• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA. Manajemen Modal Kerja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KAJIAN PUSTAKA. Manajemen Modal Kerja"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

1 PENDAHULUAN

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat, ditengah minimnya lapangan pekerjaan (Ananda &

Susilowati, 2016). Deputi bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengungkapkan bahwa pada tahun 2018 UMKM Indonesia telah menyumbang 60,34 persen terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional atau PDB di Indonesia (Putra, 2018). Sesuai dengan yang tercantum dalam Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 20 Pasal 3 Tahun 2008 yaitu Usaha Mikro Kecil, dan Menengah bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan (Pemerintah Republik Indonesia, 2008).

Meskipun UMKM mampu meningkatkan perekonomian, UMKM juga memiliki permasalahan tersendiri. Salah satunya adalah kekurangan modaldalam bentuk uang, sehingga UMKM tidak dapat mengembangkan usahanya secara maksimal (Rochmawati, Hadi, & Suwondo, 2014). Hal yang sama juga dikemukakan oleh Leiwakabessy &

Lahallo (2018). Banyak UMKM yang baru memulai usahanya mengalami kekurangan dana untuk membayar beban – beban bisnis setelah beberapa bulan menjalankan usaha mereka (Andreas, 2011). Dengan demikian banyak UMKM berhadapan dengan permasalahan likuiditas.

Likuiditas merupakan kemampuan suatu bisnis dalam memenuhi kewajiban jangka pendek seperti membayar gaji karyawan, membayar biaya listrik dan biaya operasi (Widayanti et al, 2009). Sementara Rustam (2017) menjelaskan risikolikuiditas menunjuk pada ketidakmampuan suatu bisnis dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan menggunakan sumber pendanaan aset lancar seperti kas. Untuk mengatasi permasalahan likuiditas,kemungkinan UMKM akan melakukan tindakan menambah uang tunai dengan cara hutang,menjual persediaan bahan baku, menjual produk dengan harga yang lebih murah,memperketat piutang dan menagih piutang lebih awal dengan memberikan potongan. Selama ini penelitian mengenai likuiditas relatif banyak diteliti pada perusahaan besar, seperti pengaruh rasio likuiditas terhadap return saham oleh Jaunanda

& Fransesca (2015), Arifin & Agustami (2016), Hanie & Saifi (2018), dan pengaruh

(2)

2

likuiditas terhadap struktur modal oleh Dahlena (2017). Sedangkan,penelitian dengan obyek UMKM dengan pengelolaan keuangan yang pernah dilakukan antara lain sistem manajemen keuangan terencana bagi start-up bisnis UMKM berbasis weboleh Santi &

Yulianton (2016), laporan keuangan sebagai dasar penilaian kinerja keuangan pada UMKM oleh Erakipia & Gamaliel (2016), dan pelatihan penyusunan laporan keuangan dengan teknik pembukuan sederhana pada UMKM oleh Manoppo & Pelleng (2018).Dari hasil paparanpenelitian terdahulu tersebut nampak belum ada penelitian yang terkait pengelolaan likuiditas pada UMKM, padahal penting bagi keberlangsungan UMKM.

Oleh karena itu, menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dalam penelitian ini akan diajukan beberapa pertanyaan yaitu Pertama, bagaimana kondisi likuiditas UMKM ? Kedua, permasalahan apa yang dihadapi UMKM terkait likuiditas ? Ketiga, Bagaimana cara UMKM dalam menjaga likuiditas ? Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi likuiditas pada UMKM dan cara yang digunakan UMKM untuk meningkatkan likuiditas selama ini. Penelitian ini akan diteliti di UMKM tahu bakso Ungaran.

Mengingat tahu bakso merupakan oleh – oleh khas daerah Ungaran Kabupaten Semarang.Secara akademis, penelitian ini diharapkan memberi tambahan wawasan tentang pengelolaan likuiditas pada UMKM yang selama ini belum diteliti. Sedangkan secara praktis diharapkan penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi UMKM dan sebagai bahan pertimbangan pemerintah daerah untuk memberikan pembinaan UMKM berkenaan dengan pengelolaan likuditas.

(3)

3 KAJIAN PUSTAKA

Manajemen Modal Kerja

Manajemen modal kerja merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengatur fungsi aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek, yang bertujuan untuk dapat memaksimalkan laba (Utami & Dewi, 2016). Setiap UMKM membutuhkan modal kerja yang akan digunakan untuk operasi sehari-hari. Modal kerja sebenarnya merupakan asset lancar yang digunakan dalam operasi, sedangkan manajemen modal kerja mencakup penetapan kebijakan modal kerja dan pelaksanaan kebijakan tersebut dalam operasi sehari-hari (Brigham & Joel, 2006). Modal kerja memiliki pengertian dalam tiga konsep yang berkaitan dengan fungsi operasi perusahaan. Pertama dalam konsep kuantitatif, modal kerja adalah total dari keseluruhan aset lancar atau yang sering disebut modal kerja bruto (gross working capital). Kedua, modal kerja dalam konsep kualitatif merupakan sebagian aktiva lancar yang secara nyata digunakan untuk mendanai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditas perusahaan. Dalam manajemen modal kerja terdapat beberapa unsur yang berpengaruh seperti kas, piutang dan persediaan(Brigham & Joel, 2006).

Kas merupakan salah satu aset lancar yang paling mudah likuid (Karim &

Hamdan, 2014). Kemampuan kas untuk dapat menghasilkan pendapatan dapat dilihat dari perputaran kas. Perputaran kas merupakan berputarnya kas menjadi kas kembali, jika jumlah kas kecil maka perputaran kas berarti rendah (Andriani, 2017). Semakin tinggi perputaran kasnya, maka semakin baik bisnisnya. Perputaran kas digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan kas dalam bisnis, karena tingkat perputaran kas menggambarkan kecepatan kembalinya kas yang berasal dari modal kerja.

Piutang terjadi karena adanya penjualan secara kredit. Penjualan secara kredit biasanya dilakukan untuk mempertahankan pelanggan sehingga memperkecil risiko kemungkinan barang menumpuk atau kadaluwarsa. Kualitas piutang dapat dilihat dengan mengukur rata-rata pengumpulan piutang, seperti penggunaan syarat periode jangka waktu pengembalian piutang yang sudah disepakati bersama. Penagihan piutang dikatakan berhasil dengan baik jika suatu bisnis mengetahui kualitas piutang dagangnya.

Terdapat cara penagihan yang tepat menurut Ekawati et al (2009) bahwa ada dua

(4)

4

pendekatan yang digunakan dalam mengevaluasi kebijakan kredit dan kebijakan penagihan. Pendekatan yang pertama yaitu dengan melihat rata-rata pengumpulan piutang atau perputaran piutang, yang kedua mengelompokkan berdasar usia piutang.

Likuiditas

Likuiditas merupakan hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan suatu bisnis, dimana pelaku bisnis harus dapat memenuhi kewajiban jangka pendek tepat waktu (Amanah, Atmanto, & Azizah, 2014). Menurut Brigham & Joel (2006) terdapat fungsi likuiditas yaitu sebagai alat untuk menjalankan aktivitas bisnis sehari-hari, sebagai manajemen risiko untuk mengantisipasi dana yang dibutuhkan secara tiba-tiba. Likuiditas juga dapat digunakan untuk melihat seberapa baik kondisi keuangan atau kekayaan suatu bisnis. Semakin tinggi likuiditas suatu bisnis, maka dapat dikatakan bisnis tersebut memiliki kinerja yang baik. Untuk dapat bertahan dan berkembang di tengah ketatnya persaingan usaha, UMKM perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang dapat berkontribusi positif demi kemajuan UMKM. Sehingga sudah seharusnya UMKM memperhatikan likuiditas. Ekawati et al (2009) mengungkapkan likuiditas dapat dilihat dengan menggunakan rasio kas atau cash ratio yaitu aset yang paling likuid atau mudah cair dalam suatu bisnis. Tingkat rasio kas yang rendah tidak akan menjadi masalah jika suatu bisnis bisa meminjam pada waktu yang singkat (Brealey, Myers, & Marcus, 2008).

Rasio kas dapat diukur dengan melihat jumlah kas dengan sekuritas kemudian dibagi dengan kewajiban lancar.

Pengelolaan Likuiditas

Pengelolaan likuiditas UMKM berkaitan dengan kemampuan perusahaan melakukan manajemen modal kerja yang sering diukur dengan siklus konversi kas.

Siklus ini menunjukan agihan waktu terjadinya kas keluar akibat pembayaran bahan baku, gaji pegawai, dan hutang sampai dengan aliran kas masuk dari penagihan piutang dagang. Siklus konversi kas adalah alat yang sangat kuat untuk memeriksa seberapa baik modal kerja yang dikelola serta mengurangi risiko kekurangan uang tunai dalam operasi jangka pendek yang kemungkinan sulit untuk di prediksi(Anser & Malik, 2013). Siklus konversi kas berhubungan dengan operasi sehari-hari, karena dalam operasi sehari-hari

(5)

5

terdapat pembelian sumber daya, membayar gaji pegawai, biaya operasi, dan membayar hutang jangka pendek. Siklus konversi kas merupakan faktor yang signifikan untuk kebutuhan modal kerja dan likuiditas UMKM(Ebben & Johnson, 2011).

Tujuan bisnis usaha seharusnya mempersingkat siklus konversi kas secepat mungkin tanpa mengganggu operasi bisnis. Dengan mempersingkat siklus konversi kas akan meningkatkan laba secara cepat, karena jika semakin panjang siklus konversi kas maka akan semakin lama untuk menerima uang kas. Terdapat faktor yang dapat meminimumkan siklus kas yaitu dengan mempercepat perputaran piutang dan memperlambat pembayaran hutang ke kreditur. Siklus konversi kas dapat dipersingkat dengan cara (1) mengurangi periode konversi persediaan dengan memproses dan menjual barang secara lebih cepat (2) mengurangi jangka waktu penerimaan piutang dengan mempercepat penagihan (3) memperpanjang jangka waktu hutang dengan memperlambat pembayaran yang dilakukan (Brigham & Joel, 2006).

Kemudian, unsur manajemen modal kerja yang sulit likuid adalahpersediaan.

Persediaan biasanya menjadi tanggung jawab dari bagian produksi. Namun persediaan juga penting dalam manajemen keuangan, karena bagaimanapun aliran kas berasal dari penjualan persediaan. Jika suatu bisnis tidak memiliki persediaan yang cukup atau kekurangan maka dapat mengganggu operasi dan jumlah laba, sehingga persediaan diharuskan ada namun tidak kekurangan atau berlebihan jumlahnya (Margaretha &

Oktaviani, 2016). Pengelolaan persediaan yang baik adalah dengan mempercepat periode persediaan. Karena suatu bisnis bergantung pada besar kecilnya persediaan dan lamanya usia persediaan. Dengan melihat hal ini membuat manajer keuangan harus mengawasi persediaan agar berada dalam tingkat yang optimal (Ekawati et al, 2009).

Selain aktiva lancar tersebut, menurut Brigham & Joel (2006) mengungkapkan bahwa unsur yang penting dalam manajemen modal kerja selain aktiva lancar yaitu kewajiban lancar. Kewajiban lancar (current liabilities) merupakan kewajiban yang diharapkan akan dilunasi dalam jangka waktu yang relatif pendek, biasanya satu tahun.

Komponen di dalamnya antara lain hutang usaha, pinjaman bank jangka pendek, hutang pajak, beban terhutang, dan bagian hutang lancar jangka panjang (bagian jatuh tempo dalam waktu lebih dari satu tahun). Pentingnya memperhatikan komponen manajemen modal kerja terutama kewajiban jangka pendek karena mempengaruhi keberhasilan suatu

(6)

6

bisnis. Dengan manajemen modal kerja yang efektif dan efisien akan menciptakan keseimbangan antara investasi dan likuiditas yang dapat meningkatkan profitabilitas, sehingga memerlukan cara-cara yang dapat memaksimalkan kecukupan modal.

METODA PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif untuk mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data hasil penelitian tersebut. Metode penelitian kualitatif deskriptif digunakan untuk menggambarkan kondisi likuiditas pada UMKM tahu baso Ungaran selama ini. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan data primer dengan melalukan wawancara kepada pelaku UMKM tahu bakso Ungaran secara mendalam.

Subjek dan Objek Penelitian

Objek dari penelitian yang dilakukan adalah UMKM di Kabupaten Semarang tepatnya di Kecamatan Ungaran yang bergerak pada produksi tahu bakso Ungaran yang sudah berdiri sejak lama, dengan kriteria lebih dari lima tahun. Objek dalam penelitian ini berjumlah tiga UMKM yaitu tahu bakso Woning, tahu bakso Radja, tahu bakso Bintang.

Alasan lain terkait objek penelitian yaitu UMKM tahu bakso merupakan UMKM yang menjual produk oleh – oleh ciri khas Kota Ungaran.

Jenis dan Sumber data

Jenis data dalam penelitian ini menggunakan jenis data primer, dimana proses pengumpulan data dilakukan dengan cara langsung pada objek penelitian menggunakan wawancara dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Data primer yang digunakan diambil dari wawancara terkait kemampuan UMKM tahu bakso Ungaran dalam menjaga likuiditas. Wawancara dilakukan dengan tiga pemilik UMKM tahu bakso Ungaran yang berbeda.

Tahapan Penelitian

Penelitian ini terdapat beberapa tahapan penelitian. Pertama, mengidentifikasi permasalahan UMKM berdasarkan penelitian yang sudah ada. Kedua, merumuskan masalah dan membuat tujuan penelitian. Ketiga, mengumpulkan beberapa informasi

(7)

7

mengenai kondisi likuiditas UMKM tahu bakso Ungaran, permasalahan UMKM terkait likuiditas, serta cara yang digunakan untuk menjaga likuiditas UMKM tahu bakso Ungaran. Keempat, mendeskripsikan bagaimana kemampuan UMKM dalam menjaga likuiditas. Kelima, membuat kesimpulan dan saran kepada pelaku UMKM tahu bakso Ungaran terhadap likuiditas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan wawancara, diperoleh karakteristik mengenai tiga UMKM tahu bakso Ungaran mengenai tahun berdiri, lama usia, modal usaha awal, omzet saat ini, likuiditas, dan kewajiban jangka pendek saat ini.

Tabel 1 Profil UMKM

Sumber : Data Primer 2019, diolah

Tiga UMKM tahu bakso Ungaran memiliki modal usaha pribadi yang jumlahnya berbeda. UMKM tahu bakso Woning memiliki modal usaha paling besar karena hanya UMKM tersebut yang harus membangun toko. Sedangkan dua UMKM lainnya sudah

Keterangan UMKM Tahu Bakso Woning

UMKM Tahu Bakso Radja

UMKM Tahu Bakso Bintang Tahun

Berdiri 2003 2011 2004

Lama Usia 16 tahun 8 tahun 15 tahun

Modal Awal Rp. 30.000.000, Rp. 5.000.000, Rp. 1.000.000, Omzet per

bulan Rp. 28.730.000, Rp. 71.400.000, Rp. 20.400.000,

Likuiditas Tinggi Tinggi Tinggi

Kewajiban Jangka Pendek

Hutang dagang daging Sapi

Hutang Bank

Gaji 2 orang karyawan

Air

Gaji 5 orang karyawan

Air

Gaji 1 orang karyawan

Air

Sewa alat

transaksi Gojek

(8)

8

memiliki bangunan toko, sehingga tidak memerlukan modal usaha yang besar. Dari tabel 1 didapatkan hasil bahwa tiga UMKM tahu baso Ungaran mengalami peningkatan modal usaha, jika dibandingkan dengan modal usaha saat awal. Dari tabel 1 juga dapat diketahui perbedaan kewajiban jangka pendek antara tiga UMKM tahu baso Ungaran.

Profil Tiga Informan Penelitian

UMKM Tahu Bakso Woning Ungaran

Pemilik UMKM ini bernama Bapak Akhmad Hariadi, beliau merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Ungaran. Awal mula berdirinya UMKM tersebut akibat rasa ingin tahu Bapak Akhmad akan cara pembuatan tahu baso, karena beliau sangat menyukai tahu bakso milik UMKM tahu baso Bu Pudji Ungaran. Rasa ingin tahu yang dilakukan dengan membuat tahu bakso sendiri. Pada tahun 2003, Bapak Akhmad mulai menjual tahu bakso buatannya di depan rumah orangtuanya yang berada diantara SMA Negeri 1 Ungaran dan SMP Negeri 1 Ungaran. Letak yang strategis membuat beliau akhirnya mendirikan toko, dengan modal Rp. 30.000.000, Bapak Akhmad membuka UMKM tahu bakso Woning. Modal usaha tersebut beliau dapatkan dari uang pribadi miliknya.

Awalnya UMKM ini belum memiliki nama paten. Setelah merasa penjualannya tinggi, baru kemudian Bapak Akhmad mendaftarkan nama paten UMKM nya pada tahun 2005. Nama Woning diambil dari nama orangtua Bapak Akhmad. Kemudian pada tahun 2010 Bapak Akhmad meminjam uang kepada bank sejumlah Rp. 100.000.000, untuk mengembangkan usaha tahu basonya. Pada tahun 2011 UMKM tahu bakso Woning Ungaran dikelola oleh anak Bapak Akhmad yang bernama Bapak Henrik. Pergantian pengelolaan UMKM nya dilakukan karena saat itu Bapak Akhmad sudah pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil di Ungaran, serta beliau juga pulang ke kota asal Bapak Akhmad.

Setelah pensiun dan menetap di Solo, Bapak Akhmad membuka UMKM tahu baso Woning disana.

Saat ini Bapak Henrik memiliki dua orang karyawan di tokonya. Dua orang karyawannya bekerja untuk memproduksi tahu bakso dan sebagai kasir untuk melayani penjualan secara bergantian. Pada sore sampai malam hari Bapak Henrik akan

(9)

9

menggantikan karyawan di kasir, karena sebagian karyawannya merupakan pekerja part time atau paruh waktu. Sistem kerja yang ada di UMKMnya merupakan sistem kekeluargaan, jadi jika terjadi hal - hal yang menyangkut kesalahan karyawan akan dibicarakan secara kekeluargaan. Pemberian gaji karyawan diberikan setiap satu bulan sekali. Produk yang ada di toko tahu bakso Woning Ungaran tidak hanya tahu bakso, disana juga terdapat beberapa produk konsinyasi seperti produk UMKM lainnya dan beberapa produk pabrik. Pada awal tahun 2019, UMKM ini meminjam dana KUR bank BRI sebesar Rp. 10.000.000, dengan bunga yang berkisar tujuh persen.

UMKM Tahu Bakso Radja Ungaran

Ibu Siti Nur Hidayati atau yang dikenal dengan Ibu Nunung merupakan pemilik dari UMKM tahu bkaso Radja Ungaran. UMKM tahu bakso Radja Ungaran berada di lokasi yang strategis, letaknya di pinggir jalan raya Semarang-Solo. Sebelum Ibu Nunung membuka UMKM tahu bakso, beliau sudah mencoba tiga usaha yang berbeda. Ibu Nunung sempat membuka usaha kos - kosan untuk mahasiswa Universitas Ngudi Waluyo, kemudian usaha warung internet dan terakhir Ibu Nunung melakukan bisnis tanaman hias. Semua usaha yang pernah dilakukan Ibu Nunung tidak dapat bertahan lama, sampai pada akhirnya Ibu Nunung dipertemukan dengan suatu keadaan yang membuatnya harus mendirikan usaha yang bertahan lama.

Inisiatif untuk memiliki pendapatan sendiri serta kondisi yang membuat Ibu Nunung saat itu membuatnya memutuskan untuk mendirikan usaha tahu baso. Ibu Nunung memanfaatkan hoby memasaknya dan mengaitkannya dengan oleh-oleh khas Ungaran, sehingga ia membuat tahu bakso yang merupakan oleh-oleh khas Ungaran.

Promosi yang dilakukan Ibu Nunung saat itu masih menggunakan cara word of mouth atau dari mulut ke mulut, cara tersebut dilakukan melalui teman dan kerabatnya.

Pekerjaan suami Ibu Nunung sebagai dosen peternakan dan kewirausahaan menjadi salah satu keuntungan bagi usaha tahu baskonya, karena sang suami juga membantu mempromosikan tahu baksonya ke teman-teman sesama dosen. Pada tahun 2011 Ibu Nunung mulai menjual tahu baksonya di gazebo depan rumahnya dengan bermodalkan Rp. 5.000.000, yang berasal dari uang pribadinya.

(10)

10

Setelah dua tahun memperlihatkan peningkatan penjualan, Ibu Nunung membangun rumahnya untuk dijadikan ruko UMKM tahu bakso Radja. Produk yang dibuat Ibu Nunung tidak hanya tahu bakso, namun juga terdapat tahu pong dan lumpia.

Toko miliknya juga menjual beberapa macam produk konsinyasi seperti kue brownies, bandeng presto, kripik, kue kering, air mineral dan minuman lainnya. Terdapat lima orang karyawan yang ada di tokonya, tiga orang bekerja membantu produksi tahu baso, tahu pong dan lumpia. Kemudian dua orang karyawan lainnya bekerja sebagai kasir untuk melayani penjualan toko. Dua orang karyawannya merupakan karyawan part time atau paruh waktu, sehingga terkadang Ibu Nunung yang menjadi kasir penjualan di tokonya.

UMKM Tahu Bakso Bintang Ungaran

UMKM tahu bakso Woning berada di pinggir jalan raya Semarang-Solo dekat Polsek Ungaran dan Kantor Bupati Semarang. Ibu Munarti mendirikan UMKM ini sekitar tahun 2004. Bermula dari adanya kesalahpahaman pada rumah makan swike miliknya. Awalnya banyak orang yang salah sangka dengan melihat adanya plang atau baliho tulisan tahu bakso Woning Ungaran yang berada tepat di depan rumah makan milik Ibu Munarti. Adanya plang tulisan tersebut membuat banyak orang mengira bahwa rumah makan Ibu Munarti menjual tahu bakso Woning. Padahal Ibu Munarti hanya menjual menu masakan dari sweeke. Ibu Munarti sempat memberi tahu kepada pemilik tahu bakso Woning. Ibu Munarti bermaksut agar pemilik tahu baso Woning memindahkan plang tersebut, namun pesannya kurang dapat diterima. Melihat hal tersebut, Ibu Munarti akhirnya memiliki inisiatif untuk mencoba membuat tahu baso yang kemudian dijual di rumah makannya. Hal ini dilakukan agar dapat melayani para pembeli yang sering datang ke tokonya untuk menanyakan tahu bakso.

Penjualan tahu bakso buatan Ibu Munarti semakin menunjukkan peningkatan tinggi, sehingga membuatnya menutup rumah makan swike miliknya dan memutuskan untuk lebih mengembangkan usaha tahu bakso yang beliau beri nama UMKM tahu bakso Bintang Ungaran pada tahun 2004. Usaha tersebut Ibu Munarti bangun dengan menggunakan modal yang tidak banyak berkisar Rp. 1000.000, saat itu. Pada tahun 2010,

(11)

11

pemerintah sedang gencar mengajak UMKM untuk meminjam dana Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ibu Munarti meminjam dana KUR sebesar Rp. 100.000.000, digunakan untuk membangun toko tahu bakso Bintang yang kedua. Terdapat tiga toko UMKM tahu bakso Bintang yang berada di Ungaran, dua toko dikelola oleh Ibu Munarti dan suami.

Kemudian satu toko merupakan UMKM tahu bakso milik anak Ibu Munarti.

Saat ini dua toko tahu bakso milik Ibu Munarti hanya memiliki satu orang karyawan yang bekerja di toko tahu bakso kedua, sedangkan toko yang berada di rumahnya dikelola oleh Ibu Munarti sendiri. Sebelumnya Ibu Munarti memiliki empat karyawan, namun dengan berbagai alasan salah satunya pengurangan jumlah karyawan secara terpaksa dan sulitnya mencari karyawan baru. Toko miliknya juga terdapat beberapa produk konsinyasi dari UMKM lain seperti makanan ringan, kue, air mineral, dan minuman rasa. Produk buatan Ibu Munarti hanya tahu baso, sehingga tahu baso merupakan produk pokok yang beliau utamakan dalam jumlah penjualan.

HASIL WAWANCARA

Kondisi Likuiditas 3 UMKM Tahu Bakso Ungaran

Jumlah kewajiban jangka pendek yang harus dipenuhi tergantung pada jumlah penjualan yang ada. UMKM tahu bakso dengan penjualan tinggi, akan mengakibatkan kebutuhan dan kewajiban jangka pendek bertambah. Apabila penjualan menurun, maka UMKM tersebut juga akan memiliki kewajiban jangka pendek berupa bahan baku tahu bakso yang lebih sedikit, namun kewajiban jangka pendek berupa karyawan tetap. Hal tersebut dapat membuat kekurangan uang tunai. Bagian ini menunjukkan kondisi likuiditas tiga UMKM tahu bakso Ungaran.

(12)

12

Tabel 2

Data Kepemilikan Asset Lancar 3 UMKM Tahu Bakso Ungaran

S

u

Sumber : Data Primer 2019, diolah Asset

Lancar

Keterangan UMKM Tahu Bakso Woning

UMKM Tahu Bakso Radja

UMKM Tahu Bakso Bintang

Kas

Penjualanpe r Bulan

25 dus per hari Pendapatan : Rp. 34.000, × 25 dus = Rp.

850.000, 1 bulan

Rp. 850.000 × 30 hari = Rp.

25.500.000

50 dus per hari Pendapatan : Rp. 34.000, × 50

dus = Rp.

1.700.000, 1 bulan

Rp. 1.700.000 × 30 hari = Rp.

51.000.000

20 dus per hari Pendapatan : Rp. 34.000, × 20 dus = Rp.

680.000, 1 bulan

Rp. 680.000 × 30 hari = Rp.

20.400.000

Perantara atau Reseller

-

400 dus/ bulan Pendapatan : Rp. 34.000, × 400

dus = Rp.

13.600.000

-

Penitipan di Rest area

10 – 20 dus per minggu Pendapatan : Rp. 34.000, × 20 dus = Rp.

680.000, 1 bulan

Rp. 680.000 × 4 minggu = Rp.

2.720.000

- -

Melalui aplikasi ojek online Gojek (Go-food)

10 – 15 dus Pendapatan : Rp. 34.000, × 15 dus = Rp.

510.000,

- -

Piutang 1 Bulan

-

± 200 dus × Rp.

34.000, = Rp.

6.800.000 -

Persediaan

Produksi/

Bulan

19.500 biji tahu baso (1.950dus)

15.000 biji tahu baso (1500 dus)

10.500 biji tahu baso (900 dus) Produksi

reseller/

Bulan

-

4000 biji tahu baso

(400 dus) -

Jumlah Kas/ Bulan Rp. 28.730.000, Rp. 71.400.000, Rp. 20.400.000,

(13)

13

Dari tabel 2, didapatkan hasil bahwa tiga UMKM tahu bakso Ungaran memiliki jumlah kas yang sangat berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari jumlah penjualan yang berhasil didapat setiap UMKM tersebut. Dari tiga UMKM tahu bakso yang diwawancara, hanya terdapat satu UMKM tahu bakso yang memiliki piutang. Piutang yang dimiliki UMKM tahu bakso Radja merupakan salah satu cara untuk menarik minat perantara untuk kembali memesan tahu bakso. Sehingga terdapat simbiosis mutualisme yang artinya antara UMKM tahu bakso Radja dan perantara saling membutuhkan.

UMKM tahu bakso Radja membutuhkan banyak pesanan dari perantara agar penjualan meningkat, kemudian perantara juga membutuhkan persediaan tahu bakso untuk dijual di luar Kota Ungaran. Seperti penuturan informan UMKM tahu bakso Radja :

“Saya biasanya memberikan kesempatan dengan cara meminta dia supaya membayar setengahnya dari tahu baso yang pesanan sebelumnya, baru setelah dia transfer ke saya setengah dari total uangnya. baru saya mengirim tahu baso ke mereka lagi. Hal seperti itu saya anggap biasa, daripada macet sama sekali. Tapi reseller semacam itu hanya yang dari Jakarta. Ya saya menyebutnya sistem tarik ulur. Jika tidak dikirim uang ya tidak saya beri lagi. Jadi seperti ini mbak, reseller itu pasti membutuhkan persediaan tahu bas.

Kemudian tidak semua UMKM memberikan sifat baik seperti saya. Seperti misalnya UMKM tahu baso Bu Pudji. Jika di Bu Pudji mereka harus membayar cash, tapi jika memesan di saya bisa piutang dulu. Saya mempunyai strategi, bahwa reseller tidak harus membayar tunai atau cash. Istilahnya saya memberikan reseller modal usaha. Saya memberi mereka kesempatan untuk jualan”

Berdasarkan wawancara tersebut, diketahui bahwa penjualan terbesar berasal dari perantara atau reseller. Selain meningkatkan penjualan, adanya perantara tahu bakso juga dapat mengurangi terjadinya sisa persediaan tahu bakso di freezer. Sehingga mempercepat persediaan tahu bakso lebih likuid. Piutang yang dimiliki UMKM tahu baso Radja juga memiliki siklus konversi kas yang baik. Hal tersebut dilihat dari cara informan tersebut selektif dalam mengatur piutang. Jangka waktu piutang maksimal adalah dua minggu yang terhitung sejak proses pengiriman tahu bakso ke perantara.

(14)

14

Tabel 3

Data Kepemilikan Hutang 3 UMKM Tahu Bakso Ungaran

Sumber : Data Primer 2019, diolah

Dari tabel 3, dapat diketahui bahwa tiga UMKM tahu bakso Ungaran selalu tunai dalam membayar kewajiban jangka pendek. Hanya saja terkadang UMKM tahu bakso Woning memiliki hutang kepada pedagang daging langganannya. Hutang tersebut akan terlunasi maksimal dua minggu. Tabel 3 juga memperlihatkan bahwa dua UMKM tahu baso Ungaran tidak memiliki hutang kepada bank. UMKM tahu baso yang memiliki hutang kepada bank yaitu UMKM tahu bakso Woning, informan berhutang pada dana KUR (Kredit Usaha Rakyat) bank BRI. Hutang yang dimiliki UMKM tahu bakso Woning, digunakan untuk modal kerja sehari – hari. Hutang yang dimiliki sebesar 10 juta dengan bunga yang berkisar tujuh persen. Hutang dana KUR yang dilakukan oleh pemerintah melalui bank BRI dan bank negeri lainnya tidak memiliki persyaratan yang sulit. Menurut informan tahu bakso Woning, persyaratan yang diberikan dapat dipenuhi

Keterangan UMKM Tahu Bakso Woning

UMKM Tahu Bakso Radja

UMKM Tahu Bakso Bintang Daging Sapi Hutang daging 8 kg

(jangka waktu 1 - 2 minggu)

Cash Cash

Tahu Cash Cash Cash

Gaji Karyawan Akrual Akrual Akrual

Tagihan Listrik

Cash (Top up pulsa listrik 1 bulan Rp. 300.000)

Cash (Top up pulsa listrik 1 bulan Rp.

1000.000)

Cash (Top up pulsa listrik 1 bulan Rp.

400.000) Hutang Bank Bank BRI Rp.

10.000.000,

Hutang pada awal tahun 2019

Jangka waktu 1 tahun

Bunga ± 7 %

Mengangsur setiap bulan dengan lancar

- -

Sewa Alat Transaksi Gojek

Akrual (biaya sewa 1 hari Rp.

3.000,)

- -

Jasa

Penggilingan Daging

Cash Cash Cash

Air Akrual Akrual Akrual

(15)

15

oleh UMKM lain karena tidak sulit. Seperti wawancara peneliti dengan informan UMKM tahu bakso Woning :

“saya hanya hutang 10 juta, karena meskipun kecil tapi itu sudah merupakan beban bagi saya mbak. untuk syarat – syarat peminjaman dana KUR bank BRI juga tidak sulit mbak, dapat terpenuhi dengan mudah. Syaratnya seperti jaminan BPKB kendaraan, kemudian usahanya dilihat seperti apa. Syarat tersebut layaknya syarat berhutang kepada dana KUR bank negeri mbak”

Dari tabel 3 juga diketahui bahwa tiga UMKM tahu bakso Ungaran memiliki kondisi likuiditas yang tinggi, terbukti dengan lancarnya tiga UMKM tahu bakso Ungaran dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Perbedaan jumlah kas, juga membuat jumlah kewajiban jangka pendek setiap UMKM tahu bakso Ungaran berbeda pula. Salah satu perbedaan yang dapat dilihat yaitu pada jumlah karyawan yang dimiliki setiap UMKM tersebut. Semakin meningkat penjualan, maka semakin meningkat jumlah karyawan. Sehingga membuat kewajiban jangka pendek bertambah.

“selama ini lancar mbak. Saya masih dapat membayar gaji satu karyawan, membayar beban listrik dua toko.. Iya selalu bersyukur saja mbak karena masih menerima pesanan- pesanan tahu baso dari pelanggan lama. Iya itu tadi karena saya tidak mempunyai reseller, tidak menitipkan tahu baso ke toko-toko lain jadi bergantung dari pesanan dan penjualan di toko saja”

Hasil wawancara tersebut didapat dari informan UMKM tahu bakso Bintang.

Meski penjualannya lebih kecil dibanding dua UMKM lainnya, UMKM tahu bakso Bintang tetap dapat memenuhi kewajiban jangka pendek serta modal kerja tanpa adanya hutang. Untuk dapat memenuhi kewajiban jangka pendek, UMKM tahu bakso Bintang sudah mengurangi jumlah karyawan. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi pengeluaran yang tidak sesuai dengan pemasukan kas.

(16)

16

Permasalahan Likuiditas 3 UMKM Tahu Bakso Ungaran

UMKM tahu bakso Woning Ungaran pernah memiliki permasalahan likuiditas.

Pelaku UMKM menemukan dua hal yang tidak dapat dihindari yaitu permasalahan kekurangan uang tunai karena kebutuhan pribadi dan kewajiban jangka pendek UMKM.

Permasalahan tersebut membuat pelaku UMKM untuk mencari uang tambahan guna memenuhi kebutuhan jangka pendek saat itu. UMKM ini juga pernah memiliki kesulitan uang tunai untuk membayar kewajiban jangka pendek berupa gaji karyawan.

Permasalahan terjadi karena pelaku UMKM tahu bakso Woning menggabungkan keuangan UMKM dengan keuangan pribadi, sehingga pelaku UMKM tersebut sulit untuk memilih kebutuhan yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Pelaku UMKM tahu bakso Woning membutuhkan uang tunai untuk membayar gaji karyawan serta membiayai kebutuhan pribadi keluarganya. Hal ini juga berakibat dari dampak penurunan penjualan tahu bakso saat itu.

“Saya pernah mengalami masalah kesulitan uang tunai mbak. Jadi saat itu ada dua hal yang tidak bisa saya hindari. Pertama saya harus membayar gaji karyawan, lalu di waktu yang bersamaan saya juga harus membayar biaya persalinan isteri saya”

Pelaku UMKM tahu bakso Radja Ungaran mengaku tidak pernah mengalami permasalahan likuiditas. Piutang yang berasal dari perantara atau reseller yang dimilikinya tidak menyebabkan permasalahan likuiditas, meskipun terkadang reseller tidak tepat waktu dalam membayar piutang. Seperti penuturan informan UMKM tahu bakso Radja :

“saya tidak pernah tidak dapat membayar kebutuhan toko mbak. Ya meskipun pernah ada reseller yang telat membayar itu. Tapi itu bagi saya tidak masalah, karena uang kas saya selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan toko. jadi seperti ini mbak, awalnya saya menerapkan bahwa reseller harus membayar tunai diawal pemesanan sebelum saya mengirim tahu baso. Tapi karena sudah kenal lama dan saya percaya, jadi saya mengirim tahu baso diawal baru kemudian reseller mengirim uang pembayarannya saat tahu baso sudah laku terjual semua. Reseller itu bermacam-macam mbak, kalau seperti itu kan yang dari Jakarta mbak. Ada yang cash ada yang mau minta lagi baru mau membayar uang pesanan yang sebelumnya. Pertama kan mintanya cash, karena dia mintanya setiap hari lalu minta tempo waktu. Lalu karena saya juga tidak kaku orangnya, jadi saya beri saja.

Nanti dia sistemnya menunggu saya mengirim tahu baso dahulu, baru setelah itu dia transfer uangnya. Sebenarnya seperti itu membuat piutang menumpuk, tetapi tidak besar masih dapat saya atasi. Nanti kalau piutang sudah menumpuk banyak, lalu dia meminta

(17)

17

untuk dikirim tahu baso .. awalnya saya berpikir kalau saya tidak mengirim tahu baso, nanti saya juga bisa rugi kehilangan satu reseller”

UMKM tahu bakso Bintang Ungaran hanya mengalami kekurangan uang tunai saat penjualan menurun akibat adanya jalan tol Semarang - Ungaran - Solo. Pelaku UMKM merasa adanya jalan tol membuat penurunan besar terhadap penjualan tahu bakso. hal ini juga dirasakan UMKM tahu bakso Woning.

“iya mbak, karena adanya jalan tol tadi. Penjualan tahu baso saya mengalami penurunan drastis. Akhirnya uang tunai yang saya miliki berkurang. Sedangkan kewajiban jangka pendek harus tetap dipenuhi”

(18)

18

Strategi atau Cara 3 UMKM Tahu Bakso Ungaran dalam Menjaga Likuiditas

Tabel 4

Cara 3 UMKM Meningkatkan Penjualan

Sumber : Data Primer 2019, diolah

Dari tabel 4 dapat diketahui cara – cara tiga UMKM tahu bakso Ungaran dalam meningkatkan penjualan dan menjaga likuiditas. Pelaku UMKM tahu bakso Woning menitipkan tahu baksonya di beberapa toko makanan yang berada di rest area jalan tol Semarang - Ungaran. Cara tersebut digunakan untuk dapat memiliki penjualan yang lebih banyak, dibanding hanya menjual tahu baksonya di toko tahu bakso Woning Ungaran.

Selain itu pelaku UMKM tahu bakso Woning juga menjual produknya melalui aplikasi ojek onlineGojek pada fitur Gofood, hal ini dilakukan untuk meningkatkan pendapatan.

Pelaku UMKM ini, juga menerima produk konsinyasi dari UMKM lain. Menurutnya dengan adanya produk konsinyasi yang dijual di tokonya dapat menarik pembeli sehingga juga membeli produk tahu baksonya.

“selain saya menerima produk konsinyasi, saya juga menitipkan tahu baso saya ke toko di rest area jalan tol mbak ataupun menjual tahu baso melalui gofood pada aplikasi ojek online Gojek. Cara itu saya lakukan supaya mendapat tambahan uang mbak. Jika tidak seperti itu, penjualan saya belum sepenuhnya menutupi kewajiban jangka pendek mbak.

Sebelum ada jalan tol, saya berani hanya menjual di toko mbak”

Keterangan UMKM Tahu Bakso Woning

UMKM Tahu Bakso Radja

UMKM Tahu Bakso Bintang Penjualan

melalui perantara

atau reseller -

± 400 dus/ bulan Pendapatan : Rp. 34.000, × 400 dus = Rp.

13.600.000

- Penjualan

melalui aplikasi Gojek (gofood)

10 – 15 dus Pendapatan : Rp. 34.000, × 15 dus = Rp. 510.000,

- -

Menitipkan Tahu Baso ke Toko lain

10 – 20 dus Pendapatan : Rp. 34.000, × 20 dus = Rp. 680.000,

- -

(19)

19

Dari wawancara tersebut diketahui bahwa UMKM tahu bakso Woning sudah melakukan cara - cara tersebut untuk menjaga likuiditas dan meningkatkan penjualan.

Untuk mengatasi permasalahan likuiditas yang pernah dialami UMKM tahu bakso Woning, pelaku UMKM menggunakan emas yang dimiliki untuk menambah uang tunai.

Emas tersebut digadaikan untuk ditukarkan menjadi uang tunai.

“Saya bingung awalnya akan meminjam uang ke orang lain tapi saya takut nanti akan menjadi beban. Lalu akhirnya saya berpikir untuk menggadaikan emas. Uang emas itu saya pakai untuk menambah biaya persalinan isteri dan membayar gaji karyawan. Saat itu penjualan tidak ramai, jadi uang tunai tidak banyak”

Perbedaan pada UMKM tahu bakso Radja dengan UMKM sebelumnya terletak pada adanya perantara atau reseller tahu bakso. Perantara tersebut memberikan dampak yang sangat baik bagi penjualan UMKM ini. UMKM ini sangat terbuka terhadap pembeli yang ingin menjadi perantara tahu baksonya. Banyaknya jumlah perantara tahu bakso yang berada di luar kota membuat pelaku UMKM terkadang kewalahan dalam memenuhi permintaan pesanan, namun pesanan tersebut masih tetap dapat terpenuhi.

Pelaku bisnis mengatur penjualan melalui perantara secara selektif,terkadang pelaku UMKM mempercepat penagihan pada perantara agar tidak terjadi penumpukan piutang.

Perantara tahu bakso atau Reseller ini membuat penjualan tahu bakso semakin meningkat drastis.

“iya saya selain mengandalkan pesanan di Ungaran, juga mengandalkan pesanan dari reseller mbak. Reseller membuat penjualan saya juga semakin tinggi mbak. Iya intinya saya selalu menjaga hubungan baik dengan reseller luar kota mbak. Jadi sistem reseller itu kan mereka mengambil persediaan tahu baso dulu, kemudian setelah ada tahu baso baru dijual di toko mereka. Biasanya sabtu atau minggu minta untuk dikirim tahu baso. Nanti selasa atau rabu transfer uang ke rekening bank saya. Pelanggan di Ungaran juga selalu baik juga mbak hubunganya. Terkadang juga ada reseller nakal, tapi yaa saya tarik ulur gitu mbak. Seperti saya kurangi jangka waktu pembayaran. Saya juga menerima reseller yang mau bergabung kok mbak”

Berbeda dengan dua UMKM sebelumnya. Pelaku UMKM tahu bakso Bintang Ungaran hanya mengandalkan pesanan pelanggan tetap dan penjualan di dua toko. Pelaku UMKM ini enggan menitipkan tahu baksonya di toko oranglain dengan berbagai pertimbangan. Hal tersebut dilakukan untuk mempertahankan bisnisnya, karena menurut

(20)

20

beliau menitipkan tahu bakso ke reseller atau toko lain dapat mengakibatkan beberapa risiko. Risiko tersebut diantaranya seperti retur tahu bakso yang tidak laku atau rusak, kerusakan produk tahu bakso akibat penjualan melalui reseller di luar kota. Selain itu pelaku UMKM juga merasa kesulitan untuk menitipkan produknya dikarenakan kekurangan tenaga kerja yang dia percaya.

“saya itu begini mbak, untuk saat ini saya tidak berharap lebih pada usaha tahu baso. jadi usaha ini hanya untuk kegiatan saya di hari tua saja. Karena anak-anak sudah mapan dan menikah semua. Jadi saya mengelola dua toko ini, alhamdulilah lancar saat ini tidak ada kendala. Iya kalaupun ada kendala, itu hanya kendala kecil yang bukan menyangkut pendanaan. Lebih penting lagi saya tidak memiliki hutang mbak, jadi saya jualan juga merasa nyaman karena tidak ada beban. Saya selalu memegang prinsip semua dagangan tahu baso tidak ada yang hutang, jadi mau laku atau tidak laku iya tidak masalah karena tidak ada target yang harus dicapai. Saya menikmati apa yang ada saja mbak, saya merasa sudah cukup. Tidak memiliki keinginan apa-apa lagi seperti dulu saat anak-anak masih sekolah. Saya sudah memiliki tabungan yang cukup juga mbak”

Ketika UMKM tahu bakso Bintang mengalami penurunan penjualan yang besar, pelaku UMKM mengatasi hal tersebut dengan mengurangi jumlah karyawan secara terpaksa untuk dapat mengurangi kewajiban jangka pendek.

“Jika sudah merasa kekurangan uang tunai, saya akan mencari kewajiban jangka pendek apa yang harus saya kurangi. Saat penurunan penjualan akibat jalan tol, saya mengurangi jumlah karyawan saya mbak. karena dengan begitu, beban biaya setiap bulan saya berkurang mbak”

Tabel 4 memperlihatkan juga bahwa dari tiga UMKM tahu bakso Ungaran, hanya UMKM tahu bakso Bintang yang tidak memiliki cara selain menerima penjualan melalui toko dan pesanan pelanggan tetap. Jika dilihat adanya cara lain atau inovasi dalam menjual tahu bakso mempengaruhi jumlah penjualan tahu bakso. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel 1 dan 2 yang memperlihatkan perbedaan jumlah kas yang sangat berbeda jauh antara dua UMKM dan UMKM tahu bakso Bintang. Seperti penuturan pelaku UMKM tahu bakso Bintang :

“saya tidak menjual tahu baso di tempat lain atau melalui perantara mbak. karena banyak faktor yang membuat saya berpikir dua kali untuk melakukan cara tersebut. faktor tersebut antara lain seperti kurangnya karyawan yang membantu saya untuk melakukan cara atau inovasi lain”

(21)

21 PEMBAHASAN

Tiga UMKM tahu bakso Ungaran memiliki kewajiban jangka pendek yang berbeda. UMKM tahu bakso Radja memiliki kewajiban jangka pendek berupa gaji lima orang karyawan, air. Kemudian kewajiban jangka pendek yang dimiliki UMKM tahu bakso Bintang yaitu gaji satu orang karyawan, air. Sedangkan UMKM tahu bakso Woning berupa hutang bank (dana KUR), hutang dagang daging sapi, gaji dua orang karyawan. Ketiga UMKM tahu bakso Ungaran menggunakan token atau pulsa listrik dengan melakukan top up listrik di awal bulan. Untuk daging sapi, ketiga UMKM tahu bakso Ungaran sering mendapat tawaran dari pedagang sapi berupa hutang daging sapi.

Hanya UMKM tahu bakso Woning yang memiliki hutang daging sapi, dua UMKM tahu bakso menolak tawaran hutang daging sapi tersebut. Penolakan tersebut dilakukan karena dua UMKM tersebut tidak ingin memiliki beban, karena dua UMKM tersebut memiliki uang tunai yang cukup untuk membayar cash. Adanya tawaran hutang daging sapi merupakan salah satu strategi pedagang daging sapi tersebut. Melihat bahwa ketiga UMKM tahu bakso Ungaran merupakan pelanggan tetap. Sehingga hal tersebut diyakini sebagai strategi pedagang daging sapi agar mempertahankan pelanggan tetapnya.

Selain hutang, komponen dalam likuiditas terdapat piutang. Dari ketiga UMKM tahu bakso Ungaran hanya UMKM tahu bakso Radja yang memiliki piutang. Piutang tersebut berasal dari penjualan yang dilakukan oleh perantara atau reseller luar kota yang dimiliki UMKM tahu bakso Radja. Piutang ini merupakan strategi UMKM tersebut untuk dapat mempertahankan perantara, karena penjualan yang berasal dari perantara selalu tinggi. Melihat hal tersebut diyakini bahwa pelaku UMKM tahu bakso Radja memberikan piutang tahu bakso karena perantaranya sangat menguntungkan, sehingga sebutan simbiosis mutualisme terjadi dalam hal ini. Meski memberikan piutang dengan suka rela, pelaku UMKM tersebut tetap tegas dan disiplin dalam menagih piutangnya. Sehingga perantara tepat waktu dalam membayar hutangnya. Pengelolaan piutang yang dilakukan UMKM tersebut, sesuai dengan pendapat Brigham & Joel (2006) yaitu (1) mengurangi periode konversi persediaan dengan memproses dan menjual barang secara lebih cepat (2) mengurangi jangka waktu penerimaan piutang dengan mempercepat penagihan.

Sedangkan UMKM tahu bakso Bintang tidak memiliki hutang maupun piutang.

(22)

22

Terdapat satu UMKM tahu bakso Ungaran yang memiliki kas yang dapat dikatakan kurang. Hal tersebut dilihat dari jumlah penjualan yang lebih sedikit dari jumlah persediaan. Adanya jumlah sisa persediaan tahu bakso, akan membuat laba penjualan tertahan sementara. Meski demikian, UMKM tersebut masih dapat memenuhi kewajiban jangka pendek dengan lancar dan tetap bertahan sampai saat ini. Menurut Brealey, Myers, & Marcus (2008) bahwa tingkat rasio kas yang rendah tidak akan menjadi masalah jika suatu bisnis bisa meminjam pada waktu yang singkat. Ketiga UMKM tahu bakso Ungaran selalu lancar dan tepat waktu dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.

Sumber modal kerja yang digunakan dua UMKM tahu bakso Ungaran berasal dari uang pribadi, sedangkan satu UMKM menggunakan modal kerja yang berasal dari hutang. Hutang tersebut berasal dari dana KUR bank BRI yang merupakan program dari pemerintah. UMKM tahu bakso Bintang Ungaran pernah memiliki hutang dari dana KUR pemerintah, namun hutang tersebut sudah terlunasi sejak lama. Adanya dana KUR (Kredit Usaha Rakyat) merupakan solusi yang baik dan sangat membantu. Dana KUR memiliki bunga yang tidak terlalu tinggi, sehingga sangat menolong UMKM yang kekurangan sumber modal kerja.

Dari ketiga UMKM tahu baso Ungaran, hanya ada dua UMKM yang pernah mengalami permasalahan likuiditas. UMKM tahu bakso Woning pernah mengalami permasalahan kekurangan uang tunai, permasalahan tersebut membuat pelaku UMKM menggadaikan emas miliknya untuk ditukar menjadi uang tunai. Pemanfaatan emas atau barang bernilai tinggi dapat dikatakan baik untuk UMKM, emas dapat digunakan untuk berjaga - jaga jika suatu saat memiliki masalah kekurangan uang tunai. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan menurut Brigham & Joel (2006) bahwa terdapat fungsi likuiditas sebagai alat untuk menjalankan aktivitas bisnis sehari – hari dan sebagai manajemen risiko untuk mengantisipasi dana yang dibutuhkan secara tiba - tiba.

Pemilihan emas sebagai asset tetap lebih baik jika dibandingkan dengan tanah atau rumah serta kendaraan. Hal tersebut dikarenakan harga emas akan cenderung meningkat disetiap tahunnya. Pemilihan emas juga akan lebih menguntungkan. Apabila kekurangan uang tunai, emas dapat lebih cepat atau likuid daripada rumah dan kendaraan.

Emas akan lebih mudah berubah menjadi kas. Selain pemilihan asset tetap, salah satu

(23)

23

UMKM tahu bakso Ungaran mengurangi komponen kewajiban jangka pendek yaitu dengan mengurangi jumlah karyawan saat penjualan mengalami penurunan secara signifikan. Dengan mengurangi jumlah karyawan, beban biaya pengeluaran juga akan berkurang sehingga uang tunai dapat digunakan untuk kebutuhan yang lain atau diinvestasikan. Sehingga meminimalisir adanya kekurangan uang tunai.

Ketiga pelaku UMKM tahu bakso Ungaran memiliki cara yang berbeda untuk menjaga likuiditas dan meningkatkan penjualan tahu bakso. Untuk menjaga likuiditas tiga UMKM tahu bakso Ungaran, menghindari adanya hutang. Hal ini dilakukan untuk menghindari beban bunga yang harus dibayarkan. Selain itu, tiga UMKM tersebut juga meminimalisir persediaan tahu bakso yang menumpuk dan menjual lebih cepat persediannya. Kemudian untuk meningkatkan penjualan tahu bakso, ketiga UMKM memiliki cara yang berbeda. Seperti UMKM tahu bakso Woning yang melakukan penjualan melalui gofood pada aplikasi Gojek dan menitipkan tahu baksonya di toko rest area jalan tol Semarang – Ungaran – Solo. Sedangkan UMKM tahu baso Radja menggunakan perantara atau reseller untuk meningkatkan penjualan. Adanya perantara tahu bakso di beberapa Kota, membuat penjualan tahu baso UMKM Radja meningkat signifikan. Berbeda dengan dua UMKM lainnya, UMKM tahu bakso Bintang hanya melakukan penjualan tahu bakso di toko saja. Jika dilihat dari cara – cara tiga UMKM tahu bakso Ungaran dalam meningkatkan penjualan, cara yang paling meningkatkan penjualan yaitu penggunaan jasa perantara atau reseller. Selain tidak mengeluarkan uang tunai untuk biaya ongkos kirim, jasa perantara dapat menghemat biaya tenaga kerja dan pajak bangunan jika dibandingkan dengan membuka toko baru atau cabang.

(24)

24

SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN

Kondisi likuiditas tiga UMKM tahu bakso Ungaran memiliki tingkat likuiditas yang tinggi. Semua kewajiban jangka pendek selalu lancar dan tepat waktu. Dua UMKM tahu bakso Ungaran sebelumnya pernah mengalami permasalahan kekurangan uang tunai, permasalahan tersebut berasal dari penurunan penjualan tahu bakso yang tinggi yang terjadi akibat adanya jalan tol. Permasalahan lain yang pernah dialami yaitu berasal dari risiko akibat menggabungkan keuangan antara kebutuhan UMKM tahu bakso dengan kebutuhan pribadi pelaku UMKM. Kedua UMKM tersebut mengatasi masalah likuiditas dengan cara yang berbeda yaitu dengan mengurangi jumlah karyawan dan memanfaatkan barang bernilai tinggi sebagai motif berjaga - jaga. Untuk menjaga likuiditas ketiganya berusaha untuk menghindari hutang kepada bank. Kemudian untuk meningkatkan penjualan dua UMKM melakukan inovasi dalam menjual seperti penggunaan jasa perantara atau reseller, menjual produk melalui aplikasi Gojek pada fitur gofood, serta menitipkan produk pada toko oranglain.Satu UMKM tahu bakso Ungaran yang tidak menggunakan inovasi penjualan terbukti dapat bertahan dan menjaga likuiditas, namun belum dapat meningkatkan penjualan dan mengembangkan usahanya secara maksimal.

Oleh karena itu, pelaku UMKM lainnya disarankan untuk belajar dari UMKM yang menjaga likuiditas dengan baik. UMKM lain disarankan untuk 1) dapat mempersingkat jangka waktu piutang 2) menggunakan inovasi atau cara dalam menjual produk untuk meningkatkan penjualan.

Keterbatasan dari penelitian ini adalah 1) keterbatasan informasi mengenai laporan keuangan UMKM tahu bakso Ungaran, sehingga informasi yang didapat tidak secara detail 2) jumlah objek hanya tiga UMKM, sehingga belum mencakup keseluruhan informasi likuiditas UMKM tahu bakso Ungaran. Oleh sebab itu, berdasarkan dua keterbatasan tersebut peneliti memberikan saran kepada peneliti selanjutnya agar dapat memahami karakteristik UMKM serta menambah jumlah objek penelitian UMKM tahu bakso Ungaran.

(25)

25 DAFTAR PUSTAKA

Amanah, R., Atmanto, D., & Azizah, D. F. (2014). Pengaruh Rasio Likuiditas dan Rasio Profitabilitas (Studi pada Perusahaan Indeks LQ45 Periode 2008-2012). Jurnal Administrasi Bisnis, Vol 12, No 1, Hal 1-10.

Ananda, A. D., & Susilowati, D. (2016). Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Berbasis Industri Kreatif di Kota Malang. Jurnal Ilmu Ekonomi, Vol. X, Hal 120–142.

Andreas. (2011). Manajemen Keuangan UMKM. Yogyakarta: Graha Ilmu .

Andriani. (2017). Manajemen Modal Kerja, Manajemen Sumber Daya Insani dan Pendapatan Wanita Pedagang Sayur Keliling. Jurnal Ekonomi Syariah, Vol 5, No 1, Hal 47- 66.

Anser, R., & Malik, Q. A. (2013). Cash Conversion Cycle and Firms’ Profitability – A Study of Listed Manufacturing Companies of Pakistan. Journal of Business and Management , Vol 8, No 2, Hal 83-87.

Arifin, N. F., & Agustami, S. (2016). Pengaruh Likuiditas, Solvabilitas, Profitabilitas, Rasio Pasar dan Ukuran Perusahaan terhadap Harga Saham (Studi Pada Perusahaan Subsektor Perkebunan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2014). Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Program Studi Akuntansi FPEB UPI, Vol 4, No 3, Hal 102-124.

Brealey, R. A., Myers, S. C., & Marcus, A. J. (2008). Analisis Laporan Keuangan (Rasio Likuiditas). Dalam R. A. Brealey, S. C. Myers, & A. J. Marcus, Dasar- Dasar Manajemen Keuangan Jilid 2 (hal. Hal 77-79). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Brigham, E. F., & Joel, H. (2006). Buku dua. Dalam Setyaningsih, Dasar - Dasar Manajemen Keuangan (hal. Hal 220 - 229). Jakarta: Salemba Empat.

Dahlena, M. (2017). Pengaruh Likuiditas, Risiko Bisnis dan Profitabilitas Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Textil dan Garment yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia . Jurnal Riset dan Akuntansi dan Bisnis, Vol 17, No 2.

Ebben, J. J., & Johnson , A. C. (2011). Cash Conversion Cycle Management in Small Firms Relationships with Liquidity, Invested Capital, and Firm Performance . Journal of Small Business and Entrepreneurship, Vol 24, No 3, Hal 381–396.

Ekawati, H., Atahau, A. D., Rita, M. R., Cahyono, U. S., & Widayanti, R. (2009).

Manajemen Keuangan. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.

Erakipia, A. F., & Gamaliel, H. (2016). Analisis Laporan Keuangan Sebagai Dasar Penilaian Kinerja Keuangan pada UMKM Amungme dan Kamoro. EMBA, Vol 05, No 01, Hal 38–46.

(26)

26

Hanie, U. P., & Saifi, M. (2018). Pengaruh Rasio Likuiditas dan Rasio Leverage Terhadap Harga Saham Studi Pada Perusahaan Indeks LQ45 Periode 2014-2016 . Jurnal Administrasi Bisnis, Vol 58, No 1, Hal 95-102.

Jaunanda, M., & Fransesca, B. A. (2015). Analisis Pengaruh Rasio Likuiditas, Rasio Profitabilitas, Rasio Solvabilitas, dan Rasio Pasar Terhadap Return Saham (Studi ada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011 - 2013). Ultima Accounting, Vol 7, No 1, Hal 54-69.

Karim, S., & Hamdan, U. (2014). Analisis Modal Kerja Industri Kecil Usaha Pertukangan Kayu dan Usaha Las di Kota Palembang . Jurnal Manajemen dan Bisnis Sriwijaya , Vol. 12, No. 3, Hal 209 - 229.

Leiwakabessy, P., & Lahallo, F. F. (2018). Pembiayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Sebagai Solusi Dalam Meningkatkan Produktivitas UsahaPada UMKM Kabupaten Sorong. Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Victory Sorong, Vol 1, No 1, Hal 11-21.

Manoppo, W. S., & Pelleng, F. A. (2018). Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan Dengan Teknik Pembukuan Sederhana Bagi Pelaku Usaha UMKM di Kecamatan Malalayang Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal Administrasi Bisnis, Vol 7, No 2, Hal 6 - 9 .

Margaretha, F., & Oktaviani, C. (2016). Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Profitabilitas pada Usaha Kecil dan Menengah di indonesia. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol 18, No 1, Hal 11 - 24.

Pemerintah Republik Indonesia. (2008). Undang - Undang Nomor 20 Pasal 3 Tentang Usaha Mikro Kecil, dan Menengah. Pemerintah Republik Indonesia.

Putra, D. A. (2018, Juli 06). UMKM Sumbang 60 Persen ke Pertumbuhan Ekonomi

Nasional. Diambil kembali dari Liputan 6:

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3581067

Riawan, & Kusnawan, W. (2018). Pengaruh Modal Sendiri Dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap Pendapatan Usaha (Studi Pada UMKM di Desa Platihan Kidul Kec. Siman) . Jurnal Akuntansi dan Pajak, Vol 19, No 1, Hal 31 - 37.

Rochmawati, A., Hadi, M., & Suwondo. (2014). Peran Pemerintah dalam Pemberdayaan Pengrajin Tenun Ikat Bandar Kidul Sebagai Produk Unggulan Daerah (Studi pada Sentra Kerajinan Tenun Ikat Bandar Kidul Kota Kediri), 3(11). Jurnal Administrasi Publik, Vol 3, No 11, Hal 1827 - 1831.

Rustam, B. R. (2017). Manajemen Risiko Prinsip, Penerapan, dan Penelitian. Jakarta Selatan: Salemba Empat.

(27)

27

Santi, R. C., & Yulianton, H. (2016). Model Sistem Manajemen Keuangan Terencana Bagi Start-Up Bisnis UMKM Berbasis Web. Unisbank Semarang, Vol 02 Hal 112-121.

Sembiring, Y., & Elisabeth, D. M. (2018). Penerapan Sistem Akuntansi pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Kabupaten Toba Samosir. Jurnal Manajemen, Vol 4 No 2, Hal 89-101.

Utami, M. S., & Dewi S, M. R. (2016). Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Manajemen Unud, Vol. 5, No. 6, Hal 3476 - 3503.

(28)

28

LAMPIRAN

(29)

29

TRANSKRIP WAWANCARA

Informan Pertama

Nama UMKM : Tahu bakso Woning Usia UMKM : 16 tahun

Nama Pemilik : Henrik Usia Pemilik : 33 tahun

Informan (I) Pewawancara (P)

P : Bisakah bapak menceritakan awal mula berdirinya UMKM tahu baso Woning ? I : Iya, jadi awal mulanya bapak saya itu kan pelanggan tahu baso Bu Pudji.

Hampir setiap hari beli tahu baso. kemudian bapak saya berpikir, kok bisa ya tahu baso yang sederhana ini bisa laris manis. Akhirnya bapak saya mencoba membuat tahu baso sendiri dirumah, daripada beli terus pikirnya. Nah, pada saat itu UMKM tahu baso baru Bu Pudji itu. Setelah bapak saya coba membuat dan hasilnya enak, bapak saya berniat untuk menjual tahu baso. yaa, untuk mencari tambahan uang keluarga kami. Bapak saya seorang pegawai negeri sipil mbak, jadi belum bisa membuka toko langsung. Cara menjual nya yaa dari mulut – mulut teman atau saudara. Setelah dirasa banyak pembelinya, akhirnya bapak saya mencoba untuk mengembangkan usaha tahu basonya. Bapak saya memilih membuka toko di depan rumah kakek saya di sebelah SMP 1 dan SMA 1 Ungaran mbak. Tahun 2003 UMKM tahu baso Woning berdiri sampai saat ini.

P : Berapa modal awal yang digunakan Pak ?

I : Bapak saya menggunakan modal awal kira – kira Rp. 30.000.000, mbak.

Untuk tanah tempat berdiri UMKM tahu baso Woning ini kan milik kakek saya,

(30)

30

jadi modal tersebut hanya digunakan untuk membangun toko dan bahan baku awal tahu baso untuk dijual.

P : Untuk sumber modal kerja saat ini berasal darimana ?

I :Modal kerja UMKM ini berasal dari hutang bank, dana KUR bank BRI. Saya pinjam Rp. 10.000.000, dengan bunga berkisar tujuh persen. Hutang tersebut jangka waktu satu tahun terhitung mulai awal tahun 2019 sampai akhir tahun 2019 sudah harus lunas.

P : Kewajiban jangka pendek atau hutang yang UMKM ini miliki apa saja pak ?

I : Saya pinjam dana KUR ke bank BRI Rp. 10.000.000 tadi mbak (hutang bank), hutang daging sapi, gaji 2 orang karyawan. Lalu air saya membayar setiap bulan. saya kan juga jualan melalui Gojek mbak, jadi saya menyewa alat transaksi dari Gojek. Kemudian untuk listrik saya menggunakan token listrik.

P : Semua kewajiban jangka pendek itu selalu lancar dalam membayar pak ? I : Lancar dan selalu tepat waktu mbak

P : Apakah bapak pernah kekurangan uang tunai untuk membayar kewajiban jangka pendek pak ?

I : Iya pernah mbak sekali

P : Kekurangan uang tunai itu akibat apa ya pak ?

I : Yaa saat itu saya mencampur urusan keluarga dengan urusan UMKM mbak.

jadi saat itu uang UMKM sedang sedikit dan uang pribadi saya juga menipis.

Sementara saya harus membayar gaji karyawan dan membayar persalinan isteri saya. Sebenarnya ini kan karena penjualan berkurang ya mbak. ya menurut saya ini karena dampak adanya jalan tol yang membuat tahu baso saya menurun penjualannya.

P : Bagaimana bapak mengatasi permasalahan tersebut ?

(31)

31

I : Beruntungnya saya memiliki emas, jadi emas itu saya gadaikan mbak. uang gadai emas tadi saya gunakan untuk menambah uang membayar gaji karyawan sama persalinan isterti mbak.

P : Seperti apa cara yang bapak gunakan untuk menjaga likuiditas dan meningkatkan penjualan ?

I : Saya sebisa mungkin menghindari hutang dan piutang, tapi karena keadaan UMKM butuh modal kerja ya terpaksa saya meminjam bank. Untuk meningkatkan penjualan saya menjual tahu baso di Gojek, lalu menitipkan tahu baso di toko rest area jalan tol Ungaran.

(32)

32 Informan Kedua

Nama UMKM : Tahu bakso Radja Usia UMKM : 8 tahun

Nama Pemilik : Siti Nur Hidayati, SH Usia Pemilik : 56 tahun

Informan (I) Pewawancara (P)

P : Bisakah Ibu menceritakan awal mula berdirinya UMKM tahu baso Woning ?

I : Saya itu sudah sering membuka usaha kos-kosan, jualan tanaman, buka warung internet tapi tidak pernah bertahan lama mbak. saat itu saya sedang membutuhkan ide usaha untuk membantu keuangan keluarga saya. Kebetulan suami saya Dosen UNDIP yang dituntut untuk melanjutkan pendidikan di UGM.

Jadi saya harus mencari usaha yang bisa saya andalkan. Karena saya bisa memasak, saya coba aja membuat tahu baso karna itu kan oleh – oleh khas Ungaran ya. Setelah enak hasilnya, tahu baso itu saya berikan ke temen atau saudara saya. Mereka bilang enak, akhirnya saya coba jualan di depan rumah pakai gazebo. Setelah banyak yang beli. Tahun 2011 saya akhirnya mendirikan toko dirumah untuk jualan tahu baso sampai saat ini.

P : Berapa modal awal yang Ibu gunakan ?

I : Modal awal saya sekitar Rp. 5.000.000, dari uang pribadi . karena saya awalnya hanya membuka usaha tahu baso ini di gazebo depan rumah, jadi tidak membutuhkan modal yang banyak mbak.

P : Sumber modal kerja UMKM saat ini berasal darimana ya bu ? I :Modal kerja UMKM ini berasal dari modal pribadi mbak

(33)

33

P : Kewajiban jangka pendek atau hutang yang UMKM ini miliki apa saja bu ? I : Saya tidak memiliki hutang mbak. tapi kalau setiap bulan saya punya

tanggung jawab untuk membayar gaji 5 orang karyawan di toko dan membayar air. Untuk listrik saya memakai token listrik mbak.

P : Apakah semua kewajiban jangka pendek itu selalu lancar dalam membayar bu ? I : Lancar dan selalu tepat waktu mbak

P : Apakah Ibu pernah kekurangan uang tunai untuk membayar kewajiban jangka pendek pak ?

I : Tidak pernah mbak

P : Seperti apa cara yang ibu gunakan untuk menjaga likuiditas dan meningkatkan penjualan ?

I : Saya selalu menghindari hutang dan memang saya tidak pernah berhutang pada siapapun. Untuk meningkatkan penjualan saya menjual tahu baso melalui reseller luar kota mbak. penjualan terbesar saya dari toko dan reseller. Adapun masalah malah dari reseller yang tidak tepat waktu membayar. Kalau seperti itu saya akan tegas pada reseller, selalu mempercepat penagihan uang reseller. Jadi sistemya saya ada uang ada barang, uang sudah masuk rekening saya baru kemudian saya kirim tahu baso ke kota reseller.

Referensi

Dokumen terkait

Rapat penutup, difasilitasi oleh ketua tim audit, sebaiknya diadakan untuk menyajikan temuan audit dan kesimpulan. Peserta dalam rapat penutup sebaiknya mencakup manajemen

Pengaruh Kepuasan kerja ( X 2 ) Terhadap Kinerja Karyawan ( Y ) Hipotesis kedua menyatakan kepuasan kerja secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja

Perusahaan dalam hal ini bank BJB (Bank Jawa Barat dan Banten) harus melakukan cara untuk memenangkan persaingan. Perusahaan harus mampu memberikan kepuasan

Jagatrah Jaya Palembang dalam melakukan kegiatan peyewaan alat berat, Sistem Informasi Penyewaan Alat Berat Berbasis Desktop dan SMS Gateway berupa Transaksi sewa,

Tabel ini diperlukan ketika kita mencari Transformasi Laplace inversi... Definisi Transformasi

Dari percobaan yang dilakukan dengan faktor tahapan reaksi (ET, EET, ENT dan ETN), rasio metanol (15:1 dan 20:1) dan waktu esterifikasi (30 menit dan 60 menit) diperoleh biodiesel

Ketentuan hukum adat menyatakan bahwa hak ulayat tidak dapat dilepaskan, dipindah tangankan atau diasingkan secara tetap (selamanya). Secara khusus, obyek hak menguasai Negara

Perlakuan kompos kulit buah kakao 150 g/ polybag + 1 dosis anjuran NPK (2,5 gram) memberikan hasil pertumbuhan bibit kelapa sawit yang terbaik pada pertambahan