• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODERNISASI KOTA DAN BENCANA WABAH MALARIA DI CIREBON TAHUN 1930AN. Modernization of the City and the Disaster of Malaria in Cirebon 1930s

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MODERNISASI KOTA DAN BENCANA WABAH MALARIA DI CIREBON TAHUN 1930AN. Modernization of the City and the Disaster of Malaria in Cirebon 1930s"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MODERNISASI KOTA DAN BENCANA WABAH MALARIA DI CIREBON TAHUN 1930AN

Modernization of the City and the Disaster of Malaria in Cirebon 1930s

Imas Emalia

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jl. Tarumanegara Pisangan Ciputat Timur Tangerang Selatan Banten 15419 E-mail: [email protected]

Abstract

In the 20th century, the Dutch Colonial Government established a strategy of modernization toward various cities in all across Java and Madura, starting from 1906. The strategy were introduced to collectively transform the function of prior traditional cities to a more sophisticated colonial cities, through industrialization of economic sector, in which public infrastructures held accountable for economic development. A set of programs were introduced to numbers of public infrastructures, such as ports and harbors, roads, factories, governmental and private offices, irrigation system, waterways, markets, as well as hospitals and other welfare institutions. Therefore, we could see how the colonial administration had finally considered public health and welfare as a prominent aspect of life that needed enhancement, for there had been several efforts to eradicate the widespread of plague in the colony. However, unfortunately, such modernization barely had a long term disease prevention program.

A case in Cirebon indicated that infrastructural development might have caused the spread of Malaria from the coastal area to the mainland Java. Ecological factor was somehow dismissed in terms of accomplishing the goal of modernization, leaving the area on the danger of massive flooding in almost all districts. The development had disrupted the flow of water from settlements to the open ocean, due to the fact that the colonial government conducted road repair, river excavation, land clearing, as well as factories and other buildings establishment, all at once. Clear water puddles and pools became a perfect nest, a breeding ground, for mosquitoes, which carried plasmodium parasites that caused the spread of Malaria among the workers residing in a settlement area nearby. The infection cause by the parasite was escalating in the coastal area of Cirebon, attacking the rest of the settlements, including the local fishermen and their family, and even spreading further to Indramayu and Eretan. The colonial government decided to overcome this unfortunate event by encouraging the locals to clean their house regularly, installing proper drainage system connected to the sewer to prevent clogging, burying fish ponds down, as well as building a hospital, but nothing was really changing the situation nor helping the people in Cirebon. The health condition in the colony was kept on declining until 1930s. The locals were even got strong discrimination in accessing health care.

Thus, this research elaborated the method of historical writing and phenomenology as the main approach in analyzing the past occurrence in Cirebon, regarding the social disaster sparked by errors of colonial government’s modernization strategy in the 1930s, which allowed a widespread of Malaria in Cirebon and its surrounding area.

Keywords: modernization of the city, Malaria, plague, Cirebon.

Abstrak

Modernisasai kota pada abad ke-20 dilakukan pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1906 bagi kota-kota di Jawa dan Madura. Modernisasi kota dilakukan dengan tujuan mengubah fungsi kota tradisional menjadi kota kolonial. Program modernisasi berbasis industrialisasi ekonomi, dimana

(2)

pembangunan berbagai infrastruktur seperti pelabuhan, jalan raya, pabrik-pabrik, kantor-kantor, saluran air, pasar, rumah sakit, dan lembaga-lembaga kesehatan hanya untuk meningkatkan perekonomian pemerintah. Oleh karena itu modernisasi kota berpengaruh terhadap aspek kesehatan mulai kebijakan, perbaikan infrastruktur dan pemberantasan berbagai wabah penyakit yang muncul di masa itu. Namun, pada praktiknya program modernisasi tidak dapat mencegah kemunculan berbagai wabah penyakit dalam rentang waktu yang panjang.

Kasus di Cirebon, pembangunan infrastruktur memunculkan wabah malaria yang menyebar dari daerah pantai hingga ke pedalaman. Akibat proses pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan mengakibatkan banjir di semua titik kota. Kondisi luapan air yang tidak lancar mengalir ke laut terjadi di lingkungan perbaikan jalan, penggalian tanah, perkebunan, dan pembangunan gedung serta pabrik. Kondisi seperti itu menjadikan sarang nyamuk di setiap wilayah pembangunan tersebut hingga berdampak pada merebaknya wabah malaria yang menyerang para pekerja di sekitar lingkungan itu. Bahkan wabah malaria yang terjadi di tepi pantai Cirebon tergolong parah menyerang para nelayan dan menyebar hingga ke daerah Indramayu dan Eretan. Kebijakan pemerintah saat itu untuk menangani wabah malaria adalah dengan pembersihan rumah-rumah kumuh milik pribumi, pemasangan riol untuk menghindari penyumbatan air, dan propaganda kebersihan terutama pengurugan kolam-kolam ikan milik masyarakat, dan pembangunan rumah sakit. Namun, dalam praktiknya upaya itu terus memblunder berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat pribumi. Penerapan diskriminasi bagi masyarakat pribumi dalam pelayanan masyarakat tidak menyelesaikan masalah persebaran wabah malaria. Maka pada masa 1930an wabah malaria seperti terus menghantui masyarakat dan pemerintah.

Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan fenomenologi untuk menganalisa peristiwa masa lalu di Cirebon terkait bencana sosial sebagai dampak negatif atau kegagalan program modernisasi kota masa pemerintah Hindia Belanda tahun 1930an yang memunculkan berbagai fenomena, termasuk wabah malaria.

Kata kunci: Modernisasi Kota, Wabah Malaria, Cirebon

PENDAHULUAN

Indonesia pada masa kolonialisme Belanda pernah mengalami bencana wabah penyakit yang disebabkan oleh berbagai faktor, terutama faktor lingkungan.

Masa pemerintahan Hindia Belanda yang gencar melancarkan program modernisasi kota dalam rangka pembentukan kota-kota kolonial berdasarkan konsep budaya Eropa, berbagai infrastruktur dibangun untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang tinggal di kota itu, terutama golongan Eropa. Program modernisasi kota lebih berbasis industrialisasi ekonomi, dimana bertujuan untuk meningkatkan hasil perekonomian demi keuntungan setinggi-tingginya bagi negara Belanda. Oleh karena itu, pembangunan berbagai infrastruktur lebih difokuskan pada bidang yang mendukung perekonomian seperti pelabuhan, jalan raya, jalan kereta api, pabrik-pabrik, kantor- kantor, saluran air, pasar, dan rumah sakit.

Adapun modernisasai di bidang kesehatan, telah dirintis oleh Gubernur Jenderal H.W. Daendels (1808-1811) ketika berwacana membentuk Dinas Kesehatan Sipil

(3)

(Burgelijk Geneeskundige Dienst—BGD) di tahun 1809. Namun yang berdiri terlebih dahulu adalah Dinas Kesehatan Militer (Militaire Geneeskundige Dienst—MGD) dengan tujuan memfokuskan pelayanan kesehatan bagi para anggota militer Belanda yang ada di Jawa dan tentara Belanda asal pribumi. Adapun BGD baru terrealisasi di tahun 1820. MGD kemudian menjadi fokus pemerintah untuk mendukung keberlangsungan kekuasaan Belanda di tanah jajahannya. Adapun BGD menjadi fokus kedua Pemerintah memfungsikan BGD selain untuk melayani kesehatan masyarakat sipil juga bertanggung jawab tentang kesehatan lingkungan kota, dan lingkungan daerah-daerah sekitarnya. Untuk kebutuhan kedua lembaga itu, pemerintah mendatangkan para dokter Eropa. Mereka ditugaskan untuk melayani kesehatan para tantara perang, masyarakat sipil, lingkungan kota, dan penyakit tropis (Boomgard et al., 1996, pp. 8–10).

Sebelum abad ke-20, penanganan masalah kesehatan itu belum banyak dilaporkan oleh pejabat-pejabat pemerintah. Menurut van Heteren (Boomgard et al., 1996, pp. 8–9), hingga memasuki abad ke-20 tidak ada yang membuat laporan tentang pelayanan kesehatan di Jawa. Beberapa laporan hanya sebatas menyampaikan informasi wabah penyakit, tanpa menyertakan langkah-langkah penanganannya. Hal ini dapat dipahami ketika dalam beberapa dokumen pemerintah dan surat kabar yang terbit di abad ke-19 dimana informasi terkait tema kesehatan lebih banyak membahas wabah penyakit di beberapa daerah. Fenomena wabah saat itu adalah sebagai bencana sosial yang mengancam kenyamanan pemerintah Hindia Belanda sehingga fokus pemerintah lebih kepada pemahaman jenis wabah yang sangat berbeda dengan negeri asalnya di Eropa. Dampak dari ketiadaan informasi tentang kebijakan kesehatan mewarisi tindakan yang bersifat try and error atau uji coba di kalangan pemerintah dan para peneliti. Tindakan itu banyak dilakukan dengan cara penelitian untuk menemukan jenis obat yang tepat maupun untuk jenis pelayanannya kepada masyarakat.

Baru di awal abad ke-20, jenis pelayanan kesehatan mulai dilaporkan oleh para residen dan peneliti. Seperti pembangunan rumah sakit berikut pengiriman para dokter dari Eropa, propaganda kebersihan, pembersihan lingkungan kotor, dan pembagian obat-obatan serta vaksinasi. Demikian juga pencatatan informasi kebijakan kesehatan

(4)

dan jenis wabah penyakit menjadi awal berita di beberapa media massa baik milik Eropa maupun pribumi. Oleh karena itu, informasi tentang wabah penyakit bersamaan dengan informasi penangannya dalam dinamika modernisasi yang saling terkait dengan perekonomian dan pendanaan kesehatan.

Informasi wabah malaria pun menjadi fokus berita saat itu. Pemerintah menganggap wabah malaria sebagai ancaman serius bagi status quo-nya, begitu juga masyarakat menganggap wabah malaria sebagai ‘malaikat ijroil’ pencabut nyawa.

Upaya pemberantasan wabah malaria dilakukan dengan berbagai cara, seperti pemasangan riol, pembersihan kolam, pembagian pil kina, dan penelitian.

Di Cirebon, wabah malaria menyerang para pekerja proyek pembangunan.

Terutama mereka yang tinggal di lingkungan proyek, di tempat kumuh, dan di tepi pantai. BGD kemudian memfokuskan perhatian terhadap kesehatan lingkungan kota dan pemberantasan wabah malaria (Bahauddin, 2000, pp. 104–105). Perhatian BGD bertambah ketika proses pembangunan jalan raya dan jalan kereta api yang menghubungkan daerah perkebunan dengan pelabuhan dan pusat pemerintahan disinyalir para peneliti sebagai awal terjangkitnya bibit malaria. Nyamuk anopheles dan ludhowik yang menjadi bibit malaria sangat menyukai lingkungan kotor di pantai dan di tumpukan tanah serta air mengalir. Di tahun 1930an, lingkungan Cirebon masih banyak yang kumuh dan kotor. Kerjasama pemerintah kota dengan BGD dalam menangani lingkungan kota dan wabah malaria selalu dibenturkan dengan diskusi kekurangan dana di tingkat kota. Berbagai media massa dan peneliti mengkritik pemerintah perihal kondisi itu. Namun pemerintah tidak menerima berbagai kritikan itu. Wabah malaria saat itu telah merenggut banyak korban baik dari kalangan para pekerja perkebunan, nelayan, pekerja pelabuhan, dan pekerja bangunan, bahkan juga dari golongan penduduk Eropa. Penyakit malaria mewabah di Cirebon mulai dari wilayah pantai ke pedalaman.

Artikel ini akan menjelaskan peristiwa bencana wabah malaria yang terjadi di Cirebon di tahun 1930an. Pemerintah menjadikan Cirebon bagian dari program modernisasi kota disebabkan wilayah ini memiliki daerah-daerah perkebunan tebu, pelabuhan aktif yang menghubungkan Batavia-Cirebon-Semarang, dan perkebunan tebu yang luas. Daya tarik pemerintah dan para pengusaha swasta atas daerah Cirebon

(5)

selain kedua faktor lingkungan perkebunan dan pelabuhan adalah juga karena memiliki daerah penyangga pelabuhan yang sejuk dan subur yaitu Kuningan dan Majalengka untuk dijadikan tujuan wisata dan misi zending.

Di tahun 1930-an, setelah jalan raya yang menghubungkan ke wilayah-wilayah pedalaman dijadikan lalu lintas distribusi komoditas dagang dan aktivitas lainnya, kontak sosial ini semakin ramai dan menjadikan kondisi jalan raya rusak. Alat transportasi seperti pedati pengangut sayuran dan tebu, kereta barang, dan lainnya seringkali kesulitan melewati jalan tersebut. Kerusakan jalan juga terjadi akibat terkikis air hujan dan banjir. Banjir sering terjadi akibat sisa pembangunan jalan raya masih berserakan di tempat umum. Kondisi yang seperti itu mengulang bencana wabah malaria yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Wabah malaria di tahun 1930an dipandang sangat parah terjadi di berbagai daerah di Cirebon. Wabah malaria tersebar muali di sekitar pantai, pemukiman di pinggiran kota, di perkebunan, dan daerah pedalaman Cirebon, terutama di daerah selatan Cirebon. (Emalia, 2020:

187-198).

Karya Fernando sedikit mengulas wabah malaria akibat padatnya aktifitas perekonomian di kota Cirebon. Faktor demografi yang meningkat akibat dinamika ekonomi di kota justru berujung pada kelaparan dan kemiskinan. Kasus itu terjadi karena pemerintah mengubah sistem kerja di mana para pekerja yang dating ke kota adalah yang kehilangan lahan tanahnya karena disewa oleh para pengusaha atas izin pemerintah. Sementara kedatangannya ke kota tidak memberi jaminan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Kondisi itu membuat masyarakat rentan terhadap penyakit dan kurang gizi. Karya Fernando menjadi sumbangan yang berarti dalam penelitian ini terutama dalam melihat dampak urbanisasi di kota. (Fernando, 2010, pp.

295–298).

Kepadatan penduduk dan kondisi rentan penyakit pada masyarakat di kota Cirebon telah mempercepat persebaran penyakit malaria. Namun pekerja itu pun tidak mampu berobat dengan kondisi miskin seperti itu, selain para dokter juga engga memeriksa pasien yang tidak mampu bayar. Pasien malaria saat itu selalu berujung dengan kematian. Jan Breman mengulas kondisi tersebut lonjakan jumlah penduduk di Cirebon di awal abad ke-20 mengawali kemiskinan masyarakat pribumi dan

(6)

meningkatkan persebaran wabah malaria (Breman, 1983). Jelas bahwa korelasi antara program modernisasi dan kemunculan wabah malaria telah menjadi perhatian para ilmuwan selain sejarawan.

Oleh karena itu, pertanyaan penelitian ini pun berkisar tentang “mengapa modernisasi kota di Cirebon menjadi penyebab bencana wabah malaria di tahun 1930- an?”.

Artikel ini adalah artikel sejarah oleh karena metode yang digunakannya juga metode sejarah, yang ditempuh melalui empat langkah. Tahap pertama adalah heuristik atau pengumpulan sumber. Tahapan kedua yaitu mengkritik sumber untuk mendeteksi keaslian sumber dan kebenaran data yang ada di dalamnya. Tahap ketiga yaitu interpretasi atau penafsiran atas data yang diperoleh, sebagaimana adanya, untuk memberikan gambaran kenyataan peristiwa yang terjadi di masa lalu. Tahap keempat sebagai tahap akhir penelitian, berupa sintesis, yaitu sebagai karya sejarah dalam hal ini karya penelitian dalam bentuk artikel sejarah.

Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologis dari Berger dan Luckmann (Berger & Luckman, 2013, pp. 197–198). Pendekatan ini digunakan untuk menganalisa sebuah kenyataan di masa lalu tentang program modernisasi yang bermpak pada kemunculan wabah malaria sebagai bencana sosial yang menakutkan.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peristiwa nyata yang terjadi di masa lalu. Deskripsi sejarah ini paling tidak dapat menyadarkan para pembacanya tentang peduli kesehatan baik dirinya maupun lingkungan sosialnya, sehingga pembiasaan pola hidup sehat dapat menjadi awal solusi yang baik dari dirinya untuk masyarakat luas. Perilaku kesehatan melalui penerapan kebijakan pemerintah pun setidaknya dapat mempertimbangkan kondisi ril masyarakat dalam upaya hidup sehatnya, artinya pemerintah tidak seharusnya tebang pilih namun proporsional.

PEMBAHASAN

Masa Modernisasi di Cirebon yang Memunculkan Wabah Malaria

Kata modernisasi seringkali dipahami berasal dari kata modern yang berarti terbaru, mutakhir, atau sikap dan cara berpikir yang sesuai dengan tuntutan zaman.

(7)

Bahkan modernisasi dipahami sebagai suatu proses mengubah dari sistem yang tradisional menjadi lebih maju berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan (Depdikbud RI, 1989: 589). Proses modernisasi dalam kajian ini bisa lebih kepada upaya pemerintah Hindia Belanda mengubah pola pikir dan budaya masyarakat pribumi yang dipandang tradisional sehingga mengikuti budayanya.

Menurut Margana (Nursam, 2010, pp. 1–11), modernisasi kota bisa menjadi pemicu permasalahan baru seperti adanya kriminalitas, pengangguran, kemiskinan, urbanisasi, dan kebutuhan pelayanan kesehatan. Permasalahan tersebut menjadi kompleks bahkan menyertai permasalahan perekonomian sebagai tujuan utama pemerintah. Urbanisasi pun menjadi permasalahan karena menambah beban jumlah individu yang harus diperhatikan kebutuhan hidupnya. Demikian permasalahan lainnya yang menjadi bertumpuk dalam waktu yang bersamaan. Margana, memang tidak mengulas permasalahan wabah penyakit yang timbul akibat modernisasi, namun penjelasannya tentang kelaparan dan kemiskinan menggambarkan fenomena penyakit yang secara nyata hadir di tengah masyarakat saat itu.

Pemerintah Hindia Belanda yang terlalu asyik dengan peningkatan sektor perekonomian itu, kemudian melimpahkan tugas dan tanggung jawab bidang kesehatan kepada BGD. Lembaga BGD difungsikan untuk mengawasi kebersihan dan kesehatan di lingkungan kota di bawah pengawasan pemerintah kota (Bahauddin, 2000, p. 105).

Ketika Cirebon dijadikan sasaran program modernisasi oleh pemerintah Hindia Belanda (1 April 1906), aktivitas perekonomian di Pelabuhan menjadi semakin ramai dikunjungi para pendatang luar Jawa dan Eropa. Pelabuhan Cirebon menjadi penampung barang-barang komoditas dagang yang digemari pedagang Eropa. Suplai tebu yang banyak dari perkebunan tebu di berbagai daerah pedalaman Cirebon seperti Sindanglaut dan Majalengka menambah tingginya pundi-pundi pemerintah. Selain itu, beras yang berkualitas bagus dari Indramayu selalu dikapalkan melalu Pelabuhan Cirebon. Untuk mendukung semua itu, pemerintah kota terus memperbaiki fisik Pelabuhan dan jalan penghubung Pelabuhan-Perkebunan, selain perbaikan rel kereta api.

(8)

Program infrastruktur tersebutdilakukan tiga tahap. Tahap pertama di lokasi pantai dan Pelabuhan. Tahap kedua di lokasi gudang penampung barang dagangan.

Tahap ketiga di lokasi peron. Selanjutnya perbaikan jalan raya darat yang biasa dilalui pedati dan gerobak tebu dan sayur (ANRI, 1906: STB 122). Para pekerja proyek ini direkrut dari kalangan masyarakat pribumi yang tinggal di sekitar perkebunan dan pelabuhan. Mereka diupah dengan system gaji bulanan. Sejak awal modernisasi, penerapan system uang untuk upah para pekerja dan transaksi lainnya sudah tidak asing lagi bagi mereka. Pendapatan yang tidak mencukupi hidup, itu pun bukan juga sebagai hal yang baru. Namun karena mereka perlu bertahan hidup di kota, sehingga tawaran kerja kasar dengan upah rendah itu tetap diterimanya.

Dinamika modernisasi ekonomi dan industrialisasi di kota Cirebon semakin tidak menyejahterakan masyarakat pribumi. Ketika mereka menderita sakit, system diskriminasi pelayanan kesehatan sama berlaku seperti halnya diskriminasi di biadang lainnya. Musim hujan di tahun 1930-1937, banyak pekerja proyek jalan raya, pelabuhan, nelayan dan pekerja perkebunan terserang malaria. Nyamuk malaria tidak pernah hilang sejak awal modernisasi dilancarkan di Cirebon. Sungai Kalibacin, Kanggraksan, dan Harjamukti menjadi pusat genangan air hujan sehingga nyamuk malaria tumbuh dan menelan korban wabah malaria di masa itu (Emalia, 2020: 187).

Namun, sikap pemerintah tetap menampilkan kebingungannya terhadap jenis penyakit malaria. Pemerintah selalu beralasan bahwa penyakit malaria itu penyakit yang aneh yang tiba-tiba mematikan penduduk. Pemerintah juga selalu mengungkapkan bahwa penyakit malaria itu merupakan penyakit tropis yang berbeda dengan di Eropa sehingga untuk mengatasinya perlu menunggu hasil penelitian para peneliti pjenis penyakit dan para dokter. Dari awal masa modernisasi kota, alasan pemerintah itu tidak berubah. Koran De Preanger Bode 7 Mei 1917 mengkritik sikap pemerintah seperti itu bahwa “sebenarnya penelitian tentang malaria telah dilakukan di awal modernisasi. J.J. van Lonkhuizen memprotes wali kota Cirebon, R.A.A Schotman. Dia tidak memperhatikan lingkungan kota sehingga banyak pekerja di kota meninggal karena malaria. Wali kota itu tidak melihat kebutuhan para pekerja tapi lebih melihat kebutuhannya sendiri”. Di bagian lain koran itu, diulas tentang “akibat malaria melumpuhkan perekonomian. Dampak dari lingkungan kota yang kumuh,

(9)

wabah malaria menyebar ke mana-mana, selain banyaknya penyakit kulit, seperti kudis, cacar (patek), …”.

Berita koran di atas menunjukkan kemunculan wabah malaria itu sebagai bencana yang sesungguhnya dibuat oleh tangan manusia sendiri. Wabah malaria adalah dampak dari kelalaian pemerintah dalam meperhatikan kesehatan lingkungan dan masyarakatnya sendiri. Keengganan pemerintah mengurus pasien asal pribumi pun berimbas pada para dokter Eropa yang mendiskreditkan pasien pribumi karena tidak mampu membayar berobat. Bencana kematian akibat malaria akhirnya menjadi tidak terelakkan lagi. Ruang kota Cirebon telah menjadi arena perebutan hak sehat antara pemerintah, penduduk asing, dan pribumi. Bagi mereka yang tidak bernasib baik dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, mereka berujung dengan kematian (Basundoro, 2018)(Spiegel, 2005, pp. 85–86).

Faktor demografi, lingkungan, dana, dan diskriminasi inilah yang membuat kasus wabah penyakit tidak tertangani dengan baik (Breman, 1986). Pada masa Residen Cirebon C.J.A.L.F Hiljee/3 Juni 1930 (ANRI, 1976: CXLV, 184, 269) laporan tentang kepadatan penduduk di kota Cirebon mengulas tentenag wabah malaria. Hiljee sendiri menyebut pelayanan kesehatan di Cirebon diutamakan untuk penduduk Eropa dengan alasan kekhawatirannya atas berkurangnya jumlah penduduk golongan Eropa sehingga akan melemahkan status politiknya (ANRI, 1976: LXXI).

Oleh karena itu, pelayanan kesehatan dan pemberantasan wabah malaria bisa dibilang gagal dimana tidak sebanding dengan program modernisasi kota. Laporan residen Cirebon pun mengindikasikan kegagalannya dalam menangani bencana malaria karena di tahun 1930an sejumlah besar para pekerja meninggal akibat serangan wabah malaria.

Bencana Wabah Malaria dan Penanganannya

Bila kita analisa dari laporan residen Cirebon itu, sesungguhnya paradoks pembangunan banyak jenisnya di antaranya kelaparan, kemiskinan, korupsi, dan wabah penyakit. Dalam penjelasan ilmu kesehatan, menurut Napitupulu juga demikian disebutkan bahwa terdapat paradoks pembangunan yang terjadi membersamai proses pembangunan itu sendiri. Di antaranya adalah kemelaratan,

(10)

kurang protein, wabah penyakit, pencurian, penipuan, korupsi, prostitusi, ketegangan- ketegangan sosial, revolusi sosial, dan sebagainya. Gambaran Napitupulu itu, sangat relevan dengan proses modernisasi yang dapat memunculkan kemiskinan permanen sehingga memicu bencana sosial atau non-alam, seperti wabah penyakit malaria.

Tentunya hal itu terjadi bila pembangunan tidak berorientasi kesehatan lingkungan (Paradoks Pembangunan : (Tesis-Antitesis Pragmatis)/B. Napitupulu | Perpustakaan Kementerian Sekretariat Negara, n.d.), (Napitupulu, 1980: 1-53).

Seperti diulas sebelumnya, bahwa di tahun 1930an modernisasi kota itu sudah berlangsung lama. Namun kondisinya telah menyulap lingkungan kota menjadi lingkungan sarang penyakit. Konsep awal modernisasi bertujuan membenahi pemukiman penduduk di sekitar kota berdasarkan standar tata lingkungan di Eropa yang rapi dan indah. Namun, bermula dari kebijakan pemerintah yang mewajibkan sewa bangunan bagi penduduk pribumi, namun tidak menjamin kesejahteraannya, sehingga berujung miskin, sakit, dan mati.

Dalam analisa Hendrick L. Blum, keterkaitan antara lingkungan dan perilaku sosial seperti yang disebutkan di atas dapat menjadi faktor utama derajat kesehatan (health seeking behavior). Sikap masyarakat yang tidak mampuh beradaptasi dengan lingkungan dan budaya barunya itu semestinya menjadi tanggungjawab pemerintah (Hingson, 1981, pp. 9–18).

Dalam surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad (24 Mei 1930), “pembangunan sangat mempengaruhi kondisi kesehatan lingkungan dan kondisi kesehatan para pekerja, tapi jauh dari perhatian pemerintah”. Petikan berita yang menarik lainnya dari dari koran itu bahwa “...akibat rumah di pinggiran kota seperti gubuk, pada … awal tahun 1930 menyebabkan wabah malaria menyerang penduduk”. Berita tersebut menunjukkan penyakit malaria mengancam penduduk di lingkungan kota ya. Malaria kemudian menyebar ke Kuningan terutama onderdistrik Kadugede dan Cilimus, lalu ke Majalengka di onderdistrik Talaga.

Surat kabar De Indische Courant (2 November 1938) memberitakan hal yang senada tentang bencana wabah malaria akibat kelalaian pemerintah terhadap lingkungan kota. Berita “penyakit malaria di tahun 1937 menyebar di masyarakat disebabkan banyaknya lokasi genangan air sisa pembangunan yang dibiarkan tanpa

(11)

perhatian, ironinya malaria menyebar di pusat kota Cirebon yaitu Kanggraksan dan Harjamukti”, membuat para peneliti selalu mengkritisi pemerintah. Malaria menyebar dari pantai ke kepadalaman.

Menurut Fernando, sejak awal tahun 1930, hampir seluruh masyarakat Cirebon mengalami stamina buruk, kurang gizi, dan kelaparan yang hebat. Kondisi seperti inilah yang dapat memicu rentan terserang malaria, bahkan penyakit lainnya.

Pertumbuhan nyamuk anopheles dan aedes aegypti di beberapa titik kota akibat banyak genangan air saat musim hujan telah memperparah kondisi kesehatan para pekerja di kota (Fernando, 2010, pp. 291–392). Wabah malaria di daerah ini lebih sebagai imbas dari modernisasi. Masyarakat pribumi di kota mengalami nasib buruk yang berlapis. Setelah terrenggut hak hidupnya di lingkungan kota karena sistim diskriminasi sosial, mereka juga tertimpa penyakit namun saat berobat selalu dalam posisi yang diskriminatif. Mereka tidak mampu membayar berobat, maka dokter pun tidak melayaninya. Mereka selalu dihadapkan dengan ancaman kematian (Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie).

Pemerintah dalam menanggapi kritikan dari berbagai media massa saat itu dengan berupaya menambah jumlah dokter dan mantri untuk mengobtai pasien malaria, menangani banjir, dan memasang riol di beberapa sungai di kota. Sayangnya kejadian berulang yang dilakukan pemerintah adalah membiarkan sisa puing-puing dan tumpukan tanah galian yang bau di pinggiran kota. Maka, sikap seperti itu Kembali mengulang kasus wabah malaria. Bahkah kejadian banjir di tahun 1937 merupakan bencana banjir terbesar di kota Cirebon. Wabah malaria yang ditimbulkannya pun menelan korban terbanyak di tahun itu. Kasus ini kembali menjadi fokus berita surat kabar Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie karena penyakit malaria mewabah hingga ke Indramayu, Eretan, dan Karangampel (Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie, 11 Juni 1937).

Menurut dr. G.J. Overbeek dan dr. Ave Lallemant, peneliti malaria di Cirebon, tumpukan tanah got dan aliran air sungai akibat banjir itu memudahkan tumbuhnya nyamuk ludlowik dan anopheles. Itulah sebabnya penularan penyakit malaria menjangkau wilayah yang jauh dari pusat wabah, seperti Indramayu, Kuningan dan Majalengka karena mengikuti aliran air. Menurut kedua dokter peneliti

(12)

itu, fenomena wabah malaria yang terjadi dalam rentang waktu yang panjang itu, menunjukkan kegagalan program modernisasi di Cirebon. Wabah malaria sebagai teguran bagi pemerintah tentang cara kerjanya yang abai terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat (Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie, 11 Februari 1938).

Para pejabat pemerintah mulai dari tingkat desa hingga keresidenan kemudian gencar melakukan propaganda pembersihan lingkungan pantai dan kolam-kolam ikan, penutupan limbah, pembagian pil kina, dan penyemprotan dengan minyak tanah.

Upaya itu menunjukkan hasil di tahun 1939. Pemerintah pun baru menyadari kehilangan sejumlah besar para pekerja perkebunan tebu dan pekerja proyek pembangunan akibat malaria, sehingga mempengaruhi pemasukan keuangannya (Bataviasch Nieuwsblad, 10 Maret 1939).

Dalam rentang tahun 1930-1939 wabah malaria menjadi bencana sosial yang mempengaruhi perekonomian pemerintah dan kesejahteraan masyarakat. Dalam memori ingatan masyarakat, wabah malaria bagaikan “penyakit hantu yang menakutkan” dan seperti “malaikat ijroil” pencabut nyawa yang tiba-tiba merenggut nyawa temannya.

SIMPULAN

Di tahun 1930an, kota Cirebon sudah menjadi kota kolonial yang modern namun memberi dampak pada kemunculan wabah malaria. Permasalahan ini muncul karena modernisasi kota tidak berorientasi pada kesehatan lingkungan dan kesehata masyarakat yang menempati lingkungan tersebut. Modernisasi kota akhirnya menuai bencana kematian. Lingkungan kota yang menjadi harapan masyarakat pribumi sebagai tempat mengadu nasib, pada kenyataannya tidak menjamin untuk hidupnya lebih sejahtera dan sehat. Di hadapan masyarakat pribumi modernisasi kota adalah sebuah kenyataan yang bukan diperuntukkan baginya, namun untuk golongan tertentu seperti Eropa, Cina, Arab, dan para pengusaha. Namun ketika wabah malaria muncul seluruh lapisan masyarakat pun menjadi sasaran amuknya. Hanya saja, masyarakat pribumi yang menderita sakit malaria yang seharusnya turut pula merasakan pelayanan kesehatan yang modern itu, tetapi tidak bisa. Tahun-tahun itu, modernisasi

(13)

memberikan sejumlah bencana yang menakutkan. Bencana wabah malaria dirasakan masyarakat seperti hantu yang menakutkan. Bahkan dipandang seperti malaikat ijroil pencabut nyawa yang mengincar kematiannya setiap saat.

DAFTAR PUSTAKA

ANDI ARSUNAN ARSIN MALARIA DI INDONESIA. Tinjauan Aspek Epidemiologi—PDF Free Download. (n.d.). Retrieved November 3, 2020, from https://docplayer.info/32292902-Andi-arsunan-arsin-malaria-di-indonesia- tinjauan-aspek-epidemiologi.html

Bahauddin. (2000). Pelayanan Kesehatan Masyarakat Pada Masa Kolonial. Lembaran Sejarah, 2(2000). http://i-lib.ugm.ac.id/jurnal/detail.php?dataId=7206

Basundoro, P. (2018). Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900- 1960an. Marjin Kiri.

Berger, P. L., & Luckman, T. (2013). Tafsir Sosial Atas Kenyataan: Risalah tentang

Sosiologi Pengetahuan. LP3ES.

https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/pustaka/16976/tafsir-sosial-atas- kenyataan-risalah-tentang-sosiologi-pengetahuan.html

Boomgard, P., Sciortino, R., & Smyth, I. (1996). Health Care in Java: Past and Present. In Research in African Literatures (Vol. 56).

https://doi.org/10.2307/2658367

Breman, J. (1986). Penguasaan tanah dan tenaga kerja, Jawa di masa kolonial.

Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial.

Fernando, M. R. (2010). Famine in a land of plenty: Plight of a rice-growing community in Java, 1883—84. Journal of Southeast Asian Studies, 41(2), 291–

320.

Hingson, R. (1981). In Sickness and in Health: Social Dimensions of Medical Care.

Mosby.

Hurgronje, C. S. (1999). Kumpulan karangan Snouck Hurgronje. INIS.

Paradoks pembangunan: (Tesis-antitesis pragmatis)/B. Napitupulu | Perpustakaan Kementerian Sekretariat Negara. (n.d.). Retrieved November 4, 2020, from https://perpustakaan.setneg.go.id/index.php?p=show_detail&id=5096

Spiegel, G. M. (2005). Practicing History: New Directions in Historical Writing After the Linguistic Turn. Psychology Press.

(14)

Wabah Malaria dan Merosotnya Perekonomian Cirebon Abad XX. (2020, May 2).

Republika Online. https://republika.co.id/share/q9opnz385

ANRI Penerbitan Sumber-sumber Sejarah. (1976). Memorie van Overgave (Memori Serah Jabatan 1921-1930) Jawa Barat. No. 8. Jakarta.

ANRI. (1906). Staatsblad van Nederlandsch-Indie. Batavia. Landsdrukkerij. No. 122.

Bataviaasch Nieuwsblad. 24 Mei 1930.

De Indische Courant. 2 November 1938.

Depdikbud RI. (1989). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.

Emalia, Imas. (2020). Wabah Penyakit dan Penangannya di Cirebon 1906-1940, Yogyakarta. Ombak.

Emalia, Imas. (2020). (Wabah Malaria dan Merosotnya Perekonomian Cirebon Abad XX, 2020).

Het Niews van den dag voor Nederlandsch Indie. 1939.

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/london.shtml http://www.jstor.org/stable/20778877

http://www.jstore.org/stable/20778877

https://elgibrany.wordpress.com/2015/02/07/sekilas-kota-cirebon-gemeente- cheribon-1906-1942/.

Jaelani, Gani A. (2014). Penyakit Kelamin di Jawa 1812-1942. Bandung: Syabas Books.

Ranneft, J. W. Meyer. (1974). ‘Het Desawezen en Het Grondbezit in de Afdeeling Cheribon’. Laporan-laporan Desa (desa-Rapporten), Jakarta: ANRI No. 6.

Sarwono, Solita. (1997). Sosiologi Kesehatan: Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya.

Yogyakarta: UGM Press.

Stadsgemeente Cheribon Uitgegeven Ter Gelegenheid van het 25-Jarig Bestaan der Gemeente op 1 April 1931. (1931). Gedenkboek der Gemeente Cheribon 1906- 1931. Bandoeng-Cheribon: Gedrukt Bij de N.V.A.C.Nix & Co.

Syafruddin, SKM, M, Kes. (2014). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Trans Info Media (TIM).

Referensi

Dokumen terkait

Perkembangan aplikasi atau game selular (mobile content)sangat cepat, perusahaan pembuat mobile Operating System (OS) telah berlomba untuk memasarkan produk-produk mereka

Berdasarkan hasil analisis kimia yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kandungan N-Total pada 4 titik kelerengan menunjukkan bahwa setiap titik sampel tanah

Hasil analisis ragam (Lampiran 10 b), menunjukkan bahwa jenis alkohol lemak dan bahan aktivator yang digunakan berpengaruh nyata terhadap kemampuan menurunkan tegangan

Mulai dari penggunaan untuk kontrol sederhana sampai kontrol yang cukup kompleks, mikrokontroler dapat berfungsi jika telah diisi sebuah program, pengisian program ini

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh karakteristik tata kelola perusahaan seperti konsentrasi kepemilikan, dewan komisaris independen, lama jabatan

Koperasi Unit Desa (KUD) di Berat Kulon ini memiliki banyak peranan ataupun program untuk masyarakat, salah satunya adalah simpan pinjam yang dimana kegiatan

More specifically, the conceptual model delineates two types of hydrogeological units, with slightly different orientations: aquifer-related units have boundaries delimited by

Selain itu, kedudukannya yang strategik di tengah-tengah Laut China Selatan dan menjadi kawasan tumpuan hidupan laut seperti ikan menjadi salah