9 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Teori dan Konsep
1. Pasar Modal Syariah
Pasar Modal (Stock Market) merupakan tempat yang didalamnya memperjualbelikan efek. Secara umum pasar modal adalah tempat mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang menyediakan dana yang berkaitan dengan efek (Abdul Aziz, 2010: 62).
Dalam arti sempit pasar modal adalah suatu tempat untuk para penjual dan pembeli bertemu dan melakukan transaksi dimana efek-efek diperdagangkan dan disebut juga bursa efek. Sedangkan definisi pasar modal dalam arti luas adalah pasar yang mempertemukan pihak yang manawarkan dan memerlukan dana jangka panjang, yaitu jangka satu tahun ke atas (Dahlan Siamat, 2004: 249). Fakhruddin (2001) mendefinisikan pasar modal merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang biasa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang atau pun modal sendiri. Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) No. 40/DSN-MUI/X/2003 Tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal, Pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
Berdasarkan dari beberapa definisi di atas, dapat disimpilkan bahwa pasar modal (capital Market) merupakan suatu tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi dalam rangka memperoleh modal. Pasar modal juga merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat utang (obligasi), saham, reksadana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Sebagai salah satu instrumen perekonomian maka pasar modal tidak terlepas dari pengaruh yang berkembang di lingkungannya, baik yang terjadi di lingkungan ekonomi mikro yaitu peristiwa atau keadaan
para emiten, seperti laporan kinerja, pembagian deviden, perubahan strategi atau perubahan strategis dalam rapat umum pemegang saham akan menjadi informasi yang menarik bagi para investor di pasar modal. Selain itu juga perubahan lingkungan yang dimotori oleh kebijakan-kebijakan makro, kebijakan moneter, kebijakan fiskal maupun regulasi pemerintah dalam sektor riil dan keuangan akan mempengaruhi gejolak di pasar modal.
Fungsi pasar modal, pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha, penambahan modal kerja, dan lain sebagainya. Fungsi kedua pasar modal yaitu menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen keuangan seperti saham, obligasi, reksadana, dan lain-lain (Indri Yuliana, 2010: 34).
Pasar modal syariah merupakan pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan transaksi ekonomi dan terlepas dari hal-hal yang dilarang, secara prinsip juga berbeda dengan pasar modal konvensional. Instrumen syariah juga sudah diterapkan pasar modal Indonesia dalam bentuk saham dan obligasi dengan kriteria tertentu dan yang sesuai dengan prinsip syariah. Pasar modal syariah adalah pasar modal yang seluruh mekanisme kegiatannya terutama mengenai emiten, jenis efek yang di perdagangkan dan mekanisme perdagangannya telah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah (Andri Soemitra, 2010: 111).
Geliat pasar modal syariah di Indonesia dimulai dengan diluncurkannya reksadana syariah untuk pertama kalinya oleh Danareksa Syariah pada tahun 1997, dan disusul kemudian dengan peluncuran indeks syariah, yaitu Jakarta Islamic Index (JII) pada tahun 2000. Selanjutnya seiring dengan dikeluarkannya Fatwa Dewan Syariah Nasional No:
32/DSN-MUI/IX/2002 tentang obligasi syariah, PT. Indosat untuk pertama kalinya menerbitkan obligasi syariah dengan tingkat imbal hasil sebesar 16,75%, suatu tingkat return yang cukup tinggi dibandingkan dengan ratarata return obligasi konvensional pada waktu itu. Obligasi yang
diterbitkan PT. Indosat tersebut untuk selanjutnya menjadi pioner penerbitan obligasi syariah di Indonesia.
Perkembangan pasar modal tidak terlepas dari pengaruh yang disebabkan oleh berbagai faktor. Suad Husnan (2003: 8) dalam bukunya menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pasar modal diantaranya yaitu:
a. Supply Sekuritas
Maksud dari faktor ini menunjukkan bahwa harus ada banyak perusahaan yang bersedia menerbitkan sekuritasnya di pasar modal.
b. Demand Sekuritas
Maksud dari faktor ini adalah harus ada orang/ anggota masyarakat yang memiliki dana yang besar untuk membeli sekuritas yang ditawarkan.
c. Kondisi politik dan ekonomi
Faktor ini mempengaruhi supply dan demand atas sekuritas. Apabila kondisi politik stabil maka akan membantu pertumbuhan ekonomi yang akan mempengaruhi supply dan demand sekuritas.
d. Masalah hukum dan peraturan
Peraturan yang melindungi pemodal dari investasi yang tidak benar mutlak diperlukan, karena pembeli sekuritas pada dasarnya mengandalkan diri pada informasi yang disediakan oleh perusahaan yang menerbitkan sekuritas.
e. Peran lembaga-lembaga pendukung pasar modal
Lembaga-lembaga seperti OJK, bursa efek, akuntan publik, underwriter, wali amanat, notaris, konsultan hukum, lembaga cliring, dan lain-lain, perlu bekerja dengan proporsional dan bisa diandalkan sehingga kegiatan emisi dan transaksi di bursa efek bisa berlangsung dengan cepat, efisien, dan bisa dipercaya.
Pasar modal syariah dapat diartikan sebagai kegiatan dalam pasar modal sebagaimana yang diatur dalam UUPM yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Oleh karena itu, pasar modal syariah bukanlah suatu sistem yang terpisah dari sistem pasar modal secara keseluruhan.
Secara umum kegiatan pasar modal syariah tidak memiliki perbedaan dengan pasar modal konvensional, namun terdapat beberapa karakteristik khusus pasar modal syariah yaitu bahwa produk dan mekanisme transaksi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
Pasar modal syariah merupakan kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah (Ahmad Ifham Sholihin, 2010: 351).
2. Saham Syariah
a. Pengertian Saham Syariah
Saham (stock) merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling populer. Di sisi lain saham merupakan instrumen investasi yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik (Abdul Aziz, 2010:
84).
Saham juga dapat diartikan sebagai sertifikat penyertaan modal dari seseorang atau badan hukum terhadap suatu perusahaan. Saham merupakan tanda bukti tertulis bagi para investor terhadap kepemilikan suatu perusahaan yang telah go public (Burhanudin, 2010: 135). Melalui pembelian saham dalam jumlah tertentu, pihak pemegang saham (shareholder) memiliki hak dan kewajiban untuk berbagi hasil dan resiko (profit and loss sharing) dengan para pengusaha, menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dan bahkan mengambil alih kepemilikan perusahaan.
Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal, mendefinisikan Saham syariah adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan suatu perusahaan yang diterbitkan oleh emiten
yang kegiatan usaha maupun cara pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
Saham syariah merupakan salah satu bentuk dari saham biasa yang memiliki karakteristik khusus yang berupa kontrol yang ketat dalam hal kehalalan ruang lingkup kegiatan usaha. Saham syariah dimasukkan dalam perhitungan Jakarta Islamic Index merupakan indeks yang dikeluarkan oleh PT. Bursa Efek Indonesia yang merupakan subset dari Indeks Harga Saham Gabungan (Indah Yuliana, 2010: 71).
Saham-saham yang masuk dalam indeks syariah adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah, seperti:
pertama, usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau pedagangan yang dilarang. Kedua, usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) teramsuk perbankan dan asuransi konvensional. Ketiga, usaha yang memproduksi, mendistribusi, dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat (Abdul Manan, 2012: 300).
Pada dasarnya tidak terdapat perbedaan antara saham yang syariah dengan yang non syariah. Namun saham sebagai bukti kepemilikan suatu perusahaan, dapat dibedakan menurut kegiatan usaha dan tujuan pembelian saham tersebut. Saham menjadi halal (sesuai syariah) jika saham tersebut dikeluarkan oleh perusahaan yang kegiatan usahanya bergerak di bidang yang halal dan atau dalam niat pembelian saham tersebut adalah untuk investasi, bukan untuk spekulasi. Untuk lebih amannya, saham yang delisting dalam Jakarta Islamic Index (JII) merupakan saham-saham yang insya Allah sesuai syariah. Dikatakan demikian, karena emiten yang terdaftar dalam Jakarta Islamic Index akan selalu mengalami proses penyaringan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan (Burhanudin, 2010: 136).
Semua pihak yang memiliki saham akan mendapatkan keuntungan sebagai bentuk kewajiban yang harus diterima (Irham
Fahmi, 2012: 88). Keuntungan yang diperoleh dari pemegang saham ini antara lain:
1) Dividen
Merupakan bagi hasil atas keuntungan yang dibagikan dari laba yang dihasilkan emiten, baik dibayarkan dalam bentuk tunai maupun dalam bentuk saham. Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen.
Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS.
2) Rights
Merupakan hak untuk memesan efek lebih dahulu yang diberikan oleh emiten.
3) Capital gain
Merupakan keuntungan yang diperoleh dari jual beli saham di pasar modal. Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual.
Misalnya Investor membeli saham XYZ dengan harga per saham Rp 3.300 kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 200 untuk setiap saham yang dijualnya.
Adapun rumus dari keuntungan modal (capital gain) adalah sebagai berikut:
𝐶𝐺 =
Pn – Pn−1Pn−1 Dimana:
CG : Keuntungan Modal (capital gain) Pn : Harga saham akhir periode
Pn-1 : Harga saham akhir periode sebelumnya
Sebagai instrumen investasi, investor saham juga kemungkinan memiliki resiko, antara lain:
1) Capital Loss
Merupakan kebalikan dari capital gain, yaitu suatu kondisi dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga beli.
Misalnya saham PT. ABC yang di beli dengan harga Rp 3.000,- per saham, kemudian harga saham tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp 2.500,- per saham. Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, investor menjual pada harga Rp 2.500,- tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar Rp 600,- per saham.
2) Resiko likuidasi
Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham.
Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari likuidasi tersebut. Kondisi ini merupakan risiko yang terberat dari pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan perusahaan.
Secara umum perusahaan yang akan menerbitkan efek syariah harus memenuhi hal-hal berikut (Andri Soemitra, 2010: 139):
1) Terdapat ketentuan dalam anggaran dasar bahwa kegiatan usaha dan cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip- prinsip syariah di pasar modal.
2) Jenis usaha, produk barang, jasa yang diberikan, aset yang dikelola, akad, dan cara pengelolaan emiten atau perusahaan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal.
3) Emite atau perusahaan publik memiliki anggota direksi dan anggota komisaris yang mengerti kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal.
b. Jakarta Islamic Index (JII)
Jakarta Islamic Index (JII) merupakan indeks terakhir yang dikembangkan oleh BEJ yang bekerja sama dengan Danareksa Invesment Management untuk merespon kebutuhan informasi yang berkaitan dengan investasi syariah. Jakarta Islamic Index (JII) merupakan subset dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diluncurkan pada tanggal 3 Juli 2000 dan menggunakan tahun 1 Januari 1995 sebagai base date (dengan nilai 100).
Perbedaan mendasar antara indeks konvensional dengan indeks syariah adalah bahwa indeks konvensional memasukkan semua saham yang tercatat di bursa dengan mengabaikan aspek halal haram, yang penting saham emiten tersebut terdaftar (listing) sesuai dengan aturan yang berlaku (Khaerul Umam dan Herry Sutanto, 2017: 192).
Jakarta Islamic Index (JII) melakukan pengkajian ulang selama enam bulan sekali dengan penentuan komponen indeks pada awal bulan Juli setiap tahunnya, sedangkan perubahan pada jenis usaha emiten akan dimonitor secara terus-menerus berdasarkan data publik dan media. Indeks harga saham detiap hari dihitung menggunakan harga saham terakhir yang terjadi di bursa (Muhammad Syafi’i Antonio, Hafidhoh, at all. 2013). Filter syariah bukanlah satu-satunya syarat yang menjamin emiten masuk ke JII. Ada dua syarat tambahan yang harus dipenuhi, yaitu saham emiten harus memiliki nilai kapitalisasi yang cukup besar di bursa, hal itu dapat diketahui melalui jumlah saham yang dikeluarkan dan harga per lembar saham mempunyai harga yang baik serta saham yang diterbitkan harus sering ditransaksikan (Khaerul Umam dan Herry Sutanto, 2017: 194).
c. Karakteristik Saham Syariah
Data saham merupakan bagian dari Daftar Efek Syariah (DES) yang dikeluarkan oleh Bapepam-LK. Khusus untuk penentuan saham syariah, selain ketentuan-ketentuan syariah harus terpenuhi, ada ketentuan lain yang ditetapkan DSN dalam menentukan saham mana yang berhak atau tidak berhak masuk indeks syariah (Jakarta Islamic Index). Ketentuan-ketentuan tersebut didasarkan pada (Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution, 2007: 56):
1) Jenis usaha
Jenis usaha utama tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan sudah tercatat lebih dari 3 bulan (kecuali termasuk ke dalam 10 saham berkapitalisasi besar).
2) Laporan keuangan
Laporan keuangan tahunan atau semester memiliki rasio kewajiban terhadap aktiva maksimal 90%.
3) Kapitalisasi pasar
Memilih 60 saham dengan urutan rata-rata kapitalisasi pasar terbesar selama satu tahun terakhir.
4) Likuiditas
Memilih 30 saham berdasarkan likuiditas nilai perdagangan terbesar selama satu tahun terakhir.
Abdul Aziz (2010: 92) dalam bukunya menyebutkan karakteristik dan penilaian saham, diantaranya sebagai berikut:
1) Karakteristik saham preferens a) Hak preferen terhadap deviden
Merupaka hak dimana menerima deviden terlebih dahulu dibandingkan pemegang saham biasa.
b) Hak preferen pada waktu likuidasi
Merupakan hak terlebih dahulu atas aktiva perusahaan dibandingkan dengan hak yang dimiliki oleh pemegang saham biasa pada saat terjadi likuidasi.
2) Hak pemegang saham biasa a) Hak kontrol
Merupakan hak untuk memilih dewan direksi, sehingga dapat mengkontrol kebijakan direksi.
b) Hak penerima pembagian keuntungan
Karena sebagai pemilik perusahaan, pemegang saham biasa berhak mendapatkan bagian keuntungan perusahaan.
c) Hak preemitive
Merupakan hak untuk mendapatkan presentasi kepemilikan yang sama, jika perusahaan mengeluarkan tambahan saham baru. Adanya hak ini bertujuan untuk melindungi hak kontrol dari pemegang saham lama, dan melindungi pemegang saham lama dari nilai yang merosot.
3) Nilai saham
Harga saham yang terjadi di pasar modal merupakan harga yang terbentuk dari kekuatan permintaan dan penawaran yang ada di bursa. Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan untuk menjual ataupun membeli saham, para investor berkepentingan untuk menilai hatga saham untuk menentukan tingkat keuntungan yang diharapkan (Khaerul Umam dan Herry Sutanto, 2017: 180). Beberapa nilai yang berhubungan dengan saham, diantaranya:
a) Nilai buku (book value)
Merupakan nilai saham berdasarkan pembukuan perusahaan emiten.
b) Nilai pasar
Merupakan harga dari saham di pasar pada saat tertentu yang ditentukan oleh para pelaku pasar. Nilai pasar ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar bursa.
c) Nilai intrinsik
Merupakan nilai yang seharusnya dari suatu saham.
Ada dua analisis yang digunakan untuk menentukan nilai saham yang sebenarnya, yaitu:
a) Fundamental Security Aanalysis atau Company Analysis adalah analisis harga saham yang mendasarkan pada data yang berasal dari keuntungan perusahaan, seperti: laba, deviden, dan penjualan.
b) Technical Analysis adalan analisis harga saham dengan menggunakan data pasar dari saham, seperti: harga saham dan volume transaksi.
Namun demikian secara sederhana variabilitas harga saham bergantung pada bagaimana earning dan dividend yang terjadi pada suatu perusahaan (Edi S dan Fransisca A, 2003: 174).
Kriteria saham-saham yang masuk dalam indeks syariah berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) No. 20 adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah (Indah Yuliana, 2010: 83) seperti:
1) Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.
2) Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional.
3) Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan makanan dan minuman yang tergolong haram.
4) Usaha yang memproduksi, mendistribusi dan atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.
Selain kriteria di atas, kriteria emiten dilihat dari resiko keuangannya yang termasuk dalam investasi Islami berdasarkan fatwa DSN (Indah Yuliana, 2010: 84) adalah sebagai berikut:
1) Perusahaan yang mendapatkan dana pembiayaan atau sumber dana dari utang tidak lebih dari 30% dari rasio modalnya.
2) Pendapatan bunga yang diperoleh perusahaan tidak lebih dari 15%. Dalam Islam, barang haram dengan halal tidak dapat dicampuradukkan.
3) Perusahaan yang memiliki aktiva kas atau piutang yang jumlah piutang dagangnya atau total piutangnya tidak lebih dari 50%.
Karena proses penyaringan yang ketat, tidak jarang emiten- emiten yang masuk kategori blue chip ditolak masuk JII. Contohnya adalah saham Gudang Garam dan H. M Sampoerna, meskipun kedua perusahaan rokok ternama ini memiliki nilai kapitalisasi yang besar (mencapai 17-20% dari total kapitalisasi pasar BEJ). Ia tidak lolos uji syariah karena tergolong usaha produk barang yang bersifat mudarat.
Pertumbuhan saham-saham bluechip di Bursa Efek Indonesia justru sangat menarik perhatian para investor. Menurut Wikipedia, bluechip adalah sebuah istilah dalam pasar modal yang mengacu pada saham dari perusahaan besar yang memiliki pendapatan stabil dan liabilitas dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Ada juga pendapat lain yang menyebutkan bahwa bluechip berasal dari kata blue yang berarti biru yang biasanya dianggap berharga, begitu pula dengan istilah darah biru yang menggambarkan kaum bangsawan keturunan kerajaan.
Dalam kamus pasar modal, Bluechip adalah saham biasa (common stock) yang memiliki kinerja fundamental yang baik. Atau bida juga diartikan salah satu pengelompokan sahan biasa untuk saham- saham perusahaan yang memiliki sejarah pertumbuhan deviden yang baik, manajemen serta produk yang baik. Istilah ini diambil dari permainan “poker” dimana seseorang yang memegang chip berwarna biru (blue) berarti memegang yang paling berharga.
Bursa Efek Indonesia (BEI) umumnya kita dapat menemui saham bluechip dalam kelompok saham LQ45. Namun, tidak ada definisi pasti mengenai bluechip, hanya saja ada beberapa kriteria yang sering digunakan oleh para investor. Misalnya perusahaan yang memiliki kapitalitas pasar cukup besar, memiliki reputasi baik dinegaranya,
kinerja/ laporan keuangannya bagus, dan sahamnya likuid (Giri Wahyu Priambada, 2017: 53).
Beberapa investor di Indonesia mengartikan bahwa sahan bluechip merupakan saham yang terdaftar di Indeks LQ45. Indeks LQ45 manurut Wikipedia adalah nilai kapitalisasi pasar dari 45 saham yang paling likuid dan memiliki nilai kapitalisasi yang besar (Giri Wahyu Priambada, 2017: 54). Berdasarkan definisi diatas, pemilihan saham yang terdaftar dalam Indeks LQ45 berdasarkan kriteria tingkat likuiditas sahamnya di bursa. Maka, tidak menutup kemungkinana bahwa saham-saham bluechip tersebut merupakan saham yang paling digemari oleh para investor. Namun, tidak semua yang terdaftar di LQ45 adalah bluechip.
Saham yang terdaftar dalam Indeks LQ45 juga seringkali mengaalami fluktuasi. Berikut ini adalah tabel 1.1 yang merupakan presentase kenaikan dan penurunan indeks LQ45 selama tahun 2006- 2016 (Giri Wahyu Priambada, 2017: 58). Tidak berbeda dengan penurunan IHSG, LQ45 juga mengalami penurunan return dibandingkan dengan inflasi sebanyak tiga kali. Rata-rata return pertahun Indeks LQ45 adalah 17,85% (selama 10 tahun terakhir) diluar deviden yang diberikan oleh perusahaan.
Tabel 2.1
Kenaikan dan Penurunan Indeks LQ45 selama tahun 2006-2016
Tahun LQ45
2006 53,04%
2007 49,67%
2008 -54,70%
2009 71,31%
2010 30,21%
2011 0,83%
2012 9,58%
2013 -4,26%
2014 24,20%
2015 -12,30%
2016 13,09%
Sumber: www.idx.co.id Data Diolah
3. Indeks Harga Saham
Indeks harga saham adalah suatu indokator yang menunjukkan pergerakan harga saham. Di pasar modal sebuah indeks memiliki fungsi sebagai indikator tren saham, sebagai indikator tingkat keuntungan, sebagai tolak ukur (benchmark) dari kinerja suatu portofolio, dan memfasilitasi pembentukan portofolio dengan strategi pasar (Andri Soemitra, 2010: 130).
Indeks berfungsi sebagai indikator tren pasar, artinya pergerakan indeks menggambarkan kondisi pasar dalam keadaan tertentu, baik pasar dalam kondisi aktif ataupun tidak aktif (Khaerul Umam dan Herry Sutanto, 2017: 180). Kondisi yang biasanya diinginkan adalah dimana pasar sedang aktif yang ditunjukkan dengan adanya indeks harga saham yang mengalami kenaikan. Pasar dalam keadaan stabil apabila indeks harga saham tetap. Sedangkan keadaan indeks harga saham yang menurun menunjukkan bahwa pasar dalam keadaan lesu (Panji Anoraga dan Piji Pakarti, 2006: 102). Ada sembilan macam indeks sektoral di pasar modal Indonesia yaitu:
a. Pertanian, b. Pertambangan,
c. Industri dasar dan kimia, d. Aneka industri,
e. Industri barang konsumsi, f. Properti dan real estate, g. Transportasi dan infrastruktur, h. Keuangan serta,
i. Sektor perdagangan, jasa, dan investasi.
Dengan adanya indeks, kita dapat dengan mudah mengetahui tren pergerakan harga saham sekarang, apakah sedang naik, stabil, atau bahkan sedang mengalami penurunan. Misal, pada awal bulan nilai indeks 300 dan
saat di akhir bulan menjadi 330, maka kita dapat mengatakan bahwa secara rata-rata harga saham mengalami peningkatan sebesar 10%.
Pergerakan indeks menjadi indikator penting bagi para investor untuk memutuskan apakah investor akan menjual, menahan, atau bahkan membeli satu atau beberapa saham. Karena harga-harga saham bergerak dalam hitungan detik dan menit, maka nilai indeks juga bergerak naik turun dalam waktu yang cepet (Andri Soemitra, 2010: 131).
a. Perkembangan Indeks Harga Saham
Perkembangan IHSG semenjak ditutupnya IHSG pada akhir tahun 2001 pada level 392,03, kondisi pasar modal 2002 ditandai dengan membaiknya pasar saham pada empat bulan pertama 2002.
Pada periode ini, IHSG di BEJ sempat meningkat hingga menembus angka tertinggi yang merupakan posisi tertinggi sejak Mei 2000.
Tahun 2003, kinerja pasar modal mengalami peningkatan. Kinerja pasar modal di BEJ pada 2003 mencatat posisi tertinggi sejak masa krisis. Pada akhir periode IHSG ditutup pada level 691,89 dengan nilai kapitalisasi sebesar 460.365,96 miliar.
Tahun 2004 masih dalam kondisi bullish sehingga pada akhir tahun, indeks menembus level 1.000 tepatnya 1.000,23. Faktor internal yang mendorong situasi ini adalah persepsi situasi politik pasca pemilu yang membaik dan tingginya imbal hasil aset finansial rupiah. Dari sisi eksternal, kecenderungan melemahnya dolar secara global yang dipicu oleh isu berlanjutnya defisit ganda di AS. Kinerja pasar modal yang sempat mencapai level terendah sebesar 994,770 pada 29 Agustus 2005.
Namun demikian menjelang akhir tahun perkembangan pasar modal kembali menguat sejalan dengan timbulnya sikap optimisme pasar atas perekonomian Indonesia. Akhirnya IHSG BEJ ditutup pada level 1.162,63 pada hari terakhir perdagangan tahun 2005.
b. Faktor yang Mempengaruhi Fluktuasi Harga Saham
Harga saham selalu mengalami perubahan setiap harinya. Oleh karena itu, para investor harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham.
Berdasarkan buku Panduan Investasi di Pasar Modal Indonesia (BPPM, 2003), harga dari sebuah saham sangat dipengaruhi oleh hukum permintaan dan penawaran. Harga saham cenderung naik apabila suatu saham mengalami kelebihan permintaan dan cenderung turun jika terjadi lekebihan penawaran.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga saham dapat berasal dari internal ataupun eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi fluktuasi harga saham adalah laba perusahaan, pertumbuhan aktiva tahunan, likuiditas, nilai kekayaan total dan penjualan.
Sementara faktor eksternalnya adalah kebijakan pemerintah dan dampaknya, pergerakan suku bunga, fluktuasi nilai tukar mata uang, rumor dan sentimen pasar, dan penggabungan usaha (business combination) (Indah Yuliana, 2010: 60).
Ada dua macam analisis yang banyak digunakan untuk menentukan harga saham (Khaerul Umam dan Herry Sutanto, 2017:
177), yaitu:
1) Analisis tekhnikal (technical analysis), yaitu tekhnik analisis yang menentukan harga saham dengan menggunakan data pasar dari saham.
2) Analisis fundamental (fundamental analysis), yaitu tekhnik analisis yang menentukan harga saham dengan menggunakan data fundamental, yaitu data yang berasal dari keuangan perusahaan. Apabila terjadi pembaruan prestasi pada kondisi fundamental perusahaan baik dalam kinerja keuangan ataupun operasional perusahaan biasanya hal tersebut diikuti dengan kenaikan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini disebabkan karena para investor mempunyai ekspektasi yang lebih besar dalam jangka panjang.
Irham Fahmi (2012) juga menyebutkan beberapa kondisi dan situasi yang menentukan suatu saham akan mengalami fluktuasi, sebagai berikut:
1) Kondisi mikro dan makro ekonomi.
2) Kebijakan perusahaan dalam memutuskan untuk melakukan ekspansi (perluasan usaha), misalnya membuka kantor cabang (brand office), dan kantor cabang pembantu (sub-brand office), baik yang akan dibuka di lingkungan domestik ataupun di luar negeri.
3) Adanya pergantian direksi secara tiba-tiba.
4) Adanya salah satu pihak direksi ataupun komisaris perusahaan yang terlibat dalam tidak pidana dan kasusnya sudah masuk ke pengadilan.
5) Adanya penurunan pada kinerja perusahaan secara terus- menerus.
6) Risiko sistematis, yaitu suatu bentuk risiko yang terjadi secara menyeluruh dan dengan adanya risiko tersebut menyebabkan perusahaan ikut terlibat didalamnya.
7) Efek dari psikologi pasar yang ternyata mampu manekan kondisi teknikal dalam proses jual beli saham.
c. Efisiensi Pasar Saham
Pasar modal yang efisien didefinisikan sebagai pasar yang harga sekuritasnya sudah mencakup semua informasi yang relevan.
Semakin cepat informasi baru yang tercermin pada harga sekuritas, maka semakin efisien pasar modal tersebut.
Harga saham bergerak secara acak berarti bahwa fluktuasi harga saham tergantung pada informasi baru (new information) yang akan diterima, tetapi tidak diketahui kapan informasi baru itu akan diterima dan harga saham itu disebut unpredictable.
Pergerakan harga saham sangat dipengaruhi kondisi pasar yang efisien dan kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kegiatan bursa saham.
Perbedaan antara efisiensi pasar secara keputusan dengan efisiensi pasar dengan operasional terletak pada unsur kemampuan pelaku pasar menerima kandungan nilai ekonomis pada informasi tersebut. Pasar dapat dikatakan efisien karena hal-hal berikut ini:
1) Investor adalah penerima harga (price taker), artinya bahwa sebagai pelaku pasar, investor sendiri tidak bisa mempengaruhi harga dari suatu sekuritas. Harga sustu sekuritas ditentukan oleh banyak ivestor yang menentukan demand dan supply.
2) Informasi yang tersedia bagi semua pelaku pasar sangat luas pada saat yang bersamaan dan harga untuk memperoleh informasi tersebut relatif murah.
3) Informasi dihasilkan secara acak (random) dan tiap-tiap pengumuman informasi bersifat acak antara satu dengan yang lainnya. Maksudnya, investor tidak dapat memprediksikan kapan emiten akan mengumumkan informasi baru.
4) Investor menggunakan informasi secara penuh dan cepat, sehingga harga dari sekuritas berubah. Hal ini dapat terjadi jika investor mampu mamahami dan menginterpretasikan informasi dengan cepat dan baik.
Sedangkan kondisi yang menyebabkan pasar dikatakan tidak efisien diantaranya sebagai berikut:
1) Ada sedikit pelaku pasar yang mempengaruhi harga dari sekuritas.
2) Harga dari informasi yang ada lebih mahal dan terdapat akses yang tidak seragam antara pelaku pasar yang satu dengan yang lain terdapat informasi yang sama.
3) Informasi yang sama dapat diprediksi dengan baik oleh sebagian pelaku pasar.
4) Investor merupakan orang-orang yang lugas (naive investor) dan tidak canggih. Naive investor adalah investor yang mempunyai kemampuan yang terbatas dalam mengartikan dan menginterpretasikan informasi yang diterima. Karena tidak canggih, investor sering melakukan keputusan yang salah sehingga mengakibatkan sekuritas dinilai tidak tepat (Indah Yuliana, 2010: 64-69).
4. Granger Causality (Kausalitas Granger)
Studi kausalitas bertujuan untuk mengukur kekuatan hubungan antara variabel yang menunjukkan arah sebab akibat, dimana X menyebabkan Y, Y menyebabkan X, atau X menyebabkan Y dan Y menyebabkan X. Uji kausalitas granger dipercaya jauh lebih bermakna dari uji korelasi biasa (Ascarya, 2009). Dengan melakukan uji kausalitas granger dapat diketahui beberapa hal, sebagai berikut:
a. Apakah X mendahului Y, apakah Y mendahului X, atau hubungan X dan Y timbal balik.
b. Satu variabel X dikatakan menyebabkan variabel lain yaitu Y, apabila Y saat ini diprediksi lebih baik menggunakan nilai-nilai masa lalu X.
c. Asumsi pada uji ini adalah bahwa X dan Y dianggap merupakan sepasang data runtut waktu yang memiliki kovarians linier yang stasioner.
Nachrowi dan Usman memberikan penekanan bahwa pada pengujian kausalitas granger yang diuji adalah pengaruh masa lalu terhadap kondisi sekarang, sehingga data yang digunakan adalah data time series.
Seperti pada gambar 2.1 akan dijelaskan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pembentukkan model granger causality, berikut ini adalah langkah-langkah yang harus dilakukan:
Gambar 2.1
Proses Pembentukan Model Granger Causality
Sumber: Ludovicus Sensi Wondabio, 2006
Pada penelitian ini, peneliti melakukan proses penelitian berdasarkan model diatas. Melakukan pengumpulan data terlebuh dahulu, kemudian menyortir data dengan menggunakan Microsoft Exel, kemudian melakukan input data menggunakan aplikasi eviews 8 untuk melakukan analisis pada data yang digunakan oleh peneliti. Namun, pada penelitian ini peneliti hanya ingin mengetahui ada atau tidaknya hubungan timbal balik antara Harga Saham Konvensional dengan Harga Saham Syariah.
Oleh sebab itu, peneliti tidak melakukan Uji VAR dan juga tidak melakukan Uji Regresi. Peneliti hanya melakukan Uji Granger Causality saja.
Uji ini pada intinya mengindikasikan apakah suatu variabel mempunyai hubungan dua arah, atau hanya satu arah saja.
INPUT DATA
TEST GRANGER
Ya
Tidak
MODEL VAR
Tidak Heterosked
astisitas REGRESI
ARCH/
GARCH
Ya Tidak
Autokorelasi Ya
Terkointegrasi Transformasi
pembedaan
B. Literature Review
Dalam penelitian skripsi ini, penulis menggunakan beberapa penelitian terdahulu sebagai referensi yang dirangkum dalam tabel berikut:
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu No. Nama Penulis,
Judul, dan Jenis
Persamaan dan
Perbedaan Hasil Penelitian 1. Ali Maskur (2009).
Volatilitas Harga Saham antara Harga Saham
Konvensional dan Syariah. Jurnal.
Persamaan:
Terdapat persamaan dari segi variabel yang digunakan yaitu variabel harga saham konvensional dan syariah.
Perbedaan:
Terdapat perbedaan pada variabel volatilitas harga saham
Hasil analisis dari jurnal ini adalah bahwa indeks saham konvensional
dengan indeks saham syariah tidak ada perbedaan yang menonjol. Bila dilihat dari volatilitasnya, indeks harga saham
baik itu
konvensional
maupun syariah menunjukkan nilai α
≥ 0,7 dan hasil penjumlahannya juga mendekati 1.
Hal itu artinya ketiga indek tersebut memiliki volatilitas yang
tinggi dan
berlangsung terus- menerus, hanya Kompas 100 yang memiliki volatilitas yang rendah α ≤ 0,7.
2. Rikwan E.S Manik dan Paidi Hidayat (2010). Analisis Kausalitas antara Pengeluaran Pemerintah dan Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera Utara (Metode
Persamaan:
Terdapat persamaan pada metode
analisis kausalitas dengan metode granger causality.
Perbedaan:
Terdapat perbedaan pada variabel penelitiannya antara
Hasil dari penelitian yang menggunakan granger causality test
mengindikasikan bahwa tidak ditemukan adanya hubungan timbal balik (kausal) atara pengeluaran
Cointegration test dan Granger Causality test).
Jurnal.
pengeluaran pemerintah dan pertumbuhan ekonomi.
pemerintah dan pertumbuhan
ekonomi di
Sumatera Utara, tetapi meliliki hubungan yang searah, yakni pengeluaran
pemerintah mempengaruhi pertumbuhan
ekonomi selama periode penelitian.
3. Aula Ahmad Hafidh (2011).
Analisis Hubungan Pengeluaran
Pendidikan dan Pertumbuhan
Ekonomi dengan Menggunakan Kausalitas Granger.
Jurnal.
Persamaan:
Terdapat persamaan pada metode yang digunakan yaitu granger causality.
Perbedaan:
Terdapat perbedaan pada variabel pengeluaran
pendidikan dan pertumbuhan
ekonomi.
Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa kedua variabel penelitian
mempunyai
hubungan kausalitas artinya kedua variabel
pengeluaran
pendidikan dan pengeluaran
ekonomi saling mempengaruhi.
Pengeluaran
pemerintah dalam bidang pendidikan akan mempengaruhi pertumbuhan
ekonomi, di sisi lain pertumbuhan
ekonomi akan mempengaruhi pengeluaran pendidikan pula.
4. Syaiful Maqrobi (2011). Kausalitas Tingkat Inflasi dan Pertumbuhan
Ekonomi di
Indonesia Periode 1998.1-2010.4.
Skripsi.
Persamaan:
Terdapat persamaan pada metode penelitian yang digunakan yaitu grager causality.
Perbedaan:
Terdapat perbedaan pada variabel yang
Hasil uji kausalitas Granger variabel inflasi mempunyai hubungan kausalitas dua arah terhadap pertumbuhan
ekonomi, dan hubungan dua arah tersebut terjadi pada
diteliti yaitu variabel tingkat inflasi dan pertumbuhan
ekonomi.
lag 1. Artinya, inflasi pada 1 lag sebelumnya (t-1) akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi saat ini (saat t). Berdasarkan hasil uji kointegrasi EangleGranger menunjukkan bahwa hasil regresi memiliki derajad integrasi yang sama (terkointegrasi) sehingga terdapat hubungan jangka panjang yang signifikan antara inflasi dengan pertumbuhan
ekonomi pada periode 1998.1- 2010.4.
5. Muhammad
Alhasymi (2010).
Analisis Kausalitas dan Kointegrasi atara Foreign Direct Investment (FDI) dengan
pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) di Australia.
Jurnal.
Persamaan:
Terdapat persamaan pada metode penelitian yang digunakan yaitu granger causality.
Perbedaan:
Terdapat perbedaan pada variabel yang diteliti yaitu antara variabel investasi asing (FDI) dengan Gross Domestic Product (GDP).
Hasil analisis data memperlihatkan Investasi (FDI) dan tingkat GDP di Australia
menunjukkan tren
yang terus
meningkat selama kurun waktu 1970- 2010. Melalui analisis Granger Causality Test menunjukkan adanya hubungan searah antara Investasi (FDI) dan GDP Australia.
6. Ayu Septi Anggraeni (2011).
Analisis Granger Causality terhadap Kinerja Sosial dan
Persamaan:
Terdapat persamaan pada metode analisis yang digunakan yaitu Granger Causality.
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan CSP (Corporate Social Performance) yang signifikan antara
Kinerja Keuangan Perusahaan. Skripsi.
Perbedaan:
Terdapat perbedaan pada variabel yang diteliti yaitu antara variabel kinerja sosial dengan kinerja keuangan perusahaan.
perusahaan
domestik dengan perusahaan
multinasional yang beroperasi di Indonesia.
Meskipun
ditemukan adanya hubungan yang signifikan kausalitas kinerja sosial terhadap proksi ROE kinerja keuangan.
7. Mega Novita, at all (2009). Studi Kausalitas Granger antara Nilai Tukar Rupiah terhadap USD dan UAD Menggunakan Analisis VAR.
Jurnal.
Persamaan:
Terdapat persamaan pada metode
analisis yang digunakan yaitu Granger Causality.
Perbedaan:
Terdapat perbedaan pada variabel yang diteliti yaitu antara nilai tukar rupiah terhadap USD dan UAD.
Hasil analisis VAR menunjukkan bahwa dengan tingkat kepercayaan 99% untuk variabel tak bebas USD, USD tidak Granger menyebabkan AUD sedangkan untuk variabel tak bebas
AUD, AUD
Granger
menyebabkan USD.
Hal ini
menunjukkan apabila variabel USD dimasukkan dalam komponen variabel untuk memprediksi nilai USD, hasilnya secara statistik tidak signifikan. Namun, apabila variabel AUD dijadikan variabel untuk memprediksi
besarnya USD, hasilnya secara statistik signifikan.
8. Girish
Karunakarana Nair, Nindhi Choudhary, at all (2015). The Relationship
between Gold Prices and Exchange Value of US Dollar in India. Journal.
Persamaan:
Terdapat persamaan pada metode analisis datanya yaitu kausalitas granger.
Perbedaan:
Terdapat perbedaan pada variabel penelitian yaitu antara harga emas dengan nilai tukar US dolar.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nilai tukar
Dolar AS
merupakan faktor penting dalam fluktuasi harga emas di India. Meski hubungan ini telah berubah dengan terjadinya resesi global, nilai tukar
USD harus
dipertimbangkan saat mengambil keputusan investasi di logam.
9. Chor Fon TANG, and Yew Wah LAI (2011). The Causal Relationship
between Health and Education
Expenditures in Malaysia. Journal.
Persamaan:
Terdapat persamaan pada metode
analisisnya yaitu granger causality.
Perbedaan:
Terdapat perbedaan pada variabel penelitiannya.
Hasil dari penelitian ini menyiratkan bahwa masyarakat Malaysia menaruh preferensi pada pengeluaran
pendidikan daripada kesehatan.
Preferensi ini tidak terduga seperti umumnya,
masyarakat
berpendidikan dan berpengetahuan mendahului yang sehat.
10. Gandhi Anwar Sani (2012). Uji Kausalitas VAR Toda-Yamamoto antara Variabel Makro Ekonomi dengan Pasar Modal Syariah dan Pasar Uang Syariah di Indonesia Tahun 2002-2011 (Studi
Persamaan:
Terdapat persamaan pada metode analisisnya yaitu kausalitas.
Perbedaan:
Terdapat perbedaan pada variabel penelitiannya yaitu variabel makro ekonomi dengan pasar modal syariah
Hasil dari penelitian ini adalah dengan tingkat signifikansi 5% melalui uji bi- variate dua arah, pasar modal syariah (JII) memiliki dua kontn informasi terkait makro ekonomi yaitu LnER dan rSBI, sedangkan SBIS tidak sama sekali.
Kasus JII dan SIBS).
Skripsi.
dan pasar uang syariah.
Dengan tingkat signifikansi yang sama melalui uji multi-variate dua arah, pasar modal syariah (SIBS) memiliki tiga konten informasi terkait makro ekonomi yaitu rSBI, IPI dan Inflasi, sedangkan JII hanya memiliki satu konten informasi yaitu LnER.
11. Lilis Nurul Qotimah (2014).
Analisis Kausalitas Granger antara Inflasi dengan Pengangguran di Indonesia Periode Tahun 1987-2013.
Skripsi.
Persamaan:
Terdapat persamaan pada metode analisisnya yaitu kausalitas granger.
Perbedaan:
Terdapat perbedaan pada variabel penelitiannya yaitu antara inflasi dengan
pengangguran.
Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa terdapat kausalitas searah antara Inflasi dengan
Pengangguran yaitu Inflasi tidak mempengaruhi Pengangguran akan tetapi Pengangguran mempengaruhi Inflasi.
12. Heriyanto dan Ming Chen (2014).
Analisis Pengaruh Indeks Harga Konsumen, Jumlah Uang Beredar (M1), Kurs Rupiah, dan Indeks S&P 500 terhadap Indeks Harga Saham Gabungan: Studi Empiris pada Bursa Efek Indonesia.
Jurnal.
Persamaan:
Terdapat persamaan pada salah satu metode analisisnya yaitu kausalitas granger.
Perbedaan:
Terdapat perbedaan pada variabel penelitian, yaitu Indeks Harga Konsumen (IHK), Uang Beredar, Kurs Rupiah, dan Indeks S&P 500.
Hasil pengujian dengan
menggunakan Vector Error Correction Model
(VECM) dan
Granger Causality Test menunjukkan bahwa hubungan antara variabel makroekonomi dan IHSG adalah hubungan satu arah.
C. Kerangka Pemikiran
Kerangka penelitian (paradigma penelitian) adalah pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan digunakan (Sugiyono 2012:
42). Sehingga penulis menggunakan kerangka pemikiran seperti berikut:
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran
Dari gambar diatas, penulis menggunakan satu variabel independen (X) dan satu variabel dependen (Y). Dimana nantinya penulis akan menjelaskan hubungan kausalitas antara harga saham konvensional dengan harga saham syariah. Artinya, apakah X mempengaruhi Y atau Y mempengaruhi X atau keduanya saling mempengaruhi atau tidak ada hubungan diatara keduanya.
Sehingga muncul kemungkinan (Hipotesis) berikut:
H1 : Harga Saham Konvensional berpengaruh terhadap Harga Saham Syariah.
H2 : Harga Saham Syariah Berpengaruh terhadap Harga Saham Konvensional.
H3 : Harga Saham Konvensional dan Syariah saling mempengaruhi satu dengan lainnya.
Harga Saham Konvensional
(X)
Harga Saham Syariah
(Y)