• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab II : Tinjauan Sosiologis Atas Hidup Berkeluarga

2.4 Rangkuman

Keluarga merupakan lembaga yang dibangun atas dasar cinta kasih antara laki-laki dan perempuan. Cinta kasih itu diungkapkan dalam kesepakatan untuk membentuk perkawinan (concensus facit matrimonium) yang memberi kepada suami-istri peran dan hak untuk hidup sebagaimana layaknya suami-istri.42 Dukungan sosial berupa pengakuan publik menjadikan perkawinan dilembagakan.

Akibatnya perkawinan bukan sekedar menjadi urusan personal namun juga urusan khalayak. Perubahaan status single atau bujangan menjadi in relationship atau menikah mengubah hak dan kewajiban dalam masyarakat. Perubahan hak dan kewajiban itu bukan sekedar perubahan status dalam kolom kartu tanda penduduk (KTP). Perubahan itu nampak dalam konteks sosial, terkait dengan hidup dalam masyarakat, tunjangan dalam pekerjaan, pajak, pengaturan ekonomi keluarga, dll.

42 bdk. Albertus Sujoko, Op. Cit., hlm. 113

28

Perubahan status, hak dan kewajiban itu menjadikan hidup berkeluarga bercorak dinamis. Hidup berkeluarga bukanlah realitas statis melainkan suatu proses yang berlangsung terus menerus.

Keluarga merupakan kelompok sosial pertama tempat individu lahir dan mencecap nilai-nilai dasar dalam hidup. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi individu untuk belajar. Kurikulum pendidikan dalam keluarga meliputi dimensi intelektual, spiritual, moral, emosional dan sosial. Pembelajaran ini dimaksudkan untuk mengembangkan individu menuju kepenuhannya dan menyiapkan individu untuk terlibat dalam masyarakat. Keluarga adalah unit masyarakat terkecil. Keluarga adalah jantung masyarakat. Keluarga dapat didefinisikan sebagai kelompok sosial dasar dalam masyarakat yang didasarkan pada hubungan kekerabatan (affinitas) atau pertalian darah (consanguinitas) atau hasil pengangkatan status (adopsi) seseorang ke dalam keluarga sedarah. Dalam masyarakat, keluarga dipandang sebagai cara hidup bersama yang normatif.

Keluarga secara normatif terbentuk oleh karena adanya pengakuan dari masyarakat (sipil) dan persetujuan atas nama cinta di antara kedua pihak (perempuan-laki-laki).

Falsafah klasik prihal keluarga menyatakan bahwa keluarga adalah bahtera yang dinahkodai oleh suami. Falsafah ini rasanya sudah mulai ditinggalkan. Kini keluarga dipandang tetap sebagai bahtera yang menggambarkan perlayaran rumah tangga, namun nahkoda dalam bahtera itu adalah suami-istri. Perubahan falsafah ini menggarisbawahi kebersamaan suami-istri dalam membina rumah tangga.

Kebersamaan ini membentuk kesejajaran (equality) bukan kesamaan (sameness).

Kesatuan suami-istri dalam membina rumah tangga menjadi dasar untuk

29

menunaikan fungsi hidup berkeluarga. Hidup berkeluarga memiliki delapan fungsi: reproduksi, sosialisasi, afeksi, proteksi, ekonomi, edukasi, religius, dan rekreasi. Delapan fungsi keluarga ini menjadi indikator dalam membentuk keluarga sejahtera. Fungsi-fungsi ini terkait erat dengan komunikasi dan relasi dalam keluarga. Keluarga utuh memiliki garis komunikasi dua arah yakni komunikasi kesalingan antara suami dan istri, antara orangtua dan anak, antara anak dan orangtua, antara kakak dan adik.

30

BAB III

Etika Keluarga Katolik Menurut Familiaris Consortio

Ibarat bahtera yang diterjang badai di tengah lautan, keluarga modern mengalami krisis peran. Pelbagai ancaman seperti maraknya perceraian, poligami, free sex, dekadensi moral, krisis pendidikan menghantui bahtera rumah tangga dalam mengarungi peziarahan hidup. Apakah bahtera rumah tangga dapat bertahan atau karam di tengah arus zaman? Kalau bahtera itu sudah karam, mengapa masih banyak orang yang ingin menumpanginya? Anjuran apostolik Familiaris Consortio membantu memberi “kompas” sebagai petunjuk bagi keluarga untuk belayar di tengah zaman modern.

Secara sistematis bab ini menguraikan isi pokok anjuran apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang peran keluarga dalam dunia modern, Familiaris Consortio. Sinode para uskup di Roma, yang diadakan pada 26 September – 25 Oktober 1980, membahas masalah keluarga. Hasil dari sinode ini disimpulkan Yohanes Paulus II dalam ajuran apostolik tentang peran keluarga kristiani dalam dunia modern (Familiaris Consortio) pada 22 November 1981. Ajuran apostolik ini memuat empat bagian pokok. Bagian pertama mengkaji cakrawala zaman modern prihal hidup berkeluarga. Zaman modern yang ditandai salah satunya oleh subjektifitas manusia kerap bernada bias karena pengalaman kebebasan dipandang bukan sebagai sarana untuk mewujudkan rencana Allah melainkan afirmasi demi kesejahteraan diri.43 Keluarga hanya menjadi tempat memberi nafkah untuk buah hati tanpa pendidikan moral dan nilai lainnya. Pendidikan moral dan

43 lih. Familiaris Consortio, art. 6

31

nilai lainnya diserahkan seutuhnya kepada lembaga pendidikan formal (sekolah) yang kini terasa hanya berlaga dalam pengayaan aspek kognitif. Keluarga sebagai basis pencecapan atau modal dasar individu mengenal keutamaan dan kebijakan diabaikan karena tercemar arus zaman ini. Pendidikan dalam keluarga terasa tidak berlangsung optimal. Pembekalan yang harusnya terjadi di dalam rumah, terutama pembelajaran nilai-nilai moral, tidak mendapat porsi yang cukup. Banyak keluarga modern mengalami kebimbangan tentang peran, makna serta tujuan terdalam dari eksistensi keluarga.44

Bagian kedua menyampaikan prihal rencana Allah tentang perkawinan dan hidup berkeluarga. Rencana Allah menjadikan keluarga sebagai persekutuan mesra kehidupan dan cintakasih45 tergeser oleh semangat jaman yang terdistorsi.

Hakekat keluarga yang pada intinya mengemban misi untuk menjaga, mengungkapkan serta menyalurkan cintakasih46 mengalami krisis. Yang paling menonjol adalah krisis peran. Rencana Allah terhadap perkawinan dan hidup berkeluarga adalah persatuan keluarga dengan-Nya melalui Kristus. Bagian ketiga menyampaikan prihal peranan keluarga Kristiani. Gereja menyadari bahwa keluarga merupakan fondasi masyarakat atau bagian awal dan vital masyarakat.

Pandangan ini bukan hanya menekankan hubungan timbal balik keluarga dengan masyarakat; melainkan juga menekankan bahwa masyarakat berakar pada keluarga.47 Yohanes Paulus II berharap agar keluarga-keluarga modern kembali pada hakekatnya untuk menjaga, mengungkapkan serta menyalurkan cinta kasih.

44 lih. Familiaris Consortio, art. 1

45 lih. Familiaris Consortio, art. 17; Gaudium et Spes, art. 48

46 idem.

47 A. Donald Miller, Concepts of Family Life in Modern Catholic Theology: from Vatican II Through “Christifideles Laici.”, United States of America, International Scholars Publications, 1996, hlm. 76

32

Keluarga merupakan lambang cinta kasih Allah kepada manusia dan cinta kasih Kristus kepada Gereja sebagai mempelai-Nya.48

Bagian keempat berisi tentang reksa pastoral keluarga. Bagian ini memuat strategi Gereja dalam menghantar keluarga Katolik modern dalam peziarahannya di dunia. Reksa pastoral keluarga dirasakan sungguh mendesak. Pastoral keluarga haruslah merengkuh dimensi persiapan perkawinan hingga peziarahan keluarga dalam hidup di dunia. Pada bagian akhir, paus menegaskan bahwa pintu Gereja selalu terbuka lebar bagi mereka yang kesepian, lelah dan berbeban berat untuk berhimpun dalam keluarga besar yakni Gereja.49 Menutup anjuran apostolik tentang peran keluarga dalam dunia modern, Yohanes Paulus II menyatakan,

“masa depan umat manusia terwujudkan melalui keluarga”.50 Anjuran apostolik ini diamanatkan kepada keluarga-keluarga agar sesuai dengan maksud awal rencana Allah menjadikan keluarga sebagai persekutuan cinta kasih; yang mencapai kepenuhannya dalam Kristus (Ef. 5). Oleh Kristus Tuhan, perkawinan antar dua orang yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen. Perkawinan yang diangkat ke martabat sakramen menunjukkan kerjasama antara yang ilahi dengan yang manusiawi dan mengungkapkan karya penyelamatan Allah. Perkawinan sakramental bernuansa transendental karena Allah melalui sakramen itu menguduskan suami-istri. Sakramen perkawinan menjadi tanda sekaligus wujud kehadiran Allah yang menyelamatkan. Perkawinan sakramental adalah peristiwa rohani yang mengungkapkan campur tangan Allah di dalamnya.

48 lih. Familiaris Consortio, art. 17

49 lih. Familiaris Consortio, art. 85

50 lih. Familiaris Consortio, art. 86

33

3.1 Fungsi Keluarga Menurut Familiaris Consortio

Sejak semula Allah menciptakan manusia pria dan wanita (Adam-Hawa) untuk membentuk suatu keluarga dengan bersekutu dan menjadi satu daging (Kej.2:21-24). Menjadi satu daging dalam idiom Ibrani mengungkapkan seluruh segi manusiawi yakni jasmani dan rohani. “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” ungkap Adam saat berjumpa pertama kali dengan Hawa.51 Persekutuan antara Adam-Hawa meleburkan dimensi personal-individual dalam kesatuan-kebersamaan yang disebut perkawinan. Kesatuan-kebersamaan inilah yang membentuk keluarga. Dalam refleksi Perjanjian Lama hidup berkeluarga bukanlah keharusan alamiah (kodrati) dan tuntutan masyarakat. Hidup berkeluarga adalah panggilan dari Allah. Allah sendiri yang menghendaki manusia bersekutu dalam cinta kasih.

Gereja mengajarkan bahwa perkawinan adalah persekutuan seluruh hidup dan kasih mesra antara suami-istri, yang diadakan oleh Sang Pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukum-Nya, dibangun oleh perjanjian perkawinan yang tidak dapat ditarik kembali.52 Bersekutu dalam cinta kasih merupakan panggilan dasar manusia.53 “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih (I Yoh 4:8)”, tutur Yohanes. Dalam ajaran Katolik cinta kasih diwujudkan dalam dua bentuk khusus yakni perkawinan dan selibat.54 Hidup berkeluarga maupun bertarak merupakan panggilan untuk mengasihi. Familiaris Consortio menyatakan,

51 lih. C. Groenen, Op. Cit., hlm.57-58

52 lih. Gaudium et Spes, art. 48

53 Panggilan untuk saling mengasihi menunjuk persekutuan kasih antara Allah (Bapa) dengan Yesus (Putera). Secara naratif persekutuan itu digambarkan dalam kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus (Yoh. 3: 31-36), wejangan Yesus kepada murid-muridnya prihal perintah supaya saling mengasihi (Yoh. 15:9-17) dan refleksi Yohanes bahwa Allah adalah Kasih (I Yoh. 4:7-21)

54 lih. Albertus Sujoko, Op. Cit., hlm. 24

34

“Pewahyuan Kristiani mengenal dua bentuk khusus mewujudkan panggilan untuk mengasihi, yaitu: perkawinan dan kemurnian atau selibat. Dengan caranya masing-masing keduanya adalah perwujudan dari kebenaran manusia yang paling mendalam sebagai pribadi yang diciptakan secitra dengan Allah.”55

Familiaris Consortio menyebutkan empat fungsi keluarga yakni menjadi persekutuan pribadi-pribadi, mengabdi kehidupan, ambil bagian dalam pengembangan masyarakat, dan berperan dalam pengembangan Gereja.56 Empat fungsi keluarga ini dapat dibagi dalam dua kategori yakni fungsi keluarga ke dalam dan ke luar.

3.1.1 Menjadi Persekutuan Pribadi-pribadi dan Mengabdi Kehidupan Keluarga merupakan persekutuan hidup dan cinta kasih yang melambangkan cinta kasih Allah Tritunggal. Cinta kasih suami-istri merupakan partisipasi nyata dalam cinta kasih Allah terhadap manusia dan cinta kasih Kristus terhadap GerejaNya. Dalam ensiklik Redemptor Hominis dikatakan,

“Manusia tidak dapat hidup tanpa cinta kasih. Ia tetap makhluk yang tak dapat dimengerti oleh dirinya, hidupnya tiada artinya, bila cinta kasih tidak diungkapkan terhadapnya, bila ia tidak menjumpai cinta kasih, bila ia tidak mengalaminya dan mengenakan kepada dirinya, bila ia tidak secara mesra mendalam berpartisipasi di dalamnya.”57

Cinta kasih menjadi prinsip dasar kehidupan keluarga dan bermasyarakat karena pada dirinya sendiri manusia membutuhkan cinta kasih. Yohanes menyatakan,

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih...Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi” (I Yoh. 4:7-8, 11).

55 lih. Familiaris Consortio, art. 11

56 lih. Familiaris Consortio, art. 17

57 lih. Familiaris Consortio, art. 18, bdk. Ensiklik Redemptoris Hominis, art. 10

35

Sebagai citra Allah yang adalah kasih, manusia seharusnya juga berbagi kasih.

Dalam hidup berkeluarga, ungkapan kasih dijumpai dalam pelbagai bentuk.

Perhatian, sapaan, sentuhan, kerelaan berkorban, menunjuk pada fungsi keluarga ke dalam yakni sebagai persekutuan pribadi-pribadi yang mengabdi kehidupan.

3.1.1.1 Menjadi Persekutuan Pribadi-pribadi

Fungsi keluarga yang pertama ialah menjadi persekutuan pribadi-pribadi (communio personarum) yang hidup berdasarkan cinta kasih.58 Keluarga Katolik berawal dari perjanjian perkawinan (foedus) antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk persekutuan (consortium) seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak.59 Dalam konstitusi dogmatis tentang Gereja, tentang keluarga secara eksplisit diungkapkan dalam artikel 11:

“Suami-istri Kristiani dengan sakramen perkawinan menandakan misteri kesatuan dan cinta kasih yang subur antara Kristus dan gereja, dan ikut serta menghayati misteri itu (lih. Ef 5:32); atas kekuatan sakramen mereka itu dalam hidup berkeluarga maupun dalam menerima serta mendidik anak saling membantu untuk menjadi suci; dengan demikian dalam status hidup dan kedudukannya mereka mempunyai kurnia yang khas di tengah umat Allah (lih. 1Kor 7:7)60. Sebab dari persatuan suami-istri itu tumbuhlah keluarga, tempat lahirnya warga-warga baru masyarakat manusia, yang berkat rahmat Roh Kudus karena baptis diangkat menjadi anak-anak Allah dari abad ke abad. Dalam Gereja-keluarga itu hendaknya orangtua dengan perkataan maupun teladan menjadi pewarta iman pertama bagi anak-anak mereka; orangtua wajib memelihara panggilan mereka masing-masing,secara istimewa panggilan rohani”.

Pernyataan Lumen Gentium ini terkait dengan fungsi keluarga ke dalam dan ke luar. Menurut Lumen Gentium persatuan suami-istri menyebabkan terbentuknya

58 lih. Familiaris Consortio, art. 15, 18

59 lih. Gaudium et Spes, art. 48

60 I Kor. 7:7: “Setiap orang menerima dari Allah kurnianya yang khas, yang seorang kurnia ini, yang lain kurnia itu.” St. AGUSTINUS, Tentang kurnia ketabahan 14, 37: PL 45,1015 dsl.:

“Bukan pengendalian diri saja kurnia Allah, melainkan juga kemurnian suami-istri.”

36

keluarga. Familiaris Consortio membahasakan persatuan suami-istri sebagai kesatuan antar pribadi (communio personarum).61 Kesatuan antar pribadi ini bertujuan untuk saling mencintai, membahagiakan, berbagi suka dan duka, saling melengkapi dan saling menerima. Tujuannya adalah kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum). Kesejahteraan keluarga bersifat lahir-batin. Pemenuhan kebutuhan hidup secara ekonomis belum menunjukkan bahwa suatu keluarga sejahtera. Dimensi batin mampu mengatasi dimensi lahiriah dalam pencapaian kesejahteraan keluarga. Kesejahteraan itu meliputi pelbagai aspek: kehidupan rumah tangga berjalan baik, cinta kasih suami-istri tetap berkobar, penyerahan dan saling terima teraktualisasi dan persekutuan seluruh hidup tetap berlangsung.

Tujuan membentuk persekutuan seluruh hidup merupakan inti dari kesepakatan (janji) nikah yang dengan bebas dibuat dan dinyatakan pasangan.

Persekutuan ini menjadi objek perjanjian nikah dan akibatnya masing-masing mempunyai hak untuk hidup bersama. Paus Paulus VI dalam ensiklik Humanae Vitae art. 9 mengatakan,

“cinta perkawinan itu setia dan eksklusif dari semua yang lain dan sampai mati. Suami-istri mengerti hal tersebut pada hari perkawinannya, ketika mereka secara bebas saling berjanji satu sama lain, dengan penuh kesadaran atas apa yang mereka lakukan....kesetiaan dan perkawinan ada bersama-sama secara alamiah (connatural) dan menjadi sumber kebahagiaan mendalam dan abadi.”

Persekutuan seluruh hidup (consortium totius vitae) dan kasih mesra antara suami-istri memuat ciri hakiki (proprietates) perkawinan Katolik yakni unitas (kesatuan) dan indissolubilitas (sifat tak-dapat-diputuskan).62 Ciri hakiki ini menggambarkan hubungan Kristus dengan Gereja (Ef. 5:22-33). Dalam Perjanjian Lama, Allah

61 lih. Familiaris Consortio, art. 18

62 lih. Familiaris Consortio, art. 19-20, bdk. Gaudium et Spes, art. 48, KHK kan. 1056 dan PIUS XI, Ensiklik Casti Connubii: AAS 22 (1930) hlm. 546-547; DENZ. 2231 (3706)

37

mewahyukan diri-Nya kepada Israel dengan perjanjian kasih dan kesetiaan melalui metafor suami-istri.63 Metafor ini menyatakan bahwa Allah mencintai dan setia mengikat perjanjian dengan umatNya. Dalam Perjanjian Baru, Kristus tampil sebagai mempelai Gereja dan penyelamat umat manusia.64 Ia tinggal dalam umatNya, menyerahkan DiriNya untuk menyelamatkan manusia, dan mengasihi GerejaNya.65 Begitu pula hendaknya suami-istri saling menyerahkan diri, saling mengasihi dengan kesetiaan tak kunjung henti. Kasih sejati suami-istri ditampung dalam cinta ilahi, dan dibimbing serta diperkaya berkat daya penebusan Kristus serta kegiatan Gereja yang menyelamatkan, supaya suami-istri secara nyata diantar menuju Allah.66

3.1.1.2 Mengabdi Kehidupan

Fungsi ke dalam keluarga yang kedua adalah mengabdi kehidupan. Fungsi mengabdi kehidupan mereferensi Kitab Kejadian 1:28,

“Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:

Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”.

Firman ini memuat tugas asasi keluarga untuk mengadakan keturunan (prokreasi) sebagai penyaluran gambar ilahi dari pribadi ke pribadi (Kej. 5: 1-3).67 Pelaksanaan tugas asasi ini menjadikan manusia mitra kerja Allah dalam penciptaan. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya (imago et similitudo Dei) sehingga manusia dapat mengenal Allah. Manusia

63 lih. Hos. 2; Yer. 3:6-13; Yeh. 16 dan 23; Yes. 54

64 lih. Mat. 9:15; Mrk. 2:19-20; Luk. 5:34-35; Yoh. 3:29; II Kor. 11:2; Ef. 5:27; Why. 19:7-8; 21:2

65 lih. Ef. 5:25

66 lih. Gaudium et Spes, art. 48

67 lih. Familiaris Consortio, art. 28

38

mengekspresikan gambar dan keserupaan Allah itu dengan meneruskan penciptaan melalui prokreasi. Penerusan ini dilakukan manusia melalui aktivitas seksual sebagai ungkapan cinta kasih. Cinta kasih yang diungkapkan melalui hubungan seksual terarah pada kehidupan baru dan berguna untuk memperkuat ikatan perkawinan secara spiritual dan psikologis.68 Familiaris Consortio mempertahankan gagasan Gaudium et Spes artikel 50 dan ensiklik Humanae Vitae art. 11 yang menyatakan bahwa cinta kasih antara suami dan istri harus bersifat manusiawi sepenuhnya, ekslusif dan terbuka bagi kehidupan baru.69 Persetubuhan merupakan cara natural manusia dalam mengekspresikan diri sebagai mitra kerja Allah dalam penciptaan.

Dalam masyarakat modern, Familiaris Consortio membaca adanya penyimpangan-penyimpangan dalam hal fungsi keluarga untuk mengabdi kehidupan. Maraknya praktik aborsi, free sex, sterilisasi demi pembatasan kelahiran, kontrasepsi dengan intervensi teknis, teknologi yang menghasilkan bayi tabung (In Vitro Fertilization), dll; akrab dijumpai dalam masyarakat modern.

Gereja secara tegas mengecam praktik itu dan menyerukan agar keluarga-keluarga kembali kepada hakikat dan panggilannya. Gereja menolak praktik-praktik itu.70 Panggilan untuk hidup dalam cinta kasih merupakan panggilan dasar manusia.

Pelbagai praktik itu bertentangan dengan kehidupan. Mengutip pernyataan konstitusi pastoral Gaudium et Spes artikel 51, Paus menyerukan visi tentang martabat manusia dan panggilan cinta kasih kepada keluarga-keluarga. Kutipan itu menyatakan,

68 lih. J. Suenens, Love and Control: The Contemporary Problem, Burns&Oates, London, 1963, hlm.19

69 lih. Familiaris Consortio, art. 29

70 lih. Familiaris Consortio, art. 11, bdk. Gaudium et Spes art. 12

39

“Allah, Tuhan kehidupan, telah mempercayakan pelayanan mulia melestarikan hidup kepada manusia, untuk dijalankan dengan cara yang layak baginya. Maka kehidupan sejak saat pembuahan harus dilindungi dengan sangat cermat. Pengguguran dan pembunuhan anak merupakan tindak kejahatan yang durhaka...Oleh karena itu tindakan yang khas bagi hidup perkawinan sendiri, yang diatur sesuai dengan martabat manusiawi yang sejati, wajib di hadapi dengan sikap hormat yang sungguh mendalam.

Maka, bila soalnya bagaimana menyelaraskan cinta kasih suami-istri dengan penyaluran kehidupan secara bertanggung jawab, moralitas cara bertindak tidak hanya tergantung dari maksud yang tulus atau penilaian alasan-alasannya saja.”71

Kutipan ini dengan tegas menyatakan sikap Gereja yang membela kehidupan (prolife). Gereja melawan segala bentuk penyimpangan yang bertentangan dengan budaya kehidupan dan mengajak keluarga-keluarga untuk bertanggung jawab dalam melestarikan dan menyalurkan kehidupan.

Gereja memberikan solusi alternatif untuk mengatur jumlah kelahiran yakni dengan memanfaatkan masa ketidaksuburan istri.72 Gereja mengajak keluarga-keluarga untuk mampu menguasai naluri dengan akalbudi dan kehendak bebas yang menuntut suatu askese73. Askese itu diwujudkan dengan pantang berhubungan seksual secara berkala. Paus Paulus VI dalam ensiklik Humanae Vitae no. 11 menyatakan, Allah secara bijaksana telah mengatur siklus kesuburan yang memungkinkan orang dapat mengatur jarak kelahiran anak. Gereja dengan mendasarkan diri pada ketaatan hukum kodrati, seperti selalu ditafsirkan oleh ajaran yang tetap, mengajarkan bahwa setiap persetubuhan harus tetap terbuka bagi kehidupan baru. Beberapa alasan Gereja menolak penggunaan alat

71 lih. Familiaris Consortio, art. 32

72 idem.

73 Akar kata Yunani yang berarti latihan. Askese merupakan jalan yang ditempuh dan dipakai oleh orang Katolik di bawah bimbingan Roh Kudus untuk memurnikan diri dari dosa dan menghilangkan halangan dalam mengikuti Kristus dengan bebas. Askese yang benar membuahkan perkembangan dalam kontemplasi dan cinta akan Allah yang tidak akan merugikan kematangan pribadi dan tanggung jawab sosial. lih. Gerald O’ Collins. dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, Kanisius, Yogyakarta, 1996, hlm. 34

40 kontrasepsi adalah74:

a. Penggunaan alat-alat kontrasepsi adalah suatu intervensi teknis terhadap sifat alamiah persetubuhan suami-istri dan mengingkari ciri keterarahan alamiahnya pada kelahiran anak.

b. Penggunaan alat kontrasepsi pasca hubungan suami-istri dapat menyebabkan aborsi, apabila alat tersebut bekerja pada saat setelah terjadi pembuahan atau konsepsi.

c. Gereja menekankan tanggungjawab dan hak eksklusif suami-istri untuk memutuskan jumlah anak yang diinginkan sesuai kemampuan untuk menyejahterakan keluarga.

Kehidupan dalam pandangan Gereja telah dimulai ketika terjadi pembuahan atau konsepsi. Maka sejak terjadinya pembuahan, bakal embrio harus dilindungi karena sudah memiliki kehidupan. Instruksi Donum Vitae (anugerah kehidupan) yang dikeluarkan Propaganda Fide, 22 Februari 1987, menegaskan sikap hormat pada hidup manusia sejak pembuahan dan hormat pada prokreasi alamiah.

Instruksi ini berpedoman pada antropologi Kristiani yang telah digagas sebelumnya dalam konstitusi pastoral Gaudium et Spes artikel 12 tentang manusia sebagai citra Allah. Manusia sebagai citra Allah dihubungkan dengan panggilan manusia untuk menjadi anak Allah. Panggilan menjadi anak Allah memuat tanggungjawab untuk melestarikan kehidupan. Salah satu caranya adalah dengan upaya prokreasi. Dengan demikian keluarga menjadi gambaran persekutuan kasih Allah dengan manusia, Kristus dengan GerejaNya dan manusia dengan Penciptanya.

74 lih. Albertus Sujoko, Op. Cit., hlm. 35

41

Fungsi mengabdi kehidupan tidak berhenti ketika buah hati (anak) lahir.

Fungsi ini berlanjut dengan memelihara, membina, mencintai, mendidik dan memanusiakan anugerah Allah yang hadir dalam pribadi anak. Familiaris Consortio mengutip deklarasi yang dihasilkan konsili Vatikan II tentang pendidikan Kristiani (Gravissimum Educationis) no. 3 yang menyatakan,

“orangtua telah melahirkan anak-anak, maka mereka memiliki kewajiban mulia untuk mendidik mereka. Oleh karena itu orangtua harus diakui sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka. Peranan mereka untuk mendidik anak-anak begitu menentukan sehingga hampir tidak ada alasan apapun yang bisa dibenarkan bagi kegagalan tugas

“orangtua telah melahirkan anak-anak, maka mereka memiliki kewajiban mulia untuk mendidik mereka. Oleh karena itu orangtua harus diakui sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka. Peranan mereka untuk mendidik anak-anak begitu menentukan sehingga hampir tidak ada alasan apapun yang bisa dibenarkan bagi kegagalan tugas