BAB II
PENGERTIAN JOSHI DAN RAGAM BAHASA PRIA ( DANSEIGO ) DALAM BAHASA JEPANG
2.1 Pengertian Joshi
Bila dilihat dari kanjinya kata Joshi ( 助詞 ) terdiri dari dua huruf kanji. Huruf kanji yang pertama adalah jo ( 助 ) atau tasukeru ( 助ける )yang berarti bantu, membantu, menolong. Dan sedangkan huruf kanji yang ke dua adalah shi ( 詞 )atau kotoba ( 言葉 ) yang berarti kata, perkataan, atau bahasa. Oleh karena itu, orang sering menerjemahkan Joshi dengan istilah kata bantu.
Dalam bahasa Jepang Joshi mempunyai fungsi yang sangat penting. Sebuah kalimat tidak akan terbentuk jika tidak menggunakan Joshi. Pemakaian Joshi yang tepat akan menghasilkan kalimat yang baik. Untuk ini kita ambil contoh kalimat “watashi wa kino tomodachi to jakarta e ikimashita’’ yang terdiri dari lima bunsetsu yakni watashi wa, kinoo, tomodachi to, jakarta e, ikimasita. Di antara bunsetsu-bunsetsu itu ada yang mengandung joshi yakni watashi wa, kinoo, tomodachi to, dan jakarta e. Joshi ‘’ wa ‘’ menempati posisi setelah nomina watashi, joshi ‘’ to ‘’ menempati posisi setelah nomina tomodachi, dan joshi ‘’ e ‘’ menempati posisi setelah nomina jakarta. Namun joshi tidak hanya dipakai setelah nomina, tapi dapat dipakai juga setelah verba, adjektiva-i, adjektiva-na, atau setelah joshi yang lainnya ( Sudjianto, 2000 : 1 )
Selain itu juga jumlah partikel dalam bahasa Jepang sangat banyak dan artinya pun berbeda-beda. Namun beberapa diantaranya mempunyai arti yang sama tetapi penggunaannya berbeda.
Berdasarkan defenisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sebuah Joshi dapat di defenisikan sebagai bagian yang tidak dapat di tafsirkan dalam sebuah percakapan, tetapi memiliki ke mutlakan arti tersendiri yang bebas ikatan. Oleh karena itu, suatu kata yang hanya terdiri dari Joshi saja mungkin tidak berarti apa-apa. Tetapi dengan menambahkan kata lain, akan membawa suatu perbedaan yang besar, khususnya dalam melahirkan makna Joshi tersebut.
2.2 JENIS-JENIS JOSHI 2.2.1 FUKUJOSHI ( 副助詞 )
Fukujoshi adalah partikel yang bisa menambah arti kata lain yang ada sebelumnya. Pada umumnya dipakai setelah berbagai macam kata pada bagian akhir kalimat untuk menyatakan suatu pertanyaan, larangan, seruan, rasa haru, dan lain-lainnya. Joshi yang termasuk kelompok ini gurai, bakari, dake, sae, hodo, shika, nado, kiri, koso, dan mo.
Contoh :
1. 今日の気温和摂氏28度ぐらいです。
.Kyou no kion wa sesshi nijuuhachi do gurai desu. ( Suhu udara hari ini kira-kira 28 drajat celcius ) 2. この本を五日ばかり借りたいです。
Kono hon o gonichi bakari karitai desu.
( Saya ingin meminjam buku ini kira-kira lima hari ) 3. 一時間だけで出来上がります。
Ichijijikan dake de dekiagarimasu. ( Selesai hanya dalam waktu satu jam )
4. せっもんかの彼え知りません。 Semmonka no kare sae shirimasen.
( Dia yang seorang pakar sekalipun tidak tahu ) 5. 歩けないほど疲れました。
Arukenai hodo tsukaremashita.
( Saya sudah lelah sampai tidak bisa berjalan ) 6. たまにしかふるさとに帰りません。
Tama ni shika furusato ni kaerimasen.
( Saya jarang sekali pulang ke kampung halaman ) 7. 母は肉や野菜などを買いました。
Haha wa niku ya yasai nado o kaimashita. ( Ibu telah membeli daging, sayur dan lain-lain ) 8. 二人きりで話しましょう。
Futari kiri de hanashimashou. ( Mari kita bicara berdua saja )
9. 私こそお詫びしなければなりません。 Watakushi koso owabi shinakereba narimasen. ( Sayalah yang harus minta maaf )
10. あなたが山に行けば、私も行きたいです。 Anata ga yama ni ikeba, watashi mo ikitai desu. ( Kalau kamu pergi ke gunung, saya juga ingin pergi )
2.2.2 KAKUJOSHI ( 格助詞 )
Kakujoshi adalah partikel yang menyatakan hubungan satu bagian kalimat ( bunsetsu) dengan bunsetsu lainnya. Partikel ini biasa digunakan setelah taigen. Ada juga digunakan untuk menyatakan hubungan nomina yang ada sebelumnya dengan predikat pada kalimat tersebut. Adapun joshi yang termasuk kelompok ini misalnya no, to, ni, o, de, e, ga, ya, kara, yori.
Contoh :
1. あのバス会社のです。 Ano basu wa kaisha no desu. ( Bus itu milik perusahaan )
2. 祖父と祖母に贈り物をしたいです。 Sofu to sobo ni okurimono o shitai desu.
( Saya ingin memberi bingkisan kepada kakek dan nenek ) 3. 帳面に写します。
Choumen ni utsushimasu. ( Menyalin di buku catatan ). 4. 食べ物を食べます。
Tabemono o tabemasu. ( Makan makanan ).
5. 昨晩サッカ一の試合をテレビで見ました。 Sakuban sakkaa no shiai o terebi de mimashita.
6. 今日はどこへお出かけですか。 Kyou wa doko e odekake desuka. ( Hari ini akan keluar kemana ? ). 7. 私がします。
Watashiga shimasu.
( Sayalah yang akan mengerjakannya ). 8. 服やくつやかばんなどを買いました。
Fuku ya kutsu ya kaban nado o kaimashita.
( Saya telah membeli pakaian, sepatu, tas dan lain-lain ). 9. 知りませんから、言えません。
Shirimasen kara, iemasen.
( Karena saya tidak tahu, maka saya tak dapat mengatakannya ). 10. きょうはきのうよりずっと暑いです。
Kyou wa kinou yori zutto atsui desu.
( Hari ini jauh lebih panas dari pada kemarin ).
2.2.3 SETSUZOKUJOSHI ( 接続助詞 )
Setsuzokujoshi adalah partikel yang berfungsi untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat. Umumnya di pakai setelah yougen atau setelah jodoushi untuk melanjutkan kata-kata yang ada pada bagian hidupnya. Joshi yang termasuk ke dalam kelompok ini misalnya tari, ba, nagara, ga, shi, node, noni, kara, keredemo, dan te.
Contoh:
1. 雨が降ったり病んだりしています。 Ame ga futtari yandari shite imasu. ( Hujan sebentar turun sebentar berhenti ) 2. 早ければ早いほどいいです。
Hayakereba hayai hodo ii desu. ( lebih cepat lebih bagus ).
3. 父はいつもテレビを見ながらごはんを食べます。 Chichi wa itsumo terebi o minagara gohan o tabemasu. ( Ayah selalu makan sambil menonton TV ).
4. 風が吹きます。 Kaze ga fukimasu. ( Angin bertiup )
5. 彼女はきれいだし、優しいしょうねんです。 Kanojo wa kirei dashi yasashii shounen desu. ( Dia adalah pemudi yang cantik dan lembut pula ). 6. あまり寒いのでかぜをひきました。
Amari samui node kaze o hikimashita. ( Karena terlalu dingin saya masuk angin ) 7. 金もないのに贅沢をしています。
Kane mo nai noni zeitaku o shite imasu.
8. 日は東から出ます。 Hi wa higashi kara demasu.
( Matahari terbit dari sebelah timur )
9. あなたは優しいけれども、私には難しい。
Anata wa yasashii keredomo, watashi ni wa muzukashi desu. ( Bagimu mudah, tapi bagi ku susah )
10. たばこを吸ってはいけません。 Tabako o sutte wa ikemasen. ( Dilarang merokok )
2.2.4 SHUUJOSHI ( 終助詞 )
Shuujoshi dipakai pada akhir kalimat atau pada akhir bagian bagian kalimat (bunsetsu) untuk menyatakan perasaan pembicara seperti rasa haru, larangan, dan sebagainya Tadasu, dalam Sudjianto (1989:143-144). Shuujoshi diantaranya dipakai untuk menyatakan suatu perasaan (kandoo) yang dirasakan pembicara pada waktu mengucapkannya. Fungsi shuujoshi seperti ini dimiliki juga oleh kelas kata interjeksi (kandooshi). Sehingga ada juga yang menyebutkan shuujoshi ini dengan istilah kandoojoshi (Sudjianto, 2000:69-70). Partikel yang termasuk ke dalam shuujoshi misalnya ka, kashira, na, ne, no, sa, tomo, wa, yo, ze, zo.
Contoh :
1. これが何か、分かりますか。 Kore ga nani ka, wakarimasuka. ( Tahukah kamu apa ini )
2. 彼は病気なのかしら。
Kare wa byouki na no kashira. ( Apa dia sakit ya )
3. いたずらをするな。 Itazura o suru na. ( Jangan nakal )
4. 私ね、絶対そんなことはしない。 Watashi ne, zettai sonna koto wa shinai.
( Saya ya,pasti tak akan melakukan hal seperti itu ) 5. どうしたの。
Dou shita no.
( Ada apa dengan mu ? ) 6. 子供にだってできるさ。
Kodomo ni datte dekiru sa. ( Anak kecil saja bisa lho ) 7. いいとも。
Ii tomo.
( Tentu saja boleh ) 8. 知らないわ。
Shiranai wa.
( Saya tidak tahu deh ! ) 9. そうしてはいけないよ。
( Tidak boleh berbuat begitu ) 10.さあ、今から出かけるぜ。
Saa, ima kara dekakeru ze. ( Nah, saya pergi sekarang ! ) 11. 先に行くぞ。
Saki ni iku zo
( Saya pergi deluan nih ! )
2.3 RAGAM BAHASA PRIA ( DANSEIGO ) DALAM BAHASA JEPANG Ragam bahasa pria di dalam bahasa Jepang disebut danseigo (男性語 ). Diambil dari kata ‘’ 男性 ‘’ yang berarti pria/laki-laki dan ‘’ 語 “ yang berarti bahasa. Danseigo adalah sebuah variasi bahasa Jepang yang digunakan oleh kaum pria untuk merefleksikan maskulinitas penuturnya sebagai insan yang tegas, kuat, penuh percaya diri, cepat mengambil keputusan dan penuh kepastian.
Bahasa laki-laki biasanya tegas, langsung, kasar dan sering kali seperti alasan kepada bawahan. Menurut Reiichi dalam Agustrin Ningsi menyatakan (1990 : 2) pada umumnya cara berbicara pria sangat dominan, ketegasannya kuat. Terbuka dan ingin memiliki wibawa. Sedangkan cara berbicara wanita sangat bersifat lemah lembut, halus, kooperatif, dan bersifat tidak langsung.
Keberadaan gaya bahasa yang secara tegas membedakan jenis kelamin tersebut merupakan karakteristik bahasa Jepang, Jorden dalam Agustrin Ningsi (1989 : 250). Danseigo dipakai pada situasi tidak formal, sedangkan pada situasi formal hampir tidak ada perbedaan pria-wanita dalam pemakaian bahasa, Takamizawa dalam Agustrin Ningsi (2002:176).
Dalam percakapan sehari-hari pria jarang menggunakan ragam bahasa hormat. Kata-kata yang termasuk danseigo di dalam bahasa Jepang antara lain ore, oyaji, ofukuro, dan bahasa pria ( danseigo )mempunyai partikel-partikel dan partikel tersebut masuk ke bagian shuujoshi.
Beberapa partikel shuujoshi ada yang hanya digunakan oleh pria saja dan juga ada digunakan oleh wanita saja. Dimana dengan pemakaiannya kita dapat segera mengerti apakah penutur seorang pria atau seorang wanita. Dan sebagian lagi bersifat netral yang dapat digunakan oleh keduanya.