UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM MAGISTER THEOLOGI
BERIMAN KATOLIK BERBUDAYA TIONGHOA
Studi Komparasi Etika Keluarga Katolik Dan Etika Keluarga Konfusian
Tesis diajukan oleh : Lucky Nikasius
NPM : 106312021/PPs/M.Th.
untuk memperoleh
GELAR MAGISTER THEOLOGI
2013
ii
iii
iv
KATA PENGANTAR
Dalam kehidupan, manusia senantiasa dihadapkan dengan berbagai pilihan. Mulai dari pilihan sederhana seperti memilih pakaian yang cocok, rumah makan, rute jalan, dll, hingga pilihan yang rumit terkait ideologi, moralitas, nilai- nilai, dll. Berhadapan dengan banyak pilihan dalam hidup, manusia butuh orientasi untuk menentukan arah hidupnya. Etika dapat membantu manusia dalam menemukan arah hidup. Etika merupakan ilmu yang mencari dan mengarahkan orientasi serta membantu manusia untuk mempertanggungjawabkan hidup. Etika berbeda dengan ajaran moral. Perbedaan antara etika dengan ajaran moral dapat dianalogikan dengan membaca sebuah peta ketika berpergian. Ajaran moral membantu untuk dapat mengerti simbol-simbol dalam peta, nama-nama jalan dan petunjuk lainnya. Etika membantu untuk menyadari posisi sekarang dan menunjukkan arah untuk mencapai tujuan.
“By race I am Chinese and by grace I am Catholic”, merupakan seruan yang menjadi landasan dalam penulisan karya ini. Sebagai seorang Katolik keturunan Tionghoa, penulis merasa tergerak untuk menemukan orientasi berhadapan dengan penghayatan hidup beriman sekaligus berbudaya. Kesadaran ini muncul ketika membaca keprihatinan Gereja atas hidup berkeluarga yang tertuang dalam anjuran apostolik Familiaris Consortio. Banyak keluarga modern mengalami kebimbangan peran, makna dan fungsi hidup berkeluarga. Etika keluarga menjadi penting sebagai orientasi menentukan tujuan hidup berkeluarga.
Tujuan hidup berkeluarga digarisbawahi Familiaris Consortio art. 17 sebagai persekutuan mesra hidup dan kasih. Karya ini dibuat dalam rangka memberi orientasi kepada keluarga Katolik keturunan Tionghoa dalam hidup berkeluarga.
v
Beriman katolik tidak pernah menggusur kultur melainkan mengakar dalam kebudayaan.
Penulis sungguh bersyukur dapat menyelesaikan karya ini. Pertama-tama rasa syukur dan terima kasih ingin saya hunjukkan kepada Allah yang telah memberi kekuatan, semangat, inspirasi, bekal budi dan hati dalam mengerjakan karya ini. Kedua, kepada para dosen pembimbing: Dr. A. Purwahadiwardaya, MSF dan Prof. Dr. A. Sudiarja, SJ; yang dengan rela meluangkan waktu untuk membaca, memberi koreksi dan mendampingi saya dalam mengerjakan karya ini.
Ketiga, kepada para staff seminari tinggi St. Paulus, Yogyakarta dan seminari tinggi Yohanes Paulus II, Jakarta; yang telah mendampingi saya dalam meniti panggilan. Keempat, kepada keluarga dan kerabat yang telah memberi dukungan, mendoakan saya untuk dapat segera menyelesaikan karya ini. Kelima, kepada orang-orang yang dengan caranya masing-masing telah membantu saya dalam menyelesaikan karya ini: Petugas perpustakaan seminari tinggi St. Paulus dan Kolsani, Unio Kecil KAJ, confrater seminari tinggi St. Paulus, Sdri. Agnes Herawati, Sdri. Riana, dan kepada semua pihak yang telah membantu dan tidak dapat saya sebutkan.
Akhirnya, tulisan ini ingin saya persembahkan pertama kepada alm. ayah saya, Bpk. Antonius Yap yang telah menorehkan nilai-nilai iman dan budaya sebagai bekal perjalanan hidup saya. Selanjutnya kepada semua orang yang bergairah secara intelektual dalam menyelami wawasan seputar etika keluarga;
secara khusus kepada keluarga-keluarga Katolik keturunan tionghoa. Semoga tulisan ini memberi inspirasi bagi keluarga modern dalam menghayati peran dan tanggungjawabnya.
vi
Abstrak
“Beriman Katolik, Berbudaya Tionghoa: Studi Komparasi antara Etika Keluarga Katolik dan Etika Keluarga Konfusian”, adalah judul dari karya tulis ini.
Karya ini bertujuan untuk memperkaya wawasan seputar etika keluarga Katolik dan membantu keluarga Katolik keturunan Tionghoa untuk menghayati hidup berkeluarga secara Tionghoa dan secara Katolik.
Manusia merupakan makhluk yang berbudaya dan baru kemudian menjadi makhluk yang beragama. Budaya sedemikian rupa mempengaruhi individu karena menunjukkan identitas individu. Budaya Tionghoa yang terinternalisasi pada keluarga Katolik keturunan Tinghoa perlu dipahami agar tidak menjadi penghambat dalam mengimani Kristus. Pemahaman ini ditempuh salah satunya dengan mempelajari etika keluarga Konfusian sebagai usaha untuk memperkaya etika keluarga Katolik. Keluarga Katolik keturunan Tionghoa diharapkan beriman katolik tanpa kehilangan identitasnya sebagai orang Tionghoa.
Etika keluarga Konfusian menekankan ajarannya pada kemanusiaan manusia dalam hubungannya dengan sesama. Tujuan akhir dari etika keluarga Konfusian mengantarkan manusia menuju kepenuhan dirinya atau menjadikan manusia utuh (jūn zĭ/君子). Etika keluarga Katolik menekankan persekutuan manusia dengan Allah dalam cinta kasih. Cinta kasih menjadi unsur pokok dalam keluarga Katolik karena merupakan manifestasi dari cinta Allah. Sebagai persekutuan pribadi yang berdasar pada cinta kasih, Keluarga Katolik berpartisipasi memancarkan kasih itu dalam hubungannya dengan sesama.
vii
Abstract
This research, entitled “Catholic Faith, Chinese Culture: a Comparative Study of Catholic and Confucian Family Ethics” aims to enrich the view toward ethics of Catholic family and to help Chinese Catholic families to live family values both as Chinese and Catholic.
A human being is born as a cultured creature and later on becomes a religious creature. Culture, in such condition, influences an individual life since it shows his own identity. Chinese culture that is internalized in the Catholic families of Chinese origin needs to be understood well so it will not be an obstacle in keeping faith in Christ. This understanding can be covered through some ways, one of them is by learning Confucian family ethics as a way to enrich (the understanding of) the Catholic family ethics. Catholic family of Chinese origin are expected to adhere Catholic faith, without losing their genuine identity as Chinese.
Confucian family ethics focuses humanness in it thought on the human relationships. The main goal of Confucian family ethics is to guide people to their self-fulfillment or accomplishment as human being (jūn zĭ/君子). Catholic family ethics on the other hand emphasizes their relationship with God in love. Love is the main element in Catholic family because it is the manifestation of God. As an intimate partnership based on love, Catholic family participates in spreading the love for others.
viii
Daftar Isi
Halaman Judul ... i
Halaman Pengesahan ... ii
Pernyataan Keaslian Karya ... iii
Pengantar ... iv
Abstrak ... vi
Abstract ... vii
Daftar Isi ... viii
Bab I : Pendahuluan 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan dan Batasan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penulisan ... 6
1.4 Metode Penulisan ... 6
1.5 Sistematika Penulisan ... 7
Bab II : Tinjauan Sosiologis Atas Hidup Berkeluarga 2.1 Selayang Pandang Terbentuknya Institusi Keluarga ... 9
2.2 Keluarga dalam Hubungannya dengan Masyarakat ... 11
2.2.1 Keluarga dan Individu ... 14
2.2.2 Keluarga dan Masyarakat ... 16
2.2.3 Afiliasi dalam Keluarga ... 18
2.3 Fungsi Keluarga ... 20
2.4 Rangkuman ... 27
Bab III : Etika Keluarga Katolik Menurut Familiaris Consortio 3.1 Fungsi Keluarga Menurut Familiaris Consortio ... 33
3.1.1 Menjadi Persekutuan Pribadi-pribadi dan Mengabdi Kehidupan ... 34
3.1.1.1 Menjadi Persekutuan Pribadi-pribadi ... 35
3.1.1.2 Mengabdi kehidupan ... 37
ix
3.1.2 Menyiapkan Individu Hidup dalam Masyarakat ... 46
3.1.2.1 Mengambil Bagian dalam Hidup Bermasyarakat ... 48
3.1.2.2 Berperan Serta dalam Pengembangan Iman dan Misi Gereja ... 53
3.2 Etika Keluarga Katolik dalam Familiaris Consortio ... 57
3.3 Rangkuman ... 62
Bab IV : Etika Keluarga Konfusian 4.1 Keluarga sebagai Agen Sosialisasi ... 65
4.2 Individu (ren/人) Menempa Diri dan Ditempa dalam Keluarga ... 73
4.2.1 Lima Hubungan (Wŭ Lún/五伦) sebagai Dasar Etika Keluarga Konfusian ... 75
4.2.2 Tiga Ikatan (Sān Gāng/三纲) sebagai Kesatuan Etika Keluarga Konfusian ... 85
4.3 Keluarga dalam Konstelasi Global (studi Teks kitab Dà Xué/大学) ... 86
4.4 Konsep Manusia Seutuhnya (Jūn Zĭ/君子) dalam Ajaran Konfusius ... 91
4.5 Rangkuman ... 95
Bab V : Etika Keluarga Katolik dalam Komparasi dengan Etika Keluarga Konfusian 5.1 Etika Keluarga Katolik dan Etika Keluarga Konfusian ... 100
5.1.1 Persamaan dalam Etika Keluarga Katolik dan Konfusian ... 100
5.1.1.1 Makna Perkawinan dan Keluarga ... 100
5.1.1.2 Fungsi Keluarga ... 102
5.1.1.3 Keterkaitan Individu dan Keluarga dengan Masyarakat ... 103
5.1.1.4 Sikap Hormat kepada Orangtua ... 105
5.1.2 Perbedaan ... 107
5.1.2.1 Makna Perkawinan dan Keluarga ... 108
5.1.2.2 Fungsi Edukasi dalam Keluarga ... 114
5.1.2.3 Relasi Individu dan Keluarga dengan Masyarakat ... 121
5.1.2.4 Sikap Hormat kepada Orangtua ... 128 5.2 Paralelisasi Etika Keluarga Katolik
x
dengan Etika Keluarga Konfusian ... 135
5.3 Analisis Etika Keluarga Katolik dan Etika Keluarga Konfusian ... 140
5.4 Rangkuman ... 148
Bab VI : Penutup ... 152
6.1 Pastoral Keluarga Katolik-Tionghoa ... 155
Lampiran 1 ... 162
Daftar Pustaka ... 165
1
BAB I Pendahuluan
1.1. Latar belakang
Perkawinan merupakan ikatan lahir-batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dengan tujuan membentuk keluarga, yang terarah pada kelahiran anak dan kesejahteraan anggota di dalamnya. Perkawinan bukan hanya terkait dengan dimensi institusional namun juga terkait dengan kehendak, intensi dan dimensi afektif serta religius manusia. Perkawinan adalah gerbang dan dasar suatu keluarga. Perkawinan adalah kebersamaan seluruh hidup dalam suka dan duka, untung dan malang, sehat dan sakit. Gaudium et Spes mendefinisikan perkawinan sebagai persekutuan seluruh hidup dan kasih mesra antara suami-istri, yang diadakan oleh Sang Pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukum-Nya, dibangun oleh perjanjian perkawinan yang tidak dapat ditarik kembali.1
Dalam zaman modern lembaga perkawinan menghadapi tantangan besar.
Perkembangan peradaban membawa pengaruh positif dan negatif atas perkawinan dan hidup berkeluarga. Sisi positif tampak pada kesadaran akan kebebasan pribadi, perhatian atas kualitas hubungan pribadi, emansipasi, dan tanggungjawab selaku orangtua dalam mendidik anak. Sisi negatif ditandai oleh subjektifitas manusia yang diwarnai semangat cinta diri dan egoisme. Menanggapi hal itu, pada tanggal 22 November 1981, Yohanes Paulus II mengeluarkan sebuah anjuran apostolik menyangkut peran keluarga Kristiani dalam dunia modern (Familiaris Consortio). Paus menyatakan prihatin karena maksud awal rencana
1 lih. Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Pedoman Pastoral Keluarga, Obor, Jakarta, 2011, hlm. 7
2
Allah menjadikan keluarga sebagai persekutuan mesra kehidupan dan cintakasih2 tergeser oleh semangat zaman yang terdistorsi. Peran keluarga yang pada intinya mengemban misi untuk menjaga, mengungkapkan serta menyalurkan cintakasih3 mengalami krisis. Menyadari keprihatinan itu, penulis tergerak untuk menanggapinya dalam tesis ini.
Krisis dalam keluarga modern disinyalir penulis berakar pada “miskin”nya pemahaman akan hakekat, makna dan fungsi hidup berkeluarga. Keluarga menjadi kehilangan orientasi dalam menentukan arah. Akibatnya keluarga dalam menjalankan perannya mengalami krisis. Untuk membantu keluarga modern keluar dari krisis ini dibutuhkan sebuah etika keluarga. Etika merupakan ilmu yang mencari dan menawarkan orientasi serta membantu manusia untuk mempertanggungjawabkan hidup.4 Etika berbeda dengan ajaran moral. Ajaran moral berarti ajaran-ajaran, wejangan-wejangan, kotbah-kotbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan baik lisan ataupun tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia menjadi manusia yang baik. Etika merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral.5 Etika merupakan pemikiran sistematis tentang moralitas. Maka ajaran moral ada di dalam etika atau ajaran moral merupakan objek etika.
2 lih. John Paul II, Familiaris Consortio, Liberia Editrice Vaticana, Rome, AAS 74, 1982, art. 17 selanjutnya akan ditulis Familiaris Consortio; bdk. Gaudium et Spes, AAS 58, 1966, art. 48
3 lih. Familiaris Consortio, art. 17
4 Etika dari akar kata Yunani etikos, ethos yang berarti adat, kebiasaan, praktik. Secara ringkas etika berarti ilmu mencari orientasi; lih. Bagus Lorens, Kamus Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, hlm. 217-220
5 lih. Franz Magnis-suseno, Etika Dasar, Yogyakarta, Kanisius, 1987. hlm. 13-20
3
Sekurang-kurangnya ada empat alasan yang dikemukakan Franz Magnis- Suseno prihal relevansi etika.6 Pertama, ketika berhadapan dengan sekian banyak pandangan moral yang sering bertentangan satu sama lain, etika sungguh diperlukan untuk menentukan pendirian dalam suatu pandangan moral tertentu.
Kedua, ketika pandangan tradisional klasik diserang dengan berbagai argumen diperlukan etika untuk membedakan nilai yang hakiki dengan apa yang bisa diubah. Ketiga, ketika budaya dan moral dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk mendukung ideologi yang diperjuangkan etika berperan untuk membantu manusia agar berpikir kritis dan objektif dalam menghadapi ideologi- ideologi itu. Keempat, etika diperlukan agama untuk menemukan dasar kemantapan dalam iman kepercayaan. Etika juga dapat memberi orientasi atas dua masalah dalam moral agama yang tidak dapat dipecahkan tanpa menggunakan etika. Pertama, untuk menginterpretasi perintah dan hukum yang termuat dalam wahyu Allah. Kedua, untuk menjawab masalah moral yang tidak diajarkan atau ditemui dalam wahyu.
Berhadapan dengan nilai-nilai budaya dan nilai-nilai keagamaan dalam konteks perkawinan dan hidup berkeluarga, etika dapat membantu manusia untuk tidak kehilangan identitasnya sebagai makhluk berbudaya sekaligus beragama.
Agama selalu berhubungan dengan budaya, karena agama diekspresikan dalam budaya. Dialog antara agama dan budaya merupakan sebuah keharusan agar ada keselarasan antara budaya dan iman. Budaya merupakan penghayatan hidup manusia para ruang dan situasi tertentu. Budaya berasal dari kata sansekerta buddhayah yang berarti akal budi. Dalam bahasa Inggris budaya disebut culture
6 ibid. hlm. 15
4
berasal dari kata Latin colere yang berarti mengolah atau mengerjakan.7 Budaya merupakan ruang vital tempat perjumpaan manusia dengan Injil.8 Hidup beriman tidak mungkin terlepas dari akar budaya.
Kaitan antara agama dan budaya antara lain nampak dalam hal mempertimbangkan pasangan hidup. Sebagai contoh, pertimbangan seorang beriman Katolik keturunan Tionghoa untuk menikah kerap menekankan kesamaan budaya ketimbang iman Katolik. Dengan menikah sesama etnis, orang Tionghoa merasa aman, senasib dan kehidupan keluarga bisa harmonis. Syukur apabila menemukan pasangan hidup yang beretnis sama dan beriman sama. Namun prioritas kesamaan budaya lebih ditekankan daripada kesamaan agama. Budaya menempati peringkat pertama dan disusul dengan agama karena individu merupakan makhluk yang berbudaya (buddhayah) dan baru kemudian beragama.
Demikian pula pada budaya lain, seperti Jawa, Sunda, Batak, dll; pertimbangan budaya turut andil dalam membangun kehidupan rumah tangga. Budaya sedemikian rupa mempengaruhi individu karena menunjukkan identitas individu.
Pengaruh budaya tidak hanya tampak pada ritual perkawinan, melainkan juga pada pemahaman akan makna perkawinan dan hidup berkeluarga. Keluarga Katolik-Tionghoa membutuhkan etika keluarga Katolik yang bersinergi dengan budaya Tionghoa.
“Beriman Katolik Berbudaya Tionghoa, Studi Komparasi antara Etika Keluarga Katolik dan Etika Keluarga Konfusian”, adalah judul dari karya tulis ini.
Tujuan dari studi ini adalah membantu keluarga Katolik-Tionghoa dalam
7 lih. Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan, Gramedia, Jakarta, 1974, hlm. 19
8 lih. Yohanes Paulus II, Gereja di Asia, (terj. R. Hardawiryana), Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Jakarta, 2000, art. 21, hlm. 53
5
kehidupan berkeluarga. Penulis terinspirasi oleh Prof. Julia Ching, seorang berkebangsaan Korea, pengajar filsafat dan budaya di universitas Toronto, penulis buku Confucianism and Christianity. Kehidupan Julia Ching menjadi inspirasi dalam menghidupi nilai-nilai Konfusian dan nilai-nilai Katolik.9 Penulis, sebagai calon imam Keuskupan Agung Jakarta dan sebagai keturunan Tionghoa, ingin menggali nilai-nilai budaya Tionghoa yang dapat memperkaya pemahaman Katolik tentang hidup berkeluarga.
1.2. Perumusan dan Batasan Masalah
Studi perbandingan antara etika keluarga Katolik dan etika keluarga Konfusian ini berupaya untuk memperdalam masalah peran keluarga zaman ini.
Studi perbandingan ini meliputi persamaan, perbedaan dan analisis atas kedua etika. Pokok permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini ialah: adakah perjumpaan nilai antara etika keluarga Katolik dan etika keluarga Konfusian?
Tesis ini bukan dimaksudkan untuk menyerap pemikiran Konfusianis ke dalam ajaran Katolik, tetapi untuk memperkaya etika keluarga Katolik. Nilai-nilai dalam etika keluarga Konfusian membantu keluarga Tionghoa-Katolik untuk menghayati hidup berkeluarga secara Tionghoa dan secara Katolik. “Biarkan pangeran menjadi seorang pangeran, menteri menjadi menteri, ayah menjadi ayah dan anak menjadi anak”, tutur Konfusius ketika memberi nasihat kepada pangeran Ching dari Ch'i.10 Nasihat ini mengajak keluarga Tionghoa-Katolik untuk menjalankan peran sebagaimana seharusnya.
9 bdk. Tu Wei-Ming, Etika Konfusianisme, Teraju, Jakarta, 2005, hlm. 21-22
10 lih. Lun Yu XII, 11
6 1.3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan tesis ini adalah: pertama, untuk menegaskan pentingnya institusi perkawinan dan keluarga. Penegasan ini meneropong kehidupan keluarga sebagai kelompok sosial pertama dan utama dalam masyarakat.
Kedua, untuk memperdalam wawasan mengenai etika Keluarga Katolik yang tertuang dalam anjuran apostolik Familiaris Consortio. Pengayaan wawasan ini menjadi orientasi bagi keluarga Katolik untuk memahami hakekat, makna dan fungsi perkawinan dan hidup berkeluarga secara Katolik.
Ketiga, untuk memperdalam wawasan mengenai etika keluarga Konfusian yang melekat pada keluarga keturunan Tionghoa. Pendalaman wawasan seputar etika keluarga Konfusian berupaya menggali nilai-nilai budaya Tionghoa yang dapat memperkaya makna perkawinan dan hidup berkeluarga.
Keempat, untuk melakukan studi perbandingan antara etika keluarga Katolik dan etika keluarga Konfusian. Studi perbandingan ini bertujuan untuk membantu keluarga Katolik-Tionghoa dalam hidup berkeluarga.
Kelima, tulisan ini juga bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister pada Program Pascasarjana Teologi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
1.4. Metode Penulisan
Penulis menggunakan metode studi kepustakaan dengan beberapa sumber primer dan sekunder. Sumber primer yang pertama adalah anjuran apostolik Familiaris Consortio dan yang kedua, Walter H. Slote dan George A. DeVos
7
(ed.), Confucianism and the Family. Kedua referensi ini menjadi sumber primer bagi penulis untuk menemukan peran utama keluarga.
Sedangkan sumber-sumber sekunder adalah Maurice. Eminyan, Teologi Keluarga, (terj. J. Hardiwiratno), Kanisius, Yogyakarta, 2001; Albertus Sujoko, Teologi Keluarga: Memahami Rencana Allah bagi Keluarga menurut Familiaris Consortio, Kanisius, Yogyakarta, 2011; Julia Ching, Confusianism and Christianity, Kodansha International, Tokyo, 1977; Adrian Thatcher, Theology and Families, Blackwell Publishing, Malden, 2007; Yao Xinzhong, Confucianism and Christianity, Sussex Academic Press, United Kingdom, 1997, dll.
1.5. Sistematika Penulisan
Tulisan ini dibagi ke dalam enam bab. Bab pertama berisi latar belakang penulisan, perumusan dan batasan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua berisi kerangka sosiologis hidup berkeluarga, yang memusatkan perhatian pada keluarga sebagai lembaga atau struktur sosial. Fokus perhatian ini menggunakan pendekatan institusional yang menganalisis keluarga sebagai suatu institusi sosial. Keluarga merupakan sel pertama dan vital bagi masyarakat yang dapat bertahan jika didukung oleh masyarakat.
Bab ketiga membahas etika keluarga Katolik menurut anjuran apostolik Familiaris Consortio. Bagian ini menjelaskan makna perkawinan, hidup berkeluarga Katolik dan fungsi keluarga seturut hakekat dan rencana Allah dalam mengadakan institusi ini. Sebagai pengantar, pada bagian ini disampaikan selayang pandang dikeluarkannya anjuran apostolik Familiaris Consortio.
8
Bab keempat membahas etika keluarga Konfusian. Tradisi Konfusian berfokus pada keluarga sebagai institusi etis yang memberi orientasi hidup bagi individu untuk mengembangkan dirinya. Keluarga sebagai institusi etis menekankan fungsi edukasi yang bertujuan untuk menyemai benih keutamaan dan kemanusiaan dalam rangka menempa individu menjadi bajik dan bijak.
Bab kelima merupakan komparasi antara etika keluarga Katolik dan etika keluarga Konfusian. Studi komparasi ini memperdalam wawasan perihal etika keluarga Katolik dan etika keluarga Konfusian. Kedua etika keluarga tersebut berdaya sapa bagi umat beriman Katolik keturunan Tionghoa. Studi komparasi ini meliputi tiga hal yakni persamaan, perbedaan dan analisis atas kedua etika tersebut.
Tulisan ini diakhiri dengan bab ke enam sebagai penutup.
9
BAB II
Sosiologi Keluarga
Menurut Iver dan Page, “Family is a group defined by sex relationship sufficiently precise and enduring to provide for the procreation and up bringing of children”.11 Keluarga merupakan suatu kelompok sosial dasar yang dipersatukan melalui ikatan kekeluargaan atau perkawinan dan ditegaskan dengan relasi seksual yang mengarah pada prokreasi. Beberapa ciri umum keluarga adalah kebersamaan dalam hidup berdasarkan komitmen perkawinan dan ikatan emosi yang khusus, perkembangan individu dalam kebiasaan organis maupun mental, serta peran dan tanggung jawab pada masing-masing anggotanya.12 Ciri-ciri ini menunjukkan bahwa bahtera keluarga mengarungi realitas yang serba majemuk. Realitas majemuk itu meliputi bidang sosial, hukum, religius, ekonomi, pendidikan, psikologi, moral, dll. Kerap kali pelbagai dimensi atau unsur dalam keluarga ini tidak disadari sehingga keluarga-keluarga mengalami krisis peran dan penghayatan yang berakibat pada terkikisnya esensi hidup berkeluarga.
2.1 Selayang Pandang Terbentuknya Institusi Keluarga
Terbentuknya keluarga berawal pada komitmen laki-laki dan perempuan yang diatur dalam lembaga perkawinan. Lembaga perkawinan sebagaimana diatur dalam masyarakat merupakan sarana untuk menjamin kesinambungan biologis, sosial, kultural dan religius dari suatu keluarga. Perkawinan adalah gerbang dan
11 lih. Khairuddin, Sosiologi Keluarga, Liberty, Yogyakarta, 1997, hlm. 3
12 ibid. hlm. 8; bdk. Su’adah, Sosiologi Keluarga, Universitas Muhammadiah Malang (UMM), Malang, 2003, hlm. 23-24
10
dasar pembentukan suatu keluarga. Di Indonesia lembaga perkawinan diatur dalam undang-undang perkawinan tahun 1974, menggantikan undang-undang perkawinan yang ditetapkan pada zaman kolonial. Menurut undang-undang itu, perkawinan yang sah adalah perkawinan yang dilangsungkan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan yang diakui di Indonesia serta dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.13
Awal mula perkawinan dan hidup berkeluarga dilembagakan sulit diketahui. Mungkin perkawinan dan keluarga terbentuk bersamaan dengan terbentuknya masyarakat, karena keluarga merupakan pilar penyangga masyarakat. Keluarga sebagai struktur sosial barangkali muncul bersamaan dengan kemampuan manusia untuk berbicara dan berbahasa. Pada saat manusia mampu menghasilkan simbol bunyi untuk berkomunikasi dalam bentuk bahasa, kemampuan seksual manusia mungkin mengarah pada persatuan yang cenderung menetap dan eksklusif. Keluarga pada masyarakat primordial membentuk peran untuk masing-masing anggota keluarga. Ada semacam naluri bawaan bahwa relasi seksual yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan dan membuahkan keturunan disertai dengan perilaku dan tanggung jawab untuk mencari makan, tinggal menetap dan berteduh, saling melindungi, dll.14 Namun awal mula terbentuknya keluarga hanya bisa ditelaah dalam probabilitas.15
Perkembangan peradaban dan kesadaran manusia menjadikan perkawinan dan keluarga dilembagakan, diatur sedemikian rupa agar terjaga dan selaras
13 lih. Undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, pasal 2 no. 1 dan
2
14 lih. Albertus Sujoko, Teologi Keluarga: Memahami Rencana Allah bagi Keluarga menurut Familiaris Consortio, Kanisius, Yogyakarta, 2011, hlm. 13-14
15 bdk. Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Dian Rakjat, Jakarta, 1967, hlm. 75- 76
11
dengan perkembangan perikemanusiaan dan sosio-kultural. Perkawinan dan keluarga bukan hanya memuat dimensi personal namun juga dimensi institusional dan religius. Tidak bisa manusia dengan kehendaknya sendiri dan secara tidak bertanggung jawab merumuskan hukum perkawinan dan membentuk suatu keluarga. Kesepakatan untuk hidup bersama haruslah terbuka pada pengakuan publik melalui peneguhan perkawinan yang menjadi upacara inisiasi ke dalam suatu status dan peran sosial yang baru yakni keluarga.16 Pengakuan publik atas perkawinan melibatkan negara untuk menjamin legitimasi kontrak perkawinan, anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan itu dan perlindungan atas hidup berkeluarga. Di Indonesia keterlibatan negara dalam melegitimasi perkawinan menjadi tanggungjawab badan kependudukan, keluarga berencana dan pencatatan sipil. Perkawinan membentuk keluarga yang merupakan sel pertama dan vital bagi masyarakat. Keluarga hanya dapat bertahan jika didukung oleh masyarakat.
Sebaliknya masyarakat ditopang dan didukung oleh keluarga-keluarga sebagai kumpulan pribadi-pribadi. Keterkaitan erat antara keluarga dan masyarakat memunculkan telaah sosiologis atas hidup berkeluarga. Pendekatan sosiologis di bawah ini memusatkan perhatian pada interaksi keluarga sebagai lembaga atau struktur sosial.
2.2 Keluarga Dalam Hubungannya Dengan Masyarakat
Kenyataan bahwa hidup berkeluarga dan realitas perkawinan menjadi umpan sekian banyak ilmu sudah menyingkapkan gejala sosio-kultural yang serba majemuk. Sulit untuk merumuskan suatu formula yang tepat untuk mewadahi
16 lih. C. Groenen, Perkawinan Sakramental: Anthropologi dan Sejarah Teologi, Sistematik, Spiritualitas, Pastoral, Kanisius, Yogyakarta, 1993, hlm. 20
12
berbagai dimensi dari hidup berkeluarga dan perkawinan. Keluarga dan perkawinan adalah hubungan yang lebih kurang mantap dan stabil yang terarah pada kesejahteraan suami-istri dan pengadaan keturunan.17 Meskipun perkawinan dan keluarga berkaitan satu sama lain, namun secara hakiki kedua hal itu berbeda.
Perkawinan terkait dengan kesepakatan untuk membangun kebersamaan hidup yang terarah pada kesejahteraan dan keturunan. “Marriage means stabilized patterns of norms and roles associated with mutual relationship between husband and wife”.18 Perkawinan menyatukan laki-laki dan perempuan sebagai suami-istri dan membawa kedua keluarga besar ke dalam suatu hubungan kekerabatan.
Perkawinan menjadi pangkal terbentuknya keluarga. Secara etimologis keluarga berasal dari kata sansekerta yakni kawula yang berarti abdi dan warga yang berarti anggota. Artinya keluarga merupakan kumpulan individu yang memiliki rasa pengabdian tanpa pamrih demi kepentingan seluruh individu yang bernaung di dalamnya.
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.19 Hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara sesama anggota keluarga dan antara keluarga dengan masyarakat menjadi tiang pokok dalam suatu masyarakat. Keluarga adalah institusi sosial yang disatukan oleh ikatan perkawinan, darah, atau adopsi sesuai dengan adat istiadat yang berlaku dan diakui masyarakat, yang memiliki pola interaksi dan korporasi berdasarkan norma-norma, peran sosial dan posisi status yang ditetapkan dalam masyarakat.
Keluarga mempunyai susunan dan interaksi yang menimbulkan peran sosial bagi
17 ibid. hlm. 19
18 lih. David Levinson, Encyclopedia of Marriage and the Family, MacMillan Reference Books, USA, 1995, hlm. 471
19 ibid. hlm. 287
13
masing-masing anggotanya.20 Hubungan peran (role relations) itu seperti: ayah sebagai kepala dan tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah, ibu sebagai pendamping keluarga yang mengontrol, mengasuh dan mengatur rumah tangga, anak sebagai ungkapan cinta orangtua yang berupaya untuk mencecap sosialisasi dalam keluarga sehingga siap terjun dalam masyarakat kelak. Walaupun halnya tidak mutlak demikian, pembagian peran dalam keluarga tetap ada dan bahkan harus ada. Melalui pembagian peran inilah bahtera rumah tangga dapat berlayar mengarungi kehidupan dengan segala dinamikanya.
Dalam masyarakat dikenal tiga bentuk keluarga. Varian bentuk keluarga ini didasarkan pada hubungan peran (role relations) yang terjalin di dalamnya.
Bentuk-bentuk keluarga itu adalah sebagai berikut21:
a. Keluarga inti/batih (nuclear family) terdiri atas suami-istri yang bersatu dalam ikatan perkawinan bersama-sama dengan anak-anak yang lahir dari persatuan mereka. Hubungan peran dalam keluarga inti didasarkan pada tanggung jawab, hubungan darah dan kesejahteraan keluarga sebagaimana ikrar yang disampaikan dalam kesepakatan perkawinan.
b. Keluarga gabungan (joint family) terdiri atas keluarga inti dan saudara- saudara lainnya. Hubungan peran pada keluarga gabungan bernuansa kekerabatan (kinship), berdasarkan pada pertalian hubungan persaudaraan karena hubungan darah (semenda) atau perkawinan (affinitas).
c. Keluarga luas (extended family) terdiri atas anggota-anggota yang tidak memiliki hubungan darah. Hubungan peran dalam keluarga luas
20 lih. YB. Suparman, Rachmanto. W, S. Pardiman, Kamus Istilah Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB), Kanisius, Yogyakarta, 1990, hlm. 98; bdk. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, 1988, hlm. 413; bdk. W. J. S.
Poerwadarya, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1976, hlm. 471
21 lih. Su’adah, Op. Cit., hlm. 90-93
14
berdasarkan semangat patriotis, nasionalis, kesamaan iman, kesatuan tempat tinggal atau daerah asal, dll.
Bentuk keluarga mempengaruhi hubungan peran yang harus dilakoni masing- masing individu. Kesiapan dan kesanggupan untuk menjalankan peran itu memungkinkan individu mampu hidup bersama secara proporsional dan tepat.
2.2.1 Keluarga dan Individu
Hubungan individu dalam keluarga sangat khas karena berlangsung dalam kurun waktu seumur hidup. Kekhasan hubungan ini ditandai antara lain oleh keintiman dalam berelasi. Kualitas hubungan yang intim ini didasarkan pada ikatan emosional yang kuat di dalam keluarga. Keluarga inti dan keluarga gabungan menjadi titik tolak bagi individu untuk bersiap diri terjun dalam masyarakat (keluarga luas). Untuk kesiapan itu, individu perlu dipersiapkan dan persiapan itu diawali dalam keluarga. Secara etimologis individu berakar kata Latin individuum, yang berarti tak terbagi.22 Individu merupakan kesatuan yang paling kecil dan tak terbatas. Namun ilmu sosial menyingkapkan pemahaman prihal individu hanya secara parsial, tidak secara keseluruhan. Para ahli ilmu sosial tidak membahas individu dalam keseluruhannya yang sulit-rumit dan beragam; melainkan kepada kenyataan-kenyataan yang tidak seberapa mempengaruhi kehidupan manusia.23 Manusia merupakan makhluk pluri- dimensional. Sifat pluridimensional ini merupakan suatu seruan yang mengikat manusia secara etis.24 “Being man is having to be man”, tutur Luijpen.25 Manusia
22 lih. Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar, Rineke Cipta, Jakarta, 2003, hlm. 113
23 ibid. hlm. 114
24 lih. Adelbert Snijders, Antropologi Filsafat: Manusia Paradoks dan Seruan, Kanisius, Yogyakarta, 2004, hlm. 15
15
adalah makhluk sosial yang berkat kesosialannya membentuk eksistensinya sebagai manusia. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa relasi dengan sesamanya. Diri sesama hadir dari awal dan dalam segala kegiatan yang khas manusiawi. Aku menjadi aku karena kamu dan aku dipanggil untuk menjadi aku untuk kamu. 26
Manusia yang pluri-dimensional lahir dalam keluarga. Keluarga merupakan unit sosial dalam masyarakat yang terdiri dari beberapa individu.
Lahirnya individu dalam keluarga menunjukkan bahwa manusia tidak pernah dapat hidup dari dirinya sendiri. Bayi lahir dari hubungan kasih suami-istri dan tumbuh menjadi pribadi yang perlu dibina, dijaga, dirawat, diasuh dan dididik.
Manusia tidak dapat hidup untuk dirinya sendiri terlepas dari orang lain dan masyarakat. Secara psikologis, sejak balita anak melakukan kontak dalam keluarganya, kemudian setelah remaja dalam masyarakat yang lingkupnya lebih luas. Secara sosiologis manusia melakukan kontak sosial karena ia membutuhkan orang lain dalam menjalani hidup. “No matter how far back into the past one goes, there is no sign that man ever existed except in groups. From the start we are dealing, not with individual, but with society” kata Auguste Comte.27 Individu barulah menjadi individu apabila pola perilakunya yang khas dari dirinya itu diproyeksikan dalam interaksi dengan orang lain pada suatu lingkungan sosial yang disebut masyarakat. Keluarga dan masyarakat menjadi arena bagi individu untuk berinteraksi dan melakoni peran yang dimiliki, diemban dan dijalankannya.
Keberhasilan menjalankan peran dalam konteks sosial tidak lepas dari pendidikan
25 lih. W. Luijpen, The Existential Phenomenology, Duquesne University Press, Louvain, 1996, hlm. 269. “Diri manusia (being man) merupakan suatu seruan etis untuk manusia (having to be man)”
26 lih. Adelbert Snijders, Op. Cit., hlm. 36
27 lih. James. A. C. Brown, The Evolution of Society, Watt and company, London, 1966, hlm. 84
16
dalam keluarga dan kemampuan individu untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Kemampuan individu beradaptasi dengan lingkungan sosial tertentu bukan bersifat naluriah atau herediter dari orangtua kepada anaknya. Kemampuan adaptasi merupakan kemampuan habitual, hasil dari suatu proses pembelajaran terus menerus yang membentuk kemampuan penyesuaian dengan lingkungan.28 Adaptasi habitual mengajak individu untuk berjalan selaras dengan keluarga ataupun masyarakat.
2.2.2 Keluarga dan Masyarakat
Bentuk keluarga yang ketiga, yakni keluarga luas (extended family), menunjukkan kaitan erat antara keluarga dengan masyarakat. Keterkaitan itu nampak dalam ciri keluarga luas yang terdiri atas anggota-anggota yang tidak memiliki hubungan darah atau kekerabatan. Konsep bahwa keluarga harus diatur dan diwujudkan demi kepentingan masyarakat didasarkan pada keyakinan bahwa keluarga merupakan bagian dari masyarakat. Namun ada konsep yang lain, yakni bahwa masyarakat harus diatur dan diwujudkan demi kepentingan keluarga, karena masyarakat diciptakan dan dibentuk demi kepentingan keluarga. Dua pandangan ekstrem ini dapat didamaikan, dengan konsep bahwa keluarga dan masyarakat merupakan dua entitas yang terkait satu sama lain.29
Dalam bahasa Inggris masyarakat disebut society, dari akar kata Latin yakni socius yang berarti kawan. Interaksi antar individu membentuk aturan hidup, yang tidak disusun oleh manusia perseorangan, melainkan oleh beberapa
28 lih. Soejono Soekanto, Mengenal Tujuh Tokoh Sosiologi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 219
29 lih. Al. Purwa Hadiwardaya, Keluarga dan Masyarakat, dalam BASIS, No. 05-06, tahun ke-52, edisi Mei-Juni, 2003, hlm. 59
17
unsur dalam lingkungan sosial.30 Unsur-unsur itu menurut Maclver, J.L, Gillin dan J.P. Gillin adalah nilai-nilai, norma-norma, cara-cara, dan prosedur.
Masyarakat merupakan kesatuan orang-orang yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu, yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.31 Dengan kata lain masyarakat dapat ditunjukkan dengan kesatuan individu-individu yang terintegrasi dalam satu kesatuan sosial yang memiliki norma-norma bersama di dalamnya. Masyarakat dalam arti seluas- luasnya merupakan sejumlah manusia yang terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.32 Masyarakat merupakan kumpulan keluarga yang mengemban tanggung jawab untuk melayani keluarga, dan keluarga berkewajiban untuk ambil bagian dalam hidup bermasyarakat dengan cara-cara yang khas.
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dan institusi yang menghubungkan individu dengan masyarakat. Melalui keluarga, nilai-nilai, norma-norma, adat-istiadat, dan kebiasaan yang ada di dalam masyarakat ditransfer melalui proses sosialisasi. Pengenalan prihal nilai, norma, adat istiadat dan kebiasaan yang ada di dalam masyarakat merupakan proses persiapan individu untuk berinteraksi dengan masyarakat. Keluarga juga merupakan institusi yang menjamin keberadaan masyarakat melalui fungsi prokreasi yang disandangnya. Pelaksanaan fungsi prokreasi dalam keluarga yang terbuka akan kelahiran individu-individu menjadi basis eksistensi suatu masyarakat. Kaitan antara keluarga dengan masyarakat tidak terpisahkan. Keluarga membutuhkan
30 lih. Abu Ahmadi, Op. Cit., hlm. 122
31 lih. Thomas J. Sullivan, Sosiology: Concept and Aplication In A Diverse World, New York, Pearson Education, Inc, 2004, hlm. 123
32 lih. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, 1988, hlm. 541
18
dukungan dari masyarakat dan sebaliknya masyarakat butuh ditopang oleh keluarga.
2.2.3 Afiliasi dalam Keluarga
Sebagai makhluk sosial, manusia cenderung untuk berafiliasi dengan sesamanya. Kecenderungan ini berakar kuat pada masa kecil atau masa pertumbuhan (infancy) ketika anak mengalami kasih orang dewasa. Seorang bayi mengalami kasih dari orang yang paling sering berinteraksi dengannya. Bayi merasa lebih nyaman dan aman ketika menghabiskan waktu bersama dengan orang yang memperhatikannya. Perasaan kasih itu kemudian berproses dalam dua arah sehingga terjadi keterkaitan antara dikasihi dan mengasihi. Afiliasi merupakan cara untuk memuaskan kebutuhan akan kehangatan, pertalian, dan kerja sama dengan orang lain. Dalam analisis yang dikemukakan Robert Weiss (1974)33, ada enam dasar hubungan sosial yakni: pertama, kasih sayang sebagai dasar dalam berafiliasi. Kasih sayang menelurkan rasa aman dan tentram bagi individu dan komunitasnya. Kasih sayang menjadi pintu masuk individu untuk berafiliasi dengan orang lain. Rumah tangga pun didirikan atas dasar kasih sayang. Kedua, integritas sosial (kerjasama individu-kelompok) yang merupakan perasaan menjadi bagian dalam suatu kelompok. Perasaan menjadi bagian dalam suatu kelompok merupakan kelanjutan dari kasih sayang yang memotivasi individu untuk berafiliasi. Integritas sosial merupakan tujuan dari norma-norma, nilai, pola dan hubungan tidak hanya memuat dimensi eksternal namun dibatinkan dalam diri seseorang sehingga memuat dimensi personal juga. Ketiga, harga diri
33 lih. Thomas J. Sullivan, Op. Cit., hlm. 129
19
sebagai prasyarat yang menjadi ketentuan dalam afiliasi. Kasih sayang dan integritas sosial tidak menghapus harga diri individu melainkan justru mengafirmasinya. Harga diri ditemukan dalam eksistensi individu sebagai manusia. Keempat, persatuan yang dapat dipercaya karena individu merasa aman dan nyaman dalam berafiliasi. Integritas sosial dan harga diri membawa individu pada persatuan. Kasih sayang menjadikan persatuan itu dapat dipercaya sehingga afiliasi menjadi solid. Kelima, bimbingan berupa petunjuk-petunjuk, pengarahan untuk memperkokoh bangunan afiliasi. Bimbingan bermaksud memberi arahan atau nasehat untuk menjadikan individu tepat sasaran dalam berafiliasi. Keenam, kesempatan untuk mengasuh sebagai dasar afiliasi yang memberikan individu perasaan tanggung jawab terhadap orang lain. Kesempatan ini memperkuat rasa persatuan dan harga diri individu dalam afiliasi karena memberikan momen bagi dirinya untuk mengambil bagian dalam membentuk afiliasi.
Keenam dasar di atas menjadi pondasi bagi manusia untuk berafiliasi.
Dalam keluarga keenam dasar untuk berafiliasi ini juga ada. Kesepakatan untuk membentuk suatu keluarga bermuara pada kebutuhan afiliasi, bahwasanya individu membutuhkan orang lain. Keenam dasar afiliasi menghantar keluarga pada kesatuan yang solid dan mengakar. Dasar pertama adalah kasih sayang antara sesama anggota keluarga, yang membuahkan perasaan aman, saling membutuhkan dan tentram. Kasih sayang ini membentuk dasar kedua yakni integritas keluarga. Kasih sayang dan integritas membuat individu dalam keluarga berharga bagi dirinya dan orang lain. Perasaan berharga merupakan dasar ketiga dalam afiliasi yang kemudian membuahkan persatuan yang dapat dipercaya sebagai dasar keempat. Agar anggota keluarga dapat berlaku secara tepat dan
20
proporsional, diperlukan suatu bimbingan berupa arahan, nasehat dan petunjuk yang menjadi dasar kelima. Dan akhirnya kesempatan untuk mengasuh menjadi dasar keenam.
2.3 Fungsi Keluarga
Epilog kisah fiktif akrab dengan narasi, “Akhirnya mereka menikah, dan sesudah itu hidup bahagia selamanya”. Sebut saja cerita Cinderella, Putri salju, Sherk, dan masih banyak cerita lainnya yang menggunakan epilog seperti itu.
Dalam cerita fiktif tersebut, perkawinan menjadi solusi dalam pencarian kebahagiaan. Pandangan ini perlu dijelaskan lebih lanjut. Perkawinan merupakan kesempatan untuk membahagiakan orang lain dan bukan sekedar alat untuk mencari kebahagiaan sendiri. Kebahagiaan dalam perkawinan dan hidup berkeluarga menyangkut seluruh dimensi kehidupan seperti: kebutuhan jasmani berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal; kebutuhan psikologis berupa cinta, kerja sama, rasa aman; kebutuhan rohani berupa pendidikan iman, agama, dll. Kebahagiaan dalam keluarga juga terkait dengan pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga. Krisis peran dan penghayatan hidup berkeluarga dalam masyarakat modern acap kali bermuara pada penyimpangan fungsi keluarga sebagaimana mestinya. Berhadapan dengan krisis ini keluarga-keluarga modern diajak untuk menyadari fungsi keluarga sebagai berikut:34
a. Fungsi reproduksi. Keluarga mempunyai fungsi untuk secara kreatif menghasilkan keturunan (prokreasi). Fungsi reproduksi disebut juga fungsi biologis atau fungsi seksual. Secara natural (biologis) cinta laki-laki dan
34 lih. Albertus Sujoko, Op. Cit., hlm. 117-129; bdk. Su’adah, Op. Cit., hlm. 109, 244-247
21
perempuan diungkapkan dalam perkawinan yang bercorak seksual. Cinta antara dua insan itu didasarkan pada ketertarikan biologis sebagai laki-laki dan perempuan. Ketertarikan ini merupakan dorongan alamiah. Hasrat seksual merupakan manifestasi dari kebutuhan cinta dan kesatuan. Fungsi reproduksi memuat dua tujuan yakni meneruskan keturunan dan menegaskan cinta tanpa pamrih dalam rupa pemberian diri total satu sama lain. Fungsi reproduksi terkait bukan hanya dengan kepuasan seksual belaka namun juga dengan fungsi afektif. Fungsi reproduksi dalam keluarga diwujudkan melalui persetubuhan sebagai ungkapan cinta yang saling memberikan diri dan yang terbuka bagi kehidupan baru. Menurut Jack Dominian, hubungan seksual merupakan bahasa tubuh yang mengungkapkan cinta kasih meliputi empat segi35 yakni: Pertama, pengakuan memberikan satu sama lain jalan masuk secara seksual, ketika pasangan suami-istri mengatakan satu sama lain “aku mengenal, menginginkan dan menghargaimu”. Kedua, melalui pengakuan itu, kedua pihak mengalami identitas seksual masing-masing pribadi. Pria mampu membuat wanita sungguh sebagai wanita dan sebaliknya. Ketiga, bahasa seksual kerap menjadi bahasa rekonsiliasi. Luka, benci dan dendam sirna saat bahasa tubuh yang diungkapkan dalam hubungan seksual berpadu.
Keempat, hubungan seksual memberi makna bagi keberadaan masing- masing pasangan. Pasangan dikenal, dihargai dan diinginkan untuk bersama-sama merayakan kehidupan melalui hubungan seksual sebagai syukur atas eksistensi hidup manusia.
35 lih. Maurice Eminyan, SJ, Teologi Keluarga, Yogyakarta, Kanisius, 2001, hlm. 117
22
b. Fungsi sosialisasi. Fungsi sosialisasi terkait dengan internalisasi tata nilai, aturan, norma-norma sosial, religi, moral, pengetahuan, dll. Fungsi ini berhubungan dengan aktualisasi diri dalam keluarga dan masyarakat.
Fungsi sosialisasi terkait dengan proses belajar, bersikap, berprilaku dan bertindak secara tepat dalam membangun keluarga yang sejahtera dan bahagia. Keluarga yang sejahtera dan bahagia ikut membangun masyarakat solid, damai dan kondusif, sebagai agen penerus kebudayaan dan peradaban. Pembentukan karakter dan kepribadian individu menjadi goal dari fungsi sosialisasi ini. Pelbagai nilai yang dicecap dalam proses belajar ini diharapkan bukan sekedar diamini namun juga terinternalisasi dalam diri individu. Fungsi sosialisasi ini bertalian dengan fungsi edukasi.
c. Fungsi afeksi. Hidup berkeluarga dibangun beralaskan afeksi berupa cinta, kasih dan sayang. Kata afeksi berasal dari kata Latin affectere yang berarti perasaan kasih, sayang dan cinta. Fungsi afeksi melibatkan emosi mendalam. Dalam hidup berkeluarga fungsi afeksi berperan dalam menyalurkan kasih dan cinta terhadap sesama anggota keluarga dan berkembang serta berlanjut pada sesama manusia. Cinta tidak pernah terpaku pada diri sendiri, karena cinta menuntut perluasan. Menurut Erich Fromm cinta merupakan jawaban atas segala masalah keberadaan manusia.36 Menurutnya ada empat aspek dalam cinta yakni37: pertama, pengenalan (knowing) merupakan pengetahuan yang menghasilkan pengertian satu sama lain. Bagi Fromm, pengenalan merupakan, “an aspect of love which does not stay at the periphery, but penetrates to the
36 lih. Erich Fromm, The Art of Loving, New York, Harper and Row, 1956, hlm. 7
37 ibid. hlm. 26-28
23
core”. Pengenalan bersifat lahiriah dan batiniah. Pengenalan menjadi gerbang bagi aspek cinta lainnya. Kedua, perhatian (care) merupakan sikap merawat, menjaga, dan mengasihi (asah, asih, asuh). Bagi Fromm, perhatian merupakan , “the active concern for the life and the growth of that which we love”. Perhatian merupakan sikap aktif untuk menumbuh kembangkan orang yang dicintai. Ketiga, tanggung jawab (responsibility) merupakan tanggapan atas pengenalan dan perhatian yang diungkapkan dalam kesediaan menerima segala hal-ikhwal yang dihasilkan. Bagi Fromm, tanggung jawab bukan hanya berarti, “to donate duty, something imposed upon one from the outside. But also an entirely voluntary act, it is my response to the needs, expressed or unexpressed, of another human being”. Tanggung jawab merupakan aspek cinta yang memuat kesetiaan dalam mengarungi kehidupan. Keempat, saling menghormati (respect) berakar kata Latin respicere yang berarti melihat, mengarahkan pandangan, dan memperhatihan. Bagi Fromm, saling menghormati menuntut, “the ability to see a person as he is, to be aware of his unique individuallity. Respect means the concern the other person should grow and unfold as he is”. Sikap saling menghormati berbasis pada kebebasan.
Lagu dalam bahasa Prancis mengatakan, “I’amour est l’enfant de la liberte” yang berarti cinta merupakan buah dari kebebasan, kemerdekaan dan ketiadaan dominasi.
Empat aspek cinta ini saling terkait satu sama lain dan menjadi basis dari cinta sejati. Cinta berarti pemberian diri secara total dan aktif. Pemberian diri ini secara sempurna dimanifestasikan dalam fungsi reproduksi.
24
d. Fungsi proteksi. Dalam keluarga fungsi proteksi bertujuan untuk memberi rasa aman, nyaman dan tentram kepada seluruh anggota keluarga. Fungsi ini memuat dimensi intern dan ekstern. Dimensi intern terungkap dalam batin yang merasa dilindungi, diayomi dan diperhatikan. Dimensi ekstern menghadirkan fungsi proteksi dengan adanya tempat perlindungan (rumah), jaminan kesehatan, management rumah tangga yang baik, dll.
Fungsi proteksi terkait pula dengan seleksi paham, paradigma dan nilai yang rancu dan menghambat perkembangan dan pertumbuhan keluarga.
Seleksi dilakukan dalam rangka proteksi keluarga dari bahaya arus zaman yang mengancam keutuhan rumah tangga. Perkembangan dan perubahan zaman modern yang serba dinamis memerlukan filter dari keluarga untuk dapat berjalan selaras antara keluarga dengan masyarakat.
e. Fungsi ekonomi. Fungsi ekonomi dalam keluarga dimaksudkan untuk mempertahankan hidup dengan cara mencari nafkah dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Fungsi ekonomi dalam keluarga terkait dengan aktualisasi manusia sebagai faber mundi. Bahtera rumah tangga butuh modal ekonomi dalam mengarungi samudera kehidupan.
Modal ekonomi itu berguna untuk menanggung kebutuhan manusia berupa pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan kebutuhan lain yang perlu untuk menunjang hidup dan perkembangan keluarga. Undang- undang Perkawinan di Indonesia turut mengatur perihal ekonomi keluarga dengan menyatakan38:
(1) Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama
38 lih. Undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, pasal 35, Bab VIII, no. 1-2
25
(2) Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri sebagai hadiah atau warisan ada di bawah kekuasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.
Dalam kenyataan hidup berkeluarga, kecukupan di bidang ekonomi sangat berpengaruh pada keutuhan peziarahan bahtera rumah tangga. Cinta yang bertanggungjawab haruslah diwujudkan dalam kesatuan ekonomis.39 Segi ekonomis itu terkait dengan pengaturan dan penggunaan keuangan keluarga. Management anggaran rumah tangga bersifat krusial dalam keberhasilan suatu rumah tangga ke depan. Anggaran belanja yang tepat, yang disesuaikan dengan penghasilan dan pemasukan yang didapat, merupakan jalan menuju kesejahteraan suatu keluarga.
f. Fungsi religius. Dalam keluarga fungsi religius berperan sebagai arah dan petunjuk berprilaku. Orangtua memperkenalkan iman yang dipercayainya kepada anak dan menurunkan nilai religiusitas sebagai bekal rohani bagi anak. Keluarga merupakan peletak dasar iman.
g. Fungsi pendidikan. Keluarga merupakan sekolah pertama dalam membentuk kemanusiaan individu. Sebagai sekolah pertama, keluarga (orangtua) mengajarkan kepada anaknya nilai-nilai kemanusiaan, budi pekerti, sopan santun, ilmu pengetahuan, dll. Pendidikan dalam keluarga merupakan basis atau modal individu untuk dapat bertindak tepat dan tanggap dalam keluarga dan masyarakat. Pendidikan dalam keluarga tidaklah tepaku pada dimensi kognitif–intelektual belaka melainkan terbuka pada dimensi lainnya seperti dimensi spiritual, moral, emosional
39 lih. Albertus Sujoko, Op. Cit., hlm. 119; bdk. Buletin LK3I-KWI, Keluarga, Gerakan mengisi tahun keluarga, tahun V, no. 5, edisi Maret-April, 1994, hlm. 15-17
26
dan sosial. Fungsi pendidikan sedikit banyak mengandung unsur sosialisasi. “The major purpose of family life education is to strengthen and enrich individual and family well-being.”40 Fungsi pendidikan dalam keluarga menekankan tugas luhur orangtua untuk mendidik anaknya.
Tugas mendidik merupakan hak natural orangtua. Tugas ini melekat dalam keluarga dan menuntut pelaksanaan. Dalam Undang-undang perkawinan tahun 1974 dikatakan bahwa orangtua wajib memelihara dan mendidik anak dengan sebaik-baiknya.41 Fungsi pendidikan dalam keluarga tidak hanya terkait dengan anak melainkan dengan seluruh keluarga. Pendidikan mengarah pada perkembangan diri dan kematangan pribadi.
h. Fungsi rekreasi. Dalam keluarga rekreasi dimaksudkan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan, hangat, penuh kekeluargaan, dan nyaman (homely). Rekreasi berasal dari kata re-creation yang berarti kembali berkreasi, menciptakan dan berinovasi lagi. Rekreasi merupakan usaha untuk memperkuat, menyegarkan, memulihkan, memberi semangat, melegakan suatu perjalanan hidup yang terasa melelahkan, menjenuhkan dan penat. Banyak cara dan sarana rekreasi yang dapat dilakukan untuk menjadikan keluarga tetap segar, misalnya dengan berlibur bersama, makan bersama, nonton, dll. Kegiatan itu perlu ditopang dengan komunikasi yang akrab dan relasi yang hangat. Kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan hanyalah sarana untuk membina komunikasi agar tercipta suasana nyaman, tentram, kehangatan dan rindu akan rumah (homely).
40 lih. David Levinson, Encyclopedia of Marriage and Family, MacMillan Reference Books, USA,1995, hlm. 259
41 lih. Undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, pasal 45, Bab X, no. 1
27
Kedelapan fungsi keluarga ini merupakan formulasi keluarga ideal yang diharapkan oleh keluarga sendiri dan oleh masyarakat. Pelaksanaan fungsi-fungsi itu menghantar keluarga pada hakekat dan makna keberadaannya di tengah masyarakat. Keberadaan keluarga adalah untuk mengarungi kehidupan menuju masa depan yang cerah. Keluarga adalah bahtera yang dinahkodai suami-istri dalam pelayarannya. Keluarga membantu individu untuk mencapai pertumbuhan, perkembangan dan pemenuhan diri menuju masa depan. Seharusnya keluarga tidak menjadi sejarah kelam bagi individu melainkan menjadi memori indah tempat individu mengawali keberadaannya, bertumbuh hingga lanjut usia dan menutup usia.
2.4 Rangkuman
Keluarga merupakan lembaga yang dibangun atas dasar cinta kasih antara laki-laki dan perempuan. Cinta kasih itu diungkapkan dalam kesepakatan untuk membentuk perkawinan (concensus facit matrimonium) yang memberi kepada suami-istri peran dan hak untuk hidup sebagaimana layaknya suami-istri.42 Dukungan sosial berupa pengakuan publik menjadikan perkawinan dilembagakan.
Akibatnya perkawinan bukan sekedar menjadi urusan personal namun juga urusan khalayak. Perubahaan status single atau bujangan menjadi in relationship atau menikah mengubah hak dan kewajiban dalam masyarakat. Perubahan hak dan kewajiban itu bukan sekedar perubahan status dalam kolom kartu tanda penduduk (KTP). Perubahan itu nampak dalam konteks sosial, terkait dengan hidup dalam masyarakat, tunjangan dalam pekerjaan, pajak, pengaturan ekonomi keluarga, dll.
42 bdk. Albertus Sujoko, Op. Cit., hlm. 113
28
Perubahan status, hak dan kewajiban itu menjadikan hidup berkeluarga bercorak dinamis. Hidup berkeluarga bukanlah realitas statis melainkan suatu proses yang berlangsung terus menerus.
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama tempat individu lahir dan mencecap nilai-nilai dasar dalam hidup. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi individu untuk belajar. Kurikulum pendidikan dalam keluarga meliputi dimensi intelektual, spiritual, moral, emosional dan sosial. Pembelajaran ini dimaksudkan untuk mengembangkan individu menuju kepenuhannya dan menyiapkan individu untuk terlibat dalam masyarakat. Keluarga adalah unit masyarakat terkecil. Keluarga adalah jantung masyarakat. Keluarga dapat didefinisikan sebagai kelompok sosial dasar dalam masyarakat yang didasarkan pada hubungan kekerabatan (affinitas) atau pertalian darah (consanguinitas) atau hasil pengangkatan status (adopsi) seseorang ke dalam keluarga sedarah. Dalam masyarakat, keluarga dipandang sebagai cara hidup bersama yang normatif.
Keluarga secara normatif terbentuk oleh karena adanya pengakuan dari masyarakat (sipil) dan persetujuan atas nama cinta di antara kedua pihak (perempuan-laki-laki).
Falsafah klasik prihal keluarga menyatakan bahwa keluarga adalah bahtera yang dinahkodai oleh suami. Falsafah ini rasanya sudah mulai ditinggalkan. Kini keluarga dipandang tetap sebagai bahtera yang menggambarkan perlayaran rumah tangga, namun nahkoda dalam bahtera itu adalah suami-istri. Perubahan falsafah ini menggarisbawahi kebersamaan suami-istri dalam membina rumah tangga.
Kebersamaan ini membentuk kesejajaran (equality) bukan kesamaan (sameness).
Kesatuan suami-istri dalam membina rumah tangga menjadi dasar untuk
29
menunaikan fungsi hidup berkeluarga. Hidup berkeluarga memiliki delapan fungsi: reproduksi, sosialisasi, afeksi, proteksi, ekonomi, edukasi, religius, dan rekreasi. Delapan fungsi keluarga ini menjadi indikator dalam membentuk keluarga sejahtera. Fungsi-fungsi ini terkait erat dengan komunikasi dan relasi dalam keluarga. Keluarga utuh memiliki garis komunikasi dua arah yakni komunikasi kesalingan antara suami dan istri, antara orangtua dan anak, antara anak dan orangtua, antara kakak dan adik.
30
BAB III
Etika Keluarga Katolik Menurut Familiaris Consortio
Ibarat bahtera yang diterjang badai di tengah lautan, keluarga modern mengalami krisis peran. Pelbagai ancaman seperti maraknya perceraian, poligami, free sex, dekadensi moral, krisis pendidikan menghantui bahtera rumah tangga dalam mengarungi peziarahan hidup. Apakah bahtera rumah tangga dapat bertahan atau karam di tengah arus zaman? Kalau bahtera itu sudah karam, mengapa masih banyak orang yang ingin menumpanginya? Anjuran apostolik Familiaris Consortio membantu memberi “kompas” sebagai petunjuk bagi keluarga untuk belayar di tengah zaman modern.
Secara sistematis bab ini menguraikan isi pokok anjuran apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang peran keluarga dalam dunia modern, Familiaris Consortio. Sinode para uskup di Roma, yang diadakan pada 26 September – 25 Oktober 1980, membahas masalah keluarga. Hasil dari sinode ini disimpulkan Yohanes Paulus II dalam ajuran apostolik tentang peran keluarga kristiani dalam dunia modern (Familiaris Consortio) pada 22 November 1981. Ajuran apostolik ini memuat empat bagian pokok. Bagian pertama mengkaji cakrawala zaman modern prihal hidup berkeluarga. Zaman modern yang ditandai salah satunya oleh subjektifitas manusia kerap bernada bias karena pengalaman kebebasan dipandang bukan sebagai sarana untuk mewujudkan rencana Allah melainkan afirmasi demi kesejahteraan diri.43 Keluarga hanya menjadi tempat memberi nafkah untuk buah hati tanpa pendidikan moral dan nilai-nilai lainnya. Pendidikan moral dan nilai-
43 lih. Familiaris Consortio, art. 6
31
nilai lainnya diserahkan seutuhnya kepada lembaga pendidikan formal (sekolah) yang kini terasa hanya berlaga dalam pengayaan aspek kognitif. Keluarga sebagai basis pencecapan atau modal dasar individu mengenal keutamaan dan kebijakan diabaikan karena tercemar arus zaman ini. Pendidikan dalam keluarga terasa tidak berlangsung optimal. Pembekalan yang harusnya terjadi di dalam rumah, terutama pembelajaran nilai-nilai moral, tidak mendapat porsi yang cukup. Banyak keluarga modern mengalami kebimbangan tentang peran, makna serta tujuan terdalam dari eksistensi keluarga.44
Bagian kedua menyampaikan prihal rencana Allah tentang perkawinan dan hidup berkeluarga. Rencana Allah menjadikan keluarga sebagai persekutuan mesra kehidupan dan cintakasih45 tergeser oleh semangat jaman yang terdistorsi.
Hakekat keluarga yang pada intinya mengemban misi untuk menjaga, mengungkapkan serta menyalurkan cintakasih46 mengalami krisis. Yang paling menonjol adalah krisis peran. Rencana Allah terhadap perkawinan dan hidup berkeluarga adalah persatuan keluarga dengan-Nya melalui Kristus. Bagian ketiga menyampaikan prihal peranan keluarga Kristiani. Gereja menyadari bahwa keluarga merupakan fondasi masyarakat atau bagian awal dan vital masyarakat.
Pandangan ini bukan hanya menekankan hubungan timbal balik keluarga dengan masyarakat; melainkan juga menekankan bahwa masyarakat berakar pada keluarga.47 Yohanes Paulus II berharap agar keluarga-keluarga modern kembali pada hakekatnya untuk menjaga, mengungkapkan serta menyalurkan cinta kasih.
44 lih. Familiaris Consortio, art. 1
45 lih. Familiaris Consortio, art. 17; Gaudium et Spes, art. 48
46 idem.
47 A. Donald Miller, Concepts of Family Life in Modern Catholic Theology: from Vatican II Through “Christifideles Laici.”, United States of America, International Scholars Publications, 1996, hlm. 76
32
Keluarga merupakan lambang cinta kasih Allah kepada manusia dan cinta kasih Kristus kepada Gereja sebagai mempelai-Nya.48
Bagian keempat berisi tentang reksa pastoral keluarga. Bagian ini memuat strategi Gereja dalam menghantar keluarga Katolik modern dalam peziarahannya di dunia. Reksa pastoral keluarga dirasakan sungguh mendesak. Pastoral keluarga haruslah merengkuh dimensi persiapan perkawinan hingga peziarahan keluarga dalam hidup di dunia. Pada bagian akhir, paus menegaskan bahwa pintu Gereja selalu terbuka lebar bagi mereka yang kesepian, lelah dan berbeban berat untuk berhimpun dalam keluarga besar yakni Gereja.49 Menutup anjuran apostolik tentang peran keluarga dalam dunia modern, Yohanes Paulus II menyatakan,
“masa depan umat manusia terwujudkan melalui keluarga”.50 Anjuran apostolik ini diamanatkan kepada keluarga-keluarga agar sesuai dengan maksud awal rencana Allah menjadikan keluarga sebagai persekutuan cinta kasih; yang mencapai kepenuhannya dalam Kristus (Ef. 5). Oleh Kristus Tuhan, perkawinan antar dua orang yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen. Perkawinan yang diangkat ke martabat sakramen menunjukkan kerjasama antara yang ilahi dengan yang manusiawi dan mengungkapkan karya penyelamatan Allah. Perkawinan sakramental bernuansa transendental karena Allah melalui sakramen itu menguduskan suami-istri. Sakramen perkawinan menjadi tanda sekaligus wujud kehadiran Allah yang menyelamatkan. Perkawinan sakramental adalah peristiwa rohani yang mengungkapkan campur tangan Allah di dalamnya.
48 lih. Familiaris Consortio, art. 17
49 lih. Familiaris Consortio, art. 85
50 lih. Familiaris Consortio, art. 86