• Tidak ada hasil yang ditemukan

GALA DAN RAHN ANALISIS KORELASI DARI PER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GALA DAN RAHN ANALISIS KORELASI DARI PER"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

GALA

DAN

RAHN

: ANALISIS KORELASI DARI

formal Islamic state in Indonesia—referring to an economic transaction similar to the concept of pawn in Western. The concept has long been practiced in the society and left many unsolved problems. Lately, academic scholars have questioning the implementation of the concept. Although, it has root in Islam, some scholars suspect that the concept has been misguiding in its practices. This paper intends to analyze the implementation of the Gala concept in the Acehnese society through their economic transactions. It also aims to make a comparison to an Islamic economic’s concept known as Rahn. The primary data is mainly gathered through observation in the length of 5 years in the selected areas in Aceh. To support the data, an in-depth interview technique with relevant people was also used. In addition, the secondary data from journal’s articles, books, and other related literatures were also utilized. Data was analyzed using content and comparative analysis. The findings show that the basic purpose of Gala in the Acehnese society is relevant to the Rahn scheme. In the implementation level, however, the concept is closely related to the interest lending scheme which is considered as riba (usury) in Islam. Consequently, the balanced-economy as one of the core concepts in Islamic economic is not achieved. It is reflected from the continuance benefits gaining for one party while another party gaining nothing except the core objects which has to be repaid. In Islam, the principal meaning of Rahn is helping each other among Islamic society (ummah). Thus, it is prohibited of gaining any material benefit which leads to the riba practices. Finally, this article suggests the related parties to return to the core concept of the Gala which is actually same as Rahn or else they should abandon it to avoid harming the ummah.

Gala adalah salah satu dari sekian banyak bentuk praktik ekonomi yang berkembang dalam masyarakat Aceh sejak lama. Konsep tersebut pada dasarnya tercipta dari nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Aceh dalam kehidupan sehari-hari sejak lama. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis implementasi konsep Gala yang dipraktikkan masyarakat Aceh dalam transaksi-transaksi ekonomi dari sudut pandang ekonomi Islam yang menggunakan skema Rahn. Data utama artikel ini diperoleh dari hasil observasi penulis selama beberapa tahun di daerah-daerah yang melakukan praktik Gala dalam beberapa transaksi ekonominya sehari-hari. Selain itu, untuk mendukung hasil observasi, in-depth interview dengan para pihak yang terlibat juga dilakukan. Untuk memperkuat temuan lapangan, penulis juga melakukan kajian literatur terhadap hal-hal yang berkaitan dengan praktik Gala. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan content dan comparative analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik Gala yang dipraktikkan masyarakat Aceh pada dasarnya relevan dengan skema Rahn (gadai), akan tetapi pada tahap implementasi masih sarat dengan unsur riba dimana balanced-economy tidak terjadi. Hal ini terlihat dari adanya pengambilan manfaat oleh pihak tertentu yang mengakibatkan tertindasnya satu pihak oleh pihak lainnya. Dalam ekonomi Islam, konsep dasar gadai adalah tolong menolong sehingga tidak dihalalkan mengambil manfaat sebagai efek dari tolong menolong tadi. Pengambilan manfaat ini dapat menjerumuskan transaksi tersebut ke dalam riba. Artikel ini merekomendasikan pihak-pihak berwenang untuk melakukan banyak sosialisasi dengan melibatkan semua para tokoh masyarakat untuk meluruskan kembali praktik Gala sesuai dengan konsep ekonomi dalam ajaran Islam.

(2)

Pendahuluan

Sebagai sebuah daerah yang mempunyai sejarah masa lampau yang gemilang,

Aceh merupakan suatu daerah yang unik dengan kemajemukannya dan telah

memiliki peradaban yang tinggi sejak lama terlebih setelah masuknya Islam

melalui Pasai. Dengan peradaban tersebut, masyarakat Aceh masa lampau telah

mempraktikkan berbagai praktik kehidupan yang mengarah kepada kehidupan

modern dimana salah satunya adalah praktik ekonomi. Jauh sebelum

transaksi-transaksi ekonomi seperti sekarang berkembang, masyarakat Aceh sudah

mempraktikkan apa yang sekarang dikenal sebagai bentuk transaksi yang mirip

dengan konsep mudharabah, musyarakah, murabahah, dan sebagainya.

Praktik-praktik tersebut biasanya dilakukan dalam bidang pertanian (sawah dan ladang)

dan peternakan (lembu dan hewan ternak lainnya).

Selain itu, di kalangan kaum perempuan masyarakat Aceh lazim dipraktikkan

sistem yang mirip dengan pembiayaan murabahah yaitu perkreditan pakaian

dengan cara menawarkan baju atau jenis pakaian lainnya yang pembayarannya

dapat dicicil untuk jangka waktu tertentu tetapi dengan harga yang sedikit lebih

tinggi. Tidak hanya terbatas dalam yang telah disebutkan di atas, masyarakat

Aceh secara sadar atau tidak juga mempraktikkan kegiatan ekonomi dalam

bidang ibadah, misalnya pengajian kubur jika ada orang meninggal, mengupah

orang untuk kegiatan haji, pembayaran fidyah shalat dan lain sebagainya.

Pada dasarnya, adat masyarakat Aceh termasuk beberapa adat dalam bidang

ekonomi merupakan cerminan dari agama Islam yang dianut oleh mayoritas

masyarakat Aceh sejak lama. Akan tetapi, kegiatan-kegiatan yang telah

dipraktikkan sejak lama ini masih dipengaruhi sisa budaya zaman pra Islam.

Dalam perkembangannya juga dipengaruhi oleh budaya luar akibat kemajuan

teknologi dan perubahan alur pikir masyarakat. Pengaruh-pengaruh tersebut

akhirnya membawa perubahan yang bersifat positif dan negatif kepada

beberapa kegiatan masyarakat termasuk dalam bidang ekonomi. Untuk itu,

(3)

dasar ekonomi Islam yang seharusnya menjadi panduan dalam setiap kegiatan

ekonomi masyarakat Aceh.

Praktik Gala dalam Masyarakat Aceh

Dalam masyarakat Aceh, ada sejumlah kegiatan ekonomi yang sudah biasa

dipraktikkan sejak lama. Dalam kesehariannya, masyarakat Aceh sudah sangat

familiar dengan istilah-istilah mawah, gala, muge, borong dan bloe di bak (beli

buah di pohon). Selain itu ada juga sistem perkreditan pakaian yang biasa

dilakukan oleh kaum ibu. Masalah ibadah juga sebagiannya masuk ke dalam

ranah ekonomi yang dipraktikkan oleh masyarakat Aceh secara sengaja atau

tidak. Namun, dalam paper ini penulis hanya memfokuskan kajian pada praktik

Gala.

Gala merupakan suatu praktik ekonomi yang ada dan berkembang dalam

masyarakat Aceh dengan bentuk yang mirip dengan gadai dalam perekonomian

modern. Gala adalah suatu mekanisme pinjaman di mana seseorang

menyerahkan tanah, emas, atau harta benda berharga lainnya untuk memenuhi

kebutuhan finansialnya yang mendesak yang biasanya bertujuan untuk

memenuhi kebutuhan konsumtif harian. Pada dekade di bawah tahun 80-an,

bentuk perjanjian yang dibuat tidak berdasarkan “hitam di atas putih”, setelah

itu telah mulai menggunakan penjanjian tertulis dengan jangka waktu yang

tidak terbatas (Mahmud, 2001).

Dalam sistem Gala, penggala (pemilik harta) memberikan hak kepada

pemegang gala (orang yang memberi pinjaman) untuk menggunakan harta

galaan yang dijadikan agunan selama pemilik belum menebus harta tersebut.

Hasil yang diperoleh pemegang gala dari penggunaan barang galaan tersebut

dianggap sebagai balas jasa atas uang yang dipinjamkan.

Praktik gala ini banyak terjadi dalam bidang pertanian terutama tanah sawah.

Dalam hal ini, seseorang yang membutuhkan dana cepat biasanya akan

(4)

keluarga dekat) untuk ditukarkan sementara waktu dengan sejumlah emas.

Tanah tersebut akan terus menerus berada dalam kekuasaan si pemberi emas

tanpa batasan waktu selama belum ditebus kembali oleh si pemilik tanah.

Tidak jarang harta galaan tersebut baru dapat ditebus oleh generasi berikutnya,

seperti anak atau cucu si pemilik tanah. Hukum adat ekonomi yang

dipraktikkan oleh masyarakat Aceh dengan bentuk gadai ini berbeda dengan

hukum agraria nasional yang menyebutkan bahwa gadai untuk tanah hanya

boleh berlangsung maksimal 7 tahun. Setelah waktu 7 tahun berlalu, tanah

yang digadaikan harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Selain harta permanen seperti tanah di atas, barang Gala yang juga populer

(terutama di kalangan orang yang lebih muda) adalah benda-benda bergerak

seperti mobil, sepeda motor, atau aksesoris sehari-hari seperti jam tangan,

cincin, kalung, dan lain-lain. Praktik ini menjadi solusi alternatif bagi sebagian

kalangan pemuda di Aceh untuk memperoleh dana cepat bagi kebutuhannya

yang mendesak. Praktiknya sama persis seperti yang terjadi pada tanah dimana

si pemberi dana akan menguasai dan memanfaatkan harta galaan tersebut

sampai si pemilik dapat menebusnya kembali dengan jumlah dana yang sama

ketika proses galaan ini berlangsung.

Pengalihan hak milik atas harta gala hanya dapat terjadi jika pemilik harta

yang digalakan mengizinkan hal demikian terjadi. Jika peminjam tidak mampu

mengembalikan pinjaman, harta galaan tersebut dapat dijual kepada pihak

ketiga dan hasilnya dapat digunakan untuk melunasi pinjaman. Dalam

masyarakat Aceh dapat juga terjadi pemegang gala menguasai (membeli) harta

galaan tersebut dan membayar sejumlah uang kepada pemilik harta setelah

dipotong jumlah pinjaman (FH Unsyiah, 2001).

Di beberapa tempat di Aceh, terutama di daerah-daerah pedalaman, penulis

masih mendapati penggunaan istilah Gala yang tidak tepat dalam masyarakat.

Mereka terbiasa menyebut istilah tersebut untuk suatu transaksi yang

(5)

pedalaman Aceh Utara, seorang pemuda melakukan transaksi yang mereka sebut sebagai “Gala” dengan seorang pemilik kebun karet. Si pemuda membayar sejumlah uang kepada pemilik kebun sebagai ganti hak untuk

mengelola dan memanfaatkan isi kebun karet tersebut. Hasil yang didapat dari

kebun tersebut kemudian dibagi dengan jumlah yang dipatok kepada pemilik

kebun, misalnya Rp 1 Juta per bulan, sisa lebih atau kurang menjadi hak atau

tanggungan si pengelola kebun. Praktik ini sama sekali berbeda dengan konsep

Gala yang berlaku secara umum di hampir semua daerah di Aceh dan lebih

mengarah kepada sistem bagi hasil pada perbankan syariah dan bunga pada

perbankan konvensional. Dalam kasus lainnya di daerah yang sama, seseorang

membayarkan sejumlah uang kepada pemilik sebuah kenderaan bermotor

sebagai ganti hak untuk dapat menggunakan kenderaan tersebut dalam jangka

waktu tertentu. Sama hal seperti contoh di atas, kasus ini juga sebenarnya

bukan Gala, tetapi lebih mengarah kepada sistem sewa.

Praktik gala dalam masyarakat Aceh sekarang, terutama di daerah-daerah

perkotaan, sudah semakin berkurang seiring dengan perkembangan sistem

perbankan modern termasuk perbankan Islam. Masyarakat lebih senang

berhubungan langsung dengan lembaga-lembaga keuangan seperti bank, yang

jaringannya sudah sampai ke hampir seluruh pelosok masyarakat, jika

memerlukan uang tunai untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk investasi

dan modal kerja. Di samping itu, lembaga pegadaian resmi (baik yang

mengusung konsep syariah atau konvensional) juga sudah banyak dibuka yang

mencakup hampir ke seluruh pelosok Aceh. Modernisasi ekonomi dalam

bidang keuangan telah mempengaruhi tatanan tradisional pinjam-meminjam

dalam masyarakat Aceh dan perlahan-lahan memudarkan sistem gala.

Gadai dalam Ekonomi Islam

Seperti yang telah dijelaskan di atas, praktik Gala yang berlaku dan

(6)

penahanan terhadap suatu barang dengan hak sehingga dapat dijadikan sebagai

pembayaran dari barang tersebut (Syafei, 2001). Rahn dapat juga didefinisikan

sebagai penetapan sebuah barang yang memiliki nilai finansial dalam

pandangan syariat sebagai jaminan bagi utang di mana seluruh atau sebagian

utang tersebut dapat dibayar dengannya (Sabiq, 2011).

Dalam al-Qur’an, kebolehan Rahn tercermin dalam Surah al-Baqarah ayat 283, yaitu: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)…”. Kemudian hadits nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Dari Siti Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW. Pernah membeli makanan dengan menggadaikan baju besi.”

Berdasarkan landasan di atas, para ulama sepakat bahwa Rahn hukumnya

boleh dan tidak wajib karena gadai hanya merupakan jaminan saja jika kedua

belah pihak tidak saling mempercayai. Akan tetapi, jika kedua belah pihak

saling mempercayai satu sama lain, maka jaminan mungkin tidak diperlukan. Hal ini tercermin dari firman Allah berikut: “…jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercaya itu menunaikan

amanatnya (utangnya)” (QS. Al-Baqarah : 283). Ayat ini juga memberikan

tafsiran bahwa jaminan hanya disyaratkan jika tidak ada penulis di antara orang

yang bertransaksi tersebut.

Akad rahn dikategorikan sebagai akad tabarru’ yang bersifat tolong menolong

sehingga apa yang diberikan penggadai tidak dapat ditukar dengan sesuatu.

Rahn memiliki empat unsur, yaitu rahin (orang yang memberikan jaminan),

murtahin (orang yang menerima), marhun (barang jaminan), dan marhun-nih

(utang). Akad rahn dimaksudkan untuk mendapatkan kepastian dan menjamin

utang, bukan untuk menumbuhkan harta atau mencari keuntungan. Menurut

Sayyid Sabiq (2011), tidak halal bagi penerima gadai untuk mengambil

manfaat dari barang gadaian, meskipun diizinkan oleh pemiliknya. Jika hal itu

(7)

mendatangkan manfaat dan setiap piutang yang mendatangkan manfaat adalah

riba.

Dalam perbankan syariah, kontrak Rahn dipakai baik sebagai produk

pelengkap maupun sebagai produk tersendiri (Antonio, 2001). Sebagai produk

pelengkap, rahn digunakan sebagai akad tambahan terhadap produk lain seperti

dalam jual beli secara murabahah dimana bank dapat menahan barang nasabah

sebagai konsekuensi akad tersebut. Sedangkan rahn sebagai produk pelengkap,

akad rahn dipakai sebagai pegadaian alternatif dari pegadaian konvensional

yang telah duluan ada.

Dalam praktiknya, gadai melibatkan beberapa akad dalam transaksinya, yaitu

(1) Qardhul Hasan yang digunakan untuk nasabah dengan tujuan konsumtif

dengan pengenaan biaya perawatan dan penjagaan barang gadai, (2)

Mudharabah digunakan pada nasabah yang mempunyai keperluan produktif

bagi pengembangan usaha atau lainnya, dan (3) Ijarah digunakan pada bentuk

pertukaran manfaat tertentu dimana murtahin menyewakan tempat

penyimpanan barang.

Praktik Gala dalam Perspektif Ekonomi Islam

Dalam sistem keuangan Islam, fondasi dasar yang dipergunakan adalah hukum

Islam, sedangkan prinsip dasar yang dipergunakan adalah yang terinci ke

dalam: (1) Pelarangan riba, (2) Pelarangan gharar / ketidakpastian, (3)

Pelarangan tadlis / penipuan, (4) Pelarangan maisir / spekulasi / judi, (5)

Pembatasan aktivitas atau komoditas yang bisa diperdagangkan, seperti tidak

boleh terlibat dalam transaksi jual beli daging babi, alkohol, senjata dan

amunisi, dll, (6) Penggunaan prinsip bagi hasil (profit and loss sharing).

Komponen-komponen tersebut di atas, ditambah dengan beberapa tinjauan fiqh

tentang legalitas bentuk transaksi yang dipakai, secara garis besar akan menjadi

tolak ukur untuk menilai praktik gala dalam masyarakat Aceh dalam

(8)

Seperti yang telah penulis uraian dalam penjelasan-penjelasan sebelumnya,

bentuk praktik Gala yang berlaku dalam masyarakat Aceh sekarang adalah

penerima gadai (murtahin) akan menguasai dan memanfaatkan barang gadaian

(marhun) sebagai jaminan selama penggadai (al-rahin) belum menebusnya.

Menurut pemahaman masyarakat selama ini, bentuk praktik seperti ini sah-sah

saja karena dianggap sebagai balas jasa atas utang yang dipinjamkan kepada

rahin oleh murtahin.

Konsekuensi dari praktik ini adalah pihak penggadai menjadi sangat tertekan

sehingga sangat susah untuk menebus kembali barang gadaiannya (umumnya

berupa tanah sawah) karena ia secara terus menerus dihadapkan pada keadaan

terutang. Penggadai tidak bisa lagi memanfaatkan harta benda tersebut untuk

mencari rezeki dalam rangka membayar kembali utang gadainya. Sementara itu

di pihak lain penerima gadai dapat terus menerus menikmati harga gadai

tersebut tanpa sedikit pun mengurangi jumlah piutangnya. Hal ini berimbas

kepada tertindasnya satu pihak oleh pihak lain akibat dari keterikatan dengan

perjanjian gala dan dapat mengurangi unsur kerelaan (an taradhim minkum)

digantikan dengan keterpaksaan.

Karena itulah, mazhab Syafi’i tidak sepakat dengan model gadai seperti itu. Mazhab Syafi’i tidak membolehkan bagi orang yang menerima gadai ( al-murtahin) untuk memanfaatkan barang gadaian (al-marhun) karena dapat

mendatangkan kemudharatan kepada salah satu pihak. Jumhur ulama kecuali

Hanbali juga berpendapat tidak boleh murtahin memanfaatkan barang gadaian

dalam bentuk apa pun. Pemanfaatan dibolehkan sebesar pengeluaran murtahin

(penerima gadai) terhadap barang gadaian. Umpamanya penerima gadai boleh

menikmati susu sapi gadaian sebanyak makanan yang diberikan untuk lembu

(9)

Imam Syafi’i sendiri dalam kitab al-um mengatakan bahwa manfaat dari barang-barang jaminan (borg) jatuh kepada pihak yang menggadaikan

(al-rahin), bukan bagi pihak yang menerima gadai (al-murtahin). Ulama Syafi’iyah

juga menyepakati bahwa hak atas manfaat barang gadaian tetap pada orang

yang menggadaikan meskipun barang yang digadai itu ada dibawah kekuasaan

penerima gadai. Hal ini didasarkan pada hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, yaitu: ”gadaian itu tidak menutup akan yang punyanya dari manfaat barang itu, faedahnya kepunyaan dia dan dia wajib mempertanggung jawabkan resikonya (kerusakan dan biaya)”. Kalangan Syafi’iyah menambahkan bahwa hak penerima gadai hanyalah mengawasi barang jaminan sebagai kepercayaan

hutang yang telah diberikannya kepada si penggadai dan hanya dapat

memanfaatkannya dengan seizin penggadai.

Kalangan Malikiyah juga berpendapat bahwa hasil dari barang gadaian dan

segala sesuatu yang dihasilkan daripadanya termasuk hasil gadaian adalah hak

pihak rahin selama ia tidak mengisyaratkan untuk membaginya. Sementara itu,

ulama Hambaliyah lebih menekankan pada jenis barang yang digadaikan,

apakah berupa hewan atau bukan, bisa ditunggangi atau tidak serta dapat

diperah susunya atau tidak. Jika barang yang digadai dapat ditunggangi dan

diperah susunya, maka boleh bagi penerima gadai mengambil manfaat atas

barang gadai sebesar kompensasi biaya hidup yang dikeluarkan untuknya.

Sedangkan jika barang gadai tersebut tidak dapat ditunggangi dan diperah

maka barang tersebut tidak boleh meskipun dengan seizin yang menggadaikan

(Sabiq, 2011:128)

Jika dikaji lebih jauh, barang gadaian dalam konteks ekonomi Islam memiliki

makna filosofis dan sosiologis yang besar; pertama, barang gadai digunakan

(10)

demikian, si piutang tidak akan ragu memberikan sejumlah uang kepada yang

berhajat karena ada barang jaminan. Bila penggadai dianggap sangat amanah

dan tidak diragukan bahwa ia akan menunaikan utang sesuai dengan perjanjian,

tentu barang jaminan tidak diperlukan. Kedua, utang yang merupakan salah

satu rukun gadai merupakan media membantu orang lain dan tidak berharap

untuk mendapatkan laba dari pemberian utang itu. Prinsip inilah yang melarang

pihak piutang mensyaratkan pembayaran tambahan yang akan menjurus

menjadi riba (Chalil, 2008).

Demikian juga dengan praktik gala, barang galaan hanya sekadar dijadikan

jaminan untuk memastikan bahwa orang yang berutang akan membayarnya.

Dalam akad rahn, tidak ada istilah pihak yang berpiutang akan rugi dengan

memberikan utang kepada pihak lain karena hakikatnya awalnya adalah akad

yang bersifat derma. Secara empiris, orang yang melakukan praktik gala ini

adalah orang yang terdesak dari sisi keuangan (orang miskin) sehingga ia

menggadaikan tanah atau benda lainnya untuk memperoleh uang dengan cepat

dari orang yang punya harta lebih (orang kaya). Jadi apa diberikan penggadai

kepada penerima gadai tidak untuk ditukar dengan sesuatu. Yang diberikan

penerima gadai kepada penggadai adalah utang, bukan penukar atas barang

yang digadaikan (Syafei, 2001). Sementara itu, barang jaminan hanya

digunakan sekadar untuk memastikan bahwa orang yang berutang akan

melunasi kembali utangnya. Dengan demikian, tidak halal bagi penerima gadai

untuk mengambil manfaat dari barang gadaian karena hal tersebut akan

menjadi hal terebut sebagai piutang yang mendatangkan manfaat. Setiap

piutang yang mendatang manfaat adalah riba (Sabiq, 2011).

Kesimpulan dan Rekomendasi

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan praktik

Gala, masyarakat Aceh umumnya mendasari kepada praktik-praktik yang

dilakukan secara turun temurun tanpa melakukan evaluasi secara mendalam.

(11)

dalam konteks ekonomi Islam sehingga dalam pelaksanaannya menjurus

kepada praktik riba. Hal ini terlihat dari pemanfaatan barang jaminan oleh

pihak yang berpiutang (penerima gadai) yang menimbulkan kesulitan bagi

penggadai untuk menebus kembali barang gadaiannya. Para ulama melarang

penerima gadai untuk mengambil manfaat terhadap barang gadaian karena

konsep awal gadai (rahn) bukanlah untuk menggadakan atau menyuburkan

harta melainkan saling tolong menolong (tabarru’).

Dengan melihat konteks sekarang, penulis merekomendasikan agar objek gadai

(baca: barang gadai) tidak lagi dijadikan sebagai jaminan karena aspek legalitas

formal seperti akte, surat-surat kepemilikan, dan lain-lain dianggap lebih

penting dari pada objek barang itu sendiri. Penulis yakin bahwa dalam konsep

gadai yang benar, objek barang seharusnya tetap pada penggadai, sedangkan

penerima gadai cukup menahan surat kepemilikan atau akte yang memiliki

legalitas formal kecuali untuk kasus-kasus tertentu. Hal ini sangat mungkin

diterapkan pada konsep Gala yang dipraktikkan masyarakat Aceh karena

umumnya objek Gala adalah barang yang memiliki aspek legalitas formal

seperti tanah dan kendaraan. Dengan demikian, posisi penerima gala atau

piutang betul-betul membantu si penggala yang sedang dihadapi kesulitan

finansial.

Oleh karena itu, penulis menganjurkan agar masyarakat yang akan melakukan

praktik Gala supaya benar-benar memahami esensi gala dari awal, sehingga

tidak ada keinginan untuk mendapatkan keuntungan material yang menjurus

kepada riba. Sebaliknya, praktik gala dapat mendatangkan keuntungan spiritual

bagi pelakunya karena tujuan dasarnya adalah tolong menolong.

Selain itu, hendaklah praktik Gala ini ditentukan batas waktunya. Apabila

sampai batas waktu tersebut penggadai belum mampu melunasi/menebus

utangnya maka barang gadaian tersebut harus dijual. Jika ada yang tersisa dari

penjualan maka akan menjadi hak si penggadai sedangkan jika tidak

(12)

Daftar Pustaka

Adiwarman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, h. 192

Aries Mufti dan M. Syakir Sula, Amanah Bagi Bangsa: Konsep Sistem Ekonomi Syariah, Penerbit Masyarakat Ekonomi Syariah kerjasama dengan Bank Indonesia, dan Departemen Keuangan RI, 2007, h. 64.

Fakultas Hukum Unsyiah, Inventarisasi Hukum Adat dan Adat Provinsi Aceh Darussalam, Kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh, 2001.

Fauzi Saleh, Mawah (Opini di Harian Serambi Indonesia), Edisi 20 May 2011.

M. Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Buku 5, Terj. Mujahidin Muhayan, Cet. III, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2011, h. 134, 125, 128

M. Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, Gema Insani Pers, Jakarta, 2001, h. 97, 99.

Muliadi Kurdi, Aceh di Mata Sejarawan, LKAS, Banda Aceh, 2009.

Rachmat Syafei, Fiqh Muamalah Untuk IAIN, STAIN, PTAIS dan Umum, Pustaka Setia, Bandung, 2001, h. 224, 159, 160

Syamsuddin Mahmud, Produktivitas Kerja dan Distribusi Kekayaan dalam Sistem Ekonomi Masyarakat Aceh: Pendekatan Sosio-Kultural,

(Pengantar Buku “Horizon Ekonomi Syariah: Pemenuhan Kebutuhan dan Distribusi” oleh Zaki Fuad Chalil) Ar-Raniry Press, Banda Aceh, 2008

Referensi

Dokumen terkait

flashcard pada anak kelompok A di TK Islam Al-Hikmah Margomulyo Kerek Tuban. Media flashcard merupakan media yang berisikan kata atau rangkaian huruf pada

Jika kita menggunakan cara pertama yaitu tabel kebutuhan, banyak literatur yang menyediakan informasi mengenai kebutuhan tiap ternak baik berdasar fase fisiologis dan

Menurut peneliti senam lansia sangat penting sekali di lakukan oleh lansia agar terhindar dari resiko jatuh karena senam lansia ditujukan untuk penguatan daya

Dari hasil wawancara peneliti dengan guru tersebut diperoleh informasi bahwa kesulitan- kesulitan yang dihadapi guru dalam pembelajaran Bahasa Arab di MAN Tebing Tinggi antara

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: (1) bentuk dan proses pembentukan afiksasi verba dalam cerita rakyat berbahasa Jawa Damarwulan karya DH Sunjaya; (2)

Nampak terlihat bahwa Konverter tipe buck dengan kendali P mampu mengendalikan level tengangan sesuai referensi untuk beban RL(100Ω, 20m), sedangkan untuk beban

Identitas dan kekacauan identitas yaitu perkembangan yang terjadi selama tahun tahun masa remajaPada tahap ini, terjadi perubahan pada fisik dan jiwa di masa biologis seperti