P U T U S A N
Perkara Nomor: 25/KPPU-I/2009
Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia (selanjutnya disebut
“Komisi”) yang memeriksa dugaan pelanggaran Pasal 5 dan Pasal 21 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (selanjutnya disebut “UU No. 5 Tahun 1999”) berkaitan dengan Penetapan Harga Fuel Surcharge Dalam Industri Jasa Penerbangan Domestik yang dilakukan oleh:
(1) Terlapor I, PT Garuda Indonesia (Persero), berkedudukan di Gedung Manajemen Garuda Indonesia Lantai 3 Area Perkantoran Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng 19120, Indonesia;--- (2) Terlapor II, PT Sriwijaya Air, berkedudukan di Jalan Pangeran Jayakarta
Nomor 68 Blok C 15-16, Jakarta Pusat 10730, Indonesia; --- (3) Terlapor III, PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), berkedudukan di
Gedung Merpati, Jalan Angkasa Blok B.15, Kavling 2-3, Jakarta Pusat 10720, Indonesia; --- (4) Terlapor IV, PT Mandala Airlines, berkedudukan di Jalan Tomang Raya
Kavling 33-37, Jakarta Barat 11440, Indonesia;--- (5) Terlapor V, PT Riau Airlines, berkedudukan di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 438 Pekanbaru, Riau 28125, Indonesia; --- (6) Terlapor VI, PT Travel Express Aviation Services, berkedudukan di Boutique
Office Park, Benyamin Suaeb Blok A11/12, Kemayoran, Jakarta Pusat 10630, Indonesia; --- (7) Terlapor VII, PT Lion Mentari Airlines, berkedudukan di Lion Air Tower,
Jalan Gajah Mada Nomor 7, Jakarta Pusat 10130, Indonesia; ---
(8) Terlapor VIII, PT Wings Abadi Airlines, berkedudukan di Lion Air Tower, Jalan Gajah Mada Nomor 7, Jakarta Pusat 10130, Indonesia; --- (9) Terlapor IX, PT Metro Batavia, berkedudukan di Jl. Ir. H. Juanda No. 15,
Jakarta Pusat 10120, Indonesia; --- (10) Terlapor X, PT Kartika Airlines, berkedudukan di Wisma Intra Asia, Jalan Prof.
Dr. Soepomo, S.H. Nomor 58, Jakarta Selatan 12870, Indonesia; --- (11) Terlapor XI, PT Linus Airways, terakhir diketahui berkedudukan di Grand
Boutique Centre, Jalan Mangga Dua Raya Blok C Nomor 4, Jakarta Utara 14430, Indonesia; --- (12) Terlapor XII, PT Trigana Air Service, berkedudukan di Komplek Puri Sentra Niaga, Jalan Wiraloka Blok D 68-69-70, Kalimalang, Jakarta Timur 13620, Indonesia;(--- (13) Terlapor XIII, PT Indonesia AirAsia, berkedudukan di Office Management
Building, 2nd Floor, Soekarno-Hatta International Airport Jakarta 19110, Indonesia; ---
telah mengambil Putusan sebagai berikut:
Majelis Komisi: --- Setelah membaca surat-surat dan dokumen-dokumen dalam perkara ini;--- Setelah membaca Laporan Hasil Pemeriksaan Pendahuluan (selanjutnya disebut
“LHPP”);--- Setelah membaca Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan (selanjutnya disebut “LHPL”);
Setelah membaca Tanggapan/Pembelaan/Pendapat para Terlapor; --- Setelah membaca Berita Acara Pemeriksaan (selanjutnya disebut “BAP”); ---
TENTANG DUDUK PERKARA
1. Menimbang bahwa berdasarkan data dan informasi yang berkembang di masyarakat, Sekretariat Komisi melakukan monitoring terhadap pelaku usaha
yang diduga melakukan pelanggaran terhadap UU No. 5 Tahun 1999 terkait dengan pemberlakuan fuel surcharge oleh maskapai penerbangan; --- 2. Menimbang bahwa setelah melakukan kegiatan monitoring terhadap pelaku usaha, Sekretariat Komisi menyimpulkan adanya kejelasan dan kelengkapan dugaan pelanggaran yang disusun dalam bentuk Resume Monitoring; --- 3. Menimbang bahwa setelah melakukan Kegiatan Pemberkasan terhadap Resume
Monitoring, Sekretariat Komisi menyusun dan menyampaikan Berkas Laporan Dugaan Pelanggaran kepada Komisi untuk dilakukan Gelar Laporan; --- 4. Menimbang bahwa berdasarkan Rapat Gelar Laporan, Komisi menilai Laporan
Dugaan Pelanggaran layak untuk dilakukan Pemeriksaan Pendahuluan; --- 5. Menimbang bahwa selanjutnya Komisi menerbitkan Penetapan Komisi Nomor
118/KPPU/PEN/IX/2009 tanggal 28 September 2009 tentang Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 25/KPPU-I/2009 terhitung sejak tanggal 28 September 2009 sampai dengan tanggal 06 November 2009 (vide bukti A1); --- 6. Menimbang bahwa untuk melaksanakan Pemeriksaan Pendahuluan, Komisi
menerbitkan Keputusan Komisi Nomor 221/KPPU/KEP/IX/2009 tanggal 28 September 2009 tentang Penugasan Anggota Komisi sebagai Tim Pemeriksa dalam Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 25/KPPU-I/2009 (vide bukti A2); --- 7. Menimbang bahwa selanjutnya Sekretaris Jenderal Sekretariat Komisi
menerbitkan Surat Tugas Nomor 970/SJ/ST/IX/2009 tanggal 28 September 2009 yang menugaskan Sekretariat Komisi untuk membantu Tim Pemeriksa dalam Pemeriksaan Pendahuluan (vide bukti A3); --- 8. Menimbang bahwa Tim Pemeriksa telah menyampaikan Petikan Penetapan
Pemeriksaan Pendahuluan dan Salinan Laporan Dugaan Pelanggaran kepada para Terlapor (vide bukti A4 s/d A27); --- 9. Menimbang bahwa setelah melakukan Pemeriksaan Pendahuluan, Tim Pemeriksa menemukan adanya bukti awal yang cukup terhadap dugaan pelanggaran Pasal 5 dan Pasal 21 UU No. 5 Tahun 1999 yang dilakukan oleh para Terlapor dan merekomendasikan kepada Komisi untuk melanjutkan pemeriksaan ke tahap Pemeriksaan Lanjutan yang dituangkan dalam bentuk LHPP (vide bukti A43); ----
10. Menimbang bahwa berdasarkan rekomendasi Tim Pemeriksa, selanjutnya Komisi menerbitkan Penetapan Komisi Nomor: 136/KPPU/PEN/XI/2009 tanggal 09 November 2009 tentang Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor 25/KPPU/I/2009 terhitung sejak tanggal 09 November 2009 sampai dengan tanggal 05 Februari 2010 (vide bukti A45); --- 11. Menimbang bahwa untuk melaksanakan Pemeriksaan Lanjutan, Komisi
menerbitkan Keputusan Komisi Nomor 247/KPPU/KEP/XI/2009 tanggal 09 November 2009 tentang Penugasan Anggota Komisi sebagai Tim Pemeriksa dalam Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor 25/KPPU-I/2009 (vide bukti A46); - 12. Menimbang bahwa selanjutnya Sekretaris Jenderal Sekretariat Komisi
menerbitkan Surat Tugas Nomor 1174/SJ/ST/XI/2009 tanggal 09 November 2009 yang menugaskan Sekretariat Komisi untuk membantu Tim Pemeriksa dalam Pemeriksaan Lanjutan (vide bukti A47); --- 13. Menimbang bahwa Tim Pemeriksa telah menyampaikan Petikan Penetapan
Pemeriksaan Lanjutan dan Salinan LHPP kepada para Terlapor (vide bukti A48 s/d A60); --- 14. Menimbang setelah melakukan Pemeriksaan Lanjutan Perkara 25/KPPU-I/2009,
Tim Pemeriksa Lanjutan menilai perlu dilakukan Perpanjangan Pemeriksaan Lanjutan, maka Komisi menerbitkan Keputusan Komisi No.
60/KPPU/KEP/II/2010 tanggal 08 Februari 2010 tentang Perpanjangan Pemeriksaan Lanjutan Perkara 25/KPPU-I/2009 terhitung sejak tanggal 08 Februari 2010 sampai dengan 23 Maret 2010 (vide bukti A76); --- 15. Menimbang bahwa untuk melaksanakan Perpanjangan Pemeriksaan Lanjutan,
Komisi menerbitkan Keputusan No. 61/KPPU/KEP/II/2010 tanggal 08 Februari 2010 tentang Penugasan Anggota Komisi sebagai Tim Pemeriksa dalam Perpanjangan Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor 25/KPPU-I/2010 (vide bukti A77); --- 16. Menimbang bahwa selanjutnya Sekretaris Jenderal Sekretariat Komisi
menerbitkan Surat Tugas Nomor 147/SJ/ST/II/2010 tanggal 08 Februari 2010 yang menugaskan Sekretariat Komisi untuk membantu Tim Pemeriksa dalam Perpanjangan Pemeriksaan Lanjutan (vide bukti A75); ---
17. Menimbang bahwa Tim Pemeriksa telah menyampaikan Petikan Penetapan Perpanjangan Pemeriksaan Lanjutan kepada para Terlapor (vide bukti A80 s/d A92); --- 18. Menimbang bahwa dalam proses Pemeriksaan Pendahuluan dan Pemeriksaan
Lanjutan serta perpanjangannya, Tim Pemeriksa telah mendengar keterangan dari para Terlapor, para Saksi dan Pemerintah; --- 19. Menimbang bahwa identitas dan keterangan Terlapor dan para Saksi, telah dicatat dalam BAP yang telah diakui kebenarannya serta masing-masing telah ditandatangani oleh yang bersangkutan (vide bukti B1 s/d B35); --- 20. Menimbang bahwa dalam Pemeriksaan Pendahuluan dan Pemeriksaan Lanjutan,
Tim Pemeriksa telah mendapatkan, meneliti dan menilai sejumlah surat dan atau dokumen, BAP serta bukti-bukti lain yang telah diperoleh selama pemeriksaan dan penyelidikan; --- 21. Menimbang bahwa setelah melakukan Pemeriksaan Lanjutan, Tim Pemeriksa
membuat Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan yang memuat fakta-fakta sebagai berikut (vide bukti A121): --- 21.1 Tentang Profil dan Pangsa Pasar Para Terlapor; --- (1) Bahwa berikut disampaikan profil singkat para Terlapor dalam perkara ini: ---
Tabel 1
Profil PT Garuda Indonesia (Persero)
Nama perusahaan PT Garuda Indonesia (Persero) (GA) - Terlapor I
Tahun berdiri 1950
Pemegang saham (2008) + persentase saham Pemerintah RI (96%) PT Angkasa Pura I (1,52%) PT Angkasa Pura II (2,48%) Direksi (2008) Direktur Utama: Emirsyah Satar
Direktur: Agus Priyanto, Achirina, Ari Sapari, Elisa Lumbantoruan, Eddy Purwanto, Hadinoto Soedigdo
Komis’oaris (2008) Komisaris Utama: Hadiyanto
Komisaris: Abdul Gani, Adi Rahman Adiwoso, Wendy Aritenang, Sahala Lumban Gaol.
Jenis dan jumlah pesawat serta kapasitas 51 pesawat
penumpang masing-masing B747-400 (405 seats): 3 pesawat A330-300 (293 seats): 6 pesawat B737-800 NG (180 seats): 4 pesawat B737-400 (124 seats): 19 pesawat B737-300 (104 seats): 14 pesawat B737-500 (92 seats): 5 pesawat Jumlah rute domestik 72 rute
Rincian rute domestik (0 s/d 1 jam) JKT-PLM, PLM-JKT, JKT-JOG, JOG-JKT, JKT- SOC, SOC-JKT, JKT-SRG, SRG-JKT, MES-BTJ, BTJ-MES, SUB-DPS, DPS-SUB
Rincian rute domestik (1 - 2 jam) JKT-PKU, PKU-JKT, JKT-PDG, PDG-JKT, JKT- BTH, BTH-JKT, JKT-PNK, PNK-JKT, JKT-BDJ, BDJ-JKT, JKT-SUB, SUB-JKT, JKT-DPS, DPS- JKT, JKT-PKY, PKY-JKT, JKT-AMI, AMI-JKT, BIK-DJJ, DJJ-BIK, DJJ-TIM, TIM-DJJ, JOG-DPS, DPS-JOG, DPS-UPG, UPG-DPS, UPG-MDC, BPN-MDC, MDC-BPN, BPN-UPG, UPG-BPN.
Rincian rute domestik (2 s/d 3 jam) JKT-MES, MES-JKT, JKT-BPN, BPN-JKT, JKT- BTJ, BTJ-JKT, JKT-UPG, UPG-JKT, UPG-BIK, BIK-UPG, BPN-DPS, DPS-BPN.
Rincian rute domestik ( 3 s/d 4 jam) JKT-MDC, MDC-JKT, JKT-BIK, BIK-JKT, DJJ- UPG, UPG-DJJ, DPS-TIM, TIM-DPS.
Rincian rute domestik (> 3 jam) JKT-DJJ, DJJ-JKT, JKT-TIM, TIM-JKT, DJJ- DPS, DPS-DJJ, TIM-UPG, UPG-TIM.
Keterangan Merupakan BUMN yang didirikan untuk mendapatkan keuntungan dan memberikan kontribusi terhadap penerimaan Negara juga memiliki kewajiban yang terkait dengan kemanfaatan umum (public service obligation), yaitu dengan melayani rute-rute penerbangan sesuai kebutuhan masyarakat umum meskipun tidak selalu menguntungkan secara komersial.
Merupakan penerbangan dengan kategori pelayanan dengan standard maksimum (full service) mulai dari prejourney, pre-flight, in-flight, post flight dan post journey. (vide bukti C1.1)
Tabel 2
Profil PT Sriwijaya Air
Nama perusahaan PT Sriwijaya Air (SJ) - Terlapor II
Tahun berdiri 2003
Pemegang saham (2008) + persentase saham Hendry Lie (40.04%) Candra Lie (31.99%)
Johannes Bundjamin (19.81%) Andy Halim (5.16%)
Fandy Lingga (1%) (vide C2.1)
Direksi Direktur Utama: Chandra Lie
Direktur:, Harwick Budiman Lahunduitan, Gabriella, Bambang Haryono, Toto Nursatyo, Eddy Suwanto (vide bukti C2.2)
Komisaris Komisaris Utama: Hendry Lie
Komisaris: Soenaryo Yosopratomo, Andy Halim, Johannes Bundjamin, Fandy Lingga (vide bukti C2.2)
Jenis dan jumlah pesawat serta kapasitas penumpang masing-masing
23 pesawat
Boeing 737-200 (125 seats) Boeing 737-300 (141 seats) Boeing 737-400 (166 seats) Jumlah rute domestik 88 rute
Rincian rute domestik (0 s/d 1 jam) CGK-TKG, TKG-CGK, PGK-PLM, PLM-PGK, BPN-BDJ, BDJ-BPN, BPN-PLW, PLW-BPN, BTH-DJB, DJB-BTH, CGK-TJQ, TJQ-CGK, BTJ- MES, MES-BTJ, MES-PKU, PKU-MES, CGK- PLM, PLM-CGK, CGK-SRG, SRG-CGK, UPG- PLW, PLW-UPG, KDI-UPG, UPG-KDI, SUB- SRG, SRG-SUB.
Rincian rute domestik (1 s/d 2 jam) CGK-SOC, SOC-CGK, CGK-PGK, PGK-CGK, BDJ-SUB, SUB-BDJ, BPN-TRK, TRK-BPN, BDO-SUB, SUB-BDO, CGK-BKS, BKS-CGK, CGK-DJB, DJB-CGK, BTH-MES, MES-BTH, BPN-UPG, UPG-BPN, SUB-BPN, BPN-SUB, CGK-SUB, SUB-CGK, CGK-MLG, MLG-CGK, GTO-UPG, UPG-GTO, CGK-PNK, PNK-CGK, PDG-MES, MES-PDG, CGK-TNJ, TNJ-CGK, CGK-BTH, BTH-CGK, CGK-PKY, PKY-CGK, UPG-SUB, SUB-UPG, CGK-BDJ, BDJ-CGK, CGK-PDG, PDG-CGK, CGK-PKU, PKU-CGK, UPG, AMQ, AMQ-UPG.
Rincian rute domestik ( 2 s/d 3 jam) BPN-CGK, CGK-BPN, KOE-SUB, SUB-KOE, CGK-MES, MES-CGK, UPG-CGK, CGK-UPG, SUB-MDC, MDC-SUB, SUB-AMQ, AMQ-SUB, CGK-MDC, MDC-CGK, CGK-AMQ, AMQ- CGK.
Tabel 3
Profil PT Merpati Nusantara Airlines (Persero)
Nama perusahaan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) (MZ) - Terlapor III
Tahun berdiri 1962
Pemegang saham (terakhir) + persentase saham Pemerintah Republik Indonesia (96,8%)
Direksi Direktur Utama: Bambang Bhakti Direktur Niaga: Tharian
Direktur Operasi: Nikmatullah Taufiquzzaman Direktur Teknik: Hotlan Siagian
Dirkeu & Adm: Robby Eduardo Quento
Komisaris Komisaris Utama: H. Muhammad Said Didu Komisaris: Danang Soty Baskoro, Abhy Widya, Adi Rahman Adiwoso, Eddy Suryanto Hariyadhi Dwi Hardono
Jenis dan jumlah pesawat serta kapasitas penumpang masing-masing
22 pesawat (9 pesawat jet, 2 pesawat fokker dan 11 propeller)
Boeing 737-400 (160 seats): 1 Boeing 737-300 (134 seats): 5 Boeing 737-200 (117 seats): 3 Fokker 100 (108 seats): 2 CN 235 (38 seats): 1 Cassa 212 (24 seats): 3 DHC-6 (18 seats): 4 MA-60 (56 seats): 2 Jumlah rute domestik 268 rute
Rincian rute domestik (0 s/d 1 jam) JET: DPS-AMI, AMI-DPS, KOE-MOF, TKG- CGK, CGK-TKG, MOF-TMC, MOF-WGP, TMC- MOF, MOF-KOE, WGP-MOF, BMU-DPS, DPS- BMU, KDI-UPG, MKW-SOQ, SOQ-MKW, UPG- KDI, DPS-SUB, SUB-DPS.
PROPELLER: RTG-ENE, AMI-DPS, DPS-AMI, BIK-ZRI, DBO-LUV, LUV-DBO, ZRI-BIK, TTE- LAH, LAH-TTE, GTO-UOL, PSJ-PLW, UOL- GTO, PLW-PSJ, ENE-KOE, EWE-TIM, KOE- ENE, LWE-KOE, MES-SBQ, MKQ-WNX, MKW-NTI, SBQ-MES, TIM-EWE, WNX-MKQ, NTI-MKW, FKQ-KNG, KOE-LWE.
Rincian rute domestik (1 s/d 2 jam) JET: BPN-UPG, DJJ-BIK, DPS-TMC, PLW- UPG, UPG-BPN, AMI-SUB, SUB-AMI, UPG- PLW, DJJ-TIM, TMC-DPS, BIK-DJJ, TIM-DJJ, BDO-SUB, SUB-SMQ, UPG-LUW, WGP-DPS, DJJ-MKQ, DPS-WGP, LUW-UPG, MKQ-DJJ, SMQ-SUB, SUB-BDO, DJJ-MKW, UPG-KOE, MKW-DJJ, KOE-UPG, CGK-SUB, SUB-CGK, SUB-UPG, UPG-SUB, CGK-SMQ, SMQ-CGK, DPS-KOE, KOE-DPS, BDO-BTH, BTH-BDO, CGK-BDJ, BDJ-CGK, UPG-MDC, DPS-CGK, MDC-UPG, UPG, JOG, CGK-DPS, JOG-UPG, SUB-BMU, BMU-SUB, SUB-TMC, TMC-SUB, DIL-DPS, DPS-DIL, TTE-UPG, UPG-TTE.
PROPELLER: AMI-BMU, BMU-AMI, GNS- MES, KOE-LKA, LKA-KOE, MES-GNS, MES- SNX, SNX-MES, BJW-KOE, KOE-BJW, BIK- NBX, FKQ-SOQ, ILA-NBX, KEI-MKQ, MKQ-
PLW-UOL, MDC, TTE, TTE-MDC, MKQ-ZEG, UOL-PLW, NTI-SOQ, DJJ-LII, LII-DJJ, SOQ- NTI, GTO-PSJ, MDC-WDA, NBX-LII, WDA- MDC, PSJ-GTO, KNG-MKW, LII-NBX, MKQ- TMH, TMH-MKQ, ZEG-MKQ, KNG-SOQ, LUW-MDC, MDC-LUW, MDC-MNA, MNA- MDC, SOQ, KNG, TLI-TRK, TRK-TLI, DPS- LBJ, LUW-PLW, PLW-LUW, LBJ-DPS, DJJ- TMH, TMH-DJJ, EWE-MKQ, KSX-KOE, MKQ- EWE, KOE-KSX
Rincian rute domestik (2 s/d 3 jam) JET: BDO-DPS, DPS-BDO, SUB-WGP, WGP- SUB, CGK-UPG, SOQ-UPG, UPG-CGK, UPG- SOQ, SUB-KDI, KDI-SUB, SUB-KOE, KOE- SUB, SUB-PLW, PLW-SUB, CGK-BMU, BMU- CGK, JOG-KDI, KDI-JOG, MKW-UPG, UPG- MKW, DJJ-MDC, KUL-SUB, MDC-DJJ, SUB- KUL, SUB-LUW, LUW-SUB, UPG-BIK, CGK- TMC, TMC-CGK, JOG-PLW, PLW-JOG, SUB- DIL, DIL-SUB, BIK-UPG, TIM-UPG, SUB-MOF, MOF-SUB, JOG-LUW, LUW-JOG, CGK-WGP, WGP-CGK, UPG-TIM.
PROPELLER: ENE-DPS, DPS-ENE, AMQ- LUV, LUV-AMQ, AMQ-SXK, SXK-AMQ, MDC- PLW, PLW-MDC,
Rincian rute domestik ( > 3 jam) JET: CGK-KDI, KDI-CGK, SUB-MDC, MDC- SUB, CGK-KOE, KOE-CGK, CGK-PLW, PLW- CGK, JOG-MDC, MDC-JOG, SUB-TTE, TTE- SUB, CGK-LUW, LUW-CGK, CGK-DIL, DIL- CGK, JOG-TTE, TTE-JOG, UPG-DJJ, AMI-KUL, KUL-AMI, SUB-SOQ, SOQ-SUB, CGK-MOF, MOF-CGK, CGK-MDC, MDC-CGK, JOG-SOQ, SOQ-JOG, SUB-MKW, MKW, SUB, CGK-TTE, TTE-CGK, SUB-BIK, BIK-SUB, JOG-MKW, MKW-JOG, JOG-BIK, BIK-JOG, CGK-SOQ, SOQ-CGK, SUB-TIM, TIM-SUB, JOG-TIM, TIM-JOG, CGK-MKW, MKW-CGK, CGK-BIK, BIK-CGK, SUB-DJJ, DJJ-SUB, CGK-TIM, TIM- CGK, JOG-DJJ, DJJ-JOG, CGK-DJJ, DJJ-CGK, JOG-MKQ, MKQ-JOG, CGK-MKQ, MKQ-CGK.
Keterangan Merupakan BUMN yang berperan dalam pengembangan potensi ekonomi dan transportasi wilayah terpencil di Indonesia melalui operasional penerbangan perintis sejumlah 112 rute.
Sistem operasional penerbangan: Long Haul Multi Leg
Operating cost dan maintenance cost relatif tinggi karena menggunakan pesawat tua.
Tabel 4
Profil PT Mandala Airlines
Nama perusahaan PT Mandala Airlines (RI) – Terlapor IV
Tahun berdiri 1969
Pemegang saham (2009) + persentase saham PT Cardig International Aviation (51%) Indigo Indonesia Investment S.a.r.l. (49%) Direksi Direktur Utama: Diono Nurjadin
Direktur: Steve Wilks, Michael Hamelink, Wan Hasmar, Cor Blokzijl, Ai Ling Ng
Komisaris Komisaris Utama: Nurhadjono Nurjadin
Komisaris: Joseph Dharmabrata, Sukardi, William Augustus, Jozsep Janos Varadi, Lim Liang Song Jenis dan jumlah pesawat serta kapasitas
penumpang masing-masing
11 pesawat
Airbus A320 (180 seats) Airbus A319 (144 seats) Jumlah rute domestik 50 rute
Rincian rute domestik (0 s/d 1 jam) JAKARTA – SEMARANG, SEMARANG- JAKARTA, SURABAYA-DENPASAR, DENPASAR-SURABAYA, PEKANBARU- BATAM, BATAM-PEKANBARU
Rincian rute domestik (1 s/d 2 jam) JAKARTA–PADANG, PADANG-JAKARTA, JAKARTA – PEKANBARU, PEKANBARU- JAKARTA, JAKARTA – BATAM, BATAM- JAKARTA, JAKARTA – SURABAYA, SURABAYA-JAKARTA, JAKARTA – DENPASAR, DENPASAR-JAKARTA, JAKARTA – JOGJAKARTA, JOGJAKARTA- JAKARTA, JAKARTA – BENGKULU, BENGKULU-JAKARTA, JAKARTA PONTIANAK, PONTIANAK-JAKARTA, JAKARTA – JAMBI, JAMBI-JAKARTA, JAKARTA PANGKALPINANG,
PANGKALPINANG-JAKARTA, MEDAN- PADANG, PADANG-MEDAN, SURABAYA- BALIKPAPAN, BALIKPAPAN-SURABAYA, SURABAYA – BANJARMASIN,
BANJARMASIN-SURABAYA, SURABAYA – KUPANG, KUPANG-SURABAYA,
JOGJAKARTA – BALIKPAPAN,
BALIKPAPAN-JOGJAKARTA, SURABAYA – KUPANG, KUPANG-SURABAYA,
JOGJAKARTA – BALIKPAPAN,
BALIKPAPAN-JOGJAKARTA, JOGJAKARTA – BANJARMASIN, BANJARMASIN-
JOGJAKARTA, JOGJAKARTA – DENPASAR, DENPASAR-JOGJAKARTA, TARAKAN- BALIKPAPAN, BALIKPAPAN-TARAKAN.
Rincian rute domestik ( 2 s/d 3 jam) JAKARTA–BALIKPAPAN,BALIKPAPAN- JAKARTA, SURABAYA-BATAM, BATAM- SURABAYA.
Tabel 5
Profil PT Riau Airlines
Nama perusahaan PT Riau Airlines (RAL) - Terlapor V
Tahun berdiri 2002
Pemegang saham (2009) + persentase saham Pemprov Riau (50.6%) Pemkab Natuna (7.1%) Pemkab Bengkalis (6.0%) Pemkab Kerinci (4.5%) Pemkab Nias (4.5%) Pemko Dumai (4.1%) Pemda Rokan Hulu (4.1%) Pemkab Kampar (3.8%)
Pemkab Kuantan Singingi (2.4%) Pemkab Lingga (2.3%)
Pemko Pekanbaru (2.0%) Pemkab Pelalawan (1.8%) Pemko Batam (1.5%)
Pemkab Indragiri Hilir (1.8%) Pemkab Rokan Hilir (0.8%) Pemko Tanjung Pinang (0.8%) Pemprov Bengkulu (0.8%) Pemprov Bangka Belitung (0.8%) Pemprov Lampung (0.8%) Pemkab Indragiri Hulu (0.4%) Direksi Direktur Utama: Teguh Triyanto
Direktur Produksi: Maman Syaifurohman Direktur Keuangan: Fizan Noor Djailani Direktur Komersial: Revan Mezano
Komisaris Komisaris Utama: Drs. Hj. Wan Syamsur Yus Komisaris: Thamrin Nasution
Jenis dan jumlah pesawat serta kapasitas penumpang masing-masing
7 pesawat
Fokker 50 (50 seats): 5 pesawat Bae AVRO RJ (111 seats): 2 pesawat Jumlah rute domestik 32 rute
Rincian rute domestik (0 s/d 1 jam) PEKANBARU – TJ. PINANG PP, PEKANBARU – BATAM PP, PEKANBARU – DUMAI PP, PEKANBARU – MALAKA PP, PEKANBARU – MEDAN PP, PEKANBARU – SINGKEP PP, BATAM - TJ. PINANG PP, BATAM-SINGKEP PP, TJ. PINANG – NATUNA PP, TJ. PINANG – SINGKEP PP, TJ. PINANG – MATAK PP, GUNUNG SITOLI – MEDAN PP,
Rincian rute domestik (1 s/d 2 jam) NATUNA – BATAM PP
CENGKARENG – DUMAI PP, TJ. PINANG – CENGKARENG PP
Keterangan Merupakan perusahaan daerah (BUMD) yang didirikan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah Sumatera (benefit oriented).
Merupakan satu-satunya perusahaan yang melakukan penerbangan antar pulau di Kepulauan Riau (rute perintis).
Biaya operasional masih disubsidi oleh Pemerintah Daerah.
Tabel 6
Profil PT Travel Express
Nama perusahaan PT Travel Express (XN) - Terlapor VI
Tahun berdiri 2003
Pemegang saham (terakhir) + persentase saham Tommy Limbunan (50%) Shirly Goenawang (50%)
Direksi Tommy Limbunan
Komisaris Shirly Goenawang
Jenis dan jumlah pesawat serta kapasitas penumpang masing-masing
Boeing 737-200 (125 seats): 2 pesawat Dornier D328 (32 seats): 4 pesawat Jumlah rute domestik 68 rute
Rincian rute domestik (0 s/d 1 jam) MANOKWARI – JAYAPURA PP Rincian rute domestik (1 s/d 2 jam) SORONG-MANOKWARI PP
Rincian rute domestik ( 2 s/d 3 jam) JAKARTA – MAKASSAR PP, JAKARTA – TERNATE PP, SURABAYA – MAKASSAR PP, MAKASSAR-SORONG PP JAKARTA-SORONG PP, JAKARTA – MANOKWARI PP, JAKARTA – JAYAPURA PP, SURABAYA – SORONG PP, SURABAYA – MANOKWARI PP, SURABAYA – JAYAPURA PP, SURABAYA – TERNATE PP, MAKASSAR – MANOKWARI PP, MAKASSAR – JAYAPURA PP, MAKASSAR – TERNATE PP, SORONG – JAYAPURA PP, SORONG- JAKARTA PP, MANOKWARI- JAKARTA PP, JAYAPURA – JAKARTA PP, SORONG- SURABAYA PP, MANOKWARI – SURABAYA PP, JAYAPURA-SURABAYA PP.
Keterangan Fokus beroperasi di daerah Indonesia bagian timur.
Memberlakukan fuel surcharge secara flat untuk semua zona waktu terbang.
Tabel 7
Profil PT Lion Mentari Airlines
Nama perusahaan PT Lion Mentari Airlines (JT) – Terlapor VII
Tahun berdiri 1999 , beroperasi tahun 2000 Pemegang saham (terakhir) + persentase saham Rusdi Kirana (45%)
Kusnan Kirana (55%)
Direksi Rusdi Kirana
Komisaris Kusnan Kirana
Jenis dan jumlah pesawat serta kapasitas penumpang masing-masing
49 pesawat
Boeing 747-400 : 2 pesawat
Boeing 737-900 ER (220 seats): 32 pesawat Boeing 737-400 (158 seats): 9 pesawat Boeing 737-300 (149 seats): 2 pesawat MD-90 (161 seats): 4 pesawat
Jumlah rute domestik (Per 15 Januari 2009) 98 rute
Rincian rute domestik (0 s/d 1 jam) CGK-JOG, JOG-CGK, CGK-PGK, PGK-CGK, CGK-PLM, PLM-CGK, CGK-SOC, SOC-CGK, CGK-SRG, SRG-CGK, JOG-SUB, SUB-JOG, MES-BTJ, BTJ-MES, PKU-BTH, BTH-PKU, SUB-AMI, AMI-SUB, SUB-DPS, DPS-SUB, UPG-KDI, KDI-UPG, UPG-PLW, PLW-UPG, MES-PKU, PKU-MES.
Rincian rute domestik (1 s/d 2 jam) CGK-BDJ, BDJ-CGK, CGK-BKS, BKS-CGK, CGK-BTH, BTH-CGK, CGK-DJB, DJB-CGK, CGK-DPS, DPS-CGK, CGK-PDG, PDG-CGK, CGK-PKU, PKU-CGK, CGK-PNK, PNK-CGK, CGK-SUB, SUB-CGK, DPS-UPG, UPG-DPS, JOG-DPS, DPS-JOG, SUB-BDJ, BDJ-SUB, SUB- BPN, BPN-SUB, SUB-UPG, UPG-SUB, UPG- AMQ, AMQ-UPG, UPG-GTO, GTO-UPG, UPG- MDC, MDC-UPG.
Rincian rute domestik (2 s/d 3 jam) CGK-AMI, AMI-CGK, CGK-AMQ, AMQ-CGK, CGK-BPN, BPN-CGK, CGK-BTJ, BTJ-CGK, CGK-DJJ, DJJ-CGK, CGK-GTO, GTO-CGK, CGK-KDI, KDI-CGK, CGK-KOE, KOE-CGK, CGK-MDC, MDC-CGK, CGK-MES, MES-CGK, CGK-PLW, PLW-CGK, CGK-UPG, UPG-CGK, DPS-MDC, MDC-DPS, SUB-AMQ, AMQ-SUB, SUB-BTH, BTH-SUB, SUB-KDI, KDI-SUB, SUB-KOE, KOE-SUB, SUB-PLW, PLW-SUB, UPG-DJJ, DJJ-UPG.
Keterangan PT Lion Mentari Airlines merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan PT Wings Abadi Airlines.
Tabel 8
Profil PT Wings Abadi Airlines
Nama perusahaan PT Wings Abadi Airlines (IW) – Terlapor VIII
Tahun berdiri 2002, beroperasi 2003 Pemegang saham (terakhir) + persentase saham Kusnan Kirana (50%)
Rusdi Kirana (50%)
Direksi Direktur: Achmad
Komisaris Komisaris Utama: Kusnan Kirana Komisaris: Rusdi Kirana
Jenis dan jumlah pesawat serta kapasitas penumpang masing-masing
12 pesawat
ATR72-500: 3 pesawat MD-80: 6 pesawat DHC8-300: 3 pesawat Jumlah rute domestik 74 rute
Rincian rute domestik (0 s/d 1 jam) AMBON-FAK-FAK, FAK-FAK-AMBON, AMBON-NABIRE, NABIRE-AMBON, FAK-
FAK-KAIMANA, KAIMANA-FAK-FAK, KAIMANA-NABIRE, NABIRE-FAK-FAK, JOGJA-SURABAYA, SURABAYA-JOGJA, JOGJA-BANDUNG, BANDUNG-JOGJA, MAKASSAR-KENDARI, KENDARI-
MAKASSAR, MAKASSAR-PALU, PALU- MAKASSAR, MANADO-MELONGUNANE, MELONGUNANE-MANADO, MANOKWARI-
FAK-FAK, FAK-FAK-MANOKWARI, MANOKWARI-KAIMANA, KAIMANA-
MANOKWARI, MEDAN-PEKANBARU, PEKANBARU-MEDAN, MEDAN-
GUNUNGSITOLI, GUNINGSITOLI-MEDAN, NABIRE-JAYAPURA, JAYAPURA-NABIRE, SEMARANG-SURABAYA, SURABAYA-
SEMARANG, SORONG-KAIMANA, KAIMANA-SORONG, SURABAYA-
MATARAM, MATARAM-SURABAYA, SURABAYA-DENPASAR, DENPASAR-
SURABAYA, TERNATE-LABUHA, LABUHA- TERNATE.
Rincian rute domestik (1 s/d 2 jam) AMBON-TUAL, TUAL-AMBON, AMBON- SORONG, SORONG-AMBON, AMBON- KAIMANA, KAIMANA-AMBON, AMBON-
BAU-BAU, BAU-BAU-AMBON, MANOKWARI-NABIRE, NABIRE-
MANOKWARI, SORONG-NABIRE, NABIRE- SORONG, FAK-FAK-JAYAPURA, JAYAPURA-
FAK-FAK, KAIMANA-JAYAPURA, JAYAPURA-KAIMANA.
AMBON, SEMARANG-DENPASAR, DENPASAR-SEMARANG, SURABAYA-PALU,
PALU-SURABAYA, SURABAYA-BANDUNG, BANDUNG-SURABAYA.
Keterangan PT Wings Abadi Airlines merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan PT Lion Mentari Airlines.
Tabel 9
Profil PT Metro Batavia
Nama perusahaan PT Metro Batavia (7P) - Terlapor IX Tahun berdiri 2001, mulai beroperasi 2002
Pemegang saham (terakhir) + persentase saham Yudiwan Tansari (72,7%) Alice (6%)
Irene Yudiawan (6%) Liauw Tjhai Djun (13,6%)
Direksi Direktur Utama: Yudiawan Tansari Direktur: Alice
Komisaris Komisaris Utama: Liauw Tjhai Dun Komisaris: Irene Yudiawan
Jenis dan jumlah pesawat serta kapasitas penumpang masing-masing
36 pesawat
Boeing 737-200 (120 seats) Boeing 737-300 (144 seats) Boeing 737-400 (168 seats) Airbus A-319 (144 seats) Airbus A-320 (180 seats) Airbus A-330 (293 seats) Jumlah rute domestik 132 rute
Rincian rute domestik (0 s/d 1 jam) CGK-JOG, JOG-CGK, CGK-PGK, PGK-CGK, CGK-PLM, PLM-CGK, CGK-SRG, SRG-CGK, CGK-TKG, TKG-CGK, CGK-MLG, MLG-CGK, BDJ-BPN, BPN-BDJ, BPN-TRK, TRK-BPN, BTH-PKU, PKU-BTH, BTH-PDG, PDG-BTH, PDG-MES, MES-PDG, PLW-BPN, BPN-PLW, SUB-AMI, AMI-SUB, SUB-JOG, JOG-SUB, SUB-PKY, PKY-SUB, SUB-PLW, PLW-SUB, UPG-KDI, KDI-UPG.
Rincian rute domestik (1 s/d 2 jam) CGK-BDJ, BDJ-CGK, CGK-BKS, BKS-CGK, CGK-BTH, BTH-CGK, CGK-DJB, DJB-CGK, CGK-DPS, DPS-CGK, CGK-PDG, PDG-CGK, CGK-PKU, PKU-CGK, CGK-PKY, PKY-CGK, CGK-PNK, PNK-CGK, CGK-SUB, SUB-CGK, CGK-PLW, PLW-CGK, BDJ-SUB, SUB-BDJ, BPN-JOG, JOG-BPN, BPN-MDC, MDC-BPN, BPN-BEJ, BEJ-BPN, BTH-MES, MES-BTH, BTH-PNK, PNK-BTH, JOG-PNK, PNK-JOG,
SUB-PNK, SUB-BPN, BPN-SUB, SUB-TRK, TRK-SUB, SUB-UPG, UPG-SUB, UPG-GTO, GTO-UPG.
Rincian rute domestik (2 s/d 3 jam) CGK-AMQ, AMQ-CGK, CGK-AMI, AMI-CGK, CGK-BPN, BPN-CGK, CGK-DJJ, DJJ-CGK, CGK-KDI, KDI-CGK, CGK-KOE, KOE-CGK, CGK-MDC, MDC-CGK, CGK-MES, MES-CGK, CGK-MKW, MKW-CGK, CGK-UPG, UPG-CGK, CGK-GTO, GTO-CGK, CGK-TTE, TTE-CGK, CGK-LUW, LUW-CGK, CGK-SOQ, SOQ-CGK, SOQ-MKW, MKW-SOQ, SUB-MDC, MDC-SUB, SUB-MES, MES-SUB, SUB-PNK, PNK-SUB, SUB-LUW, LUW-SUB, SUB-GTO, GTO-SUB, UPG-PNK, PNK-UPG, UPG-DJJ, DJJ-UPG, UPG- LUW, LUW-UPG, UPG-SOQ, SOQ-UPG. (vide bukti C9.7)
Tabel 10
Profil PT Kartika Airlines
Nama perusahaan PT Kartika Airlines (KAE) - Terlapor X
Tahun berdiri 2000
Pemegang saham (2008) + persentase saham Yayasan Kartika Eka Paksi PT Intan Asia Corpora PT Karunia Yohanes Mulia Kim Yohanes Mulia
Direksi (2008) Direktur: Odang Kariana (non aktif per 1 Maret 2010)
Komisaris (2008) Komisaris Utama: Kim Yohanes Mulia Komisaris: Abdul Wachid, Armien Soegito Jenis dan jumlah pesawat serta kapasitas
penumpang masing-masing
2 pesawat
Boeing 737-200 (124 seats) Jumlah rute domestik 16 rute
Rincian rute domestik (0 s/d 1 jam) BTH-DJB, DJB-BTH, BTH-PLM, PLM-BTH, MDC-TTE, TTE-MDC
Rincian rute domestik (1 s/d 2 jam) CGK-BTH, BTH-CGK, BTH-MES, MES-BTH, BTH-PKP, PKP-BTH, UPG-MDC, MDC-UPG Rincian rute domestik (2 s/d 3 jam) CGK-UPG, UPG-CGK
Tabel 11
Profil PT Linus Airways
Nama perusahaan PT Linus Airways - Terlapor XI
Tahun berdiri 2005
Keterangan Tidak beroperasi sejak 27 April 2009.
Telah dicabut seluruh Ijin Operasinya oleh Departemen Perhubungan pada tanggal 1 Juni 2009.
Apabila dalam jangka waktu satu tahun tidak beoperasi, maka Departemen Perhubungan dapat mencabut Surat Ijin Usaha Penerbangan PT Linus Airways.
Selama pemeriksaan perkara berlangsung, Tim Pemeriksa tidak pernah mendengar keterangan maupun memperoleh dokumen dari PT Linus Airways.
Tabel 12
Profil PT Trigana Air Service
Nama perusahaan PT Trigana Air Service (TGN) – Terlapor XII
Tahun berdiri 1990
Pemegang saham (terakhir) + persentase saham Triputra Yusni Prawiro (50%) Capt. Rubijanto Adisarwono (50%)
Direksi Direktur Utama: Capt. Rubijanto Adisarwono Wakil Direktur: Erwin Asmar
Direktur: Capt. Imam Hadikartiwa, Aries Munandar, Capt. Beni Sumaryanto, LH. Freddy Chan, Eko B. Gunarto
Komisaris Triputra Yusni Prawiro
Jenis dan jumlah pesawat serta kapasitas penumpang masing-masing
Scheduled Flight :10 pesawat ATR 42 (50 seats): 7 pesawat ATR 72 (72 seats): 3 pesawat Cargo dan charter: 9 pesawat Fokker F27 (4250 kgs): 2 pesawat
Twin Otter DHC-6 (18 seats, 1500 kgs): 3 pesawat DHC-4 Caribou (3900 kgs): 1 pesawat
Hercules L-382 (19.500 kgs): 1 pesawat Cessna 206B (5 seats, 400 kgs): 2 pesawat Jumlah rute domestik 40 rute
Rincian rute domestik (0 s/d 1 jam) Nunukan-Tarakan, Nunukan-Tj. Selor, Nunukan- Berau, Nunukan-Balikpapan, Nunukan-Samarinda,
Samarinda-Berau, Samarinda-Tarakan, Samarinda- Nunukan, Samarinda-Balikpapan, Samarinda-Tj.
Selor, Berau-Samarinda, Berau-Tarakan, Berau-Tj.
Selor, Berau-Nunukan, Balikpapan-Nunukan, Balikpapan-Tarakan, Balikpapan-Tj. Selor, Balikpapan-Kota Baru, Balikpapan-Banjarmasin, Kota Baru-Balikpapan, Kota Baru-Banjarmasin, Banjarmasin-Kota Baru, Banjarmasin-Balikpapan, Tj. Selor-Berau, Tj. Selor-Balikpapan, Tj. Selor- Samarinda, Tj. Selor-Tarakan, Tj. Selor-Nunukan, Ternate-Buli, Buli-Ternate, Mataram-Denpasar, Denpasar-Mataram.
Rincian rute domestik (1 - 2 jam) Berau-Balikpapan, Balikpapan-Berau, Sanana- Ternate, Ternate-Sanana, Langgur-Ambon, Ambon-Langgur, Ambon-Saumlaki, Saumlaki- Ambon
Keterangan Saat ini tidak memiliki pesawat jet, semua pesawat propeller yang melayani rute-rute perintis di daerah Indonesia bagian timur.
Tabel 13
Profil PT Indonesia Air Asia
Nama perusahaan PT Indonesia Air Asia (QZ) – Terlapor XIII
Tahun berdiri 1999, beroperasi 2005 Pemegang saham (2008) + persentase saham Pin Harris (20%)
Sendjaja Widjaja (21%) AA International Limited (49%) PT Persindo Nusaperkasa (10%) Direksi (2008) Direktur Utama: Dharmadi
Direktur: Titus Iskandar, Widijastoro Nugroho, Poedjiono, Moeharjanto Sasono, Perbowoadi Komisaris (2008) Komisaris Utama: Pin Harris
Wakil Komisaris Utama: Sendjaja Widjaja
Komisaris: Anthony Francis Fernandes, Kamarudin bin Meranun, Johny Gerard Plate
Jenis dan jumlah pesawat serta kapasitas penumpang masing-masing
Airbus A320 (180 seats) : 9 pesawat Boeing 737-300 (145 seats): 5 pesawat Jumlah rute domestik 12 rute
Rincian rute domestik (0 s/d 1 jam) CGK-JOG, JOG-CGK
Rincian rute domestik (1 s/d 2 jam) CGK-SUB, SUB-CGK, DPS-BDO, BDO-DPS, CGK-DPS, DPS-CGK
Rincian rute domestik ( 2 s/d 3 jam) CGK-MES, MES-CGK, BDO-MES, MES-BDO Keterangan Penerbangan dengan kategori pelayanan low cost
(2) Bahwa berikut rincian jumlah penumpang masing-masing para Terlapor:--- Tabel 14
Jumlah penumpang masing-masing Terlapor Tahun 2004-2009
Maskapai Penerbangan 2004 2005 2006 2007 2008 20091 PT Garuda Indonesia (Persero)
6,297,351 6,987,870 6,956,437 7,371,046 7,665,390 7,991,395 PT Sriwijaya Air 690,344 2,345,885 3,139,529 3,577,413 4,272,876 5,324,187 PT Merpati Nusantara Airlines
(Persero) 2,511,213 1,843,094 1,701,137 2,653,853 2,477,173 2,601,754 PT Mandala Airlines 2,187,454 2,373,413 1,678,920 1,731,979 3,449,218 2,848,825 PT Riau Airlines 97,480 182,337 232,248 305,456 PT Travel Express 265,659 324,104 201,504 256,951 267,371 243,999 PT Lion Mentari Airlines 4,927,834 5,447,769 6,638,264 6,536,276 9,147,942 9,398,234 PT Wings Abadi Airlines 118,362 1,784,728 2,021,888 2,351,703 2,328,508 3,217,218 PT Metro Batavia 1,510,589 1,974,748 3,971,214 5,314,485 4,771,272 6,466,793 PT Kartika Airlines 97,765 263,093 89,312 239,636 235,410 PT Trigana Air Service 627,979 736,027 702,718 763,647 PT Indonesia Air Asia 10,243 701,367 1,505,715 1,768,025 1,503,672 2,313,859
(3) Bahwa berikut adalah pangsa pasar atau market share para Terlapor tersebut di atas berdasarkan persentase jumlah penumpang: ---
Tabel 15
Pangsa Pasar di antara Para Terlapor Tahun 2004-2008
Maskapai Penerbangan 2004 2005 2006 2007 2008 2009
PT Garuda Indonesia (Persero)
34.00% 29.26% 24.15% 22.63% 20.68% 19.16%
PT Sriwijaya Air 3.73% 9.82% 10.90% 10.98% 11.53% 12.76%
PT Merpati Nusantara Airlines
(Persero) 13.56% 7.72% 5.91% 8.15% 6.68% 6.24%
PT Mandala Airlines 11.81% 9.94% 5.83% 5.32% 9.31% 6.83%
PT Riau Airlines 0.00% 0.00% 0.34% 0.56% 0.63% 0.73%
PT Travel Express 1.43% 1.36% 0.70% 0.79% 0.72% 0.58%
PT Lion Mentari Airlines 26.61% 22.81% 23.05% 20.07% 24.69% 22.53%
PT Wings Abadi Airlines 0.64% 7.47% 7.02% 7.22% 6.28% 7.71%
PT Metro Batavia 8.16% 8.27% 13.79% 16.32% 12.88% 15.50%
PT Kartika Airlines 0.00% 0.41% 0.91% 0.27% 0.65% 0.56%
1Data jumlah penumpang tahun 2004 s/d 2008 diperoleh dari Departemen Perhubungan. Jumlah
Maskapai Penerbangan 2004 2005 2006 2007 2008 2009 PT Trigana Air Service 0.00% 0.00% 2.18% 2.26% 1.90% 1.83%
PT Indonesia Air Asia 0.06% 2.94% 5.23% 5.43% 4.06% 5.55%
Total 100% 100% 100% 100% 100% 100%
21.2 Tentang Kronologis Pemberlakuan Fuel Surcharge; --- (4) Bahwa berdasarkan Hasil Risalah Rapat tentang Pengenaan Fuel Surcharge tanggal 5 Februari 2008 antara Departemen Perhubungan c.q. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Sekret aris INACA dan 11 (sebelas) maskapai penerbangan, pengertian fuel surcharge didefinisikan sebagai suatu tambahan biaya yang dikenakan oleh perusahaan penerbangan karena harga avtur di lapangan melebihi harga avtur pada perhitungan biaya pokok; --- (5) Bahwa berdasarkan keterangan dari Departemen Perhubungan, belum ada dasar
hukum diberlakukannya fuel surcharge, namun terdapat peraturan yang mengatur tentang pungutan terkait dengan tarif angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri kelas ekonomi dan komponen tarif penumpang pelayanan kelas ekonomi yaitu: --- a. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM 8 Tahun 2002 tentang
Mekanisme Penetapan dan Formulasi Perhitungan Tarif Penumpang Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri Kelas Ekonomi (selanjutnya disebut “KM 8 Tahun 2002”);--- b. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM 9 Tahun 2002 tentang Tarif
Penumpang Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri Kelas Ekonomi (selanjutnya disebut “KM 9 Tahun 2002”);--- (6) Bahwa Pasal 1 ayat (3) KM 9 Tahun 2002 berbunyi: “Tarif penumpang angkutan
niaga berjadwal dalam negeri kelas ekonomi belum termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN), iuran wajib dana pertanggungan wajib kecelakaan penumpang dari PT Jasa Raharja (Persero), asuransi tambahan lainnya yang dilaksanakan secara sukarela dan tarif jasa pelayanan penumpang pesawat udara yang dikenakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku”; --- (7) Bahwa Pasal 1 ayat (4) KM 9 Tahun 2002 berbunyi: “Setiap pungutan yang akan
dikaitkan dengan tarif angkutan harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari
(8) Berdasarkan ketentuan tersebut, INACA telah mengirimkan surat-surat kepada Menteri Perhubungan, antara lain: --- a. Surat Nomor: INC-1001/A/16/X/2004 tanggal 22 Oktober 2004 perihal
Permohonan Pengenaan Surcharge Atas Kenaikan BBM Penerbangan; --- b. Surat Nomor: INC-1001/A/28/V/2005 tanggal 12 Mei 2005 perihal
Kelangsungan Usaha Perusahaan Penerbangan Nasional; --- c. Surat Nomor: INC-1001/A/31/VI/2005 tanggal 7 Juni 2005 perihal Usulan
Pengenaan Fuel Surcharge;--- d. Surat Nomor: INC-1001/A/39/X/2005 tanggal 11 Oktober 2005 perihal
Permohonan Izin Pengenaan Fuel Surcharge Atas Kenaikan Harga BBM;--- (9) Bahwa pengajuan usulan pemberlakuan fuel surcharge oleh INACA tersebut
didasari pada kondisi melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, sehingga harga avtur yang dijual oleh PT Pertamina mengalami kenaikan sedangkan daya beli masyarakat menurun sehingga tingkat isian penumpang pesawat terbang domestik (load factor) mengalami penurunan;--- (10) Bahwa menanggapi surat-surat dari INACA tersebut, Ditjen Perhubungan Udara
telah menyampaikan surat kepada Menteri Perhubungan yaitu Ref. Surat Nomor:
AU/6076/DAU.1705/04 perihal permohonan pengenaan fuel surcharge atas kenaikan BBM penerbangan;--- (11) Bahwa selanjutnya Ditjen Perhubungan Udara mengirimkan surat kepada INACA
melalui Ref. Surat Nomor: AU/5581/DAU.1952/05 tanggal 31 Oktober 2005 perihal pengenaan fuel surcharge atas kenaikan harga avtur. Dalam menyetujui pengenaan fuel surcharge atas kenaikan harga avtur tersebut, Ditjen Perhubungan Udara meminta INACA untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut: --- a. Berdasarkan hasil evaluasi Ditjen Perhubungan Udara, bahwa harga jual
rata-rata saat ini masih di bawah tarif batas atas, sehingga kenaikan harga avtur masih memungkinkan harga jual sampai dengan setinggi-tingginya sama dengan tarif batas KM 9 Tahun 2002; --- b. Pangsa biaya avtur yang dijadikan patokan untuk masing-masing rute
penerbangan berbeda karena dipengaruhi faktor jarak tempuh;---
c. Harga avtur yang dijadikan patokan untuk pengenaan fuel surcharge adalah harga bulan Juni 2005 (harga avtur patokan tarif referensi); --- d. Pengenaan fuel surcharge dapat dipahami dan sudah berlaku di penerbangan
internasional sebagai akibat kenaikan avtur, namun perlu dipertimbangkan pelaksanaannya dengan cermat secara bersama; --- e. Pengenaan fuel surcharge tersebut tidak diberlakukan kepada calon
penumpang yang sudah melakukan transaksi pembelian tiket; --- f. Pengenaan fuel surcharge diberlakukan pada seluruh perusahaan angkutan
udara niaga berjadwal dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab perusahaan yang bersangkutan; --- g. INACA sebagai asosiasi perusahaan angkutan udara niaga harus sanggup
dan mampu melakukan pengawasan terhadap pemberlakuan fuel surcharge tersebut;--- (12) Bahwa INACA akhirnya mengeluarkan Berita Acara Persetujuan Pelaksanaan
Fuel Surcharge (Ref. Berita Acara Nomor 9100/53/V/2006 tanggal 4 April 2006 yang ditandatangani oleh Ketua Dewan INACA, Sekretaris Jenderal INACA dan 9 (sembilan) perusahaan angkutan udara niaga yaitu PT Mandala Airlines, PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), PT Dirgantara Air Service, PT Srwijaya Air, PT Pelita Air Service, PT Lion Mentari Air, PT Batavia Air, PT Indonesia Air Transport, PT Garuda Indonesia (Persero);--- (13) Bahwa berdasarkan Berita Acara Persetujuan Pelaksanaan Fuel Surcharge
tersebut, pelaksanaan fuel surcharge mulai diterapkan pada tanggal 10 Mei 2006 dengan besaran yang diberlakukan pada setiap penerbangan dikenakan rata-rata Rp 20.000,- (duapuluh ribu rupiah) per penumpang;--- (14) Bahwa menanggapi laporan INACA mengenai penerapan fuel surcharge yang
akan diberlakukan mulai tanggal 10 Mei 2006, atas nama Menteri Perhubungan, Direktur Jenderal Perhubungan Udara melalui Surat Nomor: AU/2563/DAU- 0857/06 tanggal 9 Mei 2006, menyampaikan kepada INACA untuk mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: --- a. Pengenaan fuel surcharge tersebut tidak diberlakukan kepada calon
b. INACA harus mempunyai patokan harga avtur sebagai dasar perhitungan besaran fuel surcharge dan tata cara serta mekanisme penerapan fuel surcharge; --- c. Pengenaan fuel surcharge disarankan diberlakukan pada seluruh perusahaan
angkutan udara niaga berjadwal dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab perusahaan yang bersangkutan;--- d. Perusahaan angkutan udara niaga berjadwal yang menerapkan fuel surcharge
agar dapat melaksanakan dengan cermat dan seksama dalam memberikan pemahaman kepada calon penumpang supaya tidak menimbulkan permasalahan di lapangan; --- e. INACA sebagai asosiasi perusahaan angkutan udara niaga harus mampu
melakukan pengawasan terhadap pemberlakuan fuel surcharge tersebut; --- f. INACA agar melaporkan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara
setiap terjadi perubahan besaran fuel surcharge, termasuk apabila ada perubahan lainnya yang terkait dengan fuel surcharge; --- (15) Bahwa besaran fuel surcharge sebesar Rp 20.000,- (dua puluh ribu) tersebut
dibuat dengan berpatokan pada harga avtur rata-rata yang naik ke posisi Rp 5.600/liter sejak 1 Mei 2006; --- (16) Bahwa setelah INACA menetapkan fuel surcharge sebesar RP 20.000,- (duapuluh
ribu rupiah) yang mulai berlaku sejak 10 Mei 2006, KPPU mengadakan pertemuan dengan INACA pada tanggal 16 Mei 2006, kemudian memberikan masukan kepada INACA dengan mengirimkan Surat Nomor 207/K/V/2006 tanggal 30 Mei 2006, yang intinya agar INACA mencabut penetapan mengenai fuel surcharge dan mengembalikan kewenangan penetapan fuel surcharge kepada masing-masing maskapai penerbangan;--- (17) Bahwa selanjutnya berdasarkan Notulen Rapat No. 9100/57/V/2006, INACA
mengadakan Rapat Anggota dan Pengurus INACA pada tanggal 30 Mei 2006 yang pada intinya menyimpulkan penerapan dan besaran fuel surcharge diserahkan kembali kepada masing-masing perusahaan penerbangan nasional Anggota INACA; ---
(18) Bahwa Pemerintah c.q. Departemen Perhubungan c.q. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara melalui Surat Nomor: AU/830/DAU.150/08 tanggal 15 Februari 2008 perihal Surat Edaran Pemberlakuan Besaran Fuel Surcharge Pada Penumpang Angkutan Udara Niaga Dalam Negeri Kelas Ekonomi, meminta laporan kepada para perusahaan angkutan udara niaga berjadwal untuk melaporkan secara tertulis setiap perubahan besaran fuel surcharge yang diberlakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Laporan tersebut dilampiri dasar perhitungan termasuk harga avtur yang dipergunakan sebagai referensi; --- (19) Bahwa pada tanggal 4 Agustus 2008, Departemen Perhubungan c.q. Direktorat
Jenderal Perhubungan Udara mengirimkan surat kepada para perusahaan angkutan udara niaga berjadwal melalui Surat Nomor: AU/4603/DAU.1056/08 perihal Formula Penetapan Fuel Surcharge yang menindaklanjuti hasil pertemuan pada tanggal 07 Juli 2008 yang membahas mengenai kesepakatan formula perhitungan fuel surcharge dengan metode zoning yang terbagi menjadi 5 zona berdasarkan waktu tempuh yaitu zona 1 (< 1 jam), zona 2 (1 s/d 2 jam), zona 3 (2 s/d 3 jam), zona 4 (3 s/d 4 jam), zona 5 (> 4 jam); --- (20) Bahwa pada saat perkara ini berlangsung, Pemerintah c.q. Departemen
Perhubungan sedang melakukan Revisi atas KM No. 8 Tahun 2002 dan KM No. 9 Tahun 2002.;--- (21) Bahwa berdasarkan Risalah Rapat tentang Pembahasan Tindak Lanjut Revisi KM
8 Tahun 2002 dan KM 9 Tahun 2002 tentang Mekanisme Penetapan dan Formulasi Perhitungan Tarif Penumpang Angkutan Udara Niaga Berjadwal dalam Negeri Kelas Ekonomi tanggal 4 Februari 2010, diperoleh informasi antara lain sebagai berikut:--- a. Dasar perhitungan harga avtur adalah sebesar Rp 10.000,-/liter yang diambil
berdasarkan harga pasar avtur terakhir Rp 7.459,-/liter, untuk mengantisipasi kenaikan harga avtur di masa yang akan datang; --- b. Formulasi perhitungan revisi besaran tarif batas atas berdasarkan pada jenis
pesawat udara yang terbaru yaitu Boeing 737-300, Boeing 737-400, Boeing 737-500, Boeing 737-800 yang sudah dibandingkan dengan formulasi perhitungan dari badan usaha angkutan udara; ---
c. Dalam penentuan asumsi yang dipakai dalam formulasi perhitungan tarif batas atas baik load factor, harga avtur dan nilai tukar rupiah terhadap dollar dan lain-lain telah disesuaikan oleh pemerintah dengan kondisi yang ada dan dibandingkan dengan formulasi perhitungan dari badan usaha angkutan udara; --- d. Kenaikan tarif batas atas sebesar 5% s/d 10% dari biaya operasi pesawat,
dimana 10% adalah beban yang dikenakan kepada masyarakat;--- (22) Bahwa konsekuensi jika Revisi KM No. 9 Tahun 2002 tersebut diberlakukan,
maka fuel surcharge sudah tidak ada lagi karena asumsi harga avtur sudah diubah yaitu sebesar Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) per liter yang sudah diperhitungkan dalam perhitungan tarif batas atas tersebut; --- (23) Bahwa sampai saat laporan ini dibuat, Revisi KM No. 8 Tahun 2002 dan Revisi
KM No. 9 Tahun 2002 tersebut belum ditanda-tangani oleh Menteri Perhubungan sehingga belum berlaku secara efektif;--- 21.3 Tentang Formula Perhitungan Harga Tiket; --- (24) Bahwa berdasarkan Pasal 2 KM 8 Tahun 2002, yang dimaksud dengan Tarif
Penumpang Angkutan Udara Niaga Berjadwal dalam negeri kelas ekonomi merupakan tarif jarak yang didasarkan pada perkalian tarif dasar, jarak terbang serta dengan memperhatikan faktor daya beli; --- (25) Bahwa berdasarkan Pasal 126, Pasal 127 dan Pasal 128 UU 1 Tahun 2009 tentang
Penerbangan, komponen tarif penumpang pelayanan kelas ekonomi terdiri dari tarif jarak, pajak, iuran wajib asuransi dan biaya tuslah/tambahan (surcharge).
Hasil perhitungan komponen-komponen tersebut merupakan batas atas tarif penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri yang ditetapkan oleh Menteri. Namun untuk tarif penumpang pelayanan non ekonomi angkutan udara niaga berjadwal ditentukan berdasarkan mekanisme pasar; --- (26) Bahwa formula perhitungan harga tiket yang diterapkan oleh masing-masing
maskapai penerbangan yang menjadi Terlapor dalam perkara ini adalah sebagai berikut: ---
Tabel 16
Formula Perhitungan Harga Tiket Para Terlapor
Maskapai Penerbangan Formula Perhitungan Harga Tiket PT Garuda Indonesia (Persero) Basic fare + PPN + IWJR (Rp 6.000,-) + FS PT Sriwijaya Air Basic fare + PPN + IWJR (Rp 10.000,-) + FS PT Merpati Nusantara Airlines
(Persero)
Basic fare + PPN + IWJR (Rp 6.000,-) + Administration Fee (Rp 5000,-) FS
PT Mandala Airlines Basic fare + PPN + IWJR (Rp 6.000,-) + FS + Biaya administrasi (Rp 4.000,-)
PT Riau Airlines Basic Fare + PPN + IWJR (Rp 6.000,-) (sekarang) PT Travel Express Basic fare + PPN + IWJR (Rp 6.000,-) + FS
PT Lion Mentari Airlines Basic fare + PPN + IWJR (Rp 6.000,-) + Insurance + FS PT Wings Abadi Airlines Basic fare + PPN + IWJR (Rp 6.000,-) + Insurance + FS PT Metro Batavia Basic fare + PPN + IWJR (Rp 5.000,-) + FS
PT Kartika Airlines Basic fare + PPN + IWJR (Rp 6.000,-) + FS PT Linus Airways N/A
PT Trigana Air Service Basic fare + PPN + IWJR (Rp 11.000,-) + FS
PT Indonesia Air Asia Basic fare + PPN + IWJR (Rp 6.000,-) + FS (10 Mei 2006 s/d 11 November 2008)
Basic Fare + PPN + IWJR (Rp 6.000,-) + Convenience Fee (sekarang)
(27) Bahwa dalam menetapkan basic fare, masing-masing Terlapor menerapkan pricing strategy berdasarkan sub classes2, dimana besar kecilnya basic fare ditentukan oleh waktu pembelian tiket. Semakin dekat waktu pembelian tiket dengan jadwal keberangkatan, maka harga tiket yang dijual relatif semakin mahal; --- (28) Bahwa sub classes yang diberlakukan oleh masing-masing maskapai penerbangan
yang menjadi Terlapor dalam perkara ini adalah sebagai berikut:---
Tabel 17
Kategorisasi Sub Classes oleh Para Terlapor
Maskapai Penerbangan Jumlah Sub Classes Inisial SubClasses (Ekonomi) (termahal Æ termurah) PT Garuda Indonesia (Persero) 8 Y, M, L, K, N, Q, B, V PT Sriwijaya Air 18 Y, S, W, B, H, K, L, M, N, Q,
T, V, G, E, X, R, P, E PT Merpati Nusantara Airlines
(Persero)
10 Y, S, W, B, H, K, L, M, N, Vi C3.11) PT Mandala Airlines 12 W, S, H, L, N, P, T, U, V, R, J,
A, I
PT Riau Airlines 18 Y, Z, N, A, B, C, D, E, F, G, H, P, Q, L, R, S, T, V PT Travel Express 21 JOW, OOW, UOW, ZOW,
FOW, GOW, COW, IOW, NOW, YOW, HOW, KOW, LOW, MOW, SOW, WOW, TOW, VOW, QOW, XOW,
POW
PT Lion Mentari Airlines 14 Y, A, G, W, S, B, H, K, L, M, N, Q, T, V
PT Wings Abadi Airlines 14 Y, A, G, W, S, B, H, K, L, M, N, Q, T, V
PT Metro Batavia 16 Y, D, H, M, L, B, Q, V, T, S, R, X, N, P, W, Z
PT Kartika Airlines 16 C, D, W, Z, R, I, S, M, L, H, K, T, G, B, V, Q
PT Linus Airways N/A N/A
PT Trigana Air Service 16 YA, YB, YC, YD, YE, YF, YG, YH, YI, YJ, YK, YL, YM, YN,
YO, YP
PT Indonesia Air Asia N/A N/A
(29) Bahwa berdasarkan Pasal 1 angka 17 dan 19 UU tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN), PPN yang dipungut oleh maskapai penerbangan adalah 10% (sepuluh persen) dikali dasar pengenaan pajak (DPP) yaitu seluruh biaya yang diminta/dibebankan oleh perusahaan penerbangan kepada konsumen; --- (30) Bahwa berdasarkan praktek yang dilakukan oleh maskapai penerbangan selama
ini, PPN yang dikenakan kepada penumpang adalah sebesar 10% (sepuluh
(31) Bahwa IWJR (Iuran Wajib Jasa Raharja) adalah asuransi yang wajib dibayar oleh penumpang melalui maskapai penerbangan untuk disetorkan kepada PT Asuransi Jasa Raharja; --- (32) Bahwa berdasarkan Pasal 3 ayat (1) UU No. 33 tahun 1964 tentang Dana
Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang, tiap penumpang yang sah dari kendaraan bermotor umum, kereta-api, pesawat terbang, perusahaan penerbangan nasional dan kapal perusahaan perkapalan/pelayaran nasional, wajib membayar iuran melalui pengusaha/pemilik yang bersangkutan untuk menutup akibat keuangan disebabkan kecelakaan penumpang dalam perjalanan; --- (33) Bahwa Fuel Surcharge menjadi salah satu komponen tambahan dalam perhitungan
harga tiket sejak 10 Mei 2006. Pada saat pemeriksaan lanjutan berlangsung, terdapat 2 (dua) maskapai yang sudah tidak menerapkan Fuel Surcharge, yaitu PT Riau Airlines dan PT Indonesia Air Asia (sejak November 2007). Namun PT Riau Airlines tidak dapat membuktikan tidak pernah menerapkan fuel surcharge; --- 21.4 Tentang Formula Perhitungan Fuel SurcGharge;--- (34) Bahwa sejak mulai diberlakukannya fuel surcharge pada bulan Mei 2006,
Pemerintah c.q. Departemen Perhubungan tidak memberikan formula resmi untuk dijadikan acuan oleh maskapai penerbangan, namun menyerahkannya kepada INACA untuk melakukan perhitungan; --- (35) Bahwa setelah INACA melakukan perhitungan sendiri dan menentukan besaran
fuel surcharge sebesar RP 20.000,- pada tanggal 10 Mei 2006, KPPU memberikan saran kepada INACA untuk membatalkan kesepakatan tersebut karena berpotensi melanggar hukum persaingan usaha; --- (36) Bahwa atas dasar saran KPPU tersebut, Pemerintah dan INACA kemudian
menyerahkan kebijakan perhitungan fuel surcharge kepada masing-masing maskapai penerbangan;--- (37) Bahwa pada 15 Februari 2008, Departemen Perhubungan mengeluarkan Surat
Nomor : AU/830/DAU.150/08 perihal Surat Edaran Pemberlakuan Besaran Fuel Surcharge Pada Penumpang Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri Kelas Ekonomi yang kemudian dikoreksi melalui Surat Nomor:
AU/1386/DAU.260/08 tanggal 03 Maret 2008, disampaikan bahwa formula perhitungan fuel surcharge adalah sebagai berikut: ---
Fuel Surcharge = ((A) – (B)) x (C) per km Note:
A : Harga Avtur setelah Pajak
B : Harga Dasar Avtur yang dipergunakan dalam perhitungan C : Rata-rata Konsumsi Avtur per km
(38) Bahwa berdasarkan hasil perhitungan Tim Monitoring KPPU, setidaknya formula perhitungan fuel surcharge adalah sebagai berikut: ---
FS = V* delta Harga Q*70%
Note:
V : volume avtur maskapai dalam satuan waktu Delta harga: harga saat ini – harga saat penetapan tarif Q : jumlah kapasitas maskapai
(39) Bahwa formula perhitungan fuel surcharge masing-masing maskapai penerbangan yang menjadi Terlapor dalam perkara ini adalah sebagai berikut:---
Tabel 18
Formula Perhitungan Fuel Surcharge Para Terlapor (confidential)
Maskapai Penerbangan
Formula Perhitungan Fuel Surcharge
PT Garuda Indonesia (Persero)
PT Sriwijaya Air
Maskapai Penerbangan
Formula Perhitungan Fuel Surcharge
PT Merpati Nusantara Airlines (Persero)
PT Mandala Airlines
PT Riau Airlines PT Travel Express
PT Lion Mentari Airlines
PT Wings Abadi Airlines
PT Metro Batavia
PT Kartika Airlines
Maskapai Penerbangan
Formula Perhitungan Fuel Surcharge
PT Linus Airways PT Trigana Air Service
PT Indonesia Air Asia
(40) Bahwa perhitungan fuel surcharge yang diterapkan oleh masing-masing maskapai dibagi berdasarkan zona waktu tempuh penerbangan yaitu antara 0 s/d 1 jam, antara 1 s/d 2 jam, antara 2 s/d 3 jam, antara 3 s/d 4 jam dan antara 4 s/d 5 jam; -- (41) Bahwa sebagian besar maskapai penerbangan hanya memiliki rute-rute yang
termasuk dalam 3 zona pertama yaitu antara 0 s/d 1 jam, antara 1 s/d 2 jam, dan antara 2 s/d 3 jam;--- (42) Bahwa menurut PT Garuda Indonesia (Persero), perhitungan fuel surcharge
dipengaruhi oleh asumsi tipe pesawat yang digunakan, load factor, harga avtur, konsumsi avtur, kurs Rupiah terhadap US Dollar, PPN dan daya beli masyarakat;- (43) Bahwa menurut PT Garuda Indonesia (Persero), dalam menaikkan Fuel Surcharge,
tidak pernah melebihi angka Rp 30.000,- Hal ini dilakukan karena mempertimbangkan daya beli masyarakat dimana pasar tidak menghendaki seringnya perubahan fuel surcharge dalam harga, dan harga yang dapat diterima pasar adalah maksimum Rp 20.000,- s/d Rp 30.000,- untuk sekali perubahan. Jika lebih dari angka tersebut, akan menyebabkan terjadinya penurunan trafik.1.1); ---- (44) Bahwa menurut PT Sriwijaya Air, perhitungan fuel surcharge ditentukan oleh
waktu penerbangan, harga fuel, jenis pesawat, dan load factor (vide bukti B4); ---- (45) Bahwa menurut PT Merpati Airlines (Persero), perhitungan fuel surcharge
dipengaruhi oleh harga avtur, tipe pesawat, umur pesawat, jarak tempuh, alternate.(vide bukti B5);---
(46) Bahwa menurut beberapa maskapai penerbangan, komponen penentu perhitungan fuel surcharge adalah harga avtur, konsumsi avtur, kurs Rupiah terhadap US Dollar, load factor, dan daya beli masyarakat; --- 21.5 Tentang Avtur, Harga Avtur dan Konsumsi Avtur; --- (47) Bahwa Aviation Turbine Fuel (AVTUR) atau secara internasional lebih dikenal
dengan nama Jet A-1 adalah bahan bakar untuk pesawat terbang jenis jet atau turbo jet (baik tipe jet propulsion atau propeller). Avtur diproduksi sendiri di kilang-kilang PERTAMINA;--- (48) Bahwa di samping sebagai sumber energi penggerak mesin pesawat terbang,
bahan bakar penerbangan juga berfungsi sebagai cairan hidrolik di dalam sistem kontrol mesin dan sebagai pendingin bagi beberapa komponen sistem pembakaran. Hanya terdapat satu jenis bahan bakar jet-yakni tipe kerosene (minyak tanah), yang digunakan untuk keperluan penerbangan sipil di seluruh dunia. Oleh karenanya sangatlah penting bagi perusahaan penyedia bahan bakar penerbangan untuk memastikan bahan bakar yang disediakannya bermutu tinggi dan sesuai dengan standar internasional;--- (49) Bahwa avtur adalah bahan bakar dari fraksi minyak tanah yang dirancang sebagai
bahan bakar pesawat terbang yang menggunakan mesin turbin atau mesin yang memiliki ruang pembakaran eksternal (External Combustion Engine).
Kinerja/kehandalan Avtur terutama ditentukan oleh karakteristik kebersihannya, pembakaran, dan performanya pada temperatur rendah. Berdasarkan spesifikasi tersebut, avtur harus memenuhi persyaratan yang dibutuhkan, seperti memiliki titik beku (freeze point) maksimum -47°C dan titik nyala (flash point) minimum 38°C (100° F); --- (50) Bahwa produsen avtur di Indonesia adalah PT Pertamina (Persero) yang memiliki
pangsa pasar penjualan avtur dan avgas di Indonesia sebesar 99% (sembilan puluh sembilan persen) yang melayani 54 (lima puluh empat) Depot Pengisian Pesawat Udara (selanjutnya disebut ”DPPU”) di Indonesia; --- (51) Bahwa seluruh maskapai penerbangan yang menjadi Terlapor dalam perkara ini
membeli avtur dari PT Pertamina (Persero); ---