• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN TUGAS IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "METODOLOGI PENELITIAN TUGAS IV"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

STUDENT-TEACHER AESTHETIC ROLE-SHARING

METODOLOGI PENELITIAN

TUGAS IV

Dampak Persilangan Sapi Jantan Simental dengan Sapi Betina Bali Disusun oleh:

Kelompok I

Koordinator : Ariya Dwi Nugrahanto PT/06621

Muhammad Aziz PT/06552

Anggota : Ahmat Yusuf Ulin Nuha PT/05821

Hafidz akbar Afandi PT/06307

Achyadi D S Silalahi PT/06404

Latiffa Lutfiani PT/06460

Angesti Budi Utami PT/06491

Prabowo Priambodo PT/06589

Fatatih Mariyam Sakinah PT/06515

LABORATORIUM PEMULIAAN TERNAK

BAGIAN PRODUKSI TERNAK

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2015

(2)

I. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Prospek usaha industri ternak sapi potong cukup menjanjikan mengingat pasarnya masih terbuka luas, baik pasar di dalam negri maupun di luar negri. Permintaan yang tinggi akan produk utama dan olahan dari sapi potong menjadi peluang tersendiri bagi pelaku ekonomi dari hulu dan hilir. Meningkatnya permintaan tersebut terjadi ketika hari-hari besar, terutama hari raya Idul Adha. Hal ini dikarenakan produk peternakan memiliki keunggulan dibanding produk pertanian. Keungulan tersebut yaitu memiliki nilai gizi yang tinggi, mudah dicerna dan diserap kandungan gizinya , mempunyai cita rasa dan aroma yang lezat, sesuai kebutuhan manusia, serta bernilai ekonomis yang tinggi (Suryanto et al., 2008).

Permintaan yang tinggi akan produk tersebut memicu peternak untuk menciptakan inovasi dalam persilangan sapi potong untuk menghasilkan bibit sapi potong yang unggul. Sapi yang yang disilangkan umumnya merupakan hasil perkawinan Inseminasi Buatan (IB). Menurut Ismaya (2014) bahwa IB adalah suatu proses pemasukan atau deposisi sperma ke dalam organ reproduksi betina saat estrus dengan alat buatan dan dibantu manusia. Metode perkawinan ini sudah sangat banyak dilakukan oleh peternak sapi potong. Adanya IB diharapkan dapat meningkatkan mutu genetik maupun fenotip ternak serta daya adaptasi ternak tersebut. Hal ini mengingat sapi persilangan membawa keunggulan dari masing-masing sapi potong yang dikawinkan.

b. Tujuan

1. Mengetahui potensi sapi Bali untuk dikembangkan .

2. Mengetahui apa yang terjadi apabila sapi Bali tetap disilangkan dengan sapi Bali pada umumnya.

3. Mengetahui penncapaian genetik yang baik, sapi Bali dapat disilangkan dengan sapi jenis apa.

4. Mengetahui peningkatan produktivitas dan hal apa saja yang diperhatikan sebagai dasar seleksi produktivitas yang baik.

5. Mengetahui perbedaan pada bobot sapih antara SimBal dengan jenis persilangan lainnya.

(3)

6. Mengetahui perbedaan pada bobot umur satu tahun antara SimBal dengan jenis persilangan lainnya.

7. Mengetahui perbedaan pada ukuran tubuh antara SimBal dengan jenis persilangan lainnya.

8. Mengetahui perbandingan kualitas sapi Bali apabila disilangkan dengan sapi Simmental dibandingkan disilangkan dengan sapi Bali. c. Manfaat

1. Membantu pemerintah untuk menemukan bibit unggulan untuk sapi potong.

2. Membantu akademisi untuk mengetahui dampak persilangan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

a. Jenis sapi potong

i. Sapi Potong Lokal

Sapi potong di Indonesia beraneragam macamnya. Sapi potong di Indonesia diantaranya adalah sapi madura, sapi bali , dan sapi jawa. Sapi Bali adalah Banteng (Bos Sondaicos) yang telah mengalami domistikasi (penjinakkan). Terdapat di Indonesia di Pulau Bali, yang dibudidayakan secara alami. Merupakan sapi tipe dwiguna (pedaging dan pekerja). Sapi Bali mempunyai bentuk dan tanda-tanda yang sama dengan Banteng, hanya ukurannya lebih kecil akibat proses domistikasi. Tinggi sapi dewasa mencapai 130 cm, berat badan antara 300-400 kg, Jantan kebiri dapat mencapai 450 kg. Sapi Bali memiliki warana bulu yang khas. Pedet (anak sapi atau sapi yang belum dewasa) warna bulunya merah sawo matang atau merah bata. Pada sapi dewasa betina warna akan tetap, tetapi untuk yang jantan berubah menjadi kehitam-hitaman.

Terdapat warna putih pada bagian-bagian tertentu, misalnya pada keempat kakinya, mulai dari sendi tarsus dan carpus kebawah sampai kuku, pada bagian pelvis dengan batas yang nampak jelas karena dibatasi oleh pertemuan bulu yang mengarah ke dalam dan ke luar, pada bibir bawah, tepi daun telinga dan bagian dalam daun telinga. Pada bagian punggung mempunyai garis hitam(garis belut). Tanduk yang jantan tumbuh agak di bagian luar kepala, mengarah ke latero-dorsal, terus membelok dorso cranial, sedang yang betina agak dibagian dalam dari kepala, mengarah ke latero-dorsal menuju dorso medial. Sapi Madura merupakan hasil persilangan Bos Indicus (Zebu) dengan Bos Sondaicus (Banteng). Pada tubuhnya dijumpai tanda-tanda sebagai warisan dari kedua golongan sapi tersebut. Sapi

(4)

Madura merupakan sapi tipe dwiguna (pedaging dan pekerja). api jantan memiliki tubuh bagian depan lebih teguh daripada tubuh bagian belakang, sedikit berpunuk yang betina tidak berpunuki. Warna baik jantan maupun yang betina adalah merah bata. Tanduk melengkung setengah bulan dengan ujungnya menuju ke arah depan. Berat badan maksimum dapat mencapai 350 kg dengan tinggi rata-rata 118 cm (BBPTU, 2013).

Sapi jawa memiliki ciri-ciri hampir mirip dengan sapi madura hanya saja kakinya lebih panjang dari pada sapi madura (Panjono, 2012).

ii. Sapi Potong Impor

Sapi potong impor merupakan sapi yang didatangkan dari luar negri karena dinilai memiliki bentuk dan ukuran yang besar. Sapi potong impor contohnya Sapi Simmental, sapi Limosine, dan sapi Angus. Sapi Simmental termasuk Taurus. Sapi ini berasal dari lembah Simme ( Swiss bagian barat). Sapi Simmental berwarna krem, merah bata, atau emas belang putih. Bentuk tubuhnya kekar dan berotot. Pertambahan bobot badan harian adalah 0,9 sampai 1,2 kg. Produksi karkas tinggi dengan sedikit lemak. Diindonesia sapi Simmental digunakan untuk program grading up sapi lokal, melalui inseminasi buatan. Asil inseminasi sapi PO betina dengan semen sapi Simmental membentuk sapi SimPo (Simmental Peranakan Ongole) ( Panjono, 2012).

Sapi Limousin kadang disebut juga Sapi Diamond Limousine (termasuk Bos Taurus), dikembangkan pertama di Perancis, merupakan tipe sapi pedaging dengan perototan yang lebih baik dibandingkan Sapi Simmental.Secara genetik Sapi Limousin adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi di luar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan lebih teratur.Sapi jenis limousin ini merupakan salah satu yang merajai pasar-pasar sapi di Indonesia dan merupakan sapi primadona untuk penggemukan, karena perkembangan tubuhnya termasuk cepat, bisa sampai 1,1 kg/hari saat masa pertumbuhannya. Sapi Angus merupakan sapi yang mempunyai tingkat kualitas karkas yang sangat bagus, serta mempunyai ketahanan terhadap penyakit dan merupakan keturunan dari sapi Brahman (BPPTU, 2013).

(5)

b. Perkembangan persilangan sapi potong i. Sejarah persilangan sapi potong

Persilangan yang dilakukan untuk sapi potong sampai saat ini merupakan persilangan yang dikembangkan dari teori mendel. Konsepnya adalah peran suatu gen dalam mewariskan suatu sifat yang dilakukan George Mendel (Sumadi, 2008). Sapi lokal yang ada di Indonesua dahulu hidup dengan liar lalu didomestikasi oleh masyarakat Indonesia. Contohnya adalah sapi Bali. Sapi Bali di domestikasi sekitar akhir abad ke 19. Menurut Anonim (2012) kegiatan penyilangan antara induk sapi bali dengan pejantan banteng dimulai dengan mendatangkan lima ekor sapi Bali betina oleh Dinas Peternakan Jawa Timur pada 20 April 2011 lalu.

ii. Macam-macam Persilangan yang Terjadi di Indonesia

Persilangan sapi potong yang terjadi di Indonesia dilatar belakangi karena dibitiuhkannya ternak yang memiliki efisiensi dalam pakan, cepat pertumbuhannya, baik reproduksinya dan dapat beradaptasi dengan lingkungan di Indonesia. Sapi persilangan yang ada di Indonesia antara lain sapi PO, sapi BX , dan Sapi PFH . Sapi PO ini hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba Ongole (SO) dengan sapi betina Jawa yang berwarna putih. Sapi Ongole (Bos Indicus) sebenarnya berasal dari India, termasuk tipe sapi pekerja dan pedaging yang disebarkan di Indonesia sebagai sapi Sumba Ongole (SO).Warna bulu sapi Ongole sendiri adalah putih abu-abu dengan warna hitam di sekeliling mata, mempunyai gumba dan gelambir yang besar menggelantung, saat mencapai umur dewasa yang jantan mempunyai berat badan kurang dari 600 kg dan yang betina kurang dari 450 kg.

Bobot hidup Sapi Peranakan Ongole (PO) bervariasi mulai 220 kg hingga mencapai sekitar 600 kg.Sesuai dengan induk persilangannya, maka Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, memiliki tenaga yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah beranak, jantannya memiliki kualitas semen yang baik. Sapi Brahman Cross mulai diimport Indonesia (Sulawesi) dari Australia pada tahun 1973. Pada tahun 1975, sapi Brahman cross

(6)

didatangkan ke pulau Sumba dengan tujuan utama untuk memperbaiki mutu genetik sapi Ongole di pulau Sumba. Import`si Brahman cross dari Australia untuk UPT perbibitan (BPTU Sumbawa) dilakukan pada tahun 2000 dan 2001 dalam rangka revitalisasi UPT. Penyebaran di Indonesia dilakukan secara besar-besaran mulai tahun 2006 dalam rangka mendukung program percepatan pencapaian swasembada daging sapi.Dengan pemeliharaan secara intensif yaitu dengan kandang yang sesuai dan pakan yang berkualitas serta iklim yang menunjang, sapi ini sangat bagus pertumbuhannya. Average Daily Gain (ADG) Brahman Cross berkisar antara 1,0 - 1,8 kg/hari. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa mencapai 2 kg/hari. Dibandingkan dengan sapi lokal terutama PO (Peranakan Ongole) yang ADG nya hanya berkisar 0,4 - 0,8 kg/hari tentunya sapi ini lebih menguntungkan untuk fattening (penggemukan) (BPPTU, 2013).

Sapi Holstein termasuk Taurus. Sapi holstein berasal dari suku Batavian dan Friesian. Sapi Holstein mempunyai produksi susu tertinggi dibanding bangsa lainnya yaitu 7,9 ton/tahun. Sapi Holstein merupakan sapi perah yang mampu memanfaatkan rumput secara efisien dan menghasillkan susu yang tinggi. Di Indonesia sapi Holsstein dikenal dikenal sebagai sapi Fries Holland (FH). Pejantan FH digunakan untuk grading up dengan betina lokal sehingga dipeoleh sapi Peranakan FH (PFH) (Panjono, 2012).

c. Dampak Persilangan Sapi Potong

i. Perubahan Populasi dan Penyebarannya

Adanya dampak persilangan antara sapi potong memberikan dampak yang begitu terasa bagi pengamat dan peneliti. Perubahan yang begitu terasa adalah perubahan populasi dan penyebarannya. Adanya persilangan selalu menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak positif adanya persilangan sapi, yaitu menambah variasi ternak yang ada di Indonesia, membuat mutu genetik di Indonesia menjadi lebih baik, dampak, dapat meningkatkan produktivitas dan pengadaan daging untuk swasembada daging. Penyebarannya membuat peternak menjadi senang karena sapi persilangan bobot badannya sangat besar dengan presentase dagingnya yang banyak.

(7)

Dampak negatif adanya persilangan perubahan populasi sapi persilangan sangatlah banyak. Sapi yang di Indonesia banyak sekali perkawinan silangan yang tidak teratur yang bercampur dengan banyak bangsa dan jenis sapi. Hal ini berdampak buruk terhadap plasma nutfah asli Indonesia Penyebarannya yang begitu cepat dan kemudahan IB serta recording yang tidak baik menyebabkan kemusnahan terhadap sapi potong Indonesia.

ii. Perubahan Sifat Kualitatif

Adanya perubahan sifat kualitatif terhadap sapi potong yang disilangkan terjadi interaksi sifat bawaan dari Induk. Sifat bawaan yang muncul dapat berupa kombinasi ataupun salah satu sifat yang mendominasi. Perubahan sifat kualitatif secara tidak langsung maupun langsung berdampak pada perubahan fungsi morfologis dan fisiologis mahluk tersebut (Kee, 2002). Perubahan yang nampak terjadi akibat dari adanya interaksi antara gen sebagai faktor endogen dan lingkungan sebagai faktor eksogen yang mennghasilan performa (Sumadi et al., 2008) .

Perubahan yang sering muncul pada sapi potong yang disilangkan meliputi warna badan, bentuk tubuh seperti kaki, tanduk , indeks kepala, ukuran lingkar dada , tinggi gumba dan lain-lain. Sebagai contoh yaitu, persilangan Sapi Bali dengan sapi jawa. Sapi Jabres memiliki perubahan sifat kualitatif sebagai berikut, yaitu Warna bulu pada bagian tubuh:

1. Badan : bervariasi dari coklat, coklat keputihan, putih, coklat kehitaman dan hitam, yang jantan biasanya coklat kehitaman sampai hitam dan yang betina umumnya coklat. Yang membedakan Sapi Jabres ini dengan sapi bali adalah jika sapi bali memiliki warna putih di bagian kaki dan pantat yang kontras dengan warna merah kecokelatan tubuhnya, pada

(8)

Sapi Jabres warna tersebut memiliki gradasi dan tidak terlihat batas antara warna merah kecokelatan dan putihnya.

2. Kaki : Putih

3. Pantat : Putih tidak kompak sampai kaki 4. Bibir atas : Putih

5. Bibir bawah : Putih

6. Kepala : Putih sebagian kecil di kepala 7. Ekor : bagian ujung berwarna hitam 8. Punggung : Terdapat garis hitam

9. Bentuk tanduk Jantan: melengkung ke atas . Betina:

melengkung ke bawah

10. .Bentuk tubuh ramping, padat dan umumnya tidak berpunuk

iii. Perubahan Kemampuan Produksi

Persilangan umumnya menghasilkan peningkatan produksi akan tetapi umumnya tidak meningkatkan reproduksi bahkan masalah seringkali timbul, disamping itu keberhasilannya perlu didukung oleh program yang mantap serta lingkungan yang dibutuhkan oleh sapi crossbred dapat terpenuhi. Persilangan yang tidak terprogram dengan baik dan target yang belum pasti akan merupakan ancaman bagi plasma nutfah (Astuti, 2004).

iv. Perubahan Kemampuan Reproduksi

Program pengembangan sapi sangat erat hubungannnya dengan sistem reproduktif sapi. Ada pendapat sapi jantan yang di kebiri akan tumbuh lebih cepat. Sapi jantan yang mempunyai genotif yang unggul, postur tubuh yang baik, sehat dan layak menjadi pejantan dapat menjadi pembibit atau sapi pejantan. Sapi yang mempunyai potensi pejantan pemacek atau bank sperma mempunyai harga yang sangat tinggi. Proses pembibitan dapat dilakukan secara mandiri atau dengan bantuan pengawas kesehatan ternak. Menurut Balkely and Bade (1994) perbaikan produksi melalui peningkatan mutu bibit dilakukan usaha penyilangan sapi lokal dengan sapi unggul dari luar. Teknik

(9)

Inseminasi Buatan (IB), menjadi salah satu alternative dan lebih effisien.

Teknik IB membutuhkan skills dan pengalaman yang panjang. Bagi peternak, kecermatan terhadap tanda-tanda sapi birahi sangat penting untuk pengembangan sapi dengan teknik IB. Menurut Ismaya (2014) ciri-ciri ternak yang sedang birahi atau sedang estrus, yaitu berlangsung selama 1 hari, keluar lendir jernih yang mengalir dari cervix yang mengalir dari vagina dan vulva, gelisah, pangkal ekor terlihat sedikt, vulva bewarna merah karena oedem terasa panas, mencoba menunggangi temanya dan pasrah jika ditunggangi sapi lain , sering mengeluh-eluh

III. LANDASAN TEORI

Sapi Bali sangat berpotensi untuk dikembangkan.

Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil domestikasi dari Banteng (Bos-bibos banteng) (Hardjosubroto, 1994), sapi Bali cukup potensial untuk dikembangkan karena memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik serta memiliki produktivitas tinggi (Purwanti dan Harry, 2006).

Yang terjadi apabila sapi Bali tetap disilangkan dengan sapi Bali pada umumnya.

Belakangan ini terjadi penurunan Genetik sapi Bali yang dimanifestasikan dengan turunnya berat badan dan ukuran-ukuran tubuh ternak pada umur jual yang sama (Sariubang et al., 1998). Penyebab turunnya mutu Genetik sapi Bali dikarenakan degenerasi Genetik, yang terjadi akibat seleksi Genetik dan inbreeding pada desa-desa yang menerapkan pola perkawinan tertutup. Selanjutnya menurut Mikema (1987) bahwa pengaruh silang dalam dapat meningkatkan proporsi lokus-lokus Genetik yang heterosigot, bersamaan dengan itu akan terjadi “depresi persedarahan” yang berakibat pada berkurangnya daya tahan, kesuburan dan bobot lahir ternak.

Untuk meningkatkan mutu genetik, sapi Bali dapat disilangkan dengan sapi jenis apa.

(10)

Untuk meningkatkan mutu genetik sapi Bali adalah memasukkan darah baru atau kawin silang melalui program Inseminasi Buatan (IB) dengan menggunakan mani beku dari beberapa bangsa yaitu ; Simmenthal , Limousin, Brahman, PO dan Bali yang di IB ke sapi Bali betina. Program peningkatan mutu genetik dengan memasukkan darah baru atau kawin silang melalui IB keberhasilannya sangat ditentukan oleh kekuatan pengaruh gen pejantan dan kecocokan gen pejantan dengan kondisi lingkungan masyarakat peternak di Kabupaten Batanghari dan dapat dilihat dari produktivitas turunannya.

Dalam peningkatan produktivitas, hal yang diperhatikan sebagai dasar seleksi produktivitas yang baik.

Produktivitas adalah kemampuan berproduksi dari seekor ternak dan dapat dilihat dari bobot badan dan pertambahan bobot badannya (Chamdi, 2005). Selanjutnya menurut Wijono et al. (2006) bobot sapih umur 205 hari dapat digunakan sebagai dasar seleksi dan memberikan dampak positif pada pertumbuhan selanjutnya dan secara tidak langsung menggambarkan potensi genetik dan dan kemampuan induk untuk memelihara anaknya, sedangkan bobot satu tahun dapat digunakan untuk mengetahu kemampuan adaptasi seekor ternak terhadap kondisi lingkungannya.

Terjadi perbedaan pada bobot sapih antara SimBal dengan jenis persilangan lainnya.

Bangsa Pejantan I n d u k Bobot Sapih (kg) S i m m e n t h a l B a l i 131.61 ± 27.78a L i m o u s i n B a l i 1 2 8 . 7 5 ± 7 . 9 7 b B r a h m a n B a l i 1 1 5 . 9 0 ± 8 . 4 4 c

P O B a l i 1 1 1 . 6 6 ± 7 . 8 3 d

B a l i B a l i 108.61 ± 20.60e

Bobot sapih SimBal lebih baik dibandingakan hasil persilangan lainnya. Hal ini sesuai dengan Hadi dan Ilham (2000) yang menyatakan bahwa peranakan Simmental memiliki Pertambahan bobot badan yang tinggi, tingkat konversi pakan dan karkas yang lebih tinggi dan komponen tulang lebih rendah. Artinya Adanya perbedaan bobot sapih dari hasil persilangan ini diduga karena adanya pengaruh genetik dari pejantan dan berat badan bangsa penyilang. Menurut Becker (1985)

(11)

bahwa berat sapih dipengaruhi genetik dan lingkungan. Jadi besar kecilnya berat sapih seekor ternak sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan.

Terjadi perbedaan pada bobot umur satu tahun antara SimBal dengan jenis persilangan lainnya.

Bangsa Pejantan I n d u k Bobot Satu Tahun (kg) S i m m e n t h a l B a l i 179.21 ± 26.66a L i m o u s i n B a l i 176.80 ± 29.27b

B r a h m a n B a l i 157.60 ± 16.90c

P O B a l i 148.25 ± 22.12d

B a l i B a l i 147.26 ±19.87d

Bobot badan turunan hasil persilangan lebih baik dibandingkan perkawinan dalam satu bangsa Hal ini sesuai dengan pernyataan Depison dan Sumarsono (2001). Bobot Badan dan Pertambahan bobot badan hasil persilangan pejantan simmental dengan Bali lebih baik dibandingkan pejantan Brahman, Limousin dan Bali. Selanjutnya Sitorus et al. (1995) bahwa persilangan sapi Bali dengan bangsa lain khususnya yang berasal dari daerah sub tropik memiliki bobot badan yang lebih baik. Jadi dapat dinyatakan persilangan sapi Simmental, Ongole, Brahman dan Limousin dengan induk sapi Bali dapat meningkatkan mutu genetik turunannya dan turunan terbaik adalah hasil perkawinan pejantan Simmental dan Induk Bali.

Terjadi perbedaan pada ukuran tubuh antara SimBal dengan jenis persilangan lainnya. Bangsa Pejantan U m u r H a r i U k u r a n U k u r a n T u b u h P B L D T P S i m B a l 2 0 5 1 0 1 . 5 7 5 1 2 8 . 6 5 100.81 3 6 5 1 1 1 . 2 7 1 5 0 . 4 6 5 1 0 9 . 2 3 L i m B a l 2 0 5 1 0 4 . 1 1 3 2 . 2 1 100.06 3 6 5 1 0 8 . 5 7 5 1 4 7 . 1 9 1 0 6 . 5 2 B r a h B a l 2 0 5 9 5 . 3 0 5 1 2 0 . 9 1 5 93.585 3 6 5 1 0 3 . 9 5 5 1 4 0 . 2 0 5 9 9 . 7 6 P o B a l 2 0 5 9 3 . 6 3 1 2 5 . 9 2 5 98.255 3 6 5 1 0 4 . 8 8 5 1 4 3 . 7 7 5 1 0 8 . 6 6

(12)

B a l B a l 2 0 5 8 2 . 3 3 5 1 2 1 . 5 7 86.545

3 6 5 9 1 . 7 6 1 2 2 . 5 5 9 0 . 2 2

Anak hasil persilangan induk Bali dengan pejantan Simmental, Brahman, Limousin dan Ongole mempunyai ukuran yang lebih baik dibandingkan perkawinan Bali X Bali. dan persilangan dengan jenis taurus lebih baik dari Indicus dan perkawinan sesama Bali (Bos Suncaicus). Hal ini sesuai dengan pernyataan Subandriyo dan Anggraini (1996) yang menyatakan bahwa hasil persilangan umumnya mempunyai penampilan yang lebih baik dibandingkan dengan bangsa tetuanya

Mengapa lebih baik sapi Bali apabila disilangkan dengan sapi Simmental dibandingkan disilangkan dengan sapi Bali.

Menurut Depison (2002) bahwa persilangan induk sapi Bali dengan pejantan Simmental atau Brahman atau Limousin atau Ongole dapat meningkatkan produktivitas turunannya dan selalu menghasilkan bobot badan yang lebih baik dibandingkan perkawinan induk Bali dengan pejantan Bali. Selanjutnya Menurut Ludy et al. (2004) bahwa penampilan seekor ternak dapat diketahui berdasarkan penampilan dari ukuran tubuh, berat lahir, dan berat badan sapi. Penampilan berat badan adalah penting dalam perbaikan kualitas, karena hal ini akan membantu di dalam program seleksi.

IV. HIPOTESIS

Mengingat salah satu keunggulan sapi simmental adalah sapi tipe besar

dengan capaian bobot badan hingga 800 kg, hanya saja pemeliharaannya harus

dengan perlakuan yang baik dan pemberian pakan dengan kualitas yang baik.

Sedangkan sapi bali memiliki kelebihan sebagai sapi lokal yang mudah

beradaptasi, dapat tumbuh dengan baik walaupun dengan ransum makanan

yang jelek, dan diketahui sapi bali memiliki prosentase karkas yang tinggi dan

kualitas daging yang baik walaupun dengan bobot badan yang tidak terlalu

besar. Diharapakan dari persilangan sapi jantan simmental dengan sapi betina

bali dapat menghasilkan peranakan sapi yang memiliki bobot badan besar

dengan prosentase karkas tinggi dan ketahanan terhadap cuaca panas di

daerah tropis. Sehingga menjadi solusi jenis sapi potong yang tepat untuk

dikembangkan di Indonesia.

(13)

V. DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Maria. 2004. Potensi dan Keragaman Sumber Daya Sapi Peranakan Ongole. Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta

Becker, W.A., 1985. Manual Of Quantitative Genetik.4th Edition. Published By Academia Enter Princes, Dulman. Washington.

Blakely, J. and D.H. Bade. 1994. Ilmu Peternakan Umum. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Chamdi, A.N., 2005. Karakteristik Sumber-daya Genetik Ternak Sapi Bali (Bos-Bibos banteng) dan Alternatif Pola Konservasinya. Biodiversitas. Volume 6, No. 1. Edisi Januari halaman: 70-75

Depison dan Sumarsono, T., 2001. Evaluasu hasil perkawinan induk sapi Bali dengan beberapa bangsa Pejantan di Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Bungo Tebo. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Vol IV No. 1 Edisi Februari. Hal 29 - 35.

Hadi, P.U. dan Ilham, N., 2000. Peluang pengembangan usaha pembibitan ternak sapi potong di Indonesia dalamrangka swasembada daging 2005. Agripet Vol 10, No. 1,

April 2010 41 Makalah dipresentasikan dalam Pertemuan Teknis Penyediaan Bibit Nasional dan Revitalisasi UPT T.A. 2000. Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Jakarta, 11−12 Juli 2000. 22 hlm.

Hardjosubroto, W., 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Ismaya. 2014. Bioteknologi Inseminasi Buatan pada Sapi dan Kerbau. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Ludy K., Kristianto dan Nappu, M. B., 2004. Prospek pengembangan sapi potong melalui pola penggembalaan kolektif dalam upaya swasembada daging sapi di kalimantan timur. Lokakarya Nasional Sapi Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur.

Mikema, D., 1987. Dasar Genetik dalam Pembudidayaan Ternak. Jakarta: Bharata Karya Aksara.

Panjono. 2012. Bangsa-Bangsa Sapi. Citra Aji Parama. Yogyakarta.

Purwanti, M. dan Harry. 2006. Upaya pemuliaan dan pelestarian sapi Bali di provinsi Bali. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 1 No. 1. Hal 34 – 41.

Sariubang, M., Pasambe, D. dan Chalidjah. 1998. Pengaruh kawin silang terhadap performans hasil turunan pertama (F1) pada sapi Bali di Sulawesi Selatan. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, 1-2 Desember 1998.

(14)

Sitorus, P., Subandriyo, Prasetyo, L.H., Rachmawati, S., Tambing, S.N., Gunawan, A. dan Setiadi, B., 1995. Pengaruh Penyebaran Berbagai Jenis Sapi Bibit melalui Inseminasi Buatan terhadap Penyebaran dan

Pengembangan Ternak Sapi di Kawasan Timur Indonesia. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.

Subandriyo dan Anggraini, A., 1996. Pendekatan Konser-vasi In-Situ Aktif Sumber-daya Genetik Ternak Rumi-nansia. Balai Penelitian Ter-nak Bogor. Diskusi Panel Konservasi Pelestarian In-Situ Palsma Nutfah Ternak Ruminansia, Bogor.

Sumadi., T.Hartatik. H.Mulyadi., dan Supriyoni. 2008. Ilmu Genetika dan Dasar Pemuliaan Ternak. Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta.

Suryanto, Edi., B. Suhartanto., T. Yuwanta., dan E, Sulastri.2008. Pengantar Ilmu Industri Peternakan. Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta.

Wijono, D. B., Hartatik dan Mariyono, 2006. Korelasi bobot sapih terhadap bobot lahir dan bobot hidup 365 pada sapi peranakan Ongole. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Vetreriner.

(15)

METODOLOGI PENELITIAN

TUGAS IV

PERUMUSAN MASALAH

Disusunoleh:

KelompokI

Koordinator: Hafidz Akbar Afandi PT/06307 Anggota : Ahmat Yusuf Ulin Nuha PT/05821 FatatihMariyamSakinah PT/06515

AchyadiDaud PT/06404

LatiffaLutfiani PT/06460

Angesti Budi Utami PT/06491

Muhammad Aziz PT/06552

PrabowoPriambodo PT/06589

Ariya Dwi Nugrahanto PT/06621

LABORATORIUM PEMULIAAN TERNAK

BAGIAN PRODUKSI TERNAK

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2015

(16)

1.Berilah definisi hipotesis

Hipotesis adalah suatu jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kenbenarannya harus diuji secara empiris

2.Beri keterangan singkat apaarti hipotesis

Dalam arti singkat hipotesis adalah kesimpulan atau dugaan sementara

3.Bilamana penelitian itu dimungkinkan tanpa hipotesis?

maka Sering kali peneliti tidak dapat memecahkan permasalahannya hanya dengan sekali jalan. Permasalahan itu akan diselesaikan segi demi segi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk tiap-tiap segi, dan mencari jawaban melalui penelitian yang dilakukan.

4.Apa kegunaan hipotesis ?

a. memberikan batasan serta memper kecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian

b. menyiapkan peneliti kepada kondidin fakta dan hubungan antara fakta, yang kadang-kadang lepas dan perhatian peneliti

c. sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang terpisah-pisah kedalam suatu kesatuan penting danm enyeluruh

d. sebagaipanduandalampengujiansertapenyesuaiandenganfaktadanantarfakta

5.Jelaskanciri-cirihipotesis ?

a. Hipotesis harus merupakan pernyataan dugaan tentang hubungan antar dua variabel atau lebih

b. hipotesis harus cocok dengan fakta, artinya kandungan konsep dan variabel harus jelas

c. hipotesis harus tumbuh dan ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan dan berada dalam bidang penelitian yang sedang dilakukan

(17)

dengannalardankekuatanmembelialasanataupundenganmenggunakanalat-alatstatistika e. hipotesisharusdinyatakandalambentuk yang sederhanadanterbatasuntukmengurangitimbulnyakesalahpahamanpengertian f. hipotesisharusdinyatakandalambentuk yang dapatmenerangklanhubunganfaktayang

adadandapatdikaitkandenganteknikpengujianujian yang dapatdikuasai

6.Berilahcontohhipotesisnul, danhipotesiskerja

1. Hipotesa Kerja, atau disebut juga dengan Hipotesa alternatif (Ha). Hipotesa kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.

2. Hipotesa Nol (Null hypotheses) Ho. Hipotesa nol sering juga disebut Hipotesa statistik,karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik. Bertolak pada pemikiran diatas dapat penulis kemukakan bahwa dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis kerja dan hipotesis nihil (nol).

Contoh Hipotesa yang diajukan dalam penulisan penelitian.

Hipotesis Kerja (H1) ” Pembelajaran Matematika dengan Penerapan Model Sinektiks lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran matematika tanpa Penerapan Model Sinektiks Terhadap Proses Belajar Bidang Studi Matematika Sub Pokok Bahasan Persamaan Linear ”.

Hipotesis Nihil (H0) ” Pembelajaran Matematika dengan Penerapan Model Sinektiks tidak efektif dibandingkan dengan pembelajaran matematika tanpa Penerapan Model Sinektiks Terhadap Proses Belajar Bidang Studi Matematika Sub Pokok Bahasan Persamaan Linear ”.

7.Sebutkanunsurdasarperumusanhipotesis?

(18)

b. Faktaempiriscukupmemadai yang

diperolehdaripenelitiansebelumnyaataudaridiskusidandaripustaka c. Penelitidapatmengambilasumsi, walaupunmasihimaginatif, untukmenjawabmasalah

8.Sebutkan5 persyaratanhipotesisyang harusdipenuhi?

a. Kalimatdeklaratif yang menjawabpermasalahanpenelitian

b. Kaliamtitumengekspresikanmacamhubunganantaraduavariabelataulebih c.

pernyataanitumengandungpengertianoperasionalnyayangmemungkinkandilakuka npembuktiansecaraempiris, yaitudapatdiukurdandapatdiuji

d. tidakmenyimpangdanteori yang telahada,

walaupunhasilpenelitianitumungkinmenolakteoritersebut

e. berwawasanluasyaitubercakupan yang cukup, artinyasubstansicukup, tidakterlaluluastetapijugatidakterlalusempit

9.Apakahsignifikansihipotesisitu?

a. Bergunadanmenunutnarahacarkerja

b. sebagaialatuntukmelokalisasifenomenaproblematikdanmengidentifikasivariabel c. memberipetunjukpenentuanprosedurdanpembuatanrenacanapenelitian

Referensi

Dokumen terkait

Metode ini didasarkan pada persamaan momen contoh dan momen teoritis, kemudian memecahkan persamaan-persamaan tersebut untuk mendapatkan penduga bagi parameter

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan teknik dan metode yang baik menguasai materi pelajaran serta dapat menumbuhkan pengetahuan, rasa ingin tahu dan

Berikut ini adalah code dari file hal1.php, hal2.php, dan hal3.php sehingga dapat menampilkan nama user yang telah disimpan dalam session.. Misalkan terdapat lebih dari satu

Tidak jauh berbeda dengan peneitian terdahulu, respon strategis untuk membantu membuka lebar akses masyarakat miskin ke pengadilan adalah dengan semakin

3) Daftar Nilai Hasil Ujian Akhir Sekolah Berstandart Nasional yang selanjutnya disebut dengan DNHUASBN, adalah daftar nilai mata pelajaran yang didapat dari hasil Ujian Akhir

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada tanggal 1 Maret 2008, konsentrasi oksigen terlarut secara umum cenderung mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya

V Kemampuan menyesuaikan diri untuk melaksanakan berbagai tugas yang sering berganti dari tugas yang satu ke tugas yang lainnya, yang berbeda sifatnya tanpa. kehilangan

Jumlah berita tersebut lebih besar jika dibandingkan dua kandidat lain, Achmad Purnomo (77 berita) dan Bagyo Wahono (19 berita). Namun banyaknya pemberitaan Gibran