HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Penelitian
Penelitian dilaksanakan di daerah pesisir pantai Wonokerto, Kelurahan Wonokerto Kulon, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Lokasi ini berada pada ketinggian 1 m dpl.Daerah di Indonesia yang diperkirakan optimal untuk pertumbuhan dan produksi buah jarak pagar adalah daerah dengan ketinggian 0 – 500 mdpl atau dataran rendah (Wahid, 2006; Prihandana dan Hendroko, 2007).
Lahan yang digunakan untuk penanaman jarak pagar mempunyai teksturtanah pasir dengan proporsi masing-masing fraksi: pasir 86%, debu 8% dan liat 6%. Menurut Hanafiah (2007), tanah yang mengandung proporsi fraksi tanah pasir > 85% debu < 15% dan liat < 10% termasuk dalam kategori kelas tekstur tanah pasir.Mulyani et al. (2006) menyatakan bahwa jarak pagar dapat tumbuh pada semua jenis tanah, tetapi pertumbuhan yang baik dijumpai pada tanah-tanah ringan atau lahan dengan drainase dan aerasi yang baik (terbaik mengandung pasir 60 – 90%).
Berdasarkan hasil analisis pH terhadap contoh tanah yang diambil dari lahan penelitian menunjukkan pH sebesar 7.1 (Tabel 2). Kandungan C-organik dan N-organik dalam tanah masing-masing sebesar 0.53% dan 0.05%.Zubaidah et
al. (2009) menyatakan bahwa nilai pH 7.09 tergolong sedang (netral), sehingga
cukup sesuai untuk pengembangan jarak pagar. Kandungan hara N-organik 0.05% tergolong sangat rendah sehingga perlu adanya input tambahan pupuk nitrogen agar tanaman jarak pagar dapat tumbuh dengan baik.Hasil penelitian Rachmawati (2006) menyebutkan bahwa C-organik yang rendah mengakibatkan pertumbuhan tanaman jarak pagar menjadi lambat. Rasio C/N pada tanah tergolong sangat rendah. Menurut Leiwakabessy et al. (2003) tanah-tanah dengan bahan organik yang rendah stabil umumnya memiliki nilai C/N sekitar 10, sedangkan menurut Effendi (2009) kadar bahan organik dan nitrogen tergolong sangat rendah dengan rasio C/N 10 – 14.
Hara P potensial tergolong sangat tinggisebesar 87 mg P2O5,P-tersedia (Bray-1) termasuk dalam kategori sedang (7.6 ppm P2O5). Kalium potensial
termasuk dalam kriteria sangat tinggi, yaitu52 mg K2O per 100 g tanah dengan K-tersedia (Morgan) sebesar257 ppm K2O. Kapasitas tukar kation (KTK) tergolong rendah (11.13 cmol(+)/kg) dengan didominasi oleh kation Mg. Menurut Leiwakabessy et al. (2003), tanah-tanah yang memiliki KTK rendah biasanya berkorelasi dengan kadar Ca-dd yang rendah. Kejenuhan basa tanah tergolong sangat tinggi (> 100%) yang menunjukkan bahwa kandungan garam tanah terlarut tergolong tinggi. Effendi (2009) menyatakan bahwa kejenuhan basa yang tinggi mengindikasikan tanah tersebut masih mampu menerima dan menahan berbagai unsur hara yang bersifat kation untuk menyuplai kebutuhan tanaman. Daya hantar listrik (DHL) sebagai indikator salinitas tanah tergolong sangat rendah (tidak salin), meskipun tanah berada 54 meter dari garis pantai. Krisnawati dan Adie (2009) menyatakan bahwa tanah yang salin memiliki DHL > 4 dS/m.
Tabel 2. Hasil Analisis Tanah Daerah Pesisir Pantai Kelurahan Wonokerto Kulon Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah
Parameter Tanah Satuan Analisis Hara Kategori
Pasir % 86 Pasir Debu % 8 Liat % 6 pH (H2O) - 7.1 Sedang pH (KCl) - 5.4 -
C-organik % 0.53 Sangat rendah
N-organik % 0.05 Sangat rendah
C/N - 11 Sangat rendah
P-HCl 25% mg/100g 87 Sangat tinggi
K-HCl 25% mg/100g 52 Sangat tinggi
P-Bray 1 Ppm 7.6 Sedang
K-Morgan Ppm 257 -
Ca-dd cmol(+)/kg 2.74 Rendah
Mg-dd cmol(+)/kg 9.58 Sangat tinggi
K-dd cmol(+)/kg 0.5 Sedang
Na-dd cmol(+)/kg 1.81 Sangat tinggi
KTK cmol(+)/kg 11.13 Rendah
KTKefektif cmol(+)/kg - -
KB % >100 Sangat tinggi
Al-dd cmol(+)/kg 0.00 Rendah
H-dd cmol(+)/kg 0.02 Rendah
Data curah hujan selama penelitian terdiri atas data curah hujan selama pembibitan di Kedungwuni (Maret - Mei 2011) dan di lapangan/ Wonokerto (Mei - Oktober 2011) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4. Berdasarkan sistem klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson, lokasi penelitian lebih banyak mengalami bulan basah (111 - 524 mm) dengan jumlah curah hujan selama penelitian sebesar 1,263 mm dan jumlah hari hujan sebanyak 42 hari. Selama pembibitan terjadi bulan basah dengan kisaran curah hujan (111 – 524 mm). Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April saat pembibitan, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus.Menurut Parwata et al. (2010) tanaman jarak pagar bisa beradaptasi di daerah yang memiliki curah hujan antara 200 - 2000 mm/tahun. Curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhannya berkisar 1000 - 2000 mm/tahun dengan jumlah bulan kering berkisar antara 4 - 8 bulan.
Sumber: Dinas Pengairan Pertambangan Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Pekalongan, 2011.
Gambar 4. Curah Hujan Selama Penelitian di Daerah Pesisir Pantai Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan
Berdasarkan kriteria kesesuaian lahan dan iklim untuk tanaman jarak pagar, daerah pesisir pantai Wonokerto termasuk dalam kriteria yang sesuai, karena berada pada ketinggian 1 mdpl, pH tanah bersifat netral dan tanah
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 Curah Hujan (m m ) Kedungwuni (Pembibitan) Wonokerto (Lapangan)
bertekstur pasir sehingga aerasi dan drainasenya baik, meskipun beberapa unsur hara tanah kandungannya masih tergolong rendah. Unsur iklim yang menjadi pembatas adalah ketersediaan air pada bulan Agustus yang merupakan musim kemarau (tidak ada hujan sama sekali) dan waktu pengisianbiji jarak pagar.
Bibit yang ditanam di derah pesisir pantai berumur ± 2 bulan setelah pembibitan tanpa naungan. Berdasarkan pengamatan selama 16 MST pada karakter fase vegetatif, tinggi tanaman cenderung mengalami peningkatan pada setiap MST dan jumlah cabang primer cenderung mengalami peningkatan, tetapi jumlah daun mengalami fluktuasi. Pengamatan pada karakter fase generatif menunjukkan jumlah buah yang dipanen per bulan mengalami fluktuasi.
Aksesi jarak pagar di lapangan yang semuanya dapat berbunga adalah aksesi Aceh Besar, Bengkulu 3, Bogor 80-II-5, Bontomaramu 1-I, Gunung Tambora, IP-2P 110-I-4, Luwu Utara, Medan dan Sukabumi. Semua aksesi dapat menghasilkan bunga jantan dan betina, kecuali aksesi Lombok 59-I-2 memiliki bunga jantan dan hermaprodit. Aksesi Bontomaramu 1-I memiliki bunga jantan dan betina yang terbanyak. Misnen (2010) menyatakan bahwa perbedaan potensi produksi setiap aksesi sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Berdasarkan penelitian Hartati (2007),bahwa dua faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan jarak pagar adalah faktor genetik dan kondisi lingkungan.
Penyerbukan bunga jarak pagar pada penelitian ini dibantu oleh tawon dan semut, seperti pada Gambar 5 terlihat tawon (a) dan semut (b) sedang menyerbuk bunga. Pemeliharaan lebah sebagai serangga penyerbuk di kebun jarak pagar di Majalengka, Jawa Barat, dapat meningkatkan jumlah buah per malai (Mahmud, 2006). Serangga berperan sebagai media perantara dalam proses penyerbukan (Utomo, 2008). Berdasarkan hasil penelitian di India, pada bunga jantan jarak pagar lebah, berkontribusi 34%, semut 61% dan lalat 5% dari total kedatangannya, sedangkan pada bunga betina lebah berkontribusi 28%, semut 71% dan lalat 2% dari total kedatangannya (Raju dan Ezradanam, 2002).
Keterangan: a. Tawon b. Semut.
Gambar 5. Penyerbukan Bunga Jarak Pagar Oleh Serangga
Selama penelitian berlangsung terdapat serangan hama dan penyakit pada saat di pembibitan maupun di lapangan. Hama yang menyerang pembibitan jarak pagar adalah bekicot, ulat bulu, dan ayam. Bekicot dan ayam mulai menyerang pada saat perkecambahan (1 MST), sedangkan ulat bulu mulai tampak pada saat bibit berumur 4 MST. Jarak pagar di lapang mulai menampakkan gejala serangan hama kepik (Chrysochoris javanus Westw.) saat 6 MST. Hama kepik cenderung menyerang bunga dan buah jarakpagar. Menurut Rumini dan Karnawati (2006), C. javanus menyerang jarak pagar pada saat pembungaan, menjelang pembentukan buah dan menghisap buah, sehingga menimbulkan kerusakan pada kapsul buah yang sedang berkembang. Gambar 6a menunjukkan gejala serangan hama Kepik ditandai dengan busa yang ditimbulkan oleh hama Kepik, akibatnya timbul bercak pada buah seperti yang terlihat pada Gambar 6b.
Gejala serangan hama kutu putih (Ferrisia virgata) mulai tampak saat 6 MST. Hama ini cenderung menyerang bagian daun, bunga dan buah,sehinggadapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan produktivitas. Gambar 6c menunjukkan hama Kutu Putih yang menghasilkan cairan manis, sehingga banyak dikerumuni semut. Gejala serangan hama tungau (Tetranychus sp.) mulai tampak saat 12 MST ditandai dengan bagian daun menjadi berkerut akibat cairan daun dihisap oleh hama tersebut seperti yang terlihat pada Gambar 6d. Serangan hama ini bersifat dominan hampir pada semua tanaman.
b a
Keterangan: a. Hama Kepik dan busa yang dihasilkan
b. Bercak buah yang ditimbulkan Hama Kepik c. Hama Kutu Putih
d. Hama Tungau.
Gambar 6. Gejala Serangan Hama pada Jarak Pagar
Penyakit yang menyerang jarak pagar di pembibitan adalah bercak daun (Gambar 7a), sedangkan yang menyerang di lapang berupa busuk fusarium (Fusarium solani). Penyakit Busuk Fusarium disebabkan oleh cendawan yang mengakibatkan batang menjadi busuk seperti yang terlihat pada Gambar 7b. Ditemui juga gejala Busuk Botrytis (Botrytis ricini) yang disebabkan oleh cendawan yang menyerang bagian bunga dan buah akibatnya buah menjadi busuk, seperti yang terlihat pada Gambar 7c. Pengendalian penyakit dilakukan dengan membuang organ tanaman yang terserang penyakit, agar penyakit tidak menular ke tanaman lain.
Keterangan: a. Bercak Daun
b. Busuk Fusarium c. Busuk Botrytis.
Gambar 7. Gejala Serangan Penyakit pada Jarak Pagar
Beberapa jarak pagar di lapangan menunjukkan gejala kekurangan unsur hara. Gejala defisiensi hara yang tampak pada tanaman, yaitu daun yang tua menguning dan akhirnya kering (defisiensi N), di sekitar tulang daun berwarna
b c
a
kuning (defisiensiZn), serta daun berkeriput, tepi daun gosong dan menggulung (defisiensi Mo), seperti yang terlihat pada Gambar 8.
Keterangan: a. Defisiensi N b. Defisiensi Zn
c. Defisiensi Mo.
Gambar 8. Gejala Defisiensi Hara pada Jarak Pagar di Lapangan
Gulma merupakan organisme yang dapat mempengaruhi pertumbuhan jarak pagar, baik di pembibitan maupun di lapangan. Gulma yang ada di pembibitan adalah meniran (Phyllanthus niruri L.) puteri malu (Mimosa pudica L.) dan nangkaan (Euphorbia hirta) sedangkan gulma dominan di lapangan berupa teki (Cyperus rotundus) rumput pait (Paspalum conjugatum Berg.) dan rumput telor belalang (Sporobolus diander (Retz.) Beauv.
Keragaman Pertumbuhan Beberapa Aksesi Jarak Pagar Pada Fase Pembibitan
Pembibitan diartikan sebagai usaha mempersiapkan bahan tanaman berupa bibit yaitu tanaman muda melalui penanaman biji (benih) maupun bagian vegetatif tanaman (Santoso dan Purwoko, 2008). Pembibitan dilakukan sebagai pertumbuhan awal sebelum ditanam di lapangan, agar akar tanaman dapat berkembang dengan baik, sehingga kematian tanaman di lapangan dapat dikurangi.
Fase pembibitan pada bulan pertama pembibitan yaitu April 2011 terjadi hujan hampir setiap hari, sehingga tidak dilakukan penyiraman tanaman. Bulan kedua pembibitan yaitu Mei 2011, jumlah hari hujan berkurang, sehingga dilakukan penyiraman tanaman pada saat hari tidak hujan.
b c
Secara umum pada hari ke 7 - 11 setelah biji ditanam (penyemaian), kecambah mulai terlihat di permukaan tanah. Hari ke 14 - 16 hari sejak biji ditanam, kotiledon telah mekar sempurna. Munculnya kecambah di permukaan tanah dan sempurnanya kemekaran kotiledon pada beberapa tanaman tidak terjadi secara bersamaan. Menurut Misnen (2010), pertumbuhan bibit jarak pagar antar aksesi dan dalam aksesi tidak seragam, meskipun penanamannya dilakukan pada waktu yang sama.
Pengamatan dilakukan pada akhir pembibitan terhadap karakter-karakter berupa tinggi bibit, jumlah daun, tinggi tajuk, panjang akar, bobot basah tajuk dan akar, serta bobot kering tajuk dan akar. Aksesi Medan, Pinrang dan Luwu Utara tidak dilakukan pengamatan, karena bibit yang digunakan untuk pengamatan destruktif tidak tersedia.
Tinggi Bibit dan Jumlah Daun
Terdapat perbedaan tinggi bibit antar aksesi dengan kisaran 31 - 59 cm. Menurut Santoso dan Purwoko (2008), perbedaan tinggi semai disebabkan adanya perbedaan dalam kecepatan berkecambah atau muncul semai di permukaan tanah. Semakin lambat kecepatan muncul kecambah di permukaan tanah menyebabkan tinggi bibit semakin rendah. Seperti yang terlihat pada Tabel 3, aksesi yang memiliki rata-rata tinggi bibit terbesar adalah Dompu (59.2 cm), kemudian aksesi Bogor 80-II-5 (57 cm), sedangkan yang terkecil adalah IP-2P 110-I-4 (31.4 cm). Hal ini menunjukkan bahwa aksesi Dompu dan Bogor 80-II-5 memiliki daya berkecambah yang lebih cepat dibandingkan dengan aksesi yang lain, sedangkan aksesi IP-2P 110-I-4 memiliki daya berkecambah paling lambat dibandingkan dengan aksesi lainnya. Jumlah daun aksesi Aceh Besar dan Dompu pada pembibitan ini masing-masing sebesar 45 cm dan 59.2 cm saat 2 BST, sedangkan hasil penelitian Misnen (2010) menyatakan bahwa rata-rata tinggi bibit jarak pagar aksesi Aceh Besar dan Dompu saat 3 BST adalah 42cm dan 30 cm. Hal ini menunjukkan bahwa daya berkecambah pada pembibitan ini lebih cepat.
Menurut Erythrina (2007), bibit jarak pagar umur 2 bulandi polybag tingginya bisa mencapai 30-35 cm, tetapi pembibitan dalam penelitian ini nilai rata-rata tinggi tanamannya berkisar antara 31 - 60 cm. Perbedaan ini dipengaruhi
oleh kondisi pembibitan yang berbeda. Pembibitan pada penelitian Erythrina tersebut dalam kondisi ternaungi, sedangkan pembibitan pada penelitian ini kondisinya tanpa naungan.
Menurut Sukarjo (2004), daun berfungsi sebagai alat fotosintesis untuk menghasilkan fotosintat. Aksesi yang memiliki rata-rata jumlah daun terbanyak adalah Bontomaramu 1-I dan Bone keduanya memiliki rata-rata jumlah daun yang sama yaitu 24 (Tabel 3). Jumlah ini menunjukkan lebih besar dibandingkan hasil penelitian Sari (2008) yang menyimpulkan bahwa jarak pagar yang diberi perlakuan IBA dengan konsentrasi 100 ppm memiliki jumlah daun 16.2. Aksesi yang memiliki jumlah daun paling sedikit adalah IP-2P 110-I-4 (14.1) tidak berbeda nyata dengan jumlah daun hasil penelitian Sari tersebut. Hasil penelitian Misnen (2010) menyatakan bahwa rata-rata jumlah daun aksesi Aceh Besar dan Dompu saat 3 BST masing-masing sebesar 11 dan 7daun, lebih sedikit dibandingkan dengan pembibitan pada penelitian ini.
Tabel 3. Nilai Rataan Karakter Vegetatif Beberapa Aksesi Jarak Pagar pada Saat 8 MST
Jenis Aksesi Bibit (cm) Tinggi Jumlah Daun Tinggi Tajuk (cm) Bobot Kering Tajuk (g) Panjang Akar Primer (cm) Bobot Kering Akar (g) Aceh Besar 45.0 21.3 49.2 41.6 23.8 1.6 Bengkulu 3 39.3 18.0 43.0 27.3 39.3 1.3 Bima 54.0 21.3 35.2 40.8 22.8 2.5 Bogor 80-II-5 57.0 22.5 63.3 53.5 21.5 3.4 Bone 53.0 24.0 52.1 38.7 27.7 4.5 Bontomaramu 1-I 53.0 24.0 52.1 42.5 27.7 4.3 Dompu 59.2 21.5 62.3 49.6 20.2 2.9 Gunung Tambora 48.3 22.1 52.8 44.6 20.6 3.7 IP-2P 110-I-4 31.4 14.1 32.2 16.4 15.0 0.8 Lombok 59-I-2 42.7 23.3 47.0 33.9 20.6 2.6 Sukabumi 50.7 20.5 59.0 29.8 27.5 1.9 Rataan 48.5 21.2 49.9 38.1 24.2 2.7
Menurut Taiz dan Zeiger (2002), semakin banyak daun maka kemampuan membentuk fotosintat akan semakin besar, sehingga pembentukan organ-organ
vegetatif akan lebih baik, karena daun berfungsi sebagaiorgan fotosintesis yang mengkonversi energi cahayamenjadi energi kimia. Seperti halnya yang tertera pada Tabel 3, bahwa IP-2P 110-I-4 yang memiliki rata-rata jumlah daun paling rendah juga memiliki rata-rata tinggi tanaman yang paling rendah, sedangkan pada Bontomaramu 1-I dan Bone yang memiliki rata-rata jumlah daun tertinggi, rata-rata tinggi tanamannya lebih besar dibandingkan dengan Aceh Besar, Bengkulu 3, Lombok 59-I-2, Sukabumi, dan IP-2P 110-I-4 meskipun tidak melebihi Bima, Bogor 80-II-5, Gunung Tambora, dan Dompu. Hal ini sesuai dengan Supijatno dan Hariyadi (1990), yang menyatakan bahwa perbedaan varietas secara tunggal menimbulkan perbedaansecara nyata pada jumlah daun bibit kelapa mulai 1 – 5 BST.
Tinggi dan Bobot Kering Tajuk
Tinggi tajuk bibit antar aksesi jarak pagar memiliki perbedaan yang nyata dengan kisaran panjang 32–63 cm, kecuali untuk aksesi Aceh Besar, Bone, Bontomaramu 1-I dan Gunung Tambora. Aksesi yang memiliki tajuk paling tinggi adalah aksesi Bogor 80-II-5, sedangkan aksesi yang paling pendek adalah aksesi IP-2P 110-I-4 seperti yang tertera pada Tabel 3. Bobot kering (BK) tajuk aksesi Bogor 80-II-5 adalah yang terberat (53.5 g) kemudian aksesi Dompu yang bobotnya 49.6 g, sedangkan aksesi yang memiliki BK tajuk terkecil adalah IP-2P 110-I-4. Rata-rata BK tajuk pada pembibitan ini adalah 38.1 g/bibit lebih besar dibanding dengan rata-rata BK tajuk hasil penelitian Santoso et al. (2009) sebesar 5.96 g/bibit pada umur 2 BST.Menurut Sumarsono (2008), bobot kering tanaman menunjukkan pola tanaman mengakumulasikan produk dari proses fotosintesis dan merupakan integrasi dengan faktor-faktor lingkungan lainnya. Sumanto (2006) menyatakan bahwa bobot kering suatu tumbuhan dipengaruhi oleh kepadatan dan umur tumbuhan.
Tinggi tajuk berbanding lurus dengan bobot tajuk bibit jarak pagar. Semakin tinggi tajuk maka bobotnya akan semakin berat, begitu juga sebaliknya. Seperti pada aksesi Bogor 80-II-5 yang memiliki tajuk paling tinggisebesar 63.3 cm juga memiliki bobot tajuk paling berat yaitu 53.5 g, sedangkan aksesi IP-2P 110-I-4 yang memiliki tajuk paling pendek (32.2 cm) juga memiliki bobot tajuk
yang paling ringan (16.4 g). Begitu juga dengan aksesi lain yang penurunan tinggi tajuk sebanding dengan penurunan bobot tajuk, meskipun ada aksesi yang menunjukkan hasil berbeda seperti pada aksesi Sukabumi yang tinggi tajuknya 59.0 cm memiliki bobot tajuk 29.8 g, sedangkan aksesi Aceh Besar yang tinggi tajuknya 49.2 cm memiliki bobot tajuk 41.6 g. Hal ini terjadi diduga karena aksesi Aceh Besar memiliki diameter batang yang lebih besar dibandingkan aksesi Sukabumi, sehingga memiliki bobot tajuk yang lebih berat meskipun tajuknya lebih pendek.
Panjang dan Bobot Kering Akar
Panjang akar primer bibit jarak pagar berkisarantara15-39 cm. Aksesi yang memiliki panjang akar primer maksimum adalah aksesi Bengkulu 3 (39.3 cm), sedangkan aksesi yang panjang akar primernya minimumadalah aksesi IP-2P 110-I-4 (15 cm). Hasil ini berbeda dengan penelitian Santoso et al. (2009) bahwa panjang akar maksimum dan minimum yang diperoleh adalah 20.8 cm dan 16.4 cm. Perbedaan hasil ini dapat disebabkan perbedaan media pembibitan yang digunakan.
Bobot kering akar tidak berbanding lurus dengan panjang akar primer. Seperti halnya pada aksesi Bengkulu 3 yang akar primernya terpanjang (39.3 cm) hanya memiliki bobot akar 1.3 g, sedangkan aksesi Gunung Tambora yang memiliki akar primer lebih pendek (20.6 g) dapat menghasilkan bobot kering akar yang lebih berat, yaitu 3.7 g. Hal ini diduga karena perbedaan respon tiap aksesi jarak pagar terhadap media yang digunakan dalam pembibitan dengan cara mengubah sifat morfologis dan fisiologisnya. Beberapa aksesi ada yang memiliki akar primer lebih panjang, tapi bobot kering akarnya ringan, begitu juga sebaliknya. Aksesi Bengkulu 3 cenderung melakukan proses pemanjangan akar, sedangkan aksesi Gunung Tambora lebih cenderung mengalami proses pembesaran akar. Hal ini juga terjadi pada aksesi Aceh Besar, Bima, Bogor 80-II-5, Lombok 59-I-2 dan Sukabumi. Bobot kering akar bibit jarak pagar berkisar antara 0.803– 4.5 g.Hasil inilebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian Santoso et al. (2009) yang berkisar antara 0.58–0.88 g.
Keragaman Pertumbuhan Beberapa Aksesi Jarak Pagar pada Fase Vegetatif
Pengamatan pada fase vegetatif dilakukan terhadap beberapa karakter berupa tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah cabang primer jarak pagar di lapang. Waktu pengamatan dilakukan selama 16 MST. Data hasil analisis ragam untuk karakterpada fase vegetatif disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Analisis Ragam Pengaruh Aksesi Jarak Pagar terhadap Pertumbuhan pada Fase Vegetatif
Karakter Pengelompokkan Pengaruh Pengaruh Aksesi KK (%)
Tinggi Tanaman (16 MST) tn tn 13.641)
Jumlah Daun (14 MST) * tn 22.18
Jumlah Cabang Primer (16 MST) ** * 16.50
Keterangan : tn : tidak nyata, * : nyata, ** : sangat nyata, MST : minggu setelah tanam1): hasil setelah transformasi dengan akar(x+0.5).
Tinggi Tanaman
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tinggi aksesi jarak pagar mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, jenis aksesi berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada 0, 2, 6, 8 dan 10 MST Menurut Yahya (1987), varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman kelapa. Tinggi tanaman varietas Dalam nyata lebih tinggi daripada varietas lainnya, sedangkan varietas Hibrida nyata lebih tinggi daripada varietas Genjah. Supijatno dan Hariyadi (1990) menambahkan bahwa varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman kelapa mulai 1 bulan setelah tanam (BST) sampai dengan 5 BST.
Aksesi jarak pagar yang memiliki rataan tinggi tanaman maksimum adalah Gunung Tambora (82.1 cm) kemudian aksesi Bogor 80-II-5 (78.2 cm), sedangkan aksesiyang memiliki tinggi tanaman minimum adalah aksesi Lombok 59-I-2 (54.2 cm) kemudian aksesi Luwu Utara (59.9 cm) seperti yang ada pada Tabel 5. AksesiAceh Besar memiliki tinggi rata-rata 76.32 cm tidak berbeda nyata dengan hasil penelitian (Nisya 2010), sedangkan aksesi Lombok 59-I-2 rataan tinggi tanamannya 54.18 cmlebih kecil dibandingkan hasil penelitian (Nisya, 2010) yang
rataan tinggi tanaman aksesi Lombok sebesar 105.4 cm. Hasil ini menunjukkan bahwa aksesi Lombok59-I-2 kurang toleran ditanam di daerah pesisir pantai(dengan ketinggian tempat 1 m dpl) dibandingkan dengan aksesi lainnya untuk karakter tinggi tanaman. Menurut Suud (2008) pola pertumbuhan tinggi tanaman pada seluruh Echinochloa crusgalli umumnya sama, kecuali
Echinochloa crusgalli yang berasal dari ketinggian tempat 250 m dpl memiliki
tinggi tanaman lebih rendah dan pertambahan tinggi setiap minggunya tidak signifikan dibandingkan dengan lainnya. Hal ini diduga karena Echinochloa
crusgalli yang berasal dari ketinggian tersebut lebih cenderung menggunakan
asimilat hasil fotosintesisnya untuk pembentukan anakan daripada pertumbuhan tinggi tajuknya.
Tabel 5. Tinggi Beberapa Aksesi Jarak Pagar Selama 16 MST
Keterangan: JA: jenis aksesi AB: Aceh Besar, BK: Bengkulu 3, Bim: Bima, Bog: Bogor 80-11-5, Bon: Bone, BM: Bontomaramu 1-I, D: Dompu, GT: Gunung Tambora, IP: IP-2P 110-1-4, Lom: Lombok 59-I-2, LU: Luwu Utara, Med: Medan, Pin: Pinrang, dan SB: Sukabumi. Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Lanjut DMRT pada taraf 5%. 1): KK adalah hasil setelah transformasi dengan akar (x+0.5).
JA Minggu Setelah Tanam (MST)
0 2 4 6 8 10 12 14 161)
AB 50.8 b 54.5 bc 68.7 abc 75.1 abc 76.1 abc 80.1 abc 88.9 ab 95.4 a 9.8 BK 43.6 bcd 46.6 cdef 60.3 bcde 67.1cd 68.4 bcde 71.3 bcd 76.9 abc 81.0 ab 9.1 Bim 48.8 bc 53.2 bcd 65.7 abcde 72.0 abc 72.7 abcd 75.0 abcd 82.5 abc 88.8 ab 9.6 Bog 53.4ab 58.0 ab 73.0 abc 77.7 ab 78.9 ab 82.9 ab 90.0 a 93.9ab 9.8 Bon 34.8 de 41.2 bcd 58.4abcde 65.0 cde 66.3 abcd 69.0 abcd 77.5 bc 82.9 ab 9.5 BM 36.8 cde 43.1cdef 61.5bcde 68.0 bcd 69.9 bcd 73.4 abcd 79.9 abc 86.5ab 9.5 D 52.1 b 54.8 bc 65.9 abcde 71.2 bc 71.6 abcd 74.1 abcd 80.1 abc 85.5 ab 9.5 GT 64.8 a 67.9 a 77.9 a 82.0 a 83.4a 85.9 a 90.2 a 92.9 ab 9.7 IP 37.0 cde 44.6 cdef 64.7 ab 72.8 abc 73.4abc 76.7 abcd 80.3 abc 83.6 ab 9.2 Lom 32.6 de 37.6 ef 50.0 e 55.8 e 56.8 e 58.1 e 62.8 d 66.3 c 10.9 LU 25.3e 33.2 f 52.4de 60.7 de 61.0 de 65.4 de 74.6 bcd 82.0 ab 9.2 Med 40.5 cd 47.5 bcde 65.4 abcde 73.8 abc 74.9 abc 78.2 abcd 83.0 abc 87.6 ab 9.5 Pin 50.0 bc 53.7bcd 66.8 abcd 73.3abc 74.7 abc 76.7 abcd 81.8abc 85.5 ab 9.3 SB 40.4bcd 44.5 cdef 62.1 abcde 68.2 bcd 68.5 bcde 71.2 cde 74.0 cd 80.0 b 9.1 Rata
Seperti yang terlihat pada Gambar 9, menunjukkan perkembangan pertumbuhan tinggi beberapa aksesi jarak pagar selama 16 MST.Saat 0–4 MST pertumbuhan tinggi tanaman lebih cepat kemudian melambat kembalisetelah4 MST saat aksesi jarak pagar mengalami fase generatif (tanaman mulai berbunga mulai 4 – 9 MST). Hartati et al. (2009) menyatakan bahwa pada tanaman jarak pagar, tinggi tanaman berkorelasi sangat nyata dengan jumlah infloresen, jumlah tandan buah, jumlah buah yang dihasilkan per tanaman dan hasil biji.
Gambar 9. Perkembangan Tinggi Beberapa Aksesi Jarak Pagar Selama 16 MST
Jumlah Daun
Berdasarkan hasil analisis ragam, aksesi berpengaruh sangat nyata terhadap karakter jumlah daun pada saat 0 dan 2 MST, berpengaruh nyata pada saat 8 MST, tetapi tidak berpengaruh nyata saat 4, 6, 10, 12, 14 dan 16 MST. Yahya (1987) menyatakan bahwa varietas berpengaruh nyata terhadap jumlah daun bibit kelapa pada minggu ke-4 dan tidak berbeda nyata pada pengamatan berikutnya.
Aksesi Lombok 59-I-2 merupakan aksesi yang memiliki jumlah daun maksimum saat 14 MST senilai 157.7, sedangkan aksesi Bone memiliki jumlah daun yang minimum senilai 100.4 (Tabel 6). Perbedaan jumlah daun antar aksesi jarak pagar diduga dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Menurut Suud
0 20 40 60 80 100 120 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Tinggi Tanaman (cm)
Minggu Setelah Tanam (MST)
Aceh Besar Bengkulu 3 Bima Bogor 80-II-5 Bone Bontomaramu 1-I Dompu Gunung Tambora IP-2P 110-I-4 Lombok 59-I-2 Luwu Utara Medan Pinrang Sukabumi
(2008), rata-rata jumlah daun Echinochloa crusgalliyang berasal dari ketinggian 250 m dpl lebih besar dibandingkan yang berasal dari 1 500, 1 250, 500, 0, 750, dan 1000 m dpl, karena pada ketinggian tersebut Echinochloa
crusgallimempunyai kemampuan untuk menghasilkan fotosintat yang lebih besar
daripada
Rata-rata jumlah daun aksesi yang berasal dari Medan dan Sukabumi pada saat 0 – 10 MST sebesar 102.59 dan 93.35 lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian Melisa (2011) yang menyatakan bahwa rata-rata jumlah daun aksesi Medan dan Sukabumi (yang ditanam di Kebun Jarak Pagar Indocement Citereup) saat 0 – 10 MST masing-masing sebesar 44.4 dan 48.9. Hal ini diduga disebabkan oleh perbedaan lingkungan tumbuh jarak pagar.
Tabel 6. Jumlah Daun Beberapa Aksesi Jarak Pagar Selama 16 MST
Jenis Aksesi
Minggu Setelah Tanam (MST)
0 2 4 6 8 10 12 14 16
AB 27.2 b 58.0 bcde 122.1 ab 120.1 107.1 abc 123.7 141.8 140.0 118.9 BK 23.1 bcd 52.9 bcde 117.9 ab 112.2 104.3 abc 106.7 112.6 102.2 89.0 Bim 20.8 bcd 42.0 de 96.2 b 98.0 81.9 c 86.9 111.6 116.2 105.3
Keterangan: AB: Aceh Besar, BK: Bengkulu 3, Bim: Bima, Bog: Bogor 80-11-5, Bon: Bone, BM: Bontomaramu 1-I, D: Dompu, GT: Gunung Tambora, IP: IP-2P 110-1-4, Lom: Lombok 59-I-2, LU: Luwu Utara, Med: Medan, Pin: Pinrang, dan SB: Sukabumi. Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Lanjut DMRT pada taraf 5%.
Seperti yang terlihat pada Gambar 10, bahwa jumlah daun mengalami peningkatan yang signifikan pada 0-4 MST kemudian menurun lagi jumlahnya sampai 8 MST. Saat 6 MST secara umum jumlah daun mengalami penurunan. Hal ini diduga disebabkan genangan air pada areal pertanaman jarak pagar akibat air hujan yang turun pada malam harinya. Yahya (1987) menyatakan bahwa air yang tergenang mengakibatkan kekurangan oksigen, sehingga proses pernapasan akar terganggu. Sumanto (2006) menambahkanbahwa tanaman jarak pagar tidakmenghendaki kondisi media yang tergenang.
Saat 8 MST jumlah daun juga mengalami penurunan. Hal ini diduga karena daun saat 6 MST yang layu tapi belum menguning dan menggugur, gugur pada saat 8 MST. Jumlah daun juga menurun saat 16 MST, karena pada MST tersebut masa pembuahan dan pengisian biji, sehingga pendistribusian fotosintat lebih banyak disalurkan ke biji dan daging buah. Menurut Wright(1989),hasil fotosintesis sebagai sumber karbohidrat akan ditranslokasikan ke biji sebagai sink yang paling kuat, kemudian daging buah, daun yang sedang tumbuh, akar dan organ tanaman lainnya. Gambar 10 menunjukkan perkembangan jumlah daun beberapa aksesi jarak pagar selama 16 MST.
Bog 23.1 bcd 69.0 bc 128.3 ab 113.2 115.9 abc 129.8 151.8 150.3 134.7 Bon 18.9 cd 47.2 cde 103.9 b 103.3 85.9 bc 88.7 102.7 100.4 85.7 BM 19.6 bcd 61.8 bcd 115.1 ab 104.2 94.3 abc 94.3 121.7 125.1 110.0 D 21.8 bcd 37.9 e 95.7 b 92.2 84.0 c 87.6 107.4 110.1 100.1 GT 27.1 b 62.4 bcd 126.4 ab 119.4 97.8 abc 101.8 134.2 135.1 114.9 IP 26.1 b 71.1 b 148.4 a 150.6 131.6 a 130.3 139.6 121.6 110.1 Lom 40.4 a 93.1 a 149.1 a 134.1 131.8 a 132.3 153.6 157.7 135.2 LU 16.4 d 46.6 cde 106.0 b 107.2 101.2 abc 109.7 109.3 117.8 81.3 Med 26.1 b 69.0 bc 126.6 ab 133.9 127.8 ab 132.2 127.1 118.0 102.6 Pin 24.0 bcd 64.0 bcd 133.8 ab 130.7 122.7 abc 116.4 120.0 119.2 112.0 SB 18.4 cd 52.2 bcde 128.6 ab 127.4 119.7 abc 113.8 124.6 138.9 117.6 Rata An 23.8 59.1 121.3 117.6 98.1 111.0 125.5 125.1 108.3
Gambar 10. Perkembangan Jumlah Daun Beberapa Aksesi Jarak Pagar Selama 16 MST
Jumlah Cabang Primer
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang primer pada saat 4, 8, 10 dan 16 MST dan tidak berpengaruh nyata saat 6, 12 dan 14 MST. Berdasarkan hasil Uji Lanjut DMRT taraf 5%, pada saat 16 MST aksesi yang memiliki jumlah cabang primer paling banyak adalah IP-2P 110-I-4 dengan nilai 9.56 dan yang terkecil adalah Bone dengan nilai 5.33, seperti yang terlihat pada Tabel 7.
Secara umum jumlah cabang primer semua aksesi bertambah pada setiap MST-nya, kecuali pada aksesi Bogor 80-II-5, Bone, Gunung Tambora, IP-2P 110-I-4, Luwu Utara, Medan dan Pinrang. Aksesi Bogor 80-II-5, Medan, Gunung Tambora, Luwu Utara, Pinrang dan Sukabumi jumlah cabang primer konstan mulai 14 MST s.d. 16 MST (Tabel 7).
Aksesi Gunung Tambora memiliki jumlah cabang 9 saat 16 MST, lebih banyak dibandingkan dengan hasil penelitian Misnen (2010) jumlah cabang aksesi Gunung Tambora sebanyak 8 pada saat 17 MST. Hartati et al. (2009) menyatakan
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Juml ah Daun
Minggu Setelah Tanam (MST)
Aceh Besar Bengkulu 3 Bima Bogor 80-II-5 Bone Bontomaramu 1-I Dompu Gunung Tambora IP-2P 110-I-4 Lombok 59-I-2 Luwu Utara Medan Pinrang Sukabumi
bahwa terdapat keragaman yang tinggi antar aksesi jarak pagar pada karakter
tinggi tanaman, lingkar batang, dan jumlah cabang.
Rata-rata jumlah cabang primer saat 10 MST adalah 6.58 cabang. Aksesi Medan, Bogor 85-II-5, Bengkulu 3 dan Sukabumi masing-masing memiliki cabang sebanyak 7.4, 7.5, 6.0 dan 7.5 lebih banyak dibandingkan hasil penelitian Martina (2010) yang menunjukkan bahwa rata-rata jumlah cabang aksesi yang berasal dari daerah Medan, Bogor, Bengkulu dan Sukabumi masing-masing sebesar 4.5, 3.1, 3.0 dan 2.9 cabang pada saat 10 MST. Hal ini diduga karena perbedaan lingkungan tumbuh. Menurut Suud (2008), Echinochloa crusgalli yang berasal dari ketinggian tempat 250 m dpl lebih cenderung menggunakan asimilat hasil fotosintesisnya untuk pembentukan anakan daripada pertumbuhan tinggi tajuknya.
Tabel 7. Jumlah Cabang Primer Beberapa Aksesi Jarak Pagar Selama 16 MST Keterangan: angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Lanjut DMRT
taraf 5%. ^: angka setelah transformasi dengan akar (x+0.5). Angka yang di dalam kurung menunjukkan angka sebelum transformasi dengan akar (x+0.5).
Menurut Mardjono et al. (2006), semakin banyak jumlah cabang maka akan semakin banyak pula jumlah tandanbunga/buah yang terbentuk. Hasil penelitian Hartati et al.(2009)menunjukkan bahwa jumlah cabang total tidak berkorelasi dengan komponen hasil. Semua cabang yang terbentuk tidak semuanya menghasilkan malai, karena ada cabang yang dorman atau bukan cabang produktif. Seperti pada penelitian ini, aksesi IP-2P 110-I-4 yang jumlah cabang primernya 9.56 memiliki jumlah cabang produktif 2.44 lebih sedikit dibandingkan aksesi Sukabumi yang jumlah cabang produktifnya 3.67 meskipun jumlah cabang primernya 8.44.
Perangkingan aksesi jarak pagar berdasarkan karakter fase vegetatif, diperoleh aksesi dengan pertumbuhan vegetatif tertinggi dan terendah. Aksesi yang memiliki pertumbuhan vegetatif tertinggi secara berurutan adalah Bogor 80-II-5 dan Medan, sedangkan aksesi yang memiliki pertumbuhan vegetatif terendah secara berurutan adalah Bone dan Luwu Utara.
4^ 6 8 10 12 14 16
Aceh Besar 2.3ab (4.9) 6.1 6.5 ab 7.0 ab 8.0 8.3 8.4 ab Bengkulu 3 2.1abc(4.2) 5.1 5.6 abc 6.0 abc 7.1 7.6 8.0 ab
Bima 1.7bc(2.8) 4.2 4.8 abc 5.2 bc 7.3 8.0 8.1 abc
Bogor 80-II-5 2.1abc(4.5) 5.4 6.3 ab 7.6 ab 8.9 9.3 9.3 a
Bone 1.9abc(3.2) 4.1 4.2 bc 4.9 bc 5.3 5.3 5.3 c
Bontomaramu 1-I 1.6c(2.2) 2.5 3.4 c 3.7 c 5.7 6.2 6.3 bc Dompu 1.7bc(2.8) 4.5 4.9 abc 5.3 abc 6.6 7.0 7.4 abc Gunung Tambora 2.4a(5.5) 6.7 7.0 ab 7.9 ab 8.6 9.0 9.0 ab IP-2P 110-I-4 2.4a(5.5) 6.4 7.1 ab 8.3 a 9.4 9.4 9.6a Lombok 59-I-2 2.3ab(5.1) 6.6 7.6 a 7.9 ab 8.6 9.2 9.4 a Luwu Utara 2.0abc(3.9) 4.8 5.7 abc 6.3 abc 7.4 7.6 7.6 abc
Medan 2.2abc(4.4) 5.7 7.0 ab 7.4 ab 8.3 8.8 8.8 ab
Pinrang 2.4a(5.5) 6.1 6.8 ab 7.0 ab 7.6 7.8 7.8 abc
Sukabumi 2.4a(5.5) 6.6 7.2 a 7.6 ab 8.0 8.4 8.4 ab
Keragaman Pertumbuhan Beberapa Aksesi Jarak Pagar pada Fase Generatif
Fase generatif terdiri dari periode pembungaan dan periode pembuahan. Aksesi jarak pagar pada penelitian ini memasuki fase generatif mulai Agustus-Oktober 2011. Terjadi curah hujan yang tinggi pada periode pembungaan, sedangkan selama periode pembuahan curah hujan rendah. Tabel 8menunjukkan data hasil analisis ragam karakter pertumbuhan pada fase generatif.
Tabel 8. Rekapitulasi Hasil Analisis Ragam Pengaruh Beberapa Aksesi Jarak Pagar terhadap Pertumbuhan padaFase Generatif
Karakter Pengelompokkan Pengaruh Pengaruh Aksesi Keragaman (%) Koefisien
Cabang Produktif per Tanaman (24 MST) tn ** 16.951)
Malai per Tanaman (24 MST) tn ** 27.78
Bunga Jantan per Malai ** ** 21.66
Bunga Betina per Malai tn ** 21.16
Buah per Malai tn ** 27.86
Buah per Tanaman tn ** 17.081)
BobotBiji Kering per Tanaman tn ** 19.871)
Keterangan : tn : tidak nyata, * : nyata, ** : sangat nyata,1) : hasil setelah transformasi dengan akar(x+0.5).
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan aksesi berpengaruh sangat nyata terhadap semua karakter pengamatan fase generatif, sedangkan perlakuan pengelompokkan (blok) hanya berpengaruh sangat nyata pada karakter bunga jantan per malai.
Pembungaan
Pembungaan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan produksi tanaman budidaya. Proses pembungaan pada dasarnya merupakan interaksi dari pengaruh dua faktor besar, yaitu faktor eksternal (lingkungan) dan internal. Faktor eksternal yakni suhu, cahaya, kelembapan dan unsur hara, sedangkan faktor internal yaitu fitohormon dan genetik (Melati, 2009).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi yang semua tanamannya bisa berbunga dan berbuah adalah aksesi Aceh Besar, Bengkulu 3, Bogor 80-II-5,
Bontomaramu 1-I, Gunung Tambora, IP-2P 110-I-4, Luwu Utara, Medan dan Sukabumi (Tabel 9), sedangkan aksesi yang paling sedikit menghasilkan bunga dan buah adalah aksesi Dompudengan persentase bunga dan buah masing-masing 77.78 dan 66.67%, kemudian aksesi Bima, Bone, Lombok 59-I-2 dan Pinrang dengan persentase bunga dan buah sama masing-masing 88.89%. Tanaman yang tidak menghasilkan bunga mengindikasikan bahwa pertumbuhannya terhambat, dengan indikator tanamannya pendek (Lombok 59-I-2) dan jumlah daun lebih sedikit (Bone dan Dompu). Berdasarkan penelitian Misnen (2010) dan Nisya (2010), pembungaan yang terlambat diduga karena sebagian besar energi yang dihasilkan jarak pagar digunakan untuk memproduksi senyawa antioksidan sebagai perlindungan terhadap sel dari bahaya radikal bebas (reactive oxygen
species).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu berbunga aksesi-aksesi yang diuji bervariasi antara 59-99 hari setelah tanam (HST) (Tabel 9). Umur berbunga pada penelitian ini lebih cepat daripada hasil penelitian Hartati et al. (2009) dan Martina (2010) yang jarak pagarnya masing-masing berbunga pada usia tanaman 75–360 hari dan 90 – 110 HST.Percepatan pembungaan disebabkan oleh kandungan unsur P di dalam tanah yang berfungsi untuk mempercepat pembungaan dan pemasakan buah tergolong sangat tinggi. Perbedaan waktu berbunga diduga disebabkan oleh faktor genetik dalam merespon kondisi lingkungan.
Aksesi yang umur berbunganya paling cepat adalah aksesi Medandan IP-2P 110-I-4 masing-masing berbunga saat 5 MST, sedangkan aksesi yang umur berbunganya paling lambat adalah aksesi Dompu dan Lombok 59-I-2 masing-masing berbunga pada saat 9 MST. Seperti yang terlihat pada Tabel 6 bahwa aksesi Aceh Besar, Bima, Dompu, Gunung Tambora dan IP-2P 110-I-4 masing-masing berbunga saat 8, 10, 7, dan 5 MST lebih cepat dibandingkan dengan hasil penelitian Misnen (2010) yang menunjukkan bahwa aksesi Bima, Dompu, Gunung Tambora, dan IP-2P dapat berbunga pada saat 12 MST dan Aceh Besar berbunga saat 16 MST. Hal ini diduga karena pada penelitian Misnen (2010), tanaman jarak pagar mendapat perlakuan cekaman kekeringan pada tiga bulan pertama, sehingga tanaman memerlukan waktu yang lebih lama untuk proses pembungaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi yang pertamakali bunganya mekar bervariasi dengan kisaran (6- 9MST). Aksesi yang lebih awal mekar yaitu aksesi Bima, IP-2P 110-I-4, Medan, Pinrang dan Sukabumimasing-masing mekar pada saat 6 MST, sedangkan yang paling akhir mekar adalah aksesi Dompu yaitu pada saat 9 MST, seperti yang terlihat pada Tabel 9. Menurut Utomo (2008), perbedaan waktu mekar bunga jarak pagar dalam satu malai diduga disebabkan oleh perbedaan fase perkembangan, kuncup yang terbentuk lebih awal akan mekar lebih dahulu. Asbani dan Winarno (2009) menyatakan bahwa waktu mekar tergantung pada intensitas cahaya matahari. Apabila cahaya matahari kurang karena kondisi cuaca mendung, maka bunga akan mekar lebih lambat.
Tabel 9. Persentase Jumlah Tanaman Berbunga dan Berbuah serta Waktu Berbunga dan Waktu Bunga Mekar Pertama 14Aksesi Jarak Pagar
Jenis Aksesi Tanaman Berbunga(%)
Tanaman
Berbuah (%) Berbunga (MST) Waktu 50% Pertama (MST) Waktu Mekar
Aceh Besar 100 100 8 7 Bengkulu 3 100 100 7 8 Bima 88.89 88.89 8 6 Bogor 80-II-5 100 100 6 7 Bone 88.89 88.89 7 7 Bontomaramu 1-I 100 100 6 7 Dompu 77.78 66.67 9 9 Gunung Tambora 100 100 7 8 IP-2P 110-I-4 100 100 5 6 Lombok 59-I-2 88.89 88.89 9 8 Luwu Utara 100 100 7 8 Medan 100 100 5 6 Pinrang 88.89 88.89 6 6 Sukabumi 100 88.89 7 6
Menurut Asbani dan Winarno (2009), tipe pembungaan jarak pagar ada dua tipe, yaitumonoecious/ unisexual dan andromonoecious. Tipe monoecious adalah tipe pembungaan yang dalam satu pohon (infloresen) terdapat bunga jantan dan betina, sementara tipe andromonoecious adalah tipe pembungaan yang dalam satu malai terdapat bunga jantan dan hermaprodit. Aksesi pada penelitian ini yang
memiliki tipe pembungaan andromonoecious adalah Bima, Gunung Tambora, dan Lombok59-1-2 sementara sisanya bertipe monoecious.
Tipe pembungaan untuk aksesi Gunung Tambora dan Bima hasilnya tidak sama dengan penelitian Misnen (2010), bahwa aksesi Gunung Tambora dan Bima memiliki tipe pembungaan andromonoecious. Hal ini diduga karena adanya perbedaan faktor lingkungan seperti curah hujan selama fase generatif. Curah hujan yang bersifat fluktuatif selama fase generatif menjadi faktor terjadinya peralihan tipe pembungaan dari monoecious menjadi andromonoecious.Menurut Hartati (2008), perkembangan jarak pagar sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan lingkungan berupa perubahan lingkungan dari musim hujan ke musim kemarau.
Fase pertama pembungaan adalah dimulai dengan terbentuknya kuncup bunga dan berlangsung selama 2-6 hari (Palupi et al., 2009). Jenis kelamin yang akan berkembang pada bunga ditentukan oleh perpanjangan ujung meristem kelopak (Hasnam, 2008; Martina, 2010). Berdasarkan ukuran pada akhir fase kuncup sudah dapat diidentifikasi sebagai bunga jantan atau betina/ hermaprodit melalui mekarnya bunga. Bunga mekar secara bertahap. Memasuki fase mekar umumnya kuncup bunga yang berada di ujung malai utama mekar lebih dahulu dibandingkan dengan kuncup yang lain. yang mekar pada penelitian ini menunjukkan dua tipe pemekaran bunga, yaitu tipe protandri dan protogini. Tipe protandri merupakan tipe pemekaran bunga yang ditandai dengan antera berwarna kuning (menghasilkan serbuk sari) atau bunga jantan lebih dulu masak/ mekar daripada putik/ bunga betina, sedangkan tipe protogini putik/ bunga betina lebih dulu masak/ mekar daripada antera/ bunga jantan. Periode mekar bunga betina/ hermaprodit bervariasi antar tanaman, berkisar antara 2-12 hari tergantung pada jumlah bunga per malai (Utomo, 2008). Hasil penelitian menunjukkan bunga jarak pagar mekar lebih cenderung bertipe protandri.Periode kemunculan bunga tipe protandri lebih sering dijumpai dibandingkan tipe protogini (Hartati, 2007).
Hasil analisis ragam menunjukkan aksesi berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah bunga betina (Gambar 11a), bunga jantan (Gambar 11b) dan hermaprodit (Gambar 11c). Seperti yang terlihat pada Tabel 10, bahwa aksesi yang memiliki jumlah bunga jantan paling banyak adalah Bontomaramu 1-I (137.78 bunga), sedangkan yang paling sedikit adalah aksesi Dompu
(47.78bunga). Aksesi yang memiliki jumlah bunga betina terbanyak adalah aksesi Bontomaramu 1-I (8.3 bunga) kemudian Medan (7.8 bunga) dan Bengkulu 3 (7.4 bunga), sedangkan yang paling sedikit adalah Bone (3.1 bunga) dan Bima (3.8 bunga). Aksesi Aceh Besar, Gunung Tambora, Lombok 59-I-2 dan Medan pada penelitian ini mampu menghasilkan rata-rata bunga betina/ hermaprodit masing-masing sebesar 4.6, 4.9, 6.9, dan 7.8 lebih besar dibandingkan dengan penelitian Nisya (2010) yang menunjukkan bahwa aksesi Aceh Besar, Gunung Tambora, Lombok dan Medan masing-masing memiliki rata-rata jumlah bunga betina/ hermaprodit sebesar 4.2, 2.8, 3.6 dan 4.8. Penelitian Utomo (2011) menyatakan bahwa aksesi berpengaruh nyata dalam menentukan keberhasilan reproduksi yakni berpengaruh nyata terhadap karakter jumlah bunga jantan per malai dan jumlah bunga betina per malai.
Keterangan: a. Bunga Betina b. Bunga Jantan c. Bunga Hermaprodit.
Gambar 11. Bunga Jarak Pagar
Persentase bunga betina per rangkaian bunga sangat rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor genetik yaitu potensi pembentukan bunga betina yang rendah, faktor lingkungan berupa curah hujan terlalu tinggi, intensitas cahaya terlalu tinggi, dan faktor fisiologis berupa umur tanaman yang kurang optimal, dan lain sebagainya. Hartati et al. (2009) menyatakan bahwa jumlah infloresen yang terbentuk berkorelasi positif dengan jumlah tandan buah, jumlah buah, dan biji yang dihasilkan per tanaman. Selanjutnya Melati (2009) melaporkan bahwa serangan hama dan penyakit dapat mempengaruhi pembungaan.
Menurut Hartati (2007), rasio bunga betina dan jantan yaitu 1:15–30. Asbani dan Winarno (2009) menambahkan bahwa tanaman jarak pagar
b
andromonoecious menghasilkan bunga betina/ hermaprodit dan bunga jantan
dengan rata-rata perbandingan 1 : 14.4. Selanjutnya Nisya (2010) menyatakan bahwa aksesi berpengaruh nyata pada karakter jumlah bunga betina per malai. Rata-rata bunga paling banyak ditemui pada aksesi Lombok. Bunga jantan lebih banyak jumlahnya daripada bunga betina dan hermaprodit dalam satu malai. Hasil penelitian menunjukkan rasio bunga betina atau hermaprodit terhadap bunga jantan per malai sebesar 1:14. Utomo (2011) menambahkan bahwa rasio jumlah bunga betina/ hermaprodit dengan bunga jantan sebesar 1 : 12. Namun, pada penelitian ini rasio jumlah bunga betina/ hermaprodit dengan bunga jantan lebih besar yaitu 1 : 15.
Bunga yang terbentuk tidak semuanya bisa berkembang menjadi buah setelah antesis, sehingga belum tentu tanaman yang memiliki malai yang banyak akan menghasilkan buah yang banyak. Seperti halnya pada penelitian ini bahwa aksesi Sukabumi yang memiliki 6.9 malai menghasilkan 17.3 buah/tanaman lebih rendah dibandingkan dengan aksesi Bontomaramu 1-I yang memiliki 5.4 malai yang bisa menghasilkan 25.3 buah/tanaman. Gambar 12 menunjukkan malai yang tidak berhasil menghasilkan buah.
Gambar 12. Bunga yang Tidak Membentuk Buah
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa aksesi berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah cabang produktif. Rata-rata jumlah cabang produktif tertinggi adalah aksesi Bogor 80-II-5 dan Sukabumi masing-masing 3.6 cabang kemudian Medan (3.4 cabang), sedangkan aksesi yang memiliki jumlah cabang produktif terendah adalah aksesi Bone dan Bima yang jumlah cabang yang sama (1.1 cabang) (Tabel 10). Menurut Mahmud (2006), semakin banyak cabang produktifyang ada pada tanaman maka buah dan biji yang dihasilkanakan semakin
banyak pula sampai jumlah cabangterminal tertentu. Hartati et
al.(2009)menyatakan bahwa jumlah cabang produktif nyata berkorelasi dengan
komponen hasil. Seperti halnya pada hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa aksesi Bogor 80-II-5 dan Medan yang memiliki cabang produktif lebih banyak dibandingkan aksesi lainnya ternyata juga menghasilkan jumlah buah per tanaman yang lebih banyak, sedangkan aksesi Bone dan Bima dengan jumlah cabang produktif lebih sedikit juga menghasilkan buah per tanamannya juga sedikit.
Aksesi berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah malai tanaman. Seperti yang terlihat pada Tabel 7 menunjukan bahwa aksesi Bogor 80-II-5 memiliki nilai rata-rata jumlah malai per tanaman tertinggi sebesar 8.1 malai/tanaman kemudian Medan (7.3 malai/tanaman) dan IP-2P 110-I-4 (7.2 malai/tanaman), sedangkan yang terendah adalah aksesi Bone (2.3 malai/tanaman) kemudian Aceh Besar (2.5 malai/tanaman).
Tabel 10. Jumlah Bunga Betina/Hermaprodit, Jumlah Malai, dan Jumlah Cabang Produktif 14 Aksesi Jarak Pagar
Jenis Aksesi Jumlah Bunga Jantan1) Jumlah Bunga Betina1) Jumlah Malai2) Jumlah Cabang Produktif2)^ Aceh Besar 73.6bc 4.6bcd 2.5c 1.4 bc (1.5) Bengkulu 3 75.7 bc 7.4ab 4.3bc 1.4 bc (1.6) Bima 70.7 bc 3.8 cd 3.2c 1.2 c (1.1)
Bogor 80-II-5 76.4 bc 6.8 abc 8.1a 1.9 a (3.6)
Bone 69.1 bc 3.1d 2.3c 1.2 c (1.1)
Bontomaramu 1-I 137. 8 a 8.3a 5.4abc 1.6 abc (2.1)
Dompu 47. 8 c 4.0cd 3.1c 1.2 c(1.2)
Gunung Tambora 87.4 b 4.9bcd 2.6c 1.3 c(1.4)
IP-2P 110-I-4 80.3 bc 6.9abc 7.2ab 1.7 abc(2.4)
Lombok 59-I-2 85.6 b 6.9abc 4.0bc 1.4 bc(1.5)
Luwu Utara 82.0 bc 5.4abcd 3.0c 1.3 c(1.2)
Medan 83.4 bc 7.8ab 7.3ab 1.9 a(3.4)
Pinrang 84.9 b 6.6abc 7.2ab 1.9 a(3.1)
Sukabumi 88.5 b 6.8abc 6.9 ab 2.0 a(3.6)
Rataan 81.6 5.4 4.8 1.5 (2.1)
Keterangan: 1): per malai, 2): per tanaman.Angka-angka pada kolom yang sama dan diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyataberdasarkan Uji Lanjut DMRT pada taraf 5%. ^: hasil setelah transformasi dengan akar (x+0.5). Angka yang di dalam kurung menunjukkan angka sebelum transformasi dengan akar (x+0.5).
Hasil evaluasi aksesi jarak pagar terhadap karakter jumlah bunga jantan dan betina/hermaprodit, jumlah malai per tanaman, dan jumlah cabang produktif per tanaman, maka aksesi yang tergolong baik adalah Bogor 80-II-5 dan Medan, sedangkan aksesi yang tergolong kurang baik adalah aksesi Bima dan Bone.
Pembuahan
Aksesi berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah per malai. Hasil Uji Lanjut DMRT taraf 5% menunjukkan bahwa aksesi yang memiliki rata-rata jumlah buah per malai terbesar adalah aksesi Bontomaramu 1-I, Medan dan Bogor 80-II-5 masing-masing nilainya 7.1, 6.9 dan 5.1 buah/malai, sedangkan yang terkecil adalah Bima (2.6 buah/malai) kemudian Bone (2.6 buah/malai) seperti pada Tabel 11. Utomo (2011) menyatakan bahwa aksesi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah buah per malai. Bunga betina berkorelasi positif terhadap jumlah buah yang dihasilkan per malai.
Semakin banyak jumlah bunga betina maka akan semakin banyak pula jumlah buah yang dihasilkan, karena bunga betinalah yang akan menjadi buah setelah terjadi antesis. Penelitian ini menunjukkan bahwa aksesi yang memiliki jumlah bunga betina lebih banyak belum tentu juga menghasilkan buah yang banyak. Seperti pada aksesi Luwu Utara yang memiliki jumlah bunga betina 5.4 lebih banyak dibandingkan aksesi Gunung Tambora (4.9) ternyata menghasilkan 2.9buah/malailebih sedikit dibandingkan dengan aksesi Gunung Tambora (3.2 buah/malai). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah banyak bunga betina yang telah mengalami penyerbukan ternyata gagal berkembang menjadi buah, bunga betina terkena penyakit seperti tepung putih, buah yang masih inisiasi menguning/ diserang kepik penghisap. Menurut Affandi (2009), gugur embrio diduga menjadi salah satu penyebab gagalnya bunga betina yang telah terserbuki berkembang menjadi buah. Mahmud (2006) menyatakan bahwa jumlah bunga betina jarak pagar dapat mencapai 40 - 50 per pohon, namun persentase yang menjadi buah sangat rendah hanya mencapai 10% saja.
Aksesi berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah per tanaman. Secara umum jumlah buah per tanaman setiap aksesi bervariasi. Aksesi yang memiliki jumlah buah per tanaman terbesar adalah aksesi Medan
(29.2buah/tanaman) kemudian Bogor 80-II-5 (25.7 buah/tanaman), sedangkan yang terkecil adalah aksesi Bima (8.6 g/tanaman) kemudian Bone (9 buah/tanaman) (Tabel 11). Aksesi Medan menghasilkan buah lebih banyak, karena bunga betina yang terbentuk banyak. Misnen (2010) menyatakan bahwa perbedaan potensi produksi setiap aksesi sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan.
Aksesi Lombok 59-I-2 memiliki jumlah bunga betina/ hermaprodit lebih banyak (6.9) daripada aksesi Pinrang (6.6), namun aksesi Pinrang dapat menghasilkan buah per malai lebih banyak (4.6) daripada aksesi Lombok 59-I-2 (4.0). Padahal seharusnya aksesi Lombok 59-I-2 lebih berpotensi menghasilkan buah lebih banyak karena berbunga hermaprodit. Menurut Hartati et al. (2009),
fruitset pada infloresen dengan bunga hermaprodit lebih tinggi daripada infloresen
tanpa bunga hermaprodit. Hal ini diduga karena jumlah polen (sebagai sumber alat kelamin jantan) pada saat penyerbukan kurang, belum matang, atau polen tidak viabel karena berasal dari tanaman yang berbeda pada aksesi yang berbeda (incompatibility effect) atau juga karena penyerbukan yang kurang sempurna.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah buah yang dapat dipanen setiap bulan bervariasi pada setiap aksesi berkisar 1 – 107 buah dengan rata-rata 40 buah/bulan. Jumlah buah yang paling banyak dipanen setiap bulan adalah aksesi Medan sebanyak 77.0 buah kemudian Bogor 80-II-5 sebanyak69.6, sedangkan jumlah buah yang paling sedikit dipanen per bulannyaadalah aksesi Bone sebanyak 16.6 buah kemudian Dompu sebanyak 24.0 buah (Gambar 13).
0 20 40 60 80 100 120 Juml ah B u ah yang Di panen Jenis Aksesi Panen Bulan ke 1 Panen Bulan ke 2 Panen Bulan ke 3
Gambar 13. Jumlah Buah Panen Per Bulan Beberapa Aksesi Jarak Pagar Biji yang dihasilkan dalam satu buah jarak pagar bervariasi antara 1–4 biji/buah dengan bobot kering biji berkisar 6.7 – 31.0 g/tanaman dan bobot rata-rata 17.3 g/tanaman. Bobot biji kering tertinggi dimiliki oleh Medan, kemudianaksesiBogor 80-II-5 dengan nilai rata-rata bobot kering masing-masing sebesar 31.0 dan 28.4 g/tanaman, sedangkan bobot biji kering terendah terdapat pada aksesi Bima (6.7 g/tanaman) kemudian Aceh Besar (13.0 g/tanaman) seperti yang terlihat pada Tabel 11. Aksesi Medan danBogor 80-II-5 memiliki BBK yang terbesar, karena jumlah buah yang dipanen juga lebih banyak dibandingkan dengan aksesi lainnya. Menurut Adikadarsih dan Hartono (2006), bobot biji mempengaruhi parameter perkecambahan jarak pagar berupa tinggi kecambah, vigor dan daya berkecambah.
Tabel 11. Jumlah Buah per Malai, Jumlah Buah per Tanaman dan Bobot Biji Kering per Tanaman 14 Aksesi Jarak Pagar
Jenis Aksesi Jumlah Buah1) Jumlah Buah2)^ Bobot Biji
Kering(g)2)^ Aceh Besar 3.8b 3.5 bcd (11.7) 3.6 cd (13.0) Bengkulu 3 5.2ab 4.1 abcd (16.8) 3.9 bcd (14.9) Bima 2.6b 3.0 d (8.6) 2.6 d (6.7) Bogor 80-II-5 5.1ab 4.9 a (25.7) 5.2 ab (28.4) Bone 2.6b 3.0 cd (9.0) 3.5 cd (12.3)
Bontomaramu 1-I 7.1a 5.0 a (25.3) 4.6 abc (21.1)
Dompu 3.1b 3.1 cd (11.1) 3.5 cd (13.5)
Gunung Tambora 3.2b 3.5 bcd (12.3) 3.8 bcd (14.3)
IP-2P 110-I-4 5.0ab 4.5 a (20.1) 4.2 abc (18.1)
Lombok 59-I-2 4.0b 3.6 bcd (13.2) 3.9 bcd (15.8)
Luwu Utara 2.9b 3.1 cd (9.2) 3.6 cd (12.7)
Medan 6.9a 5.4 a (29.2) 5.6 a (31.0)
Pinrang 4.6ab 4.3 abc (18.4) 4.4 abc (20.0)
Sukabumi 4.6ab 4.2 abcd (17.3) 4.4 abc (19.2)
Rataan 4.1 3.9 (16.3) 4.0 (17.3)
Keterangan : 1): per malai, 2) per tanaman. Angka-angka pada kolom yang sama dan diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata berdasarkan Uji Lanjut DMRT taraf 5%. ^: hasil setelah transformasi dengan akar (x+0.5). Angka yang di dalam kurung menunjukkan angka sebelum transformasi dengan akar (x+0.5).
Hasil evaluasi terhadap karakter jumlah buah per malai, jumlah buah per tanaman, jumlah buah per bulan, dan bobot biji kering, maka didapatkan hasil bahwa aksesi yang tergolong baik adalah Medan dan Bogor 80-II-5, sedangkan aksesi yang tergolong tidak baik dibandingkan dengan aksesi lainnya adalah aksesi Bima dan Bone.
Seleksi Aksesi Jarak Pagar
Seleksi jarak pagar bertujuan untuk mendapatkan aksesi yang potensial dikembangkan di daerah pesisir pantai. Seleksi ini didasarkan pada hasil analisis korelasi terhadap karakter yang menunjukkan berkorelasi positip terhadap komponen produksi. Selain itu juga didasarkan pada hasilanalisis ragam dengan menggunakan Uji F yang berpengaruh nyata. Karakter tersebut adalah jumlah cabang produktif per tanaman, jumlah bunga betina/ hermaprodit per malai, jumlah malai per tanaman, jumlah buah per malai, jumlah buah per tanaman, dan bobot biji kering per tanaman.Selanjutnya dilakukan perangkingan berdasarkan nilai tertinggi masing-masing aksesi untuk setiap karakter. Aksesi yang tidak berbedanyata berdasarkan Uji Lanjut DMRT taraf 5% diberi tanda ceklis (√), sedangkan yang berbeda nyata diberi tanda strip (-). Tanda ceklis bernilai satu sedangkan tanda strip bernilai nol, sehingga total penjumlahan dari nilai tersebut untuk masing-masing karakter penyeleksi merupakan nilai karakter tertinggi. Nilai karakter tertinggi yang paling tinggi akan dibagi menjadi dua. Pembagian ini didasarkan pada dua kategori baik dan tidak baik, sehingga didapatkan kisaran nilai sebagai dasar pengkategorian. Seperti pada penelitian ini nilai karakter tertingginya 6 kemudian dibagi 2 sehingga didapatkan hasil 3. Jadi, aksesi yang baik memiliki nilai karakter tertinggi > 3 atau 4 – 6, sedangkan aksesi yang baik memiliki nilai karakter tertinggi 0 – 3.
Berdasarkanseleksi terhadap jumlah bunga betina/hermaprodit per malai didapatkan lima aksesi terbaik, yaitu Bontomaramu 1-I (8.3 bunga/malai), Medan (7.8 bunga/malai),Bengkulu 3 (7.4 bunga/malai), IP-2P 110-I-4 (6.9bunga/malai), Lombok 59-I-2 (6.9 bunga/malai) dan Bogor 80-II-5 (6.8 bunga/malai) lebih
banyak dibandingkan dengan rata-rata jumlah bunga betina/hermaprodit per malai keempat belas aksesi jarak pagar (> 5.4bunga/malai) (Tabel 10).
Seleksi berdasarkankarakter jumlah malai per tanaman,didapatkanenamaksesi terbaik, yaitu Bogor 80-II-5, Bontomaramu 1-I, IP-2P 110-I-4, Medan, Pinrang dan Sukabumi. Jumlah malai per tanaman dari enamaksesi ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata jumlah malai per tanaman keempat belas aksesi jarak pagar (>4.8 malai). Jumlah malai keenamaksesi tersebutberkisar antara5.4 – 8.1 malai per tanaman (Tabel 10).
Hasil seleksi berdasarkan karakter jumlah cabang produktif menunjukkan bahwa Bogor 80-II-5, Bontomaramu 1-I, IP-2P 110-I-4, Medan, Pinrang dan Sukabumi merupakan aksesiyang terbaik (Tabel 10). Kelima aksesi ini memiliki cabang produktif lebih banyak dibandingkan dengan rata-rata jumlah cabang produktif keempat belas aksesi jarak pagar (>2.1 cabang).
Berdasarkan data Tabel 11 menunjukkan bahwa terdapat lima aksesi terbaik hasil seleksi berdasarkan karakter jumlah buah per malai, yaitu aksesi Bengkulu 3, Bogor 80-II-5, Bontomaramu 1-I, IP-2P 110-I-4 dan Medan.Jumlah buah per malai dari lima aksesi tersebut lebih banyak dibandingkan rata-rata jumlah buah per malai keempat belas aksesi jarak pagar (>4.1 buah).
Seleksiberdasarkankarakter jumlah buah per tanaman didapatkan lima aksesi terbaik, yaitu Medan, Bogor 80-II-5, Bontomaramu 1-I, IP-2P 110-I-4 dan Pinrang. Kelima aksesi tersebut mampu menghasilkan jumlah buah per tanaman yang lebih banyak dibandingkan rata-rata jumlah buah per tanaman keempat belas aksesi jarak pagar (> 16.3 buah). Jumlah buah per tanaman yang dimiliki kelima aksesi tersebut adalah 18.4 – 7.1 buah (Tabel 11).
Aksesi yang tergolongpaling baikdari hasil seleksi pada karakter bobot biji kering per tanaman yaitu Medan, Bogor 80-II-5, Bontomaramu 1-I, Pinrang dan Sukabumi. Bobot biji kering per tanaman kelima aksesiberkisar antara 19.3 – 31.1 g lebih tinggi dibandingkan rata-rata bobot biji kering yang bernilai 17.3 g (Tabel 11).
Berdasarkan seleksi terhadap enamkarakterpenyeleksididapatkan hasil bahwaaksesi jarak pagar yangtergolong baik dan tidak baik. Aksesi yang tergolong baikadalahaksesi Bogor 80-II-5, IP-2P 110-I-4, Bontomaramu 1-I, Medan dan Pinrang dengannilai karakter tertinggi 4 – 6. Aksesi yang tergolong
tidak baik adalah Sukabumi,Bengkulu 3, Gunung Tambora, Lombok 59-I-2, Aceh Besar, Bima, Bone, Dompu dan Luwu Utarayang memiliki nilai karakter tertinggi 0 – 3 (Tabel 12).
Tabel 12. Rekapitulasi Nilai Peringkat 14Aksesi Jarak Pagar terhadap
EnamKarakter Penyeleksi Jarak Pagar di Daerah Pesisir Pantai
Keterangan : JCP: jumlah cabang primer, JCPD: jumlah cabang produktif, JM: jumlah malai, JB: jumlah buah, BBK: bobot biji kering, KT: karakter tertinggi. √ = menunjukkan nilai tertinggi yang dimiliki oleh masing-masing aksesi pada setiap karakter penyeleksi dan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji Lanjut DMRT taraf 5%, 1): per tanaman, 2): per malai.
Aksesi Bogor 80-II-5 merupakan aksesi yang berasal dari daerah basah, begitu juga dengan aksesi IP-2P 110-I-4 dan Medan, sehingga aksesi tersebut menunjukkan pertumbuhan yang baik dibandingkan aksesi lainnya pada saat ditanam di daerah basah (Pekalongan). Menurut Melisa (2011), aksesi Bogor-4 dan Bogor-6 merupakan aksesi yang potensial untuk dikembangkan menjadi kultivar unggul baru berdasarkan seleksi pada lima karakter produksi. Menurut Evawati (2007), aksesi IP-2P termasuk aksesi yang memiliki produktivitas tinggi. Aksesi ini merupakan pengembangan bahan tanaman IP-1A, IP-1M dan IP-1P, yang telah dihasilkan untuk pengembangan di wilayah iklim kering, iklim sedang, dan iklim basah. Menurut Surahman et al. (2009), aksesi Medan tergolong aksesi yang unggul, karena memiliki produktivitas dan kadar minyak yang tinggi.
Jenis Aksesi JCPD JM1) JBB2) JB2) JB1) BBK1) KT Aceh Besar - - - - 0 Bengkulu 3 - - √ - √ - 2 Bima - - - - 0 Bogor 80-II-5 √ √ √ √ √ √ 6 Bone - - - - 0 Bontomaramu 1-I √ √ √ √ √ √ 6 Dompu - - - - 0 Gunung Tambora - - - - 0 IP-2P 110-I-4 √ √ √ √ √ √ 6 Lombok 59-I-2 - - √ - - - 1 Luwu Utara - - - - 0 Medan √ √ √ √ √ √ 6 Pinrang √ √ - √ - √ 4 Sukabumi √ √ - - - √ 3
Aksesi lain yang tergolong baik ditanam di daerah pesisir pantai adalah aksesi Bontomaramu 1-I dan Pinrang. Kedua aksesi ini berasal dari daerah kering, sehingga mampu beradaptasi pada saat ditanam di daerah basah.