Bab V : Etika Keluarga Katolik dalam Komparasi dengan Etika Keluarga
5.3 Analisis Etika Keluarga Katolik dan Etika Keluarga Konfusian
“Seorang keturunan Tionghoa mungkin memeluk agama Budha, Dao, Katolik atau Islam, tetapi pada saat yang sama tidak pernah berhenti menjadi seorang Konfusianis.”288 Kutipan ini menegaskan bahwa tradisi Konfusian sungguh mengakar dalam hati orang Tionghoa. Walaupun seorang keturunan Tionghoa memeluk agama tertentu namun spirit Konfusian tetap melekat dalam sanubari mereka. Inilah wujud kebudayaan yang dinyatakan Prof.
Koentjaraningrat sebagai suatu kompleks ide, gagasan, nilai dan norma. Wujud kebudayaan ini merupakan adat tata kelakuan yang menuntun, mengatur, mengendalikan dan memberi arah pada manusia.289 Adat tata kelakuan ini, disadari atau tidak, terintegrasi pada manusia dalam berinteraksi. Dapatkah keluarga Katolik keturunan Tionghoa beriman tanpa kehilangan identitasnya sebagai seorang Tionghoa? Adakah perjumpaan nilai dalam bentuk inkulturasi atau akulturasi dari etika keluarga Katolik dan Konfusian? Umat beriman Katolik keturunan Tionghoa dapat tetap beriman katolik sekaligus tidak kehilangan identitasnya sebagai orang Tionghoa.
Makna perkawinan dalam ajaran Katolik dan Konfusian berangkat dari kesamaan persepsi bahwa perkawinan merupakan institusi yang dikehendaki Pencipta. Perkawinan menyatukan laki-laki dan perempuan dalam persekutuan cinta kasih yang bersifat monogam dan mengarah pada prokreasi serta kesejahteraan keluarga. Kesamaan makna perkawinan ini menjadi dasar bagi seorang Katolik keturunan Tionghoa untuk menghidupi iman Katolik secara
288 lih. Michael C. Tang, Kisah-kisah Kebijaksanaan China Klasik, Refleksi Bagi Para Pemimpin, Gramedia, Jakarta , 2004, hlm. 60
289 lih. Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan, Gramedia, Jakarta, 1974, hlm. 15
141
benar. Perbedaan antara ajaran Katolik dan Konfusian terletak pada visi, titik tolak dan tujuan institusi itu. Ajaran Katolik menekankan makna perkawinan sebagai persekutuan pribadi-pribadi290 yang menggambarkan persekutuan Allah dengan umat-Nya.291 Perkawinan dan hidup berkeluarga merupakan amanah dari Allah.292 Hidup berkeluarga yang mengambil model hidup dan teladan Kristus sebagai acuan. Cinta akan Kristuslah yang harus menjadi dasar dan teladan keluarga Katolik. Melalui cinta inilah keluarga Katolik diarahkan menuju pada penggenapan rencana keselamatan Allah.
Visi perkawinan dan hidup berkeluarga dalam tradisi Konfusian lebih bernuansa sosial. Visi ini menekankan kelangsungan keberadaaan manusia generasi demi generasi dan relasi individu dengan masyarakat. Ren/仁 menjadi dasar hidup keluarga Konfusian sekaligus mengungkapkan perbedaan mendasar pandangan Katolik prihal perkawinan dan hidup berkeluarga. Ren/仁 kerap dipahami berada di dalam hati sedangkan agape kerap dipahami berada di dalam jiwa. Ren/仁 merupakan kemanusiaan yang menjelma menjadi cinta universal.
Ren/仁 juga merupakan prinsip makrokosmos (semesta) yang terdapat dalam hati manusia.293 Ren/仁 dan agape dibedakan pada penekanannya. Ren/仁 memberi tekanan pada sisi kemanusiaan sedangkan agape menekankan sisi keilahian.
Agape merupakan sumber keutamaan manusia dan menekankan sisi keilahian, sedangkan Ren/仁 merupakan keutamaan yang lebih menekankan aspek kemanusiaan. Dalam rumusan lain dapat dikatakan bahwa Ren/仁 lebih bersifat humanistik dan berpusat pada perkembangan manusia dan transendensi dirinya,
290 lih. Familiaris Consortio, art, 15
291 lih. Familiaris Consortio, art, 12
292 lih. Familiaris Consortio, art. 3, Ef. 5: 22-33
293 lih. Julia Ching, Op. Cit., hlm. 93
142
sedangkan agape bersifat theistik dan berpusat pada keselamatan ilahi.294 Ren/仁
dapat dicapai melalui kesadaran manusia untuk tumbuh dan berkembang dalam kemanusiaannya menjadi manusia bermoral sekaligus spiritual (jun zi/君子).
Sedangkan agape merupakan rahmat ilahi dan bukan aktualisasi kemanusiaan melainkan cinta Tuhan sendiri.295
Dalam ajaran Katolik, cinta (agape) diungkapkan dalam dimensi positif.
Yesus bersabda: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”.296 Ajaran Katolik menekankan keaktifan diri dalam melakukan suatu perbuatan seturut dengan apa yang orang lain kehendaki. Ukuran yang digunakan dalam prinsip ini adalah diri sendiri. Apabila diri sendiri ingin diperlakukan demikian, maka lakukanlah hal itu pada orang lain. Prinsip ini merupakan kaidah kencana yang Yesus ajarkan.
Konteks pengajaran ini diletakkan dalam wahana hubungan kekeluargaan antara Bapa disurga dengan manusia. Bapa di surga sebagai ”orangtua” tahu membedakan antara yang baik dan yang buruk, dan tahu untuk memberikan yang baik kepada anaknya.297 Maka cinta dikatakan sebagai pemberian diri Bapa kepada manusia (agape).
Ajaran emas Konfusius berbunyi, “jangan melakukan sesuatu kepada orang lain sebagaimana kamu tidak ingin orang lain melakukan itu bagi mu”.
Ajaran ini merupakan wujud dari prinsip Shu/恕 yang dapat didefinisikan sebagai
294 lih. Yao Xinzhong, Op. Cit., hlm. 93-102
295 ibid. hlm. 213
296 lih. Mat 7: 12
297Luk 11: 11-13 :11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking?13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
143
kebajikan altruis, empati atau prinsip timbal balik. Prinsip shu/恕 diekspresikan dalam nada pasif berupa larangan “jangan...kalau tidak ingin diperlakukan hal yang sama.” Nada pasif dalam prinsip shu/恕 menunjukkan prinsip timbal balik yang menjadikan diri sebagai tolak ukur. Apabila diri sendiri tidak ingin diperlakukan hal seperti itu, maka jangan melakukannya juga kepada orang lain.
Prinsip shu/恕 menghantar individu untuk menghormati orang lain.
Nilai universal dari cinta (Ren/仁 dan agape) menjadi basis keluarga untuk menjalankan fungsi pendidikan. Fungsi edukasi dalam keluarga Konfusian dan Katolik menjadi kontribusi khas bagi pembangunan masyarakat. Dalam Familiaris Consortio dinyatakan,
“Peran sosial keluarga memiliki asal-usulnya sendiri yang khas. Peran sosial itu perlu didukung dan diteguhkan, khususnya yang berkaitan dengan tugas membesarkan anak-anak. Kiranya peran sosial yang sangat penting itu dapat dilaksanakan oleh setiap keluarga dengan sebaik-baiknya.”298
Keluarga merupakan sekolah utama untuk kehidupan sosial, sarana yang paling efektif untuk memanusiakan dan mempribadikan masyarakat, memberikan keutamaan-keutamaan (kebajikan) dan nilai-nilai, menghormati hak-hak dan martabat pribadi, yang demikian penting bagi masyarakat modern yang anonim.299 Keluarga menjadi dasar penyemai individu dalam menanamkan nilai-nilai.
Pendidikan dalam keluarga merupakan modal dasar individu untuk terjun dalam masyarakat. Melalui pendidikan ini, individu mampu untuk menjalin relasi secara tepat dan berlaku arif dalam masyarakat serta berpartisipasi dalam membangun keadaban publik. Dalam tradisi Konfusian kontribusi keluarga dalam membangun
298 lih. Familiaris Consortio, art. 44, bdk. Dekrit Apostolicam Actuositatem tentang kerasulan awam, art. 11
299 lih. James A. Mohler, SJ, Love, Marriage and the Family, St. Paul’s Publications, Staten Island, New York, 1982, hlm 114-115
144
keadaban publik termuat dalam Kitab Dà Xué (大学). Keluarga menjadi gelanggang latihan bagi individu untuk menempa diri, meluruskan hati (其心/qíxīn), menuluskan kehendak (其意/qíyì), memperoleh pengetahuan (致其知/zhìqízhī), dan mengobservasi benda dan perkara (知在格物/zhìzàigĕwù). Penempaan ini bermaksud untuk menyiapkan individu agar dapat berlaku secara tepat dalam kehidupan.
Keluarga dan masyarakat menjadi lahan bagi individu untuk mengembangkan dan mengungkapkan diri. Tradisi Konfusian mendefinisikan individu dalam hubungan relasional demi kepentingan dan perkembangan pribadi.300 Artinya individu bermakna sebagai individu apabila berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungan sosial. Ajaran Katolik menegaskan hal yang sama terkait individu sebagai makhluk sosial. Sejak awal mula Allah tidak menciptakan manusia seorang diri, “Ia menciptakan mereka pria dan wanita”
(Kej. 1:27). Kodrat manusia bersifat sosial; dan tanpa berhubungan dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat-pembawaannya.301
Dalam masyarakat modern, peran edukasi keluarga kerap direduksi dalam sistem ekonomi kapitalis.302 Terjadi disorientasi peran keluarga dalam pelaksanaan fungsi edukasi manakala pendidikan moral dan nilai-nilai lainnya diserahkan seutuhnya kepada lembaga pendidikan formal (sekolah) yang kini terasa hanya berlaga dalam pengayaan aspek kognitif. Etika keluarga Konfusian dan Katolik menekankan hakekat fungsi edukasi keluarga sebagai basis
300 Konfusianisme memandang individu bukanlah sebagai atom terpisah atau satu kepribadian tersendiri, tetapi individu yang dimaksud adalah sesuatu yang saling berhubungan. lih. Tu Wei-Ming, 2005, hlm 7. Hal itu ditunjukan dengan penggunaan dialog dalam kitab analek (Lun Yu) yang mengundang pembaca untuk mengambil bagian dalam percakapan didalamnya. Maka jelas bahwa Konfusius menterjemahkan individu sebagai pusat dari hubungan. lih. Walter H. Slote dan George A. DeVos (ed.), Op. Cit. hlm 10
301 lih. Gaudium et Spes, art. 12
302Andrew Greeley (ed.), The Family in Crisis or in Transition, The Seabury Press, New York, 1979, hlm. 49
145
pencecapan nilai-nilai. Tradisi Konfusian menekankan fungsi edukasi keluarga untuk menyemai benih keutamaan dan kemanusiaan dalam rangka menempa individu menjadi bajik dan bijak. Dalam ajaran Katolik fungsi edukasi keluarga dimaksud untuk menanamkan nilai-nilai moral, kemanusiaan dan iman. Keluarga berfungsi sebagai sekolah pertama dalam membangun nilai-nilai, moralitas dan iman yang akan membentuk karakter pribadi seseorang. Perbedaan fungsi edukasi dalam keluarga Konfusian dengan Katolik nampak dalam pendidikan iman.
Pendidikan dalam keluarga Katolik berorientasi pada pembentukan individu yang bermoral dan beriman (religius). Pendidikan dalam keluarga Konfusian dikemas dalam bentuk ortopraksis303 yang berorientasi pada prilaku, tindakan dan pengalaman dalam mendidik individu. Tradisi Konfusian menggarap pendidikan terkait dengan ilmu pengetahuan dan seni. Ilmu pengetahuan dan seni diyakini dapat menempa individu menjadi pribadi seimbang antara pikiran dengan hati.
Nilai universal dalam pelaksanaan edukasi dalam keluarga Konfusian dan Katolik termuat dalam hakekat keluarga sebagai basis untuk menanamkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan, dan tujuan dari edukasi ini adalah menyiapkan individu (anak-anak) untuk terjun dalam masyarakat.
Edukasi dalam keluarga Katolik merupakan hak dan kewajiban orangtua.
Familiaris Consortio menggarisbawahi fungsi edukasi ini dengan menyatakan,
“Orangtua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak, maka terikat kewajiban amat berat untuk mendidik mereka. Oleh karena itu orangtualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang utama dan pertama...Kewajiban orangtua adalah menciptakan lingkup keluarga yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama
303 Ortopraksis akar kata Yunani orthopraxis yang berarti perilaku yang benar, kegiatan kritik-diri yang bertujuan untuk melakukan kebenaran dan mendorong perubahan dalam masyarakat. lih.
Gerald O’ Collins dan Edward G. Farrugia, Op. Cit., hlm. 224
146
sedemikian rupa sehingga menunjang keutuhan pendidikan pribadi dan sosial anak-anak mereka.”304
Hal penting dalam pendidikan Katolik yang menjadi kewajiban orangtua adalah mengenalkan iman Katolik dan menanamkan semangat bakti kepada Allah.
Cinta kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama merupakan pilar yang menunjang keutuhan pendidikan pribadi dan sosial individu. Pilar ini merupakan hukum utama sebagaimana yang dikatakan Yesus, “"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”305 Misi pendidikan keluarga Katolik adalah untuk menyalurkan dan memancarkan Injil sehingga kehidupan keluarga menjadi perjalanan iman dalam mengikuti Kristus.306 Seorang Katolik yang sekaligus berbudaya Tionghoa harus menyadari bahwa kasih menggerakkan manusia untuk mencintai Tuhan dan sesama.
Etika keluarga Katolik dan Konfusian mengajarkan prihal sikap hormat (bakti) kepada orangtua. Seorang Katolik keturunan Tionghoa tidak berhenti pada sikap menghormati dan berbakti kepada orangtua. Sikap hormat dan bakti di tempat pertama adalah menghormati Allah. Menghormati orangtua merupakan ungkapan bakti kepada Allah. Orangtua menjadi representasi dari Allah yang welas asih. Berhadapan dengan tradisi Konfusian terkait penghormatan kepada orangtua dan leluhur, apakah dimungkinkan seorang yang beriman Katolik mendoakan abu arwah orangtua dan leluhur, menggunakan hio, sembayang leluhur pada malam tanggal 1 (ce-it) dan malam tanggal 15 (cap-go) imlek?
304 lih. Familiaris Consortio, art. 36, bdk. Gravissimum Educationis, art.3
305 lih. Mat 22: 37, 39; Mrk. 12: 30-31; Luk. 10: 27
306 lih. Familiaris Consortio, art. 39
147
Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan suatu sikap kritis dan keterbukaan akan tradisi Konfusian. Gereja Katolik dalam konteks ini mengajarakan,
“Gereja menerima dari pelbagai kebudayaan segala sesuatu yang dapat dipakai untuk secara lebih baik mengungkapkan kekayaan Kristus yang tidak terduga.307 Hanya berkat bantuan semua kebudayaanlah semua harta-kekayaan itu akan dapat dipaparkan secara semakin jelas.”308
Tradisi berbakti kepada orangtua dan leluhur dalam budaya Tionghoa (Konfusian) perlu dijernihkan dalam perspektif iman Katolik. Praktik ritual penghormatan orangtua dan leluhur pada tradisi Tionghoa ini harus terhindar dari bahaya penyembahan berhala dan pandangan sinkretis. Untuk itu katekese iman Katolik tentang sikap bakti kepada orangtua, pandangan tentang kematian dan kerajaan Allah harus diupayakan. Propaganda Fidei pada masa Paus Alexander VII tahun 1659 mengeluarkan sebuah instruksi untuk memperingati vikaris apostolik di Tiongkok demikian,
“apa yang lebih gila daripada mengimpor Prancis, Spanyol, Italia atau wilayah mana pun di Eropa masuk Tiongkok? Yang anda bawa bukanlah kebudayaan nasional, melainkan iman yang tidak menolak atau menentang tradisi dari suku bangsa manapun yang justru mendukung dan menjamin kelestariannya.309
Penyesuaian budaya dengan ajaran Katolik adalah jawaban yang tepat menghadapi praktik ritual tradisi Konfusian. Pewartaan Kristus sebagai jalan, kebenaran dan hidup; dan dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan dan damaikan dengan Allah dalam diri-Nya310 merupakan prinsip yang harus dipegang.
307 bdk. Ef 3:8; Gaudium et Spes, art. 44, Ad Gentes art. 15, 22
308 lih. Familiaris Consortio, art. 10
309 Anscar J Chupungco, Penyesuaian Liturgi dalam Budaya, Komisi Liturgi KWI (perj.), Kanisius, Yogyakarta, 1987, hlm. 52-54
310 lih. Nostra Aetate, art. 2
148
Dialog antara kebudayaan dan iman Katolik meliputi inkulturasi dan akulturasi. Inkulturasi adalah proses yang membuat seorang individu mengintegrasikan dirinya atau terpadu ke dalam kebudayaan (religi) sezaman dan setempat. Dalam proses inkulturasi yang menjadi perhatian adalah individu yang bersenyawa dan terintegrasi dengan nilai-nilai dalam suatu kebudayaan (religi).
Proses akulturasi berada di antara konfrontasi dan fusi, yaitu situasi di mana dua kebudayaan (religi) saling berhadapan sehingga terjadi konflik atau situasi di mana kebudayaan yang satu luluh sama sekali dengan kebudayaan lain sehingga menghasilkan suatu budaya baru.311 Proses akulturasi menyangkut kebudayaan (religi) yang saling berhadapan untuk mengisi dan memperkaya satu sama lain.
Inkulturasi dan akulturasi ajaran Katolik dengan budaya Konfusian dapat terkait dengan etika keluarga. Makna perkawinan dan hidup berkeluarga dalam tradisi Konfusian tidak serba sama dengan paham Katolik namun tidak berlawanan secara tajam.312 Ajaran Katolik melengkapi tradisi Konfusian. Perkawinan dan keluarga Katolik merupakan persekutuan pribadi-pribadi dalam cinta kasih.
Persekutuan pribadi-pribadi itu diadakan oleh Sang Pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukumNya, dibangun oleh janji pernikahan yang tidak dapat ditarik kembali.313 Perkawinan dan hidup berkeluarga Katolik itu terarah pada kesejahteraan keluarga dan pada kelahiran serta pendidikan anak.
Etika keluarga Konfusian mengangkat nilai-nilai positif-rasional yang dapat menambah kejernihan pandangan Katolik. Nilai-nilai moral universal dalam
311 lih. J. W. M. Bakker, Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar, Kanisius, Yogyakarta, 1984, hlm. 137
312 lih. Julia Ching, Op. Cit., hlm. 216
313 lih. Robertus Rubiyatmoko, Perkawinan Katolik menurut Kitab Hukum Kanonik, Kanisius, Yogyakarta, 2011, hlm. 17-19; bdk. Kitab Hukum Kanonik kanon 1055 § 1, Gaudium et Spes, art. 48
149
kedua ajaran mengangkat nilai hormat kepada manusia sebagai persona dan cinta tak berkesudahan. Nilai ini menjadi fundamen dalam prinsip moral dasar yang dirumuskan dengan, “jangan melakukan sesuatu kepada orang lain sebagaimana kamu tidak ingin orang lain melakukan itu kepada mu dan segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”.
5.4 Rangkuman
Makna perkawinan dan hidup berkeluarga menurut ajaran Katolik dan Konfusian senada yakni bahwa perkawinan adalah institusi yang dikehendaki pencipta. Secara sosiologis keluarga merupakan suatu kelompok sosial dasar yang dipersatukan melalui ikatan kekeluargaan atau perkawinan dan ditegaskan dengan relasi seksual yang mengarah pada prokreasi. Makna keluarga secara sosiologis ini nampak pula dalam ajaran Katolik dan Konfusian. Cinta kasih menjadi titik temu yang mempersatukan laki-laki dengan perempuan dalam membentuk keluarga. Cinta kasih juga yang mengilhami keluarga untuk melaksanakan fungsi edukasi guna menyiapkan individu terjun dalam masyarakat. Tradisi Konfusian dan ajaran Katolik sepakat bahwa keluarga menjadi tempat bagi individu untuk mengembangkan diri. Individu disiapkan terjun dan membangun suatu tata masyarakat yang manusiawi, sejahtera dan damai.
Tradisi Konfusian mendefinisikan individu dalam hubungan interaksi.
Individu tidak dapat berdiri sendiri dan hidup tanpa campur tangan dan pembauran dengan sesama. Segala yang dilakukan individu selalu terkait dalam interaksi dengan individu lainnya. Di luar konteks kehidupan sosial, individu/diri
150
(rén/人) tidak mempunyai arti apapun. Konfusius menekankan nilai kemanusiaan sebagai titik tolak berpikir dan bertindak. Seseorang harus melakukan hubungan interaksi dengan jaringan kemanusiaan yang lebih luas, dari keluarga kepada tetangga, masyarakat dan negara. Usaha mengembangkan diri secara berkesinambungan terhadap nilai-nilai humanis dan secara holistik diupayakan agar individu tidak berpusat pada diri sendiri.
Ajaran Katolik mendefinisikan keluarga sebagai persekutuan hidup dan cinta kasih. Persekutuan hidup berarti persatuan antara suami-istri dalam kebersamaan seluruh hidup. Dan cinta kasih menjadi dasar dalam bangunan mahligai rumah tangga. Cinta kasih itu adalah pemberian diri sepenuh hati dan total. Keluarga merupakan kumpulan dari individu yang terarah pada sesama dan dari kodratnya individu adalah makhluk sosial. Keterbukaan keluarga untuk berrelasi dan berbagi cinta kasih dengan sesama dalam masyarakat, merupakan perwujudan fungsi keluarga dalam konteks sosial. Familaris Consortio menyebut dua sumbangan keluarga kepada masyarakat. Pertama, pengalaman persekutuan dalam keluarga yang berakar pada cinta kasih. Pengalaman persekutuan dalam keluarga yang berakar pada cinta kasih menelurkan sikap hormat terhadap martabat pribadi manusia, tidak meremehkan orang lain, menjunjung tinggi kesetaraan harkat dan martabat manusia. Kedua, semangat saling berbagi yang dijiwai dan dibimbing oleh hukum ketulusan. Sumbangan dari semangat saling berbagi yang dijiwai dan dibimbing oleh hukum ketulusan menghadirkan semangat toleransi, dialog yang mendalam, sikap tersedia tanpa pamrih, pengabdian dengan kemurahan hati dan sikap setia kawan.
151
Etika keluarga Konfusian merupakan pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral yang khas dalam tradisi keluarga Konfusian. Etika keluarga Konfusian bersifat kosmosentris.314 Sifat kosmosentris ditunjukkan dalam etika sekular yakni etika yang membumi dalam arti pemikiran kritis dan mendasar bahkan praktis dalam menanggapi masalah sosial yang dihadapi. Etika keluarga Konfusian bukan hanya berbicara tentang persoalan keluarga di dalam rumah, tetapi juga menyoroti masalah-masalah sosial.
Dapat dikatakan bahwa dalam tradisi Konfusian yang sekular/duniawi dijadikan juga sebagai sesuatu yang sakral (the secular as Sacred).315 Keseimbangan alam dan manusia bersifat esensial. Untuk itu perlulah diupayakan harmoni dalam dunia dengan berpartisipasi aktif. Etika keluarga Konfusian bukan hanya terkait keluarga sedarah melainkan mendapat perluasan dengan berpartisipasi dalam pembaharuan keadaban publik.
Cinta kasih orangtua terwujud sepenuhnya dalam pelaksanaan fungsi edukasi dalam keluarga. Karena tugas itu melengkapi dan menyempurnakan pengabdian kepada kehidupan. Cinta kasih orangtua merupakan sumber dan prinsip yang menjiwai pendidikan keluarga. Cinta kasih menjadi norma yang mengilhami dan mengarahkan proses mendidik dan memperkayanya dengan nilai-nilai keramahan, ketabahan, kebaikan hati, pengabdian, sikap tanpa pamrih, dan pengorbanan diri, yang merupakan buah cinta kasih yang paling berharga.316
314 kosmosentris dari kata kosmos yang berarti dunia yang teratur lawan dari kekacauan/chaos.
Kosmosentris berarti berpusat atau berpangkal pada semesta alam yang teratur.
315 lih. Mary Evelyn Tucker dan John A. Grim (ed.), Worldviews and Ecology: Religion, Philosopy, and the Environment, Orbis Book New York, 1994, hlm. 197
316 lih. Familiaris Consortio, art. 36, bdk. Gravissium Educationis, art. 3
152
BAB VI Penutup
Laki-laki dan perempuan yang hidup bersama diatur dalam lembaga perkawinan. Lembaga perkawinan merupakan sarana untuk menjamin kesinambungan biologis, sosial, kultural dan religius dari suatu keluarga.
Perkawinan merupakan gerbang dan dasar keabsahan pembentukan suatu keluarga. Perkembangan peradaban dan kesadaran manusia menjadikan perkawinan dan keluarga dilembagakan, diatur sedemikian rupa agar terjaga dan selaras dengan perkembangan perikemanusiaan dan sosio-kultural. Perkawinan dan keluarga bukan hanya memuat dimensi personal namun juga dimensi institusional dan dimensi religius. Pengakuan publik melalui peresmian perkawinan secara institusional (sipil) dan religius menjadi upacara inisiasi ke dalam status dan peran sosial baru yakni keluarga.317 Keluarga merupakan persekutuan pribadi-pribadi yang bersifat personal dan fungsional. Relasi personal dalam keluarga mengungkapkan kesetaraan hubungan antar pribadi. Sedangkan relasi fungsional merupakan hubungan yang muncul dari kedudukan atau fungsi seseorang dalam keluarga seperti relasi suami-istri, kakak-adik, orangtua dan anak. Kedua relasi ini terkait satu sama lain karena hubungan fungsional dalam keluarga haruslah bersifat personal dalam arti setara sebagai pribadi yang bermartabat.318 Keluarga merupakan sel pertama dan vital bagi masyarakat yang dapat bertahan jika didukung oleh masyarakat. Sebaliknya masyarakat ditopang dan didukung oleh pilar keluarga sebagai kumpulan pribadi-pribadi. Hidup
317 lih. C. Groenen, Op. Cit., hlm. 20
318 lih. Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), 2011, hlm. 22
153
berkeluarga merupakan amanah (panggilan) yang seturut dengan firman Allah.
Allah berfirman, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan
Allah berfirman, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan