• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBUATAN MATERIAL SINTESIS NANO HYDROXYAPATITE UNTUK APLIKASI SCAFFOLDS TULANG MANDIBULA DARI TULANG CUMI SONTONG MENGGUNAKAN METODE KALSINASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMBUATAN MATERIAL SINTESIS NANO HYDROXYAPATITE UNTUK APLIKASI SCAFFOLDS TULANG MANDIBULA DARI TULANG CUMI SONTONG MENGGUNAKAN METODE KALSINASI"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

PEMBUATAN MATERIAL SINTESIS NANO HYDROXYAPATITE UNTUK APLIKASI

SCAFFOLDS TULANG MANDIBULA DARI TULANG CUMI SONTONG

MENGGUNAKAN METODE KALSINASI

Solechan, Rubijanto JP

Teknik Mesin-Fakultas Teknik- Universitas Muhammadiyah Semarang

Jl. Kasipah no.12 Semarang 50254

e-mail : [email protected]

Abstrak

Bioceramik dapat digunakan untuk aplikasi medik, seperti restorasi kerusakan jaringan keras. Kerusakan jaringan keras tubuh berupa kecacatan struktur tulang. Di indonesia sekitar 40 % cacat bawaan dan penyakit, sisanya cacat kecelakaan. Kasus tumor tulang sendiri, kasusnya kurang dari 1% dari semua jenis kanker di dunia. Untuk Tumor mandibula berpotensi menimbulkan gangguan pengunyahan, saluran napas, penelanan dan berbicara. Pengangkatan tumor mandibula menimbulkan cacat, maka perlu rekonstruksi mandibula dengan transplantasi implan scaffolds. Material HA untuk pembuatan scaffolds sangat mahal karena produk impor. Tulang cumi sotong (cuttlefish) mengandung kalsium karbonat, dengan proses kalsinasi akan terbentuk sintesis HA untuk pembuatan scaffolds. Diharapkan material HA ini, harganya lebih murah dan kwalitasnya sama dengan HA komersil. Riset ini, membuat sintesis nano HA untuk material scaffolds implan mandibula dari tulang cumi sotong menggunakan proses kalsinasi temperatur rendah. serbuk diambil dari tulang cumi sotong dengan cara menggarukan spatula pada permukaan tulang. Bubuk kapur tulang cumi sotong

di kalsinasi dengan variasi suhu 900, 1000, dan 1100oC untuk mendapatkan sintesis HA yang

terbaik menurut uji karakteristik. Sedangkan mendapatkan sintesis nano HA dilakukan proses penghancuran menggunakan mesin ball milling. Waktu variasi penghancuran HA mulai dari 1, 2 dan 3 jam operasional. Material sintesis HA di uji karakteristik sesudah di ball milling. Uji karakterstik sintesis nano HA mulai dari uji XRD, FTIR, dan SEM. Hasil uji XRD menunjukan meningkatnya temperatur kalsinasi akan merusak gugus fungsi dari material sintesis HA nanomaterial dengan bentuk fase semi kristal. Temperatur kalsinasi yang optimal

pada suhu 900oC. Proses ball milling semakin lama menjadikan ukuran butir semakin kecil,

tetapi waktu proses ball milling 3 jam belum mampu menjadikan material HA berukuran nano. Secara karakterisasi material sisntesis HA nanomaterial TK-900/BL-1 menyamai karakteristik HA komersil (Sigma Aldrith), tetapi fase ketinggian puncak masih dibawahnya, sehingga material sintesis HA nanomaterial untuk kristalnya masih rendah.

Kata kunci: Hydroxyapatite, kalsinasi, nanometer, scaffold, tulang cumi sotong.

1. PENADAHULUAN

Bioceramik dapat digunakan untuk aplikasi medik, seperti restorasi kerusakan jaringan keras

(Karageorgiou., 2005). Kerusakan jaringan keras tubuh yang berupa kecacatan struktur tulang

banyak terjadi di Indonesia. Sekitar 40 % cacat bawaan dan penyakit, sisanya cacat kecelakaan

(Chen et al., 2008). Kasus tumor tulang sendiri, kasusnya kurang dari 1% dari semua jenis kanker

di dunia (salter RB., 1984). Lokasi tumor paling banyak ditibia 41%, tulang femur 33%, tulang

maxillofacial dan mandibular 3%, tulang radius 2% dan tulang fibula 2 % (Nacomical survellience

system data.

, 2011). Tumor mandibula berpotensi menimbulkan gangguan pengunyahan, saluran

napas, penelanan dan berbicara (Fonseca RJ., 2000). Pengangkatan tumor mandibula sering

menimbulkan cacat, mulai dari celah pada tulang alveolus sampai diskontinuitas tulang mandibula

(Smith., 2006). Maka perlu rekonstruksi mandibula untuk pembentukan kontinuitas dengan

transplantasi implan (Stošić S., 2008).

Teknik rekonstruksi mandibular banyak mengunakan tulang autogenous, osteogenetik, plat

logam, dan cangkok rekayasa jaringan (Stošić, 2008). Rekonstruksi mandibular dengan tulang

autogeneous pada cacat besar menjadi sulit dibentuk secara klinis karena morbiditi dari pendonor

dan waktu pembedahan yang panjang. Plat logam rekonstruksi dengan pengembangan pendekatan

alternatif, kekuranganya sulit dibentuk anatomi mandibular dan ada kerusakan pada area tekuk dan

(2)

biasanya mengacu pada hasil fungsi tidak bagus. (Singare S, 2004). Rumah Sakit telah

mengembangkan pendekatan alternatif untuk pengganti tulang dengan meniadakan operasi panen

tulang dengan scaffolds prothesisis (Sandia National Laboratories dan Carle Foundation Hospital,

2010). Beberapa material scaffolds telah dikaji untuk dikembangkan menjadi bahan bioaktif yang

akan memacu terjadinya biomineralisasi pada tulang adalah material berbasis bioceramic seperti

Calcium Phosphate atau Tricalcium phosphate (TCP). Material hasil sintesisnya berupa

Hydroxyapatite (HA) yang memiliki sifat bioaktif dan mampu memacu terbentuknya lingkungan

yang sesuai pada proses osteogenesis atau pertumbuhan tulang dengan adanya lapisan mineralisasi

sebagai penghubung antara bahan dan jaringan (Sopyan, 2004). Material HA dipatentkan oleh Etex

Corp umumnya berbentuk powder dan cara manufakturnya (Hench., 1991), tetapi mahal untuk

pasien Indonesia karena produk impor. Sementara HA sintesis dari bahan alam seperti gypsum,

calcite, tulang sapi, dan kitin bisa dikonversi berbentuk serbuk HA dengan harga relatif mahal

(Tontowi, A.E dkk, 2006).

Kitin dihasilkan dari binatang berkulit keras seperti udang, kepiting, rajungan, lobster, kerang,

tulang cumi sotong dan lain-lain. Kitin memiliki senyawa yang stabil terhadap reaksi kimia, tidak

beracun (non toxic) dan bersifat biodegradable (Deng et al, 2010). Untuk tulang cumi sotong

(cuttlefish) pada Gambar 1 memiliki kandungan kalsium karbonat, sodium klorida, kalsium fosfat

dan garam magnesium (Bihan et al, 2006). Dengan proses pemanasanan (kalsinasi) akan

membentuk sintesis HA (Fu Q, et al, 2008) yang memiliki kesamaan komposisi kimia dengan

jaringan tulang asli (Javidi et al. 2008). Kalsinasi dilakukan dengan suhu berkisar 900-1300

o

C

(Nazarpak, et al, 2009). Material HA dibentuk scaffold untuk mengisi kekurangan tulang akibat

reseksi pada tulang mandibula. Oleh karena itu, pada riset ini, ingin melakukan studi awal

pembuatan sintesisi nano hydroxyapatit untuk scaffolds tulang mandibula dari tulang cumi sotong

dengan proses klasinasi. Keberhasilan riset awal ini, membuka jalan untuk fabrikasi material

scaffold dengan jumlah banyak (skala industri) untuk mencukupi pasien tumor mandibula dengan

biaya yang terjangkau pasien Indonesia.

Gambar 1. (a) Sotong utuh, (b) Cangkang Sotong

2. METODOLOGI

Riset yang diusulkan ini akan dilakukan mengikuti diagram alir pada Gambar 2 untuk

memudahkan pengambilan data penelitian. Material yang digunakan dalam riset ini adalah tulang

cumi sontong, dan HA komersial buatan Sigma Aldrich sebagai pembanding. Dalam riset ini,

spesimen dibuat sesudah di ball milling atau diperhalus dengan waktu 1, 2, dan 3 jam.

Langkah-langkah pembuatan sintesis HA mulai pembersihan tulang cumi sotong dengan cara merendamkan

didalam aquadesh untuk membersihkan dari kotoran. Hasil pembersihan tulang cumi sotong

dikeringkan didalam microwave pada suhu 100

o

C selama 2 jam. Setelah kering diambil bubuk

kapur yang menempel pada tulang cumi sotong dengan cara menggarukan spatula ke permukaan

tulang. Bubuk kapur hasil pengambilan dari tulang cumi sotong diayak dengan ukuran mesh 200

menghasilkan ukuran butir yang keluar 76 µm. Bubuk kapur cumi sotong dikalsinasi kedalam

muffle atau dapur induksi untuk mendapatkan sintesis HA. Temperatur kalsinasi 900, 1000 dan

1100

o

C dengan penahanan waktu 1,2, dan 3 jam. Pengambilan bubuk sintesi HA menggunakan

pendinginan alami, dengan cara menurunkan temperatur kontrol pada suhu 27

o

C baru diambil.

(3)

Hasil pengambilan dari muffle diberi kode TK-900/BL-0, TK-1000/BL-0, dan

TK-1100/BL-0. Proses selanjutnya pembuatan sintesis HA dengan ukuran nanonmeter menggunakan mesin ball

milling sebagai penghancur. Variasi waktu operasional proses ball milling mulai dari1, 2, dan 3

jam. Hasil proses ball milling diberi kode TK-900/BL-1, TK-1000/BL-2, dan TK-1100/BL-3,

sedangkan sebagai pembanding diberi kode HA-OG. Kode TK-900 menunjukan temperatur

kalsinasi 900

o

C dan BL-1 menunjukan waktu ball milling 1 jam. Spesimen pengujian berbentuk

powder atau bubuk mulai dari pengujian XRD, FTIR, dan SEM untuk mengkarakterisasi sintesis

HA nanomaterial. Hasil pengujian sintesis HA nanomaterial dikomparasi dengan HA original merk

Sigma Aldrich.

Gambar 2. Diagram alir penelitian

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Hasil Uji X-Ray Diffractometer (XRD)

Material sintesis nano HA berbentuk serbuk (powder) yang diperlihatkan pada Gambar 3

dilakukan pengujian XRD. Sampel berbentuk serbuk ditaruh dalam anvil (landasan) pada mesin

XRD merk Philips-binary. Penembakan dilakukan di daerah permukaan butir, sehingga dapat

mengidentifikasi jenis mineral yang terkandung dalam permukaan butiran. Hasil pengujian sebuah

sampel diprint-out dan dapat dicopy dengan perangkat pengcopy (flashdisk) untuk dapat diolah

datanya dengan software lain semacam Origin-50. Hasil data berbentuk grafik yang menampilkan

unsur senyawa dan bentuk kristal.

(4)

4

Material sintesis HA nanomaterial dari tulang cumi sontong di ball miiling untuk

mendapatkan butiran yang lebih halus. Waktu penghalusan selama 1, 2, dan 3 jam menggunakan

mesin ball milling. Temperatur kalsinasi dengan variasi 900

o

C. 1000

o

C, dan 1100

o

C. Pengaruh

temperatur kalsinasi terhadap waktu proses ball milling disajikan dalam Gambar 4a, b, c.

a.

Pola difraksi sinar-X spesimen TK-900/BL-1

b. Pola difraksi sinar-X spesimen TK-1000/BL-2

c. Pola difraksi sinar-X spesimen TK-1100/BL-3

Gambar 4. Pola difraksi sinar-X dari produk kalsinasi pada berbagai temperatur dan waktu ball

milling

Po sition [ °2T he ta ] ( C o pp e r ( C u) ) 2 0 3 0 40 5 0 60 7 0 8 0 C o un ts 0 20 0 40 0 60 0 80 0 Se s ud a h T K .90 0 B L.1 P o s i t i o n [ ° 2 T h e t a ] ( C o p p e r ( C u ) ) 2 0 3 0 4 0 5 0 6 0 7 0 8 0 C o u n t s 0 2 0 0 4 0 0 6 0 0 8 0 0 S e s u d a h T K . 1 0 0 0 B L _ 2

Position [°2Theta] (Copper (Cu))

20 30 40 50 60 70 80 Counts 0 200 400 600 800 Sesudah TK.1100 BL.3

(5)

Gambar 4 menunjukkan secara umum bahwa kenaikkan temperatur kalsinasi memberikan

difraktogram dengan pola yang serupa namun puncak-puncaknya semakin rendah. Pada puncak

tertinggi dimiliki spesimen sintetetis nano HA TK-900/BL-1 dengan puncak tertinggi sudut °2Th

di 34.0744

o

dengan ketinggian 918.74 cts. Naiknya temperatur kalsinasi menurunkan ketinggian

puncak, bagaimana dimiliki spesimen TK-1100/BL-3 pada sudut 34.1457

o

memiliki tinggi

puncak 819.92 cts. Tingginya temperatur kalsinasi menurunkan tinggi puncak dan mempengaruhi

terbentuknya kristal (Tontowi, A.E., Ana, I.D., dan Siswomihardjo, W., 2006). Gambar 4a, b, c

memberikan difraktogram dengan puncak-puncak yang tajam dan intensitas tinggi. Pola seperti

ini menggambarkan bahwa sampel tersebut berfase semi kristal dan mempunyai kristalinitas yang

masih rendah (Pujianto dkk, 2005). Pada temperatur 900

o

C memberikan kristalinitas yang sedikit

lebih tinggi dari pada temperatur 1000

o

C. Temperatur kalsinasi pada 900

o

C pada Gambar 4a

memberikan difraktogram dengan puncak-puncak yang tajam dengan intensitas yang tinggi

(Nasution, D., 2006). Hal ini menandakan bahwa sampel telah berbentuk kristal dengan tingkat

kristalinitas yang tinggi atau kristal yang sempurna. Penurunan kristalinitas dapat disebabkan oleh

kerusakan kristal dari sampel tersebut, akibat temperatur kalsinasi yang relatif tinggi (Solechan,

2014).

Gambar 5. Pola difraksi sinar-X pada HA komersil (merk Sigma Aldrith)

Pola kristalinitas sampel mengindikasikan bahwa temperatur menentukan proses

kristalisasi bahan tersebut. Dari data diketahui bahwa kalsinasi pada temperatur 900

o

C

memberikan hasil yang terbaik, atau menunjukkan temperatur yang optimum. Apabila pola

difraksi sampel hasil kalsinasi, pada temperatur 900

o

C memiliki kesamaan pola difraksi

hidroksiapatit komersil dari Sigma Aldrith. Kesamaan pola difraksi ini mengindikasikan bahwa

sampel hasil kalsinasi hidroksiapatit, untuk ketinggian puncak masih dibawahnya, sehingga

material sintesis nano HA untuk kristalnya masih rendah. Puncak tertinggi pada HA komersil

mencapai 1.230 cts terjadi perbedaan 311,26 cts ditampilkan pada Gambar 5.

3.2

Hasil Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR)

Karakterisasi gugus fungsi material sinstesis nano HA dari tulang cumi sotong dari pengaruh

temperatur kalsinasi dan waktu ball milling di uji FTIR. Spesimen uji FTIR berbentuk spesimen

serbuk. Spesimen uji dengan kode TK-900/BL-1, TK-1000/BL-2, dan TK-1100/BL-3. Hasil uji

FTIR memperkuat data pada uji XRD dimana HA nanomaterial dari cumi sontong yang dihasilkan

dengan metode kalsinasi memiliki kemurnian yang tinggi. Gugus fungsi partikel HA setiap ikatan

memberikan citra berupa puncak yang khas sehingga berguna untuk identifikasi gugus fungsi

senyawa. Hasil uji FTIR HA nanomaterial dengan variasi temperatur kalsinasi dan waktu ball

milling ditunjukan pada Gambar 6a, b, dan c. Hasil uji spesimen kode TK-900/BL-1

memperlihatkan pada Gambar 6a untuk material HA dari gugus fungsi Ca

10

(PO

4

)

6

(OH) , yaitu

pada wave number 874,50; 1096,82 cm

-1

dimiliki gugus fungsi PO

4-3

. Gugus fungsi CaCo

3

(calcium

carbonat

) pada wave number 1468.81 cm

-1

. Wave number 3639,52 cm

-1

dimiliki gugus fungsi OH.

Hasil uji FTIR menunjukan material sintesis HA nanomaterial memiliki unsur yang dimiliki

(6)

material hydroxyapatite komersil. Uji FTIR ini memperkuat data pada uji XRD.

Gambar 6b pada

spesimen TK-1000/BL-2 menunjukan gugus yang sama dengan TK-900/BL-1. Unsur yang terdapat

gugus PO

4-3

terdapat pada wave number 854,07; 875,00; 1082,76 cm

-1

. Gugus CaCo

3

pada wave

number

1472,23 cm

-1

dan gugus OH pada wave number 3639,62 cm

-1

.

a. Pola FTIR spesimen TK-900/BL-1

b. Pola FTIR spesimen TK-1000/BL-2

c. Pola FTIR spesimen TK-1100/BL-3

Gambar 6. Pola FTIR sampel variabel temperatur dan waktu ball milling

Spesimen TK-1100/BL-3 menunjukan gugus yang sama dengan spesimen lainya. Hasil uji

FTIR diperlihatkan pada Gambar 6c. Unsur yang terdapat gugus PO

4

-3

(7)

number

712,80; 854,53; 873,21; 1082,50 cm

-1

. Gugus CaCo

3

pada wave number 1455,55 cm

-1

dan gugus OH pada wave number 3640,55 cm

-1

. Bertambahnya temperatur kalsinasi dan waktu

ball milling tidak berpengaruh terhadap bentuk gugus senyawa yang dimiliki oleh sintesis HA

nanomaterial dibuktikan dengan uji FTIR. Temperatur kalsinasi 1000

o

C dan 1100

o

C untuk

senyawa PO

4

-3

lebih banyak terdeteksi dengan transmitansi lebih rendah, ini menunjukan

senyawa PO

4

-3

tidak murni dikarenakan rusaknya gugus fungsi yang diakibatkan tingginya

temperatur kalsinasi (Herliansyah, M.K., M, Hamdi., 2009).

3.3

Hasil Uji Scanning Electron Microscope (SEM)

Spesimen uji SEM berbentuk serbuk. Uji SEM untuk mengetahui morfologi bentuk

butiran dan unsur material. Spesimen yang diuji dengan kode TK-900/BL-1, TK-1000/BL-2,

dan TK-1100/BL-3. Pengujian SEM dengan pembesaran 2500x dan 10.000x. Posisi pemotretan

pada permukaan butir HA nonomaterial. Hasil uji SEM spesimen TK-900/BL-1 atau temperatur

kalsinasi 900

o

C dan waktu ball milling 1 jam ditampilkan pada Gambar 7. Bentuk butiran HA

berbentuk kristal, berwarna putih, butiran terpisah satu sama lainya dengan ukuran butir

berdiameter ± 17-18 µm (0,017-0,020 nm). HA dengan senyawa Ca

10

(PO

4

)

6

(OH) pada gambar

berwarna putih menunjukan unsur Ca dan berbentuk kristal (Herliansyah,M.K, M, Hamdi.,

2009).

a) Pembesaran 2500 x

b) Pembesaran 10.000 x

Gambar 7. Struktur mikro spesimen TK-900/BL-1: a) pembesaran 2500x dan b) pembesaran

10.000x

Gambar 8 memperlihatkan hasil uji SEM TK-1000/BL-2 atau temperatur kalsinasi 1000

o

C dan

waktu ball milling 2 jam. Ukuran butir HA berdiameter ± 13-16 µm (0,013-0,016 nm) dengan

warna lebih hitam dan butiran berbentuk mengumpal atau agglomerate. Bertambanya temperatur

kalsinasi menjadikan bentuk butiran sudah berbeda dan waktu proses ball milling menjadikan

butiran HA semakin kecil.

a) Pembesaran 2500 x

b) Pembesaran 10.000 x

Gambar 8. Struktur mikro spesimen TK-1000/BL-2: a) pembesaran 2500x dan b) pembesaran

(8)

Spesimen sintesi HA nonomaterial dengan TK-1100/BL-3 atau temperatur kalsinasi 1100

o

C dan

waktu ball milling 3 jam ditampilkan pada Gambar 9. Bentuk butiran lebih banyak yang

berbentuk agglomerate diperlihatkan pada Gambar 9a dan ukuran butir semakin kecil dengan

diameter ± 10-11 µm (0,010-0,011 nm) dithunjukan pada Gambar 9b dengan pembesaran

10.000x. Proses ball milling semakin lama akan memperkecil ukuran butir dan temperatur kalsinasi

semakin tinggi menjadikan fase semi kristal dan kristalinitas rendah. Rendahnya kristalinitas

diakibatkan rusaknya gugus fungsi akibat temperatur terlalu tinggi (Herliansyah, M.K et al, 2006).

Unsur Ca dan PO

4-3

pada temperatur kalsinasi 1100

o

C berbentuk semi kristal atau amorphous

dengan bentuk butiran agglomerate, sehingga temperatur 1100

o

C tidak cocok untuk temperatur

kalsinasi sintesis HA nanomaterial dari tulang cumi sotong.

a)

Pembesaran 2500 x

b) Pembesaran 10.000 x

Gambar 9. Struktur mikro spesimen TK-1100/BL-3: a) pembesaran 2500x dan b) pembesaran

10.000x

4.

KESIMPULAN

1.

Meningkatnya temperatur kalsinasi akan merusak gugus fungsi dari material sintesis HA

nanomaterial dengan bentuk fase semi kristal. Temperatur kalsinasi yang optimal pada suhu

900

o

C.

2.

Proses ball milling semakin lama menjadikan ukuran butir semakin kecil, tetapi waktu

proses ball milling 3 jam belum mampu menjadikan material HA berukuran nano.

3.

Secara karakterisasi material sisntesis HA nanomaterial TK-900/BL-1 menyamai

karakteristik HA komersil (Sigma Aldrith), tetapi fase ketinggian puncak masih

dibawahnya, sehingga material sintesis HA nanomaterial untuk kristalnya masih rendah.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian

Pendidikan Nasional Republik Indonesian yang telah memberikan dana untuk Penelitian Dosen

Pemula tahun anggaran 2014-2015.

DAFTAR PUSTAKA

Chen, J., A.D. Del Genio, B.E. Carlson, and M.G. Bosilovich, 2008: The spatiotemporal structure

of twentieth-century climate variations in observations and reanalyses. Part I:

Long-term trend. 21, 2611-2633, d

Deng, C., Duan, Y., Chen, J., and Zhang, X., 2010, The Effect of Organisms on Formation of

Bone-Like Apatite on Porous Calcium Phosphate in Simulated Body Fluid,

Bioceramics 15, ISBN=0-87849-911-3, KEM - Key Engineering Materials, Volume

240-242, ISSN=1013-9826.

(9)

9

Fu Q, Rahaman MN, Dogan F, Bal BS (2008). Freeze-cast hydroxyapatite scaffolds for bone tissue

engineering applications. Biomed Mater 3: 1-7

Fonseca RJ, (2000).,Masticatory myalgias. In Oral and Maxillofacial Surgery. Temporomandibular

Disorderset al.: Philadelphia: WB. 38–45.

Hench, L.L., 1991, Bioceramics from Concept to Clinic, Journal of American Ceramics Soc, 74(7),

pp.1487-510.

Herliansyah, M.K., M, Hamdi., 2009., The influence of sintering temperature of the properties of

compacted bovine hydroxyapatite., Material Science and Engineering: C, 29,

1674-1680.

Herliansyah, M.K., Toque, J.A., Hamdi, M., Ide-Ektessabi, A. and Wildan, M.W., 2006, ISTECS

Journal, Vol. VIII, pp. 25-33.

Javidi M., Bahrololoom M. E. and Ma J. (2008) Electrophotic deposition of natural hydroxyapatite

on medical grade 316L stainless steel. J. Materials Science and Engineering C28.

1509-1515.

Karageorgiou V, Kaplan D., 2005., Porosity of 3D biomaterial scaffolds and osteogenesis.,

Department of Chemical and Biological Engineering, Tufts University, 4 Colby Street,

Medford, MA 02155, USA

Nanocomial survellience sytem data rumah sakit Dr. Kariadi (2010).

Nasution, D., 2006, Pembuatan Hydroxyapatite dari Calcite Gunung Kidul dan Karakterisasinya,

Tesis S2, Jurusan Teknik Mesin FT UGM, Yogyakarta

Nazarpak HN, Solati-Hasjin, Moztarzadeh, 2009., Komposit Hidroksiapatit Kalsinasi Suhu Rendah

dengan Alginat Sargassum Duplicatum., Universitas Indonesia (UI)., C1.1515.,

Indonesia.

Sopyan, I., 2004, Development of Hydroxyapatite Powders for Medical Applications via a Sol-Gel

Procedure, Proceeding Asia-Pasific Nanotechnology Forum.

Salter RB., 1984., Text Book of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. 2

nd

Ed.

Baltimore: William-Wilkins p.320 – 45.

Smith. JE, Blackwell K,, Mandibular reconstruction, (2009) http://emedicine.medscape.com/article

( 23 Oktober 2009).

Stošić, S., Kozarski, J., Stošić-Opinćal, T., Jović, N., Kozomara, R. (2005) Mikrovaskularni

osteoseptokutani radijalni režanj u nadoknadi defekata donje vilice nastalih ratnim

ranjavanjem. Vojnosanitetski pregled, vol. 62, br. 6, str. 429-434.

Singare.S, Reece GP,(2004). Mandibular restoration in the cancer patient: microvascular surgery

and implant prostheses. Tex Dent J ;109(6):23–26.

Sandia National Laboratories dan Carle Foundation Hospital., 2010., - Technology Ventures

Corporation., New and Highlihts press.,352.

Solechan, 2014, Karakterisasi Scaffold Bovine Hydroxyapatite Dari Tulang Sapi Limbah Bakso

Balungan Untuk Aplikasi Implan Tulang Mandibula menggunakan metode kalsinasi,

Jurnal SNATIF 2 Agustus, Volume. 1 Nomor 1.

Tontowi, A.E., Ana, I.D., dan Siswomihardjo, W., 2006, Pengembangan dan Pembuatan Material

Bioaktif Menggunakan Gypsum Kulon Progo sebagai Matrial Restorasi Kerusakan

Tulang,

Gambar

Gambar 1. (a) Sotong utuh, (b) Cangkang Sotong
Gambar 2. Diagram alir penelitian
Gambar 4. Pola difraksi sinar-X dari produk kalsinasi pada berbagai temperatur dan waktu ball  milling  Po sition  [ °2T he ta ]  ( C o pp e r ( C u) )2 03 0405 060 7 0 8 0C o un ts020 040 060 080 0 Se s ud a h  T K .90 0 B L.1P o s i t i o n  [ ° 2 T h e
Gambar 4 menunjukkan secara umum bahwa kenaikkan temperatur kalsinasi memberikan  difraktogram  dengan  pola  yang  serupa  namun  puncak-puncaknya  semakin  rendah
+4

Referensi

Dokumen terkait

bahwa berdasarkan survei dan analisa data di lapangan serta berdasarkan evaluasi terhadap Keputusan Walikota Nomor 356/KEP/2010 tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan

Tusuk transportasi menggunakan bahan dan alat yang sangat mudah di dapat ditoko-toko alat tulis terdekat, kita dapat membuat media tersebut dengan menggunakan bahan seperti,

Sebagian besar pengeluaran tersebut sesungguhnya dapat dihindarkan atau ditunda (seperti liburan, pembelian mobil atau membeli pakaian). Berbagai pengeluaran masih dapat

Tes awal (pre-test) dilakukan pada awal penelitian dengan tujuan untuk mengetahui dan mengukur pemahaman siswa tentang uang dan perbankan sebelum dilaksanakan

pengelolaan dan pengembangan. Manyampaikan laporan akhir hasil bimbingannya. DPL harus bersikap tegas dalam memberikan keputusan kepada mahasiswa sesuai dengan prosedur dan

Tahap seleksi bakteri toleran kekeringan dilakukan untuk menyeleksi bakteri-bakteri yang dapat bertahan dan tumbuh baik dalam kondisi cekaman kekeringan.. Penentuan

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah melimpahkansegala nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Dilihat dari Peta Pengggunaan Lahan, blok-blok untuk zona perumahan ini, saat ini memang merupakan daerah permukiman penduduk yang dominan pada Blok A, sehingga