1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu ambang perkembangan manusia sebelum masuk ke dewasa adalah masuk ke masa remaja. Periode ini adalah periode dimana para remaja menentukan atau mencari jati dirinya. Periode remaja merupakan periode yang rentan akan bahaya, karena pada periode ini remaja berproses mencari jati dirinya, sehingga remaja dapat mudah terlibat terhadap perbuatan buruk dari balap liar, maupun perbuatan buruk lainnya seperti berjudi, ugal-ugalan di jalan raya, minum minuman keras, mencuri, dan yang lainnnya. Paling memprihatinkan yakni sebagian besar pelaku kejahatan tersebut adalah para remaja. Periode remaja merupakan periode peralihan dari periode anak-anak ke periode dewasa, istilah ini menunjukkan masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan. 1
Salah satu kenakalan remaja yang sering terjadi adalah kegiatan balapan liar motor. Pengertian balap didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yakni adu kecepatan, kemudian definisi liar yakni tidak teratur/tertata. Secara umum pengertian balap liar adalah aktifitas balap kendaraan bermotor yang tidak resmi dan dilakukan secara sembunyi-
1
Shilphy A. 2020. Motivasi Belajar Dalam Perkembangan Remaja. Sleman. Deepublish. Hal. 1
sembunyi. 2 Banyak remaja yang terobsesi dengan keinginan diri sendiri dan komunitasnya, bukan hanya karena rasa penasaran, kesenangan atau pertimbangan persaingan akan sesuatu, daripada memikirkan keselamatan diri sendiri, Cuma didasarkan pada iseng dan rasa keingin tahuan adu kecepatan kendaraannya adalah hobi, berebut pasangan atau uang sebagai tujuan balapan liar. Dapat disadari bahwa kenakalan remaja merupakan perilaku yang menyimpang dari norma hukum. Perilaku ini akan merugikan diri sendiri dan orang lain yang terpengaruh oleh perilaku ini di kemudian hari.
Balapan motor adalah suatu kegiatan yang memperebutkan kecepatan sepeda motor secara terorganisir sesuai dengan jenis, kecepatan dan kapasitas mesinnya. Kegiatan ini biasanya merupakan kegiatan olah raga dan hobby, jika ditunjang dengan prestasi para pembalap dan supporternya maka kedepannya akan menjadi professional. Balapan berlangsung di area khusus arena balap atau sirkuit demi tercapainya keamanan dan kenyamanan dalam balap motor itu sendiri. Federation Internationale de Motorcyclisme (FIM) adalah badan Internasional yang berfungsi menaungi berbagai jenis kegiatan-kegiatan olah raga balap motor tersebut. 3
2
Yosep Dwi Rahadyanto. 2014. Upaya dan Kendala Polisi Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Perjudian Balap Motor Liar di Kabupaten Sleman, Skripsi, Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Hal. 7.
3
https://id.wikipedia.org/wiki/Balap_motor diakses pada tanggal 16 Mei 2020 pada pukul 20.59 WIB
Dunia balap motor tidak dapat dipisahkan dari ajang balap motor liar.
Saat ini, balap motor liar dapat kita temui dengan mudah di kota-kota besar seperti kota Jakarta, Surabaya, Malang dan berbagai daerah di Indonesia.
Balapan sepeda motor liar adalah perlombaan sepeda motor. Balapan sepeda motor dilakukan tanpa ijin resmi. Balapan sepeda motor dilakukan di jalan yang termasuk fasilitas umum. Tentunya fasilitas umum tersebut tentunya akan dilintasi oleh kendaraan umum lainnya. Aktivitas ini biasanya dilakukan tanpa menggunakan standar keselamatan yang diperlukan, dan dalam banyak kasus digunakan sepeda motor yang sudah dimofikasi, dan tentunya sangat bahaya bagi nyawa pelakunya dan nyawa penonton atau pengguna jalan lainnya. Balapan sepeda motor ini banyak dilaksanakan oleh remaja usia sekolah, hal ini disebabkan berbagai faktor, seperti gengsi yang tinggi, ingin menarik perhatian lawan jenis bahkan tertarik dengan uang yang didapat. Memang dunia balap tidak bisa dipisahkan dengan taruhan atau judi. Biasanya, baik pelaku maupun penonton dapat memasang taruhan.
Tetapi ada faktor lain yang menyebabkan seseorang ataupun
remaja terbawa arus atau mengikuti kegiatan yang dilarang tersebut,
biasanya berawal dari menonton balapan atau berawal dari hobi yang suka
kebut-kebutan di jalanan umum. Hobi memodifikasi motor atau hanya
ingin menuangkan hobi juga bisa menjadi penyebab aksi balap liar. Tetapi
tidak adanya fasilitas balap dan faktor lingkungan sekitar juga berpengaruh,
sehingga dari itulah yang mengakibatkan para remaja sekarang mengikuti aksi balapan liar dimalam hari bahkan di pagi hari.
Balap motor liar adalah aktivitas yang sangat beresiko tinggi dan juga membahayakan karena dilaksanakan tanpa menggunakan standart keamanan yang cukup seperti halnya penggunaan, helm, jaket dan sarung.tangan pelindung.maupun kelengkapan sepeda motor seperti spion, lampu, dan mesin yang tidak standart. Selanjutnya, aksi kebut-kebutan di jalanan umum juga memicu terjadinya kemacetan sehingga dapat mengganggu kelancaran lalu lintas disekitarnya, dan menganggu ketertiban umum para warga masyarakat yang berada di wilayah tempat balap liar terjadi. Tidak jarang juga balapan liar mengakibatkan terjadinya kecelakaan yang menimbulkan adanya korban, baik luka ringan hingga berat ataupun meninggal dunia.
Jumlah korban akibat aksi kegiatan balapan liar tidak bisa dikatakan sedikit. Hal tersebut sudah tentunya membuat resah masyarakat, akibat dari kegiatan balapan liar yang terbilang sangat berbahaya tersebut dapat menelan korban jiwa, baik dari pelaku kegiatan balapan liar tersebut ataupun dari pihak warga masyarakat umum sebagai warga sekitar yang wilayahnya digunakan untuk melakukan perbuatan balap liar oleh para remaja.
Di kota Malang sendiri balap liar masih sering terjadi hampir tiap
minggu, salah satunya di wilayah kecamatan Kedungkandang, Kelurahan Buring, Kota Malang. Di daerah tersebut terdapat GOR (Gedung Olah Raga) Ken Arok, di area tersebut terdapat track atau jalur yang lurus dan sangat sepi, disinilah para remaja melakukan perbuatan balap liar tersebut, tidak sedikit jiwa yang melayang di jalur tersebut ataupun korban-korban kecelakaan.
Dalam balapan liar tersebut tidak hanya semata-mata menyalurkan hobi bermotor, tetapi juga ada unsur perjudian yang juga dilarang oleh aturan hukum yang berlaku di Indonesia mengenai perjudian, metode perjudian disini menggunakan uang, yakni dengan siapa paling dahulu mencapai garis finish atau garis yang telah ditentukan oleh para pihak atau pelaku, maka ialah pemenangnya dan berhak mendapatkan uang haram tersebut. Dalam hal tersebut sudah pasti balap liar ini susah untuk dihilangkan dari kebiasaan masyarakat remaja kota malang bisa dibilang sudah menjadi darah daging oleh warga masyarakat sekitar GOR Ken Arok terfokuskan pada para remaja yang melakukan balap liar, terutama di wilayah kecamatan Kedungkandang kota malang.
Biasanya para pebalap liar yang ingin melakukan atau melaksanakan
balap liar di GOR Ken Arok kerap berkebut-kebutan di jalanan sepanjang
jalan Mayjend Sungkono, Buring, Kedungkandang, Kota Malang. Sehingga
hal ini meresahkan warga sekitar, belum lagi dengan kenalpot motor yang
mereka pakai tidak standar, atau sudah dimodifikasi sehingga menimbulkan
kebisingan yang menganggu warga sekitar di jalan tersebut.
Berbagai faktor penyebab remaja melakukan balap liar yakni karena faktor hobi, karena faktor taruhan (judi), faktor lingkungan, faktor keluarga dan faktor pengaruh teknologi. Selain faktor tersebut ada juga faktor lain yang menjadi penggerak terjadinya balap liar, yaitu:
a. Tidak adanya fasilitas balap kendaraan bermotor di area tersebut.
b. Gengsi, pada usia remaja tersebut sangat wajar jika mempunyai gengsi yang tinggi.
c. Uang taruhan membuat balap liar bermotor menjadi suatu hobi.
d. Kesenangan dan imemacu adrenalin. Bagi pelaku balap liar, mereka memperoleh kesenangan dari balap motori, yang menimbulkan kepuasan.
e. Keluarga, kurangnya perhatian dari orang tua remaja
f. Penonton yang terbawa arus, biasanya pecinta otomotif pun datang untuk sekedar menonton balapan liar tersebut tetapi tidak bisa dipastikan bahwa penonton tersebut tidak mempunyai keinginan untuk ikut balapan, dari sini penonton yang melihat balapan liar pun bisa ikut-ikutan menjadi pelaku pebalap tersebut. 4
Upaya penanggulangan atau pencegahan sudah terus diusahakan oleh pihak aparat penegak hukum atau kepolisian di Polres Malang Kota maupun
4
Ni Putu Rai Yuliartini. 2014. Kajian Kriminologis Kenakalan Anak Dalam Fenomena Balapan Liar
di Wilayah Hukum Polres Buleleng, Jurnal Psikologi, Vol. VII No. 3.
Polsek Kedungkandang, seperti melakukan patroli, melakukan cipta kondisi, penggrebekan, bahkan melubangi aspal di jalan yang kerap dijadikan untuk balap liar tersebut, kendati demikian, para pemuda-pemudi atau remaja tersebut tetap tidak mempunyai rasa jera, mereka terus melakukan aksi balap liar di GOR Ken Arok dan sekitarnya tersebut. Maka dari itu penulis dalam proposal skripsi ini tertarik untuk menjelaskan dan menganalisa apa yang melatar belakangi dan penanggulangan yang dilakukan kepolisian serta hambatannya dari aksi balap liar yang terus terjadi di GOR Ken Arok.
B. Rumusan Masalah
Di dalam tugas akhir ini yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1. Apa yang melatarbelakangi para remaja gemar melakukan balap liar di Gor Ken Arok Kota Malang?
2. Bagaimana upaya penanggulangan yang dilakukan boleh kepolisian terhadap balap liar di Gor Ken Arok Kota Malang?
3. Apa hambatan Kepolisian dalam Upaya menanggulangi Balap Liar di Gor Ken Arok Kota Malang dan bagaimana solusi dari hambatan tersebut?
C. Tujuan
Dalam skripsi ini memiliki berbagai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi remaja di kota
malang melakukan balap liar di GOR Ken Arok di Kota Malang.
2. Untuk mengetahui bagaimana penanggulangan yang dilakukan oleh kepolisian dari tindakan balap liar di GOR Ken Arok di Kota Malang.
3. Untuk mengetahui apa saja hambatan yang dihadapi oleh kepolisian dalam melakukan penanggulangan dan bagaimana solusinya terhadap hal tersebut.
D. Manfaat
Manfaat yang penulis harapkan dengan munculnya skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Personal, manfaat bagi penulis sendiri dengan dibuatnya skripsi ini ialah mendapatkan ilmu baru dan mendapatkan gelar sarjana yang telah lama dinantikan.
2. Pengembangan Akademik, penelitian ini berharap bisa memberikan manfaat untuk memberikan rujukan dalam analisis fenomena serta masalah-masalah sosial yang ada.
3. Pembaharuan Hukum, penelitian ini penulis harapkan bisa menjadi salah satu rujukan oleh pihak-pihak terkait khususnya pemerintah dan para penegak hukum guna pembaharuan hukum yang lebih modern.
E. Kegunaan
Kegunaan yang diharapkan bisa dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah sebagaibberikut:
1. Sebagai penjelasan kepada masyarakat tentang bahayanya balap liar.
2. Sebagai informasi kepada masyarakat tentang dampak atau efek buruk yang terjadi dari adanya balap liar.
3. Sebagai referensi bagi penegak hukum di Kota Malang.
4. Menambah wawasan dari peneliti tentang masalah yang sedang diteliti.
F. Metode Penelitian 1. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian inibadalah yuridis sosiologis yakni melihat hukum sebagai perilakubmanusia di dalam masyarakat. Unsur pendekatan ilmu hukum dan ilmu sosiologis yang ditempuh melalui penelitian yang sistematis dan terkontrol berdasarkan suatu kerangka pembuktian guna memastikan, memperluas dan menggali atau mendapatkan data secara langsung dari lapangan terhadap obyek yang diteliti, baik data primer sebagai data utama serta data sekunder sebagai data pendukung atau pelengkap.
2. Lokasi.Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di area GOR Ken Arok Kota Malang yang kerap digunakan sebagai tempat untuk balap liar.
3. Sumber Data
Sumber yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini dapat dibagi menjadi dua bagian antar alain:
a. Data Primer adalah data yang didapatkan langsung melalui hasil wawancara dengan para pihak yang terkait dengan kegiatan atau aksi balap liar oleh remaja di GOR Ken Arok diantaranya pelaku aksi balapan liar, saksi, polisi iatau aparat yang berhubungan langsung dengan penindakan aksi balap liar.
b. Data sekunder yaitu data yang didapatkan dari dokumen tertulis, file, rekaman, informasi, pendapat, dan lain-lain yang diperoleh dari sumber kedua (Sekunder buku, jurnal, hasil penelitian terdahulu, dan lain-lain).
4. Teknik Pengumpulan Data
Mengenai teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Observasi yaitu pengumpulan data dengan melakukan
penyelidikan secara langsung terhadap hal-hal yang
berhubungan dengan masalah yang sedang diangkat. Penulis
melakukan Observasi pada tanggal 15 Mei 2020 dan 4 April 2020.
b. Wawancara adalah kegiatan tanya jawab yang dilakukan secara bertatap muka ataupun tidak langsung kepada para pihak terkait dengan tujuan guna mendapatkan informasi atau keterangan yang konkrit dan relevan yang berkaitan dengan masalah yang diangkat dalam penelitian ini.
Narasumber dalam proses pembuatan skripsi ini antara lain:
1. AKP Pri Hartati sebagai Kanit Binmas Polsek Kedungkandang
2. IPTU Sutadi sebagai Kanit Lantas Polsek Kedungkandang
3. Rahman sebagai pebalap liar 4. Yadi sebagai pebalap liar
5. Codet Warwer sebagai pebalap liar
c. Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan beberapa ipertanyaan iuntuk diisi oleh iresponden yang selanjutnya idilakukan analisis sehingga diperoleh informasi. 5
d. Dokumentasi yakni pengumpulan data melalui barang atau
5