• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA PERESEPAN DOKTER UMUM DI APOTEK KIMIA FARMA 356 BANDUNG PERIODE JULI-SEPTEMBER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "POLA PERESEPAN DOKTER UMUM DI APOTEK KIMIA FARMA 356 BANDUNG PERIODE JULI-SEPTEMBER"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 POLA PERESEPAN DOKTER UMUM DI APOTEK KIMIA FARMA 356 BANDUNG

PERIODE JULI-SEPTEMBER 2013 Ester Christianawati, S.Farm., Apt Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran Jl. Raya Jatinangor, KM 21 Jatinangor, Sumedang

Email: [email protected]

ABSTRAK

Penggunaan obat harus rasional sesuai dengan kebutuhan klinis pasien dalam jumlah dan masa yang memadai dengan biaya paling rendah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai rasionalitas penggunaan obat di Apotek Kimia Farma 356 Bandung berdasarkan pola peresepan dokter umum. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental, data diambil secara retrospektif, dilakukan dengan mengumpulkan resep dari dokter umum yang diambil di Apotek Kimia Farma 356 Bandung pada periode Juli sampai September 2013. Rata-rata jumlah obat yang diresepkan 1,85, rata-rata persentase peresepan obat generik 31,41%, rata-rata persentase peresepan obat antibiotik 19,05%, rata-rata persentase peresepan obat yang termasuk dalam DOEN 12,83% dan rata-rata persentase peresepan sediaan injeksi 1,11%.

Kata kunci : rasional, resep, obat

ABSTRACT

The use of drugs should be rational according to the clinical needs of the patient in sufficient amount and period with the lowest cost. The aim of this study was to obtain data on the rationality of the drug use Kimia Farma Apotek 356, Bandung, based on general physician prescriptions patterns. This is non-experimental study where the data taken retrospectively by collecting the prescriptions from the general physician in the period July until September 2013. The average number of drugs which prescribed was 1.85, the average percentage of generic drugs prescriptions was 31.41%, the average percentage of antibiotic prescriptions was 19.05%, the average percentage of DOEN prescription was 12.83%, and the average percentage of injection dosage form prescription was 1.11%.

Key words : rational, prescriptions, drugs

(2)

2 PENDAHULUAN

Penggunaan obat yang rasional adalah penggunaan obat yang sesuai dengan kebutuhan klinis pasien dalam jumlah dan masa yang memadai, dan dengan biaya paling rendah (WHO, 2002).

Penggunaan obat harus sesuai dengan penyakit, oleh karena itu diagnosis yang ditegakkan harus tepat, patofisiologi penyakit, keterkaitan farmakologi obat dengan patofisiologi penyakit dan dosis yang diberikan dan waktu pemberian yang tepat, serta evaluasi dan efektifitas dan toksisitas obat tersebut, ada tidaknya kontraindikasi serta biaya yang harus dikeluarkan harus sesuai dengan kemampuan pasien tersebut (Sastramihardja, 2002; Holloway, 2004;Yuniar dan Handayani, 2007).

Pemerintah telah merumuskan kebijakan umum mengenai obat yang mengikat semua pelaku di bidang farmasi.

Kebijakan umum tersebut dirumuskan dalam bentuk pedoman kegiatan yang disebut Kebijakan Obat Nasional (KONAS) tahun 1983. KONAS merupakan bagian dari Sistem Kesehatan Nasional (SKN), yang menjelaskan lebih detail mengenai kebijakan di bidang obat dan perbekalan kesehatan secara nasional (Yuniar dan Handayani, 2007; Depkes RI, 1983). Di dalam KONAS terdapat unsur konsep obat esensial yang bertujuan untuk rasionalisasi dan efisiensi penggunaan obat

(Yuniar dan Handayani, 2007; Depkes RI, 2011).

Salah satu bentuk pokok jaminan ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan adalah perencanaan obat yang merujuk pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang ditetapkan oleh pemerintah bekerja sama dengan organisasi profesi dan pihak terkait lain.

Pengembangan dan penerapan pedoman terapi yang merujuk pada DOEN merupakan dasar dari penggunaan obat secara rasional (Yuniar dan Handayani, 2007; Depkes RI DOEN, 2011). Penerapan DOEN bertujuan untuk meningkatkan keamanan, ketepatan, dan kerasionalan penggunaan serta pengelolaan obat;

mengefektifkan biaya; sehingga lebih memeratakan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Penerapan DOEN ini harus dilaksanakan secara konsisten dan terus menerus di semua unit pelayanan kesehatan, dimulai dari sektor pemerintah dan secara bertahap pada sektor swasta (Yuniar dan Handayani, 2007; Depkes RI DOEN, 2011).

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai rasionalitas penggunaan obat di Apotek Kimia Farma 356 Bandung berdasarkan pola peresepan dokter umum. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Indonesia bahwa

(3)

3 indikator peresepan yang ditetapkan

meliputi jumlah rata-rata obat perlembar resep, presentase peresepan obat generik, presentase obat antibiotik, serta presentase obat injeksi, standar dari masing-masing indikator adalah jumlah rata-rata perlembar resep kurang dari 3,3 item obat, presentase obat generik tidak kurang dari 59%, presentase obat antibiotik lebih dari 43%, presentase obat yang termasuk dalam Daftar Obat Esensial Nasional tidak kurang dari 47% dan presentase obat injeksi tidak lebih dari 17% (WHO, 1993).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental. Data diambil secara retrospektif, dilakukan dengan mengumpulkan resep dari dokter umum yang diambil di Apotek Kimia Farma 356 Bandung pada periode Juli sampai September 2013. Data yang telah diperoleh kemudian dikategorisasikan ke dalam kategori yang terdapat dalam indikator penggunaan obat WHO 1993. Kategori tersebut meliputi jumlah obat per lembar resep (R/), obat dengan nama generik, obat antibiotik, sediaan injeksi, obat yang masuk ke dalam Daftar Obat Esensial Nasional.

HASIL

Jumlah resep yang masuk di Apotek Kimia Farma selama bulan Juli 377,

Agustus 378, September 385. Total resep yang masuk dari bulan Juli sampai September 2013 adalah 1291 resep. Resep dokter umum yang masuk pada bulan Juli 63, Agustus 59, September 62. Total resep dokter umum yang masuk dari bulan Juli sampai September 2013 adalah 184 resep.

Rata-rata jumlah obat yang diresepkan per lembar resep pada bulan Juli 1,75, Agustus 1,86, September 1,94. Rata-rata jumlah obat yang diresepkan dari bulan Juli- September 2013 yaitu 1,85.

Jumlah obat generik yang diresepkan pada bulan Juli 34, Agustus 33, September 40. Persentase peresepan obat generik pada bulan Juli 30,90 %, Agustus 30%, September 33,33%. Rata-rata persentase peresepan obat generik dari bulan Juli sampai September 2013 adalah 31,41%.

Jumlah obat antibiotik yang diresepkan pada bulan Juli 7, Agustus 11, September 17, total obat antibiotik yang diresepkan dari bulan Juli sampai September adalah 35 obat. Persentase peresepan antibiotik pada bulan Juli 11,1%, Agustus 18,64%, September 27,42%. Rata-rata persentase obat antibiotik yang diresepkan adalah 19,05%.

Jumlah obat yang termasuk dalam DOEN pada bulan Juli 11, Agustus 13, September 20. Total obat yang yang termasuk dalam DOEN dari bulan Juli sampai September adalah 58 obat.

Persentase obat yang termasuk dalam

(4)

4 DOEN bulan Juli 10%, Agustus 11,82%,

September 16,67%. Rata-rata persentase obat yang termasuk dalam DOEN dari bulan Juli sampai September 2013 yaitu 12,83%.

Jumlah sediaan injeksi yang diresepakan pada bulan Juli 0, Agustus 1, September 1. Persentase peresepan sediaan injeksi pada bulan Juli, 0%, Agustus 1,69%, September 1,62%. Rata-rata persentase peresepan sediaan injeksi pada bulan Juli sampai September 1,11%.

Resep yang mengadung obat antibiotik adalah 35 resep. Distribusi antibiotik yang diresepkan oleh dokter umum dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 1. Distribusi Peresepan Antibiotik

Tabel 2. Distribusi Klasifikasi Antibiotik yang Diresepkan

Kode ATC Jumlah Peresepan

J01D 14

J04A 7

J01B 5

J01C 3

J01M 4

J01E 1

J01A 1

PEMBAHASAN

Rata-rata jumlah obat yang diresepkan dari bulan Juli-September 2013 yaitu 1,85. Hasil tersebut tidak melebihi hasil penelitian WHO yang pernah dilakukan di Indonesia tentang penggunaan obat pada dua puluh unit pelayanan kesehatan untuk resep pasien rawat jalan, rata-rata jumlah obat per lembar resep adalah 3,3 (Quick, dkk., 1997 dalam Sudarmono, 2008). Sehingga dapat disimpulkan bahwa peresepan oleh dokter umum di Apotek Kimia Farma 356 Bandung masih dalam tahap rasional.

Tujuan dari peresepan yang rasional yaitu memperkecil kemungkinan terdapat resep- resep polifarmasi yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya interaksi obat dalam resep, memperkecil kemungkinan timbulnya efek toksik, efisiesi dalam biaya pengobatan (Zai, 2002).

Nama Obat

Kode ATC

Jumlah Peresepan

Cefadroxil J01DB05 11

Isoniazid J04AC01 2

Thiampenicol J01BA02 5

Amoxicilin J01CA04 3

Ciprofloxacin J01MA02 3

Cefixime J01DD08 3

Levofloxacin J01MA12 1

Doksisiklin J01AA03 1

Coktrimoksasol J01EE03 1

rifampisin dan

isoniasid J04AM02 5

(5)

5 Rata-rata persentase peresepan obat

generik dari bulan Juli sampai September 2013 adalah 31,41%. Peresepan obat generik yang baik menurut WHO yaitu tidak kurang dari 59% (Quick, dkk., 1997 dalam Sudarmono, 2008). Hal ini menunjukkan bahwa persepan obat generik di Apotek 356 Bandung belum memenuhi standar WHO. Melihat kondisi tersebut maka perlu dilakukan peningkatan persepan obat generik oleh dokter umum sesuai program pemerintah mengenai penggunaan obat generik.

Rata-rata persentase obat antibiotik yang diresepkan adalah 19,05%. Peresepan antibiotik yang rasional menurut WHO yaitu tidak lebih dari 43% (Quick, dkk., 1997 dalam Sudarmono, 2008). Hal tersebut menunjukkan persentase peresepan antibiotik oleh dokter umum di Apotek Kimia Farma 356 Bandung rasional. Penggunaan antibiotik harus dikedalikan sedemikian rupa agar rasional karena penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menimbulkan dampak negatif seperti muncul dan berkembangnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik, muncul penyakit akibat superinfeksi bakteri resisten, terjadi toksisitas/efek samping obat (Arustyono, 1999).

Rata-rata persentase obat yang termasuk dalam DOEN dari bulan Juli sampai September 2013 yaitu 12,83%.

Persentase peresepan obat yang termasuk

dalam DOEN yang rasional menurut WHO yaitu tidak kurang dari 47% (Quick, dkk., 1997 dalam Sudarmono, 2008). Hal tersebut menunjukkan persentase obat yang termasuk dalam DOEN yang diresepkan oleh dokter umum di Apotek Kimia Farma 356 Bandung dari Juli sampai September 2013 belum memenuhi standar WHO. Melihat kondisi tersebut maka perlu dilakukan peningkatan persepan obat yang termasuk dalam DOEN yang diresepkan oleh dokter umum di Apotek Kimia Farma 356 Bandung.

Penerapan DOEN mempunyai tujuan antara lain meningkatkan ketepatan, keamanan, kerasionalan penggunaan dan pengelolaan obat, memperluas, meratakan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Rata-rata persentase peresepan sediaan injeksi pada bulan Juli sampai September 1,11%. Peresepan sediaan injeksi yang baik menurut WHO yaitu tidak lebih dari 17% (Quick, dkk., 1997 dalam Sudarmono, 2008). hal ini menunjukkan peresepan sediaan injeksi dari dokter umum di Apotek Kimia Farma 356 Bandung pada periode Juli-September 2013 memenuhi standar yang ditetapkan WHO (rasional).

Berdasarkan data pada tabel 1 dan tabel 2 dapat diketahui distribusi penggunaan antibiotik oleh dokter umum di Apotek Kimia Farma 356 Bandung

(6)

6 terdistribusi dalam beberapa golongan

yaitu golongan amphenicol, penisilin, beta laktam, sulfonamid, trimetoprim, tetrasiklin dan antibiotik tuberculosis.

Antibotik yang paling banyak digunakan adalah golongan beta laktam sebanyak 15 kali peresepan dan antibiotik tuberculosis sebanyak 7 kali peresepan.

KESIMPULAN

Hasil penelitian yang telah dilakukan menujukkan persentase rata-rata jumlah obat per lembar resep, persentase penggunaan sediaan injeksi dan obat antibiotik yang diresepkan oleh dokter umum di Apotek Kimia Farma 356 Bandung sesuai dengan standar WHO (rasional). Sedangkan untuk persentase peresepan obat generik dan obat yang termasuk dalam DOEN belum sesuai dengan standar WHO. Antibotik yang paling banyak diresepkan adalah golongan beta laktam dan antibiotik tuberculosis.

DAFTAR PUSTAKA

Arustyono, 1999, Promoting rational use of drug at the community health centre in Indonesia, Departemen of International Health School of Public Health, Boston.

Bannenberg WJ, Forshaw CJ, Fresle D, Salami AO, Wahab HA. 1990.

Evaluation of the Nile Province

Essential Drugs Project. World Health Organization. Geneva.

Christensen, RF. 1990. A Strategy for the Improvement of Prescribing and Drug Use in Rural Health Facilities in Uganda. Uganda Essential Drugs Management Programme.

Departemen Kesehatan RI. 1983.

Kebijakan Obat Nasional. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 2005.

Kebijakan Obat Nasional. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 2011.

Kebijakan Obat Nasional. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 2011. Daftar Obat Esensial Nasional. Jakarta.

Gelders, SFAM. 1992. Malawi Essential Drugs Programme Drug Use Indicator Survey. Action Programme on Essential Drugs. World Health Organization. Geneva.

Holloway, K. 2004. Rational Use of Drugs : an overview. In: Technical Briefing Seminar: Essential Drug and and Medcines Policy. World Health Organization. Geneva.

Ministry of Health Zimbabwe Essential Drug Actions Programme. 1991.

Essential Drug Survey. Zimbabwe.

Sastramihardja, HS. 2002. Penggunaan Obat yang Rasional. In: Farmakologi Klinik. Farmakologi III. Edisi 2.

Universitas Padjadjaran. Bandung.

Siahan S, 2008. Akses Masyarakat terhadap Obat-obat Esential pada

(7)

7 Unit Pelayanan Kesehatan di

Indonesia’, Bulletin Penelitian Sistem Kesehatan, vol. 11, no. 3, Juli 2008, hal. 212–222.

Sudarmono, dkk. 2011. Analisis Penggunaan Obat Pada Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman Periode Oktober 2008.

Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi Vol.1 No.1, Maret 2011.

World Health Organization. 1999.

Indicators for Monitoring National Drug Policy. 2nd edition. Geneva.

World Health Organization. 1993. How to Investigate Drug Use in Health Facilities. Geneva.

World Health Organization. 2002. WHO Policy Perspectives on Medicines.

Promoting rational use of medicines;

core components. Geneva.

Yuniar, Y., dan Handayani. 2007.

Indikator Peresepan Obat pada Enam Apotek di Kota Bandung, Surabaya, dan Makassar. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. 10:.25-30.

Zai, C, 2002. Penggunaan Obat yang Rasional dan Biaya Pemakaian Obat di Puskesmas Kabupaten Nias, [Tesis], Sekolah Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan berkembangnya pengolahan edible film berbahan baku bioselulosa dari nata de coco akan berdampak pada berkurangnya pemanfaatan bahan kemasan yang tidak ramah

Pada aktifitas ini, auditor terlebih dahulu memilih tujuan bisnis berdasarkan COBIT versi 4.1, proses bisnis, dan aset perguruan tinggi yang terkait dengan proses

Menurut pendapat kami, laporan keuangan konsolidasi yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Perusahaan dan

(2) Dengan menggunakan teknik steril setiap bakteri di inokulasi kedalam tabung yang berisi media yang telah di beri label dengan cara ditusuk dan setelah itu digores; (3)

“Observasi adalah kegiatan mengamati secara langsung suatu objek untuk melihat dengan kegiatan yang dilakukan objek tersebut.” 41 Observasi tersebut mengenai

Definisi diatas menggambarkan bahwa pengendalian intern dalam perusahaan sangat penting karena manajemen tidak dapat melakukan pengendalian secara langsung atau secara

Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitan tindakan kelas yang berjudul “Peningkatan Motivasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Melalui Metode Belajar

Pada tugas akhir ini akan dibuat sebuah sistem pengenalan telapak tangan mata dengan masukan citra telapak tangan menggunakan kamera kemudian diekstraksi ciri