PENERAPAN RESTORATIF JUSTICE PADA TAHAP PENUNTUTAN (STUDI DI KEJAKSAAN NEGERI MALANG)
SKRIPSI
Oleh:
SONIA FATMA WATI 21801021199
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM MALANG MALANG
2021
PENERAPAN RESTORATIF JUSTICE PADA TAHAP PENUNTUTAN (STUDI DI KEJAKSAAN NEGERI MALANG)
Oleh : Sonia Fatma Wati
Fakultas Hukum Universitas Islam Malang
Jl. MT. Haryono No. 193 Malang, 65144, 0341-551932, Fax: 0341-552249 E-mail : [email protected]
ABSTRAK
Penulis mengangkat permasalahan Penerapan Restoratif Justice Pada Tahap Penuntutan (Studi di Kejaksaan Negeri Malang). Judul ini dipilih karena karena keadilan restorative ini ialah penyelesaian perkara diluar pengadian dengan melakukan perdamaian diantara dua belah pihak dan jaksa sebagai fasilitator. Dalam pelaksaannya keadilan restorative ini hanya terbatas keapada pidana ringan yang nilai kerugiannya tidak lebih dari Rp. 2.500.000,00 dengan pidana penjara paling lama 3 tahun.
Berdasarkan latar belakang di atas memunculkan tiga rumusan masalah, 1) Bagaimana proses pelaksanaan Restoratif Justce pada tahap penuntutan di Kejaksan Negeri Malang, 2) Apa hambatan yang terjadi saat pada tahap penuntutan Restoratif Justice di Kejaksaan Negeri malang, 3) Apa upaya jaksa untuk mengatasi hambatan proses pelaksanaan Restoratif Justice di Kejaksaan Negeri Malang.
Metode Penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Hukum Empiris. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan Socio- Legal Research, Pendekatan kasusu (case approach). Sumber data terdiri dari bahan hukum primer, sekunder. Study Lapangan (field research), study kepustakaan (library research), wawancara, dokumentasi. Dengan metode analisa data penelitian ini dilakukan di Kejaksaan Negeri Malang.
Hasil penelitian ini menunjukan bagaimana proses tahap penuntutan menggunakan Keadilan restorative Justice yang ada pada Kejaksaan Negeri Malang, Apa Hambatan dan upaya jaksa dalam melakukan keadilan Restoratif. Keajaksaan Negeri Malang sudah menyelesaikan 2 perkara menggunakan Keadilan Restoratif. Kasus pertama yakni kasus KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga) dan Kasus yang kedua yakni kasusk Penganiayaan yang dikenakan pasal 351 ayat (1) KUHP, dengan perkara didana Nomor: Print-/M5.1/Eoh.2/09/2021.
Kata Kunci : Keadilan Restoratif, Pidana Ringan, Tindak Pidana
ABSTRACT
Writer take a problem about The Implementation of Restorative Justice in Persecution Stage. This title were taken because restorative justice is another case solutionbesides court that make it in peace between both sides and make prosecutor as a facilitator. In the implementation the restorative justice is limited to a criminal case that cost less or equal than Rp. 2.500.00,00 with less and equal 3 years of impeisonment.
Based on background above, 3 formulations of problems are appear. 1) How is the process of the implementation of Restoratif Justice in Persecuton Stage in Kejaksaan Negeri Malang, 2) What are the resistances of Restorative Justice in Persecution Stage in Kejaksaan Negeri Malang, 3) What are the persecution efforts in solve the resistance in implementation of Restorative Justice in Kejaksaan Negeri Malang. The research methodelpgy that will used in this research is Empirical Legal.
The research approach is approached by Socio-Legal Research, case approach. Data saources are from primary legal, secondary legal. Field research, library research, interview, documentation. With analysis method of data research that located in Kejaksaan Negeri Malang.
This research shows how to process the persecution stage in Restorative Justice in Kejaksaan Negeri Malang. What is the resistence of prosecutor effort in solve the Restorative Justice. Kejaksaan Negeri Malang had solved 2 case using Restorative Court. The first case is about the family violence and the second case is about persecution that subjected to article 351 paragraph 1 of KUHP, with number of case fund is Print- /M5./Eoh.2/09/2021.
Keyword:Resrorative Justice, Tipiring, Crime
15 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Perkara pidana ada sebab adanya tindak pidana yang ditangani oleh aparat penegak hukum. Perkara pidana muncul apabila ada proses pidana yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat.
Bagi Mardjono Reksodiputro peradilan pidana dianggap berhasil menjalankan tugas utamanya menanggulangi kejahatan, bila sebagian besar dari laporan maupun keluhan masyarakat yang menjadi korban kejahatan dapat diselesaikan dengan diajukannya pelaku kejahatan kesidang pengadilan dan diputuskan bersalah serta mendapat hukuman (pidana).1
Dari pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa peradilan pidana dapat dikatakan berhasil apabila aparatur penegak hukum dapat menjerat pelaku kejahatan dengan hukuman yang setimpal di pengadilan. Namun banyaknya kasus pidana ringan yang menimbulkan ketidakadilan dan ketentraman terhadap pelaku kejahatan, seperti halnya pidana ringan yang nilai kerugiannya tidak melebihi denda Rp 2.500.000 (Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) dan dianancam dengan pidana penjara paling lama 3 (Tiga) bulan. Tindak pidana ringan ini ada pada pasal 364, 373, 379, 384, 407 dan pasal 482.
1 Mardjono Reksodiputro, “Sistem Peradilan Pidana Indonesia (Peran Penegak Hukum Melawan Kejahatan), dalam Hak-Hak Asasi Manusia dalam sistem Peradilan Pidana.”
Jakarta, Pusat Pelayanan Pendidikan dan Pengabdian Hukum Lembaga Kriminologi Universitas Indonesia, 1994. Hlm. 84
16
Dari banyaknya pidana ringan yang sering terjadi muncul suatu pertimbangan agar kasus semacamnya dapat diselesaikan di luar pengadilan (out of court settlement). Diketahui bahwa penyelesaian perkara di luar pengadilan oleh kejaksaan menganut asas oportunitas yang telah dianut oleh kejaksaan Indonesia sejak zaman dahulu. Asas ini mulai berlaku atas dasar hukum yang tidak tertulis dari Hukum Belanda dan sudah di praktekan oleh jaksa di Indonesia. Teknis penyelesain perkara pidana yang dilakukan oleh kejaksaan dengan SP3 dan SKP2, namun akibat legalitasnya perlu mengajukan ke pengadilan. Dengan demikian perlu adanya pendekatan penyelesain perkara pidana diluar pengadilan dengan menerapkan prinsip keadilan Restoratif (Restoratif Justice).
Menurut Howard Zhar definisi Restoratif Justice ialah:
“Restoratif Justice is a process whereby all the parties with stake in a particular offence come together to resolve collectively how to deal with the aftermath of the offence and its implication for the future”.
(Terjemahan bebas: keadilan restorative ialah sebuah proses dimana para pihak yang berkepentingan dalam pelanggaran tertentu bertemu bersama untuk menyelesaikan persoalan secara bersama-sama bagaimana menyelesaikan akibat dari pelanggaran tersebut demi kepentingan masa depan).2
Dalam pendapat ahli tersebut restoratif justice ialah upaya penyelesaian perkara pidana secara damai dengan memperdayakan korban yang memiliki kepentingan dalam penyelesaian perkara, penyelesaian tersebut dapat berjalan secara damai apabila pelaku menyesali perbuatannya
2 Marwa Effendy, “Keadilan Restoratif (Restoratif Justice) Dalam Konteks Ultimum Remedium terhadap Peberantasan Tindak Pidana Korupsi”, Pidato Pengukuhan Guru Besar pada Universitas Sam Ratulangi Manado, pada tanggal 4 Oktober 2012, hlm. 20.
17
dan bersedia memberikan ganti rugi kepada korban, dengan maksud sebagai
“pemaafan” dari korban.
Pata tanggal 20 Juli 2020 Jaksa Agung Republik Indonesia merilis Peratutan Jaksa Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Tuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif. Kedilan Restoratif Justice Dalam peraturan yang baru ini jaksa Penuntut Umum (JPU) berhak untuk menghentikan proses tuntutan terhadap kasus tertentu, bila terdapat kata sepakat damai antara korban serta tersangka.
Penyelesaian perkara pidana di luar pengadilan menggunakan keadilan Restoratif setidaknya harus memenuhi 3 (tiga) hal berikut ini yakni:
1. Mengindentifikasi dan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki kerugian/kerusakan (identifying and takingsteps to repair harm).
2. Melibatkan semua pihak yang berkepentingan (involving all stakeholders).
3. Transformasi dari pola di mana Negara dan masyarakat menghadapi pelaku pengenaan sanksi pidana, menjadi pola hubungan kooperatif antara pelaku dengan masyarakat/korban dalam penyelesaian masalah akibat kejahatan (transforming the traditional relationship between communities and theirs government in respnding to crime).3
3 Bambang Waluyo, Penyelesaian Perkara Pidana Penerapan keadilan Restoratif Dan Transformatif. Jakarta Timur, Sinar Grafika, hlm 86
18
Dalam penyelesaian perkara di luar pengadilan semua pihak yang terlibat didalamnya harus saling sepakat dan tidak ada perselisihan lagi setelahnya. Penyelesain perkara di luar pengadilan menggunakan sistem keadilan Restoratif bukanlah hal yang baru, keadilan Restoratif telah dimulai pada abad 1970-an.4
Apabila penyelesain perkara pidana ringan diselesaikan diluar pengadilan dengan komitmen yang tinggi oleh aparat penegak hukum memiliki manfaat, yakni:
1. Tercapainya tujuan penegak hukum, yakni keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan bagi masyarakat
2. Tercapainya peradilan yang cepat, sederhana, murah, efektif, dan efesien.
3. Penguatan institusi kejaksaan, aparaturnya, peran sertanya, dan peningkatan kepercayaan Publik.
4. Penghematan keuangan Negara
5. Over kapasitas Rutan dan Lapas dapat dikurangi atau dihindari.
6. Pengurangan penumpukan perkara di kejaksaan dan pengadilan.
7. Pemasukan kepada pendapatan keuangan Negara, asset recovery, penyelamatan keuangan Negara, dan sebagainya.5
Jaksa yang menanggulangi kasus tesebut wajib mempraktikan asas oportunitas karena, hati nurani bertabiat subyektivitas penegak Hukum. Jaksa bagian dari Criminal Justice system berkewajiban melindungi due process
4 Ibid , hlm 87
5 Ibid, hlm 86
19
terhadap hak asasi manusia, imprasial, serta mengedepankan asas praduga tidak bersalah. Dalam melaksanakan Perjan Nomor 15 Tahun 2020 ini di butuhkan jaksa yang pintar serta berintegritas dan pengawasan supaya tidak disalahgunakan.
B. Rumusan Masalah
Bersumber pada paparan latar belakang diatas, terdapat sebagian perihal yang bisa penulis rumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pelaksanaan Restoratif Justice pada tahap penuntutan di Kejaksaan Negeri Malang Jawa Timur?
2. Apa hambatan yang terjadi saat pada tahap Penuntutan Restoratif Justice di Kejaksaan Negeri Malang Jawa Timur?
3. Apa upaya jaksa untuk mengatasi hambatan proses pelaksanaan Restoratif Justice di Kejaksaan Negeri Malang Jawa Timur?
C. Tujuan Penelitian
Setiap penelitian yang dilakukan memiliki tujuan yang diharapkan, demikian pula dengan skripsi ini, ada pula tujuan yang hendak dicapai dalam riset ini yatu:
1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan Restoratif Justice pada tahap penuntutan di Kejaksaan Negeri Malang Jawa Timur
2. Untuk mengetahui upaya jaksa dalam mengatasi hambatan yang terjadi saat pada tahap Penuntutan Restoratif Justice di Kejaksaan Negeri Malang Jawa Timur
3. Untuk mengetahui hambatan proses pelaksanaan Restoratif Justice di Kejaksaan Negeri Malang Jawa Timur
20 D. Manfaat Penelitian
Riset ini diharapkan bisa bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan hukum spesialnya yang menyangkut tentang pelaksanaan Restoratif Justice dalam tahap penuntutan.
a. Manfaat Teoritis
a. Riset ini diharapkan bisaa memberikan sumbangan serta pengembangan terhadap ilmu pengetahuan hukum pidana khusunya dalam masalah pidana.
b. Penelitan ini diharapkan dapat menambah refrensi pada Fakultas Hukum Universitas Islam Malang serta sekaligus menjadi refrensi penelitian sejenis pada masa yang hendak datang.
b. Manfaat Praktis
a. Riset ini diharapkan bias berguna bagi masyarakat umum sehingga masyarakat mengetahui bagaimana Keadilan Restoratif itu dilakukan di pengadilan Negeri.
b. Penelitian ini diharapkan bias jadi bahan masukan terhadap penegak hukum dalam penerapan penegakan hukum di Indonesia.
c. Penelitian ini dimaksudkan sebagai salah satu persyaratan penyelesaian Studi Strata Satu Ilmu Hukum di Universitas Islam Malang.
E. Metode Penelitian
21
Untuk mengulas permasalahan yang dikemukakan diatas, maka penulis menggunakan metode sebagai salah satu prosedur dan tata cara penyusunan skripsi serta acuan dalam landasan penyusunan maka berikut ini adalah metode penelitian yang penulis gunakan ialah:6
a. Jenis Penelitian
Penelitian yang digunakan oleh penulis ialah penelitian hukum Empiris, yang dimaksud dengan penelitian empiris ini ialah model pendekatan lain dalam meneliti hukum sebagai objek penelitiannya, dalam hal ini hukum dipandang tidak hanya sebagai disiplin yang perspektif dan perapan berkala.
b. pendekatan penelitian 1. Socio-Legal Reasearch
Socio-legal Research sering kali disalah artikan sebagai penelitian hukum, menggunakan penelitian social-legal research ini bersifat sosio-legal menempatkan hukum sebagai gejalan social di masyarakat.7 Dalam hal ini hukum di liat dari luarnya saja, penelitian ini hanya menitikberatkan perilaku setiap individu ataupun masyarakat kaitannya dengan hukum.
2. Pendekatan Kasus (Case Approanch)
Dalam pendekatn kasus ini, yang perlu dimengerti oleh peneliti adalah ratio decidendi yakni alasan-alasan hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai kepada putusannya.8 Ratio
6 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, 2012, hlm 73
7 Peter Mahmud Marzuki, 2017, Penelitian Hukum: Edisi Revisi, Jakarta: Kencana Prenada Media Group. hlm. 87
8 Ibid hlm. 119
22
decidendi ini memperhatikan fakta-fakta materiil, fakta matriil ini
berupa orang, tempat, waktu, dan segala hal yang menyertai asalkan tidak sebaliknya. Inilah yang menunjukkan jika ilmu hukum ialah ilmu yang bersifat perskriptif bukan deskriptif.
c. Sumber Data
Sumber data merupakan segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data. Bersumber pada sumbernya, data dibedakan menjadi dua, ialah data primer dan data sekunder.
1. Data Primer
Data primer ialah data yang diambil/diperoleh langsung dari sumbernya ataupun dari pengamatan langsung yang menyangkut permasalahan yang diteliti. lewat wawancara, observasi, kuisioner ataupun laporan dalam wujud dokumen tidak formal yang setelah itu di olah oleh periset. Data ini pula ialah data utama yang dibutuhkan dalam penelitian, ialah dari Kejaksaan Negeri Malang.
2. Data Sekunder
Data sekunder ialah data pendukung atau pelengkap dari data sebelumnya yakni data primer. Soerjo Soekamto berpendapat bahwa data sekunder ialah data yang antara lain terdiri dari dokumen-dokumen resmi, buku, bahkan hasil penelitian yang bersifat laporan.9
d. Teknik Pengumpulan data
9 Soejono Soekanto, 2007, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, hlm 2.
23
Dalam mengumpulkan data yang diartikan di atas, penulis hendak memakai data sebagai berikut:
1. Study Lapangan (field research)
ialah metode pengumpulan data yang dilakukan secara langsung terhadap objek yang diteliti guna memperoleh data primer, yang diperoleh dengan metode membaca, menkuni, serta menganalisa bermacam sumber yang berkaitan dengan objek yang diteliti. Study lapangan dilakukan dengan interview, interview merupakan suatu diskusi yang dilakukan oleh pewancara (interviewer) untuk mendapatkan informasi dari wawancara (interviewer).10 suatu metode pengumpulan data dengan cara Tanya jawab kepada pihak yang bersangkutan, dilakukan dengan sistematis didasarkan pada tujuan penelitian.
2. Study Kepustakaan (library research)
Study kepustakaan ini dilakukan dengan cara mempelajari serta mengutip dari buku-buku serta peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan penelitian ini ataupun bermacam bahan hukum yang cocok dengan kajian tersebut di atas suatu pengumpulan data dengan cara menekuni buku-buku kepustakaan untuk mendapatkan data sekunder.
3. Wawancara
10 Suharsini Arikunto, (2016), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakti, Jakarta: PT Rineka Cipta, hlm. 143
24
Wawancara ialah sumber data bersifat primer, yang dimana dalam pelaksanaannya dilakukan secara langsunh berhadapan dengan subjek penelitian atau informan selaku responden penelitian di lapangan. Oleh karenanya, secara sederhana wawancara dapat diartikan sebagai “pertemuan dua orang untuk bertukan informasi dan ide melalui taya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.11 4. Dokumentasi
Dokumentasi ialah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan angka dan gambar berupa laporan serta keteranan yang dapat mendukung penelitian.
e. Metode Analisa Data
Setelah data terkumpul maka data yang telah ada dikumpulkan serta di analisis secara kualitatif ialah sesuatu ulasan yang dilakukan dengan cara memadukan antara riset kepustakaan dan penelitian lapangan serta menafsirkan data mendiskusikan data-data primer yang sudah diperoleh serta diolah sebagai satu yang utuh. Tidak memakai data berupa angka-angka ataupun perhitungan-perhitungan lainnya. Pendekatan kualitatif ini merupakan tata cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif ialah apa yang dinyatakan responden secara tertulis ataupun lisan.
f. Lokasi Penelitian
11 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitiatif, dan Kombinasi (Mixed Methods), Bandung: Alfabeta, 2013, hlm. 316
25
Bersumber pada judul penelitian ialah “PENERAPAN RESTORATIF JUSTICE PADA TAHAP PENUNTUTAN PADA KEJAKSAAN NEGERI MALANG”, hingga penelitian akan dilakukan di Kejaksaan Negeri Malang. Pengambilan lokasi ini dengan pertimbangan bahwa ketersediaan informasi serta sumber informasi yang dimungkinkan serta memungkinkan untuk melakukan penelitian.
F. Penelitian Terdahulu
No Judul Peneliti
Tujuan Penelitian
Hasil Penelitian
1. Upaya
Menghentikan Penuntutan
Demi Rasa
Keadilan Dalam Masyarakat berdasarkan peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020
Dessy Kusuma Dewa
− Untuk
mendeskripsik an batasan penghentian penuntutan suatu tindak pidana
berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020
− Unutk mengkaji upaya penhentian penuntutan diluar pengadilan berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020
- Pendekatan keadilan restorative justice yang dapat
diselesaikan di luar pengadilan terdiri dari orang atau pelaku adalah tersangka baru.
Tindak pidana yang dilakukan hanya diancam dengan pidana denda atau diancam dengan pidana penjara tidak lebih dari lima tahun, kedua tindak pidana yang dilakukan nilai barang bukti atau nilai kerugian tidak lebih dari 2.5 juta rupiah.
- Proses
26
perdamaian dilakukan oleh para pihak melalui
musyawarah untuk mufakat tanpa
intimidasi, paksaan,
tekanan secara sukarela.
Penuntut umum hanya sebagai fsilitator . proses
perdamaian dan pemenuhan kewajiban dilaksanakan waktu paling lama 14 hari.
2. Konsep Restorative Justice dalam peraturan jaksa No 15 Tahun 2020 tentang penhentian penuntutan berdasarkan kepentingan hukum perspektif Maqasid Al- Shariah
Muhammad Tahir Ibnu Ashur
Mia Miftakhur Rohmah
- Untuk mengetahui dan
menganalisis peraturan jaksa No. 15 tahun 2020 tentang
penghentian penuntutan dalam mewujudkan Restoratif Justice.
- Untuk mengetahui peraturan jaksa No 15.
Tahun 2020 tentang
penghentian penuntutan berdasarkan kepentingan hukum dalam perspektif Maqasad Al-
- Penanganan perkara
kejahatan diluar pengadilan melalui restorative justice dalam peraturan jaksa No 15 Tahun 2020 sangat cocok dengan pokok dengan peradilan cepat, sederhana, serta biaya
ringan.sebab menggunakan pendekatan restorative justice
masyarakat bias dilakukan dengan
tanggap, biasa, serta biaya ringan tanpa harus melalui
27
Shari ah Muhammad Tahir Ibn
„Ashar
proses panjang sampai tingkat tertinggi
Mahkamah agung.
- Penerapan Restoratif justice dalam peraturan jaksa No 15 Tahun 2020 bisa ditaksir sesui dengan sudt pandang
maqasid al- shariah
Muhammad Tahir Ibnu
„Asyur.
H. Sistematika Penulisan
Sistematika penyusunan dalam skripsi ini dalukan dengan sistematis, supaya maksud serta tujuan penyusunan ini mudah dimengerti, sebab itu sistematika penyusunan skripsi ini disusun dalam 4 (empat) Bab dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN
Pada bab pendahuuan ini penulis menguraikan tentang latar belakang masalah, setelah itu dilanjutkan dengan mengemukakan rumusan permasalahan sehingga menjadi jelas apa yang menjadi tujuan dari penyusunan skripsi pada bab-bab selanjutnya, dan dilanjutkan dengan, mengulas tujuan penelitian dan kegunaan penelitian, metode penelitian dan diakhiri dengan sistematika penulisan.
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini mencangkup materi-materi yang mempunyai ikatan serta diperlukan dalam membantu, menguasai, dan memperjelas permasalahan
28
yang hendak diteliti. Bab ini menguraikan tinjauan umum mengenai pidana dan pemidanaan, sistem peradilan pidana, pertanggung jawaban pidana, sejarah dan pengertian Restorative Justice serta Kejaksaan..
BAB III: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini yang merupakan bab yang memuat hasil-hasil riset serta ulasan dan jawaban dari pokok permasalahan mengenai Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia No 15 Tahun 2020 mengatur restoratif Justice pada tahap penuntutan dan Resoratif Justice pada tahap penuntutan kejaksaan negeri Malang.
BAB IV: KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab ini yang merupakan bab terakhir yang berisikan penutup,kesimpulan dan saran, ialaj sebagai penutup dari keseluruhan penyusunan untuk memperoleh simpulan yang sesuai dengan maksud tujuan awal penyusunan skripsi ini. Pada bab terakhir ini keismpulan dan saran selaku sumbangan pemikiran dari penulis.
29
74 BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN
1. Pelaksanaan Restoratif Justice pada tahap penuntutan di Kejaksaan Negeri Malang Jawa Timur
Dalam proses pelaksaan Keadilan restorative di kejaksaan Negeri Malang, untuk melanjutkan pada tahap penuntutan mengggunkan keadilan restorative yang utama ialah para pelaku terutama korban apakah ingin melakukan penyelesaian perkara menggunakan keadilan Restoratif atau tidak. Jika korban tidak ingin melakukan keadilan restorative dan ingin adanya pembalasan terhadap pelaku maka keadilan restorative ini tidak bisa dilanjutkan ataupun dilaksanakan.
Kasus yang bisa menggunakan keadilan restorative ini hanya tindak pidana dengan pidana denda atau diancam dengan pidana penjara tidak lebih dari lima tahun dan tindak pidana yang dilakukan dengan nilai barang bukti atau kerugian yang ditimbulkan tidak lebih dari Rp 2.500.000,00 rupiah. Ringkasnya tindak pidan dapat dihentikan demi hukum berdasarkan keadilan restorative sebatas hanya kepada pelaku yang belum pernah melakukan tindak pidana dan bukan seorang residivis.
Jika melihat dari Peraturan kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 tentang Keadilan Restoratif ini maka dalan pelaksanaanya perlu adanya perdamaian antara korban dan pelaku. Jika sudah ada perdamaian
75
diantara keduanya maka perkara tersebut bisa dihentikan penuntutan demi hukum.
2. Hambatan dan Upaya jaksa pada proses pelaksanaan Restoratif Justice di Kejaksaan Negeri Malang Jawa Timur
Berdasarkan pembahasan yang telah penulis uraikan diatas hambatang yang dialami oleh jaksa dalam pelaksaan keadilan restorative ini ialah terletak pada korban yang tidakn ingin adaya perdamian dengan pelaku karena pihak korban berpendapat harus adanya pembalasan kepada pelaku, hambatan yang lain yakni terletak pada waktu yang singkat dan pemberkasan dalam melakukan keadilan restorative yang banyak dan memerlukan banyak pihak yang membantu seperti staff dan pekerja kejaksaan negeri malang.
3. Upaya yang dilakukan oleh jaksa dalam menyelesaikan hambatan yang ada yakni dengan memperdayakan dan memaksimalkan para staff kejaksaan dalam membantu penyeleseaian pemberkasan administrasi dan lebih instensih lagi dalam penyelesaian berkas berita acara dan lporan penghentian penuntutan kepada kepala cabang kejaksaan.
B. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan Pembahasan yang telah penulis uraikan diatas, berkaitan dengan proses tahap penuntutan di kejaksaaan Negri Malang maka menggunakan keadilan restratif ini harusnya tidak merugikan salah satu pihaknya, dari pihak pelaku maupun pihak korban. Dalam pelaksaan keadilan restorative sampai saat ini belum ada sistem di lingkungan Lembega Kejaksaan maupun instansi hukum yang lain terkait dengan data
76
criminal ataupun tracking apakah pelaku baru melakukan tindak pidana ataupun pengulangan tindak pidana.
Saran dari penulis ialah sebaiknya dalam proses tahapan penghentian penuntutan menggunakan keadilan Restortaif jangan hanya berdasarkan PERJA saja, perlu adanya Hukum Acara Pidana sebagai payung hukum yang kuat. Dalam prakteknya proses pelaksaan peghentian penuntutan menggunakan Keadilan Restoratif di kejaksaan Negeri Malang tidak ada penyelewengan kekuasan oleh jaksa ataupun pihak terkait yang bisa mengintimidasi kepada kedua belah pihak yang bersangkutan.
75
DAFTAR PUSTAKA Buku
A.Z.Abidin, Bunga Rampai Hukum Pidana, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1983
Ali Zaidan, Menuju Pembaruan Hukum Pidana, Sinar Grafika Jakarta, 2015.
Andi Hamza, Hukum Pidana,Jakarta : Sinar Grafika, 2017.
_____, Analisis dan Evaluasi Tentang Pelaksanaan Asas Opportunitas Dalam Hukum Acara Pidana Tahun Anggaran 2006, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta, 2006.
_____, Jaksa di berbagai Negara Peranan dan Kedudukannya, Sinar Garfika, Jakarta, 1995.
Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, 2012.
Bambang Waluyo, Penyelesaian Perkara Pidana Penerapan keadilan Restoratif Dan Transformatif. Jakarta Timur, Sinar Grafika.
Ch. J. Enschede-M. Bosch, Beginselen van Strafrecth, 2008.
David garland, Punishment in modern society, A study in Social theory, Oxford: Clarendon press. 1990.
Dwi Priyatno, 2007, Sistem Pelaksanaan Pidana Penjera di Indonesia, Bandung, Refika Aditama.
E. Utrecth, Hukum Pidana 1, Jakarta: Universitas Jakarta. 1958.
Eddy O.S. Hiariej,2009, Asas Legalitas dan penemuan hukum dalam hukum pidana, Erlangga, Jakarta.
Greg Mantle, et.al. Restorative Justice and The Three Individual of Crimes, International Journal of Criminology, 2005.
Harahap Yahya, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP (penyidikan dan penuntutan), Jakarta:Sinar Grafika, 2000.
Hari Sasongko, Penuntutan dan Teknik Membuat Surat Dakwaan, Dharma Surya Berlian, Surabaya, 1996.
Hendra A. Sondakh, Perintah Jabatan dan Perintah Jabatan Tanpa Wewenang Dalam Pasal 51 KuH Pidana, jurnal Lex Crimen Vol.
III/No.4/Ags-Nov/2014.
76
Herbert L Packer. The Limits of the Criminal Sanction. (Stanford California Indriyanto Seno Adji, Arah Sistem Peradilan Pidana, Kantor Pengacara &
konsultan Hukum “Prof Oemar Seno Adji & Rekan”, Jakarta: 2005.
Jevons Baweks, Integrated Criminal Custice System Terhadap Sistem Peradian Tindak Pidana Perikanan, jurnal Lex Crimen Vol.II/No.
7/November/2013.
Karim. Karakteristik Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Ringan melalui Restorative Justce, CV Jakad Media Publishing. 2020.
Koeswadji, Perkembangan Macam-macam Pidana Dalam Rangka Pembangunan Hukum Pidana, Cetakan I, Bandung: Citra Aditya Bhakti, 1995.
Lamintang, Dasar-dasar hukum pidana Indonesia, OT. Citra Aditya bakti, Bandung, 1997.
Leden Marpaung, Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika,. Jakarta, 2005.
Mardjono Reksodiputro, “Sistem Peradilan Pidana Indonesia (Peran Penegak Hukum Melawan Kejahatan), dalam Hak-Hak Asasi Manusia dalam sistem Peradilan Pidana.” Jakarta, Pusat Pelayanan Pendidikan dan Pengabdian Hukum Lembaga Kriminologi Universitas Indonesia, 1994.
Marwa Effendy, “Keadilan Restoratif (Restoratif Justice) Dalam Konteks Ultimum Remedium terhadap Peberantasan Tindak Pidana Korupsi”, Pidato Pengukuhan Guru Besar pada Universitas Sam Ratulangi Manado, pada tanggal 4 Oktober 2012.
Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka cipta, Jakarta, 2018.
Muchamad Iksan, Asas Legaitas Dalam Hukum Pidana : Studi Komparatif Asas Legalitas Hukum Pidana Indonesia dan Hukum Pidana Islam (Jinayah), jurnal Serambi Hukum Vol. 11 No. 01 Februari – Juni 2017, ISSN : 1693, E-ISSN : 2549-5275
Muladi dan Barda Manawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, Alumni, Bandung, 1993.
Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2002.
77
_____, Kapita selekta Sistem Peradilan Pidana, Malang: Badan Penerbit UNDIP, 1995
_____. Lembaga Pidan Bersyarat (Bandung: Alumni, 2002).
P.A.F. Lamintang dan C.D. Samosir, Hukum Pidana Indonesia, Sinaar Baru, Bandung, 1983.
_____. Lamintang, Dasar-dasar hukum pidana Indonesia, PT. Citra aditya bakti, 1997, Bandung.
Peter Mahmud Marzuki, 2017, Penelitian Hukum: Edisi Revisi, Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
R. Soegandhi, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Berikut Penjelasannya, 1980, Usaha Nasional, Surabaya.
Robert D. Pursley, Intoduction to Criminal Justice: Second Edition, Macmillan Publishing Co. Inc., New York, 1977.
Roeslan saleh, Stelsel Pidana Indonesia (edisi revisi), Jakarta, Aksara Baru, 1983.
_____, Perbuatan Pidana dan Pertanggung Jawaban Pidana, Dua Pebgertian Dasar Dalam Hukum Pidana, Cetakan ke-3, Aksara baru, Jakarta, 1983.
Romel Legoh, Penghentian Penuntutan Demi Kepentingan Hukum, Lex et Societatis, VolI/No.2/ Februari/2014
Romli Atamasasmita, Sistem Peradilan Pidana: Perspektif Eksistensi dan abolisionalisme, Bandung: Putra abardin, 1996.
_____, Sistem Peradilan Pidan Kontempore, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2010.
_____, Sistem Perdilan Pidana: perspektif Eksistensialisme dan Abolisionalism, Putra Abardin, Bandung, 1996.
Ronny Hanitijo Soemitro, Masalah-masalah Sosiologi Hukum, Sinar Baru, Bandung 1984.
Soejono Soekanto, 2007, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta.
Suharsini Arikunto, (2016), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakti, Jakarta: PT Rineka Cipta.
78
Tina Asmarawati, 2015, Pidana dan Pemidanaan Dalam Sistem Hukum di Indnesia, Yogyakarta, Deepublish.
Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum pidana di Indonesia, Ed. 3, Cet.
I.,Bandung: PT Reflika Aditama, 2003
Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan pad KUHAP (pemeriksaan siding pengadilan, banding, kasasi dan peninjauan kembali), Sinar Grafika, Jakarta, 2005.
Undang-Undang, Perjan
Pasal 1 angka (1) Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarka keadilan Restoratif.
Undang-undang Nomor 16 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, BPHN.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, BPHN
United Nation Release, Handbook of Restorative Justice Programmes, New York, 2006.
Website
https://doktorhukum.com/alasan-penghapusan-pidana-dalam-kuhp-dan-luar- kuhp, diunduh pada hari jumat, tanggal 13 November, pukul 19.31 WIB Kejaksaan RI, https://www.kejaksaan.go.idid/profil_kejaksaan, Sejarah
kejaksaan RI, diunduh pada senin 15 November 2021 pukul 14.47 V.N. Pillai, An Approach to Crime Correction in Developing Countries.
Report for 1978 and Resource Material Series, number 16. UNAFEI, 1978.