pemerintah
PP No. 60 Tahun 2007
Konservasi Sumberdaya Ikan
6
Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2)
1) Konservasi
Ekosistem
dilakukan
pada semua tipe ekosistem yang
terkait dengan sumberdaya ikan
2) Tipe ekosistem yang terkait dengan
sumberdaya
ikan
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas ;
a.
Laut
b.
Padang lamun
c.
Terumbu karang
d.
Mangrove
e.
Estuari
f.
Pantai
g.
Rawa
h.
Sungai
i.
Danau
j.
Waduk
k.
Embung dan
PP No. 60 Tahun 2007
Konservasi Sumberdaya Ikan
7
Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2)
1) Konservasi Ekosistem sebagaimana
dimaksud dalam pasal 5 ayat (1)
dilakukan melalui kegiatan :
a.
Perlindungan habitat dan populasi ikan
b.
Rehabilitasi habitat dan populasi ikan
c.
Penelitian dan pengembangan
d.
Pemanfaatan sumberdaya ikan dan jasa
lingkungan
e.
Pengembangan
sosial
ekonomi
masyarakat
f.
Pengawasan dan pengendalian dan/atau
g.
Monitoring dan evaluasi
2)
Kegiatan
Konservasi
Ekosistem
sebagaimana dimaksud pada ayat
(1)
dilakukan
berdasarkan
data
dan
informasi
sumberdaya
ikan
dan
lingkungan sumberdaya ikan
PP No. 60 Tahun 2007
Konservasi Sumberdaya Ikan
8
Pasal 8 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3)
1) Satu atau beberapa tipe ekosistem
yang terkait dengan sumberdaya ikan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal
5 ayat (2), dapat ditetapkan sebagai
Kawasan Konservasi Perairan
2) Kawasan
Konservasi
perairan
sebagaimana dimaksud pada ayat
(1)
terdiri
atas
taman
nasional
Perairan,
taman
wisata
perairan,
Suaka alam Perairan dan Suaka
Perikanan
3) Kawasan
Konservasi
Perairan
sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan oleh menteri
PP No. 60 Tahun 2007
Konservasi Sumberdaya Ikan
9
Pasal 11 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3)
1)
Penetapan Kawasan Konservasi Perairan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
ayat (3) dilakukan melalui tahapan;
a. Usulan inisiatif
b. Identifikasi dan Inventarisasi
c. Pencadangan KKP dan
d. Penetapan
2)
Terhadap Kawasan Konservasi Perairan
yang telah ditetapkan dilakukan penataan
batas oleh panitia tata batas
3)
Ketentuan
lebih
lanjut
mengenai
penataan batas sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diatur dengan peraturan
Menteri
PP No. 60 Tahun 2007
Konservasi Sumberdaya Ikan
10
Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2)
1) Kawasan Konservasi Perairan yang
telah
ditetapkan
sebagaimana
dimaksud dalam pasal 14 ayat (5)
dikelola
oleh
pemerintah
atau
pemerintah
daerah
sesuai
kewenangannya
2) Pengelolaan
Kawasan
Konservasi
Perairan
sebagaimana
dimaksud
pada ayat (1) dilakukan oleh satuan
unit
organisasi
pengelola
sesuai
dengan
peraturan
perundang-undangan
Konservasi
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah
upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan
Wilayah
Pesisir
dan
Pulau-Pulau
Kecil
serta
ekosistemnya
untuk
menjamin
keberadaan,
ketersediaan, dan kesinambungan Sumber Daya Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.
Kawasan Konservasi
di Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil adalah kawasan pesisir dan pulau-pulau
kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi
untuk mewujudkan pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil secara berkelanjutan.
UU 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan PPK
UU No. 27 Tahun 2007..lan
jutan
Pasal 28 ayat (1), (2), (3)
1. Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil diselenggarakan untuk :
a.
menjaga kelestarian Ekosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
b.
melindungi alur migrasi ikan dan biota laut lain;
c.
melindungi habitat biota laut; dan
d.
melindungi situs budaya tradisional.
2. Untuk kepentingan konservasi sebagian Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil dapat ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi.
3. Kawasan Konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang
mempunyai
ciri
khas
sebagai
satu
kesatuan
Ekosistem
diselenggarakan untuk melindungi :
a. Sumberdaya Ikan
b. Tempat persinggahan dan alur migrasi biota laut lain
c. Wilayah yang diatur oleh adat tertentu, seperti sasi, mane’e,
panglima laot, awig-awig dan atau istilah lain adat tertentu
dan
d. Ekosistem pesisir yang unik dan/ atau rentan terhadap
perubahan
UU No. 27 Tahun 2007..lan
jutan
Penjelasan Pasal 28 ayat (1) huruf (d)
Situs budaya tradisional antara lain ;
tempat tenggelamnya kapal yang
mempunyai nilai arkeologi-historis
khusus, Situs Sejarah Kemaritiman dan
tempat ritual keagamaan atau adat
PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
TENTANG KAWASAN KONSERVASI DI WILAYAH PESISIR DAN
PULAU-PULAU KECIL (Draft)
Kategori Kawasan Konservasi;
1. Kawasan Konservasi Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil, yang selanjutnya disebut
KKP3K, terdiri dari ;
a. Suaka Pesisir
b. Suaka Pulau Kecil
c. Taman Pesisir dan
d. Taman Pulau Kecil
PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
TENTANG KAWASAN KONSERVASI DI WILAYAH PESISIR DAN
PULAU-PULAU KECIL (Draft)..lanjutan
Kategori Kawasan Konservasi;
2.
Kawasan Konservasi Maritim (KKM), terdiri
dari;
a. Daerah Perlindungan Adat Maritim,
b. Daerah Perlindungan Budaya Maritim
3. Kawasan Konservasi Perairan (KKP), terdiri
dari;
a. Taman Nasional Perairan
b. Taman Wisata Perairan
c. Suaka alam Perairan dan
d. Suaka Perikanan
INISIASI DEPHUT
–
7 Taman Nasional Laut
–
18 Taman Wisata Alam Laut
–
9 Cagar Alam Laut
–
7 Suaka Margasatwa Laut
INISIASI DKP, PEMDA dan MASYARAKAT
–
28 Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD)
–
10 Suaka Perikanan
–
> 20 Daerah Perlindungan Laut
Sampai saat ini telah tercapai:
• 3,28 Ha KKL di deklarasikan SK Bupati
• Lebih dari 50 lokasi DPL Perdes
Kondisi Kawasan Konservasi Perairan
PERKEMBANGAN KAWASAN KONSERVASI
SAMPAI SAAT INI
Pasal 1 ayat (3)
17
Konservasi jenis ikan adalah upaya
melindungi, melestarikan, dan memanfaatkan
sumber daya ikan, untuk menjamin
keberadaan, ketersediaan, dan
kesinambungan jenis ikan bagi generasi
sekarang maupun yang akan datang
.
Peraturan Pemerintah No.60/2007
tentang Konservasi Sumber Daya Ikan
Pasal 30 ayat (3)
Pemanfaatan jenis ikan dan
genetik ikan dilakukan melalui
kegiatan :
a.
Penelitian dan
pengembangan;
b.
Pengembangbiakan;
c.
Perdagangan;
d.
Aquaria;
e.
Pertukaran; dan
f.
Pemeliharaan untuk
kesenangan
18
Pemanfaatan jenis
ikan untuk
perdagangan dapat
dilakukan untuk :
a. Ekspor
b. Impor
c. Re-ekspo
r
Pasal 40 ayat (1)
Departemen/Kementerian yang bertanggung
jawab di bidang perikanan ditetapkan sebagai
Otoritas Pengelola (Management Authority)
konservasi sumber daya ikan
19
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
ditetapkan sebagai Otoritas Keilmuan (Scientific
Authority)
Pasal 53
CONVENTION ON
INTERNATIONAL TRADE IN
ENDANGERED SPECIES OF
Gambaran Umum
CITES
• CITES merupakan singkatan dari Convention on
International Trade in Endangered Species of Wild
Fauna and Flora
• Dikenal juga sebagai Washington Convention,
karena ditandatangani di Washington
D.C.
…jadi telah beroperasi
selama 33 tahun
• CITES ditandatangani pada
tgl. 3 Maret 1973, dan berlaku
secara resmi
1 Juli 1975
CITES merupakan alat yang powerful untuk menghasilkan
pengaturan internasional yang efektif dan konsisten
mengenai perdagangan internasional pada jenis-jenis
hidupan liar untuk menjamin konservasi dan
perdagangannya dalam level yang berkelanjutan
CITES merupakan perjanjian atau konvensi
internasional yang mengkombinasikan antara tema
hidupan liar dengan instrumen hukum yang mengikat
untuk mencapai tujuan perdagangan yang
Untuk
mencegah
terjadinya
kepunahan
jenis-jenis tumbuhan dan satwa liar di muka
bumi ini yang dapat atau mungkin dapat
disebabkan
oleh
adanya
kegiatan
perdagangan
Internasional
serta
menjamin bahwa hidupan liar berupa flora
dan fauna yang diperdagangkan secara
internasional tidak diekploitasi secara tidak
berkelanjutan.
TUJUAN
Salah persepsi mengenai CITES
• CITES berhubungan dengan seluruh aspek
tentang konservasi hidupan liar
SALAH
• CITES
hanya
berhubungan
dengan
perdagangan internasional jenis tertentu
saja yang masuk Appendix
• CITES bertujuan untuk melarang perdagangan
hidupan liar
SALAH
• CITES
bertujuan
untuk
mengatur
Salah persepsi mengenai CITES
lanjutan…
CITES mengatur perdagangan domestik
SALAH
– CITES hanya dapat mengatur
perdagangan internasional
Appendix CITES merupakan daftar
jenis-jenis terancam punah dunia
SALAH
– Appendix merupakan daftar jenis
yang terpengaruh atau mungkin
terpengaruh oleh perdagangan
internasional
Salah persepsi mengenai CITES..lanjutan
• CITES
merupakan
pembatasan/
hambatan
perdagangan
di
negara
berkembang
SALAH
• Keduanya,
negara
produsen
dan
konsumen mempunyai tenggung jawab
yang
sama
untuk
melindungi
dan
mengelola sumberdaya alam;
• CITES menciptakan alat untuk kerja
sama
dan
pengambilan
keputusan
secara internasional
Bagaimana Cara Kerja CITES
Konvensi ini menetapkan
international
legal framework
(karangka hukum internasional)
dan
procedural mechanisms
(mekanisme prosedural
internasional) secara
bersama-sama untuk mencegah
perdagangan komersial
internasional jenis-jenis
terancam punah, dan
pengaturan efektif jenis lainnya
yang belum terancam punah
• Kerangka kerja dan mekanisme prosedur bersama dipakai
secara sistematis oleh 169 negara untuk mengatur dan
memonitor perdagangan internasional sumberdaya hidupan
liar
Conference of the Parties
(COP)
Standing
Committee
Secretariat
Plants
Committee
Nomenclature
Committee
Animals
Committee
UNEP
TRAFFIC
IUCN
UNEP-WCMC
LEVEL INTERNASIONAL
ORNOP lain
Jenis-jenis yang diatur CITES dibagi ke dalam tiga
Appendiks:
– Appendix I
– Appendix II
– Appendix III
Appendiks CITES = Daftar species yang
perdagangannya perlu diawasi dan negara-negara
anggota setuju membatasi perdagangan dan
menghentikan eksploitasi terhadap spesies yang
terancam punah.
Hanya Konferensi Para
Pihak (The Conference of
the Parties) yang dapat
menentukan isi dari
Appendiks I dan II
• Proposal untuk merubah daftar
appendiks memerlukan
mayoritas 2/3 negara yang
voting untuk bisa diadopsi
• Hanya negara pihak saja yang
dapat mengusulkan perubahan
Appendiks
• Untuk Appendiks III, ditentukan
secara unilateral oleh negara
yang meminta
APPENDIKS I
Daftar di dalam CITES yang memuat
jenis-jenis yang telah terancam punah
(endengered)
sehingga
perdagangan
internasional spesimen yang berasal
dari habitat alam harus dikontrol dengan
ketat dan hanya diperkenankan untuk
kepentingan
non-komersial
tertentu
dengan izin khusus
APPENDIKS II
Daftar di dalam CITES yang memuat
jenis-jenis yang saat ini belum terancam
punah, namun dapat menjadi terancam
punah
apabila
perdagangan
internasionalnya tidak dikendalikan
APPENDIKS III
Daftar di dalam CITES yang memuat
jenis-jenis
yang
oleh
suatu
negara
tertentu pemanfaatannya dikendalikan
dengan ketat dan memerlukan bantuan
pengendalian internasional
•
Appendix I
– Perdagangan Internasional (komersial) umumnya
dilarang
•
Appendix II
– Perdagangan Internasional diperbolehkan tetapi
dengan kontrol
•
Appendix III
– Perdagangan Internasional diperbolehkan tetapi
dengan kontrol
Appendix I
– Hampir 600 jenis satwa dan sekitar 300 jenis tumbuhan
– Indonesia: (mamalia-37), (Aves-15), (Reptil-9), (Pisces-2),
total = 63 jenis satwa dan 23 jenis tumbuhan
Appendix II
– Lebih dari 1,400 jenis satwa dan lebih dari 22,000 jenis
tumbuhan
– Indonesia: (mamalia-96), (Aves-239), (Reptil-27),
(Insekta-26), (Bivalvia-7), (Anthozoa-152), Total = 546 jenis satwa
dan 1002 jenis tumbuhan (+ beberapa jenis yang masuk
dalam CoP 13)
Appendix III
– Sekitar 270 jenis satwa dan kira-kira 30 jenis tumbuhan
– Indonesia: Ramin transfer ke App II di CoP 13
Kura-kura ---(14 jenis)
Buaya ---(2 jenis)
Anthozoa (kerang) ---(67 jenis)
Kuda laut ---(6 jenis)
Ikan Arwana
Ikan Napoleon
Penunjukkan MA da SA menurut PP 60 tahun 2007
Pasal 65
Berdasarkan Peraturan Pemerintah ini:
a. Departemen yang bertanggungjawab di bidang Kehutanan ditetapkan
sebagai Otoritas Pengelola (Management Authority) Konservasi Tumbuhan
dan Satwa Liar.
b. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ditetapkan sebagai Otoritas
Keilmuan (Scientific Authority).
Penunjukkan MA da SA menurut PP 8 tahun 1999
Pasal 53
Berdasarkan Peraturan Pemerintah ini:
a. Departemen/Kementerian yang bertanggung jawab di bidang perikanan
ditetapkan sebagai Otoritas Pengelola (Management Authority) konservasi
sumber daya ikan.
b. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ditetapkan sebagai Otoritas
Keilmuan (Scientific Authority).
Otorita CITES yang ditunjuk
Article IX dari Konvensi memberikan mandat
bagi setiap negara Pihak untuk menunjuk satu
atau
lebih
Management
Authorities
yang
berkompeten
untuk
menerbitkan
izin
atau
sertifikat atas nama negara Pihak, dan satu atau
lebih
Scientific Authorities
untuk memberikan
advis kepada Management Authorities
PP 8 tahun 1999 menunjuk
Dep. Kehutanan
sebagai
Management
Authority
dan
LIPI
sebagai
Scientific Authority
PP 60 tahun 2007 menunjuk
Dep. Kelautan dan
Perikanan
sebagai
Management
Authority
(dalam proses penyelarasan kewenangan)
Peran Management Authority
Management Authority
mempunyai dua peran utama:
– Berkomunikasi dengan CITES
Secretariat dan negara Pihak
lainnya
– Memberikan izin dan sertifikat
sesuai dengan kerangka yang
diatur Konvensi
Tugas Management Authority
Tugas Management Authority
dapat dibagi ke dalam tiga
kategori:
a) Tugas yang diamanatkan
oleh teks Konvensi;
b) Tugas yang termasuk dalam
Resolusi dan Keputusan;
dan
c) Tugas-tugas yang dianggap
perlu dilakukan
Tugas Management Authority
–
Tugas yang secara spesifik diamanatkan di dalam
teks Konvensi:
Articles III, IV and V
– ketentuan dan
penerimaan penerbitan izin
Article VI
– penundaan dan penahanan
export permit atau sertifikat re-export dan
impor permit yang terkait dengan import;
penandaan spesimens
Article VII
– determining the applicability of
special provisions
Article VIII
– tanggung jawab bagi spesimen
hasil penyitaan PPS
Article IX
– komunikasi dengan Secretariat
dan negara Pihak lainnya
Tugas Management Authority
Mewakili negara Pihak
Penyiapan dan penyebaran
informasi resmi ttg CITES
Penyuluhan dan Informasi
Training
Koordinasi dengan instansi
pemerintah terkait
Penegakan Hukum
Koordinasi dengan ORNOP
Koordinasi dengan CITES
Secretariat
Koordinasi dengan National
Central Bureau - Interpol
Menyiapkan laporan tahunan
dan dua tahunan
Penerbitan izin dan sertifikat
Komunikasi dengan Scientific
Authority
1. Memperkuat kapasitas kelembagaan dalam
pengelolaan terumbu karang di tingkat Nasional
dan Daerah
2. Melestarikan, memanfaatkan dan merehabilitasi
ekosistem terumbu karang, serta memfasilitasi
kelompok masyarakat pengelola utk mendapat
pertambahan manfaat & pendapatan
KOMPONEN COREMAP II ADB
• PENGUATAN KELEMBAGAAN DAN MANAJEMEN PROYEK
–
Penguatan Kelembagaan Nasional dan Daerah
–
Penguatan CRITIC (Coral Reef Information and Training)
–
Pengembangan SDM dan Penyuluhan
–
Manajemen Proyek
• PENGELOLAAN SUMBERDAYA TERUMBU KARANG
BERBASIS MASYARAKAT
–
Pemberdayaan Masyarakat
–
Pengelolaan Sumberdaya Berbasis Masyarakat
–
Pengembangan Infrastruktur dan Fasilitas Sosial
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II ADB
KEGIATAN REF PENANG-GUNG JAWAB BATAS WAKTUSTATUS / TINDAK LANJUT YG TELAH DILASAKSANAKAN
PADA _____________ Komponen 1: PENGUATAN KAPASITAS KELEMBAGAAN DAN PENGELOLAAN PROYEK
Komponen 1, Sub-Komponen 1: Strategi dan Kebijakan Pengelolaan Terumbu Karang
1. Penyusunan Draft Keputusan Menteri tentang Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil berdasarkan UU No. 27/2007
7 PMO 01 Apr - 31 Dec 2008
2. Sosialisasi dan diseminasi PP 60/2007 7 PMO PIU
Starting 01 Jul 2008 3. Pengesahan RENSTRA Kota Batam,
Kabupaten Bintan dan Mentawai melalui SK Bupati
7 PIU yg terkait
15 Mar - 31 Des 2008
4. Finalisasi RENSTRA Kabupaten Lingga yang telah dipersiapkan selama COREMAP I
App 15, (No. 5)
Lingga 01 Jul - 31 Des 2008
5. Pengesahan RENSTRA Propinsi Kepri melalui SK Gubernur
7 RCU Kepri 01 Apr - 31 Des 2008 6. Koordinasi dengan instansi terkait
untuk memasukkan RENSTRA ke dalam Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Nias, Nias Selatan, Tapanuli Tengah dan Natuna serta di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Kepri
11 RCU dan PIU yg
terkait
Mulai 01 Jul 2008
7. Sosialisasi PERDA Natuna dan Tapteng App 15, (No. 6) Natuna dan Tapteng Mulai 01 Jul 2008 8. Pengsahan PERDA Pengelolaan
Terumbu Karang di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Batam, Bintan dan Mentawai melalui koordinasi dan sosialisasi dengan DPRD dan instansi terkait lainnya 7, 34 RCU dan PIU yg terkait Mulai 01 Apr 2008
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II ADB
9. Penyusunan Ranperda Kabupaten
Nias, Nias Selatan dan Lingga
34,
App 15,
(No. 8)
PIU yg
terkait
01 Apr – 31
Des 2008
10. Sosialisasi KKLD Kabupaten Nias,
Tapteng, Mentawai, Natuna dan Batam
7
PIU yg
terkait
Mulai
01 Apr 2008
11. Penyusunan Rencana Pengelolaan
Kawasan KKLD Kabupaten Nias
01 Jul – 31
Des 2008
12. Identifikasi KKLD Kabupaten Nias
Selatan dan Lingga
7
Nias Selatan
Lingga
01 Jul – 31
Des 2008
13. Sosialisasi dan pelaksanaan RPTK
setiap kabupaten
7, 10,
App 15,
(No. 12)
PIU yg
terkait
Mulai
01 Jul 2008
14. Finalisasi RPTK Kabupaten Lingga
7,
App 15,
(No. 13)
Lingga
01 Apr – 31
Des 2008
15. Identifikasi DPL bagi desa-desa yang
belum memiliki DPL
7
Nias Selatan
01 May – 31
Des 2008
16. Pengesahan PERDES RPTK di
seluruh desa lokasi Proyek
7
PIU yg
terkait
01 May – 31
Des 2008
17. Bantuan tehnis melalui pelatihan,
pertemuan tehnis serta sosialisasi
pedoman yg terkait dgn PERDA,
RENSTRA, KKLD, RPTK dll
App 15,
(No. 17)
PMO
Saat
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II ADB
Komponen 1, Sub-Komponen 2: CRITC
18. Pelatihan di seluruh kabupaten mengenai: (i) GIS yang sesuai dgn kebutuhan daerah, (ii) pengembangan web, dan (iii) pengoperasian serta pengelolaan database dengan
pelatihan yang lebih intensif untuk Nias Selatan dan Lingga
9, App 15, (No. 18)
CRITC-LIPI Mulai 01 Jul 2008
19. Penyusunan juknis dan pedoman serta pelaksanaan monitoring pengambilan dan pelaporan data CREEL yg sesuai dgn metodologi (khususnya Kabupaten Nias Selatan dan Lingga)
19 CRITC-LIPI Mulai 01 Apr 2008
20. Pengumpulan data CREEL setiap bulan di seluruh lokasi proyek
19 PIU, CRITC-LIPI
Bulanan
21. Memastikan bahwa seluruh Dinas Kabupaten melaksanakan CREEL yang sesuai dgn metodologi, khususnya kabupaten Nias Selatan dan Lingga
App 15, (No. 21)
PMO 01 Apr 2008
22. Meng-update data berkala (time
series) CREEL ke dalam database
CRMIS 9, App 15, (No. 22) PIU, CRITC-LIPI 01 Jul – 31 Dec 2008
23. Pelaksanaan survei reef health secara rutin di seluruh lokasi proyek
App 15, (No. 23) CRITC-LIPI Sesuai dgn jadwal yg telah ditetapkan 24. Pemantauan dampak COREMAP
terhadap perubahan volume dan jumlah penagkapan ikan yang
berhubungan dengan terumbu karang serta pendapatan keluarga
(memisahkan data pendapatan dari keluarga nelayan dan bukan nelayan serta pendapatan dari kegiatan perikanan dan bukan perikanan)
9, App 15, (No. 25 and 26) CRITC-LIPI Sesuai dgn jadwal yg telah ditetapkan
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II ADB
25. Pelaksanaan riset agenda ttg isu-isu
penting yang berhubungan dengan
pelaksanaan COREMAP serta
mensosialisasikan hasilnya dgn tepat
waktu kpd stakeholder
9
PIU,
CRITC-LIPI
01 Jul – 31
Des 2008
26. Penyusunan ringkasan dan hasil riset
dalam bahasa Inggris
9
CRITC-LIPI
01 Apr – 31
Des 2008
27. Meng-update dan menghubungkan
PPMS ke dalam situs
CRITC-COREMAP, yang memuat data
berkala dan terkini ttg Penilaian
Sumberdaya dan Ekologi (REA),
Penilaian Sosial-Ekonomi (SEA) dan
CREEL
9
CRITC-LIPI,
PMO
01 Jul – 31
Des 2008
28. Penyusunan diagram dan data
histories ttg REA, SEA dan CREEL di
website COREMAP
9
CRITC-LIPI
01 Jul – 30
Sep 2008
29. Operasionalisasi situs
CRITIC-COREMAP dalam bahasa Inggris serta
meng-update data ttg hasil dan
ringkasan riset agenda, Reef Health,
Sosek dan CREEL.
9
CRITC-LIPI
Mulai
01 Apr 2008
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II ADB
Komponen 1, Sub-komponen 3: Penguatan Sumberdaya Manusia dan Penyuluhan30. Peningkatan kapasitas penyuluh dalam pelaksanaan pekerjaan
10 PMO Apr 2008 31. Pengembangan SDM dan
kelembagaan, khususnya di lokasi proyek yg lebih terpencil
31 PMO, PIU yg
terkait
Selama Tahun 32. Pelaksanaan IEC bagi Gubernur,
Bupati dan anggota DPRD
10 RCU, PIU 33. Partisipasi dalam DEEP Indonesia
2008
App 15, (No. 34)
PMO 34. Pelaksanaan Cerdas Cermat App 15,
(No. 35)
PMO, RCU, PIU 35. Pelaksanaan Young Innovators App 15,
(No. 36)
PMO, RCU, PIU 36. Pelaksanaan Duta Karang App 15,
(No. 37)
PMO, RCU, PIU 37. Pelaksanaan program perhargaan bagi
pemerhati terumbu karang
10 PMO 38. Pelaksanaan Munas dan pameran
tingkat nasional ttg pengelolaan terumbu karang
App 15, (No. 41)
PMO 39. Terlibat aktif dalam International Year
of the Reef
App 15, (No. 42)
PMO 40. Penerbitan materi IEC dan buku
terutama kegiatan IEC yg
menghasilkan peningkatan kesadaran masyarakat ttg pengelolaan TK App 15, (No. 38) PMO, RCU, PIU Mulai 01 Apr 2008
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II ADB
Komponen 1, Sub-komponen 4: Dukungan Manajemen Proyek
41. Penyelesaian semua komitmen dalam Review Mission 2007 dan dilaporkan kemajuannya dalam Laporan Triwulan Kedua Tahun 2008 29 PIU Nias, PIU Nis Selatan, PMO 30 Juni 2008 42. Memberikan rekomendasi
perpanjangan kontrak terhadap LSM yang memiliki kinerja bagus kpd ADB
25 PMO, PIU
31 Mar 2008
43. Evaluasi efektifitas Tenaga Penyuluh (TP) dan memastikan bahwa tugasnya tidak overlap (tumpang tindih) dgn fasilitator LSM
26 PMO 15 Apr 2008
44. Penyusunan pedoman kerja RA, FMS, LSM dan TP agar mereka dapat saling bekerja sama
26 PMO 15 Apr 2008
45. Menekankan peran RA dalam pengembangan mata pencaharian alternatif 24 PMO, RCU, PIU Selama Tahun 46. Mengusulkan kpd ADB untuk
penambahan waktu tugas RA dan konsultan yg terpilih
24, App 15, (No. 50)
PMO 15 Mei 2008
47. Peningkatan koordinasi dalam proses perencanaan dan penganggaran untuk memastikan pencairan dana
pendamping tepat pada waktunya; PMO akan lebih sering berkoordinasi dengan RCU dalam proses persiapan anggaran 21, App 15, (No. 51) PMO, RCU, PIU Mulai 01 Apr 2008
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II ADB
48. Penyelesaikan isu-isu yg disebabkan oleh pemekaran desa di Natuna
App 15, (No. 46)
PIU Natuna, PMO
15 Apr 2008
49. Pada 15 Maret 2008, PMO akan mengirimkan surat kpd ADB untuk penyelesaian laporan audit keuangan tahun 2005 dan 2006
31 PMO 15 Mar 2008
50. Koordinasikan dgn intansi lainnya untuk mengintegrasikan program COREMAP dengan program pemerintah lainnya 11, App 15, (No. 53) PMO, RCU, PIU Selama Tahun
51. Pelaksanaan strategi komunikasi agar pemahaman ttg kebijakan dan
pedoman COREMAP II sama antara PIU, RA, LSM dan penyuluh
App 15, (No. 54)
PMO Selama Tahun
52. Koordinasi antara PMO, RCU dan PIU 21 PMO, RCU, PIU
Selama Tahun
53. Sosialisasi ttg tujuan, sasaran serta kegiatan COREMAP II kepada Gubernur, Bupati anggota DPRD dan pembuat kebijakan di daerah agar ikut membantu menyediakan dana
pendamping serta mempertahankan SDM yg sudah dilatih didalam PIU
App 15, (No. 56) PMO, RCU, PIU Selama Tahun
54. Peningkatan pendampingan dan pengawasannya di Kabupaten Nias Selatan dan Lingga oleh PMO
21, App 15, (No. 57)
PMO Selama Tahun
55. Meminta kepada ADB untuk mempertimbangkan sumbangan masyarakat berupa bahan dan tenaga sebagai dana pendambing terhadap prasarana sosial
12 App 15, (No. 58)
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II ADB
56. Penilaian kinerja terhadap LPSTK
dalam pelaksanaan community
contract dan memberikan rekomendasi
kepada ADB untuk penambahan
plafon kontrak bagi LPSTK yang
mempunyai kinerja baik
App 15,
(No. 59)
PMO,
RCU,
PIU
01 Juni 2008
– 30 Ag
2008
57. Pertemuan rutin NSC dan RAC
(tengah tahunan dan triwulanan) untuk
memberikan pengarahan thd proyek
dan memfasilitasi koordinasi dgn
instansi terkait lainnya
21,
32
PMO,
RCU,
PIU
30 Apr 2008
and 31 Okt
2008
58. Penyusunan evaluasi pelaksanaan
proyek terhadap sasarannya sampai
dgn 2009
36
PMO,
RCU,
PIU
15 Apr 2008
59. Rekomendasi kpd ADB ttg tindakan
yang harus dilaksanakan untuk
memastikan bahwa sasaran proyek
dapat tercapai pd bulan Oktober 2008
36
PMO
01 Mei – 30
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II ADB
KOMPONEN 2: PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA BERBASIS MASYARAKAT Komponen 2, Sub-Komponen 1: Pemberdayaan Masyarakat
60. Pembinaan dan bantuan tehnis secara intensif kpd LPSTK dan Pokmas
11 RCU, PIU
Selama Tahun 61. Pelaksanaan monitoring secara
intensif terhadap kegiatan serta pelaporan LSM dan tenaga penyuluh
App 15, (No. 66) PMO, RCU, PIU Paling sedikit sekali setiap triwulan 62. Penyusunan pedoman tentang insentif
bagi para anggota LPSTK/Pokmas dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh LPSTK/Pokmas
App 15, (No. 67)
PMO 30 Juni 2008
Komponen 2, Sub-komponen 2: Pengelolaan Sumberdaya Berbasis Masyarakat
63. Revisi strategi MCS yang telah dikembangkan dgn pertimbangan bahwa tiga buah kapal patroli diganti dengan perahu MCS tradisionil
8 PMO 31 Mei 2008
64. Pengajuan strategi MCS yang telah direvisi kpd ADB pada triwulan kedua 2008
8 PMO 30 Juni 2008
65. Penyusunan kriteria ttg pembagian perahu MCS tambahan; kriteria harus meliputi kebutuhan masyarakat, lokasi, sumberdaya yang tersedia, dan komitmen pemerintah daerah dalam penyediaan anggaran yang cukup untuk biaya operasional dan perawatannya
8 PMO 31 Ag 2008
66. Penyusunan rencana pengadaan perahu MCS untuk diajukan kpd ADB pd akhir triwulan ketiga
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II ADB
67. Peningkatan kemampuan LPSTK dan Pokmas dalam pelaksanaan kegiatan MCS 11 PMO, RCU, PIU Selama Tahun
68. Peningkatan pelaksanaan kegiatan pengawasan dan pemberian insentif kepada kelompok Pokmaswas
8 PIU Selama
Tahun
69. Pengumpulan informasi tentang penurunan penangkapan ikan yang merusak dan informasi tersebut digunakan sebagai salah satu kriteria untuk pemberian penghargaan kpd pemerhati TK App 15, (No. 74) PMO, RCU, PIU Selama Tahun
70. Koordinasi dengan lembaga-lembaga nasional dan daerah yang terlibat dalam kegiatan MCS dan penegakan hukum App 15, (No. 75) PMO, RCU, PIU Selama Tahun
Komponen 2, Sub-komponen 3: Pelayanan dan Prasarana Sosial
71. Pembangunan satu pondok informasi di setiap desa sasaran proyek
12 PIU Mulai
01 Mei 2008 72. Pengembangan dan diseminasi
pedoman tentang jenis-jenis prasos yang dapat diterima masyarakat
App 15, (No. 78) PMO, RCU, PIU 01 Mei 2008
73. Identifikasi prasos yang dibutuhkan desa melalui partisipasi masyarakat serta pengadaannya dapat melalui
community contract jika memenuhi
persyaratan App 15, (No. 79) PMO, RCU, PIU 01 Mei 2008
74. Pembangunan prasos seperti tambatan perahu, dermaga, pondok informasi, fasilitas sanitasi, dan sumber air bersih berdasarkan RPTK desa
App 15, (No. 80)
PIU Mulai
01 Mei 2008
75. Pelaksanaan studi kelayakan untuk prasos yang akan dibangun di tahun berikutnya
App 15, (No. 81)
PIU Mulai
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II ADB
Komponen 2, Sub-Komponen 4: Mata Pencaharian Alternatif (AIG)
76. Penyusunan Master Plan untuk komoditas utama di Provinsi
Kepulauan Riau dan Sumatera Barat, dengan fokus pada bahan baku, proses produksi, pemasaran dan skala ekonomi 13, App 15, (No. 84) PMO, RCU Kepri dan Sumbar, PIU yg terlibat Kepri (16 Juni 2008); Mentawai (31 Jul 2008) 77. Pelaksanaan kegiatan mata
pencaharian yang melibatkan sekitar 1.800 keluarga nelayan dari target 10.000 keluarga nelayan
App 15, (No. 85)
PIU Selama
Tahun
78. Pelaksanaan studi kelayakan bagi setiap usulan MPA untuk tahun anggaran berikutnya; MPA dan bantuan peralatan tersebut harus sejalan dengan kebutuhan dan spesifikasi masyarakat serta
pelaksanaannya melalui community
contract
App 15, (No. 86)
PIU Saat
Diperlukan
79. Pelaksanaan sanitasi lingkungan dan makanan dalam pengembangan MPA sesuai dengan standar Depkes
13, App 15, (No. 88)
PIU Selama
Tahun
80. Sosialisasi pedoman tentang jenis-jenis mata pencaharian dan prasos yang dapat dikembangkan dalam COREMAP II
App 15, (No. 89)
PMO 30 Apr 2008
Tsunami Assistance
81. Penyusunan rencana MPA yang telah didanai melalui bantuan tsunami di Kab. Nias dan Nias Selatan dapat berlanjut 32 PMO, RCU Sumut, PIU Nias dan Nias Selatan 30 Juni 2008
82. Pelaksanaan pedoman serah terima sarana yang sudah diberikan
32 PMO, RCU Sumut, PIU Nias dan Nias Selatan 30 Juni 2008
83. Penyusunan dan pelaksanaan pedoman operasional dan perawatan peralatan yg telah disediakan melalui bantuan tsunami 32 PMO, RCU Sumut, PIU Nias dan Nias Selatan 30 Juni 2008
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II ADB
STATUS TINDAK LANJUT KEGIATAN COREMAP II TAHUN 2008
Hal 1 dari 184. Serah terima peralatan dan fasilitas yg disediakan melalui bantuan tsunami kpd Dinas yg terkait 32 PMO, RCU Sumut, PIU Nias dan Nias Selatan 30 Juni 2008
85. Respon kpd Departemen Keuangan ttg penyerapan sisa dana dari Loan Kategori Bantuan Tsunami
32 PMO, RCU Sumut, PIU Nias dan Nias Selatan 01 Apr 2008
86. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan bantuan tsunami seperti MOU dgn pemanfaat 32 PMO, RCU Sumut, PIU Nias dan Nias Selatan Triwulan
Environmental, Gender and Resettlement Plans
87. Pengembangan pedoman tentang lingkungan khususnya yg berkaitan dgn budidaya laut 14, 31, App 15, (No. 60) PMO, RCU, PIU 30 Apr 2008
88. Pelaksanaan UKL/UPL untuk
menghindari pencemaran lingkungan
App 15, (No. 61)
PIU Saat Diperlukan 89. Pelaksanaan pedoman sosial dan
lingkungan dalam pembangunan prasos
App 15, (No. 82)
PIU Selama Tahun
90. Penyusunan laporan ttg pelaksanaan pedoman sosial dan lingkungan dalam pembangunan prasos
App 15, (No. 83)
PIU Triwulan
91. Penunjukan staf penangung jawab untuk pelaksanaan monitoring lingkungan, gender dan PPMS
28, 31 PMO, RCU, PIU 31 Mar 2008
Indian Ocean Pacific Ocean