• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 8 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Model Pembelajaran

Menurut pendapat Joyce dalam Trianto (2009: 22), Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merancang pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain.

Sedangkan menurut Soekamto, dkk dalam Trianto (2009: 22), Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para pencanang pembelajaran dan para pengajar dalam mencanangkan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.

Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Menurut Kardi dan Nur Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur. Model pengajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode, atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah :

1) Rasional teoritis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya;

2) Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai);

3) Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan

(2)

commit to user

4) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai (Trianto, 2009: 23).

Sedangkan menurut Trianto (2009: 24),

1) Istilah model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Contohnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan meyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerja sama di antara siswa-siswa.

2) Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutannya), dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat.

Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep- konsep matematika tingkat tinggi.

3) Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks (pola ututan) dari suau model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa. Sintaks (pola urutan) dari bermacam-macam model pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama.

4) Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Misalnya, model pembelajaran kooperatif memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia

(3)

commit to user

meja dan kursi yang mudah dipindahkan. Pada model pembelajaran diskusi para siswa duduk di bangku yang disusun secara melingkar atau seperti duduk berhadap-hadapan dengan guru. Pada model pembelajaran kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain, sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru. Tabel 2.1 merupakan ikhtisar perbandingan model-model pembelajaran,

Tabel 2.1 Ikhtisar Perbandingan Model-Model Pengajaran Ciri-ciri

penting

Pengajaran Langsung

Pembelajaran Kooperatif

Pengajaran Berdasarkan

Masalah

Strategi- Strategi Belajar Landasan

Teori

Psikologi Perilaku;

Teori Belajar Sosial

Teori Belajar Sosial; Teori Konstruktivis

Teori Kognitif;

Teori Konstruktivis

Teori Pemrosesan

Informasi Pengembang

an Teori

Bandura;

Skinner

Dewey;

Vygotsky;

Slavin; Piaget

Dewey; Slavin;

Piaget

Bruner;

Vygotsky;

Shiffrin;

Atkinson Hasil Belajar Pengetahuan

deklaratif dasar;

Keterampilan akademik

Keterampilan akademik dan

sosial

Keterampilan akademik dan

inkuiri

Keterampilan kognitif dan metakognitif

Ciri Pengajaran

Presentasi dan demonstrasi

yang jelas dari materi ajar, analisis

tugas, dan tujuan perilaku

Kerja kelompok dengan ganjaran kelompok dan

struktur tugas

Proyek berdasarkan inkuiri yang dikerjakan

dalam kelompok

Pengajaran resiprokal

Karakteristik Lingkungan

Terstruktur secara ketat,

lingkungan berpusat pada guru

Fleksibel, demokratik,

lingkungan berpusat pada

guru

Fleksibel, lingkungan berpusat pada

inkuiri

Reflektif, menekankan

pada belajar bagaimana

belajar (Trianto, 2009: 26)

(4)

commit to user 2. Model SSCS (Search, Solve, Create, Share)

SSCS adalah model pembelajaran yang menggunakan pendekatan problem solving. Fokus dari penggunaan model pembelajaran SSCS adalah membantu siswa untuk melakukan pemecahan masalah secara mandiri (Sarastini, 2014: 3). Steinbach (dalam Santyasa, 2009: 4) mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis pemecahan masalah sangat penting diterapkan karena peserta didik akan lebih cepat melupakan materi yang hanya dijelaskan secara lisan dalam belajar, sebaliknya mereka akan lebih lama mengingat jika diberikan contoh, dan memahami jika diberikan kesempatan mencoba memecahkan masalah. Menurut pengertian Steinbach, model pembelajaran SSCS merupakan model pembelajaran Problem Based Learning. Pembelajaran berbasis masalah (PBL) adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan telah banyak dipakai.

PBL adalah pendekatan yang berfokus untuk membantu siswa mengembangkan diri ke arah keterampilan belajar. PBL berasal dari teori bahwa belajar adalah suatu proses di mana peserta didik secara aktif membangun pengetahuan baru atas dasar pengetahuan saat ini. PBL memberikan kesempatan siswa untuk memajukan teori, konten pengetahuan, dan pemahaman. PBL membantu siswa mengembangkan kemampuan kognitif canggih seperti berpikir kreatif, pemecahan masalah dan keterampilan komunikasi (Major dalam Awang, 2015: 482).

Problem Based Learning mendorong siswa untuk bekerja dengan beragam bahan dan alat, sebagian beralokasi di ruang kelas, sebagian lainnya di perpustakaan sekolah atau lab komputer, dan sebagian lagi di luar sekolah.

Mengorganisasikn sumber daya dan merencanakan logistik untuk investigasi siswa adalah tugas perencanaan utama pada PBL (Sugiyanto, 2010: 136).

Muhibbin Syah (2009: 127) menyatakan bahwa belajar pemecahan masalah pada dasarnya adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas. Untuk itu, kemampuan siswa dalam menguasai konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi serta insight

(5)

commit to user

(tilikan akal) amat diperlukan. Hampir semua bidang studi dapat dijadikan sarana belajar pemecahan masalah. Untuk keperluan ini, guru (khususnya yang mengajar eksakta, seperti Matematika dan IPA) sangat dianjurkan menggunakan model dan strategi mengajar yang berorientasi pada cara pemecahan masalah.

Pengertian Problem Based Learning yang terdapat dalam berbagai sumber tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa model ini dapat meningkatkan kemampuan seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kemampuan berkomunikasi siswa. Penelitian tindakan kelas ini menitik beratkan pada kemampuan komunikasi ilmiah siswa. Kemampuan ini akan ditingkatkan melalui salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada masalah.

SSCS dikembangkan oleh Pizzini pada tahun 1988. Penggunaan model ini dalam pembelajaran di kelas dapat memberikan bantuan kepada guru untuk mengembangkan kreativitas siswa dan meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran yang berorientasi pada masalah.

Menurut Pizzini,

Model pembelajaran SSCS melibatkan siswa dalam menyelidiki situasi baru, membangkitkan minat bertanya siswa dan memecahkan masalah-masalah nyata. SSCS merupakan metode pembelajaran yang memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada siswa untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan berpikir dalam rangka memperoleh pemahaman ilmu dengan melakukan penyelidikan dan mencari solusi dari permasalahan yang ada (Wulanjari, 2007: 3).

a. Tujuan pembelajaran SSCS

Menurut Pizzini (Wulanjari, 2007: 15) Model pembelajaran SSCS menyediakan kerangka kerja bagi guru untuk :

1) Membuka minat atau menimbulkan perhatian siswa dalam jangkauan yang luas

2) Memasukkan keterampilan berpikir tingkat tinggi ke dalam kurikulum ilmu pengetahuan

3) Melibatkan keaktifan semua siswa dalam proses pembelajaran

(6)

commit to user

4) Mengembangkan pemahaman bahwa terhadap hubungan di antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat yang difokuskan pada pribadi, relevan, dan masalah nyata.

Pizzini juga menyatakan bahwa model pembelajaran problem solving SSCS menyediakan kesempatan pada siswa untuk :

1) Mengalami proses problem solving.

2) Mempelajari dan memperkuat konsep dasar ilmu dengan jalan penuh arti atau lebih bermakna.

3) Memanipulasi informasi ilmiah

4) Menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

5) Mengembangkan metode ilmiah dengan menggunakan ilmu sebagai alat.

6) Mengembangkan ketertarikan/minat terhadap ilmu pengetahuan dan kepercayaan kepada ilmu melalui tindakan ilmu.

7) Mengalami bagaimana ilmu pengetahuan berkreasi dan berkembang.

8) Mempertanggungjawabkan belajarnya sendiri.

9) Bekerja sama (kooperatif) dengan yang lainnya.

10) Menggabungkan grafik, gambar, komputer seni bahas, dan jenis keterampilan lainny dalam keseluruhan cara (Wulanjari, 2007: 15).

b. Siklus Pembelajaran SSCS

SSCS praktis, efektif, dan simpel untuk digunakan. Pada tahap search siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan penyelidikan tentang topik yang mereka sukai untuk diselidiki. Selanjutnya pada tahap solve siswa membuat desain untuk rancangan yang akan digunakan untuk penyelidikan untuk mencari jawaban atas penyelidikan-penyelidikannya.

Setelah melakukan penyelidikan, siswa menganalisa dan menginterpretasikan data yang diperolehnya. Siswa selanjutnya menentukan cara yang akan digunakan untuk mengkomunikasikan temuannya, dan tahap ini merupakan tahap create. Tahap terakhir adalah share. Pada tahap ini siswa membagi atau memberikan hasil dan evaluasi dari penyelidikan yang dilakukannya. Menurut Sarastini (2014: 3) “Pada tahap share siswa mempresentasikan atau menampilkan temuan, hasil, maupun kesimpulan yang diperoleh selama bekerja kelompok di depan kelas dan

(7)

commit to user

mengevaluasi solusi pemecahan masalah yang sudah diterapkannya dan

“mengkomunikasikan penyelesaian yang diperolehnya (share)” (Irwan: 2011:4).

Pelaksanaan pembelajaran SSCS di kelas melalui tahap atau siklus Search Solve Create and Share. Alur metode pembelajaran SSCS menurut Pizzini (Wulanjari, 2007: 16-19) adalah sebagai berikut:

1) SEARCH

Tahap search terdiri dari:

a) Menyebutkan fakta

Fakta yang disebutkan berupa faktor informasi yang diketahui dan berhubungan dengan situasi. Biasanya digunakan empat pertanyaan who (siapa), what (apa), when (kapan), dan how (bagaimana) dari suatu masalah.

b) Menganalisis fakta

Pada tahap ini dilakukan observasi dan analisis dari informasi yang kita ketahui. Merumuskan pertanyaan dan mencari jawaban yang berhubungan dengan masalah. Mengumpulkan data tambahan jika perlu.

c) Menyebutkan masalah

Merupakan cara mendefinisikan masalah dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. Bertanya “mengapa” pada setiap pertanyaan sering membantu untuk membuat jalan baru dari sebuah gagasan. Kemudian beberapa uraian baru dari masalah tersebut dipilih salah satu yang dianggap pertanyan terbaik dari suatu masalah.

d) Brainstorming (ilham)

Mengikutsertakan ilham untuk menghubungkan gagasan sebanyak-banyaknya, untuk menghubungkan gagasan lebih luas,dan untuk ide atau gagasan yang kreatif.

Pada rencana pelaksanaan pembelajaran, di setiap pertemuan dikemukakan masalah yang harus didiskusikan dalam pembelajaran.

(8)

commit to user

Motivasi atau brainstorming juga dilakukan untuk memancing siswa untuk berpikir guna memecahkan masalah yang ada.

2) SOLVE

Tahap Solve terdiri dari:

a) Menentukan kriteria

Identifikasi dari daftar kriteria akan digunakan dalam memilih alternatif (solusi) terbaik.

b) Mempertimbangkan solusi alternatif

Sifat dari suatu masalah dan pertanyaan research biasanya menghasilkan tipe dari investigasi untuk dilakukan. Penentuan metode research yang tepat adalah sangat penting pada tingkat ini.

c) Meneliti dengan cermat dari solusi dan atau prosedur

Siswa diharapkan terus berpikir mengenai solusi, mencoba untuk memprediksi kesulitan apa yang mungkin dapat diatasi.

d) Menyatakan rencana

Siswa yang akan terlibat dalam membawa keluar pada tahap ini, banyak masalah yang harus diatasi dengan solusi dan informasi yang lain yang berhubungan. Pengumpulan dan pengorganisasian data harus diselesaikan pada tahap ini.

Tahap ini dilakukan siswa saat melakukan diskusi untuk memecahkan masalah. Siswa mencari dari berbagai sumber (internet, buku pegangan, LKS mauun sumber lain) yang digunakan sebagai sumber untuk memecahkan masalah yang ada.

3) CREATE

Pada tahap ini terdiri dari:

a) Pelaksanaan rencana

Rencana dapat dilakukan dengan membuat suatu langkah pembuatan atau penyampaian solusi dari permasalahan yang ada.

b) Mengartikulasikan pikiran

c) Memperlihatkan data dan analisis

(9)

commit to user

Tahap ini dapat berupa memperlihatkan gambar grafik hasil praktikum maupun memperihatkan hasil analisis dengan perhitungan.

d) Memilih pendengar untuk berbagi

Pendengar yang dimaksud adalaha siswa teman sekelas.

e) Memilih jalan presentasi untuk berbagi

Presentasi yang dilakukan menggunakan media atau masuk ke dalam kelompok lain, di depan kelas secara grup maupun perorangan sebagai perwakilan.

f) Menerapkan prinsip karya/cipta

Tahap create diimplementasikan dengan membuat pemecahan masalah dalam bentuk konsep pemecahan masalah maupun produk.

4) SHARE

Tahap ini terdiri dari : a) Menampilkan solusi

b) Mengkomunikasikan solusi secara verbal dan atau secara visual Dapat dilakukan dengan ucapan atau dalam tulisan, gambar- gambar, atau model.

c) Mengevaluasi balikan yang diterima dari lainnya.

Siswa dapat mencatat setiap balikan atau tanggapan dai temannya, agar dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memecahkan masalah.

d) Merefleksikan dalam keefektifan sebagai pemecah masalah.

Siswa memilih dari berbagai macam solusi yang paling efektif Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalam penelitian ini mengimplementasikan tahap share pada setiap pertemuannya. Presentasi kelompok dan diskusi antar kelompok merupakan langkah implementasi tahap share.

3. Peran Guru dalam SSCS

Guru memainkan peranan penting dalam pelaksanaan metode pembelajaran SSCS. Peran ini dijalankan untuk memfasilitasi dan

(10)

commit to user

mempertinggi pengalaman belajar siswa. Peran guru dalam pembelajaran SSCS diantaranya yaitu memilih strategi pembelajaran untuk siswa, mengecek kelayakan rencana investigasi siswa, memonitor kemajuan siswa, memotivasi siswa untuk mengembangkan gagasannya, memotivasi siswa untuk membuat penjelasan, desain dan solusi dari suatu permasalahan. Peran ini harus terus menerus ditekankan dan dipraktekan selama proses belajar mengajar.

Guru mempunyai peran khusus pada masing-masing tahap tersebut.

Menurut Pizzini dalam Wulanjari (2007: 19): peran guru untuk setiap tahap pada siklus adalah sebagai berikut:

1) Search

a. Memfasilitasi pemilihan area belajar

b. Menyediakan pengalaman untuk membangkitkan pertanyaan

c. Memimpin dan menjamin pemeliharaan lingkungan tanpa keputusan.

d. Membantu, mengklarifikasi, dan menyaring pertanyaan.

2) Solve

a. Membuat pedoman yang berhubungan dengan keamanan sumber dan waktu

b. Menanyakan pertanyaan untuk membantu menjelaskan observasi siswa, berpikir, dan membantu siswa mempertimbangkan alternatif.

c. Membantu siswa dalam menghubungkan pengalaman ke dalam idenya d. Membuat instruksi dalam penggunaan peralatan dan teknis

e. Membantu dalam pengembangan metode pada pengumpulan dan pencatatan data.

f. Membantu siswa dalam perolehan informasi dan data.

3) Create

a. Memberikan kesan pada kemungkinan produk dan pendengar b. Membuat instruksi dalam analisa data dan teknis tampilan data c. Membuat instruksi dalam tampilan produk

4) Share

a. Menekankan iklim beresiko rendah.

b. Memfasilitasi interaksi diantara pendengar dan penyaji (presenter).

c. Membantu dalam mengembangkan metode evaluasi untuk investigasi dan presentasi.

4. Implementasi Model SSCS

Model SSCS ini mudah untuk diimplimentasikan ke dalam pembelajaran, karena alur dan setiap langkah kegiatannya jelas. Menurut Hendrastuti (2010: 16) yaitu sebagai berikut:

(11)

commit to user a. SEARCH

1) Pengkatalisasian pertanyaan

Pertanyaan siswa merupakan masalah yang perlu disediakan iklim untuk pemodelan pertanyaan siswa secara terus (secara teratur guru memberikan pertanyaan ilmiah) dan penerimaan (menghargai keingintahuan siswa). Situasi yang bervariasi mampu membuat siswa menggenerasikan pertanyaan, melalui:

a) Kejadian yang tak sesuai.

b) Koran dan majalah

c) Penggalan alat ilmiah yang baru d) Bab dari buku teks atau umum

e) Kejadian-kejadian khusus seperti rapat, kerja lapangan, atau pidato.

f) Topografi

g) Investigasi laboratorium

2) Strategi pengajaran untuk menggeneralisasikan pertanyaan

a) Sebelum memulai unit baru, guru membantu siswa tentang apa yang mereka ketahui mengetahui topik yang baru dan apakah mereka ingin mencari tahu.

b) Sesion perumusan masalah berguna dalam menyusun ide yang dapat diteliti.

c) Semakin banyak semakin baik.

d) Ide yang dirasa aneh tetap baik

e) Piggybacking (pengembangan masing-masing ide yang lain) tetap bagus

f) Menghormati pendapat sampai selesai sesi perumusan

Beberapa ide manajemen yang dicoba guru untuk perumusan masalah termasuk:

a. Perumusan masalah dalam kelompok kecil, kemudian kelompok besar.

b. Menyuruh masing-masing siswa mencatat ide-ide yang terdengar menarik (ini akan membantu di kemudian hari).

(12)

commit to user

c. Meminta siswa secara individual menulis beberapa ide sebelum sesi kelompok dimulai.

d. Mencatat semua ide.

e. Mengelilingi kelas dan ambil bagian.

f. Contoh model pertanyaan yang dapat diteliti oleh guru.

g. Pengumuman topik berikutnya pada sesi perumusan masalah yang lebih sulit.

h. Memberi semangat kelompok individual, atau seluruh kelas untuk membuat jaringan seputar topik yang khas.

3) Meringkas Daftar

a) Menyuruh siswa menyusun daftar (1) Menghilangkan duplikat

(2) Menyelesaikan item yang tidak sesuai (3) Mengkombinasikan ide-ide

(4) Menambahkan ide-ide baru (5) Mengkategorikan ide-ide tersebut

b) Siswa dapat meringkas topik-topik dengan memfokuskan pada satu bagian

c) Memulai mengevaluasi daftar

(1) Membuat pertanyaan yang tidak resertabel.

(2) Membuang pertanyaan yang tidak mungkin dibahas pada waktu itu

(3) Menyeleksi pertanyaan yang mengundang minat yang tinggi 4) Penyeleksian Permasalahan-Permasalahan Terakhir

Penggunaan kriteria membantu para siswa dalam penyelesaian masalah akhir terbaik mereka. Para siswa harus menyeleksi dan menggunakan kriteria yang relevan dengan topik yang sedang diinvestigasi. Kriteria yang mungkin untuk pemilihan permasalahan :

a) Minat

b) Fasilitas dan peralatan

(13)

commit to user c) Waktu

d) Keamanan e) Kepraktisan

f) Tujuan dan relevansi

g) Pengetahuan dari narasumber

h) Latar belakang peneliti/ keterampilan peneliti i) Ketersediaan literatur

5) Penyempurnaan Pertanyaan

a) Pernyataan permasalahan harus jelas, sederhana dan ringkas.

b) Pernyataan tersebut harus menjelaskan secara pasti apa yang peneliti inginkan untuk diketahui.

c) Semua kondisi dan parameter yang penting dikhususkan.

d) Semua istilah yang tidak jelas harus didefinisikan b. SOLVE

1) Tipe investigasi

Pertanyaan-pertanyaan dapat diinvestigasikan dengan menggunakan variasi metode penelitian. Tiga metode penelitian akan dijabarkan sebagai berikut:

a) Penelitian deskriptif berarti pengukuran sampel secara sistemik.

Contoh : survey, observasi, interview

b) Penelitian korelasional melibatkan perbandingan 2 set pengukuran sampel untuk menentukan jika terdapat hubungan antar variabel (contohnya hubungan antara tinggi dan berat, ukuran dan angka kecepaan jantung atau merokok dan lamanya hidup),

c) Penelitian eksperimental meneliti sebab akibat. Variabelnya harus benar-benar dikontrol.

2) Pengembangan rencana

a) Merumuskan semua kemungkinan cara untuk memecahkan masalah.

b) Menulis langkah demi langkah.

c) Menyerahkan rencana guru untuk persetujuan.

(14)

commit to user

d) Menyerahkan rencana untuk kelompok lain untuk dikritik.

e) Mengembangkan rencana kelas, kemudian diselesaikan secara kelompok kecil.

3) Penemuan perlengkapan kebutuhan Masing-masing kelompok harus:

a) Membuat permintaan peralatan sebelum memulai tahap solve.

b) Membuat daftar kebutuhan bahan secara tertulis untuk tahap solve.

c) Mengindikasikan item untuk disuplay oleh guru dan masing- masing anggota kelompok.

d) Menunjuk salah satu anggota kelompok yang berwenang untuk memperbaiki dan mengembalikan bahan untuk penyediaan tempat di ruang kelas.

4) Pengumpulan Data dan Organisasi Siswa harus:

a) Memprediksi hasil sebelum menyimpulkan data b) Mendesain data sebelum mengumpulkannya

c) Menyerahkan desain untuk mendapat persetujuan guru atau kritik dari kelompok lain

d) Menanyakan kepada diri sendiri “apakah hasil tersebut memberikan perubahan?”

e) Siswa mungkin membutuhkan bantuan dalam menjaga investigasi c. CREATE

1) Menganalisis data dan mendisplay a) Mengukur tendensi sentral b) Mengukur variabel

c) Korelasi (hubungan)

d) Memilih audience untuk presentasi e) Memilih tempat untuk presentasi f) Menyiapkan presentasi

d. SHARE 1) Praktek

(15)

commit to user

a) Ketika siswa pada tahap create, dia dapat memulai praktek di depan audience/siswa

b) Siswa harus berkonsentrasi pada presentator ketika mempresentasikan

c) Siswa harus menyatakan mengeluarkan pendapat pada sesi ini dan mengkritik

2) Presentasi

a) Guru melihat perbuatan dan mengevaluasi pada kelompok yang presentasi

b) Guru memberi semangat kepada presenter untuk membawa serta audience dengan :

(1) Menyimulasikan penyelidikan

(2) Menanyakan pada audience untuk memprediksi kesimpulan (3) Membuat pre test/post test

c) Setelah presentasi, guru memberi waktu untuk berdiskusi dengan cara:

(1) Memberi komentar positif tentang presentasinya dan investigasi

(2) Menghubungkan pertanyaan dengan yang diinvestigasi d) Evaluasi topik yang dipresentasikan dan mengambil keputusan Sebuah model pembelajaran memiliki sintaks atau tahapan dalam pembelajaran. Tabel 2.2 berisi sintaks pelaksanaan Search, Solve, Create, and Share (SSCS).

(16)

commit to user

Tabel 2.2. Sintaks Search, Solve, Create, and Share (SSCS)

Fase Perilaku Guru

Fase 1 : Mendefinisikan masalah (Search)

Guru menciptakan situasi yang dapat mempermudah muncul- nya pertanyaan, menciptakan dan mengarahkan kegiatan,

membantu dalam

pengelompokan dan

penjelasan permasalahan yang muncul

Fase 2 : Mendesain solusi (Solve)

Guru menciptakan situasi yang menantang bagi siswa untuk berpikir, membantu siswa mengaitkan pengalaman yang sedang dikembangkan dengan ide, pendapat atau gagasan siswa tersebut, memfasilitasi siswa dalam hal memperoleh informasi dan data

Fase 3 : Memformulasikan hasil (Create)

Guru mendiskusikan kemungkinan penetapan audien dan audiensi, menyediakan ketentuan dalam analisis data dan teknik penayangannya, menyediakan ketentuan dalam menyiapkan presentasi

Fase 4 : Mempresentasikan hasil (Share)

Guru menciptakan terjadinya interaksi antara kelompok/

diskusi kelas, membantu mengembangkan metode atau cara-cara dalam mengevaluasi hasil penemuan studi selama persentasi, baik secara lisan maupun tulisan

(Sumber. Ekantara, 2011: 31) Model SSCS memiliki empat fase yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran. Keempat fase ini dapat diimplementasikan dalam K13.

K13 menerapkan 5 M, yaitu mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. SSCS menggabungkan fase menanya dan mengeksplorasi dalam tahapan Solve.

(17)

commit to user 5. Komunikasi Ilmiah

Komunikasi berasal dari kata latin “communicare” yang artinya membuat jadi biasa, berbagi, mengimpor dan mentranmisikan dan selanjutnya dari kata ini muncul kata communication, communicate, communicator dan sebagainya. Komunikatif merupakan salah satu karakter yang telah ada dalam diri siswa sejak lahir namun sangat perlu untuk dikembangkan. Menurut Kemendiknas (2010: 9) komunikatif adalah tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerjasama dengan orang lain. Totalitas psikologis dan sosiologis cultural mengelompokkan komunikatif ke dalam bagian Olah Raga (Wibowo, 2011:46). Siswa dengan komunikasi yang baik akan banyak bertanya maupun berpendapat mengenai materi pembelajaran di kelas maupun informasi yang diperolehnya dari lingkungan sekitarnya. Untuk itu karakter komunikatif perlu dikembangkan pada diri siswa agar siswa dapat berkomunikasi dengan baik.

Wrench dkk menjelaskan bahwa sekitar 20% siswa di sekolah mungkin menderita ketakutan dalam komunikasi. Komunikasi verbal siswa cenderung rendah dan hanya muncul ketika siswa dipaksa. Komunikasi ini adalah ranah kognitif yang berpusat pada ketakutan untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Padahal, penguatan proses pembelajaran kurikulum 2013 dilakukan melalui pendekatan ilmiah, yaitu pembelajaran yang mendorong siswa lebih mampu dalam mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan.

Salah satu kompetensi yang dituntut pula pada mata pelajaran Fisika sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam (IPA) adalah kemampuan melakukan kerja ilmiah. Depdiknas (2003: 10) dalam panduan Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaiaan menyatakan bahwa “kerja ilmiah mempunyai empat kompetensi dasar yaitu merencanakan penelitian ilmiah, melaksanakan penelitian ilmiah, mengkomunikasikan hasil penelitian ilmiah, dan bersikap ilmiah”. Oleh karena itu, peningkatan komunikasi dalam diri siswa perlu dilakukan.

Komunikasi ilmiah (scholarlyor scientific communication) adalah komunikasi yang umumnya berkaitan dengan kegiatan-kegiatan penelitian atau penyelidikan, khususnya di lingkungan akademik.

(18)

commit to user

Komunikasi ilmiah dijelaskan oleh Depdiknas (2003: 3) adalah salah satu standar kompetensi dasar kerja ilmia. Siswa mampu menyajikan hasil penelitian dan kajiannya dengan berbagai cara kepada berbagai kelompok sasaran untuk berbagai tujuan (komunikasi ilmiah). Kompetensi komunikasi ilmiah (mengkomunikasikan hasil kerja/penelitian ilmiah) merupakan salah satu kompetensi dasar dari kegiatan ilmiah yang mempunyai bebarapa indikator didalamnya.

Sang (2007) menuliskan bahwa “Komunikasi ilmiah berkaitan dengan pemanfaatan dan penyebaran informasi di lingkungan akademik baik melalui saluran formal maupun informal”. Mulyanto (2011: 6) mengungkapkan,

“komunikasi ilmiah memiliki empat aspek, yaitu kemampuan menyampaikan, kemampuan menerima, kepribadian dan kejelasan”.

Penelitian ini menggunakan lima aspek komunikasi ilmiah yang dikemukakan oleh Karso dkk. Hal ini dikarenakan aspek komunikasi ilmiah yang disampaikan oleh Mulyanto mengarah ke aspek afektif, sedangkan komunikasi ilmiah yang ingin dicapai dalam penelitian ini mengarah pada ranah kognitif.

Tabel 2.3 Aspek Komunikasi Ilmiah Menurut Mulyanto Komunikasi Ilmiah

Aspek Penilaian Indikator

1. Kemampuan menyampaikan 1. Komunikasi yang menyenangkan 2. Kelancaran

3. Pemikiran/ide baru 2. Kemampuan menerima 4. Akurasi jawaban

5. Kemampuan mencerna jawaban

3. Kepribadian 6. Menghormati

7. Tanggapan 8. Keaktifan

9. Memberikan pendapat

10. Mendengarkan pendapat teman

4. Kejelasan 11. Kejelasan topik

12. Akurasi pertanyaan

13. Kemampuan mencerna pertanyaan (Mulyanto. 2011: 6)

(19)

commit to user

Karso dkk (1993) mengungkapkan bahwa indikator komunikasi ilmiah meliputi : (a) menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematik dan jelas, (b) menjelaskan hasil percobaan, (c) mendiskusikan hasil percobaan, (d) mengklasifikasikan data dan menyusun data serta (e) menggambarkan data dalam grafik, tabel, atau diagram. Sutardi (2008) dalam Mutmainah (2015: 32) mengungkapkan kemampuan siswa berkomunikasi ilmiah meliputi kemampuan membuat tabel perhitungan, membuat grafik, dan mengintepretasikan grafik. Kemampuan berkomunikasi ilmiah dapat diukur dengan pengamatan terhadap siswa dalam praktikum.

a. Menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematik dan jelas

Penyusunan laporan praktikum merupakan salah satu kegiatan dalam proses belajar mengajar dalam Fisika. Laporan praktikum juga menjadi salah satu aspek penilaian dalam nilai tugas yang akan diberikan pada setiap praktikan. Pembuatan laporan Praktikum Fisika ditujukan agar siswa dapat belajar untuk mengemukakan pendapat/berkomunikasi dengan tulisan. Laporan Praktikum Fisika melatih siswa agar dapat mempersiapkan diri untuk praktikum, menganalisis hasil praktikum dan membuat perhitungan untuk menentukan besaran Fisika, mengetahui beberapa besaran dari percobaan, menganalisa kesalahan dan akhirnya membuat kesimpulan secara keseluruhan. Menurut Yuli (2011) format laporan praktikum yang benar meliputi :

1) Halaman Sampul yang berisi judul praktikum dan identitas praktikan.

2) Tujuan Praktikum yang berisi tujuan praktikum sesuai dengan percobaan yang dilakukan.

3) Dasar Teori yang menguraikan teori, temuan, dan bahan referensi lain yang diperoleh dari acuan, yang dijadikan landasan untuk melakukan suatu praktikum. Dasar Teori dibawa untuk menyusun kerangka atau konsep yang akan digunakan dalam praktikum yang mengacu pada Daftar Pustaka. Sumber pustaka yang digunakan diiusahakan pustaka terbaru, relevan dan asli dari buku, artikel, atau jurnal ilmiah.

(20)

commit to user

4) Alat berisi semua alat yang digunakan, jika ada tuliskan spesifikasinya (merk dan ukuran).

5) Bahan berisi semua bahan yang digunakan beserta spesifikasinya.

6) Prosedur Kerja/Cara kerja berisi langkah kerja yang bisa dalam bentuk diagram alir (flowchart) sedemikian hingga prosedur kerja tidak berupa kalimat. Jika menggunakan kata kerja, gunakan bentuk kata kerja pasif. Flowchart dibuat dengan bagan-bagan yang mempunyai arus yang menggambarkan langkah atau prosedur dalam percobaan yang dibuat secara sederhana, terurai, rapi dan jelas dengan menggunakan simbol-simbol standar.

7) Data Pengamatan yang berisikan semua data setiap langkah yang dilakukan sesuai dengan hasil percobaan. Data pengamatan dapat dibuat dalam bentuk tabel atau kalimat yang sederhana. Data pengamatan dituliskan sesuai dengan urutan prosedur kerja yang telah dilakukan yang merupakan jawaban sementara dari tujuan percobaan.

Penulisan data pengamatan yang baik akan memudahkan dalam penyusunan analisis data, pembahasan dan kesimpulan.

8) Analisa data berisi data dengan perhitungan atau dengan suatu uji statistika sesuai dengan tujuan percobaan.

9) Pembahasan menguraikan semua langkah yang telah dilakukan (bukan berisi cara kerja), hasil dan data yang telah dicapai, dan kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan. Pembahasan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah. Kalimat ditulis mengikuti kaidah penulisan kalimat yang baik, yang terdiri dari subyek, predikat, obyek, dan keterangan. Pembahasan minimal menguraikan jawaban pada pertanyaan pada buku panduan. Gunakan berbagai sumber referensi sebagai pembanding.

10) Kesimpulan berisi jawaban sesuai dengan tujuan percobaan yang ditulis dalam kalimat yang sederhana.

11) Lampiran berisi laporan sementara dan lampiran pendukung lain jika diperlukan.

(21)

commit to user b. Menjelaskan hasil percobaan

Kemampuan menjelaskan hasil pengamatan merupakan kemampuan siswa dalam memaparkan temuan atau data yang mereka alami saat melakukan percobaan. Data hasil praktikum tidak hanya dikumpulkan dan diolah, tetapi juga perlu disajikan dalam bentuk yang mudah dibaca dan dimengerti oleh pengambil keputusan. Penyajian data ini bisa dalam bentuk tabel dan grafik, oleh karena itu lebih dengan cepat ditangkap dan dimengerti. Tabel adalah kumpulan angka-angka yang disusun menurut kategori. Grafik adalah gambaran yang menunjukan secara visual data berupa angka. Hasil pengamatan yang akan diamati dalam penelitian ini adalah sajian data dengan tabel ataupun dengan grafik dan mencangkup semua hasil pengamatan. Hasil percobaan ini dijelaskan di dalam laporan praktikum siswa.

c. Mendiskusikan hasil percobaan

Diskusi sebagai metode pembelajaran adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling tukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka.

Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251) dalam Mutmainah (2015: 35). Manakala salah satu diantara siswa berbicara, maka siswa-siswa lain yang menjadi bagian dari kelompoknya aktif mendengarkan. Siapa yang berbicara terlebih dahulu dan begitu pula yang menanggapi, tidak harus diatur terlebih dahulu.

Dalam berdiskusi, seringkali siswa saling menanggapi jawaban temannya berkomentar terhadap jawaban yang diajukan siswa lain.

Demikian pula mereka kadang-kadang mengundang anggota kelompok lain untuk bicara, sebagai narasumber. Dalam penentuan pimpinan diskusi, anggota kelompok dapat menentukan pemimpin diskusi mereka sendiri. Sehingga melalui metode diskusi, keaktifan siswa

(22)

commit to user

sangat tinggi (Mc.Keachie dan Kulik , 1984) dalam Mutmainah (2015:

35).

Menurut Maiyer (dalam Depdikbud, 1983) dalam Mutmainah (2015: 36) diskusi kelompok kecil dapat meningkatkan siswa untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah. Untuk itu, bilamana guru menginginkan keterlibatan anak secara maksimal dalam diskusi, maka jumlah anggota kelompok diskusi perlu diperhatikan guru. Jumlah anggota kelompok diskusi yang mampu memaksimalkan partisipasi anggota adalah antara 3-7 anggota. Dari hasil pengamatan, kelompok diskusi yang jumlah anggotanya antara 3- 7 itu saja, anggota yang diduga kurang berpartisipasi penuh berkisar 1-2 orang. Dalam diskusi dengan jumlah anggota yang relatif kecil memungkinkan setiap anak memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi.

Masalah atau isu yang dijadikan topik diskusi hendaknya yang sesuai dengan minat anak. Masalah diskusi yang sesuai dengan minat anak dapat mendorong keterlibatan mental dan emosional siswa secara optimal.

Melalui penggunaan metode diskusi, siswa juga mendapat kesempatan untuk latihan berkomunikasi ilmiah dan mengembangkan strategi berfikir dalam memecahkan masalah. Namun demikian pembelajaran dengan metode diskusi semacam ini keberhasilannya sangat bergantung pada anggota kelompok itu sendiri dalam memanfaatkan kesempatan untuk berpatisipasi dalam pembelajaran. Untuk meningkatkan proses diskusi, peranan pemimpin sangat menentukan.

d. Mengklasifikasikan data dan menyusun data

Klasifikasi adalah sebuah proses untuk menemukan model yang menjelaskan atau membedakan konsep atau kelas data, dengan tujuan untuk dapat memperkirakan kelas dari suatu objek yang kelasnya tidak diketahui (Tan dkk, 2004). Data yang telah dikumpulkan dan diolah baik dari populasi maupun dari sampel selanjunya perlu ditata atau diorganisir, yaitu disajikan secara sistematis dan rapi sehingga dapat dengan mudah dan cepat dimengerti oleh orang lain,yang berkepentingan dengan data

(23)

commit to user

tersebut. Seperti para pengambil keputusan atau eksekutif, manager, direktur dan lainya. Secara garis besar ada dua cara untuk menyajikan data yaitu dengan tabel dan grafik.

Penyajian data dengan tabel atau grafik saling berkaitan satu sama lainya, karena sebelum dibuat grafik terlebih dahulu di buat tabel.

Penyajian dengan grafik dikatakan lebih komunikatif, karena dalam waktu singkat seseorang dapat dengan cepat memperoleh gambaran dan kesimpulan mengenai suatu keadaan dengan membaca data tabel dan grafik. Dalam pengumpulan dan pengolahan data ada dua cara metode yang digunakan, yaitu metode secara elektronik dan manual. Metode elektronik adalah pengembangan ilmu pengetahuan di bidang komputer yang sangat membantu kegiatan statistik.Sedangkan metode manual adalah umumnya dilakukan untuk jumlah observasi yang tidak terlalu banyak.

e. Menggambarkan data dalam grafik, tabel, atau diagram

Hasil suatu percobaan dapat disajikan melalui tiga jenis penyajian yakni : penyajian tekstual, penyajian tabular, dan penyajian grafik. Lazimnya, praktikan menyajikan dengan kombinasi dua teknik yaitu tekstual dan tabular, dan/atau tekstual dan grafik, maksudnya, data disajikan melalui teks secara naratif, kemudian informasi yang sama juga disajikan lagi dengan menggunakan tabel atau grafik. Dalam penyajian tekstual, peneliti diwajibkan untuk mendeskripsikan data sejenis dan serinci mungkin, tetapi tidak harus menyajikan semua hal, yang harus disajikan secara naratif adalah hal yang menonjol dari data tersebut, misalnya presentase (frekuensi) terbesar, presentase (frekuensi) terkecil, rerata terkecil, rerata terbesar, atau hubungan yang bermakna.

(24)

commit to user 6. Materi Alat-Alat Optik

a) Mata dan Kacamata

Gambar 2.1. Mata Keterangan:

- Kornea merupakan bagian luar yang melindungi susunan mata bagian dalam yang lembut.

- Retina adalah bagaian syaraf yang sangat sensitif terhadap cahaya.

- Lensa mata (lensa cembung) berfungsi untuk memusatkan cahaya yang masuk ke dalam mata

- Iris merupakan bagian otot yang dapat mengatur sinar yang masuk ke mata, menambah atau mengurangi cahaya yang masuk ke mata.

- Pupil (biji mata) yaitu lubang yang memungkinkan cahaya masukKornea merupakan lapisan pelindung mata yang jernih - Syaraf optik atau syaraf penglihatan berfungsi untuk

menghantarkan sinyal-sinyal (isyarat-isyarat) listrik ke otak. Di otak sinyal tersebut diolah, kemudian timbul pesan informasi dari apa yang dilihat (Utomo, 2009: 78).

Tidak seperti kamera, mata memiliki shutter. Operasi ekivalennya dilakukan oleh system saraf, yang menganalisa sinyaluntuk membentuk bayangan dengan kecepatan sekitar 30 per detik. Bilangan ini dapat dibandingkan dengan kamera film atau televisi, yang bekerja dengan mengambil serangkaian gambar diam yang bekerja dengan kecepatan 24 (film) atau 30 (televise Amerika Serikat) per detik. Proyeksi yang cepat dari gambar-gambar ini pada layar memberikan kesan bergerak (Giancoli, 2001: 334).

(25)

commit to user

Perhatikan diagram pembiasan cahaya pada mata berikut ini.

Gambar 2.2. Pembiasan Cahaya pada Mata (Utomo, 2009: 80)

Semua benda yang teramati terletak di ruang III yaitu berjarak lebih besar dari 2 F. Sifat-sifat bayangan yang terbentuk di retina :

1. Nyata 2. Terbalik 3. Diperkecil

4. Di ruang II(Utomo, 2009: 80).

Gambar 2.3. Proses Pembentukan Bayangan di Retina (Karyono, 2007: 81)

Benda yang tingginya y terletak pada jarak S maka tampak kecil karena bayangan yang terbentuk di retina kecil dengan tinggi bayangan y’.

Bayangan yang ditangkap di retina adalah nyata, terbalik, dan diperkecil.

Otak kitalah yang menerjemahkan sehingga kalau kita melihat suatu benda maka kita dapat melihat seolah-olah bayangan tegak dan tidak terbalik.

Jika kemampuan otot siliari untuk mengatur kelengkungan lensa mata kurang maka dapat berakibat lensa mata kurang cembung. Hal ini mengakibatkan cahaya pembentuk bayangan yang terbentuk akan jatuh di belakang retina seperti ditunjukkan pada Gambar 2.4

(26)

commit to user

Gambar 2.4. Proses Pembentukan Bayangan yang Terbentuk di Belakang Retina pada Orang yang Menderita Rabun Dekat (Giancoli, 2001: 335)

Orang yang mempunyai kelainan seperti ini disebut rabun jauh.

Kelainan semacam ini dapat diatasi dengan memasang lensa positif atau kaca mata berlensa cembung (positif). Kacamata berlensa cembung membantu cahaya pembentuk bayangan tetap jatuh di retina. Proses pembentukan bayangan di retina pada orang yang menderita rabun dekat ditunjukkan pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5. Proses Pembentukan Bayangan di Retina pada Orang yang Menderita Rabun Dekat dengan Bantuan Lensa Positif (Giancoli, 2001: 335)

Jika kemampuan otot siliari terlalu kuat dan berakibat lensa mata terlalu cembung maka bayangan yang terbentuk akan jatuh di depan retina, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.6.

(27)

commit to user

Gambar 2.6. Proses Pembentukan Bayangan yang Terbentuk di Depan Retina pada Orang yang Menderita Rabun Jauh (Giancoli, 2001: 335)

Orang yang mempunyai kelainan seperti ini disebut rabun jauh.

Kelainan semacam ini dapat diatasi dengan memasang lensa negatif atau memakai kaca mata berlensa cekung (negatif). Kacamata berlensa cekung membantu cahaya pembentuk bayangan benda tetap terbentuk di retina.

Proses pembentukan bayangan di retina pada orang yang menderita rabun jauh ditunjukkan pada Gambar 2.7.

Gambar 2.7. Proses Pembentukan Bayangan di Retina pada Orang yang Menderita Rabun Jauh dengan Bantuan Lensa Negatif (Giancoli, 2001: 335)

Hubungan antara posisi benda, bayangan yang terbentuk dan panjang fokus suatu lensa tipis dapat ditulis dalam rumus matematik:

(2.1)

dengan:

s = jarak benda ke mata,

s’= jarak bayangan ke mata, dan

(28)

commit to user f = panjang fokus lensa.

Kemampuan suatu lensa positif untuk mengumpulkan cahaya atau kemampuan lensa negatif untuk menyebarkan cahaya dinyatakan dengan istilah kekuatan lensa (P) yaitu:

(2.2)

P = kekuatan lensa (D = dioptri);

f = panjang fokus lensa (m).

Untuk panjang fokus suatu lensa 1 m maka kekuatan lensa tersebut 1 dioptri. Mata adalah suatu alat optik yang terdiri atas 1(satu) lensa positif. Alat optik yang juga terdiri atas 1 (satu) lensa adalah lup atau kaca pembesar.

b) Lup (Kaca Pembesar)

Lup adalah alat optik yang hanya mempunyai satu lensa. Lup digunakan untuk melihat benda yang kecil agar tampak lebih besar. Lup ini sering digunakan oleh tukang servis arloji, tukang servis barang elektronik, dan sebagainya. Lup atau kaca pembesar sederhana terdiri atas lensa dengan panjang fokus positif lebih pendek dari jarak titik dekat (Tipler, 2001: 531). Prinsip kerja lup dapat dijelaskan pada Gambar 2.8. dan Gambar 2.9.

Gambar 2.8. Proses Pembentukan Bayangan pada Lup dengan Mata Tidak Berakomodasi (Karyono, 2007: 85)

(29)

commit to user

Gambar 2.9. Proses Pembentukan Bayangan pada Lup dengan Mata Berakomodasi Paling Kuat (Sumber: Karyono, 2007: 85)

Tipler (2001: 519) menyatakan bahwa pembesaran sudut atau kekuatan perbesaran M lup adalah:

(2.3)

dengan:

M = perbesaran lup,

Xnp= adalah jarak titik dekat, dan f = jarak fokus lensa.

c) Kamera

Gambar 2.10. Kamera dengan Film dan Kamera Digital (Karyono, 2007: 88)

Kamera sederhana terdiri atas lensa positif dan atau celah yang dapat berubah, rana yang dapat dibuka untuk waktu yang singkat dan dapat

(30)

commit to user

bervariasi, kotak kedap cahaya, dan film (Tipler, 2001: 520) seperti ditunjukkan pada Gambar 2.10. Prinsip kerja kamera ini hampir sama dengan mata. Ada perbedaan pokok antara mata dan kamera. Pada mata jarak fokusnya dapat berubah dengan mengatur ketegangan otot siliari agar bayangan terbentuk di retina. Pada kamera letak bayangan dapat diatur dengan memariasi jarak antara lensa dengan film agar bayangan terbentuk pada film tersebut. Bagan sebuah kamera dapat dilihat pada gambar 2.11 berikut. Adapun bagian-bagian penting dari kamera adalah sebagai berikut :

Gambar 2.11. Bagan Kamera (Widodo, 2009: 80) 1. Shutter, sebagai pengatur jarak lensake benda.

2. Appature, sebagai lubang tempat cahaya masuk.

3. Lensa, sebagai pembentuk bayangan.

4. Diafragma, sebagai pengatur besar kecilnya Appature.

5. Film, sebagai layar tempat terbentuknya bayangan.

Untuk memperoleh gambar yang jelas pada film maka benda yang dipotret harus diletakkan pada ruang III dari lensa kamera (Widodo, 2009: 80).

d) Mikroskop

Mikroskop adalah alat untuk melihat benda-benda sangat kecil (zat renik). Rancangan mikroskop berbeda dengan teleskop karena mikroskop digunakan unuk melihat benda yang sangat dekat, sehingga jarak benda sangat kecil. Benda diletakkan persis di luar titik fokus obyektif. Bayangan yang dibentuk oleh lensa obyektif bersifat nyata, cukup jauh dari lensa, dan sangat diperbesar. Bayangan ini diperbesar oleh okuler menjadi bayangan maya yang sangat besar, yang terlihat oleh mata

(31)

commit to user

dan dibalik (Giancoli, 2001: 344). Pada mikroskop terdapat dua lensa positif.

1) Lensa objektif (dekat dengan benda)

2) Lensa okuler (dekat dengan mata) dimana fob < fok

Gambar 2.12. Mikroskop (Utomo, 2007: 96)

Mikroskop digunakan untuk melihat benda-benda yang sangat kecil pada jarak dekat. Bentuk yang sederhana terdiri atas dua lensa cembung. Lensa yang terdekat ke benda, yang disebut obyektif, membentuk bayangan sejati dari bendanya. Bayangan menjadi diperbesar dan terbalik. Lensa yang dekat dengan mata, yang disebut lensa mata atau okuler, digunaka sebagai aca pembesar sederhana untuk melihat bayangan yang dibentukoleh obyektifnya (Tipler, 2001: 523). Pada tahun 1590, pembuat lensa asal Belanda yaitu Zacharias Janssen berhasil membuat mikroskop pertama yang berupa tabung sederhana dengan lensa cembung di tiap ujungnya. Pada tahun 1650, ilmuwan asal Belanda Antoni van Leeuwenhoek berhasil membuat mikroskop dengan perbesaran 250 kali.

Dia berhasil melihat benda-benda yang sangat kecil, seperti sel darah, hewan bersel satu, amuba, mata serangga dan susunan sel daun dengan mikroskop ini. Dengan adanya penemuan mikroskop ini ilmuwan- ilmuwan biologi berhasil melihat dan menyelidiki bagaimana bakteri menyerang tubuh manusia dan menyebabkan manusia terserang penyakit.

(32)

commit to user

Bidang mikrobiologi berkembang dengan pesat setelah ditemukan mikroskop. Mikroskop cahaya yaitu mikroskop yang menggunakan cahaya untuk membentuk bayangan dari benda yang akan dilihat. Mikroskop cahaya ini mempunyai perbesaran 1.000 2.000. Sedang mikroskop elektron mempunyai perbesaran lebih dari1.000.000 kali sehingga mampu melihat virus AIDS.

Mikroskop majemuk adalah salah satu contoh dari suatu mikroskop yang telah ada seperti ditunjukkan pada Gambar 2.12

Gambar 2.13. Pembentukan Bayangan pada Mikroskop

Lensa yang berada terdekat dengan benda disebut lensa objektif, sedang lensa yang berada terdekat dengan mata disebut lensa mata atau lensa okuler. Lensa objektif membentuk bayangan benda yang sejati, diperbesar dan terbalik (lihat Gambar 2.12). Lensa mata digunakan sebagai kaca pembesar sederhana untuk melihat bayangan yang dibentuk oleh obyektifnya. Posisi lensa mata ditentukan sehingga bayangan yang dibentuk oleh lensa obyektifnya jatuh di titik fokus pertama dari lensa mata.

Jarak antara titik fokus kedua lensa objektif dan titik fokus pertama lensa mata disebut panjang tabung L. Panjang tabung dibuat tetap.

Benda yang akan dilihat ditempatkan di luar titik fokus lensa objektif sehingga bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif tersebut akan diperbesar dan berada di titik fokus pertama lensa mata berjarak L + f dari lensa objektif, dengan f adalah panjang fokus lensa objektif. Perbesaran yang ditimbulkan oleh lensa objektif adalah:

(33)

commit to user

(2.4)

L= titik-dekat orang yang menggunakan mikroskop tersebut fo= adalah panjang fokus lensa mata

Kekuatan perbesaran mikroskop majemuk adalah hasil kali perbesaran yang dibentuk oleh lensa obyektif dan perbesaran yang dibentuk oleh lensa mata:

(2.5)

dengan:

Xnp = titik-dekat orang yang menggunakan mikroskop tersebut fe = adalah panjang fokus lensa mata (Tipler, 1998: 524).

e) Teropong

Teropong yaitu alat untuk melihat benda-benda jauh agar tampak jelas. Ada beberapa jenis teropong, antara lain sebagai berikut.

1) Teropong Bintang

Gambar 2.14. Bagan Teropong Bintang dan Pembentukan Bayangan pada Teropong Bintang

Pada teropong bintang terdapat dua buah lensa positif (lensa objektif dan lensa okuler) fob > fok

(a) Untuk mata berakomodasi maksimum Prinsip kerja:

- lensa objektif: Sob = ~ ; S’ob = fob

(34)

commit to user - lensa okuler (berfungsi sebagai Lup) Sok < fok ; S’ok = -Sn

Perbesaran sudut

(2.6)

Panjang teropong (2.7)

(b) Untuk mata tak berakomodasi Prinsip kerja:

- lensa objektif: Sob = ~ ; S’ob = fob

- lensa okuler (berfungsi sebagai lup) Sok = fok ; S’ok = ~

Perbesaran sudut

(2.8)

Panjang teropong (2.9)

2) Teropong Bumi

Pada teropong bumi terdapat tiga buah lensa positif (lensa objektif, lensa pembalik, lensa okuler) fob > fok

Gambar 2.15. Bagan Teropong Bumi dan Pembentukan Bayangan pada Teropong Bumi

(a) Untuk mata berakomodasi maksimum:

Prinsip kerja :

- Lensa objektif : Sob = ~ ; S’ob = fob - Lensa pembalik : Sp = 2 fp ; S’p = 2 fp

- Lensa okuler (berfungsi sebagai lup): Sok < fok ; S’ok = -Sn Perbesaran sudut

(2.10)

(35)

commit to user

Panjang teropong (2.11) (b) Untuk mata tak berakomodasi:

Prinsip kerja:

- lensa objektif : Sob = ~ ; S’ob = fob

- lensa pembalik : Sp = 2 fp ; S’p = 2 fp

- lensa okuler (berfungsi sebagai lup): Sok = fok ; S’ok = ~ Perbesaran sudut

(2.12)

Panjang teropong (2.13) 3) Teropong Panggung

Pada teropong tonil terdapat sebuah lensa positif (lensa objektif) dan sebuah lensa negatif (lensa okuler)

Gambar 2.16. Bagan Teropong Panggung

dan Pembentukan Bayangan pada Teropong Panggung

(a) Untuk mata berakomodasi maksimum:

Prinsip kerja :

- lensa objektif : Sob = ~ ; S’ob = fob

- lensa okuler (berfungsi sebagai lensa pembalik) fok < Sok < 2 fok (di belakang lensa okuler)

S’ok = -Sn

Perbesaran sudut

(2.14)

(36)

commit to user

Panjang teropong (2.15)

(b) Untuk mata tak berakomodasi:

Prinsip kerja : - lensa objektif : Sob = ~ ; S’ob = fob - lensa okuler :

Sok = fok (di belakang lensa okuler) S’ok = ~

Perbesaran sudut

Panjang teropong (Widodo, 2009: 84-85) B. Kerangka Berpikir

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang menekankan pada pendekatan pembelajaran ilmiah. Untuk jenjang sekolah menengah atas, pendekatan ilmiah sangat ditekankan penggunaannya pada proses pembelajaran di kelas, salah satunya adalah pembelajaran Fisika. Pendekatan ilmiah dalam proses belajar-mengajar menuntut siswa untuk belajar aktif, mengkonstruk atau membangun pengetahuan sendiri dari fakta atau fenomena, mengembangkan pengetahuan dengan mencari tidak dengan diberi oleh guru, guru bukan sebagai pelaku utama dan bukan lagi satu-satunya sumber belajar bagi siswa, siswa dapat belajar mandiri dan siswa diharapkan mampu berpikir kreatif dan inovatif untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga pendidikan menjadi bermakna bagi siswa.

Proses pembelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Sukoharjo masih didominasi oleh metode ceramah, padahal seharusnya bagi sekolah yang telah menerapkan kurikulum 2013 hendaknya pembelajaran dilakukan melalui pendekatan ilmiah (scientific approach), yaitu pembelajaran yang mendorong siswa lebih mampu dalam mengamati, menanya, menalar, mencoba dan mengkomunikasikan. Hal ini dikarenakan terdapat kendala dalam pelaksanaannya yaitu terbatasnya alokasi waktu pembelajaran, terbatasnya fasilitas di Laboratorium Fisika serta guru sudah terbiasa melaksanakan pembelajaran yang

(37)

commit to user

berpusat pada guru sehingga pembelajaran bersifat monoton. Pembelajaran Fisika tidak pernah dilakukan dengan percobaan, praktikum, diskusi ataupun demonstrasi. Hal ini menyebabkan kemampuan komunikasi ilmiah siswa juga cenderung rendah. Untuk itu diperlukan sebuah inovasi pembelajaran yaitu dengan model pembelajaran SSCS (Search, Sole, Create, Share) untuk meningkatkan kemampuan komunikasi ilmiah siswa kelas X MIA 7 SMA Negeri 1 Sukoharjo.

Model pembelajaran SSCS merupakan model yang cocok bagi peningkatan komunikasi ilmiah siswa. Model ini juga setara dengan K13 yang diterapkan di SMA Negeri 1 Sukoharjo. Tabel 2.4 menjelaskan keterkaitan antara model pembelajaran SSCS dengan lima indikator komunikasi ilmiah. Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, model pembelajaran SSCS (Search, Solve, Create, Share) diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi ilmiah siswa pada materi Alat-Alat Optik kelas X MIA 7 SMA Negeri 1 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2015/2016.

Tabel 2.4 Matriks Keterkaitan SSCS dengan Indikator Komunikasi Ilmiah No. Indikator Komunikasi

Ilmiah

Sintaks dalam SSCS (Search, Solve, Create, Share)

1.

Menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematik dan jelas

Create

2. Menjelaskan hasil

percobaan, Share

3. Mendiskusikan hasil

percobaan Search

4. Mengklasifikasikan data

dan menyusun data serta Solve 5.

Menggambarkan data dalam grafik, tabel, atau

diagram

Create

Untuk lebih jelasnya, kerangka pemikiran dapat dilihat pada Gambar 2.17.

(38)

commit to user

Gambar 2.17. Kerangka Pemikiran C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir, dapat dirumuskan hipotesis bahwa penggunaan model pembelajaran SSCS (Search, Solve, Create, Share) dapat meningkatkan kemampuan komunikasi ilmiah siswa pada materi Alat-Alat Optik kelas X MIA 7 SMA Negeri 1 Sukoharjo Tahun Pelajaran 2015/2016.

Penggunaan model pembelajaran SSCS dalam pembelajaran

Fisika

Kemampuan komunikasi ilmiah

siswa dalam pembelajaran Fisika

meningkat Keadaan kelas :

Masih menerapkan pembelajaran konvensional dan keterbatasan bahan ajar pada mata pelajaran Fisika

Keadaan siswa : Kemampuan komunikasi ilmiah siswa masih rendah pada mata pelajaran Fisika

Referensi

Dokumen terkait

yang dilakukan oleh setiap satuan kerja dalam suatu proses pembuatan suatu mesin atau alat mulai dari bahan baku hingga barang–barang jadi. Routing sheet meliputi

1) Biaya produksi, yaitu biaya yang digunakan dalam proses produksi yang terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. a) Biaya bahan baku,

Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada prosedur mendefinisikan sistem sebagai suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul

Perancangan sistem adalah merancang atau mendesain suatu sistem yang baik berisi langkah-langkah operasi dalam proses pengolahan data dan proses

Pemasok (supplier). Supplier memberikan dana sebagai pemenuhan kebutuhan modal kerja kepada perusahaan dengan memberikan penjualan bahan baku, bahan penolong atau alat-alat investasi

Menurut Tambunan (2011, p14) SOP pada dasarnya adalah pedoman berisi prosedur-prosedur operasional standar di dalam suatu organisasi yang digunakan untuk

Setelah itu, metode pelaksanaan dan kebutuhan sumber daya (bahan, alat dan tenaga kerja) bisa ditentukan. Sehingga memungkinkan pekerjaan dilakukan secara aman,

Adapun manfaat pengukuran kinerja peranannya sebagai alat manajemen adalah untuk: (1) Memastikan pemahaman para pelaksana akan ukuran yang digunakan untuk pencapaian kinerja,