1
2
Agenda
Overview Pajak
1.
Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan
2.
PBB, BP2TB, Meterai, Pajak Daerah
3.
Pengantar Manajemen Pajak
3
REVIEW
4
Definisi Pajak
•
Dipungut berdasarkan undang-undang
•
Tidak menunjukkan adanya kontraprestasi
•
Dipungut negara baik pemerintah pusat
dan daerah
•
Diperuntukkan pengeluaran pemerintah
public investment
5
Fungsi Pajak
•
Budgetair
sumber
penerimaan utama
•
Reguler
PPnBM
Minimun keras, PPh
pengusahan kecil
lebih rendah,
Redistribus
i
6
7
8
9
10
Azas pajak
• EQUALITY Pajak
adil dan merata
–
Adil secara
vertikal
–
Adik horisontal
CONVINIENCE tidak
menyulitkan, Pay as you earn, undang yang
dilaksanakan
ECONOMY
efisien
ex:self assesmentAdam Smith
11
Azas Pemungutan
Azas Menurut Falsafah Hukum
• Teori Asuransi (melindungi) • Teori Kepentingan
• Teori daya pikul • Teori Bakti
• Teori azas daya beli
Azas yuridis
Hukum pajak harus
memberikan jaminan hukum
UU
Azas ekonomi
Negara perekonomian meningkat. Pajak tidak menghambat ekonomi
Azas untuk memungut
12
HUKUM PAJAK
Kumpulan peraturan-peraturan yang
mengatur hubungan antara pemerintah
13
PEMBAGIAN HUKUM PAJAK
HUKUM PAJAK MATERIAL
mengatur tentang obyek pajak, subyek pajak, besar pajak yang dikenakan timbul dan hapusnya utang pajak dan hubungan hukum antara pemerintah dan WP
• UU Pajak Penghasilan
• UU Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM)
• UU Bea Meterai
• UU Pajak dan Retribusi Daerah • UU Pajak Bumi dan Bangunan
HUKUM PAJAK FORMAL
tata cara untuk mewujudkan hukum material menjadi kenyataan
• UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan,
• UU Penagihan Pajak dengan Surat Paksa,
14
PEMBAGIAN HUKUM PAJAK
15
Jenis Pajak
Pajak
Golongan Sifat Lemb.
Pemungutny a
Pajak Daerah Pajak
Pusat Pajak
Obyektif Pajak
Subyektif
Pajak Langsung
16
Perlawanan Pajak
•
PASIF
•
Struktur Ekonomi
•
Sistem
Pemungutan
•
Moral dan
Intelektual
penduduk
•
AKTIF
17
CARA(STELSEL)
PEMUNGUTAN PAJAK
Stelsel
Fiktif PPh ps 25 Riil PPh ps 21, 23 Campuran PPh ps 29
Penghitungan kembali PPh ps 29 Pembayaran Angsuran PPh 25 (fiktif)
18
SISTEM PEMUNGUTAN PAJAK
Sistem pemungutan
19
20
Sistematika
20
Subjek Pajak
1.
Objek Pajak
2.
Cara Menghitung Pajak
3.
Pelunasan Pajak
4.
Fasilitas Perpajakan
21
Bada
n
Penghasilan
Beban yang dapat dikurangkan Penghasilan kena pajak
X tarif pajak
Pajak terutang 1thn fiskal Kredit pajak
• Angsuran pajak (PPh25)
• Dipotong pihak lain (22,23)
• Pajak luar negeri (24)
Pajak kurang/lebih bayar (29/28
Pajak Perusahaan
penghasilan jasa22
PAJAK dalam Perusahaan
Pajak atas Penghasilan Perusahaan
– Dibayar langsung oleh perusahaan :
• Angsuran pajak (PPh 25)
• Pembayaran pajak akhir tahun (PPh 28/29)
– Dipotong oleh pihak lain (final, tidak final, 22, 23)
– Laporan laba rugi akan mempengaruhi jumlah beban pajak dan di Neraca utang pajak / pajak dibayar dimuka
Kewajiban memotong pajak pihak lain (with holding tax)
– Pajak atas penghasilan yang diterima pihak lain (21, 23, 26)
– PPN pajak atas penyerahan barang / jasa kena pajak
– Tidak muncul dalam laporan laba rugi, tetapi di Neraca sebagai utang atau pajak dibayar dimuka
Pajak Lainnya
– PBB, pajak daerah, PPnBM beban
– Pajak atas pengalihan hak atas tanah dan bangunan (BPHTP)
– Pajak Daerah – Bea Materai
23
PAJAK untuk Individu
Individu SPTnya berbeda
– Bekerja dari satu pemberi kerja
– Bekerja lebih dari satu pemberi kerja – Pemilik usaha
Pajak atas Individu
– Dibayar langsung oleh individu:
• Angsuran pajak (PPh 25)
• Pembayaran pajak akhir tahun (PPh 28/29)
– Dipotong oleh pihak lain (PPh21, PPh23, PPh22, PPh24, tidak final, final, )
Kewajiban memotong pajak pihak lain (with holding tax) Pph 21,
PPh final
– Orang pribadi yang mempekerjakan pihak lain – PPN untuk individu yang menjalankan usaha Pajak Lainnya
– PBB, pajak daerah, PPnBM beban
– Pajak atas pengalihan hak atas tanah dan bangunan (BPHTP) – Pajak Daerah
– Bea Materai
24
Perbedaan Pajak dan Akuntansi -1
24
PSAK Undang-Undang
AKUNTANSI PAJAK
PERBEDAAN Perman
en
Tempore r
Pajak Tangguhan:
Aktiva/utang
Beban/Pendapata
n
Penelitian: Book tax Gap
25
Subyek dan Obyek Pajak
25
Pajak penghasilan (PPh) dikenakan terhadap subjek pajak
atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya
dalam tahun pajak.
Pajak penghasilan (PPh) dikenakan terhadap
subjek
pajak
atas
penghasilan
yang diterima atau diperolehnya
dalam tahun pajak.
•
PPh dapat dikenakan atas bagian
tahun pajak jika kewajiban subjektif
mulai dari bagian tahun.
•
Tahun pajak adalah tahun takwim.
Jika tahun buku tidak sama, dapat
menggunakan tahun buku asalkan
berdurasi 12 bulan.
•
PPh dapat dikenakan atas bagian
tahun pajak jika kewajiban subjektif
mulai dari bagian tahun.
•
Tahun pajak adalah tahun takwim.
26
26
Undang – Undang (UU) No. 36 Tahun
2008
Tentang
Perubahan Keempat atas
UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan
Undang – Undang (UU) No. 36 Tahun
2008
Tentang
Perubahan Keempat atas
UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan
•
Peraturan Pemerintah (PP)
•
Keputusan Presiden (Keppres)
•
Peraturan & Keputusan Menkeu (PMK & KMK)
•
Peraturan, Keputusan, dan Surat Edaran Dirjen Pajak
(PER, KEP, dan SE DJP)
•
Peraturan Pemerintah (PP)
•
Keputusan Presiden (Keppres)
•
Peraturan & Keputusan Menkeu (PMK & KMK)
•
Peraturan, Keputusan, dan Surat Edaran Dirjen Pajak
(PER, KEP, dan SE DJP)
27
27
Orang Pribadi (OP)
Badan
Bentuk usaha tetap (BUT),
merupakan subyek pajak yang
perlakuan pajaknya dipersamakan
dengan subyek pajak badan.
Warisan yang belum terbagi sebagai
satu kesatuan, bersifat
menggantikan yang berhak.
Subjek Pajak
28
28
Subjek Pajak
Pasal 2 Ayat (2)
29
29
Orang Pribadi :
Bertempat tinggal/ berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam 12 bulan; atau
Dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat bertempat tinggal di Indonesia.
Warisan yang belum terbagi:
Menggantikan yang berhak.
Badan:
Didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, kecuali unit tertentu badan pemerintah yang memenuhi kriteria:
Pembentukannya berdasarkan peraturan perundangan.
Pembiayaan bersumber APBN/ APBD.
Penerimaannya dimasukkan dalam APBN/ APBD. Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara.
Subjek Pajak Dalam Negeri
30
30
Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia/ berada di Indonesia tidak lebih dari
183 hari dalam 12 bulan.
Menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari
menjalankan usaha atau kegiatan melalui
BUT di Indonesia.
Subjek Pajak Luar Negeri
Pasal 2 Ayat (4)
Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.
Menjalankan usaha atau kegiatan melalui
31
31
Bentuk usaha yang dipergunakan oleh:
Orang pribadi sebagai
subjek pajak LN
Untuk menjalankan usaha
atau kegiatan di Indonesia.
Bentuk Usaha Tetap (1) Pasal 2 Ayat (5)
32
32
a. Tempat kedudukan manajemen;
b. Cabang perusahaan; c. Kantor perwakilan; d. Gedung kantor;
e. Pabrik; f. Bengkel; g. Gudang;
h. Ruang untuk promosi dan penjualan;
i. Pertambangan dan
penggalian sumber alam; j. Wilayah kerja
pertambangan minyak dan gas bumi;
k. Perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;
l. Proyek konstruksi,
instalasi, atau proyek perakitan;
m.Pemberian jasa, sepanjang dilakukan lebih dari 60
(enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua
belas) bulan;
n. Orang atau badan selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;
o. Agen atau pegawai dari perusahan asuransi yang tidak didirikan dan
berkedudukan di Indonesia yang menerima premi
asuransi atau menanggung risiko di Indonesia; dan
p. Komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh
penyelenggara transaksi elektronik untuk
menjalankan kegiatan usaha melalui internet.
Bentuk Usaha Tetap (1)
33
33
Ditetapkan oleh Dirjen
Pajak
Tempat Tinggal
Orang Pribadi
Menurut keadaan yang sebenarnya.
Tempat Tinggal / Kedudukan WPPasal 2 Ayat (6)
34
Warisan yang belum terbagi
Mulai:
Saat timbulnya warisan.
Berakhir:
Saat warisan selesai
dibagikan.
Warisan yang belum terbagi
Mulai:
Saat timbulnya warisan.
Berakhir:
Saat warisan selesai
dibagikan.34
Subjek Pajak Dalam Negeri Subjek Pajak Dalam Negeri
Orang
- Meninggalkan
Indonesia
- Meninggalkan
Indonesia untuk
selamanya.
Badan
Mulai:
Saat didirikan/ berkedudukan di Indonesia.
Berakhir:
Saat dibubarkan atau tidak lagi berkedudukan di Indonesia.
Badan
Mulai:
Saat didirikan/ berkedudukan di Indonesia.
Berakhir:
Saat dibubarkan atau tidak lagi berkedudukan di Indonesia.
Saat Mulai dan Akhir Kewajiban Subjektif (1)
35
35
Subjek Pajak Luar Negeri Subjek Pajak Luar Negeri
Orang Pribadi
Mulai:
Saat
menerima/memperoleh penghasilan dari
Indonesia.
Berakhir:
Saat tidak lagi menerima/ memperoleh penghasilan dari Indonesia.
Orang Pribadi
Mulai:
Saat
menerima/memperoleh penghasilan dari
Indonesia.
Berakhir:
Saat tidak lagi menerima/ memperoleh penghasilan dari Indonesia.
Badan
Mulai:
Saat melakukan usaha/ kegiatan melalui BUT di Indonesia.
Berakhir:
Saat tidak lagi
menjalankan usaha
melalui BUT di Indonesia. Badan
Mulai:
Saat melakukan usaha/ kegiatan melalui BUT di Indonesia.
Berakhir:
Saat tidak lagi
menjalankan usaha
melalui BUT di Indonesia.
36
36
Kewajiban pajak subjektif
orang pribadi yang
berada atau bertempat
tinggal di Indonesia
Kewajiban pajak subjektif
orang pribadi yang
berada atau bertempat
tinggal di Indonesia
Kewajiban Pajak Subjektif
Pasal 2A Ayat (6)
Bagian tahun pajak tersebut menggantikan tahun pajak.
Hanya meliputi sebagian
dari tahun pajak
37 a. Kantor perwakilan negara asing;
b. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing dan orang yang diperbantukan/ yang bekerja dan bertempat tinggal bersama mereka dengan
syarat :
Bukan warga negara Indonesia; dan
Di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut; serta
Negara bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;
c. Organisasi - organisasi internasional, yang ditetapkan Menkeu, dengan syarat:
Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut; dan
Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain memberikan pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota;
d. Pejabat - pejabat perwakilan organisasi internasional (c) dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.
37
38
38
Merupakan
setiap tambahan
kemampuan ekonomis
yang:
-
Diterima
atau
diperoleh
wajib pajak.
- Berasal
dari Indonesia
maupun
dari
luar Indonesia
.
- Dapat dipakai
untuk konsumsi
atau
untuk menambah kekayaan
wajib
pajak.
Definisi Penghasilan
Pasal 4 Ayat (1)
39
Klasifikasi Umum Penghasilan
Penghasilan dari pekerjaan dan hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti gaji, honorarium,
dan sebagainya.
Penghasilan dari usaha dan kegiatan.
Penghasilan dari modal berupa harga gerak ataupun tidak gerak, seperti bunga, dividen, royalti, sewa dan keuntungan penjualan harga atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha.
Penghasilan lain-lain, seperti pembebasan utang dan hadiah.
40
40
Ketentuan Khusus atas Penghasilan
Semua penghasilan digabungkan dalam satu
tahun pajak.
Jika menderita kerugian dikompensasikan
dengan penghasilan lain kecuali kerugian dari luar negeri.
Untuk penghasilan dikenakan final atau
dikecualikan dari objek pajak tidak boleh digabungkan.
Semua penghasilan digabungkan dalam satu
tahun pajak.
Jika menderita kerugian dikompensasikan
dengan penghasilan lain kecuali kerugian dari luar negeri.
Untuk penghasilan dikenakan final atau
41
Objek Pajak (1)
Pasal 4 Ayat (1)
a. Penggantian atau imbalan berkenaan
dengan pekerjaan atau jasa yang diterima
atau diperoleh termasuk gaji, upah,
tunjangan, honorarium, komisi, bonus,
gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan
dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan
lain dalam UU Pajak Penghasilan;
b. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau
kegiatan, dan penghargaan;
c. Laba usaha;
42
Objek Pajak (2)
Pasal 4 Ayat (1)
d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:
i. Keuntungan karena pengalihan harta sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
ii. Keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya;
iii.Keuntungan karena likuidasi, penggabungan,
peleburan, pemekaran, pemecahan,
pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk apa pun;
iv.Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah garis keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan, pendidikan, sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan PMK, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak yang bersangkutan; dan
v. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam perusahaan pertambangan;
43
Objek Pajak (3)
Pasal 4 Ayat (1)
e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak;
f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;
g. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;
h. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak;
i. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
j. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
k. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;
44
Objek Pajak (4) Pasal 4 Ayat (1)
l. Keuntungan selisih kurs mata uang asing;
m. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva; n. Premi asuransi;
o. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas; p. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari
penghasilan yang belum dikenakan pajak; q. Penghasilan dari usaha berbasis syariah;
r. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang - Undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan; dan s. Surplus Bank Indonesia.
45
Pajak Final
45
Pajak yang terutang dan dibayarkan seketika penghasilan diperoleh atau diterima. Pemotongan
dilakukan oleh pemberi penghasilan, atau pihak lain yang ditentukan.
Ketika dilakukan penghitungan pajak terutang di akhir tahun, penghasilan yang dikenakan pajak final bukan sebagai penambah penghasilan dan
pajak final tidak dapat menjadi kredit pajak.
46
a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi;
b. Penghasilan berupa hadiah undian;
c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura;
d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha
real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan; dan
e. Penghasilan tertentu lainnya, yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi;
b. Penghasilan berupa hadiah undian;
c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura;
d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha
real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan; dan
e. Penghasilan tertentu lainnya, yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
46
47
Pertimbangan Pengenaan
Kesederhanaan Pemotongan
Pengurangan Beban Administratif
Pemerataan Pengenaan Pajak
Dorongan Pengembangan Investasi dan Tabungan
Perkembangan Ekonomi dan Moneter
48
48
Penghasilan dari persewaan tanah dan/ atau bangunan. PP No. 5 Tahun 2002
Penghasilan dari hadiah undian. PP No. 132 Tahun 2000
Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/ atau bangunan.
PP No. 71 Tahun 2008
Penghasilan dari bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI.
PP No. 131 Tahun 2000
Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek.
PP No. 14 Tahun 1997
Penghasilan berupa bunga/ diskonto obligasi yang dijual di bursa efek.
PP No. 16 tahun 2009
Penghasilan dari usaha jasa konstruksi. PP No. 40 Tahun 2009
Peraturan Pelaksana Pajak Final
49
49
Dikecualikan Sebagai Objek Pajak (1) Pasal 4 Ayat (3)
a. Bantuan atau sumbangan, zakat yang diterima oleh badan/ lembaga amil zakat yang disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah;
50
50
Dikecualikan Sebagai Objek Pajak (2) Pasal 4 Ayat (3)
c. Warisan;
d. Harta, termasuk setoran tunai, sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal;
e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/ atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan WP, WP yang dikenakan pajak secara final atau WP dengan Norma Penghitungan Khusus (deemed profit);
51
51
Dikecualikan Sebagai Objek Pajak (3) Pasal 4 Ayat (3)
g. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh PT sebagai WP dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor;
52
52
Dikecualikan Sebagai Objek Pajak (4) Pasal 4 Ayat (3)
i. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;
j. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif;
k. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:
Merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan; dan
53
53
Dikecualikan Sebagai Objek Pajak (5) Pasal 4 Ayat (3)
l. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan PMK;
m. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/ atau bidang penelitian dan pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/ atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan
54
54
Penghasilan dari: - Usaha/ kegiatan BUT.- Harta yang dimiliki/ dikuasai BUT.
Penghasilan kantor pusat dari:
- Usaha atau kegiatan.
- Penjualan barang-barang. - Pemberian jasa.
Dilakukan di Indonesia dan sejenis dengan yang dilakukan BUT.
Penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26, yang diterima atau
diperoleh kantor pusat:
Sepanjang ada hubungan efektif
antara BUT dengan harta/ kegiatan yang memberikan penghasilan.
Objek Pajak BUT
55
55
Meliputi biaya yang berkenaan dengan penghasilan kantor pusat:
Sehubungan dengan: - usaha atau kegiatan;
- penjualan barang; - pemberian jasa;
yang sejenis dengan yang dijalankan BUT di Indonesia.
Deductible Expenses atas Penghasilan BUT Pasal 5 Ayat (2)
Penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26, selama terdapat hubungan efektif antara BUT dengan harta/ kegiatan
56
Pembayaran dari kantor pusat yang bukan sebagai penghasilan BUT meliputi:
Royalti/ imbalan sehubungan dengan penggunaan
harta, paten, dan hak lainnya.
Imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan
jasa lainnya.
Bunga, kecuali bunga yang berkenaan dengan
usaha perbankan.
56
Biaya administrasi kantor pusat yang boleh
dibebankan adalah biaya yang berkaitan dengan usaha atau kegiatan BUT, berdasar besaran yang
ditentukan oleh Dirjen Pajak.
Penentuan Laba BUT Pasal 5 Ayat (3)
Pembayaran kepada kantor pusat yang tidak boleh dibebankan sebagai biaya meliputi:
Royalti/ imbalan sehubungan dengan penggunaan
harta, paten, dan hak lainnya.
Imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan
jasa lainnya.
Bunga, kecuali bunga yang berkenaan dengan
57
Biaya 3M bersifat dapat dikurangkan (deductible)
atas penghasilan bruto :
a. Biaya yang berkaitan dengan kegiatan usaha, meliputi:
i. Biaya pembelian bahan baku; ii. Biaya tenaga kerja;
iii. Bunga, sewa, dan royalti; iv. Biaya perjalanan;
v. Biaya pengolahan limbah; vi. Premi asuransi;
vii. Biaya promosi, sesuai ketentuan PMK; viii.Biaya administrasi
ix. Pajak selain PPh.
b. Biaya penyusutan fiskal dan/atau amortisasi;
c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menkeu;
d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta ;
57
Biaya untuk Mendapatkan, Menagih, dan Memelihara (3M) Penghasilan (1)
58
e. Kerugian dari selisih kurs;
f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;
g. Biaya bea siswa, magang, dan pelatihan;
h. Piutang yang nyata – nyata tak dapat ditagih, dengan syarat:
Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
Daftar piutang yang tidak dapat ditagih telah diserahkan kepada Ditjen Pajak;
Telah diserahkan perkara penagihannya kepada PN atau BUPLN;
Ada perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/ pembebasan utang antara kreditur dan debitur;
Telah dipublikasikan dalam penerbitan umum dan khusus.
i. Sumbangan dalam rangka bencana nasional yang diatur oleh PP.
j. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengebangan yang diatur oleh PP.
k. Sumbangan dalam rangka infrastruktur sosial yang diatur oleh PP.
l. Sumbangan dalam rangka fasilitas pendidikan yang diatur PP
m. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang diatur oleh PP.
58
Biaya untuk Mendapatkan, Menagih, dan Memelihara (3M) Penghasilan (1)
59
59
Ketentuan Khusus Atas Biaya 3M
Biaya 3M yang dapat dibebankan hanyalah biaya – biaya
yang dikeluarkan terkait penghasilan yang ditetapkan sebagai objek pajak.
Biaya 3M yang dikeluarkan terkait penghasilan yang
dikenai pajak final atau penghasilan yang bukan merupakan objek pajak, tidak dapat dibebankan.
Jika diketahui nilai biaya secara total, penghitungan
biaya 3M yang dapat dibebankan atau tidak, dapat ditetapkan berdasar metode pro rata berdasar proporsi penghasilan
Biaya 3M yang dapat dibebankan hanyalah biaya – biaya
yang dikeluarkan terkait penghasilan yang ditetapkan sebagai objek pajak.
Biaya 3M yang dikeluarkan terkait penghasilan yang
dikenai pajak final atau penghasilan yang bukan merupakan objek pajak, tidak dapat dibebankan.
Jika diketahui nilai biaya secara total, penghitungan
60
60
Kompensasi Kerugian Pasal 6 Ayat (2)
Atas penanaman modal di bidang – bidang usaha tertentu atau di daerah – daerah tertentu,
kompensasi kerugian dapat diberikan hingga paling lama 10 tahun.
Kerugian dapat dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya, berturut-turut sampai
61
No. Elemen PTKP*(2016 dst)
1 WP Sendiri Rp 54.000.000,00
2 Status Kawin Rp 4.500.000,00
3 Tanggungan, per orang, dengan jumlah maksimal tiga orang
tanggungan.
Rp 4.500.000,00
4 PTKP bagi istri yang penghasilannnya
digabung. Rp 54.000.000,00
61
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Pasal 7 Ayat (1), (2), dan (3)
Penerapan PTKP ditentukan oleh keadaan pada awal tahun pajak atau awal bagian tahun pajak
Tanggungan meliputi anggota keluarga sedarah atau semenda dalam garis keturunan lurus (orang tua, mertua, anak kandung, anak tiri),
62
62
Penghasilan atau kerugian bagi wanita yang
telah kawin dianggap sebagai penghasilan
atau kerugian suaminya.
Ketentuan di atas berlaku, kecuali jika:
1. Penghasilan tersebut semata – mata
berasal dari satu pemberi kerja dan telah
dipotong PPh Pasal 21; dan
2. Pekerjaan
istri
tersebut
tidak
ada
hubungannya
dengan
usaha
atau
pekerjaan bebas suami atau anggota
keluarga lainnya.
63
63
Jika suami – istri hidup berpisah:
Penghitungan pajaknya berdasar kepada
pembagian prorata atas penghasilan netto suami
– istri yang digabung. Penghitungan PKP dan
pengenaan pajaknya dilakukan sendiri –
sendiri.
Pemisahan Pajak Suami - Istri Pasal 8 Ayat (2), dan (3)
Jika suami – istri mengadakan
perjanjian
pemisahan harta dan penghasilan
secara tertulis.Jika istri menghendaki
memenuhi kewajiban perpajakannya
64
64
Penghasilan Anak yang belum Dewasa Pasal 8 Ayat (4)
Mekanisme penggabungan berlaku umum tanpa mempertimbangkan dari manapun sumber
penghasilan anak tersebut.
Penghasilan yang diterima atau diperoleh anak yang belum dewasa digabungkan dengan penghasilan
orang tuanya.
Batasan usia dan syarat anak yang belum dewasa adalah anak berusia 18 tahun dan belum pernah
65
Biaya yang tidak dapat dikurangkan (non deductible) atas penghasilan bruto, meliputi:
a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun;
b. Biaya yang dibebankan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, anggota atau anggota;
c. Pembentukan dana cadangan, kecuali:
Cadangan untuk jenis usaha tertentu yang ditetapkan KMK;
Cadangan untuk usaha asuransi;
Cadangan jaminan sosial dibentuk BPJS; Cadangan penjaminan yang dibentuk LPS;
Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;
Cadangan biaya reforestasi untuk usaha kehutanan;
Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat limbah industri untuk usaha pengelolaan limbah;
65 Non Deductible Expenses (1)
66
d. Premi asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna, dan asuransi beasiswa yang dibayar oleh WP orang pribadi;
e. Penggantian/ imbalan atas pekerjaan/jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali:
Penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai ;
Diberikan di daerah tertentu atau diberikan berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan sebagaimana ditetapkan KMK;
f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau pihak yang mempunyai hubungan istimewa;
g. Harta yang dihibahkan, bantuan, atau sumbangan, selain sumbangan yang ditetapkan sebagai deductible expense serta selain sumbangan keagamaan yang bersifat wajib kepada lembaga yang dibentuk atau disahkan pemerintah;
h. Pajak penghasilan;
66
Non Deductible Expenses
(2)
67
i. Biaya yang dibebankan/ dikeluarkan untuk kepentingan pribadi WP atau orang yang menjadi tanggungan;
j. Gaji anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham;
k. Sanksi administrasi dan pidana di bidang perpajakan.
67
Non Deductible Expenses
(3)
68
68
Ketentuan Khusus Atas Natura
Natura yang diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu adalah imbalan yang terkait dengan:
Tempat tinggal bagi pegawai dan keluarganya.
Pelayanan kesehatan.
Pendidikan.
Peribadatan.
Pengangkutan.
Olahraga, selain golf, power beating, pacuan kuda, dan terbang
layang.
Natura yang diberikan akibat keharusan suatu pekerjaan di antaranya dapat berupa seragam bagi petugas pengamanan, atau penginapan bagi kru pelayaran atau penerbangan.
Natura yang diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu adalah imbalan yang terkait dengan:
Tempat tinggal bagi pegawai dan keluarganya.
Pelayanan kesehatan.
Pendidikan.
Peribadatan.
Pengangkutan.
Olahraga, selain golf, power beating, pacuan kuda, dan terbang
layang.
69
Atas penghasilan – penghasilan yang dikategorikan sebagai bukan objek pajak bagi pihak yang menerima penghasilan bersangkutan, maka pada umumnya biaya – biaya dari pihak yang melakukan pengeluaran terkait penghasilan tersebut, akan ditetapkan sebagai biaya yang tidak dapat dikurangkan (non deductible).
Dialektika Pajak: Asas Resiprokalitas
70
Bantuan atau sumbangan, selain sumbangan keagamaan yang bersifat wajib, serta
sumbangan bencana alam, litbang, sosial, pendidikan, dan olahraga yang ditetapkan PP.
Warisan
Imbalan dalam bentuk natura atau
kenikmatan, selain yang diberikan oleh bukan WP, WP dikenai pajak final, atau WP
menggunakan Norma Penghitungan Khusus.
70
71
Premi dan polis asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna, dan beasiswa bagi WP orang pribadi.
Iuran dana pensiun yang dibayarkan oleh perusahaan.
Bagian laba yang diterima anggota persekutuan yang tidak terdiri atas
saham.
71
72
Pengukuran Aset
72
73
73
Ketentuan Umum
Subjek pajak melakukan pencatatan dan
menghitung penghasilan netto berdasar
persentase Norma Penghitungan Penghasilan Netto
(NPPN).
Subjek pajak melakukan pembukuan dan
menghitung penghasilan netto berdasar hasil
pembukuan.
Penghitungan Penghasilan Netto Pasal 14, dan 15
Subjek pajak melakukan pembukuan dan
menghitung penghasilan netto berdasar
persentase Norma Penghitungan Khusus. Wajib Pajak yang
memiliki peredaran bruto kurang dari Rp 4.800.000.000,00 per
tahun dan
memberitahukan kepada Dirjen Pajak di
3 bulan pertama periode pajak.
Wajib Pajak yang tidak dapat dihitung
penghasilan nettonya berdasar ketentuan Pasal 16 Ayat (1) dan
74
74
WP wajib pembukuan atau pencatatan namun tidak bersedia
memperlihatkan
pencatatan atau bukti pendukungnya.
Peredaran bruto
ditentukan berdasar cara yang ditetapkan PMK dan
penghasilan netto dihitung berdasar NPPN.
Penerapan NPPN di Luar Ketentuan Pasal 14 Ayat (5)
WP tidak atau tidak sepenuhnya
menyelenggarakan pembukuan atau
75
75
Perusahaan pelayaran dan/ atau penerbangan luar negeri.
KMK No. 417/ KMK.04/ 1996
Perusahaan pelayaran dalam negeri. KMK No. 416/ KMK.04/ 1996
Perusahaan penerbangan dalam negeri. KMK No. 475/ KMK.04/ 1996
Kantor perwakilan dagang WP luar negeri. KMK No. 433/ KMK.04/ 1994
Perusahaan pengeboran minyak dan gas bumi. KMK No. 628/ KMK.04/ 1991
Perusahaan maklon mainan anak – anak. KMK No. 543/ KMK.03/ 2002
Perusahaan berinvestasi dengan pola Bangun, Guna, Serah (BOT).
KMK No. 248/ KMK.04/ 1995
Peraturan Pelaksana
76
76
Wajib pajak orang pribadi dalam negeri.
Penghasilan dikalikan dengan NPPN, dikurangi
PTKP untuk WP orang pribadi.
Penghasilan, dikurangi biaya yang dapat dikurangkan, dikurangi
kompensasi kerugian.
Penghitungan Penghasilan Kena Pajak Pasal 16
Penghasilan netto disetahunkan
Wajib Pajak yang menggunakan NPPN.
Penghasilan, dikurangi biaya yang dapat dikurangkan, dikurangi
PTKP. Wajib pajak badan
dalam negeri, serta WP BUT.
Wajib Pajak yang terutang pajak dalam
77 No. Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
1 0 s/d Rp 50.000.00,00 5%
2 Di atas Rp 50.000.000,00 s/d Rp
250.000.000,00 15%
3 Di atas Rp 250.000.000,00 s/d Rp
500.000.000,00 25%
4 Di atas Rp 500.000.000,00 30%
77
Tarif Pajak
Pasal 17 Ayat (1)
Tarif pajak progresif berlaku bagi WP orang pribadi.
78
78
Ketentuan Khusus Atas Tarif Pajak
Tarifpajaktertinggidapatditurunkanmenjadi 25%,
diaturdengan PP.
Tarifbagi WP badandapatberlaku 5%
lebihrendah, jikamemenuhipersyaratan minimal 40% sahamnyadiperdagangkan di bursa efek di Indonesia danpersyaratanlain sesuaiketentuan PP.
NilaiPenghasilanKenaPajakdibulatkankebawahm
enujuribuanterdekat.
Bagianpajakterutangbagi WP yang
terutangdalambagiantahunpajakadalah:
Ataskurunwaktusatubulanpenuhdiasumsikansetara dengan 30 hari.
Tarifpajaktertinggidapatditurunkanmenjadi 25%,
diaturdengan PP.
Tarifbagi WP badandapatberlaku 5%
lebihrendah, jikamemenuhipersyaratan minimal 40% sahamnyadiperdagangkan di bursa efek di Indonesia danpersyaratanlain sesuaiketentuan PP.
NilaiPenghasilanKenaPajakdibulatkankebawahm
enujuribuanterdekat.
Bagianpajakterutangbagi WP yang
terutangdalambagiantahunpajakadalah:
Ataskurunwaktusatubulanpenuhdiasumsikansetara dengan 30 hari.
79
Besarnya penyertaan modal WP DN, secara sendiri atau bersama – sama dengan WP
DN lain, paling rendah 50 % dari jumlah saham yang
disetor.
79
Besarnya perbandingan antara utang dan modal untuk keperluan
penghitungan pajak
Saat diperolehnya dividen oleh WP DN atas penyertaan modal pada badan usaha di luar negeri yang tidak
menjual sahamnya di bursa efek. Menkeu berwenang
menetapkan:
Syarat:
Perbandingan Utang dan Modal; Serta Saat Diperolehnya Dividen
80
Hubungan penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah 25 %
oleh satu WP pada satu atau lebih WP lain; termasuk hubungan antar WP yang
modalnya menjadi objek penyertaan.
Hubungan penguasaan satu WP pada satu atau lebih WP lain; termasuk hubungan antar WP yang dikuasai.
Hubungan keluarga sedarah semenda dalam garis keturunan lurus dan/ atau ke
samping satu derajat.
80
81
81
Ketentuan Khusus Atas Hubungan Istimewa Pasal 18 Ayat (3), dan (3a)
Dirjen Pajak berwenang menentukan kembali
besarnya penghasilan dan pengurangan penghasilan, serta menentukan utang sebagai modal untuk menghitung PKP atas pihak yang memiliki hubungan istimewa.
Dirjen Pajak berwenang melakukan perjanjian
dengan wajib pajak dan bekerjasama dengan pihak otoritas pajak negara lain untuk menentukan harga harga transaksi antara pihak – pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
Dirjen Pajak berwenang menentukan kembali
besarnya penghasilan dan pengurangan penghasilan, serta menentukan utang sebagai modal untuk menghitung PKP atas pihak yang memiliki hubungan istimewa.
Dirjen Pajak berwenang melakukan perjanjian
82
Merupakan pelunasan pajak yang boleh dikreditkan terhadap PPh yang terutang
untuk tahun pajak berjalan, kecuali untuk pembayaran PPh
yang bersifat final.82
Pembayaran oleh wajib pajak sendiri. (PPh Pasal 25)
Pemotongan atau pemungutan oleh pihak lain.
(PPh Pasal 21, 22, 23, 24, 26) Pajak tahun berjalan dapat dilunasi melalui
83
Hyperlink
83
PPh Pasal 21 dan 26 (Slide 3A)
1.
84
84
Kredit PPh 24
Pajak yang atas penghasilan dari luar negeri yang boleh dikreditkan.
Kredit PPh 23
Pemotongan PPh dari dividen, bunga, royalti, sewa, hadiah dan penghargaan.
Kredit PPh 25
Pembayaran yang dilakukan oleh wajib pajak sendiri.
Kredit PPh 22
Pemungutan PPh dari kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain.
Kredit PPh 21
Pemotongan PPh dari pekerjaan, jasa atau kegiatan.
Kredit PPh 26 Ayat (5)
Pemotongan pajak atas penghasilan WP LN yang beralih menjadi WP DN.
Sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan, serta sanksi pidana berupa denda
tidak boleh dikreditkan.
85
Akan dikembalikan/ direstitusikan, setelah dilakukan pemeriksaan serta diperhitungkan dengan sanksi
dan kewajiban pajak lain.85
Pajak kurang bayar.
Ketika beban pajak terutang melebihi total kredit pajak.
Pajak lebih bayar.
Ketika beban pajak terutang kurang dari total kredit pajak.
Status pajak terutang di akhir tahun dapat berupa:
Pajak Kurang (Lebih) Bayar Pasal 28A, dan 29
Wajib dilunasi selambat – lambatnya tanggal 25 bulan
ketiga setelah tahun pajak berakhir, sebelum SPT tahunan
86
86
Wajib pajak yang melakukan
penanaman modal di bidang – bidang usaha
tertentu.
Fasilitas Perpajakan Pasal 31A
Wajib pajak yang melakukan
penanaman modal di daerah – daerah
tertentu.
Berdasar penetapan PP dapat memperoleh
fasilitas berupa: a. Pengurangan
penghasilan paling tinggi 30% dari jumlah penanaman modal yang dilakukan.
b. Penyusutan dan amortisasi yang dipercepat (tarif dua kali lebih tinggi).
c. Kompensasi kerugian yang lebih lama, tetapi tidak lebih dari 10 tahun.
87
Fasilitas dalam bentuk pengurangan penghasilan sebesar 30%
dari penanaman modal diberikan secara bertahap dalam jangka 6 tahun, dengan besaran pengurangan 5% dari penaman modal di setiap tahunnya.
Fasilitas dalam bentuk perpanjangan masa kompensasi kerugian
diberikan jika kegiatan memenuhi persyaratan berikut:
Penanaman modal dilakukan di kawasan industri dan
kawasan berikat.
Mempekerjakan minimal 500 tenaga kerja Indonesia selama
5 tahun berturut - turut.
Penanaman modal memerlukan investasi untuk infrastruktur
ekonomi dan sosial minimal Rp 10.000.000.000,00.
Mengeluarkan biaya litbang di dalam negeri minimal 5% dari
investasi dalam jangka 5 tahun.
Menggunakan minimal 70% bahan baku atau komponen
produksi dalam negeri sejak tahun ke – 4.
Untuk setiap satu persyaratan yang dipenuhi, perusahaan berhak atas satu tahun perpanjangan masa kompensasi.
Fasilitas dalam bentuk pengurangan penghasilan sebesar 30%
dari penanaman modal diberikan secara bertahap dalam jangka 6 tahun, dengan besaran pengurangan 5% dari penaman modal di setiap tahunnya.
Fasilitas dalam bentuk perpanjangan masa kompensasi kerugian
diberikan jika kegiatan memenuhi persyaratan berikut:
Penanaman modal dilakukan di kawasan industri dan
kawasan berikat.
Mempekerjakan minimal 500 tenaga kerja Indonesia selama
5 tahun berturut - turut.
Penanaman modal memerlukan investasi untuk infrastruktur
ekonomi dan sosial minimal Rp 10.000.000.000,00.
Mengeluarkan biaya litbang di dalam negeri minimal 5% dari
investasi dalam jangka 5 tahun.
Menggunakan minimal 70% bahan baku atau komponen
produksi dalam negeri sejak tahun ke – 4.
Untuk setiap satu persyaratan yang dipenuhi, perusahaan berhak atas satu tahun perpanjangan masa kompensasi.
87
88
88
Penerimaan atas PPh orang pribadi dan
PPh 21 yang dipotong oleh pemberi kerja.
80%
Untuk Pemerintah Pusat
20%
Untuk Pemerintah Daerah
89
89
Wajib pajak badan yang memiliki nilai
peredaran bruto kurang dari Rp 50.000.000.000,00
Fasilitas Perpajakan Pasal 31E
Memperoleh
pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif Pasal 17 (tarif flat 25%). untuk bagian Penghasilan
Kena Pajak dari
Berlaku untuk bagian Penghasilan Kena Pajak dari bagian penghasilan bruto sampai dengan Rp
91
Agenda
Konsep Umum PPN
1.
PKP dan DPP
2.
Administrasi PPN
3.
Diskusi kasus
92
Pengertian Umum
PPN adalah Pajak atas Konsumsi Barang atau jasa
Di Dalam Daerah Pabean
Di Dalam Daerah Pabean
OLEH
Orang Pribadi Badan
93
Karakteristik PPN
94
CIRI PPN
• Pengenaan PPN dilaksanakan
Sistem FAKTUR
• Setiap terjadinya Penyerahan
BKP/JKP, wajib dibuatkan Faktur Pajak
Faktur Pajak Perupakan Bukti
Pungutan PPN
Faktur Pajak Perupakan Bukti
Pungutan PPN
Faktur Pajak
Bagi Penjual
merupakan bukti
PAJAK KELUARAN
Faktur Pajak
Bagi Penjual
merupakan bukti
PAJAK KELUARAN
Faktur Pajak
Bagi Pembeli
merupakan bukti
PAJAK KELUARAN
Faktur Pajak
Bagi Pembeli
merupakan bukti
95
Ekspor BKP berwujud
Ekspor BKP berwujud
Ekspor BKP tidak berwujud
Ekspor BKP tidak berwujud
OBYEK PPN
Ekspor JKP
Ekspor JKP
Dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak
96
Objek Pajak Pertambahan Nilai
• Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam
Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha;
• Impor Barang Kena Pajak;
• Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah
Pabean yang dilakukan oleh pengusaha;
• Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak
Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean;
• Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar
97
Objek Pajak Pertambahan Nilai
•
Ekspor Barang Kena Pajak
Berwujud oleh Pengusaha Kena
Pajak
•
Ekspor Barang Kena Pajak Tidak
Berwujud oleh Pengusaha Kena
Pajak;
•
Ekspor Jasa Kena Pajak oleh
98
Daerah Pabean
Wilayah RI yand didalamnya berlaku ketentuan Kepabeanan
(UU No 10/1995)
Darat Darat
Perairan Perairan
Tempat tertentu di zona Ekonomi
Eksklusif
Tempat tertentu di zona Ekonomi
Eksklusif
Landas Kontinen Landas Kontinen
dan Ruang udara Ruang udara di atasnyadi atasnya
99
BARANG
BARANG ADALAH
BARANG
BARANG TIDAK BERGERAKLandas
Kontinen
100
PENYERAHAN
BARANG KENA PAJAK (BKP)
PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK ADALAH :SETIAP KEGIATAN
PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK
YANG DIKENAKAN PAJAKBERDASARKAN
UU PPN
YANG DIKENAKAN PAJAKBERDASARKAN
101
• Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena
suatu perjanjian
• Pengalihan BKP karena perjanjian sewa beli dan
leasing
• Pengalihan BKP kepada pedagang perantara atau
melalui juru lelang
• Pemakaian sendiri dan/atau pemberian Cuma-Cuma
Penyerahan Barang Kena Pajak
PT. A perusahaan penghasil topi. Dalam rangka ulang tahun
memberikan kepada seluruh karyawan dan keluarganya topi hasil produksi perusahaan sebanyak 10.000 unit. Harga jual topi 100ribu, harga pokok produksi 60ribu.
PT. C perusahaan penghasil susu formula. Dalam rangka
102
•
Barang Kena Pajak berupa persediaan
dan/atau aktiva yang menurut tujuan
semula tidak untuk diperjualbelikan, yang
masih tersisa pada saat pembubaran
perusahaan
•
Penyerahan BKP dari pusat ke cabang
atau sebaliknya dan penyerahan antar
cabang
•
Penyerahan BKP secara konsinyasi
103
•
Penyerahan Barang Kena Pajak
oleh Pengusaha Kena Pajak dalam
rangka perjanjian pembiayaan
yang dilakukan berdasarkan
prinsip syariah, yang
penyerahannya dianggap langsung
dari Pengusaha Kena Pajak kepada
pihak yang membutuhkan Barang
Kena Pajak
104
• Pemakaian Barang Kena Pajak dan atau
pemanfaatan Jasa Kena Pajak untuk tujuan produktif belum merupakan penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak
sehingga tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
105
•
Penyerahan Barang Kena Pajak kepada
makelar
sebagaimana dimaksud dalam
Kitab Undang- Undang Hukum Dagang
•
Penyerahan Barang Kena Pajak untuk
jaminan
utang-piutang;
•
Penyerahan Barang Kena Pajak dari
pusat ke cabang atau antar cabang
dalam hal Pengusaha Kena Pajak
melakukan
pemusatan
tempat pajak
terutang;
106
• Pengalihan Barang Kena Pajak dalam rangka
penggabungan,peleburan,pemekaran,
pemecahan, dan pengambilalihan usaha dengan syarat pihak yang melakukan pengalihan dan yang menerima pengalihan adalah Pengusaha Kena
Pajak;
• Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut
tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, dan yang Pajak Masukan atas perolehannya tidak dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c.
107
JASA
SETIAP KEGIATAN PELAYANAN BERDASARKAN SUATU PERIKATAN/PERBUATAN HUKUM ,YANG
MENYEBABKAN
SETIAP KEGIATAN PELAYANAN BERDASARKAN SUATU PERIKATAN/PERBUATAN HUKUM ,YANG
MENYEBABKAN
• SUATU BARANG • FASILITAS
• KEMUDAHAN • HAK
• SUATU BARANG • FASILITAS
• KEMUDAHAN • HAK
JASA YG DILAKUKAN UNTUK MENGHASILKAN BARANG KARENA PESANAN ATAU
PERMINTAANDGN BAHAN & ATAS PETUNJUK DARI PEMESANTERMASUK
JASA YG DILAKUKAN UNTUK MENGHASILKAN BARANG KARENA PESANAN ATAU
PERMINTAANDGN BAHAN & ATAS PETUNJUK DARI PEMESANTERMASUK
TERSEDIA UNTUK DIPAKAI TERMASUK
108
JASA KENA PAJAK (JKP)
SETIAP KEGIATAN PELAYANAN BERDASARKAN SUATUPERIKATAN /PERBUATAN HUKUM YG
MENYEBABKANSUATU BARANG
/FASILITAS/KEMUDAHAN /HAK TERSEDIAUNTUK
DIPAKAI
SETIAP KEGIATAN PELAYANAN BERDASARKAN SUATUPERIKATAN /PERBUATAN HUKUM YG
MENYEBABKANSUATU BARANG
/FASILITAS/KEMUDAHAN /HAK TERSEDIAUNTUK
DIPAKAI
TERMASUK JASA YG DILAKUKAN UNTUK
MENGHASILKAN BARANGKARENA
PESANAN ATAU
PERMINTAAN DGN BAHAN DAN/ATAU PETUNJUK
DARI PEMESAN TERMASUK JASA YG
DILAKUKAN UNTUK MENGHASILKAN BARANGKARENA
PESANAN ATAU
PERMINTAAN DGN BAHAN DAN/ATAU PETUNJUK
DARI PEMESAN
YANG DIKENAKAN PAJAK
109
JASA KENA PAJAK (JKP)
PEMAKAIA
SETIAP KEGIATAN
PEMBERIAN JASA KENA PAJAK
SETIAP KEGIATAN
PEMBERIAN JASA KENA PAJAK
110
PEMANFAATAN JKP DAN BKP
PEMANFAATAN JKP DAN BKP TIDAK BERWUJUD DARI LUAR DAERAH PABEAN
PEMANFAATAN JKP DAN BKP TIDAK BERWUJUD DARI LUAR DAERAH PABEAN
• SETIAP KEGIATAN PEMANFAATAN JKP DARI LUAR DAERAH PABEAN DI DALAM DAERAH PABEAN
• SETIAP KEGIATAN PEMANFAATAN JKP DARI LUAR DAERAH PABEAN DI DALAM DAERAH PABEAN
• SETIAP KEGIATAN PEMANFAATAN BKP TIDAK BERWUJUD DARI LUAR DAERAH PABEAN
KARENA SUATU PERJANJIAN DI DALAM DAERAH PABEAN.
• SETIAP KEGIATAN PEMANFAATAN BKP TIDAK BERWUJUD DARI LUAR DAERAH PABEAN
111
IMPORT, EXPOR DAN PERDAGANGAN
IMPOR IMPOR
ADALAH SETIAP KEGIATAN MEMASUKKAN BARANG
DARI LUAR DAERAH PABEAN KE DLM DAERAH
PABEAN
ADALAH SETIAP KEGIATAN MEMASUKKAN BARANG
DARI LUAR DAERAH PABEAN KE DLM DAERAH
PABEAN
EXPOR EXPOR
ADALAH SETIAP KEGIATAN MEMASUKKAN BARANG
DARI LUAR DAERAH PABEAN KE DLM DAERAH
PABEAN
ADALAH SETIAP KEGIATAN MEMASUKKAN BARANG
DARI LUAR DAERAH PABEAN KE DLM DAERAH
PABEAN
PERDAGANGA N
PERDAGANGA N
ADALAH SETIAP KEGIATAN MEMASUKKAN BARANG
DARI LUAR DAERAH PABEAN KE DLM DAERAH
PABEAN
ADALAH SETIAP KEGIATAN MEMASUKKAN BARANG
DARI LUAR DAERAH PABEAN KE DLM DAERAH
112
Non Barang Kena Pajak
1. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya;
2. Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak
3. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering;
113
Non Jasa Kena Pajak
1. Jasa di bidang pelayanan kesehatan medik;
2. Jasa di bidang pelayanan sosial;
3. Jasa di bidang pengiriman surat dengan
perangko;
4. Jasa keuangan
5. Jasa asuransi
114
Non Jasa Kena Pajak
9. jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam negeri yang
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri;
10. jasa tenaga kerja; 11. jasa perhotelan;
12. jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum;
13. jasa penyediaan tempat parkir;
14. jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam
115
BADAN
BAIK YANG MELAKUKAN USAHA MAUPUN YANG TIDAK MELAKUKAN USAHA
BAIK YANG MELAKUKAN USAHA MAUPUN YANG TIDAK MELAKUKAN USAHA
MELIPUTI :
• PERSEROAN TERBATAS;
• PERSEROAN KOMANDITER; • PERSEROAN LAINNYA;
• BUMN / BUMD;
• FIRMA, KONGSI; KOPERASI; DANA
PENSIUN; PERSEKUTUAN; PERKUMPULAN; YAYASAN; ORGANISASI MASSA;
ORGANISASI SOSPOL DAN SEJENISNYA; LEMBAGA; BUT DAN BENTUK BADAN LAINNYA.
MELIPUTI :
• PERSEROAN TERBATAS;
• PERSEROAN KOMANDITER; • PERSEROAN LAINNYA;
• BUMN / BUMD;
• FIRMA, KONGSI; KOPERASI; DANA
PENSIUN; PERSEKUTUAN; PERKUMPULAN; YAYASAN; ORGANISASI MASSA;
ORGANISASI SOSPOL DAN SEJENISNYA; LEMBAGA; BUT DAN BENTUK BADAN LAINNYA.
SEKUMPULAN ORANG DAN ATAU MODAL YANG
116
PENGUSAHA
ORANG PRIBADI ORANG PRIBADI
• MENGHASILKAN BARANG; • MENGIMPOR BARANG;
• MENGEKSPOR BARANG; • MELAKUKAN USAHA
PERDAGANGAN;
• MELAKUKAN USAHA
JASA;-• MEMANFAATKAN BARANG TIDAK
BERWUJUD / JASA DARI LUAR DAERAH PABEAN.
• MENGHASILKAN BARANG; • MENGIMPOR BARANG;
• MENGEKSPOR BARANG; • MELAKUKAN USAHA
PERDAGANGAN;
• MELAKUKAN USAHA
JASA;-• MEMANFAATKAN BARANG TIDAK
BERWUJUD / JASA DARI LUAR DAERAH PABEAN.
DALAM KEGIATAN USAHA ATAU PEKERJAANNYA
117
PENGUSAHA KENA PAJAK (PKP)
TIDAK TERMASUK PENGUSAHA KECIL, KECUALIPENGUSAHA KECIL YANG MEMILIH
UNTUK DIKUKUHKAN SEBAGAI PKP TIDAK TERMASUK PENGUSAHA KECIL, KECUALIPENGUSAHA KECIL YANG MEMILIH
UNTUK DIKUKUHKAN SEBAGAI PKP
PENGUSAHA
YANG MELAKUKAN PENYERAHAN BPK/JKP
YANG MELAKUKAN PENYERAHAN BPK/JKP
YANG DIKENAKAN PAJAK BERDASARKAN UU PPN
118
•
Pengusaha yang melakukan penyerahan
BKP wajib melaporkan usahanya untuk
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak, dan wajib memungut, menyetor,
dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah
yang terutang.
•
Pengusaha Kecil yang memilih untuk
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak
119
MENGHASILKAN
KEGIATAN MENGOLAH MELALUI PROSES
MENGUBAH BENTUK ATAU SIFAT SUATU BARANG DARI BENTUK ASLINYA
KEGIATAN MENGOLAH MELALUI PROSES
MENGUBAH BENTUK ATAU SIFAT SUATU BARANG DARI BENTUK ASLINYA
KEGIATAN MENGOLAH SUMBER DAYA ALAM
KEGIATAN MENGOLAH SUMBER DAYA ALAM
MENYURUH ORANG PRIBADI ATAU BADAN MELAKUKAN KEGIATAN TERSEBUT PADA HURUF 1 DAN 2 DI ATAS