• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pros. SemNas. Peningkatan Mutu Pendidikan Volume 1, Nomor 1, Januari 2020 Halaman E-ISSN: Pembelajaran menulis cerita rakyat berbasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pros. SemNas. Peningkatan Mutu Pendidikan Volume 1, Nomor 1, Januari 2020 Halaman E-ISSN: Pembelajaran menulis cerita rakyat berbasi"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Pros. SemNas. Peningkatan Mutu Pendidikan Volume 1, Nomor 1, Januari 2020

Halaman 413 - 418 E-ISSN: 2745-5297

Pembelajaran menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal sebagai

upaya pelestarian literasi anak pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Langsa

Muhammad Taufik Hidayat

1

, Desy Irafadillah Effendi

1

, dan Eva Awli

2 1)Universitas Samudra, Jalan Meurandeh, Kota Langsa, Indonesia

2)SMP Negeri 4 Langsa, Jalan Prof. A. Majid Ibrahim, Kota Langsa, Indonesia Email: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) perencanaan pembelajaran menulis teks cerita rakyat berbasis kearifan lokal pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Langsa, (2) pelaksanaan pembelajaran menulis teks cerita rakyat berbasis kearifan lokal pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Langsa, (3) evaluasi pembelajaran menulis teks cerita rakyat berbasis kearifan lokal pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Langsa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas VII.1 berjumlah 29 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, pengamatan, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dalam penelitian ini sesuai dengan standar penyusunan RPP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap perencanaan guru bahasa Indonesia di SMPN 4 Langsa telah membuat RPP sesuai dengan RPP Kurikulum 2013 lengkap berdasarkan komponen yang sesuai dengan Permendikbud No. 59 Tahun 2014. Kemudian, pada tahap pelaksanaan pembelajaran meliputi aktivitas guru dan siswa pada kegiatan awal, inti, dan akhir. Siswa telah melaksanakan proses dengan baik melalui aktivitas dalam kurikulum 2013, yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan. Guru melaksanakan penilaian teks cerita rakyat dalam penilaian sikap melalui teknik pengamatan, penilaian pengetahuan melalui tes lisan dan tes tulis, dan penilaian keterampilan dilaksanakan melalui penugasan, yaitu menulis cerita rakyat yang mengacu pada instrumen penelitian yang memiliki pedoman penskoran.

Kata kunci: Pembelajaran, menulis cerita rakyat, berbasis kearian lokal

ABSTRACT

This study aims to describe (1) planning learning to write folklore text based on local wisdom in class VII students of SMP Negeri 4 Langsa, (2) the implementation of learning to write folklore text based on local wisdom on grade VII students of SMP Negeri 4 Langsa, (3) evaluation learning to write folklore text based on local wisdom in grade VII students of SMP Negeri 4 Langsa. This study used descriptive qualitative method. The data source of this study were students of class VII.1 totaling 29 students. Data collection techniques using documentation, observation, and interview techniques. The results showed that the preparation of the lesson plan (RPP) in this study was in accordance with the standard for the preparation of the RPP. The results showed that at the planning stage of the Indonesian language teacher at SMPN 4 Langsa had made the RPP in accordance with the complete 2013 Curriculum RPP based on components that were in accordance with Permendikbud No. 59 of 2014. Then, at the implementation stage of learning includes the activities of teachers and students at the beginning, core, and end activities. Students have carried out the process well through activities in the 2013 curriculum, namely observing, asking questions, gathering information, reasoning, and communicating. The teacher carries out the assessment of folklore texts in attitude assessment through observation techniques, assessment of knowledge through oral and written tests, and skills assessment is carried out through assignments, namely writing folklore that refers to research instruments that have scoring guidelines.

(2)

1. PENDAHULUAN

Penelitian ini berkenaan dengan pembelajaran menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Langsa. Penelitian ini mengamati pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru bahasa Indonesia di kelas VII SMP Negeri 4 Langsa. Lingkup kajian penelitian ini meliputi rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pembelajaran yang dilaksanakannya. Dengan demikian, guru perlu memikirkan dan membuat perencanaan secara saksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswa. Di samping sarana dan prasarana penunjang belajar, guru perlu memiliki kompetensi dan bahan ajar yang mendukung. Sesuai dengan UU No.14 tahun 2005, tentang guru dan dosen, Pasal 20, ayat (a) “Guru berkewajiban merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta bernilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

Keterampilan menulis mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, dengan menulis seseorang dapat mengungkapkan pikiran, ide dan gagasan untuk mencapai maksud dan tujuan. Nurudin (2007:4) “mengatakan menulis merupakan segenap rangkaian kegiatan seseorang dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada orang lain agar mudah dipahami.”

Seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan menulis apabila dia dapat mengomunikasikan gagasannya secara tertulis dengan baik kepada pembaca dan pembaca dapat memahaminya. Menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa.yang harus dikuasai siswa. Untuk mencapai tahap menulis yang baik, latihannya harus dilakukan secara berulang-ulang. Salah satu metode pembelajaran menulis yang menarik adalah dengan melakukan pembelajaran menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal. Cerita rakyat menjadi salah satu media pembelajaran yang dapat diajarkan guru dalam keterampilan menulis. Selain itu, cerita rakyat juga merupakan salah satu upaya kegiatan apresiasi sastra yang memberikan variasi sehingga pembelajaran menulis tidak membuat kebosanan dan kejenuhan. Hakikatnya pelajaran sastra di sekolah betujuan mengenalkan budaya nusantara melalui cerita rakyat yang beraneka ragam. Menurut Danadjaja (1984) cerita rakyat sebagai bagian dari kebudayaan mengandung berbagai gagasan dan penuh nilai (makna) yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa.

Cerita rakyat juga dapat menjadi sarana yang baik dalam menumbuhkan kecerdasan emosional pada diri siswa. Cerita rakyat dalam pembelajaran sastra mempunyai nilai-nilai kearifan lokal yang dapat membuat siswa lebih bermoral. Nilai moral bertujuan membuat siswa menjadi seseorang yang lebih baik dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut seperti

yang diungkapkan oleh Oktaviani (2017) bahwa kearifan budaya lokal merupakan konsep, ide, dan gagasan budaya lokal yang bersifat bijaksana dan dijadikan pandangan hidup masyarakat setempat. Rahyono (dalam Fajarini, 2014: 124) menambahkan bahwa kearifan lokal pada setiap cerita di setiap daerah setempat merupakan kecerdasan yang dimilki oleh sekelompok masyarakat etnis tertentu yang didapatkan melalui pengalaman masyarakat itu sendiri. Kearifan lokal yang dimiliki daerah tertentu dapat menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah.

Salah satu keterampilan menulis di SMP Negeri 4 Langsa adalah menulis cerita rakyat. Keterampilan menulis cerita rakyat ini bertujuan agar siswa dapat mengekspresikan gagasan, pendapat, dan pengalamannya dalam bentuk sastra tertulis yang kreatif. Pembelajaran menulis sudah sejak lama dilaksanakan dengan berbagai metode dan teknik, tetapi sampai sekarang belum ada hasil yang optimal. Di samping itu, berdasarkan hasil penelitian di beberapa sekolah di Aceh khususnya keterampilan menulis merupakan aspek yang dirasa sulit oleh siswa.

Di Provinsi Aceh banyak cerita rakyat yang keberadaanya telah punah. Cerita rakyat yang syarat akan nilai-nilai moral dan kearifan lokal yang bisa menjadi sarana komunikasi untuk mengajarkan nilai- nilai tentang kehidupan kepada anak- anak. Berikut akan disajikan beberapa contoh kecil cerita rakyat aceh yang masih disajikan di kalangan masyarakat, yaitu (1) putri pukes, (2) ahmad ramanyang, (3) atu belah, (4) tuan tapa, (5) banta berensyah, (6) banta berensyah, (7) raja parakeet, (8) mentiko beutuah, (9) alue sungai pinang, (10) amat mude, (11) si kepar, (12) putroe ijoe, dan masih banyak cerita rakyat aceh yang memiliki ciri khas tertentu pada masing-masing daerah. Cerita rakyat juga telah lama lahir sebagai wahana pemahaman dan gagasan serta pewarisan tata nilai yang tumbuh dalam masyarakat bahkan cerita rakyat telah berabad-abad berperan sebagai dasar komunikasi antara pencipta dan masyarakat, dalam arti ciptaan yang berdasarkan lisan dan lebih mudah diganti karena ada unsur yang dikenal masyarakat.

Keterampilan menulis merupakan salah satu komponen utama dari kemampuan literasi dan penting diajarkan kepada siswa. Literasi merupakan salah satu bentuk penumbuhan budi pekerti atau pendidikan karakter. Hal yang menjadi dasarnya adalah Permendikbud No.23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Ada enam jenis literasi dasar, salah satunya adalah literasi baca-tulis yang menjadi literasi paling utama. Hal ini karena aktifitas membaca dan menulis merupakan hal yang paling mendasar dalam literasi.

Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik, menumbuhkan budi pekerti anak melalui budaya literasi (membaca dan menulis), serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi

(3)

baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Literasi tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana peserta didik dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Budaya membaca seharusnya sudah menjadi kegiatan rutinitas kewajiban bagi semua warga sekolah termasuk para siswa. Membaca adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Membaca-menulis (literasi) merupakan salah satu aktivitas penting dalam hidup. Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam diri peserta didik mempengaruhi tingkat keberhasilan baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Memilih informasi dilakukan dengan membaca dan membaca hanya dilakukan jika ada karya dari penulis. Oleh karena itu, pembelajaran menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal dapat diharapkan membantu siswa dalam memilih informasi dengan kebiasaan berpikir diikuti membaca dan menulis yang pada akhirnya dapat menciptakan karya.

Masalah pokok yang tercermin dari uraian yang telah diuraikan adalah bagaimanakah gambaran pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Langsa menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal. Aspek yang ingin diteliti oleh penulis meliputi (1) perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan pembelajaran, dan (3) evaluasi pembelajaran. Penelitian yang berjudul “Pembelajaran Menulis Cerita Rakyat Berbasis Kearifan Lokal sebagai Upaya Pelestarian Literasi Anak pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Langsa” perlu dilakukan karena dapat mengefektifkan mutu keterampilan menulis siswa pada pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VII. Selain itu, materi cerita rakyat berbasis kearifan lokal dapat memberikan manfaat berupa pengetahuan dan pelestarian budaya secara bersamaan.

2. METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Sugiono, (2005:10) beberapa alasan yang mendasarinya adalah (1) sumber data dan data model pembelajaran bahasa Indonesia bersifat naturalistik; (2) data penelitian bersifat deskriptif dan data-data yang terkumpul berbentuk kata-kata; (3) lebih mengarah pada proses daripada hasil; (4) analisis data bersifat induktif; (5) peneliti merupakan instrumen kunci; (6) lebih menekankan pada makna. Menurut Nawawi dan Martini (2005:73) jenis penelitian ini tergolong dalam penelitian deskriptif (descriptive research). Metode deskriptif diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta tampak atau sebagaimana adanya. Penelitian ini

mendeskripsikan pembelajaran menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal sebagai upaya pelestarian literasi anak pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Langsa.

Sumber data penelitian ini adalah pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Langsa. Selain itu, sumber data penelitian ini juga seorang guru bahasa Indonesia, siswa kelas VII SMP Negeri 4 Langsa tahun ajaran 2019/2020 yang berjumlah 29 orang, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Dalam mendeskripsikan pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Kota Langsa, peneliti menggunakan teknik dokumentasi, teknik pengamatan/observasi, dan teknik wawancara. 1. Teknik Dokumentasi

Teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber nonmanusia. Dalam penelitian ini, yang termasuk ke dalam dokumentasi adalah perencanaan pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru bidang studi Bahasa Indonesia sebelum proses belajar mengajar berlangsung.

2. Teknik Pengamatan

Pengamatan yang dilakukan peneliti bersifat pengamatan tanpa ikut berpartisipasi. Peneliti secara langsung datang, duduk, mengamati, mencatat, dan merekam setiap kegiatan yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesia dan siswa dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain, hal yang diamati adalah pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran.

3. Teknik Wawancara

Teknik wawancara digunakan untuk mendapatkan data dari guru dan siswa yang menjadi sumber data penelitian. Wawancara yang digunakan adalah wawancara terpimpin. Peneliti telah menyusun sejumlah pertanyaan yang akan ditanyakan. Pada saat wawancara berlangsung peneliti menggunakan pedoman wawancara (interview guide).

Data penelitian yang berupa dokumen, hasil observasi, dan hasil wawancara dianalisis secara kualitatif. Langkah-langkah yang ditempuh untuk menganalis data adalah sebagai berikut.

1.

Mengklasifikasikan data yang diperoleh dari dokumentasi, observasi, dan wawancara yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

2.

Mendeskripsikan perencanaan yang dibuat oleh guru.

3.

Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran.

4.

Mendeskripsikan evaluasi pembelajaran. Analisis data

(4)

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian meliputi rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Ketiga hal tersebut diolah dan dianalisis sesuai dengan urutan rumusan masalah penelitian ini. Pemaparan hasil analisis data ini berpedoman pada tujuan penelitian sebagaimana yang telah dirumuskan pada penelitian ini, yaitu mendeskripsikan pembelajaran bahasa Indonesia menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Kota Langsa. Data hasil penelitian ini diperoleh melalui hasil dokumentasi, hasil pengamatan proses belajar-mengajar siswa kelas VII SMP Negeri 4 Langsa dan hasil wawancara dengan guru dan siswa. Pengamatan dilakukan mulai dari persiapan pembelajaran, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.

Perencanaan Pembelajaran

Hasil wawancara dengan guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas VII SMP Negeri 4 Kota Langsa sebelum pelaksanaan pembelajaran berlangsung, guru selalu membuat perencanaan dari silabus, RPP, dan materi. Penyusunan RPP dibuat khusus sesuai karakteristik siswa pada SMP tersebut. Rencana pembelajaran yang dikembangkan telah disusun secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus. RPP pada SMP Negeri 4 Kota Langsa telah sesuai dengan tujuan Kurikulum 2013 untuk menghasilkan siswa sebagai manusia yang mandiri dan tak berhenti belajar, proses pembelajaran dalam RPP dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mengembangkan motivasi, minat, rasa ingin tahu, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, semangat belajar, keterampilan belajar, dan kebiasaan belajar. Proses pembelajaran menulis cerita rakyat yang dalam RPP dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan. Penyusunan RPP dituliskan per semester karena biasanya pembelajaran menggunakan media slide, guru menyiapkan materi pembelajaran dalam bentuk slide.

Berdasarkan pengamatan peneliti, RPP yang disusun guru bidang studi bahasa Indonesia pada kelas VII SMP Negeri 4 Kota Langsa mempunyai komponen-komponen penyusunan sebuah RPP Kurikulum 2013. Komponen penyusunan RPP Kurikulum 2013 (K-13) yang sudah terpenuhi, yaitu (1) Identitas sekolah, (2) Identitas mata pelajaran atau tema/subtema, (3) Kelas/semester, (4) Materi pokok, (5) Alokasi waktu (6) Kompetensi Inti (KI), (7) Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi, (8) Tujuan pembelajaran, (9) Materi pembelajaran, (10) Metode pembelajaran, (11) Media, alat, dan sumber pembelajaran, (12) Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran, dan (13) Penilaian.

RPP yang disusun oleh guru SMPN 4 Langsa sudah memiliki keterkaitan dan keterpaduan, artinya

RPP disusun memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan sumber belajar. Kemudian hasil observasi pelaksanan pembelajaran menulis cerita rakyat di kelas VII SMP Negeri 4 Langsa dengan melihat proses dan dialog pada kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang dilakukan guru di kelas sudah sesuai dengan RPP yang dibuat guru. Pelaksanaan pembelajaran sudah maksimal. Siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran menulis cerita rakyat.

Kesesuaian juga dilihat antara pendekatan dan metode dengan langkah-langkah kegiatan pembelajaran. Pada RPP, pendekatan yang digunakan guru adalah (PAIKEM). Jika dilihat dari langkah-langkah kegiatan pembelajaran, guru telah menerapkan pendekatan tersebut. Langkah-langkah tersebut menggambarkan pembelajaran hanya berpusat pada siswa. Pada saat guru menjelaskan materi cerita rakyat siswa tampak mencari tahu bukan diberitahu. Dengan kata lain pembelajaran terlihat aktif sehingga besar kemungkinan pembelajaran menyenangkan. Pembelajaran seperti berikut bisa dikatakan pembelajaran Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM). Selain itu, langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang direncanakan guru juga sesuai dengan metode yang direncanakan. Metode yang digunakan guru adalah metode inkuiri. Dalam metode ini, siswa menemukan sendiri pemecahan masalah menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal.

Selanjutnya, kesesuaian juga dilihat pada penilaian. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. Penilaian pencapaian KD peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Kemudian, acuan penilaian RPP yang dibuat oleh guru bahasa Indonesia SMPN 4 Langsa menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. Penilaian yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan nontes, yaitu menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal.

Pelaksanaan Pembelajaran

Adapun hasil pengamatan tentang pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Kota Langsa dideskripsikan sebagai berikut. Pada pertemuan pertama topik pembelajaran pada pertemuan ini adalah menulis cerita rakyat aceh berbasis kearifan lokal. Guru mengawali kegiatan pembelajaran hari ini dengan memberi salam, mengabsen siswa, dan membangun interaksi dengan siswa. Siswa terlihat semangat sekali menjawab setiap pertanyaan dari guru. Selanjutnya, guru melaksanakan kegiatan apersepsi sekaligus pengenalan materi. Setelah melakukan kegiatan

(5)

apersepsi, guru langsung menjelaskan materi dengan cara membaca setiap poin yang ada di slide.

Pada tahap ini, guru menyajikan informasi setahap demi setahap. Sambil menjelaskan materi, guru mengajukan beberapa pertanyaan ringan seputar isi slide. Pada kegiatan inti ini, metode yang digunakan guru adalah metode ceramah dan diskusi. Sesuai dengan yang direncanakan pada RPP, pada kegiatan inti ini pembelajaran berpusat pada siswa. Sistem pembelajaran berpusat pada siswa adalah sistem yang seharusnya dibangun oleh siswa tanpa harus mengandalkan pengajaran dari guru. Dengan adanya pembelajaran interaktif, membuat suasana tanya-jawab dalam pembelajaran tercipta. Pembelajaran berpusat pada siswa (Student Centred Learning) merupakan pendekatan Pembelajaran Kurikulum 2013 tertuang secara jelas dalam Permendikbud No. 81 A tentang Implementasi Kurikulum 2013.

Kemudian, setelah semua isi slide dijelaskan, guru memimpin siswa untuk bertepuk tangan. Siswa tampak semangat sekali. Kemudian siswa meminta untuk mencatat semua isi dari slide yang ditampilkan guru. Mereka tampaknya menikmati sekali suasana pembelajaran menulis cerita rakyat setelah melihat youtube tentang cerita rakyat aceh, yaitu putri pukes, ahmad ramanyang, dan atu belah pada saat itu. Terlihat beberapa siswa ikut menceritakan kembali pengalaman yang mengesankan karena mereka sudah pernah mengunjungi tempat wisata tersebut.

Dalam proses ini, guru tidak hanya duduk di kursinya, tetapi guru mengawasi siswa mengerjakan tugas mereka. Guru membantu siswa mengarahkan apabila siswa mengalami kesulitan. Hal ini tergambar jelas ketika beberapa siswa bertanya kepada guru. Tidak lupa pula, sambil mengerjakan tugas, siswa meminta guru untuk menghidupkan lagu.

Kegiatan pembelajaran dengan topik menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal pada pertemuan pertama telah selesai. Jika dilihat langkah-langkah kegiatan pembelajaran pada RPP dan dihubungkan dengan pelaksanaan di kelas, ada kesesuaian di antara keduanya.

Dua orang siswa yang diwawancarai pada pertemuan pertama penelitian ini menyatakan bahwa mereka menyukai pembelajaran hari ini. Hasil wawancara menunjukkan suka yang dimaksud siswa karena media yang digunakan guru. Pembelajaran terasa menyenangkan karena ditunjang oleh media tersebut. Selain itu, guru juga menuruti kemauan siswa, yaitu guru bersedia menghidupkan musik. Pada saat wawancara, guru pun membenarkan bahwa pertemuan kali ini perencanaan pelaksanaan mengajar sesuai dengan pelaksanaan di kelas.

Berdasarkan wawancara dengan guru dan siswa, didapatkan bahwa guru memang sering menggunakan model pembelajaran seperti ini dalam proses pembelajaran. Satu dari empat orang siswa yang diwawancarai pada pertemuan penelitian ini mengatakan bahwa walaupun dia menyukai model

pembelajaran yang digunakan guru, kadang-kadang ia juga merasa bosan. Siswa tersebut berharap dalam pembelajaran selanjutnya ada model-model lainnya yang digunakan guru sehingga tidak membuat mereka bosan.

Evaluasi Pembelajaran

Sukardi (2011:1) mengemukakan evaluasi merupakan proses yang menentukan kondisi di mana suatu tujuan telah dapat dicapai. Berdasarkan bentuk evaluasi, evaluasi yang digunakan oleh guru pada topik menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal adalah tes lisan dan tulis. Tes lisan dilakukan setelah guru menerangkan hakikat cerita rakyat dan cara penulisan kembali cerita rakyat aceh dengan baik dan benar. Guru memberikan peluang atau kesempatan bertanya kepada siswa jika ada materi yang kurang dimengerti atau kurang dipahami siswa. Kemudian, tes tulis juga dilakukan dalam penelitian ini setelah proses belajar-mengajar selesai.

Evaluasi ini dimaksud untuk mengetahui sejauh mana siswa berhasil menguasai materi pembelajaran pada topik tersebut. Evaluasi yang digunakan oleh guru dalam menilai siswa dalam pembelajaran ini adalah dengan menugaskan siswa untuk menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal. Siswa diberikan waktu ± 40 menit untuk menulis cerita rakyat tersebut. Evaluasi pada pertemuan ini yaitu siswa mampu menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal dengan benar. Selanjutnya, guru memberi nilai sesuai dengan hasil tugas yang dikerjakan secara individu. Adapun cerita rakyat yang mereka sukai itu dominan putri pukes dan atu belah. Pada saat guru menyampaikan materi tentang cerita rakyat berbasis kearifan lokal, siswa mengaku mampu menyerap dengan baik penjelasan yang diberikan oleh guru.

Tujuan utama dalam evaluasi proses pembelajaran adalah untuk memperoleh pemahaman mengenai strategi pembelajaran, cara atau metode pembelajaran, dan media pembelajaran. Evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesia di SMPN 4 Langsa sebagian besar sesuai tujuan yang ingin dicapai oleh guru. Dapat disimpulkan, evaluasi yang direncanakan pada penelitian ini sesuai dengan pelaksanaannya di kelas. Selain itu, evaluasi yang direncanakan juga tidak mempunyai kaitan dengan kompetensi yang ingin dicapai.

4. SIMPULAN

Dari pembahasan dan temuan penelitian yang sudah dilakukan dapat diperoleh simpulan sebagai berikut. Pada penelitian ini, guru telah mengajar dengan baik mengikuti langkah-langkah pembelajaran sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). RPP pembelajaran menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal menggunakan kurikulum 2013 yang mengikuti langkah-langkah pembelajaran sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang terdapat pada Peraturan

(6)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah dengan jumlah sebanyak 13 komponen. Penyusunan rencana pembelajaran yang dirancang guru bidang studi bahasa Indonesia di kelas VII SMP Negeri 4 Langsa sesuai dengan prinsip pengembangan RPP. Pelakasanaan pembelajaran di kelas juga sesuai dengan yang direncanakan terutama pada alokasi waktu. Dalam proses belajar mengajar di kelas VII SMP Negeri 4 Langsa, guru bidang studi bahasa Indonesia dominan menggunakan model pembelajaran langsung. Metode yang digunakan guru bervariasi. Berdasarkan hasil pengamatan, evaluasi yang digunakan guru pada penelitian ini adalah berbentuk penugasan, yaitu menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal. Evaluasi yang digunakan adalah evaluasi hasil pembelajaran secara individu, yaitu menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal. Evaluasi harus dilakukan secara sistematis dan kontinu agar dapat menggambarkan kemampuan para siswa yang dievaluasi.

Berdasarkan simpulan penelitian, diharapkan guru bahasa Indonesia mampu menggunakan berbagai model pembelajaran agar siswa tidak jenuh dalam mengikuti proses pembelajaran. Dalam penyusunan RPP menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal guru sudah menggunakan metode yang bervariasi. Pelaksanaan evaluasi yang dilakukan guru pada kelas VII telah terlaksana dengan baik. Hal ini dikarenakan guru selalu melakukan evaluasi dengan cara yang sistematis dan teratur. Mengingat pelaksanaan pembelajaran menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal diperlukan pemahaman yang baik maka disarankan kepada guru-guru khususnya guru pelajaran bahasa Indonesia agar memberikan materi yang lengkap kepada siswa sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam menulis cerita rakyat berbasis kearifan lokal dengan baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Danadjaja, James.1984. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: PT Temprint.

Depdiknas. 2004. Pedoman Khusus; Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi SMP. Jakarta: Depdiknas.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif: Suatu Pendekatan Teoretis Psikologis. Jakarta: PT Rineka Cipta. Nawawi, Hadari dan Mimi Martini. 2005. Penelitian

Terapan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Rajagrafindo.

Oktavianti, Ika, Eka Zuliana dan Yuni Ratnasari. 2017. Menggagas Kajian Kearifan Budaya Lokal di Sekolah Dasar Melalui Gerakan Literasi Sekolah. Prosiding Seminar Nasional 15 Maret 2017 “Aktualiasasi Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar Melalui Gerakan Literasi Sekolah untuk Menyiapkan Generasi Unggul dan Berbudaya Pekerti.

Rahyono. F.X. 2009. Kearifan Budaya dalam Kata. Jakarta: Wedatama Widyasastra.

Sugiono. 2005. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Bandung:Alfabeta.

Sukardi. 2011. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Uno, Hamzah B. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Referensi

Dokumen terkait

Sistem pengadaan dan distribusi benih padi dilakukan dengan cara kerjasama antara lembaga-lembaga yang bertanggung jawab dan terlibat langsung dalam pengadaan dan distribusi

Dari butir pernyataan di atas yang paling dominan adalah penyataan setuju dengan. presentase sebesar 51,14 % ini menunjukan bahwa PT Pan Pacific

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran active learning tipe index card match terhadap hasil belajar siswa

Bagaimanapun penjagaan harus dilakukan untuk dapat menjamin campurannya diantara zat obat-obatan dan unsur-unsur formulasi lainnya dari sirup, juga sirup-sirup

Berdasarkan Gambar 9 seperti terlihat pada Gambar (a), Gambar (b) dan Gambar (c) untuk solusi fluxon dapat dilihat bahwa arah pergerakan fluxon bergerak ke arah kanan dengan

Metode ini bertujuan untuk mengungkap suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya serta hubugan antara fenomena yang diteliti melalui pendeskrifsian,pengembangan

Misal untuk mengetahui beban maksimum, tidak perlu sistem diuji dengan beberapa input yang diberikan menaik sampai kinerja tidak berubah, namun dengan metoda

• Hasil Pembinaan Ketahanan Keluarga melalui Kelompok BKB bulan Oktober 2009 : jumlah keluarga yang jadi anggota, pertemuan/penyuluhan, keluarga hadir dalam pertemuan, mengalami