• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KESEHATAN KABUPATEN KENDAL TAHUN 2018 KATA PENGANTAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROFIL KESEHATAN KABUPATEN KENDAL TAHUN 2018 KATA PENGANTAR"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena dengan rahmat- Nya Buku Profil Kesehatan Kabupaten Kendal Tahun 2018 telah dapat diterbitkan berkat kerja sama semua pihak. Buku Profil Kesehatan Kabupaten Kendal Tahun 2018 ini sebagai salah satu keluaran dari upaya pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi Kesehatan.

Penyusunan Profil Kesehatan Tahun 2018 mengalami kendala antara lain kurangnya apresiasi terhadap data sehingga menyebabkan keterlambatan pengumpulan serta kurangnya validitas data. Meskipun demikian, sudah menjadi komitmen untuk tetap mengupayakan agar Profil Kesehatan Tahun 2018 selalu terbit setiap tahun dan lebih awal dari tahun – tahun sebelumnya dalam rangka menyajikan bahan evaluasi terkait masalah Kesehatan, serta pengambilan keputusan berdasarkan data dalam pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat yang kita dambakan.

Tak lupa kami sampaikan penghargaan kepada seluruh jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal dan semua pihak yang telah membantu penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Kendal Tahun 2018 ini, semoga dapat bermanfaat dalam mengisi kebutuhan data dan informasi Kesehatan sesuai yang kita harapkan. Kritik dan saran membangun kami perlukan demi kesempurnaan Profil Kesehatan ini.

KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN KENDAL

Drs. Ferinando Rad Bonay Pembina Tk.I / IV b NIP. 19730223 199302 1 001

(3)

ii DAFTAR ISI

Keterangan Halaman

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. LATAR BELAKANG B. TUJUAN

1. Tujuan Umum 2. Tujuan Khusus

C. SISTEMATIKA PENULISAN

1 2 2 2 2 BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN KENDAL

A. KONDISI GEOGRAFI B. KONDISI DEMOGRAFI

4 4 4 BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT

DI KABUPATEN KENDAL A. Mortalitas

1. Kematian Ibu 2. Kematian Anak

a. Angka Kematian Bayi

b. Angka Kematian Anak Balita B. Morbiditas

1. 10 Besar Penyakit 2. Tb Paru

3. HIV/AIDS 4. Pneumonia 5. Kusta 6. Diare 7. PD3I

8. Penyakit Bersumber Binatang a. DBD

b. Malaria

9. Penyakit Tidak Menular C. Status Gizi

6

6 7 9 9 11 12 12 12 14 17 18 21 22 22 22 24 25 26

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT DI KABUPATEN KENDAL

A. Upaya Pelayanan Kesehatan Dasar 1. Pelayanan Kesehatan Ibu

a. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil b. Pelayanan Persalinan

29

29 29 29 30

(4)

iii c. Pelayanan Nifas

d. Pelayanan Komplikasi Maternal 2. Pelayanan Neonatal, Bayi dan Balita

a. Pelayanan Neonatal

b. Pelayanan Kesehatan Bayi c. Pelayanan Kesehatan Balita 3. Pelayanan Kesehatan siswa SD 4. Pelayanan KB

5. Pelayanan Imunisasi

6. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut 7. Pelayanan kesehatan lansia

B. Upaya Pelayanan Kesehatan Rujukan C. Upaya Pelayanan Jaminan Pemeliharaan

Kesehatan Masyarakat

D. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat 1. Pemberian Tablet Fe

2. Pemberian Kapsul vitamin A 3. Pemberian ASI Eksklusif E. Upaya Kesehatan Lingkungan

1. Rumah sehat 2. Sarana Air Minum 3. Sarana Sanitasi Dasar

4. TUPM dan Kesehatan institusi F. Upaya Pemberdayaan Masyarakat

1. UKBM 2. PHBS

G. Sumber Daya Kesehatan 1. Tenaga Kesehatan

2. Obat dan Perbekalan Farmasi 3. Anggaran Kesehatan

4. Sarana Kesehatan

31 32 32 32 33 34 35 35 36 37 38 38 40

41 41 42 43 44 44 45 45 46 48 48 50 52 52 52 53 54

BAB V KESIMPULAN 55

LAMPIRAN

(5)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, pasal 17 menyebutkan Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan akses terhadap informasi, edukasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Sistem informasi kesehatan merupakan suatu pengelolaan informasi di seluruh tingkat pemerintah secara sistematis dalam rangka penyelengggaraan pelayanan kepada masyarakat. Salah satu keluaran dari penyelenggaraan sistem informasi kesehatan dalam era keterbukaan informasi di tingkat kabupaten adalah Profil Kesehatan Kabupaten, yang merupakan salah satu alat penyajian data yang dapat langsung di akses oleh masyarakat umum. Dengan adanya profil kesehatan kabupaten di harapkan didapatkan gambaran situasi kesehatan masyarakat yang ada di Kabupaten Kendal.

Profil Kesehatan Kabupaten ini juga berfungsi dalam rangka mendukung implementasi visi dan misi Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal, mengingat untuk mencapai visi dan misi tersebut diperlukan adanya data dan informasi yang sangat berguna sebagai dasar pengambilan keputusan pembangunan kesehatan di Kabupaten Kendal. Adapun Visi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal yaitu “TERWUJUDNYA MASYARAKAT SEHAT YANG MANDIRI”, sedangkan misi untuk mencapai visi tersebut adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat

2. Menciptakan pembangunan berwawasan kesehatan melalui peningkatkan kualitas lingkungan

3. Meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat melalui pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat secara merata, terjangkau, bermutu dan berkesinambungan 4. Menciptakan manajemen pembangunan kesehatan dan ketersediaan sumber daya

kesehatan

Profil Kesehatan Kabupaten Kendal ini disusun berdasarkan data yang di dapatkan dari para pemegang program yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal, Puskesmas dan instansi lintas sektoral seperti Rumah Sakit, Badan Pusat Statistik, Dinas Pendidikan, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dan Palang Merah Indonesia.

(6)

2 B. Tujuan

1. Tujuan Umum

a. Menyediakan informasi bagi para stake holder kesehatan sebagai dasar bagi decision making dalam rangka pengambilan keputusan bagi pembangunan kesehatan di Kabupaten Kendal

b. Salah satu media evaluasi bagi sektor kesehatan mengenai target dan sasaran yang telah dicapai, sehingga dapat digunakan sebagai pijakan untuk perencanaan program untuk tahun selanjutnya

2. Tujuan Khusus

a. Memberikan gambaran mengenai situasi dan kondisi geografli serta demografi Kabupaten Kendal

b. Memberikan gambaran mengenai situasi dan kondisi derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Kendal

c. Memberikan gambaran mengenai situasi dan kondisi upaya kesehatan di Kabupaten Kendal

d. Memberikan gambaran mengenai situasi dan kondisi sumber daya kesehatan di Kabupaten Kendal

C. Sistematika Penulisan

Profil Kesehatan Kabupaten Kendal ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini memuat latar belakang perlunya Profil Kesehatan Kabupaten Kendal. Disamping itu dilengkapi dengan maksud dan tujuan, serta sistimatika penulisan Profil Kesehatan Kabupaten Kendal.

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN KENDAL

Dalam bab ini disampaikan kondisi umum di Kabupaten Kendal pada masa kini yang meliputi : Kependudukan, Pendidikan dan kondisi geografis Kabupaten Kendal.

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT

Bab ini menjelaskan tentang uraian indikator kesehatan, diantaranya angka kematian (Mortalitas), angka kesakitan (Morbiditas) dan status gizi masyarakat.

(7)

3

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Berisi uraian tentang upaya kesehatan yang menjadi tujuan pembangunan kesehatan Gambaran tentang upaya kesehatan yang telah dilakukan yang meliputi Upaya Pelayanan Kesehatan, Akses dan mutu pelayanan kesehatan, Perilaku kesehatan masyarkat dan Keadaan lingkungan.

BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

Berisi uraian tentang sarana pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan dan pembiayaan kesehatan di Kabupaten Kendal.

BAB V KESIMPULAN

Berisi kesimpulan dan saran Profil Kesehatan Kabupaten Kendal Tahun 2018.

(8)

4 BAB II

GAMBARAN UMUM KABUPATEN KENDAL

A. Kondisi Geografi

Kabupaten Kendal, merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di jalur utama Pantai Utara Pulau Jawa (Pantura). Kabupaten Kendal memiliki karakteristik daerah yang cukup baik dan menjanjikan untuk dikembangkan dalam berbagai sektor pembangunan. Letak Kabupaten Kendal yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang sebagai Ibukota Propinsi Jawa Tengah sedikit banyak memberikan pengaruh bagi perkembangan wilayah Kabupaten Kendal.

Secara geografis Kabupaten Kendal terletak pada posisi 109º40’-110º 18’ Bujur Timur dan 6º 32’-7º 24’ Lintang Selatan dengan luas wilayah keseluruhan sekitar 1.002,23 km2 atau 100.223 hektar, dengan ketinggian diatas permukaan laut berkisar antara 4 – 641 meter. Batas wilayah Kabupaten Kendal secara administratif dapat diuraikan sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Kota Semarang, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Semarang dan Kabupaten Temanggung dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Batang.

Secara umum, wilayah Kabupaten Kendal terbagi menjadi 2 (dua) daerah dataran, yaitu daerah dataran rendah (pantai) dan daerah dataran tinggi (pegunungan). Wilayah Kabupaten Kendal bagian utara merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 0 - 10 meter dpl, dengan suhu berkisar 27º C, yang meliputi Kecamatan Weleri, Rowosari, Kangkung, Cepiring, Gemuh, Ringinarum, Pegandon, Ngampel, Patebon, Kendal, Brangsong dan Kaliwungu. Wilayah Kabupaten Kendal bagian selatan merupakan daerah dataran tinggi yang terdiri atas tanah pegunungan dengan ketinggian antara 10 - 2.579 meter dpl, suhu berkisar 25º C, meliputi Kecamatan Plantungan, Pageruyung, Sukorejo, Patean, Boja, Limbangan, Singorojo dan Kaliwungu Selatan.

B. Kondisi Demografi

Jumlah Penduduk Kabupaten Kendal tahun 2018 berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kendal tercatat sebanyak 991.686 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 500.446 jiwa (50,46%) dan penduduk perempuan sebanyak 491.240 jiwa (49,54%).

(9)

5

Tabel 1. JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN KABUPATEN KENDAL TAHUN 2018

NO

KELOMPOK UMUR (TAHUN)

JUMLAH PENDUDUK

LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-

LAKI+PEREMPUAN

RASIO JENIS KELAMIN

1 2 3 4 5 6

1 0 - 4 1.705 0.049 61.754 05,51

2 5 - 14 8.975 4.319 153.294 06,26

3 15-39 01.595 95.414 397.009 03,16

4 40-44 6.414 7.166 73.580 7,98

5 45-64 17.069 19.233 236.302 8,19

6 >=65 4.688 5.059 69.747 8,94

JUMLAH 500.446 491.240 991.686 01,87

ANGKA BEBAN TANGGUNGAN (DEPENDENCY RATIO)

40,3 Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kendal

Jumlah Penduduk terbanyak di Kabupaten Kendal berada pada masa usia produktif yaitu antara 15 tahun sampai dengan 64 tahun, dengan jumlah total sebanyak 700.045 Jiwa, terdiri dari 358.658 jiwa penduduk laki-laki dan 341.387 penduduk Wanita.

(10)

6

Tabel 2.

PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS YANG MELEK HURUF MENURUT JENIS KELAMIN DAN KECAMATAN

KABUPATEN KENDAL TAHUN 2018

NO VARIABEL

JUMLAH

LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-LAKI+

PEREMPUAN

1 2 3 4 5

1 PENDUDUK BERUMUR 10

TAHUN KE ATAS 326,216 357,658 683,874

2

PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS YANG MELEK HURUF

354,216 342,315 696,531 Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal

Tabel diatas menggambarkan bahwa jumlah penduduk yang berumur 10 tahun keatas di Kabupaten Kendal yang telah melek huruf sebanyak 696.531 jiwa dimana Laki-laki sebanyak 354.216 jiwa dan Perempuan 342.315 jiwa.

(11)

7 BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT DI KABUPATEN KENDAL TAHUN 2018

Pembangunan kesehatan di Kabupaten Kendal bertujuan untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan menggambarkan tingkat kesehatan dan kemampuan masyarakat mengusahakan dirinya sendiri dan lingkungannya menjadi sehat. Untuk menilai derajat kesehatan masyarakat, digunakan beberapa indikator yang mencerminkan kondisi mortalitas (kematian), status gizi dan morbiditas (kesakitan). Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Kendal digambarkan melalui Angka Mortalitas;

terdiri atas Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Anak Balita (AKABA), dan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Morbiditas; angka kesakitan beberapa penyakit serta Status Gizi pada balita dan dewasa. Ketiga indikator tersebut merupakan faktor utama gambaran dari derajat kesehatan masyarakat. Berikut akan diuraikan mengenai kondisi dan situasi derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Kendal pada tahun 2018 berdasarkan ketiga indikator di atas.

A. Mortalitas

Mortalitas dapat djelaskan sebagai kejadian kematian pada suatu masyarakat dari waktu dan tempat tertentu yang dapat menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar, kondisi / tingkat permasalahan kesehatan, kondisi lingkungan fisik dan biologis secara tidak langsung. Selain itu dapat pula digunakan sebagai indikator dalam penilaian pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan. Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat memberi gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat atau dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya.

Bermacam-macam indikator mortalitas yang sering dipakai diantaranya:

1. Angka Kematian Kasar (AKK) atau Crude Ceath Rate (CDR) 2. Angka Kematian Bayi (AKB)

3. Angka Kematian Anak Balita (aKaBa) 4. Angka Kematian Ibu (AKI), dan

5. Umur Harapan Hidup (UHH) atau Life Expectancy

Dari beberapa indikator mortalitas di atas, sektor kesehatan sangat memperhatikan mengenai 3 indikator yang tercantum dalam tujuan global Millenium Development Goals (MDG‟s) yaitu Penurunan Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Anak Balita (aKaBa).

1. Kematian Ibu

Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dari derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidental) selama

(12)

8

melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan. Sensitivitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.

Adapun tren dari angka kematian ibu dan jumlah kasus kematian ibu di Kabupaten Kendal dari tahun 2011 sampai dengan 2018 mengalami penurunan.

Berikut merupakan gambaran dari perjalanan angka kematian ibu maternal dan jumlah kematian ibu di Kabupaten Kendal.

Grafik 1

Sumber : Bidang Kesmas Dinkes Kendal Tahun 2011-2018

Berdasarkan tren kematian ibu di Kabupaten Kendal, dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2018 sangat bervariatif. Berdasarkan laporan Puskesmas jumlah kematian ibu maternal di Kabupaten Kendal pada tahun 2018 sebanyak 18 kasus dari 15.498 kelahiran hidup atau sekitar 116,14 per 100.000 KH.

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Kematian Ibu 27 22 21 19 23 19 25 18

AKI 164,92 131,88 128,78 119,97 148,81 125,97 163,51 116,14 0

50 100 150 200 250

Axis Title

Grafik Angka Kematian Ibu dan Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten Kendal Tahun 2011

s/d 2018

(13)

9

Adapun waktu kejadian dari 18 ibu yang meninggal dapat dilihat pada grafik berikut,

Grafik 2

Sumber : Bidang Kesmas Dinkes Kendal Tahun 2018

Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa dari waktu kejadian kematian ibu, paling banyak terjadi pada masa nifas, dimana 44% terjadi pada masa nifas. Hal ini berarti, dari segi pelayanan dan kualitas pelayanan kesehatan sudah cukup bagus, walaupun masih perlu ditingkatkan untuk kapabilitas dan kecakapan petugas kesehatan dalam hal penanganan persalinan (ANC), mengingat masih ada 28%

ibu yang meninggal akibat dari proses persalinan dan 28% ibu hamil yang meninggal.

Pemerintah Kabupaten Kendal melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal terus berupaya dalam menurunkan Angka Kematian Ibu dengan adanya pembentukan puskesmas mampu persalinan dan penyediaan Rumah Tunggu Kelahiran.

2. Kematian anak

Yang dimaksud dengan anak dalam profil kesehatan ini adalah penduduk yang berusia 0 atau 1 hari sampai menjelang 5 tahun atau tepatnya 1 sampai dengan tahun 11 bulan 29 hari. Dalam hal ini, klasifikasi anak dapat dibagi menjadi kategori bayi (0-12 bulan) dan anak balita (12 bulan sampai dengan menjelang 5 tahun).

a. Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate) merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam mendeskripsikan tingkat pembangunan manusia di sebuah negara dari sisi kesehatan masyarakatnya. Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi

28%

28%

44%

Waktu kejadian kematian ibu Tahun 2018

hamil bersalin nifas

(14)

10

ada dua macam yaitu endogen dan eksogen. Kematian bayi endogen atau yang secara umum disebut dengan kematian neonatal; adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.

Angka kematian bayi adalah jumlah penduduk yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Usia bayi merupakan kondisi yang rentan baik terhadap kesakitan maupun kematian.

Grafik 3

Sumber : Bidang Kesmas Dinkes Kab. Kendal Tahun 2011-2018

Jumlah kelahiran di Kabupaten Kendal dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2018 mengalami fluktuasi, dengan jumlah kelahiran paling sedikit terjadi pada tahun 2017 dengan angka kelahiran 15.290 kelahiran dan mengalami kenaikan pada tahun 2018 dengan angka 15.498 kelahiran.

Dari total keseluruhan jumlah kelahiran bayi tersebut, ada penurunan kematian bayi, pada tahun 2017 terdapat 142 bayi yang meninggal atau 9,28 per 1000 kelahiran hidup sedangkan pada tahun 2018 terdapat sekitar 127 bayi yang meninggal atau 8,19 per 1000 kelahiran hidup.

14.000 14.500 15.000 15.500 16.000 16.500 17.000

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Kelahiran hidup 16.495 16.919 16.307 15.937 15.456 15.513 15.290 15.498

Axis Title

Jumlah Kelahiran Hidup Kabupaten Kendal Tahun

2011 s/d 2018

(15)

11

Grafik 4

Sumber : Bidang Kesmas Dinkes Kab. Kendal Tahun 2012-2018 b. Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. AKABA merepresentasikan risiko terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. Berdasarkan data, angka kematian Balita di Kabupaten Kendal tahun 2018 sebanyak 138 Balita atau 8,19 per 1000 kelahiran hidup, menurun dibandingkan pada tahun 2017 sebanyak 167 Balita atau 10,9 per 1000 kelahiran hidup.

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

AK Bayi/1000 KH2 14,21 9,38 6,84 10,35 8,29 9,28 8,19

Kematian Bayi 237 153 109 160 125 142 127

0 50 100 150 200 250 300

Axis Title

Kematian Bayi dan Angka Kematian Bayi

Kabupaten Kendal Tahun 2012 s/d 2018

(16)

12

Grafik 5

Sumber : Bidang Kesmas Dinkes Kab. Kendal Tahun 2011-2018

B. Morbiditas

Morbiditas adalah angka kesakitan, dapat berupa angka insiden maupun angka prevalensi dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi dan pada kurun waktu tertentu. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatam masyarakat suatu wilayah.

1. 10 Besar Penyakit

Pola 10 penyakit terbanyak pada pasien yang ada di Puskesmas berdasarkan laporan SP3 Puskesmas menunjukkan bahwa kasus Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) masih menjadi kasus terbanyak di Kabupaten Kendal sebesar 140.305 penderita. Berikut merupakan gambaran 10 besar penyakit di Kabupaten Kendal pada tahun 2018.

Tabel 3

10 besar penyakit di Kabupaten Kendal Tahun 2018

No JENIS PENYAKIT JUMLAH

1 Infeksi saluran pernafasan atas akut 140.305

2 Hipertensi 41.787

3 Influensa 37.966

4 Batuk 34.858

5 Dermatitis & Exzema 23.738

6 Arthritis 21.850

7 Cephalgia 20.045

8 Diarhea & inf bakteri usus lain 18.758 9 Diabetes melitus/kencing manis 17.497 10 Peny. Lambung dan duodenum 16.112 Sumber : Laporan SP3 Tahun 2018

0 50 100 150 200 250

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Kematian Bayi 237 153 109 160 125 142 127

AK Bayi/1000 KH 14,21 9,38 6,84 10,35 8,05 9,28 8,19

Kematian Anak Balita 8 21 24 32 21 25 59

AK Anak Balita/1000KH 0,48 1,29 1,52 2,07 1,35 1,64 3,81

Kematian Balita 245 174 133 160 195 167 138

AK Balita/1000KH 14,69 10,67 8,36 10,35 12,57 10,9 8,9

Axis Title

Jumlah Kasus Kematian Bayi, Anak

Balita, Balita, dan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA)

Tahun 2012-2018

(17)

13 2. Tuberculosis (TB)

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang sebagian besar disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Penyebab tuberkulosis adalah mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 /um dan tebal 0,3-0,6 /um. Sebagian besar kuman terdiri dari asam lemak lipid. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin. Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant (tidur).

Setelah tahun 2016, indikator untuk TB menggunakan indikator Case Notification Rate (CNR) sebagai indikator menggambarkan cakupan penemuan pasien TB.

Adapun CNR Tb pada tahun 2018 untuk Kabupaten Kendal sebesar 119,49 per 100.000 penduduk, meningkat dibandingkan pada tahun 2017 sebesar 108,8 per 100.000 penduduk.

Case Notification Rate (CNR) adalah angka yang menunjukkan jumlah seluruh pasien TB yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah. Angka CNR berguna untuk menunjukkan kecenderungan peningkatan atau penurunan penemuan pesien TB di suatu wilayah. Tinggi rendahnya angka CNR di suatu wilayah selain dipengaruhi oleh upaya penemuan kasus (case finding) juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kinerja sistem pencatatan dan pelaporan di wilayah tersebut, jumlah fasyankes yang terlibat DOTS dan banyaknya pasien TB yang tidak terlaporkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan.

Untuk kasus spesifik TB paru, angka Case Notification Rate (CNR) pada tahun 2018 sebesar 107,8 per 100.000 penduduk, menurun dibandingkan pada tahun 2017 sebesar 118,0 per 100.000 penduduk.

Salah satu strategi penanggulangan Tb paru yang telah terbukti sebagai strategi yang secara ekonomis paling efektif adalah strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) atau dapat diartikan pengawasan langsung menelan obat jangka pendek. Adapun tujuannya adalah untuk mencapai angka kesembuhan yang tinggi, mencegah putuh berobat, mengatasi efek samping obat jika timbul dan mencegah resistensi. Ada lima kunci utama dalam pelaksanaan strategi DOTS, yaitu:

a. Komitmen

b. Diagnosa yang baik

c. Ketersediaan dan lancarnya distribusi obat d. Pengawasan penderita menelan obat

e. Pencatatan dan pelaporan penderita dengan sistem kohort

(18)

14

Grafik 5

Sumber : Bidang P2P Dinkes Kendal Tahun 2013-2018

Angka kesembuhan (Cure Rate) pada tahun 2018 mengalami kenaikan dibandingkan pada tahun 2017, berdasarkan laporan dari puskesmas angka kesembuhan untuk tahun 2018 sebesar 30,87%, meningkat dibandingkan pada tahun 2017 yang sebesar 24,11%. Sedangkan untuk angka keberhasilan pengobatan (succes rate) pada tahun 2018 menurun dibandingkan pada tahun 2017. Succes rate pada tahun 2018 sebesar 48,16% sedangkan pada tahun 2017 sebesar 53,6%.

3. HIV AIDs

AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan kumpulan dari gejala dan infeksi atau biasa disebut sindrom yang diakibatkan oleh kerusakan sistem kekebalan tubuh manusia karena virus HIV, sementara HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus merupakan virus yang dapat melemahkan kekebalan tubuh pada manusia. Jika seseorag terkena virus semacam ini akan mudah terserang infeksi oportunistik atau mudah terkena tumor. Untuk sampai saat ini, penyakit HIV AIDS belum bisa disembuhkan dan ditemukan obatnya, kalaupun ada itu hanya menghentikan atau memperlambat perkembangan virusnya saja.

Ada 3 proses penularan HIV/AIDS dapat terjadi:

a. Secara vertical (dari ibu ke janin), penularan dapat terjadi sewaktu dalam kandungan, saat persalinan dan saat menyusui.

b. Horisontal (dari 1 orang ke orang lain lewat darah), penularan dapat terjadi sewaktu tranfusi darah yang terkontaminasi virus HIV, atau menggunakan alat-alat invasive yang terkontaminasi, seperti jarum suntik, jarum tato, pisau cukur, dll.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

2013 2014 2015 2016 2017 2018

cure rate 83,95 74,06 78,45 76,8 24,11 30,87

succes rate 87,64 89,8 85,08 85,19 53,6 48,16

Axis Title

Cure Rate dan Succes rate pengobatan TB Kabupaten

Kendal tahun 2013 s/d 2018

(19)

15

c. Secara transeksual (melalui hubungan seksual ), penularan terjadi pada hubungan seksual yang berisiko, yaitu berhubungan seksual dengan orang yang terinfeksi HIV/AIDS atau berhubungan sex dengan banyak pasangan tanpa menggunakan kondom

Dalam epidemi HIV/AIDS, dikenal tiga (3) tingkatan HIV/AIDS di masyarakat, yaitu:

1. Low (Rendah)

2. Epidemi terkonsentrasi (kasus HIV/AIDS pada subpopulasi tertentu lebih dari 10% dan kasus di ibu hamil kurang dari 5%

3. Generalized (kasus HIV/AIDS yang tinggi ditemukan di maysarakat, yaitu lebih dari 1% jumlah penduduk, atau lebih 5% pada ibu hamil).

Gambaran mengenai tren kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kendal tahun 2000- 2018, dapat dilihat pada gambar berikut,

Grafik 6. Tren Kasus HIV/Aids di Kabupaten Kendal Tahun 2000-2018

Sumber : Bidang P2P Dinkes Kendal Tahun 2011-2018

Dari gambar grafik bidang di atas terlihat bahwa ada penurunan jumlah kasus HIV baru pada tahun 2018, dimana ada temuan kasus HIV sebanyak 59 kasus. Sedangkan untuk kasus AIDS ada sekitar 60 kasus, naik dari tahun 2017 sebanyak 59 kasus, dan kasus kematian yang diakibatkan oleh HIV/AIDS meningkat pada tahun 2017 dari 40 kasus menjadi 44 kasus pada tahun 2018. Dilihat dari jenis pekerjaannya, penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kendal pada tahun 2017,

00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18

HIV 1 0 2 7 4 4 4 22 18 25 27 27 28 50 63 50 39 73 59

AIDS 0 0 0 0 1 0 7 4 8 19 14 19 20 30 29 55 61 59 60

Meninggal 0 0 0 0 0 0 1 4 7 19 10 13 21 30 21 26 31 40 44 0

10 20 30 40 50 60 70 80

Axis Title

(20)

16

Grafik 7.

Sebaran Kasus HIV/AIDS menurut jenis pekerjaan di Kabupaten Kendal Tahun 2018

Sumber : Bidang P2P Tahun 2018

Dilihat dari sebaran umur, terdapat hal yang cukup memprihatinkan dikarenakan sebanyak 94 kasus diderita oleh pasien dengan umur produktif, yaitu kisaran umur 25-49 tahun. Sedangkan ada sebanyak 1 penderita yang berumur dibawah tahun. Grafik sebaran umur penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kendal dapat dilihat sebagai berikut,

Grafik 8. Sebaran Umur Kasus HIV/AIDS Kabupaten Kendal Tahun 2018

Sumber : Bidang P2P tahun 2018

Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka penanganan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Kendal, adapun kegiatan tersebut diantaranya:

IRT; 28

K. Swasta; 39 WPS; 8

pelajar/mawa; 2

PRT/TKW; 9 Wiraswasta; 17 Waria; 3 Buruh; 5

Supir; 5 Salon; 0 Blm Bekerja; 2 Perangkat Desa; 0 PNS/Angk; 1

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

<4 5-14 15-19 20-24 25-49 ≥50

1 2 1

9

94

12

Axis Title

Sebaran Umur

(21)

17

a. VCT Mobile pada populasi berisiko, seperti narapidan, WPS, sopir, TKW, operator karaoke, gay, waria dan wanita rawan ekonomi

b. Klinik VCT di RSUD Soewondo Kendal c. Klinik IMS di lokalisasi Gambilangu

d. Layanan CST di RSUD Soewondo dan RSUP Karyadi e. Pemeriksaan CD ke RSUP Karyadi/lab

f. Pengobatan presumsif berkala pada WPS g. Rintisan program screening ibu hamil/ANC h. Sero survey dan pelacakan kasus HIV/AIDS

i. Pendampingan kasus HIV/AIDS oleh manajer kasus 4. Pneumonia

Pneumonia adalah suatu penyakit infeksi atau peradangan pada organ paru- paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun parasit dimana pulmonary alveolus (alveoli) yang berperan menyerap oksigen dari atmosfer menjadi “inflame” dan terisi oleh cairan. Pneumonia dapat juga disebabkan oleh iritasi kimia atau fisik dari paru-paru atau sebgai akibat dari penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau terlalu banyak minum alkohol. Namun, penyebab yang paling sering ialah serangan bakteria streptococcus pneumoniae, atau pneumokokus. Populasi yang rentan terkena pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, lansia dan orang yang memiliki masalah kesehatan.

Adapun cakupan penemuan dan penanganan penderita pneumonia balita di Kabupaten Kendal dari tahun 2011-2018 dapat dilihat pada gambar berikut:

Grafik 9

Sumber : Bidang P2P Dinkes Kendal 2011-2018

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Cakupan penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita

77 75,2 89,6 74,6 49,21 134,39 41,42 10,69 0

20 40 60 80 100 120 140 160

Axis Title

Cakupan penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita Kabupaten

Kendal Tahun 2011 s/d 2018

(22)

18

Cakupan penemuan pneumonia balita di Kabupaten Kendal untuk tahun 2018 mengalami tren penurunan yang cukup signifikan dibandingkan pada tahun 2017, turun menjadi 10,69% pada tahun 2018 dari 41,42% pada tahun 2017.

5. Kusta

Kusta (dari bahasa Yunani “lepi”, berarti sisik ikan), atau penyakit Hansen (HD), adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dan “Mycobacterium lepromatosis”. Kusta adalah penyakit granulomatosa terutama saraf perifer dan mukosa dari saluran pernapasan atas; lesi kulit adalah tanda eksternal primer. Jika tidak diobati, kusta dapat bersifat progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota badan dan mata. Kusta tidak secara langsung menyebabkan bagian tubuh jatuh pada kemauan mereka sendiri, melainkan mereka menjadi cacat atau autoamputated sebagai akibat dari gejala penyakit.

WHO membagi penyakit kusta menjadi 2 jenis, yaitu pausibasiler (PB) dan multibasiler (MB). Disebut kusta paubasiler jika BTA negatif, sedangkan kusta multibasiler jika BTA positif. Kusta tipe PB adalah tipe kusta yang tidak menular dan disebut juga sebagai kusta kering. Sedangkan kusta tipe MB atau kusta basah adalah kusta yang sangat mudah menular. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut:

a. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati

rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot

c. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA posotif).

Selama kurun waktu 2012 sampai tahun 2018 terjadi tren yang fluktuatif.

Untuk tahun 2018, terjadi kenaikan angka penemuan kasus baru kusta sebesar 2,02 per 100.000 penduduk. Gambaran penemuan kusta baru dari tahun 2012 sampai dengan 2018 dapat dilihat sebagai berikut,

(23)

19

Grafik 10

Sumber : Bidang P2P Dinkes Kendal Tahun 2012-2018

Berdasarkan bebannya, kusta dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kusta beban tinggi (high burden) dan kusta beban rendah (low burden). Disebut dengan kusta beban tinggi (high burden) apabila NCDR (New Case Detection Rate) >

10 per 100.000 penduduk, sedangkan untuk kusta beban rendah (low burden) apabila NCDR (New Case Detectino Rate) < 10 per 100.000 penduduk atau jumlah kasus kurang dari 1000 kasus.

Berdasarkan tipenya, kusta terdapat 2 tipe yaitu kusta PB (Pausi Basillary) atau disebut juga kusta kering. Hal ini terjadi apabila ada bercak keputihan seperti panu dan mati rasa atau kurang merasa, permukaan bercak kering dan kasar serta tidak berkeringat, tidak tumbuh rambut atau bulu, bercak pada kulit antara 1-5 tempat. Ada kerusakan saraf tepi pada satu tempat, hasil pemeriksaan bateriologis negative (-), tipe kusta ini tidak menular. Serta kusta MB (Multi Basillary) atau kusta basah, bilamana terdapat bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merata di seluruh kulit badan, terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, bercak pada kulit lebih dari 5 tempat, kerusakan banyak saraf tepi dan pemeriksaan hasil positif (+), tipe kusta ini sangat mudah menular. Untuk penemuan kasus kusta pada tahun 2018, sebanyak 20 kasus yang terdiri dari 1 kasus kusta PB dan 19 kasus kusta MB. Gambaran penemuan kusta PB dan MB dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2018 dapat dilihat sebagai berikut,

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Jumlah Kasus 26 28 23 22 18 17 20

NCDR/100000 penduduk 2,7 2,93 2,2 2,31 1,87 1,73 2,02 0

5 10 15 20 25 30

Axis Title

Jumlah dan Tren Kasus baru kusta

Kabupaten Kendal Tahun 2012 s/d 2018

(24)

20

Grafik 11

Sumber : Bidang P2P Dinkes Kendal Tahun 2012-2018

Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya proporsi cacat tingkat II pada penderita baru. Proporsi penderita cacat tingkat II di Kabupaten Kendal pada tahun 2011-2018 sebagai berikut:

Grafik 12

Sumber : Bidang P2P Dinkes Kendal Tahun 2011-2018

Proporsi penderita cacat tingkat II pada penderita kusta di Kabupaten Kendal, menunjukkan tren kenaikan pada tahun 2018 yang semula 17,64% pada tahun 2017 menjadi 20,0% pada tahun 2018.

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Kusta MB 22 25 21 19 17 14 19

Kusta PB 4 3 2 3 1 3 1

0 5 10 15 20 25 30

Axis Title

Jumlah Kasus Kusta PB dan Kusta MB Kabupaten Kendal Tahun 2012 s/d 2018

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Series 1 33,3 19,23 25 26,09 4,55 44,4 17,64 20,0

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

Axis Title

Persentase penderita kusta cacat Tk. II

Kabupaten Kendal Tahun 2011 s/d 2018

(25)

21 6. Diare

Diare adalah sebuah penyakit dimana penderita mengalami rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau feses memiliki kandungan air yang berlebihan. Diare bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya.

Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya diare. Di Kabupaten Kendal sendiri pada tahun 2018 diperkirakan terjadi kasus diare sebanyak 21.222 kasus, kasus yang ditangani sebanyak 17.983 kasus (84,7%)

Secara umum, berikut ini beberapa penyebab diare, yaitu:

1. Infeksi oleh bakteri, virus (sebagian besar diare pada bayi dan anak disebabkan oleh infeksi rotavirus) atau parasit.

2. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu teruatama antibiotik.

3. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti:

Campak, Infeksi telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria, dll.

Istilah diare dibagi menjadi berbagai macam bentuk diantaranya:

1. Diare akut : kurang dari 2 minggu 2. Diare persisten : lebih dari 2 minggu

3. Disentri : diare disertai darah dengan ataupn tanpa lender 4. Kholera : diare dimana tinjanya terdapat bakteri Cholera

Grafik 13

Sumber : Bidang P2P Dinkes Kendal Tahun 2012-2018

Cakupan penanganan penderita diare adalah jumlah penderita diare yang berobat ke tempat pelayanan kesehatan dibagi dengan jumlah sasaran.

Cakupan penanganan penderita diare di Puskesmas Kabupaten Kendal pada tahun 2018 sebesar 84,7%, hal ini menurun jika dibandingkan pada tahun

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Cakupan penanganan diare 50,8 60,4 257,4 120,81 107,3 68,3 84,7 0

50 100 150 200 250 300

Axis Title

Cakupan penanganan diare

(26)

22

2017 dimana untuk cakupan penanganan penderita diare di puskesmas sebesar 68,3%.

7. PD3I (Penyakit Dapat Dicegah Dengan Imunisasi)

PD3I adalah salah satu program nasional yang indikator keberhasilannya tergantung pada cakupan imunisasi. Penyakit yang dapat dicegah tersebut diantaranya TBC, Tetanus, Diphteri, Pertusis, Polio, Campak, Hepatitis B.

Penyakit ini disamping dapat menimbulkan kematian, kesakitan juga kecacatan, bahkan apabila tidak ditangani secara maksimal dapat menular dan mengakibatkan kejadian luar biasa (KLB). Salah satu upaya pencegahan yang menyeluruh hanya dengan pemberian imunisasi. Untuk Kabupaten Kendal, pada tahun 2018, PD3I yang masih menjadi masalah yaitu kasus AFP (Accute Flacid Paralysis) dikarenakan pada tahun 2018 masih ditemukan kasus AFP di Kabupaten Kendal sebanyak 14 kasus.

Grafik 14

Sumber : Bidang P2P Dinkes Kendal Tahun 2011-2017

Adapun AFP rate untuk Kabupaten Kendal pada tahun 2018 sebesar 6,51/100.000 penduduk usia < 15 tahun, sedangkan target penemuan kasus AFP Rate > 2/100.000 penduduk usia <15 tahun.

8. Penyakit Bersumber Binatang

a. DBD (Demam Berdarah Dengue)

DBD (Demam Berdarah Dengue) merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopticus. Demam berdarah menjadi salah satu permasalahan kesehatan di Kabupaten Kendal yang bersifat sangat

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Kasus AFP 4 4 7 6 3 1 5 14

0 2 4 6 8 10 12 14 16

Axis Title

Kasus AFP

(27)

23

klasik, hal ini dikarenakan penyakit ini selalu menjadi masalah yang setiap tahun ada dan terdapat siklus lima tahunan yang mempunyai tingkat fasilitas yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan penyakit ini sangat erat hubungannya dengan kesehatan lingkungan dan perubahan perilaku pada masyarakat. Dinas kesehatan sudah berupaya keras untuk mencegah penyakit ini dengan adanya program Fogging (Penyemprotan) akan tetapi upaya ini belum cukup apabila masyarakat belum memiliki kesadaran dalam menjaga kesehatan lingkungan dan personal hygiene melalui program PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk).

Berikut merupakan kondisi kasus DBD di Kabupaten Kendal dan tingkat fatalitasnya,

Grafik 15

Sumber : Bidang P2P Dinkes Kab. Kendal Tahun 2011-2018

Berdasarkan grafik terlihat bahwa, tren IR DBD dari tahun 2011 sampai dengan 2015, selalu meningkat. Sedangkan untuk tahun 2017 dan 2018 terjadi penurunan Inciden Rate. Untuk tahun 2017 IR DBD sebesar 6,4/100.000 penduduk menjadi 3,3/100.000 penduduk pada tahun 2018. CFR DBD tahun 2018 meningkat dibandingkan tahun 2017, yaitu sebesar 3,3% dari 1,6% pada tahun 2017. Kasus DBD perlu mendapat perhatian yang cukup besar. Upaya pemberantasan nyamuk melalui fogging perlu lebih diperketat prosedur pelaksanaanya, mengingat apabila upaya fogging dilakukan terlalu berlebihanhal tersebut akan menimbulkan resistensi vektor penyakit dari DBD yaitu Nyamuk Aedes Aegipty. Seperti diketahui, vektor

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 IR/100000 penduduk 0,9 20 57,5 59,8 68,8 43,6 6,4 3,3

CFR 0 2,11 1,6 1,05 1,4 1,9 1,6 3,03

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Axis Title

IR dan CFD DBD Kabupaten Kendal

Tahun 2011 s/d 2018

(28)

24

penyakit DBD adalah Nyamuk Aedes Aegipty yang mempunyai habitat di genangan air bersih dan lebih banyak ditemukan beristirahat di dalam rumah yaitu di pakaian yang menggantung, kelambu dan tempat lembab atau tempat teduh lainnya. Oleh sebab itu, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan pemberdayaan masyarakat memegang peranan yang sangat penting dalam penanganan dan pemberantasan penyakit DBD. Selama ini, di Kabupaten Kendal, anggaran upaya penanganan dan pemberantasan penyakit DBD masih bersifat reaktif, dalm arti apabila ditemukan adanya kasus di suatu tempat akan langsung direspon oleh tim Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal untuk melakukan Penyelidikan Epidemiologi (EP), apabila diperlukan akan dilakukan upaya fogging. Upaya yang bersifat promotif dan preventif masih sangat minim, oleh sebab itu, untuk upaya penanganan dan pemberantasan penyakit DBD ke depannya sebaiknya dititikberatkan lebih kepada promotif dan preventif.

b. Malaria

Malaria adalah penyakit menular yang dapat ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Nyamuk ini membawa pesan parasit plasmodium dan menggigit orang sekaligus menyebarkannya melalui peredaran darah.

Malaria merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian, selain itu malaria dapat langsung menyebabkan anemia dan menurunkan produktivitas kerja. Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia dan ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina, malria dapat menyerang siapapun dan dari semua golongan umur.

Bersama dengan HIV AIDS dan TB, malaria menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goals. Upaya menekan angka kesakitan dan kematian malaria dilakukan melalui program pemberantasan malaria yang kegiatannya antara lain meliputi diagnosis dini, pengobatan cepat dan tepat, surveilans dan pengendalian vektor yang kesemuanya ditujukan untuk memutus mata rantai penularan malaria. Ditjen PP dan PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas malaria suatu wilayah di Indonesia sebagai berikut:

a. Endemis tinggi bila API > 5/1000 penduduk

b. Endemis sedang bila API berkisar antara 1-5/1000 penduduk c. Endemis rendah bila API 0-1/1000 penduduk

d. Non endemis, adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria atau API = 0

(29)

25

API (Annual Paracite Incidents) merupakan indikator untuk mengukur angka kejadian malaria pada satu daerah selama satu tahun. Pada tahun 2018, jumlah kasus malaria di Kabupaten Kendal sebanyak 12 kasus.

9. Penyakit Tidak Menular (PTM)

Penyakit tidak menular (PTM) kurang lebih mempunyai kesamaan dengan beberapa sebutan lainnya, seperti:

a. Penyakit kronis b. Penyakit noninfeksi

c. New communicable diseases d. Penyakit degeneratif

e. Penyakit perilaku

Kesamaan penyebutan ini tidaklah sepenuhnya memberi kesamaan penuh antara satu dengan lainnya. Penyakit kronis dapat dipakai untuk PTM karena kelangsungan PTM biasanya bersifat kronis (menahun) atau lama. Namun demikian ditemukan juga penyakit tidak menular yang kelangsungannya mendadak / akut, misalnya keracunan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempergunakan istilah penyakit kronis untuk penyakit-penyakit tidak menular. Yang dimaksud dengan penyakit kronis ini memang jenis-jenis penyakit yang bersifat kronis, dan itdak memperhatikannya dari segi apakah menular atau tidak.

Nama penyakit kronis non infeksi dipakai karena proses patologi PTM bukanlah suatu proses infeksi yang dipicu oleh mikroorganisme. Hanya saja tidak berarti bahwa kejadian PTM tidak ada hubungannya dengan peranan mikroorganisme. Proses patologi PTM mempunyai karakteristik tersendiri sesuai dengan jenis penyakit masing-masing.

Disebut juga sebagai penyakit degeneratif karena kejadiannya bersangkutan dengan proses degenerasi atau ketuaan, sehingga PTM banyak ditemukan pada usia lanjut. Karena perlangsungannya yang lma, menyebabkan PTM berkaitan dengan proses degeneratif yang berlangsung sesuai waktu / umur.

Sementara itu ada yang secara populer ingin menyebutnya sebagai „new communicable disease‟ karena penyakit ini dianggap dapat menular, yaitu melalui gaya hidup. Gaya hidup dalam dunia modern dapat menular dengan caranya sendiri, tidak seperti penularan klasik penyakit menular yang lewat suatu rantai penularan tertentu. Gaya hidup di dalamnya dapat menyangkut pola makan, kehidupan seksual, dan komunikasi global. Perubahan pola makan telah mendorong perubahan peningkatan penyakit jantung yang berkaitan dengan makan berlebih atau kolesterol tinggi.

(30)

26

Berbeda dengan penyakit menular, PTM mempunyai beberapa karakteristik tersendiri seperti:

a. Penularan penyakit tidak melalui suatu rantai penularan tertentu b. Masa inkubasi panjang dan laten

c. Perlangsungan penyakit yang berlarut-larut (kronis) d. Banyak menghadapu kesulitan diagnosis

e. Mempunyai variasi yang luas

f. Memerlukan biaya tinggi dalam upaya pencegahan maupun penanggulangannya

g. Faktor penyebab bermacam-macam (multi kausal), bahkan tidak jelas Saat ini di negara berkembang telah terjadi pergeseran penyebab kematian utama yaitu dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Kecenderungan transisi ini dipangaruhi oleh adanya perubahan gaya hidup, urbanisasi, dan globalisasi.

Untuk di Kabupaten Kendal, pada tahun 2018 kasus penyakit Jantung &

Pembuluh darah masih mendominasi jumlah penyakit tidak menular. Berikut merupakan gambaran kasus penyakit tidak menular di Kabupaten Kendal,

Gambar 17. Tabel Penyakit Tidak Menular Di Kabupaten Kendal Tahun 2018

No. Jenis Penyakit Jumlah

1 Neoplasma Ca

Ca Ca Ca

Servik 78

Mamae Hepar

Paru

151 0 0 2 Diabetes

Melitus

ID ND

DM DM

983 11.867 3 Penyakit

Jantung &

Pembuluh Darah

Angina Pekt AMI

Dekomp kordis Hipertensi esensial Hipertensi lain

0 55 595 32.308

0 Stroke Hemoragik 772

Non Hemorogik

0

4 PPOK 272

5 Asma Bronkial 2.195

6 Psikosis 0

C. Status Gizi

Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga diidentifikasikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien. Salah satu indikator yang dijadikan dalam tolok ukur keberhasilan pencapaian Millenium Development Goals. Status gizi balita diukur berdasarkan umur,

(31)

27

Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB). Status gizi dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Bila tubuh memperoleh cukup zat- zat gizi dan digunakan secara efisien akan tercapai status gizi optimal yang memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Jika keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien tadi terganggu, misalnya pengeluaran energi dan protein lebih banyak dibandingkan pemasukan maka akan terjadi kekurangan energi protein, dan jika berlangsung lama akan timbul masalah yang dikenal dengan KEP berat atau gizi buruk.

Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau melalui hasil pencatatan dan pelaporan program perbaikan gizi masyarakat yang tercermin dalam hasil penimbangan bayi dan balita setiap bulan di posyandu. Menurut laporan puskesmas pada tahun 2018 Kabupaten Kendal menunjukkan jumlah Bayi Lahir Hidup sebanyak 15.396 bayi. Untuk kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada tahun 2018 yaitu sebanyak 682 yang terdiri dari 323 bayi laki-laki dan 359 bayi perempuan.

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas, dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya di masa depan.

Sedangkan jumlah balita yang dilaporkan (S) yaitu sejumlah 73.124 anak dengan rincian jumlah balita yang ditimbang (D) 62.107 atau D/S sebesar 84,9% dan balita di bawah garis merah (BGM) sebanyak 1.325 anak (2,1%). Pada tahun 2018, jumlah balita gizi buruk Kabupaten Kendal sebanyak 22 balita sedangkan pada tahun 2017 jumlah balia gizi buruk sebanyak 25 kasus.

Dari 22 kasus balita gizi buruk di Kabupaten Kendal, cakupan terhadap penanganan balita gizi buruk mendapatkan perawatan sebesar 100%, hal ini berarti semua balita gizi buruk yang ditemukan sudah mendapatkan penanganan medis baik di tingkat puskesmas maupun rujukan di tingkat rumah sakit. Berikut merupakan grafik kasus gizi buruk dari tahun 2011 samapu dengan tahun 2018,

(32)

28

Grafik 16

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kendal Tahun 2011-2018

Permasalahan gizi buruk di Kabupaten Kendal setiap tahunnya mengalami tren yang cukup variatif, seperti dilihat pada grafik di atas, untuk tahun 2018 terdapat penurunan kasus balita gizi buruk. Menurut UNICEF, faktor yang mengakibatkan terjadinya gizi buruk terdapat dua penyebab langsung, diantaranya:

a. Kurangnya asupan gizi dari makanan. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi yaitu kemiskinan.

b. Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Gizi Buruk 14 24 23 30 28 21 25 22

0 5 10 15 20 25 30 35

Axis Title

Kasus Gizi Buruk Kabupaten Kendal Tahun

2010 s/d 2018

(33)

29 BAB IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT DI KABUPATEN KENDAL TAHUN 2018

A. Upaya Pelayanan Kesehatan Dasar

Pelayanan Kesehatan Dasar merupakan langkah penting dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Dengan adanya pelayanan kesehatan dasar yang cepat dan tepat diharapkan permasalahan kesehatan yang ada dapat ditangani secara dini. Adapun upaya pelayanan kesehatan dasar yang ada di Puskesmas, diantaranya:

1. Pelayanan Kesehatan Ibu

a. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil

Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya, yang mengikuti program pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat kegiatan promotif dan preventif.

Indikator yang digunakan untuk menggambarkan akses ibu hamil terhadap pelayanan entenatal adalah cakupan K1-kontak pertama dan K-4 kontak 4 kali dengan tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi. Untuk mendapatkan pelayanan terpadu dan komprehensif sesuai standar. Kontak pertama harus dilakukan sedini mungkin pada trimester pertama, sebaiknya sebelum minggu ke 8. Sedangkan K4 adalah ibu hamil dengan kontak 4 kali dilakukan sebagai berikut: sekali pada trimester pertama (kehamilan hingga 12 minggu) dan trimester ke-2 (>12-24 minggu), minimal 2 kali kontak pada trimester ke-3 dilakukan setelah minggu ke 36. Kunjungan antenatal bisa lebih dari 4 kali sesuai kebutuhan dan jika ada keluhan, penyakit atau gangguan kehamilan.

Berikut gambaran mengenai cakupan pelayanan antenatal (K1 dan K4) di Kabupaten Kendal selama tahun 2011 sampai dengan tahun 2018,

(34)

30

Gambar 17

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kab. Kendal 2011-2018

Cakupan K1 masih sama jika dibandingkan pada tahun 2017, cakupan K1 pada tahun 2018 mencapai 100%, sedangkan untuk cakupan K4 pada tahun 2018 juga mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk cakupan K4 sebesar 93,7%, naik dibandingkan pada tahun 2017 sebesar 93,5%. Dari grafik di atas, terliaht bahwa dalam setiap tahun terjadi kesenjangan cakupan K1 dan K4. Hal ini berarti bahwa ada ibu hamil yang tidak melanjutkan pemeriksaan kehamilan hingga kunjungan keempat pada trimester akhir. Adanya angka drop out ini yang akan menyulitkan tenaga kesehatan di puskesmas untuk memantau ibu hamil sehingga deteksi dini komplikasi pada kehamilan dan persalinan sulit dilakukan. Deteksi dini dalam pelayanan antenatal mengarah pada penemuan ibu hamil berisikoagar dapat ditangani secara memadai sehingga kesakitan atau kematian dapat dicegah. Oleh karena itu, upaya yang dapat dilakukan ibu dalam deteksi dini terhadap komplikasi kehamilan dengan memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan teratur ke fasilitas pelayanan kesehatan paling sedikit 4 kali selama masa kehamilan atau lebih dikenal dengan K4.

b. Pelayanan Persalinan

Persalinan adalah klimaks dari kehamilan dimana berbagai sistem yang nampaknya tidak saling berhubungan bekerja dalam keharmonisan untuk melahirkan bayi. Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan. Hal ini disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional).

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Cakupan K1 102,2 108 99,2 99,9 100,3 102,3 100 100

Cakupan K4 95,6 95,4 93,2 94,3 93,3 95,8 93,5 93,7

85 90 95 100 105 110

Axis Title

Cakupan K1 dan K4 Ibu Hamil Kabupaten

Kendal Tahun 2011 s/d 2018

Referensi

Dokumen terkait

Partai ini merupakan partai kecil, tidak seperti partai-partai sebelumnya (Neonbasu, 1997: 45). Partai KOTA bersikap terbuka bagi ketiga parpol terdahulunya, artinya para

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana pengaruh pengungkapan penerapann Good Corporate Governance (GCG) terhadap kinerja keuangan Badan

Berdasarkan kenyataan bahwa pada umumnya orangtua tidak lagi menggunakan BD dalam berkomunikasi dengan anak mereka dalam rumah tangga, kemampuan berbahasa daerah anak-anak sangat

(engan membuat garis lurus, siswa dapat berlatih keseimbangan dengan disiplin. 2ola dari kertas atau bahan lain yang lunak... an'as, kuas, palet, cat air, dan cat minyak

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian ... Sejarah SD Negeri 1 Kadibolo ... Identitas Sekolah ... Visi, Misi dan Tujuan ... Letak Gedung Sekolah ... Keadaan

Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Kristen Petra Jl. Semakin banyak aplikasi ketenagakerjaan yang muncul pada platform Android. Sebagai

Apa persamaan dan perbedaan antara pemenang dan pecundang dalam pasar global Apa persamaan dan perbedaan antara pemenang dan pecundang dalam pasar global ini?

Inovasi atau pesan yang disampaikan oleh penyuluh serta pengaturan (regulation) yang dikeluarkan oleh pemerintah hanya sebagian peternak yang mau mengikuti hal ini