1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pelayanan publik merupakan segala kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sebagai hak warga negara atas mendapatkan pelayanan baik pelayanan administrasi ataupun non administrasi yang disediakan oleh pemerintah terkait kepetingan publik. Pelayanan publik menjadi salah satu tolakukur kinerja Pemerintah, Masyarakat dapat menilai langsung kinerja dari pemerintah berdasarkan kualitas pelayan publik yang diterima, karena kualitas pelayanan publik dirasakan masyarakat dari semua kalangan, dimana keberhasilan dalam memberikan layanan yang profesional, efektif, efisien dan akunabel akan mengangkat citra yang positif bagi instansi yang terkait. Membahas mengenai pelayanan publik, Pemerintah mempunyai peran dan tugas yang sangat penting dalam memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakatnya, saat ini pelayanan publik cenderung “jalan ditempat”
tidak semestinya seperti yang diamatkan dalam (UU pasal 1 No 25 tahun 2009) Pelayanan publik adalah suatu rancangan kegiatan dalam rangka pemenuhkan kebutuhan dasar sesuai dengan hak-hak setiap warga negara atas barang, jasa dan pelayanan administrasi yang disediakan oleh peyelenggara pelayanan publik (Hidayah. 2020).
Dasar kualitas pelayanan publik (Tjiptono, 2000) Konsep kualitas itu sendiri sering dianggap sebagai ukuran relatif dari kualitas desain dan kualitas kesesuaian. kualitas desain adalah fungsi dari spesifikasi produk, Sedangkan kualitas yang dapat diterima adalah ukuran seberapa baik suatu produk dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan atau spesifikasi kualitas. layanan adalah Temui pemimpin usaha pelanggan dan sudah Karena bentuk layanan yang diberikan, baik individu maupun organisasi harus mengoptimalkan kebutuhan Tercermin dari kualitas individu atau organisasi yang memberikan pelayanan publik yang baik. Menurut (Hardiyansyah, 2018) Pengertian “Jasa
2
dapat diartikan sebagai kegiatan pemberian bantuan, persiapan dan pengelolaan dari satu pihak kepada pihak lain dalam bentuk barang atau jasa”.
Layanan pada dasarnya adalah serangkaian kegiatan.
Pelayanan yang diberikan pada masyarakat luas saat ini dirasa masih memiliki banyak kekurangan akibat adanya beberapa faktor. Faktor Hambatan semacam kurangnya fasilitas yang cukup, masih adanya metode layanan sumber daya monoton dan peralatan yang digunakan memiliki kemampuan yang lemah. Adapun faktor pendukung dalam perkembangan era digital, eksistensi persyaratan komunitas ingin adanya pelayanan yang efektif dan efisien, serta dapat menciptakan lingkungan pemerintahan yang sehat hal ini didukung di bawah penilaian ombudsman republik Indonesia. Kantor Ombudsman 2019 sebagai otoritas pengawas layanan akses publik ke laporan publik 11.087 pengaduan. dibandingkan dengan Hanya ada 10.985 pengaduan di tahun 2018 Jumlah ini meningkat setiap tahun. Menurut laporan Pemerintah daerah mrmiliki paling banyak laporan keluhan (Pereira et al., 2016).
Pelayanan publik menjadi isu yang harus dibahas karena berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Pelayanan publik berdasarkan merupakan kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayananan sesuai dengan peraturan undang-undang bagi setiap warga Negara dan penduduk atas barang, jasa, atau administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Pengertian ini memberikan petunjuk bahwa pelayanan public merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar bagi setiap warga Negara. Akan tetapi, beberapa pelayanan belum sepenuhnya dapat memberikan kepuasan bagi masyarakat, salah satunya dalam menyediakan kelancaran lalu lintas yang ada di Indonesia.
Dalam perkembangan teknologi informasi 4.0 memberikan dampat disegala dibayak kehidupan, dalam menghadapi reformasi birokrasi juga pasti memerlukan sebuah inovasi teknologi guna mempermudah dalam memberikan
3
pelayanan publik dan bagi masyarkat dan mewujudkan sistem birokrasi yang efektif dan efisien sehingga terwujudnya good governance Pemanfaatan kemajuan teknologi dalam bidang pemerintahan yang biasa disebut e- government, digital government mulai diterapkan oleh berbagai Negara untuk menunjang peran sebagai pelayan masyarakat. Pemanfaatan kemajuan teknologi ini meruapakan inovasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kinerja aparatur dan kualitas kehidupan masyarakat.
Tahun 2003 berkaitan dengan e-government presiden mengeluarkan inpres no 3 tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E- Government. Dengan adanya inpres ini Kota Malang melalui pemerintah kota sendiri memulai pelaksanaan pengembangan E-Government lewat pelaksanaan program “Malang online” hal ini memiliki tujuan yaitu untuk mengimplementasikan e-government di Kota Malang dalam memberikan pelayanan tanpa adanya intervensi pegawai institusi publik. Selain itu e- government juga memiliki tujuan untuk mendukung adanya good governance.
Jenis jenis pelayanan yang diberikan meliputi Pelayanan data dan informasi melalui website, pelayanan pengaduan online, serta pelayanan akses internet (Nurita, 2016).
Transportasi merupakan salah satu bidang yang tidak lupa dari pengaruh kemajuan teknologi. Semakin banyaknya tuntutan mobilitas masyarakat dalam menjadikan sarana transportasi mengalami peningkatan permintaan yang sangat meningkat, hal ini mengakibatkan padatnya ruas-ruas jalan yang ada, akibat tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang ada, semakin padat arus semakin menimbulkan kemacetan (Dewangga Putra Pratama, 2016).
Transportasi juga dapat dikatakan terbagi menjadi dua yaitu transportasi umum yang bisa digunakan bersama sama masyarakat dan ada transportasi pribadi yang dimiliki individu. Pelayanan transpotasi terdapat aspek-aspek yang diperhatikan yaitu: keselamatan, keamanan, keteraturan, kenyamanan, terjangkau dan kesetaraan hal-hal ini menjadi standar pelayanan yang minimal
4
seharusnya dimiliki pada transportasi pribadi kepada transportasi publik dapat tercapai sesuai yang diharapkan (Losa Calvin, 2018).
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dijelaskan bahwa untuk keselamatan, keamanan, ketertiban, serta kelancaran pada lalu lintas serta memudahkan bagi pengguna jalan, maka dari itu jalan wajib dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas. Selain itu dalam wujud tata laksana lalu lintas upaya-upaya dalam menuntun, mengarahkan, memperingatkan, melarang dan sebagainya atau lalu lintas yang ada dengan sedemikian rupa agar lalu lintas dapat bergerak dengan aman, lancar dan nyaman di sepanjang jalur lalu lintas maka dibutuhkan penggunaan rambu-rambu lalu lintas (Ismail, 2018). Ditinjau dari aspek pergerakan penduduk, hingga pada kecenderungan bertambahnya penduduk perkotaan yang semakin meningkat tinggi mengakibatkan semakin banyak pula jumlah pergerakan baik di dalam maupun ke luar kota. Hal ini memberi konsekuensi logis yaitu perlu adanya keseimbangan antara sarana prasarana khususnya pada bagian angkutan. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang mobilitas penduduk dalam melaksanakan aktivitasnya.
Kemacetan lalu lintas sering disebabkan oleh ketidak seimbangan antara jumlah penduduk dengan jumlah kendaraan yang setiap hari semakin bertambah namun dengan jumlah ruas jalan yang tersedia sangat terbatas.
(Boediningsih, 2011) menyatakan bahwa “Kemacetan lalu lintas terjadi karena beberapa faktor, seperti banyak pengguna jalan yang tidak tertib, pemakai jalan melawan arus, kurangnya petugas lalu lintas yang mengawasi, adanya mobil yang parkir di badan jalan, permukaan jalan tidak rata, tidak ada jembatan penyeberangan, dan tidak ada pembatasan jenis kendaraan”
(Mustikarani 2016). Kemacetan merupakan salah satu masalah lalu lintas yang sering ditemui, salah satunya di Kota Malang. Kota Malang merupakan pusat aktivitas pemerintah, pendidikan, ekonomi, dan pariwisata yang ada di Provinsi Jawa Timur selain itu Kota Malang memiliki volume kendaraan yang
5
meningkat setiap tahunnya ini salah satu indikator terjadinya kemacetan seperti dibawah ini:
Tabel 1.1 Kemacetan Kota malang berdasarkan plat nomor tahun 2020
Kecamatan di Kota Malang
Jumlah Kendaraan Bermotor Berdasarkan Kecamatan dan Jenis Plat Nomor di Kota
Malang (Unit)
Hitam Kuning Merah JUMLAH
2020 2020 2020 2020
Kedungkandang 95805 547 237 96589
Sukun 104460 843 110 105413
Klojen 56223 601 1386 58210
Blimbing 106559 1108 456 108123
Lowokwaru 100699 678 642 102019
KOTA MALANG
463746 3777 2831 470354
Sumber: (Badan Pusat Statistik Kota Surabaya., 2020).
Pada tabel 1.1 menjelaskan bahwa volume kendaraan di Kota Malang mencapai 470.354 unit. Data yang di peroleh dari Badan pusat Statistik Kota Malang mencatat bahwa terdapat 361.329 unit sepedah motor, 91.299 unit mobil, 16.702 unit truk dan 1.016 unit bus. Dengan terus bertambahnya jumlah kendaraan yang jika dilihat tidak sebanding dengan pengembangan kapasitas jalan yang ada di Kota Malang. Hal ini juga akan memicu permasalahan seperti kemacetan dan kecelakaan lalu lintas
Dinas Perhubungan Kota Malang merupakan instansi yang berwewang dalam mengelola transportasi serta permasalahan yang mengganggu kelancaran lalu lintas. Dinas Perhubungan Kota Malang menerapkan ATCS (Area Traffic Control System) sebagai sistem yang terkendali dalam
6
menunjang pemantauan serta pengawasan arus lalu lintas yang ada di persimpangan kota Malang. ATCS ini memiliki koneksi dengan beberapa titik persimpangan jalan di Kota Malang. ATCS merupakan salah satu inovasi teknologi yang terkoneksi pada beberapa titik persimpangan jalan di Kota Malang, sebagai alat pengendalian dan pengaturan waktu siklus pada persimpangan yang dapat dilakukan di CC-room ATCS Dinas Perhubungan Kota Malang. Untuk melayani masyarakat Kota Malang, Dinas Perhubungan Kota Malang menjalin kerjasama dengan radio citygetz untuk melaksanakan penyiaran terkait pantauan arus lalu lintas yang terjadi di persimpangan jalan dari ruang ATCS.
ATCS (Area Traffic Control System) berfungsi untuk mengatur waktu sinyal yang ada dipersimpangan secara responsif dan terkoordinasi, ATCS juga sebagai antisipasi bagi masyarakat yang akan melewati persimpangan yang macet agar mencari jalan alternatif yang lainnya. Cara kerja ATCS (Area Traffic Control System) berdasarkan jumlah kepadatan, sistem ini mengntrol lampu lalu lintas otomatis dengan ditambah menggunakan kamera cctv yang berbasis controller yang bekerja menunggunakan lampu lalu lintas sebagai kontrol utamanya (Luh & Rita, 2019). Dengan demikian, penulis mengangkat judul penelitian “(Implementasi Area Traffic Control System (ATCS) sebagai pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kota Malang).”
1.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian latar belakang permasalahan penelitian diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Implementasi Area Traffic Control System (ATCS) sebagai pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kota Malang?
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Bagaimana
Implementasi Area Traffic Control System (ATCS) sebagai pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kota Malang.
7 1.3 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat teoritis
Secara teori penelitian kali ini dapat dimanfaatkan sebagai tambahan informasi dan fakta terkait penerapan Implementasi Area Traffic Control System (ATCS) sebagai pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kota Malang. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan tambahan pengetahuan terkait judul yang diangkat.
1.4.2 Manfaat praktis
Untuk Dinas Perhubungan Kota Malang penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai laporan tertulis mengenai fungsi Implementasi Area Traffic Control System (ATCS) sebagai pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kota Malang. Untuk Jurusan Ilmu Pemerintahan penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai fakta dari penerapan Implementasi Area Traffic Control System (ATCS) sebagai pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kota Malang. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian kali ini dapat dimanfaatkan sebagai tambahan data serta informasi tentang Bagaimana Implementasi Area Traffic Control System (ATCS) sebagai pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kota Malang.
1.4 Definisi Konseptual 1.5.1 Pelayanan Publik
Pelayan publik pada dasarnya menyangkut aspek kehidupan yang luas. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pemerintah memiliki tugas dan fungsi untuk memberikan berbagai pelayanan publik yang diperlukan kepada masyarakatnya secara optimal (Rahmadana et al., 2020). Mulai dari pelayanan yang berbentuk pengaturan maupun pelayanan-pelayanan dalam bidang pendidikan, kesehatan, utilitas, dan sebagainya. Berbagai gerakan reformasi publik (public reform) yang dialami oleh negara-negara
8
maju pada awal tahun 1990-an banyak diilhami oleh tekanan masyarakat akan perlunya peningkatan kualiatas dalam pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat (Rahmadana et al., 2020).
Di Indonesia sendiri, upaya dalam memperbaiki sistem pelayanan publik sebenarnya sudah sejak lama dilakukan oleh pemerintah, diantaranya melalui Inpres No. 5 Tahun 1984 tentang Pedoman Penyederhanaan dan Pengendalian Perijinan di Bidang Usaha. Upaya tersebut dilanjutkan dengan Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No. 81/1993 tentang Pedoman Tata Laksana Pelayanan Umum. Dalam upaya mendorong komitmen aparatur pemerintahan terhadap peningkatan mutu pelayanan, maka diterbitkan Inpres No. 1 Tahun 1995 tentang Perbaikan dan Peningkatan Mutu Pelayanan Aparatur Pemerintahan Kepada Masyarakat. Selain itu, pada perkembangan terakhir telah diterbitkan pula keputusan Menpan No.
63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik (Dwiyanto, 2021).
Menurut Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik mendifinisikan mengenai pelayanan publik adalah suatu kegiatan dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan terhadap masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang telah disediakan oleh pelayan publik.
Pelayanan publik adalah suatu proses pemberian layanan atau melayani kebutuhan masyarakat yang memiliki kepentingan pada organisasi tertentu sesuai dengan aturan pokokdan tata cara yang telah ditetapkan (Rahmadana et al., 2020). Sebagaimana yang telah ditetapkan bahwasanya tugas pemerintah adalah sebagai pelayan masyarakatnya. Oleh karena itu, birokrasi publik memiliki
9
kewajiban dan tanggung jawab untuk memberikan layanan yang baik dan professional (Bisri & Asmoro, 2019).
1.5.2 Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan ialah aspek yang sangat penting dalam proses kebijakan publik. Sesuatu program yang akan diimplementasikan diharapkan dapat mencapai tujuan yang telah disepakati dalam kebijakan tersebut. Menurut teori Implementasi kebijakan (George Edward III, 1980:1) implementasi kebijakan menggambarkan proses yang sangat penting karena sebagus apapun suatu kebijakan atau program jika tidak direncanakan dengan matang implementasinya maka akan menjadi kebijakan yang tidak akan terwujud. Begitu juga sebaliknya jika dalam pengimplementaiannya direncanakan dengan baik namun kebijakannya tidak dirumuskan dengan baik maka sama saja tujuan kebijakan tersebut tidak akan pernah tercapai. Perlu diketahui bawasannya dalam menjalankan implementasi suatu kebijakan tentu tidak selalu berjalan dengan mulus. Banyak yang menjadi faktor pengaruh pada kesuksesan suatu implementasi. Untuk mengetahui secara jelas faktor-faktor apa saja yang sangat berpengaruh pada implementasi kebijakan publik. Menurut (George Edward III) terdapat 4 faktor yang dapat memepengaruhi keberhasilan maupun kegagalan pada implementasi kebijakan tersebut antara lain: 1).Komunikasi 2).Sumber Daya 3).Disposisi 4).Struktur Birokrasi.
1.5.3 Area Traffic Control System (ATCS)
ATCS merupakan salah satu inovasi teknologi yang terkoneksi dengan beberapa titik pada persimpangan jalan sebagai alat pengendalian dan pengaturan waktu sinyal di persimpangan secara responsif dan terkoordinasi yang dapat dilakukan di CC- room ATCS (Alam et al., 2021). ATCS juga dapat digunakan masyarakat untuk mengantisipasi persimpangan yang macet agar
10
masyarakat dapat mencari jalan alternatif yang lainnya. ATCS terdiri dari beberapa sistem utama yaitu: Server, Workstation, yang berfungsi sebagai pusat operasional untuk memonitor dan mengontrol kondisi lalu lintas dari seluruh persimpangan dalam satu area. Wallmap yang berfungsi menyediakan informasi status dan kondisi dari lalu lintas. Local Controller (pengontrol persimpangan), Video Surveilance (CCTV) dan Vehicle Detector (Marpaung, 2022).
Cara kerja ATCS (Area Traffic Control System) berdasarkan jumlah kepadatan, sistem ini mengntrol lampu lalu lintas otomatis dengan ditambah menggunakan kamera cctv yang berbasis controller yang bekerja menunggunakan lampu lalu lintas sebagai kontrol utamanya (Luh & Rita, 2019). Dengan Area Traffic Control System penataan siklus lampu merah lalu lintas dilakukan berdasarkan input data lalu lintas yang diperoleh secara real time melalui kamera CCTV pemantauan lalu lintas pada titik persimpangan. penentuan siklus lampu persimpangan dapat diubah berkali-kali dalam satu hari sesuai kebutuhan lalu lintas paling efesien yang mencakup keseluruh wilayah tersebut (Asmaria &
Sandika, 2019).
1.5 Definisi Operasional
Terdapat beberapa dimensi serta indikator dalam implementasi. Beberapa pakar menyebutkan bahwa fungsi implementasi untuk menyempurnakan kebijakan publik agar terwujudnya sebuah pelayanan publik yang meningkat.
a. Komunikasi
Komunikasi dinilai menjadi indikator yang sangat penting karena komunikasi berkitan dengan cara penyampaian ide, gagasa, peraturan dll. Komunikasi harus akurat dan dapat dimengerti oleh pelaksana kebijakan.
b. Sumber Daya
11
Dalam hal ini tedapat beberapa sumber-sumber yang penting dalam implementasi meliputi:
1) Kecukupan dan kualifikasi 2) Kewenangan
3) Informasi
4) Sarana dan prasarana c. Disposisi (Sikap)
Sikap yang dimaksud adalah sikap para pelaksana implementai yang mendukung adanya pelaksanaan suatu kebijakan yang sudah disepakati. Menurut (Winarno 2008) jika para pelaksana bersikap baik terhadap kebijakan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat dukungan dalam melaksanakan kebijakan seperti yang diinginkan oleh para pembuat keputusan awal, dan jika sebaliknya tingkah laku para pelaksana terlihat kurang baik maka proses dalam implementasi akan sulit.
d. Struktur Birokrasi
Birokrasi diciptakan untuk menjadi instrumen dalam menangani kepentingan publik, biasanya birokrasi sangat dominan dalam implementasi kebijakan publik yang sesuai kepentingan hirarkinya yang mempunyai tujuan yang berbeda-beda yang sesuai dengan institusi dan organisasi. Birokrasi memiliki kekuatan yang netral serta tidak dalam kendali penuh dari pihak luar. Implementasi kebijakan bersifat kompleks dan menuntut adanya kerjasama dari banyak pihak, ketika struktur birokrasi yang ada dalam dinas tidak kondusif terhadap implementasinya, maka akan menyebabkan tidak efektif dan aka menghambat jalannya pelaksanaan kebijakan.
1.6 Metode Penelitian 1.7.1 Jenis Penelitian
Menurut (Creswell, 2015) penelitian kualitatif adalah suatu metode untuk memahami dan memperdalam makna yang dikaji oleh individu atau kelompok yang berasal dari masalah sosial maupun masalah
12
manusia. Selain itu, penelitian kualitatif dimulai dengan menggunakan asumsi serta kerangka penafsiran atau teori yang dapat membentuk atau mempengaruhi studi yang sedang diteliti.
Model pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus. Pendekatan studi kasus merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian kualitatif yang berisi tentang strategi penelitian dimana didalamnya peneliti berusaha menyelidiki secara cermat suatu bentuk program kejadian atau peristiwa, aktivitas, prores atau sekelompok individu. Kasus-kasus yang diteliti menggunakan pendekatan ini dibatasi oleh waktu dan aktivitas sehingga peneliti hanya bisa mengumpulkan informasi dengan menggunakan prosedur pengumpulan data berdasarkan waktu yang telah ditentukan (Creswell W. John, 2013).
Disini peneliti memilih model pendekatan studi kasus karena peneliti ingin mengetahui serangkaian program atau peristiwa yang terjadi dalam pemberdayaan masyarakat dengan tetap memperhatikan waktu.
Bahwasannya diketahui kegiatan pemberdayaan masyarakat tidak dilakukan setiap hari, namun secara berkala dan terjadwal sehingga untuk melakukan penelitian peneliti harus menyesuaikan dengan waktu dan kegiatan.
1.7.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini berada di Dinas Perhubungan Kota Malang yang beralamat Jl Raden Intan No 1, Polowijen, Kec Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur 65126. Penelitian ini dilakukan karena lokasi ini terjadi perubahan pola pikir masyarakat menjadi lebih baik. Fokus utama pada penelitian ini yaitu mengenai pelayanan publik yang ada di Dinas Pehubungan Kota Malang
1.7.3 Subyek Penelitian
Subyek penelitian dijadikan sebagai komponen penelitian agar dapat mewujudkan tujuan akhir yaitu memperoleh kesimpulan yang sama perihal bagaimana implementasi Area Traffic Control System (ATCS)
13
sebagai pelayanan publik apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Tabel 1.2 subyek penelitian dan data yang diperlukan
No Nama
Tempat Narasumber Data yang diperlukan 1) Kantor Dinas
Perhubungan Kota Malang
Kepala Dinas dan Kepala Bidang Lalu Lintas
1. Bagaimana
Implementasi Area Traffic Control System (ATCS) sebagai pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kota Malang dan Apa saja hambatan Dinas Perhubungan Kota
Malang dalam
melakukan upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik?
2) Kantor Dinas Perhubungan Kota Malang
Operator Area Traffic Control System
1. Bagaimana Implementasi Area Traffic Control System (ATCS) sebagai pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kota Malang dan Apa saja hambatan Dinas Perhubungan Kota Malang dalam melakukan upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik?
2. Apa saja job description sebagai Teknisi Area
14
Traffic Control System?
3) Kantor Dinas Perhubungan Kota Malang
Teknisi Area Traffic Control System
1. Bagaimana Implementasi Area Traffic Control System (ATCS) sebagai pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kota Malang dan Apa saja hambatan Dinas Perhubungan Kota Malang dalam melakukan upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik?
2. Apa saja job description sebagai Teknisi Area Traffic Control System?
4) Kantor Dinas Perhubungan Kota Malang
Penyiar Area Traffic Control System
1. Bagaimana
Implementasi Area Traffic Control System (ATCS) sebagai pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kota Malang dan Apa saja hambatan Dinas Perhubungan Kota
Malang dalam
melakukan upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik?
2. Apa saja job description sebagai Teknisi Area Traffic Control System?
15 1.7.4 Sumber Data
a. Sumber Data Primer
Jenis data primer ini akan bersumber pada data yang langsung peneliti kumpulkan dari sumber yang pertama (Suryabrata, 1987). Biasanya data primer ini diperoleh dengan survey lapangan, Sehingga data primer akan didapat dalam proses wawancara dan observasi secara langsung yang dilakukan peneliti selama kegiatan penelitian berlangsung di Dinas Perhubungan.
b. Sumber Data Sekunder
Jenis data sekunder kali ini yakni data ataupun dokumen yang nantinya akan langsung dikumpulkan peneliti yang berguna sebagai sumber penunjang dari sumber pertama seperti halnya buku, jurnal, dokumen dan lain sebagainya (Suryabrata, 1987). Data sekunder ialah data yang diperoleh secara tidak langsung dan sifatnya sebagai pelengkap. Dalam proses penelitia diharapkan mendapatkan data fisik berupa tabel, grafik, gambar yang berhubungan dengan implementasi pelayanan publik (Implementasi Area Traffic Control System (ATCS) sebagai pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kota Malang).
1.7.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan disini sangatlah penting dalam sebuah penelitian, karena tujuan yang utama dari sebuah penelitian ini yakni mendapatkan data (Sugiyono, 2016). Dalam proses pengumpulan data terhadap sebuah penelitian yang akan dilakukan pastinya memiliki teknik untuk mendapatkan data atau informasi yang dibutuhkan dan akurat dalam berbagai hal yang akan diteliti. Teknik pengumpulan data yang menjadi kunci penting pada sebuah penelitian utamanya bagi penelitian kualitatif.
Keberhasilan penelitian sangat dipengaruhi teknik pengumpulan data.
Tujuanya pengumpulan data dalam hal penelitian untuk memperoleh
16
bahan-bahan, keterangan, kenyataan-kenyataan dan informasi yang terpercaya (Basrowi dan Suwandi., 2008). Dalam kegiatan penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara berikut :
a) Observasi
Observasi merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan dengan cara turun langsung ke lapangan, mengamati perilaku maupun aktivitas individu di sebuah lapangan. Kemudian tugas peneliti mencatat, baik secara terstruktur maupun semi terstruktur aktivitas-aktivitas yang terjadi di lokasi penelitian. Peneliti juga dapat terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan, baik sebagai non-partisipan maupun partisipan utuh (Creswell W.
John, 2013). Dalam pengumpulan data kami menggunakan teknik observasi yang dimana hal ini melakukan sebuah pengamatan dan pencatatan terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian (Sutrisno Hadi, 1987). Dalam melakukan observasi ini peneliti menggunakan sumber data yang diperoleh dari narasumber yang berkaitan nantinya, Hal ini bertujuan untuk mengamati pelayanan yang telah diimplementasikan oleh Dinas Perhubungan mengenai Pelayanan Publik. Observasi ini akan kami lakukan di Dinas Perhubungan Kota Malang. Dengan demikian ketika melakukan observasi, peneliti dapat terlibat secara langsung dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh informan dalam penelitian.
b) Wawancara
Wawancara adalah percakapan yang memiliki maksud serta tujuan tertentu. Percakapan yang dilakukan oleh dua belah pihak, yaitu pewawancara sebagai pihak yang mengajukan pertanyaan dan informan sebagai pihak yang diwawancarai yang memberikan informasi atau jawaban atas pertanyaan tersebut (Moleong, 2007).
17
Mesikpun dalam wawancara kualitatif, peneliti dapat melakukan face to face interview (wawancara berhadap-hadapan) dengan informan, wawancara dengan telepon (Creswell W. John, 2013).
Pada penelitian kali ini peneliti juga akan melakukan wawancara kepada informan secara face to face atau secara langsung tatap muka. Menurut Guba dan Lincoln, wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang pertanyaannya tidak ditetapkan secara ketat (Mulyana, 2006).
c) Dokumentasi
Dalam pengumpulan data nantinya kami juga akan melakukan dokumentasi yang berupa suatu catatan yang sudah berlalu. Dokumen ini dapat berupa bentuk gambar, tulisan dari seseorang dan biasanya dokumentasi yang diambil disebut juga dengan dokumentasi berjalan. Dokumentasi berjalan ini memiliki arti untuk menggambarkan kegiatan yang dilakukan dan untuk memperkuat observasi serta wawancara tersebut (Sugiyono, 2016). Dokumentasi akan peneliti lakukan saat penelitian di Dinas Perhubungan Kota Malang.
1.7.6 Teknik Analisa Data
Menurut (Creswell, 2015) ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh peneliti saat melalukan teknik analisis data yaitu antara lain:
a. Peneliti mendiskripsikan pengalaman pengalaman personal individu yang dikaitkan dengan fenomena yang sedang diteliti. Dalam tahap ini peneliti tidak boleh ikut menyertakan pengalaman pribadi yang dialaminya sehingga peneliti harus bersikap netral.
18
b. Menyusun pernyataan yang disampaikan oleh narasumber sebagai bentuk perolehan data atau nilai serta harus disusun secara rapi dan jelas.
c. Mengelompokkan pernyataan-pernyataan penting yang sudah disampaikan oleh narasumber menjadi sebuah unit makna atau tema.
d. Membuat deskripsi tekstural (terkait dengan pengalaman yang secara langsung dialami oleh narasumber dan kaitannya dengan fenomena yang sedang diteliti) serta deskripsi struktural (mengenai proses bagaiman fenomena yang diteliti itu bisa terjadi).
e. Menulis deskripsi gabungan baik secara tekstural maupun struktural sehingga dapat membentuk satu-kesatuan analisis data fenomenologi yang akurat dengan fenomena yang terjadi.
(Creswell 2015) mengatakan bahwa penelitian kualitatif diawali dengan mempersiapkan dan mengorganisasikan data penelitian terlebih dahulu, mereduksi tema melalui proses pengodean (coding), interpretasi data, dan setelah itu hasil penelitian yang sudah akurat disajikan dalam pembahasan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data model Miles dan Huberman. Untuk menyajikan data agar mudah dipahami menurut analisis interaktif model Miles dan Huberman dilakukan sebagai berikut:
a) Pengumpulan Data
Data yang sudah didapatkan melalui proses observasi, wawancara, dokumentasi, dan sumber data sekunder dijadikan satu sesuai dengan kategori yang sudah ditetapkan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi data tersebut dikumpulkan untuk selanjutnya dipilih mana saja yang perlu untuk digunakan.
b) Reduksi Data
19
Reduksi data adalah suatu cara untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak diperlukan, dan mengorganisasi data dengan sedemikian rupa. Data yang sudah di dapatkan dari observasi, wawancara, dokumentasi dan sumber data sekunder dipilih terlebih dahulu dan dicari hubungan antar data sebelum di sajikan pada hasil penelitian.
c) Penyajian Data
Penyajian data ditujukan untuk memperoleh pola-pola bermakna serta melakukan penambahan maksud jika memang diperlukan. Dalam penelitian ini data yang disajikan pada pembahasan dikategorikan berdasarkan kesinambungannya agar pembaca dapat memahami makna dari hasil tersebut. Data yang diperoleh di lapangan tidak semuanya di tampilkan pada penelitian ini.
d) Penarikan Kesimpulan
Merupakan langkah akhir dalam proses analisis data yaitu tahap untuk melakukan konfigurasi yang utuh dari semua data yang diperoleh dari lapangan dan dari data sekunder.