• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

Masalah utama yang dihadapi hampir setiap negara di dunia khususnya di negara berkembang adalah masalah pemerataan pembangunan yang menyebabkan ketimpangan antar wilayah. Untuk mengatasi masalah tersebut, menurut Friedmann dalam Luthfi (2014 : 107 -108) yaitu dengan pendekatan melalui pengembangan wilayah yang memiliki beberapa keuntungan, pertama, akan didasari pengenalan yang lebih baik atas penduduk dan budaya pada berbagai wilayah, serta pengenalan atas potensi yang unik daerah, sehingga memudahkan untuk melaksanakan pembangunan daerah yang sesuai dengan potensi dan kapasitas problem khusus daerah tersebut. Dengan pengembangan wilayah ini, diharapkan kemungkinan lebih baik untuk memperbaiki keseimbangan sosial ekonomi antarwilayah.

Kondisi ekonomi adalah hal yang paling banyak digunakan dalam menilai tingkat kesejahteraan pada setiap wilayah. Setiap wilayahpun memiliki potensi ekonominya masing – masing. Apabila potensi itu dapat dikembangkan dengan baik, maka potensi tersebut dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Seperti pendapat Subagyo (2017: 48) bahwa potensi ekonomi merupakan potensi wilayah yang layak dikembangkan untuk dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Potensi tersebut bisa dari potensi sumberdaya alam yang ada di wilayah tersebut yang sekiranya dapat dimanfaatkan dan dapat dikembangkan sehingga dapat bernilai ekonomis dan dapat berguna bagi masyarakat sekitar.

Peternak sapi memiliki penghasilan yang tidak menentu, maka tidak jarang masih banyak peternak sapi yang keadaan ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan hidup masih rendah. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat pendidikan anak-anak peternak sapi yang ada di wilayah tersebut. Kondisi sosial ekonomi mencakup pekerjaan, pendidikan dan pendapatan masyarakat. Tinggi rendahnya pendidikan

commit to user

(2)

orang tua, besar kecilnya pendapatan dan lain sebagainya, semua itu turut mempengaruhi ketercapaian belajar anak (Dalyono, 2005 :59). Kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat menentukan setinggi apa tingkat pendidikan yang dicapai masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang lebih tinggi, masyarakat akan lebih mudah untuk memberikan kesempatan kepada anaknya untuk bersekolah setinggi yang diinginkan dengan dukungan yang baik dari orang tua (Juariah, 2010: 77). Sesuai dengan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Boyolali Tahun 2019, Kecamatan Musuk masih didominasi tingkat pendidikan dasar sebesar 13762 orang atau 43% dari total tingkat pendidikan di Kecamatan Musuk. Sedangkan Kecamatan Tamansari didominasi tingkat pendidikan dasar sebesar 14901 orang atau 51% dari total tingkat pendidikan di Kecamatan Tamansari. Secara umum masyarakat yang tinggal di pedesaan banyak yang memiliki pendidikan yang rendah. Tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah mengakibatkan keterbatasan kemampuan dan skill sehingga sulit mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin besar juga biaya yang akan dikeluarkan orang tua dalam membiayai sekolah anaknya. Tingkat pendidikan tidak terlepas dari kondisi ekonomi orang tua. Apabila pendapatan orang tua rendah, maka fasilitas pendidikan anak pun juga terbatas. Seperti pendapat dari Slameto yang dikutip dari Juariah (2010 : 19) bahwa anak yang sedang belajar harus terpenuhi kebutuhan pokoknya misalnya seperti fasilitas belajar dan apabila kebutuhan pokok tersebut tidak terpenuhi, maka dapat menghambat proses belajar anak. Faktor pengaruh orang tua terhadap pendidikan anak dapat dikategorikan dalam dua variabel, yaitu variabel struktural dan variabel proses. Kategori variabel struktural antara lain status ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan orang tua, sedangkan variabel proses adalah perilaku orang tua dalam memberikan perhatian dan bantuan kepada anaknya dalam belajar (Juariah, 2010:66). Oleh sebab itu dukungan orang tua sangat memperngaruhi tercapainya pendidikan anak khususnya tigkat pendidikan. commit to user

(3)

Peternak sapi di Kecamatan Musuk dan Kecamatan Tamansari sudah banyak yang mulai mengolah limbah ternak sapinya. Namun, masih ada peternak yang membuang limbah ternak sapinya dengan cara dibuang di belakan rumah, di kebun, dan pada sungai yang berada di sekitar pemukiman tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu. Limbah ternak tersebut akan menimbulkan masalah pada aspek produksi dan lingkungan seperti turunnya kualitas susu yang dihasilkan sapi, dapat menimbulkan bau dan menjadi sumber penyebaran penyakit bagi ternak sapi dan manusia (Saputro, 2014:92). Gas- gas yang dihasikan ternak sapi diantaranya ammonia, hydrogen sulfat, karbon dioksida, dan gas methan.

Apabila gas semacam itu terhirup dalam konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan kematian pada manusia (Saputro, 2014:93).

Terdapat banyak faktor yang menyebabkan turunnya kualitas lingkungan, diantaranya rendahnya tingkat pendidikan pendidikan daan pengetahuan masyarakat tentang lingkungan hidup, sehingga mereka kurang respon untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat bagi dirinya karena dengan dukungan pengetahuan yang memadai, seseorang mampu menghindarkan diri dari perilaku – perilaku kontra produktif terhadap kesehatan pribadi dan lingkungan (Saputro, 2015 : 129).

Kondisi pendidikan tersebut juga berlaku pada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Seperti laporan WHO bahwa angka kesakitan (morbidity) dan angka kematian (death rate) paling besar terjadi pada kelompok masyarakat yang memiliki kondisi sosial ekonomi menengah kebawah (Saputro, 2015 : 129).

Sedangkan menurut teori kebutuhan Maslow, variasi kebutuhan manusia tersusun dalam hirarki atau jenjang. Jenjang motivasi kebutuhan bersifat mengikat, maksudnya kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah harus terpuaskan sebelum memenuhi kebutuhan pada jenjang yang lebih tinggi (kebutuhan dasar harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan sampingan seperti pengolahan limbah) (Mcleod, 2018 : 2).

commit to user

(4)

Kesadaran lingkungan menjadi penting sesuai dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 13 (ayat 1) menyebutkan bahwa “ pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dilaksanakan dalam rangka pelestarian lingkungan hidup”. Ayat (2) “Pengendalian pencemaran dan/ atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a) Pencegahan; b) Penanggulangan; dan Pemulihan”. Dalam pasal 53 (ayat 1) juga menyatakan bahwa Setiap orang yang melakukan pencemaran dan / atau perusakan lingkungan hidup wajib melakukan penanggulangan pencemaran dan / atau kerusakan lingkungan hidup. Setiap warga masyarakat berhak ikut dalam menjaga lingkungan karena, seperti yang tertulis dalam pasal 65 : (ayat 1) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia. (ayat 2) Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan yang baik dan sehat.

Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis hubungan kondisi Sosial ekonomi peternak sapi dengan tingkat pendidikan anak dan kesadaran lingkungan yang ada di Kecamatan Musuk dan Kecamatan Tamansari. Lokasi penelitian adalah di Desa Musuk, Desa Sukorejo di Kecamatan Musuk dan Desa Jemowo di Kecamatan Tamansari.

Hubungan kondisi sosial ekonomi peternak sapi terhadap tingkat pendidikan anak dan kesadaran lingkungan dapat diimplementasikan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran geografi SMA kelas XI, Kompetensi Dasar menganalisis dinamika kependudukan di Indonesia untuk perencanaan pembangunan, karena sesuai dengan kebijakan kurikulum 2013, di mana peserta didik dihadapkan pada masalah yang faktual dan konseptual. Hal ini sesuai dalam Kompetensi Inti (KI) 3 yaitu memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait commit to user

(5)

penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. Diharapkan dengan penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi materi belajar geografi karena tema penelitian ini dapat dijadikan sebagai contoh kongkret dalam permasalahan kependudukan yang sesuai dengan pembelajaran yang akan diajarkan, sehingga peserta didik lebih dapat memahami dan dapat menghubungkan antara materi pembelajaran dengan kejadian yang terjadi dalam masyarakat.

Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka penulis mengambil judul penelitian “HUBUNGAN KONDISI SOSIAL EKONOMI PETERNAK SAPI TERHADAP TINGKAT PENDIDIKAN ANAK DAN KESADARAN LINGKUNGAN DI KECAMATAN MUSUK DAN KECAMATAN TAMANSARI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2019.

(Implementasi pembelajaran Geografi Kelas XI Kompetensi Dasar Menganalisis Dinamika Kependudukan di Indonesia untuk Perencanaan Pembangunan)”

commit to user

(6)

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana kondisi sosial ekonomi peternak sapi di Desa Musuk, Desa Sukorejo, dan Desa Jemowo ?

2. Bagaimana tingkat kesadaran lingkungan dalam pengolahan limbah ternak sapi di Desa Musuk, Desa Sukorejo, dan Desa Jemowo ?

3. Bagaimana hubungan antara kondisi sosial ekonomi peternak sapi dengan tingkat pendidikan anak di Desa Musuk, Desa Sukorejo, dan Desa Jemowo ?

4. Bagaimana hubungan antara kondisi sosial ekonomi dengan kesadaran lingkungan dalam pengolahan limbah ternak sapi di Desa Musuk, Desa Sukorejo, dan Desa Jemowo ?

5. Bagaimana implementasi hasil penelitian terhadap Kompetensi Dasar menganalisis dinamika kependudukan di Indonesia untuk perencanaan pembangunan dalam kurikulum 2013 ?

C. Tujuan Penelitian

1. Menganalisis kondisi sosial ekonomi peternak sapi di Desa Musuk, Desa Sukorejo, dan Desa Jemowo.

2. Menganalisis tingkat kesadaran lingkungan dalam pengolahan limbah ternak sapi di Desa Musuk, Desa Sukorejo, dan Desa Jemowo.

3. Menganalisis hubungan antara kondisi sosial ekonomi peternak sapi dengan tingkat pendidikan anak di Desa Musuk, Desa Sukorejo, dan Desa Jemowo.

4. Menganalisis hubungan antara kondisi sosial ekonomi dengan kesadaran lingkungan dalam pengolahan limbah ternak sapi di Desa Musuk, Desa Sukorejo, dan Desa Jemowo.

5. Mengimplementasi hasil penelitian terhadap Kompetensi Dasar menganalisis dinamika kependudukan di Indonesia untuk perencanaan pembangunan dalam kurikulum 2013.

commit to user

(7)

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Memberikan sumbangan ke arah pengembangan di bidang ilmu geografi umumnya dan secara khusus yaitu mengenai pengembangan dan pembangunan wilayah melalui analisis kondisi sosial, ekonomi, pendidikan, serta pentingnya kesadaran lingkungan yang ada di sekitar.

b. Memberikan sumbangan pemikiran secara ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan dibidang sosial, ekonomi, pendidikan dan kesadaran lingkungan.

c. Bahan referensi pustaka dan sebagai salah satu sumber bagi peneliti- peneliti sosial, ekonomi, pendidikan dan kesadaran lingkungan selanjutnya.

d. Dapat menumbuhkan inspirasi baru dan mengembangkan ide-ide pemikiran sehubungan dengan sosial, ekonomi, pendidikan dan kesadaran lingkungan.

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan rujukan rumusan desain dan gambaran mengenai Kondisi sosial ekonomi, pendidikan, dan kesadaran lingkungan yang ada di Kecamatan Musuk khususnya di Desa Musuk, Desa Sukorejo, Desa Jemowo.

b. Memberikan masukan dalam mengembangkan kondisi sosial ekonomi, pendidikan, dan kesadaran lingkungan yang ada di Kecamatan Musuk khususnya di Desa Musuk, Desa Sukorejo, Desa Jemowo guna pembangunan yang berkelanjutan.

c. Memberikan masukan mengenai pentingnya pendidikan bagi pengembangan dan pembangunan daerah.

commit to user

(8)

d. Memberikan masukan dalam meningkatkan kesadaran lingkungan peternak sapi yang ada di Kecamatan Musuk dan Kecamatan Tamansari.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Posted at the Zurich Open Repository and Archive, University of Zurich. Horunā, anbēru, soshite sonogo jinruigakuteki shiten ni okeru Suisu jin no Nihon zō. Nihon to Suisu no kōryū

Dalam konstruksi berkelanjutan tidak cukup hanya tiga aspek tersebut, namun harus dipikirkan pula aspek lain yaitu sumberdaya yang digunakan dalam proyek konstruksi, emisi

Perbedaan pengaturan hak kesehatan buruh yang diselenggarakan oleh Jamsostek dan BPJS Kesehatan adalah dari segi asas dan prinsip penyelenggaraan; sifat kepesertaan; subjek

[r]

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

[r]

Atas perhatian dan tindak lanjutnya saya sampaikan

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier