• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH M.NAUFAL HUWAIDI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH M.NAUFAL HUWAIDI"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

ANALISIS PENGARUH RISIKO LIKUIDITAS TERHADAP FINANCIAL PERFORMANCE PERBANKAN (STUDI KASUS PADA BANK YANG

TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2011-2015)

OLEH

M.NAUFAL HUWAIDI 130501111

PROGRAM STUDI S1 EKONOMI PEMBANGUNAN DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(2)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh risiko likuiditas terhadap financial performance atau kinerja keuangan perbankan di Indonesia.

Pada penelitian ini, risiko likuiditas diproksikan dengan menggunakan variabel atau faktor-faktor yang dapat dikelola oleh bank. Variabel tersebut adalah LDR, cash ratio, LAR, IPR dan LAD. Kemudian financial performance atau kinerja keuangan sebagai variabel dependen diproksikan dengan Variabel ROA dan ROE.

Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling. Metode purposive sampling merupakan metode pengambilan sampel dengan cara memilih sampel berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Sampel yang telah ditetapkan pada penelitian ini adalah sebanyak 29 perusahaan perbankan go public yang terdaftar di BEI periode 2011-2015. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi data panel dan uji kelayakan model yang digunakan adalah koefisien determinan, uji statistik F dan uji statistik t.

Hasil dari uji koefisien determinan (R-squared) menyatakan kemampuan variabel LDR, cash ratio, LAR, IPR dan LAD dalam menerangkan variabel ROA adalah sebesar 74% dan 26% lainnya berasal dari faktor lain diluar penelitian.

Kemudian kemampuan variabel LDR, cash ratio, LAR, IPR dan LAD dalam menerangkan variabel ROE adalah sebesar 62% dan 38% lainnya berasal dari faktor lain diluar penelitian. Hasil dari uji t menyatakan bahwa hanya variabel IPR yang berpengaruh signifikan terhadap ROA dan ROE. Kemudian, Hasil dari uji F menyatakan bahwa variabel LDR, cash ratio, LAR, IPR dan LAD secara simultan berpengaruh signifikan terhadap ROA dan ROE pada alpha 5%.

Kata Kunci : Bank, Risiko likuiditas, LDR, cash ratio, LAR, IPR, LAD, Kinerja Keuangan, ROA, ROE

(3)

ABSTRACT

This study aims to analyze the effect of liquidity risk to bank financial performance in Indonesia. In this study, liquidity risk is proxied by using variables or factors that can be managed by the bank. These variables are LDR, cash ratio, LAR, IPR and LAD. Then the financial performance or financial performance as the dependent variable is proxied by variables ROA and ROE.

The sample selection is using purposive sampling method. Purposive sampling method is a method of sampling by selecting a sample based on the established criteria. Samples that have been established in this study was about 29 go public banking company that listed on the Stock Exchange 2011-2015. The analysis technique used in this study is pooled data regression analysis and goodness of fit used is R-squared test, F statistic test and T statistic test.

The results of the R-squared test showed LDR, cash ratio, LAR, IPR and LAD ability in explaining ROA is 74% and 26% comes from other factors beyond research. Then the ability of LDR, cash ratio, LAR, IPR and LAD in explaining ROE is 62% and 38% comes from other factors beyond research. The results of the t test IPR stated that the only variable that significantly influence the ROA and ROE. Then, the results of the F test states that a variable LDR, cash ratio, LAR, IPR and LAD simultaneously gives significant effect on ROA and ROE at alpha 5%.

Keywords: Bank, liquidity risk, LDR, cash ratio, LAR, IPR, LAD, Financial Performance, ROA, ROE

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul “Analisis Pengaruh Risiko Likuiditas Terhadap Financial Performance Perbankan (Studi Kasus Pada Bank yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015)”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak sehingga dengan tulus dan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Coki Ahmad Syahwier Hsb, MP, selaku ketua Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Syarief Fauzie, SE, M.Ak, Ak, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dengan penuh kesabaran sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.

4. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec, dan Bapak Wahyu Sugeng Imam Soeparno, SE., M.Si, selaku dosen penguji yang telah memberikan saran

(5)

5. Seluruh dosen pengajar pada Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dengan penuh pengabdian.

6. Kedua orang tua penulis, Bapak Drs. Tjut Zulkarnain MBA, Ak, dan Ibu Ir. Emilia Lubis yang selalu memberikan dukungan, motivasi, dan doa yang tidak pernah berhenti demi kesuksesan anak-anaknya.

7. Keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan berupa motivasi dan doa demi kelancaran penulis dalam menyelesaikan masa studi.

8. Teman-teman penulis yang telah banyak memberikan dukungan, motivasi dan doa serta bantuan selama proses penulisan skripsi ini sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, segala kritik dan saran akan sangat berguna dalam melengkapi dan menyempunakan langkah-langkah selanjutnya demi hasil yang lebih baik. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak. Amin.

Medan, April 2017 Penulis,

M.Naufal Huwaidi

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Likuiditas ... 11

2.2 Trade-Off Theory ... 13

2.3 The Anticipated Income Theory ... 14

2.4 Risiko Perbankan ... 15

2.5 Risiko Likuiditas ... 18

2.6 Financial Performane... 20

2.7 Loan to Deposit Ratio (LDR) ... 22

2.8 Cash Ratio ... 23

2.9 Loan to Asset Ratio (LAR) ... 23

2.10 Investing Policy Ratio ... 24

2.11 Liquid Asset to Deposit Ratio (LAD) ... 24

2.12 Penelitian Terdahulu ... 25

2.13 Kerangka Konseptual ... 28

2.14 Hipotesis ... 32

BAB III METODE PENELITIAN ... 33

3.1 Jenis Penelitian ... 33

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 33

3.3 Batasan Operasional ... 33

3.4 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran ... 34

3.4.1 Variabel Independen (X) ... 35

3.4.2 Variabel Dependen (Y) ... 37

3.5 Populasi dan Sampel Penelitian ... 37

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 39

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 40

3.8 Teknik Analisis ... 40

3.8.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 40

3.8.2 Analisis Regresi Data Panel ... 41

(7)

3.8.4 Uji Hausman ... 45

3.8.5 Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit) ... 45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 50

4.1 Deskripsi Objek Penelitian ... 50

4.2 Analisis Statistik Deskriptif ... 50

4.3 Analisis Regresi Data Panel ... 54

4.3.1 Uji Hausman ... 54

4.4 Hasil Estimasi Model ... 56

4.5 Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit) ... 61

4.5.1 Koefisien Determinan (R-squared) ... 61

4.5.2 Uji Koefisien Regresi Parsial (Uji Statistik t) ... 63

4.5.3 Uji Simultan (Uji Statistik F) ... 67

4.6 Pembahasan ... 68

4.6.1 Pengaruh Loan to Deposit Ratio Terhadap Return on Assets ... 68

4.6.2 Pengaruh Cash Ratio Terhadap Return on Assets .... 69

4.6.3 Pengaruh Loan to Asset Ratio Terhadap Return on Assets ... 70

4.6.4 Pengaruh Investing Policy Ratio Terhadap Return on Assets ... 70

4.6.5 Pengaruh Liquid Asset to Deposit Ratio Terhadap Return on Assets ... 71

4.6.6 Pengaruh Loan to Deposit Ratio Terhadap Return on Equity ... 72

4.6.7 Pengaruh Cash Ratio Terhadap Return on Equity .... 73

4.6.8 Pengaruh Loan to Asset Ratio Terhadap Return on Equity ... 74

4.6.9 Pengaruh Investing Policy Ratio Terhadap Return on Equity ... 75

4.6.10 Pengaruh Liquid Asset to Deposit Ratio Terhadap Return on Equity ... 75

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 77

5.1 Kesimpulan ... 77

5.2 Saran ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 80

LAMPIRAN ... 83

(8)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

2.1 Rangkuman Penelitian Terdahulu ... 24

3.1 Daftar Sampel Bank ... 38

4.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 51

4.2 Hasil Uji Hausman (Model 1) ... 55

4.3 Hasil Uji Hausman (Model 2) ... 55

4.4 Hasil Estimasi (Model 1) ... 56

4.5 Hasil Estimasi (Model 2) ... 59

4.6 Hasil R-squared test (Model 1) ... 62

4.7 Hasil R-squared test (Model 2) ... 62

4.8 Hasil Uji Statistik t (Model 1) ... 63

4.9 Hasil Uji Statistik t (Model 2) ... 65

4.10 Hasil Uji Statistik F (Model 1) ... 67

4.11 Hasil Uji Statistik F (Model 2) ... 68

(9)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

2.1 Kerangka Konseptual ... 27

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

Lampiran 1 Data Hasil Pemilihan Sampel ... 83

Lampiran 2 Data Penelitian ... 85

Lampiran 3 Hasil Uji Hausman (Model 1) ... 89

Lampiran 4 Hasil Uji Hausman (Model 2) ... 89

Lampiran 5 Hasil Estimasi (Model 1) ... 90

Lampiran 6 Hasil Estimasi (Model 2) ... 90

(11)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan sistem keuangan yang pesat serta semakin meningkat dan beragamnya kebutuhan masyarakat akan jasa lembaga keuangan, menjadikan peranan sektor perbankan semakin mendominasi kegiatan perekonomian suatu negara. Bahkan aktivitas dan keberadaan perbankaan dapat dijadikan salah satu indikator perkembangan perekonomian suatu negara. Pada perekonomian, industri perbankan berperan sebagai lembaga intermediasi keuangan yang menyalurkan dana ke masyarakat guna meningkatkan investasi dan produktivitas sektor riil.

Menurut Pasal 4 Undang-Undang No 10 Tahun 1998 tentang perbankan, menjelaskan bahwa ”Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak”. Berdasarkan uraian tersebut dapat dilihat bahwa bank bukan hanya sekedar badan usaha yang berorientasi laba tetapi bank juga memiliki fungsi makro yang akan berdampak pada proses pembangunan perekonomian nasional.

Pengaruh sektor perbankan terhadap perekonomian suatu negara juga dapat dikatakan besar. Kegagalan suatu bank dalam menjalankan usahanya akan memberikan efek domino pada bank lain atau bahkan pada perekonomian suatu negara. Krisis ekonomi pada tahun 1998 merupakan salah satu contoh dimana sektor perbankan dapat melumpuhkan kegiatan perekonomian Indonesia. Pada

(12)

saat itu terjadi mismatch atau kesenjangan akibat dari kegiatan perbankan yang tidak sesuai dengan fundamental keuangan. Bahkan pada saat sebelum terjadi krisis, kebanyakan bank sudah membukukan angka loan to deposit ratio (LDR) yang tinggi sehingga bank-bank tersebut mengalami masalah likuiditas.

Pada tahun 1997, pemerintah mencabut izin usaha 16 bank yang berakibat terjadinya penarikan uang secara besar-besaran (rush money) akibat menurunnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan perbankan nasional. Kejadian tersebut memperparah kesulitan likuiditas yang sudah dialami kebanyakan bank sebelum krisis terjadi. Rush money menyebabkan terganggunya likuiditas suatu bank yang kemudian menghadapkan bank pada risiko keuangan secara menyeluruh dan menimbulkan efek domino pada bank lain atau bahkan perekonomian negara.

Krisis moneter berkepanjangan yang terjadi beberapa tahun ini telah berubah menjadi krisis ekonomi karena semakin banyaknya perusahaan yang tutup dan perbankan yang dilikuidasi dan meningkatnya jumlah tenaga kerja yang menganggur, mengingatkan bahwa besarnya dampak ekonomi yang ditimbulkan apabila terjadi kegagalan usaha perbankan (Mahmud & Rukmana,2010). Untuk itu perbankan Indonesia harus mulai mengelola risikonya secara terpadu, sehingga bank dapat mendeteksi risiko yang mungkin terjadi sedini mungkin dan dapat mengambil keputusan terbaik dalam menghadapi risiko. Pengelolaan risiko secara terpadu akan berdampak pada meningkatnya tingkat kesehatan bank dan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada perbankan sehingga bank dapat menjalankan perannya sebagai agent of trust.

(13)

Dalam menjalankan perannya sebagai agent of trust, bank harus menjaga kepercayaan dari masyarakat guna mempermudah tugasnya sebagai lembaga intermediasi keuangan. Agar selalu mendapatkan kepercayaan masyarakat penting bagi bank untuk selalu menjaga kinerja dan berada pada kondisi likuid. Bank dapat dikatakan likuid, apabila bank mampu membayar semua kewajibannya terutama simpanan tabungan, giro, dan deposito pada saat ingin ditarik nasabah dan juga dapat memenuhi semua permohonan kredit yang layak untuk dibiayai.

Pengelolaan dana tabungan nasabah harus dilakukan dengan optimal dan hati-hati (prudent), mengingat salah satu tujuan dari bank adalah mencari laba maksimum dengan risiko minimum melalui mekanisme penciptaan nilai (value creation). Agar tujuan bank tersebut tercapai, bank harus memobilisasi dana tabungan nasabahnya dalam bentuk kredit. Tanpa memobilisasi dana tabungan nasabahnya, maka dana yang ada pada bank tidak akan produktif. Angka net interest margin (NIM) bank akan bernilai negatif karena bank tidak mendapatkan pendapatan dari bunga kredit tetapi bank terus memberikan bunga pada tabungan nasabahnya.

Namun dalam menyalurkan kredit pada debitur, bank tidak bisa bertindak sembarangan. Bank harus menggunakan prinsip kehati-hatian agar kredit yang dikucurkan bank tidak menjadi kredit macet. Kredit macet akan menghambat arus kas masuk dan berdampak pada kemampuan likuiditas bank. Kemampuan likuiditas yang buruk dapat menyebabkan semakin besarnya potensi risiko likuidtas akan terjadi. Risiko likuiditas terjadi akibat sisi kewajiban yang lebih besar dari sisi aset (gap likuiditas) sehingga bank tidak mampu memenuhi

(14)

kewajiban dan membayar utang-utangnya. Apabila bank tidak mampu mengatasi masalah ini dengan segera, maka masalah ini akan berdampak kepada laba dan kinerja keuangan bank secara menyeluruh sehingga bank dapat mengalami kebangkrutan.

Rasio rentabilitas merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur kinerja keuangan bank. Rasio rentabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam menciptakan laba baik bagi bank itu sendiri maupun bagi para pemegang sahamnya. Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur laba adalah return on asset (ROA) dan return on equity (ROE). Perbedaan antara ROA dan ROE adalah, ROA merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari pengelolaan aset, sementara ROE merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam mengelola modal untuk menghasilkan laba.

Risiko likuiditas yang tidak diatasi dengan segera akan berdampak pada kinerja keuangan bank. Pernyataan tersebut didukung dengan berbagai penelitian tentang pengaruh risiko likuiditas terhadap kinerja keuangan bank. Pada penelitian terdahulu risiko likuiditas diproksikan dengan banyak indikator. Salah satunya dengan menggunakan loan to deposit ratio (LDR). Berdasarkan hasil penelitian Ramadanti (2015) yang memproksikan risiko likuiditas dengan variabel loan to deposit ratio (LDR) yaitu perbandingan antara total kredit yang disalurkan bank dengan total dana pihak ketiga sebagai salah satu indikator risiko likuidtas menyatakan peningkatan LDR akan berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA. Hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Nugroho (2011) yang

(15)

menyatakan peningkatan LDR akan berpengaruh positif terhadap ROE sehingga kinerja keuangan bank akan semakin baik.

Selain menggunakan LDR, terdapat beberapa penelitian lainnya tentang pengaruh risiko likuiditas terhadap kinerja keuangan bank dengan memproksikan risiko likuiditas dengan menggunakan beberapa variabel lainnya seperti cash ratio, loan to asset ratio, investing policy ratio, dan liquid asset to deposit ratio.

Cash ratio merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam melunasi kewajiban jangka pendek dengan aset likuid yang dimiliki bank. Meningkatnya angka cash ratio akan berdampak baik pada kinerja keuangan bank. Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian Ruwanti (2011) yang menyatakan cash ratio berpengaruh positif terhadap ROA. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Kuspita (2012) yang menyatakan bahwa cash ratio berpengaruh positif terhadap ROE bank.

Bank harus dapat mendeteksi potensi terjadinya risiko likuiditas sedini mungkin agar masalah likuiditas tidak berdampak pada kinerja keuangan bank.

Potensi terjadinya risiko likuiditas dapat dilihat dari kemampuan bank dalam menyalurkan kredit dengan menggunakan harta yang dimiliki bank yang diukur dengan menggunakan Loan to Asset Ratio (LAR). Hasil penelitian yang dilakukan Meilia (2015) menunjukkan bahwa peningkatan LAR akan berpengaruh negatif terhadap ROE bank. Kemudian hasil penelitian yang dilakukan ruwanti (2011) menyatakan bahwa peningkatan LAR berdampak negatif pada ROA bank. Namun hasil penelitian Kurnia (2012) menunjukkan hasil berbeda, yaitu LAR berdampak positif terhadap ROA.

(16)

Pada saat bank mengalami risiko likuiditas, bank akan kesulitan dalam melunasi kewajibannya sehingga bank perlu melikuidasi surat-surat berharga yang dimiliki bank agar masalah tersebut tidak berdampak pada kinerja keuangan bank.

Kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya dengan melikuidasi surat-surat berharga bank dapat diukur dengan investing policy ratio. Pernyataan tersebut didukung oleh hasil penelitian Apriyansah (2007) yang menyatakan investing policy ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA.

Risiko likuiditas dapat terjadi akibat tidak pastinya kapan deposan akan menarik pinjamannya dan berapa besar pinjaman yang akan ditarik deposan. Pada situasi terburuk bank harus melikuidasi semua aset likuid yang ada agar dapat melunasi kewajibannya kepada deposan agar masalah likuiditas tidak berdampak pada kinerja keuangan bank. Kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban kepada deposan dengan melikuidasi aset likuid yang dimiliki bank dapat diukur dengan liquid asset to deposit ratio (LAD).

Manajemen risiko likuiditas yang baik akan memberikan dampak positif pada kinerja keuangan bank. Sebaliknya manajemen risiko likuiditas yang buruk akan berdampak negatif pada kinerja keuangan bank. Pada penelitian terdahulu dapat dilihat bahwa risiko likuiditas yang diproksikan dengan beragam variabel dapat berpengaruh terhadap kinerja keuangan bank. Namun, beberapa penelitian terdahulu menunjukkan hasil berbeda atau adanya research gap pada penelitian terdahulu.

Melihat pentingnya kemampuan manajemen risiko likuiditas yang baik pada bank serta adanya research gap pada penelitian-penelitian terdahulu dan

(17)

beragamnya variabel yang dapat digunakan sebagai indikator untuk mengukur risiko likuiditas perusahaan perbankan menjadi alasan mengapa penulis tertarik untuk menyusun sebuah penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul “Analisis Pengaruh Risiko Likuiditas Terhadap Financial Performance Perbankan (Studi Kasus Pada Bank Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015)”.

Pada penelitian ini risiko likuiditas akan diproksikan dengan cash ratio, Loan to Asset Ratio (LAR), loan to deposit ratio (LDR), investing policy ratio, dan liquid asset to deposit ratio (LAD) sebagai variabel independen dan financial performance atau kinerja keuangan yang diproksikan dengan return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) sebagai variabel dependen.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka terdapat beberapa rumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh loan to deposit ratio (LDR) terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015 ?

2. Bagaimana pengaruh cash ratio terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada perusahaan bankan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015 ?

(18)

3. Bagaimana pengaruh loan to asset ratio (LAR) terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015 ?

4. Bagaimana pengaruh investing policy ratio terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015 ?

5. Bagaimana pengaruh liquid asset to deposit ratio (LAD) terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015 ?

6. Bagaimana pengaruh loan to deposit ratio (LDR), cash ratio, loan to asset ratio (LAR), investing policy ratio, dan liquid asset to deposit ratio (LAD) secara simultan terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2011- 2015 ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh loan to deposit ratio (LDR) terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015

(19)

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh cash ratio terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015

3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh loan to asset ratio (LAR) terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015

4. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh investing policy ratio terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015

5. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh liquid asset to deposit ratio (LAD) terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada peruhsaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015

6. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh loan to deposit ratio (LDR), cash ratio, loan to asset ratio (LAR), investing policy ratio, dan liquid asset to deposit ratio (LAD) secara simultan terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi bagi praktisi dan akademisi di bidang perbankan.

(20)

2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi dan literatur bagi Mahasiswa Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang ingin melakukan penelitian selanjutnya.

3. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmiah dan ilmu pengetahuan baru.

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Likuiditas

Likuiditas adalah kemampuan bank dalam membayar kewajiban jangka pendeknya. Suatu bank dapat dikatakan likuid apabila bank yang bersangkutan mampu membayar semua hutang-hutangnya terutama simpanan tabungan, giro, dan deposito pada saat ditagih dan dapat pula memenuhi semua permohonan kredit yang layak dibiayai (Kasmir, 2008). Menurut Oliver G. Wood dan Robert J.

Porter dalam bukunya Analisys of Bank Financial Statement (1998) “Likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban jangka pendek (Hutang) yang jatuh tempo dengan segera mungkin”.

Konsep likuditas menurut Oliver G. Wood yang dikutip oleh siamat (1993 : 167) bahwa suatu bank dapat dikatakan liquid apabila bank yang bersangkutan mampu memenuhi kategori berikut :

1. Memegang sejumlah alat likuid (cash asset) yang terdiri dari uang kas, rekening pada bank sentral dan bank lainnya sama dengan jumlah kebutuhan likuiditas yang diperkirakan.

2. Memegang kurang dari jumlah alat-alat likuid tetapi bank mempunyai surat berharga berkualitas tinggi yang dapat ditukar atau dialihkan menjadi uang tanpa mengalami kerugian bank baik setetelah jatuh tempo maupun sesudah jatuh tempo.

(22)

3. Memiliki kemampuan memperoleh alat-alat likuid melalui mekanisme penciptaan hutang, misalnya seperti penggunaan fasilitas diskonto, call money, penjualan surat-surat berharga dengan repurchase agreement (repo).

Pengelolaan likuiditas merupakan bagian penting dalam manajemen perbankan. Bahkan baik atau buruknya pengelolaan likuiditas pada suatu bank dapat menentukan apakah bank tersebut akan bertahan dan berkembang atau akan bangkrut. Secara garis besar berikut adalah tujuan dan manfaat dari pengelolaan likuiditas (Kasmir, 2007) :

1. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih. Artinya kemampuan untuk membayar kewajiban yang sudah waktunya dibayar sesuai jadwal batas waktu yang telah ditetapkan (tanggal dan bulan tertentu)

2. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajibanjangka pendek dengan aktiva lancar secara keseluruhan. Artinya jumlah kewajiban yang berumur dibawah satu tahun atau sama dengan satu tahun, dibandingkan dengan total aktiva lancar.

3. Untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan persediaan dan utang yang dianggap likuiditasnya lebih rendah.

4. .Untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah persediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan.

(23)

5. Untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang.

6. Sebagai alat perencanaan kedepan, terutama yang berkaitan dengan perencanaan kas dan utang.

7. Untuk melihat kondisi dan posisi likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu dengan membandingkannya untuk beberapa periode.


8. Untuk melihat kelemahan yang dimiliki perusahaan, dari masing-masing komponen yang ada di aktiva lancar dan utang lancar.

9. Menjadikan alat pemicu bagi pihak manajemen untuk meperbaiki kinerjanya, dengan melihat rasio likuiditas yang ada pada saat ini.

Pengelolaan likuiditas yang baik sangat diperlukan dalam manajemen perbankan selain untuk menentukan apakah suatu bank dapat bertahan dalam persaingan usaha yang semakin ketat, pengelolaan likuiditas yang baik juga dapat meningkatkan profit atau laba bank.

2.2 Trade Off Theory

Trade off theory atau teori pertukaran pertama kali diperkenalkan pada tahun 1963 oleh Modigliani dan Miller. Teori ini merupakan teori yang mengatur tingkat likuiditas dengan cara yang bertentangan pada profitabilitias. Bank akan dihadapkan pada situasi dimana bank harus memilih antara likuiditas atau laba.

Jika bank memilih likuiditas maka bank harus menjaga cash asset yang dimilikinya. Namun hal ini akan mengakibatkan menurunnya kemampuan bank

(24)

dalam menyalurkan kredit secara efektif dan banyaknya dana pihak ketiga yang menganggur dan tidak produktif sehingga profitabilitas bank akan menurun.

Sebaliknya, jika bank memilih laba maka bank harus memobilisasi dana pihak ketiga dalam bentuk kredit atau investasi lainnya sehingga likuiditas bank akan menurun. Bank harus menjaga tingkat kestabilan alat likuidnya, namun di sisi lain bank harus mencari keuntungan demi kelancaran usaha bank (Arthesa,2006).

2.3 The Anticipated Income Theory

Teori antisipasi pendapatan merupakan teori yang dikenal menonjol di Amerika Serikat pada tahun 1940. Teori ini merupakan teori yang memungkinkan bank untuk menggunakan angsuran dari piutang jangka panjang sebagai salah satu sumber likuiditas. Bank akan meyalurkan kredit dengan jangka panjang dimana pelunasannya sesuai dengan waktu dan cara yang disepakati oleh debitur. Sistem pembayaran dengan metode angsuran secara teratur akan menjadi arus kas masuk dan menjadi salah satu sumber likuiditas bank. Teori antisipasi pendapatan ini mengutamakan likuiditas bank, sehingga bank dapat mengantisipasi kewajiban sedini mungkin dan memprediksi aset lancar yang akan masuk (Utomo, dkk : 2013). Teori ini juga mempunyai asumsi bahwa semua dana yang dialokasikan atau setiap upaya mengalokasikan dana ditunjukkan pada sektor feasible dan layak sehingga akan menguntungkan bagi bank.

(25)

2.4 Risiko Perbankan

Risiko perbankan didefinisikan sebagai dampak negatif pada kemampuan bank dalam menghasilkan laba akibat beberapa penyebab yang berbeda-beda dan tidak pasti. Manajemen risiko perbankan dapat menunjukkan risiko yang mungkin timbul dan dampak negatif akibat risiko tersebut (Besis,1998).

Risiko perbankan terbagi dalam tiga jenis, yaitu risiko keuangan, risiko operasional dan lingkungan. Risiko keuangan terdiri dari dua bagian yaitu risiko perbankan tradisional dan risiko kas. Risiko perbankan tradisional adalah suatu risiko yang mengakibatkan kerugian pada bank akibat dari neraca dan struktur laporan pendapatan, kredit, dan solvabilitias yang tidak dikelola dengan baik oleh bank. Selanjutnya, risiko kas adalah risiko yang diukur dengan beberapa kategori utama, seperti risiko kas, risiko likuiditas, risiko tingkat bunga, risiko mata uang, dan risiko pasar (termasuk risiko mitra). Risiko keuangan yang tidak dikelola dengan baik akan berdampak pada mengingkatnya risiko bank secara keseluruhan dan signifikam.

Risiko operasional adalah risiko yang terkait dengan keseluruhan proses bisnis bank dan dampak potensialnya sesuai dengan kebijakan dan prosedur bank, sistem internal dan teknologi, keamanan informasi, tindakan terhadap salah urus dan penipuan, serta kotinuitas usaha. Aspek lain dari risiko operasional mencakup perencanaan strategis bank, tata kelola dan struktur organisasi perusahaan, produk dan pengembangan pengetahuan, manajemen karir staf dan sumber daya internal, serta pendekatan akuisisi pelangggan.

(26)

Terakhir, Risiko lingkungan adalah risiko yang terkait dengan lingkungan bisnis bank, termasuk faktor ekonomi makro dan masalah kebijakan, faktor hukum dan regulasi, serta infrastruktur sektor keuangan secara keseluruhan dan sistem yurisdiksi tempat bank beroperasi. Risiko lingkungan mencakup semua jenis risiko eksogen yang apabila terwujud, bisa membahayakan operasi suatu bank. (Greuning & Bratanovic,2009).

Berdasarkan PBI Nomor 5/8/PBI/2003 tentang penerapan manajemen risiko bagi bank umum yang dimaksud dengan risiko adalah potensi terjadinya suatu peristiwa (events) yang dapat menimbulkan kerugian bagi bank. Risiko yang dimaksud adalah risiko pasar, risiko kredit, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko reputasi, risiko stratejik dan risiko kepatuhan.

1. Risiko pasar

Risiko pasar adalah suatu risiko yang timbul akibat menurunnya nilai investasi yang disebabkan pergerakan pada faktor-faktor pasar. Empat faktor standar pada risiko pasar adalah risiko modal, risiko mata uang, risiko suku bunga dan risiko komoditas.

2. Risiko kredit

Risiko kredit adalah suatu risiko kerugian yang disebabkan ketidakmampuan debitur dalam membayar kewajibannya baik dalam membayar hutang pokok atau bunga maupun keduanya.

(27)

3. Risiko likuiditas

Risiko likuiditas adalah suatu risiko yang timbul akibat bank tidak mampu menyediakan dana baik kepada pihak ketiga maupun kepada debitur pada jangka waktu tertentu.

4. Risiko operasional

Risiko operasional adalah suatu risiko kerugian yang disebabkan akibat tidak memadai atau gagalnya proses internal, manajemen sumber daya, dan faktor eksternal pada bank.

5. Risiko hukum

Risiko hukum adalah risiko yang timbul akibat bank gagal mengatasi segala permasalahan hukum yang mungkin terjadi sehingga menyebabkan kerugian atau bahkan kegagalan usaha pada bank.

6. Risiko reputasi

Risiko reputasi adalah suatu risiko yang muncul akibat menurunnya kepercayaan stakeholder (lembaga pengawas, pemegang saham, nasabah dan masyarakat) akibat persepsi negatif terhadap bank.

7. Risiko stratejik

Risiko stratejik adalah suatu risiko yang timbul akibat kesalahan bank dalam pengambilan keputusan sehingga bank dalam mengantisipasi risiko baik yang berasal dari internal maupun faktor eksternal

8. Risiko Kepatuhan

Menurut Bank for International Settlement (BIS) risiko kepatuhan dapat didefinisikan sebagai risiko hukum, kerugian finasial dan material, atau bank

(28)

kehilangan reputasi akibat bank gagal dalam mematuhi hukum, regulasi, dan standar operasional atau kode etik.

2.5 Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas merupakan suatu risiko yang timbul akibat bank tidak mampu membayar kewajibannya. Risiko likuiditas dapat terjadi akibat aset pada laporan keuangan bank bernilai lebih kecil dibandingkan dengan kewajiban yang harus bank laksanakan (gap likuiditas). Risiko likuiditas juga dapat timbul akibat ketidakpastian yang dialami bank dalam memenuhi kewajibannya kepada pihak ketiga. Risiko likuditas dianggap sebagai salah satu risiko utama. Risiko likuiditas sering didefinisikan dengan banyak cara seperti likuiditas ekstrim, keamanan yang ditunjukkan oleh portofolio dari aset likuid bank, atau kemampuan bank dalam menghasilkan dana dengan biaya normal. Likuiditas ekstrim akan berdampak pada kebangkrutan suatu bank, oleh karena itu risiko likuiditas merupakan suatu risiko yang fatal (Besis,1998).

Menurut buku Badan Sertifikasi Manajemen Risiko (2006), terdapat dua macam risiko likuiditas, yaitu likuiditas endogen (endogenous liquidity) dan likuiditas eksogen (exogenous liquidity). Likuiditas endogen adalah likuiditas yang melekat pada aset itu sendiri. Likuiditas endogen berhubungan dengan kemampuan bank untuk menjual aset di pasar yang likuid secara cepat dengan tawaran kecil dan tidak terlalu dipengaruhi oleh besarnya transaksi. Sementara itu, likuiditas eksogen diciptakan melalui struktur kewajiban bank. Kesenjangan atau

(29)

mismatch pada pendanaan dapat dilihat bank melalui dengan menggunakan liquidity ladder.

Besar atau kecilnya suatu risiko likuiditas dapat diukur dengan beberapa indikator sebagai berikut (Arifin,2009) :

1. Kemampuan perencanaan arus kas (cash flow) atau arus dana (fund flow) berdasarkan prediksi pembiayaan, prediksi pertumbuhan dana, termasuk mencermati tingkat fluktuasi dana (volatility of funds).

2. Ketepatan mengatur struktur dana, termasuk kecukupuan dana-dana non- PLS (Profit and Loss Sharing).

3. Ketersidaan aset yang siap dikonversikan menjadi kas.

4. Kemampuan menciptakan akses ke pasar antar bank atau sumber dana lainnya, termasuk fasilitas lender of last resort.

Memprediksi fenomena yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang merupakan bagian pentning dalam manajemen risiko likuiditas. Dalam teknik analisis persyaratan dana bersih harus melibatkan konstruksi jenjang dan perhitungam dana yang lebih kumulatif atau defisit pada tanggal-tanggal tertentu.

Bank harus menyediakan likuiditas dalam jumlah cukup sebagai tindakan antisipasi pada situasi terburuk yang mungkin dialami bank. Rendahnya likuiditas suatu bank dapat meningkatkan potensi timbulnya risiko likuiditas sehingga dapat menyebabkan kebangkrutan pada bank.

(30)

2.6 Financial Performance

Financial Performance atau Kinerja keuangan bank merupakan suatu gambaran setiap hasil ekonomi yang mampu diraih suatu bank pada periode tertentu melalui kegiatan-kegiatan operasionalnya dengan tujuan mencari profit atau laba secara efektif dan efisien. Menurut Munawir (2010) kinerja keuangan merupakan satu diantara indikator pengukuran kondisi keuangan pada suatu perusahaan yang dapat diukur dengan analisis pada rasio-rasio keuangan. Kinerja keuangan bank dapat diukur melalui analisis rasio keuangan yang terdapat pada laporan keuangan bank.

Analisis rasio keuangan adalah suatu teknik analisis untuk mengevaluasi kondisi kinerja keuangan sebuah perusahaan dengan melakukan analisis pada laporan keuangan perusahaan tersebut. Menurut Abdullah (2005) analisis rasio keuangan merupakan teknik analisis untuk mengetahui hubungan diantara pos-pos tertentu dalam neraca maupuan laba rugi baik secara individu maupun simultan.

Menurut Kasmir (2000) hanya ada tiga rasio keuangan bank yang dianggap penting dan menjadi pokok pembahasan, tiga rasio keuangan tersebut adalah :

1. Rasio likuiditas

Rasio likuiditas bertujuan untuk mengukur kemampuan bank menyediakan dana pada jangka waktu tertentu.

2. Rasio solvabilitas

Rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi bank dalam menggunakan modal yang dimilikinya untuk menjalankan kegiatan usahanya.

(31)

3. Rasio rentabilitas

Rasio ini bertujuan untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan profit atau laba

Tujuan dari kegiatan utama bank adalah untuk memperoleh keuntungan, tujuan tersebut menjadikan rasio rentabilitas sebagai salah satu indikator keberhasilan bank dalam menjalankan usahanya. Keuntungan dalam jumlah besar dapat memberikan dampak positif pada kinerja keuangan bank lainnya, seperti menambah kas pada bank dan membuat kemampuan likuiditas bank meningkat.

Meningkatnya keuntungan bank akan menarik minat investor untuk melakukan investasi pada bank tersebut sehingga hal ini akan baik untuk aspek permodalan bank. Kemampuan bank dalam menghasilkan laba dapat diukur menggunakan return on asset (ROA) dan return on equity (ROE).

1. Return on Asset (ROA)

Return on Asset (ROA) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan profit atau laba dengan mengelola aset-aset yang dimiliki bank. Semakin tinggi ROA, maka dapat dikatakan kinerja keuangan semakin baik. ROA Sesusai dengan surat edaran BI Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011 bahwa rumus untuk menghitung ROA adalah sebagai berikut :

𝑅𝑂𝐴 = 𝐼𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒 𝐵𝑒𝑓𝑜𝑟𝑒 𝑇𝑎𝑥𝑒𝑠

𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑜𝑓 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 × 100%

(32)

2. Return on Equity (ROE)

Return on Equity (ROE) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank mengahasilkan laba profit atau laba dengan mengelola modal yang ada pada bank. Semakin tinggi ROE, maka akan semakin baik juga kinerja keuangan bank. Sesusai dengan surat edaran BI Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011 bahwa rumus untuk menghitung LDR adalah sebagai berikut :

2.7 Loan to Deposit Ratio (LDR)

Berdasarkan surat edaran Bank Indonesia (BI) Nomor 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001 bahwa penelitian mengenai likuiditas yang disyaratkan oleh Bank Indonesia adalah dengan menggunakan Loan to Deposit Ratio (LDR). LDR merupakan rasio untuk mengukur komposisi jumlah kredit yang diberikan dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat dan modal sendiri yang digunakan (Kasmir,2000). Semakin tinggi LDR maka semakin tinggi juga kemampuan bank dalam menyalurkan kredit secara efektif dan semakin rendah potensi terjadinya risiko likuiditas. Namun BI sudah menetapkan bahwa besaran LDR pada setiap bank adalah minimal sebesar 80 % dan maksimal sebesar 110%. Sesusai dengan surat edaran BI Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011 bahwa rumus untuk menghitung LDR adalah sebagai berikut :

𝑅𝑂𝐸 = 𝑁𝑒𝑡 𝐼𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒

𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑜𝑓 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 × 100%

(33)

2.8 Cash ratio

Cash Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya dengan cara melikuidasi aset likuid yang ada pada bank. Menurut Kasmir (2012) cash ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam melunasi kewajibannya dengan melihat ketersediaan kas atau setara dengan kas pada bank. Semakin tinggi cash ratio pada suatu bank menunjukkan kemampuan bank dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya sehingga bank akan meminimalisir potensi adanya risiko likuiditas. Menurut Kasmir (2012) Rumus untuk menghitung Cash Ratio adalah sebagai berikut :

2.9 Loan to Asset Ratio (LAR)

Loan to Asset Ratio (LAR) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam menyalurkan kredit dengan jumlah aset yang dimilikinya. Menurut Kasmir (2010) LAR merupakan rasio untuk mengukur jumlah kredit disalurkan dengan jumlah harta yang dimilki suatu bank. Semakin tinggi tingkat rasio ini menunjukkan semakin baik kemampuan bank dalam menyalurkan kredit secara

𝐿𝐷𝑅 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐿𝑜𝑎𝑛𝑠

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 × 100%

Cash Ratio = 𝐶𝑎𝑠ℎ + 𝐶𝑎𝑠ℎ 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡𝑠

𝑆ℎ𝑜𝑟𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑚 𝐵𝑜𝑟𝑟𝑜𝑤𝑖𝑛𝑔 × 100%

(34)

efektif dan semakin rendah potensi terjadinya risiko likuiditas. Menurut Kasmir (2010) rumus untuk mencari LAR adalah sebagai berikut :

2.10 Investing Policy Ratio

Investing Policy Ratio merupakan kemampuan bank dalam melunasi kewajibannya kepada pihak ketiga dengan cara melikuidasi surat-surat berharga yang dimilikinya. Menurut Kasmir (2000) Investing Policy Ratio merupakan kemampuan bank dalam melunasi kewajibannya kepada para deposanya dengan cara melikuidasi surat-surat berharga yang dimilikinya. Investing Policy Ratio yang tinggi menggambarkan kemampuan bank yang baik dalam mengembalikan dana dan menjaga kepercayaan masyarakat sehingga bank dapat memperkecil potensi terjadinya risiko likuiditas di kemudian hari. Menurut Kasmir (2000) Investing Policy Ratio dapat diukur dengan rumus berikut :

2.11 Liquid Asset to Deposit Ratio (LAD)

Liquid Asset to Deposit Ratio (LAD) merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan bank saat memenuhi kewajibannya kepada pihak ketiga dengan cara

𝐿𝐴𝑅 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐿𝑜𝑎𝑛𝑠

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 × 100%

𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑃𝑜𝑙𝑖𝑐𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = 𝑆𝑒𝑐𝑢𝑟𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 × 100%

(35)

melikuidasi aset-aset likuid yang dimiliki bank. Menurut Guspiati (2008) LAD menunjukkan kemampuan bank dalam membayar kembali simpanan deposan dengan menggunakan alat-alat paling liquid yang dimiliki bank. Semakin tinggi rasio LAD menunjukkan kemampuan likuiditas bank semakin baik dan semakin kecilnya risiko likuiditas (Hutahaean,2013). Adapun rumus untuk menghitung LAD adalah sebagai berikut :

2.12 Penelitian Terdahulu

Berbagai penelitian mengenai pengaruh risiko likuditas terhadap kinerja keuangan bank sudah dilakukan. Pada penelitian terdahulu risiko likuiditas dan kinerja keuangan bank diproksikan dengan menggunakan variabel yang berbeda- beda. Teknik analisis data yang digunakan pada saat penelitian juga beragam.

Bahkan penelitian-penelitian terdahulu juga menunjukkan hasil yang berbeda.

Berikut merupakan rangkuman dari beberapa penelitian terdahulu pada tabel 2.1 :

Tabel 2.1

Rangkuman Penelitian Terdahulu

PENELITI JUDUL

PENELITIAN VARIABEL

TEKNIK ANALISIS

DATA

HASIL PENELITIAN Fani

Ramadanti (2015)

Pengaruh Risiko Likuiditas Terhadap Profitabilitas

Variabel Independen:

LDR,cadang an kas,gap likuiditas,dan

Regresi Linier Berganda dengan uji asumsi klasik

Hasil penelitian menyatakan bahwa LDR, cadangan kas,gap likuiditas,dan NPL secara bersama- 𝐿𝐴𝐷 = 𝐿𝑖𝑞𝑢𝑖𝑑 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 × 100%

(36)

Perbankan (Studi Kasus Bank yang terdaftar di BEI periode 2011-2013)

NPL Variabel Dependen : ROA

sama berpengaruh terhadap ROA.

Anindita (2012)

Analisis Pengaruh CAR,LDR, NIM,NPL, BOPO,GWM dan

Institutional Ownership Terhadap Profitabilitas

Variabel Independen : CAR,LDR, NIM,NPL, BOPO,GWM dan

Institutional Ownership Variabel Dependen : ROE

Analisis regresi linier berganda dengan persamaan kuadrat terkecil

Hasil penelitian menyatakan bahwa LDR,NPL, GWM, tidak berpengaruh pada ROE sementara CAR,BOPO, dan institutional ownership

berpengaruh negatif signifikan terhadap ROE.

Meilia (2015)

Pengaruh LDR,LAR, NPM,dan GPM terhadap ROE

Variabel Independen : LDR,LAR, NPM,dan GPM Variabel Dependen : ROE

Analisis Regresi Linier

Berganda dan uji korelasi

Hasil penelitian menyatakan bahwa LDR,LAR, NPM dan GPM berpengaruh terhadap ROE.

Kurnia (2012)

Analisis Pengaruh BOPO,Equity to total asset ratio (EAR), loan to asset ratio

(LAR),dan firm size terhadap kinerja

keuangan bank

Variabel Independen : BOPO, Equity to total asset ratio, loan to asset

ratio,dan firm size Variabel Dependen : ROA

Analisis Regresi Linier

Berganda dan uji asumsi klasik

Hasil penelitian menunjukkan BOPO, loan to asset ratio LAR,dan firm size mempunyai pengaruh positif terhadap ROA.

Sementara EAR mempunyai pengaruh negatif tetapi tidak signifikan.

Ketchya Kuspita (2012)

Pengaruh current ratio dan cash ratio

Variabel Independen : Current ratio

Analisis Regresi Linier

Hasil penelitian menyatakan bahwa secara simultan

(37)

terhadap ROE perusahaan minuman dan makanan yang terdaftar di BEI

dan cash ratio

Variabel Dependen : ROE

Berganda dengan Dummy Variabel

variabel current ratio dan cash ratio

memiliki koefisien regresi sebesar 0,544

Gemi Ruwanti (2011)

Pengaruh risiko likuiditas terhadap

kinerja keuangan perbankan pada bank- bank swasta Go-Public di Bursa Efek Indonesia

Variabel Independen : Quick ratio, Investing Policy Ratio, Banking Ratio, Asset to loan Ratio, cash rastio, LDR Variabel Dependen : ROA

Analisis Regresi Linier Berganda

Hasil penelitian menyatakan variabel quick ratio, investing policy ratio, banking ratio, asset to loan ratio,cash ratio dan LDR secara simultan berpengaruh pada ROA sebesar 80,6%

Gipson Hutahaean (2013)

Analisis

pengaruh risiko likuiditas terhadap return on asset

(ROA) perbankan (Studi Kasus Bank Mandiri)

Variabel Independen : Liquid asset to total asset ratio (LTA), liquid asset to Deposit Ratio (LAD), dan financing deposit ratio (FDR) Variabel Dependen : ROA

Analsis regresi OLS,model kelambanan (lag) ,dan analisis dummy musiman

Pada analisis regresi OLS LTA,LAD,FDR berpengaruh

signifikan terhadap ROA.Pada model lag hanya FDR yang berpengaruh

signifikan pada ROA dengan tingkat probabilitas 5% pada bulan mei dan 10 % pada bulan november.

Hasil Regresi dummy musiman menyatakan bahwa ketiga variabel berpengarih signifikan dengan tingkat

kepercayaan 1% dan 10%.

Sumber : Berbagai penelitian terdahulu yang diolah

(38)

2.13 Kerangka Konseptual

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh risiko likuiditas terhadap kinerja keuangan bank. Pada penelitian ini risiko likuiditas sebagai variabel independen akan diproksikan dengan lima variabel yaitu loan to deposit ratio (LDR), cash ratio, asset to loan ratio, investing policy ratio, dan liquid asset to deposit ratio (LAD). Kemudian kinerja keuangan bank sebagai variabel dependen akan diproksikan dengan dua variabel yaitu Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE). Berdasarkan uraian diatas maka dapat dilihat kerangka konseptual pada penelitian ini pada gambar 2.1 :

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

TATAta Loan to Deposit

Ratio (LDR)

Cash Ratio

Loan to Asset Ratio (LAR)

Investing Policy Ratio

Liquid Asset to Deposit Ratio

Return on Asset (ROA)

Return on Equity (ROE)

Risiko Likuiditas Financial

Performance

(39)

Kinerja keuangan bank merupakan suatu gambaran setiap hasil ekonomi yang mampu diraih suatu bank pada periode tertentu melalui kegiatan-kegiatan operasionalnya dengan tujuan mencari profit atau laba secara efektif dan efisien.

Kinerja keuangan bank dapat diukur melalui analisis data-data keuangan yang terdapat pada laporan keuangan bank. Dalam mengukur kinerja keuangan bank, kemampuan bank dalam menghasilkan laba merupakan salah satu indikator penting bagi manajemen bank maupun bagi para pemegang sahamnya untuk menentukan baik atau buruknya kinerja keuangan suatu bank. Jika kemampuan bank dalam menghasilkan laba dapat dikatakan baik, maka para investor tidak akan ragu untuk melakukan investasi pada bank yang bersangkutan.

Kemampuan bank dalam menghasilkan laba dapat dilihat dari Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) pada laporan keuangan bank. ROA adalah kemampuan bank dalam menghasilkan laba dengan mengelola aset-aset yang dimiliki bank. Sedangkan ROE adalah kemampuan bank dalam menghasilkan laba dengan cara mengelola modal yang dimiliki bank. Bank menghasilkan laba dengan cara memobilisasi dana pihak ketiga dalam bentuk kredit atau investasi lainnya. Kegiatan bank dalam memobilisasi dana akan mengancam kemampuan likuiditas bank karena minimnya kas yang tersedia pada bank sehingga bank harus memilih apakah bank akan memilih mempertahankan kemampuan likuiditas bank atau bank akan memilih laba dan memperbesar potensi terjadinya risiko likuiditas. Risiko likuiditas yang tidak diatasi dengan segera akan berdampak pada laba dan kinerja keuangan bank secara menyeluruh.

(40)

Loan to depoit ratio (LDR) digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menyalurkan kredit dengan menggunakan dana pihak ketiga yang ada pada bank. Berdasarkan regulasi yang digunakan Bank Indonesia (BI) besarnya LDR pada setiap bank harus berada pada angka 80% sampai dengan 110 %. Apabila LDR pada suatu bank berada dibawah 80% maka bank tersebut hanya dapat menyalurkan kredit dibawah standar yang ditetapkan BI sehingga dapat dilihat bahwa semakin rendah LDR pada suatu bank maka semakin rendah juga kemampuan bank tersebut dalam menyalurkan kredit secara efektif, sebaliknya semakin tinggi LDR pada suatu bank, maka bank tersebut dapat menghasilkan laba dengan menyalurkan kredit dengan efektif dengan asumsi kredit yang diberikan bank lancar atau tidak ada yang macet.

Cash ratio merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam melunasi kewajiban jangka pendek dengan aset likuid yang ada. Angka cash ratio yang terlalu tinggi pada bank dapat mengurangi kemampuan bank dalam mencari laba sehingga dapat menurunkan kinerja keuangan bank. Hal tersebut dapat terjadi karena bank akan menyimpan dana dalam jumlah besar untuk mempertahankan kemampuan likuiditas sehingga dana yang ada pada bank tidak akan produktif dan akhirnya kondisi ini akan berdampak pada laba dan kinerja keuangan bank.

Loan to Asset Ratio (LAR) adalah rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam menyalurkan kredit dengan menggunakan harta yang dimilikinya.

LAR yang rendah menyebabkan semakin rendahnya kemampuan bank dalam menyalurkan kredit secara efektif, sebaliknya semakin tinggi LAR pada suatu bank menunjukkan bahwa bank tersebut dapat menghasilkan laba dengan

(41)

menyalurkan kredit secara efektif dengan asumsi kredit yang diberikan bank lancar atau tidak ada yang macet.

Investing policy ratio digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam melunasi kewajibannya kepada pihak ketiga dengan cara melikuidasi surat-surat berharga yang dimiliknya. Ketidakpastian yang dihadapi oleh setiap bank dalam memenuhi kewajibannya kepada pihak ketiga mengharuskan setiap bank untuk mempersiapkan cadangan kas dalam bentuk surat berharga (secondary reserve) untuk mengantisipasi terjadinya penarikan dana dalam jumlah besar oleh pihak ketiga. Angka investing policy ratio yang tinggi akan berdampak negatif pada laba dan kinerja keuangan bank. Hal tersebut dapat terjadi karena bank secara terus menerus menyimpan surat berharganya sehingga surat berharga yang dimiliki bank menjadi tidak produktif dan pada akhirnya kondisi ini akan berdampak pada pendapatan dan kinerja keuangan bank.

Liquid Asset to Deposit Ratio (LAD) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu bank dalam memenuhi kewajibannya dengan pihak ketiga dengan melikuidasi aset-aset berharga yang dimiliki bank tersebut. Pada situasi terburuk bank harus melikuidasi aset-aset likuid yang dimilikinya agar tetap dapat dapat memenuhi kewajibannya kepada pihak ketiga. Angka LAD yang terlalu tinggi dapat menyebabkan menurunnya pendapatan dan kinerja keuangan bank. Kondisi tersebut dapat terjadi karena bank akan menyimpan dana dalam jumlah besar agar dapat membayar kewajibannya kepada nasabah sehingga dana yang tersedia pada bank akan menjadi tidak produktif dan akhirnya hal ini akan berdampak negatif pada laba dan kinerja keuangan bank.

(42)

2.14 Hipotesis

Berdasarkan uraian kerangka konseptual diatas, maka terdapat beberapa hipotesis pada penelitian ini sebagai berikut :

H1 : Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh signifikan terhadap Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE).

H2 : Cash Ratio berpengaruh signifikan terhadap Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE).

H3 : Loan to Asset Ratio (LAR) berpengaruh signifikan terhadap Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE).

H4 : Investing Policy Ratio berpengaruh signifikan terhadap Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE).

H5 : Liquid Asset to Deposit Ratio (LAD) berpengaruh signifikan terhadap Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE).

H6 : Loan to Deposit Ratio (LDR), Cash Ratio, Loan to Asset Ratio (LAR), Investing Policy Ratio, dan Liquid Asset to Deposit Ratio (LAD) berpengaruh signifikan terhadap Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE).

(43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian kuantitatif dengan format deskriptif bertujuan untuk menjelaskan berbagai fenomena, situasi atau berbagai variabel yang diangkat menjadi objek penelitian.

Jenis penelitian ini didasari pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan dengan format penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif bertujuan untuk menjelaskan pengaruh atau hubungan atara dua variabel atau lebih.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Indonesia dengan objek penelitian yang dipilih adalah perusahaan perbankan. Jumlah populasi yang pada penelitian ini adalah 43 perusahaan perbankan go public yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI).

Waktu yang digunakan pada penelitian dimulai dari tahun 2011 sampai 2015.

3.3 Batasan Operasional

Batasan operasional pada penelitian ini adalah :

1. Objek dari penelitian ini adalah 43 perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011-2015

(44)

2. Data yang digunakan pada penelitian ini berasal dari laporan keuangan tahunan bank go public yang telah memenuhi syarat sebagai sampel 3. Variabel yang digunakan pada penelitian ini terbagai dalam dua jenis

variabel, yaitu:

a. Variabel Independen (X) pada penelitian ini adalah risiko likuiditas yang diproksikan dengan loan to deposit rasio (LDR), cash ratio, loan to asset ratio (LAR), investing policy ratio, dan liquid asset to deposit ratio (LAD).

b. Variabel Dependen (Y) pada penelitian ini adalah kinerja keuangan bank yang diproksikan return on asset (ROA) dan return on equity (ROE).

4. Pengujian dilakukan dengan menggunakan dua variabel dependen yaitu return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) dengan menggunakan lima variabel independen yaitu loan to deposit ratio (LDR), cash ratio, loan to asset ratio (LAR), investing policy ratio, dan liquid asset to deposit ratio (LAD) dalam bentuk data panel.

3.4 Definisi Operasional Variabel

Defenisi operasional dari variabel yang digunakan pada penelitian adalah sebagai berikut :

(45)

3.4.1 Variabel Independen (X) 1. Loan to Deposit Ratio (LDR)

Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu bank dalam menyalurkan kredit dengan menggunakan tabungan nasabahnya. Rumus untuk menghitung variabel LDR adalah dengan membagikan total kredit yang disalurkan oleh bank dengan total tabungan nasabah kemudian hasil pembagian tersebut dikalikan 100%.

2. Cash Ratio

Cash Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam melunasi kewajibannya dengan menggunakan kas atau setara kas yang tersedia pada bank. Pada penelitian ini kas atau setara kas adalah giro bank terkait pada Bank Indonesia (BI) dan bank lainnya. Kemudian yang dimaksud dengan kewajiban bank adalah total seluruh kewajiban bank dalam periode satu tahun. Rumus untuk menghitung variabel ini adalah dengan membagikan total kas dan giro yang dimiliki bank pada BI atau bank lain dengan total kewajiban bank selama periode satu tahun kemudian hasil pembagian tersebut dikalikan 100%.

3. Loan to Asset Ratio (LAR)

Loan to Asset Ratio (LAR) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam menyalurkan kredit dengan aset atau harta yang dimilikinya.

Rumus untuk menghitung variabel LAR adalah dengan membagikan total

(46)

kredit yang disalurkan oleh bank dengan total aset bank, kemudian hasil pembagian tersebut dikalikan 100%.

4. Investing Policy Ratio

Investing Policy Ratio merupakan kemampuan bank dalam melunasi kewajibannya kepada pihak ketiga dengan cara melikuidasi surat-surat berharga yang dimilikinya. Pada penelitian ini yang dimaksud dengan surat berharga (securities) adalah surat berharga atau efek-efek yang bersifat marketable yang dimiliki bank terkait. Rumus untuk menghitung variabel ini adalah dengan membagikan total surat berharga (securities) bersifat marketable yang dimiliki bank dengan total tabungan nasabah kemudian hasil pembagian tersebut dikalikan 100%.

5. Liquid Asset to Deposit Ratio (LAD)

Liquid Asset to Deposit Ratio (LAD) merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan bank saat memenuhi kewajibannya kepada pihak ketiga dengan cara melikuidasi aset-aset likuid yang dimiliki bank. LAD yang besar mencerminkan kemampuan likuiditas bank yang baik. Pada penelitian ini yang dimaksud dengan aset likuid (liquid assets) adalah, giro bank terkait pada Bank Indonesia (BI) dan bank lainnya. Rumus untuk menghitung variabel LAD adalah dengan membagikan total kas dan giro yang dimiliki bank pada BI atau bank lain dengan total tabungan nasabah kemudian hasil pembagian tersebut dikalikan 100%.

(47)

3.4.2 Variabel Dependen (Y) 1. Return on Asset (ROA)

Return on Asset (ROA) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan profit atau laba dengan mengelola aset-aset yang dimiliki bank. Rumus untuk menghitung variabel ROA adalah dengan membagikan pendapatan bank sebelum pajak dengan rata- rata total aset kemudian hasil pembagian tersebut dikalikan 100%.

2. Return on Equity (ROE)

Return on Equity (ROE) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank mengahasilkan laba profit atau laba dengan mengelola modal yang ada pada bank. Rumus untuk menghitung variabel ROE adalah dengan membagikan pendapatan bank setelah pajak dengan rata-rata total modal kemudian hasil pembagian tersebut dikalikan 100%.

3.5 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah keseluruhan objek dan subjek penelitian yang dapat berupa orang, benda ataupun variabel lain yang yang memiliki kualitas serta karakteristik yang telah ditentukan peneliti sehingga dapat memberikan informasi bagi penelitian. Populasi pada penelitian ini adalah 43 perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015.

Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu untuk dijadikan perwakilan dari populasi dan dianggap dapat menggambarkan situasi yang terjadi dalam populasi secara keseluruhan. Pada penelitian ini teknik

(48)

pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Dengan teknik ini, maka pemilihan sampel dilakukan dengan cara memilih sampel yang memenuhi kriteria khusus yang telah ditetapkan. Pada penelitian ini pemilihan bank melalui kriteria berdasarkan purposive sampling yaitu memilih bank dengan kriteria sebagai berikut:

1. Perusahaan perbankan go public yang menerbitkan laporan keuangan secara konsisten di BEI selama periode 2011-2015.

2. Laporan keuangan yang dimaksud pada nomor satu adalah laporan keuangan yang dapat diolah menjadi variabel-variabel yang akan digunakan pada penelitian ini.

Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka dapat ditentukan total sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 29 bank go public yang menerbitkan laporan keuangan secara konsisten selama periode 2011-2015 dan laporan keuangan tersebut dapat diolah menjadi variabel-variabel yang akan digunakan pada penelitian ini. Daftar sampel yang akan digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.1

Tabel 3.1 Daftar Sampel Bank

No. Kode Bank Nama Bank

1. AGRO Bank Rakyat Indonesia Agro Niaga Tbk 2. BACA Bank Capital Indonesia Tbk

3. BBCA Bank Central Asia Tbk

4. BBKP Bank Bukopin Tbk

5. BBNI Bank Negara Indonesia Tbk 6. BBNP Bank Nusantara Parahyangan Tbk 7. BBRI Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 8. BBTN Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk 9.

(49)

10. BDMN Bank Danamon Tbk

11. BEKS Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk 12. BJBR Bank Daerah Jabar Banten Tbk

13. BKSW Bank QNB Indonesia Tbk

14. BMRI Bank Mandiri (Persero) Tbk

15. BNBA Bank Bumi Arta Tbk

16. BNGA Bank CIMB Niaga Tbk

17. BNII Bank Maybank Indonesia Tbk

18. BNLI Bank Permata Tbk

19. BSIM Bank Sinar Mas Tbk

20. BSWD Bank of India Indonesia Tbk

21. BTPN Bank Tabungan Pensiunan Nasional 22. BVIC Bank Victoria International Tbk 23. INPC Bank Artha Graha International Tbk 24. MAYA Bank Mayapada International Tbk 25. MCOR Bank Windu Kentjana Internasional Tbk

26. MEGA Bank Mega Tbk

27. NISP Bank OCBC NISP Tbk

28. PNBN Bank Pan Indonesia Tbk

29. SDRA Bank Woori Saudara Indonesia Tbk Sumber : www.idx.com yang diolah, lampiran 1

3.6 Jenis dan Sumber Data

Pada penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dengan melalui media perantara tertentu. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan yang dipublikasi melalui website resmi BEI (www.idx.co.id). Model yang digunakan dalam penelitian ini data panel yang merupakan penggabungan antara data time series dan cross section. Data time series biasanya meliputi satu objek tetapi meliputi beberapa periode, sedangkan data cross section terdiri dari beberapa atau banyak objek sering disebut

Referensi

Dokumen terkait

This study was conducted to examine whether LDR (Loan to Deposit Ratio), IPR (Investing Policy Ratio), ACA (Adversely Classified Asset), NPL (Non Performing Loan), IRR (Interest

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah hubungan dan pengaruh loan to deposit ratio ( LDR ) dan loan to asset ratio ( LAR ) terhadap return

Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Loan to Deposit Ratio (LDR), Loan to Asset Ratio (LAR), Return on Asset (ROA), dan Return on

Pada penelitian ini rasio yang digunakan untuk mengukur risiko likuiditas adalah. Loan Deposit

Pada peneliti ini rasio yang digunakan untuk mengukur risiko likuiditas adalah. Loan to deposit

Risiko dalam hal ini adalah risiko Kredit yang diproxykan dengan Non Performance Loan, risiko likuiditas yang diproxykan dengan Loan Deposit Ratio (LDR) , risiko

Apakah profil risiko yang diproksikan dengan rasio Non Performing Loan NIM dan Loan To Deposit Ratio LDR, Good Corporate Governance, Earning yang yang diproksikan dengan rasio Net

Untuk mengetahui Loan to Deposit Ratio LDR, Loan to Asset Ratio LAR, Net Interest Margin NIM, dan Capital Adequacy Ratio CARsecara simultan terhadap Return on Asset ROA pada Bank Umum