• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2014 merupakan suatu pijakan utama dalam merumuskan program dan kegiatan tahun 2014.

Perencanaan tahun 2014 didasari oleh capaian pada tahun 2012 dan program serta kegiatan yang dilaksanakan pada tahun 2013. Pelaksanaan suatu program dan kegiatan dapat dikatakan berhasil

jika target–target indikator capaian dapat terlampaui, namun jika terdapat target yang belum tercapai maka dalam penetapan prioritas selanjutnya dapat menjadi pertimbangan untuk diselesaikan dan dilanjutkan pada tahap – tahap berikutnya.

Dalam rangka evaluasi pelaksanaan program tahun 2012 terdapat 2 (dua) hal yang menjadi penilaian yakni (1) Capaian kinerja indikator makro dan (2) Capaian pelaksanaan program RKPD tahun 2012. Indikator makro lebih berorientasi kepada target – target visi dan misi RPJMD 2010 – 2014, sedangkan capaian pelaksanaan program RKPD tahun 2012 diukur dari capaian target – target urusan wajib dan urusan pilihan.

2.1 Gambaran Umum Kondisi Daerah 2.1.1. Aspek Kondisi Geografis

2.1.1.1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi

Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang terletak di bagian barat Pulau Lombok. Berdasarkan luas wilayah, Kabupaten Lombok Barat terdiri dari 10 Kecamatan dimana Kecamatan Sekotong memiliki luas wilayah terbesar dengan luas ± 529.38 km² dan Kecamatan Kuripan merupakan Kecamatan yang paling kecil dengan luas ± 21.56 km². Kabupaten Lombok

(2)

Barat berada pada 115°.46’ - 116°.20’ Bujur Timur dan 8°.25’ - 8°.55’ Lintang Selatan dengan batas - batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Kabupaten Lombok Utara b. Sebelah Barat : Selat Lombok dan Kota Mataram c. Sebelah Selatan : Samudera Hindia

d. Sebelah Timur : Kabupaten Lombok Tengah 2.1.1.2. Topografi

Berdasarkan kondisi topografinya wilayah Kabupaten Lombok Barat sebagian besar terletak pada ketinggian 100-500 meter yakni seluas 48,03%, ketinggian 0-100 meter seluas 40,80%, ketinggian 500-1.000 meter seluas 10,14% dan ketinggian 1.000 meter ke atas yang hanya seluas 1,04% dari luas wilayah Kabupaten Lombok Barat.

2.1.1.3. Klimatologi

Kondisi klimatologi Kabupaten Lombok Barat adalah wilayah yang memiliki iklim tropis, dengan dua musim, yakni musim kemarau (April – September) dan musim hujan (Oktober – Maret) dengan temperatur / suhu udara rata - rata berkisar antara 20,40C – 32,50C. Keadaan curah hujan di Kabupaten Lombok Barat rata - rata berkisar 132 mm/bulan, curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari sebesar 266 mm dan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus yakni sebesar 0 mm. Rata – rata lama penyinaran matahari sebesar 68% dengan rata-rata penyinaran matahari maksimum sebesar 91% yang terjadi pada bulan Agustus tahun 2011, sedangkan lama penyinaran matahari minimum terjadi pada bulan Desember sebesar 46%. Kecepatan angin rata- rata yang terjadi selama tahun 2011 sebesar 7 knot kecepatan angin maksimum yakni sebesar 16 knot.

Tekanan udara rata-rata pada tahun 2011 sebesar 1.009,67 mb dengan tekanan udara maksimum yakni sebesar 1.012,4 mb pada bulan September sedangkan tekanan udara minimum yakni sebesar 1.005,8 mb yang terjadi pada bulan Februari.

2.1.1.4. Penggunaan Lahan

Luas lahan di Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2011 mencapai 86.182 Ha, sebanyak 69,42% atau 59.827 Ha dimanfaatkan untuk lahan pertanian yang terdiri dari sawah (19,44%) dan bukan sawah (49,98%), sedangkan 30,58% atau 26.355 Ha dimanfaatkan untuk lahan bukan pertanian.

(3)

2.1.1.5. Demografi 2.1.1.5.1. Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2012 mencapai 617.998 jiwa (angka proyeksi) yang terdiri dari 302.340 jiwa penduduk laki-laki dan 315.658 jiwa penduduk perempuan. Selama periode tahun 2008 – 2012 atau lima tahun terakhir laju pertumbuhan penduduk rata-rata Kabupaten Lombok Barat sebesar 1,49% dengan tingkat kepadatan penduduk 586 orang per km2, secara rinci dapat dilihat pada tabel 2.1 sebagai berikut :

Tabel 2.1

Banyaknya Penduduk Kabupaten Lombok Barat Menurut Jenis Kelamin Tahun 2010 – 2012

P e n d u d u k T a h u n

2010 2011 2012*

1 2 3 4

a.

Laki-laki

b.

Perempuan

293.528 306.458

296.680 309.364

302.340 315.658 J u m l a h 599.986 606.044 617.998

Kepadatan/Km2 569 575 586

Sumber data : BPS Kabupaten Lombok Barat *) angka sementara 2.1.1.5.2. Tenaga Kerja

Perkembangan ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2012 sebagai berikut, Penduduk usia kerja pada tahun 2011 mencapai 419.361 jiwa dan meningkat menjadi 425.289 jiwa pada tahun 2012.

Sementara itu dari aspek jumlah penduduk pada tahun 2012 yang mencapai 617.998 jiwa, maka 68,81% penduduk Lombok Barat merupakan usia kerja. Indikator usia kerja merupakan indikator positif yang artinya semakin banyak usia kerja dalam suatu daerah maka ketersediaan tenaga kerja juga akan semakin banyak dan merupakan salah satu sumber penggerak untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah apabila di kelola secara profesional, dengan kata lain Lombok Barat memiliki ketersediaan tenaga kerja untuk menggerakkan perekonomian.

(4)

Tabel 2.2

Kondisi Penduduk dan Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat Tahun 2011 – 2012

No Uraian Tahun

2011 2012* Ket

1 Jumlah Penduduk 606.044 617.998

2 Penduduk Usia Kerja 419,361.00 425,289.00 3 Bukan Angkatan Kerja 142,240.00 144,212.00 4 Angkatan Kerja 277,121.00 281,077.00

a. Bekerja 263,570.00 266,168.00 b. Pengangguran 13,551.00 14,909.00 5 TPAK (%) 66.08 66.09 6 TPT (%) 4.89 5.30 Sumber Data : BPS Kabupaten Lombok Barat

*) Angka Sementara 2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat

Pembangunan pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat, menurunnya angka kemiskinan, berkurangnya pengangguran dan meningkatnya derajat kesehatan masyarakat serta meningkatnya kualitas sumber daya manusia menunjukkan suatu keberhasilan dalam pembangunan. Aspek – aspek yang menjadi alat ukur evaluasi terhadap pembangunan yaitu pencapaian pada bidang ekonomi dan bidang kesejahteraan sosial, dimana Indikator ekonomi mencakup aspek PDRB, laju pertumbuhan ekonomi, sedangkan bidang kesejahteraan sosial mencakup Indeks Pembangunan Manusia (IPM), jumlah penduduk miskin, dan sebagainya.

1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator yang menggambarkan keberhasilan perekonomian suatu daerah baik PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK). Selama periode tahun 2008 - 2012 PDRB Kabupaten Lombok Barat menunjukkan peningkatan yang cukup baik dan stabil. PDRB berdasarkan atas dasar harga berlaku Kabupaten Lombok Barat mampu tumbuh rata-rata sebesar 12,31% per

(5)

tahun, sementara untuk PDRB Atas Dasar Harga Konstan rata-rata per tahun tumbuh sebesar 5,26%.

a. Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB selain untuk memberikan gambaran mengenai keberhasilan suatu daerah, dapat juga digunakan sebagai bahan masukan perencanaan pembangunan, perumusan kebijaksanaan sekaligus bahan evaluasi pembangunan di berbagai sektor. oleh karena itu besaran PDRB yang dihasilkan oleh suatu daerah sangat bergantung pada persediaan faktor – faktor produksi di daerah tersebut.

Untuk kepentingan berbagai analisis ekonomi makro masing-masing daerah, pada umumnya PDRB dihitung berdasarkan atas dasar harga berlaku (ADHB) dan atas dasar harga konstan (ADHK) suatu tahun dasar (tahun 2000).

PDRB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah, sedangkan PDRB atas dasar harga berlaku digunakan untuk mengetahui besarnya pergerakan harga.

Pada tahun 2012 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Kabupaten Lombok Barat diperkirakan mencapai Rp 4,86 triliun lebih atau tumbuh sebesar 11,48%, mengalami peningkatan sebesar 0,19% dari tahun sebelumnya.

Sementara itu untuk PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) diperkirakan dapat tumbuh sebesar 5,16% yaitu dari Rp 1,87 triliun lebih pada tahun 2011 menjadi Rp 1,96 triliun lebih pada tahun 2012, seperti terlihat pada tabel 2.3 sebagai berikut :

(6)

Tabel 2.3

PDRB dan Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 Kabupaten Lombok Barat Tahun 2008 - 2012

No Tahun PDRB (Juta Rupiah) Laju Pertumbuhan (%)

ADHB ADHK 2000 ADHB ADHK 2000

1 2 3 4 5 6

1 2008 3.126.927,55 1.590.458,56 14,06 4,54

2 2009 3.564.160,87 1.690.045,12 13,98 6,26

3 2010 *) 3.948.119,72 1.770.789,54 10,77 4,78

4 2011**) 4.393.825,55 1.869.645,39 11,29 5,58

5 2012***) 4,867,277.96 1,963,357.74 11,48 5,16

Sumber data : BPS Kabupaten Lombok Barat

*) angka sementara

**) angka sangat sementara

***) angka sangat sangat sementara

Perkembangan perekonomian Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2012 yang mengarah pada peningkatan yang positif menggambarkan dinamisasi perekonomian Kabupaten Lombok Barat yang berkembang sebagai dampak positif dari pembangunan yang telah dilaksanakan sekaligus sebagai indikator keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi dengan segala kekurangannya.

b. Struktur Ekonomi

Perekonomian Kabupaten Lombok Barat dibentuk dari beberapa sektor yang memiliki peranan vital yang tercermin dari PDRB yang dihasilkan. Untuk melihat peranan masing-masing sektor dalam pembentukan PDRB baik Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) maupun Atas Dasar Harga Kosntan (ADHK) Kabupaten Lombok Barat dapat dilihat pada tabel 2.4 dan tabel 2.5 sebagai berikut :

(7)

Sumber data : BPS Kabupaten Lombok Barat *) Angka Sementara

**) Angka Sangat Sementara ***) Angka Sangat Sangat Sementara

Nilai dan Distribusi Sektor Dalam PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2008 - 2012

No Sektor 2008 2009 2010*) 2011**) 2012***)

Rp (juta) % Rp (juta) % Rp (juta) % Rp (juta) % Rp (juta) %

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

I Primer 1.002.438,94 32,06 1.109.512,89 31,13 1.195.754,66 30,28 1.270.536,42 28,92 1,416,377.89 29,10

1 Pertanian 893.087.88 28,56 976.830,40 27,41 1.037.722,70 26,28 1.083.528,91 24,66 1,173,500.72 24,11

2 Pertambangan dan Galian 109.351.06 3,50 132.682,49 3,72 158.031,96 4,00 187.007,51 4,26 242,877.17 4,99

II Sekunder 477.710,35 15,28 555.048,61 15,57 629.930,23 15,96 732.438,70 16,67 901,906.61 18,53

1 Industri Pengolahan 116.609,49 3,73 134.321,31 3,77 145.610,80 3.69 159.895,15 3,64 177,655.65 3,65

2 Listrik, Gas dan Air Bersih 22.663,23 0,72 25.941,60 0.73 29.686,40 0.75 33.259,80 0,76 38,451.50 0,79

3 Bangunan 338.437,63 10,82 394.785,70 11,08 454.633,03 11.52 539.283,75 12,27 685,799.46 14,09

III Tersier 1.646.778,27 52,66 1.899.599,37 53,30 2.122.434,84 53,76 2.390.850,42 54,41 2,548,993.47 52,37 1 Perdagangan, Hotel dan

Restoran 677.731,09 21,67 775.100,14 21,75 882.686,55 22.36 1,007,059.53 22,92 1,136,022.68 23,34

2 Pengangkutan dan Komunikasi 377.849,38 12,08 405.899,62 11,39 442.476,64 11.21 483,407.35 11,00 521,772.20 10,72 3 Keuangan, Persewaan & Jasa

Perusahaan 127.402,29 4,07 144.946,69 4,07 161.028,57 4.08 187,413.74 4,27 199,071.67 4,09

4 Jasa-Jasa 463.795,51 14,83 573.652,92 16,10 636.243,08 16.12 712,969.80 16,22 692,126.93 14,22

PDRB 3.126.927,55 100,00 3.564.160,87 100,00 3.948.119,72 100,00 4.393.825,55 100,00 4.867.277,96 100,00

(8)

Tabel 2.5

Nilai dan Kontribusi Sektor Dalam PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2008 - 2012

No Sektor 2008 2009 2010*) 2011**) 2012***)

Rp (juta) % Rp (juta) % Rp (juta) % Rp (juta) % Rp (juta) %

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

I Primer 466,168.12 29.31 482,693.59 28.56 495,906.25 28.00 512,669.31 27.42 541.565,89 27,58

1 Pertanian 405,179.36 25.48 414,312.99 24.51 422,798.50 23.88 432,054.35 23.11 447.506,43 22,79

2 Pertambangan dan Galian 60,988.76 3.83 68,380.60 4.05 73,107.75 4.13 80,614.96 4.31 94.059,46 4,79

II Sekunder 276,911.29 17.41 298,765.13 17.68 319,526.40 18.04 345,689.79 18.49 369.727,04 18,83

1 Industri Pengolahan 83,753.23 5.27 90,654.49 5.36 93,592.67 5.29 97,934.43 5.24 104.681,06 5,33

2 Listrik, Gas dan Air Bersih 8,451.66 0.53 9,292.67 0.55 9,854.39 0.56 10,613.49 0.57 11.141,70 0,57

3 Bangunan 184,706.40 11.61 198,817.97 11.76 216,079.34 12.20 237,141.87 12.68 253.904,27 12,93

III Tersier 847,379.15 53.28 908,586.40 53.76 955,356.89 53.95 1,011,286.30 54.09 1.052.064,81 53,58 1 Perdagangan, Hotel dan

Restoran 381,106.57 23.96 410,878.56 24.31 434,483.79 24.54 466,476.97 24.95 496.476,95 25,29

2 Pengangkutan dan Komunikasi 171,894.20 10.81 179,050.95 10.59 188,940.27 10.67 199,723.41 10.68 200.975,33 10,24 3 Keuangan, Persewaan & Jasa

Perusahaan 69,768.01 4.39 74,694.08 4.42 78,841.40 4.45 84,405.72 4.51 87.878,60 4.48

4 Jasa-Jasa 224,610.37 14.12 243,962.81 14.44 253,091.43 14.29 260,680.20 13.94 266.733,93 13,59

PDRB 1.590.458,56 100,00 1.690.045,12 100,00 1.770.789.54 100,00 1.869.645.39 100,00 1.963.357,74 100,00 Sumber data : BPS Kabupaten Lombok Barat

*) Angka Sementara

**) Angka Sangat Sementara ***) Angka Sangat Sangat Sementara

(9)

Berdasarkan tabel 2.4 dapat dilihat bahwa pada tahun 2008-2012 nilai PDRB ADHB Kabupaten Lombok Barat terus mengalami peningkatan dimana pada tahun 2012 mencapai 4,86 trilliun rupiah lebih, sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor dominan pembentuk PDRB yakni secara berturut – turut 24,11% dan 23,34%. Namun sektor pertanian mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 24,66%

sedangkan sektor perdagangan, hotel dan restoran mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 22,92%.

PDRB ADHK Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2008 – 2012 juga mengalami trend peningkatan seperti yang terlihat pada tabel 2.5 dimana pada tahun 2012 nilai PDRB mencapai 1,96 trilliun rupiah lebih. Sektor pembentuk utama PDRB ADHK pada tahun 2012 adalah sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sektor pertanian pada tahun 2012 mencapai 22,79% atau sebesar 447,5 milyar rupiah lebih, mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 432 milyar rupiah lebih atau 23,11%, sedangkan untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran pada tahun 2012 mencapai 496 milyar rupiah lebih, mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebesar 466 milyar rupiah lebih.

c. Laju Pertumbuhan Ekonomi

PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) suatu daerah dapat menggambarkan pertumbuhan riil atau pertumbuhan perekonomian suatu daerah. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indikator keberhasilan dalam pembangunan ekonomi suatu daerah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya peranan masing-masing sektor dalam pembentukan PDRB, tetapi juga dipengaruhi oleh laju pertumbuhan masing-masing sektor yang mempunyai peranan yang cukup besar.

(10)

4.54

6.26

4.78

5.58 5.16 5.26

0 1 2 3 4 5 6 7

2008 2009 2010 2011 2012

Laju Pertumbuhan Ekonomi (%)

Tabel 2.6

Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Lombok Barat Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008 - 2012

No Sektor Laju Pertumbuhan Tahun (%) Rata-

Rata 2008 2009 2010 2011*) 2012 **)

1 2 3 4 5 6 7 8

1 Pertanian 1.33 2.25 2.05 2.19 3.77 2.32

2 Pertambangan dan

Penggalian 5.08 12.12 6.91 12.83 6.20 8.63

3 Industri Pengolahan 6.20 8.24 3.24 4.64 4.73 5.41

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 8.03 9.95 6.04 7.70 5.77 7.50

5 Bangunan 6.19 7.64 8.68 9.75 7.09 7.87

6 Perdagangan, Hotel dan

Restoran 5.77 7.81 5.75 7.36 5.96 6.53

7 Pengangkutan dan

Komunikasi 3.76 4.16 5.52 6.00 4.54 4.80

8 Keuangan, Persewaan dan

Jasa Perusahaan 5.76 7.06 5.55 7.06 5.52 6.19

9 Jasa-Jasa 6.50 8.62 3.74 3.00 4.62 5.30

PDRB 4.54 6.26 4.78 5.58 5.16 5.26

Sumber data : BPS Kabupaten Lombok Barat

*)Angka Sementara

**) Angka Sangat Sementara

Grafik 1

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lobar Tahun 2008-2012

(11)

Laju pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan melalui PDRB Kabupaten Lombok Barat Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) selama tahun 2008 – 2012 mengalami naik turun secara dinamis, pada tahun 2012 laju pertumbuhan ekonomi mencapai 5,16%, mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 5,58%. Rata – rata pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lombok Barat selama 5 (lima) tahun adalah 5,26%, sektor pertambangan memiliki rata – rata tingkat pertumbuhan paling tinggi mencapai 8,63% sedangkan sektor pertanian menjadi sektor yang memiliki rata – rata pertumbuhan terendah yakni 2,32%.

d. PDRB Per Kapita

Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat suatu wilayah secara makro, salah satu indikator yang digunakan adalah PDRB per kapita, PDRB per kapita yang tinggi mencerminkan keadaan ekonomi masyarakat yang lebih baik, dan sebaliknya. PDRB per kapita merupakan gambaran dari rata- rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun. PDRB per kapita untuk tahun yang bersangkutan dapat diukur dengan cara membagi nilai PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun pada tahun yang sama.

Pertumbuhan PDRB tidak akan memberikan dampak positif pada tingkat kesejahteraan masyarakat jika pertumbuhan penduduk atau perubahan harga yang terjadi lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDRB itu sendiri.

Tabel 2.7

PDRB Per Kapita, Laju Pertumbuhan dan Indeks Perkembangan PDRB Per Kapita Kabupaten Lombok Barat Tahun 2008 – 2012

No Uraian Tahun

2008 2009 20010*) 2011**) 2012***)

1 2 3 4 5 6 7

I Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)

1 PDRB Per Kapita (Rp.) 5.183.701 5.826.610 6.580.353 7.250.011 7.875.905

2 Laju Pertumbuhan (%) 11,20 12,40 12,94 10,18 10,15

II Atas Dasar Harga Konstan (ADHK)

1 PDRB Per Kapita (Rp.) 2.636.601 2.762.848 2.951.385 3.084.999 3.176.965

2 Laju Pertumbuhan (%) 1,92 4,79 6,82 4,53 7,64

Sumber data : BPS Kabupaten Lombok Barat

*)Angka Sementara

**)Angka Sangat Sementara

***) Angka Sangat Sangat Sementara

(12)

PDRB per kapita Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Kabupaten Lombok Barat pada 5 tahun terakhir (periode 2008 – 2012) cenderung naik setiap tahunnya, Pada tahun 2012 PDRB per kapita atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp 7.875.905 dibandingkan tahun 2011 sebesar Rp 7.250.011 dengan laju pertumbuhan mencapai 10,15%. Hal ini mengindikasikan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat di Kabupaten Lombok Barat secara makro mengalami peningkatan setiap tahunnya.

PDRB per kapita Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Kabupaten Lombok Barat memiliki laju pertumbuhannya yang memiliki trend naik selama 5 tahun terakhir, pada tahun 2012 laju pertumbuhan mencapai 7,64% mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun 2011 yang hanya mencapai 4,53% dengan nilai PDRB per kapita mencapai Rp 3.176.965,-.

e. Inflasi

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan membawa dampak yang berarti terhadap kesejahteraan masyarakat jika tingkat harga meningkat lebih tinggi. Untuk melihat seberapa jauh terjadinya perubahan harga pada suatu waktu, indikator yang digunakan adalah Indeks Harga Implisit (IHI).

Inflasi menggambarkan tingkat perubahan Indeks Harga Implisit (IHI), yaitu perubahan harga umum seluruh komoditi baik barang maupun jasa dari seluruh kegiatan ekonomi mulai dari sektor pertanian sampai dengan sektor jasa-jasa yang terjadi di suatu wilayah dalam kurun waktu satu. Sementara itu, inflasi yang biasanya digunakan hingga tingkat nasional adalah tingkat perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) dimana untuk pulau Lombok diwakili oleh IHK Kota Mataram, sedangkan untuk pulau Sumbawa diwakili oleh Kota Bima.

(13)

13.01

3.14

11.07

6.38

4.1

0 2 4 6 8 10 12 14

2008 2009 2010 2011 2012

Inflasi IHK Kota Mataram (%)

Laju Inflasi IHK Kota Mataram Tahun 2008-2012 Tabel 2.8

Laju Inflasi dan Pertumbuhan PDRB Per Kapita Kabupaten Lombok Barat Tahun 2008 - 2012

No Tahun Indeks Harga Implisit (IHI)

Laju Inflasi / Perubahan IHI

Laju Inflasi / Perubahan IHK Kota Mataram

Laju PDRB Per Kapita (%) ADHB ADHK 2000

1 2 3 4 5 6 7

1 2008 196,61 9,02 13,01 11,20 1,92

2 2009 210,91 7,27 3,14 12,40 4,79

3 2010 222,60 5,55 11,07 12,94 6,82

4 2011 *) 235,86 5,96 6,38 10,18 4,53

5 2012 **) - - 4,10 10,15 7,64

Sumber data : BPS Kabupaten Lombok Barat *)Angka Sementara

**)Angka Sangat Sementara

Grafik 2

Laju Inflasi IHK Kota Mataram Tahun 2008-2012

Laju PDRB per kapita ADHB Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2012 (angka proyeksi) yakni 10,15% mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 10,18%, untuk PDRB ADHK laju per kapita mengalami peningkatan yakni 7,64% dibandingkan tahun 2011 yakni 4,53%. Laju inflasi pulau Lombok yang diwakili oleh Indeks Harga Konsumen (IHK) kota Mataram pada tahun 2012 mencapai 4,10% mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 6,38%. Nilai indeks harga implisit (IHI) pada tahun 2011 mencapai 235,86 dengan tingkat inflasi yakni 5,96%. Data mengenai IHI Kabupaten Lombok Barat dan laju inflasinya pada tahun 2012 tidak tersedia disebabkan masih ada proses pengolahan data.

(14)

Ini mengindikasikan bahwa nilai tambah penduduk Kabupaten Lombok Barat secara riil cendrung mengalami peningkatan, hal ini juga didukung oleh laju perubahan PDRB per kapita Atas Dasar Harga Konstan 2000 yang senantiasa bernilai positif setiap tahunnya.

Tabel 2.9

Perkembangan Laju Inflasi Menurut Kelompok Pengeluaran Kabupaten Lombok Barat Tahun 2008 - 2012

Sumber data : BPS Kabupaten Lombok Barat BPS Provinsi NTB

Laju inflasi menurut kelompok pengeluaran selama periode tahun 2008 - 2011 mengalami pergerakan naik dan turun dimana laju inflasi rata-rata mencapai 8,4% dengan laju inflasi tertinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 13,01%. Inflasi pada tahun 2012 mencapai 4,10% atau mengalami penurunan dari tahun 2011 yang mencapai 6,38%, inflasi tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran perumahan yang mencapai 15,90% mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang hanya mencapai 5,59% dan inflasi terendah terjadi untuk kelompok pengeluaran transportasi dan komunikasi yakni 1,41%

yang mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yakni sebesar 5,71%.

Sedangkan perkembangan inflasi menurut kelompok pengeluaran pada tahun 2012 belum tidak tersedia.

f. Kemiskinan

Angka kemiskinan merupakan indikator yang digunakan untuk melihat tingkat kesejahteraan masyarakat dalam suatu daerah maupun suatu negara.

Semakin rendah tingkat kemiskin suatu daerah, maka tingkat kesejahteraan No Kelompok Pengeluaran

Tahun

2008 2009 2010 2011 2012

1 2 3 4 5 6 7

1 Bahan Makanan 18,88 6,48 23,54 1,57 -

2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 11,97 5,02 10,98 7,16 -

3 Perumahan 16,03 2,74 5,59 15,90 -

4 Sandang 5,28 6,48 3,84 6,43 -

5 Kesehatan 7,90 2,74 2,07 1,96 -

6 Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga 6,90 0,99 3,22 4,41 -

7 Transportasi dan Komunikasi 7,31 -3,91 5,71 1,41 -

8 Umum 13,01 3,14 11,07 6,38 4,10

(15)

129,537

119,600

110,498 100,000

110,000 120,000 130,000 140,000

2010 2011 2012*

Jumlah Penduduk Miskin

Jumlah Penduduk Miskin

daerah tersebut semakin baik. Tingkat kemiskinan dan garis kemiskinan Kabupaten Lombok Barat dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 secara detail dapat dilihat pada tabel 2.10 sebagai berikut :

Tabel 2.10

Persentase Penduduk Miskin di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2010 - 2012*

Tahun Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk Miskin

Persentase Kemiskinan (%)

1 2 3 4

2010 599.986 129.537 21,59

2011 606.044 119.600 19,70

2012* 617.998 110.498 17,88

Sumber Data : BPS Kab. Lombok Barat

*) Angka Sementara

Jumlah penduduk Kabupaten Lombok Barat selama tahun 2008 – 2012 terus mengalami peningkatan dimana pada tahun 2012 jumlah penduduk mencapai 617.998 jiwa (Angka Sementara). Peningkatan jumlah penduduk dapat berimbas pada peningkatan jumlah penduduk miskin, namun di Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2012 jumlah penduduk miskin justru mengalami penurunan yakni 110.498 jiwa (17,88%) dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 119.600 (19,70%).

Grafik 3

Tingkat Kemiskinan di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2010 – 2012

(16)

2. Fokus Kesejahteraan Sosial a. Pendidikan

Tujuan utama dalam pembangunan pendidikan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan mutu pendidikan, perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan bagi semua masyarakat, tercapainya efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan serta tersedianya sarana dan prasarana pendidikan. Indikator keberhasilan dalam bidang pendidikan dapat dilihat dari Angka Melek Huruf (AMH), Rata-rata lama sekolah (MYS), Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka pendidikan yang ditamatkan (APT).

Tabel 2.11

Indikator Pendidikan Kabupaten Lombok Barat Tahun 2008 – 2012

No Uraian Tahun

2008 2009 2010 2011 2012

1 2 3 4 5 6 7

1 Angka Melek Huruf 76.40 76,41 76,42 77,62 - 2 Rata-rata Lama Sekolah (MYS) 5.73 5.87 5.89 6.09 -

3 Angka Partisipasi Kasar (APK)

- SD/MI/Paket A 107.80 107.28 105.81 105.10 103.94

- SMP/MTs/Paket B 69.01 85.06 92.17 90.49 99.17

- SMA/SMK/MA/

Paket C

44.85 51.25 64.76 67.94 73.87 4 Angka Partisipasi Murni (APM)

- SD/MI/Paket A 94.89 90.70 91.69 92.83 98.70

- SMP/MTs/Paket B 67.14 66.86 71.01 72.89 81.22

- SMA/SMK/MA/Paket C 39.85 41.09 49.81 53.94 59.63

5 Angka Pendidikan Yang Ditamatkan (APT)

- SD 29.00 30.82 31.77 32.75 33.76

- SMP 17.96 19.35 17.96 19.35 19.46

- SMA 12.85 13.70 16.37 19.56 20.18

- Perguruan Tinggi 3.00 3.24 4.00 4.94 6.10

Sumber Data : Dikbud Kab. Lombok Barat

(17)

Perkembangan bidang pendidikan di Kabupaten Lombok Barat secara umum menunjukkan hasil yang baik sesuai yang di cita – citakan pemerintah daerah. Yang masih harus menjadi perhatian pemerintah daerah adalah peserta didik yang belum dapat menuntaskan pendidikan yang ditunjukkan dari Angka Pendidikan Yang Ditamatkan (APT), dimana pada tahun 2012 APT untuk SD/MI baru 33,76% atau dapat dikatakan yang benar – benar menuntaskan pendidikan di jenjang SD/MI baru 33,76% atau dapat dikatakan angka putus sekolah masih tinggi.

b. Kesehatan

Dalam bidang kesehatan selama 5 tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang positif, indikator keberhasilan yang digunakan yakni Angka Kematian Bayi (AKB), Usia Harapan Hidup (UHH) dan Prevalensi Gizi Buruk, secara lengkap dapat dilihat pada tabel 2.12 sebagai berikut :

Tabel 2.12

Indikator Kesehatan Kabupaten Lombok Barat Tahun 2008 – 2012

No Uraian Tahun

2008 2009 2010 2011 2012

1 2 3 4 5 6 7

1 Angka Kematian Bayi (AKB) 16,28 17,09 12,44 10,9 10,61 2 Usia Harapan Hidup (UHH) 59,97 60,40 60,84 61,28 -

3 Prevalensi Gizi Buruk 196 156 128 189 75

Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab Lombok Barat

Indikator kesehatan dalam 5 (lima) tahun terakhir menunjukkan kemajuan yang baik, AKB terus mengalami penurunan dimana pada tahun 2012 mencapai 10,61 per 1000 kelahiran, UHH Kabupaten Lombok Barat juga mengalami peningkatan dari 59,97 pada tahun 2008 menjadi 61,28 pada tahun 2011.

Sementara itu untuk prevalensi gizi buruk, selama tahun 2008 – 2012 mengalami penurunan dimana pada tahun 2008 terdapat 196 kasus gizi buruk dan pada tahun 2012 turun menjadi 75 kasus gizi buruk atau mengalami penurunan sebesar 61,73%.

(18)

c. Kesempatan Kerja (Rasio Penduduk Yang Bekerja)

Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja, dengan demikian dapat menyerap pertambahan angkatan kerja.

Pada tahun 2011 penduduk usia kerja di Kabupaten mencapai 419.361 jiwa dan pada tahun 2012 meningkat sebesar 5.928 jiwa sehingga menjadi 425.289 jiwa. Kondisi tersebut mengakibatkan jumlah angkatan kerja pada tahun 2012 meningkat dari 277.121 jiwa menjadi 281.077 jiwa. Sementara penduduk bekerja pada tahun 2012 bertambah dari 263.570 jiwa menjadi 266.168 jiwa.

Peningkatan penduduk angkatan kerja di Kabupaten Lombok Barat adalah bersifat positif karena peningkatan jumlah angkatan kerja dapat diserap oleh lapangan kerja yang ada.

3. Fokus Seni, Budaya dan Olah Raga

Pembangunan bidang seni, budaya dan olah raga sangat terkait erat dengan kualitas hidup manusia dan masyarakat. Hal ini sesuai dengan 2 (dua) sasaran pencapaian pembangunan bidang sosial budaya dan keagamaan yaitu (i) untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berahlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab serta (ii) mewujudkan bangsa yang berdaya saing untuk mencapai masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera.

Pencapaian pembangunan seni, budaya dan olahraga dapat dilihat berdasarkan indikator yaitu ; (1) Jumlah grup kesenian adalah jumlah grup kesenian per 10.000 penduduk, (2) Jumlah gedung kesenian adalah jumlah gedung kesenian per 10.000 penduduk (3) Jumlah klub olah raga adalah jumlah klub olahraga per 10.000 penduduk (4) Jumlah gedung olahraga adalah jumlah gedung olahraga per 10.000 penduduk.

(19)

Tabel 2.13

Perkembangan Seni, Budaya dan Olah Raga menurut Kecamatan di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2012

No Kecamatan

Jumlah grup kesenian per 10.000 penduduk

Jumlah gedung kesenian per 10.000 penduduk

Jumlah klub olah raga per 10.000

penduduk

Jumlah gedung olah raga per 10.000 penduduk

1 2 3 4 5 6

1 Sekotong 6 - - -

2 Lembar 17 - - -

3 Gerung 34 - - 1

4 Labuapi 12 - - -

5 Kediri 28 - - -

6 Kuripan 30 - - -

7 Narmada 91 - - -

8 Lingsar 96 - - -

9 Gunungsari 36 - - 1

10 Batulayar 10 - - -

Jumlah 360 - - 2

Sumber data : Dikbud Kab. Lombok Barat

Jumlah grup kesenian di Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2012 mencapai 360 buah per 10.000 penduduk, kecamatan Lingsar memiliki grup kesenian terbanyak yakni 96 buah. Gedung olah raga di Kabupaten pada tahun 2012 yakni 2 unit yang terdapat di kecamatan Gerung 1 unit dan kecamatan Gunungsari 1 unit.

Sementara itu untuk jumlah gedung kesenian dan jumlah klub olah raga tidak terdapat di Kabupaten Lombok Barat.

Sehubungan dengan berkembangnya jumlah grup kesenian tiap Kecamatan serta masih belum tersedianya gedung kesenian dan klub olah raga, maka tentunya menjadi perhatian pemerintah daerah untuk membangun sarana prasarana gedung kesenian maupun membentuk suatu klub olah raga dalam memeberikan sarana pengembangan seni, budaya dan olah raga masyarakat agar memberikan pembinaan guna membentuk kualitas hidup manusia dan masyarakatnya.

2.1.3. Aspek Pelayanan Umum

Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik, maupun jasa publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

(20)

1. Fokus Layanan Urusan Wajib a. Pendidikan

Pemerintah daerah Kabupaten Lombok Barat memiliki tanggung jawab besar agar seluruh masyarakatnya memperoleh pendidikan yang layak.

Pendidikan memegang peranan penting dalam pembangunan manusia, karena setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan agar menjadi manusia yang berkualitas sehingga memiliki kemampuan untuk memperoleh kehidupan yang layak, ini penting supaya tidak menjadi beban, tetapi menjadi potensi besar bagi pembangunan.

1). Rasio Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah

Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah per 10.000 jumlah penduduk usia sekolah. Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia sekolah.

Tabel 2.14

Ketersediaan Sekolah Dan Penduduk Usia Sekolah di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2008 - 2012

No Jenjang Pendidikan Tahun

2008 2009 2010 2011 2012

1 2 3 4 5 6 7

1 SD/SLB/MI

1.1 Jumlah Gedung Sekolah 325 329 345 346 -

1.2 Jumlah Penduduk Kelompok Usia 7-

12 tahun 71.748 73.644 73.296 73.522 -

1.3 Rasio 1:221 1:224 1:212 1:212 -

2 SMP/MTs/Sederajat

1.1 Jumlah Gedung Sekolah 44 49 51 52 -

1.2 Jumlah Penduduk Kelompok Usia

13-15 tahun 41.630 40.619 38.114 39.361 -

1.3 Rasio 1:946 1:829 1:747 1:757 -

3 SMA/SMK/MA/SLB/Paket C

1.1 Jumlah Gedung Sekolah 21 21 25 26 -

1.2 Jumlah Penduduk Kelompok Usia

16-18 tahun 46.150 40.108 36.382 35.240 -

1.3 Rasio 1:2.198 1:1.910 1:1.455 1:1.355 -

Sumber data ; BPS Kabupaten Lombok Barat

Jumlah sekolah selama tahun 2008 – 2011 untuk jenjang SD/MI mengalami peningkatan dimana pada tahun 2012 mencapai 346 unit, dengan jumlah penduduk usia 7-12 tahun sebanyak 73.522 jiwa maka rasio gedung sekolah terhadap penduduk sebesar 1:212 atau terdapat 1 gedung sekolah yang menampung siswa sebanyak 212 jiwa. Untuk jenjang

(21)

SMP/MTs juga selama tahun 2008 – 2011 jumlah gedung mengalami peningkatan yakni pada tahun 2012 mencapai 26 unit, jumlah penduduk usia 13-15 tahun pada tahun 2011 mencapai 38.074 jiwa sehingga rasionya mencapai 1:1.732 atau terdapat 1 gedung sekolah yang menampung 1.732 siswa SMP/MTs dan untuk rasio gedung sekolah terhadap penduduk usia 16-18 tahun pada tahun 2011 yakni 1:1.355 atau terdapat 1 sekolah yang menampung 1.355 jiwa siswa SMA/SMK/MA, sedangkan data untuk tahun 2012 belum tersedia.

Tabel 2.15

Ketersediaan Sekolah Menurut Kecamatan di Wilayah Kabupaten Lombok Barat Tahun 2011

No Kecamatan

SD/MI SMP/MTs/Sederajat SMA/SMK/MA/SLB/Pkt C

Jml Gedung Sekolah

Jml Pddk Usia 7-12 Tahun

Rasio Jml Gedung Sekolah

Jml Pddk

Usia 13-15 Tahun

Rasio

Jml Gedung Sekolah

Jml Pddk Usia 16-18 Tahun

Rasio

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 Sekotong 45 9.049 1:201 4 2.943 1:736 2 3.044 1:1,522

2 Lembar 29 6.247 1:215 5 2.448 1:490 2 2.401 1:1,201

3 Gerung 44 9.311 1:212 6 4.080 1:680 3 4.626 1:1,542

4 Labuapi 27 8.178 1:303 7 3.182 1:455 3 3.607 1:1,202

5 Kediri 21 7.453 1:355 4 3.942 1:986 3 4.089 1:1,363

6 Kuripan 30 4.673 1:156 4 1.850 1:463 1 2.067 1:2,067

7 Narmada 49 11.566 1:236 8 4.825 1:603 4 4.774 1:1,194

8 Lingsar 34 8.490 1:250 7 3.249 1:464 2 3.386 1:1,693

9 Gunungsari 40 10.735 1:268 8 4.802 1:600 3 4.676 1:1,559

10 Batulayar 27 6.322 1:234 2 2.476 1:1,238 3 2.570 1:857

11 Lainnya - - - - - - - - -

Jumlah 346 73.522 1:212 52 39.361 1:757 26 35.240 1:1.355 Sumber data : BPS Kabupaten Lombok Barat

Pada tahun 2011 Jumlah sekolah terbanyak terdapat di kecamatan Narmada sebanyak 49 unit untuk tingkat pendidikan SD/MI dengan tingkat rasio jumlah sekolah terhadap jumlah penduduk usia 7-12 tahun yakni 1:236 atau terdapat 1 sekolah yang dapat menampung 236 siswa. Untuk tingkat pendidikan SMP/MTs jumlah sekolah terbanyak terdapat di kecamatan Narmada dan Gunungsari yakni 8 unit, rasio sekolah terhadap jumlah penduduk di kecamatan Narmada yakni 1:603 atau terdapat 1 unit sekolah yang dapat menampung 603 siswa dan di kecamatan rasio

(22)

mencapai 1:600 atau terdapat 1 unit sekolah yang bisa menampung 600 siswa. Sementara itu untuk tingkat pendidikan SMA/SMK, jumlah gedung sekolah terbanyak terdapat di kecamatan Narmada yakni 4 unit sekolah dengan rasio terhadap jumlah penduduk usia 16-18 tahun mencapai 1:1.194 atau 1 sekolah dapat menampung 1.194 siswa.

2). Rasio Guru / Murid

Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru per 1.000 jumlah murid. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar, disamping itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran.

Tabel 2.16

Jumlah Guru dan Murid di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2008 - 2012

No Jenjang Pendidikan Tahun

2008 2009 2010 2011 2012

1 2 3 4 5 6 7

1 SD/SLB/MI

1.1 Jumlah Guru 3,798 3.721 3.988 3.936 -

1.2 Jumlah Murid 69.211 68.590 65.775 67.832 -

1.3 Rasio 1:18 1:18 1:17 1:17 -

2 SMP/MTs/Sederajat

1.1 Jumlah Guru 1.058 1.314 1.414 1.458 -

1.2 Jumlah Murid 16.748 17.710 17.282 16.856 -

1.3 Rasio 1:16 1:14 1:12 1:12 -

3 SMA/SMK/MA/SLB/ Paket C

1.1 Jumlah Guru 696 731 816 829 -

1.2 Jumlah Murid 7.663 7.453 7.864 8.186 -

1.3 Rasio 1:11 1:10 1:10 1:10 -

Sumber data : BPS Kabupaten Lombok Barat

Pada tahun 2008 – 2011 rasio jumlah guru terhadap jumlah murid mengalami penurunan, pada tahun 2011 rasio guru terhadap murid untuk jenjang SD/MI yakni 1:17 atau 1 orang guru dapat mengajar 17 murid, untuk jenjang SMP/MTs rsaionya mencapai 1:12 dan untuk jenjang SMA/SMK rasio guru terhadap murid mencapai 1:10 atau dapat dikatakan 1 guru dapat mengajar 10 murid. Penurunan yang terjadi disebabkan semakin bertambahnya jumlah guru, namun hal ini yang diharapkan dimana tingkat efektifitas mengajar murid oleh guru dapat lebih baik sehingga dapat tercapai dan meningkatnya mutu pembelajaran. Data jumlah guru, jumlah

(23)

murid dan rasio jumlah guru terhadap murid pada tahun 2012 belum tersedia.

Tabel 2.17

Jumlah Guru dan Murid Menurut Kecamatan di Wilayah Kabupaten Lombok Barat Tahun 2011 N

o Kecamatan

SD/SLB/MI SMP/MTs/Sederajat SMA/SMK/MA/SLB/Pkt C Jumlah

Guru

Jumlah

Murid Rasio Jumlah Guru

Jumlah

Murid Rasio Jumlah Guru

Jumlah Murid Rasio

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 Sekotong 371 8.207 1:22 86 1178 1:14 45 270 1:6

2 Lembar 289 5.333 1:18 114 1315 1:12 81 718 1:9

3 Gerung 456 8.314 1:18 185 2.571 1:14 110 1.428 1:13

4 Labuapi 348 5.799 1:17 171 1.497 1:9 111 737 1:7

5 Kediri 221 4.159 1:19 123 1.473 1:12 81 568 1:7

6 Kuripan 367 6.421 1:17 132 1.464 1:11 50 581 1:12

7 Narmada 681 10.137 1:15 220 2.791 1:13 110 1.551 1:14

8 Lingsar 376 6.530 1:17 213 2.479 1:12 67 869 1:13

9 Gunungsari 487 8.177 1:17 160 1.588 1:10 96 912 1:10

10 Batulayar 340 4.755 1:14 54 500 1:9 78 552 1:7

Jumlah 3.936 67.832 1:17 1.458 16.856 1:12 829 8.186 1:10 Sumber data : BPS Kabupaten Lombok Barat

Rasio jumlah guru terhadap jumlah murid pada tahun 2011 untuk jenjang SD/MI yakni 1:17, rasio terendah terdapat di kecamatan Batulayar yakni 1:14 atau dapat dikatakan terdapat 1 guru yang mengajar 14 murid.

Untuk jenjang SMP/MTs rasio guru terhadap murid pada tahun 2011 yakni 1:12, rasio terendah terdapat di kecamatan Labuapi dan kecamatan Batulayar yakni 1:9 atau terdapat 1 guru yang mengajar 9 murid.

Sementara itu untuk jenjang SMA/SMK/MA rasionya mencapai 1:10 dan yang terendah terdapat di kecamatan Sekotong yakni 1:6 atau terdapat 1 guru yang mengajar 6 murid. Semakin rendah rasio maka semakin efektif sistem pembelajaran serta semakin meningkatnya mutu dari pembelajaran bagi murid.

b. Kesehatan

Status kesehatan penduduk dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain yakni pelayanan kesehatan. Efektifitas pelayanan kesehatan secara makro ditentukan antara lain : (1) aksesibilitas sarana kesehatan seperti : posyandu, puskesmas dan rumah sakit; (2) aksesibilitas tenaga pemberi layanan, seperti ; dokter, perawat, bidan dan apoteker; (3) luas wilayah layanan serta jumlah yang

(24)

harus dilayani. Semakin luas wilayah pelayanan, maka semakin berat upaya yang harus dilakukan untuk menjangkau masyarakat dan dijangkau masyarakat.

Semakin banyak jumlah penduduk, maka semakin besar beban tugas yang harus dilakukan.

1). Rasio Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Per Satuan Balita

Pengertian posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumberdaya manusia sejak dini.

Pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak-anak sejak usia dini, merupakan suatu strategi dalam upaya pemenuhan pelayanan dasar yang meliputi peningkatan derajat kesehatan dan gizi yang baik, lingkungan yang sehat dan aman, pengembangan psikososial/emosi, kemampuan berbahasa dan pengembangan kemampuan kognitif (daya pikir dan daya cipta) serta perlindungan anak.

Tabel 2.18

Jumlah Posyandu dan Balita

di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2008 - 2012

No Uraian Tahun

2008 2009 2010 2011 2012

1 2 3 4 5 6 7

1 Jumlah Posyandu 933 658 691 736 775

2 Jumlah Balita 89.250 62.565 67.500 71.053 81.135

3 Rasio 1 : 95 1 : 95 1 : 97 1 : 96 1 : 105

Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Lombok Barat

Rasio jumlah posyandu terhadap jumlah balita di Kabupaten Lombok Barat mengalami peningkatan pada tahun 2012 yakni 1:105 atau terdapat 1 yang menangani 105 balita dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 1:96.

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah posyandu dimana pada tahun 2012 terdapat 775 posyandu dibandingkan tahun 2011 yang hanya mencapai 736, jumlah balita juga mengalami peningkatan pada tahun

(25)

2012 yakni 81.135 atau meningkat dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 71.035.

Tabel 2.19

Jumlah Posyandu dan Balita Menurut Kecamatan di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2012

No Kecamatan Jumlah

Posyandu Jumlah Balita Rasio

1 2 3 4 5

1 Sekotong 88 7.913 1:90

2 Lembar 71 6.009 1:85

3 Gerung 83 9.994 1:121

4 Labuapi 76 8.153 1:108

5 Kediri 57 7.217 1:127

6 Kuripan 48 4.574 1:96

7 Narmada 107 11.696 1:110

8 Lingsar 87 8.509 1:98

9 Gunungsari 99 10.782 1:109

10 Batulayar 59 6.288 1:107

Jumlah 775 81.135 1.105

Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Lombok Barat

Rasio jumlah posyandu terhadap jumlah balita pada tahun 2012 mencapai 1:105, kecamatan yang memiliki efektifitas tertinggi adalah kecamatan Lembar dimana rasio posyandu terhadap jumlah balita mencapai 1:85 atau dapat dikatakan bahwa terdapat 1 posyandu yang melayani 85 orang balita. Sedangkan kecamatan Kediri menjadi kecamatan dengan rasio posyandu terhadap jumlah balita tertinggi yakni mencapai 1:127 atau terdapat 1 posyandu yang melayani 127 orang balita.

2). Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Puskesmas Pembantu

Pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terjangkau dan terdapat di daerah – daerah terpencil yakni puskesmasda poliklinik, poliklinik dan puskesmas pembantu memberikan manfaat yang signifikan bagi kehidupan masyarakat dan sebagai keseriusan pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat di bidang kesehatan. Penyediaan fasilitas kesehatan merupakan salah satu bentuk pelayanan pemerintah kepada masyarakat hingga ke tingkat terendah.

Gambar

Tabel 2.64  Luas lahan Bersertifikat
Tabel 2.69  Jumlah Perpustakaan
Tabel 2.81  Nilai Tukar Petani (NTP)
Tabel 2.88   Ketersediaan Daya Listrik

Referensi

Dokumen terkait

tingkat keprofesionalitasan tenaga pengajar sebesar 75% yaitu diperoleh dari jumlah 8 guru yang sudah PNS. 3) Berkaitan dengan jenjang pendidikan yang dimiliki guru maka

Bentuk domain yang digunakan dalam simulasi seperti yang ditunjukkan dalam gambar 2, domain komputasi pada bagian inlet diberikan ruangan berbentuk kubus untuk

Secara khusus Standar Akademik Program Studi Anestesiologi dan Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana merupakan rumusan visi, misi dan tujuan fakultas,

Gambar 4.2 Kinerja Algoritma FSPC Power Control setiap level step size dengan menggunakan diversitas antena (MRC, L=2) tanpa bit PCC error pada kecepatan V=10 km/jam ... 47

Berdasarkan ketentuan di atas dengan adanya suatu bentuk perjanjian yang di tuangkan dalam Surat Perintah Kerja harus di sertai dengan perjanjian khusus yang

Branco dan Rodrigues (dikutip oleh Arshad et al, 2012) mengatakan bahwa gagal dalam mengkomunikasikan CSR dapat mengakibatkan potensi pemberhentian dukungan dan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi minat migrasi sirkuler untuk mengambil keputusan menetap di Kabupaten Semarang atau

Pada saat saya disupervisi oleh kepala sekolah, saya tetap mempersiapkan diri dari pra observasi supervisi klinis agar nantinya materi yang akan saya ajarkan