• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV : Etika Keluarga Konfusian

4.4 Konsep Manusia Seutuhnya (Jūn Zĭ/ 君子 )

Konsep manusia seutuhnya (jūn zĭ/君子) dalam ajaran Konfusius

merupakan kunci pembelajaran etika Konfusian. Dalam etika-nya, Konfusius berfokus pada nilai-nilai moral dan kemanusiaan universal sebagai jalan dan proses manusia menuju keutuhannya. Konsep ini muncul dalam benak Konfusius karena pada masa hidupnya, situasi sosial-politik kacau dan nilai-nilai moral masyarakat mengalami depresiasi. Konfusius dengan etika-nya ingin mengembalikan masa keemasan Cina181 dengan memperbaiki situasi masyarakat.

Dalam refleksi Konfusius, situasi sosial-politik yang kacau dan dekadensi moral masyarakat terjadi dikarenakan manusia sudah tidak manusiawi lagi. Hilangnya kemanusiaan manusia dikarenakan keutamaan manusiawi (Rén/仁)182 tidak dipegang teguh. Keutamaan Rén/仁 hanya dihayati dalam level kognisi atau idea a la Plato,183 bukan berorientasi pada tindakan praksis dalam hubungan dengan sesama dan diri sendiri. Dengan demikian kemanusiaan hanyalah gambaran ideal dari masing-masing pribadi dan keburukan tetap terjadi karena aplikasi praktis dari gambaran ideal itu tidak diwujudnyatakan. Untuk mengatasi sifat-sifat tidak manusiawi mendasar yang menjadi kecenderungan sifat manusia, Konfusius menawarkan solusi yakni agar manusia menghayati dan menjalani kualitas

181 Situasi Cina dimasa Konfusius hidup merupakan masa kelam (the dark ages) peradaban Cina.

Konfusius berefleksi atas masa kelam ini dan mengkomparasikannya dengan masa jaya Cina (golden ages) ketika pemerintahan dipegang oleh kaisar Yao dan Shun.

182 lih. Alexander C. Simpkins dan Simpkins. Annellen,Op. Cit., hlm. 13

183 Ide dari kata Yunani idea, bagi Plato berarti usnsur-unsur struktural dari hal-hal dan bukan apa-apa yang tampak. Penginderaan (sensasi) mungkin memberikan petunjuk awal bagi ideasi (pengidean), tetapi ide-ide dipikirkan, bukan diinderai. (lih. Lorens Bagus, Op. Cit., hlm. 297)

92

hidupnya sebagai manusia.184 Manusia harus menjadi Rén/, hidup sesuai Rén/仁, dan mengekspresikan serta memperkembangkan sifat alami kemanusiaan dalam potensi yang tertinggi yakni menjadi Manusia Seutuhnya (jūn zĭ/君子).185

Secara primordial dan etimologis, gagasan mengenai manusia seutuhnya (jūn zĭ/君子) berarti raja feodal, orang yang mempunyai asal-usul baik, orang terhormat, kaum bangsawan atau dengan kata lain konsep manusia jūn zĭ/君子

dapat diartikan sebagai orang terhormat dalam status sosial strata atas, oleh karena garis keturunan.186 Namun bagi Konfusius, gagasan mengenai manusia jūn zĭ/君子

bukanlah suatu gelar yang diberikan karena status sosial tertentu, manusia jūn zĭ/君子 merupakan manusia yang mempunyai kualitas moral sebagai manusia atau manusia yang bijak sekaligus bajik. Dari gagasan Konfusius ini pemahaman tentang manusia jūn zĭ/君子 terbuka bagi setiap orang dan bukan hanya berlaku bagi kalangan elite tertentu. Martabat manusia jūn zĭ/君子 bukan diperoleh karena garis keturunan tetapi karena usaha manusia itu berlaku dalam kehidupan harian dalam hubungannya dengan sesama dan dirinya sendiri. Konsep ini menunjukkan langkah revolusioner dalam zaman itu.

Dalam tradisi Konfusian dibedakan varietas tingkat perkembangan moral individu. Pertama, orang yang secara moral dapat diteladani disebut sebagai manusia unggul atau orang bermoral atau orang bijak sekaligus bajik (jūn zĭ/君子).

Seorang jūn zĭ/君子 tidak hanya mengembangkan moralitas bagi dirinya sendiri,

184 Konfusius memandang sifat alami manusia adalah baik dan kesempurnaan pada diri manusia dapat diupayakan dengan menempa dirinya.

185 lih. Alexander C. Simpkins dan Simpkins. Annellen, Op. Cit., hlm. 57

186 lih. Fung Yu-lan, A Short History of Chinese Philosophy, Vol. 1, F.W. Bodde (trans.), Princeton, Princeton University Press, 1983, hlm. 68

93

namun juga memancarkan kebermoralannya dalam tindakan dan teladan sehingga orang lain dapat juga berkembang dan menjadi manusia yang sadar akan kemanusiaan. Komitmen moral untuk mengangkat sesama sebagai manusia yang tercerahkan merupakan komoditas yang harus ditaburkan bagi banyak orang.

Manusia jūn zĭ/君子 berkewajiban menterjemahkan moral dan kebijaksanaannya dalam formula sederhana agar moralitas dan kebijaksanaan itu menjadi aksesibel bagi manusia lain.187 Tingkat perkembangan moral kedua dicapai oleh manusia yang memanusiakan sesama dan dirinya sendiri atau disebut manusia Rén/仁; tingkat yang ketiga ditempati oleh orang yang menabur kebajikan kepada setiap orang dan ringan dalam mengulurkan tangan untuk membantu banyak orang disebut orang bijak (zhì rén/智人).188 Proses perkembangan moralitas menuju kebijaksanaan meliputi keseluruhan hidup. Menurut Konfusius, manusia berproses dan mampu menjadi sempurna dengan memfokuskan diri secara multidimensional, yakni dengan menempatkan diri sebagai pusat hubungan interaksi. Secara konkret gagasan tentang manusia dan perkembangan moral terungkap dalam percakapannya dengan muridnya. Suatu ketika Zi Gong bertanya kepada Konfusius:

"Andaikata ada orang yang berbuat baik dan suka membantu rakyat, maka bisakah anda menyebut orang seperti itu mempunyai moral yang baik?

Konfusius menjawab: "Aku mengatakan bahwa dia bukan hanya orang baik, tetapi orang bijak! Sesungguhnya, prestasinya lebih baik daripada apa yang telah dilakukan Yao dan Shun! Siapakah orang yang baik? Orang yang tahu bahwa keinginannya dapat diwujudkan, akan membantu orang lain mewujudkan keinginan mereka; dan yang tahu bahwa keinginannya akan meraih sukses, akan membantu orang lain mencapai sukses juga. Jadi, memikirkan orang lain dengan apa yang ada pada diri kita adalah jalan kebajikan".189

187 lih. Alfred Doeblin, The Living Thoughts of Confucius, New York, Fawcett World Library, 1959, hlm. 16

188 lih. JeeLoo Liu, Op. Cit., hlm. 56

189 lih. Lun Yu VI, 28

94

Perkembangan moral manusia diukur dalam kaitannya dengan sesama.

Menjadi manusia jūn zĭ/君子 berarti tidak berpangku tangan dalam mengembangkan moralitas diri tetapi juga membantu orang lain untuk mencapai kebermoralan yang sama hingga akhirnya menghantar orang lain menuju kesadaran akan kemanusiaan. Dengan demikian orang lain di luar dirinya akan menjadi bijak dan bajik oleh karena moralitas yang ada di dalam diri memancar keluar sebagai pesona yang memikat orang lain untuk mencapai kesempurnaan.

Ada 3 hal yang perlu dicermati dalam membangun manusia menjadi manusia seutuhnya (Jun Zi/君子):

a. Untuk dapat belajar menjadi manusia, diperlukan dari dalam diri sebuah komitmen untuk mau mengembangkan segala potensi yang ada dalam diri.

Tanpa ada usaha secara sadar (komitmen), manusia sebagai makhluk yang terbatas, tidak akan mungkin dapat mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam dirinya. Untuk itulah komitmen diri menjadi penting.

b. Selain itu, proses ini juga merupakan proses yang berkesinambungan dalam arti terus menerus dan tanpa batas. Untuk itu menempa diri tanpa akhir dan terus menerus merupakan pembelajaran menjadi manusia seutuhnya. Maka proses menjadi manusia bukanlah sebuah proyek atau program yang dapat mencapai kesempurnaannya dalam kurun waktu tertentu. Manusia berkembang selalu berada dalam sebuah proses perubahan.

c. Proses pembelajaran menjadi manusia bersifat holistik dalam arti keseluruhan sebagai manusia total dan bukan dari aspek kemanusiaan tertentu saja. Untuk itu kualitas moral seseorang tidak dapat diukur dari

95

apa yang hanya dilakukannya tetapi dari keseluruhan tingkah laku dan intensi dari apa yang diperbuatnya.

Tingkat perkembangan moral a la Konfusian dapat disintesis dan dipadatkan dalam sosok manusia seutuhnya (jūn zĭ/君子). Karena kategori manusia utuh (jūn zĭ/), mengandung nilai-nilai manusia manusiawi (Rén/) dan manusia bijak (zhì rén/智人). Manusia yang memanusiakan sesama dan dirinya sendiri, manusia yang menabur kebajikan kepada setiap orang dan ringan dalam mengulurkan tangan untuk membantu banyak orang, termaktub dalam pribadi manusia utuh (jūn zĭ/君子). Dari jawaban Konfusius atas pertanyaan Zi Gong (Lun Yu IV, 28) menjadi jelas klasifikasi atas manusia seutuhnya (jūn zĭ/君子) yakni manusia yang mampu menarik garis sejajar yang bertolak dari diri sendiri dalam memperlakukan orang lain. Dengan kata lain diri (self) yang berkembang berdampak pula bagi perkembangan orang lain. Maka menjadi jelas bahwa pengertian diri oleh Konfusius selalu dipandang dalam relasinya dengan sesama.

4.5 Rangkuman

Keluarga dalam definisi sempit dapat dimengerti sebagai kelompok orang-orang dalam ikatan sedarah. Namun dalam tradisi Konfusian, keluarga dapat bermakna dalam konteks global sebagai masyarakat dan negara. Maka etika keluarga Konfusian memuat penanaman nilai-nilai moral bagi keluarga ”kecil”

dan negara sebagai keluarga ”besar”. Dalam etika keluarga Konfusian, diperkenalkan tiga ikatan (Sān Gāng/三纲) dan lima hubungan (Wŭ Lún/五伦) sebagai penjamin kesejahteraan keluarga sekaligus penjamin stabilitas sosial.

Dalam bahasa Konfusian, dapat dikatakan bahwa yang privat dan publik dapat

96

bersinergi dalam pembentukan keadaban umum. Walau tiga ikatan (Sān Gāng/三纲) merupakan transformasi etika keluarga Konfusian, namun terasa legalistik-patristik. Maka perlu disempurnakan dalam sebuah paradigma integral mengenai etika keluarga Konfusian. Melalui Mencius, gagasan mengenai etika keluarga yang terpadu dan koheren dapat terejawantah. Mencius memperkenalkan lima hubungan (Wŭ Lún/五伦) sebagai penyempurnaan tiga ikatan (Sān Gāng/三纲).

Dalam keluarga kebajikan yang paling penting adalah kewajiban bakti (xiào/孝). Manusia yang berbakti adalah manusia yang sadar akan kemanusiaan dan memiliki kebajikan moral. Kesadaran berbakti menjadi penting karena merupakan pusat perkembangan pribadi, keluarga dan kehidupan sosial. Dalam tradisi Konfusian, bakti merupakan pengkayaan kehidupan bernegara. Berbakti bukan hanya untuk orangtua tetapi juga untuk negara. Individu sebagai warga negara wajib untuk berbakti kepada negara. Konfusius menterjemahkan bakti sebagai langkah awal menuju kebaikan moral. Langkah awal ini menjadikan individu mencapai kepenuhan dirinya karena hubungan di dalam keluarga (masyarakat dan negara). Keluarga sebagai wadah pertama untuk menuai benih kemanusiaan dan kebajikan berkewajiban untuk menumbuhkan dan menyuburkan benih itu dalam pola pendidikan keluarga. Maka pendidikan dalam keluarga merupakan modal dasar bagi perkembangan individu selanjutnya. Dalam pribahasa cina populer dikatakan: kegagalan membajak sawah pada musim semi hanya mengakibatkan rugi satu musim. Salah mendidik anak akan mencelakakan seumur hidupnya. (chūn gēng bù hăo hài yī chūn, jiào ér bù hăo yī

97

shēng/春耕不好害一春, 教儿不好一生).190 Kegagalan dalam pendidikan anak akan menuai kehancuran bagi langkah hidup anak selanjutnya. Maka memprioritaskan pendidikan dalam keluarga untuk mencetak manusia berbudi luhur merupakan proyek etika keluarga Konfusian.

Dalam etika keluarga Konfusian, bakti anak kepada orangtua merupakan kunci kebajikan dalam pencapaian identitas diri yang manusiawi. Namun keluarga dalam konsep Konfusius bukan dimengerti dalam bingkai tertutup sebagai kelompok kecil dalam masyarakat yang menunjukkan adanya hubungan kekerabatan (pertalian darah) atau hasil dari pengangkatan seseorang ke dalam keluarga sedarah. Keluarga dalam konstelasi global dapat dimengerti sebagai masyarakat dan negara. Realisasi diri yang dimulai dari keluarga mencapai kepenuhannya dalam relasi dengan sesama di luar keluarga yakni dalam masyarakat dan negara. Konfusius menekankan pentingnya solidaritas sosial atas dasar penggalian potensi diri dan kedisiplinan diri.

Melalui studi teks Pembelajaran Agung (DàXúe/大学), secara sistematis proses pembangunan karakter yang terintegrasi dengan kehidupan sesama disampaikan. Pembangunan karakter itu dibangun dalam delapan langkah yakni:

menginvestigasi sesuatu, memperluas pengetahuan, mentuluskan kehendak, meluruskan pikiran, menggali dan menempa diri secara tepat, regulasi keluarga, menata negara dan menciptakan perdamaian dunia. Pembangunan karakter ini bermula dari dalam diri dan bukan diri sebagai istilah isolasi, melainkan diri sebagai pancaran hubungan relasional dengan sesama demi perkembangan diri

190 lih. Leman, The Best of Chinese Saying, Jakarta, Gramedia, 2007, hlm. 11

98

dan sesama. Etika keluarga Konfusian menekankan dimensi material dari kehidupan sebagai pemenuhan kemanusiaan.

Tujan akhir dari etika keluarga Konfusian adalah mengantarkan manusia menuju kepenuhan dirinya atau menjadikan manusia utuh (jūn zĭ/君子). Dengan penanaman nilai-nilai yang ditempa dan menempa dirinya, individu semakin disiapkan untuk terjun dalam masyarakat dan berpartisipasi dalam membangun keadaban publik. Manusia jūn zĭ/君子 selalu mengembangkan moralitas dirinya dan membantu orang lain untuk berkembang pula. Manusia jūn zĭ/君子 menjadi kunci untuk memahami etika Konfusian.

99

BAB V

Etika Keluarga Katolik Dalam Komparasi Dengan Etika Keluarga Konfusian

Dalam bab-bab sebelumnya, telah diuraikan prihal etika keluarga Katolik dalam ensiklik Familiaris Consortio dan dilanjutkan dengan uraian prihal etika keluarga Konfusian. Paparan pada bab-bab terdahulu tersebut menjadi acuan bagi penulis untuk membandingkan nilai-nilai yang diangkat dalam kedua etika keluarga. Komparasi ini mendorong integrasi antara etika keluarga Katolik dan etika keluarga Konfusian dalam diri umat beriman Katolik keturunan Tionghoa.

Komparasi ini meliputi tiga tahap yakni memperlihatkan persamaan, menemukan perbedaan dan analisis atas kedua etika tersebut. Paralelisasi etika keluarga Katolik dan Konfusian meliputi proses menemukan persamaan dan perbedaan dalam hal makna perkawinan dan hidup berkeluarga, fungsi edukasi dalam keluarga, keterkaitan antara individu dan keluarga dengan masyarakat, dan sikap hormat kepada orangtua. Studi komparasi ini bukan bertujuan mempertentangkan kedua etika itu, melainkan memahami masing-masing ajaran secara lebih baik. Etika keluarga sebagai orientasi dan pedoman keluarga untuk berkembang menjadi bermanfaat karena nilai-nilai yang ada di dalamnya.

Komparasi etika keluarga Katolik dan Konfusian dimaksudkan agar nilai-nilai yang dihayati dalam keluarga Katolik keturunan Tionghoa (Konfusian) dijernihkan.

100

5.1 Etika Keluarga Katolik dan Etika Keluarga Konfusian

Paralelisasi (komparasi) etika keluarga Katolik dan Konfusian ini memperhatikan empat aspek yakni makna perkawinan dan keluarga; fungsi edukasi dalam keluarga; keterkaitan individu, keluarga dan masyarakat; dan ajaran seputar sikap hormat kepada orangtua.

5.1.1 Persamaan dalam Etika Keluarga Katolik dan Konfusian

Studi komparatif antara lain berusaha menemukan kesamaan dalam hal yang akan dibandingkan. Tujuan pemaparan persamaan ini adalah untuk lebih memahami pemikiran masing-masing ajaran.

5.1.1.1 Makna Perkawinan dan Keluarga

Kitab Kejadian mengisahkan penciptaan semesta termasuk manusia.

Dikisahkan bahwa Allah membuat Adam tertidur nyenyak. Kemudian diambil-Nya salah satu tulang rusuk Adam dan ditutup dengan daging hingga terciptalah Hawa. Fragmen dalam kisah penciptaan ini dilanjutkan dengan menceritakan keduanya (Adam-Hawa) bersekutu dan menjadi satu daging (Kej 2: 21-24).

Daging dalam idiom Ibrani mengungkapkan seluruh segi manusiawi yakni jasmani dan rohani. “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”

ungkap Adam saat berjumpa pertama kali dengan Hawa.191 Persekutuan Adam-Hawa meleburkan dimensi personal-individual dalam kesatuan yang disebut perkawinan. Dalam tradisi Konfusian, senada dengan gagasan kitab Kejadian,

191 bdk. C. Groenen, Op. Cit., hlm.57-58

101

perkawinan adalah institusi yang dikehendaki pencipta. Dalam kitab Ritus (Lǐ Jīng/禮經) ajaran mengenai perkawinan dalam tradisi Konfusian digagas,

If Heaven and Earth were not mated, the myriad things would not have been born. It is by means of the great rite of marriage that mankind subsists throughout the myriad generations.192 (Jika langit dan bumi tidak dikawinkan, umat manusia tidak akan pernah terlahir. Melalui ritus besar perkawinan keberadaan umat manusia bertahan hingga ribuan generasi) Perkawinan dalam tradisi Konfusian bukan sekedar sebuah ritual dalam konteks sosial namun juga sarat akan makna rohani. Pengajaran seputar perkawinan yang dirangkai dalam Kitab Ritus menunjukkan bahwa perkawinan mempunyai makna spiritual yakni sebagai institusi yang dikehendaki Pencipta. Perkawinan dalam kata mandarin disebut jié hūn (结婚). Kata jié () dibentuk dari dua aksara mandarin yakni sī () yang berarti sutera atau tali dan ji () yang berarti kebahagiaan, kemakmuran dan kekayaan. Pada dasarnya kata perkawinan ditunjukkan dengan aksara hūn (). Tambahan aksara jié () pada perkawinan memberi arti pertalian (perkawinan) yang membawa kebahagiaan. Dalam aksara tradisional kata pertalian disebut shéng () yang pengucapannya mirip dengan kata Pencipta yang disebut Shén (). Kedekatan pengucapan ini menunjukkan bahwa perkawinan merupakan institusi yang dikehendaki Pencipta. Dalam tradisi Konfusian, perkawinan mengemban misi vertikal dan horizontal. Perkawinan diadakan dalam rangka menjalankan tugas suci dari Tuhan (Tian/) dan mengabdi leluhur serta untuk meneruskan keturunan.193 Tradisi Konfusian dan ajaran

192lih. Kitab Ritus (Book of Rites/Lǐjīng/ 禮經) 50 dalam Geoffrey Parrinder, The Routledge Dictionary of Religious & Spiritual Quotations, London, Routledge, 2000, hlm. 269

193 lih. Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu, Matakin, Dalam Genta Suci Konfusian, Vol. XXVIII/ No. 4-5, hlm. 111, 140, 143

102

Katolik sama-sama menetapkan hukum perkawinan monogam yakni antar seorang laki-laki dengan seorang perempuan.194

Secara sosiologis keluarga merupakan suatu kelompok sosial dasar yang dipersatukan melalui ikatan kekeluargaan atau perkawinan dan ditegaskan dengan relasi seksual yang mengarah pada prokreasi. Makna keluarga secara sosiologis ini nampak diamini pula oleh ajaran Katolik dan Konfusian. Perkawinan dalam kedua ajaran tersebut berangkat dari persatuan cinta kasih antara laki-laki dengan perempuan. Cinta kasih menjadi titik temu yang mempersatukan laki-laki dengan perempuan dalam membentuk keluarga. Cinta kasih juga yang mengilhami keluarga untuk melaksanakan fungsi edukasi guna menyiapkan individu terjun dalam masyarakat. Makna keluarga yang berakar pada cinta kasih menjadi awal perjumpaan antara ajaran Katolik dan Konfusian.

5.1.1.2 Fungsi Keluarga

Selanjutnya perjumpaan kedua etika keluarga bertajuk seputar fungsi edukasi keluarga dalam rangka menyiapkan individu hidup di tengah masyarakat.

Tradisi Konfusian menekankan fungsi edukasi keluarga untuk menyemai benih keutamaan dan kemanusiaan dalam rangka menempa individu menjadi bajik dan bijak. Individu (/rén) menempa diri dan ditempa dalam keluarga untuk menjadi manusia seutuhnya (jūn zĭ/君子). Menempa diri menjadi istilah khas tradisi Konfusian untuk mendefinisikan makna latihan (exercise). Untuk menjadi manusia seutuhnya (jūn zĭ/君子) dibutuhkan penanaman nilai-nilai moral yang

194 lih. Hukum Perkawinan Agama Konghucu Indonesia, Bab I mengenai Dasar Perkawinan, pasal 1 dan 2, dan Penjelasan atas Hukum Perkawinan Agama Konghucu Indonesia Bagian III no. 2;

dalam Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu, Matakin, Dalam Genta Suci Konfusian, Vol. XXVIII/ No. 4-5, hlm. 140, 143; lih. Kitab Hukum Kanonik Kan. 1055 dan 1056

103

dilakukan sedini mungkin pada anak-anak sebagai persembahan keluarga kepada pemeliharaan masyarakat.195 Dalam Familiaris Consortio, diungkapkan bahwa,

“Keluarga merupakan tempat asal dan upaya paling efektif untuk memanusiakan dan mempribadikan masyarakat. Keluarga memberikan sumbangan asli yang mendalam untuk membangun dunia, dengan memungkinkan perihidup yang manusiawi dalam arti sesungguhnya, khususnya dalam menjaga serta menyalurkan keutamaan-keutamaan dan nilai-nilai.”196

Peran sosial keluarga nampak dalam menyiapkan individu handal dan cakap dalam membangun perihidup manusiawi dalam masyarakat. Istilah pendidikan dalam konteks pendidikan keluarga bukan terutama prihal pengayaan aspek kognitif. Pendidikan dalam keluarga bermakna penanaman nilai-nilai moral, kemanusiaan dan iman. Keluarga berfungsi sebagai sekolah pertama dalam membangun nilai-nilai, moralitas dan iman yang akan membentuk karakter pribadi seseorang. Ajaran Katolik dan tradisi Konfusian memandang bahwa keluarga berfungsi untuk menyiapkan individu (anak-anak) terjun dalam masyarakat sebagai bagian integral yang harus dibuat oleh tiap-tiap keluarga.

Fungsi ini menunjukkan pertalian kuat antara individu dan keluarga dengan masyarakat.

5.1.1.3 Keterkaitan Individu dan Keluarga dengan Masyarakat

Kesamaan ajaran Konfusian dengan ajaran Katolik terungkap juga dalam pandangan tentang keterkaitan individu dan keluarga dengan masyarakat. Tradisi Konfusian mendefinisikan individu bukan seperti atom tertutup sejajar dengan

195 lih. Yang. C. King, Op. Cit., hlm. 59

196 lih. Familiaris Consortio, art. 43, bdk. Katekismus Gereja Katolik, no. 1666, “Keluarga Katolik adalah tempat anak-anak menerima pewartaan pertama mengenai iman. Karena itu tepat sekali ia dinamakan “Gereja-rumah tangga” – satu persekutuan rahmat dan doa, satu sekolah untuk membina kebajikan-kebajikan manusia dan cinta kasih Kristen.”

104

monade197; individu dalam tradisi Konfusian merupakan pancaran relasional.198 Artinya individu bermakna sebagai individu apabila berinteraksi dengan orang lain pada suatu lingkungan sosial. Keluarga dan masyarakat menjadi lahan bagi individu untuk mengembangkan dan mengungkapkan diri. Dalam kitab Dà Xué

(大学) diungkapkan pertalian individu dan keluarga dengan masyarakat. Individu menempa diri dalam keluarga hingga siap untuk terjun dalam masyarakat.

Individu yang berhasil menempa diri dan mencapai kodrat cemerlang (zài míngmíng dé/在明明德) membuat wajah keluarga tersatukan (jiā qí/家齊) dan menjadikan masyarakat tertata baik (gúo zhì/國治). Dalam ajaran Katolik, keterkaitan individu dan keluarga dengan masyarakat ditegaskan dalam Familiaris Consortio yang menyatakan,

“Pencipta alam semesta telah menetapkan suami-istri menjadi asal-mula dan menjadi dasar masyarakat manusia, maka keluarga merupakan sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat.”199

Keluarga merupakan sel pertama dan pondasi masyarakat. Kaitan keluarga dengan masyarakat menyangkut eksistensi individu sebagai makhluk sosial. Familiaris Consortio melihat suami-istri sebagai asal mula dan dasar masyarakat. Ungkapan ini memberi makna sosial bahwa manusia diciptakan untuk berrelasi dengan sesamanya. Lebih lanjut Familiaris Consortio mengungkapkan bahwa,

197 Monade dari akar kata Yunani monas, monos yang berarti satu, sendiri. Istilah ini digunakan pertama kali oleh Pythagoras untuk menunjuk bilangan pertama dan dasar alam semesta. Istilah ini dikembangkan oleh Leibniz dan mendefinisikan Monad sebagai kenyataan mental atau suatu titik yang bersifat murni metafisik (points metaphysiques) yang terdiri dari persepsi (perception) dan hasrat (appetition); lih. Lorens Bagus, Op. Cit., hlm. 666-669

198 Konfusianisme memandang individu bukanlah sebagai atom terpisah atau satu kepribadian tersendiri, tetapi individu yang dimaksud adalah sesuatu yang saling berhubungan. lih. Tu Wei-Ming, Op. Cit., hlm 7. Hal itu ditunjukan dengan penggunaan dialog dalam kitab analek (Lun Yu) yang mengundang pembaca untuk mengambil bagian dalam percakapan didalamnya. Maka jelas bahwa Konfusius menterjemahkan individu sebagai pusat dari hubungan. lih. Walter H.

Slote dan George A. DeVos (ed.), Op. Cit., hlm. 10

199 lih. Familiaris Consortio, art. 42, bdk. Dekrit Apostolicam Actuositatem tentang kerasulan awam, art. 11

105

“Keluarga masih menjadi sumber daya dan kekuatan besar yang mampu mengangkat manusia dari anonimitasnya (keadaannya tak bernama), mengembangkan kesadaran manusia akan martabat pribadinya, memperkaya individu dengan kemanusiaan yang mendalam, dan menempatkan individu itu secara aktif dalam sifat unik dan tak tergantikan dalam tata-susunan masyarakat.”200

Ungkapan ini semakin menegaskan pertalian individu dan keluarga dengan

Ungkapan ini semakin menegaskan pertalian individu dan keluarga dengan