i
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELAKSANAAN PROGRAM
DANA DESA TERHADAP PEMBANGUNAN DESA (Studi Kasus
Desa Sangia Makmur,
Kecamatan Kabaena Utara, Kabupaten Bombana)
SKRIPSI
Oleh
LENI ARININGSIH
105721105916
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
ii
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELAKSANAAN PROGRAM
DANA DESA TERHADAP PEMBANGUNAN DESA (Studi Kasus
Desa Sangia Makmur,
Kecamatan Kabaena Utara, Kabupaten Bombana)
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana Manajemen pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Muhammadiyah Makassar
LENI ARININGSIH
105721105916
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2021
iii
PERSEMBAHAN
1. Almamaterku tercinta
2. Terimahkasih kepada kedua orang tuaku tercinta Bapak Ali Sadikin dan Ibuku Muawanah yang selalu mendoakan, memberi semangat dan kasih sayang sehingga saya bisa meneyelesaikan skripsi ini.
3. Kakaku Muzakir, Lisna Yuni dan Abdul Hanafi S.sos yang selalu bertanya “kapan wisuda dek?”, terimakasih telah menjadi penyemangat dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Special terimakasih kepada diri sendiri karena telah berjuang sejauh ini dengan melawan mood dan ego yang tidak tentu selama penulisan skripsi ini.
MOTTO
Sabar dalam mengatasi kesulitan dan bertindak bijaksana dalam
mengatasinya adalah sesuatu yang utama
“saat aku lelah menulis dan membaca, di atas buku kuletakan kepala, dan
saat pipiku menyentuh sampulnya. hatiku tersengat, kewajibanku masih
berjebah, bagaimana mungkin aku bisa beristirahat.
-Imam An Nawawi
vii ABSTRAK
LENI ARININGSIH, 2021 “Partisipasi Masyarakat Dalam Pelaksanaan Program Dana Desa Terhadap Pembangunan Desa (Studi Kasus Di Desa Sangia Makmur, Kecamatan Kabaena Utara, Kabupaten Bombana)” Skripsi Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Bisni Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh pembimbing I Agus Salim HR dan Pembimbing II Muh. Nur Rasyid
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program dana desa terhadap pembangunan desa sangia makmur. Jenis penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah 4 orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam program pembagunan desa sudah cukup baik, namun untuk partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan hasil kegiatan program pembagunan desa masih sangat kurang karena minimnya kesadaran masyarakat untuk ikut berpartisifasi dalam program pembagunan desa.
viii ABSTRACT
LENI ARININGSIH, 2021 "Community Participation in the Implementation of the Village Fund Program for Village Development (Case Study in Sangia Makmur Village, Kabaena Utara District, Bombana Regency)" Thesis of Management Study Program, Faculty of Economics and Business, Muhammadiyah University of Makassar. Supervised by supervisor I Agus Salim HR and Supervisor II Muh. Nur Rasyid
This study aims to determine how community participation in the implementation of the village fund program towards the development of a very prosperous village. This type of research used in this research is qualitative research. The informants in this study were four people.
The results showed that community participation in the village development program was quite good, but community participation in giving opinions, suggestions or ideas in counseling meetings on village development programs was still lacking due to the lack of public awareness to participate in the village development program.
ix
KATA PENGANTAR
Puji Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah Swt atas berkat Rahmat dan Hidayah-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program dana desa terhadap pembangunan desa (Studi kasus desa sangia makmur kecamatan kabaena utara kabupaten bombana).
Skripsi ini penulis buat untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan program Sarjana (S1) pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
Teristimewah dan terutama penulis sampaikan ucapan Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis Bapak Ali Sadikin dan Ibu Muawanah yang senantiasa mendoakan, mengarahkan, dan memberi semangat tanpa kenal kata lelah. Dan saudara-saudaraku yang senantiasa memberi dukungan dan semangat hingga akhir studi ini. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan dunia dan akhirat nanti.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Begitu juga penghargaan yang setinggi-tingginya dan terimah kasih banyak penulis sampaikan dengan hormat kepada :
1. Bapak Prof Dr. Ambo Asse, M.Ag. Rektor Universitas Muammadiyah Makassar.
x
2. Bapak Dr. Andi Jam’an, S.E., M.Si, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Bapak Muh. Nur Rasyid S.E., MM., Selaku Ketua Jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Bapak Dr. Agus Salim HR, S.E ., M.M Selaku Pembimbing I yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing, mengarahkan dan memberi semangat kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
5. Bapak Muh. Nur Rasyid S.E., MM., Selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan dan memberi semanagat kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
6. Bapak/ibu dan Asisten Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang tak kenal lelah banyak menuangkan ilmunya kepada penulis selama mengikuti kuliah.
7. Para staf karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
8. Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Manajemen angkatan 2016 utamanya kelas Manajemen B angkatan 2016 yang selalu belajar bersama yang tidak sedikit bantuannya dan dorongan dalam aktivitas studi penulis.
9. Terima kasih teruntuk sahabat-sahabat ku yang tidak bisa saya tulis satu persatu yang telah memberikan semangat, kesabaran, motivasi, dan dukungannya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. 10. Kepala desa Sangia Makmur, serta masyarakat desa atas izin dan
xi
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna oleh karena itu, kepada semua pihak utamanya para pembaca penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak utamanya kepada Almamater Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, Mei 2021
xii DAFTAR ISI
SAMPUL ... ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
SURAT PERNYATAAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
ABSTRAK ... ... x
ABSTRACT ... ... xi
DAFTAR ISI ... ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv ... BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 4 C. Tujuan Penelitian ... 4 D. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Manajemen Sumber Daya Manusia ... 5
B. Partisipasi Masyarakat ... 9
C. Program Dana Desa ... 15
D. Pembangunan Desa ... 19
xiii
F. Kerangka Konsep ... 33
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 35
B. Fokus Penelitian ... 35
C. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian ... 36
D. Sumber Data ... 36
E. Teknik Pengumpulan Data ... 36
F. Instrument Penelitian ... 37
G. Metode Analisis Data ... 38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 40
B. Hasil Penelitian ... 46
C. Analisis dan Interpretasi (Pembahasan) ... 52
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 57
B. Saran ... 57 DAFTAR PUSTAKA
xiv
DAFTAR TABEL
Nomor
xv
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Gambar 2.1 Kerangka Pikir ... 34 Gambar 4.1 Struktur Organisasi ... 43
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang
Desa merupakan wilayah yang memiliki hak otonom untuk mengatur dan mengurus pembangunannya sendiri dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, posisi desa menjadi sangat penting mengingat sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di desa, sehingga apabila pemerintah desa dapat menjalankan peran dan fungsi dengan baik dalam membangun desanya maka akan mendukung keberhasilan pembangunan nasional. Wilayah desa merupakan salah satu titik berat pembangunan nasional untuk terciptanya kestabilan dan kemajuan Indonesia secara menyeluruh dengan melalui pembangunan potensi yang ada di pedesaan harus dikembangkan dan kekurangan yang ada harus segera diatasi, Maka disinilah peran penting dari partisipasi masyarakat itu sendiri.
Partisipasi masyarakat saat ini sering menjadi perbincangan diberbagai wilayah, baik pada daerah perkotaan maupun pedesaan. Partisipasi masyarakat itu sendiri sangat mempengaruhi keberhasilan suatu perencanaan atau program-program yang ada pada desa, keberhasilan suatu program desa tanpa adanya partisipasi masyarakat tidak akan berjalan dengan baik sehingga keikut sertaan masyarakat akan sangat dibutuhkan dalam perencanaan maupun program agar dapat berjalan dengan baik. Keberhasilan suatu program pembangunan bukan hanya berdasarkan kemampuan pemerintah tetapi juga berkaitan dengan partisipasi masyrakat dalam menjalankan program pembangunan, guna mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi desa dalam penyelenggaraan pemerintah dan
pembangunan desa dalam segala aspek-aspek yang sesuai dengan kewenangan yang dimiliki seperti yang telcantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa memberikan mandat kepada pemerintah untuk mengalokasikan dana desa. Dana desa tersebut dianggarkan setiap tahun dalam anggaran pendapatan belanja negara (APBN) yang kemudian diberikan kepada setiap desa sebagai salah satu pendapatan desa. Dana desa disusun untuk memberikan status hukum yang lebih kuat untuk desa dan memastikan alokasi anggaran pembangunan tahunan.
Program dana desa merupakan dana yang diberikan kepada desa yang berasal dari dana perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah yang diterima oleh kabupataen atau kota. Melalui program dana desa, desa ataupun kelurahan berpeluang penting untuk mengelolah pembangunan, pemerintah dan sosial kemasyarakatan desa secara otonom. Pengelolaan program dana desa dilakukan melalui pembangunan fisik dan non fisik yang berhubungan dengan indikator pekembangan desa seperti pendidikan, kesehatan dan pendapatan. Dana desa yang dipergunakan untuk keperluan pembangunan di desa sangia makmur kecamatan kabaena utara kabupaten bombana sudah terlaksana namun belum mencapai subtansi pembangunan partisipatif, hal ini dapat dilihat dari partisipasi masyarakat yang belum optimal. Tujuan dari pelaksanaan alokasi dana desa adalah untuk meningkatkan pembangunan desa, baik pembangunan fisik maupun pembangunan non fisik.
Hal ini juga berhubungan dengan indikator pembangunan desa. Indikator pembangunan desa tersebut meliputi tingkat pendidikan, tingkat
pendapatan masyarakat, Dengan adanya dana desa diharapkan pembangunan fisik desa yang selama ini jauh dari cukup dapat ditingkatkan (Siwastiono, Sadu, 2006: 111). Kebutuhan desa yang diperhitungkan dari variabel jumlah penduduk, luas wilayah, kondisi geografis dan potensi alam serta tingkat pendapatan masyarakat yang berada dibawah garis kemiskinan.
Pembangunan desa diharuskan mengutamakan kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan perbaikan pembangunan di Desa Sangia Makmur, Kecamatan Kabaena Utara tersebut. Fenomena dan realita yang terjadi di Desa Sangia Makmur Kecamatan Kabaena Utara, Kabupaten Bombana kurang akan perbaikan infrastruktur jalan dikarenakan kurang efektifnya perbaikan infrastruktur jalanan di Desa Sangia Makmur. Pada tahun 2016 pemerintah telah membuat program pembangunan infrastruktur perbaikan jalan namun hasilnya kurang efektif, sebab kurangnya partisipasi dan kerjasama dari masyarakat dikarenakan beberapa hal seperti: kesibukan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan mereka, kurangnya kesadaran akan pentingnya kerjasama dalam membangun desa oleh karena itu masyarakat kurang berpartisipasi.
Berdasarkan dari fenomena yang telah dijelaskan diatas penulis tertarik untuk meneliti seberapa besar keterkaitan antara “Partisipasi Masyarakat Dalam Pelaksanaan Program Dana Desa Terhadap Pembangunan Desa (Studi Kasus Dasa Sangia Makmur, Kecamatan Kabaena Utara, Kabupaten Bombana)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan maka rumusan masalah yang diangkat dari penelitian ini yaitu Bagaimana tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program dana desa terhadap pembangunan desa di Desa Sangia Makmur.
C. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini yaitu untuk megetahui bagaimana partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan prongram dana desa terhadap pembangunan Desa Sangia Makmur.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Secara praktis, yakni memberikan data dan informasi yang berguna bagi semua kalangan terutama mereka yang secara serius mengamati jalannya partisipasi masyarakat, serta memberikan masukan bagi masyarakat khususnya di tempat penelitian ini dilaksanakan agar dapat terus meningkatkan peran aktifnya dalam membangun daerahnya.
2. Secara akademis, yakni peneliti ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara langsung atau tidak bagi kepustakaan jurusan manajemen dan bagi kalangan penulis lainnya yang tertarik untuk mengesplorasi kembali kajian tentang model partisipasi publik dalam proses perencanaan pembangunan di daerah lain.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Manajemen Sumber Daya Manusia
1. Pengertian Manajemen Sumber Manusia
Dalam suatu organisasi hal yang paling penting yang dilakukan adalah sumber daya manusia yang menjadi pendukung utama tercapainya tujuan organisasi. Sumber daya manusia menempati posisi strategis dalam suatu organisasi, maka dari itu sumber daya manusia harus digerakan secara efektif dan efesien sehingga mempunyai tingkat hasil daya guna yang tinggi (Setiawan 2016).
Menurut Desller dalam (Setiawan 2016) mendefinisikan manajemen sumber daya manusia sebagai kebijakan dan praktik menentukan aspek manusia atau sumber daya manusia dalam posisi manajemen, termasuk merekrut, menyaring, melatih, memberi penghargaan dan penilaian. Sedangkan menurut Andrew menurut Mengkunegara (Setiawan 2016) berpendapat bahwa perencanaan sumber daya manusia atau perencanaan tenaga kerja didefinisikan sebagai proses menentukan kebutuhan tenaga kerja dan berarti mempertemukan kebutuhan tersebut agar pelaksanaannya berintegrasi dengan rencana organisasi.
Para ahli masing masing mempunyai pandangan yang berbeda-beda dalam mendefinisikan sumber daya manusia namun inti dari masing masing pengertian tersebut sama-sama memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menciptakan sumber daya manusia sebagai aset sebuah perusahaan.
2. Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)
Terdapat beberapa macam fungsi utama manjemen Sumber Daya Manusia, yaitu :
a. Perencanaan untuk kebutuhan SDM
Fungsi perencanaan kebutuhan SDM setidaknya meliputi dua kegiatan utama, yaitu :
1) Perencanaan dan peramalan permintaan tenaga kerja organisasi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. 2) Analisis jabatan dalam organisasi untuk menentuka
tugas,tujuan, keahlian, pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan. Kedua fungsi tersebut sangat esensial dalam melaksanakan kegiatan MSDM secara efektif.
b. Staffing sesuai dengan kebutuhan organisasi setelah kebutuhan SDM ditentukan, langkah selanjutnya adalah mengisi formasi yang tersedia. Dalam tahap pengisian staf ini terdapat dua kegiatan yang diperlukan, yaitu :
1) Penarikan (rekrutmen) calon atau pelamar pekerjaan
2) Pemilihan (seleksi) para calon atau pelamar yang dinilai paling memenuhi syarat. Umumnya rekrutmen dan seleksi diadakan dengan memusatkan perhatian pada ketersediaan calon tenaga kerja baik yang ada di luar organisasi (eksternal) maupun dari dalam organisasi (internal).
c. Penilaian kerja
Kegiatan ini dilakukan setelah calon atau pelamar dipekerjakan dalam kegiatan organisasi. Organisasi menentukan bagaimana
sebaiknya bekerja dan kemudian memberi penghargaan atas kinerja yang dicapainya. Sebaliknya organisasi juga harus menganalisis jika terjadi kinerja negative dimana pekerja tidak dapat mencapai standar kinerja yang ditetapkan. Dalam penilaian kinerja ini dilakukan dua kegiatan utama, yaitu :
1) Penilaian dan pengevaluasian pelaku pekerja. 2) Analisis dan pemberian motivasi prilaku pekerja
Kegiatan penilaian kinerja ini dinilai sangat sulit baik bagi penilai maupun yang dinilai. Kegiatan ini rawan dengan munculnya konflik.
d. Perbaikan kualitas pekerja dan lingkungan kerja
Saat ini perhatian SDM mengarah pada tiga kegiatan strategis, yaitu :
1) Menentukan, merancang dan mengimplementasikan program pelatihan dan pengembangan SDM guna kemampuan dan kinerja karyawan.
2) Memperbaiki kualitas lingkungan kerja, khususnya melalui kualitas kehidupan kerja dan program perbaikan produktifitas. 3) Memperbaiki kondisi fisik kerja guna memaksimalkan
kesehatan dan keselamatan pekerja. Salah satu outcome yang dapat diperoleh dari ketiga kegiatan strategis tersebut adalah peningkatan atau perbaikan kualitas fisik dan non fisik lingkungan kerja.
3. Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia
Untuk menjalankan visi, misi dan program kerja perusahaan, diperlukan sebuah divisi yang mampu menjalankan semua sistem yang telah ditentukan. Divisi manajemen pun dipilih untuk melakukan berbagai tugas penting, diantaranya :
a. Melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap strategi yang telah dibuat oleh perusahaan.
b. Melakukan evaluasi terhadap kinerja karyawan sehingga dapat melakukan penyesuaian dan koreksi terhadap permasalahan yang timbul, sehingga tidak terdampak lebih luas lagi.
c. Melakukan up grade strategi yang telah ditentukan secara berkala agar dapat berdampak pada hasil yang lebih optimal.
d. Melakukan peninjauan dan mengajak SWOT perusahan
e. Melakukan riset terhadap perkembangan pangsa pasar sehingga dapat selalu melakukan inovasi.
4. Sasaran Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia memiliki kontribusi yang sangat penting dalam kepemimpinan dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang timbul dalam sebuah perusahaan. Sasaran yang menjadi fokus manajemen sumber daya manusia (SDM) dalam sebuah perusahaan yaitu:
a. Perekrutan tenaga kerja b. Manajemen kinerja karyawan
c. Pemberian tunjangan dan kompensasi kinerja d. Kesehatan dan keselamatan karyawan
e. Pemeberi motivasi kerja
f. Komunikasi dengan berbagai pihak internal dan eksternal perusahaan.
g. Edukasi karyawan
Sasaran manajemen sumber daya manusia (SDM) harus dilakukan dengan mengintegrasikan kepentingan perusahaan dan karyawan melalui strategi dan pendekatan yang tepat. Devisi ini bukan hanya menangani administrasi dan hal-hal yang bersifat transaksional.
B. Partisipasi Masyarakat
1. Konsep Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarakat merupakan suatu konsep yang merujuk pada keikutsertaan seseorang dalam berbagai aktivitas pembangunan. Keikutsertaan ini sudah tentu didasari oleh motif-motif dan keyakinan akan nilai-nilai tertentu. Secara konseptual partisipasi masyarakat merupakan alat dan tujuan pembangunan masyarakat, partisipasi masyarakat berfungsi sebagai penggerak dan pengarah proses perubahan sosial.
Bornby (Dalam Theresia et al, 2015 :196) mengartikan partisipasi sebagai tindakan untuk mengambil bangian kegiatan atau peryataan untuk mengambil bagian dari suatu kegiatan dengan maksud memperoleh manfaat. Sedangkan dalam kamus sosiologi yang sudah disusun oleh Theodorson (dalam Theresia et al, 2015 :196) menyebutkan bahwa partisipasi merupakan keikutsertaan seorang dalam kelompok sosial untuk mengambil bagian dari kegiatan
masyarakat. Dari pengertian partisipasi yang telah dikatakan diatas, Theresia et al, (2015 :198) menyimpulkan bahwa : Partisipasi atau peran serta pada dasarnya merupakan suatu bentuk keterlibatan dan keikutsertaan secara aktif dan sukarela, baik karena alasan dari dalam ataupun dari luar. Proses kegiatan yang bersangkutan mencakup : pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, serta pemanfaatan hasil kegiatan.
Beberapa hal pokok yang terkandung dalam batasan dari partisipasi, yaitu :
a. Partisipasi berarti keterlibatan mental dan emosi yang lebih banyak dari keterlibatan fisik, dan ini akan menimbulkan kesadaran sehingga dapat menumbuhkan partisipasi.
b. Partisipasi mendorong orang untuk memberikan sumbangan atau dukungan kepada kehidupan kelompok yang nantinya yang akan memberikan pengaruh kepada kelangsungan hidup kelompok dalam mencapai tujuan bersama.
c. Partisipasi mendorong seseorang untuk bertanggungjawab dalam suatu kegiatan demi kepentingan bersama, karena apa yang disumbangkan dilakukan dengan sukarela sehingga akan menimbulkan rasa keterlibatan diri organisasi.
Menurut Bornby (dalam Theresia et al, 2015 ;196) mengartikan partisipasi sebagai tindakan untuk mengambil bagian yaitu kegiatan atau peryataan untuk mengambil bagian kegiatan dengan maksud memperoleh manfaat. Partisipasi atau peran serta pada dasarnya merupakan suatu bentuk keterlibatan dan keikutsertaan secara aktif
dan sukarela, baik karena alasan dari dalam maupun dari luar dengan keseluruhan proses kegiatan yang bersangkutan, yang mencakup pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, serta pemanfaatan hasil kegiatan yang dilaksanakan.
2. Bentuk Partisipasi
Dusseldrop (dalam Theresia et al, 2015 :200) mengidentifikasi beragam bentuk kegiatan partisipasi yang dilakukan setiap warga masyarakat yaitu :
a. Menjadi anggota kelompok masyarakat
b. Melibatkan diri pada kegiatan diskusi kelompok
c. Melibatkan diri pada kegiatan organisasi untuk menggerakkan partisipasi masyarakat yang lain.
d. Mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan e. Menggerakkan sumber daya masyarakat
f. Memanfaatkan hasil kegiatan yang dicapai masyarakat. 3. Tingkat Partisipasi Masyarakat
Dilihat dari tingkatan atau tahapan partisipasi, Wilcox (dalam Theresia et al, 2015 :202) mengemkakan ada 5 tingkatan :
a. Memberikan informasi (information).
b. Consultation, yaitu dimana stakeholder mempunyai peluang untuk memberikan saran akan digunakan seperti yang mereka harapkan.
c. Bertindak bersama (acting together), dalam artian tidak sekedar ikut dalam pengambilan keputusan, tetapi juga terlibat dan menjalin kemitraan dalam pelaksanaan kegiatan.
d. Pengambilan keputusan bersama (deciding together) dalam arti memberikan dukungan terhadap ide atau gagasan serta mengembangkan peluang yang diperlukan guna pengambilan keputusan.
4. Tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan
Yadav (dalam Theresia et al (2015 :198) mengemukakan tentang adanya empat macam kegiatan yang menunjukan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan, yaitu :partisipasi dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan kegiatan, pemantauan, serta pemanfaatan hasil pembangunan.
Lebih lanjut Theresia et al (2015 :198) memberikan penjelasan sebagai berikut :
a. Partisipasi dalam pengambilan keputusan
Pada umumnya setiap program pembangunan masyarakat termasuk pemanfaatan sumber daya lokal dan alokasi anggarannya selalu ditetapkan sendiri oleh pemerintah pusat. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan perlu ditumbuhkan melalui dibukanya forum yang memungkinkan masyarakat banyak berpartisipasi langsung dalam proses dalam proses pengambilan keputusan tentang program pembangunan.
b. Partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan sering juga diartikan sebagai partisipasi masyarakat banyak yang umumnya lebih kurang mampu, untuk secara sukarela menyumbangkan tenaganya untuk kegiatan pembangunan yang dilakukan. Adapun lapisan yang diatas umumnya terdiri dari orang kaya lebih banyak memperoleh manfaat dari hasil pembangunan mereka tidak dituntut untuk memberikan sumbangannya secara professional. Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan adalah partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan proyek pembangunan yang telah berhasil dikerjakan.
c. Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan
Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan merupakan unsur sangat penting , sebab tujuan tujuan pembangunan tersebut untuk memperdayakan masyarakat sehingga pemerataan hasil pembangunan merupaka tujuan utama. Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan sering kurang mendapat perhatian dari pemerintah pada umumnya. Pemerintah sering kali menganggap bahwa dengan selesainya kegiatan pembangunan itu otomatis manfaatnya sudah pasti dapat dirasakan oleh masyarakat sasaranya. Padahal seringkali masyarakat justru tidak memahami manfaat dari setiap program pembangunan secara langsung, sehingga hasil pembangunan yang dilaksanakan sia-sia.
5. Metode Partisipasi
Metode partisipasi merupakan proses pengumpulan data yang melibatkan kerjasama aktif antara pengumpulan data dan responden. Pertanyaan pertanyaan umumnya tidak dirancang secara baku, melainkan hanya garis-garis besarnya saja. Topik-topik pertanyaan bahkan dapat muncul dan berkembang berdasarkan proses tanya jawab dengan responden. Terdapat banyak teknik pengumpuklan data partisipasi.Terdapat 4 (empat) diantaranya:
a. Penelitian dan Aksi partisipasi (Participatory Research and Action).
Metode ini biasanya menggunakan teknik-teknik visual (tanaman, biji-bijian, tongkat) sebagai alat petunjuk pendataan sehingga memudahkan masyarakat biasa (bahkan yang buta huruf) berpartisipasi.
b. Stakeholder Analysis. Analisis terhadapa para peserta atau pengurus dan anggota suatu program, proyek pembangunan atau organisasi sosial tertentu mengenai isu-isu yang terjadi dilingkungannya, seperti relasi kekuasaan, pengaruh, dan kepentingan-kepentingan berbagai pihak yang terlibat dalam suatu kegiatan. Metode ini digunakan terutama untuk menentukan apa masalah dan kebutuhkan suatu organisasi, kelompok, atau masyarakat setempat.
C. Program Dana Desa 1. Konsep dana desa
Terbitnya undang-undang tentang pemerintah desa pada tahun 2004 tentu memberikan dampak yang positif. Hal ini diberitahukan kepada masyarakat terkait dengan adanya dana desa yang begitu besar. Tentu kesempatan itu diharapkan dapat mengembangkan potensi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Adapun konsep dari dana desa yaitu :
a) Dana desa adalah dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan dana tersebut ditransfer lewat anggaran dan belanja daerah (APBD) kabupaten atau kota yang selanjutnya ditransfer ke APB desa. Dana juga merupakan dana pembangunan yang disentralisasikan bagi desa sebagai proporsi tertentu dari APBD dan APBN yang ditunjukan untuk pemerataan keuangan desa.
b) Definisi lain mengenai dana desa juga dimaknai sebagai pengelolaan keuangan harus berdasarkan keterbukaan kepada masyarakat. Pelaksanaan yang nyata berdasarkan perencanaan yang sesuai dengan pelaksanaan laporan pengeluaran dan pencatatan, tanggungjawab berdasarkan hasil laporan.
2. Tujuan dan fungsi dana desa
Mengacu kepada UU nomor 6 tahun 2014 tentang pemerintah desa, maka masyarakat secara umum diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Berikut ini adalah tujuan dan fungsi dari dana desa :
a. Berdasarkan peraturan pemerintah tahun 2014 tentang dana desa mengatur tujuan dana desa sebagai berikut :
1) Meningkatkan penyelenggaraan pemerintah desa dalam melaksanakan pelayanan pemerintah, pembangunan dan kemasyarakatan sesuai kewenangannya.
2) Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan desa dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pembangunan secara partisipatif sesuai dengan potensi desa. 3) Meningkatkan pemerataan pendapatan, kesempatan bekerja
dan kesempatan berusaha bagi masyarakat desa. 4) Meningkatnya swadaya gotong royong masyarakat.
b. Berkaitan dengan fungsi dari dana desa itu sendiri yaitu dilihat dari principal, yaitu dalam upaya mengurangi tingkat kesenjangan pembangunan antar desa dalam konteks desentralisasi dan dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan.
3. Penggunaan Dana Desa
Peraturan menteri desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi republik Indonesia nomor 4 tahun 2017 sebagai perubahan atas Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa 2017. Peraturan ini menjadi salah satu dasar serta pedoman penggunaan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Secara umum, prioritas penggunaan dana desa tahun 2017 tetap ditujukan pada dua bidang yakni pembangunan desa dan
pemberdayaan masyarakat desa. Penggunaan dana desa untuk pembangunan desa bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, peningkatan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan. Untuk itu, penggunaan dana desa untuk pembangunan desa berdasarkan Pasal 5 Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 yang telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2017 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2017 diarahkan pada program-program seperti:
a. Pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan sarana prasarana dasar untuk pemenuhan kebutuhan: lingkungan, pemukiman, transportasi, energi, dan informasi dan komunikasi. b. Pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan
sarana prasarana pelayanan sosial dasar untuk pemenuhan kebutuhan: kesehatan masyarakat, pendidikan dan kebudayaan. c. Pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan
sarana prasarana. untuk mewujudkan Lumbung Ekonomi Desa yang meliputi: usaha ekonomi pertanian berskala produktif untuk ketahanan pangan, usaha ekonomi pertanian berskala produktif yang difokuskan pada kebijakan satu Desa satu produk unggulan yang meliputi aspek produksi, distribusi dan pemasaran dan usaha ekonomi berskala produktif lainnya yang difokuskan pada
kebijakan satu Desa satu produk unggulan yang meliputi aspek produksi, distribusi dan pemasaran.
d. Pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan sarana prasarana lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan: kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, penanganan bencana alam, penanganan kejadian luar biasa lainnya dan pelestarian lingkungan hidup.
e. Pengadaan, pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan sarana prasarana lainnya yang sesuai dengan kebutuhan desa dan ditetapkan dalam musyawarah desa.
4. Mekanisme Penyaluran Alokasi Dana Desa
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mekanisme penyaluran Alokasi Dana Desa adalah sebagai berikut55:
a) Penyediaan dana untuk ADD beserta untuk pengelolaannya dianggarkan dalam APBD setiap tahunnya.
b) Pengajuan ADD dapat dilakukan oleh pemerintah desa apabila sudah ditampung dalam APBDes yang ditetapkan dengan peraturan desa.
c) Mekanisme penyaluran secara teknis yang menyangkut penyimpanan, nomor rekening, transfer, surat permintaan pembayaran, mekanisme pengajuan dan lain-lain diatur lebih lanjut sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di daerah.
D. Pembangunan Desa
1. Pengertian Pembangunan Desa
Pada hakikatnya pengertian pembangunan secara umum adalah proses perubahan secara terus menerus untuk menuju keadaan yang lebih baik berdasarkan norma-norma tertentu. Mengenai pengertian pembangunan, para ahli memberikan definisi bermacam-macam seperti halnya perencanaan. Istilah pembangunan dapat diartikan berbeda oleh satu orag denga orang lain, daerah yang satu dengan daerah lainnya, negara satu dengan negara lainnya.
Menurut Bintoro Tjokroamidjojo pembangunan merupakan suatu usaha perubahan dan pembangunan dari suatu keadaan dan kondisi masyarakat tertentu kepada suatu keadaan dan kondisi masyarakat yang dianggap lebih baik. Sedangkan menurut Rostow yang diambil dalam Mansor Fakih mendefinisikan pembangunan yang dikaitkan dengan perubahan sosial yakni suatu pembangunan semata hanya untuk merubah kehidupan masyarakat itu sendiri atau perubahan masyarakat masyarakat dari tradisional modern, dalam perkembangan pembangunan melalui tahapan masyarakat tradisional, prakondisi lepas landas, gerak menuju kematangan dan masa konsumsi besar-besaran.
Menurut Efendi (2015 :2) pembangunan merupakan upaya meningkatkan segenap sumber daya yang dilakukan secara berencana dan berkelanjutan dengan prinsip daya guna yang merata dan berkedilan. Dalam hal pembangunan dapat dikatakan berorientasi pada pembangunan masyarakat, dimana pendidikan menempati
posisi yang utama dengan tujuan untuk membuka wawasan dan kesadaran warga akan arah cita-cita yang lebih baik.
Konsep ini memberikan beberapa implikasi bahwa pembangunan bukan hanya diarahkan untuk peningkatan income tetapi juga pemerataan. Pembangunan harus memperhatikan aspek kemanusiaan seperti peningkatan (Life Sustenance; kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, Self-Esteem; kemampuan untuk menjadi orang yang utuh yang memiliki harga diri, bernilai dan tidak diisap orang lain). Pembangunan dikatakan sebagai sebuah konsep normatif dan proses multidimensi yang menuju ke arah perubahan sosial secara komprehensif maupun inkremental. Pembangunan yang normative dimaksudkan bahwa didalam gerak laju/kegiatan pembangunan itu harus diambil keputusan, guna pelaksanaannya sesuai dengan kondisi hakiki dari pada kebutuhan masyarakat secara umum atau seluruh kepentingan masyarakat.
Pembangunan sebagai upaya memperbaiki keadaan, dalam arti yang lebih buruk menjadi baik dikemukakan oleh Kirdi dipoyudo bahwa “Pembangunan nasional adalah rangkaian usaha secara sadar berencana untuk memperbaiki keadaan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan yang meliputi program-program pembangunan yang dilaksanakan secara terus-menerus untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.” Bintoro (1986). Selain dilihat sebagai upaya memperbaiki keadaan, pembangunan juga dapat dilihat sebagai salah satu jalan untuk mengetahui segala potensi kreatif yang dimiliki oleh masyarakat seperti yang dikemukakan oleh Jakob Oetama sebagai
berikut : “Pembangunan berusaha menggerakkan dan menguakkan potensi kreatif yang ada dalam masyarakat. Untuk merangsang potensi kreatif itu maka pembangunan mempertimbangkan sistem nilai struktur yaitu hubungan-hubungan dan peranan-peranan yang ada dalam masyarakat.” Jakob (1984). Potensi yang dimiliki masyarakat seringkali terpendam dan untuk membangkitkan kembali harus melalui pembangunan. Potensi yang telah muncul 28 melalui pembangunan tersebut sekaligus merupakan salah satu faktor yang dapat memperlancar jalannya roda pembangunan. Potensi-potensi yang dimaksudkan berupa budaya, ekonomi, nilai dan sebagainya. 2. Ciri-ciri dan Prinsip Pembangunan Desa
Pembangunan desa dengan berbagai masalahnya merupakan pembangunan yang berlangsung menyentuh kepentingan bersama. Dengan demikian desa merupakan titik sentral dari pembangunan nasional Indonesia. Oleh karena itu, pembangunan desa tidak mungkin bisa dilaksanakan oleh satu pihak saja, tetapi harus melalui koordinasi dengan pihak lain, baik dengan pemerintah maupun masyarakat secara keseluruhan. Dalam merealisasikan pembangunan desa agar sesuai dengan apa yang diharapkan perlu memperhatikan beberapa pendekatan dengan ciri-ciri khusus yang sekaligus merupakan identitas pembangunan desa itu sendiri, seperti yang dikemukakan oleh C.S.T Kansil, (1983 :251) yaitu :
a. Komprehensif multi sektoral yang meliputi berbagai aspek, baik kesejahteraan maupun aspek keamanan dengan mekanisme dan
sistem pelaksanaan yang terpadu antar berbagai kegiatan pemerintah dan masyarakat.
b. Perpaduan sasaran sektoral dengan regional dengan kebutuhan essensial kegiatan masyarakat.
c. Pemerataan dan penyebarluasan pembangunan keseluruhan pedesaan termasuk desa-desa diwilayah keseluruhan.
d. Satu kesatuan pola dengan pembangunan nasional dan daerah pedesaan, daerah perkotaan serta antara daerah pengembangan wilayah sedang dan kecil.
e. Menggerakan partisipasi, prakaras dan swadaya gotong royong masyarakat serta mendinamisir unsur-unsur kepribadian dengan teknologi tepat waktu.
Jadi dalam merealisasikan pembangunan desa itu harus meliputi bebagai aspek, jangan dari satu aspek saja, agar pembangunan desa itu dapat sesuai dengan apa yang diinginkan. Pembangunan desa itu harus meliputi berbagai aspek kehidupan dan penghidupan artinya harus melibatkan semua komponen yaitu dari pihak masyarakat dan pemerintah dan harus langsung secara terus menerus demi tercapainya kebutuhan pada masa sekarang dan masa yang akan datang.
3. Strategi Pembangunan
Pemerintah di negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia juga telah merencanakan berbagai macam program pembangunan pedesaan. Program-program pembangunan pedesaan tersebut antara lain :
a) pembangunan pertanian (agricultural development) b) industrialisasi pedesaan (rural industrialization)
c) pembangunan masyarakat desa terpadu (integrated rural development)
d) strategi pusat pertumbuhan (growth centre strategy)
Uraian berikut berusaha membahas secara ringkas asumsi-asumsi dasar, sasaran dan bagaimana pelaksanaan program-program tersebut, serta ada hambatan ketika diimplementasikan. a. Pembangunan pertanian (agricultural development)
Tujuan yang hendak dicapai oleh pembangunan pertanian adalah untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyakat desa dengan cara meningkatkan output dan pendapatan mereka. Peningkatan produksi pertanian dianggap sangat strategis, karena tidak hanya diperlukan untuk kebutuhan pangan (baik dipedesaan maupun diperkotaan), tetapi sekaligus juga untuk memenuhi kebutuhan dasar industri kecil dan kerumah tanggaan, serta untuk menghasilkan produk pertanian ekspor yang dibutuhkan oleh negara maju. Implementasi program pembangunan pertanian ini telah merombak sistem pertanian dan model usaha tani. Karena itu, lahirlah sebutan green revolution (revolusi hijau). Di Indonesia, seperti telah diutarakan dalam uraian terdahulu, program pembangunan pertanian yang dicanangkan pemerintah Orde Baru secara intensif pada Pelita 1 telah membuahkan hasil yang spektakuler. Indonesia yang semula tergolong pengimpor beras
nomor satu didunia menjadi negara berswasembada pangan. 53 Industralisasi Pedesaan (rural industrialization).
Tujuan utama program industralisasi pedesaan adalah mengembangkan industri kecil dan kerajinan. Industrialisasi pedesaan merupakan alternatif yang sangat strategis bagi upaya menjawab persoalan semakin sempitnya rata-rata pemilikan dan penguasaan lahan dipedesaan serta keterbatasan elastisitas tenaga kerja.
b. Pembangunan Masyarakat Desa Terpadu (Integrated Development)
Tujuan utama program pembangunan masyarakat desa terpadu adalah meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas hidup penduduk pedesaan serta memperkuat kemandirian. Menurut Waterston, ada enam elemen dasar yang melekat dalam program pembangunan semacam ini, yaitu: pembangunan pertanian dengan mengutamakan padat karya (labour intensive), memperluas kesempatan kerja, intensifikasi tenaga kerja skala kecil, dengan cara mengembangkan industri kecil di pedesaan, mandrii dan meningkatkan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan, mengembangkan daerah perkotaan yang mampu memberi dukungan pada pembangunan pedesaan, dan membangun kelembagaan yang mampu melakukan koordinasi proyek multisektor.
4. Sasaran Pembangunan Pedesaan
Pembangunan pedesaan yang dilaksanakan harus sesuai dengan masalah yang dihadapi, potensi yang dimiliki aspirasi masyarakat dan prioritas pembangunan pedesaan yang telah ditetapkan. Sasaran umum yang diharapkan dapat dicapai adalah pertumbuhan ekonomi pedesaan berbasis ekonomi pedesaan berbasis sumberdaya pertanian (agricultural resource based) yang ditunjang oleh kegiatan sektor non pertanian dengan memperhatikan kelestariaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat kecil. Sasaran umum tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa sasaran khusus sebagai berikut : a. Tersedianya infrastruktur fisik dan sosial yang mencakup jaringan
jalan, fasilitas pendidikan dan kesehatan yang tersebar seluruh wilayah.
b. Terlaksananya pembangunan ekonomi yang mencakup ketersediaan sumber-sumber penghasilan, produktivitas pertanian yang tinggi, dan tingkat efesien yang tinggi dalam pemanfaatan sumberdaya alam.
c. Tercapainya kelestarian lingkungan yang meliputi terciptanya kesadaraan akan pentingnya lingkungan, berkembangnya kepedulian lingkungan semua pihak, dan adanya upaya untuk menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan yang terjadi.
d. Konsep Perencanaan Pembangunan dari Bawah (Bottom Up Planning)
Disadari bahwa pembangunan pedesaan telah dilakukan secara luas, tetapi hasilnya dianggap belum memuaskan dilihat dari keterlibatan peran serta Masyarakat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Pembangunan pedesaan seharusnya dilihat bukan hanya sebagai obyek, tetapi harus dipandang sebagai objek pembangunan. Pembangunan pedesaan harus diletakkan dalam konteks sebagai upaya mempercepat pembangunan pedesaan melalui penyediaan prasarana dan sarana pembangunan untuk memberdayakan masyarakat, dan sebagai upaya mempercepat dan memperkokoh pembangunan ekonomi daerah dalam arti luas secara efektif dan kokoh.
Penentuan program pembangunan oleh masyarakat yang bersangkutan merupakan bentuk perencanaan dari bawah, dari akar rumput bawah atau sering disebut bottom up planning. Peningkatan partisipasi masyarakat merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat (social emprowering) secara nyata dan terarah. Partisipasi atau peran serta masyarakat dalam pembangunan (pedesaan) merupakan aktualisasi dari kepedulian, kesediaan, dan kemauan masyarakat untuk berkorban dan berkontribusi terhadap implementasi program-program yang dilaksanakan didaerah tersebut.
Bentuk partisipasi masyarakat tersebut antara lain, mereka bersedia menyerahkan sebagai lahan/tanahnya yang dilewati oleh pembangunan jalan desa atau jaringan irigasi, tanpa meminta pembayaran ganti rugi harga lahan/tanah tersebut, kerja
bersama-sama dalam pembangunan jalan desa (tanpa diberikan upah), dan lainnya.
5. Pentingnya Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan
Keberhasilan pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan desa pada khususnya tidak hanya ditentukan oleh pemerintah dan aparatnya melainkan juga oleh besarnya pengertian, kesadaran dan seluruh partisipasi masyarakat. Partisipasi adalah mengambil dan turut menyusun, turut melaksanakan dan turut bertanggungjawa. Partisipasi masyarakat dan kepemimpinan setempat tidak dapat dipisahkan satu sama lain dengan yang lainnya. Bila terpisahnya maka dengan sendirinya akan mengurangi atau bahkan kehilangan kekuatan. Misalnya partisipasi masyarakat besar, namun karena pemerintah desa tidak dapat menerapkan kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi setempat, maka potensi tidak akan pernah diwujudkan seperti yang diharapkan.
Dewasa ini diharapkan partisipasi masyarakat akan muncul dan tumbuh dari bawah sebagai inisiatif dan aktifitas yang lahir dari rasa tanggung jawab warga masyarakat dalam pembangunan pedesaan/kelurahan yang pada partisipasinya dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Dalam keputusan Presiden Republik Indonesia dengan nomor :319/19/1978 dijelaskan bahwa: “Berhasil tidaknya repelita akan tergantung pada banyaknya tanggapan pengertian dan pertisipasi rakyat Indonesia dalam meyambut segala tantangan pembangunan ini secara positif guna meratakan jalan bagi cucu dan
generasi yang akan datang untuk mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila.” Sirajuddin (1991).
6. Jenis-Jenis Program Pembangunan Desa
Pembangunan desa akan semakin menantang di masa depan dengan kondisi perekonomian daerah yang semakin terbuka dan kehidupan berpolitik yang lebih demokratis. Akan tetapi desa sampai kini, masih belum beranjak dari profil lama, yakni terbelakang dan miskin. Meskipun banyak pihak mengakui bahwa desa mempunyai peranan yang besar bagi kota, namun tetap saja desa masih dipandang rendah dalam hal ekonomi ataupun yang lainnya. Oleh karena itu, sudah sewajarnya bila pembangunan pedesaan harus menjadi prioritas utama dalam segenap rencana strategi dan kebijakan pembangunan di Desa sangia makmur. Jika tidak, maka jurang pemisah antara kota dan desa akan semakin tinggi terutama dalam hal perekonomian. Adapun sasaran pokok pembangunan pedesaan adalah terciptanya kondisi ekonomi rakyat di pedesaan yang kukuh, dan mampu tumbuh secara mandiri. Sasaran pembangunan pedesaan tersebut diupayakan secara bertahap dengan langkah:
a. Peningkatan kualitas tenaga kerja di pedesaan b. Peningkatan kemampuan aparatur pemerintah desa
c. Penguatan lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat desa d. Pengembangan kemampuan sosial ekonomi masyarakat desa e. Pengembangan sarana dan prasarana pedesaan
f. Pemantapan keterpaduan pembangunan desa berwawasan lingkungan. Pembangunan Masyarakat Desa pada dasarnya adalah bertujuan untuk mencapai suatu keadaan pertumbuhan dan peningkatan untuk jangka panjang dan sifat peningkatan akan lebih bersifat kualitatif terhadap pola hidup warga masyarakat, yaitu pola yang dapat mempengaruhi perkembangan aspek mental (jiwa), fisik (raga), intelegensia (kecerdasan) dan kesadaran bermasyarakat dan bernegara. Akan tetapi pencapaian objektif dan target pembangunan desa pada dasarnya banyak ditentukan oleh mekanisme dan struktur yang dipakai sebagai sistem pembangunan desa. Konsep perencanaan pengembangan desa mencakup 5 dimensi sebagai pilar utama yaitu menyangkut tata ruang desa, perekonomian desa, sosial budaya desa, mitigasi bencana, lingkungan hidup. Target pembanguann desa yang obejktif adalah pembangunan yang jelas dan nyata sehinggaa menjadikan masyarakat yang tinggal di pedesaan akan semakin nyaman dan merasa tentram. Program pembangunan desa misalnya adalah: Pembangunan di bidang sarana dan prasarana desa (Infrastruktur) Pembangunan dibidang infrastruktur ini dimaksudkan untuk kelancaran segala bentuk aktifitas yang dilakukan oleh desa yang bersangkutan. Pembangunan infrastruktur di desa tersebut harus di dasarkan atau ditentukan oleh masyarakat itu sendiri. Sehingga memungkinkan tumbuhnya partisipasi masyarakat dalam proses pelaksanaanya. Di sisi lain infrastruktur yang di bangun juga dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab dalam mengelola dan memelihara setelah proyek
tersebut berakhir, dan di dalam membangun infrastruktur desa hendaknya mempunyai sasaran yang tepat sehingga sumber daya yang di milki oleh desa yang terbatas dapat di manfaatkan secara efektif dan efisien (Suriadi, 2005:61). Pemberdayaan masyarakat Masyarakat adalah sekelompok orang yang memiliki perasaan sama atau menyatu satu sama lain karena mereka saling berbagi identitas, kepentingan-kepentingan yang sama, Perasaan memilki, dan biasanya satu tempat yang sama (Suriadi, 2005:41). Menurut kodratnya, Manusia tidak dapat hudup menyendiri, Tetapi harus hidup bersama atau berkelompok dengan manusia yang lain yang dalam hubunganya saling membantu untuk dapat mencapai tujuan hidup menurut kemampuan dan kebutuhannya masing-masing atau dengan istilah lain adalah saling berinteraksi.
E. Tinjauan Empiris
Kajian empiris adalah kajian yang diperoleh dari hasil observasi beberapa penelitian sebelumnya. Kajian empiris adalah informasi yang membenarkan suatu penelitian dalam kebenaran atau kebohongan suatu kajian empiris. Dalam pandangan empiris, seseorang hanya dapat mengklaim seseorang yang memiliki sebuah kepercayaan yang benar berdasarkan bukti empiris yang nyata. Dalam arti lain, kajian empiris sama artinya dengan hasil dari suatu percobaan yang telah terbukti keasliannya atau keabsahannya.
Berikut ini sebagian contoh empiris yang berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program dana desa terhadap pembangunan desa yaitu sebagai berikut :
Tabel 2.1 Kajian Empiris
No Nama/Tahun Judul Penelitian Metodologi Penelitian Hasil Penelitian 1. Resa Kusumawati (2017) Partisipasi Masyarakat Dalam Penggunaan Dana Desa Bagi Kegiatan Pembangunan Di Desa Bayasari Kecamatan Jatinagara Kabupaten Ciamis Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif Hasil penelitian menunjukan bahwa hambatan yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam penggunaan dana desa bagi
kegiatan pembangunan di Desa Bayasari Kecamatan Jatinagara Kabupaten Ciamis diantaranya adalah kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang dana desa dan pentingnya
pembangunan sehingga menyebabkan
pembangunan yang dibiayai dana desa belum mencapai subtansi pembangunan partisipatif. 2. Ibran (2018) Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Desa (Studi di desa Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif
Hasil dari penelitiaan ini yang dilakukan, dapat dikatakan bahwa partisipasi masyarakat
lerepako kecamatan laeya kabupaten konawe selatan) dalam pembangunan di desa larepako kecamatan laeya kabupataen konawe selatan tergolong cukup baik dan tinggi.
3. Friska Kusuma Wrdani (2017)
Pengelolaan alokasi dana desa (ADD) dalam upaya pembangunan pedesaan di desa sumber rejo kecamatan donorojo kabupaten jepara Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pengelolaan alokasi dana desa di desa sumberrejo sudah cukup baik, meskipun dalam pencairan dana dan pertanggungjawaban terjadi keterlambatan. 4. Wakhidatul Rizkiyah (2017) Partisipasi Masyarakat Pada Pelaksanaan Dana Desa Di Desa Tuabatu Kecamatan Tampanamma Kabupaten Kepulauan Talaud Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif Hasil Penelitian Menunjukkan Partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan seperti rapat masih sangat kurang, dan yang aktif mengikuti setiap rapat adalah staf-staf desa, anggota Badan
Pemusyawaratan Desa (BPD) dan beberapa masyarakat, yang datang itu-itu saja dalam setiap rapat. Dalam pelaksanaan pembangunan juga
masih kurang, hal ini dilihat dari masyarakat yang ikut bekerja dan yang aktif dalam pelaksanaan pembangunan tersebut . 5. Lisdamanti Palan Sabon {2017) Partisipasi sosial dalam pengembangan masyarakat terhadap program pemerintah dana desa di desa riangduli kecamatan witihama kabupaten flores timur Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif Hasil penelitin menunjukan bahwa partisipasi dalam program pembangunan desa dipengaruhi oleh faktor internal yang berasal dari masyarakat itu sendiri dan faktor internal yang
merupakan keadaan lingkungan masyarakat.
F. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan bentuk kerangka yang dapat digunakan sebagai pendekatan dalam memecahkan masalah, biasanya kerangka penelitian ini menggunakan pendekatan ilmiah dan memperlihatkan hubungan antar variabel satu dengan variabel yang lainnya. Secara singkat kerangka konsep tersebut dapat digambarkan pada bagan berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Pikir
Partisipasi Masyarakat Dalam Pelaksanaan Program Dana Desa Terhadap Pembangunan Desa (Study kasus di Desa Sangia Makmur Kecamatan Kabaena Utara Kabupaten Bombana)
Study Partisipasi Masyarakat
Rumusan Masalah
Bagaimana Tingkat Partisipasi Masyarakat Dalam Pelaksanaan Program Dana Desa Terhadap Pembangunan Desa
Metode Analisis 1. Pengumpulan Data 2. Reduksi Data 3. Penyajian Data 4. Verivikasi Hasil Penelitian 1. Pengambilan Keputusan 2. Pelaksanaan Kegiatan
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan bentuk penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data kualitatif adalah data dalam penelitian yang menjelaskan sesuatu fenomena berdasarkan hal-hal yang umumnya tidak dapat dihitung. Menurut Saryono (2010) Penelitian Kualitatif merupakan penelitian yang sering digunakan untuk menyelidiki, menggambarkan, menemukandan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh social yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitatif. Nazir (2010) penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang dengan tujuan untuk membuat deskriptif pada masa sekarang denga tujuan untuk membuat deskriptif, gambaran atau lukisan secara sistematis factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Oleh karena itu, data ini disebut data kualitatif karena berdasarkan kualitas dari suatu objek atau fenomena.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini ditunjukan untuk memberikan batasan masalah yang akan dijelaskan didalam penelitian tersebut. Menurut Creswell (Herdiansyah, 2012:86) fokus penelitian merupakan suatu konsep atau suatu tahapan yang dieksplorasi secara mendalam dalam penelitian kualitatif. Fokus penelitian berdasarkan masalah serta hasil yang ingin
dicapai pada penelitian yaitu Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program dana desa terhadap Pembangunan Desa Sangia Makmur, Kecamatan Kabaena Utara, Kabupaten Bombana.
C. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini difokuskan di kantor Desa Sangia Makmur Kabaena Utara. Waktu penelitian yang dibutuhkan selama dua bulan dimulai dari bulan November sampai pada Desember 2020.
D. Sumber Data
Sumber data dapat dikatakan awal darimana datangnya data dan merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan pada setiap penentuan metode pengumpulan data. Sumber informasi penelitian dapat diklasifikasikan menurut sumber data primer dan sekunder. Pengumpulan data yang direncanakan dan dilaksanakan secara cermat akan sangat membantu dalam meningkatkan efektifitas dan efesiensi penelitian. Data di peroleh secara langsung dari objek penelitian di Desa Sangia Makmur Kecamatan kabaena utara Kabupaten Bombana.
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi Lapangan
Observasi adalah pengamatan atau pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada peneliti (Daymon dan Holloway, 2008:320). Observasi ini merupakan dasar fundamental dari semua riset atau penelitian. Apapun yang metode yang dipakai dalam suatu riset, observasi berfungsi sebagai langkah awal dalam memahami penelitian. Observasi sebagai metode kualitatif berfungsi sebagai pencatatan yang sistematis yang terlihat di lapangan.
2. Wawancara
Seorang peneliti tidak melakukan wawancara berdasarkan sejumlah pertanyaan yang telah disusun dengan jawaban yang telah dibuat sebelum melakukan wawancara, melainkan berdasarkan pertanyaan yang umum kemudian didetailkan dan dikembangkan ketika melakukan wawancara atau setelah melakukan wawancara untuk melakukan wawancara berikutnya. Peneliti akan melakukan wawancara mendalam dengan orang-orang sebagai berikut :
1) Kepala desa sangia makmur (Bapak Suherman) 2) Kaur pembangunan (Bapak Abdul Majid)
3) Anggota masyarakat (Bapak Basarudin) 4) Anggota masyarakat (Ibu Salwa)
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data mengenai beberapa hal, baik yang berupa catatan yang berkenaan dengan judul penulis dan data dari responden atau catatan lain yang berhubungan dengan permasalahan yang ingin diteliti oleh peneliti. Metode ini digunakan salah satu pelengkap dalam dalam memperoleh data, tiada lain untuk memperkuat data yang diperoleh.
F. Instrument Penelitian
Untuk memperoleh penelitian ini, maka digunakanlah instrument penelitian berupa lembar observasi, lembar wawancara, serta catatan dokumentasi sebagai pendukung dokumentasi dalam penelitian ini.
1. Lembar observasi, berisi catatan yang dipeloreh penelitian pada saat melakukan pengamatan langsung dilapangan.
2. Panduan wawancara, merupakan sepakat daftar pertanyaan yang sudah disiapkan oleh peneliti sesuai dengan rumusan masalah dengan pertanyaan dan pertanyaan peneliti yang akan dijawab melalui proses wawancara.
3. Alat perekam (handphone) merupakan alat untuk mengambil gambar atau video maupun untuk merekam audio sebagai dokumentasi pada saat melakukan penelitian.
G. Metode Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data dan memilih mana yang penting serta mana yang perlu dipelajari serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami (Sugiyono, 2007: 333-345). Metode analisis data yang harus digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data kualitatif seperti yang dikemukakan Milles dan Hubberman (Sugiyono, 2007:204) yaitu pengumpulan data, reduksi data, dan langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan. Tahap-tahapnya yaitu:
a. Reduksi Data
Setelah semua data atau informasi ini terkumpul lengkap, peneliti melakukan proses penelitian, memusatkan penelitian pada satu fokus, membuang hal-hal yang tidak diperlukan untuk mengatur data yang sedemikian rupa sehingga kesimpulan penelitian dapat dilakukan.
b. Penyajian Data
Penyajian data yang selalu digunakan dalam data kualitatif yaitu bentuk naratif. Penyajian data seperti sekumpulan informasi yang disusun dengan sistematis serta mudah dimengerti.
c. Penarikan Kesimpulan dan verifikasi
Penarikan kesimpulan adalah proses terakhir pada analisis data yang dilakukan peneliti dilihat dari hasil reduksi data tetap mengacu dalam rumusan masalah berdasarkan hasil yan diinginkan. Data yang sudah disusun dan dibandingkan antara satu dengan yang lain agar mempermudah untuk mengambil kesimpulan sebagai jawaban dari masalah yang ada serta memberikan solusi untuk masalah tersebut.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Letak geografis
Desa sangia makmur merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan kabaena utara kabupaten bombana profinsi Sulawesi tenggara. Desa Sangia Makmur memiliki jumlah 702 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 391 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 329 jiwa. Perekonomian diwilayah desa sangia makmur cukup stabil dengan penghasilan rata-rata masyarakat desa sangia makmur relatif rendah dan mata pencarian penduduk yaitu, bidang pertanian, perkebunan, buruh, pengrajin, pedagang dan lain-lain.
2. Luas Wilayah
Desa sangia makmur merupakan salah satu desa, dari 8 desa di Kecamatan Kabaena Utara Wilayah kecamatan kabaena utara seluas 286,79 km2 dan untuk wilayah desa sangia makmur sendiri 16,01 km2 yang mana sebagian besar wilayahnya masyarakat untuk berkebun dan persawahan karena mayoritas penduduknya adalah petani.
3. Batas Wilayah
Wilayah desa sangia makmur kecamatan kabaena utara, kabupaten bombana, memiliki batas wilayah yaitu :
a. Sebelah utara : Teluk Lebota Kec. kabaena utara b. Sebelah timur : Desa Tedubara Kec. kabaena utara
c. Sebelah barat : Desa Baliara Kec, kabaena barat d. Selatan selatan : Desa eemokolo Kec, kabaena utara
Adapun jarak tempuh menuju ibu kota kecamatan sekitar 3 km yang bisa ditempuh dengan kendaran roda 2 maupun roda 4 dan untuk menuju ke ibu kota kabupaten bombana harus melalui jalur darat dan laut dengan menuju beberapa alternatif pilihan pelabuhan yang ada dipulau kabaena, pelabuhan yang sering digunakan adalah pelabuhan sikeli karena jadwal yang menentu setiap harinya, lalu menempuh jalur laut dengan kapal motor yang memakan waktu sekitar 4-5 jam.
4. Keadaan alam
Sebagaimana desa-desa lain diwilayah Indonesia memiliki iklim kemarau dan iklim penghujan, iklim penghujan biasanya mulai pada bulan November dan sampai dengan bulan April tahun berikutnya, sedangkan iklim kemarau dimulai dari bulan Mei sampai dengan bulan Oktober. Iklim tersebut secara langsung mempengaruhi pola tanam serta mata pencaharian masyarakat.
Sebagaimana desa-desa lain diwilayah Indonesia memiliki iklim kemarau dan iklim penghujan, iklim penghujan biasanya mulai pada Bulan November sampai dengan Bulan April tahun berikutnya, sedangkan iklim kemarau dimulai dari Bulan Mei sampai dengan Bulan Oktober. Iklim tersebut secara langsung mempengaruhi pola tanam serta mata pencaharian masyarakat.
5. Keadaan Demografi
Jumlah penduduk Desa sangia makmur adalah sebanyak 720 jiwa, dan dari penduduk laki-laki 391 jiwa dan penduduk perempuan 329 jiwa serta jumlah kepala keluarga sebanyak 207 KK. Desa sangia makmur terbagi menjadi 4 dusun.
6. Keadaan Sosial Budaya 1) Budaya
Keadaan sosial budaya masyarakat Desa sangia makmur sebagian besar masyarakat di desa ini merupakan masyarakat asli suku bugis, kemudian masih ada juga beberapa campuran dari suku-suku lain seperti suku jawa,bali,lombok dan lain-lain, yang merupakan masyarakat pendatang dari daerah-daerah disekitarnya. Adapun Bahasa yang digunakan di desa ini adalah Bahasa Indonesia.
2) Kesenian
Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya akan kesenian dan kebudayaannya sebagaimana juga pada masyarakat Desa sangia makmur. Beberapa bentuk kesenian masyarakat indonesia yaitu tarian daerah, gendang dan lagu-lagu daerah begitu juga dengan Desa sangia makmur karna memiliki beragam suku maka memiliki kesenian yaitu tari lumense, tarian orang bali, Beberapa kesenian inilah, yang merupakan bentuk dan ciri khas dari masyarakat kabupaten bombana khususnya Desa sangia makmur.
7. Visi dan Misi Desa Sangia Makmur a. Visi
Terbangunya tata kelola pemerintahan desa yag baik dan bersih guna mewujudkan masyarakat desa yang adil, makmur, sejahterah dan mandiri.
b. Misi
Meningkatkan sarana dan prasarana dasar, pendidikan, kesehatan dan ekonomi
Meningkatkan pelayanan masyarakat
Pengembangan ekonomi masyarakat 8. Struktur organisasi dan Job Description
a. Struktur organisasi
Gambar 4.1 Bagan Struktur Organisasi Kadus Iv
Bagan Struktur Organisasi Desa
BPD Kepala Desa
Kadus III
Sekretaris desa
Kadus II
Kaur pemerintahan Kaur Trantib Kaur pembangunan Kaur perekonomian
Kadus I
b. Job Description 1) Kepala Desa
Tugas :
Kepala desa berkedudukan sebagai kepala desa yang memimpin masyarakatnya.
Kepala desa melaksanakan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat.
Fungsi :
Menjaga hubungan kemitraan dengan lembaga masyarakat dan lembaga lainnya.
Pembinaan kemasyarakatan pembangunan, seperti pembangunan bidang pendidikan dan kesehatan.
2) Sekretaris Desa Tugas :
Sekretaris desa berkedudukan sebagai unsure pimpinan sekretaris desa.
Sekretaris desa bertugas sebagai membantu kepala desa dalam bidang orgaisasi.
Fungsi :
Melaksanakan ketatausahaan
Melaksanakan urusan desa 3) Kepala Urusan (kaur) Pemerintahan
Tugas :
Membantu kepala desa dalam pengelolaan administrasi pertanahan. Pembinaan, kependudukan.
Fungsi :
Pelaksanaan administrasi pertanahan
Pelaksanaan kegiatan administrasi kependudukan, dan lain-lain.
4) Kepala Urusan (kaur) Keuangan Tugas :
Membantu sekretaris desa dalam melaksanakan pengelolaan sumber pendapatan desa, pengelolaan ADM keuangan desa, dan lain-lain.
Fungsi :
Menyiapkan penyusunan APB desa
Pelaksanaan pengelolaan administrasi keuangan desa 5) Kepala Urusan (kaur) Pembangunan
Tugas :
Membantu kepala desa dalam melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis pengembangan ekonomi masyrakat dan potensi desa, dan lain-lain.
Fungsi :
Pengelolaan tugas membantu
Penyiapan bantuan-bantuan analisa dan kajian perkembangan ekonomi masyarakat.
6) Kepala Dusun (kadus) Tugas :