PEMANFAATAN LAYANAN E-TICKETING COMMUTERLINE DALAM PENDISIPLINAN PERILAKU SOSIAL
STUDI KASUS: PENGGUNA KRL DI STASIUN DEPOK LAMA Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh : Zahra Raihanah 11161110000003
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2020
PEMANFAATAN LAYANAN E-TICKETING COMMUTERLINE DALAM PENDISIPLINAN PERILAKU SOSIAL
STUDI KASUS: PENGGUNA KRL DI STASIUN DEPOK LAMA
Diajukan guna Memenuhi Persyaratan Skripsi Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh :
Zahra Raihanah
11161110000003
Dibawah Bimbingan
Dr. Cucu Nurhayati M,Si
NIP: 1976091820031222003
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
Skripsi yang berjudul :
PEMANFAATAN LAYANAN E-TICKETING COMMUTERLINE DALAM PENDISIPLINAN PERILAKU SOSIAL
STUDI KASUS: PENGGUNA KRL DI STASIUN DEPOK LAMA
1. Merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu pernyataan memperoleh gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Depok, 16 September 2020
Zahra Raihanah
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI
Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa :
Nama : Zahra Raihanah
NIM : 11161110000003
Program Studi : Sosiologi
Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul :
PEMANFAATAN LAYANAN E-TICKETING COMMUTERLINE DALAM PENDISIPLINAN PERILAKU SOSIAL STUDI KASUS: PENGGUNA KRL DI STASIUN DEPOK LAMA
Dan telah memenuhi persyaratan untuk diuji.
Depok, 16 September 2020
Mengetahui, Menyetujui,
Ketua Program Studi, Pembimbing,
Dr. Cucu Nurhayati, M.Si Dr. Cucu Nurhayati, M.Si
NIP. 1976091820031222003 NIP. 1976091820031222003
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI SKRIPSI
PEMANFAATAN LAYANAN E-TICKETING COMMUTERLINE DALAM PENDISIPLINAN PERILAKU SOSIAL
STUDI KASUS: PENGGUNA KRL DI STASIUN DEPOK LAMA Oleh
Zahra Raihanah 11161110000003
Telah dipertimbangkan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 27 Oktober 2020.
Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Sosiologi.
Depok, 16 September 2020 Ketua Sidang Sekretaris Prodi
Dr. Cucu Nurhayati, M.Si. Dr. Joharotul Jamilah, M.Si.
NIP : 197609182003122003 NIP : 196808161997032002
Penguji I Penguji II
Saifudin Asrori, M.Si Kasyfiyullah, M.Si
NIP :197701192009121001 NIP : -
Ketua Program Studi Sosiologi FISIP UIN JAKARTA
Dr. Cucu Nurhayati, M.Si.
NIP : 197609182003122003
ABSTRAK
Perubahan perilaku sosial pengguna KRL khususnya pada pengguna KRL di Stasiun Depok Lama menjadi salah satu perubahan yang berdampak signifikan bagi transportasi KRL. Perubahan ini terjadi karena berubahnya sistem pembelian tiket KRL dari paper ticket menjadi E-Ticketing. Penelitian ini hendak melihat bagaimana struktur baru yakni E-Ticketing sebagai hasil modernisasi sistem yang akan berpengaruh pada perilaku modern pengguna KRL khususnya pada studi ini pengguna KRL Stasiun Depok Lama. Struktur baru E-Ticketing bukan satu- satunya perubahan yang dihasilkan, struktur ini mencakup perbaikan infrastruktur teknologi KRL seperti dipasangnya e-gate dan vending machine, dipasangnya papan petunjuk denah stasiun, dan perbaikan manajemen stasiun. Perubahan pembelian tiket KRL dari paper ticket menjadi E-Ticketing menjadi puncak keberhasilan PT KAI untuk mendisiplinkan perilaku sosial penumpangnya terutama pengguna KRL di Stasiun Depok Lama. Penelitian ini juga bertujuan untuk melihat respon apa saja yang bermunculan akibat diterapkannya E-Ticketing.
Proses internalisasi struktur sistem E-Ticketing dapat dilihat menggunakan teori strukturasi milik Anthony Giddens yang berupaya untuk melihat proses terbentuk nya relasi agen dan struktur (duality of structure) dalam terciptanya struktur- struktur baru. Data penelitian didapatkan melalui proses wawancara dengan sembilan informan yang mengetahui, mengalami, serta terlibat dalam proses perubahan pembelian tiket KRL dari paper ticket menjadi E-ticketing. Informan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan metode snowball sampling.
Hasilnya dapat dilihat bahwa peran struktur dalam proses pendisiplinan perilaku sosial pengguna KRL Stasiun Depok Lama terjadi melalui kesemrawutan dan masalah pelanggaran yang terjadi pada masa paper ticket yang mengakibatkan pendapatan kereta api menjadi rendah dan melemahkan angkutan perkotaan itu sendiri sehingga paper ticket dianggap mengalami keusangan (onsolence) dan tidak mampu untuk mengatasi berbagai macam masalah yang terjadi sehingga dengan kemajuan zaman muncullah inovasi baru yaitu diterapkannya E-Ticketing sebagai solusi dan dibarengi dengan renovasi ulang stasiun serta mensosialisasikan E-Ticketing sebagai kebijakan baru secara kontinyu sehingga perlahan pengguna KRL di Stasiun Depok Lama mampu menginternalisasi sitem E-Ticketing yang terlihat dari berubahnya perilaku sosial pengguna KRL Stasiun Depok Lama menjadi lebih tertib, disiplin, teratur dan saling menghargai sesama penumpang KRL dan ditunjang dengan kontrol kekuasaan dan fungsi pengawasan yang berjalan secara maksimal dari petugas di Stasiun Depok Lama.
Kata Kunci : Struktur, Agen, Pengguna KRL Stasiun Depok Lama, Sistem E- Ticketing
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan Rahmat dan Karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Adaptasi Pemanfaatan Layanan E-Ticketing Commuterline dalam Pendisiplinan Perilaku Sosial (Studi Kasus Pengguna KRL di Stasiun Depok Lama)”. Sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi dan untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial Strata Satu pada Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah Jakarta.
Dalam melakukan penelitian dan terselesaikannya skripsi ini, penulis sangat terbantu dari berbagai pihak yang senantiasa memberikan arahan, bimbingan, doa, dorongan dan bantuan seikhlasnya baik secara fisik maupun moril hingga skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang turut membantu, diantaranya:
1. Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanudin Lubis, Lc, Ma selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Dr. Ali Muhanif, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Dr. Cucu Nurhayati, M.Si selaku Ketua Program Studi Sosiologi sekaligus Dosen Pembimbing Skripsi yang telah memberikan ilmu dan motivasi yang diberikan kepada penulis, baik dalam keadaan sibuk pun tetap meluangkan waktunya untuk membimbing selama proses penulisan skripsi.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan, kemudahan dan kesehatanJasmani dan Rohani kepadanya.
4. Ibu Joharatul Jamilah, S.Ag., M.Si selaku Sekretaris Program Studi Sosiologi yang telah mendukung dan memberi semangat kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
5. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan secercah ilmu dan motivasi selama pelajaran dikelas berlangsung.
6. Seluruh jajaran staff bidang akademik, administrasi dan perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penulis dalam mengurus berkas, administrasi, mengakses buku dan literatur selama masa perkuliahan.
7. Untuk kedua orang tua yang sangat saya sayangi dan saya cintai Bapak Bambang Tri Supriyanto dan Ibu Siti Nuryati yang telah mendidik, merawat, memberikan semangat, bekerja keras, dan tak henti-hentinya berdoa untuk kelancaran penulisan skripsi ini. Semoga penulis dapat menjadi anak yang shalehah dan menjadi anak harapan kalian yang dapat membanggakan. Tak lupa juga untuk adik-adikku tersayang Lubna Assyifa dan Daffa Ilyasa yang selalu menemani hari-hari penulis serta memberikan candaan dikala penulis sedang mengerjakan penulisan skripsi.
8. Kepala Stasiun Depok Lama beserta jajaran nya yang telah menyediakan waktunya ntuk membantu penulis dalam mengumpulkan data penelitian serta memberikan motivasi dan saran guna memperkaya hasil data penelitian skripsi.
9. Informan-informan yang saya hormati terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membantu penulis dala mengumpulkan data penelitian walaupun penulis datang kerumah dan menganggu jam istrirahat informan.
10. Kawan-kawan seperjuangan Sosiologi 2016 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Abdou Borrow, Tyas, Adel, Bhenar, Chaerunnisa, Corrie, Fahmi, Faizi, Pipit, Sagita, Hana, MadYan, Mega, Ivam, Eggy, Mata, Refani, Reynaldi, Sifa, Alifia, Ica, Ika, Ican, Ikhsanti, Inas, Nubad, Riani, Wowo, Syifa, Widya, Zamzam.
Terimakasih telah mengukir canda tawa selama didalam kelas, bertukar pikiran dan pendapat, dan berdiskusi saat kebingungan mengerjakan tugas didalam kelas selama perkuliahan.
11. Terimakasih kepada KASOGI (Kajian Sosiologi) sebagai wadah untuk betukar pikiran, pendapat, berdiskusi dan belajar mengenai teori-teori sosiologi selama perkuliahan.
12. Kak Farah Nur Azizah S.Sos yang telah banyak memberikan masukan baik kritik maupun saran kepada penulis selama penulis melakukan penulisan skripsi.
13. Teman-teman seperjuangan Kuliah Kerja Nyata Glorious, Siro, Adam, Pahrul, Panji, Naufal, Arif, Indah, Amilah, Wati, Lala, Ocha, Nabila, Viku, Maura, Husen, Irma dan Nurul yang telah memberikan banyak keceriaan dan pengalaman selama perkuliahan.
14. Fahrezi Achmad Fuad, S.Pd yang telah banyak berkontribusi, membantu dan menyemangati penulis selama penulisan skripsi ini berlangsung serta meluangkan banyak waktu untuk menemani hari-hari penulis saat melakukan penelitian sehingga penulis mempunyai semangat kerja keras untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Penulis juga mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada segenap pihak yang turut membantu terselesaikannya skripsi ini dan mohon maaf tidak dapat disebutkan satu persatu namun tidak mengurangi rasa hormat. Semoga Allah SWT membalas dengan pahala yang berlipat ganda, Aamiin. Akhir kata penulis mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.
Wassalamualaikum. WR. WB
Depok, 16 September 2020
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL………..…………..i
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... iv
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... v
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... 11
DAFTAR TABEL ... 14
DAFTAR LAMPIRAN ... 16
BAB I ... 17
PENDAHULUAN ... 17
A. Pernyataan Masalah ... 17
B. Pertanyaan Penelitian ... 24
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 24
D. Tinjauan Pustaka ... 25
E. Kerangka Teoritis ... 30
1. Konsep Agen ... 32
2. Konsep Agensi ... 35
3. Konsep Struktur ... 35
4. Konsep Strukturasi ... 37
5. Konsep Praktik Sosial ... 38
6. Konsep Ruang Waktu ... 40
F. Metode Penelitian... 40
1. Pendekatan ... 40
2. Teknik Pengumpulan Data ... 41
3. Subjek Penelitian ... 48
4. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian ... 50
5. Proses Penelitian ... 51
6. Analisa Data ... 56
G. Sistematika Penulisan ... 57
BAB II ... 59
Struktur Sosial Kota Depok dan Wajah Baru Kereta Api Melalui Perilaku Modern
Pengguna KRL di Stasiun Depok Lama ... 59
A. Gambaran Umum Kota Depok ... 59
1. Kependudukan ... 61
2. Kondisi Ekonomi ... 61
3. Pendidikan ... 63
4. Transportasi dan Komunikasi ... 65
B. Gambaran Realita Sosial Kondisi Stasiun Depok Lama Sebelum dan Sesudah diterapkan E-Ticketing ... 68
1. Potret Kereta Api Masa Paper Ticket Tidak Berjalannya Kontrol Pengawasan dan Kekuasaan Secara Maksimal ... 68
2. Potret Kereta Masa E-Ticketing Kehidupan Kereta yang Manusiawi ... 80
C. Gambaran Umum Kereta Commuter Indonesia ... 92
D. Gambaran Umum Stasiun Depok Lama ... 94
BAB III ... 99
Refleksi Atas Perubahan Perilaku dan Respon Terhadap Perubahan Sistem E- Ticketing ... 99
A. Proses Perubahan Pola Perilaku Kedisiplinan Pengguna KRL di Stasiun Depok Lama Pasca Diterapkannya E-Ticketing... 100
1. Proses Sterilisasi Area Stasiun dari Pedagang... 100
2. Proses Penertiban Penumpang KRL yang Naik di Atap Kereta ... 103
3. Penerapan Sistem E-Ticketing sebagai Inovasi Layanan KRL Commuterline dan Teknik untuk Mendisiplinkan Pengguna KRL di Stasiun Depok Lama ... 107
B. Respon Pengguna KRL di Stasiun Depok Lama Pasca Diterapkannya E - Ticketing ... 114
1. Respon Positif ... 115
2. Respon Negatif ... 120
C. Analisa Penelitian: Refleksi Teori ... 124
BAB IV ... 135
PENUTUP ... 135
A. Kesimpulan ... 135
B. Saran-saran ... 139
DAFTAR PUSTAKA ... 140 LAMPIRAN ... xvii DOKUMENTASI ... lxii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Waktu Wawancara dengan Informan...42
Tabel 1.2 Informasi dari Subjek Penelitian ...42
Tabel 1.3 Daftar Informan Penelitian ……...48
Tabel 2.1 Jumlah Struktur Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2019
……...59 Tabel 2.2 Sarana Pendidikan Masyarakat...61 Tabel 2.3 Tingkat Pendidikan Masyarakat……...62
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peta Wilayah Kota Depok...58
Gambar 2.2 Jumlah Penumpang Kereta Api Kota Depok Menurut Stasiun Keberangkatan……...64
Gambar 2.3 Jumlah Penjualan Tiket Berdasarkan Jenis Kartu Yang Digunakan Menurut Stasiun Keberangkatan Penumpang di Kota Depok….65 Gambar 2.4 Kondisi Peron dan Gerbong Stasiun Penuh dengan Pedagang..69
Gambar 2.5 Potret Penumpang yang Naik Di Atap Kereta………...74
Gambar 2.6 Sosialisasi Kepada Para Pelajar Mengenai Bahaya Naik di Atap Kereta……….74
Gambar 2.7 Aplikasi Muter Untuk Pengguna Tuli………90
Gambar 2.8 Peta Lokasi Stasiun Depok Lama...96
Gambar 2.9 Stasiun Kereta Api Depok Lama...96
Gambar 3.1 Kondisi Stasiun Depok Lama Sebelum dan Sesudah Diterapkan E-Ticketing……...100
Gambar 3.2 Alat Untuk Membolongi Karcis Pada Masa Paper Ticket…...102
Gambar 3.3 Kondisi Sebelum Diterapkan E-Ticketing Penumpang Naik di Atap Kereta……...103
Gambar 3.4 Proses Membeli Tiket Melalui Vending Machine dan Pintu Otomatis Untuk Keluar-Masuk Stasiun...106
Gambar 3.5 Aturan Yang Harus Dipatuhi Selama Menjadi Penumpang KRL………..107
Gambar 3.6 Bangku Prioritas Yang Terdapat di Setiap Gerbong KRL…...110
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Transkrip Wawancara...xvii
Lampiran 2 Dokumentasi...lxii
BAB I PENDAHULUAN A. Pernyataan Masalah
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tidak dapat dielakkan oleh masyarakat. Dengan kemajuan ini, masyarakat diharuskan untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Sementara itu di Indonesia, pemanfaatan teknologi telah banyak memberikan manfaat pada sektor jasa transportasi khususnya transportasi KRL. Salah satu hasil dari kemajuan teknologi ialah komputer sebagai alat penghubung dan alat bantu manusia dalam melakukan pekerjaan. Dengan adanya kemajuan teknologi yang pesat, maka dituntut pula adanya informasi yang cepat, tepat dan akurat sehingga menghasilkan persaingan yang kompetitif. Semakin ketatnya persaingan akibat pesatnya teknologi dan informasi yang ada saat ini, semakin dituntut untuk menghasilkan suatu sistem yang baik, handal dan dapat menyelesaikan masalah.
Kemajuan teknologi pada sektor jasa transportasi KRL kini berimplikasi dengan beralihnya sistem pembelian dan pembayaran tiket KRL dari paper ticket menjadi e-ticketing. Transportasi publik masyarakat urban seperti KRL menjadi salah satu transportasi publik yang paling diminati karena memiliki banyak keunggulan seperti rendah polusi, bebas dari kemacetan, bersifat massal, biaya murah, dan dapat menghemat waktu (Fachrian 2018). Realitas transportasi perkotaan saat ini menginginkan adanya sebuah transportasi yang memiliki keefisiensian dan keefektifan dalam waktu perjalanan. Pada sisi lain, diperhatikan pula sisi pembangunan struktur dan infrastruktur untuk menunjang adanya
transportasi publik perkotaan yang aman, nyaman dan terkoneksi. Salah satu pembangunan struktur dan infrastruktur yang dilakukan oleh pihak PT KAI adalah perubahan sistem pembelian tiket KRL yang terhitung mulai tanggal 1 Juli 2013 dari paper ticket berganti menjadi e-ticketing.
Sebelum diterapkannya E-Ticketing, pengguna KRL khususnya di Stasiun Depok Lama terlebih dahulu menggunakan paper ticket sebagai bukti perjalanan ketika menggunakan transportasi KRL. Akan tetapi, kenyataan di lapangan pada masa paper ticket banyak sekali terjadi permasalahan salah satunya tata ruang stasiun yang tidak tersistematika dengan rapih. Salah satu penyebab tata ruang stasiun yang semrawut, kumuh dan tidak terorganisir adalah kepadatan para pedagang yang berjualan di area stasiun bahkan didalam peron stasiun sehingga menyebabkan stasiun menjadi kumuh akibat sampah-sampah yang dihasilkan oleh para pedagang. Kondisi stasiun pada masa paper ticket belum tertata dengan baik dan rapih, terdapat 63 stasiun di area Jabodetabek yang didalamnya terdapat kios- kios yang jumlahnya hampir mencapai 7.000 bangunan (Sujadi, 2014).
Pembongkaran kios-kios pedagang dari area stasiun termasuk Stasiun Depok Lama didalamnya berlangsung selama 7 bulan dan proses tersebut dilanjutkan dengan penutupan lubang-lubang akses tidak resmi untuk masuk ke dalam stasiun yang menyebabkan para penumpang liar atau penumpang gelap bebas masuk kedalam area stasiun khususnya Stasiun Depok Lama tanpa membeli karcis kereta secara legal. Lebih jauh lagi, proses ini dibarengi dengan pemasangan pagar-pagar pembatas yang dilakukan pada tahun 2012 sebagai upaya renovasi ulang stasiun yang bertujuan untuk menutup akses celah-celah
yang bolong sehingga para penumpang yang hendak masuk kedalam stasiun hanya bisa menggunakan satu akses jalan utama yaitu melewati pintu otomatis (e- gate).
Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan dari Bapak DS Pengguna KRL aktif di Stasiun Depok Lama yang menyatakan “Iya dulu paling banyak copet, nah copet nongkrong nya di pedagang-pedagang di stasiun, tempat duduk dijadiin pedagang semuanya. Dulu kan peron-peron dijadiin tempat buat dagang, nah itu pun Musholla untuk tempat sembahyang bukan tempat untuk nongkrong. Kalo dulu untuk tempat-tempat nongkrong mungkin buat para copet, pedagang.”
Keadaan stasiun yang tidak tertata dengan rapih pun pada masa paper ticket menjadi salah satu gambaran bahwa pada saat itu kontrol pengawasan dan kontrol kekuasaan belum berjalan secara maksimal untuk menangani berbagai macam permasalahan yang terjadi, hal ini memperlihatkan bahwa lemahnya kontrol pengawasan dan kekuasaan berakibat pada kesemrawutan yang memicu banyak masalah selama berlangsungnya masa paper ticket pada transportasi kereta api. Lebih daripada itu, faktanya di lapangan banyak ditemukan aksi suap- menyuap kepada petugas stasiun pada masa paper ticket (Firmaniar 2014).
Hal ini diakibatkan karena pembelian tiket kereta api yang masih manual dengan cara membeli tiket di loket yang menyebabkan antrian penumpang menjadi panjang sehingga penumpang yang malas membeli tiket di loket dapat membelinya kepada para calo yang berjualan di area stasiun dikarenakan pada saat itu tiket kereta hanya digunakan untuk satu kali perjalanan saja dan penumpang bisa membuang karcis mereka di sembarangan tempat sehingga
memudahkan para oknum untuk mengambil karcis bekas dan kemudian dijualkan kembali kepada para calon penumpang. Selain itu, bukan menjadi rahasia umum ketika melihat banyaknya penumpang yang naik di atap kereta dan melakukan
“bayar diatas”. Situasi dan kondisi ini menggambarkan sekali bahwa pada masa paper ticket kesadaran penumpang masih rendah dalam memandang transportasi kereta api sebagai transportasi mobilitas sosial mereka.
Pernyataan mengenai penumpang yang naik di atap kereta diperkuat oleh data wawancara dengan Bapak SR, Pengguna kereta api aktif di Stasiun Depok Lama yang menyatakan “Yang naik di atap itu ya karena dulu kan kaca nya terbuka tuh jadi bisa manjat-manjat. Itu kalo yang bayar diatas tuh udah lumrah kalo dulu bayar sama kondektur, nah saking dulu kereta nya sedikit dan kapasitas penumpang nya banyak makanya pada naik di atas (atap kereta), nah biasanya kondektur meriksain ke setiap penumpang punya karcis apa gak kalo gapunya karcis tapi bisa naik kereta ya jadinya bayar diatas”. Selain itu, banyak penumpang yang malas membeli tiket dan memilih bayar diatas dikarenakan menganggap percuma membeli tiket jika tidak mendapat duduk saat berada didalam kereta dan lebih memilih “bayar diatas” karena tarif nya jauh lebih murah dibandingkan membeli karcis secara legal melalui loket.
Data menunjukkan pada awal Maret 2006 lalu sebuah atap gerbong ambruk menimpa penumpang di bawahnya yang disebabkan atap gerbong tidak kuat menahan beban puluhan penglaju yang duduk santai di atap kereta sehingga menimbulkan korban tewas dan cedera. Satu kecelakaan lagi terjadi pada sebuah
kereta rel listrik (KRL) yang juga menelan korban tewas tersengat arus listrik (Surya 2006).
Keamanan dan kenyamanan selama menggunakan kereta api tidak dapat terwujud pada masa paper ticket dikarenakan belum tumbuhnya rasa kesadaran dalam menggunakan transportasi kereta api dan belum berjalannya kontrol pengawasan dan kekuasaan secara maksimal. Penulis yang turut merasakan secara betul kondisi stasiun pada saat itu juga merasa bahwa keamanan benar-benar tidak ada terlebih lagi angkutan umum perkotaan yang seharusnya memberikan kenyamanan bagi penumpangnya justru sangat tidak memperhatikan keselamatan, keamanan dan kenyamanan penumpangnya.
Keamanan dan kenyamanan yang kurang juga diakibatkan dari berbagai macam profesi yang muncul didalam area stasiun seperti pedagang asongan, pencopet, pencoleng, pengamen. Sehingga kondisi ini semakin memperburuk transportasi kereta api yang pada hakikatnya menjadi transportasi publik perkotaan yang seharusnya menghadirkan rasa aman dan nyaman saat digunakan.
Maka hal ini menjadi sangat lumrah dalam dunia perkeretaapian bahwa tidak dapat dipungkiri banyak terjadi kegiatan kriminal didalam stasiun dan hal tersebut sudah dianggap sebagai kejadian yang wajar dan normal.
Lebih jauh daripada itu, manajemen kereta api yang belum berjalan secara maksimal pada saat itu sempat mengakibatkan kecelakaan kereta api tragis yang terjadi pada tahun 1987 dan dikenal dengan sebutan “Tragedi Bintaro I” yang memakan 139 korban tewas dan diantaranya 254 orang menderita luka berat.
Kecelakaan ini melibatkan kereta patas jurusan Tanah Abang-Merak bertabrakan
dengan kereta lokal jurusan Rangkas Bitung-Jakarta Kota. Penyebab kecelakaan ini disebabkan karena kelalaian dari petugas di Stasiun Sudimara yang memberikan sinyal aman untuk kereta jurusan Rangkas Bitung-Jakarta Kota untuk diberangkatkan. Kecelakaan ini juga merupakan salah satu catatan kelam dan catatan terburuk pada transportasi KRL.
Melalui banyaknya permasalahan diatas dan didukung dengan keadaan internal perusahaan yang kurang baik saat itu ditambah lagi kesemrawutan atas permasalahan yang terjadi, maka PT KAI melakukan strategi perubahan agar menjadi lebih baik dan disamping itu mengikuti perkembangan zaman sehingga PT KAI mengembangkan sebuah inovasi baru berupa penerapan sistem E- Ticketing pada transportasi kereta api. E-Ticketing ini juga bukan menjadi satu- satunya perubahan, namun E-Ticketing menjadi hasil puncak dari perubahan yang dilakukan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek untuk menguraikan masalah yang ada.
Sebagaimana dikemukakan oleh (Sandipungkas 2018) dalam jurnal Cultural Dynamics In A Globalized World, sejak 2013 telah terjadi perubahan yang signifikan di area Jabodetabek (wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) melalui layanan kereta Commuter Line dengan diterapkannya sistem E-Ticketing. Sistem E-Ticketing telah mengubah area stasiun kereta api dari kotor, penuh sesak, tidak terorganisir, dan dipenuhi tempat kriminal ke tempat yang lebih bersih, lebih aman, lebih nyaman, dan lingkungan yang lebih sistematis (BeritaSatu.com,2016). Sejak implementasinya, telah berhasil mengubah budaya masyarakat urban dalam menggunakan transportasi umum (Tirto, 2017).
Sistem e-ticketing atau tiket elektronik adalah sistem berbasis kartu elektronik chip komputer yang berisi informasi seperti saldo, ongkos, dan rencana perjalanan, ditanam untuk menggantikan tiket berbasis kertas. Perubahan sistem pembayaran ini sejalan dengan visi PT KAI Commuter Jabodetabek yaitu
“Mewujudkan Jasa Angkutan Kereta Api Komuter Sebagai Pilihan Utama dan Terbaik di Wilayah Jakarta dan Sekitarnya”. Dengan e-ticketing, pengguna KRL khususnya di Stasiun Depok Lama tidak harus mengantri secara panjang dan lama untuk mendapatkan tiket kereta api, hanya saja cukup mengisi saldo pada kartu tersebut.
Selain itu, kini para penumpang KRL di Stasiun Depok Lama yang hendak keluar dan masuk kedalam stasiun hanya dapat menggunakan satu akses saja yaitu melalui e-gate yang telah disediakan. Setelah diterapkannya E-Ticketing, kini tata ruang stasiun menjadi lebih rapih dan teratur serta sudah tidak ditemukannya lagi penumpang yang naik di atap kereta maupun pedagang yang berjualan di area stasiun. Lebih dari itu, saat ini penumpang tidak bisa lolos masuk kedalam stasiun menggunakan “jalan tikus” dan tidak menemukan lagi calo yang berjualan tiket di area stasiun.
Dalam upaya penerapannya, tidak hanya menitikberatkan kepada sisi materil saja, namun menitikberatkan pada pembangunan mental dan rasa kesadaran dari semua pihak. Membangun mental serta kesadaran masyarakat sangat susah, terlebih lagi perilaku sosial mereka yang telah membudaya mejadi sebuah tantangan tersendiri bagi pihak kereta api dan pengguna nya.
Dari latar belakang yang sudah penulis jelaskan diatas serta melihat perubahan yang terjadi, maka menjadi menarik bagi penulis untuk melihat perubahan sistem KRL yakni melalui E-Ticketing ternyata juga berpeluang untuk mengubah perilaku sosial kedisiplinan pada pengguna KRL di Stasiun Depok Lama dari yang sebelumnya merasa bebas keluar masuk stasiun, tidak mematuhi aturan serta menyepelekan petugas stasiun yang berjaga kini berubah menjadi lebih tertib, disiplin dan teratur dalam menggunakan jasa transportasi KRL.
B. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan pernyataan masalah diatas, maka penulis merumuskan pertanyaan penelitian yang diajukan sebagai berikut :
1. Bagaimana proses perubahan pola perilaku kedisiplinan pengguna KRL di Stasiun Depok Lama pasca diterapkannya sistem e-ticketing ?
2. Bagaimana respon pengguna KRL di Stasiun Depok Lama pasca diterapkannya sistem e-ticketing ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini pada dasarnya adalah :
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perubahan sistem pembelian tiket KRL dapat mengubah budaya perilaku sosial pengguna KRL di stasiun Depok Lama menjadi lebih disiplin melalui otomatisasi layanan transportasi umum dengan diterapkannya sistem e-ticketing sebagai syarat untuk dapat masuk ke dalam stasiun Depok Lama.
Manfaat penulisan dari kegiatan penelitian ini, di antaranya : 1. Manfaat Teoritis
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya data dan informasi untuk kajian-kajian ilmu sosial terutama ilmu sosiologi perkotaan. Penelitian ini juga minim akan kajian literatur penelitian terdahulu, sehingga pembahasan ini menjadi sangat penting untuk diteliti guna memperkaya studi studi transportasi publik perkotaan dalam perspektif sosiologi perkotaan.
2. Manfaat praktis
Bagi Mahasiswa, Masyarakat dan Pemerintah : Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan gambaran mengenai otomatisasi layanan transportasi publik perkotaan seperti KRL di area Jabodetabek. Melalui penelitian ini juga diharapkan memberikan pengetahuan bagi pihak-pihak yang berkaitan dengan transportasi publik perkotaan untuk mengambil kebijakan dan mempersiapkan infastruktur teknologi dengan matang guna menunjang keberadaan transportasi publik perkotaan khususnya dalam studi ini transportasi KRL agar dapat berlangsung dengan lebih baik.
D. Tinjauan Pustaka
Penelitian mengenai perubahan proses pembelian tiket kereta dari paper ticket menjadi E-Ticketing telah banyak didiskusikan di kalangan akademisi.
Beberapa penelitian ditemukan cenderung pada pengkajian mengenai kemudahan yang diperoleh melalui diberlakukannya sistem E-Ticketing beserta manfaat yang dihasilkannya sebagai fokus pembahasan utama. Seperti penelitian (Rahardi 2014), (Hermaniawati 2015), (Jakubauskas 2010), dan (Sandipungkas 2018). Sedangkan
dua fokus berbeda diantaranya penelitian (Firmaniar 2014) membahas mengenai pelanggaran terhadap penumpang yang tidak berkarcis sebelum diterapkannya sistem E-Ticketing pada transportasi kereta api. Sedangkan satu penelitian mengambil fokus pada pentingnya peran kereta api sebagai angkutan di wilayah perkotaan, yaitu penelitian yang dilakukan oleh (Biomantara and Herdiansyah 2019).
Penelitian diatas menyimpulkan bahwa perubahan sistem pembelian tiket KRL dari konvensional menjadi E-Ticketing memiliki banyak dampak yang signifikan terhadap kemajuan sistem transportasi kereta api. Hal yang sama disampaikan Hermaniawati (2015) bahwa terdapat beberapa motif yang dilakukan pengguna kereta api di Surabaya dalam menggunakan sistem E-Ticketing. Salah satunya dilatarbelakangi dari pengalaman antri di loket untuk membeli tiket.
Sebelum diterapkannya E-Ticketing penumpang harus mengantri panjang lebar untuk membeli tiket ke tempat tujuan, namun setelah ada E-Ticketing penumpang tidak perlu repot untuk mengantri di stasiun sehingga E-Ticketing juga dianggap sebagai solusi untuk menguraikan kepadatan penumpang yang ada di stasiun untuk mengantri membeli tiket kereta.
Melalui smart card berupa E-Ticketing kemudahan yang didapat juga banyak karena bisa diisi ulang dan dapat menghemat waktu serta penggunaannya yang multifungsi dan dapat digunakan pada transportasi publik yang lain merupakan salah satu keunggulannya (Jakubauskas 2010). Disisi lain pada penelitian (Firmaniar 2014) menyatakan bahwa faktanya di lapangan sebelum diterapkan E-Ticketing pada transportasi kereta api ditemukan banyak sekali
penumpang yang tidak membeli karcis, penumpang yang naik di atap, bahkan seringkali ditemukan proses melobby (suap) dengan memberikan sejumlah uang ketika kedapatan tidak memiliki karcis. Namun, penelitian tersebut berbeda dengan penelitian ini karena pisau analisis yang digunakan melalui analisis hukum, sedangkan dalam penelitian ini pisau analisis yang digunakan adalah sosiologis.
Adapun, fokus dari penelitian tersebut berbeda dengan penelitian ini.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, (Sandipungkas 2018) memaparkan bahwa penerapan E-Ticketing pada transportasi KRL membutuhkan teknik yang mana teknik tersebut dilakukan oleh negara dalam menjalankan kekuasaannya. Lain daripada itu, pada penelitian yang dilakukan (Biomantara 2019) menyatakan bahwa kereta api memiliki peran penting sebagai transportasi publik di perkotaan sehingga diharuskan untuk membuat kualitas pelayanan nya menjadi sebaik mungkin agar trabnsportasi kereta api dapat menyediakan kualitas pelayanan setingkat seperti yang terdapat pada kendaraan pribadi.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada subjek dan lokasi yang diteliti. Pada penelitian yang sebelumnya, subjek lebih melibatkan cakupan yang luas seperti; pengguna KRL se-Jabodetabek, pengguna kereta api di Surabaya, dan pengguna kereta api di Cirebon. Sedangkan, subjek dan lokasi dalam penelitian ini adalah pengguna yang aktif menggunakan jasa transportasi KRL di Stasiun Depok Lama sebelum dan sesudah diterapkannya sistem E-Ticketing sehingga dalam penelitian ini penulis mengambil cakupan yang lebih sempit dalam pengambilan subjek penelitian. Pengambilan subjek dan lokasi penelitian dalam cakupan yang lebih sempit dilakukan oleh peneliti untuk
mempermudah peneliti dalam mengidentifikasi dan menjelaskan bagaiman proses peruahannya dan respon yang dihasilkan atas perubahan tersebut.
Selain itu, perbedaan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian yang sebelumnya dapat dilihat melalui pisau analisis dan metodologi yang digunakan.
Dalam penelitian ini pisau analisisis yang digunakan adalah analisis sosiologi, sedangkan beberapa penelitian sebelumnya menggunakan pisau analisis hukum dan analisis administrasi negara. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan wawancara,observasi, dokumentasi, dan studi pustaka.
Pada penelitian ini, hendak melihat bagaimana proses perubahan sistem pembelian tiket KRL dari paper ticket menjadi sistem E-Ticketing yang dapat dilihat melalui usaha para aktor untuk membentuk suatu tatanan struktur baru berupa sistem E-Ticketing sebagai inovasi dan solusi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan pelanggaran yang terjadi pada masa paper ticket.
Sehingga melalui proses perubahan pembelian tiket KRL dari paper ticket menjadi sistem E-Ticketing tentunya menghasilkan beragam respon dari para agen (pengguna KRL di Stasiun Depok Lama) yang turut merasakan dan mengalami perubahan yang terjadi. Hal ini dapat dilihat melalui teori strukturasi Anthony Giddens yang digunakan oleh penulis dalam mengkaji fenomena ini.
Penulis tidak menemukan studi kasus yang serupa dengan topik penelitian yang dikaji dan penggunaan teori yang sama. Namun, terdapat dua penelitian yang memiliki fokus serupa pada keunggulan yang dihasilkan dari penerapan sistem E- Ticketing dalam transportasi KRL, yaitu yang pertama penelitian (Sandipungkas 2018). Penelitian ini berfokus pada keberadaan negara yang memberikan
konstribusi melalui budaya politik dengan menggunakan kontrol kekuasaan nya untuk mendidik orang-orang melalui sistem yang baru. Kontrol kekuasaan dalam penelitian ini dapat dilihat melalui peran negara yang ikut berkontribusi dalam meluncurkan sistem E-Ticketing sehingga menghasilkan sebuah dampak berupa kenaikan sumber pendapatan bagi PT KCI.
Selain itu, di lain sisi keberadaan negara sebagai kontrol kekuasaan dan kontrol pengawas melalui perantara PT KCI berfungsi sebagai pelindung dan pelayan bagi masyarakat dengan cara mengoptimalkan fasilitas selama di KRL agar penumpang merasa aman dan nyaman. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sejak diterapkannya sistem E-Ticketing pada angkutan KRL di wilayah Jabodetabek mampu mengubah persepsi wilayah stasiun kereta api dari yang kotor, tidak terorganisir, dan lingkungan yang tidak aman menjadi stasiun yang lebih besih, aman, nyaman, dan sistematis. Adapun penelitian tersebut lebih menitikberatkan kepada peran negara sehingga penelitian tersebut berbeda dengan penelitian ini dilihat dari teori, fokus, metode, subjek dan lokasi penelitian yang digunakan.
Penelitian yang kedua (Rahadi 2014) menjelaskan proses tahapan dalam melakukan inovasi sistem E-Ticketing. Hasil penelitiannya menjelaskan bahwa inovasi sistem E-Ticketing pada layanan transportasi KRL melalui tiga tahap proses. (1) pemunculan ide (2) penerimaan (3) sosialisasi. Melalui tahapan ini, dapat dilihat bahwa penerapan sistem E-Ticketing muncul dari banyak pihak yaitu; penggguna KRL, pemerintah dan kondisi internal perusahaan. Lalu dalam proses penerimaan ini, peneliti memukan beberapa penolakan sehingga
dibutuhkan usaha lebih keras agar inovasi ini diterima oleh pengguna KRL sehingga dalam aktivitas nya dilakukan sosialisasi melalui beberapa platform media sosial yang ada. Dalam penelitian (Rahadi 2014) lebih menekankan kepada tahapan proses inovasi sistem E-Ticketing yang melibatkan banyak pihak. Dengan kata lain, fokus penelitian tersebut berbeda dengan fokus penelitian ini.
Meskipun terdapat fokus yang serupa, dua penelitian tersebut tetaplah berbeda sebagaimana sudah dipaparkan penulis pada paragraf sebelumnya.
Dengan demikian, penelitian yang dilakukan oleh penulis memiliki perbedaan dan keunikannya sendiri dengan penelitian-penelitian yang sebelumnya. Sehingga penelitian ini dapat digunakan untuk memperkaya sudut pandang dan kajian akademis mengenai proses dan respon pengguna KRL akibat diterapkannya sistem E-Ticketing pada transportasi kereta api melalui analisis sudut pandang sosiologis.
E. Kerangka Teoritis
Teori strukturasi merupakan teori yang dikemukakan oleh Anthony Giddens. Menurut teori ini, domain dasar kajian ilmu-ilmu sosial bukanlah pengalaman masing-masing aktor ataupun keberadaan setiap bentuk totalitas kemasyarakatan, melainkan praktik-praktik sosial yang terjadi di sepanjang ruang dan waktu (Giddens 2010). Praktik-praktik sosial menurut teori ini dilihat dari aktivitas-aktivitas manusia yang dilakukan secara teratur dan tidak diwujudkan oleh aktor-aktor individual, melainkan terus-menerus diciptakan dan diulang oleh mereka melalui cara mereka mengekspresikan diri sebagai aktor.
Dalam melakukan aktivitas ataupun praktik sosialnya ditunjuklah key person yang dianggap sebagai seseorang yang memiliki pengaruh besar dalam sebuah aktivitas sosial. Melalui ditunjuknya key person, berarti seseorang ini dianggap mampu menjalankan segala harapan yang diperoleh dari kesadaran bersama yang telah diberikan kepadanya. Di samping itu selain diembankan harapan, maka seorang key person ini juga dibekali pengetahuan sebagai landasan untuk melakukan praktik sosialnya. Dalam melakukan sebuah aktivitas sosialnya, key person juga membuat sebuah aturan yang berfungsi sebagai pedoman untuk melakukan sebuah tindakan dan aturan tersebut terus menerus dijalankan sehingga menjadi terinternalisasi sampai pada akhirnya aturan tersebut akan menjadi usang dan dapat direproduksi kembali.
Dalam penelitian ini, yang disebut sebagai key person adalah Ignasius Jonan selaku Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia. Melalui masa pemerintahan Jonan, ia berhasil untuk mengubah dunia perkeretaapian Indonesia menjadi lebih baik lagi. Disini terlihat bahwa Jonan memiliki harapan yang besar untuk mengubah dunia kereta api melalui tangan nya. Namun, di sisi lain harapan tersebut pada kenyataannya didasarkan dari kesadaran bersama mengenai kondisi kereta api pada masa lalu. Dengan rasa keprihatinan dan ingin perubahan yang lebih baik, maka perubahan dimulai dari perubahan sistem KRL, manajemen stasiun, dan renovasi ulang stasiun. Sehingga melalui perubahan tersebut maka menghasilkan satu perubahan besar dalam dunia perkeretaapian yakni diterapkannya E-Ticketing yang merupakan salah satu hasil kemajuan yang berdampak pesat bagi kemajuan transportasi kereta api saat ini.
Inti teori strukturasi ditujukan untuk menjelaskan dualitas dan hubungan diakletis antara agensi dengan struktur, jadi agensi dan struktur tidak dapat dipahami terpisah satu sama lain karena mereka adalah dua sisi koin yang sama (Goodman 2004). Semua tindakan sosial melibatkan struktur, dan semua struktur melibatkan tindakan sosial. Agensi dan struktur terjalin erat dalam aktivitas atau praktik yang terus-menerus dijalankan manusia. Fokus dari teori strukturasi adalah aktivitas yang dilakukan oleh aktor sosial namun secara berkelanjutan diciptakan secara berulang-ulang melalui sarana yang mereka gunakan untuk mengapresiasikan diri mereka sebagai aktor (Goodman 2004). Adapun unsur- unsur teori strukturasi yang dijelaskan oleh Anthony Giddens yaitu :
1. Konsep Agen
Teori strukturasi menekankan ketidakterpisahan agen-struktur. Agen dan struktur saling menjalin tanpa terpisahkan dalam praktik sosial manusia.
Agen adalah orang yang terlibat dalam arus secara kontinyu dalam tindakan sosial (Priyono 2002). Menurut (Giddens 1984) melihat agen sebagai “pelaku dalam praktik sosial” yang dapat dilihat sebagai individu atau kelompok.
Dalam penelitian ini, yang disebut agen adalah pegawai KRL dan pengguna KRL di Stasiun Depok Lama. Kedudukan agen sebagai pelaku dalam praktik sosial di skripsi ini berlangsung secara dua arah dan melibatkan orang-orang internal dalam perusahaan kereta api serta pengguna kereta api khususnya di Stasiun Depok Lama.
(Giddens 1984) membedakan dua dimensi internal agen, yaitu kesadaran praktis (practical consciousness) dan kesadaran diskursif (discoursive consciousness). Agen dianggap memiliki pengetahuan tentang sebagian besar tindakannya dan pengetahuan ini di ekspresikan melalui kesadaran praktis (Kaspersen 1997). Kesadaran praktis (practical consciousness) merujuk pada gugus pengetahuan praktis yang tidak selalu diuraikan (Priyono 2002). Melalui gugus pengetahuan praktis ini, kita tahu bagaimana melangsungkan hidup sehari-hari tanpa harus mempertanyakan terus menerus apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan.
Sedangkan kesadaran diskursif (discoursive consciousness) mengacu pada serangkaian kapasitas pengetahuan yang agen miliki dalam merefleksikan dan memberikan penjelasan rinci serta eksplisit mengenai tindakan yang kita lakukan. Kesadaran diskursif memberikan kesempatam pada agen untuk mengubah pola tindakannya Sesuai dengan penekanannya pada agen, Anthony Giddens memberikan (power) kepada agen ialah kapasitas individu untuk mengubah (sense of transformative capacity) dan membuat perbedaan. Aktor berhenti menjadi agen apabila ia kehilangan kemampuan untuk menciptakan suatu perbedaan (Goodman, 2004).
Dari penjelasan diatas, kesadaran praktis dinilai lebih menentukan dalam memahami kehidupan sosial dan merupakan kunci untuk memahami proses bagaimana praktik sosial lambat laun menjadi struktur, dan bagaimana struktur mengumpulkan praktik-praktik sosial yang kita lakukan. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa reproduksi sosial berlangsung melewati
keterulangan praktik sosial yang jarang kita pertanyakan (Priyono 2002).
Hubungan agen juga erat kaitannya dengan refleksivitas (kesadaran) yang memungkinkan agen untuk memonitor aktivitas dan kondisi sosial yang terus menerus dihasilkan oleh agen. Dengan konsep kesadaran ini, Giddens menekankan bahwa praktik sosial sangat penting dalam teori strukturasi.
Agen juga memiliki kapasitas untuk mengubah (sense of transformative capacity) yang artinya teori ini mengakui besarnya peran agen dalam menentukan praktik sosial. Dengan demikian, selalu terjadi perubahan baik besar maupun kecil perubahan tersebut. Perubahan terjadi ketika adanya jarak sehingga lama-lama semakin meluas dan menjadi de-rutinisasi. De- rutinisasi adalah kondisi dimana struktur yang selama ini menjadi aturan dan sumber daya praktik sosial kita, tidak lagi memadai untuk dipakai sebagai pemaknaan dan pengorganisasian praktik sosial sehingga harus diperjuangkan kembali agar menjadi praktik sosial yang baru (Priyono 2002).
Untuk itu, kondisi seperti ini disebut keusangan (onsolence) dan akhirnya direproduksi ulang menjadi sebuah struktur baru dalam rangka penyesuaian dengan praktik sosial yang terus berkembang (Priyono 2002).
Praktik sosial itu bersifat berulang dan berpola dalam lintas ruang dan waktu dan praktik sosial itu berupa kebiasaan-kebiasaan yang dapat berlangsung kapan saja dan dimana saja, dalam praktik sosial itulah terjadi dualitas antara pelaku (tindakan) dan struktur (Priyono 2002).
2. Konsep Agensi
Pengertian mengenai agensi merujuk pada aktivitas atau tindakan yang dilakukan dengan tujuan tertentu. Agensi merujuk pada tindakan yang dilakukan para agen secara terus menerus dan berkesinambungan. Agensi berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang dilakukan para agen dalam sutau rangkaian tertentu. Apapun yang terjadi, tidak akan terjadi jika agen tidak terlibat didalamnya. Agensi tidak dapat dipahami secara terpisah, namun harus digabung bersama-sama dan mengarah pada perilaku yang berlangsung secara berkesinambungan yang diwujudkan dalam praktik sosial. Lagi, menurut Giddens agensi mengacu pada perbuatan, kemampuan ataupun tindakan yang dilakukan untuk melakukan sesuatu.
3. Konsep Struktur
Struktur sosial adalah konsep perumusan asas-asas hubungan antar individu dalam kehidupan masyarakat yang merupakan pedoman bagi tingkah laku manusia. Struktur bersifat maya “virtually” yang artinya hadir di dalam kehidupan manusia serta ada didalam pikiran manusia yang hanya dapat digunakan ketika kita melakukan sebuah tindakan.
(Giddens 1984) struktur dikonsepsikan sebagai aturan “rules” dan sumber daya “resources” dan memungkinkan terjadinya praktik sosial yang hadir di sepanjang ruang dan waktu. (Giddens 1979) menggarisbawahi struktur adalah aturan dan sumber daya yang terbentuk melalui perulangan praktik sosial. Dualitas struktur terletak pada proses dimana struktur sosial
merupakan hasil (outcome) dan sekaligus menjadi sarana medium dalam praktik sosial (Giddens 1979).
Struktur juga tidak hanya mengacu kepada aturan-aturan yang disiratkan dalam produksi dan mereproduksi sistem sosial, namun juga menekankan pada sumber daya. Adapun menurut Giddens, terdapat tiga jenis sumber daya yaitu: (a) makna-makna yang berupa stok pengetahuan (b) moral yang berupa sistem nilai (c) kekuasaan yang didalamnya berupa pola dominasi dan pembagian kepentingan. Menurut Giddens, struktur menjelma dalam ingatan seseorang yang memiliki banyak pengetahuan.
Dalam skripsi ini yang disebut sebagai struktur yakni tidak hanya melihat sistem E-Ticketing sebagai satu-satunya perubahan yang dihasilkan, namun E-Ticketing sebagai hasil puncak dan inovasi yang dihasilkan dari perubahan yang dilakukan oleh PT KAI. Dalam skripsi ini struktur juga meliputi perbaikan manajemen PT KAI, penunjangan infrastruktur teknologi yang dilakukan oleh PT KAI dan bekerjasama dengan PT Telkom, serta perbaikan dan renovasi ulang stasiun. Melalui pembaharuan struktur tersebut, maka hasilnya dapat dilihat bahwa telah terjadi perubahan yang signifikan di area stasiun KRL Jabodetabek, khususnya di Stasiun Depok Lama sehingga melalui struktur baru ini menghasilkan perubahan budaya khususnya pada pengguna KRL di Stasiun Depok Lama ketika menggunakan transportasi KRL.
Dualitas agen-struktur terletak pada fakta bahwa struktur menjadi prinsip praktik sosial di berbagai ruang (tempat) dan waktu yang menghasilkan perulangan secara terus menerus dari berbagai praktik sosial
yang dilakukannya dan sebaliknya struktur menjadi medium bagi berlangsungnya praktik sosial. Melalui konsep dualitas struktur, dapat dilihat bahwa agen memiliki jangkauan pengetahuan yang dijadikan secagai acuan untuk bertindak dan mengubah serta mereproduksi struktur melalui praktik sosial yang rutin. Struktur secara aktif dapat diproduksi, direproduksi, dan diubah oleh agen yang dilihat sebagai agen dan memiliki kemampuan untuk mengubah struktur.
Struktur sebagai sumber daya dibedakan menjadi dua, yaitu sumber daya alokatif dan sumber daya otoritarif. Sumber daya alokatif adalah gambaran materi dan benda-benda untuk mengontrol serta menggerakan pola interaksi dalam suatu konteks mencakup teknologi, alat produksi dan pendapatan. Sedangkan sumber daya otoritarif adalah kemampuan untuk mengontrol dan mengerahkan pola-pola interaksi dalam sutau konteks mencakup keterampilan, pengetahuan ahli, posisi, dominasi dan legitimasi.
Dengan kata lain, mereka menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk membuat oranglain menuruti dan melakukan keinginan ataupun perintahnya.
4. Konsep Strukturasi
Konsep strukturasi memusatkan perhatian pada hubungan dialektika antara agen dan struktur (Giddens 1984). Pembahasan Giddens atas konsep agen dan struktur menjadi basis teori struktuasinya. Giddens tidak melihat struktur sebagai sesuatu yang bersifat memaksa, mendesak atau mengendalikan, dimana struktur dipandang sebagai suatu benda yang berada di luar dan bersifat memaksa agen. Giddens melihat struktur tidak berisfat
eksternal (diluar) melainkan melekat pada praktik sosial yang kita lakukan (Priyono 2002).
Proses strukturasi dalam penelitian ini dapat dilihat melalui proses pemunculan ide inovasi E-Ticketing dihasilkan dari pemerintah, masyarakat dan kondisi internal stasiun. Selanjutnya, proses strukturasi juga dapat dilihat melalui tahap penerimaan E-Ticketing oleh pegawai stasiun dan pengguna KRL di Stasiun Depok Lama dimana tahap penerimaan ini ada yang menolak dan ada yang mendukung perubahan E-Ticketing, disamping itu E-Ticketing menghasilkan sebuah perubahan signifikan pada transportasi KRL.
Selanjutnya proses strukturasi juga dapat dilihat melalui tahap implementasi E-Ticketing yang dilakukan melalui media cetak maupun tulis serta dilakukan melalui sosialisasi internal dan sosialisasi kepada pengguna KRL Stasiun Depok Lama di area stasiun.
Melalui konsepsi struktur sebagai bingkai eksternal, Giddens menekankan bahwa struktur bersifat “enabling” yaitu struktur memungkinkan dan memberikan peluang pada agen dalam melakukan praktik sosial. Untuk itu, dapat disimpulkan bahwa strukturasi menurut Giddens merupakan suatu proses yang berkaitan dengan produksi dan reproduksi sehingga dapat dikatakan bahwa struktur dalam kerangka strukturasi sesungguhnya bersifat dinamis karena dapat dikonstruksikan kembali oleh agen.
5. Konsep Praktik Sosial
Melalui penjelasan sebelumnya, dapat dipahami bahwa yang menjadi inti dari teori strukturasi (Giddens 1984) adalah “praktik sosial yang berulang”.
Giddens memandang praktik-praktik sosial yang terus berlangsung sebagai segi analisis terpenting dalam teori strukturasinya. Dalam mengokohkan teori strukturasinya, (Giddens 1984) melihat bagaimana praktik sosial itu dilakukan terus menerus atau dikokohkan, dan melihat bagaimana mereka direproduksi.
Menurut Giddens, praktik sosial itu dikaji dan diperbaharui terus menerus menurut informasi baru, yang pada gilirannya mengubah praktik sosial tersebut secara konstitutif.
Kemudian, Giddens juga melihat adanya interaksi antara agen dan struktur dalam suatu praktik sosial, yang kemudian dinyatakan dalam kebiasaan atau rutinitas dan direproduksi dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, praktik sosial dianggap sebagai basis yang melandasi keberadaan agen dalam masyarakat. Untuk terlibat dalam praktik-praktik sosial, seseorang agen bharus mengetahui apa yang ia kerjakan , meskipun pengetahuan tersebut biasanya tidak terucapkan.
Disini terlihat, sebelum terlibat dalam sebuah praktik sosial maka seseorang diasumsikan telah memiliki pengetahuan praktis mengenai peraturan yang seharusnya dilakukan dalam kehidupan sosial. Artinya, praktik sosial yang dilakukan berlandaskan pengetahuan tentang peraturan yang ada.
Praktik sosial dilakukan dengan berbekal pengetahuan dan kesadaran praktis dan akan diproduksi, direproduksi oleh agen berdasarkan aturan-aturan dan sumber daya yang terdapat didalam struktur.
Hal ini berarti bahwa di satu sisi ada agen yang melakukan praktik sosial dalam konteks tertentu, dan di sisi lain terdapat aturan dan sumber daya yang memediasi praktik sosial tersebut dan pada gilirannya melalui praktik sosial tersebut akan membentuk sebuah struktur baru yang selanjutnya mengorganisir praktik sosial yang dilakukan oleh agen.
6. Konsep Ruang Waktu
Ruang dan waktu adalah variabel krusial dalam teori Giddens. Ruang (space) adalah gambaran mengenai ruang sosial melalui interaksi tatap muka yang didalamnya oranglain hadir pada saat yang sama dan di ruang yang sama pula (Goodman 2004). Sedangkan yang dimaksud waktu (time) adalah sejarah kronologis yang didapatkan melalui pengalaman belajar dari masa lalu.
Adapun ruang dan waktu menurut Giddens, bukanlah arena ataupun panggung tindakan tetapi merupakan unsur konstitutif tindakan dan pengorganisasian masyarakat. Hubungan ruang dan waktu dan praktik sosial merupakan hubungan ontologis. Hubungan keduanya bersifat kodrati dan mengandung makna serta hakikat praktik sosial itu sendiri. Artinya, tanpa waktu dan ruang tidak akan terjadi sebuah tindakan atau praktik sosial.
F. Metode Penelitian 1. Pendekatan
Penelian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif menekankan pada pengumpulan dan analisis data berupa kata- kata dan bukan berdasarkan kuantifikasi seperti pendekatan kuamtitatif (Silalahi 2010). Tujuan dari penelitian kualitatif ialah memperoleh
pemahaman mendalam atas apa yang terjadi di masyarakat, dan menafsirkan perilaku mereka dengan cara-cara yang dapat dipahami oleh mereka sendiri. Sehingga, penelitian kualitatif berusaha menangkap perasaan, tekstur, makna perilaku dan konteks yang lebih luas dimana peristiwa itu terjadi (Silalahi 2010).
Penelitian kualitatif saya pilih supaya penulis dapat memperoleh informasi dengan jelas dan rinci mengenai proses sejarah bergantinya sistem pembelian tiket KRL dari paper ticket menjadi E-Ticketing di Stasiun Depok Lama, serta penulis dapat menguraikan berbagai macam respon yang dihasilkan oleh pengguna KRL di Stasiun Depok Lama terkait perubahan tersebut. Sejalan dengan pendekatan penelitiannya, maka penelitian ini tergolong dilakukan dengan cara studi kasus. “Penelitian studi kasus merupakan strategi riset yang berstandarkan padainvestigasi empiris secara mendalam terhadap satu atau sejumlah kecil fenomena untuk menguraikan konfigurasi setiap kasus” (Ragin 2000). Secara khusus, penelitian ini termasuk jenis penelitian studi kasus deskriptif.
2. Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara
Menurut (Sugiyono 2013) adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam topik tertentu. Wawancara merupakan alat rechecking atau pembuktian dari informasi atau keterangan yang telah didapatkan sebelumnya. Proses wawancara yang dilakukan dalam
penelitian ini dilakukan dengan tatap muka (face to face interview) dengan 7 (tujuh) informan dan melakukan wawancara tidak langsung melalui perantara media sosial WhatsApp kepada 2 (dua) informan. Kemudian, jenis wawancara yang dilakukan adalah wawancara bebas terpimpin. Jenis wawancara ini adalah perpaduan antara jenis wawancara bebas yang dimana pewawancara bebas menanyakan apa saja sesuai dengan kebutuhan data dan jenis wawancara terpimpin, yang dimana pewawancara memiliki pedoman atau deretan pertanyaan sesuai dengan kebutuhan data (Sugiyono 2008).
Wawancara ini disusun dalam bentuk pertanyaan terbuka dengan wawancara secara mendalam. Wawancara dilakukan terhadap 9 orang informan yang dirasa tepat untuk memberikan informasi mengenai Pemanfaatan E-Ticketing dalam Pendisiplinan Perilaku Sosial Pengguna KRL di Stasiun Depok Lama. Adapun informan yang ditentukan dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 1.1 Waktu Wawancara dengan Informan No Nama Waktu Wawancara
1 Bapak WK 29 Maret 2020 2 Bapak L 29 Maret 2020
3 Mba K 29 Maret 2020
4 Bapak N 30-31 April 2020 5 Ibu DDL 15-18 Juli 2020 6 Kak GR 15-18 Juli 2020
7 Bapak DS 25 Agustus 2020 8 Bapak SR 25 Agustus 2020 9 Bapak PH 25 Agustus 2020
Melalui daftar informan diatas, penulis berusaha untuk mencari informasi untuk melengkapi data penelitian penulis. Adapun informasi yang didapat dari para subjek penelitian atau informan sebagai berikut :
Tabel 1.2 Informasi dari Subjek Penelitian
No Nama Informasi
1 Bapak WK
(Kepala Stasiun Depok Lama)
Untuk memperoleh data mengenai sejarah lengkap, kondisi sosial dan perubahan yang terjadi karena adanya sistem E-Ticketing
Untuk mengetahui bagaimana pro dan kontra yang terjadi akibat diterapkannya sistem E- Ticketing
Untuk mencari tau nilai-nilai sosial yang bergeser setelah diterapkannya E-Ticketing 2 Bapak L
(Satpam/PKD Stasiun Depok Lama)
Untuk mengetahui apa saja pelanggaran dan permasalahan yang terjadi sebelum
diterapkannya E-Ticketing dan setelah diterapkannya E- Ticketing
Untuk mengetahui proses penyelesaian pelanggaran dan sanksi yang diterima oleh para penumpang yang melanggar peraturan
3 Mba K
(Penjaga Loket Tiket Stasiun Depok Lama)
Untuk mengetahui sejauh mana penumpang KRL memahami E- Ticketing
Untuk mengetahui dampak positif yang dihasilkan selama diterapkannya E-Ticketing
Untuk mengetahui perubahan perilaku sosial penumpang KRL di Stasiun Depok Lama saat antri membeli tiket kereta 4 Bapak N
(Mantan Kondektur Stasiun Depok Lama)
Untuk mengetahui kondisi sosial yang terjadi sebelum diterapkannya E-Ticketing
Untuk mengetahui
permasalahan dan pelanggaran yang terjadi sebelum
diterapkannya E-Ticketing
Untuk mengidentifikasi perilaku pengguna KRL sebelum diterapkannya E- Ticketing
5 Ibu DDL
(Pengguna KRL aktif Stasiun Depok Lama)
Untuk memperoleh informasi mengenai perilaku sosial pengguna KRL sebelum dan sesudah diterapkannya E- Ticketing
Untuk memperoleh informasi mengenai perubahan yang dirasakan setelah diterapkannya E-Ticketing
Untuk memperoleh informasi mengenai respon dari pengguna KRL aktif terkait perubahan yang terjadi selama beralihnya tiket kertas menjadi E-Ticketing 6 Kak GR
(Pengguna KRL aktif Stasiun Depok Lama)
Untuk memperoleh informasi mengenai perilaku sosial pengguna KRL sebelum dan sesudah diterapkannya E- Ticketing
Untuk memperoleh informasi mengenai perubahan yang dirasakan setelah diterapkannya E-Ticketing
Untuk memperoleh informasi mengenai respon dari pengguna
KRL aktif terkait perubahan yang terjadi selama beralihnya tiket kertas menjadi E-Ticketing
7 Bapak DS
(Pengguna KRL aktif Stasiun Depok Lama)
Untuk memperoleh informasi mengenai perilaku sosial pengguna KRL sebelum dan sesudah diterapkannya E- Ticketing
Untuk memperoleh informasi mengenai perubahan yang dirasakan setelah diterapkannya E-Ticketing
Untuk memperoleh informasi mengenai respon dari pengguna KRL aktif terkait perubahan yang terjadi selama beralihnya tiket kertas menjadi E-
Ticketing 8 Bapak SR
(Pengguna KRL aktif Stasiun Depok Lama)
Untuk memperoleh informasi mengenai perilaku sosial pengguna KRL sebelum dan sesudah diterapkannya E- Ticketing
Untuk memperoleh informasi mengenai perubahan yang dirasakan setelah diterapkannya E-Ticketing
Untuk memperoleh informasi mengenai respon dari pengguna KRL aktif terkait perubahan yang terjadi selama beralihnya tiket kertas menjadi E-Ticketing 9 Bapak PH
(Pengguna KRL aktif Stasiun Depok Lama)
Untuk memperoleh informasi mengenai pandangan
penumpang yang aktif
menggunakan jasa Kereta Api sebelum dan sesudah
diterapkannya E-Ticketing
Untuk memperoleh informasi mengenai perubahan yang dirasakan setelah diterapkannya E-Ticketing
Untuk memperoleh informasi mengenai respon dari pengguna KRL aktif terkait perubahan yang terjadi selama beralihnya tiket kertas menjadi E-Ticketing
b. Observasi
Matthews dan Ross (2010) dalam (Herdiansyah 2015) observasi adalah proses mengamati subjek penelitian beserta lingkunganya dan melakukan perekaman dan pemotretan atas perilaku yang diamati tanpa mengubah kondisi alamiah subjek dengan ligkungan sosialnya. Tujuan dalam observasi pada penelitian ini adalah untuk menyajikan gambaran mengenai proses sejarah perubahan sistem pembelian tiket KRL dari paper ticket menjadi E-Ticketing di Stasiun Depok Lama dan memberikan gambaran bagaimana respon yang terjadi pada saat berlangsungnya perubahan sistem pembelian tiket KRL dari paper ticket menjadi E-Ticketing pada pengguna KRL di stasiun Depok Lama.
Dalam observasi, data yang diperoleh adalah pengguna KRL di stasiun Depok Lama telah mengadaptasi sistem E-Ticketing yang terlihat melalui kesadaran penumpang KRL di Stasiun Depok Lama untuk membeli E-Ticketing sebelum masuk kedalam stasiun. Lebih jauh lagi, kesadaran yang dihasilkan juga dapat dilihat melalaui perubahan pola perilaku pengguna KRL di Stasiun Depok Lama
menjadi lebih disiplin dan tertaur pada saat menggunakan transportasi KRL. Observasi ini juga diperkuat dengan diabadikan melalui catatan lapangan dan dokumen foto.
c. Dokumentasi
Dokumentasi menurut (Sugiyono 2008) merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen yang digunakan peneliti disini berupa foto, gambar, serta data-data mengenai seluruh proses sejarah perubahan sistem pembelian tiket KRL dari paper ticket menjadi E- Ticketing. Dalam penelitian ini, dokumentasi digunakan sebagai data penunjang penelitian dan sekaligus menjadi bukti karena dalam dokumentasi ini dapat dilihat serta mengabadikan objek yang diteliti.
Dokumentasi dalam penelitian ini penulis lampirkan beberapa foto sebelum diterapkannya E-Ticketing dan sesudah diterapkannya E- Ticketing. Selain itu penulis juga melampirkan screenshot bukti wawancara melalui aplikasi WhatsApp.
d. Studi Pustaka
Penulis memanfaatkan data sekunder untuk membantu proses penelitian dan menunjang informasi yang diperoleh dari data primer.
Data sekunder adalah data yang tidak langsung dikumpulkan oleh peneliti, atau dikumpulkan melalui sumber-sumber lain yang telah tersedia (Silalahi 2010). Data sekunder dalam penelitian ini mencakup dokumen yang bersumber dari jurnal cetak maupun eletronik, karya-
karya ilmiah seperti skripsi atau tesis dan buku-buku. Dalam penelitian ini, data sekunder didapat melalui literature yang relevan dengan tema penelitian.
3. Subjek Penelitian
Subjek penelitian merujuk pada individu atau kelompok yang dijadikan unit kasus yang akan diteliti. Yang dijadikan subjek penelitian atau yang menjadi informan yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian (Faisal, 2007). Adapun informan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggnakan metode snowball sampling. Snowball Sampling menurut (Silalahi 2010) adalah teknik pengambilan sumber data yang pada awalnya jumlahnya sedikit dianggap belum mampu memberikan data yang lengkap, maka harus mencari oranglain yang dapat digunakan sebagai sumber data.
Dalam penelitian ini, penulis memulai dengan menghubungi tiga informan kemudian bergulir ke informan berikutnya. Adapun informan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan kriteria atau kualifikasi tertentu, yang dapat memperkaya data penelitian (Irawan, 2007). Kriteria informan adalah pengguna KRL di Stasiun Depok Lama yang aktif menggunakan jasa transportasi KRL sebelum dan sesudah diterapkannya E-Ticketing dan petugas Stasiun Depok Lama yang mengetahui serta terlibat dalam proses sejarah perubahan sistem pembelian tiket KRL dari paper ticket menjadi E-Ticketing yang nantinya dijadikan sebagai subjek penelitian.
Subjek dalam penelitian ini adalah sebanyak sembilan orang yang didasarkan pada kriteria berikut ini, yakni :
a. Mengetahui proses sejarah dan terlibat secara langsung pada saat bergantinya paper ticket menjadi E-Ticketing;
b. Mengalami proses perubahan kondisi sosial dari diberlakukannya paper ticket sampai diterapkannya sistem E-Ticketing; dan
c. Merasakan proses perubahan bergantinya paper ticket menjadi E- Ticketing.
Tabel 1.3 Daftar Informan Penelitian
No Nama Profesi
1 Bapak WK Kepala Stasiun Depok Lama
2 Bapak L Satpam Stasiun (PKD) Depok Lama 3 Mba K Penjaga Loket Tiket Stasiun Depok Lama 4 Bapak N Mantan Kondektur Stasiun Depok Lama 5 Ibu DDL Pegawai Swasta (Penumpang aktif KRL
Stasiun Depok Lama)
6 Kak GR Pegawai Swasta (Penumpang aktif KRL Stasiun Depok Lama)
7 Bapak DS Pegawai Swasta (Penumpang aktif KRL Stasiun Depok Lama)
8 Bapak SR Karyawan Bank (Penumpang aktif KRL Stasiun Depok Lama)
9 Bapak PH Pegawai Swasta (Penumpang KRL