• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 7 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Tekanan Darah

a. Definisi Tekanan Darah

Tekanan darah merupakan kekuatan yang diperlukan agar darah dapat mengalir di dalam pembuluh darah dan beredar mencapai semua jaringan tubuh manusia. Darah yang dengan lancar beredar ke seluruh jaringan tubuh manusia berfungsi sebagai media pengangkut oksigen serta zat-zat lain yang diperlukan oleh sel-sel tubuh. Selain itu, darah juga berfungsi sebagai pengangkut sisa hasil metabolisme yang tidak berguna lagi bagi jaringan tubuh (Gunawan, 2007).

Istilah tekanan darah berarti tekanan pada pembuluh nadi dari peredaran darah sistemik di dalam tubuh manusia. Tekanan darah dibedakan menjadi tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik.

1) Tekanan darah sistolik

Tekanan darah sistolik adalah tekanan darah pada waktu jantung menguncup (Gunawan, 2007). Tekanan sistolik (bagian atas) adalah tekanan puncak yang tercapai pada waktu jantung berkontraksi dan memompakan darah melalui arteri (Soenardi dan Soetardjo, 2005).

(2)

commit to user 2) Tekanan darah diastolik

Tekanan darah diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung mengendur kembali (Gunawan, 2007). Tekanan diastolic (angka bawah) adalah tekanan pada waktu jatuh ke titik terendah saat jantung mengisi darah kembali, atau disebut juga tekanan arteri di antara denyut jantung (Soenardi dan Soetardjo, 2005).

b. Klasifikasi Tekanan Darah

Klasifikasi tekanan darah oleh JNC 7 untuk orang dewasa (usia

≥ 18 tahun) mencakup 4 kategori, dengan nilai normal pada tekanan darah sistolik (TDS) < 120 mmHg dan tekanan darah diastolik (TDD)

< 80 mmHg. Prehipertensi tidak dianggap sebagai kategori penyakit tetapi mengidentifikasi pekerja yang tekanan darahnya cenderung meningkat ke klasifikasi hipertensi di masa yang akan datang. Ada dua tingkat (stage) hipertensi, dan semua penderita pada kategori ini harus diberi terapi obat. (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006).

Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah untuk Orang Dewasa Usia ≥18 Tahun

Klasifikasi Tekanan Darah

Tekanan darah sistolik (mmHg)

Tekanan darah diastolik (mmHg)

Normal < 120 dan < 80

Prehipertensi 120-139 atau 80-89

Hipertensi stage 1 140-159 atau 90-99 Hipertensi stage 2 ≥ 160 atau ≥ 100 Sumber: Joint National Committee 7

(3)

commit to user

c. Faktor-faktor yang Memengaruhi Tekanan Darah

Terdapat dua faktor yang memengaruhi tekanan darah, antara lain:

1) Faktor internal a) Usia

Beberapa penelitian yang dilakukan terbukti bahwa semakin tinggi usia seseorang maka semakin tinggi tekanan darahnya. Hal ini disebabkan elastisitas dinding pembuluh darah semakin menurun dengan bertambahnya usia. Sebagian besar peningkatan tekanan darah terjadi pada usia lebih dari 65 tahun.

Sebelum usia 55 tahun tekanan darah pria lebih tinggi daripada wanita. Namun setelah memasuki usia 65 tahun tekanan darah wanita lebih tinggi daripada pria (Purwanto, 2012).

b) Jenis kelamin

Menurut Purwanto (2012), jenis kelamin mempunyai pengaruh penting dalam regulasi tekanan darah. Sejumlah fakta menyatakan hormon seks memengaruhi sistem renin angiotensin. Secara umum tekanan darah pria lebih tinggi dari wanita. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2012 menyatakan bahwa pria mempunyai risiko sekitar 2,3 kali lebih banyak mengalami peningkatan tekanan darah sistolik dibandingkan dengan wanita, karena pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung meningkatkan tekanan darah. Setelah

(4)

commit to user

memasuki menopause yang umumnya terjadi pada usia 50 tahunan (Mangoenprasodjo, 2004), tekanan darah pada wanita meningkat.

c) Keturunan

Jika seseorang mempunyai orang tua atau salah satunya memiliki tekanan darah tinggi maka orang tersebut memiliki risiko besar terkena tekanan darah tinggi (Palmer, 2012).

d) Stres

Stres atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, marah, dendam, rasa takut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah meningkat. Jika stres berlangsung lama, tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis. Gejala yang timbul dapat berupa tekanan darah tinggi atau penyakit maag (Kemenkes RI, 2012).

Hubungan stres dengan hipertensi diduga melalui aktivasi saraf simpatis. Peningkatan saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermittent. Apabila stres berkepanjangan, dapat menetapkan tekanan darah menetap tinggi. Stres merupakan satu faktor pencetus terjadinya peningkatan tekanan darah dengan proses pelepasan hormon

(5)

commit to user

epinefrin dan norepinefrin selama respon fight-or-flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar). Selama terjadi rasa takut ataupun stres tekanan arteri seringkali meningkat hingga dua kali dari normal dalam waktu beberapa detik (Triyanto, 2014).

e) Status gizi

Kelebihan lemak tubuh, khususnya lemak abdominal dapat meningkatkan tekanan darah. Obesitas akan menyebabkan jumlah sel lemak bertumbuh (Purwanto, 2012).

Berat badan berkolerasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk menderita tekanan darah tinggi pada orang-orang gemuk lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang badannya normal.

Sedangkan pada penderita tekanan darah tinggi ditemukan sekitar 20% - 33% memiliki berat badan lebih (Kemenkes RI, 2012).

2) Faktor eksternal a) Konsumsi Alkohol

Pengaruh alkohol terhadap kenaikan tekanan darah telah dibuktikan, namun mekanismenya masih belum jelas. Diduga peningkatan kadar kortisol, peningkatan volume sel darah merah dan peningkatan kekentalan darah berperan dalam menaikkan tekanan darah. Beberapa studi menunjukkan

(6)

commit to user

hubungan langsung antara tekanan darah dan asupan alkohol.

Dikatakan bahwa, efek terhadap tekanan darah baru nampak apabila mengkonsumsi alkohol sekitar 2-3 gelas ukuran standar setiap harinya (Kemenkes RI, 2012).

b) Olahraga

Olahraga teratur bisa membuat jantung kita sehat sehingga terhindar dari hipertensi, karena penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti strok untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan otot jantung. Latihan umumnya bersifat aerobik seperti jalan kaki, jogging maupun bersepeda. Penurunan tekanan darah yang bermakna terlihat sesudah latihan 2 minggu dan akan menetap selama individu meneruskan kebiasaannya (Andria, 2013).

c) Konsumsi garam berlebihan

Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena menarik cairan di luar sel agar tidak dikeluarkan, sehingga akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada sekitar 60% kasus hipertensi primer (esensial) terjadi respons penurunan tekanan darah dengan mengurangi asupan garam.

Pada masyarakat yang mengkonsumsi garam 3 gram atau kurang, ditemukan tekanan darah rerata yang rendah, sedangkan

(7)

commit to user

pada masyarakat asupan garam 7-8 gram tekanan darah rerata lebih tinggi (Kemenkes RI, 2012).

Reaksi orang terhadap natrium berbeda-beda. Pada beberapa orang, baik yang sehat maupun yang mempunyai hipertensi, walaupun mereka mengkonsumsi natrium tanpa batas, pengaruhnya terhadap tekanan darah sedikit sekali atau bahkan tidak ada. Pada kelompok lain, terlalu banyak natrium menyebabkan kenaikan darah yang juga memicu terjadinya hipertensi (Sheps dan Sheldon, 2005). Menurut Alison Hull, penelitian menunjukkan adanya kaitan antara asupan natrium dengan hipertensi pada beberapa individu. Asupan natrium akan meningkat menyebabkan tubuh meretensi cairan yang meningkatkan volume darah (Sugiharto, 2007).

d) Kebiasaan merokok

Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok akan memasuki sirkulasi darah dan merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri, zat tersebut mengakibatkan proses artereosklerosis dan tekanan darah tinggi. Pada studi autopsi, dibuktikan adanya kaitan erat antara kebiasaan merokok dengan proses artereosklerosis pada seluruh pembuluh darah. Merokok juga meningkatkan denyut jantung, sehingga kebutuhan oksigen otot-otot jantung bertambah (Kemenkes RI, 2012).

(8)

commit to user

d. Dampak Tingginya Tekanan Darah pada Organ Tubuh

Kerusakan organ-organ target yang umum ditemui menurut Nuraini (2015) antara lain:

1) Otak

Stroke merupakan kerusakan target organ pada otak yang diakibatkan oleh tekanan darah tinggi. Stroke timbul karena perdarahan, tekanan intrakranial yang meninggi, atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada tekanan darah tinggi kronik apabila arteri-arteri yang mendarahi otak mengalami hipertropi atau penebalan, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya akan berkurang.

2) Kardiovaskuler

Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner mengalami arteriosklerosis atau apabila terbentuk trombus yang menghambat aliran darah yang melalui pembuluh darah tersebut, sehingga miokardium tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Kebutuhan oksigen miokardium yang tidak terpenuhi menyebabkan terjadinya iskemia jantung, yang pada akhirnya dapat menjadi infark.

3) Ginjal

Penyakit ginjal kronik dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi kapiler-kapiler ginjal dan

(9)

commit to user

glomerulus. Kerusakan glomerulus akan mengakibatkan darah mengalir ke unit-unit fungsional ginjal, sehingga nefron akan terganggu dan berlanjut menjadi hipoksia dan kematian ginjal.

4) Retinopati

Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah pada retina. Makin tinggi tekanan darah dan makin lama hal tersebut berlangsung, maka makin berat pula kerusakan yang dapat ditimbulkan. Penderita retinopati hipersensitif pada awalnya tidak menunjukkan gejala, yang pada akhirnya dapat menjadi kebutaan pada stadium akhir.

2. Status Gizi

a. Definisi Status Gizi

Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutrisi dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa; Bakri; Fajar, 2001). Status gizi merupakan keadaan kesehatan yang ditentukan oleh nutrien yang diterima dan dimanfaatkan oleh tubuh (Hartono, 2006). Status gizi adalah keadaan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan zat gizi dari makanan dengan kebutuhan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh (Par’i, 2016).

(10)

commit to user b. Klasifikasi Status Gizi

Berdasarkan baku Harvard, status gizi dapat dibagi menjadi empat yaitu:

1) Gizi lebih untuk overweight, termasuk kegemukan dan obesitas 2) Gizi baik untuk well nourished

3) Gizi kurang untuk underweight yang mencangkup mild and moderate PCM (Protein Calorie Malnutrition)

4) Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmus- kwashiorkor, dan kwashiorkor.

c. Obesitas

1) Definisi Obesitas

Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak berlebihan (WHO, 2005). Pada tingkat fisiologis, obesitas dapat didefinisikan sebagai kondisi akumulasi lemak abnormal atau jaringan adiposa yang berlebihan yang mungkin mengganggu kesehatan (Antipatis dan Gill, 2001).

Obesitas terjadi akibat asupan energi lebih tinggi daripada energi yang dikeluarkan. Asupan energi tinggi disebabkan oleh konsumsi makanan sumber energi dan lemak tinggi, sedangkan pengeluaran energi yang rendah disebabkan karena kurangnya aktivitas fisik dan sedentary life style (Kemenkes RI, 2012).

(11)

commit to user 2) Jenis Obesitas

Menurut Hardian (2008), jenis obesitas dibedakan menjadi dua berdasarkan distribusi lemak dalam tubuh, yaitu:

a) Obesitas perifer

Kelebihan lemak yang cenderung dimiliki wanita (gynecoid), disimpan di bawah kulit bagian daerah pinggul dan paha, sehingga tubuh berbentuk seperti buah pear. Tetapi hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang mutlak, kadang pada beberapa pria tampak seperti buah pir dan beberapa wanita tampak seperti buah apel, terutama setelah masa menopause.

Lemak yang berkumpul dipinggir tubuh yaitu di pinggul dan paha disebut juga sebagai obesitas perifer. Resiko terhadap penyakit pada obesitas perifer umumnya kecil, kecuali resiko terhadap penyakit arthritis dan varises vena.

b) Obesitas sentral

Pada umumnya obesitas sentral terdapat pada pria (android) yang menyimpan lemak di bawah kulit dinding perut dan di rongga perut, sehingga gemuk di perut dan mempunyai bentuk tubuh seperti buah apel atau disebut juga obesitas sentral.

Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan tipe perifer, karena sel-sel lemak di sekitar perut lebih siap melepaskan lemaknya ke dalam pembuluh darah dibandingkan dengan sel-sel lemak di tempat lain. Lemak yang masuk ke dalam

(12)

commit to user

pembuluh darah dapat menyebabkan penyempitan arteri (hipertensi), diabetes, stroke dan jenis kanker tertentu (payudara dan endometrium).

d. Penilaian Status Gizi

Terdapat dua cara penilaian status gizi, yaitu penilaian status gizi secara langsung dan penilaian status gizi secara tidak langsung.

Penilaian status gizi secara langsung dibagi menjadi empat penilaian, yaitu antropometri; klinis; biokimia; dan biofisik. Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung dibagi menjadi tiga, yaitu survei konsumsi makanan; statistik vital; dan faktor ekologi (Supariasa; Bakri;

Fajar, 2001).

1) Definisi Antropometri

Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros.

Anthropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran dari tubuh. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat usia dan tingkat gizi.

Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi (Supariasa; Bakri; dan Fajar, 2001).

(13)

commit to user

2) Kelebihan dan Kekurangan Antropometri

Menurut Yuniastuti (2008), secara umum pengukuran antropometri untuk menilai status gizi memiliki kelebihan antara lain:

a) Penggunaannya sederhana, aman dan tidak menciderai, dapat digunakan untuk ukuran sampel yang besar.

b) Peralatan yang digunakan tidak mahal, portabel, tahan lama, dan dapat dibuat atau dibeli secara lokal.

c) Dapat dilakukan oleh petugas yang relatif tidak ahli sehingga petugas lapangan yang dilatih dengan baik dapat melaksanakan dengan teliti.

d) Dapat diperoleh informasi tentang riwayat gizi masa lampau, sesuatu yang tidak dapat dilakukan dengan cara lain.

e) Dapat digunakan untuk mengidentifikasi keadaan gizi ringan, sedang, dan buruk.

f) Dapat digunakan untuk melakukan pemantauan status gizi dari waktu ke waktu, atau dari generasi ke generasi berikutnya.

g) Dapat digunakan untuk melakukan screening test dalam rangka mengidentifikasi individu yang berisiko terhadap malnutrisi.

Dan kekurangan antara lain:

a) Kurang sensitif bila dibandingkan dengan cara lain.

(14)

commit to user

b) Dapat mendeteksi gangguan status gizi yang terjadi dalam periode waktu singkat, tetapi tidak dapat mengidentifikasi defisiensi status gizi khusus.

c) Tidak dapat membedakan gangguan pertumbuhan atau komposisi tubuh yang disebabkan oleh defisiensi tertentu (misal Zn) dengan defisiensi yang disebabkan oleh gangguan intake energi dan protein.

d) Faktor-faktor non gizi (penyakit, genetik, variasi diurnal) dapat mengurangi spesifisitas dan sensitivitas pengukuran antropometri, tetapi efek ini dapat dihilangkan atau dipertimbangkan melalui desain percobaan dan sampling yang lebih baik.

3) Indeks Antropometri

Menurut Supariasa; Bakri; dan Fajar (2001), parameter antropometri merupakan dasar penilaian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropmetri. Beberapa indeks telah diperkenalkan seperti pada hasil seminar antropometri 1975. Berikut ini akan diuraikan tentang jenis indeks antropometri.

a) Indeks Massa Tubuh (IMT)

Laporan FAO/WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa berat badan normal orang dewasa dinyatakan dalam Body Mass Index (BMI), di Indonesia diterjemahkan menjadi Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT merupakan alat yang sederhana untuk

(15)

commit to user

memantau gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.

Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa diatas usia 18 tahun. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan. Di samping itu, IMT juga tidak dapat diterapkan pada keadaan khusus (penyakit) lainnya seperti edema, asites, dan hepatomegali.

b) Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul

Banyaknya lemak dalam perut menunjukkan ada beberapa perubahan metabolisme termasuk daya tahan terhadap insulin dan meningkatnya produksi asam lemak bebas, dibanding dengan banyaknya lemak bawah kulit atau pada kaki dan tangan.

Perubahan metabolisme ini memberikan gambaran tentang pemeriksaan penyakit yang berhubungan dengan perbedaan distribusi lemak dalam tubuh. Untuk melihat hal tersebut, ukuran yang telah umum digunakan adalah rasio lingkar pinggang dan panggul. Pada studi prospektif menunjukkan bahwa rasio lingkar pinggang dan panggul berhubungan erat dengan penyakit kardiovaskuler.

Menurut Sunarti (2013), Indeks massa tubuh (IMT) merupakan pengukuran antropometri yang paling sering digunakan untuk menilai obesitas. Kelemahan pengukuran antropometri dengan IMT adalah tidak dapat menilai distribusi

(16)

commit to user

timbunan lemak dalam tubuh sehingga kurang sensitif untuk menentukan obesitas sentral. Kowalski (2007) menyatakan bahwa IMT kurang tepat digunakan untuk mengklasifikasikan obesitas apabila massa otot lebih berat daripada jaringan lemak.

Beberapa ahli mengganti standar IMT dengan rasio lingkar pinggang dan panggul untuk meningkatkan akurasi. Keputusan ini bermula dari penelitian INTERHEART yang melibatkan lebih dari dua puluh tujuh ribu partisipan dari lima puluh dua negara.

Pengukuran rasio lingkar pinggang dan pinggul lebih sensitif dalam menilai distribusi lemak dalam tubuh terutama yang berada di dinding abdomen. Rasio lingkar pinggang dan pinggul dihitung dengan membagi ukuran lingkar pinggang dengan lingkar pinggul. Dibandingkan dengan IMT pengukuran ini tiga kali lebih besar merefleksikan keberadaan lemak berbahaya dalam dinding abdomen (Sunarti, 2013).

Tujuan pengukuran lingkar pinggang dan panggul adalah untuk mengetahui bahwa seseorang berisiko tinggi terkena penyakit diabetes tipe-2, kolesterol tinggi yang tidak terkontrol, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung (Anggraeni, 2012).

(17)

commit to user

Tabel 2. Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul terhadap Risiko Penyakit Kardiovaskuler

Jenis Kelamin

Usia (Tahun)

Risiko

Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Pria 20-29

30-39 40-49 50-59 60-69

<0,83

<0,84

<0,88

<0,90

<0,91

0,83 - 0,88 0,84 - 0,91 0,88 - 0,95 0,90 - 0,96 0,91 - 0,98

0,89 - 0,94 0,92 - 0,96 0,96 - 1,00 0,97 - 1,02 0,99 - 1,03

>0,94

>0,96

>1,00

>1,02

>1,03 Wanita 20-29

30-39 40-49 50-59 60-69

<0,71

<0,72

<0,73

<0,74

<0,76

0,71 - 0,77 0,72 - 0,78 0,73 - 0,79 0,74 - 0,81 0,76 - 0,83

0,78 - 0,82 0,79 - 0,84 0,80 - 0,87 0,82 - 0,88 0,84 - 0,90

>0,82

>0,84

>0,87

>0,88

>0,90 Sumber: Western Journal of Medicine (1988)

3. Stres Kerja

a. Definisi Stres dan Stres Kerja 1) Stres

Stres merupakan suatu tekanan yang dialami individu dalam usaha pencapaian target terhadap standar pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Apabila standar pemenuhan kebutuhan hidup suatu individu terlalu tinggi, kemungkinan tekanan (stress) yang dialaminya akan semakin tinggi, demikian pula sebaliknya (Arumwardhani, 2011).

(18)

commit to user

Menurut Yusuf (2004), stres adalah perasaan tidak enak, tidak nyaman, atau tertekan, baik fisik maupun psikis sebagai respons atau reaksi individu terhadap stressor (stimulus yang berupa peristiwa, objek, orang) yang mengancam, mengganggu, membebani, atau membahayakan keselamatan, kepentingan, keinginan, atau kesejahteraan hidupnya.

Stres adalah keadaan internal organisme ketika menghadapi stimulus yang dipersepsikan mengancam, sedangkan yang dimaksud dengan stressors adalah sumber stres, dan strain adalah reaksi organisme terhadap stressors. Ahli lain misalnya Spector dan Miner dalam Winarsunu (2008) menggunakan istilah lain, yaitu job stressors untuk menjelaskan sumber-sumber stres yang berasal dari pekerjaan, demikian juga Grandjean dalam Winarsunu (2008) menggunakan istilah occupational stressors untuk menerangkan sumber stres yang berasal dari situasi pekerjaan yang memiliki tuntutan yang tidak sesuai dengan kemampuan individu (Winarsunu, 2008).

2) Stres kerja

Menurut Waluyo (2009), stres kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja. Stressor kerja

(19)

commit to user

merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja.

b. Jenis Stres

Quick dan Quick dalam Waluyo (2009) mengategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu:

1) Eustress, yaitu hasil dari respons terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.

2) Distress, yaitu hasil dari respons terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskuler dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, kematian.

Stres dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap individu. Pengaruh positif, yaitu mendorong individu untuk melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru. Sedangkan pengaruh negatif, yaitu menimbulkan perasaan-perasaan tidak percaya diri, penolakan, marah, atau depresi;

dan memicu berjangkitnya sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi, atau stroke (Yusuf, 2004).

(20)

commit to user

Menurut Arumwardhani (2011), stres dibagi menjadi dua bentuk situasi emosional yang dialami individu sehari-hari, yaitu:

1) Frustrasi

Merupakan suatu keadaan emosional yang timbul pada saat terjadi hambatan dalam usaha memenuhi keinginan kebutuhan, tujuan hidup, dan harapan. Karena setiap individu memiliki keinginan, kebutuhan, tujuan hidup, dan harapan yang berbeda, tentu situasi yang dihadapi juga berbeda, sehingga tingkat frustrasi yang dialaminya juga berbeda, atau bahkan ada kemungkinan individu yang bersangkutan tidak mengalami frustrasi.

Ciri-ciri individu yang mengalami frustrasi diantaranya yaitu:

a) Sering mengeluh terhadap semua hal, dan tidak ada yang benar di matanya.

b) Emosi mudah terpicu, kadang disertai sedikit tindakan agresi.

c) Selalu merasa gagal.

d) Menempatkan sosok lain sebagai penyebab kegagalannya.

e) Sering memuji orang lain untuk menutupi kebenciannya (iri hati), tetapi membicarakan di belakang.

f) Tindakan ekstremnya, dengan berdiam diri tanpa mau melakukan apapun.

(21)

commit to user 2) Konflik

Konflik timbul dalam situasi dimana terdapat dua atau lebih kebutuhan, harapan, keinginan, dan tujuan, dimana situasi-situasi tersebut tidak sejalan dan saling bertabrakan. Dengan kondisi yang demikian, individu sering merasa ambigu dan berada di dua kutub yang berbeda serta saling tarik-menarik.

Konflik juga dapat menimbulkan frustrasi, karena jika memutuskan untuk menentukan salah satu pilihan, berarti pilihan lain harus tersingkirkan. Konflik dibagi menjadi dua, yaitu:

a) Konflik internal

Konflik internal yang terjadi di dalam diri sendiri, umumnya disebabkan munculnya tujuan-tujuan yang saling bertentangan.

b) Konflik eksternal

Konflik eksternal terjadi diluar diri sendiri, benturan- benturan yang muncul atas dua pilihan atau lebih, tetapi tidak melibatkan perasaan yang mendalam.

Banyak dari konflik-konflik ini yang mengandung unsur- unsur internal maupun eksternal sekaligus.

c. Sumber Stres Kerja

Grandjean dalam Winarsunu (2008) menjabarkan kondisi- kondisi yang bisa menjadi stressors di dalam lingkungan kerja, yaitu:

(22)

commit to user

1) Job Control, adalah keterlibatan pekerja dalam menentukan rutinitas kerja, termasuk mengontrol aspek-aspek temporal dan supervisi proses kerja. Beberapa dapat menghasilkan strain emosional dan fisik.

2) Social Support, berarti bantuan dari supervisor dan teman kerja.

Dukungan sosial dapat mengurangi pengaruh yang merugikan dari stres, dan kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan beban stressors.

3) Job Distress or Dissatisfaction, sebagian besar berhubungan dengan isi pekerjaan dan beban kerja. Job Distress or Dissatisfaction adalah tentang persepsi terhadap stres di dalam pekerjaan dan karier.

4) Task and Performance Demands, dicirikan oleh workload, termasuk tuntutan pada perhatian. Deadline termasuk stressor yang penting juga.

5) Job Security, sebagian besar merujuk pada ancaman pengangguran.

Beberapa pekerja kantor khawatir secara berlebihan. Hal yang penting adalah mengenal alternatif atau pekerjaan yang sama yang tersedia juga kebutuhan akan keterampilan profesional masa depannya.

6) Responsibility, tanggung jawab pada hidup dan kesejahteraan orang lain bisa menjadi tanggung jawab mental yang berat. Sama halnya bahwa pekerjaan yang ada tanggung-jawabnya yang sangat besar dihubungkan dengan meningkatnya kecenderungan untuk radang

(23)

commit to user

lambung dan tekanan darah tinggi. Tanggung jawab sendiri bukan kunci stressors. Pertanyaan yang penting adalah lebih pada apakah besarnya tanggung jawab melebihi kemampuan seorang pekerja.

7) Physical Environmental Problem, termasuk kebisingan, pencahayaan yang kurang baik, suhu di tempat kerja, kantor tertutup.

8) Complexity, didefinisikan sebagai besarnya perbedaan tuntutan yang ada di dalam pekerjaan. Pekerjaan yang repetitif dan monoton sering dicirikan oleh kurangnya kompleksitas, yang menjadi prediktor penting bagi ketidakpuasan kerja. Di sisi lain, terlalu tingginya kompleksitas dapat meningkatkan rasa ketidakmampuan dan menimbulkan strain emosional.

Sedangkan teori lain menyatakan penyebab stres dalam pekerjaan antara lain:

1) Tekanan organisasi, adalah penyebab stres yang berasal dari situasi maupun keadaan di dalam perusahaan. Misalnya kurangnya kerja sama antar karyawan, konflik antara individu dalam suatu kelompok, maupun kurangnya dukungan sosial sesama karyawan di dalam perusahaan (Cooper dan Davidson dalam Waluyo, 2009).

2) Tekanan lingkungan kerja, hal ini disebabkan oleh perubahan dan adaptasi yang disebabkan oleh perubahan teknologi, perubahan lokasi kerja, promosi, dan pengorganisasian ulang perusahan terhadap karyawan; terjadinya kekerasan di tempat kerja; pensiun;

faktor waktu pergantian, kebisingan, pencahayaan dan penerangan,

(24)

commit to user

komputer dan sistem permesinan, temperatur, kondisi fisik bangunan; kondisi yang membantu masing-masing individu setelah terjadi trauma atau peristiwa yang mengguncang di tempat kerja (Mumpuni dan Wulandari, 2010).

3) Tekanan individu, adalah penyebab stres yang berasal dari dalam individu, misalnya tipe kepribadian seseorang, kontrol personal dan tingkat kepasrahan seseorang, persepsi terhadap diri sendiri, tingkat ketabahan dalam menghadapi konflik peran serta ketidakjelasan peran (Cooper dan Davidson dalam Waluyo, 2009).

4) Tekanan kognitif, pilihan alur kognitif yang tidak sesuai dapat mengakibatkan stres. Misalnya, interpretasi terhadap kegiatan;

meliputi anggapan-anggapan terhadap sesuatu, contohnya merasa tidak terlalu cerdas, kemarahan atau ketakutan terhadap hal-hal kecil, tindakan yang tidak terkontrol, reaksi emosional, dan tidak memiliki respons terhadap stres (Mumpuni dan Wulandari, 2010).

d.Gejala Stres Kerja

Terry Beehr dan John Newman dalam Waluyo (2009) mengkaji ulang beberapa kasus stres pekerjaan dan menyimpulkan tiga gejala dari stres pada individu, yaitu:

1) Gejala Fisiologis

Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja adalah:

a) Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit kardiovaskuler.

(25)

commit to user

b) Meningkatnya sekresi dan hormon stres (contoh: adrenalin dan non adrenalin).

c) Gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung).

d) Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan.

e) Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis (chronic fatigue syndrome).

f) Gangguan pernafasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada.

g) Gangguan pada kulit.

h) Sakit kepala, sakit punggung bagian bawah, ketegangan otot.

i) Gangguan tidur.

j) Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker.

2) Gejala Psikologis

Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis yang sering ditemui pada hasil penelitian mengenai stres pekerjaan:

a) Kecemasan, ketegangan, kebingungan, dan mudah tersinggung.

b) Perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian).

c) Sensitif dan hyperactivity.

d) Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi.

e) Komunikasi yang tidak efektif.

f) Perasaan terkucil dan terasing.

g) Kebosanan dan ketidakpuasan kerja.

(26)

commit to user

h) Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi.

i) Kehilangan spontanitas dan kreativitas.

j) Menurunnya rasa percaya diri.

3) Gejala Perilaku

Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah:

1) Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan 2) Menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas 3) Meningkatnya konsumsi minuman keras dan obat-obatan 4) Perilaku sabotase dalam pekerjaan

5) Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke obesitas

6) Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda depresi

7) Meningkatnya kecenderungan berperilaku yang memiliki risiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak berhati-hati

8) Meningkatnya agresivitas, vandalisme, dan kriminalitas

9) Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman

10) Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.

(27)

commit to user e. Dampak Stres Kerja

Pada umumnya stres kerja lebih banyak merugikan diri karyawan maupun perusahaan. Pada diri karyawan, konsekuensi tersebut dapat berupa menurunnya gairah kerja, kecemasan yang tinggi, frustrasi, dan sebagainya (Rice dalam Waluyo, 2009).

Sedangkan Arnold dalam Waluyo (2009) menyebutkan bahwa ada empat konsekuensi yang dapat terjadi akibat stres kerja yang dialami oleh individu, yaitu terganggunya kesehatan fisik, kesehatan psikologis, performance, serta memengaruhi individu dalam pengambilan keputusan.

Penelitian yang dilakukan Halim dalam Waluyo (2009) di Jakarta dengan menggunakan 76 sampel manajer dan mandor di perusahaan swasta menunjukkan bahwa efek stres yang mereka rasakan ada dua. Dua hal tersebut adalah:

1) Efek pada fisiologis mereka, seperti: jantung berdetak cepat, denyut jantung meningkat, bibir kering, berkeringat, dan mual.

2) Efek pada psikologis mereka, seperti: tegang, cemas, tidak bisa berkonsentrasi, ingin pergi ke kamar mandi, dan ingin meninggalkan situasi stres.

f. Instrumen Pengukuran Stres Kerja

Pengukuran stres kerja dengan menggunakan kuesioner dapat digunakan untuk menilai tingkat keparahan stres individu dalam kelompok kerja yang cukup banyak atau kelompok sampel yang dapat

(28)

commit to user

mempresentasikan populasi secara keseluruhan (Tarwaka, 2013).

Berikut ini adalah beberapa macam instrumen pengukuran stres kerja (HSE, 2001).

1) Quality of Worklife Questionnaire

Quality of Worklife Questionnaire disusun oleh NIOSH dan Institute for The Social Research University of Michigan.

a) Kelebihan

(1) Digunakan untuk mengevaluasi faktor yang berhubungan dengan stres kerja dan kepuasan kerja.

(2) Dapat digunakan juga untuk mengetahui karakteristik organisasi dan hubungan terhadap kualitas kesehatan dan keselamatan pekerja.

b) Kekurangan

Hanya mengukur efek stres pada kesehatan fisik.

2) Life Event Scale

Life Event Scale disusun oleh Thomas Holmes dan Richard Rahe (1967).

a) Kelebihan

Digunakan untuk memprediksi hubungan antara kejadian yang dialami 6 bulan terakhir dengan munculnya penyakit.

b) Kekurangan

Penggunaannya harus dilakukan dengan disertai konsultasi pada dokter atau data medis.

(29)

commit to user 3) The Hassles and Uplifts Scales

The Hassles and Uplifts Scales disusun oleh Kanner, Coyne, Schaefer dan Lazarus (1981).

a) Kelebihan

(1) Dapat digunakan untuk mengukur kondisi stres yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

(2) Sumber stres yang diukur berasal dari dalam maupun luar lingkungan kerja.

b) Kekurangan

Menyediakan informasi yang sedikit untuk melakukan intervensi pencegahan stres kerja.

4) Job Content Questionnaire

Job Content Questionnaire disusun oleh Karasek (1985).

a) Kelebihan

(1) Dapat digunakan untuk mengukur stres yang berhubungan dengan kondisi lingkungan kerja terutama yang berkaitan dengan kejadian penyakit jantung koroner.

(2) Relevan untuk digunakan dalam mengukur motivasi pekerja, kepuasan kerja, absenteisme dan turnover pekerja.

(3) Validitas dan reliabilitas kuesioner sudah teruji.

(4) Dapat digunakan pada berbagai sektor industri.

(30)

commit to user b) Kekurangan

(1) Hanya berfokus pada penilaian situasi psikologi dan sosial di lingkungan kerja.

(2) Tidak ada penilaian kepribadian dan faktor di luar pekerjaan.

5) NIOSH Generic Job Stress Questionnaire

NIOSH Generic Job Stress Questionnaire disusun oleh Hurrell dan McLaney (1988).

a) Kelebihan

(1) Mengukur sumber stres yang berasal dari dalam maupun luar lingkungan pekerjaan serta faktor pendukung lainnya.

(2) Mengevaluasi efek stres pada kondisi akut dan kronis.

(3) Reliabilitas dan validitas instrumen telah teruji.

(4) Tersedia dalam berbagai bahasa.

b) Kekurangan

Pengukuran stres kronis dibutuhkan konsultasi bersama petugas medis.

6) Job Stress Survey (JSS)

Job Stress Survey (JSS) disusun oleh Spielberg (1994).

a) Kelebihan

(1) Dapat digunakan untuk menilai tingkat keparahan dan frekuensi faktor lingkungan tempat kerja yang berdampak pada psikologis pekerja.

(31)

commit to user

(2) Dapat digunakan mengevaluasi dan peningkatan lingkungan kerja, menurunkan kondisi stres dan meningkatkan produktivitas kerja.

b) Kekurangan

(1) Fokus penilaian hanya pada faktor lingkungan kerja dan dampaknya terhadap perubahan psikologis.

(2) Validitas dan reliabilitas diragukan 7) Organizational Stress Screening Tool (ASSET)

Organizational Stress Screening Tool (ASSET) disusun oleh Cartwright dan Cooper (2002). Kelebihannya antara lain:

a) Faktor sumber stres yang dinilai berorientasi pada lingkungan kerja.

b) Mengukur efek stres pada kondisi psikologis dan kesehatan fisik pekerja.

8) HSE Indicator Tool (HSE)

HSE Indicator Tool disusun oleh Health and Safety Executive.

a) Kelebihan

(1) Dapat digunakan untuk menanggulangi faktor risiko stres yang berhubungan dengan pekerjaan

(2) Penggunaannya dapat dipakai sebagai instrumen tunggal atau digabungkan dengan instrumen lainnya.

(32)

commit to user b) Kekurangan

a) Hanya dapat digunakan untuk mengukur sumber stres yang terdapat di lingkungan kerja

b) Hasil temuan dalam instrumen ini harus didiskusikan lagi bersama dengan para pekerja.

Dari hasil perbandingan tersebut, peneliti memilih menggunakan kuesioner HSE Indicator Tool. Hal ini dikarenakan peneliti ingin berfokus pada sumber stres yang terdapat di lingkungan kerja. Selain itu, kuesioner tersebut memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan kuesioner lainnya terutama penggunaannya dapat dipakai sebagai instrumen tunggal. Kuesioner ini merupakan instrumen baku pengukuran stres kerja yang disahkan oleh lembaga Health and Safety Executive.

Penilaian menggunakan kuesioner HSE Indicator Tool dapat dilakukan dengan menggunakan dua jawaban sederhana yaitu ‘YA’

(ada indikasi stres) dan ‘TIDAK’(tidak ada gejala stres sama sekali).

Tetapi lebih utama untuk menggunakan desain penilaian dengan skoring (misalnya; 4 atau 5 skala likert) yang kemudian dihitung jumlah skor pada masing-masing kolom pernyataan yang diajukan dan menjumlahkannya menjadi total skor individu (Tarwaka, 2013).

(33)

commit to user

Tabel 3. Klasifikasi Tingkat Risiko Stres Akibat Kerja Berdasarkan Total Skor Individu

Total Skor

Tingkat Risiko Stres

Kategori Stres

Tindakan Perbaikan

140-175 0 Rendah Belum perlu adanya kontrol untuk perbaikan

105-139 1 Sedang

Mungkin diperlukan kontrol terhadap gejala stres di kemudian hari

70-104 2 Tinggi Diperlukan kontrol terhadap stres di tempat kerja segera

35-69 3 Sangat

tinggi

Diperlukan kontrol terhadap stres secara menyeluruh dan sesegera mungkin

Sumber: Tarwaka (2013)

4. Hubungan Status Gizi dengan Tekanan Darah

Adanya interaksi antara retensi sodium, aktivasi sistem saraf simpatis dan selektif insulin resistensi merupakan hipotesis yang paling mungkin menjelaskan terjadinya hipertensi pada obesitas. Selektif resistensi insulin pada obesitas menimbulkan hiperinsulinemia yang berefek pada gangguan fungsi vaskuler, gangguan transport ion, retensi sodium, dan peningkatan aktivitas saraf simpatis termasuk peningkatan denyut jantung dan tekanan darah (Saing, 2005).

Bertambahnya ukuran dan jumlah sel adiposa dapat menyebabkan obesitas dan menimbulkan gangguan metabolisme. Selain sebagai tempat penyimpanan lemak, sel adiposa merupakan organ yang memproduksi

Bersambung

(34)

commit to user

molekul biologi aktif (adipokin) seperti setokin proinflamasi, hormon antiinflamasi dan substansi biologi lain. Salah satu pengukuran obesitas sentral yaitu menggunakan rasio lingkar pinggang panggul. Semakin gemuk seseorang maka ukuran lingkar pinggang dan panggul akan semakin membesar sehingga rasio lingkar pinggang panggul meningkat.

peningkatan akumulasi lemak viseral (abdominal) merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler (Lilyasari, 2007).

5. Hubungan Stres Kerja dengan Tekanan Darah

Secara fisiologi, situasi stres mengaktivasi hipotalamus yang selanjutnya mengendalikan dua sistem neuroendokrin, yaitu sistem simpatik dan sistem korteks adrenal. Sistem saraf simpatik merespons impuls saraf dari hipotalamus yaitu dengan mengaktivasi berbagai organ dan otot polos yang berada di bawah pengendaliannya, sebagai contohnya, ia meningkatkan kecepatan denyut jantung dan mendilatasi pupil. Sistem saraf simpatik juga memberi sinyal ke medula adrenal untuk melepaskan epinefrin dan norepinefrin ke aliran darah. Adrenalin, tiroksin, dan kortisol sebagai hormon utama stres akan meningkat jumlahnya dan berpengaruh secara signifikan pada sistem homeostasis. Adrenalin yang bekerja secara sinergis dengan sistem saraf simpatik berpengaruh terhadap kenaikan denyut jantung, dan tekanan darah. Aktivasi sistem simpatik akan menyebabkan vasokonstriksi supaya darah dipompa lebih banyak dalam sesaat, di mana stroke volumenya meningkat. Stroke volume yang

(35)

commit to user

meningkat akan menyebabkan tekanan darah meningkat (Subramaniam, 2008).

Pada saat seseorang mengalami stres, hormon adrenalin akan dilepaskan dan kemudian akan meningkatkan tekanan darah melalui kontraksi arteri (vasokontriksi) dan peningkatan denyut jantung. Apabila stres berlanjut, tekanan darah akan tetap tinggi sehingga orang tersebut akan mengalami hipertensi (South, 2014).

6. Hubungan Status Gizi dan Stres Kerja dengan Tekanan Darah

Pada obesitas sentral, penumpukan lemak lebih banyak pada daerah abdomen. Jika lemak abdomen ini berlebihan akan menyebabkan beberapa hal diantaranya: menurunkan kadar adiponektin, menurunkan ambilan asam lemak bebas intra sel oleh mitokondria sehingga oksidasi berkurang, dan menyebabkan akumulasi asam lemak bebas intra sel.

Kelebihan asam lemak bebas ini dapat memicu terjadinya resistensi insulin. Keadaan hiperinsulinemia ini dapat menyebabkan vasokonstriksi dan reabsorpsi natrium di ginjal, yang pada akhirnya mengakibatkan hipertensi (Sulastri; Elmatris; Ramadhani, 2012).

Pada saat seseorang mengalami stres, tubuh akan bereaksi dengan mengeluarkan hormon stres berupa hormon adrenalin dan kortisol.

Peningkatan hormon adrenalin mengakibatkan jantung berdenyut lebih kencang atau cepat sedangkan hormon kortisol menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah. Sehingga saat terjadi vasokontriksi

(36)

commit to user

pembuluh darah dan jantung berdenyut cepat akhirnya akan mengakibatkan kenaikan tekanan darah (Brunner dan Suddarth, 2001).

B. Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Kerangka pemikiran hubungan status gizi dan stres kerja dengan tekanan darah

Keterangan: : diteliti : tidak diteliti

Status Gizi Stres Kerja

Medula adrenal melepaskan hormon epinefrin dan

norepinefrin

Sistem saraf simpatik merespons impuls saraf dari hipotalamus

Terjadi respon fight or flight

Obesitas sentral

Lemak pada dinding abdomen masuk ke pembuluh darah

Terjadi penyempitan arteri

Tekanan darah meningkat

Ukuran dan jumlah sel adiposa bertambah

Faktor internal:

1. Usia

2. Jenis kelamin 3. Keturunan

Faktor eksternal:

1. Konsumsi Alkohol 2. Olahraga

3. Konsumsi garam berlebihan

4. Kebiasaan merokok Mengaktivasi hipotalamus

(37)

commit to user C. Hipotesis

Ada hubungan antara status gizi dan stres kerja dengan tekanan darah pekerja bagian weaving PT Iskandar Indah Printing Textile Surakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Hemolisis lebih cenderung menjadi penyebab hiperbilirubinemia pada bayi diobati dengan fototerapi selama dirawat di rumah sakit lahir daripada yang diterima kembali

 Sebelum file multimedia dapat dimainkan pada streaming media, raw media harus dikonversi ke format yang dapat di streaming-kan melalui Internet.  Dilakukan dengan streaming

Kesesuaian terapi antiviral yang diberikan oleh dokter untuk pasien mengacu pada Persatuan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) yang merekomendasikan pemberian antiviral untuk

Pada penelitian ini, data akan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut : (1) pembacaan semiotik yang terdiri dari dua tahap yaitu pembacaan heuristik

Interaksi konsentrasi pupuk cair Nipka- Plus dan jarak tanam berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman dan pertambahan diameter batang pada umur 17 HSPT,

Hampir seluruh siswa merasa lebih mudah dalam memahami materi perubahan fisika dan kimia menggunakan media permainan Science Wiqu Game karena pada permainan ini

Keyword “Smart” diharapkan mampu mewakili dalam Perancangan Buku Fotografi Nama – Nama Hewan Ternak Dengan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia ( SIBI ) Sebagai Media Pembelajaran

Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan filtrat kecambah kacang hijau dalam pengencer skim milk tidak dapat mempertahankan kualitas semen cair