• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENYAME DI TENGAH COVID-19 : SEMAKIN LUNTUR ATAU ERAT?

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENYAME DI TENGAH COVID-19 : SEMAKIN LUNTUR ATAU ERAT?"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

MENYAME DI TENGAH COVID-19 : SEMAKIN LUNTUR ATAU ERAT?

Persaudaraan merupakan suatu hal yang melekat antar individu utamanya di Bali yang terkenal dengan istilah menyame braye. Rasa menyame sangat berkaitan erat dengan Tri Hita Karana dan Tatwam Asi. Menurut Sudarta (2008), Tri Hita Karana terdiri atas tiga kata yaitu tri artinya tiga, hita artinya kebahagiaan atau kesejahteraan, dan karana artinya sebab. Jadi, Tri Hita Karana berarti tiga komponen atau unsur yang menyebabkan kesejahtraan atau kebahagiaan. Ketiga komponen Tri Hita Karana itu meliputi hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Parahyangan), hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia (Pawongan), dan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam lingkungan (Palemahan). Ketiga komponen Tri Hita Karana itu berkaitan erat antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga tepat dijadikan konsep kehidupan oleh umat Hindu.

Persaudaraan yang diangkat pada permasalahan ini berkaitan dengan istilah pawongan yakni setiap individu harus menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama.

Kaitan persaudaraan kedua yakni dengan Tat Twam Asi, menurut I Gusti Lanang Arya Wesi Kusuma, Tat Twam Asi terdiri atas tiga kata, yaitu Tat yang berarti itu (dia), Twam yang berarti kamu, dan Asi berarti adalah. Tat Twam Asi bermakna itu adalah kamu. Maksud yang terkandung dalam ajaran Tat Twam Asi adalah “Ia adalah kamu, saya adalah kamu, dan semua makhluk adalah sama”. Ajaran Tat Twam Asi memunculkan sikap empati dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Saat ini yang menjadi kendala adalah konsep Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi yang sangat sulit untuk diimplementasikan di tengah pandemi mengingat adanya pembatasan-pembatasan yang ditujukan untuk seluruh masyarakat guna mempercepat pemutusan rantai Covid-19.

Dewasa ini pandemi Covid-19 masih menghantui seluruh lapisan masyarakat untuk membatasi aktivitas sosial. Menurut data yang dihimpun dari Satuan Tugas Penanganan Covid- 19 hingga tanggal 31 Oktober 2020 tercatat terjadi penambahan 3.143 orang yang terpapar Covid-19 di Indonesia.

(2)

Jika ditelusuri lebih dalam di Provinsi Bali, Covid-19 sudah menimbulkan dampak pandemi mulai dari bidang kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, dan tak kalah ramainya diperbincangkan yaitu pendidikan. Berdasarkan data yang didapat dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali diperoleh terjadinya peningkatan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 tanggal 31 Oktober 2020 sebanyak 52 orang.

Berdasarkan kedua grafik di atas artinya masih ada penambahan kasus positif Covid- 19 baru setiap harinya..

Bila ditelisik kembali pada fokus awal yakni rasa menyame braye yang sudah menjadi budaya di Bali, apakah pandemi ini menjadi penyebab turunnya rasa persaudaraan? Menurut kuesioner yang telah disebarkan oleh Bidang Advokasi FPMHD-Unud melalui grup

(3)

Fungsionaris FPMHD-Unud dengan berisi beberapa pertanyaan didapatkan data sebagai berikut.

Ditinjau dari pertanyaan “Apakah anda setuju adanya pandemi Covid-19 dapat menurunkan rasa persaudaraan?” Sebanyak 39% menyatakan setuju dengan pertanyaan tersebut, sebanyak 42% menyatakan tidak, dan sisanya menyatakan tidak tahu.

39%

19%

42%

Apakah anda setuju adanya pandemi Covid- 19 dapat menurunkan rasa persaudaraan?

Setuju Tidak Tahu Tidak

31%

50%

19%

Seberapa seringkah anda

berkumpul/berdiskusi dengan orang lain saat pandemi Covid-19?

Sering Jarang Tidak Pernah

(4)

Ditinjau dari pertanyaan “Seberapa seringkah anda berkumpul/berdiskusi dengan orang lain saat pandemi Covid-19?” Sebanyak 50% menyatakan jarang dari pertanyaan tersebut, sebanyak 31% menyatakan sering, dan sisanya menyatakan tidak pernah. Berdasarkan dua diagram di atas masih ada yang menyatakan rasa persaudaraan dapat menurun di tengah pandemi Covid-19 serta menurut responden kegiatan berkumpul/berdiskusipun mengalami penurunan.

Selain pertanyaan yang diajukan pada rsponden dengan hasil sesuai dengan diagram diatas, responden juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat terkait dengan topik persaudaraan di tengah pandemi. I Made Agus Widya Wira Sentanu menyatakan pendapat sebagai berikut “Menurut pendapat saya ini relatif tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Apabila rasa persaudaraan hanya dilihat seberapa sering kita mengobrol ataupun bercengkrama secara langsung maka akan terlihat menurun. Tetapi dengan kemajuan teknologi kita masih dapat bercengkrama dengan teman, saudara, keluarga dan lainnya meskipun tidak bertemu secara langsung”. Seiring dengan pendapat dari Putri Saraswati ada pula hal yang disampaikan oleh Luh Ayu Putri Saraswati “Sebenarnya belum tentu, tergantung dari sisi mana kita melihat apakah rasa persaudaraan tersebut menurun atau tidak, justru karena pandemi ini, semakin banyak orang-orang yang membagikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang-orang di luar yang membutuhkan seperti masker, atau bantuan dana untuk orang yang kurang mampu. Namun masih banyaknya orang yang tidak peduli dengan covid dan melakukan perjalanan yang seharusnya tidak perlu dilakukan/tidak urgent. Hal itu bisa disebut menurunkan rasa persaudaraan karena dibuktikan dengan tingginya rasa ego dari orang tersebut. Dalam kaitannya dengan rasa persaudaraan karena berkurangnya kontak secara langsung, saya hanya merasakannya beberapa persen penurunan (karena kurang rasanya jika belum bertemu), tetapi di era globalisasi saat ini dimana banyak fasilitas online yang bisa menghubungkan saya dengan keluarga dan teman-teman, sehingga saya masih bisa bertemu dan main walaupun terbatas jarak”. Selain pendapat sebelumnya berbeda halnya dengan pendapat yang diutarakan oleh Ni Nyoman Ira Santi Wedari “Tentunya sangat merugikan, terutama sebelumnya kita bangsa Indonesia yang memiliki rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang sangat tinggi, namun selama pandemi ini membuat kita jadi jarang berkomunikasi serta silahturahmi dengan keluarga, lama-kelamaan itu bisa membuat kebudayaan kita bisa berubah dan banyak orang yang akan memiliki sifat apatis”.

(5)

Selain pendapat tersebut, FPMHD-Unud turut serta dalam melaksanakan kegiatan yang tentunya menjadi contoh konkret dalam mempertahankan tali persaudaraan di tengah pandemi Covid-19. Dimana dimana pada tanggal 31 Oktober 2020, FPMHD-Unud telah melaksanakan kegiatan persembahyangan bersama sekaligus matur piuning kepengurusan. Kegiatan lain yang akan berjalan yaitu Dharma Pangasraman Anggota yang menyasar pada mahasiswa baru.

Melalui Dharma Pangasraman Anggota XXVII diharapkan mampu menyambung kembali rasa persaudaraan sekaligus mencari kader baru FPMHD-Unud. Dharma Pengasraman Anggota yang biasa disingkat DPA pada tahun ini tentunya memiliki konsep yang sedikit berbeda dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya tetapi tidak mengurangi makna konsep awal dari DPA yaitu sebagai kaderisasi FPMHD-Unud yang tidak lepas dari rasa persaudaraan, dimana kegiatan akan dilakukan dengan tetap mematuhi protokol Covid-19.

Sumber gambar: Bidang HIJ FPMHD-Unud

Tidak hanya pendapat, responden juga diberikan kesempatan untuk mengajukan saran agar rasa persaudaraan di tengah pandemi Covid-19 tetap dapat terjaga, seperti yang disampaikan oleh IGAP Larasati, “Penggunaan teknologi zaman kini jika dimanfaatkan dengan maksimal dapat mencegah menurunnya rasa persaudaraan di tengah pandemi”. Menurut Ni Wayan Cindy Sunari, “Untuk menjaga rasa persaudaraan tidak harus saling bertemu atau berkumpul satu sama lain, lagipula dengan teknologi yang ada saat ini kita bisa melakukan hal tersebut. Namun dalam persaudaraan, kepedulian terhadap sesama adalah hal terpenting, jadi tingkatkan kepekaan dan simpati terhadap orang-orang di sekitar kita sehingga rasa persaudaraan tetap terjaga. Intinya saling peduli dan memahami kondisi satu sama lain”.

(6)

Sementara menurut I Putu Riski, “Sarannya yaitu kita harus selalu sering dan meluangkan waktu untuk bercakap-cakap satu sama lain agar persaudaraan kita ini tidak mengalami perpeçahan. Menurut saya, yang saya lakukan pada saat Covid-19 agar persaudaraan kita tidak putus kita harus sering meluangkan waktu dengan teman baik secara online maupun offline tapi ingat satu hal ikuti aturan atau ajuran kesehatan dari pemerintah tujuanya untuk mencegah penyebaran Covid-19 ini”. Secara garis besar, saran yang diberikan mengarah pada penggunaan teknologi yang tepat untuk tetap menjalin komunikasi dan memiliki tujuan agar tetap mengikat rasa persaudaraan tetapi tetap mematuhi protokol kesehatan dengan mengurangi kegiatan berkumpul saat pandemi Covid-19.

Kesimpulan :

Pandemi ini memang berdampak dalam kegiatan sosial masyarakat saat ini, tetapi jangan jadikan pembatasan sosial sebagai alasan untuk menganggap bahwa rasa persaudaraan dapat menurun akibat pandemi Covid-19. Sebaliknya dari adanya pandemi Covid-19 justru membuat persaudaraan itu tidaklah menurun. Memang tidak sedikit yang mengganggap pandemi ini mengakibatkan turunnya rasa persaudaraan yang sudah terjalin sebelumnya, tetapi itu hanyalah sebuah perasaan risau yang dialami karena sudah berbulan-bulan melakukan pembatasan sosial. Rasa persaudaraan di tengah pandemi justru meningkat jika melirik di tengah keluarga karena seluruh anggota keluarga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sehingga hal tersebut akan mempererat tali persaudaraan. Selain itu, hal yang dapat dilakukan agar dapat tetap melakukan komunikasi dengan orang lain adalah dengan memanfaatkan media sosial yang ada. Hal terpenting yang dapat dipetik adalah rasa persaudaran tidak dapat diukur secara pasti dengan frekuensi bertemu secara langsung dengan orang lain baik untuk berkumpul ataupun berdiskusi karena hal tersebut buktinya sudah kita lalui bersama dengan memaksimalkan perkembangan teknologi saat ini. Alasan-alasan tersebut sudah cukup membantah bagaimana rasa persaudaraan tersebut tidaklah bisa pudar meskipun pandemi Covid-19 sedang menjajah. Dari tantangan inilah kita diuji untuk selalu optimis bagaimana kita harus tetap menjaga tali persaudaraan yang sudah terjalin dan tetap menjunjung Tri Hita Karana yang sudah menjadi pedoman sejak dulu hingga saat ini.

(BIDANG ADVOKASI FPMHD-UNUD)

Referensi

Dokumen terkait

Peran dari penerapan program remedial terhadap anak yang mengalami kesulitan dalam membaca teks Arab, tergantung dari kemampuan guru dalam melaksanakan

Dalam Pedoman Operasional Umum PNPM Mandiri Perkotaan 2008, PNPM Mandiri Perkotaan merupakan kegiatan lanjutan dari Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP)

Berdasarkan pada data test ,siswa yang menjadi subjek yang menurut penjenjangan kemampuan berfikir kreatif diberi kode dengan huruf kapital yaitu siswa sangat

Namun penelitian mengenai Peranan Pemerintah Dalam Pengawasan Perusahaan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta Di Luar Negeri, belum pernah dilakukan,

Nilai organoleptik lemang tipe vertikal dilakukan dengan mengamati warna, penampilan, bentuk, aroma, rasa dan tekstur (keempukan) lemang tipe vertikal hasil

Penelitian ini dilakukan karena tertuju pada kelas VI bahwa masih kurangnya penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran matematika, khususnya pada materi bilangan bulat

Gerakan BLM di tahun 2020 menjadi sebuah gerakan anti-rasis yang berbeda dari sebelumnya, karena gerakan ini dilakukan di tengah situasi pandemi COVID-19 yang mana

Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang manajemen pemasaran, khususnya faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian tiket maskapai yang berkonsep low fare