• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Psychological Well-Being dan Job Embeddedness Terhadap Turnover Intentions Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Psychological Well-Being dan Job Embeddedness Terhadap Turnover Intentions Chapter III V"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan hal penting dalam suatu penelitian karena hal

ini sangat menentukan variabel atau objek penelitian yang akan dianalisa serta

menentukan subjek penelitian dan sumber data (Munawaroh, 2012). Pada bab ini

akan diuraikan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan metode penelitian

yang meliputi variabel penelitian, sampel penelitian, alat ukur penelitian, uji

validitas, uji reliabilitas dan metode analisa data.

A. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN

Variabel dalam penelitian diartikan sebagai faktor-faktor yang berperan

dalam peristiwa datau gejala yang akan diteliti, variabel dalam suatu penelitian

ditentukan oleh landasan teoritis dan ditegaskan oleh hipotesis penelitiannya

(Suryabrata, 2011).

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Variabel kriteria (Y) : turnover intentions

2. Variabel prediktor (X1) : psychological well-being

(2)

B. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN

Definisi operasional dari variabel - variabel dalam penelitian ini adalah:

1. Turnover intentions

Turnover intentions merupakan intensi karyawan untuk menghentikan kerja

sama dengan perusahaan tempatnya bekerja. Turnover intentions dapat diukur

dengan skala turnover intentions yang dibentuk berdasarkan perluasan

aspek-aspek intention dari theory of planned behavior Ajzen (1991), yaitu attitude

toward turnover, subjective norms towards turnover dan perceived behavioral

control towards turnover.

Tingkat turnover intentions dapat dilihat berdasarkan skor total yang

diperoleh individu dari skala ini. Semakin tinggi skor skala turnover intentions

yang diperoleh, maka semakin tinggi turnover intentions karyawan. Sebaliknya,

semakin rendah skor skala turnover intentions yang diperoleh, maka semakin

rendah turnover intentions karyawan.

2. Psychological well-being

Psychological well-being adalah persepsi karyawan mengenai kemampuan

dirinya menerima kelebihan dan kekurangan dirinya, memiliki hubungan yang

positif dengan orang lain, memiliki kemampuan untuk mengatur lingkungan

sekitarnya, mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri tanpa bergantung dengan

orang lain, memiliki tujuan hidup dan memiliki kemampuan untuk

mengembangkan potensi dalam dirinya. Psychological well-being dapat diukur

(3)

relations with other, autonomy, environmental mastery, purpose in life dan

personal growth.

Tingkat psychological well-being dapat dilihat berdasarkan skor total yang

diperoleh individu dari skala ini. Semakin tinggi skor skala psychological

well-being yang diperoleh, maka semakin tinggi psychological well-being yang

dirasakan karyawan. Sebaliknya, semakin rendah skor skala psychological

well-being yang diperoleh, maka semakin rendah psychological well-being yang

dirasakan karyawan.

3. Job embeddedness

Job embedddedness adalah persepsi karyawan untuk bertahan pada

pekerjaannya yang didalamnya mencakup faktor organisasi dan komunitas. Job

embedddedness dapat diukur dengan menggunakan skala job embedddedness

yang disusun berdasarkan dimensi-dimensi yang dikemukakan oleh Mitchell,

Holtom & Lee (2001), yaitu links-organization, links-community, fit-organization,

fit-community, sacrifice-organization dan sacrifice-community.

Tingkat job embedddedness dapat dilihat berdasarkan skor total yang

diperoleh individu dari skala ini. Semakin tinggi skor skala job embedddedness

yang diperoleh, maka semakin tinggi job embedddedness yang dialami karyawan.

Sebaliknya, semakin rendah skor job embedddedness yang diperoleh, maka

(4)

C. POPULASI DAN METODE PENGAMBILAN SAMPEL

1. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek-objek

yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari (Munawaroh, 2012). Populasi dalam penelitian ini adalah

karyawan/karyawati yang bekerja di rumah sakit Permata Bunda di kota Medan

yang berjumlah 400 karyawan. Adapun karakteristik populasi penelitian ini adalah

perempuan, laki-laki, rentang usia 20-60 tahun dengan latar belakang pendidikan

SD sampai dengan S2.

Sampel penelitian adalah sebagian dari sebuah populasi yang ingin diteliti.

Sampel yang diambil harus mencerminkan populasi penelitian agar sampel dapat

mencerminkan secara tepat populasinya (Sunyoto, 2013). Sampel dalam

penelitian ini adalah sebagian dari karyawan/karyawati yang bekerja di rumah

sakit Permata Bunda di kota Medan dengan karakteristik sampel perempuan,

laki-laki, rentang usia dari 21 tahun sampai 60 tahun dengan latar belakang pendidikan

SD sampai dengan S2.

2. Metode Pengambilan Sampel

Metode pengambilan sampel adalah cara yang digunakan untuk

memperkecil kekeliruan generalisasi dari sampel terhadap populasi dan kekeliruan

tersebut dapat diperkecil apabila diperoleh sampel yang representatif yaitu sampel

yang benar-benar mencerminkan populasinya (Sunyoto, 2013). Metode

(5)

dipilih menjadi anggota sampel (Munawaroh, 2012). Jenis probability sampling

yang digunakan adalah simple random sampling. Simple random sampling

merupakan metode pengambilan sampel dari semua anggota populasi yang

dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota

populasi. (Munawaroh, 2012).

3. Jumlah Sampel

Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 229 orang karyawan

rumah sakit Permata Bunda Medan. Sunyoto (2013) menyatakan bahwa semakin

besar sampel yang diambil maka akan semakin tinggi taraf representatif

sampelnya sehingga parameter terhadap populasi dapat dilakukan dengan akurat.

D. METODE PENGUMPULAN DATA

Metode pengumpulan data adalah cara mengumpulkan data penelitian untuk

selanjutnya akan ditarik kesimpulan sehingga dapat menjawab rumusan masalah

penelitian (Munawaroh, 2012). Sunyoto (2013) menyatakan bahwa kualitas data

penelitian ditentukan oleh kualitas alat pengambilan data, jika alat pengambil

datanya cukup reliabel dan valid maka datanya juga akan reliabel dan valid.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode skala.

Azwar (2012) menjelaskan karakteristik skala sebagai alat ukur psikologi, yaitu:

a. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung

mengungkap atribut yang hendak diukur, melainkan mengungkap indikator

(6)

b. Atribut psikologi diungkap secara tidak langsung lewat indikator-indikator

perilaku kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk aitem-aitem sehingga skala

psikologi selalu berisi banyak aitem.

c. Respon subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban benar atau salah. Semua

jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan

sungguh-sungguh. Hanya saja, jawaban yang berbeda akan diinterpretasikan berbeda

pula.

1. Skala Turnover intentions

Skala turnover intentions dalam penelitian ini disusun berdasarkan

perluasan aspek-aspek intention dari theory of planned behavior Ajzen (1991),

yaitu attitude toward turnover, subjective norms towards turnover dan perceived

behavioral control towards turnover.

Skala ini menggunakan model skala likert yang menggunakan lima pilihan

jawaban, yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), netral (N), tidak sesuai (TS) dan

sangat tidak sesuai (STS). Skala disusun dalam dua jenis aitem, yaitu favorable

(aitem yang isinya mendukung atau menggambarkan ciri atribut yang diukur) dan

unfavorable (aitem yang isinya tidak mendukung atau tidak menggambarkan ciri

atribut yang diukur). Pemberian skor dalam skala ini bergerak dari 5 sampai 1

untuk aitem favorable. Pernyataan yang sangat sesuai (SS) diberi skor 5, sesuai

(S) skornya 4, netral (N) skornya 3, tidak sesuai (TS) skornya 2 dan sangat tidak

sesuai (STS) skornya 1. Aitem yang unfavorable diberi skor yang bergerak dari 1

(7)

skornya 5.

Tabel. 1

Distribusi Aitem-Aitem Skala Turnover Intention Sebelum Uji Coba

No

2. Skala Psychological well-being

Skala psychological well-being dalam penelitian ini disusun berdasarkan

dimensi-dimensi psychological well being oleh Ryff (1989), yaitu self acceptance,

positive relations with other, autonomy, environmental mastery, purpose in life

dan personal growth Skala ini menggunakan model skala likert yang

menggunakan lima pilihan jawaban, yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), netral

(N), tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS).

Skala disusun dalam dua jenis aitem, yaitu favorable (aitem yang isinya

(8)

yang isinya tidak mendukung atau tidak menggambarkan ciri atribut yang diukur).

Pemberian skor dalam skala ini bergerak dari 5 sampai 1 untuk aitem favorable.

Pernyataan yang sangat sesuai (SS) diberi skor 5, sesuai (S) skornya 4, netral (N)

skornya 3, tidak sesuai (TS) skornya 2 dan sangat tidak sesuai (STS) skornya 1.

Aitem yang unfavorable diberi skor yang bergerak dari 1 sampai 5. Pernyataan

yang sangat sesuai (SS) diberi skor 1, sesuai (S) skornya 2, netral (N) skornya 3,

tidak sesuai (TS) skornya 4 dan sangat tidak sesuai (STS) skornya 5.

Tabel. 2

Distribusi Aitem-Aitem Skala Psychological Well-being Sebelum Uji Coba

(9)

Skala job embeddedness dalam penelitian ini disusun berdasarkan

dimensi-dimensi yang dikemukakan oleh Mitchell, Holtom & Lee (2001), yaitu

links-organization, links-community, fit-organization, fit-community,

sacrifice-organization dan sacrifice-community. Skala ini menggunakan model skala likert

yang menggunakan lima pilihan jawaban, yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S),

netral (N), tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS).

Skala disusun dalam dua jenis aitem, yaitu favorable (aitem yang isinya

mendukung atau menggambarkan ciri atribut yang diukur) dan unfavorable (aitem

yang isinya tidak mendukung atau tidak menggambarkan ciri atribut yang diukur).

Pemberian skor dalam skala ini bergerak dari 5 sampai 1 untuk aitem favorable.

Pernyataan yang sangat sesuai (SS) diberi skor 5, sesuai (S) skornya 4, netral (N)

skornya 3, tidak sesuai (TS) skornya 2 dan sangat tidak sesuai (STS) skornya 1.

Aitem yang unfavorable diberi skor yang bergerak dari 1 sampai 5. Pernyataan

yang sangat sesuai (SS) diberi skor 1, sesuai (S) skornya 2, netral (N) skornya 3,

(10)

Tabel. 3

Distribusi Aitem-Aitem Skala Job Embeddedness Sebelum Uji Coba

No Dimensi Job

E. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT UKUR 1. Validitas Alat Ukur

Validitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana sebuah instrumen

dapat mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur (Sunyoto, 2013). Tujuan

pengukuran validitas dilakukan adalah untuk mengetahui apakah sebuah skala

mampu menghasilkan data akurat yang sesuai dengan tujuan ukurnya (Azwar,

2010).

Validitas alat ukur yaitu analisa terhadap aitem untuk membuktikan

seberapa baik hasil yang diperoleh dari penggunaan alat ukur sesuai dengan teori

(11)

dalam alat ukur, peneliti membuat blueprint dan berkonsultasi dengan dosen

pembimbing (professional judgement), sehingga aitem-aitem yang dikembangkan

dari teori-teori variabel memang mengukur apa yang seharusnya diukur (Azwar,

2010).

Untuk menegakkan validitas konstruk, peneliti melakukan analisa faktor

terhadap aitem-aitem yang dikembangkan. Uji analisis faktor diawali dengan

melihat Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) untuk mengukur apakah sampel yang

digunakan dalam penelitian sudah cukup memadai. Wibisono (2013) menyatakan

bahwa criteria kesesuaian dalam penggunaan analisis faktor adalah nilai KMO >

0,5 dengan penjelasan sebagai berikut:

a. Jika nilai KMO sebesar 0,9 berarti sangat memuaskan

b. Jika nilai KMO sebesar 0,8 berarti memuaskan

c. Jika nilai KMO sebesar 0,7 berarti nilai menengah

d. Jika nilai KMO sebesar 0,6 berarti cukup

e. Jika nilai KMO sebesar 0,5 berarti kurang memuaskan

f. Jika nilai KMO kurang dari 0,5 berarti tidak dapat diterima

Langkah selanjutnya dalam uji analisis faktor adalah melihat nilai Measures

of Sampling Adequacy (MSA) dengan cara membandingkan besarnya koefisien

korelasi yang diamati dengan koefisien korelasi parsialnya. Santoso (2002)

menyatakan bahwa angka MSA berkisar antara 0 sampai 1 dengan criteria sebagai

(12)

a. Jika MSA = 1, maka variabel tersebut dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh

variabel yang lainnya.

b. Jika MSA ≥ 0,5, maka variabel tersebut masih dapat diprediksi dan dapat

dianalisis lebih lanjut.

c. Jika MSA < 0,5, maka variabel tersebut tidak dapat dianalisis lebih lanjut atau

dikeluarkan dari variabel lainnya.

Selanjutnya, uji analisis faktor dapat dilihat dari nilai factor loading yang

menunjukkan besarnya korelasi antara variabel awal dengan faktor yang

terbentuk. Santoso (2002) menyatakan bahwa validitas yang baik memiliki nilai

factor loading > 0,5.

2. Reliabilitas Alat Ukur

Sunyoto (2013) menjelaskan bahwa reliabilitas merujuk kepada konsistensi

hasil pengukuran apabila instrumen tersebut digunakan oleh orang atau kelompok

orang yang sama dalam waktu berbeda atau apabila instrumen tersebut digunakan

oleh kelompok yang berbeda dalam waktu yang sama maupun dalam waktu

berlainan. Menurut Sunyoto (2013), apabila diperoleh hasil yang konsisten dari

instrument tersebut, maka instrument tersebut dapat dipercaya (reliable) dan dapat

diandalkan (dependable).

Menurut Azwar (2012), reliabilitas dinyatakan oleh koefisien korelasi yang

angkanya berada dalam rentang 0 sampai 1,00. Semakin tinggi koefisien

reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas, sebaliknya

koefisien yang semakin rendah mendekati angka 0 menunjukkan semakin

(13)

(internal consistency) yang hanya memerlukan satu kali penyajian tes kepada

sekelompok responden (Azwar, 2012). Reliabilitas dalam penelitian ini diuji

dengan menghitung koefisien Alpha Cronbach.

3. Uji Daya Beda Aitem

Uji daya beda aitem dilakukan untuk melihat sejauh mana aitem mampu

membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan yang

tidak memiliki atribut yang diukur (Azwar, 2012). Pengujian daya beda aitem

dilakukan dengan komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor aitem

dengan suatu kriteria yang relevan, yaitu distribusi skor total skala itu sendiri

dengan menggunakan formulasi koefisien korelasi PearsonProduct Moment.

Azwar (2012) mengatakan bahwa semua aitem yang mencapai koefisien

korelasi minimal 0,30, daya pembedanya dianggap memuaskan. Pengujian daya

beda aitem pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program komputer

SPSS 20.0 for windows.

4. Hasil Uji Coba Alat Ukur

Uji coba skala turnover intention, psychological well-being dan job

embeddedness dilakukan terhadap 119 karyawan hotel di Kota Medan.

1. Skala Turnover intentions

Hasil skala uji coba turnover intentions menghasilkan 15 aitem yang

(14)

dengan koefisien reliabilitas rxx = 0,936. Koefisisen korelasi aitem-aitem yang

reliable berkisar rix = 0,561 hingga rix = 0,829.

Hasil analisis faktor skala turnover intentions menunjukkan nilai KMO dan

nilai validitas konstruk yang baik pada tiap dimensi. Pada dimensi attitude toward

turnover, diperoleh nilai KMO sebesar 0,820, nilai MSA bergerak dari 0,786

sampai dengan 0,886 dan nilai factor loading bergerak dari 0,626 sampai dengan

0,870. Pada dimensi subjective norms toward turnover, diperoleh nilai KMO

sebesar 0,816, nilai MSA bergerak dari 0,776 sampai dengan 0,880 dan nilai

factor loading bergerak dari 0,738 sampai dengan 0,895. Pada dimensi perceived

behavior control toward turnover, diperoleh nilai KMO sebesar 0,739, nilai MSA

bergerak dari 0,618 sampai dengan 0,815 dengan nilai factor loading bergerak

dari 0,555 sampai dengan 0,782.

Berdasarkan hasil analisis faktor diketahui bahwa setiap dimensi memenuhi

batasan nilai KMO ≥ 0,5. Hal ini menunjukkan bahwa sampel yang digunakan

sudah memadai (Wibisono, 2003). Hasil analisa faktor juga menunjukkan bahwa

dari 15 aitem yang memiliki nilai daya beda yang tinggi tetap diperoleh 15 aitem

yang nilai factor loadingnya memenuhi syarat ≥ 0,5. Batasan nilai factor loading yang baik adalah ≥ 0,5, yang berarti memiliki korelasi yang baik dan memenuhi

syarat valid (Santoso, 2002). Distribusi aitem skala setelah uji coba ditunjukkan

(15)

Distribusi Aitem-Aitem Skala Turnover Intention Setelah Uji Coba dan

Hasil skala uji coba psychological well-being menghasilkan 30 aitem yang

diterima dari 30 aitem yang diuji cobakan. Indeks diskriminasi aitem rix ≥ 0,3

dengan koefisien reliabilitas rxx = 0,966. Koefisisen korelasi aitem-aitem yang

reliable berkisar rix = 0,391 hingga rix = 0,868.

Hasil analisis faktor skala psychological well-being menunjukkan nilai

KMO dan nilai validitas konstruk yang baik pada tiap dimensi. Pada dimensi self

acceptance, diperoleh nilai KMO sebesar 0,727, nilai MSA bergerak dari 0,685

sampai dengan 0,800 dan nilai factor loading bergerak dari 0,676 sampai dengan

0,753. Pada dimensi positive relations with others, diperoleh nilai KMO sebesar

(16)

loading bergerak dari 0,704 sampai dengan 0,773. Pada dimensi autonomy,

diperoleh nilai KMO sebesar 0,709, nilai MSA bergerak dari 0,644 sampai dengan

0,779 dan nilai factor loading bergerak dari 0,599 sampai dengan 0,890. Pada

dimensi environmental mastery, diperoleh nilai KMO sebesar 0,817, nilai MSA

bergerak dari 0,804 sampai dengan 0,839 dan nilai factor loading bergerak dari

0,626 sampai dengan 0,776. Pada dimensi purpose in life, diperoleh nilai KMO

sebesar 0,887, nilai MSA bergerak dari 0,853 sampai dengan 0,925 dan nilai

factor loading bergerak dari 0,839 sampai dengan 0,904. Pada dimensi personal

growth, diperoleh nilai KMO sebesar 0,806, nilai MSA bergerak dari 0,754

sampai dengan 0,889 dan nilai factor loading bergerak dari 0,536 sampai dengan

0,884.

Berdasarkan hasil analisis faktor diketahui bahwa setiap dimensi memenuhi

batasan nilai KMO ≥ 0,5. Hal ini menunjukkan bahwa sampel yang digunakan

sudah memadai (Wibisono, 2003). Hasil analisa faktor juga menunjukkan bahwa

dari 15 aitem yang memiliki nilai daya beda yang tinggi tetap diperoleh 30 aitem

yang nilai factor loadingnya memenuhi syarat ≥ 0,5. Batasan nilai factor loading yang baik adalah ≥ 0,5, yang berarti memiliki korelasi yang baik dan memenuhi

syarat valid (Santoso, 2002). Distribusi aitem skala setelah uji coba ditunjukkan

(17)

Distribusi Aitem-Aitem Skala Psychological Well-being Setelah Uji Coba dan

dengan koefisien reliabilitas rxx = 0,946. Koefisisen korelasi aitem-aitem yang

reliable berkisar rix = 0,355 hingga rix = 0,852.

Hasil analisis faktor skala job embeddedness menunjukkan nilai KMO dan

nilai validitas konstruk yang baik pada tiap dimensi. Pada dimensi

(18)

sampai dengan 0,891 dan nilai factor loading bergerak dari 0,672 sampai dengan

0,908. Pada dimensi links-community, diperoleh nilai KMO sebesar 0,687, nilai

MSA bergerak dari 0,657 sampai dengan 0,727 dan nilai factor loading bergerak

dari 0,578 sampai dengan 0,819. Pada dimensi fit-organization, diperoleh nilai

KMO sebesar 0,726, nilai MSA bergerak dari 0,678 sampai dengan 0,808 dan

nilai factor loading bergerak dari 0,623 sampai dengan 0,860. Pada dimensi

fit-community, diperoleh nilai KMO sebesar 0,584, nilai MSA bergerak dari 0,561

sampai dengan 0,632 dan nilai factor loading bergerak dari 0,633 sampai dengan

0,783. Pada dimensi sacrifice-organization, diperoleh nilai KMO sebesar 0,641,

nilai MSA bergerak dari 0,620 sampai dengan 0,684 dan nilai factor loading

bergerak dari 0,617 sampai dengan 0,748. Pada dimensi sacrifice-community,

diperoleh nilai KMO sebesar 0,607, nilai MSA bergerak dari 0,574 sampai dengan

0,706 dan nilai factor loading bergerak dari 0,599 sampai dengan 0,892.

Berdasarkan hasil analisis faktor diketahui bahwa setiap dimensi memenuhi

batasan nilai KMO ≥ 0,5. Hal ini menunjukkan bahwa sampel yang digunakan

sudah memadai (Wibisono, 2003). Hasil analisa faktor juga menunjukkan bahwa

dari 25 aitem yang memiliki nilai daya beda yang tinggi tetap diperoleh 25 aitem

yang nilai factor loadingnya memenuhi syarat ≥ 0,5. Batasan nilai factor loading yang baik adalah ≥ 0,5, yang berarti memiliki korelasi yang baik dan memenuhi

syarat valid (Santoso, 2002). Distribusi aitem skala setelah uji coba ditunjukkan

(19)

Distribusi Aitem-Aitem Skala Job Embeddedness Setelah Uji Coba dan

Sebelum melakukan uji coba alat ukur, terlebih dahulu peneliti menyiapkan

alat ukur yang akan digunakan. Peneliti menggunakan tiga alat ukur, yaitu skala

turnover intentions, skala psychological well-being dan skala job embeddedness.

Skala turnover intentions merupakan skala yang disusun oleh peneliti berdasarkan

perluasan aspek-aspek intention dari theory of planned behavior Ajzen (1991),

yaitu attitude toward turnover, subjective norms towards turnover dan perceived

(20)

well-being merupakan skala yang disusun oleh peneliti berdasarkan

dimensi-dimensi psychological well-being oleh Ryff (1989), yaitu self acceptance, positive

relations with other, autonomy, environmental mastery, purpose in life dan

personal growth dengan jumlah 30 aitem. Skala job embeddedness merupakan

skala yang disusun oleh peneliti berdasarkan dimensi-dimensi yang dikemukakan

oleh Mitchell, Holtom & Lee (2001), yaitu links-organization, links-community,

fit-organization, fit-community, sacrifice-organization dan sacrifice-community

dengan jumlah 30 aitem. Penyusunan ketiga skala tersebut didahului dengan

pembuatan blueprint dan dengan bantuan professional judgement, yaitu dosen

pembimbing peneliti.

2. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan menyebarkan skala alat ukur

kepada dua ratus dua puluh sembilan subjek penelitian, yaitu karyawan/karyawati

yang bekerja di rumah sakit Permanta Bunda di kota Medan. Skala disebarkan

dengan terlebih dahulu mengurus surat izin untuk pengambilan data.

3. Tahap Pengolahan Data

Pengolahan data dalam penelitian ini dianalisis dengan bantuan SPSS 20.0

for windows.

G. METODE ANALISIS DATA

Analisis data adalah rangkaian kegiatan pengolahan data agar rumusan

masalah penelitian dapat terpecahkan, hipotesis penelitian dapat dibuktikan atau

(21)

akan dihasilkan dalam bentuk angka-angka (Suryabrata, 2011).

Penelitian ini menggunakan teknik analisa multiple regression (regresi

berganda. Sebelum menganalisis data, maka terlebih dahulu dilakukan uji asumsi

yang meliputi:

1. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diambil

berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam

penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan

bantuan SPSS 20.0 for windows. Data dikatakan normal jika p > 0.05.

2. Uji Linieritas

Uji linieritas dilakukan untuk melihat apakah hubungan antara variabel

dependen dengan variabel independen bersifat garis lurus. Uji linieritas dalam

penelitian ini menggunakan uji F dengan bantuan program SPSS 20.0 for

windows. Hubungan anatara variabel dikatakan linier jika p < 0.05.

3. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi

linier terdapat korelasi antar satu variabel error dengan variabel error yang lain.

Uji autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan uji Durbin-Watson dengan

(22)

4. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan untuk melihat apakah ditemukan korelasi

antar variabel bebas. Multikolinearitas dapat dilihat dari nilai tolerance atau

variance inflation factor (VIF). Jika tolerance lebih dari 10% atau VIF kurang

dari 10% maka dapat dikatakan tidak ada multikolinearitas.

5. Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas dilakukan untuk melihat apakah dalam model regresi

terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan

lainnya. Uji heterokedastisitas dalam penelitian ini menggunakan uji Glejser

(23)

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan gambaran dan pembahasan sesuai dengan data

yang diperoleh saat pengambilan data penelitian. Pembahasan akan dimulai

dengan memaparkan gambaran umum mengenai subjek penelitian dan hasil utama

dari penelitian hingga pembahasan.

A. ANALISA DATA

1. Gambaran Umum Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini berjumlah 229 orang karyawan Rumah Sakit

Permata Bunda Medan. Dari subjek penelitian tersebut diperoleh gambaran subjek

menurut usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan.

a. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia

Berdasarkan usia subjek penelitian, maka diperoleh penyebaran subjek

penelitian sebagai berikut:

Tabel 7

Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia

Usia Jumlah (N) Persentase

20-40 tahun 152 66,4%

41-60 tahun 77 33,6%

(24)

Havighurst, 1991 ; Papalia, Olds, & Feldman, 2008 mengemukakan teori

perkembangan dimana rentang usia 20 – 40 tahun adalah periode masa dewasa

muda, sedangkan rentang usia 40 – 60 tahun dinamakan periode masa dewasa

madya. Berdasarkan data pada tabel 7 dapat dilihat bahwa subjek yang berada

pada periode dewasa muda (20 – 40 tahun) lebih banyak yaitu sebesar 66,4%

daripada subjek yang berada pada periode dewasa madya (40 – 60 tahun) yaitu

sebesar 33,6%.

b. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan jenis kelamin diperoleh penyebaran subjek penelitian sebagai

berikut :

Tabel 8

Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah (N) Persentase

Laki-laki 90 39,31%

Perempuan 139 60,69%

Total 229 100%

Berdasarkan data pada tabel 8 di atas, dapat dilihat bahwa subjek dengan

jenis kelamin perempuan lebih banyak jumlahnya yaitu sebanyak 139 orang

dengan persentase 60,69%, sedangkan jumlah subjek dengan jenis kelamin

(25)

Berdasarkan tingkat pendidikan diperoleh penyebaran subjek penelitian

sebagai berikut :

Tabel 9

Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan Jumlah (N) Persentase

SD 2 0,87%

SMP 9 3,93%

SMA/ Sederajat 67 29,26%

D1 10 4,36%

D3 110 48,03%

S1 29 12,66%

S2 2 0,87%

Total 229 100%

Berdasarkan tabel 9 diatas dapat dilihat bahwa subjek yang memiliki

tingkat pendidikan paling banyak adalah D3 yaitu 48,03%, tingkat pendidikan

SMA dengan persentase 29,26 %, tingkat pendidikan S1 dengan persentase

12,66%, tingkat pendidikan D1 dengan persentase 4,36%, tingkat pendidikan

SMP dengan persentase 3,93%, dan yang memiliki tingkat pendidikan paling

(26)

B. HASIL UJI ASUMSI

Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Std.

Error

berada diantara -2 dan 2 maka sebaran dinyatakan normal dan sebaliknya jika skor

skewness dan kurtosis <-2 atau >2 maka sebaran dinyatakan tidak normal.

Hasil uji coba terhadap variabel psychological well-being diperoleh skor

skewness (-0,022 : 0,161) = -0,136 dan skor kurtosis (-0,279 : 0,320) = -0,87.

Hasil ini menunjukkan bahwa skor skewness dan kurtosis berada diantara -2 dan

2, maka data variabel psychological well-being terdistribusi secara normal.

Hasil uji coba terhadap variabel job embeddedness diperoleh skor skewness

(-0,282 : 0,161) = -1,75 dan skor kurtosis (-0,549 : 0,320) = -1,71. Hasil ini

menunjukkan bahwa skor skewness dan kurtosis berada diantara -2 dan 2, maka

(27)

(0,062 : 0,161) = 0,385 dan skor kurtosis (-0,381 : 0,320) = -1,19. Hasil ini

menunjukkan bahwa skor skewness dan kurtosis berada diantara -2 dan 2, maka

data variabel turnover intentions terdistribusi secara normal.

2. Uji Linearitas

Deviation from Linearity 1.277 .131

Within Groups

Deviation from Linearity 1.211 .199

Within Groups

Total

Uji linearitas merupakan suatu upaya untuk memenuhi salah satu asumsi

analisis regresi linear yang mensyaratkan adanya hubungan variabel tergantung

dan variabel bebas yang saling membentuk kurva linear. Kurva linear dapat

(28)

kenaikan/penurunan variabel tergantung. Uji linearitas menggunakan bantuan

SPSS version 20.0 for Windows dengan menggunakan Compare Means test for

linearity. Data dikatakan linear jika nilai signifikansi untuk kolom linearity

kurang dari 0,05 ( p < 0.05). Pada tabel terlihat bahwa p = 0,00 (p<0,05) yang

artinya uji asumsi linearitas terpenuhi.

3. Uji Autokorelasi

a. Predictors: (Constant), JE, PWB

b. Dependent Variable: TI

Salah satu prasyarat yang harus dipenuhi dalam model regresi adalah tidak

adanya autokorelasi di dalamnya. Autokorelasi adalah hubungan antara nilai-nilai

yang dipisahkan satu sama lain dengan jeda waktu tertentu. Melalui uji

autokorelasi diketahui ada atau tidaknya korelasi antar residual (prediction error)

pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Untuk uji

autokorelasi digunakan uji Durbin-Watson. Uji autokorelasi menggunakan

bantuan SPSS version 20.0 for Windows. Autokorelasi tidak terjadi jika nilai

Durbin-Watson berada diantara -2 dan +2. Hasil uji coba autokorelasi diperoleh

nilai Durbin-Watson (DW) sebesar 1,002, dimana nilai tersebut berada diantara -2

(29)

Gambar 2

Hasil Uji Heterokedastisitas

Heterokedastisitas adalah varian residual yang tidak konsisten pada regresi

sehingga akurasi hasil prediksi menjadi meragukan. Kondisi ini dapat

menyebabkan : (1) Penaksiran (estimator) yang diperoleh menjadi tidak efisien.

Hal ini disebabkan oleh varians yang tidak efisien, dan (2) Kesalahan baku

koefisien regresi akan terpengaruh sehingga memberikan indikasi yang salah.

Dengan demikian koefisien determinasi memperlihatkan daya penjelasan yang

terlalu besar. Uji heterokedastisitas menggunakan bantuan SPSS version 20.0 for

Windows dengan menggunakan Linear Regression Plot. Data dikatakan

mengalami heterokedastisitas apabila diagram pencar residual membentuk pola

(30)

heterokedastisitas tidak membentuk pola tertentu yang artinya uji asumsi ini

terpenuhi.

5. Uji Multikolineritas

Tabel 13

Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1

PWB .942 1.061

JE .942 1.061

a. Dependent Variable: TI

Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui apakah sesama variabel

bebas (dalam hal ini adalah antara psychological well-being dan job

embeddedness) berhubungan satu sama lain yang mendekati sempurna. Uji

multikolinearitas menggunakan bantuan SPSS version 20.0 for Windows dengan

menggunakan Linear Regression Statistics. Data dikatakan tidak mengalami

multikolinearitas jika nilai VIF< 10 dan tolerance-nya > 0,1 pada Collinear

Diagnostics yang mendekati 0. Pada tabel terlihat bahwa nilai VIF = 1,061 (VIF <

10) dan nilai tolerance = 0,942 (tolerance >0,1). Hasil ini menunjukkan bahwa

kedua variabel bebas (psychological well-being dan job embeddedness) tidak

(31)

1. Hasil Analisis Data

a. Pengaruh Psychological Well-being terhadap Turnover Intentions

Sebelum melakukan analisis regresi sederhana untuk melihat pengaruh

psychological well-being terhadap turnover intention, dilakukan terlebih dahulu

analisis korelasi dengan partial correlation untuk melihat hubungan antara

psychological well-being dengan turnover intention.

Tabel 14

Hasil Analisis Korelasi Psychological well-being dan Turnover Intention

Coefficientsa

Model Sig. Correlations

Zero-order Partial Part

1

(Constant) .000

PWB .000 -.314 -.231 -.200

JE .000 -.499 -.460 -.437

a. Dependent Variable: TI

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai partial correlation antara

psychological well-being dan turnover intentions r = -0,231 dan p = 0,000, yang

berarti ada hubungan negatif antara psychological well-being dan turnover

intention. Selanjutnya dilakukan analisis regresi sederhana dengan hasil di bawah

ini.

Tabel 15

Hasil Analisis Regresi Psychological well-being dan Turnover Intention

(32)

Tabel 16

Hasil Uji Nilai F Psychological well-being dan Turnover Intention

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 1717.712 1 1717.712 24.883 .000b

Residual 15670.043 227 69.031

Total 17387.755 228

a. Dependent Variable: TI b. Predictors: (Constant), PWB

Berdasarkan hasil perhitungan didapat nilai F = 24,883 dan p = 0,000. Hasil

analisis regresi pada tabel di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi (R)

sebesar 0,314, dan nilai koefisien dterminan (R2) sebesar 0,099 atau 9,9% yang

artinya variabel psychological well-being memberikan pengaruh sebesar 9,9%

terhadap turnover intentions.

Berdasarkan tabel korelasi dan tabel regresi di atas dapat disimpulkan

bahwa ada pengaruh negatif antara psychological well-being dan turnover

intention, dimana psychological well-being memberikan kontribusi sebesar 9,9%

terhadap turnover intentions, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima.

Tabel 17

Koefisien Regresi Psychological well-being dan Turnover Intention

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

Berdasarkan tabel coefficients hasil analisis regresi psychological well-being

(33)

dengan (X). Berdasarkan persamaan garis regresi dapat dijelaskan bahwa

konstanta sebesar 66,065, artinya jika psychological well-being (X) memiliki nilai

0 maka turnover intentions (Y) adalah sebesar 66,065 satuan.

b. Pengaruh Job Embeddedness terhadap Turnover Intention

Sebelum melakukan analisis regresi sederhana untuk melihat pengaruh job

embeddedness terhadap turnover intention, dilakukan terlebih dahulu analisis

korelasi dengan partial correlation untuk melihat hubungan antara job

embeddedness dengan turnover intention.

Tabel 18

Hasil Analisis Korelasi Job Embeddedness dan Turnover Intention

Coefficientsa

Model Sig. Correlations

Zero-order Partial Part

1

(Constant) .000

PWB .000 -.314 -.231 -.200

JE .000 -.499 -.460 -.437

a. Dependent Variable: TI

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai partial correlation

antara job embeddedness dan turnover intentions r = -0,460 dan p = 0,000, yang

berarti ada hubungan negatif antara job embeddedness dan turnover intention.

(34)

Tabel 19

Hasil Analisis Regresi Job Embeddedness dan Turnover Intention

Model Summary

Hasil Uji Nilai F Job Embeddedness dan Turnover Intention

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 4337.960 1 4337.960 75.458 .000b

Residual 13049.795 227 57.488

Total 17387.755 228

a. Dependent Variable: TI b. Predictors: (Constant), JE

Berdasarkan hasil perhitungan didapat nilai F = 75,458 dan p = 0,000. Hasil

analisis regresi pada tabel di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi (R)

sebesar 0,449, dan nilai koefisien determinan (R2) sebesar 0,249 atau 24,9% yang

artinya variabel job embeddedness memberikan pengaruh sebesar 24,9% terhadap

turnover intentions.

Berdasarkan tabel korelasi dan tabel regresi di atas dapat disimpulkan

bahwa ada pengaruh negatif antara job embeddedness dan turnover intention,

dimana job embeddedness memberikan kontribusi sebesar 24,9% terhadap

(35)

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

Berdasarkan tabel coefficients hasil analisis regresi job embeddedness dan

turnover intention diperoleh persamaan Y = 86,205 - 0,453X. Turnover intentions

dilambangkan dengan (Y) dan job embeddedness dilambangkan dengan (X).

Berdasarkan persamaan garis regresi dapat dijelaskan bahwa konstanta sebesar

86,205, artinya jika job embeddedness (X) memiliki nilai 0 maka turnover

intentions (Y) adalah sebesar 86,205 satuan.

c. Pengaruh Psychological Well-being dan Job Embeddedness terhadap Turnover Intention

Untuk melihat pengaruh psychological well-being dan job embeddedness

secara bersama-sama terhadap turnover intention dilakukan analisis regresi

berganda dengan metode enter.

Tabel 22

(36)

Tabel 23

Hasil Uji Nilai F Psychological Well-being dan Job Embeddedness terhadap Turnover Intention

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 5034.471 2 2517.235 46.052 .000b

Residual 12353.284 226 54.661

Total 17387.755 228

a. Dependent Variable: TI

b. Predictors: (Constant), JE, PWB

Berdasarkan hasil perhitungan didapat nilai F = 46,052 dan p = 0,000. Hasil

analisis regresi berganda pada tabel di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien

korelasi (R) sebesar 0,538, dan nilai koefisien determinan (R2) sebesar 0,290 atau

29% yang artinya ada pengaruh psychological well-being dan job embeddedness

terhadap turnover intention, dimana psychological well-being dan job

embeddedness memberikan kontribusi sebesar 29% terhadap turnover intentions,

sehingga H0 ditolak dan H3 diterima.

Tabel 24

Koefisien Regresi Psychological well-being dan Job Embeddedness terhadap Turnover Intention

Coefficientsa

(37)

psychological well-being dan job embeddedness dengan turnover intention,

diperoleh persamaan Y = 98,487 – 0,408 XI – 0,162 X2. Konstanta sebesar

98,487 menyatakan bahwa jika variabel psychological well-being dan job

embeddedness bernilai nol, maka turnover intention adalah sebesar 98,487 satuan.

2. Hasil Tambahan Penelitian

a. Pengaruh On-the-job Embeddedness terhadap turnover intention

Sebelum melakukan analisis regresi sederhana untuk melihat pengaruh

on-the job embeddedness terhadap turnover intention, dilakukan terlebih dahulu

analisis korelasi pearson product moment untuk melihat hubungan antara on-the

job embeddedness dengan turnover intention.

Tabel 25

Hasil Analisis Korelasi On-theJob Embeddedness dan Turnover Intention

Correlations

OJE TI

OJE

Pearson Correlation 1 -.446**

Sig. (2-tailed) .000

N 229 229

TI

Pearson Correlation -.446** 1

Sig. (2-tailed) .000

N 229 229

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai r = -0,446 dan p = 0,000,

yang berarti ada hubungan negatif antara on-the-job embeddedness dan turnover

intention. Selanjutnya dilakukan analisis regresi sederhana dengan hasil di bawah

(38)

Tabel 26

Hasil Analisis Regresi On-the-job Embeddedness dan Turnover Intention

Model Summary

Hasil Uji Nilai F On-the-job Embeddedness dan Turnover Intention

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 3454.760 1 3454.760 56.286 .000b

Residual 13932.996 227 61.379

Total 17387.755 228

a. Dependent Variable: TI b. Predictors: (Constant), OJE

Berdasarkan hasil perhitungan didapat nilai F = 56,286 dan p = 0,000. Hasil

analisis regresi pada tabel di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi (R)

sebesar 0,446, dan nilai koefisien determinan (R2) sebesar 0,199 atau 19,9% yang

artinya on-the-job embeddedness memberikan pengaruh sebesar 19,9% terhadap

turnover intentions.

Berdasarkan tabel korelasi dan tabel regresi di atas dapat disimpulkan

bahwa ada pengaruh negatif antara on-the-job embeddedness dan turnover

intention, dimana on-the-job embeddedness memberikan kontribusi sebesar 19,9%

(39)

Koefisien Regresi On-the Job Embeddedness dan Turnover Intention

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 76.762 4.872 15.757 .000

OJE -.644 .086 -.446 -7.502 .000

a. Dependent Variable: TI

Berdasarkan tabel coefficients hasil analisis regresi on-the-job

embeddedness dan turnover intention diperoleh persamaan Y = 76,762 - 0,644X.

Turnover intentions dilambangkan dengan (Y) dan on-the-job embeddedness

dilambangkan dengan (X). Berdasarkan persamaan garis regresi dapat dijelaskan

bahwa konstanta sebesar 76,762, artinya jika on-the-job embeddedness (X)

memiliki nilai 0 maka turnover intentions (Y) adalah sebesar 76,762 satuan.

b. Pengaruh Off-the-job Embeddedness terhadap Turnover Intention

Sebelum melakukan analisis regresi sederhana untuk melihat pengaruh

off-the-job embeddedness terhadap turnover intention, dilakukan terlebih dahulu

analisis korelasi pearson product moment untuk melihat hubungan antara off-the

(40)

Tabel 29

Hasil Analisis Korelasi Off-the-job Embeddedness dan Turnover Intention

Correlations

TI CJE

TI

Pearson Correlation 1 -.495**

Sig. (2-tailed) .000

N 229 229

CJE

Pearson Correlation -.495** 1

Sig. (2-tailed) .000

N 229 229

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai r = -0,495 dan p = 0,000,

yang berarti ada hubungan negatif antara off-the-job embeddedness dan turnover

intention. Selanjutnya dilakukan analisis regresi sederhana dengan hasil di bawah

ini.

Tabel 30

Hasil Analisis Regresi Off-the job Embeddedness dan Turnover Intention

Model Summary

Hasil Uji Nilai F Off-the job Embeddedness dan Turnover Intention

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 4257.734 1 4257.734 73.610 .000b

Residual 13130.021 227 57.842

Total 17387.755 228

(41)

analisis regresi pada tabel di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi (R)

sebesar 0,495, dan nilai koefisien determinan (R2) sebesar 0,245 atau 24,5% yang

artinya variabel off-the-job embeddedness memberikan pengaruh sebesar 24,5%

terhadap turnover intentions.

Berdasarkan tabel korelasi dan tabel regresi di atas dapat disimpulkan

bahwa ada pengaruh negatif antara off-the-job embeddedness dan turnover

intention, dimana job embeddedness memberikan kontribusi sebesar 24,5%

terhadap turnover intentions

Tabel 32

Koefisien Regresi Off-the-job Embeddedness dan Turnover Intention

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1

(Constant) 85.548 5.284 16.190 .000

CJE -1.009 .118 -.495 -8.580 .000

a. Dependent Variable: TI

Berdasarkan tabel coefficients hasil analisis regresi off-the-job

embeddedness dan turnover intention diperoleh persamaan Y = 85,548 – 1,009X.

Turnover intentions dilambangkan dengan (Y) dan off-the-job embeddedness

dilambangkan dengan (X). Berdasarkan persamaan garis regresi dapat dijelaskan

bahwa konstanta sebesar 85,548, artinya jika off-the-job embeddedness (X)

(42)

3. Nilai Empirik dan Nilai HipotetikData Penelitian

a. Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik Turnover Intentions

Jumlah aitem yang digunakan untuk mengungkapkan variabel turnover

intentions adalah sebanyak 15 aitem yang diformat dengan skala Likert dalam

lima alternatif pilihan jawaban. Hasil perhitungan mean empirik dan mean

hipotetik dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 33

Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik Turnover Intentions

Variabel Nilai Empirik Nilai Hipotetik

Min Max Mean SD Min Max Mean SD

Turnover Intentions

15 60 40,42 8,733 15 75 45 10

Berdasarkan tabel diatas diperoleh mean empirik (X) sebesar 40,42 dengan

SD empirik (s) sebesar 8,733, sedangkan mean hipotetik (µ) sebesar 45 dengan

SD hipotetik (σ) sebesar 10.

Perbandingan mean empirik (X) dan mean hipotetik (µ) dari variabel

turnover intention menunjukkan X (40,42) < µ (45), mean empirik lebih kecil dari

mean hipotetik. Hasil ini menunjukkan bahwa subjek penelitian memiliki rata-rata

turnover intention dalam kategori sedang.

b. Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik Psychological well-being

Jumlah aitem yang digunakan untuk mengungkapkan variabel psychological

(43)

hipotetik dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 34

Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik Psychological Well-being

Variabel Nilai Empirik Nilai Hipotetik

Min Max Mean SD Min Max Mean SD

Psychological well-being

76 140 103,54 11,082 30 150 90 20

Berdasarkan tabel diatas diperoleh mean empirik (X) sebesar 103,54 dengan

SD empirik (s) sebesar 11,082, sedangkan mean hipotetik (µ) sebesar 90 dengan

SD hipotetik (σ) sebesar 20.

Perbandingan mean empirik (X) dan mean hipotetik (µ) dari variabel

psychological well-being menunjukkan X (103,54) > µ (90), mean empirik lebih

besar dari mean hipotetik. Hasil ini menunjukkan bahwa subjek penelitian

memiliki rata-rata psychological well-being dalam kategori sedang.

c. Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik Job Embeddedness

Jumlah aitem yang digunakan untuk mengungkapkan variabel job

embeddedness adalah sebanyak 25 aitem yang diformat dengan skala Likert dalam

lima alternatif pilihan jawaban. Hasil perhitungan mean empirik dan mean

(44)

Tabel 35

Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik Job Embeddedness

Variabel Nilai Empirik Nilai Hipotetik

Min Max Mean SD Min Max Mean SD

Job Embeddedness

76 121 101,15 9,636 25 125 75 16,67

Berdasarkan tabel diatas diperoleh mean empirik (X) sebesar 101,15 dengan

SD empirik (s) sebesar 9,636, sedangkan mean hipotetik (µ) sebesar 75 dengan

SD hipotetik (σ) sebesar 16,67.

Perbandingan mean empirik (X) dan mean hipotetik (µ) dari variabel job

embeddedness menunjukkan X (101,15) > µ (75), mean empirik lebih besar dari

mean hipotetik. Hasil ini menunjukkan bahwa subjek penelitian memiliki rata-rata

job embeddedness dalam kategori tinggi.

4. Kategorisasi Data Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilakukan pengelompokan yang mengacu

pada kriteria pengkategorisasian yang didasarkan pada asumsi bahwa skor subjek

penelitian terditribusi secara normal (Azwar, 2012). Kriteria dibagi atas tiga

kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi.

a. Kategorisasi Data Hipotetik Turnover Intention

Berdasarkan deskripsi nilai hipotetik turnover intention yang dapat dilihat

pada tabel 32, maka dapat dihitung norma kategorisasi jenjang. Hasilnya adalah

(45)

Kategorisasi Data Hipotetik Turnover Intention

Variabel Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase

Turnover Intention

X < 35 Rendah 67 29,26%

35 ≥ X < 55 Sedang 150 65,50%

X ≥ 55 Tinggi 12 5,24%

Total 229 100 %

Berdasarkan kategorisasi pada tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian

besar karyawan yang memiliki turnover intention termasuk ke dalam kategori

sedang (65,50 %), kemudian 29,26 % termasuk kedalam kategori rendah dan 5,24

% kategori tinggi.

b. Kategorisasi Data Hipotetik Psychological Well-being

Berdasarkan deskripsi nilai hipotetik psychological well-being yang dapat

dilihat pada tabel 33, maka dapat dihitung norma kategorisasi jenjang. Hasilnya

adalah sebagai berikut.

Tabel 37

Kategorisasi Data Hipotetik Psychological Well-being

Variabel Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase

Psychological

Berdasarkan kategorisasi pada tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian

(46)

kategori sedang (68,12 %), kemudian 31,87 % termasuk kedalam kategori tinggi

dan 0 % kategori rendah.

c. Kategorisasi Data Hipotetik Job Embeddedness

Berdasarkan deskripsi nilai hipotetik job embeddedness yang dapat dilihat

pada tabel 34, maka dapat dihitung norma kategorisasi jenjang. Hasilnya adalah

sebagai berikut.

Tabel 38

Kategorisasi Data Hipotetik Job Embeddedness

Variabel Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase

Job Embeddedness

X < 58,3 Rendah -

58,3 ≥ X < 91,7 Sedang 42 18,34%

X ≥ 91,7 Tinggi 187 81,66%

Total 229 100 %

Berdasarkan kategorisasi pada tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian

besar karyawan yang merasakan job embedddedness termasuk ke dalam kategori

tinggi (81,66 %), kemudian 18,34 % termasuk kedalam kategori sedang dan 0 %

kategori rendah.

D. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian yang dilakukan pada pegawai rumah sakit menunjukkan

bahwa ada pengaruh negatif psychological well-being terhadap turnover intention.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological well-being berkorelasi

negatif dengan turnover intention yang ditunjukkan dengan nilai p (0,000) < 0,05

dan memiliki nilai r = -0,314. Selanjutnya hasil analisis regresi menunjukkan

(47)

determinan (R2) sebesar 0,099 atau 9,9%. Artinya variabel psychological

well-being mempengaruhi variabel turnover intention sebesar 9,9%, bahwa semakin

kuat psychological well-being yang dirasakan karyawan maka akan semakin

rendah turnover intention.

Hasil pengujian penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Vaart, Linde,

Beer & Cockeran (2014) bahwa psychological well-being dapat memprediksikan

turnover intention karyawan. Selanjutnya penelitian yang mendukung hasil

pengujian penelitian ini adalah Page dan Vella-Brodrick (2009) dalam hasil

penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang kuat antara

psychological well-being dan turnover intentions.

Beberapa alasan yang dapat menjelaskan pengaruh negatif psychological

well-being terhadap turnover intention.

Pertama, karyawan yang memiliki psychological well-being yang baik akan

memiliki komitmen yang baik dengan organisasi tempatnya bekerja, hal ini

didukung dengan hasil penelitian Jain, Giga & Cooper (2008) yang menunjukkan

bahwa psychological well-being memiliki hubungan positif dengan komitmen

karyawan. Price (2001) mengemukakan bahwa salah satu faktor yang memberikan

dukungan negatif terhadap turnover adalah komitmen organisasi. Dalam studi

Koslowsky, Weisberg, Yaniv, Zaitman-Speiser (2012) mengemukakan bahwa

karyawan yang komitmen terhadap organisasinya dan melihat masa depan dengan

(48)

kemungkinan-kemungkinan yang ada di luar organisasi sehingga akan lebih besar

kemungkinan karyawan tersebut untuk tetap bertahan pada organisasinya.

Kedua, karyawan yang memiliki psychological well-being yang baik akan

menunjukkan performa yang baik dalam pekerjaannya, hal ini didukung dengan

hasil penelitian Polatci & Akdogan (2014) yang menunjukkan bahwa

psychological well-being berhubungan positif dan dapat memprediksikan

performa karyawan, ketika psychological well-being seseorang meningkat maka

performa karyawan juga akan meningkat. Hasil penelitian Wilson (2006)

mengemukakan bahwa terdapat korelasi negatif antara performa dengan turnover

intention.

Ketiga, karyawan yang memiliki psychological well-being yang baik akan

memiliki kepuasan kerja yang baik, hal ini sejalan dengan hasil penelitian Chitra

& Karunanidhi (2013) yang mengemukakan bahwa terdapat hubungan positif

antara psychological well-being dan kepuasan kerja. Price (2001) mengemukakan

salah satu faktor yang memiliki hubungan negatif dengan turnover adalah

kepuasan kerja. Hasil penelitian Zhang & Feng (2011) mengemukakan bahwa

kepuasan kerja memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan turnover

intention, dan menyimpulkan bahwa karyawan yang merasa tidak puas dengan

pekerjaannya termasuk reward dan tim kerja akan memunculkan intensi untuk

keluar dari pekerjaannya.

Hasil penelitian selanjutnya pada pegawai rumah sakit menunjukkan bahwa

ada pengaruh negatif job embeddedness terhadap turnover intention. Hasil

(49)

nilai r = -0,499. Selanjutnya hasil analisis regresi menunjukkan bahwa terdapat

pengaruh job embeddedness terhadap turnover intention yang ditunjukkan dengan

nilai p (0,000) < 0,05 dan memiliki koefisien determinan (R2) sebesar 0,249 atau

24,9%. Artinya variabel psychological well-being mempengaruhi variabel

turnover intention sebesar 24,9%, bahwa semakin kuat job embeddedness yang

dirasakan karyaawan maka akan semakin rendah turnover intention.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Tanova & Holtom (2008)

menunjukkan bahaw job embeddedness memiliki peran penting untuk

memprediksikan turnover. Selanjutnya, Yang, Ma & Hu (2011) mengemukakan

bahwa job embeddedness dapat memprediksi turnover. Selanjutnya, penelitian

yang mendukung adalah hasil penelitian Karatepe (2012) yang menunjukkan

bahwa job embeddedness memiliki korelasi negatif dengan turnover intention,

sehingga karyawan yang memiliki job embeddedness yang tinggi akan

menunjukkan turnover intention yang rendah.

Beberapa alasan yang dapat menjelaskan pengaruh negatif job

embeddedness terhadap turnover intention.

Pertama, karyawan yang memiliki job embeddedness yang baik akan

memperlihatkan job performance yang baik, hal ini sejalan dengan penelitian

Andresen (2014) menunjukkan bahwa job embeddedness memiliki hubungan

positif dengan job performance. Selanjutnya dalam hasil penelitian Fatima,

Shafique & Qadeer (2015) mengemukakan bahwa job embeddedness, semakin

(50)

dari karyawan. Sejalan dengan hasil dua penelitian sebelumnya, Navei (2015)

pada hasil penelitiannya menunjukkan bahwa meningkatnya job embeddedness

pada karyawan akan memberikan pengaruh positif terhadap job performance

karyawan.

Kedua, job embeddedness dapat memberikan dampak negatif terhadap

turnover intentions dikarenakan melalui dimensi job embeddedness yang

mencakup faktor organisasi dan komunitas dapat mencerminkan hal-hal yang

dapat menahan seorang individu untuk tetap bertahan pada pekerjaannya

(Mitchell, Holtom & Lee, 2001). Yang, Ma & Hu (2011) mengemukakan bahwa

job embeddedness mampu untuk mempertahankan seorang individu untuk

bertahan pada pekerjaannya dikarenakan kedua faktor pada dimensinya

memberikan kontribusi yang penting terhadap keputusan karyawan untuk

bertahan pada pekerjaannya.

Yang, Ma & Hu (2011) mengemukakan bahwa apabila dimensi job

embededdness dari faktor organisasi terpenuhi maka karyawan akan menunjukkan

kerja keras dalam pekerjaannya, performa yang semakin membaik dan

meningkatkan organizational citizenship behavior karyawan. Selanjutnya, apabila

dimensi job embeddedness dari faktor komunitas terpenuhi maka akan menjadi

pertimbangan bagi seorang individu untuk meninggalkan pekerjaannya

dikarenakan adanya faktor komunitas yang mempengaruhi keputusan teresebut.

Dimensi job embeddedness dari faktor komunitas dapat memprediksikan absensi

(51)

dan job embeddedness terhadap turnover intention, dimana psychological

well-being dan job embeddedness memberikan kontribusi sebesar 29,0% terhadap

turnover intentions. Dapat dilihat bahwa pengaruh psychological well-being dan

job embeddedness secara bersama-sama terhadap turnover intention lebih besar

daripada pengaruh secara tunggal. Hal ini disebabkan adanya dimensi dari

variabel psychological well-being dan job embeddedness yang hampir berdekatan

yaitu dimensi positive relations with other dari psychological well-being dan

dimensi links-organization dan links-community dari job embeddedness. Dapat

dilihat bahwa keduanya merupakan hubungan seorang individu dengan orang

disekitarnya baik di dalam organisasi dan di luar organisasi. Price (2001)

mengemukakan salah satu faktor turnover adalah social support, dimana social

support memiliki dampak negatif terhadap turnover.

Hasil utama penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Bretones &

Gonzalez (2011) yang mengemukakan bahwa terdapat hubungan negatif antara

psychological well-being dengan intensi karyawan untuk meninggalkan organisasi

tempatnya bekerja. Dike (2011) dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa

karyawan yang memiliki psychological well-being yang baik akan memilih untuk

bertahan pada tempat kerjanya dan cenderung tidak akan melakukan turnover.

Selanjutnya, Hasil penelitian Holtom & Inderrieden (2006) mengemukakan

bahwa meningkatkan job embeddedness seseorang akan meningkatkan intensi

karyawan untuk bertahan pada pekerjaannya. Bowman (2009) dalam hasil

(52)

petugas polisi menunjukkan bahwa semakin rendah job embeddedness seorang

karyawan maka akan semakin tinggi intensi untuk berhenti dari pekerjaannya.

Caldarola (2010) dalam hasil penelitiannya mengemukakan bahwa job

embeddedness memiliki pengaruh negatif terhadap turnover intentions. Hasil

penelitian Khattak, Hussain, Mehmood, Mumtaz, Rehman dan Rehman (2012)

menunjukkan bahwa job embeddedness dapat mengurangi terjadinya turnover.

Hasil tambahan penelitian ini adalah adanya pengaruh negatif on-the job

embeddedness terhadap turnover intention sebesar 19,9%. Hal ini sejalan dengan

hasil penelitian Wheeler, Harris & Harvey (2010) yang menunjukkan bahwa

on-the job embeddedness berpengaruh negatif terhadap turnover intention. Hasil ini

juga sejalan dengan hasil penelitian Shafique, Qadeer, Ahmad & Rehman (2011)

yang menunjukkan bahwa on-the job embeddedness berpengaruh negatif dan

signifikan terhadap turnover intention.

Hasil tambahan penelitian selanjutnya adalah adanya pengaruh negatif

off-the job embeddedness terhadap turnover intention sebesar 24,5%. Hal ini sejalan

dengan yang dikemukakan oleh Mitchell, Holtom & Lee (2001) bahwa seorang

individu yang terikat dengan komunitasnya akan mempertahankan pekerjaannya

dikarenakan ketika seorang individu kehilangan pekerjaannya maka akan

berakibat besar pada kehidupannya dalam komunitas. Hal ini didukung oleh hasil

penelitian Rivera, Hom, Martinez, Radillo & Baron (2013) yang menujukkan

bahwa terdapat hubungan yang kuat antara off-the job embeddedness dengan

(53)

embeddedness lebih besar dari on-the job embeddedness terhadap turnover. Hal

ini dapat dikarenakan adanya faktor kinship responsibility yang menjadi salah satu

faktor yang mempengaruhi terjadinya turnover (Price, 2001). Kinship

responsibility ini memiliki hubungan negatif dengan turnover, sehingga seorang

individu yang memiliki kewajiban akan kerabat dan komunitasnya akan menahan

keinginan untuk melakukan turnover. Seorang individu yang merasa dirinya

sudah tidak sesuai dengan pekerjaannya memiliki pilihan untuk melakukan

turnover, namun adanya kewajiban akan kerabat dan komunitas dapat

(54)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan hasil penelitian dan

pada akhir bab akan dikemukakan saran-saran bagi penelitian di masa yang akan

datang.

A. KESIMPULAN

Setelah dilakukan analisis data maka diperoleh kesimpulan penelitian

sebagai berikut :

1. Terdapat pengaruh negatif psychological well-being terhadap turnover

intentions. Sehingga psychological well-being dapat menurunkan

turnover intentions.

2. Terdapat pengaruh negatif job embeddedness terhadap turnover

intentions. Sehingga job embeddedness dapat menurunkan turnover

intentions.

3. Psychological well-being dan job embeddedness secara bersama-sama

dapat menurunkan turnover intention.

4. Berdasarkan gambaran turnover intentions, rata-rata sunjek penelitian

memiliki turnover intentions sedang.

5. Berdasarkan gambaran psychological well-being, rata-rata sunjek

penelitian memiliki psychological well-being sedang.

6. Berdasarkan gambaran job embeddedness, rata-rata sunjek penelitian

(55)

Dari penelitian yang telah dilakukan dan kesimpulan yang dikemukakan,

maka peneliti mengemukakan beberapa saran. Saran-saran tersebut yaitu :

1. Saran Metodologis

Bagi peneliti yang tertarik melakukan penelitian mengenai psychological

well-being, job embedddedness dan turnover intentions pada organisasi di bidang

hospitality ataupun melakukan penelitian sejenis maupun mengembangkan

penelitian ini, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini :

a. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti psychological well-being,

job embeddedness dan turnover intention di bidang hospitality sebaiknya

melakukan pengontrolan pada saat pengisian skala.

2. Saran Praktis

Dari hasil penelitian ini, peneliti memberikan beberapa saran praktis yaitu :

a. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata subjek menunjukkan

turnover intentions yang sedang, sebaiknya perusahaan memperhatikan

keterlibatan karyawan, lingkungan kerja dan kebutuhan karyawan agar

dapat meminimalisir turnover intentions.

b. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata subjek menunjukkan

psychological well-being yang sedang, sebaiknya perusahaaan

memberikan pembinaan kepada karyawan agar dapat meningkatkan

psychological well-being karyawan agar dapat memberikan kinerja yang

(56)

c. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata subjek menunjukkan

job embeddedness yang tinggi. Untuk mempertahankan job

embeddednes, perusahaan sebaiknya tetap memberikan perhatian

terhadap hal-hal yang berhubungan dengan karyawan dari sisi organisasi

Gambar

Tabel. 1
Tabel. 2
Tabel. 3
Tabel. 4
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji parsial (Uji t) penelitian ini menunjukan bahwa semua variabel bebas (job embeddedness dan kepuasan kerja) secara parsial berpengaruh negatif dan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional dan self-efficacy terhadap psychological well-being pada mahasiswa tahun pertama Fakultas

Hasil uji parsial (Uji t) penelitian ini menunjukan bahwa semua variabel bebas ( job embeddedness dan kepuasan kerja) secara parsial berpengaruh negatif dan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari variabel job embeddedness , kepuasan kerja, dan komitmen organisasi terhadap intensi

Pengaruh Kelekatan Kerja (Job Embeddedness) Terhadap Turnover Intention Dengan Kepuasan Kerja Dan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Moderating.. Oleh :

Adanya pengaruh dukungan sosial terhadap psychological well-being pada pengangguran terdidik ini berhubungan pula dengan salah satu dimensi psychological well-being, yaitu positive

Berdasarkan fenomena-fenomena dan hasil penelitian diatas, dapat diketahui bahwa psychological well being dapat memunculkan perasaan loneliness pada mahasiswa rantau yang dimana

Data tentang hasil analisis uji multiregresi antar tiga variabel menunjukkan bahwa pengaruh negative yang signifikan pada variabel job demands terhadap turnover intention dengan